Anda di halaman 1dari 27

PRESENTASI KASUS HERNIA INGUINALIS DEXTRA

BAGIAN BEDAH RSUD CIAWI


FAKULTAS KEDOKTERAN – UNIVERSITAS UKRIDA

Nama mahasiswa : Servasius suwaldus situ


NIM : 11-2014-005
Dokter pembimbing : Dr. Enrico saut, SpB

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 59 thn
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Kuli Bangunan
Agama : Islam
Alamat : Cigombong
No Cm : 65.67.57
Tanggal masuk RS Ciawi : 12 april 2018, Pkl. 10.15 WIB

II. ANAMNESA
Autoanamnesa 13 April2018, Pkl. 11.30 WIB
Keluhan Utama : Benjolan dilipat paha sebelah kanan sejak 5 tahun
lalu
Keluhan tambahan : Tidak ada
Riwayat penyakit sekarang :
Sejak kurang lebih 5 tahun SMRS Ciawi, pasien mengeluh mulai timbul
benjolan dilipat paha sebelah kanannya, berbentuk bulat agak lonjong. Benjolan
tersebut timbul terutama saat pasien berjalan jauh dan mengangkat benda-benda berat,
dan akan hilang bila pasien berbaring. Namun karena benjolan tersebut tidak terasa
nyeri, maka didiamkan saja oleh pasien. Timbulnya benjolan tersebut tanpa disertai
demam, mual dan muntah. Walaupun tanpa gejala, benjolan itu mengganggu aktivitas
pasien dalam pekerjaannya sehari –hari, yaitu sebagai kuli bangunan, seperti bila saat
mengangkat bahan-bahan bangunan.

1
Satu minggu SMRS Ciawi, pasien mengeluh benjolan semakin besar, dan
rasa tidak nyaman pada perut kanan bawah tetapi tidak nyeri. Benjolan muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan namun akan hilang jika berbaring..
BAB satu kali sehari, konsistensi lunak, warna kuning, darah dan lendir negatif.
BAK dengan frekuensi normal 4-5kali sehari, tidak disertai nyeri atau berpasir.
Keluhan demam, mual dan muntah disangkal oleh pasien.
Riwayat BAK : Lancar, warna kuning jernih
Riwayat BAB : Sebelum sakit : Lancar, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan
Riwayat makan : porsi cukup, tiga kali sehari.

Riwayat penyakit dahulu :


Os memiliki riwayat penyakit TBC paru sekitar 7 tahun yang lalu dan telah rutin
minum obat. Riwayat DM, hipertensi , asites tidak ada.

Riwayat penyakit dahulu :


Kebiasaan merokok sejak 20 tahun yang lalu hingga saat ini dan juga karena
profesinya sebagai kuli bangunan sehingga os kebiasaan mengangkat beban berat

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
1. Keadaan Umum
Pasien tampak sakit ringan, dyspneu (-), sianosis (-)
2. Kesadaran
Compos mentis; GCS : E = 4, V = 5, M = 6  15
3. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 130/70 mmHg Nadi : 82x/mnt
Suhu : 36.6 °C RR : 18x/mnt
4. Leher
Bentuk normal, trakea di tengah, KGB tidak teraba membesar.
5. Thorax
Paru :
(I) Bentuk normal, tampak simetris dalam statis dan dinamis, retksi
suprasternal (-)
(Pa) Stem fremitus kanan kiri sama kuat

2
(Pe) Sonor pada kedua lapang paru
(A) Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-
Jantung :
(I) Ictus cordis tak tampak
(Pa) Ictus cordis teraba i.c.s. V midclavicula line sin., tak kuat angkat
(Pe) Redup pada ; batas atas : i.c.s. II parasternal line sin.
batas kanan : midsternal line
batas kiri : i.c.s. V midclavicula line sin.
(A) Bunyi jantung I dan II reguler murni, murmur (-), gallop (-)
6. Abdomen
(I) Datar, tidak tampak gambaran usus dan vena
(Pa) Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri tekan (-), nyeri
ketok CVA kanan & kiri negatif.
(Pe) Timpani, meteorismus (-)
(A) Bising usus (+), Normal
Regio inguinalis kanan lihat di status lokalis.
7. Genitalia eksterna
Laki-laki, telah dicircumsisi, tidak tampak tanda-tanda radang, Skrotum Testis
kanan dan kiri teraba, nyeri pada perabaan (-).
8. Ekstremitas sup et inf
Bentuk normal, deformitas (-), oedema (-), tanda-tanda radang/infeksi (-).

B. Status Lokalis
Regio inguinal kanan
(I) : Pada posisi berdiri
- Tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tanda-
tanda radang.
- Mengedan : Tampak benjolan bulat agak lonjong berjalan dari
lateral atas ke medial bawah berukuran 4cmx3cmx1cm .
Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan.
(Pa) : Saat berdiri mengedan.
Teraba benjolan 4cmx2cmx1cm , konsistensi kenyal, dapat
didorong masuk kembali dengan jari, permukaan licin, batas
tidak tegas, nyeri tekan (-).

3
Saat tiduran, benjolan tidak tampak.
KGB tidak teraba membesar

(Pe) : Tidak dilakukan


(A) : Bising usus (+)

Finger test : Jari telunjuk masuk dalam anulus eksternus dan menyentuh ujung
jari saat mengedan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium 13/04/2018
Darah :
- Hb : 14,2 g/dl
- Ht : 40,1%
- Leukosit : 14.000 mm3
- Trombosit : 350.000 mm3
- Masa Pdrh : 2’10”
- Masa Pbk : 9’
- Ureum : 28 mg/dl
- Creatinine : 0,8 mg/dl
- Kalium : 3,72 meq/l
- Natrium : 142 meq /l
- SGOT : 19u/l
- SGPT : 29u/l
- GDS : 105mg/dl

V. RESUME
Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 59 thn, datang dengan keluhan terdapat
benjolan di atas lipat paha sebelah kanan berjalan dari arah lateral atas kemedial
bawah ( hilang bila pasien berbaring ) sejak + 5 tahun SMRS Ciawi ,terasa tidak
nyaman di daerah benjolan pada saat BAB, mual (-), muntah (-), demam (-), pusing
(-).

Status Lokalis

4
Regio inguinal kanan
(I) : Pada posisi berdiri
- tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tanda-
tanda radang.
- mengedan : Tampak benjolan bulat agak lonjong berukuran
4cmx2cmx1cm .
Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan.
(Pa) : Saat berdiri mengedan.
Teraba benjolan 4cmx2cmx1cm , konsistensi kenyal, dapat
didorong masuk kembali dengan jari, permukaan licin,batas
tidak tegas, nyeri tekan (-).
Saat tiduran, benjolan tidak tampak.

(Pe) : Tidak dilakukan


(A) : Bising usus (+)
Finger test terasa benjolan di ujung jari.

Laboratorium 13/04/2018
Darah :
- Hb : 14,2 g/dl
- Ht : 40,1%
- Leukosit : 14.000 mm3
- Trombosit : 350.000 mm3
- Masa Pdrh : 2’10”
- Masa Pbk : 9’
- Ureum : 28 mg/dl
- Creatinine : 0,8 mg/dl
- Kalium : 3,72 meq/l
- Natrium : 142 meq /l
- SGOT : 19u/l
- SGPT : 29u/l
- GDS : 105mg/dl

5
VI. DIAGNOSA BANDING
Hernia inguinalis lateral dextra reponibilis.
Hernia femoralis dextra reponibilis.
Lipoma inguinal dextra.
Limfadenitis ingunal dextra.

VII. DIAGNOSA KERJA


Diagnosa pre op : Hernia inguinalis lateralis dextra reponibilis.

VIII. PENATALAKSANAAN
Hernia Inguinalis Medialis Dextra
Operatif : Herniotomi dan Hernioplasty
Medikamentosa : Infus cairan sesuai kebutuhan
Antibiotika
Analgetika

Laporan Operasi 13 april 2018 – Dr. Enrico SpB


Tindakan aseptic dan antiseptic
Incise inguinal dekstra, cutis, subcutis, fascia aponeurosis M. obliqus eksterna
Identifikasi spermaticord, nervus inguinal, knatong hernia
Dilakukan herniotomy dilanjutkan dengan herniplasty
Perdarahan diatasi
Luka operasi ditutup lapis demi lapis
Operasi selesai
Diagnosa post op : Hernia Inguinalis lateralis Dextra

IX. ANJURAN
1. Bed rest.
2. Diet tinggi serat setelah operasi agar BAB lancar.
3. Usahakan untuk tidak mengangkat benda-benda berat .
4. Usahakan untuk tidak melakukan aktivitas berat.

6
XI. PROGNOSA
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

7
PEMBAHASAN UMUM

H ER N IA
ANATOMI DINDING PERUT
Lapisan dinding perut dari lapisan paling luar ke dalam.
- Lapisan kulit : kutis, subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisialis (Fasia
Scarpae).
- Otot dinding perut : m.Obliqus abdominalis eksternus, m.Obliqus abdominalis
internus, dan m.transversus abdominalis.
- Peritoneum
Fungsi otot dinding perut
- Pernafasan
- Proses BAK dan BAB dengan meningkatkan tekanan intraabdominal.
Perdarahan dinding perut
- Kraniodorsal dari cabang Aa.lntercostac VI-XII dan Aa.Epigastrika superior.
- Kaudal dari A.circumflexa superfisialis , A Pudenda Eksterna dan
A.Epigastrika inferior.
DEFINISI
Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi rongga melalui detek atau bagian lemah
(lokus minoris resistensi) dari dinding rongga yang bersangkutan.
Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan
muskulo-aponeurotik dinding perut.
Hernia meliputi 3 unsur. yakni :
1. Kantong hernia (peritoneum parietalis)
2. Isi (Viskus)
3. Pintu atau leher hernia (Lokus minores resistentiae pada dinding abdomen)
KLASIFIKASI
- Berdasarkan terjadinya :
 Hernia bawaan atau kongenital
 Hernia didapat /atau akuisita
- Berdasarkan letaknya :
 Hernia Diafragmatika

8
 Hernia inguinalis
 Hernia umbilikalis
 Hernia femoralis
 Herna obtoratoria
- Berdasarkan sifatnya :
 Hernia reponibilis : isi kantong akan masuk lagi jika berbaring atau
didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus.
 Hernia Ireponibilis : isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam
rongga , biasanya karena perlengketan pada peritoneum kantong hernia,
tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus.
 Hernia inkaserata : isi hernia terjepit oleh cincin hernia disertai gangguan
pasase usus.
 Hernia Strangulata : Hernia ireponibel disertai gangguan vaskularisasi.
- Berdasarkan Penemunya
 Hernia Richter : Hernia yang isinya hanya sebagian dinding usus.
 Hernia Littre : Hernia yang isinya divertikulum Meckel
 Hernia Spigelian : Hernia yang muncul melalui tempat lemah diantara tepi
lateral m.Rectus Abdominalis dengan Linea semisirkularis.
- Lain-lain
 Henna Epigastrika : Hernia yang keluar melalui defek di linea alba, antara
umbilicus dan proc.Xiphoideus.
 Hernia Skrotalis : Hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum.
 Hernia Pantaloon : Kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu
sisi.

HERNIA INGUINALIS
ANATOMIS
Batas regio inguinalis - kanalis inguinalis
- Kraniolateral : anulus inguinalis internus (bagian terbuka dari fasia
transversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis)
- Medial-bawah diatas tuberkulum pubikum : anulus inguinalis eksternus
(bagian terbuka dari aponeurosis m.obliqus eksternus) .
- Atap : aponeurosis m.obliqus eksternus

9
- Dasar : lig.inguinalis pouparti
Isi kanalis inguinalis :
- Pada wanita : lig.Rotundum
- Pada pria : spermatic cord
Batas Trigonum Hasselbach-dinding posterior inguinal
- Dasar : Fasia transversa
- Atap : m.obliquus internus
- Medial : tepi m.rectus abdominis
- Lateral : vasa epigastrika inferior
- Bawah : lig.inguinale

ETIOLOGI
Pada orang sehat ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis
1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring.
2. M.obliqus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus saat
berkontraksi.
3. Fasia Transversa yang kuat, menutupi trigonum Hasselbach.

Namun bila ada faktor predisposisi :


1. Prosesus vaginalis yang terbuka.
2. Peninggian tekanan intra abdomen.
 Batuk kronik

10
 Konstipasi
 Asites
 Menangis kuat-kuat
 Berdiri
3. Kelemahan otot dinding perut (karena usia)
Maka dapat menyebabkan HERNIA INGUINALIS
DISTRIBUSI
- Pada laki-laki
 Terbanyak pada neonatus (2 mgg pertama) dan usia 12 thn.
 Dewasa muda (18-30 thn)
 Usia 50-70 thn, karena otot-otot dinding perut sudah lemah. Pada usia tua
ini yang paling banyak terjadi adalah hernia inguinalis medialis.
- Pada wanita
 Terutama pada neonatus dan usia 1-2 thn.
 Usia tua, lebih banyak jenis hernia femoralis. Hernia inguinalis lateralis
pada wanita disebut hernia labialis.

JENIS-JENIS HERNIA INGUINALIS


HERNIA INGUINALIS LATERALIS / INDIREK
- Lateralis karena penonjolan berada disebelah lateral vasa epigastrika inferior.
- Indirek karena tidak langsung keluar ke annulus inguinalis eksternus,
melainkan masuk melalui annulus inguinalis internus terlebih dahulu
kemudian melalui kanalis inguinalis, baru keluar melalui annulus inguinalis
eksternus.
- Umumnya tonjolan berbentuk lonjong. Pada bayi dan anak disebabkan karena
kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum
akibat penurunan testis ke skrotum.

11
HERNIA INGUINALIS MEDIALIS / DIREK
- Medialis karena penonjolan berada di sebelah medial vasa epigastrika inferior.
- Direk karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna, lewat kelemahan
dinding posterior (trigonum Hasselbach).
- Hampir selalu disebabkan faktor peninggian tekanan intra abdomen kronik
dan kelemahan dinding trigonum Hasselbach.
- Umumnya tonjolan berbentuk bulat, dapat terjadi bilateral.
- Jarang mengalami inkarserasi dan strangulasi.

12
HERNIA FEMORALIS
Hernia femoralis umumnya dijumpai pada wanita tua , kejadian pada
perempuan 4 kali laki-laki.
Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia
masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v. femoralis
sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Kadang kala
hernia ini terjadi karena komplikasi operasi hernia sebelumnya.

13
DIAGNOSA
Anamnesa
- Benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu berdiri, menangis kuat, batuk,
bersin atau mengedan dan hilang setelah berbaring
- Nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya pada region epigastrium atau
paraumbilikal, berupa nyeri visceral karena reggangan pada satu segmen usus
halus masuk ke dalam kantong hernia.
- Keluhan nyeri disertai mual dan muntah (bila timbul strangulasi karena
nekrosis/gangrene atau inkarserata akibat ileus).
Pemeriksaan fisik
- Inspeksi
 Mengedan ; Tampak benjolan di region inguinalis yang berjalan dari
lateral atas ke medial bawah (hernia inguinalis lateralis)
 Biasanya benjolan menghilang waktu istirahat / berbaring.
 Pada bayi dan anak-anak, adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha
biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak

14
sering gelisah, menangis, perut kembung maka pikirkan kemungkinan
hernia strangulata.
- Palpasi
 Konsistensi kenyal
 Dapat/tidak didorong masuk kembali (reponibel/ireponibel). Pada anak,
 Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin hernia
 Dapat diraba berupa annulus inguinalis eksternus yang melebar.
 Ada/tidak nyeri tekan.
 Testis teraba / tidak (DD/ hidrokel)
 Periksa keadaan cincin hernia : melalui skrotum, jari telunjuk dimasukkan
ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus
sampai ke annulus inguinalis internus (pada keadaan normal, jari tidak
dapat masuk). Pasien mengejan dan rasakan, apakah ada massa yang
menyentuh jari tangan. Bila massa teraba menyentuh ujung jari makak
hernia inguinalis lateralis. Bila massa menyentuh sisi jari maka hernia
inguinalis medialis.
- Perkusi
 Tidak dilakukan.
- Auskultasi
 Bising usus (+), bila isi hernia = usus.
PENATALAKSANAAN
- Konservatif
 Tindakan reposisi dan pemakaian penyangga untuk mempertahankan isi
hernia yang telah direposisi.
 Reposisi dengan cara bimanual : tangan kiri pegang isi hernia, inembentuk
corong. Tangan kanan mendorong ke arah cincin hernia dengan tekanan
lambat narnun menetap sarnpai terjadi reposisi.
 Pada anak, reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian
sedative dan kompres es di atas hernia.Bila 6 jam gagal maka lakukan
herniotomi !
 Pada bayi atau usia lanjut dengan hernia congenital atau indirek. reposisi
dilakukan sesegera mungkin karena insiden terhadap inkarserata dan
strangulasi cukup tinggi. Bila hernia inkarserata tanpa gejala sistemik

15
maka lakukan reposisi postural bila berhasil lakukan operasi elektif 2 - 3
hari ( saat udem jaringan hilang dan KU baik).
- Operatif
 Segera bila terjadi inkarseata atau strangulasi.
 Prinsip dasar : Herniotomi dan Hernioplasty
 Herniotomi
 Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya,
kantong hernia dibuka, isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin
lalu dipotong.
 Hernioplasty
 Memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dindig
belakang kanalis inguinalis.
 Hernioplasty lebih penting artinya daiam mencegah terjadinya
residif dibanding Herniotomi.
 Hernioplasty tidak dilakukan pada anak-anak, karena annulus
inguinalis internusnya masih cukup elastis dan dinding belakang
kanalis inguinalis masih cukup kuat !
 Metode Bassini adalah dengan memperkecil annulus inguinalis
internus dengan jahitan, memperkuat fascia transversa dan
menjahit conjoint tendon ke lig. Pouparti.
 Metode Mc Vay dengan cara menjahit fascia transversa, m.
transverses abdorninis internus ke lig. Cooper, biasanya dilakukan
pada hernia femoralis.
 Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang, perlu
pemakaian bahan sintesis seperti Prolene Mesh, Mersilene, atau
Marleks untuk menutup defek.
Tehnik operasi hernioraphy sebenarnya dibagi menjadi 4 group berdasarkan
pendekatannya:
1. Open anterior repair.
Grup ini termasuk Bassini, Mc Vay yaitu dengan membuka aponeurosis m.
obliq eksternal dan membebaskan spermaticcord. Setelah fascia
tranversalis dibuka dapat ditemukan kanalis inguinalis. Kemudiankantung

16
hernia diligasi dan dasar dari kanal direkonstruksi kembali. Pada tehnik ini
presentasi recurrence rate sangat tinggi 10-14 %.
2. Open posterior repair.
Yang termasuk kedalam grup ini adalah iliopubictrac repair dan Nyhus
technique. Perbedaan yang mendasar dengan open anterior repair adalah
rekonstruksi dilakuakn dari “dalam”. Cara ini biasanya dilakukan pada
kasus dengan multiple recurrences.
3. Tension-free repair with mesh.
Lichtenstein and Rutkow techniques. Pada mulanya sama dengan open
anterior repair, namun ditambah dengan menggunakan prosthetic
nonabsorbable mesh. Keberhasilan dengan tehnik ini dengan recurrence
rate kurang dari 1%.
4. Laparoscopic procedures.
Tehnik terbaru ini mulai terkenal mulai bebrapa tahun yang lalu. Tehnik
yang terbaru adalah dengan total extraperitoneal approach.
Berikut ini adalah sekilas tentang laparoscopic hernia repair
Laparoscopic Hernia Repair

Pertinent anatomy in a thin male with a left indirect inguinal hernia

17
Dissection starts with opening the peritoneum lateral to the medial umbilical fold
in order to identify Cooper's ligament

Cooper's ligament has been exposed from the pubic tubercle down to the femoral
vessels and the vas deferens

18
The ileopubic tract lateral to the internal ring is exposed. It is critical to avoid
dissection or stapling posterior to this line in order to avoid injury to
cutaneous nerves.

The dissection is complete. The indirect sac is left in place.

19
An 8 by 12 cm. GoreTex dual-mesh patch is now inserted. I use this material
because it is resistant to adhesions, and can be placed without need for
reperitonealization.

The mesh has been stapled from the pubic tubercle along Cooper's ligament
down to the femoral vessels. It is now being stretched across laterally and
stapled to the ileopubic tract.

20
The patch is then flipped up anteriorly, covering the hernia defect(s). It is stapled
to the abdominal wall circumferentially. This completes the repair. This is
the repair first devised by Fred Toy and Roy Smoot, and has been studied
by a multi-center group in more than 500 patients. Recurrence rate over
several years is 4%.

KOMPLIKASI
- Bergantung dari isi hernia.
- Hernia dapat terjepit oleh cincin maka akan terjadi hernia inkarserata atau
strangulasi yang akhirnya menyebabkan obstruksi usus. Isi hernia dapat
nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan
serosanguineus.
- Dapat perforasi dan menyebabkan abses local, fistel, peritonitis.
- Komplikasi yang dapat terjadi post op adalah cedera n.ilioingunalis,
n.iliofemoralis , v femoralis dan duktus deferens.
Komplikasi dini berupa hematom, luka infeksi, bendungan v. femoralis.
Komplikasi jangka panjang berupa atrofi tetis karena lesi a. spermatika atau
bendungan pleksus pampiniformisdan yang paling penting adalah terjadinya
residif.

21
Daftar Pustaka

1) Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC,
Jakarta : 1997
2) Way, Lawrence, Doherty, Gerard M, Current Surgical diagnosis and treatment,
eleventh edition, Mc Graw Hill, Boston 2003.
3) Aksara Medisina, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Khusus, Salemba, Jakarta :
1987
4) Sabiston, David C. Essential of Surgery, first edition, EGC, Jakarta ; 1994.
5) American Family Physician “Surgical Options in the Management of Groin
Hernias” available from : http://www.aafp.org/afp/990101ap/contents.html.
( last update : January 1,1999)
6) Mark Pleatman, MD “Laparoscopic Hernia repair” available from cd rom
Operation Techique

22
PEMBAHASAN KHUSUS
Pada kasus ini, diagnosa kerja pre operatif adalah Hernia inguinalis lateralis
dextra, sesuai dengan teori :
 Benjolan timbul terutama saat pasien berjalan dan mengangkat benda
berat, hilang bila pasien berbaring.
 Ada faktor predisposisi, yakni kelemahan dinding perut akibat faktor usia
(47 thn).
 Umumnya benjolan berbentuk bulat agak lonjong berjalan dari lateral atas
ke medial bawah dengan batas tidak tegas (pada hernia inguinalis medialis
umumnya benjolan berbentuk bulat, berbatas tegas).
 Benjolan yang hilang timbul dapat menyingkirkan dd dari Lipoma
inguinalis.
 Tidak ditemukannya demam, dan tanda-tanda infeksi pada tungkai dan
sekitarnya menyingkirkan dengan dd Limfadenitis inguinalis
 Pada dasarnya cukup sulit untuk membedakan hernia medialis-lateralis dan
femoralis. Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan operasi. Namun
maupun hernia medialis-lateralis atau femoralis, terapi yang harus
dilakukan adalah operasi, mengingat komplikasinya yang akan
membahayakan pasien tersebut.
Setelah dilakukan herniotomi dan hernioraphy, diagnosa post operatif adalah Hernia
inguinalis lateralis dextra, sesuai dengan teori.
Selain dilakukan herniotomi. pada pasien ini dilakukan juga hernioraphy,
sesuai dengan teori :
 Pada orang tua, dinding posterior abdomen lemah. sehingga bila hanya
dilakukan herniotomi saja, maka kemungkinan terjadi hernia residif post
op besar. Sehingga. annulus inguinalis internus perlu diperkecil dan
dinding belakang kanalis inguinalis perlu diperkuat dengan hernioplasty.
Pada pasien ini dipakai juga bahan sintesis yakni Prolene Mesh
untuk menutup defek
Prognosa pada pasien ini baik, karena telah dilakukan herniotomi dan hernioplasty
yang mencegah hernia residif.

23
LAPORAN KASUS

HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA


REPONIBLE

PEMBIMBING
Dr. Erico Saut, SpB

Oleh :
Servasius suwaldus situ
11-2014-005

KEPANITERAAN ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 19 MARET SAMPAI 26 MEI 2018

24
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA
WACANA

LEMBAR PENGESAHAN

CASE :
Hernia inguinalis lateralis dextra reponible

Di susun oleh :
Servasius suwaldus situ
11-2014-005
Fakultas kedokteran UKRIDA

Sebagai salah satu syarat mengikuti ujian kepaniteraan ilmu Bedah RSUD ciawi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Ciawi, 20 April 2018

25
dr. Erico Saut , SpB
LEMBAR PENGESAHAN

CASE :
Hernia inguinalis lateralis dextra reponible

Di susun oleh :
Servasius suwaldus situ
11-2014-005
Fakultas kedokteran UKRIDA

Sebagai salah satu syarat mengikuti ujian kepaniteraan ilmu Bedah RSUD ciawi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Mengetahui Kepala SMF Bedah

dr. Johan Lucas Harjono , SpB

26
27