Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO III

PENDEKATAN MASALAH KESEHATAN


BLOK 9 : EPIDEMIOLOGI DAN BIOSTATISTIKA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial


Blok Epidemiologi dan Biostatistika

Disusun oleh :

Kelompok Tutorial 1

Pembimbing : drg. Nuzulul H, M. Biomed

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2017

1
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Pembimbing : drg. Nuzulul H, M. Biomed

Ketua : Lifia Mufida (161610101003)


Scriber Meja : Mahardiani Dwi A (161610101008)
Scriber Papan : Rafi Ihya Insani T (161610101007)

Anggota :
1. Rosellina Charisma I (161610101001)
2. Shania Rada C (161610101002)
3. Salsabila Dewinta A P (161610101004)
4. Shabrina Widya A (161610101005)
5. Alda Utami Hidayana (161610101006)

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan tutorial skenario III pada blok Epidemiologi dan
Biostatistika dengan judul Pendekatan Masalah Kesehatan. Laporan ini disusun
untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok I pada skenario ketiga.
Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. drg. Nuzulul H, M. Biomed, selaku tutor pembimbing yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan yang telah memberi masukan yang membantu, bagi pengembangan
ilmu yang telah didapatkan.
2. Teman-teman kelompok tutorial I dan semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikan–perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 25 Oktober 2017

Tim Penyusun

3
DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................... 1
Daftar Anggota Kelompok ................................................................................. 2
Kata Pengantar ................................................................................................... 3
Daftar Isi ............................................................................................................. 4
Skenario .............................................................................................................. 5
Step 1................................................................................................................... 6
Step 2................................................................................................................... 7
Step 3................................................................................................................... 7
Step 4................................................................................................................... 10
Step 5................................................................................................................... 11
Step 7................................................................................................................... 11
Kesimpulan ......................................................................................................... 26
Daftar Pustaka .................................................................................................... 28

4
SKENARIO 3
PENDEKATAN MASALAH KESEHATAN

Tingkat ekonomi masyarakat Kecamatan Kaligede tergolong menengah


keatas. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas sudah memadai, termasuk
sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi yang bertugas disana
sering menemukan pasien dengan tingkat karies yang tinggi, bahkan pada usia
remaja banyak pasien yang sudah kehilangan gigi cukup banyak. Pola makan
masyarakat Kaligede cenderung menyukai makanan yang siap saji yang banyak
mengandung karbohidrat. Untuk mengetahui masalah kesehatan gigi yang ada dan
penyelesaiannya, perlu menggunakan pendekatan masalah kesehatan. Beberapa
pendekatan yang bisa digunakan adalah Pendekatan Bloom, Wheel, Jaring sebab
akibat, dan Segitiga Epidemiologi. Diskusikan pendekatan-pendekata masalah
kesehatan!

5
STEP 1 (Clarifying Unfamiliar Terms)
1. Pendekatan masalah kesehatan:
 Suatu upaya memecahkan masalah
 Suatu metode atau cara
 Proses
 Konsep atau cara berpikir
 Suatu upaya untuk menanggulangi masalah

2. Pendekatan bloom:
Suatu pendekatan masalah yang menjelaskan 4 faktor utama yang
dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu /masyarakat.
Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku individu atau
kelompok masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, politik,
fisik), faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan
faktor genetic (keturunan).

3. Pendekatan wheel:
Merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar
pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3
sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik.

4. Pendekatan jaring sebab-akibat:


Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga
epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan
gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam
terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Keuntungannya
peneliti dapat mengetahui dan mengidentifikasi factor – factor apa saja
yang berperan dalam timbulnya suatu penyakit atau masalah
kesehatan.

6
5. Pendekatan segitiga epidemiologi:
Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit
yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan
environment.

STEP 2 (Problem Definition)


1. Mengapa pada usia remaja sudah banyak kehilangan gigi?
2. Apa kaitan makanan siap saji dengan karies gigi?
3. Pendekatan masalah kesehatan apa yang cocok pada skenario?

STEP 3 (Brainstorming)
1. Mengapa pada usia remaja sudah banyak kehilangan gigi?
 Masyarakat Kecamatan Kaligede malas untuk menjaga
kebersihan mulut dan malas ke Puskesmas
 Kurangnya pengetahuan masyarakat Kecamatan Kaligede
terhadap kebersihan rongga mulut
 Pelayanan kesehatan yang kurang memberikan sosialisasi
untuk masyarakat Kecamatan Kaligede
 Pola hidup atau gaya hidup dan pola makan masyarakat
Kecamatan Kaligede yang tidak terkontrol
 Tingkat kesadaran masyarakat Kecamatan Kaligede rendah

2. Apa kaitan makanan siap saji dengan karies gigi?


 Makanan cepat saji adalah makanan dengan penyajian cepat
dengan bahan pengawet
 Contoh makanan cepat saji : Mie instan, soda, roti + selai +
meses
 Makanan cepat saji yang ada hubungan dengan tingkat karies
adalah soda, roti + selai + meses

7
 Makanan cepat saji yang tidak ada hubungan dengan tingkat
karies adalah junk food
 Makanan siap saji memiliki gizi atau nutrisi yang kurang,
nutrisi tidak seimbang, serta makanan siap saji juga banyak
mengandung karbohidrat yang banyak. Karbohidrat merupakan
substrat yang menjadi salah satu penyebab karies pada gigi atau
juga sering disebut bahan kariogenik.

3. Pendekatan masalah kesehatan apa yang cocok pada skenario?

Pendekatan yang sesuai untuk skenario adalah pendekatan


H.L.Blum. Dikemukakan ada 4 faktor yang berperan, seperti halnya
dengan konsep kedua, tetapi disini lebih diperjelas besarnya peranan
masing-masing faktor. Secara berurut, makin besar, keempat faktor itu
adalah :
1) Faktor lingkungan
2) Faktor hereditas
3) Faktor pelayanan kesehatan
4) Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)

Di dalam skenario terdapat adanya 4 faktor yang berperan tersebut,


antara lain :
1) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang berperan disini adalah lingkungan sosial
ekonomi, ditemukan bahwa tingkat ekonomi masyarakat tergolong
menengah ke atas, hal ini menjadi faktor pendukung dari kebiasaan
mengkonsumsi makanan cepat saji yang dilakukan oleh masyarakat.
2) Faktor hereditas
Dokter gigi sering menemukan pasien dengan tingkat karies yang
tinggi, bahkan pada usia remaja banyak pasien sudah kehilangan gigi

8
cukup banyak. Hal ini menunjukkan adanya faktor hereditas yang
berperan, yaitu gigi yang rentan terhadap karies.
3) Faktor pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan telah memadai, namun mungkin kurang adanya
promosi dari pihak puskesmas serta tidak adanya waktu dari
masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut,
ditambah lagi dengan tingkat kesadaran masyarakat yang rendah
terhadap pentingnya menjaga kesehatan terutama kesehatan gigi dan
mulut.
5) Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)
Ditemukan gaya hidup masyarakat yang cenderung menyukai makanan
yang siap saji, yang banyak mengandung karbohidrat. Dan hal inilah
juga yang menjadi faktor pemicu timbulnya karies.

9
STEP 4 (Analysing the Problem/ Mapping)

Masalah Kesehatan

Pendekatan Masalah Kesehatan

Pendekatan Pendekatan Segitiga Jaring Sebab


Blum Wheel Epidemiologi Akibat

1. Perilaku 1.Genetik 1.Agent Hubungan


2. Lingkungan 2.Host 2.Host Sebab - Akibat
3. Pelayanan 3.Lingkungan 3.Lingkungan
kesehatan
4. Genetik

10
STEP 5 (Learning Objektif)
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian pendekatan
masalah kesehatan.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan macam-macam pendekatan
masalah kesehatan.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pendekatan masalah
kesehatan yang cocok berdasarkan skenario disertai alasannya.

STEP 7 (Reporting / Generalisation)

LO 1 : Pengertian Pendekatan Masalah Kesehatan.

Menurut profesor Winslow kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni


mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan
mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk
meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan
individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan
perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek
sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar
kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya.

Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu


dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat
melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan kedua di atas,
dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan
sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

Jika ditelaah dari setiap katanya, pendekatan adalah proses, perbuatan, cara
mendekati yang merupakan upaya penyederhanaan masalah sampai batas-batas
tertentu sehingga masih dapat ditoleransi untuk memudahkan penyelesainnya.
Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor
atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan dan keadaan tersebut

11
harus diselesaikan. Sedangkan kesehatan adalah suatu keadaan fisik, mental, dan
sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan masalah kesehatan adalah


upaya yang digunakan untuk memecakan masalah kesehatan di masyarakat baik
individu maupun kelompok dengan metode tertentu terhadap pelayanan
keseahatan. Proses ini terdiri dari tiga tahap yaitu pengkajian yang meliputi
pengenalan masyarakat seperti karakteristiknya, pengenalan masalah, dan
pengolahan data; tahap perencanaan; tahap pelaksanaan berupa evaluasi hingga
perancangan.

Dalam perkembangannya ada dua kelompok pelayanan kesehatan kuratif


(curative health care), dan pelayanan pencegahan/preventif (preventive health
care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan :

a. Pendekatan kuratif :
1) Dilakukan terhadap sasaran secara individual.
2) Cenderung bersifat reaktif (menunggu masalah datang, misal dokter
menunggu pasien datang di Puskesmas/tempat praktek).
3) Melihat dan menangani klien/pasien lebih kepada sistem biologis
manusia/pasien hanya dilihat secara parsial (padahal manusia terdiri
dari bio-psiko-sosial yang terlihat antara aspek satu dengan lainnya.
b. Pendekatan preventif,
1) Sasaran/pasien adalah masyarakat (bukan perorangan).
2) Menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu masalah
datang, tetapi mencari masalah. Petugas turun di lapangan/masyarakat
mencari dan mengidentifikasi masalah dan melakukan tindakan.
3) Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan holistik.
Terjadiya penyakit tidak semata karena terganggunya sistem biologis
tapi aspek bio-psiko-sosial.

12
Selain berdasarkan dua kelompok pelayanan kesehatan, terdapat
juga 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan, yakni:
1) Pendekatan Logis
Secara logis, identifikasi masalah kesehatan dilakukan dengan
mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat yang timbul dari penyakit-
penyakit yang ada dalam masyarakat.

2) Pendekatan Pragmatis
Pada umumnya setiap orang ingin bebas dari rasa sakit dan rasa tidak
aman yang ditimbulkan penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran
pragmatis suatu masalah gangguan kesehatan adalah gambaran upaya
masyarakat untuk memperoleh pengobatan, misalnya jumlah orang
yang datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan.

3) Pendekatan Politis
Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan diukur atas dasar
pendapat orang-orang penting dalam suatu masyarakat (pemerintah
atau tokoh-tokoh masyarakat).

13
LO 2 : Macam-Macam Pendekatan Masalah Kesehatan.

A. Pendekatan Blum

H. L Blum menjelaskan 4 faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat


kesehatan individu /masyarakat. Keempat factor tersebut merupakan factor
determinan (penentu) timbulnya masalah kesehatan pada seorang individu atau
kelompok masyarakat.

Genetik

Masalah Perilaku
Lingkungan kesehatan Masyarakat

Pelayanan
Kesehatan

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku individu atau kelompok
masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, politik, fisik), faktor pelayanan
kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetic (keturunan).
Keempat faktor tersebut berinterakis secara dinamis yang mempengaruhi
kesehatan perorangan dan derajat kesehatan kelompok masyarakat. Diantara
keempat faktor tersebut, factor perilaku manusia merupakan factor determinan
yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor
lingkungan.

14
1. Faktor genetik
Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan
atau masyarakat . Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan terjadi
secara evolutif dan paling sukar dideteksi. Faktor genetic perlu mendapat
perhatian di bidang pencegahan penyakit.
2. Faktor pelayanan kesehatan
Ketersediaannya sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dan
pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat
kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan
yang diimbangi dengan kelengkapn saran dan prasarana serta dana akan
menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan seperti ini akan mampu
mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di suatu
wilayah atau kelompok masyarakat.
3. Faktor perilaku masyarakat.
Faktor ini paling besar pengaruhnya terhadap muculnya gangguan
kesehatan atau masalah kesehatan di masyarakat. Tersedianya jasa
pelayanan kesehatan (health service) tanpa disertai perubahan perilaku
(peran serta) masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap
potensial berkembang di masyarakat.
4. Faktor lingkungan.
Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku
masyarakat yang baik akan dapat menekan berkembangnya masalah
kesehatan. Untuk menganalisis program kesehatan di lapangan H.L Blum
dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah
sesuai dengan factor-faktor yang berpengaruh pada status kesehatan
masyarakat.
Kelebihan:
a. Konsep Blum banyak dipakai oleh paradigma sehingga paling
sering dipakai pada saat ini.
b. Dapat mengidentifikasi masalah sesuai dengan status kesehatan
masyarakat.

15
c. Mengetahui kondisi sehat sakit dalam suatu rentan
d. Melewati berbagai proses yaitu mengetahui, mempelajari,
mengaplikasi, menganalisi, mensintesis, mengefaluasi, sehingga
lebih terperinci.
e. Menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarkat.
f. Mengupayakan kesehatan.
g. Penilaian yang dilakukan mengandung unsure obyektifitas yang
tinggi.
h. Didasarkan pada suatu perencanaan yang sistemik.
i. Dapat mnentukan derajat kesehatan suatu wilayah
j. Meningkatkan lingkungan sehat dan dinamis
k. Meningkatan derajat
l. Untuk fungsi perencanaan program kesehatan dan pemanfaatan
epidemiologi dan menejemen umum
m. Mengandung pola hidup yang holostik (berkesinambungan)

Kekurangan:
a. Tidak dapat digabung dengan pendekatan lain.
b. Masalah kesehatan masyarakat tidak dapat dirumuskan dengan
cepat
c. Perlu fasilitas, waktu dan dana yang banyak.
d. Sebatas sebab akbat tidak bisa kembali ke akibat sebab.

B. Pendekatan Wheel

16
Model roda merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan
antara manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar pejamu
terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam tiga sektor yaitu
lingkungan biologi, sosial dan fisik. Besarnya komponen-kompenen dari roda
tergantung kepada masalah penyakit spesifik yang dipelajari. Untuk penyakit-
peyakit bawaan (herediter) inti genetik relatif lebih besar. Untuk kondisi tertentu
seperti campak, inti genetik relatif kurang penting oleh karena keadaan kekebalan
dan sektor biologi lingkungan yang paling berperanan.
Pada model roda, mendorong pemisahan perincian faktor pejamu dan
lingkungan, yaitu suatu perbedaan yang berguna untuk analisa epidemiologi.
Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam
menentukan proses terjadinya interaksi antara pejamu dan agent dalam proses
terjadinya penyakit, secara garis besar, unsur lingkungan dapat dibagi tiga, yaitu:
1. Lingkungan Biologis
Segala flora dan fauna yang ada disekitar manusia, yaitu:
mikroorganisme yang patogen dan yang tidak patogen, berbagai
binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia,
fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit tertentu
terutama penyakit menular.
2. Lingkungan Fisik
Udara, keadaan cuaca, geografis dan geologis, air, unsur kimiawi
lainnya, radiasi.
3. Lingkungan Sosial
Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem
organisasi, serta institusi/ peraturan yang berlaku, pekerjaan,
urbanisasi, bencana alam, perkembangan ekonomi.

17
Sama seperti model jaring – jaring penyebab, model roda memberikan
penekanan akan perlunya mengidentifikasi faktor etiologis multiple suatu
penyakit tanpa menitik beratkan pada agen penyakit.

C. Pendekatan Segitiga Epidemiologi

Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit yang


ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment.

1. Host atau pejamu


Manusia yang mudah terkena atau rentan (susceptible) terhadap
suatu bibit penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur, dsb) yang dapat
menyebabkan ia sakit.
Contoh :
Penyakit campak mempunyai kecenderungan untuk menyerang
anak-anak, khususnya anak dibawah umur lima tahun. Kekebalan
terhadap campak memang sudah dibawa sejak lahir, tetapi mulai
menurun sejak usia 9 bulan. Kondisi ini menyababkan bayi sebelum
berumur 9 bulan perlu diberikan imunisasi untuk lebih meningkatkan
kekebalan tubuhnya terhadap virus campak.
2. Agent
Faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi penyebab suatu
penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat biologis, fisik, kimia,
dan sosiopsikologis.

Contoh :
 Yang bersifat biologis : kuman mikrobakterium tuberkulosa
menyebabkan penyakit TBC paru-paru. HIV menjadi penyebab
AIDS.
 Yang bersifat fisik : sinar ultra violet dapat meningkatkan
resiko host terkena tumor kulit.
 Yang bersifat kimia : nikotin dalam rokok menyebabkan
kanker paru-paru.

18
 Yang bersifat sosio-psikologis : suasana kerja sehari-hari yang
selalu menegangkan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa
karyawan.

3. Environment atau lingkungan


Situasi atau kondisi di luar host atau agent yang memudahkan
interaksi antara keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi resiko
timbulnya gangguan penyakit pada host karena lingkungan
memberikan peluang agent untuk berkembang (breeding). Lingkungan
dapat dibedakan menjadi lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosial
ekonomi.

Contoh :
 Lingkungan biologi : di suatu wilayah (lagoon) akan
memudahkan nyamuk anopheles berkembang. Lingkungan
seperti ini akan memudahkan terjadinya penularan penyalit
malaria.
 Lingkungan kimia : lysol yang dipakai membersihkan kotoran
penderita Cholera akan melemahkan kuman vibrio cholera
sehingga penularannya dapat dibatasi.
 Lingkungan sosial : situasi rumah yang padat hunian (banyak
anggota keluarga) akan memudahkan penularan penyakit
scabies di antara penghuninya.
 Lingkungan fisik : sinar ultra violet akan memudahkan
timbulnya kanker kulit.

Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor egen, pejamu dan


lingkungan, John Gordon menganalogikan sebagai timbangan (pengungkit)
dengan lingkungan sebagai titik tumpunya.
Pada dasarnya selalu terjadi hubungan dan pengaruh timbal balik antara
faktor-faktor pejamu, agen dan lingkungan, yang berusaha mencapai suatu

19
keadaan keseimbangan. Perubahan dari keseimbangan dapat dilihat dari contoh-
contoh berikut ini.
Gambar segitiga epidemologi :

1. A H

Keterangan :

E A: Agent
H: Host
E: Environment

Timbangan tersebut menggambarkan tercapainya keseimbangan,


sehingga baik agent maupun host tidak ada yang dirugikan dan pada
keadaan ini tedapat suasana hidup berdampingan secara damai antara
agent dan host.

A
2.
E

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan dari kemampuan


agent untuk menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada manusia.

20
3.
A

H
E

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan peningkatan


proporsi kerentanan dari populasi manusia,.

4. H

A
E

Perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan pergeseran titik


tumpu ke arah host sehingga menggambarkan bahwa perubahan
lingkungan tersebut merangsang penyebaran agen yang menyebabkan
peningkatan kemampuan agen untuk menginfeksi.
5.
A

H
E

21
Disamping itu, perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan
perubahan kerentanan pejamu (host), sehingga terjadi pergeseran titik
tumpu ke arah agent.

Kelebihan:
a. Komprehensif
b. Untuk menentukan pola penyebaran, cara pengendalian, dan
pencegahan suatu penyakit.
c. Analisis lebih detail karena mengandung tiga unsure
d. Dapat memprediksi suatu penyakit
e. Dapat memahami teori sehat sakit
f. Dapat menentuka etiologi dari suatu penyakit

Kekurangan:
a. Meluas tidak hanya pada penyait menular dengan menentukan pada
penegrtian agen.
b. Tidak dapat menunjukkan keahlian yang spesifik

D. Pendekatan Jaring-jaring Sebab Akibat

Menurut model ini memberikan gambaran tentang hubungan sebab akibat


yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.
Perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka,
yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan.
Dengan demikian timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan cara
memotong rantai pada berbagai titik.

Dengan model jaringan sebab akibat hendaknya ditunjukkan bahwa


pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit
tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha pemberantasan yang efektif. Oleh karena
banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat mengubah

22
penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi
manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab
penyakit.

23
Contoh :

PENDIDIKAN
PENGETAHUAN
RENDAH GIZI RENDAH

PRODUKSI
BAHAN
MAKANAN
RENDAH
KEMISKINAN

PENYAKIT
KURANG
KONSUMSI GIZI
MAKANAN TDK
MEMADAI

DAYA BELI
RENDAH

DAYA TAHAN
FASILITAS KESEHATAN TUBUH &
KESEHATAN KURANG PENYERAPAN GIZI
KURANG TERGANGGU

Kelebihan:
a. Dapat menunjukkan agen yang spesifik
b. Dapat dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan strategi
pengendalian dan pencegahan penyakit
c. Menghasilkan proses yang akurat
d. Dapat dibuat sebab akibat dan sebaliknya
e. Menghasilkan hasil dan detail yang akurat
Kekurangan:
a. Tidak bergantung pada satu sebab
b. Butuh analisis yang khusus, mahal dan rumit
c. Tidak memberikan batasan yang jelas anatara faktor penjamu
dengan faktor lingkungan
d. Dapat mengetahui hubungan yang kompleks antara beberapa faktor
e. Waktu yang dibutuhkan lama

24
LO 3 : Pendekatan Masalah Kesehatan yang Cocok Berdasarkan Skenario
Untuk menentukan jenis pendekatan yang akan dilakukan pada populasi,
perlu melakukan pengkajian pada populasi daerah yang akan dilakukan
pendekatan yaitu masyarakat Kaligede, identifikasi masalah dan analisis.
Golongan masyarakat yang menengah keatas cenderung sibuk bekerja dan pola
makan yang menyukai makanan siap saji yang banyak mengandung karbohidrat,
hal tersebut tergolong perilaku masyarakat yang menimbulkan masalah kesehatan
seperti tingginya karies gigi. Ditinjau dari faktor lingkungan yang mungkin
disekitar tempat tinggal mereka terdapat penjual makanan siap saji. Pelayanan
kesehatan yang diberikan memadai belum tentu kualitas dan kuantitas sumber
daya manusia yang ada memadai pula. Dari faktor genetik mungkin memiliki
kerentanan terhadap karies. Selain itu faktor yang mungkin menimbulkan masalah
kesehatan seperti kandungan fluor yang terlalu rendah pada air minum sehingga
perlu dilakukan fluoridasi air minum.
Dari pengkajian dan identifikasi masalah serta analisis diatas, pendekatan
yang sesuai adalah pendekatan Blum yang lebih menitikberatkan pada perilaku
masyarakat. Selain itu faktor lain yang mungkin berpengaruh seperti faktor
lingkungan, faktor genetik, dan pelayanan kesehatan.

25
KESIMPULAN

1. Identifikasi masalah kesehatan dapat diperoleh dari :


a. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada
b. Surveilans epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit
c. Survey kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan
perencanaan kesehatan
d. Hasil kunjungan lapangan supervisi.

Ada tiga cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi


masalah kesehatan, yakni pendekatan logis, pendekatan pragmatis dan
pendekatan politis.
Pendekatan identifikasi masalah kesehatan yang cocok untuk skenario
adalah pendekatan logis karena secara logis, identifikasi masalah
kesehatan dilakukan dengan mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat
yang timbul dari penyakit-penyakit yang ada dalam masyarakat. Pada
skenario, dokter gigi mengukur karies gigi.

2. Macam-macam pendekatan masalah kesehatan, yakni :


a. Pendekatan Bloom
H. L Bloom menjelaskan 4 faktor utama yang dapat mempengaruhi
derajat kesehatan individu /masyarakat. Keempat faktor tersebut terdiri
dari faktor perilaku individu atau kelompok masyarakat, faktor
lingkungan (sosial ekonomi, politik, fisik), faktor pelayanan kesehatan
(jenis, cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetic (keturunan).
b. Pendekatan Wheel
Merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar
pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3
sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik.

26
c. Pendekatan Segitiga Epidemiologi
Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit
yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan
environment.
d. Pendekatan Jaring-jaring Sebab-Akibat
Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga
epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan
gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam
terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.

3. Pendekatan yang sesuai untuk skenario adalah pendekatan H.L.Blum.


Dimana dikemukakan ada 4 faktor yang berperan, yakni :
a. Faktor lingkungan
Lingkungan sosial ekonomi  tingkat ekonomi masyarakat menengah
ke atas  kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji
b. Faktor hereditas
Ditemukan pasien dengan tingkat karies yang tinggi  banyak pasien
usia remaja sudah kehilangan gigi  faktor hereditas (gigi yang rentan
terhadap karies)
c. Faktor pelayanan kesehatan
Kurang adanya promosi dari pihak puskesmas  tidak adanya waktu
dari masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan  tingkat
kesadaran masyarakat yang rendah terhadap OH
d. Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)
Ditemukan gaya hidup masyarakat yang cenderung menyukai makanan
yang siap saji  banyak mengandung karbohidrat  faktor pemicu
timbulnya karies.

27
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, DR. MPH. 1988. Administrasi Kesehatan. Jakarta : Bina Rupa
Aksara

Heru, Subari, dkk. 2004. Manajemen epidemiologi. Yogyakarta : Media Pressindo

Kusnopranoto, Haryono. 1986. Kesehatan lingkungan. Jakarta: Fakultas


Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Maidin, Alimin, dr.MPH. 2010. Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Standar


Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kota Padang. Padang : Dinas
Kesehatan Kota Padang

Muninjaya, Gde. 2004. Manajemen Kesehatan : Edisi 2. Jakarta : EGC

Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan


Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta

Reinke A, William. 1994. Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan


Efektifitas Manajemen. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

28