Anda di halaman 1dari 46

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sapi perah termasuk ternak yang homeostatis dimana keadaan fisiologis

tubuhnya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti suhu udara,

kelembaban udara dan radiasi sinar matahari. Susu sebagai salah satu produk sapi

perah merupakan sumber protein hewani yang semakin dibutuhkan dalam

meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebagai upaya untuk memenuhi

kebutuhan susu tersebut dilakukan peningkatan produksi dan produktifivitas sapi

perah. Pada keadaan ini, sapi perah harus dipelihara dengan tatalaksana

pemeliharaan yang baik agar produksi utamanya yaitu susu dapat dihasilkan

maksimal baik secara kualitas maupun kuantitas

Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu faktor lingkungan yang

sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah.

Tatalaksana pemeliharaan dilakukan sejak lahir sangatlah penting dalam upaya

menyediakan bakalan yang baik sebagai penghasil susu yang tingi. Dalam

tatalaksana pemeliharaan sapi perah diamati dari segi pemberian pakan, tata letak

kandang, hingga penanganan pra/pasca pemerahan.

Tatalaksana pemeliharaan sapi perah sangat penting, oleh karena itu di

lakukannya praktikum tatalaksana pemeliharaan sapi perah agar kita sebagai

mahasiswa lebih mengerti dan mehamami bagaimana tatalaksana pemeliharan

pada sapi perah.


2

1.2 Identifikasi Masalah

1) Bagaimana keadaan fisiologis sapi perah di UPT Sapi Perah Fapet

Unpad.

2) Bagaimana manajemen pemberian pakan sapi perah di UPT Sapi Perah

Fapet Unpad.

3) Bagaimana manajemen fisiologi lingkungan di UPT Sapi Perah Fapet

Unpad.

4) Bagaimana manajemen pemerahan sapi perah di UPT Sapi Perah Fapet

Unpad.

5) Bagaimana manajemen pastura dan produksi hijauan UPT Sapi Perah

Fapet Unpad.

6) Bagaimana manajemen sistem handling dan tali temali di UPT Sapi

Perah Fapet Unpad.

1.3 Maksud dan Tujuan

1) Mengetahui keadaan fisiologis sapi perah di UPT Sapi Perah Fapet

Unpad.

2) Mengetahui manajemen pemberian pakan sapi perah di UPT Sapi

Perah Fapet Unpad.

3) Mengetahui manajemen fisiologi lingungan di UPT Sapi Perah Fapet

Unpad.

4) Mengetahui manajemen pemerahan sapi perah di UPT Sapi Perah

Fapet Unpad.

5) Mengetahui manajemen pastura dan produksi hijauan di UPT Sapi

Perah Fapet Unpad.


3

6) Mengetahui manajemen sistem handling dan tali temali di UPT Sapi

Perah Fapet Unpad.

1.4 Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Sabtu dan mingga, 22-23 April 2017

Waktu : Pukul 17.00 – Selesai WIB

Tempat : Kandang Produksi Ternak Perah Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran.
4

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Fries Holland

Sapi perah secara umum merupakan penghasil susu yang sangat dominan

dibanding ternak perah lainnya. Salah satu bangsa sapi perah yang terkenal adalah

Sapi perah Fries Holland (FH). Sapi ini berasal dari Eropa yaitu Belanda, tepatnya

di Provinsi Holland Utara dan Friesian Barat, sehingga sapi bangsa ini memiliki

nama resmi Fries Holland dan sering disebut Holstein atau Friesian saja (Siregar,

1993). Sapi FH mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jenis sapi lainnya

yaitu:

 Bulunya berwarna hitam dengan bercak putih

 Bulu ujung ekor berwarna putih

 Bulu bagian bawah dari carpus (bagian kaki) berwarna putih atau hitam

dari atas turun ke bawah.

 Mempunyai ambing yang kuat dan besar.

 Kepala panjang dan sempit dengan tanduk pendek dan menjurus ke depan.

 Pada jenis Brown Holstein, bulunya berwarna cokelat atau merah dengan

putih (Foley dkk., 1973).

2.2 Manajemen Perkandangan

Perkandangan yaitu komplek dari suatu sentra kegiatan ternak yang

melindungi ternak dari gangguan buruk yang merugikan ternak dan menunjang

seluruh aktivitas ternak seperti kandang, gudang pakan, tempat feses, kantor, mess

dan kamar susu (Girisonta, 1995). Tujuan pembuatan kandang tersebut adalah
5

untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar yang merugikan, misalnya

gangguan terik matahari, hujan dan angin yang kencang (Djarijah, 1996).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab dan kandang

dibersihkan setiap hari sehingga susu yang diperoleh tidak rusak dan tercemar

(Syarief dan Sumoprastowo, 1985).

2.2.1 Lokasi Kandang

Penentuan ataupun pemilihan lokasi kandang hendaknya memenuhi

ketentuan-ketentuan yaitu tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk ataupun

bangunan-bangunan umum seperti sekolah, rumah sakit, puskemas, masjid, dan

sebagainya, tidak ada rasa keberatan dari pihak masyarakat disekitar; pembuangan

air limbah dan kotoran tersalur dengan baik dan persediaan air cukup; letak areal

kandang lebih tinggi sekitar 20-30 cm dari lahan sekitarnya; masih

memungkinkan untuk perluasan kandang (Siregar, 1998).

.Lokasi kandang sapi perah yang bagus yaitu sekitar 1-2 kilometer dari

permukiman penduduk atau tempat keramaian hal ini bertujuan untuk

menghindari bau yang tidak sedap yang membuat tidak nyaman, agar sapi tidak

stress sehingga produksi susu tetap bagus, diusahakan lokasi kandang dengan

sumber air dekat agar mudah dalam proses sanitasi (Girisonta, 1995).

2.2.2 Kontruksi Kandang

Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup yang sehat, nyaman

dan tidak menimbulkan kesulitan dalam meakukan aktivitas ternak sehingga

kontruksi kandang harus kokoh, tidak membahayakan sapi atau peternaknya.

Atap kandang bisa dibuat dari genteng, seng, asbes, daun kelapa ataupun

dari bahan lain. Tinggi atap dari genting 4,5 m untuk dataran rendah dan

menengah dan 4 m untuk dataran tinggi. Tinggi plafon teras berkisar antara 1,75–
6

2,20 m, lebar teras sekitar 1 m (Siregar, 1998). Bahan-bahan yang bisa digunakan

sebagai dinding adalah anyaman bambu, papan atau bata, ketinggian dinding

sebaiknya diperhatikan, yaitu harus setinggi atau lebih tinggi dari tubuh ternak

sapi (kurang lebih 2 m), karena berhubungan dengan pengaturan ventilasi dan

masuknya sinar matahari sehingga tidak terhalang oleh dinding, tinggi kandang

dari lantai sekitar 125-150 cm (Syarief dan Sumoprastowo, 1985).

Lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan yang cukup keras dan tidak

licin untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kandang.Tempat pakan

dibuat memanjang sepanjang kandang dan diusahakan sapi dapat mengambil

pakan yang disediakan. Tempat minum porsi yang cukup untuk ternak dan bisa

dibuat disebelah pakan, namun juga harus diperhatikan cara pergantiannya agar

terhindar dari kontaminasi pakan yang tercecer oleh ternak (Darmono, 1993).

2.2.3 Tipe Kandang

Kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu: kandang tipe

tunggal merupakan tipe kandang yang memiliki bentuk atap tunggal atau berdiri

satu baris kandang dengan demikian sapi yang ditempatkan dikandang ini

mengikuti bentuk atap yang hanya satu baris dan kandang tipe ganda merupakan

kandang yang memiliki bentuk atap kanda atau dua baris yang saling berhadpan

sehingga sapi yang berada dalam kandang ini berdiri dua baris dengan posisi

saling berhadapan atau dengan saling bertolak belakang (Girisonta, 1995).

2.3 Pakan

Pakan sapi perah terdiri dari hijauan leguminosa dan rumput yang

berkualitas baik serta dengan konsentrat tinggi kualitas dan palatabel (Blakely dan

Bade, 1994).Pemberian pakan dimaksudkan agar sapi dapat memenuhi kebutuhan


7

hidupnya sekaligus untuk pertumbuhan dan reproduksi.Pemberian pakan

hendaknya mencukupi kebutuhan dan harus efisien, sehingga tidak menimbulkan

kerugian (Djarijah, 1996).Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak

10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1-2% dari berat badan

(Hartadi dkk., 1993). Kebutuhan BK ternak meningkat sesuai dengan

bertambahnya produksi susu (Williamsom dan Payne, 1993).

Konsentrat adalah pakan ternak yang berasal dari biji-bijian atau hasil

samping dari pengolahan suatu produk, misalnya bungkil kacang, bungkil kedelai,

bungkil kelapa, dedak padi, dan lain-lain (Darmono, 1993). Bahan pakan

konsentrat mengandung kadar serat kasar rendah dan mudah dicerna, tersusun atas

bijian dan limbah olahan hasil pertanian (Sudono dkk., 2003). Pemberian

konsetrat adalah 1 kg untuk tiap 4 kg susu yang dihasilkan. Pemberian konsentrat

hendaknya sebelum hijauan, karena untuk merangsang mikroba rumen.Konsentrat

sebaiknya diberikan sebelum pemerahan agar mikroba dalam rumen dapat

memanfaatkan karbohidrat sehingga dapat dicerna (Lubis, 1963).

Sapi yang sedang berproduksi memiliki jadwal pemerahan setiap hari,

yang pada umumnya dilakukan dua kali. Jadwal pemerahan yang teratur dan

seimbang akan memberikan produksi air susu lebih baik daripada jadwal

pemerahan yang tidak teratur dan tidak seimbang, misalnya jarak pemerahan

terlalu panjang atau terlalu pendek. Sebagai contoh: jarak pemerahan antara 16

jam dan 8 jam hasilnya lebih rendah dibanding sapi yang diperah dengan jarak

pemerahan antara 12 jam dengan 12 jam (AAK, 1995).


8

2.4 Manjemen Pemerahan

Tujuan dari pemerahan adalah menjaga agar sapi tetap sehat dan ambing

tidak rusak, karena pelaksanaan pemerahan yang kurang baik, mudah sekali

menimbulkan kerusakan pada ambing dan putting karena infeksi mastitis yang

sangat merugikan hasil susu. Dan juga untuk mendapatkan susu yang maksimal

dari ambing (Blakely dan Bade, 1994). Sistem pemerahan pada sapi perah ada 2

macam yaitu pemerahan dengan mesin dan pemerahan dengan cara manual

(menggunakan tangan) (Sudono dkk., 2003).

2.4.1 Fase persiapan

Fase persiapan yang harus dilakukan antara lain sapi yang akan diperah

harus dibersihkan dari segala macam kotoran, tempat dan peralatan harus telah

disediakan dan dalam keadaan yang bersih (Muljana,1985). Peralatan yang harus

disediakan adalah ember tempat pemerahan susu, bangku kecil untuk pemerah,

tali tambang pengikat kaki sapi perah, milk can untuk penampung susu, saringan

untuk menyaring susu dari kotoran dan bulu-bulu sapi. Selanjutnya menenangkan

sapi, mengikat ekornya dan mencuci ambing dengan air hangat serta melakukan

massage untuk merangsang keluarnya air susu. Sebelum pemerahan dimulai,

pemerah harus melakukan cuci tangan dengan bersih dan

mengeringkannya.(Siregar, 1998).

Adnan (1984), menyatakan bahwa untuk menjaga agar kandungan bakteri

dalam susu segar dapat serendah mungkin, semua peralatan yang dipakai untuk

penanganan air susu segar harus diusahakan tetap bersih. (Sugeng, 1992)

menambahkan bahwa langkah-langkah sebelum melakukan pemerahan yaitu: a)

cuci alat-alat dengan air pada suhu 50 derajat atau lebih; b) pembersihan

dikerjakan dengan deterjen alkali atau deterjen asam; c) kemudian alat-alat


9

tersebut dicuci lagi dengan air hangat untuk menghilangkan residu yang telah

dapat dilepaskan oleh deterjen.

2.4.2 Fase Pemerahan

Pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemerah

atau dengan tangan. Proses pemerahan yang baik, dilakukan dalam interval yang

teratur, cepat, lembut, pemerahan dilakukan sampai tuntas, dan menggunakan

prosedur sanitasi, serta efisien dalam penggunaan tenaga kerja (Prihadi, 1996).

Menurut Muljana (1985), pemerahan manual (dengan tangan) dilakukan dengan

memegang pangkal puting susu antara ibu jari dan jari tengah, kemudian kedua

jari kita tekan pelan dan menariknya ke bawah hingga air susu keluar, dan cara

yang mempergunakan lima jari yaitu ibu jari diatas dan keempat jari lainnya

memegang puting dan menarik-nariknya dengan pelan hingga air susu dapat

keluar dengan baik.

2.4.3 Teknik Pemerahan

Metode pemerahan dengan tangan terdiri dari tiga metode, yaitu metode

full hand (seluruh jari), knevelen dan strippen.Pemerahan dengan menggunakan

seluruh jari biasanya dilakukan pada sapi yang mempunyai ambing dan puting

yang panjang dan besar. Pemerahan dilakukan dengan cara puting dipegang antara

ibu jari dengan jari telunjuk pada pangkal puting menekan dan meremas pada

bagian atas, sedangkan ketiga jari yang lain menekan dan meremas bagian tubuh

puting secara berurutan, hingga air susu memancar keluar dan dilakukan sampai

air susu dalam ambing habis (Abubakar et. al., 2009).

Metode pemerahan carastrippen adalah metode pemerahan menggunakan

dua jari sambil menarik puting. Cara ini sering dilakukan pada sapi yang memiliki

ukuran puting kecil, yaitu dilakukan dengan cara memijat puting dengan ibu jari
10

dan jari telunjuk pada pangkal puting dan diurutkan ke arah ujung puting sampai

air susu memancar keluar. Cara ini harus menggunakan vaselin atau minyak

kelapa sebagai pelicin, agar tidak terjadi kelecetan pada puting (Syarief dan

Sumoprastowo, 1990).

Cara pemerahan knevelen adalah pemerahan dengan menggunakan seluruh

tangan. Cara ini mirip dengan cara full hand, tetapi ibu jari ditekuk saat menekan

bagian atas puting, sehingga bagian punggung ibu jari yang menekan puting. Cara

ini juga digunakan pada sapi yang memiliki ukuran puting kecil. Semua cara

pemerahan dengan tangan, pembersihan dan disinfektan dilakukan pada masing-

masing puting ketika proses pemerahan telah selesai, hal ini untuk mencegah

infeksi dan radang ambing (Abubakar et. al., 2009).

2.4.4 Pasca Pemerahan

Susu setelah diperah harus segera ditampung dan dibawa ke kamar susu.

Penanganan susu yang biasa dilakukan adalah penyaringan dan pendinginan.

Penyaringan susu bertujuan untuk mendapatkan susu yang terbebas dari kotoran.

Selain penyaringan dan pendinginan, pengujian kualitas susu juga dilakukan

karena merupakan hal yang penting untuk mengetahui kualitas susu yang

dihasilkan (Siregar, 1993). Susu yang baik memiliki BJ susu minimal 1,027 pada

temperatur 27,6oC, dan kadar lemak berkisar 3%. Sesudah melakukan pemerahan

sebaiknya putting dicelupkan dalam larutan disinfektan untuk menghindari

terjadinya mastitis (Syarief dan Sumoprastowo, 1984).

2.5 Fisiologi Ternak Sapi Perah

Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi frekuensi nafas, meliputi jenis

ternak, bangsa, individu, umur, jenis kelamin dan kondisi ternak, serta faktor
11

eksternal antara lain lingkungan, aktivitas dan tekanan (stress) serta suhu

sekitar.Suhu tubuh normal sapi perah FH sekitar 38 – 39,50C (Muljana, 1985).

2.5.1 Denyut nadi

Denyut nadi pada daerah comfort zoneakan konstan tetapi apabila telah

melewati batas tolerir comfort zone maka denyut nadi akan mengalami

peningkatan (Frandson, 1992). Faktor yang dapat mempengaruhi denyut nadi

adalah konsumsi pakan, umur, aktivitas otot, kebuntingan, stress dan suhu udara

(Budianto, 2012). kisaran denyut jantung normal untuk sapi perah antara 50 - 80

kali/menit. Faktor yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi adalah suhu

lingkungan (Suherman dkk.,2013).

2.5.2 Frekuensi Urinasi

Urinasi merupakan suatu yang dilakukan ternak dalam mengatur proses

keseimbangan tubuh yaitu dengan cara membuang urin atau cairan yang tidak

bermanfaat lagi bagi tubuh Sapi perah mampu berurinasi selama 24 jam sebanyak

3 kali sampai 19 kali. Frekuensi urinasi seekor ternak dipengaruhi oleh suhu

lingkungan yang berkaitan dengan konsumsi air minum pada sapi perah (Akoso,

2008).

2.5.3 Frekuensi Defekasi

Standar frekuensi defekasi sapi perah selama 24 jam mengeluarkan feses

sebanyak 6 sampai 8 kali dan mengeluarkan 8% dari berat badannya (Soetarno,

2003). Frekuensi urinasi dan defekasi pada ternak dipengaruhi oleh suhu

kandang, lingkungan dan pakan. Frekuensi urinasi dan defekasi biasanya akan

berhenti atau mencapai titik terendah ketika ternak beristirahat dan frekuensinya

akan naik ketika diwaktu makan. Defekasi akan meningkat diwaktu jam–jam

pemerahan dan pemberian pakan (Vaughan et al., 2014).


12

2.6 Ruminasi

Ruminansi dilakukan oleh ternak yang diamati pada saat istirahat sambil

bernaung pada pohon yang terdapat pada padang penggembalaan. Rumansi

dilakukan oleh ternak pada keadaan berdiri dan duduk. Pada proses ini pakan yang

tadinya masih kasar akan dikunyah kembali. Menurut Rumetor (2003), setelah

mengunyah beberapa saat, ketika air liur bertambah, maka makanan ditelan dalam

bentuk bolus. Ketika sapi memamah biak, makanan tadi kembali kemulut dan

dikunyah kembali. Selama proses ruminasi inilah penggilingan yang utama

dilakukan. Proses penggilingan makanan akan memperbesar permukaan dari

makananan tersebut. Permukaan makanan yang lebih besar tersebut akan

membantu mikro-organisme yang ada pada rumen dan cairan pencernaan dalam

menghancurkan makanan.

2.7 Recording

Recording merupakan sistem pencatatan yang efisien karena pencatatan

dapat dilakukan dengan lebih sederhana tetapi cukup akurat untuk digunakan

dalam pendugaan kurva produksi ataupun nilai pemuliaan.Recording terutama

dilakukan pada peternakan besar harus diarahkan kepada seleksi berdasarkan nilai

pemuliaan ternak agar kemajuan genetiknya lebih cepat dan terkontrol (Nena,

2005).

2.8 Ruminansi

Ruminansi merupakan salah satu ciri yang khas pada ternak ruminasia

yaitu dengan mengunyah kembali makanan yang telah masuk lambung (rumen)
13

agar lebih lumat dan dapat dengan mudah dicerna (Soebronto, 1985). Sapi

biasanya melakukan ruminansia setelah 2 - 5 jam setelah makan dan pada

malam hari pada saat sapi sedang berbaring (Frandson, 1992).

2.9 Fisiologi Lingkungan

Lingkungan menurut asalnya dibagi menjadi dua, yaitu lingkungan alam

dan lingkungan buatan. Lingkungan alam terdiri dari faktor iklim yaitu suhu

udara, kelembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara, curah hujan,

ketinggian, debu, cahaya dan radiasi kosmik (Williamson dan Payne, 1993).

Lingkungan alam dipengaruhi oleh cahaya dan iklim, sedangkan lingkungan

buatan terdiri dari polusi lingkungan, komponen toksis pada air, factor mekanis,

radiasi ionisasi dan ionisasi udara buatan. Selain lingkungan diatas masih ada

lingkungan lainnya yaitu lingkungan social, tanah vegetasi, endoparasit dan

ektoparasit (Siregar, 1993).

2.9.1 Pengukuran Suhu Udara

Suhu merupakan bentuk karakteristik inherent, dimiliki oleh suatu benda

yang berhubungan dengan panas dan energi. Jika panas dialirkan pada suatu

benda maka suhu benda akan meningkat, sebaliknya suhu benda akan turun jika

benda yang bersangkutan kehilangan panas (Williamson dan Payne, 1993).

Pengembangan sapi perah disekitar subtropis sebaiknya dipilih daerah yang

mempunyai suhu lingkungan antara 18,3° - 21,1°C dan kelembaban diatas 55%

dengan ketinggian antara 790 - 1220 m di atas permukaan laut. Daerah yang

cocok untuk sapi perah dengan suhu lingkungan 21° - 25°C dengan ketinggian

tempat 790 m dari permukaan laut (Siregar, 1993). Menurut Campbell dan Lasley
14

(1985), suhu udara pada daerah yang nyaman (comfort zone) untuk usaha sapi

perah adalah berkisar antara 15,56º - 26,67ºC.

2.9.2 Pengukuran Kelembaban

Kelembaban udara adalah perbandingan relatif uap air yang ada dalam

udara jenuh pada tekanan dan suhu yang sama. Kelembaban relatif erat

hubungannya dengan tingkat penguapan air dari tubuh ternak ke lingkungan

(Siregar, 1993). Kelembaban udara relatif lebih tinggi pada udara dekat

permukaan pada pagi hari disebabkan karena penambahan uap air hasil

evatranspirasi dari permukaan atau pengembunan yang memanfaatkan uap air

yang berasal dari udara (Williamson dan Payne, 1993).

2.9.3 Pengukuran Radiasi

Radiasi matahari dapat menaikkan beban panas pada ternak. Banyaknya

radiasi matahari yang diserap kulit tergantung dari warna kulit dan bulunya. Kira-

kira setengah dari spektrum matahari dalam bentuk kelihatan sedangkan lebih

kurang setengah lagi dalam bentuk tidak kelihatan yaitu sinar infra merah.

Banyaknya sinar yang kelihatan diserap oleh binatang tergantung dari warna

binatang di mana warna putih menyerap 20% sedangkan warna hitam menyerap

100% dari radiasi sinar yang kelihatan akan diserap semua oleh binatang apapun

warna kulitnya (Williamson dan Payne, 1993). Warna bukan satu-satunya faktor

yang mempengaruhi radiasi matahari terhadap beban panas ternak. Radiasi

maksimal dicapai pada saat matahari mencapai zenith, sedangkan radiasi minimal

dicapai pada saat matahari berada pada posisi terendah. Pengembangan sapi perah

disekitar subtropis sebaiknya dipilih daerah yang mempunyai suhu lingkungan

antara 18,3° - 21,1°C dan kelembaban diatas 55% dengan ketinggian antara 790-

1220 m di atas permukaan laut. Daerah yang cocok untuk sapi perah dengan suhu
15

lingkungan 21° - 25°C dengan ketinggian tempat 790 m dari permukaan laut

(Siregar, 1993). Purwanto et al (1995) menyatakan bahwa radiasi maksimal

dicapai pada saat matahari mencapai zenith, sedangkan radiasi minimal dicapai

pada saat matahari berada pada posisi terendah.

2.10 Perkandangan

Perkandangan merupakan kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola

yang digunakan untuk melakukan kegiatan proses produksi sebagian atau seluruh

kehidupannya dengan segala fasilitas dan peralatannya, sedangkan kandang

adalah tempat tinggal ternak untuk melakukan kegiatan produksi maupun

reproduksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya (Sudarmono, 1993). Dalam

pembuatan kandang sapi perah diperlukan beberapa persyaratan yaitu terdapat

ventilasi, memberikan kenyamanan sapi perah, mudah dibersihkan, dan memberi

kemudahan bagi pekerja kandang dalam melakukan pekerjaannya (Siregar, 1993).

Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup yang sehat, nyaman bagi

sapi dan tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan tata-laksana. Oleh

karena itu, konstruksi, bentuk, dan macam kandang harus dilengkapi dengan

ventilasi yang sempurna, atap, dinding, lantai, tempat pakan dan air minum,

selokan atau parit, dan ukuran petak kandang yang sesuai kapsitas (Blakely dan

Blade, 1995).

2.10.1 Ventilasi

Ventilasi harus berfungsi dengan baik agar keluar-masuknya udara dari

dalam dan luar kandang berjalan sempurna. Pengaturan ventilasi yang sempurna

berarti memperlancar pergantian udara di dalam kandang yang kotor dengan udara

yang bersih dari luar (Siregar, 1993). Jika ventilasi sempurna, maka ruangan
16

kandang tidak akan pengap, lembab, kotor, berdebu, dan panas. Ventilasi

kandang sapi perah di daerah tropis cukup dengan ventilasi alami, yang

pengadaannya erat sekali dengan perlengkapan dinding terbuka atau dinding semi

terbuka (Blakely dan Blade, 1995).

2.10.2 Atap

Atap berfungsi untuk menjaga kehangatan sapi pada malam hari. Atap

juga berfungsi untuk melindungi sapi dari terik matahari dan air hujan. Konstruksi

atap harus dibuat miring agar air hujan dapat meluncur di atas atap dengan lancar.

Sudut kemiringan atap diusahakan sekitar 30°, bagian yang rendah mengarah ke

belakang (Blakely dan Blade, 1995). Bahan yang digunakan untuk membuat atap

antara lain asbes, rumbai tanah, genting dan seng. Bahan yang ideal adalah

genteng karena mudah menyerap panas dan antara genting terdapat celah-celah

sehingga membantu dalam sirkulasi udara. Atap rumbai memiliki kelemahan yaitu

mudah rusak akibat serangan angin yang besar, oleh karena itu perlu adanya

pengikatan yang kuat pada pemakaian atap rumbai. Bila menggunakan seng

sebaiknya dicat putih pada bagian luarnya dan hitam pada bagian dalamnya

agar pada siang hari tidak terlalu panas. Selain itu dapat digunakan genteng karena

mudah menyerap panas dan antara genteng terrdapat celah-celah dalam membantu

sirkulasi udara. (Williamson dan Payne, 1993).

2.10.3 Dinding

Pembuatan dinding kandang disarankan hanya pada daerah yang banyak

angin bertiup dengan kencang. Sebaliknya pada daerah yang berangin tenang tak

perlu dibuat dinding kandang, kalau perlu hanya dibuat pada kedua sisi kandang

kanan dan kiri dengan tinggi 1 meter dari lantai (Siregar, 1993). Dinding biasanya

dibuat dari tembok atau beton yang dibuat rata agar mudah membersihkannya.
17

Warna dinding putih atau warna terang lainnya sehingga kotoran dalam kandang

mudah kelihatan dan kandang lebih bersih. Dinding yang dibangun semi terbuka

memberikan keuntungan antara lain terjadinya pergantian udara dalam

kandang.(Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

2.10.4 Lantai

Lantai yang memenuhi syarat dapat menunjang proses fisis, biologis

seperti memamah biak, bernafas dan lainnya sehingga berjalan dengan normal.

Lantai yang kasar atau tajam akan dapat menimbulkan luka khususnya pada kulit

contohnya lecet sehingga mudah dimasuki organisme kedalam luka tersebut

(Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Lantai yang licin dapat menyebabkan sapi

mudah tergelincir, sedangkan lantai yang lembab dan becek dapat mengganggu

pernapasan sapi dan menjadi sarang kuman. Supaya air mudah mengalir atau

kering, lantai kandang harus diupayakan miring dengan kemiringan 2-3 cm.

Lantai sebagai tempat berpijak dan berbaring sapi sepanjang waktu harus benar-

benar memenuhi syarat : tahan injak, tidak licin, tidak mudah menjadi lembab,

dan selalu bersih (Siregar, 1993).

2.10.5 Tempat Pakan dan Air Minum

Tempat pakan dan air minum sebaiknya dibuat cekung. Tempat pakan

biasanya terbuat dari papan kayu dan tempat air minum menggunakan ember

(Siregar, 1993). Kandang yang disekat-sekat dengan pembatas sebaiknya

dilengkapi tempat pakan dan air minum dari beton semen secara individual.

Masing-masing dibuat dengan ukuran 80 x 50 cm2 untuk tempat pakan dan 40 x

50 cm2 untuk air minum (Blakely dan Blade, 1995).


18

2.10.6 Selokan Dan Parit

Lantai bagian belakang dan di keliling kandang harus dilengkapi parit agar

air pembersih kandang dan air untuk memandikan sapi mudah mengalir menuju

ke bak penampungan (Blakely dan Blade, 1995). Selokan dibuat dengan lebar

20 - 40 cm dan kedalaman 15 - 25 cm yang untuk memudahkan pembuangan

kotoran yang cair, air minum maupun air untuk memandikan sapi (Siregar, 1993)

2.10.7 Tempat Sapi (Petak Kandang)

Pengaturan ukuran kandang yang sesuai kapasitas dapat menjamin

kesehatan dan kenyamanan sapi. Sebagai pedoman ukuran luas untuk seekor sapi

perah dewasa adalah 1,2 x 1,75 m2. Setiap ruangan bagi sapi-sapi dewasa

sebaiknya diberi dinding penyekat untuk memisahkan sapi yang satu dengan yang

lain (Siregar, 1993). Dinding penyekat ini dapat terbuat dari tembok, besi bulat

(pipa air) ataupun berasal dari kayu atau bambu. Dengan adanya dinding penyekat

ini dimaksudkan agar setiap sapi yang menghuni ruangan itu tidak terganggau

dengan yang lain, sehingga masing-masing merasa lebih aman. Dengan

penyekatan tersebut paling tidak dapat mengurangi atau menghalangi sapi-sapi

yang sering memiliki perangai agak agresif (Blakely dan Blade, 1995).

2.11 Anatomi Ambing

Ambing merupakan kelenjar kulit yang ditumbuhi bulu kecuali puting, 4

saluran susu yang terpisah bersama-sama menuju ambing (Schmidt, 1971).

Menurut Blakely dan Bade (1995) anatomi ambing seekor sapi perah dibagi

menjadi empat kuartir terpisah. Dua kuartir depan biasanya berukuran 20% lebih

kecil dari kuartir ambing bagian belakang dan antara kuartir itu bebas satu dengan

yang lainnya.
19

Tiap-tiap kuartir mempunyai satu putting. Bentuk putting bulat, seragam,

terletak pada masing-masing kuartir seperti pada sudut bujur sangkar. Kuartir

ambing terdapat saluran tempat air susu keluar yang disebut saluran putting

Pemisahan ambing menjadi dua bagian ke arah ventral ditandai dengan adanya

kerutan longitudinal pada lekukan intermamae (Frandson, 1992). Masing-masing

terdiri dari 2 kuartir, kuartir depan dan belakang dipisahkan oleh lapisan tipis (fine

membrane). Lapisan pemisah ini menyebabkan setiap kuartir ambing berdiri

sendiri terutama pada kenampakan secara eksterior. Perbedaannya terletak pada

ukuran ambing dan struktur atau anatomi bagian dalamnya, yaitu belum

sempurnanya kerja sel-sel penghasil susu (Soebronto,1985).

2.11.1 Ambing Sapi Dara

Sapi dara mempunyai ambing dengan ukuran yang lebih kecil dan struktur

alveoli yang masih halus. Saluran pada ambing sapi dara belum berkembang dan

hanya berupa jaringanadiposa. Puting sapi dara masih sederhana dan belum

banyak saluran untuk proses laktasi. Hal ini dikarenakan pada ambing sapi dara

masih berupa bantalan lemak sehingga saluran untuk proses laktasi belum

terbentuk (Frandson, 1992). Sapi betina yang telah mencapai dewasa-kelamin,

maka estrogen (dihasilkan oleh folikel pada ovarium) merangsang perkembangan

sistema duktus yang besar. Siklus yang berulang, jaringan kelenjar susu

dirangsang untuk berkembang lebih cepat. Setelah sapi dara mengalami beberapa

kali siklus estrus, maka folikel berkembang menjadi korpus luteum dan

memproduksi progesteron, yang menyebabkan perkembangan sistema lobul-

alveolar (Williamson dan Payne, 1993).


20

2.11.2 Ambing Sapi Laktasi

Puting ambing sapi laktasi terbentuk sempurna dan berkembang baik

seiring dengan perkembangan ambing dan sudah menampakkan saluran yang

lengkap seperti, muara putting yang berfungsi tempat berkumpulnya susu, teat

canal merupakan saluran putting tempat keluarnya susu, membran mukosa

merupakan saluran tipis yang menutupi atau melapisi dinding putting bagian

dalam, otot spinter merupakan otot yang mengatur pembukaan dan penutupan

putting dan teat meatus (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Pada ambing sapi

laktasi,ligamentum lateralis dan ligamentum medialis terlihat jelas. Struktur

alveoli lebih banyak dan besar yang membentuk rongga. Vena mammaria pada

ambing sapi laktasi tampak jelas karena sapi laktasi sudah dapat memproduksi

susu (Frandson, 1992).

Suplai darah ke ambing sebagian besar melalui arteri pudendal (pundik)

eksternal yang merupakan cabang dari pudendoepigastrik. Arteri pudendal

eksternal bergerak ke arah bawah melalui kanalis inguinalis yang berliku-liku dan

terbagi menjadi cabang-cabang kranial dan kaudal yang mensuplai bagian depan

dan belakang kuarter ambing pada sisi yang sama dari arteri tersebut. Arteri

perineal mensuplai sejumlah kecil darah ke bagian kaudal dari kedua bagian

(masing-masing separuh bagian) ambing. Aliran vena dari ambing melalui

lingkaran vena pada dasar ambing, yang melekat pada dinding abdominal. Vena

pada bagian ambing terdiri atas vena pudendal dan vena epigastrik superfisial

kaudal. Vena tersebut berjalan ke arah depan di dalam bidang sagital dari lateral

sampai garis tengah dinding abdominal sebelah ventral (Frandson, 1992).

Pembagian ambing menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan

sistem saluran, yang lebih kurang mirip dua buah pohon yang saling berdekatan di
21

mana ranting serta dahannya saling bertaut, namun masing-masing mempunyai

ciri sendiri. Parenkimia (jaringan epitel) dari kelenjar mamae dalam beberapa hal

mirip dengan jaringan paru-paru, atau dengan kata lain mirip dengan setandan

anggur, dengan alveoli sebagai buah anggurnya, dengan berbagai tingkat duktus

digambarkan sebagai batangnya. Alveoli merupakan struktur utama untuk

produksi susu (Frandson, 1992). Pada masa kebuntingan yang lanjut terjadi

kenaikan bertahap dalam sekresi prolaktin yang dirangsang oleh estrogen.

Pelepasan oksitosin pada tiap-tiap pemerahan merangsang sekresi prolaktin.

Hormon tersebut masuk lewat darah ke dalam kelenjar susu, merangsang sel-sel

epitel untuk mengeluarkan susu diantara waktu pemerahan (Anggorodi, 1994).

Laktasi normal pada sapi perah lamanya berkisar antara 305 hari dengan

60 hari masa kering, sedangkan produksi susu tertinggi terjadi pada 6 sampai 12

minggu pertama masa laktasi (Blakely dan Bade, 1995). Semakin lama masa

kering yang didapat semakin besar presistensi pada laktasi berikutnya, karena

masa kering merupakan masa untuk membangun persediaan zat-zat cadangan

makanan (Anggorodi, 1994).


22

III

ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat

1. Skop untuk membersihkan kandang sapi perah.

2. Arco untuk mengangkat kotoran ke pembuangan.

3. Selang untuk membersihkan kandang dan sapi.

4. Sikat untuk membersihkan sapi.

5. Sapu lidi untuk menyapu kandang sapi.

6. Kamera untuk mengambil foto pada saat kegiatan praktikum.

7. Ember untuk menampung feses.

8. Timbangan untuk menimbang feses.

9. Gelas ukur untuk mengukur urine yang dikeluarkan sapi.

10. Sabit untuk mengambil rumput.

11. Alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan pada sapi perah.

3.2 Bahan

1. Sapi Perah FH (Kasih).

2. Pakan berupa rumput segar dan konsentrat.

3.3 Prosedur Kerja

1. Mahasiswa mengisi daftar hadir (ke-1) pada lembar yang telah

disediakan, memakai jas lab/baju kerja dan sepatu kandang.

2. Mahasiswa mendapatkan lembar kerja untuk pengamatan khusus dan

kegiatan rutin di kandang.


23

3. Mahasiswa mengikuti segala kegiatan sesuai dengan jadwal kerja di

kandang (memandikan sapi, memberi pakan konsentrat dan hijauan,

menyabit rumput, mencacah rumput, melakukan pemerahan, dan

membersihkan kandang).

4. Mahasiswa melakukan pengamatan sesuai dengan yang ditugaskan

dosen mata kuliah (mencatat waktu ruminasi, mengamati tingkah laku

ternak, menghitung/menimbang pakan yang dikonsumsi, mengukur

ukuran tubuh sapi perah pada berbagai umur, menghituntg/menimbang

produksi hijauan, mengukur produksi susu, menganalisis kualitas susu).

5. Mahasiswa menandatangani daftar hadir (ke-2) sebelum pulang.


24

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Identifikasi Ternak

Nama Sapi : Kasih

Laktasi : ke - II

Tanggal lahir : 11 / 12 / 2012

Tanggal beranak terakhir : 10 / 04 / 2015

Bangsa sapi : Peranakan Friesian Holstein

Bobot Badan : 460 kg

4.1.2 Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Perah

Petugas : Anggota UKM KSPTP

Kelompok : B5

Sapi yang diamati : Kasih

Tabel 1. Tatalaksana Pemeliharaan Sapi Perah

Pemberian Sisa Pengeluaran Produksi Susu


TGL Pukul Pa So Tot
Kons. Hij. Kons. Hij. Feses Urin
gi re al
17.00- 14
4,6 kg 0 kg - 1x 3L 3L
18.00 kg
18.00-
0 kg
24/03 19.00
/2017 20.00-
21.00
21.00-
ISTIRAHAT
05.00
25/03 05.00-
2x 1x
/2017 06.00
25

06.00- 1,6
4,6 kg - 1x
07.00 kg
07.00-
1x 4L 4L
08.00
08.00-
09.00
09.00-
10.00
10.00-
11.00
11.00-
12.00
12.00-
13.00
13.00- 9,2
14.00 kg
14.00-
15.00
15.00-
17.00
Remastikasi : 3877 kali /1 jam

4.1.3 Ukuran Tubuh dan Produksi Susu Sapi Perah Laktasi

Tabel 2. Ukuran Tubuh dan Produksi Susu Sapi Perah Laktasi

UKURAN SARANA
Petak
LD PB TB Bak minum Bak makan Palang
kandang
leher (t)
L P L T D L P D
178,3 138 200 30 60 125 60
26

4.1.4 Produksi Rumput

Tabel 3. Perhitungan Carrying Capacity

Luas lahan rumput yang dipotong pada hari ini 1 m2


Banyaknya Rumput yang dipotong 1 ikat @ 10 kg
Umur Pemotongan (Rumput) 60 hari
Dalam 1 Ha padang Rumput
Hitung produktivitas lahan rumput selama setahun!
 Produksi rumput/tahun = 1 kg x 1,5 x 6= 9 kg
 Kebutuhan hijauan/tahun = 46 x 365= 16.790
 Carrying Capacity = 9 / 16.790 = 0,00053
Pemberian rumput per hari per ekor (sapi yang diamati) 46 kg
Maksimal sapi perah yang dapat dipelihara dikandang 20 ekor

4.1.5 Prosedur Pemerahan


PROSEDUR Skor
KETERANGAN (beri centang)
PEMERAHAN
1 2 3 4 5
SEBELUM
PEMERAHAN
1. Membersihkan  Tempat  Tempat
0  Lantai
Kandang bersih minum
2. Menyiapkan
peralatan
0 Belum bersih Sebagian bersih Belum siap
pemerahan yang
sudah bersih
3. Membersihkan  Ambing
0 Dimandikan Diniarkan
sapi yang kotor dan putting
4. Pemerah dalam  Kuku
1 Baju kotor Merokok
keadaan bersih panjang
 Tangan
Tangan kotor
bersih
JUMLAH 1
PELAKSANAA
N
PEMERAHAN
Membersihkan
ambing dan
putting
5. Satu sapi satu 0 Lap khusus Lap ramai-ramai
27

lap
6. Air hangat 0 Dingin bersih Seadanya
7. Putting dulu  Ambing
0 acak
baru ambing dulu
JUMLAH 0
8. Memeriksa
susu dari tiap 0 Tidak diamati
putting
9. Menggunakan
media yang
berwarna gelap
untuk memeriksa 0  Ke lantai Ke tangan Tak diamati
kondisi susu
sebelum
pemerahan
Pelaksanaan
Pemerahan
10. Menggunakan
metode whole 0 Stripping Campuran
hand
11. Tidak
menggunakan 0 Dilumuri susu Selalu pakai
vaselin
12. Menggunakan
Tidak, tapi Ember multi Langsung ke
ember khusus 0
bersih fungsi milk can
untuk pemerahan
13. Ambing yang
sehat 0 Acak
didahulukan
14. Sapi sakit
0 Acak Pertama
terakhir diperah
15. Lama perahan
0 <7menit >7 menit
7 menit
16. Selama
pemerahn sapi  Konsentr
1  Hijauan
tidak diberi at
makan
17. selama
pemerahan tidak  Memberi
1 Menyapu Jika perlu
ada kegiatan lain makan
di kandang
Pemerahan
Akhir
28

18.
Menghabiskan
susu dari tiap Mengurut dari
0 Putting saja
ambing dan ambing
putting yang
diperah
19. Memisahkan
susu hasil
pemerahan dari 1 Disetor juga Untuk pedet dikonsumsi
sapi yang diberi
antibiotika
SESUDAH
PEMERAHAN
20. Memberikan
desinfektan pada 0 Biocid Kaporit
tiap putting
Spraying  Dipping
21. Mencatat
produksi susu 0  Pagi  Sore Total saja
tiap sapi
22. Menyaring
susu hasil 0  Kain kasa Kain biasa
pemerahan
23.
Mendinginkan
0
susu hasil
pemerahan
24. Mencuci
1 Sabun saja  Air bersih Seadanya air
peralatan

4.2 Pembahasan

1.2.1 Faktor Fisiologi Ternak

a. Denyut Nadi Sapi Perah

Menurut Dukes (1995) bahwa Frekuensi denyut nadi sapi sehat adalah

sebagai berikut, pedet (umur beberapa hari) 116 – 141 kali/menit, pedet

(umur 1 bulan) 105 kali/menit, pedet (umur 6 bulan) 96 kali/menit, sapi

(muda umur 1 tahun) 91 kali/ menit, sapi dewasa 40 – 60 kali/menit dan


29

sapi (tua) 35–70 kali/menit. Menurut data perhitungan, rata-rata denyut

nadi sapi Kasih sekitar 75 kali/menit. Walau melebihi dari batas normal,

namun kondisi ini diwajarkan mengingat ketika perhitungan sedang hujan

lebat dan praktikan sedikit membuat kegaduhan. Hal ini sesuai dengan

pendapat Frandson (1992) bahwa denyut nadi dipengaruhi oleh suhu

lingkungan dimana ternak itu berada.

b. Defekasi

Defekasi merupakan salah satu usaha ternak untuk mengatur proses

keseimbangan tubuh dengan cara mengeluarkan fesses. Fesses merupakan

salah satu produk sisa proses pencernaan setelah pakan yang dikonsumsi

mengalami degradasi dan diserap atau tidak mengalami proses apapun

yang akhirnya dikeluarkan dari dalam tubuh (Blakely dan Bade, 1995).

Setelah dilakukan pengamatan, didapat hasil bahwa sapi Kasih

melakukan defekasi sebanyak 4 kali. Namun tidak di hitung keseluruhan

berat feses yang di keluarkan. Namun secara teori, (Blakely dan Bade,

1995) yang menyatakan bahwa bobot feses sapi perah laktasi dan pejantan

berkisar antara 8 - 14 kg dan 4 kg pada pedet dalam tiap harinya.

c. Urinasi

Menurut Akoso (2008) Urinasi merupakan suatu yang dilakukan

ternak dalam mengatur proses keseimbangan tubuh yaitu dengan cara

membuang urin atau cairan yang tidak bermanfaat lagi bagi tubuh. Warna

urine berkaitan dengan enzim pencernaan dan warna bahan yang

dikonsumsi. Frekuensi urinasi yang normal pada sapi dalam kondisi

normal berkisar antara 5 - 7 kali dalam sehari yaitu sebanyak 6 - 12 liter

(Seobronto, 1985). Hal ini berbeda dengan yang terjadi dilapangan bahwa
30

sapi Kasih mengeluarkan urin sebanyak 3 kali dalam sehari dengan rata-

rata bobot urin dalam sekali keluar yaitu 400 gram.

d. Laying

Berbaring merupakan salah satu cara untuk membuang panas melalui

konduksi yaitu melalui partikel benda padat. Hal ini sesuai dengan

pendapat Campbell dan Lasley (1985) yang menyatakan bahwa lamanya

berbaring dipengaruhi oleh bangsa, umur, suhu tubuh dan lingkungan Pada

pengamatan frekuensi laying pada malam hari sapi-sapi tersebut lebih

sering berbaring atau rebahan.

e. Ruminansi

Ruminansi merupakan salah satu ciri yang khas pada ternak

ruminansia yaitu dengan mengunyah kembali makanan yang telah masuk

kedalam lambung (rumen) agar lebih lumat dan dapat dengan mudah

dicerna (Soebronto, 1985). Ditambahkan oleh Frandson (1992) yang

menyatakan bahwa Sapi biasanya melakukan ruminansia setelah 2 - 5

jam setelah makan dan pada malam hari pada saat sapi sedang berbaring.

Pada saat malam hari, dilakukan pengamatan berapa kali sapi melakukan

ruminasi atau melakukan pengunyahan kembali makanannya dalam waktu

1 jam, dan kemudian didapat hasil bahwa sapi Kasih melakukan ruminasi

sebanyak 3877 dalam waktu 1 jam.

4.2.2 Manajemen Pemberian Pakan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pemberian pakan pada sapi

perah yang diamati yaitu Kasih diberikan pakan 3x1 hari, yaitu pada pagi, siang,

dan sore. Pada pagi hari diberiakn pakan berupa hijauan segar dan konsentrat,
31

pada siang hari diberikan pakan hijauan, dan pada sore hari diberiakn pakan

hijauan dan konsentrat. Pada pagi hari pemberian pakan konsentrat diberikan pada

pukul 06.00-07.00 WIB sebanyak 4,6kg, pemberian pakan konsentrat diberikan ½

jam sebelum dilakukan pemerahan. Pemberian pakan hijauan di siang hari

dilakukan pukul 13.00-14.00 sebanyak 9,2kg, dan pemberian pakan konsentrat

dan hijauan di sore hari dilakukan pada pukul 17.00-18.00. konsentrat yang

diberikan sebanyak 4,6kg dan hijauan yang diberikan sebanyak 14kg, dari

pemeberian hijauan sebanyak 14kg didapatkan sisa pakan hijauan yang tidak

dimakan oleh sapi Kasih sebanyak 1,6kg pada pukul 06.00 esok harinya.

Pemberian pakan pada sapi yang berda di UPT Sapi Perah Fapet Unpad

dilakukan 3x1hari, yaitu pada pagi, siang, dan sore. Pemberian pakan hijauan

diberikan 10% dari bobot tubuh sapi dan pemberian pakan konsentrat 1-2% dari

bobot tubuh sapi. Hijauan yang diberikan terdiri dari 2 jenis hijauan yaitu rumput

gajah dan leguminosa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hartadi (1993) bahwa

setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya

dan juga pakan tambahan 1-2% dari berat badan.

4.2.3 Fisiologi Lingkungan

a. Perkandangan

Kandang merupakan rumah tempat tinggal bagi hewan budidaya tempat

mereka memerlukan tempat nyaman dan menghabiskan waktu untuk tumbuh,

berkembang secara wajar, normal, dan sehat. Kandang sekaligus juga ruang

tempat kerja bagi juru kandang dan juru perah yang memerlukan kenyamanan dan

kepraktisan dalam melakukan tugas. Untuk menghasilkan sapi yang baik, maka

kita harus memperhatikan syarat dan faktor dalam membuat kandang yang baik.
32

Pada pemeliharaan sapi perah, perlu diperhatikan juga jenis-jenis dan letak

kandangnya, seperti kandang pedet, kandang sapi betina dewasa, kandang

pejantan, kandang dara, kandang karantina, kandang jepit, dan kandang induk sapi

beranak. Selain itu kebersihan kandang sangat diperlukan karena akan

mempengaruhi kesehatan sapi, salah satu cara untuk menjaga kebersihan kandang

adalah dengan membuat lantai kandang diupayakan miring.

Pengamatan pada bangunan kandang sapi perah di UPT Sapi Perah

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dilakukan dengan cara pengukuran.

Data yang diperoleh dari pengukuran menunjukkan bahwa ukuran kandang

beserta fasilitasnya cukup memadai, hal ini sesauai pendapat Siregar (1992) yang

menyatakan dalam perkandangan harus memenuhi persyaratan yang membelikan

kenyamanan sapi perah.

Bangunan kandang sapi perah pada praktikum Produksi Ternak Perah di

UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran memiliki konstruksi

yang cukup kuat, tersusun atas rangka besi dengan dinding pembatas dari tembok

sehingga cukup kuat untuk mendukung aktivitas hidup ternak dan produksi

sapi perah.

b. Ventilasi

Pengaturan ventilasi yang baik merupakan kunci dalam menciptakan

kondisi ruangan kandang yang sehat, sehingga produksi dari ternak tersebut akan

meningkat. Apabila kondisi kandang tidak sehat maka pertumbuhan ternak akan

terhambat dan hal ini akan mengakibatkan produksi ternak menurun. Hasil

pengamatan yang dilakukan pada kandang UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran termasuk baik. Hal ini dapat dilihat dari bentuk

bangunan kandang tersebut. Udara dapat bersirkulasi secara baik sehingga


33

ruangan kandang tidak terasa pengap, lembab, kotor, berdebu dan panas. Hal ini

sesuai dengan pendapat Siregar (1993) bahwa pengaturan ventilasi yang sempurna

berarti memperlancar pergantian udara di dalam kandang yang kotor dengan udara

yang bersih dari luar

c. Atap

Atap kandang terbuat dari asbes, apabila dilihat dari efek konduktifitas

tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan seng. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Aksoro (2012) yang menyatakan bahwa pada daerah pegunungan pemakaian atap

dengan berbahan asbes. Namun bentuk atap gable pada UPT Sapi Perah Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran pun disayangkan, karena dengan bentuk atap

seperti itu, angin maupun panas tidak dapat termonitori dengan baik, mengingat

kebutuhan sapi perah yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Dengan

pengaturan ketinggian atap yang sesuai dengan ternak maka suhu panas pada

siang hari yang timbul dari efek konduktifitas dapat dikurangi.

d. Dinding

Dinding kandang di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Universitas

Padjadjaran terbuat dari tembok yang merupakan campuran semen dan pasir.

Dinding ini menggunakan sistem dinding setengah terbuka, hal ini dimaksudkan

agar sirkulasi udara lancar sehingga pengaruh bau kandang yang tidak sedap tidak

akan terhisap oleh susu pada waktu pemerahan dilakukan serta kondisi kesehatan

ternak akan lebih terjamin. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Blade

(1995) bahwa pada umumnya kandang sapi perah di daerah tropis berdinding

setengah terbuka agar aliran udara lancar dan bau yang tidak sedap tidak

berpengaruh terhadap susu yang merupakan produk utama dari ternak perah.
34

e. Lantai

Lantai yang diamati menunjukkan bahwa lantai sudah memenuhi

syarat yaitu keras, rata, dan tidak licin. Hal ini akan menjamin kehidupan dan

proses fisiologis seperti bernapas, memamah biak berjalan dengan normal. Lantai

kandang di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran terbuat

dari bahan campuran antara semen dan pasir tidak licin dan rata sehingga sapi

dapat berdiri dengan tegak, berbaring bebas dan nyaman. Dengan demikian ternak

akan tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudarmono (1993)

bahwa lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan yang cukup keras (beeding)

dan tidak licin untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kandang.

Sebaliknya, menurut Siregar (1993) lantai yang licin dan selalu basah akan

menyebabkan ternak mudah terjangkit penyakit. Hal ini dapat dilihat dari cara

bernapas dan luka yang ada pada kulit ternak. Supaya air mudah mengalir atau

kering, lantai harus diupayakan miring, dengan kemiringan lantai sekitar 30.

Dengan kemiringan tersebut maka segala hal yang merugikan akan terhindari,

contohnya luka pada kaki.

f. Tempat Pakan dan Tempat Minum

Tempat pakan dan minum di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran terbuat dari tembok beton dengan lubang pembuangan

air pada bagian bawah. Berdasarkan pengamatan tempat air minum mempunyai

lebar 30 cm, panjang 30 cm, dan diameter 31 cm. Sedangkan untuk tempat pakan

panjangnya 125 cm, lebar 60 cm dan tingginya 24 cm dan terbuat dari campuran

pasir dan semen.


35

4.2.4 Manajemen Pemerahan

Pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan

bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang maksimal. Tujuan dari

pemerahan adalah untuk mendapatkan jumlah susu yang maksimal dari

ambingnya, apabila pemerahan tidak sempurna sapi induk cenderung untuk

menjadi kering terlalu cepat dan produksi total menjadi menurun (Putra, 2009).

Manajemen pemerahan di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan

Universitas Padjajaran dilakukan pada pukul 07.00 WIB dan pukul 17.00 WIB.

Dalam pelaksanaan pemerahan UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Unpad

melakukan sanitasi kandang dan memandikan ternak sebelum pemerahan

dilakukan, untuk menjaga agar ternak tetap bersih dan terhindar dari penyakit,

serta proses pemerahan dilakukan dengan kandang yang bersih.

a. Tahap Pemerahan

Dalam pemerahan terdapat beberapa tahap yaitu tahap sebelum

pemerahan, tahap saat pemerahan sedang berlangsung dan tahap saat pemerahan

telah selesai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syarif dan Sumoprastowo (1990)

yang menyatakan bahwa Terdapat 3 tahap pemerahan yaitu pra pemerahan,

pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan.

 Fase Persiapan

Berdasarkan pelaksanaan pemerahan yang telah dilakukan pada saat

praktikum, fase persiapan ini adalah fase sebelum pemerahan di lakukan, fase ini

dilakukan untuk menyiapkan hal-hal apa saja yang di butuhkan pada saat

pelaksanaan pemerahan, yang dimulai dari pembersihan kandang, lingkungan

kandang,memandikan hewan ternak, membersihkan alat-alat pemerahan. Hal ini


36

sesuai dengan pernyataan Sudono (2003) bahwa Tahap-tahap persiapan

pemerahan meliputi menenangkan sapi, membersihkan kandang, membersihkan

bagian tubuh sapi, mengikat ekor, mencuci ambing dan puting. Selain itu, pada

persiapan pemerahan petugas mencuci tangan, pengeluaran 3 sampai 4 pancaran

susu pertama pada lantai, yang bertujuan untuk membuang susu dimana pada awal

pancaran susu masih banyak mengandung kotaran, selain itu untuk mengecek ada

tidaknya gumpalan atau pecahan susu, jika ada gumpalan menandakan bahwa

susu tersebut rusak. Pecahnya susu dapat disebabkan karena infeksi bakteri

mastitis. Setelah itu dilakukan perangsangan dan pembersihan ambing dan puting

menggunakan lap yang telah di rendam pada air hangat. Kain lap yang digunakan

untuk setiap sapi berbeda yaitu, satu ekor sapi di lap dengan satu lap yang

berbada. Hal ini sesuai dengan pernyataan Muljana (1985) bahwa sebelum

pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan mengeringkannya,

kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang

akan diperah dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah

disediakan dan dalam keadaan yang bersih, selanjutnya menenangkan sapi,

mengikat ekornya dan mencuci ambing dengan air hangat.

 Fase Pemerahan

Pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan tangan ataupun

dengan mesin pemerah (Prihadi, 1996). Berdasarkan pelaksanaan pemerahan yang

telah lakukan di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Unpad, pemerahan yang

dilakukan menggunakan tangan. Saat akan dilaksanakan pemerahan, alat-alat

pemerahan telah dibersihkan, alat-alat yang disediakan adalah ember, milk can,

saringan susu dan vaselin. Pemerahan berlangsung sekitar 7 sampai 8 menit per

ekor sapi. pelepasan susu (milk let down) terjadi sekitar 45 sampai 60 detik
37

setelah sapi mendapat rangsangan. Pemerahan dilakukan dengan hati-hati,

metode yang digunakan adalah metode whole hand. Pemerahan dilakukan hingga

susu dari tiap ambing dan puting habis. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Sudono et al., (2003) bahwa pemerahan yang baik dilakukan dengan cara yang

benar dan alat yang bersih. Tahapan-tahapan pemerahan harus dilakukan dengan

benar agar sapi tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan

produksinya.

 Pasca Pemerahan

Setelah pemerahan selesai, hal yang di lakukan di UPT Sapi Perah

Fakultas Peternakan Unpad adalah susu dituangkan kedalam milk can dan

dilakukan penyaringan, agar kotoran pada saat pemerahan tidak ikut masuk ke

dalam susu setelah itu dilakukan pencatatan hasil produksi susu, lalu dibawa ke

tempat cooling setelah itu, dilakukan dipping putting menggunakan desinfektan

yang berupa cairan iodin. Tujuan dari dipping putting ini adalah untuk

menghindari dari hinggapan lalat pada puting, mengurangi masuknya bakteri dan

juga untuk menjaga agar puting tetap sehat tidak terkena mastitis. Perlakuan yang

di lakukan di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Unpad sesuai dengan

pernyataan Syarief dan Sumoprastowo (1990) bahwa sesudah pemerahan

sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam larutan desinfektan untuk menghindari

terjadinya mastitis.

Setelah itu alat-alat yang telah digunakan pada saat pemerahan dicuci,

dibersihkan dan dikeringkan kembali agar terhindar dari bakteri. Pembersihan

dilakukan dengan menyikat bagian- bagian alat dan membilasnya menggunakan

air yang mengalir, setelah di bersihkan alat-alat pemerahan tersebut di tempatkan

di tempat yang kering dengan posisi yang terbalik.


38

b. Waktu pemerahan

Pelaksanaan pemerahan di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Unpad

dilakukan pada dua kali dalam satu hari yaitu, di pagi dan sore. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Sudono, (1982) bahwa Pemerahan susu biasanya dilakukan 2

kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Interval waktu yang sama antara pemerahan

pagi dan sore hari akan memberikan perubahan komposisi susu yang relatif

sedikit, sedangkan interval waktu pemerahan yang berbeda akan menghasilkan

komposisi susu yang berbeda juga.

 Pemerahan Pagi

Berdasarakan pelaksanaan pemerahan di UPT Sapi Perah Fakultas

Peternakan Unpad pemerahan di pagi hari dilakukan pukul 07.00 WIB. Dimulai

dari fase persiapan hingga pasca pemerahan. Pada saat praktikum pemerahan

hanya dilakukan pada satu sapi yaitu sapi yang bernama Kasih. Hasil produksi

susu pada pagi hari yaitu 4 liter.

 Pemerahan Sore

Pelaksanaan pemerahan pada sore hari sama dengan pemerahan di pagi

hari. Pemerahan sore dilakukan pada pukul 17.00 WIB. Sama hal nya dengan

pemerahan di pagi hari, pemerahan di sore hari dimulai dari fase persiapan, fase

pemerahan dan pasca pemerahan. Pada pemerahan sore hari, produksi susu yang

dihasilkan dari sapi yang bernama Kasih adalah 3 liter.

4.2.5 Manajemen Pastura dan Produksi Hijauan

Melalui data perhitungan carrying capacity yang didapatkan pada saat

praktikum dapat diketahui luas lahan rumput yang dipotong pada saat praktikum

yaitu 1 m2, produksi hijauan 1,5 kg/m2, umur pemotongan rumput 60 hari. Dari
39

data yang telah diperoleh dilapangan maka dapat diketahui produktivitas lahan

rumput selama setahun. Produksi hijauan diperoleh 9 kg, kebutuhan hijauan

diperoleh 16790, serta carrying capacity diperoleh 0,00053.

Carrying Capacity adalah kemampuan padang penggembalaan

untuk menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh sejumlah

ternak yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan padang

penggembalaan untuk menampung ternak per hektar (Reksohadiprodjo,

1985). Carrying capacity adalah angka yang menunjukan satuan ternak yang

dapat digembalakan di luasan tanah dan selama waktu tertentu, dengan tidak

mengakibatkan kerusakan baik terhadap tanah, vegetasi maupun ternaknya.

Dengan demikian carrying capacity tersebut tergantung pada berbagai faktor

seperti kondisi tanah, pemupukan, faktor iklim, spesies hijauan, serta jenis ternak

yang digembalakan atau terdapat di suatu padangan. Penafsiran daya tampung

menurut Halls et al. (1964) didasarkan pada jumlah hijauan yang tersedia.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas

tampung menurut Kencana (2000) yaitu :

a) Penaksiran kuantitas produksi hijauan.

b) Penentuan Proper Use Factor.

c) Menaksir kebutuhan luas tanah per bulan.

d) Menaksir kebutuhan luas tanah per tahun.

4.2.6 Handling dan Tali Menali

Berdasarkan praktikum di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Unpad,

dilakukan handling dan tali meniali. Handling adalah membuat gerakan hewan

dibatasi sehingga tidak sulit penanganannya tetapi hewan masih bisa bergerak.
40

Pada saat handling terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu, perlu

diusahakan datang dari arah depan sapi secara perlahan-lahan sehingga sapi bisa

melihat kedatangan kita dan tidak terkejut. Selanjutnya dekatilah sapi secara

pelan-pelan dan usahakan untuk dapat memegang talinya lalu berdiri dipinngir

sapi. Kemudian tenangkan sapi dengan cara menepuk-nepuk tubuhnya.

Memperlakukan sapi dengan halus, sehingga sapi tidak merasa takut. Selain

handling pada saat praktikum kandang dilakukan tali menali hal ini sesuai dengan

pernyataan (Santosa, 2010) bahwa dalam menangani sapi, peternak perlu memiliki

pengetahuan mengenali tali temali terlebih dahulu agar bisa merestrain dengan

baik. Terdpat beberapa simpul dan tali yang diajarkan pada praktikum,

diantaranya tali leher, brongsong dan patok serta simpul mati, dan nenek. Dari

macam-macam tali dan simpul yang telah diajarkan memiliki fungsi yang

berbeda.

Simpul mati berfungsi untuk untuk menyambung dua buah tali yang sama

besar. Simpul nenek berfungsi untuk mengikat ternak pada tiang atau pohon. Tali

patok di gunakan untuk mengikat bagian kaki sapi pada saat akan melakukan

proses pemeliharaan sapi (hooves trimming). Tali leher berguna untuk mengikat

ternak pada bagian leher tanpa tercekik. Tali brogsong berguna untuk

Mempermudah pengendalian pada sapi.


41

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

(1) Sapi perah yang diamati bernama Kasih, teramati memiliki satu

puting yang terlipat kedalam, kondisi tubuh sehat yang ditunjukan

melalui frekuensi defekasi, urinasi, dan ruminansi.

(2) Kasih diberikan pakan 3x1 hari, yaitu pada pagi, siang, dan sore.

Pada pagi hari diberiakn pakan berupa hijauan segar dan

konsentrat, pada siang hari diberikan pakan hijauan, dan pada sore

hari diberiakn pakan hijauan dan konsentrat

(3) Bangunan kandang sapi perah pada praktikum Produksi Ternak

Perah di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan Universitas

Padjadjaran memiliki konstruksi yang cukup kuat, tersusun atas

rangka besi dengan dinding pembatas dari tembok sehingga cukup

kuat untuk mendukung aktivitas hidup ternak dan produksi

sapi perah.

(4) Manajemen pemerahan di UPT Sapi Perah Fakultas Peternakan

Universitas Padjajaran dilakukan pada pukul 07.00 WIB dan pukul

17.00 WIB. Pemeliharaan namun kualitas dan produksi hijauan

yang ditanam belum dapat memenuhi kebutuhan harian jika hanya

satu jenis hijauan yang diberikan sehingga kebutuhan hijauan harus

dipenuhi dari sumber lain. Manajemen pemerahan sapi perah

dilakukan dengan 3 fase, yaitu fase pra pemerahan, fase pemerahan


42

dan fase pasca pemerahan. Fase pra pemerahan dilakukan dengan

persiapan dan pembersihan alat, tempat, pemerah dan sapi

(5) Luas lahan rumput yang dipotong 1 m2, produksi hijauan 1,5

kg/m2, umur pemotongan rumput 60 hari. diketahui produktivitas

lahan rumput selama setahun. Produksi hijauan diperoleh 9 kg,

kebutuhan hijauan diperoleh 16790, serta carrying capacity

diperoleh 0,00053.

(6) Handling adalah membuat gerakan hewan dibatasi sehingga tidak

sulit penanganannya tetapi hewan masih bisa bergerak. Jenis tali

temali yang digunakan pada sapi yaitu, simpul mati, tali tendok,

tali patok, tali keluh, dan tali leher.


43

DAFTAR PUSTAKA

________. 1992. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan, dan Analisa Usaha.
Penebar Swadaya. Jakarta.
________________________. 1994.Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah
Mada University Press.Yogyakarta.
AAK. 1995. Beternak Sapi Perah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Abubakar, C. Sunarko, B. Sutrasno, Siwi S., A. Kumalajati, H. Supriadi, A.


Marsudi dan Budiningsih. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah.
Departemen Pertanian. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah,
Baturraden.
Adnan, M., 1984. Kimia dan Teknologi Pengolahan AirSusu. UGM
Press,.Yogyakarta.
Akoso, B.T. 2008. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

Aksoro, B. T., Tjahyowati, G. dan Pangastoeti, S. 2012. Manual Untuk Paramedis

Anderson, B.E. 1970. Temperatur Regulation and Environmental Physiological,


in Duke Physiology of Domestic Animal. 8th edition. Cornal
University, London.

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia: Jakarta.


Blakely, J dan Bade, DH. 1995. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.
Bligh, J. and K. G. Johnson. 1973. Glassani of Teams for Thermal Physiology. J.
Appl, Physiol. 35 : 941.

Budianto, A. 2012.Respon Pertumbuhan Sapi Peranakan Friesian Holstein


(PFH) Jantan Terhadap Pemberian Berbagai Aras Ampas Bir dalam
Pakan Konsentrat. Universitas Diponegoro, Semarang.
Campbell, J. R. dan J. F. Lasley. 1985. The Science of Animal That Serve
Humidity. 2nd Ed. McGraw Hill Coy: New York.
Darmono, 1993.Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Penerbit
Kanisius,.Yogyakarta.
Djarijah, A. 1996.Usaha Ternak Sapi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
44

Dukes, H. 1955. The Physiology of Domestic Animal. 7th edition. Comstock


Publishing Denville.

Foley, R., C.Frank, N. Dickinson, H. Tucker and R.D. Appleman. 1973. Dairy
Cattle, Principle, Practice, Problems, Provits. 1st Ed. Lea and Febinger.
Philadelphia.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisike-4.Gadjah Mada
University Press.Yogyakarta.
Girisonta. 1995. Petunjuk Beternak Sapi Perah. Kanisius : Yogyakarta.
Hartadi dkk.1993. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Hartadi, H., Soedomo R., Allen D. T. 1993. Tabel Komposisi Pakan Untuk
Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Lubis, D. A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. Yayasan Pembangunan, Jakarta.


Muljana, W. 1985. Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu.
Semarang.

Muljana, W. 1985.Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu.


Semarang.
Nena, H. 2005 Pendugaan nilai pemuliaan produksi susu sapi Fries Holland
berdasarkan catatan bulan tunggal kumulatif di Taurus Dairy Farm. J.
Ilmu Ternak 5 (2) : 80 – 87.
Prihadi.1996. Tata Laksana dan Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan
Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta.
Purwanto BP, A. B. Santoso dan Andi Murfi. 1995. Fisiologi Lingkungan.
Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Putra, A. 2009. Potensi Penerapan Produksi Bersih Pada Usaha Peternakan Sapi
Perah (Studi Kasus Pemerahan susu sapi Moeria Kudus Jawa
Tengah). Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro,
Semarang.
Rumetor, S.D. 2003. Stres Panas Pada Sapi Perah Laktasi. Makalah Falsafah
Sains. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Santosa, U. 2010. Mengelola Peternakan Sapi Secara Profesional. Penebar
Swadaya. Jakarta.
45

Santosa. 2007. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya:


Jakarta.
Schmidt. 1971. Biology of Lactation. W. H. Freeman and Co: San Francisco.
Siregar, S.B. 1993. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Soebronto, A. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Soetarno, T. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Fakultas Peternakan,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sudarmono. 1993. Tata Usaha Sapi Kereman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sudono A. R. F. Rosdiana, dan B. S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara


Intensif. Agromedia Pustaka : Jakarta.
Sudono, A., R. F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Petunjuk Praktis Beternak
Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Sudono, T. 1982. Sapi Perah dan Pembagian Makanan. Departemen Ilmu
Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Sugeng, Y. B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suherman, D., B. P.Purwanto., W. Manalu dan Permana. 2013. Simulasi artificial
network untuk menentukan suhu kritis pada sapi perah Fries Hollamd
berdasarkan respon fisiologis. J. ITV 18 (1): 70 - 80.
Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna.
Jakarta.
Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1985.Ternak Perah. CV. Yasaguna.
Jakarta.
Vaughan Alison, Anne Marie de Passillé, Joseph Stookey, and Jeffrey Rushen.
2014. Urination and defecation by group-housed dairy calves. J.
DairySci. 97: 1 – 7
Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar PeternakanDi Daerah
Tropis. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh
B. Srigandono)
46

LAMPIRAN