Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat komplek dan merupakan komponen
yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat.Salah
satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara
kesehatan masyarakat seoptimal mungkin.Pelayanan keperawatan merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan, keberadaan perawat
merupakan posisi kunci, yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa 40-60 % pelayanan
rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua pelayanan promosi
kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit maupun tatanan pelayanan
kesehatan lain dilakukan oleh perawat.

Menurut Nursalam (2002), keperawatan sebagai pelayanan yang professional


bersifat humanistik, menggunakan pendekatan holistik, dilakukan berdasarkan ilmu dan
kiat keperawatan, berorientasi kepada kebutuhan obyektif klien, mengacu pada standard
professional keperawatan dan menggunakan etika keperawatan sebagai tuntunan utama.
Keperawatan profesional secara umum merupakan tanggung jawab seorang perawat
yang selalu mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan, sehingga dituntut untuk selalu
melaksanakan asuhan keperawatan dengan benar (rasional) dan baik (etikal).
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan di era global ini dirasakan
sebagai suatu fenomena yang harus direspon oleh perawat. Oleh karena itu keperawatan
di Indonesia pada saat ini dan di masa akan datang perlu mendapatkan prioritas utama
dalam pengembangan keperawatan dengan memperhatikan dan mengelola perubahan
yang terjadi di Indonesia secara profesional.

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam


menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana di dalam manajemen tersebut
mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana dan prasarana dalam
mencapai tujuan organisasi (Grant & Massey, 1999), sedangkan menurut Gillies (1986)
manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui

1
orang lain. Manajemen keperawatan menurut Nursalam (2002), merupakan suatu
pelayanan keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan
menjalankan empat fungsi manajemen antara lain perencanaan, pengorganisasian,
motivasi, dan pengendalian. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan
memerlukan keterampilan-keterampilan teknis, hubungan antar manusia, konseptual
yang mendukung asuhan keperwatan yang bermutu, berdaya guna dan berhasil guna bagi
masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen keperawatan perlu mendapat
prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan, karena berkaitan
dengan tuntutan profesi dan global bahwa setiap perkembangan serta perubahan
memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan
yang terjadi. Manajemen Keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata di Rumah Sakit, sehingga perawat perlu memahami bagaiman konsep
dan Aplikasinya di dalam organisasi keperawatan itu sendiri.

Sistem pemberian asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien di ruang Angsa
RSUD Wangaya Kota Denpasar berdasarkan metode primer modifikasi dimana
sekelompok pasien dirawat oleh sekelompok perawat selama dirawat di RS yang terdiri
dari perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA), dalam meningkatkan keterampilan
manajerial peserta didik keperawatan selain mendapatkan materi manajemen
keperawatan juga melakukan praktek langsung di lapangan. Mahasiswa Non Reguler,
Program Studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Wira
Medika Bali melakukan praktek Stase Manajemen Keperawatan di ruang Angsa RSUD
Wangaya Kota Denpasar untuk melakukan pengkajian Manajemen Keperawatan dengan
bimbingan pembimbing di ruangan dan akademik.

1.2. Tujuan
1.2.1. TujuanUmum
Mendapat gambaran umum tentang pelaksanaan manajemen keperawatan di
Ruang Angsa.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi situasional ruang Angsa.
b. Mengidentifikasi masalah, perencanaan dan evaluasi di ruang Angsa
berdasarkan hasil pengkajian PMKK yang meliputi (1) timbang terima, (2)
role play ronde, (3) sentralisasi obat, (4) supervise, (5) Refleksi Diskusi

2
Kasus ( RDK ), (6) Bedside teaching, dan (7) discharge planning
Mengidentifikasi strategi pelayanan keperawatan di Ruang Angsa.
c. Mengidentifikasi pelaksanaan renccana dan operasional ruangan
berdasarkan pengkajian Model Asuhan Keperawatan Profesional : (1)
timbang terima, (2) role play ronde, (3) sentralisasi obat, (4) supervise, (5)
Refleksi Diskusi Kasus ( RDK ), (6) Bedside teaching, dan (7) discharge
planning.

1.3. Metode
1.3.1. Wawancara, observasi dan dokumentasi.

1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Rumah Sakit
Meningkatkan mutu asuhan keperawatan rumah sakit
1.4.2. Bagi Perawat
Meningkatkan kemampuan managerial perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien.
1.4.3. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa menerapkan kemampuan manajemen keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan
1.4.4. Bagi Pasien
Tercapainya kepuasan pasien tentang pelayanan keperawatan

1.5. Tempat dan Waktu


Tempat dilaksanakan praktek klinik keperawatan ini adalah di ruang Angsa RSUD
Wangaya Denpasar, selama 13 hari mulai dari tanggal 02- 14 April 2018.

3
BAB II

GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTIK

2.1. Sejarah Singkat Tempat Praktik


Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar didirikan pada Tahun 1921
dengan jumlah tempat tidur 30 buah, 15 buah untuk orang sakit bangsa Eropa dan Cina
serta 15 tempat tidur lainnya untuk bumiputera. Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya
Kota Denpasar merupakan pusat pelayanan kesehatan untuk Bali Selatan, sedangkan
untuk Bali Utara kegiatan pelayanan kesehatannya adalah Rumah Sakit Singaraja. Bila
kita membagi kurun waktu tentang perkembangan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar dapat dikatagorikan sebagai berikut :

1. Masa Penjajahan Pemerintah Hindia Belanda ( 1921 - 1942 )

Pada masa ini Rumah Sakit Umum Wangaya juga memberikan pelayanan penyakit
Kusta, Penyakit Menular. Dokter yang memberikan pelayanan adalah Dokter
Belanda, Dokter Jawa dibantu oleh ZEIKEN OPASSER (Penjaga Orang Sakit ), I
Wayan Nugra adalah seorang Zeiken Opasser yang paling rajin dan aktif waktu itu.
Pada masa ini ada beberapa kali pergantian Direktur , Tahun 1921 adalah Dokter
Abdul Tahir, Tahun 1923 adalah Dokter Wirasma, Tahun 1936 adalah Dokter
Benne dan Tahun 1937 adalah Dokter Eykman.

2. Masa Penjajahan Pemerintahan Jepang ( 1942 - 1945 )

Dengan jatuhnya belanda dan berkuasanya Jepang maka dengan otomatis Rumah
Sakit Umum berada di bawah Pemerintahan Jepang. Pada masa ini pelayanan
kesehatan sangat menurun karena semua dokter dan tenaga kesehatan dari Belanda
dan Eropa ditangkap oleh bangsa Jepang, obat - obatan dan sarana kesehatan
sangat terbatas sehingga derajat kesehatan masyarakat sangat rendah.

3. Masa Revolusi Fisik sampai dengan penyatuan RIS menjadi Negara Kesatuan
Republik Indonesia ( 1945 - 1951 )

Pada masa ini Rumah Sakit Wangaya utamanya perawatnya banyak membantu
para pejuang saat itu,yang tercatat diantaranya Made Suberata, I Gde Pelasa, Ida
Bagus Kompiang, I Nyoman Purna, I Made Rasna, Ida Bagus Jagra, I Made Putra,

4
I Gusti Putu Susesa. Disamping banyak membantu pejuang Rumah Sakit Wangaya
pada masa ini sangat berperan dalam mencetak tenaga - tenaga perawat dengan
membuka pendidikan juru rawat.

4. Masa pulau Bali sebagai bagian dari Propinsi Sunda Kecil / Nusa Tenggara sampai
Bali berdiri sebagai Propinsi sampai sekarang.

Pada masa ini pelayanan kesehatan sudah mulai berkembang dengan baik, karena
mulainya pemisahan Bali sebagai bagian propinsi Sunda Kecil. Pada Bulan Maret
1963 waktu meletusnya Gunung Agung pengabdian tenaga perawat Rumah Sakit
Wangaya sangat besar, dimana Ida Bagus Kompiang pemimpin dan mengatur
tenaga perawat untuk bertugas selaku tenaga sukarela membantu korban gunung
meletus.

Selama kurun waktu 1921 - 2007 Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya sudah
dipimpin oleh 28 Orang Direktur. Dengan terbentuknya Pemerintah Kota Denpasar
pada Tahun 1992 maka Rumah Sakit Wangaya Denpasar dibawah naungan
Pemerintah Kota Denpasar dan Dengan Keputusan Walikota Kota Denpasar Nomor 96
Tahun 2008 tentang Penetapan Badan Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya
Kota Denpasar sebagai Badan Layanan Umum Daerah.
Dalam perjalanan sampai saat ini RSUD Wangaya telah mencapai beberapa
peningkatan, diantaranya RSUD Wangaya Kota Denpasar menjadi RS Tipe B Non
Pendidikan Pertama di Indonesia Lulus Tingkat Paripurna Akreditasi Rumah Sakit
Versi 2012 . “Memberikan pelayanan terbaik dan sesuai dengan standar sudah menjadi
komitmen dari seluruh jajaran rumah sakit Wangaya, hal ini terbukti dengan hasil
Survey yang dilakukan KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) pada tanggal 23 s/d 25
Juni 2014, dengan hasil penilaian Lulus Tingkat Paripurna rating Bintang 5.

2.2. VISI, MISI, Tujuan dan Sasaran


a. Visi
“Menjadi Rumah Sakit Pilihan Utama, Inovatif, Unggul Dalam Pelayanan
Kesehatan dan Pendidikan Berbasis Budaya Kerja.”
b. Misi
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau dengan
mengutamakan keselamatan pasien.

5
2. Mengelola sarana dan prasarana penunjang pelayanan kesehatan secara
optimal.
3. Mengembangkan kompetensi sumberdaya manusia serta meningkatkan peran
4. Rumah Sakit dalam pendidikan dan pelatihan.
5. Mengelola administrasi umum, keuangan, dan sarana prasarana secara optimal.
c. Tujuan
“Mewujudkan Derajat Kesehatan Masyarakat yang Optimal.”

2.3. Struktur Organisasi Tempat Praktik


Struktur Organisasi Fungsional Keperawatan Ruang Angsa RSUD Wangaya Kota
Denpasar

KEPALA RUANGAN

Ns. Nyoman Suriarti, S.Kep

WAKIL KEPALA RUANGAN

Ns. Ni Made Wirantini, S.Kep

Administrasi

PPJA 1 PPJA 2 PPJA 3

Ni Made Yuli Murtini Ni Putu Rupiyani Ni Ngh Juniarti

ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

1. Ni Made Yunia 1. Ni Made Ayu 1. Ni Putu Susinta Dewi


Sandra. Veranita S 2. Ni Pt Sudiasih
2. KM Swantirta 2. L.G Indrayani 3. Ni Nym Sri
Widepi 3. Pt Vina Vitria Dewi Widyastuti
3. I.A Wijayanti 4. Ni Pt Yurika Puspita 4. G. A Intan Putria
4. Ni Md Dwi Utari Sinta

Keterangan :
………………. : Garis Koordinasi
: Garis Komando
6
2.4. Dimensi dan Area Tempat Praktik
2.4.1. Gambaran Umum RSUD Wangaya Denpasar
1. Gambaran Umum
Rumah Sakit Wangaya Denpasar adalah Rumah Sakit Tipe B Pendidikan
Pertama di Indonesia Lulus Tingkat Paripurna Akreditasi Rumah Sakit Versi
2012. “Memberikan pelayanan terbaik dan sesuai dengan standar sudah
menjadi komitmen dari seluruh jajaran rumah sakit Wangaya, hal ini terbukti
dengan hasil Survey yang dilakukan KARS (Komisi Akreditasi Rumah
Sakit) pada tanggal 23 s/d 25 Juni 2014, dengan hasil penilaian Lulus
Tingkat Paripurna rating Bintang 5.
2. Letak dan Wilayah Cakupan
Rumah Sakit Wangaya Denpasar terletak di kota Denpasar tepatnya di Jalan
Kartini Nomor 133 Denpasar, Bali. Mempunyai luas tanah 23.271 m2,
dengan luas bangunan 12.063.372 m2 .
2.4.2. Gambaran Umum Ruang Angsa
Ruang Angsa merupakan ruangan untuk merawat pasien dengan . Perawat yang
bertugas di ruang Angsa berjumlah 17 orang perawat (D III Keperawatan 11
orang dengan presentase 60 %, S1 Keperawatan 6 orang dengan prosentase 40
%, dikepalai oleh seorang kepala ruangan yang membawahi 3 PP, masing-
masing PP beranggota 4 orang PA dan terdapat 2 orang CS yang bekerja di
ruangan. Terdapat 1 ruang pertemuan, konter (nurse station), 1 dapur untuk
pegawai, 1 tempat istirahat untuk pegawai, 1 Ruang Dokter, 2 kamar mandi
pegawai, 1 ruang tindakan, 1 gudang, 1 ruang karu, 1 spoel hoek. Terdapat 14
kamar pasien, 1 kamar ruang isoloasi dengan semua kamar tipe kelas I. Dengan
total 17 tempat tidur, masing-masing kamar dilengkapi dengan 1 kamar mandi
dan 1 meja dan kursi penunggu pasien. Terdapar AC disetiap kamar. Ruang
Angsa mempunyai 1 buah timbangan, 1 buah kursi roda, 1 tabung oksigen
ukuran kecil.

7
2.4.3. Ketenagaan
Kualifikasi tenaga kerja di ruang Angsa
a. Riwayat pendidikan dan ketenagaan

1) Tenaga keperawatan

a) Tenaga S1 keperawatan 6 orang

b) Tenaga DIII keperawatan 11 orang

2) Tenaga non keperawatan

a) Tenaga administrasi 1 orang

b) Tenaga cleaning service 2 orang

b. Pengaturan tugas jaga di ruang Angsa dibagi menjadi 3 shift dengan

pengaturan waktunya adalah sebagai berikut :

1) Shift pagi : jam 07.30 – 13.30 Wita

2) Shift siang : jam 13.30 – 19.30 Wita

3) Shift malam : jam 19.30 – 07.30 Wita

Tabel.1

TENAGA KEPERAWATAN

No Nama Golongan Jabatan

1 Ns. Ni Nyoman Suriarti, S.Kep IV/A Ka.Ru

2 Ns. Ni Made Wirantini, S.Kep III/B Wakaru dan Inventaris

PP I

3. Ni Made Yuli Murtini III/C PP

4 Ni Made Yunia Sandra. D PTtp PJSM

5 Komang Swantirta Widepi PTtp PA

6 I.A Wijayanti PTtp PA

7 Ni Made Dwi Utari PTtp PA

8
PP II

8 Ni Putu Ripiani PTtp PP

9 L.G Indrayani PTtp PA

10 Ni Made Ayu Veranita S PTtp PA/PJSM

11 Putu Vina Vitiria Dewi PTtp PA

12 Ni Putu Yurika Puspita Honorer PA

PP III

14 Ni Nengah Juniarti III/B PP

15 Ni Putu Susinta Dewi PTtp PA/PJSM

16 Ni Putu Sudiasih. PTtp PA

17 Ni Nyoman Sri Widyastuti PTtp PA

18 G.A Intan Putria Sinta PTtp PA

19 Putu Swartini S.E Administrasi

9
BAB III

PENGKAJIAN DAN ANALISA DATA (SWOT)

A. Pengkajian

3.1. Data Umum dan Khusus Tempat Praktik


3.1.1. MAN
Tabel 2
Fungsi Masalah
No Hasil Pengkajian
Manajemen Keterangan
1 Planning 1. Ruang Angsa memiliki rencana Wawancara
standar kebutuhan tenaga dan
kualifikasinya
2. Telah melaksanakan pengembangan
staf antara lain melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi (konversi dari D III ke S1).
2 Organizing 1. Struktur Fungsional Ruang Angsa Wawancara
dikepalai oleh seorang kepala
ruangan yang membawahi 3 PP,
masing-masing PP beranggota 5
orang perawat. Terdapat satu orang
tenaga administrasi yang membantu
administrasi ruangan.
2. Metode penugasan yang diterapkan
di Ruang Angsa yaitu
menggunakan metode peugasan
Perawat Primer Termodifikasi TIM
(PPTT). Dimana Kepala ruangan
dibantu oleh 3 kepala PP.
Pelaksanaan model penugasan di
Ruangan Angsa sesuai dengan
metode PA, pembagian tanggung
jawab ke pasien sudah dibagi
secara jelas dan pelaksanaannya
sudah dijalankan berdasarkan
pembagian.
3. 2 orang PPJA kualifikasi
pendidikannya masih DIII
Keperawatan.
4. Jumlah tenaga kesehatan di Ruang
Angsa sebanyak 17 orang, dengan
prosentase jumlah tenaga D III

10
60%, S1 40%.

3 Actuating 1. Pembagian tugas tiap perawat Wawancara


sudah terkoordinasi dengan baik
dan jelas.
2. Uraian tugas sudah mengandung
komponen fungsi–fungsi
administrasi, kepemimpinan,
quality ansurance, promosi,
monitoring, advokasi.
3. Absen staf dan jadwal dinas dibuat
oleh kepala ruangan dan sudah
dijalankan sesuai jadwal yang
dibuat.
4. Ruang Angsa rutin melakukan
rapat setiap 1 bulan sekali.
4 Controlling 1. Supervisi di ruangan Angsa Observasi dan
dilakukan sesuai jadwal, secara Wawancara
lisan dan tertulis serta sudah
dilakukan pendokumentasian.
2. Strategi ruangan dalam
memonitoring kinerja SDM sudah
dilakukan, evaluasi kinerja
khususnya terhadap kinerja sesuai
dengan Indikator Kinerja Kunci
(IKK) sudah ada tetapi prosesnya
tidak berlanjut.

Kesimpulan :

1. Jumlah tenaga kesehatan di Ruang Angsa sebanyak 17 orang, dengan presentase

jumlah tenaga D III 60%, S1 40%. Sudah sesuai Kualifikasi pendidikan

Berdasarkan Depkes 2005 dimana dalam penerapan metode Penugasan Perawat

Primer Termodifikasi TIM. Presentase kualifikasi pendidikan staff S1

sebanyak 40%, dan D III 60%. 2 orang PP kualifikasi pendidikan D III

Keperawatan.

11
2. Indikator Kinerja Kunci (IKK) sudah ada, namun pelaksanaanya tidak berlanjut.

3.1.2. MATERIAL AND MACHINE


Fungsi Masalah
No Hasil Pengkajian
Manajemen Keterangan
1 Planning 1. Ruang Angsa memiliki rencana Wawancara
dalam meningkatan kuantitas sarana
dan prasarana dengan cara
mengusulkan sarana dan prasarana
yang kurang dan yang belum ada
diruangan ke bidang perencanaan
kemudian dari bidang perencanaan
meneruskan ke bagian pengadaan,
selanjutnya dari bagian pengadaan
meneruskan kembali ke bagian
materiil, untuk pemilahan sampah
medis dan non medis seperti kresek
kuning dan hitam.
2. Ruang Angsa memiliki 17 tempat
tidur (kapasitas 28 Bed) dengan 11
Bed sedang dipesan. 1 buah kursi
roda, dan 1 buah oksigen mobile
kapasitas kecil, Syring Pump
sebanyak 2 buah, infus Pump 1,
ambu bag sebanyak 1 buah, Suction
sebanyak 1 buah, EKG 1 buah,
Trombol besar 1 buah, Trombol
Sedang 1 Buah, Trombol kecil 1
buah, Nebulizer 1 buah, reflek
hummer 1 buah, tong spatel 2 buah,
kupet sebanyak 3 buah. Sebagian
alat steril berada di CSSD (Set luka,
gaas steril)
3. Ruang Angsa memiliki rencana
dalam meningkatkan kualitas sarana
dan prasarana dengan cara
melaporkan setiap ada sarana dan
prasarana ruangan yang rusak atau
perlu perbaikan, jika barang dapat
diperbaiki maka akan diperbaiki dan
akan dibawa kembali ke ruangan,
jika tidak dapat diperbaiki maka
akan dibuatkan blangko permintaan

12
barang yang kemudian diteruskan
ke gudang materiil.
2 Organizing 1. Ruang Angsa memiliki petugas Wawancara
inventaris di ruang Angsa
2. Perjalanan barang inventaris ruangan
melalui alur membuat RAB amprah
tahunan lalu meminta persetujuan
dari bidang pengadaan setelah itu
diterima oleh ruangan.
3. Di ruang telah memiliki SPO dan
selalu dievaluasi
3 Actuating 1. Pengecekan sarana dan prasarana Wawancara
rutin dilakukan setiap pagi oleh
petugas inventaris.
2. Alat dan barang inventaris medis
dan non medis diuji oleh petugas
khusus kalibrasi setiap bulan.
4 Controlling 1. Monitoring dilakukan secara rutin Wawancara dan
dan didokumentasikan di buku observasi
inventaris ruangan Angsa.
2. Ruang sentralisasi obat telah
dilengkapi dengan pemantauan suhu
ruangan dan suhu kulkas tempat
penyimpanan obat, ruangan
penyimpanan obat telah memiliki
AC
3. Hasil pengkajian di Ruang Angsa
untuk SPO di evaluasi setiap 3 tahun
sekali

Kesimpulan :
1. Terkait sarana dan prasarana di Ruang Angsa yang mengalami masalah

(rusak) sudah terlaporkan ke bagian CSSD dan untuk alat yang rusak sudah

dianggarkan dalam RAB.

3.1.3. METHODE
Fungsi Masalah
No Hasil Pengkajian
Manajemen Keterangan
1 Planning 1. Metode Praktek Keperawatan Wawancara
Profesional (PMKP) yang diterapkan
di Ruang Angsa adalah Metode
Asuhan Keperawatan Primer

13
termodifikasi Tim.
2. Pelaksanaan ronde keperawatan belum
ada, namun diadakan pertemuan tim
apabila jika ada pasien dirawat lebih
dari tujuh hari dan dengan dokter
penanggung jawab lebih dari tiga
dokter dengan masalah yang
kompleks
3. Discharge planning sudah
diaplikasikan sesuai dengan standart
yang berlaku.
2 Organizing Proses penyiapan obat injeksi yang Observasi
dilakukan oleh perawat sudah
memperhatikan tekhnik septik aseptik.
Obat yang telah selesai dispensing
diletakkan sesuai tempatnya dan sudah
berisi label.
3 Actuating Dispensing obat dilakukan di ruang obat Observasi
dan obat injeksi yang sudah
didispensing dan akan diberikan ke
pasien diletakkan kembali ke kotak obat
disertai identitas pasien dan label obat.
4 Controlling Refleksi Diskusi Kasus (RDK) Wawancara
merupakan salah satu cara untuk
mengevaluasi pelayanan keperawatan
yang telah diberikan kepada pasien.
Ruangan memiliki jadwal RDK tertulis
yang telah terprogram, yaitu setiap
setiap bulan dengan tanggal disesuaikan

Kesimpulan : Metode Praktek Keperawatan Profesional (PMKP) yang diterapkan


di Ruang Angsa adalah Metode Asuhan Keperawatan Primer.

3.1.4. MONEY
Fungsi Masalah
No Hasil Pengkajian
Manajemen Keterangan
1 Planning 1. Ruang Angsa memiliki perencenaan Wawancara
untuk peningkatan income dengan
cara meningkatkan komunikasi
efektif dan pada sistem pelayanan
serta selalu menerapkan 5S
(senyum, sapa, salam, sopan,
santun)

14
2. Tarif kamar perawatan per malam di
ruang Angsa sebesar Rp. 280.000.00
3. Jumlah pasien Umum dalam satu
bulan (maret 2018) sebanyak
4. Jumlah pasien BPJS dalam satu
bulan (maret 2018) sebanyak

2 Organizing Ruang Angsa sudah menerapkan Observasi


pelayanan 5S (senyum, sapa, salam,
sopan, santun) dan telah melakukan
komunikasi yang efektif kepada klien.
3 Actuating Ruang Angsa tidak melaksanakan Wawancara
pengarahan keuangan tapi dilakukan
setiap tahun oleh manajemen keuangan
rumah sakit.
4 Controlling Evaluasi keuangan di ruang Angsa tidak Wawancara
dilakukan setiap bulan dengan evaluasi
pemasukan dan pengeluaran. Karena
dilakukan oleh manajemen keuangan
rumah sakit

Kesimpulan : Ruang Angsa Belum memiliki laporan keuangan karena seluruh sistem
keuangan Ruang Angsa diatur oleh manajemen keuangan Rumah Sakit
3.1.5. MARKET
Fungsi Masalah
No Hasil Pengkajian
Manajemen Keterangan
1 Planning 1. Pendidikan Kesehatan di RS Wawancara
(PKMRS) direncanakan untuk
kelompok mencakup :
a. Materi
b. Metoda
c. Tempat dan waktu
2. Perencanaan pemasaran ruangan
harus diketahui oleh kepala ruangan
rawat inap untuk menjamin mutu
pelayanan.
3. Discharge Planning direncanakan
untuk individu pasien/keluarga
harus diketahui oleh kepala ruangan
mengacu pada 10 penyakit di Ruang
Angsa.
4. Terdapat format discharge planning

15
5. Discharge Planning sudah mengikuti
panduan dan SOP serta mengacu
pada 10 penyakit terbesar di Ruang
Angsa
6. Semua perawat paham tentang
pelaksanaan discharge planning dan
mampu menerapkannya
7. Perawat melakukan koordinasi
dengan dokter/profesi terkait dengan
kondisi pasien
8. Format terisi lengkap dan benar
2 Organizing Dalam melakukan peningkatan mutu Wawancara
rumah sakit melibatkan kepala ruangan
dan melakukan integlasi rawat inap
yang diketahui oleh komite pelayanan
mutu rumah sakit.
3 Actuating Pelaksanaan mutu di ruangan
dilakukan dengan cara pelatihan,
diklat sesuai dengan kebutuhan
kompetensi di ruagan setiap 3 tahun
dilakukan oleh perawat.
4 Controlling 1. Proses pengawasan mutu ruangan Wawancara
dinilai melalui kinerja perawat oleh
kepala ruangan terkait dengan SDM.
2. Ruang Angsa sudah mempunyai
buku registrasi penerimaan pasien
baru dan buku pemulangan pasien.
Kesimpulan : tidak ada masalah

5. Bu, mhon bimbingannya untuk perhitungan rumus LOSS DAY


DAN BOR
6. Bu untuk perhitungan tingkat ketergantungan pasien, apakah
dihitung per hari atau bagaimana bu?

16
Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat

Kebutuhan tenaga perawat di Ruang Angsa dari hasil pengkajian adalah sebagai
berikut :

a. Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuan tenaga keperawatan secara keseluruhan di


Ruang Angsa perhari tanggal 5 April 2018

Klasifikasi Jumlah Pasien Kebutuhan tenaga keperawatan


pasien Pagi Sore Malam
Total Care 0 0x 0,36 = 0 0x 0,36 = 0 0x 0,20 = 0
Partial Care 2 2x 0,27 =0,54 2x 0,15 = 0,3 2x 0,10= 0,2
Minimal 13 13x0,17 = 2,21 13x0,14 = 1,82 13x0,07 = 0,91
Total 15 2,75 2,12 1,11
Total tenaga perawat∶

Pagi : 2,75

Sore : 2,12

Malam : 1,11

Total : 5,98 orang 6 orang

Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari : 5 orang

Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per hari :

17
5 + 5,98 + 1 = 11,98 dibulatkan 12 orang

KET :

5 : jumlah tenaga yang lepas perhari

5,98 : jumlah tenaga total tenaga perawat

1 : perawat yang menjadi kepala ruangan

B. Analisis SWOT

Identifikasi Situasi Ruangan Berdasarkan Pendekatan Analisis SWOT

No Analisa SWOT Bobot Rating Bobot x Rating


1. Sumber Daya Manusia (MAN)
a. Internal faktor (IFAS)
STRENGHT
1. Sudah ada sistem pengembangan
staff berupa pelatihan dan hampir
semua mengikuti pelatihan bedah
maupun dan non bedah
2. tidak ada konflik antar peran
perawat
3. Jenis ketenagaan :
 S1 Kep : 6 orng
 DII Kep : 11 orng
 Adm : 1 orng
 CS : 2 orng
2. WEAKNESS
7. IKK di ruang Angsa Sudah ada
namun pelaksanaannya belum
optimal
8. Kualifikasi pendidikan staff untuk
menerapkan metode asuhan

18
keperawatan primer belum dapat
dilaksanakan dikarenakan
pendidikan staff belum memenuhi
standar untuk metode keperawatan
primer (S1 Keperawatan)

TOTAL
b. Eksternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
1. Adanya kesempatan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi
2. Adanya kebijakan pemerintah
tentang profesionalisasi perawat
3. Adanya program akreditasi RS dari
pemerintah dimana MAKP
merupakan salah satu penilaian
THREATENED
1. Ada tuntutan tinggi dari masyarakat
untuk pelayanan yang lebih
profesional
2. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan hukum
3. Makin tinggi kesadaran masyarakat
akan pentingnya kesehatan
4. Persaingan antar RS yang semakin
kuat
5. Terbatasnya kuota tenaga
keperawatan yang melanjutkan
pendidikan tiap tahun

(Bu, mohon bimbinganya untuk cara pembobotan analisi SWOT)

19
BAB IV

RUMUSAN MASALAH DAN PERENCANAAN

A. Rumusan Dan Prioritas Permasalahan


Tabel 3.
No Masalah M S Mn Nc Af Skor Prioritas
1 Kualifikasi pendidikan 2 2 3 2 3 12 2
staff untuk menerapkan
metode asuhan
keperawatan primer
belum dapat
dilaksanakan
dikarenakan pendidikan
staff belum memenuhi
standar untuk metode
keperawatan primer (S1
Keperawatan).
2 IKK di ruang Angsa 4 5 5 4 4 22 1
Sudah ada namun
pelaksanaannya belum
optimal

3.2. Seleksi Alternatif Penyelesaian Masalah Metode CARL


Tabel 4.
Prioritas Alternatif
No Masalah C A R L Skor
Penyelesaian Masalah
1 Sudah ada IKK Memeriksa kembali 4 4 4 3 15
namun IKK ruangan
pelaksaannya Memonitoring IKK 4 3 3 3 13
belum optimal sesuai dengan format
Mengevaluasi jadwal 3 3 3 3 12
monitoring IKK
2. Kualifikasi Melengkapi 3 2 3 2 10
pendidikan staff perencanaan kebutuhan
untuk tenaga dan
menerapkan
kualifikasinya sesuai
metode asuhan
keperawatan standart
primer belum
dapat
dilaksanakan
20
dikarenakan
pendidikan staff
belum memenuhi
standar untuk
metode
keperawatan
primer (S1
Keperawatan).

B. Plan Of Action (POA)


Plan Of Action dan rencana pelaksanaan program inovasi terlampir

No Kegiatan Tujuan Indikator Sasaran Waktu Metode Penanggungjawab


1.

NOTE : Mohon Bimbingannya untuk penyusunan POA Bu.. terimakasih.

21