Anda di halaman 1dari 10

Pengambilan Keputusan Etis Praktis

Magister Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pengampu Rina Trisnawati, Ph.D.
Oleh : Arif Dwisantoso (W100170022)

1. PENDAHULUAN
a. Memotivasi Perkembangan

Skandal Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom menimbulkan kemarahan publik, runtuhnya
pasar modal, dan akhirnya Sarbanes-Oxley Act 2002, yang membawa reformasi tata kelola tersebar
luas. Skandal perusahaan berikutnya yang melibatkan Adelphia, Tyco, Health-South, dan lainnya
mengingatkan kita untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa eksekutif perusahaan dapat
membuat keputusan yang lebih baik, dan harus melakukannya untuk mempertahankan profitabilitas dan
kelangsungan hidup perusahaan mereka. Kasus pengadilan berikutnya serta denda terkait, hukuman
penjara, dan penyelesaiannya menekankan pada keputusan untuk mengurangi kekebalan terhadap
tindakan hukum
b. Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis

Sebagai respon terhadap keputusan yang dapat dipertahankan secara etis, makalah ini
menyajikan kerangka kerja yang praktis, komprehensif, dan beraneka ragam untuk pengambilan
keputusan etis. Kerangka ini menyertakan persyaratan tradisional untuk profitabilitas dan legalitas, serta
persyaratan yang akan ditampilkan filosofis secara penting dan yang baru ini dituntut oleh pemangku
kepentingan.
c. Pendekatan Filosofis --- Sebuah Ikhtisar: Konsekuensialisme (Utilitarianisme), Deontologi, dan Etika
Kebajikan

Dorongan untuk meningktkan pendidikan etika dan EDM karena skandal Enron, Arthur
Andersen, dan WorldCom, serta reformasi tata kelola, AACSB Ethics Education Task Force (2004)
menghimbau para mahasiswa bisnis untuk mengenali tiga pendekatan filosofis untuk pengambilan
keputusan etis: konsekuensialisme (utilitarianisme), deontologi, dan etika kebajikan. Masing-masing
dari tiga pendekatan memberikan kontribusi yang berbeda-beda dalam menghasilkan pendekatan yang
berguna dan dapat dipertahankan untuk pengambilan keputusan etis dalam bisnis atau kehidupan
pribadi.
d. Konsekuensialisme, Utilitarianisme, atau Teleologi

Konsekuensialisme bertujuan untuk memaksimalkan hasil akhir dari sebuah keputusan.


Konsekuensialisme berpendapat bahwa sebuah perbuatan benar secara moral jika dan hanya jika
tindakan tersebut mampu memaksimalkan kebaikan bersih.
Utilitarianisme klasik yang terkait dengan utilitas secara keseluruhan mencakupp keseluruhan
varian, oleh karena itu hanya dari manfaat parsial dalam pengambilan keputusan etis dalam konteks
sebuah bisnis, professional, atau organisasi. Konsekuensialisme mengacu pada subbagian dari varian
yang didefinisikan untuk menghindari pengukuran yang salah atau permasalahan lain, atau dalam
rangka membuat proses menjadi lebih relevan dengan tindakan, keputusan, atau konteks yang terlibat.
Oleh karena konsekuensialisme dan utilitarianisme berfokus pada hasil atau akhir dari suatu tindakan,
teori-teori tersebut sering dianggap sebagai teleologis.

e. Deontologi

Deontologi berbeda dari konsekuensialisme, dalam artian bahwa deontologis berfokus


pada kewajiban atau tugas memotivasi keputusan atau tindakan, bukan pada konsekuensi dari
tindakan. Etika deontologi mengambil posisi bahwa kebenaran bergantung pada rasa hormat
yang ditunjukkan dalam tugas, serta hak dan keadilan yang dicerminkan dari tugas-tugas
tersebut. Akibatnya, suatu pendekatan deontologis mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan
tugas, hak, serta pertimbangan keadilan dan mengajarkan para mahasiswa untuk menggunakan
standar moral, prinsip, dan aturan-aturan sebagai panduan untuk membuat keputusan etis yang
terbaik.

f. Etika Kebajikan

Kebajikan adalah karakter yang membuat orang bertindak etis dan membuat orang
tersebut menjadi manusia yang bermoral. Kebijaksanaan adalah kunci kebajikan dalam
menentukan pilihan yang tepat diantara pilihan-pilihan yang ekstrem. Tiga kebajikan penting
atau kebajikan cardinal lainnya adalah keberanian, kesederhanaan, dan keadilan. Watak lain
yang sering disebut sebagai kebajikan meliputi: kejujuran, integritas, kepentingan, pribadi yang
terkendai, belas kasih, kesetaraan, ketidakberpihakan, kemurahan hati, kerendahan hati, dan
kesedrhanaan.

2. SNIFF TESTS DAN ATURAN PRAKTIS UMUM – TES AWAL ETIKALITAS


SEBUAH KEPUTUSAN
Pendekatan filosofi memberikan dasar bagi pendekatan keputusan praktis dan bantuan yang
berguna, meskipun sebagian besar eksekutif dan akuntan professional tidak menyadari bagaimana dan
mengapa demikian.
Pendekatan dan Kriteria Pembuatan Keputusan Etis

Menguntungkan?
Konsekuensi, Utilitas Manfaat > Biaya
Risiko disesuaikan

Tugas fidusia
Tugas,Hak,Keadilan Hak-hak individu
Keadilan, Legalitas

Karakter
Harapan Kebajikan Integritas,
Keberanian, Proses
3. ANALISIS DAMPAK PEMANGKU KEPENTINGAN – PERANGKAT
KOMPREHENSIF UNTUK MENILAI KEPUTUSAN DAN TINDAKAN
a. Gambaran Umum

Sejak john stuart mill mengembangkan konsep utilitarianisme pada tahun 1861, suatu
pendekatan yang diterima untuk penilaian keputusan dan tindakan yang dihasilkan telah
dipakai untuk mengevaluasi atau konsekuensi dari tindakan. Bagi kebanyakan pengusaha,
evaluasi ini sebelumnya didasarkan pada dampak keputusan itu terhadap kepentingan pemilik
perusahaan atau pemegang saham. Biasanya dampak tersebut telah diukur dalam bentuk
keuntungan atau kerugian yang timbul, karena laba telah menjadi ukuran tingkat kebaikan
yang ingin di maksimalkan oleh para pemegang saham.

b. Kepentingan Dasar Para Pemangku Kepentingan

Untuk memfokuskan analisis dan pengambilan keputusan pada dimensi etika:


1. Kepentingan mereka harus menjadi lebih baik sebagai akibat dari keputusan tersebut.
2. Keputusan akan menghasilkan distribusi yang adil antara manfaat dan beban.
3. Keputusan seharusnya tidak menyinggung salah satu hak setiap pemangku kepentingan,
termasuk hak pengambilan keputusan.

4. Perilaku yang dihasilkan harus menunjukkan tugas yang diterima sebaik-baiknya.

c. Pengukuran Dampak yang Dapat Diukur


1) Laba
Laba merupakan dasar untuk kepentingan pemegang saham dan sangat penting untuk
kelangsungan hidup dan kesehatan perusahaan kita. Di masa inflasi, laba merupakan hal yang
penting untuk menggantikan inventori pada harga tinggi yang diperlukan. Untungnya,
pengukuran laba dikembangkan dengan baik dan hanya dibutuhkan beberapa pendapat tentang
penggunaannya dalam pengambilan keputusan etis. Memang benar, bagaimanapun, bahwa
keuntungan merupakan ukuran jangka pendek, dan beberapa dampak penting tidak terungkap
dalam penentuan laba. Kedua kondisi ini dapat diperbaiki dalam bagian berikut.
2) Produk yang Tidak Termasuk dalam Laba: Dapat Langsung Diukur
Ada dampak dari keputusan perusahaan dan kegiatan yang tidak dimasukkan dalam
penentuan laba perusahaan yang menyebabkan dampak. Sebagai contoh, ketika sebuah
perusahaan melakukan pencemaran, biaya pembersihan biasanya dikeluarkan oleh individu,
perusahaan, atau kota yang terletak di hilir atau arah angin. Biaya tersebut disebut sebagai
eksternalitas, dan dampaknya dapat diukur langsung oleh biaya pembersihan yang dilakukan
oleh orang lain.
3) Produk yang Tidak Termasuk dalam Laba: Tidak Dapat Langsung Diukur
Eksternalitas lain muncul ketika biaya tersebut dimasukkan dalam penentuan laba
perusahaan, tetapi ketika manfaatnya dinikmati oleh orang-orang diluar perusahaan.
Sumbangan atau beasiswa adalah contoh eksternalitas, dan tentunya akan menarik untuk
memasukkan perkiraan manfaat yang terlibat dalam keseluruhan evaluasi keputusan yang
diusulkan. Masalahnya adalah bahwa baik keuntungan maupun biaya beberapa dampak
negatif, seperti berkurangnya kesehatan yang diderita orang karena menyerap polusi, dapat
diukur secara langsung, tetapi mereka harus dimasukkan dalam penilaian secara keseluruhan.
4) Membawa Masa Depan ke Masa Kini
Teknik untuk membawa dampak keputusan masa depan ke dalam analisis tidak sulit.
Hal ini ditangani secara paralel dengan analisis penganggaran modal, di mana nilai-nilai masa
depan didiskontokan pada tingkat bunga yang mencerminkan tingkat suku bunga yang
diharapkan di masa mendatang. Pendekatan ini ditunjukkan sebagai bagian dari analisis biaya-
manfaat (ABM) dalam Brooks (1979).

Pendekatan nilai bersih masa kini:

Niali Bersih Masa Kini = Nilai Keuntungan Bersih Masa Kini – Nilai Biaya Masa Kini Usulan
Tindakan

5) Menangani Ketidakpastian Hasil


Sama seperti dalam analisis penganggaran modal, ada perkiraan yang tidak pasti.
Namun, berbagai teknik telah dikembangkan untuk memasukkan ketidakpastian ini ke dalam
analisis keputusan yang diusulkan. Sebagai contoh, analisis dapat didasarkan pada perkiraan
terbaik, dalam tiga kemungkinan (paling optimis, pesimis, dan perkiraan terbaik), atau nilai-
nilai yang diharapkan, di mana dikembangkan dari sebuah simulasi komputer. Semua ini
merupakan nilai-nilai yang diharapkan, yang merupakan kombinasi dari nilai dan
kemungkinan terjadinya. Hal ini biasanya dinyatakan sebagai berikut:
Nilai Hasil yang Diharapkan = Nilai Hasil x Kemungkinan Terjadinya Hasil

Keuntungan dari rumusan nilai yang diharapkan ini adalah kerangka kerja analisis
biaya-manfaat dapat dimodivikasi untuk menyertakan risiko yang terkait dengan hasil.
Pendekatan baru ini disebut sebagai analisis risiko-manfaat (RBA), dan dapat diterapkan di
mana hasil berisiko ditemukan dalam kerangka berikut:
Nilai yang Diharapkan dari Manfaat Bersih atau yang = Nilai Masa Kini yang Diharpkan -
Nilai Masa Kini dari Biaya Masa Datang Disesuaikan dengan Risiko
6) Identifikasi dan Petingkat Pemangku Kepentingan
Pengukuran laba, yang ditambahkan oleh eksternalitas yang didiskontokan ke masa
sekarang dan difaktorkan oleh resiko hasil, lebih berguna dalam menilai keputusan yang
diusulkan jika dibandingkan dengan hanya darikeuntungan saja. Namun demikian, manfaat
dari analalisis dampak pemangku kepentingan bergantung pada identifikasi penuh semua
pemangku kepentingan dan kepentingan mereka, serta apresiasiyang penuh terhadap
signifikansi dampaknya pada posisi masing – masing. Ketika penambahan manfaat sederhana
dan biaya tidak sepenuhnya mencerminkan pentingnya pemangku kepentingan atau dampak
yang terlibat.
d. Penilaian Dampak yang Tidak Dapat Dikuantifikasi
1) Keadilan di Antara Para Pemangku Kepentingan
Kepedulian atas perlakuan yang telah adil telah menjadi perhatian masyarakat baru – baru ini
mengenai isu – isu seperti diskriminasi terhadap perempuan dan hal lainnya yang menyangkut
perekrutan, promosi, dan pembayaran. Akibatnya, keputusan akan dianggap tidak etis kecuali
jika dipandang wajar oleh semua pemangku kepentingan.

2) Hak Pemangku Kepentingan


Sebuah keputusan hanya akan dianggap etis jika dampaknya tidak menggagu hak para
pemangku kepentingan, dan hak si pembuat keputusan. Pemangku kepentingan individu
maupun kelompok umumnya berharap dapat menikmati hak – hak sebagai berikut :
 Kehidupan
 Kesehatan dan Keselamatan
 Perlakuan adil
 Penggunaan hati nurani
 Harga diri dan privasi
 Kebebasan berbicara
e. Analisis Dampak Pemangku Kepentingan: Pendekatan Tradisional Pengambilan Keputusan
Beberapa (pendapat) telah dikembangkan yang memanfaatkan analisi dampak
pemangku kepentingan untuk menyediakan panduan tentang etikalitas tindakan yang diajukan
pada pengambil keputusan. Diskusi dari tiga pendekatan tradisional akan dibahas kemudian.
Memilih pendekatan yang paling berguna bergantung pada apakah dampak eputusan bersifat
jangka pendek jika dibandingkan dengan jangka panjang, melibatkan eksternalitas dan garis
mirin atau probabilitas , atau terjadi dalam situasi perusahaan . pendekatan mungkin
digabungkan kedalam penyesuaian pendekatan gabungan yang dirancang khusus untuk dapat
mengatasi situasi tertentu dengan baik.
f. Pendekatan 5-Pertanyaan Tradisional
Keputusan yang diusulkan ditantang dengan mengajukan semua pertanyaan. Jika
respons negatif timbul (atau lebih dari satu) ketika semua lima pertanyaan
diajukan/dipertanyakan, maka pengambil/pembuat keputusan dapat mencoba untuk merevisi
tindakan yang diusulkan untuk menghapus dan/atau mengimbangi jawaban negatif itu. Apabila
proses revisi berhasil, maka usulan menjadi etis. Jika tidak, proposal harus ditinggalkan karena
tidak etis. Bahkan, jika tidak ada tanggapan negatif ketika pertanyaan ditanyakan diawal,
sebuah upaya harus dilakukan untuk memperbaiki tindakan yang diusulkan menggunakan lima
pertanyaan sebagai panduan.
g. Pendekatan Standar Moral Tradisional
Pendekatan standar moral untuk analisis dampak pemangku kepentingan membangun
secara langsung atas tiga kepetingan mendasar dari para pemangku kepentingan yang
diidentifikasi.
h. Pendekatan Pastin Tradisional
Dalam bukunya, The Hard Problrms of Management: Gaining the Ethical Edge,Mark
Pastin(1986) menyajikan gagasannya tentang pendekatan yang tepat untuk analisi etika. Pastin
menggunakan konsep etika aturan dasar utnuk menangkap gagasan bahwa individu dan
organisasi memiliki aturan-aturan dasar untuk nilai-nilai pundamental yang mengatur perilaku
mereka atau perilaku yang diharapkan. Jika keputusan dianggap menyinggung nilai-nilai ini,
ada kemungkinan kan terjadi kekecewaan atau balas dendam.
i. Memperluas dan Memadukan Pendekatan Tradisional
Dari waktu ke waktu, masalah etika akan muncul yang mungkin tidak sesuai dengan
salah satu pendeatan yang telah diuraikan. Sebagai contoh, isu yang diangkat oleh
permasalahan etika dapat diperiksa dengan pendekatan 5 pertanyaan, kecuali jika ada dampak
jangka panjang yang signifikan atau hal lain yang lebih membutuhkan analisis biaya-manfaat
dari pada keuntungan sebagai pertanyaan tingkat pertama.
4. PENDEKATAN FILOSOFIS DAN ANALISIS DAMPAK PEMANGKU
KEPENTINGAN
Pendekatan filosofis konsekuensialisme, deotologi, dan ektika kebajikan merupakan
landasan, dan harus selalu diingat untuk menginformasikan dan memperkaya, analisis ketika
mengguanakan tiga pendektatan dampak pemangku kepentingan. Pendekatan analissi dampak
pemangku kepentingan yang digunakan harus memberikan pemahaman tentang fakta-fakta,
hak, kewajiban, dan keadilan yang terlibat dalam keputusan atau tindakan yang penting untuk
analisis etika yang tepat dari motivasi, kebajikan, dan karakter yang diharapkan.
5. MEMODIFIKASI PENDEKATAN TRADISIONAL ANALISIS DAMPAK
PEMANGKU KEPENTINGAN: MENILAI MOTIVASI, KEBIJAKAN YANG
DIHARAPKAN, DAN SIFAT KARAKTER
a. Mengapa Mempertimbangkan Harapan Motivasi dan Perilaku?
Suatu analisis etika yang komperhensif harus melebihi pendekatan tradisional Tucker,
Velasquez, dan pastin untuk menggabungkan penilaian tentang motivasi, kebajikan, dan
karakter yang terllibat dalam perbandingan dengan apa yang diharapkan oleh para pemangku
kepentingan.
Namun, seperti yang terrlihat dalam skandal yang baru-baru ini terjadi, para
pengambil keputusan di masa lalu tidak mengenali pentingnya harapan pemangku kepentingan
akan kebajikan. Jika mereka mengenalinya, keputusan yang dibuat oleh eksekutif perusahaan,
akuntan m dan pengacara yang terlibat dalam Enron, arthur andersen, WorldCom, Tyco,
Adephia, dan lain-lain mungkin telah menghindari tragedi pribadi dan organisasi yang terjadi.
Beberapa eksekutif dimotivasi oleh keserakahan , bukan oleh kepentingan pribadi yang
berfokus pada kebaikan semua orang.
b. Penilaian Etis Motivasi dan Perilaku

Etika kebijakan, beberapa aspek perilaku etis diidentifikasi sebagai indikasi mens rea
(pikiran bersalah), yang merupakan salah satu dari dua dimensi tanggung jawab, kemungkinan
melakukan kesalahan, atau perasaan bersalah.

Perilaku pribadi atau perusahaan tidak memnuhi harapan , mungkin akan berdampak
negatif pada reputasi dan kemampuan untuk mencapai tujuan strategis yang berkelanjutan
dalam jangka menengah dan panjang, proses penilaian dampak pemangku kepentingan akan
menawarkan kesempatan untuk menilai motivasi yang mendasari kepututsan atau tindakan
yang diusulkan.

6. PERMASALAHAN LAINNYA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS


a. Masalah Bersama
Istilah masalah bersama mengacu pada kesengajaan atau mengetahui penggunaan
aset atau sumber daya yang dimiliki bersama secara berlebihan. Namun, dalam praktiknya
sering kali pengambil keputusan tidak peka terhadap masalah bersama, sehingga tidak akan
memberikan atribut nilai yang cukup tinggi untuk penggunaan aset atau sumber daya, dan
karena itu mereka membuat keputusan yang salah. Kesadaran akan masalah ini dapat
memperbaiki hal tersebut dan memperbaiki pengambilan keputusan. Jika seorang eksekutif
dihadapkan pada penggunaan suatu aset atau sumber daya yang berlebihan, mereka akan
melakukan dengan baik untuk menggunakan solusi yang diterapkan di zaman dahulu.

b. Mengembangkan Aksi yang Lebih Etis


Perbaikan yang berulang-ulang adalah salah satu keuntungan dari menggunakan
kerangka kerja EDM yang diusulkan. Menggunakan serangkaian pendekatan filosofis, 5-
pertanyaan, standar moral, Pastin, atau pendekatan bersama yang memungkinkan aspek-aspek
tidak etis dari sebuah keputusan dapat diidentifikasi, kemudian dimodifikasi secara berulang-
ulang untuk memperbaiki dampak keseluruhan dari keputusan tersebut. Pada akhir setiap
pendekatan EDM, harus ada pencarian yang spesifik untuk hasil sama-sama untung. Proses ini
melibatkan pelaksanaan imajinasi moral. Terkadang, direktur, eksekutif, atau akuntan
profesional akan mengalami kelumpuhan keputusan akibat dari kompleksitas analisis atau
ketidakmampuan untuk menentukan pilihan maksimal karena alasan ketidak pastian, kendala
waktu, atau sebab lainnya. Herbert Simon mengusulkan konsep satisficing untuk memecahkan
masalah ini. Ia berargumen bahwa seseorang “tidak boleh membiarkan kesempurnaan menjadi
musuh kebaikan” – perbaikan yang harus terus menerus sampai tidak ada kemajuan lebih lanjut
yang dibuat seharusnya menghasilkan solusi yang dianggap cukup baik dan bahkan optimal
pada titik waktu tersebut.
c. Kekeliruan Umum dalam Pengambilan Keputusan Etis
Menghindari perangkap umum pengambilan keputusan etis sangatlah penting.
Pengalaman menunjukkan bahwa para pengambil keputusan secara berulang-ulang membuat
kesalahan berikut:
 Menyetujui budaya perusahaan yang tidak etis
 Salah menafsirkan harapan masyarakat.
 Berfokus pada keuntungan jangka pendek dan dampak pada pemegang saham.
 Berfokus hanya pada legalitas.
 Batas keberimbangan.
 Batas untuk meneliti hak.
 Konflik kepentingan.
 Keterkaitan di antara pemangku kepentingan.
 Kegagalan untuk mengidentifikasi semua kelompok pemangku kepentingan.
 Kegagalan untuk membuat peringkat kepentingan tertentu dari para pemangku
kepentingan.
 Mengacuhkan kekayaan, keadilan, atau hak.
 Kegagalan untuk mempertimbangkan motivasi untuk keputusan.
 Kegagalan untuk mempertimbangkan kebajikan yang diharapkan untuk
ditunjukkan.

7. SEBUAH KERANGKA KERJA KOMPREHENSIF PENGAMBILAN


KEPUTUSAN ETIS
Pendekatan terbaik EDM akan bergantung pada sifat dari tindakan yang diusulkan atau
dilema etikan dan pemangku kepentingan yang terlibat . Sebagai cotoh , sebuah masalah yang
melibatkan dampak jangka pendek dan tidak ada eksternalitas mungkin cocok untuk analisis
5 pertanyaan yang dimodifikasi , Masalah dengan dampak jangka panjang dan ekternalitas
ini mungkin lebih cocok dengan pendekatan standar moral yang dimodifikasi, atau
pendekatan pastin yang dimodifikasi . Masalah signifikansi bagi masyarakat dari pada bagi
perusahaan kemungkinan akan baik jika dianalisis menggunakan pendekatan filosofis , atau
pendekatan standar moral yang dimodifikasi. Pendekatan EDM apaun yang digunakan ,
pembuat keptursan harus mepertimbangkan semua isu yang diangkat .

Ringkasan Langkah-langkah untuk sebuah Keputusan Etis


Pendekatan dan isu-isu yang telah dijelaskan sebellumnya dapat digunakan secara terpisah
atau dalam kombinasi gabungan untuk membantu dalam mengambil keputusan etis.
Pengalaman menunjukan bahwa dengan menyelesaikan tiga langkah berikut menyediakan
dasar untuk menantang keputusan yang diusulkan .
1. Identifikasi fakta dan semua kolompok pemangku kepentingan serta kepentingan yang
mungkin akan terpengaruhi
2. Membuat peringkat para pemangku kepentingan serta kepentingan mereka, identifikasi
yang paling penting dan lebih mempertimbangkan mereka dalam analisis
3. Menilai dampak dari tindakan yang diusulkan pada setiap kepeentingan kelompok
pemangku kepentingan berkenaan dengaan kekayaan mereka, keadilan perlakuan, dan
hak-hak lainnya, termasuk harapan kebajikan , menggunakan pertanyaan kerangka
kerja yang komperhensif , dan memastikan bahwa perangkap umum yang dibahas nanti
tidak masuk kedalam analisis.
8. KESIMPULAN
Analisis dampak pemangku kepentingan menawarkan cara formal dalam membawa
kebutuhan dari organisasi dan individu konsikuennya (masyarakat) kepada sebuah keputusan.
Perdagangan merupakan hal yang sulit dan dapat memperoleh keuntungan dari kemajuan
teknik semacam itu. Penting untuk tidak melupakan fakta bahwa konsep analisis dampak
pemangku kepentingan yang dibahas dalam makalah ini perlu diterapkan bukan merupakan
teknik tunggal, tetapi (teknik) bersama-sama sebagai suatu perangkat. Hanya dengan begitulah
suatu analisis yang komprehensif akan dicapai dan keputusan etis dapat dibuat. Bergantung
pada sifat dari keputusan yang akan dihadapi, dan pemangku kepentingan yang akan
terpengaruhi, analisis yang tepat dapat didasarkan pada konsekuensialisme, deontologi, dan
etika kebajikan sebagai kumpulan, atau salah satu dari 5-pertanyaan yang dimodifikasi, standar
moral, atau pendekatan Pastin, dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya masalah
bersama yang timbul. Setiap pendekatan EDM yang komprehensif harus menyertakan tidak
hanya sebuah pemeriksaan dampak keputusan atau tindakan, tetapi juga analisis gap dari
motivasi kebajikan, dan sifat karakter yang terlihat.

9. DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J dan Paul Dunn. 2011. Etika Bisnis & Profesi untuk Direktur,
Eksekutif, dan Akuntan. Jakarta; PT Salemba Empat.