Anda di halaman 1dari 32

Askep Gips

A. Gips
Konsep teori
1. Pengaertian
Gips adalah imobilisasi eksternal yang kaku yang dicetak sesuai kontur tubuh tempat gips
dipasang ( brunner dan suddart, 2000 ). Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk
immobilisasi bagian tubuh dengan menggunakan bahan gips tioe plester dan fiberglass (
Barbara Engram ,1999 ). Jadi gips adalah alat immobilisasi eksternal yag terbuat dari
bahan mineral yang terdapat di alam dengan formula khusus dengan tipe plster atau
fiberglass
2. Indiksi pemasangan gips
Indikasi pemasangan gips adalah pasien dislokasi sendi, fraktur, penyakit tulang
spondilitis TBC, pasca operasi, skoliosis, spondilitis TBC,
3. Jenis-jenis gips
a. Gips lengan pendek. gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan
telapak tangan, dan melingkar erat didasar ibu jari
b. Gips lengan panjang. Gips ini dipasang memanjang dari setinggi lipat ketiak sampai
disebelah prioksimal lipatan telapak tangan. Siku buasanya dimobilsasi dalam posisi
tegak lurus
c. Gips tungkai pendek. Gps ini dipasang memanjang dari bawah lutut sampai dasar jari
kaki. Kaki dalam sudut tegak lurus dalam posisi netral
d. Gips tungkai panjang. Gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga ats dan tengah
paha sampai dasar jari kaki. Lutut harus sedikit fleksi
e. Gips berjalan. Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat
disertai telapak untuk berjalan
f. Gips tubuh. Gips ini melingkar dibatang tubuh
g. Gips spika. Gips ini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstermitas (
gips spika tunggal atau ganda )
h. Gips spika bahu. Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, dan satu ekstermitas
bawah ( gips spika tunggal atau ganda )
4. Bahan – bahan gips
a. Plaster
Gips pembalut dapat mengikuti kontur tubuh secara halus. Gulungan krinolin,
diimpregnasi dengan serbuk kalsium sulfat an hidrus ( Kristal gypsum ). Jika basah
terjadi reaksi kristalisasi dan mengeluarkan panas ( reaksi eksodermis ). Kristalisasi
menghasilkan pembalutan yang kaku. Kekuatan penuh baru tercapai setelah kering,
memerlukan waktu 24 – 72 jam untuk mengering. Gips yang kering berwarna putih
mengkilap, berdenting, tidk berbau, dan kaku sedangkan gips yang basah berwarna abu –
abu atau kusam, perkusinya pekak, teraba lembab, dan berbau lembap
b. Non plester
Secara umum berarti gips fiber glass, bahan poliuretan yang diaktivasi air ini mempunyai
sufat yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karena lebih ringan dan lebih
kuat, tahan air dan tidak mudah pecah. Dibuat daribahan rajukan terbuka, tidak
menyerap,diimpregnasi dengan bahan pengeras yang dapat mencapai kekuatan kaku
penuhnya hanya dalam beberapa menit
c. Non plester berpori-pori
Sehingga masalah kulit dapat dihindari. Gips ini tudak menjadi lunak jika terkena air,
sehingga memungkinkan hidroterapi. Jika basah dapa dikeringkan dengan pengering
rambut yang disetel dingin. Pengeringan secara merata sangat penting agar tidak melukai
kulit
5. Tujuan pemasangan gips
 Imobilisasi kasus pemasangan dislokasia sndi
 Fiksasai fraktur yang telah direduksi
 Koreksi cacat tulang (mis., skoliosis )
 Imobilisasi pada kasus penyakit tulang satelah dilakukan operasi (mis.,spondilitis )
 Mengoreksi deformitas

6. pemasangan gips
persipan alat – alat untuk pemasangan gips
a. Bahan gips dengan ukuran sesuai ekstremitas tubuh yang akan di gips
b. Baskom berisi air biasa ( untuk merendam gips )
c. Baskom berisi air hangat
d. Gunting perban
e. Bengkok
f. Perlak dan alasnya
g. Waslap
h. Pemotongan gips
i. Kasa dalam tempatnya
j. Alat cukur
k. Sabun dalam tempatnya
l. Handuk
m. Krim kulit
n. Spons rubs
o. Padding
Teknik pemasangan gips, yaitu
a. Siapkan pasien dan jelaskan prosedur yang akan dikerjakan
b. Siapkan alat –alt yang akan digunakan untuk pemasangan gips
c. Daerah yang akan dipasang gips dicukur, dibersihkan, dan dicuci dengan sabun,
kemudian dikeringkan dengan handuk dan diberi krim kulit
d. Sokong ekstremiras atau bagiab tubuh yang akan digips
e. Posisikan dan pertahankan bagiab yang akan di gips dalam posisi yang ditentukan
dokter selama prosedur
f. Pasang spongs rubbs ( bahan yang menyerap keringat ) pada bagian tubuh yang akan
dipasang gips, pasang dengan cara yang halus dan tidak mengikat. Tambahkan bantalan (
padding ) di daerah tonjolan tulang dan pada jalur syaraf
g. masukkan gips dalam baskom berisi air, rendam beberapa saat sampai gelembung –
gelembung udara dari gips harus keluar. Selanjutnya, diperas untuk mengurangi jumlah
air dalam gips
h. pasang gips secara merata pada bagian tubuh. Pembalutan gips secara melingkar mulai
dari distal ke proksimal tidak terlalu kendur atau terlalu ketat. Pada waktu membalut,
lakukan dengan gerakan bersinambungan agar terjaga ketumpah tindihan lapisan gips.
Dianjurkan dalam jarak yang tetap. Lakukan dengan gerakan yang bersinambungan agar
terjaga kontak yang constant dengan bagain tubuh
i. setelah selesai pemasangan, haluskan tepinya, potong serta bentuk dengan pemotongan
gipa atau cutter
j. bersihkan partikel bagian gips dari kulit yang terpasang
k. sokong gips selama pengerasan dan pengeringan dengan telapak tangan. Jangan
diletakkan pada permukaan keras atau pada tepi yang tajam dan hindari tekanan pada
gips
7. pelepasan gips
alat yang diperlukan untuk pelepasan gips
a. gergaji listrik/pemotongan gips
b. gergaji kecil manual
c. gunying besar
d. baskom berisi air hangat
e. gunting perban
f. bengkok dan plastic untuk tempat gips
g. sabun dalam tempatnya
h. handuk
i. perlak dan alasnya
j. waslap
k. krim atau minyak

teknik pelepasan gips, antara lain


a. jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
b. yakinkan pasien bahwa gergaji listrik atau pemotongan gips tidak akan mengenai kulit
c. gips akan dibelah dengan menggunakan gergaji listrik
d. gunakan pelindung mata pada pasien dan petugas pemotong gips
e. potong bantalan gips dengan gumting
f. sokong bagian tubuh ketika gips dilepas
g. cuci dan keringkan bagian yang habis di gips dengan lembut, oleskan krim atau
minyak
h. ajarkan pasien secara bertahap melakukan aktivitas tubuh sesuai program terapi
i. ajarkan pasien agar meninggkan ekstremitas atau menggunakan elastis perban jika
perlu untuk mengontrol pembengkakan
Konsep asuhan keperawatan

1. Pengkajian keperawatan
Pengkajian secara umum perlu dilakukan sebelum pemasangan gips terhadap gejala dan
tanda, status emosional, pemahaman tujuan pemasangan gips.,dan kondisi bagian tubuh
yang akan dipsangi gips,. Pengkajian fisik bagian tubuh yang akan dipasangi gips
meliputi status neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar dan adnya abrasi. Data yang
perlu dikaji pasien setelah gips terpasang meliputi :
 Data subjektif :
Adnya rasa gatal atau nyeri, keterbatasan gerak, dan rasa panas pada daerah yang ter
pasang gips
 Data objektif :
Apakah ada luka pada bagian yang akan digips. Misalnya, luka operasi, luka akibat patah
tulang, apakah ada pembengkakan pada daerah yang terpasang gips,apakah ada sianosis
apakah ada perdarahan apakah ada iritasi kulit, apakah ada bau atau cairan yang keluar
dari bagian tubuh yang di gips
2. Diagnosa keperawatan
Bedasarkan data pengkaljian, diagnosis keperawatan utama pada pasien yang
menggunakan gips meliputi :
a. cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pemasangan gips .
 tujuan :
cemas berkurang atau hilang
 intervensi:
- beri penjelasan tentang tuijuan dan prosedur pemasangan gips
- beri kesempatan pasien untuk mengekspresikan kecemasannya
- bantu pasien memilih mekanisme koping yang positif
- anjurkan keluarga atau orang terdekat sering mengunjunga pasien
- anjurkan pasien berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan

 implementasi :
lakukan sesuai dengan intervensi
 evaluasi :
- menunjukkan ketenangan
- mampu mengekspresikan perasaannya
- menggunakan koping positif
b. gangguan rasa nyeri yang berhubungan dengan terpasngnya gips .
 tujuan :
meredakan atau menghilangkan nyeri
 intervensi
- kaji lokasi, sifat dan intetnsitas,nyeri karena nyeri dapat menjadi petunjuk adanya
kompliksi
- jelaskan penyebab nyri yang dialami pasien
- anjurkan pasien untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kemampuan pemenuhan
nkebutuhannya
- dekatkan alat –alat yang sering digunakan agar pasien dapat menjangkau sndiri
- ajarkan teknik latihan gerak sendi
- libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
 implementsi
lakukan sesuai dengan intervensi
 evaluasi
- meninggikan ekstermitas yang di gips
- menggunakan analgesic sesuai dangan program

c. gangguan eliminasi fecal ( obstipasi ) yang berhubungan dengan imbilisasi


 tujuan :
eliminasi fekal normal
 intervensi :
- anjurkan melakukan imobilisasi di tempat tidur
- jika kondisi memungkinkan, lakukan imobilisasi diluar tempat tidur dengan
menggunakan alat bahan bantu untuk meningkatkan peristaltic usus
- beri diet tinggi serat, sehingga pasien mudah buang air besar
- anjurkan cukup asupan cairan 2500 cc sehari dengan caiiran yang cukup dalam tubuh
dapat menjaga konsistensi feses menjadi normal atau keras
- kolaborasi dalam pemberian obay pelunak feses sesua program terapi
 implementasi :
melakukan implementasi sesuai dengan intervensi
 evaluasi :
eliminasi fecal teratur
- menunjukkan kemampuan mobilisasi
- makan tinggi serat
- asupan cairan 2500 cc per hari
- konsistensi feses lunak
d. kerusakan integritas kulityang berhubungan dengan adanya penekanan akibat
pemasangan gips
 tujuan :
mencegah atau menyembuhkan abrasi kulit
 intervensi :
- sebelum pemasangan gips, laserasi dan abrasi kulit harus dirawat dahulu suoaya cepat
sembuh
- kulit harus dicuci dan dirawat sebelum pemasngan gips untuk mencegah terjadinya
iritasi sesudah dipasang gips
- observasi apakah pemasangan gips terlalu ketat, terlalu longgar atatu pinggirnya tajam
karena hal in dapat menyebabkan iritasi kulit
- gips harus tetap dalam keadaan kering dan bersih karena dapat merangsang timbulnya
iritasi kulit dan akhirnya infeksi
- laporkan dokter jika terdapat tanda infeksi
 implrmentasi :
melakukan implementasi sesuai intervensi
 evaluasi :
memperlihatkan tidak terjadinya gangguan integritas kulit
- tidak menunjukkan tanda infeksi sistemik kulit
- tidak menunjukkan tanda local infeksi kulit
- memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka
- kulit tidak ada kemerahan dan lecet
e. resiko tinggi cedera yang ber hubungan dengan pemasangan gips pada tungkai
 tujuan
tidak terjadi cedera
 intervensi :
- kurangi aktifitas yang berlebihan karena dapat menyebabkan kelelahan
- ajarkan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan pasien, sehinnga resiko cedera
dapat dihindari
- ajarkan cara penggunaan alat bantu dan anjurkan menggunakan ketika beraktivitas
- libatkan keluarga dalam proses perawatan, baik dirumah sakit maupun dirumah
 implementasi :
melakukan implementasi sesuai dengan intervensi
 evaluasi
tidak terjadi cedera
- melakukan aktivitas secara bertahap
- menunjukkan penggunaan alat bantu saat aktivitas
f. hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pemasangan gips
 tujuan :
peningkatan mobilitas fisik
 intervensi :
- kaji tingkat mobilitas yabg dapat dilkukn pasien setelah dipasang gips
- lakukan latihan ROM sesuai kisaran gerak yang dapat dilakukan untuk
mempertahankan fungsi sendi
- jika pasien di gips di tungkai, lakukan latihan pada jari –jari kaki yang terpasang gips
- dorong pasien agar berpartisipasi aktif dalam perawatan diri untuk meningkatkan
aktivitas pasien
- anjurkan pasien menggunakan alat bantu secara aman saat melakukan aktivitas diluar
tempatr tidur
 implementasi :
melakuka implementasi sesuai dengan intervensi
 evaluasi
- menggunakan alat bantu yang aman
- berlatih untuk meningkatkan kekuatan otot
- mengubah posisi sesering mungkin
- melakukan latihan sesuai kisaran gerakan sendi yang tidak tertutup gips
g. resiko tinggi perubahan perfusi jaringan perufer yang berhubungan dengan respon
fisiologis terhadap cedera atau gips restriksi
 tujuan :
mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat
 intervensi :
- observasi adanya pembengkakan akibat trauma atau pembedahan karena hal ini dapat
menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer
- observasi apakah gips terlalu ketat, sehingga menghambat aliran darah balik
- tinggikan daerah yang cedera untuk mengurangi edema dan melancarkan aliran darah
balik
- dorong pasien untuk menggerakan jari tangan atau kaki setiap jam sekali untuk
merangsang perredaran darah

 implementasi :
melakukan implementasi sesuai dengan intervensi
 evaluasi
peredaran darah adekuat pada ekstermitas yang sakit
- memperlihatkan warna dan suhu kulit yang normal
- mengalami pembengkakan minimal
- memperlihatkan waktu pengisian kapiler yang memuaskan ketika di uji
.

A. PENGERTIAN
 Gips dalam bahasa latin dinamakan sulfat calcicus, dalam bahasa Inggris disebut plaster of paris,
dan dalam bahasa Belanda gips powder.(Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan,1995)
 Gips adalah merupakan mineral yang terdapat di alam dengan formula ca So4, H2o dan
merupakan batu putih
 Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang dicetak sesuai kontur tubuh dimana gips
ini dipasang.
 Gips merupakan fiksasi eksternal yang sering dipakai, yang terbuat dari plaster of paris, fiber
glass, dan plastic yang disediakan dalam bentuk verban yang dipakai untuk immobilisasi bagian-
bagian tubuh yang dilaksanakan. (Price Wilson)
Ace bondage plaster yang harus dibasahkan sebelum pamakaian, mengeringnya lambat, berat,
kekuatan, dan integritasnya hilang bila basah. Bila plaster cast perlu perbikan pada umumnya
harus diganti semua.
Fiber glass cepat kering dan ringan, boleh terkena air dan kekuatannya tidak rusak. Plastic cast
boleh dipanaskan dan dibentuk kembali bila perlu perbaika. Kerugiannya bahwa jenis fiber glass
tertentu, pengeringannya harus memakai sinar ultraviolet dan penderita yang memakai fiber glass
atau plastic suka menderita luka lecet pada kulit yang tertutup cast.kecuali bila dikeringkan
dengan kapas pengering yang hangat.
Tepung gips hampir sama dengan kapur yang dipakai untuk pengapur rumah. Sifatnya tepung
gips itu hampir bersamaan dengan tepung semen, yakni apabila dicampur dengan air,
keadaannya berubah menjadi beku dan keras. Hanya perbedaannya gips menjadi lebih cepat
menjadi beku dank eras seperti semen. Dan lagi sifat tepung gips menarik uap air dari dalam
udara. Kalau hal ini terjadi, maka tepung gips itu tidak baik lagi dipakai untuk memebuat
pembalut gips, sebab bila dijadikan gips palk atau circulair gips, tidak bias lagi menjadi keras
dan kering, selamanya menjadi lembab (tidak kering betul).
 Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh.(Engram
Barbara,1998: 280)
B. INDIKASI PEMASANGAN GIPS
Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995:113) :
1. Pasien dengan dislokasi
2. Pasien dengan fraktur
3. Penyakit tulang misalnya spondilitis TBC
4. CTEV (Conginetal Talipes Equino Varus) dan skoliosis

C. TUJUAN
Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995: 113) :
1. Imobilisasi kasus dislokasi sendi dan patah tulang fiksasi
2. Imobilisasi kasus penyakit tulang, misalnya dilaksanakan pada pos operasi
3. Koreksi cacat tulang, misalnya patah tulang, dislokasi, scoliosis, dan lain-lain
4. Mencegah patah tulang
5. Sebagai pembalut darurat
6. Menyokong jaringan cedera selama proses penyembuhan
7. Memberikan tenaga traksi
8. Secara umum gips memungkinkan mobilisasi pasien sementara membatasi gerakan pada bagian
tubuh tertentu.

D. JENIS-JENIS GIPS
Jenis dan ketebalan gips yang akan dipasang tergantung pada kondisi klien yang ditangani.
Secara umum, sendi pada proksimal dan distal area yang akan dimobilisasi harus disertakan
dalam gips. Namun, pada beberapa bentuk fraktur, konstruksi dan pencetakan gips dilakukan
sedemikian rupa sehingga sendi masih dapat digerakkan sedangkan garis fraktur diimobilisasi.
Ada beberapa jenis gips (Suzzane C.Smeltzer, 2001: 2282):
1. Gips lengan pendek
Memanjang dari bawah, siku sampai lipatan telapak tangan, melingkar erat di dasar ibu jari. Bila
ibu jari dimasukkan, dinamakan spika ibu jari atau gips gauntlet.
2. Gips lengan panjang
Memanjang dari seetinggi lipat ketiak di sebelah proksimal lipatan telapak tangan, siku biasanya
diimobilisasi dalam posisi tegak lurus.
3. Gips tungkai pendek
Memanjang dari baawah lutut sampai dasar jari kaki. Kaki dalam sudut tegak lurus pada posisi
netral.
4. Gips tungkai panjang
Memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah paha sampai dasar jari kaki. Lutut harus
sedikit fleksi.
5. Gips berjalan
Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat. Bias dissertai telapak untuk berjalan.
6. Gips tubuh
Melingkar di batang tubuh
7. Gips spika
Melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstrimitas (gips spika tunggal atau ganda)
8. Gips spika bahu
Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu, dan siku
9. Gips spika pinggul
Melingkari batang tubuh dan satu ekstrimitas bawah; dapat gips spika tunggal atau ganda

E. BAHAN-BAHAN GIPS
Menurut Suzzane C. smeltzer (2001:2282):
1. Plaster
 gips tradisional terbuat dari bahan gips
 gips pembalut dapat menngikuti kontur tubuh secara halus.
 Gulungan crinoline diimpregnasi dengan serbuk kalsium sulfat anhidrus (Kristal gipsum). Bila
basah, terjadi reaksi kristalisasi dan mengeluarkan panas (reaksi eksotermis). Panas yang
dihasilkan selama reaksi ini sering mengganggu kenyamanan,maka harus menggunakan air
dingin.
 Gips harus ditempatkan di tempat terbuka agar panas dapat keluar secara maksimal.
 Gips memerlukan waktu 24 sampai72 jam untuk mongering
2. Nonplaster
 Secara umum, berarti gips fiberglas, bahan poliuretan yang diaktivasi air ini mempunyai sifat
yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karena lebih kuat, ringan, tahan air, dan tidak
mudah pecah.
 Dibuat dari serat rajutan terbuka tak meyerap yang diimpregnasi dengan dengan bahan pengeras
yang dapat mencapai kekuatan kaku penuhnya hanya dalam beberapa menit.
 Nonplaster berpori-pori sehingga masalah kulit dapat dihindari.
 Tidak menjadi lunak apabila terkena air, sehingga memungkinkan hidroterapi (terapi
menggunakan media air). Bila basah dapat dikeringkan dengan pengering rambut yang disetel
dingin. Pengeringan yang merata sangat penting agar tidak melukai kulit.

F. TEKNIK PEMBUATAN GIPS


Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995):
1. Siapkan meja dan bentangkan gas, di atasnya dibubuhi tepung gips.
2. Tangan kiri memegang gulungan pembalut yang sudah dibubuhi tepung tadi. Hal ini dikerjakan
berulang-ulang, maksudnya agar tepung masuk kecelah-celah benang pembalut (gaas), sehingga
tebal tepung gips dipergunakan gaas tadi kira-kira 1,5 mm.
3. Setelah itu diletakkan pembalut baru di atasnya, lalu bubuhi tepung gips, digosok seperti yang
pertama tebalnya.
Dalam mengerjakan pekerjaan ini ujung dari gas yang telah ditaburi dengan tepung gips harus
ditindih dengan benda pemberat dan ditegangkan, gunanya agar telapak tangan lebih mudah
menggosokkan tepung gips ke kiri dank e kanan, hal ini dilakukan di atas gaas tadi.
4. Bila sebagian pembalut tadi telah selesai langsung digulung sampai tergulung sempurna, tapi
dalam penggulungan tidak boleh padat harus longgar supaya mudah dan cepat air masuk ke
dalam bila di rendam dalam air. Bila pembuatan gips di atas adalah dipergunakan bilamana tidak
ada gips yang sudah jadi (plaster gips)

G. PERSIAPAN PRE/POST PEMASANGAN GIPS


Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995):
1. RO foto
2. Persiapan pasien
Jelaskan pada pasien tentang:
a. Perencanaan pemasangan gips
b. Pelaksanaan
c. Guna pemasangan gips
d. Tujuan pemasangan gips
3. Persiapan alat untuk pembuatan gips
a. Pembalut kasa sepanjang 2,5 m, lebarnya 5-15 cm.
b. Tepung batu putih
c. Gunting perban
d. Meja atau bangku untuk pembalut gips
e. Batu penidis
f. Plester gips (siap untuk digunakan)
4. Persiapan pelaksanaan pemasangan gips
a. Waskom berisi air panas/hangat-hangat kuku
b. Tempat menyimpan pembalut gips yang sudah dibuat
c. Gunting verban
d. Nier bekken
e. Gaas secukupnya
f. Handuk
g. Zeil
h. Sabun dalam tempatnya
i. Alat cukur
j. Talk (oil)
k. Food book
l. Spongs rubs
5. Persiapan alat untuk membuka gips :
a. Gergaji listrik
b. Gergaji kecil manual
c. Tang kecil, besar
d. Gunting besar
H. TEKNIK PEMASANGAN GIPS
Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995):
1. Sebelum gips dipasang perawat menjelaskan prosedur kerja pada pasien.
2. Daerah yang akan digips dicukur, dibersihkan, dicuci dengan sabun lalu dikeringkan dan
dibubuhi talk secukupnya, atau dapat juga menggunakan krim/oil.
3. Setelah itu dipasang spong rubs, pada bagian tubuh tersebut (terbuat dari bahan yang menyerap
keringat) gunanya untuk permukaan kulit tetap kering
4. Pada penonjolan-penonjolan tulang atau bony prominence atau sepasang bantalan atau Cushion,
biasanya terbuat dari spons
5. Kemudian dipasang padding (pembalut dibuat dari bahan kapas sintetik)
6. Setelah yakin bahwa bagian tubuh yang akan di gips sudah berada dalam posisi yang
dikehendaki gips direndam untuk beberapa saat.
7. Lama pencelupan tergantung dari jenis gips, ada yang cepat kering, dan ada yang harus
menunggu sampai gelembung-gelembung udara dari gips keluar, setelah itu untuk mengurngi
jumlah air gips diperas pada kedua ujungnya.
8. Selanjutnya dilakukan pembalutan gips secara melingkar mulai dari distl ke proksimal, tidak
boleh terlalu kendor atau terlalu kencang.
9. Untuk mendapatkan bentuk keluar dari gips yang baik (mulus tidak berbenjol-benjol), pada
waktu membalut overlaving dianjurkan dalam jarak yang tetap, biasanya 50 % dari lebar gips.
10. Sokong gips selama pengerasan dan pengeringan. Pegang gips yang sedng dalam proses
pengerasan dengan telapak tangan, jangan diletakkan pada permukaan keras atau pada tepi yang
tajam, hindari tekanan pada gips.
11. Menjelang gips menjadi keras dilakukan moulding yaitu gips dibentuk sesuai yang diinginkan.

I. JENIS PEMASANGAN GIPS


Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (1995):
1. Gips sirkuler
Dipasang biasanya pada keadaan dimana memerlukan imobilisasi atau fiksasi yang lebih stabil.
2. Gips spalk
Hanya merupakan proteksi.
3. Gips plaster
Gips ini dapat kering setelah 12-48 jam tergantung dari ukurannya.
4. Gips silinder kering dalam waktu 12-24 jam, tapi badan gips biasanya mencapai 48 jam baru
kering.
5. Gips plastic kering 8-10 jam. Dalam udara kering (tidak lembab) akan lebih cepat dan efisien
dalam proses pengeringan gips.

J. PEMBUKAAN GIPS
Pembukaan gips adalah dibelah mengguanakan gergaji listrik. Gergaji sangat bising tetapi bila
pemakaiannnya tepat tidak akan merusak kulit yang ada di bawah gips. Kulit yang terbungkus di
dalam gips untuk beberapa lama akan dilapisi eksudat dan kulit yang mati. Untuk
membersihkannya dipakai minyak pelumas kulit, kemudian dibersihkan dengan air hangat.
Proses ini berlangsung beberapa hari, cara membersihkan yang tergesa-gesa akan menimbulkan
iritasi.
Prosedur pelepasan gips (Suzzanne C. Smeltzer, 2001: 2289)

K. KOMPLIKASI
Menurut Suzzanne C. Smeltzer (2001:2285):
1. Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen dapat terjadi apabila terjadi peningkatan tekanan jaringan dalam rongga
yang terbatas (missal: gips, kompartemen otot) yang akan memperburuk peredaran darah dan
fungsi jaringan dalam rongga yang tertutup tadi.
2. Luka tekan (dekubitus)
Tekanan gips pada jaringan lunak mengakobatkan anoksia jaringan dan ulkus. Ekstrimitas bawah
yang merupakan tempat paling rentan terhadap tekanan adalah tumit, punggung kaki, kaput
fibula, dan permukaan anterior patella.
Pada ekstrimitas atas, tempat tekanan utama terletak pada epikondilus medialis humeri dan
prosesus stiloideus ulnae.
Umumnya pasien dengan luka tekan mengeluh nyeri dan rasa kencang di tempat itu. Bila
tekanan tidak dihilangkan, daerah yang nekrotik akan meleleh, menodai gips, dan mengeluarkan
bau. Ketidaknyamanan mungkin tidak dirasakan ketika ulkus sedang terjadi. Kehilangan jaringan
yang ekstensif dapat terjadi bila tanda dan gejala ulkus tekanan tidak terpantau dan tidak
dilaporkan.
3. Sindrom disuse
Selama digips, pasien diajari untuk menegangkan atau melakuakan kontraksi otot (missal
kontraksi otot isometric) tanpa menggerakan bgian itu, ini dapat membantu mengurangi atrofi
otot dan memeperatahankan kkuatan otot. Pasien dengan gips di tungkai, diminta “meluruskan”
lutut. Pasien dengan gips di lengan didorong untuk “mengepalkan” tangan. Latihan penegangan
otot (missal: latihan penegangan otot kuadrisep dan gluteus) penting untuk menjaga otot yang
penting untuk untuk berjalan.

ASKEP “ G I P S “

BAB 2
“GIPS“

 Definisi Gips
Gips dalam bahasaa latin disebut kalkulus, dalam bahasa ingris disebut plaster of paris , dan
dalam belanda disebut gips powder. Gips merupakan mineral yang terdapat di alam berupa batu
putih yang mengandung unsur kalsium sulfat dan air.
Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang di cetak sesuai dengan kontur tubuh
tempat gips di pasang (brunner & sunder, 2000)
gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan
mengunakan bahan gips tipe plester atau fiberglass (Barbara Engram, 1999).
Jadi gips adalah alat imobilisasi eksternal yang terbuat dari bahan mineral yang terdapat di
alam dengan formula khusus dengan tipe plester atau fiberglass.
2.2. Jenis -jenis gips
Kondisi yang ditangani dengan gips menentukan jenis dan ketebalangips yang dipasang.
Jenis-jenis gips sebagai berikut:
 Gips lengan pendek. Gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan telapak
tanga, dan melingkar erat didasar ibu jari.
 Gips lengan panjang. Gips ini dipasang memanjang. Dari setinggi lipat ketiak sampai disebelah
prosimal lipatan telapak tangan. Siku biasanya di imobilisasi dalam posisi tegak lurus.
 Gips tungkai pendek. Gips ini dipasang memanjang dibawah lutut sampai dasar jari kaki, kaki
dalam sudut tegak lurus pada posisi netral.
 Gips tungkai panjang, gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah paha
sampai dasar jari kaki, lutut harus sedikit fleksi.
 Gips berjalan. Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat disertai
telapak untuk berjalan.
 Gips tubuh. Gips ini melingkar di batang tubuh.
 Gips spika. gips ini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas (gips spika
tunggal atau ganda).
 Gips spika bahu. Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu dan siku.
 Gips spika pinggul. Gips ini melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah (gips spika
tunggal atau ganda).

 Bahan-bahan pembuatan gips


 Plester
Gips pembalut dapat mengikuti kontur tubuh secara halus . gulungan krinolin diimregasi
dengan serbuk kalsium sulfat anhidrus ( Kristal gypsum ). Jika basah terjadi reaksi kristalisasi
dan mengeluarkan panas. Kristalisasi menghasilkan pembalut yang kaku . kekuatan penuh baru
tercapai setelah kering , memerlukan waktu 24-72 jam untuk mengering. Gips yang kering
bewarna mengkilap , berdenting, tidak berbau,dan kaku, sedangkan gips yang basah berwarna
abu-abu dan kusam, perkusinya pekak, serba lembab, dan berbau lembab.
 Nonplester
Secara umum berarti gips fiberglass, bahan poliuretan yang di aktifasi air ini mempunyai
sifat yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karna lebih ringan dan lebih kuat, tahan
air dan tidak mudah pecah.di buat dari bahan rajuutan terbuka, tidak menyerap, diimpregnasi
dengan bahan pengeras yang dapat mencapai kekuatan kaku penuhnya hanya dalam beberapa
menit.
 Nonplester berpori-pori, sehingga masalah kulit dapat di hindari
gips ini tidak menjadi lunak jika terkena air,sehingga memungkinkan hidro terapi. Jika
basah dapat dikeringkan dengan pengering rambut.

 Tujuan pemasangan gips


Prosedur ini bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak
bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi
tulang yang patah tersebut.

 Pemasangan gips
 Persiapan alat –alat untuk pemasangan gips:
 Bahan gips dengan ukuran sesuai ekstremitas tubuh yang akan di gips
 Baskom berisi air biasa (untuk merendam gips)
 Baskom berisi air hangat
 Gunting perban
 Benkok
 perlak dan alasnya
 waslap
 pemotong gips
 kasa dalam tempatnya
 alat cukur
 sabun dalam tempatnya
 handuk
 krim kulit
 spons rubs ( terbuat dari bahan yang menyerap keringat)
 padding (pembalut terbuat dari bahan kapas sintetis)

 Teknik pemasangan gips


 siapkan pasien dan jelaskan pada prosedur yang akan dikerjakan
 siapkan alat-alat yang akandigunakan untuk pemasangan gips
 daerah yang akan di pasang gips dicukur, dibersihkan,dan di cuci dengan sabun, kemudian
dikeringkan dengan handuk dan di beri krim kulit
 sokong ekstremitas atau bagian tubuh yang akan di gips.
 Posisikan dan pertahankan bagian yang akan di gips dalam posisi yang di tentukan dokter
selama prosedur
 Pasang spongs rubs(bahan yang menyerap keringat) pada bagian tubuh yang akan di pasang
gips, pasang dengan cara yang halus dan tidak mengikat. Tambahkan bantalan di daerah tonjolan
tulang dan pada jalur saraf.
 Masukkan gips dalam baskom berisi air, rendam beberapa saat sampai gelembung-gelembung
udara dari gips habis keluar. Selanjutnya, diperas untuk mengurangi air dalam gips.
 Pasang gips secara merata pada bagian tubuh. Pembalutan gips secara melingkar mulai dari
distal ke proksimal tidak terlalu kendor atau ketat. Pada waktu membalut, lakukan dengan
gerakan bersinambungan agar terjaga ketumpangtidihan lapisan gips. Dianjurkan dalam jarak
yang tetap(kira-kira 50% dari lebar gips) Lakukan dengan gerakan yang bersinambungan agar
terjaga kontak yang konstan dengan bagian tubuh.
 Setelah pemasangan, haluskan tepinya, potong serta bentuk dengan pemotong gips.
 Bersihkan Partikel bahan gips dari kulit yang terpasang gips.
 Sokong gips selama pergeseran dan pengeringan dengan telapak tangan. Jangan diletakkan
pada permukaan keras atau pada tepi yang tajam dan hindari tekanan pada gips.

 hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :


1.Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
2. Gips patah tidak bisa digunakan
3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
4. Jangan merusak / menekan gips
5. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
6. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama

 Pelepasan gips
 Alat yang di gunakan untuk pelepasan gips
 Gergaji listrik/pemotong gips
 Gergaji kecil manual
 Gunting besar
 Baskom berisi air hangat
 Gunting perban
 Bengkok dan plastic untuk tempat gips yang di buka
 Sabun dalam tempatnya
 Handuk
 Perlak dan alasnya
 Waslap
 Krim atau minyak

 Teknik pelepasan gips


 Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
 Yakinkan pasien bahwa gergaji listrik atau pemotong gips tidak akan mengenai kulit
 Gips akan di belah dengan menggunakan gergaji listrik
 Gunakan pelindung mata pada pasien dan petugas pemotong gips
 Potong bantalan gips dengan gunting
 Sokong bagian tubuh ketika gips di lepas
 Cuci dan keringkan bagian yang habis di gips dengan lembut oleskan krim atau minyak
 Ajarkan pasien secara bertahap melakukan aktifitas tubuhsesuai program terapi
 Ajarkan pasien agar meninggikan ekstremitas atau mengunakan elastic perban jika perlu untuk
mengontrol pembengkakan.

2.7 Indikasi
 Immobilisasi dan penyangga fraktur
 Stabilisasi dan istirahatkan
 Koreksi deformitas
 Mengurangi aktivitas pada pada daerah yang terinfeksi
 Membuat cetakan tubuh orthotic

 Konsep asuhan Keperawatan


2.8.1 Pengkajian
Pengkajian secara umum perlu di lakukan sebelum pemasangan gips terhadap gejala dan
tanda, status emosional,pemahaman tujuan pemasangan gips, dan kondisi bagian tubuh yang
akan di pasang gips. Pengkajian fisik bagian tubuh yang akan di gips meliputi status
neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar , dan adanya abrasi. Data yang perlu di kaji pasien
setelah gips di pasang meliputi:
1. Data subyektif: adanya rasa gatal atau nyeri ,keterbatasan gerak, dan rasa panas pada daerah yang
di pasang gips
2. Data obyektif: apakah ada luka di bagian yang akan digips. Misalnya luka operasi , luka akibat
patah tulang; apakah ada sianosis;apakah ada pendarahan ;apakah ada iritasi kulit;apakah atau
bau atau cairan yang keluar dari bagian dari bagian tubuh yang di gips.

2.8.2 Diagnosis keperawatan


Berdasarkan data pengkajian , diagnosis keperawatan utama pada pasien yang menggunakan gips
meliputi:
1. Cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pemasangan gips
2. Gangguan rasa nyeri yang berhubungan dengan terpasangnya gips
3. Keterbatasan pemenuhan kebutuhandiri yang berhubungan dengan terpasangnya gips
4. Gangguan eleminasi fekal yang berhubungan dengan imobilisasi
5. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya penekanan akibat pemasangan
gips
6. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan pemasangan gips pada tungkai
7. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pemasangan gips
8. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan ferifer yang berhubungan dengan respons fisiologis
terhadap cederta atau gips restriksi
2.8.3 Interfensi dan implementasi keperawatan
1. Cemas berkurang pasien dapat beradaptasi dengan keadaannya
a) Menunjukan ketenangan
b) Mampu mengekspresikan keadaann ya
c) Menggunakan koping positif

2. Klien melaporkan nyeri berkurang


a) Meninggikan ekstremitas yang digips
b) Mereposisi sendiri
c) Menggunakan analgesic sesuai pogram

3. Kebutuhan diri terpenuhi dengan maksimal


a) Berpartisipasidalam aktivitas pemenuhan kebutuhan diri
b) Melakukan aktivitas higine secara mandiri dengan bantuan minimal
c) Memenuhi kebutuhan eleminasisecara mandiri dengan bantuan minimal
d) Memenuhimkebutuhan nutrisi secara mandiri dengan bantuan minimal

4. Eleminasi fekal teratur


a) Menunjukan kemampuan mobilisasi
b) Makan tinggi serat
c) Asupan cairan 2500 cc per hari
d) Konsistensi feses lunak

5. Memperlihatkan tidak terjadinya gangguan integritas kulit


a) Tidak menunjukan tanda infeksi sistemik kulit
b) Tidak menunjukan tanda local infeksi kulit
c) Memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka
d) Kulit tidak ada kemerahan dan lecet

6. Tidak terjadi cedera


a) Melakukan aktivitas secara bertahap
b) Menunjukan penggunaan alat bantu saat aktivitas

7. Memperlihatkan peninggatan kemampuan mobilitas


a) Menggunakan alat bantu yang aman
b) Berlatih untuk meningkatkan kekuatan otot
c) Mengubah posisi sesering mungkin
d) Melakukan latihan sesuai kisaran gerakan sendi yang tidak tertutup gips

8. Peredaran darah adekuat pada ekstremitas yang sakit


a) Memperlihatkan warna dan suhu kulit yang normal
b) Mengalami pembekakan yang minimal
c) Memperlihatkan waktu pengisian kapiler yang memuaskan ketika diuji

2.8.4 Evaluasi keperawatan


Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan peruubahan keadaan pasien
(Hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.

TRAKSI
3.1 Definisi
Traksi tadalah usaha untuk menarik tulang yang patah untuk mempertahankan keadaan
reposisi secara umum traksi didapatkan dengan penempatan beban berat sehingga arah tarikan
segaris dengan sumbu panjang tulang fraktur. Secara umum traksi dilakukan dengan
menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian
rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah
3.2 Beban traksi
 Dewasa = 5 - 7 Kg
 Anak = 1/13 x BB

3.3 Macam – macam pemakaian traksi


 Traksi kulit/skin traksi
 Penarikan tulang yang patah melalui kulit dengan menggunakan skin traksi, plester. Ex. : traksi
Buck, traksi Bryant.
 Traksi tulang/traksi skeletal
 Penarikan tulang yang mengalami fraktur melalui tulang. Ex. : traksi Russel

3.4 Prinsip pemasangan traksi


 Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik.
 Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar reduksi dapat
dipertahankan.
 Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus.
 Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol.
 Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai.
 Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman.

3.5 Prinsip perawatan traksi


 Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ). Dan aktivitas
terapeutik
 Berikan pijatan lembut pada area luka sesuai dengan toleransi bila balutan telah dilepas
 Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
 Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
 Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik aseptic
dengan tepat.
 Pertahankan liaen klien tetap kering, bebas keriput.
 Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
 Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas
dalam.
 Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
 Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema eritema,dsb

3.6 Keuntungan pemakaian traksi


 Menurunkan nyeri spasme
 Mengoreksi dan mencegah deformitas
 Mengimobilisasi sendi yang sakit

3.7 Kerugian pemakaian traksi


 Perawatan RS lebih lama
 Mobilisasi terbatas
 Penggunaan alat-alat lebih banyak.
 Proses penyembuhan tulang
Penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap patah
tulang. pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar fraktur, yang disebabkan oleh
terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost. Fase ini disebut fase hematom. Hematoma
ini akan menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga hematom
berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler di dalamnya. Jaringan ini yang menyebabkan
fragmen tulang saling menempel. Fase ini disebut fase jaringan
fibrosis dan jaringan yang menempelkan fragmen patahan tulang tersebut dinamakan kalus
fibrosa. Kedalam hematom dan jaringan fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel kondroblast yang
membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar tulang rawan. Sedangkan di tempat yang jauh
dari patahan tulang yang vaskularisasinya relatif banyak, sel ini berubah menjadi osteoblast dan
membentuk osteoid yang merupakan bahan dasar foto rontgen.
Pada tahap selanjutnya terjadi penulangan atau ossifikasi, kesemua ini menyebabkan kalus
fibrosa berubah menjadi kalus tulang. fase ini disebut fase penyatuan klinis. Selanjutnya terjadi
pergantian sel tulang secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai dengan
garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. akhirnya sel tulang ini mengatur diri secara
lamelar seperti tulang normal, kekuatan kalus ini sama dengan kekuatan tulang biasa dan fase ini
disebut fase konsolidasi.
berdasarkan stadium-stadium penyembuhan terdiri dari :
 Stadium
penyatuan : absorbsi energi pada tempat fraktur.
 Stadium
inflamasi : hematoma, nekrosis tepi fraktur, pelepasan sitokin,
jaringan granulasi dalam celah-celah berlangsung sekitar 2 minggu.
 Stadium
reparatif : kartilago dan tulang berdiferensiasi dari periost atau
sel-sel parenkim, kartilago mengalami klasifikasi endokondral, dan
tulang membranosa yang dibentuk oleh osteoblas pada perifer dini
kalus, secara bertahap mengganti kartilago yang berklasifikasi
dengan tulang berlangsung selama satu sampai beberapa bulan.
 Stadium
remodelling : tulang yang berongga-rongga berubah menjadi lamelar
melalui resorpsi dan pembentukan ganda. Tulang cenderung untuk
mempunyai bentuk aslinya melalui remodelling dibawah pengaruh dari
stress mekanik berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
 Gangguan pada proses penyembuhan :
 Malunion
; adalah suatu keadaan dimana fraktur ternyata sembuh dalam posisi yang kurang sesuai,
membentuk sudut atau posisinya terkilir.
 Delayed
union : merupakan istilah yang menyatakan proses penyembuhan yang terus berlangsung tetapi
kecepatannya lebih rendah daripada biasanya.
 Non
union : adalah fraktur yang gagal untuk mengalami kemajuan ke arah penyembuhan, ini
disebabkan karena pergerakan yang berlebihan, distraksi yang berlebihan, infeksi dan jaringan
lunak terpisah secara parah.

 Faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang tergantung dari :


 Banyaknya tulang yang rusak.
 Daerah tulang yang patah.
 Persediaan pembuluh darah/vaskularisasi di sekitar fraktur untuk pembentukan kalus.
 Faktor lain seperti : imobilisasi yang tidak cukup, infeksi, interposisi dan gangguan perdarahan
setempat
3.8.3 Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu lama. Penyebab antara lain :
 Terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang menjembatani fragmen
 Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.
 Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrim atau penyebab sitemik yang lain)
 Faktor klien: Usia klien, Pengobatan yang sedang dijalani, Sistem sirkulasi, Gizi, Riwayat
penyakit
3.9 Konsep asuhan keperawatan

3.9.1 Pengkajian Keperawatan


Dampak psikologik dan fisiologik masalah musculoskeletal, alat traksi, dan imobilitas
harus diperhitungkan. Traksi membatasi mobilitas dan kemandirian seseorang. Peralatannya
sering terlihat mengerikan, dan pemasangannya tampak menakutkan. Kebingungan, disorientasi,
dan masalah perilaku dapat terjadi pada pasien yang terkungkung pada tempat terbatas selama
waktu yang cukup lama. Maka tingkat ansietas pasien dan respon psikologis terhadap traksi
harus dikaji dan dipantau. Bagian tubuh yang ditraksi harus dikaji. Status neurovaskuler (misal :
warna, suhu, pengisian kapiler, edema, denyut nadi, perabaan, kemampuan bergerak) dievaluasi
dan dibandingkan dengan ekstremitas yang sehat. Integritas kulit harus diperhatikan.
Pengkajian fungsi system tubuh harus dilengkapi sebagai data dasar dan perlu
dilakukan pengkajian terus menerus. Imobilisasi dapat menyebabkan terjadinya masalah pada
system kulit, respirasi, gastrointestinal, perkemihan, dan kardiovaskuler. Masalah tersebut dapat
berupa ulkus akibat tekanan, kongesti paru, statis pneumonia, konstipasi, kehilangan nafsu
makan, satis kemih dan infeksi saluran kemih. Adanya nyeri tekan betis, hangat, kemerahan, atau
pembengkakan atau tanda human positif (ketidaknyamanan pada betis ketika kaki didorsofleksi
dengan kuat) mengarahkan adanya trombosis vena dalam. Identifikasi awal masalah yang telah
muncul dan sedang berkembang memungkunkan intervensi segera untuk mengatasi masalah
tersebut.

3.9.2 Diagnosa Keperawatan


Berdasarkan pada pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan utama paasien karena traksi
dapat meliputi yang berikut :
1. Nyeri dan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan trauma jaringan syaraf.
2. Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
3. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri

3.9.3 Intervensi Keperawatan


1) Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
Tujuan :

 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam klien mampu mengontrol nyeri,
dengan kriteria hasil :

 Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol

 Mengikuti program pengobatan yang diberikan

 Menunjukan penggunaan tehnik relaksasi

Intervensi :

 Kaji tipe atau lukasi nyeri. Perhatikan intensitas pada skala 0-10. Perhatikan respon terhadap
obat.

 Rasional : Menguatkan indikasi ketidaknyamanan, terjadinya komplikasi dan evaluasi


keevektivan intervensi.

 Motivasi penggunaan tehnik menejemen stres, contoh napas dalam dan visualisasi.

 Rasional : Meningkatkan relaksasi, memvokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan


kemampuan koping, menghilangkan nyeri.

 Kolaborasi pemberian obat analgesik

 Rasional : mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.

2.) Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah


Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi dengan KH:
 Makanan masuk

 BB pasien naik

 Mual, muntah hilang

Intervensi:

a. Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering


Rasional: memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
b. Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah c. ketertarikan dalam mencoba
makan yang disajikan
c. Pantau pemasukan makanan
Rasional: Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
d. Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional: kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di rumah sakit

 Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri

Tujuan :

 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki rentang respon
adaptif, dengan kriteria hasil :

 Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.

 Mengakui dan mendiskusikan rasa takut.

 Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.

Intervensi :
 Dorong ekspresi ketakutan/marah

 Rasional : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.

 Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah

 Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui penilaian awal
juga selama pemulihan

 Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.

 Rasional : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu
klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.

 Dorong penggunaan menejemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi.

 Rasional : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan


meningkatkan penigkatan kemampuan koping.

3.9.4 evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan peruubahan keadaan pasien
(Hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.