Anda di halaman 1dari 93

Daftar Modul HSE

01. Isolasi Energi Berbahaya


02. Memasuki Ruang Tertutup
03. Klasifikasi Area Berbahaya
04. Penanganan Bahan Berbahaya
05. Identifikasi Bahaya
06. Keselamatan Kerja Radiasi
07. Keselamatan Kerja H2S
08. Pengujian & Deteksi Gas
09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya
Dengan Dokumentasi
010. Tabung Gas Bertekanan
011. Aspek Kebakaran
012. Scaffolding
013. Alat Pelindung Diri
014. Surat Ijin Kerja
015. Keselamatan Penggalian
016. Operasi Pengangkatan
017. Accident Incident Investigation
018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja
019. Tanggap Darurat
020. Keselamatan Operasi Gas Purging
021. Pengamatan Keselamatan Kerja
022. Bekerja di Ketinggian
023. Lingkungan Kerja Aman

Modul Sertifikasi SI, GSI & AT


PT. PERTAMINA PERSERO
HSE Corporate
Isolasi Energi Berbahaya

Tujuan Modul 2
1. Energi Berbahaya 5
2. Tujuan Isolasi Energi Berbahaya 11
3. Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi 15
4. Prosedur Pelepasan Isolasi Energi 23
5. Metoda Isolasi Proses 29
6. Isolasi Mesin / Peralatan 53
7. Isolasi Listrik 57
8. Penguncian dan Pelabelan
(Lock-Out Tag-Out) 61
9. Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses 73
10. Pelatihan 79
11. Pergantian Shift 83
12. Kasus-Kasus Kesalahan pada
Pelaksanaan Isolasi Energi 85
Daftar Pustaka 90
Lampiran : Matriks Kompetensi SIKA 91
2 Tujuan Modul

Tujuan Modul
• Memahami energi di sekitar pabrik yang
dapat menimbulkan kecelakaan kerja.

• Dapat memilih metoda isolasi energi yang


sesuai dengan resiko paparan energi tersebut.

• Memahami prosedur isolasi energi berbahaya.

• Dapat melaksanakan pekerjaan isolasi energi


yang benar.

Melalui modul ini diharapkan kecelakaan karena


paparan energi terhadap pekerjaan dapat dihindari.
Pemahaman ini dimulai dari kemampuan setiap
pekerja dalam mengidentifikasi potensi energi yang
terkait dengan pekerjaannya. Identifikasi energi
berbahaya ini dapat dilakukan setelah pengenalan
jenis-jenis energi berbahaya yang mungkin ada di
tempat kerja khususnya pada kegiatan eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan dan distribusi minyak dan
gas bumi.

Setelah energi bahaya diidentifikasi, pekerja dapat


melakukan tindakan pengamanan yang sesuai
Tujuan Modul 3

dengan tingkat bahaya energi tersebut. Tingkat


pengamanan ini ditunjukkan dalam penjelasan
mengenai metode isolasi energi tersebut.

Karena pelaksanaan pengamanan energi ini


juga harus dilakukan dengan aman, maka
pekerja harus memahami prosedur isolasi energi
berbahaya sehingga pelaksanaan isolasinyapun
dapat dilakukan tanpa menimbulkan kecelakaan.
Pembahasan prosedur isolasi ini mencakup langkah-
langkah pengamanan, tugas dan tanggung jawab,
pengendalian pelaksanaan / koordinasi isolasi agar
tidak menimbulkan kesalahan koordinasi yang dapat
menimbulkan kecelakaan kerja.
4 Tujuan Modul
Energi Berbahaya 5

1
Energi
Berbahaya
6 Energi Berbahaya

D
i dalam fasilitas minyak dan gas bumi terdapat
sumber energi berbahaya yang dapat
menimbulkan kecelakaan. Sumber-sumber energi
tersebut terdiri dari:

• Energi Listrik (Statik dan Listrik Buatan)

• Energi Mekanik (Energi Putaran, Pergerakan)

• Energi Panas (sumber panas dari mesin, reaksi


kimia, hasil pembakaran, perpindahan panas,
dan lain sebagainya.)

• Energi Potensial (Gravitasi, Tekanan, Pegas)

1.1. Energi Listrik


Tersengat energi listrik dapat menyebabkan
kematian. Selain itu, energi listrik juga merupakan
sumber pemantik (ignition) yang dapat menyebabkan
kebakaran apabila kontak dengan bahan combustible
(padat, cair) atau flammable material (cair, gas).

Dalam fasilitas produksi minyak dan gas bumi, sudah


tentu terdapat berbagai tingkatan tegangan sebagai
sumber energi di fasilitas tersebut. Karena sifatnya
yang merupakan sumber ignition (nyala), rancang
bangun (design) dari instalasi listrik mengikuti
Energi Berbahaya 7

aturan baku mengenai disain di daerah berbahaya


dari fluida yang dapat menyala (hazardous area
classification) dan di daerah tidak berbahaya dari
fluida yang dapat menyala.
Bagaimana energi listrik dapat menyebatkan
kematian?

Energi listrik selalu mencari bumi. Ketika menyentuh


sumber energi listrik / aliran listrik, aliran tersebut
dengan cepat mengalir melalui tubuh kita ke bumi,
sehingga menjadikan tubuh kita sebagai konduktor.

Tabel 1.1 Besaran arus listrik dan akibat terhadap manusia

miliAmpere (mA) Akibat

1 Dapat dirasakan
Set untuk GFCI Trip
5 - 10 Lemas
Pingsan /
20 – 50 Kemungkinan
mematikan
7.5 watt – 1000 watt > 60 Dapat mematikan

GFCI: Ground Fault Circuit Interuptor

1.2. Energi Mekanik


Energi Mekanik adalah energi yang dimiliki oleh
suatu objek karena pergerakan atau posisinya.
8 Energi Berbahaya

Energi mekanik bisa berupa energi kinetik (energi


pergerakan) atau energi potensial (energi karena
posisinya). Suatu objek mempunyai energi mekanik
jika ia sedang dalam pergerakan atau sedang pada
posisi relatif terhadap posisi datum (ketinggian nol).
Sebuah mesin yang bergerak / berputar mempunyai
energi kinetik. Energi mekanik terdapat pada
mesin-mesin berputar (kompressor, pompa, mesin
pengaduk, alat pemotong, gerinda, dll.), tali kawat
(sling) yang meregang karena menanggung daya
tarik suatu objek (pada alat pengangkat crane), atau
mesin / objek berjalan / bergerak (mesin penggiling,
penumbuk), dan lain sebagainya.

1.3. Energi Panas


Energi panas bisa dihasilkan
dari pembakaran yang
terdapat pada tungku
pembakaran (boiler atau
furnace), atau alat perpindahan
panas. Sumber – sumber
energi panas harus diamankan
melalui proses isolasi energi ketika bekerja dalam
peralatan tersebut.
Energi Berbahaya 9

1.4. Energi Potensial


Energi potensial merupakan energi yang dimiliki
atau tersimpan pada suatu objek sehingga dapat
bergerak karena gravitasi bumi dan perbaedaan
ketinggian. Energi potential ini dimiliki oleh suatu
benda jika ia berada pada posisi menggantung atau
pada ketinggian atau adanya perbedaan ketinggian
permukaan. Suatu pipa jika tidak diamankan dengan
pengganjal (stopper) dapat mengelinding jika ada
perbedaan ketinggian permukaan tempat pipa
tersebut disimpan.

WORK!

PE
KE
10 Energi Berbahaya
Tujuan Isolasi Energi Berbahaya 11

2
Tujuan Isolasi
Energi Bahaya
12 Tujuan Isolasi Energi Berbahaya

S
elain dari akibat gravitasi bumi, energi potensial
juga bisa dimiliki suatu objek akibat dari adanya
perbedaan tekanan melalui tekanan gas. Tekanan gas
ini dapat mendorong objek untuk bergerak sehingga
terjadi tumbukan ke arah tubuh manusia. Energi
karena adanya tekanan gas ini dapat diamankan
dengan pembuangan isi gas di dalamnya dan
diisolasi dari sumber gas tersebut.

Beberapa penyebab kecelakaan sehubungan dengan


isolasi energi berbahaya, antara lain:

• Kesalahan karena tidak mematikan sumber energi.

• Ketidak-sengajaan menghidupkan mesin atau


peralatan.

• Ketidak-akuratan pemasangan isolasi terhadap


proses fluida (gas atau cairan).

• Terlupakannya atau tidak dilakukannya


pembuangan sisa - sisa energi (listrik statik, tekanan
sisa dalam peralatan proses gas atau cairan).

• Area kerja yang belum bebas dari pekerja


atau peralatan ringan sebelum sistem pabrik
dihidupkan.
Tujuan Isolasi Energi Berbahaya 13

Contoh pekerjaan yang dapat terpapar dengan


energi berbahaya:

• Pekerjaan perbaikan pompa / kompresor.

• Pekerjaan penggantian gasket atau filter pada


sistem perpipaan yang dilakukan pada kondisi
pabrik tetap hidup.

• Pekerjaan listrik (boks sambungan listrik ”Junction


Box”, panel listrik, motor listrik, dan lain
sebagainya).

Pekerjaan-pekerjaan yang dapat terpapar energi


berbahaya seperti tersebut di atas harus dilakukan
isolasi energi berbahaya. Isolasi energi berbahaya
dilakukan sedekat mungkin dengan sumber energi
tersebut dan sejauh mungkin dari tempat dilakukannya
pekerjaan perawatan atau perbaikan mesin.
Tujuan dari isolasi energi bahaya dan lock-out tag-
out antara lain adalah untuk:

• Pencegahan kecelakan karena paparan energi


berbahaya dengan melakukan isolasi energi
berbahaya yang sesuai.

• Alat bukti bahwa pelaksanaan isolasi energi


berbahaya telah dilakukan dengan benar.
14 Tujuan Isolasi Energi Berbahaya

• Dihilangkannya kemungkinan terjadinya ketidak


sengajaan atas pengaktifan energi berbahaya
yang dapat berkontak langsung dengan pekerja.

Isolasi Energi Berbahaya adalah Pengamanan Suatu


Pekerjaan dari Sumber Energi Berbahaya

Mencegah Ketidak-sengajaan Dalam Mengaktifkan


Sumber Energi Berbahaya Dengan Cara Penguncian
Dan Pelabelan
(Lock-Out Tag-Out)

Aturan dan kode industri (lihat daftar pustaka)


mensyaratkan bahwa suatu sistem isolasi energi
setidaknya mempunyai:

• Sistem identifikasi energi yang harus diisolasi


(Penguncian “Lock” dan Pelabelan “Tag”)

• Sistem dan prosedur untuk proses isolasi energi


sampai dengan aktivasi energi kembali dengan
aman.

• Tugas dan tanggung jawab yang jelas terhadap


isolasi energi.
Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi 15

3
Prosedur
Pelaksanaan
Isolasi Energi
16 Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi

I solasi energi tidak berdiri sendiri dalam


pelaksanaannya. Kebutuhan akan isolasi energi
selalu ada ketika akan dilakukan pekerjaan
perawatan atau perbaikan mesin, penggantian
katup, atau lain sebagainya. Oleh sebab itu,
pelaksanaan isolasi energi selalu diikuti dengan
pengajuan surat ijin kerja. Surat ijin kerja yang
diajukan adalah surat ijin kerja untuk perbaikan atau
perawatan mesin, atau penggantian katup, atau
pekerjaan lainnya yang memerlukan isolasi energi
berbahaya.
Sesuai Pedoman Surat Ijin Kerja dari Pertamina
pada umumnya, surat ijin kerja tersebut disiapkan
oleh Ahli Teknik dengan melengkapi isian surat
ijin kerja pada Seksi 1. Permohonan Pekerjaan,
dengan melampirkan dokumen-dokumen pendukung
yang dibutuhkan. Surat ijin kerja yang telah terisi
pada seksi 1, diserahkan kepada Gas Safety
Inspector. Gas Safety Inspector (GSI) mengisi seksi
2. Persyaratan Safety, yang di antaranya adalah
mengenai kebutuhan isolasi energi berbahaya. Pada
saat inilah persiapan dan pelaksanaan isolasi energi
berbahaya dilakukan oleh yang berwenang dari
area produksi (atau Pengawas Pemeliharaan).
Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi 17

Pelaksanaan isolasi energi berbahaya yang harus


disiapkan mencakup:

• Pemutusan Sumber Energi (Shut-down)

• Isolasi sumber energi melalui alat isolasi energi

• Penguncian dan pelabelan (Lock-Out Tag-Out)


pada alat isolasi energi.

• Pembuangan energi sisa seperti pembumian


(grounding) saluran listrik, pembuangan sisa
tekanan dalam perpipaan ”bleed off”.

• Pengujian Isolasi

3.1. Pemutusan Sumber Energi


Sebelum mematikan sumber energi suatu mesin atau
peralatan, pekerja yang melakukan pematian sumber
energi harus mengikuti ketentuan berikut ini:

1. Memahami besar dan tipe energi serta energi


yang akan diisolasi.
2. Memastikan alat isolasi yang diperlukan dan
ketersediaan alat tersebut di tempat.
3. Memberi tahu pekerja yang terkait dengan sumber
energi tersebut.
18 Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi

4. Memahami pengaruh dari pemutusan sumber


energi dan dimatikannya operasi peralatan
tersebut.
5. Memahami prosedur ”shut-down” normal untuk
peralatan / mesin.

3.2. Isolasi Sumber Energi


Isolasi sumber energi dilakukan dengan
menggunakan alat isolasi energi misalnya:
penutupan katup, pencabutan sikring, pemasangan
pelat penutup (“blind flange”, “spade”) dan lain
sebagainya. Alat-alat isolasi ini akan dijelaskan lebih
lanjut pada bab 5, bab 6, dan bab 7.

Alat isolasi energi yang diperlukan untuk


mengendalikan energi atau operasi peralatan /
mesin proses (pompa, kompresor, boiler, heater,
dan lain sebagainya) harus diidentifikasi dan dapat
digunakan untuk mengisolasi mesin tersebut dari
sumber energi berbahaya (listrik, tekanan gas,
temperatur gas, sumber suplai bahan bakar, dan lain
sebagainya).

Potensi bahaya yang berkaitan dengan isolasi proses


seperti semburan bahan kimia, semburan api, atau
Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi 19

pelepasan gas mudah terbakar atau gas beracun


harus terlebih dahulu diidentifikasi dan dihilangkan.
Alat pelindung diri yang sesuai dengan resiko
pekerjaan dalam mengisolasi sumber energi harus
ditetapkan dalam sistem ijin kerja, tersedia di tempat
sebelum memulai pekerjaan dan digunakan ketika
akan bekerja.

Tindakan tambahan perlu dilakukan untuk sepenuhnya


melindungi pekerja yang melaksanakan tugas
mengisolasi sumber energi. Tindakan ini termasuk
melepaskan / mengisolasikan terlebih dahulu elemen
sirkuit pengaktif, menutup saklar pengendalian,
menghilangkan pegangan katup untuk mengurangi
kemungkinan kecelakaan kerja.

3.3. Penguncian dan Pelabelan Alat


Isolasi Energi
Penguncian dan pelabelan (Lock-Out Tag-Out) pada
alat isolasi energi untuk mencegah ketidak-sengajaan
pekerja lain mengoperasikan / membuka kembali
energi seperti pembukaan katup, pemasangan
sekring, atau menyalahkan listrik melalui stop kontak.
20 Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi

Hanya pekerja yang mempunyai kewenangan


dan mengenal / mengetahui dengan baik fasilitas,
situasi, dan pekerjaan yang akan dilakukan, yang
memasang atau melakukan penguncian dengan
peralatan penguncian. Pekerja ini juga yang boleh
memasang label (tag) pada peralatan isolasi. Lebih
jauh tentang penguncian dan pelabelan alat isolasi
energi akan dibahas pada bab 8.

3.4. Pembuangan Sisa Energi


Ketika alat penguncian telah terpasang ke semua alat
isolasi energi, semua potensi bahaya energi yang
tersimpan dan sisa energi harus dilepaskan, dibuang
agar tidak mencelakakan pekerja. Beberapa contoh
pelepasan energi sisa melalui:

• Membuang energi dalam kapasitor (discharging


capacitor).
• Membuang sisa tekanan gas (bleed off).
• Membuang sisa listrik statik dengan pembumian
(grounding).
• Pengamanan berat atau kemungkinan gerakan
karena energi potensial (pipa dengan pengganjal
atau stopper).
Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi 21

• Melepaskan tensi dari pegas (spring) dengan


membebaskan posisi pegas.

Energi yang tersimpan ini harus dilepas sedemikian


hingga tidak ada potensi sisa energi pada bagian
hilir dari titik isolasi. Jika ada kemungkinan sisa energi
untuk kembali terakumulasi sampai tingkat yang
membahayakan, verifikasi isolasi harus diteruskan
hingga perbaikan atau perawatan mesin telah
selesai atau sampai kemungkinan terakumulasinya
energi tidak menjadi bahaya lagi.

3.5. Pengujian / Test Isolasi


Pengujian harus dilakukan untuk menetukan apakah
energi masih ada, misalnya dengan mencoba
menekan tombol ”start” atau pengetesan dengan alat
pengukur listrik (test pen).

Sebelum memulai pekerjaan terhadap mesin atau


peralatan yang telah dikunci dan diberi label (tag),
pekerja yang berwenang terlebih dahulu memeriksa
secara fisik, apakah isolasi dan pemutusan energi
telah tercapai untuk memastikan bahwa peralatan
tidak dapat dijalankan atau dinyalakan. Contoh
pembuktian termasuk penyalaan saklar atau tombol
22 Prosedur Pelaksanaan Isolasi Energi

”start”, memeriksa dengan pengukur tegangan


(voltmeter), membuka katup pembuangan, atau
membuat lubang dalam pipa sebelum melakukan
pemotongan pipa. Pekerja yang bekerja pada
peralatan yang telah diisolasi harus secara rutin dan
periodik memeriksa energi termasuk kemungkinan
terakumulasinya kembali energi. Hal ini setidaknya
harus dilakukan di awal pekerjaan, di tengah
pekerjaan sesaat setelah istirahat dan memulai
pekerjaan pada hari berikutnya.

Setelah semua tahapan isolasi energi terlaksana


dengan baik, pekerjaan perbaikan / perawatan
pada peralatan atau mesin yang telah diisolasi
tersebut dapat dimulai.
Prosedur Pelepasan Isolasi Energi 23

4
Prosedur
Pelepasan
Isolasi Energi
24 Prosedur Pelepasan Isolasi Energi

S
etelah pekerjaan pada mesin / peralatan yang
diperbaiki atau dirawat selesai dilakukan,
pelepasan isolasi perlu dilakukan sebelum
menjalankan mesin/peralatan tersebut. Pelepasan
Isolasi Energi ini disebut ”Deisolasi” yakni melepaskan
semua keadaan isolasi energi dan ”lock-out tag-out”
dan mengembalikan ke keadaan sediakala sehingga
mesin atau peralatan yang telah dilakukan perawatan
atau perbaikan tersebut siap untuk dijalankan
kembali. Prosedur pelepasan isolasi sebagai berikut:

4.1. Pelepasan Kunci dan Tag


Peralatan isolasi dan mesin atau peralatan yang
sedang dalam kendali isolasi energi tidak boleh
dijalankan / dimulai beroperasi sebelum semua
penguncian dan pelabelan dibuang. Hanya pekerja
yang memasang kunci dan label yang boleh melepas
kunci dan label tersebut. Jika pekerja tersebut sudah
tidak ada di tempat kerja atau telah kembali ke
rumahnya, supervisor atau pekerja yang diberi
otorisasi, boleh membuka kunci.

Langkah-langkah untuk melepaskan peralatan


penguncian (Lock-Out Devices):
Prosedur Pelepasan Isolasi Energi 25

• Memeriksa apakah semua pekerja yang terkait


dengan isolasi energi telah selesai mengerjakan
tugasnya dan area tempat kerja telah siap dan
aman untuk dimulainya pengaktifan sumber energi
pada peralatan tersebut.

• Menghubungi pekerja yang memasang


kunci atau pekerja yang diberi otorisasi
untuk membuka kuncinya.

• Pekerja yang berwenang membuka kunci


tersebut membuka kunci berdasarkan daftar isian
penguncian agar dapat dipastikan tidak ada yang
terlewatkan (pembukaan kuncinya).

• Pekerja yang bertanggung jawab terhadap area


tersebut memeriksa apakah semua kunci telah
dilepas dan telah siap dan aman untuk dibuka
isolasinya.

Perhatian :

Pelepasan peralatan penguncian dan label oleh pihak


yang tidak berwenang dapat menyebabkan tindakan
indisipliner.
26 Prosedur Pelepasan Isolasi Energi

4.2. Pembukaan Alat Isolasi


Pembukaan alat isolasi juga harus mengacu pada
daftar isian isolasi energi agar memastikan tidak
terjadi kesalahan dalam pembukaan alat isolasi
tersebut. Misalnya, pembukaan katup penutup
dilakukan pada katup yang benar. Perlu diperhatikan
ketika membuka kembali katup adakalanya harus
dilakukan kenaikan tekanan terlebih dahulu pada
bagian yang diisolasi sehingga pembukaan katup
dapat dilakukan setelah perbedaan tekanan di
kedua ujung katup tersebut tidak tinggi. Ini yang
disebut “equalize pressure”. Penaikan tekanan awal
tersebut dilakukan melalui fasilitas “by-pass” yang
berukuran lebih kecil dari jalur utama.
Untuk ini maka prosedur pengaktifan juga harus
merupakan bagian prosedur isolasi energi. Dengan
demikian peralatan siap untuk dijalankan.

4.3. Uji Mesin atau Peralatan


Jika mesin atau peralatan yang sedang diperbaiki
atau dirawat tersebut hanya bisa ditest dengan
pemberian energi tertentu, maka berikut ini yang
perlu dilakukan:
Prosedur Pelepasan Isolasi Energi 27

• Periksa tempat kerja untuk memastikan:


-- barang-barang atau perlengkapan yang
tidak diperlukan lagi atau tidak penting telah
disingkirkan atau dibuang,
-- pengaman telah dipasang,
-- komponen peralatan atau mesin telah
terpasang semuanya.
• Periksa tempat kerja untuk memastikan bahwa
semua pekerja telah berada pada posisi
yang aman dan pekerja-pekerja yang tidak
berkepentingan telah dijauhkan dari tempat uji
mesin atau peralatan.
• Memberi tahu semua pekerja terkait dengan
peralatan tersebut dan memastikan semuanya
telah bebas dan dalam posisi aman.
• Pelaksanaan pengujian mesin dan alat pada
bagian yang diperlukan sebelum memulai
menjalankan mesin.
• Setelah pengujian selesai, tindakan pengendalian
(isolasi) energi kembali diterapkan sebelum
memulai menjalankan mesin atau peralatan
tersebut.
28 Prosedur Pelepasan Isolasi Energi
5
29

Metoda
Isolasi Proses
30 Metoda Isolasi Proses

M
etoda isolasi untuk isolasi energi berbahaya
dari proses fluida (gas atau cairan) yang
bertekanan bermacam-macam mempertimbangkan
antara resiko sistem proses dengan resiko pekerjaan
yang terkait dengan kebutuhan isolasi energi dari
proses tersebut.
Energi berbahaya dari proses bisa berupa tekanan
dari gas atau cairan, panas dari gas atau cairan
tersebut dan sifat racun (toxic) yang terdapat pada
gas atau cairan. Interaksi atau kontak antara energi
berbahaya tersebut terhadap pekerja yang melakukan
pekerjaan dapat terjadi dikarenakan beberapa hal
berikut ini:
1. Dibukanya penahan proses (process containment)
ketika:
• melepas sambungan perpipaan (flange).
• melepas bagian dari pipa (spool piece).
• melepas katup (valve).
• membuka pintu masuk ke bejana tekan.
• melepas sambungan alat instrumen pengukuran
tekanan, suhu, aliran.
• dan lain sebagainya.
Metoda Isolasi Proses 31

2. Memasuki ruang tertutup (confined space entry).


3. Memperbaiki pompa. Perbaikan pompa tidak
hanya memerlukan isolasi energi proses tetapi
juga isolasi energi listrik.
4. Memperbaiki kompresor. Seperti dengan pompa,
perbaikan pada mesin ini tidak hanya memerlukan
isolasi energi proses tetapi juga energi listrik.
5. Memperbaiki bagian-bagian dari tungku
pembakaran (Furnace, Heater). Pekerjaan ini
memerlukan isolasi pada suplai gas ke tungku
pembakaran.
6. Kerja yang berkaitan dengan bahan radioaktif
seperti melakukan perawatan atau pemeriksaan
pada instrument yang menggunakan bahan
radioaktif. Untuk ini perlu dilakukan penutupan
sumber radioaktif dan pengunciannya pada
tabung penyimpan instrumen dengan bahan
radiasi tersebut.

Ketika semua potensi energi bahaya yang berkaitan


dengan pekerjaan tertentu telah diidentifikasikan,
perlu perencanaan bagaimana energi tersebut bisa
dipisahkan atau diisolasi dari peralatan atau mesin
32 Metoda Isolasi Proses

yang sedang dikerjakan dengan tingkat isolasi yang


sesuai dengan faktor bahaya dari sifat gas atau
cairannya (mudah terbakar, beracun), tekanan, suhu,
atau ukuran pipa yang besar. Perhitungan hubungan
antara faktor bahaya tersebut dengan metoda
isolasinya akan dijelaskan pada bab 8.

Tabel 5.1 menjelaskan beberapa kategori metoda


isolasi untuk proses.

Tabel 5.1 Kategori Metoda Isolasi dan Contoh ilustrasinya.

Kategori Metoda Isolasi Contoh Ilustrasi

1. Isolasi • Katup Tunggal


dengan
efektifitas
rendah
• Katup Ganda

• Katup tunggal dan


saluran pembuangan -
Single Block and Bleed
(SBB)

2. Isolasi
• Seal ganda dalam
dengan
satu katup dengan
efektifitas
saluran pembuangan
Memadai
diantaranya

• Katup Ganda dan


Saluran Pembuangan
diantaranya Double
Block and Bleed (DBB)
Metoda Isolasi Proses 33

• Katup Tunggal, Saluran


Pembuangan dan
Sorokan buta (Spade)
3. Isolasi
dengan
efektifitas • Katup Ganda,
terbaik Saluran Pembuangan
(Isolasi diantaranya dan spade
Positif)
• Pemisahan Fisik
(Contoh: Pelepasan
”Spool”)

5.1. Isolasi Katup Tunggal

Isolasi dengan katup tunggal yakni menggunakan


satu katup dalam posisi tertutup untuk mengisolasi
sistem yang akan dilindungi dari sumber energi
berbahaya. Isolasi dengan katup tunggal ini hanya
dapat dilakukan apabila faktor bahayanya tidak
tinggi (lihat perhitungan pada bab 9) dan kondisi
katupnya telah dibuktikan tidak bocor. Apabila
pembuktian atau test kebocoran ini tidak dapat
dilakukan, tidak disarankan menggunakan isolasi
34 Metoda Isolasi Proses

dengan katup tunggal ini kecuali sumber energi yang


diisolasi berasal dari air yang tidak bertekanan tinggi
yang tidak dapat menyebabkan seseorang cedera.

Penilaian resiko dengan metoda isolasi katup tunggal


ini harus memperhatikan berbagai aspek apalagi
bila pekerjaannya berkenaan dengan pembukaan
penahan proses (process containment).

Jenis katup yang dapat digunakan untuk isolasi katup


tunggal adalah katup bola (ball valve) atau katup
pintu (gate valve).

Tabel 5.2 Perbandingan Jenis Katup dan Karakteristik.

Jenis Katup Karakteristik

Katup Bola • tuas searah dengan posisi bola


(Ball Valve) sehingga memperlihatkan posisi
katup membuka atau menutup
• tahan lama
• Penutup yang sempurna
• Baik untuk pengaturan aliran
Metoda Isolasi Proses 35

Jenis Katup Karakteristik

• katup yang terbuka dengan


mengangkat gerbang putaran atau
empat persegi panjang/ pasak
keluar dari jalur fluida.
• tidak boleh digunakan untuk
Katup Gerbang
mengatur aliran, kecuali mereka
(Gate Valve)
secara khusus dirancang untuk
tujuan itu
• piringan dan dudukan piringannya
mudah rusak atau bocor jika dipakai
untuk mengatur aliran.
• dapat membuka atau menutup penuh
• bisa atau baik sebagai alternatif
perangkat isolasi energi proses
(aliran, tekanan)

Katup Kupu-
Kupu • hanya dapat digunakan untuk isolasi
(Butterfly Valve) terhadap air dengan tekanan di
bawah 150 psig.
• Permukaan penutup (seal) terpapar
kontak dengan aliran fluida sehingga
mudah tererosi.
36 Metoda Isolasi Proses

5.2. Isolasi Double Block Valve (DB)


Seperti halnya dengan isolasi menggunakan katup
tunggal, isolasi dengan ”Double Block Valve (DB)”
digunakan untuk isolasi dengan faktor bahaya di
atas maksimum faktor bahaya yang diperbolehkan
untuk isolasi yang menggunakan katup tunggal (lihat
bab 9), Isolasi energi proses harus dilakukan dengan
tingkat yang lebih tinggi yakni menggunakan dua
katup (Double Block Valve).
Seperti juga dengan isolasi katup tunggal, kedua
katup ini harus dalam keadaan baik dan tidak bocor.

5.3. Isolasi Double Block and Bleed


Valves
Isolasi proses dengan menggunakan dua katup
dalam posisi menutup yang mengapit satu katup
pembuangan dalam posisi terbuka atau yang dikenal
dengan “Double Block and Bleed Valves (DBB)”
seperti pada gambar 5.1. di bawah ini. Isolasi energi
proses dari gas atau cairan bertekanan dengan
menggunakan Double Block dan Bleed Valves adalah
persyaratan baku yang direkomendasi oleh API
RP 14J “Design and Hazard Analysis for Offshore
Production Facility”.
Metoda Isolasi Proses 37

Buka Bleed Valve

Tutup Tutup

Block Valve Block Valve

Gambar 5.1 Skema isolasi Double Block and Bleed Valves

Katup pembuangan (bleed valve) terletak di antara


ke dua katup isolasi tersebut. Isolasi dengan “DBB”
ini dengan menutup kedua katup pada kedua ujung
dan membuka katup pembuangan setiap saat pada
saat pekerjaan berlangsung.

Satu dari dua katup untuk isolasi energi tersebut


yang terletak dekat dengan sumber energi berfungsi
sebagai alat isolasi yang utama. Kebocoran dari
katup ini dapat di uji melalui pengujian kadar gas
dari katup buangan dengan tetap menutup ke dua
katup. Hanya jika kedua katup ini tidak dalam
keadaan bocor, pelaksanaan isolasi “DBB” ini dapat
dilakukan.

Maksud dari DBB ini adalah jika pada saat pekerjaan


berlangsung terjadi kebocoran pada katup yang
berfungsi sebagai isolasi utama tersebut, maka gas
38 Metoda Isolasi Proses

tersebut tidak diteruskan ke tempat kerja melainkan


aliran gas langsung menuju ke katup pembuangan.
Katup kedua yang berada di salah satu ujungnya
berfungsi sebagai proteksi ke dua.
Apabila diperlukan pembuangan ke saluran/sistem
pembuangan gas (venting system) secara terus
menerus, Katup pembuangan (vent/drain valves)
harus dibuka dan terkunci (lock-open) dan dicatatkan
dalam suatu dokumen yang dilampirkan dengan
surat ijin kerja. Akibat dari pembuangan ke saluran/
sistem pembuangan gas ini harus dianalisa resiko
prosesnya.

Catatan: Integritas dari sistem DBB ini harus


benar-benar diperhatikan khususnya terhadap
resiko aliran balik dari sistem pembuangan
gas bertekanan terutama apabila ke dua katup
atau salah satu katup isolasi dari metoda DBB
ini berhubungan dengan tekanan rendah.

Isolasi dengan DBB ini menjadi isolasi yang paling


optimum dengan catatan ke dua katup yang
digunakan sebagai isolasi dalan keadaan baik (tidak
bocor). Isolasi ini biasa digunakan untuk pekerjaan-
pekerjaan:
Metoda Isolasi Proses 39

1. Perbaikan pompa.

2. Perbaikan kompresor.

3. Perbaikan alat pemanas.

4. Masuk dalam ruang tertutup (dengan catatan


faktor bahaya belum memerlukan isolasi dengan
penahan seperti dijelaskan di bawah ini). Jika
terdapat gas beracun pada sumber aliran gas,
maka isolasi untuk pekerjaan dalam ruang tertutup
perlu dikombinasi dengan isolasi lainnya yang
akan dijelaskan di bawah ini.

5. Pencabutan/pelepasan bagian perpipaan (spool


piece) jika tekanan cukup tinggi (lihat perhitungan
faktor bahaya pada bagian selanjutnya).

Pada saat ini terdapat satu katup yang bisa


dipertimbangkan sebagai isolasi DBB yakni katup
dengan bola yang terbagi dua bagian dimana
dibagian tengahnya terdapat ruang sehingga gas
(jika ada) yang ada di dalamnya dapat di buang
melalui katup pembuangan.
40 Metoda Isolasi Proses

Gambar 5.2 Contoh Isolasi Double Block and Bleed Valve

5.4. Isolasi Penahan Fisik (Physical


Barrier)
Metoda isolasi ini adalah dengan cara menggunakan
penahan fisik pada bagian yang terhubung dengan
sumber energi. Penahan energi bahaya tersebut
misalnya adalah menyelipkan pelat yang baku untuk
menahan energi berbahaya (Spade/spectacle blind,
blinds) pada sambungan sistem perpipaan (di antara
dua flange). Pelat tersebut harus bersih, tidak dalam
keadaan rusak, dan harus memenuhi standard ANSI
B16.5.

Pemasangan pelat yang baku untuk menahan energi


berbahaya (spade/spectable blind) harus diselipkan
dengan sambungan atau gasket yang baru dan
Metoda Isolasi Proses 41

dikencangkan dengan baut yang sesuai kekuatannya


(torsinya) agar kuat menahan tekanan dibaliknya
(pressure-tight seal) dan sesuai dengan tingkat
tekanan sistem rancang perpipaan (Piping Design
Rating). Kekuatan dari pengencangan baut pada
flange atau bahkan penggunaan jumlah baut yang
tidak sama dengan jumlah lubang (untuk baut) akan
menjadikan titik lemah dari sistem penahan proses
(Process Containment) dan menyebabkan sumber
potensi kebocoran yang tinggi.

Pelat isolasi (“Spades” dan “Blinds”) harus diberi


label dengan sistem telusur (tracking system) yang
mudah sehingga kesalahan pembukaan atau
penutupan yang dapat menimbulkan kecelakaan
dapat dihilangkan dan pengaktifan kembalinya
dapat berjalan lancar. Sistem telusur ini harus
dikaitkan dengan sistem ijin kerja (akan dibahas lebih
dalam pada modul Surat Ijin Kerja) yang berfungsi
sebagai pengendali administrasi untuk memperkecil
kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Ijin kerja harus diajukan untuk memasang atau


melepaskan pelat atau memutar “Spectacle Blind
Flange” (lihat gambar).
42 Metoda Isolasi Proses

Gambar 5.3 Jenis-jenis Pelat Isolasi

Selain dari ijin kerja, setelah dipasang, pelat


penutup flange (spade/blinds) harus dikunci dengan
menggunakan rantai dan diberi nomor khusus
penguncian (pembahasan penguncian dan pelabelan
akan dibahas dalam bagian-bagian selanjutnya).
Nomor ini harus menjadi rujukan dalam sistem ijin
kerja yang melibatkan isolasi proses (pembahasan
lebih lanjut dalam modul Sistem Ijin Kerja) dan
berfungsi sebagai pengendalian administrasi.

Metoda isolasi dengan penahan ini tidak dapat


dilakukan sebelum dilakukan isolasi dengan katup
(satu katup, dua katup, atau dua katup dengan katup
pembuangan (double block and bleed)). Keperluan
Metoda Isolasi Proses 43

apakah menggunakan satu katup, dua, atau dengan


katup pembuangan tersebut juga dapat dilihat dari
faktor bahaya suatu pekerjaan sehubungan dengan
potensi paparan energi bahaya berupa tingginya
tekanan, tingginya suhu, terkandungnya bahan
beracun (H2S), dan besarnya sistem perpipaan yang
akan di isolasi.

Pipa-pipa kecil atau tubing kecil untuk instrument harus


ditutup dengan penutup (cap) atau penyumbat (plug)
yang sesuai peruntukkan dan dapat muat terpasang
(compatible) dengan pipe kecil/tubing tersebut. Lihat
kepada anjuran atau spesifikasi dari pabriknya.

5.5. Isolasi Pemisahan


Metode ini merupakan metoda isolasi dengan
melakukan pemisahan menyeluruh antara sumber
energi dan tempat peralatan yang sedang dalam
perbaikan. Misalnya, dengan melepaskan bagian
perpipaan dari sambungan satu ke sambungan
lainnya atau biasa disebut melepaskan “spool piece”.
Isolasi proses dengan pemisahan secara fisik ini tidak
dapat berdiri sendiri dengan hanya melepaskan
“spool piece” tersebut.
44 Metoda Isolasi Proses

Gambar 5.4 Metode isolasi dengan pemisahan secara fisik

Pemisahan secara fisik dengan melepaskan “spool


piece” tersebut harus dibarengi dengan metoda isolasi
lainnya yakni isolasi dengan satu katup, dua katup,
atau dua katup dengan “bleed off valve” (Double
Block and Bleed) sehingga dicapai pengamanan
(isolasi) yang sesuai dengan faktor bahayanya.

Selain itu, sebelum “spool piece” dilepaskan, tekanan


dan fluida (gas atau cairan) di dalam spool piece
tersebut harus dibuang telebih dahulu. Pembuangan
untuk gas dilakukan melalui katup pembuangan ke
jalur pembuangan yang telah ditentukan dalam disain
perpipaan (Vent Header) yang akan diteruskan ke
“Vent Stack”. Pembuangan cairan yang dilakukan
melalui jalur pembuangan cairan (drain) harus
memperhatikan jenis fluidanya. Pembuangan cairan
Metoda Isolasi Proses 45

berbahaya (dapat terbakar atau cairan mengandung


bahan beracun) harus dibuang ke sistem pembuangan
cairan tertutup (closed drain system).

Jika gas di dalam “spool piece” yang akan dilepas


mengandung gas mudah terbakar dan/atau gas
beracun (H2S), gas tersebut harus dibersihkan dengan
purging (lihat modul Purging). Purging ini dilakukan
sebelum “spool piece” dilepaskan. Pelaksanaan
purging dilakukan dengan memasukkan gas inert (N2
atau CO2) ke dalam sistem “spool piece” yang akan
dilepas.

Setelah memasukkan gas inert ke dalam, maka gas


inert tersebut harus dibuang dengan memasukkan
udara ke dalam “spool piece” tersebut. Pelaksanaan
dengan gas inert ini untuk menghindari kontak
langsung antara udara dengan gas mudah terbakar
tersebut sehingga mencegah terbentuknya campuran
yang mudah terbakar atau meledak.

Pertimbangan pertama untuk isolasi adalah


diusahakannya pemisahan secara fisik jika
memungkinkan dan atau jika faktor bahaya
sehubungan dengan suatu pekerjaan memerlukan
metoda isolasi hingga ke tingkat ini (lihat bagian
46 Metoda Isolasi Proses

penentuan tingkat bahaya dengan tingkat isolasi


yang sesuai).

Ketika suatu pekerjaan (misalnya perbaikan


kompresor) memerlukan tingkat isolasi dengan
pemisahan secara fisik ini, untuk mencapai tingkat
isolasi diperlukan dua tahap pekerjaan isolasi.
Diperlukan dua tahap ini karena pekerjaan/
pelaksanaan isolasi pemisahan secara fisik (ketika
melepaskan “spool piece”) ini juga memerlukan
isolasi energi dari proses.

Isolasi yang pertama adalah mengisolasi sumber


energi proses (aliran gas atau cairan yang bertekanan
dalam perpipaan) untuk pengamanan sebelum
dilakukannya pelaksanaan isolasi pemisahan secara
fisik (pelepasan “spool piece”). Pelaksanaan isolasi
yang pertama ini dapat berupa isolasi dengan satu
katup, dua katup, atau dua katup dan satu katup
pembuangan (Double Block and Bleed) sesuai dengan
faktor bahaya untuk pelepasan “spool piece”.

Perlu dipahami bahwa tingkat isolasi pertama


(dengan menggunakan katup) ini sudah barang
tentu lebih rendah dari isolasi yang sesungguhnya
(isolasi kedua) karena pekerjaan untuk pelaksanaan/
Metoda Isolasi Proses 47

pekerjaan isolasi kedua yakni pemisahan secara


fisik ini (pelepasan “spool piece”) lebih singkat dari
pekerjaan perbaikan kompresor tersebut.
Ketika suatu pekerjaan memerlukan kombinasi antara
tingkat isolasi pemisahan secara fisik dengan salah
satu tingkat isolasi lainnya seperti: satu katup (single
valve), dua katup (double block), dua katup dengan
katup pembuangan (double block and bleed), atau
bahkan dengan penyelipan isolasi pelat penutup
(spade, blinds), diperlukan fasilitas dengan kombinasi
isolasi tersebut untuk pelaksanaan isolasi energi.
Apabila fasilitas yang ada di tempat pelaksanaan
pekerjaan tidak dapat mencapai tingkat isolasi
ini, maka harus dilakukan penurunan faktor
bahaya (lihat bagian penentuan tingkat isolasi)
dari pekerjaan tersebut yang diantaranya dengan
mempersingkat waktu kerja, menurunkan tekanan
atau temperatur sedemikian sehingga dapat dicapai
tingkat isolasi yang sesuai antara keadaan fasilitas
dan faktor bahaya. Apabila penurunan tekanan atau
temperatur tidak dimungkinkan secara proses atau
dapat mengganggu kelancaran proses, maka tidak
ada jalan selain dari pada mematikan sumber energi
yakni mematikan jalannya proses (shut-down).
48 Metoda Isolasi Proses

5.6. Metoda Lainnya


Adakalanya tidak memungkinkan untuk melakukan
metoda isolasi seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Dalam keadaan ini, bisa dimungkinkan
menggunakan cara lain seperti yang dijelaskan di
bawah ini, namun penggunaan alternatif ini hanya
bisa dilakukan apabila resiko telah diperhitungkan
dan dapat ditolerir, misalnya gas tidak bersifat racun
dan hanya bertekanan atmosfir.

Cara-cara lain tersebut adalah:

• Sistem sumbat pipa: dipakai untuk mengisolasi


gas tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan
tidak bertekanan (atau pada tekanan atmosfir)
atau hanya berfungsi sebagai penutup agar tidak
ada material jatuh atau masuk ke dalam sistem
yang diisolasi.

• Penutup Balon (Inflatable bags): untuk


penggunaannya sama dengan penyumbat pipa

• Isolasi dengan Cairan/Air (Water Seal): agar


gas bertekanan atmosfir tidak menembus ke
permukaan air.
Metoda Isolasi Proses 49

Tingkat isolasi yang sesuai harus dipilih sedemikian


agar dapat mengurangi resiko cedera pekerja
serendah mungkin yang dapat dilakukan (as low
as reasonably practicable), dengan mempertim-
bangkan dari kemungkinan penggunaan standard
yang lebih tinggi mengandung resiko yang lebih
tinggi dibandingkan dengan penggunaan metoda
atau standard yang lebih rendah. Perbedaan resiko
dari setiap pilihan ini harus dipertimbangkan secara
matang melalui penilaian resiko untuk setiap metoda,
sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan
isolasi berdasarkan resiko dan situasi yang ada
diproses.

Tingkat isolasi yang diperlukan, dianalisa untuk


setiap ujung yang bisa berkontak dengan sumber
energi. Untuk proses ini baik bagian hulu maupun
hilir dari tempat peralatan yang sedang diperbaiki
harus dianalisa tingkat kebutuhan isolasinya apakah
cukup dengan double block valve (DB), double block
valve and bleed (DBB), atau DBB dengan spade/
blinds.

Katup proses tidak boleh dijadikan satu-satunya


andalan, kecuali dia mampu menutup dengan rapat,
50 Metoda Isolasi Proses

dipisahkan dari sumber energinya jika digerakkan


oleh suatu sumber energi, dikunci pada posisi
menutup, dan diuji kefektifan isolasinya oleh pekerja
yang kompeten.

Katup proses di lapangan seharusnya sudah


mempunyai fasilitas sedemikian, sehingga bisa
dikunci atau memungkinkan langsung dikunci dengan
hanya menggunakan gembok. Namun demikian,
industri alat penguncian telah mengeluarkan produk
alat isolasi katup sehingga penguncian katup dapat
dilakukan. Lebih lanjut mengenai alat isolasi katup
akan dibahas pada bagian selanjutnya. Apabila
penggunaan produk ini juga tidak dimungkinkan,
penggunaan rantai untuk memastikan pegangan
katup tidak dapat diputar.

Sebelum sistem proses dibuka atau dipisahkan,


harus dilakukan pemeriksaan kemungkinan sisa-
sisa tekanan gas atau cairan yang terperangkap
dalam sistem. Potensi sumber bahaya ini termasuk
terperangkapnya gas dalam badan katup, kenaikan
tekanan karena cairan yang mudah menguap
seperti kondensat dari hasil pembukaan (“flashing
off”), kenaikan tekanan karena cairan yang mudah
Metoda Isolasi Proses 51

menguap akibat kenaikan suhu udara yang memanas


di siang hari, migrasi gas melalui katup yang tidak
rapat yang bukan merupakan katup isolasi seperti:
katup klep (“check valve”), katup kendali (“Control
Valve”) dari perbatasan dengan suatu sistem yang
bertekanan tinggi, jalur pembuangan gas/cairan
(yang merupakan bagian dari DBB) yang terhambat,
sehingga sifat dan tujuan tingkat isolasi DBB tidak
tercapai.

Setiap sistem proses (process containment) sebaiknya


tercatat dalam suatu sistem ijin kerja yang baik sebagai
pengendalian administrasi dari isolasi energi.

Perlu diingat, bagaimana pentingnya memeriksa


kemungkinan tekanan gas yang terperangkap
dan tidak begitu saja percaya pada instrument
lokal atau instrument kendali jarak jauh (“remote
instrumentation”).
52 Metoda Isolasi Proses
6
53

Isolasi Mesin /
Peralatan
54 Isolasi Mesin / Peralatan

P
ada umumnya, mesin atau katup yang digerakkan
secara hidraulik atau penumatik pada awalnya
harus di isolasi oleh katup yang ditutup dan dikunci.
Isolasi dilakukan terhadap suplai bahan bakar,
misalnya aliran / gerakan balik (energi pegas).
Saluran suplai atau aliran balik ini harus diputuskan
atau dibuat sedemikian aman untuk mencegah
kemungkinan-kemungkinan bergeraknya mesin.

Mesin yang digerakan oleh bahan bakar harus


dimatikan dari suplai bahan bakar dan diamankan
semua sistem aktifasi / penyalaan (“start up system”).
Untuk mesin pengerak listrik, saklar suplai tenaga
ke motor dimatikan, dan pastikan bahwa peralatan
telah diputuskan dan dipisahkan dari semua sumber
energy listrik.

Ketika sistem tenaga untuk mesin telah diputuskan


dan sistem penyalaan diamankan (dikunci), tetapi
masih ada resiko dari pekerja yang bekerja pada
mesin tersebut karena mesin dapat bergerak,
dalam keadaan demikian harus diterapkan metoda
penguncian mesin sedemikian, sehingga mesin
tidak akan bergerak. Prinsip ini bisa berlaku pada
peralatan berputar seperti kipas (pendingin angin),
Isolasi Mesin / Peralatan 55

pompa, kompresor, dan tindakan pengamanan harus


dilakukan menghindari bergeraknya mesin tersebut.

Isolasi mesin dengan tenaga hidraulik, penumatik dan


tenaga proses dengan menutup katup isolasi yang
sesuai. Mencegah setiap kemungkinan pergerakan
mesin dengan memutuskan suplai fluida bertekanan.

Isolasi mesin atau alat juga berlaku ketika suatu


alat angkat berat (Crane) atau Forklift sedang
dalam perawatan. Agar tidak ada pekerja yang
mengoperasikan alat-alat tersebut, harus dilakukan
penguncian pada alat tersebut sedemikian sehingga
tidak memungkinkan pekerja lain menjalankan alat
atau mesin tersebut.
56 Isolasi Mesin / Peralatan
57

7
Isolasi listrik
58 Isolasi Listrik

K
erja yang berkaitan dengan sumber energi
listrik memerlukan isolasi listrik. Kejutan listrik,
luka bakar listrik, dan percikan api listrik dapat
menghasilkan sumber titik nyala untuk gas mudah
terbakar, uap atau materi yang dapat terbakar
sehingga harus diamankan terhadapnya.

Sirkuit kontak listrik dari peralatan listrik, bersamaan


dengan alat kontak penunjangnya yang bisa
menghidupkan peralatan listrik secara tidak sengaja
harus di isolasi.

Isolasi listrik bisa dicapai dengan memutuskan sumber


listrik atau memisahkan peralatan listrik dari sumber
energi listrik. Pemutusan sumber listrik dilakukan
melalui saklar listrik, pemutus sirkuit listrik (circuit
breaker), atau pemutus listrik utama (main breaker).
Isolasi listrik harus diamankan dengan penguncian
pada posisi “Off ”.

Banyak kejadian kecelakaan kerja listrik karena tidak


dilakukannya pemutusan energi listrik dari sejak
pemutus listrik utamanya (main breaker). Minimal
dibutuhkan dua level pemutusan arus listrik sehingga
memperkecil kemungkinan penyalaan arus listrik oleh
pekerja lain. Selain itu juga diterapkannya penguncian
Isolasi Listrik 59

dan pelabelan (Lock-Out Tag-Out) alat pemutus arus


listrik tersebut, sehingga tidak memungkinkan pekerja
lain mengaktifkan energi listrik yang juga bisa
mensuplai listrik ke tempat peralatan yang sedang
diperbaiki.

Pemisahaan dengan sumber listrik dapat dilakukan


dengan mencabut sekring sehingga tidak mudah bagi
pekerja lain untuk dapat menyalakan listrik. Dalam
kabinet listrik di ruang pusat kendali listrik, pemisahan
dapat dilakukan dengan menarik/membuka kotak
kubik kabinet listrik, dengan demikian terpisah kontak
dengan sumber listrik.

Juga perlu diingat bahwa peralatan listrik mempunyai


sifat kapasitor, yakni dapat menyimpan sisa-sisa
energi listrik terlebih jika sistem pembumian tidak
baik. Energi listrik yang tersimpan dalam sirkuit
listrik ini harus dibuang (discharge) yakni dengan
pembumian. Jangan sampai terjadinya pembumian
secara tidak sengaja melalui tubuh kita ketika kita
bersentuhan dengan alat listrik tersebut.
Peralatan untuk mengisolasi listrik adalah:
• Sirkuit Pemutus Arus (Circuit Breaker)
• Isolator
60 Isolasi Listrik

• Saklar Pemutus (Switch).


• Penutup dan Soket.
• Sekring

Mungkin tidak dapat dipastikan apakah pemisahan


kontak telah tercapai ketika menggunakan MCB
(miniature circuit breaker) sebagai isolator. Dalam
situasi ini tindakan pengaman ekstra harus dilakukan
dengan memberikan jarak antara kontak listrik
misalnya memutuskan konduktor sirkuit.

Hanya pekerja yang kompeten yang boleh melakukan


pengujian sisa energi listrik. Pengujian sisa energi
listrik tegangan tinggi menggunakan tongkat penguji
listrik.
8
61

Penguncian dan
Pelabelan
(Lock-Out Tag-Out)
62 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)

Bab ini menjelaskan standar prosedur minimum


pelaksanaan penguncian dan pelabelan (Lock-Out
Tag-Out) yang diperlukan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja karena pengaktifan/penyalaan
sumber energi yang tidak disengaja (karena tidak
mengetahui keterkaitan energi yang diaktifkan
dengan peralatan yang sedang diperbaiki)

Karena tujuan dari penguncian dan pelabelan ini


adalah mencegah ketidak-sengajaan atas tindakan
pekerja lain dalam mengaktifkan energi maka
diperlukan sistem administrasi prosedur yang
dikaitkan dengan sistem ijin kerja.

Ketika suatu pekerjaan yang dikelola dalam suatu


sistem ijin kerja memerlukan isolasi energi, bersama
dengan ini pula proses pelaksanaan “Lock-out Tag-out”
tercatat dalam sistem administrasi yang terintegrasi
dengan sistem ijin kerja. Pekerjaan perbaikan pada
suatu alat atau mesin tidak bisa diberi ijin untuk
dimulai ketika semua sistem yang diisolasi belum di
kunci (Lock Out) dan dilabel (Tag Out).

Catatan yang diperlukan dalam proses “Lock-Out


Tag-Out” adalah:
Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out) 63

• Pencatatan nomor kunci. Setiap kunci harus diberi


nomor kunci yang unik untuk identifikasi yang jelas

• Pencatatan bagian yang diisolasi, dikunci, dan di


label. (misalnya nomor katup, “breaker”, “saklar”,
“blinds”).

• Pencatatan dan penandatanganan pelaksana


isolasi dari pekerja yang berwenang dan kompeten

• Pencatatan pemeriksa isolasi dari yang berwenang

• Pencatatan nama pelaksana isolasi pada label


(tag).

Selain dicatat, kunci untuk penguncian gembok


tersebut setelah dilakukan “lock-out”, kunci harus
terkendali dan terkoordinasi dengan baik sedemikian
sehingga pekerja lain tidak bisa menggunakan kunci
tersebut untuk mengaktifkan energi.

Peralatan kunci untuk isolasi ini harus peralatan yang


didedikasikan untuk pekerjaan penguncian (Lock-
Out) alat isolasi. Peralatan ini tidak bisa dipakai
untuk keadan operasi normal. Hal ini dimaksudkan
agar tidak menimbulkan kebingungan dari pekerja
lainnya yang dapat menimbulkan kesalahan dalam
pengoperasian alat tersebut.
64 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)

Beberapa ketentuan dalam pelaksanaan penguncian


dan pelabelan alat isolasi energi adalah sebagai
berikut:

• Alat pengunci (lock) dan label (tag) harus


dipasang sedemikian rupa sehingga mampu
menahan alat isolasi dalam posisi aman, mati
(off) atau tertutup (closed). Alat pengunci ini
harus terpasang sehingga pekerja lain tidak
dapat memaksa mengaktifkan alat isolasi tersebut
misalnya mengaktifkan “breaker” untuk listrik
atau mengaktifkan katup untuk isolasi proses.
Hanya pekerja yang berwenang dan mempunyai
kompetensi yang dapat melakukan penguncian
ini.

• Setiap pekerja atau pihak, yang akan bekerja


pada peralatan yang akan diisolasi energinya,
harus memasang sendiri kuncinya pada setiap
alat isolasi di pabrik. Namun, pada saat ini telah
tersedia suatu kotak, sehingga semua kunci aktifasi
energi yang terkait dengan mesin atau peralatan
yang akan dikerjakan dapat dikumpulkan dalam
kotak ini. Pekerja atau pihak yang bekerja pada
peralatan yang sedang diisolasi ini tidak perlu
Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out) 65

lagi memasang kuncinya pada keseluruhan alat


isolasi di lapangan tapi ia cukup memasang
gembok pengunci pada kotak tersebut. Sehingga
tidak ada seorangpun, sekalipun itu pekerja yang
mempunyai kewenangan tadi dapat membuka
kotak dan mengaktifkan/membuka kembali alat
isolasi (katup atau breaker) karena semua kunci
yang dipakai untuk mengunci peralatan isolasi
telah dimasukkan dalam kotak ini. Kotak ini
disebut “Group Lock Box”.

• Jika peralatan pengunci yang digunakan adalah


kunci atau kunci kombinasi, maka supervisor dari
pekerja yang berwenang untuk penguncian harus
mengontrol pemakaian kunci, kunci tambahan,
dan kunci kombinasi tersebut. Individu yang
memasang kuncinya harus merawat pemakaian
kuncinya setiap saat.

• Label Bahaya (Danger Tag), Jangan dioperasikan


(Do Not Operate), atau label Peralatan sedang
dalam penguncian (Equipment Locked Out) harus
terpasang pada setiap peralatan isolasi (katup atau
breaker misalnya). Label ini harus mencantumkan
nama pekerja yang memasang kunci dan label
66 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)

tersebut, tanggal pemasangannya, dan alasan


pemasangannya. Label ini harus tahan cuaca dan
tulisan tidak boleh luntur karena hujan atau akibat
terkena siraman air.

Berikut ini beberapa keterangan tentang penguncian:

Group lockout — digunakan ketika penguncian


terhadap alat isolasi energi (katup) dilakukan oleh
beberapa pihak (crew, department, atau kontraktor)
yang sama-sama melakukan pekerjaan pada
peralatan atau mesin tersebut. Seperti misalnya
“Group Lockout” digunakan pada saat beberapa
pihak bekerja pada satu sistem pompa dimana satu
pihak bekerja pada bagian motor sedangkan pihak
lain mengerjakan seal pompa atau impeller pompa.

Lock-out — metoda penguncian yang memastikan


peralatan isolasi (katup) telah dikunci sehingga tidak
memungkinkan pekerja lain membuka katup tersebut
sampai sistem kuncinya dibuka

Personal lock — adalah kunci perorangan atau


kombinasi kunci yang diterapkan oleh pekerja
berwenang untuk pengamanan diri terhadap energi
bahaya. Kunci pengamanan ini dapat dilakukan
Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out) 67

pada setiap alat isolasi yang ditetapkan untuk isolasi


peralatan yang sedang dirawat atau diperbaiki.

Tag — suatu label yang terbuat dari kartu dilapisi


plastik yang tahan cuaca yang digunakan sebagai
tanda bahwa sistem yang diberi tanda ini sedang
diisolasi terhadap energi berbahaya dan tidak
diperkenankan mengoperasikannya kecuali yang
berwenang. Juga digunakan sebagai tanda
keterangan bahaya, keterangan lainnya.

Tag-out — adalah metoda memastikan dengan


tanda bahwa perangkat yang diisolasi tersebut tidak
dioperasikan oleh pihak lain.

• Jika label tidak bisa dipasang pada perangkat


isolasi energi, maka diletakkan sedekat mungkin
dengannya sehingga pekerja lain dapat
melihatnya secara langsung.

• Macam-macam keterangan dalam label “Danger”,


“Do Not Operate”, “Do Not Open”, “Do Not
Close”, “Do Not Energize”.

• Label harus berwarna yang nyata dan mudah


terlihat
68 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)

Prosedur penguncian dan pelabelan tidak diperlukan


untuk beberapa keadaan berikut ini:

• Operasi normal

• Penguncian dengan posisi terbuka atau tertutup


pada kondisi normal operasi (Lock Open Valve
atau Lock Closed Valve) berdasarkan peruntukan
disain proses.

• Penggunaan Car Seal Open atau Car Seal Close


pada suatu Katup sesuai dengan tujuan disain.

• Sambungan kabel yang terhubung ke peralatan


seperti mesin perkantoran, peralatan bertenaga
listrik dengan catatan pekerja yang sama
melakukan pekerjaan tersebut.

Alat-Alat Penguncian dan Pelabelan (Lock


Out Tag Out Devices)

Alat alat penguncian dan pelabelan yang digunakan


harus tahan cuaca. Label harus memenuhi OSHA
1910-145.
Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out) 69

Gambar 8.1 Pengunci “Ball Valve”

Gambar 8.2 Pengunci “Gate Valve”

Gambar 8.3 Kabel Kawat Pengunci Katup


70 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)

Gambar 8.4 Alat Pengunci Pemutus Listrik (“Saklar” atau “Breaker”)

Gambar 8.5 Kotak Penyimpan Kunci (yang sedang digunakan untuk


mengunci perangkat isolasi energi)

Semua kunci dari hasil pelaksanaan penguncian dan


pelabelan perangkat isolasi dimasukkan dalam kotak
ini. Dan pihak yang bekerja pada peralatan yang
diisolasi dari energi, memasangkan gemboknya
pada salah satu lubang di kotak tersebut juga sebagai
tanda bahwa masih ada pihak yang sedang bekerja
dengan sistem yang diisolasi ini.
Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out) 71

Lubang tersebut dapat diperbanyak dengan


menggunakan apa yang disebut “HASP”

Gambar 8.6 Contoh HASP


72 Penguncian dan Pelabelan (Lock-Out Tag-Out)
Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses 73

9
Penentuan
Tingkat Isolasi
Energi Proses
74 Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses

T
ingkat / metoda isolasi yang dipilih untuk
mengisolasi energi proses tergantung dari faktor
bahaya. Faktor bahaya tersebut merupakan kombinasi
antara faktor potensi pelepasan (faktor pelepasan),
faktor waktu lamanya pekerjaan perbaikan atau
perawatan mesin atau peralatan dapat diselesaikan,
faktor akibat dari pelepasan tersebut.
Faktor bahaya dihitung dengan rumus sebagai
berikut:

Faktor Bahaya =

[Faktor Pelepasan] x [ Faktor Waktu ] x [ Faktor Akibat]

Faktor akibat merupakan fungsi dari situasi di sekitar


tempat kerja dan jenis fluida yang dapat terlepas.
Situasi di sekitar tempat kerja untuk memperkirakan
berapa besar akibat dari pelepasan energi tersebut
baik terhadap jumlah manusia atau peralatan.
Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses 75

Tabel 9.1 Matrix Faktor Akibat

Situasi (Dari Tabel 9.1A)


A B C D E
1 10 10 9 8 7
2 9 8 5 4 3
(Dari Tabel 9.1B)
Jenis Fluida

3 8 6 4 3 2
4 5 4 3 2 1
5 4 3 2 1 1
6 3 2 1 1 1
7 1 1 1 1 1

Tabel 9.1A Parameter Situasi

Tipe Deskripsi Contoh

Unit Distilasi “Crude”,


Tempat yang padat, rapat dengan
pabrik catalytic cracker.
peralatan/mesin dan terbatas untuk tempat
Perkampungan atau
A masuk atau keluar (confined) dengan
Perkotaan dalam radius
jumlah pekerja yang dapat terkena akibat
pengaruh gas beracun
pelepasan lebih dari 20 pekerja
(jika ada)

Tempat penyimpanan terbuka, pabrik


transfer produk dengan jumlah pekerja yang Treater unit, LPG spheres,
B
dapat terkena akibat pelepasan energi road-car-loading gantry.
sebanyak 11 sampai 20 pekerja.

Daerah pertanian,
Tempat penyimpanan dengan jumlah manifold pompa, ruang
C pekerja 6 – 10 dapat terkena akibat kendali yang tidak
pelepasan diproteksi dengan sistem
proteksi kebakaran.

Hanya sedikit jumlah peralatan pada ruang


terbuka dengan jumlah pekerja yang dapat Bangunan Pemompaan
D
terkena akibat pelepasan energi sebanyak Terisolasi.
3 sampai 5 pekerja

Hanya satu dua peralatan jarak jauh Pompa atau Separator


E dengan jumlah pekerja dalam resiko yang berada pada jarak
pelepasan sebanyak 1 sampai 2 pekerja jauh.
76 Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses

Tabel 9.1B Parameter Bahan Fluida

Tipe Deskripsi

1 Gas Beracun seperti. HF, CI2, SO2, H2S, HCN, HCI, CO

LPG, NGL atau fluida/gas mudah terbakar diatas temperature


2
yang dapat menyebabkan pelepasan lebih dari 50% berat.

Cairan Mudah terbakar yang berada di atas titik nyalanya


3
seperti condensat
4 Gas Mudah Terbakar, Gas Alam CH4.
Cairan Mudah Terbakar berada di bawah titik nyalanya seperti
5
Methanol
Fluida Berbahaya lainnya seperti uap air, suhu tinggi, suhu
ekstrim rendah (cryogenic), bahan korosif, bahan asam, bahan
6
“asphyxiants” (zat lemas yang menyebabkan kekurangan
oksigen) dan lain sebagainya.

7 Bahan tidak berbahaya seperti air, udara, dan lain sebagainya.

Faktor waktu adalah faktor berapa lama pekerjaan


perawatan atau perbaikan mesin dapat diselesaikan
dan frekuensi pekerjaan tersebut seperti ditunjukan
pada tabel 9.2.
Tabel 9.2 Faktor Waktu

Durasi
< 1 Shift > 1 Shift > 7 Hari
Harian 10 10 -
Frekuensi

Mingguan 7 10 -
Bulanan 3 7 10
Tahunan 2 3 7
Kadang-Kadang 1 2 3
Catatan: Frekuensi atau kerutinitasan aktifitas; Durasi aktifitas
Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses 77

Faktor Pelepasan merupakan fungsi dari ukuran aliran


ke peralatan dan ukuran tekanan yang diisolasi dari
tempat kerja.
Tabel 9.3 Faktor Pelepasan

Tekanan Proses
>100 bar >50 bar >20 bar > 10 bar <10 bar
> 8” 10 8 6 5 4
6“ 8 6 5 4 3
Perpipaan
Ukuran

4” 6 4 3 3 2
2” 4 3 2 2 1
< 1” 3 2 2 1 1

Tabel 9.4 Seleksi Metoda Isolasi

Faktor Bahaya Metoda Isolasi yang disarankan


≤30 Katup Tunggal
31 to 150 Katup Ganda
151 to 450 Katup Ganda dan Pembuangan (DBB)
451 to 600 Katup Tunggal, “Spade” dan Saluran Pembuangan
>600 Katup Ganda, Pembuangan dan “spade”

Faktor Bahaya

Faktor
Faktor Faktor
Faktor Faktor
Faktor
Akibat
Akibat Waktu
Waktu Pelepasan
Pelepasan
(Tabel 9.1)
(tabel 1) (Tabel 2)
(Tabel 9.2) (Tabel 9.3)
(Tabel 3)

Situasi Jenis Fluida Durasi Frekuensi Tekanan Ukuran Pipa

Gambar 9.1 Perhitungan Faktor Bahaya


78 Penentuan Tingkat Isolasi Energi Proses
10
79

Pelatihan
80 Pelatihan

P
elatihan Isolasi Energi bahaya dan Lock-Out Tag-
Out diberikan kepada dua kelompok:

• Kelompok pertama adalah pekerja yang


berwenang dalam melaksanakan isolasi. Karena
isolasi bisa berupa isolasi proses/mekanik dan
isolasi listrik, maka kewenangan dibedakan
antara kewenangan dan kompetensi untuk isolasi
proses/mekanik dan kewenangan untuk isolasi
listrik.

Kompetensi dan kewenangan isolasi proses dan


mekanik harus dapat melakukan penutupan dan
pembukaan katup, serta pemasangan pelat isolasi
(blinds, spades). Mereka harus mengetahui bagian
mana yang berkaitan dengan kebutuhan isolasi
suatu peralatan yang akan diperbaiki. Mereka harus
kompeten dalam menutup katup yakni mengetahui
apakah katup telah ditutup sepenuhnya. Begitu
juga dengan penutupan dengan “Blind”, yang
bersangkutan harus mengetahui tingkat tekanan
yang diperlukan sesuai dengan sistem yang
diisolasi, termasuk jumlah baut yang diperlukan
dan torsi yang diperlukan untuk pemasangan baut
tersebut.
Pelatihan 81

• Kelompok kedua adalah pekerja yang terlibat


dalam pekerjaan pada mesin yang diisolasi.
Kelompok ini perlu mengetahui prosedure isolasi
energi dan “Lock-out Tag-Out” sehingga mereka
dapat ikut serta dalam pengamanan isolasi energi
melalui kuncinya sendiri. Aplikasi penguncian oleh
mereka pada perangkat isolasi adalah untuk tujuan
pengamanan diri dan ketenangan mereka sendiri
melalui penguncian dan pelabel. Penguncian ini
bisa dilakukan pada seluruh perangkat isolasi atau
hanya pada kotak pengumpul kunci (“Lock Box”).
Mereka juga punya hak dan lebih baik baginya
untuk ikut memeriksa isolasi energi. Oleh sebab
itu pelatihan kepada mereka perlu dilakukan.
82 Pelatihan
11
83

Pergantian
Shift
84 Pergantian Shift

P
rosedur khusus harus dibuat untuk mengatur
pergantian shift untuk memastikan
keberlangsungan pengamanan dengan “Lock-
Out Tag-Out” terhadap pekerjaan yang panjang.
Keberlangsungan ini memastikan bahwa grup
(shift) selanjutnya memahami apa yang sedang
terjadi terhadap isolasi energi tersebut dan dapat
meneruskan tugas dan tanggung jawabnya dengan
benar.

Pekerja yang berwenang dari grup (shift) selanjutnya


harus menaruh perangkat kuncinya pada
perangkat isolasi energi sebelum pekerja yang dari
grupsebelumnya melepas kuncinya.
12
85

Kesalahan
Pada Isolasi
Energi
86 Kesalahan Pada Isolasi Energi

• Ketidak jelasan, ketidak akuratan, atau ketidak


lengkapan isi formulir isolasi energi atau formulir
ijin kerja tidak menjabarkan/mempersyaratkannya
isolasi energi. Kekurangan-kekurangan ini dapat
menyebabkan diantaranya: Isolasi dengan satu
katup dalam keadaan bocor, kesalahan katup
yang di tutup, kesalahan pematian arus listrik
melalui breaker yang salah, ketidak sengajaan
pekerja menyalakan energi listrik karena tidak
ada label atau tidak di kunci (Lock-Out Tag-Out)
pada breaker tersebut, penggunaan rating blind
yang seharusnya.

• Penyelia dari teknisi yang bertugas untuk isolasi


energi tidak melakukan pemeriksaan isolasi
energi, tidak memeriksa keakuratan titik-titik yang
harus diisolasi (listrik dan proses hidrocarbon),
tidak melihat kesesuaian jumlah baut pada flange
atau tidak sesuai kekuatan torsinya (karena tidak
dicantumkan dalam paket ijin kerja), atau tidak
melihat plat baja penutup ”blind” yang dipasang
sesuai ratingnya.

• Penyelia dari teknisi yang bertanggung jawab


pada pelaksanaan isolasi tidak memeriksa
Kesalahan Pada Isolasi Energi 87

pembersihan dan pembuangan gas hidrocarbon


sisa sehingga menyebabkan masih adanya gas
sisa dan atau cairan yang belum diuang, bagian
energy yang belum terisolasi, sisa energy belum
di buang (depressurize, earthing/grounding)
• Penyelia dari teknisi kelistrikan yang bertanggung
jawab pada isolasi listrik tidak melakukan
pemeriksaan (test) aliran listrik atau pemeriksaan
grounding sebelum menandatangani formulir
isolasi.
• Penyelia dari teknisi operasi yang bertanggung
jawab pada isolasi proses pabrik tidak memeriksa
gas sisa hidrocarbon dalan system proses sebelum
menandatangani daftar isian isolasi.
• Penutupan Katup dilakukan tidak sampai dengan
tertutup keseluruhan. Penutupan ini dilakukan
tanpa memastikan posisi Katup menutup atau
terbuka.

Kasus Piper Alpha (1988)


Pada modul ”Dokumentasi Pekerjaan Berbahaya”
pembahasan kasus Piper Alpha ditujukan untuk
menganalisa akar penyebab dari sudut pandang
88 Kesalahan Pada Isolasi Energi

sistem izin kerja yang tidak berjalannya dengan baik.


Pada modul Isolasi Energi Berbahaya meninjau akar
penyebab dari sudut kegagalan dalam pelaksanaan
Isolasi Energi Berbahaya.

Piper Alpha adalah platform produksi minyak lepas


pantai di laut utara Inggris. Pada tahun 1988 terjadi
ledakan di platform tersebut yang menewaskan lebih
dari 160 pekerja.

Seorang operator maintenance ketika itu sedang


memperbaiki pompa dalam unit pemrosesan gas.
Sebagian dari pekerjaan tersebut mereka melepas
PSV (Pressure Safety Valve) pada discharge pompa
tetapi tidak memasang blind flange yang standar
untuk menutup aliran yang menuju PSV. Proses isolasi
energi proses pada aliran menuju PSV tersebut tidak
dilakukan dengan blind flange yang sesuai (tidak
sesuai kerapatan penutupannya). Pada saat shift
malam bekerja, tidak seorangpun yang tahu bahwa
PSV telah dicabut dan isolasi blind flange tidak
dilakukan dengan benar.

Ketika satu pompa pada aliran ini dijalankan,


kebocoran uap campuran minyak dan gas terjadi
melalui isolasi blind flange yang tidak standar ini.
Kesalahan Pada Isolasi Energi 89

Gambar 12.1 Kecelakaan “Piper Alpha” pada tahun 1988.


90 Daftar Pustaka

Daftar Pustaka
1. ANSI Z244.1 (“American National Standard for
Control of Hazardous Energy Lockout/Tagout and
Alternative Methods” )

2. ANSI B16.5. Standard of Pipes and Fittings.

3. OSHA 29 CFR 1910.147 “The Control of


Hazardous Energy (Lockout/Tagout)”

4. The Safe Isolation of Plant and Equipment, Health


and Safety Executive (HSE) UK, 2006.

5. HSG 250, “Guidance on Permit-To-Work System”,


Health and Safety Executive (HSE) UK, 2005.

6. Guidance Note,”Isolation of Plant”, Government


of Western Australia Department of Commerce,
2010.

7. Procedure for the Isolation of Machinery /


Equipment, Monash University, May 2009.

8. API RP 14J “Design and Hazard Analysis for


Offshore Production Facility”
Lampiran 91

Lampiran Matriks Kompetensi SIKA

GAS SAFETY INSPECTOR

SAFETY INSPECTOR

PENGAWAS JAGA
SUBJECT OF

CONTRACTOR
No

AHLI TEKNIK
TRAINING

GAS TESTER
Frequency

Standard
Duration

PEKERJA
Provider
TRAINING MATRIX

I Pengetahuan Dasar

1 Identifikasi Bahaya Y Y Y Y Y Y Y

2 Alat Pelindung Diri Y Y Y Y Y Y Y

Pengendalian Pekerjaan Berbahaya


3 Y Y Y Y Y
dengan Dokumentasi

4 Surat Ijin Kerja Y Y Y Y Y Y Y

5 Pengamatan Keselamatan Kerja Y Y Y Y Y Y Y

6 Aspek Kebakaran Y Y Y Y Y AR AR

II Manajemen K3 Praktis

1 Accident Incident Investigation Y AR AR Y

2 Isolasi Energi Berbahaya Y AR Y Y

3 Lingkungan Kerja Aman Y AR Y Y Y AR AR

4 Tanggap Darurat

III Keselamatan Khusus

1 Penanganan Bahan Berbahaya Y AR AR Y AR AR AR

2 Keselamatan Kerja Radiasi Y AR AR Y AR AR AR

3 Keselamatan Kerja H2S Y AR Y Y Y AR AR

4 Memasuki Ruang Tertutup Y AR Y Y Y AR AR

5 Keselamatan Penggalian Y AR Y Y Y AR AR

6 Bekerja di Ketinggian Y AR Y Y Y AR AR

7 Scaffolding Y AR AR Y AR AR AR

8 Pengujian dan Deteksi Gas Y AR Y Y AR AR

9 Operasi Pengangkatan Y AR Y Y AR AR

10 Keselamatan Operasi Gas Purging Y AR AR Y AR

11 Bahaya terhadap Kesehatan Kerja Y AR Y Y Y AR AR

12 Tabung Gas Bertekanan Y AR Y Y Y AR AR

13 Klasifikasi Area Berbahaya Y AR Y Y Y

Y : Modul Wajib

: As Required
AR
(Sesuai kebutuhan)

: Modul Tidak Wajib

Anda mungkin juga menyukai