Anda di halaman 1dari 1

BAB V

KESIMPULAN

Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting yang terjadi dalam
bidang obsterik berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan dapat terjadinya
infeksi korioamnionitis sampai sepsis yang dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas perinatal dan dapat menyebabkan infeksi serius pada ibu. Sehingga penting
untuk klinisi mengawasi/menangani pasien dengan ketuban pecah dini secara tepat
dan benar agar mengurangi komplikasi yang ada.
Pada kasus ini Ny. RM, 40 tahun G4P2A1 Usia kehamilan 27 minggu
dengan ketuban pecah dini selama 6 minggu. Penegakkan diagnosa ketuban pecah
dini didasarkan anamnesia keluar cairan bening, tidak bau dan tiba-tiba sejak 6
minggu lalu, tanpa lendir darah dan keluhan mulas. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan inspekulo portio livid, licin, OUE tertutup, fluor (-), fluksus (-), pooling
(-), valsava (+) hal ini memperkuat diagnosis ketuban pecah dini walaupun tidak
dilakukan uji lakmus. Pada USG didapatkan indeks cairan amnion kurang dari 1
cm. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien sudah sesuai dengan teori yaitu
pada usia kehamilan 27 minggu dilakukan terapi konservatif dengan pemberian
antibiotik, pematangan paru dan tokolitik. Teori mengatakan bahwa bayi dapat
dilahirkan pada usia kehamilan 32-33 minggu, namun saat itu pasien mengalami
korioamnionitis dan langsung dilakukan persalinan perabdominal. Tindakan yang
dilakukan sudah sesuai dengan teori.
.

58