Anda di halaman 1dari 6

Etika Perilaku – Kontribusi Filsuf

Magister Akuntansi

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pengampu Rina Trisnawati, Ph.D.

Oleh : Arif Dwisantoso (W100170022)

I. ETIKA DAN KODE ETIK


Ensiklopedia filsafat mendefinisikan etika dalam tiga cara, yaitu

1. Pola umum atau cara hidup

2. Seperangkat aturan perilaku atau kode moral

3. Pertanyaan tentang cara hidup dan aturan perilaku

Hal yang akan dibahas bukan tentang keyakinan agama yang dijalani dengan cara yang diyakininya
tepat untuk mencapai beragam tujuan kehidupan atau membahas tentang metaetik yang merupakan
teori tentang etika, melainkan akan membahas bagaimana mempelajari kode moral yang
berhubungan dengan perilaku bisnis. Moralitas dan kode moral didefinisikan dalam ensiklopedia
filsafat yang mengandung empat karakteristik:

1. keyakinan tentang sifat manusia;

2. keyakinan tentang cita-cita, tentang apa yang baik atau yang diinginkan atau layak untuk
kepentingannya;

3. aturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak;

4. motif yang membuat kita cenderung untuk memilih jalan yang benar atau jalan yang salah.

Masing-masing dari keempat aspek ini akan dieksplorasi menggunakan empat teori etika utama yang
digunakan oleh orang-orang dalam membuat keputusan etis pada lingkungan bisnis, yaitu
utilitarianisme, deontologi, keadilan dan etika moralitas.

II. ETIKA DAN BISNIS

Archie Carrol yang merupakan seorang pengamat membahas tentang etika bisnis yang layak
secara ekonomi. Jika bisnis itu tidak menguntungkan, maka pebisnis akan mundur dari bisnis dan
bertanya serta berdebat tentang perilaku bisnis yang tepat. Akibatnya, tujuan utama perusahaan
melakukan bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan. Padahal, tujuan dasar dari bisnis adalah
menyediakan barang dan jasa secara efektif dan efisien.

Tiga penjelasan yang paling umum, mengapa orang harus beretika karena didasarkan pada
pandangan tentang agama, hubungan kita dengan orang lain, dan persepsi kita tentang diri kita
sendiri. Seperti yang telah disebutkan, salah satu definisi etika adalah bagaimana kita harus menjalani
hidup ini berdasarkan prinsip-prinsip kepercayaan yang dianut.

Manusia adalah mahluk sosial yang hidup dengan orang lain dalam bermasyarakat. Kita
mengalami ikatan emosional yang kuat dengan orang lain melalui tindakan kasih dan pengorbanan
diri. Beberapa orang lagi masih percaya bahwa kita berperilaku etis karena kepentingan diri kita
sendiri. Aspek fundamental dari manusia adalah ketertarikannya pada diri sendiri. Meskipun kita
hidup dengan orang lain dalam masyarakat, masing-masing dari kita menjalani hidup yang unik
tergantung pada pribadi kita sendiri.

III. KEPENTINGAN DIRI DAN EKONOMI

Konsep kepentingan diri sendiri memiliki tradisi yang panjang dalam filsafat empiris Inggris
untuk menjelaskan harmoni sosial dan kerjasama ekonomi yang baik. Thomas Hobbes (1588-1679)
berpendapat bahwa kepentingan diri memotivasi orang untuk membentuk masyarakat sipil yang
damai. . Adam Smith (1723-1790) berpendapat bahwa kepentingan diri mengarah ke kerjasama
ekonomi. Fitur utama pada model ekonomi Smith adalah pertama bahwa perekonomian merupakan
kegiatan sosial dalam hal keuangan.

Perdagangan itu tergantung pada kejujuran dalam melakukan aktivitas, menghormati kontrak
dan saling gotong royong. Persaingan yang sehat juga berarti bahwa perusahaan berusaha untuk
beroperasi seefisien dan seefektif mungkin untuk memaksimalkan keuntungan jangka panjang.
Akhirnya, etika membatasi oportunisme ekonomi. Etika membuat keegoisan dan keserakahan yang
tak terkendali menjadi berkurang.

IV. ETIKA, BISNIS DAN HUKUM

Etika dan hukum dapat dilihat sebagai tiga lingkaran berpotongan di diagram Venn, seperti
yang terlihat pada gambar dibawah.

BISNIS

4 5
7
HUKUM 6
3
2 ETIKA

Diagram tersebut dibagi menjadi 7 area. Area 1 merupakan aspek kegiatan usaha yang tidak
tercakup oleh hukum atau etika. Area 2 terdapat hukum yang tidak ada hubungannya dengan etika
atau bisnis. Area 3 merupakan larangan etika yang tidak menyangkut bisnis dan tidak melanggar
hukum. Area 4 merupakan pusat aturan dan peraturan bahwa perusahaan harus mengikuti undang-
undang yang disahkan oleh pemerintah, badan pengatur, asosiasi profesi , dan sejenisnya. Terdapat
area yang tumpang tindih antara hukum dan etika yaitu area 6. Area 5 merupakan tumpang tindih
antara kegiatan bisnis dan norma-norma etika. Area 7 merupakan persimpangan hukum, etika, dan
bisnis, biasanya hanya menjadi masalah jika hukum mengatakan satu hal, sementara etika
mengatakan sebaliknya.
V. TEORI UTAMA ETIKA BERGUNA DALAM MENYELESAIKAN DILEMA ETIKA
a. Teleologi: Utilitarianisme & Konsekuensialisme – Analisis Dampak

Teleologi berasal dari kata Yunani, yaitu telos yang berarti tujuan, konsekuensi, hasil, dan
sebagainya. Teori teleologis mempelajari perilaku etis dalam hal hasil atau konsekuensi dari keputusan
etis. Teleologi berhubungan dengan banyak hasil yang berorientasi pada orang-orang bisnis karena
berfokus pada dampak pengambilan keputusan, mengevaluasi keputusan yang baik atau buruk,
diterima atau tidak dapat diterima dalam hal konsekuensi dari keputusan tersebut. Investor menilai
investasi yang baik atau buruk, bermanfaat atau tidak, berdasarkan pengembalian yang diharapkan.
Jika pengembalian yang sebenarnya berada di bawah ekspektasi investor, maka dianggap sebagai
keputusan investasi yang buruk, sedangkan jika pengembalian lebih besar dari yang diharapkan, itu
dianggap sebagai keputusan investasi yang baik atau berharga. Keputusan etis yang benar atau salah
karena mereka menyebabkan hasil positif atau negatif.

Utilitarianisme mendefinisikan baik dan jahat dalam hal konsekuensi non etis dari kenikmatan
dan rasa sakit. Tindakan etis yang benar adalah salah satu yang akan menghasilkan jumlah terbesar
dari kesenangan atau paling sedikit rasa sakit. Ini adalah teori yang sangat sederhana. Tujuan hidup
adalah untuk menjadi bahagia dan semua hal-hal yang mempromosikan kebahagiaan yang etis baik
karena mereka cenderung menghasilkan kesenangan atau mengurangi rasa sakit dan penderitaan.
Untuk utilitarian, kesenangan dan rasa sakit digambarkan baik fisik dan mental. Bagi utilitarian, satu-
satunya hal berharga adalah memiliki pengalaman yang menyenangkan, dan pengalaman ini baik
hanya karena mereka menyenangkan.

Bila menggunakan utilitarianisme, pembuat keputusan harus mengambil perseptif luas


tentang siapa yang ditujukan dalam keputusan tersebut, karena mungkin saja masyarakat akan
terpengaruh oleh keputusan tersebut. Kegagalan untuk melakukannya bisa sangat mahal untuk
sebuah perusahaan. Aspek kunci utilitarianisme yaitu:

a. Etika dinilai berdasarkan konsekuensi non etis.

b. Keputusan etis harus berorientasi pada peningkatan kebahagiaan dan/atau mengurangi rasa
sakit, di mana kebahagiaan dan rasa sakit dapat berupa fisik atau psikologis.

c. Kebahagiaan dan rasa sakit berhubungan dengan semua masyarakat dan bukan hanya untuk
kebahagiaan pribadi atau rasa sakit dari pengambil keputusan.

d. Pembuat keputusan etis harus memihak dan tidak memberikan bobot ekstra untuk perasaan
pribadi ketika menghitung keseluruhan konsekuensi yang mungkin terjadi akibat keputusan
yang dibuat.

Tindakan dan Peraturan Utilitarianisme


Seiring waktu, utilitarianisme telah berkembang di sepanjang dua jalur utama, yang disebut
tindakan utilitarianisme dan aturan utilitarianisme. Tindakan utilitarianisme kadang-kadang disebut
sebagai konsekuensialisme, di mana dianggap sebagai tindakan untuk menjadi etis yang baik atau
benar jika mungkin akan menghasilkan keseimbangan kebaikan yang lebih besar daripada kejahatan.
Aturan utilitarianisme, di sisi lain, mengatakan bahwa kita harus mengikuti aturan yang mungkin akan
menghasilkan keseimbangan yang lebih besar dari kebaikan atas kejahatan dan menghindari aturan
yang mungkin akan menghasilkan sebaliknya.
Kelemahan dalam Utilitarianisme
 Utilitarianisme mengandaikan bahwa hal-hal seperti kebahagiaan, utilitas, kesenangan, sakit
dan penderitaan bisa diukur dengan uang.
 Masalah distribusi dan integritas terhadap kebahagiaan.
 Hak-hak minoritas dapat dilanggar dalam utilitarianisme.
 Masalah ruang lingkup.
 Utilitarianisme mengabaikan motivasi dan hanya berfokus pada konsekuensi.
b. Etika Deontologis – Motivasi untuk Perilaku
Deontologi mengevaluasi etika perilaku berdasarkan motivasi pembuat keputusan. Menurut
deontologis, suatu tindakan bisa benar dan etis bahkan jika tidak menghasilkan hasil yang baik atas
kejahatan bagi pengambil keputusan atau masyarakat secara keseluruhan. Ini membuatnya menjadi
pelengkap untuk utilitarianisme karena tindakan yang memenuhi kedua teori dapat dikatakan
memiliki peluang bagus untuk etika. Immanuel Kant (1724-1804) memberikan artikulasi yang jelas dari
teori ini dalam Goundwork of the Methaphysicsof Moral.

Kant mengembangkan dua hukum untuk menilai etika, antara lain:

 Imperatif Kategoris (Categorical Imperative)


 Imperatif Praktis (Practical Imperative)

Kelemahan dalam Deontologi


Masalah mendasar adalah bahwa imperatif kategoris tidak memberikan panduan yang jelas
untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah jika dua atau lebih hukum moral mengalami
konflik dan hanya satu yang dapat diikuti. Hukum moral mana yang diikuti? Dalam hal ini mungkin
utilitarianisme menjadi teori yang lebih baik karena dapat mengevaluasi alternatif berdasarkan
konsekuensinya. Sayangnya, dengan deontologi, konsekuensi menjadi tidak relevan. Sayangnya,
dengan deontologi, konsekuensi menjadi tidak relevan. Satu-satunya hal yang penting adalah niat dari
pembuat keputusan dan kepatuhan para pengambil keputusan untuk mematuhi imperatif kategoris
seraya memperlakukan orang sebagai tujuan bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

c. Keadilan dan Kewajaran – Memeriksa Saldo


Keadilan Prosedural

Keadilan prosedural berfokus pada bagaimana keadilan diberikan. Aspek utama dari sistem hukum
yang adil adalah bahwa prosedurnya adil dan transparan. Blind justice (keadilan tidak pandang bulu)
dimana semua diperlakukan secara adil di hadapan hukum. Kedua belah pihak mengajukan klaim dan
alasan mereka, dan hakim memutuskan. Hal ini berarti bahwa setiap orang diperlakukan sama di
depan hukum dan bahwa aturan-aturan yang memihak diterapkan secara sama. Preferensi tidak
diberikan kepada satu orang berdasarkan karakteristik fisik (etnis, jenis kelamin, tinggi badan, atau
warna rambut) maupun status sosial atau ekonomi (hukum diterapkan dengan cara yang sama untuk
orang kaya dan miskin).

Keadilan Distributif

Kriteria utama untuk menentukan distribusi yang adil yaitu dari kebutuhan, kesetaraan aritmatika,
dan prestasi. Sistem pajak di negara maju sebagian besar didasarkan pada kebutuhan. Keadilan
distributif berbasis kebutuhan bukan merupakan hal yang umum dalam lingkungan bisnis. Namun
dalam proses anggaran sebuah perusahaan hal tersebut dianggap wajar, dimana harus didasarkan
pada alokasi wajar sumber daya langka agar tidak ada risiko yang menghambat motivasi dari para
eksekutif dan karyawan pada disenfranchised unit.

Keadilan sebagai Kewajaran

Rawls berpendapat bahwa pada kondisi awal perkiraan orang akan menyetujui dua prinsip, yaitu
bahwa harus ada kesetaraan dalam pengalihan hak-hak dasar dan kewajiban serta bahwa kesetaraan
sosial dan ekonomi harus bermanfaat bagi anggota masyarakat yang kurang mampu (Prinsip
perbedaan – Difference Principle) dan bahwa akses ke ketidaksetaraan ini harus terbuka untuk semua
orang (fair equality of opportunity). Dalam hal ini Rawls tidak sependapat dengan ulilitarianisme
karena prinsip tersebut memungkinkan menghitung dan menganggap bahwa situasi yang tidak adil
dapat diterima.

Etika Kebajikan – Analisis Kebajikan yang Diharapkan

Aristoteles (384-322 SM) dalam The Nicomachean Ethics menyatakan bahwa tujuan hidup adalah
kebahagian yang didalamnya terdapat kegiatan jiwa (activity of soul). Kita dapat mewujudkan tujuan
kita untuk memperoleh kebahagiaan dengan menjalani kehidupan yang didasarkan pada suatu alasan.
Kebajikan adalah karakter dari jiwa yang ditunjukkan dalam suatu tindakan sukarela, dimana tindakan
tersebut didasarkan pada musyawarah. Namun, Aristoteles juga merasa bahwa terdapat kebutuhan
adanya pendidikan etika sehingga orang akan tahu tindakan apa yang baik dilakukan. Aristoteles
mengemukakan bahwa kita dapat memahami dan mengidentifikasi kabajikan dengan mendasarkan
karakteristik manusia pada tiga hal, dua hal diantaranya adalah menjadi jahat dan baik. Menurutnya
kebajikan adalah golden mean, yaitu celah diantara posisi ekstrem yang akan bervariasi tergantung
dari keadaan.

Kelemahan Etika Kebajikan

Etika kebajikan dalam penerapannya memiliki dua kelemahan yaitu kebajikan seperti apa yang
seharusnya dimiliki oleh seorang pebisnis dan bahaimana kebajikan tersebut dilaksanakan dalam
dunia kerja. Kunci dari kebajikan/keutamaan dalam bisnis adalah integritas. Integritas melibatkan sifat
jujur dan terhormat. Hal ini berarti setiap tindakan dalam perusahaan haruslah konsisten dengan
prinsip-prinsipnya. Hal ini ditunjukkan dengan tindakan yang tidak mengorbankan nilai-nilai inti
bahkan ketika ada tekanan yang kuat untuk melakukannya.

d. IMAJINASI MORAL

Mahasiswa dari sekolah bisnis dilatih untuk menjadi seorang manajer bisnis yang diharapkan dapat
membuat keputusan dalam situasi yang sulit. Manajer harus kreatif dan memiliki inovasi dalam
mencari solusi sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah dalam praktik bisnis.
Mereka juga harus memiliki tingkat kreatifitas yang sama ketika menangani masalah etika. Para
manajer harus menggunakan imajinasi moral mereka untuk mementukan alternatif etika agar
memberikan keuntungan yang sama dalam berbagai alternatif etika. Hal ini berarti, keputusan yang
diambil oleh seorang manajer harus memberikan dampak yang baik bagi individu, perusahaan dan
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J dan Paul Dunn. 2011. Etika Bisnis & Profesi untuk Direktur, Eksekutif, dan Akuntan.
Jakarta; PT Salemba Empat.