Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan gelenik atau campuran dari bahan-bahan
tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman. Obat tradisional dibuat atau di ramu dari bahan tumbuh-tumbuhan,
bahan hewan, sediaan sarian (gelenik), atau campuran bahan-bahan tersebut.
Obat tradisional turun-temurun telah digunakan untuk kesehatan berdasarkan
pengalaman. Obat tradisional telah digunakan oleh berbagai aspek masyarakat
mulai dari tingkat ekonomi atas sampai tingkat bawah, karena obat tradisional
mudah di dapat, harganya yang cukup terjangkau dan berkhasiat untuk
pengobatan, perawatan dan pencegahan penyakit (Dirjen POM,1994).
Untuk meningkatkan mutu suatu obat tradisional, maka pembuatan obat
tradisional haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya mengikutkan pengawasan
menyeluruh yang bertujuan untuk menyediakan obat tradisional yang senantiasa
memenuhi persyaratan yang berlaku. Keamanan dan mutu obat tradisional
tergantung dari bahan baku, bangunan, prosedur, pelaksanaan pembuatan,
peralatan yang digunakan, pengemasan termasuk bahan serta personalia yang
terlibat dalam pembuatan obat tradisional (Dirjen POM,1995).
Bahan-bahan ramuan obat tradisional seperti bahan tumbuh-tumbuhan,
bahan hewan, sediaan sarian atau gelenik yang memiliki fungsi, pengaruh serta
khasiat sebagai obat, dalam pengertian umum kefarmasian bahan yang
digunakan sebagai simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan
sebagi bahan obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali
dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan. Sampel yang diambil sebagai
bahan simplisia adalah bahan yang mempunyai potensi mengobati penyakit.
Pembuatan simplisia dapat diambil dari tanaman utuh, atau bagian tanaman yang
mewakili dari tanaman utuh tersebut yang juga mempunyai kegunaan sebagai
obat (Dirjen POM,1999).

1
1.2 Maksud Dan Tujuan Praktek Kerja Lapangan
1.2.1 Maksud
Maksud dari praktek kerja lapangan ini yaitu untuk melatih
mahasiswa agar mampu mengenal berbagai jenis tanaman obat dan
mempraktekkan cara pengambilan sampel tanaman obat, simpilisia
tanaman obat serta menganalisis secara organoleptik.
1.2.2 Tujuan
a. Mahasiswa mengetahui pembuatan simplisia yang akan
dimanfaatkan sebagai bahan obat.
b. Mengetahui kegunaan setiap bagian tanaman yang berkhasiat obat.
c. Mahasiswa mampu mengetahui zat-zat kimia dan zat aktif yang
terkandung didalam setiap bagian tanaman.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi Simplisia
II.1.1 Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alami yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan (Depkes, 1989).
Simplisia tumbuhan obat merupakan bahan baku pembuatan ekstrak,
baik sebagai bahan obat atau produk (Depkes, 1985).
II.1.2 Penggolongan Simplisia
Menurut Materia Medika, simplisia terbagi atas tiga, yaitu:
1. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh atau bagian
tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tananman ialah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu
dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
2. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan
atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat
kimia murni. Contoh : oleum leccoris asselli dan madu
3. Simplisia Pelican (Mineral)
Simplisia pelican adalah simplisia yang berupa bahan pelican
(mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa zat kimia murni. Contoh : serbuk seng atau serbuk
tembaga.
II.1.3. Proses Pembuatan Simplisia
1. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia tergantung pada
bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman atau bagian tanaman saat
panen, waktu panen, dan lingkungan tempat tumbuh. Jika penanganan

3
ataupun pengolahan simplisia tidak benar maka mutu produk yang
dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan dapat menimbulkan
toksik apabila dikonsumsi.
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan bahan-bahan asing
yang tidak berguna atau berbahaya dalam pembuatan simplisia.
Penyortiran segera dilakukan setelah bahan selesai dipanen, bahan yang
mati, tumbuh lumut ataupun tumbuh jamur segera dipisahkan yang
dimungkinkan mencemari bahan hasil panen.
3. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan
mengurangi mikroba-mikroba yang menempel pada bahan. Pencucian
harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk
menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam simplisia.
Pencucian harus menggunakan air bersih, seperti air dari mata air, sumur
atau PAM.
4. Pengubahan bentuk / Perajangan
Pengubahan bentuk dilakukan bertujuan untuk memperluas
permukaan sehingga lebih cepat kering tanpa pemanasan yang berlebih.
Pengubahan bentuk dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang
terbuat dari bahan steinles.
5. Pengeringan
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah suhu pengeringan,
kelembaban udara, aliran udara, waktu pengeringan (cepat), dan luas
permukaan bahan. Suhu pengeringan bergantung pada simplisia dan cara
pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan antara suhu 30o-90o C.
Pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari
suatu bahan dengan menggunakan sinar matahari. Cara ini sederhana dan
hanya memerlukan lantai jemur. Simplisia yang akan dijemur disebar
secara merata dan pada saat tertentu dibalik agar panas merata. Cara
penjemuran semacam ini selain murah juga praktis, namun juga ada

4
kelemahan yaitu suhu dan kelembaban tidak dapat terkontrol,
memerlukan area penjemuran yang luas, saat pengeringan tergantung
cuaca, mudah terkontaminasi dan waktu pengeringan yang lama. Dengan
menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan
menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat dicegah terjadinya
penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Secara umum kadar air
simplisia tanaman obat maksimal 10%. Pengeringan dapat memberikan
keuntungan antara lain memperpanjang masa simpan, mengurangi
penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam
pengangkutan, menimbulkan aroma khas pada bahan serta memiliki nilai
ekonomi lebih tinggi.
6. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda asing, seperti
bagian-bagian yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain
yang masih ada dan tertinggal.
7. Pengemasan dan Penyimpanan
Setelah bersih, simplisia dikemas dengan menggunakan bahan
yang tidak berracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada
kemasan diberi dicantumkan nama bahan dan bagian tanaman yang
digunakan. Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk
melindungi agar simplisia tidak rusak atau berubah mutunya karena
beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Simplisia disimpan di
tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari
langsung (Anonim 1985).

5
II.2 Uraian Tanaman
II.2.1 kakao (Theobroma cacao)
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Family : Malvaceae (Sterculiaceae)
Genus : Theobroma
Spesies : T. cacao
Gambar II.1
Nama Latin : Theobroma cacao L. Pohon coklat ( cacao )
Morfologi
tanaman kakao jika dibudidayakan di kebun maka tinggi tanaman kakao umur 3
tahun mencapai 1,8 – 3 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5 – 7
meter. Tinggi tanaman tersebut beragam ,dipengaruhi oleh intensitas naungan dan
faktor-faktor tumbuh yang tersedia.
Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas
vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop
atau tunas air (wiwilan atau chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya
ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan).
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 – 1,5 meter akan berhenti
tumbuh dan membentuk jorket (jorquette). Jorket adalah tempat percabangan dari
pola percabangan ortotrop ke plagiotrop dan khas hanya pada tanaman kakao.
Manfaat
Penangkal radikal bebas
Salah satu kandungan penting yang ada di dalam coklat adalah antioksidan dan
flavonoid. Kandungan dari kedua zat ini memiliki fungsi utama yang sangat penting
untuk menangkal radikal bebas yang akan masuk ke dalam tubuh. Seperti kita ketahui,
radikal bebas yang tidak dapat ditangkal dan masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan
berbagai macam penyakit dan dapat melemahkan sistem imun atau sistem kekebalan
tubuh anda. maka dari itu, konsumsi coklat sangat baik bagi anda yang ingin bebas dari
penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas.

6
Baik Untuk Penangkal Radikal Bebas
Menurunkan kadar kolestrol tubuh, coklat dapt menjadi salah satu alternative
menu anda. Kandungan flavonoid yang ada di dalam cokalt mampu membantu tubuh
anda dalam menurunkan kadar kolestrol jahat alias LDL yang ada di dalam tubuh.
Degngan turunnya LDL alias kolestrol jahat, maka anda dapat terhindar dari kolestrol
tinggi, dan juga terhindar dari Penyempitan pembuluh darah, serangan jantung, stroke,
penyumbatan pembuluh darah arteri.
Baik untuk menurunkan kadar kolesterol
Menurunkan tekanan darah dan sponsored links Bagi anda yang memiliki bakat
hipertensi alias tekanan darah tinggi, anda dapat mengkonsumsi coklat untuk membantu
menurunkan tekanan darah anda. kondisi ini disebabkan oleh kandungan flavonols yang
terkandung di dalam coklat. Selain itu, coklat juga mampu menenangkan syaraf dan
pikiran, sehingga dengan rileks dan santainya tubuh, maka tekanan darah juga dapat
terkontrol dengan baik.
Baik untuk menurunkan tekanan darah
Menyembuhkan batuk Coklat memiliki kandungan senyawa theobromine, dimana
kandungan senyawa tersebut memiliki manfaat yang sangat baik untuk menyembuhkan
dan mengurangi gejala batuk yang mengganggu aktivitas anda sehari – hari.
Baik untuk menyembuhkan batuk
Mencegah gangguan pada organ hatiDengan adanya antioksidan pada coklat,
maka kerja dari organ hati pun menjadi lebih ringan, karena radikal bebas yang masuk
ke dalam tubuh pun akan berkurang, dengan lebih ringannya kerja dari hati, maka
gangguan – gangguan penyakit yang biasanya menyerang hati, seperti liver, kanker dan
hepatitis dan dicegah.
Baik untuk mencegah gangguan organ hati
Mencegah kanker fungsi coklat yanglain ialah membantu tubuh dalam mencegah
munculnya penyakit kanker. Memang bukan untuk menyembuhkan kanker yang
menyerang pasiennya, namun coklat dapat membantu mencegah kerusakan – kerusakan
sel yang dapat menjadi pemicunya kanker dan tumor pada bagian tubuh tertentu.
Baik untuk mencegah kanker

7
Meningkatkan energi dan menghilangkan rasa lelah. Coklat memiliki kemampuan
untuk memberikan dan mengembalikan energy anda yang habisa karena telah
beraktivitas seharian. Karena itu, ketika anda sudah merasa lelah, dan kehabisan tenaga
untuk beraktivitas, istirahatlah sejenak dan meminum atau mengkonsumsi cokalt untuk
membantu mengembalikan energy dan mencegah strees karena pekerjaan anda.
Baik Sebagai sumber energi
Itulah beberapa manfaat dari buah coklat. Perlu diingat, manfaat tersebut akan
efektif apabila anda mengkonsumsi coklat yang diolah dengan kadar gula yang rendah,
alias coklat yang masih murni, minimal mengandung 60% kadar coklat hitam, sehingga
efeknya lebih terasa. Hindari mengkonsumsi coklat olahan secara berlebihan, karena
coklat olahan mengandung gula yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan diabetes
dan obesitas.

8
BAB III
METODE KERJA
III.1 Lokasi Dan Waktu Pkl
III..1.1 Lokasi Pkl
Lokasi PKL dilaksanakanDi Desa Igirasa Kecamatan paguyaman,
Kabupaten boalemo, Provinsi Gorontalo.
III..1.2 Waktu Pkl
Waktu PKL Dilaksanakan pada tanggal 5 – 7 september 2016
III.2 Alat, Bahan dan Sampel
III.2.1 Alat
- Gunting
- Kater
- Karung
- Parang
- Mister
III.2.2 Bahan
- Kapas
- Kakao (Theobroma cacao)
- Koran
- Tali Rafia
III.3 Cara Kerja
III.3.1 Simplisia
Pemanenan → sortasi basah → pencucian → perubahan bentuk / perajangan
→ pengeringan → sortasi kering → penyimpanan dan pengepakan.
Proses pembuatan simplisia. Antara lain :
 Disiapkan alat yang akan digunakan
 Di siapkan tanaman yang akan di olah menjadi simplisia.
 Di cuci dengan air yang mengalir.
 Dikeringkan tanaman dengan cara di angin-anginkan.
 Di letakan sampel di atas kertas koran.
 Disimpan di tempat yang kering terlindung dari sinar matahari secara langsung.

9
 Setelah simplisia menjadi kering, kemudian sebagian di remukan/blender
menjadi serbuk.
 Setelah simplisia menjadi kering sebagian di rajang dengan ukuran 1,1 cm
menjadi haksel.
 Kemudian diletakan di dalam toples.

III..3.2 Skema Kerja

Kulit batang coklat

Dicuci menggunakan air (Disortasi basah) agar sampel bersih dari


benda-benda asing dan memisahkan tanaman yang layak dipakai
dan tidak layak dipakai
Diangin-anginkan sampai sampel kering sehingga zat air pada
tanaman keluar

SIMPLISIA

Dirajang Dihaluskan
menggunakan pisau menggunakan blender
dengan ukuran
potongan 1,1cm Dikeringkan tanpa
Dikeringkan tanpa
sinar matahari
sinar matahari
sehingga zat air pada
sehingga zat air pada
sampel keluar
rajangan keluar
Dikemas dalam
Dikemas dalam
toples kaca
toples kaca
SERBUK
HAKSEL

10
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASN


IV.1 Hasil

Gamabar IV.1 Gambar IV.2


Pohon coklat di desa Pohon coklat serta
girisa derterminasi

IV.2 Pembahasan
Simplisia merupakan tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman yang
berkhasiat sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali
dinyatakan lain berupa bahan alam yang telah dikeringkan. (Dirjen POM,1995).
Pada pembuatan simplisia ini diawali dengan pengambilan sampel yang
berfungsi sebagai obat baik itu akar, batang, daun, bunga, buah, biji, umbi dan
rimpang.
Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari tanaman yang sengaja
dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini diartikan sebagai tanaman yang
tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan atau di tempat lain di luar hutan atau
tanaman yang sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan memperoleh simplisia
untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar). Sedangkan tanaman kultur
diartikan sebagai tanaman budidaya, yang ditanam secara sengaja untuk tujuan
mendapatkan simplisia,(DEPKES RI).
Sampel yang kami gunakan untuk melukan pengujian ialah kulit batang kakao
jadi yang akan di lakukan adalah penarikan senyawa terhadap sampel tersebut.

11
Dalam pkl farmkognosi II yang harus di perhatikan adalah :
Proses Pembuatan Simplisia
A. Pengumpulan bahan baku
Pengumpulan/panen dapat dilakukan dengan tangan atau
menggunakan alat (mesin). Apabila pengambilan dilakukan secara
langsung (pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si
pemetik, misalnya dikehendaki daun yang muda, maka daun yang tua
jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman lainnya
1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah
menjadi masak.
2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
3. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik
sebelum buah masak.
4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
5. Akar, rimpang (rhizoma), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus)
dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya berhenti..
B. Sortasi Basah
Memisahkan kotoran- kotoran, tanah, dan benda-benda asing yang
tidak di perlukan pada sampel.
C. Pencucian
Membersihakan sampel dari benda-benda asing yang masih melekat
pada sampel dengan air bersih yang mengalir.
D. Perajangan
Sampel dipotong-potong kecil atau di sebut dengan haksel agar dapat
mempermudah proses pengeringan dan pengolahan sampel selanjutnya.
E. Pengeringan
Sampel yang telah dipotong-potong selanjutnya dikeringkan dengan
cara dianginkan-anginkan. Apabila dikeringakan dengan paparan sinar
matahari di tutup dengan kain hitam agar supaya senyawa-senyawa yang
terdapat pada sampel tidak berkurang. Tujuan dari proses pengeringan
yakni:

12
1. untuk mendapatkan sampel yang awet.
2. tidak mudah rusak agar mempermudah penyimpanan dan proses
pengolahan selanjutnya.
3. mengurangi kadar air agar mencegah pertumbuhan mikroorganisme
seperti jamur.
F. Sortasi Basah
Setelah pengeringan dilakukan pembersihan kembali dari benda-
benda asing yang atau tanaman yang tidak dikehendaki.
G. Pengepakan/Penyimpanan
Sampel yang diperoleh diberi wadah yang baik dan disimpan pada
tempat yang dapat menjamin aman. Wadah terbuat dari plastik tebal atau
gelas yang berwarna gelap dan tertutup kedap memberikan suatu jaminan
yang memadahi terhadap isinya. Wadah dari logam tidak dianjurkan agar
tidak berpengaruh teradap sampel.

13
BAB V
PENUTUP
V.I Kesimpulan
1. Dengan dilaksanakannya Praktek Kerja Lapangan Farmakognosi II kita
dapat mengetahui taksonomi tumbuhan, dan tumbuhan sebagai sumber obat.
Pendakatan taksonomi dapat digunakan untuk mengkaji tumVbuhan obat
aktifitas farmkologi bahan obat alami khususnya tumbuhan dan pembuatan
simplisia.
2. Dengan dilaksanakannya Prakter Kerja Lapangan Farmakgnosi II Kita dapat
mengetahui cara pembuatan herbarium atau awetan kering sebagai media
untuk pendektan studi taksonomi tumbahan khususnya tumbuhan obat.
3. Kita dapat mengetahui memahami dan mengerti obat yg berasal dari
tumbuhan serta ruang lingkupnya dalam pengobatan modern maupun
tradisional.
4. Kita dapat Menjelaskan penggunaan obat alami serta identitas obat alami.
5. Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain beruapa bahan
yang telah dikeringkan.
V.2 Saran
Diharapkan untuk Praktek Kerja Lapangan Farmakognosi selanjutnya
dapat dilaksanakan lebih baik dan pada lokasi yang lebih berpotensi lagi untuk
pengambilan samp

14
DAFTAR PUSTAKA

Adhyatma, 1995. MateriaMedika Indonesia. Jilid IV. DepartemenKesehatanRepublik


Indonesia. Jakarta.

Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,


Jakarta.

Anonim, 2015, 21 Februari 2015, 13.50

Anonim, 2015, 21 Februari 2015, 14.40

Anonim, 1989. Materia Medika Indonesia Jilid V, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2009.Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Departemen Kesahatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Dirjen POM, 1994. MaterianMedika Indonesia Jilid I. Jakarta :Departemen Kesehatan


RI.

Dirjen POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Dirjen POM, 1999. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Gunawan,D.M, 2004. IlmuObatAlam. Jakarta :Swadaya Soesilo, s.1989.Materia Medika


Indonesia Jilid V.Jakarta:DEPKES RI

Yohana, 2011. MateriaMedika Indonesia. Jilid IV. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta.

15
LAMPIRAN
Saat pengambilan sampel

16