Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KELOMPOK RADIOFARMASI

Penggunaan Radioisotop Atau Radiofarmasi Dalam Bidang


Pengobatan Atau Terapi

DOSEN : HAIYUL FADHLI M.si,Apt

KELOMPOK 1

KELAS : S1VB

ADHA DINDA (1501057)

ALISA OTILIA PAKPAHAN (1501058)

EMNOVERICA UMAR (1501068)

ERNALIA SRI WENENG (1501070)

FELLY CAHYANA (1501072)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 1

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 3

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 4

1.3 Tujuan Dan Manfaat ................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 5

2.1 Radioisotop ................................................................................................... 5

2.2 Dasar penggunaan radioisotop sebagai terapi ............................................... 6

2.3 Syarat Radiofarmaka ..................................................................................... 7

2.4 Pengunaan Radiofarmaka ......................................................................... 9

2.4.1 Tujuan Diagnosis .............................................................................. 9

2.4.2 Tujuan Pengobatan .......................................................................... 12

2.5 Penggunaan Radioisotop Di Bidang Kesehatan .......................................... 15

2.5.1 Radiodiagnostik ................................................................................... 15

2.5.2 Radioterapi ........................................................................................... 15

2.5.3 PET....................................................................................................... 16

2.6 Efek Radiasi Pada Sistem, Organ Atau Jaringan ........................................ 17

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 19

3.1 kesimpulan .................................................................................................. 19

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 20


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan radiofarmaka untuk tujuan terapi maupun diagnosis semakin
luas ketika kemudian diketahui adanya fenomena baru dalam mekanisme
lokalisasi sediaan radiofarmaka di dalam tubuh. Lokalisasi radiofarmaka pada
organ target tidak hanya berdasarkan proses fisiologis dan metabolisme biasa,
tetapi beberapa jenis anomali organ dapat memberikan ”sinyal” yang dapat
menarik, mengakumulasi dan menahan secara spesifik senyawa substrat tertentu,
sehingga radiofarmaka dengan struktur substrat tersebut akan terlokalisasi pada
organ target secara spesifik pula.
Pada dasarnya setiap orang bertanggung jawab penuh atas kesehatannya
sendiri. Secara medis orang sakit akan berobat ke dokter atau tenaga medis, dan
sarana kesehatan. Para dokter akan berusaha mengobati pasien yang menderita
kesakitan melalui beberapa tahap, seperti anamnesa atau mencari keterangan,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, menentukan diagnosa, menentukan
perkembangan penyakit, dan terakhir adalah memberikan terapi atau obat.
Seringkali seorang dokter dalam menentukan diagnosa penyakit pasien
memerlukan pemeriksaan tambahan yang disebut pemeriksaan diagnostik, selain
pemeriksaan fisik yang dilakukan di tempat pemeriksaan. Saat ini dengan
perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran, pemeriksaan penunjang diagnostik
kesehatan telah berkembang dengan pesat. Salah satu jenis pemeriksaan
penunjang yang cukup pesat perkembangannya adalah Ilmu Kedokteran Nuklir.
Melalui kedokteran Nuklir, informasi tentang keadaan organ pasien dan
diagnosis penyakit pasien dapat diperoleh secara akurat dalam waktu relatif
pendek. Diagnosis dengan teknik kedokteran nuklir menggunakan radiofarmaka
digolongkan pada diagnosis secara non invasif, sehingga pasien tidak merasa sakit
atau tetap merasa nyaman. Kemampuan untuk mengamati fungsi organ sangat
sensitif, sehingga tehnik kedokteran nuklir merupakan pemeriksaan diagnotik
yang dapat diandalkan.
Aplikasi teknik nuklir, baik aplikasi radiasi maupun radio-isotop, sangat
dirasakan manfaatnya sejak program penggunaan tenaga atom untuk maksud
damai dilancarkan pada tahun 1953. Positron Emission Tomography (PET)
merupakan metode terbaru untuk mencitrakan fungsi fisiologis jaringan tubuh
manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa itu radioisotop?
1.2.2 Apa dasar penggunaan radioisotop untuk terapi?
1.2.3 Apa saja tujuan penggunaan radiofarmaka?
1.2.4 Apa saja syarat radiofarmaka
1.2.5 Apa saja manfaat radiofarmaka dalam bidang kedokteran dan kesehatan?
1.2.6 Apa saja efek radioaktif dalam bidang kedokteran dan kesehatan?

1.3 Tujuan Dan Manfaat


1.3.1 Untuk mengetahui definisi radioisotop
1.3.2 Untuk mengetahui dasar penggunaan radioisotop untuk terapi
1.3.3 Untuk mengetahui syarat radiofarmaka.
1.3.4 Untuk mengetahui tujuan penggunaan radiofarmaka.
1.3.5 Untuk mengetahui manfaat radiofarmaka dalam bidang kedokteran dan
kesehatan.
1.3.6 Untuk mengetahui efek radioaktif dalam bidang kedokteran dan kesehatan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Radioisotop
Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif yang mampu memancarkan
radiasi, dapat terjadi secara alamiah (radioisotop alam) ataupun disengaja (dibuat
oleh manusia), dan bisa dibuat sesuai dengan keperluan. Radioisotop alamiah
umumnya lebih mahal dari pada radioisotop buatan; hal ini disebabkan karena
berkaitan dengan proses pemurniannya.
Zat radioaktif yang pertama ditemukan adalah uranium. Pada tahun 1898,
Marie Curie bersama-sama dengan suaminya Pierre Curie menemukan dua unsur
lain dari batuan uranium yang jauh lebih aktif dari uranium. Kedua unsur itu
mereka namakan masing-masing polonium (berdasarkan nama Polonia, negara
asal dari Marie Curie), dan radium (berasal dari kata Latin radiare yang berarti
bersinar). Ternyata, banyak unsur yang secara alami bersifat radioaktif. Semua
isotop yang bernomor atom diatas 83 bersifat radioaktif. Unsur yang bernomor
atom 83 atau kurang mempunyai isotop yang stabil kecuali teknesium dan
promesium. Isotop yang bersifat radioaktif disebut isotop radioaktif atau radioi
isotop, sedangkan isotop yang tidak radiaktif disebut isotop stabil. Dewasa ini,
radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil. Jadi disamping radioisotop alami
juga ada radioisotop buatan.
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa radiasi yang
dipancarkan zat radioaktif dapat dibedakan atas dua jenis berdasarkan muatannya.
Radiasi yang berrnuatan positif dinamai sinar alfa, dan yang bermuatan negatif
diberi nama sinar beta. Selanjutnya Paul U.Viillard menemukan jenis sinar yang
ketiga yang tidak bermuatan dan diberi nama sinar gamma.
a. Sinar alfa ( α )
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel sinar alfa
sama dengan inti helium -4, bermuatan +2e dan bermassa 4 sma. Partikel alfa
adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Sinar alfa dipancarkan
dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa
yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah diantara diantara sinar-sinar
radioaktif. Diudara hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat
menembus kulit. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sinar alfa
segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang
dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami
ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan berubah menjadi
atom helium
b. Sinar beta (β)
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar beta merupakan
berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang bemuatan-l e dan
bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta dianggap tidak bermassa
sehingga dinyatakan dengan notasi 0 -1e. Energi sinar beta sangat bervariasi,
mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi daya pengionnya lebih
lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam uadara
kering dan dapat menembus kulit.
c. Sinar gamma ( γ )
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetek berenergi tinggi, tidak bermuatan
dan tidak bermassa. Sinar gamma dinyatakan dengan notasi 0 0y. Sinar gamma
mempunyai daya tembus. Selain sinar alfa, beta, gamma, zat radioaktif buatan
juga ada yang memancarkan sinar X dan sinar Positron. Sinar X adalah radiasi
sinar elektromagnetik. Radioaktivitas merupakan Salah satu gejala yang sangat
penting dari inti atom. Meskipun nuklida-nuklida diikat oleh gaya inti yang cukup
kuat, banyak nuklida yang tidak mantap secara spontan meluruh menjadi nuklida
lain melalui pemancaran partikel alpha, beta dan gamma. Energi gamma lebih
besar dibandingkan dengan energi beta dan alfa. Sedangkan radiasi yang
energinya terkecil adalah partikel alfha.

2.2 Dasar penggunaan radioisotop sebagai terapi


Dalam Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1997
tentang Ketenaganukliran, pada Pasa 11 ayat (4) berbunyi Pemanfaatan adalah
kegiatan yang berkaitan dengan tenaga nuklir yang meliputi penelitian,
pengembangan, penambangan, pembuatan, produksi, pengangkutan, penyimpanan
limbah radioaktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini sesuai dengan
penggunaan senyawa bertanda radioaktif (radiofarmaka) sebagai obat adalah
sejalan dengan upaya pemerintah dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan. Zat radioaktif menurut Undang‐undang
yang sama ayat (9) pada pasal yang sama menyatakan setiap zat yang
memencarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar dari pada 70
kBq/kg (2 nCi/g).
Berdasarkan pasal di atas bahwa tujuan akhir dari pemanfaatan radiasi
berupa senyawa bertanda radionuklida (radiofarmaka) adalah untuk
mensejahterakan rakyat. Hal ini dikarenakan radiofarmaka banyak dimanfaatkan
untuk berbagai diagnosa penyakit dan juga untuk pengobatan.

2.3 Syarat Radiofarmaka


Secara sederhana sediaan radiofarmaka dapat didefinisikan sebagai
sediaan radioaktif terbuka yang dipergunakan secara in vivo untuk tujuan
diagnosis dan/atau terapi. Sebagai suatu sediaan radioaktif yang digunakan dalam
diagnosis dan terapi untuk manusia maka sediaan radioafarmaka harus memenuhi
kriteria yang diatur dan ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan,
Kementerian Kesehatan maupun Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Korelasi dan
perbedaan antara sediaan radiofarmaka dengan sediaan obat pada umumnya dapat
ditunjukkan pada Gambar 1.
Perkembangan teknologi kedokteran nuklir telah mendorong dan menuntut
pengembangan jenis dan karakter baru sediaan radiofarmaka, dari jenis
radiofarmaka yang sederhana menjadi jenis radiofarmaka target spesifik.(
Soenarjo, 2014)
Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu radiofarmaka antara
lain sebagai berikut :

1. Toksisitasnya rendah.
2. Pembuatan dan penggunaannya mudah.
3. Lebih spesifik untuk penyakit tertentu atau terakumulasi pada organ
tertentu.
4. Tingkat bahaya radiasi pada manusia rendah.
5. Untuk visualisasi eksternal sebaiknya merupakan sinar γ (gamma) murni
dengan energi 100-400 keV.
6. Harga relatif murah. (Nurlaili Z., 2015)

2.4 Pengunaan Radiofarmaka

2.4.1 Tujuan Diagnosis


Untuk studi in-vivo, radioisotop direaksikan dengan bahan biologik seperti
darah, urin, serta cairan lainnya yang diambil dari tubuh pasien. Sampel bahan
biologik tersebut selanjutnya direaksikan dengan suatu senyawa bertanda yang
bersifat radioaktif. Senyawa bertanda merupakan senyawa di mana satu atau lebih
atom penyusunnya adalah atom radioaktif dari unsur yang sama tanpa mengubah
struktur letak atom-atom dalam senyawa tersebut. Senyawa bertanda yang dipakai
dalam kedokteran nuklir ini disebut radiofarmaka .
Pada umumnya, radiofarmaka terdiri dari dua komponen, yaitu radioisotop
dan senyawa pembawanya. Radioisotop memungkinkan suatu radiofarmaka dapat
dideteksi dan diketahui lokasinya, sedang senyawa pembawa menentukan tempat
akumulasi radiofarmaka tersebut.
Dalam studi in-vitro, radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien
secara inhalasi melalui saluran pernapasan, melalui mulut maupun injeksi. Kepada
pasien diberikan radiofarmaka yang sesuai dengan jenis pemeriksaan yang
dikehendaki. Berbagai jenis radiofarmaka digunakan untuk mempelajari berbagai
jenis organ. Setelah masuk ke dalam tubuh, radiofarmaka akan menuju ke organ
tertentu. Karena senyawa tersebut dapat memancarkan radiasi-g, maka
keberadaannya di dalam organ tubuh dapat diketahui dengan pemantau radiasi,
baik kinetik maupun distribusinya. Pemantau radiasi yang digunakan dalam
pemeriksaan ini berupa kamera gamma yang dapat mendeteksi sinar-g dari bagian
tubuh pasien yang sedang diperiksa.
Kamera gamma merupakan peralatan kedokteran nuklir yang utama . Alat ini
mampu menghasilkan gambar atau mengukur fungsi dari organ yang sedang
dipelajari. Seringkali juga digunakan kamera gamma yang berputar untuk
membuat gambar organ tubuh dalam tiga dimensi. Penggunaan komputer yang
dirangkai dengan kamera gammaini dapat membantu dalam interpretasi hasil
pemeriksaan. Diagnosis yang menghasilkan gambar dikenal dengan teknik
pencitraan (imaging studies). Gambar citra yang dihasilkan bisa berupa gambar
statik maupun gambar dinamik. Gambar statik memberi informasi kondisi organ
pada suatu saat tertentu saja, sedang gambar dinamik memberikan informasi
berupa perubahan keadaan pada organ atau bagian tubuh selama kurun waktu
tertentu. Studi dinamik mengukur kinerja suatu organ atau sistem tubuh menurut
fungsi waktu. Informasi yang diperoleh dengan teknik pencitraan tersebut, di
samping berupa gambar (citra) organ atau bagian tubuh maupun seluruh tubuh
(whole body imaging), juga dapat berupa kurva-kurva atau angka-angka yang bisa
dianalisis lebih lanjut. Dengan menggabungkan hasil pemeriksaan kedokteran
nuklir dan hasil pemeriksaan sinar-X serta pemeriksaan lainnya, akan diperoleh
hasil analisis yang lengkap mengenai kondisi pasien.
Selain dengan teknik pencitraan, diagnosis dengan kedokteran nuklir dapat
juga dilakukan dengan teknik pemeriksaan tanpa menghasilkan gambar (non-
imaging studies).
Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Menghitung aktivitas radioisotop yang terdapat pada organ atau bagian tubuh
yang mengakumulasi radioisotop dengan menempatkan pemantau radiasi-g di atas
organ atau bagain tubuh yang diperiksa (external counting technique).
2. Menghitung aktivitas radioisotop yang terdapat dalam contoh bahan biologik
yang diambil dari tubuh pasien setelah mendapatkan pemberian radiofarmaka
tertentu.
Perhitungan aktivitas dilakukan menggunakan pencacah radiasi-g berbentuk
sumur (sample counting technique). Baik external counting maupun sample
counting hanya memberikan informasi berupa kurva maupun angka. Informasi
tersebut mencerminkan fungsi organ atau bagian tubuh yang diperiksa. Namun,
teknik ini merupakan cara yang akurat untuk mendapatkan data seperti volume
darah total serta umur eritrosit.
Untuk tujuan diagnosis, pemeriksaan secara kedokteran nuklir dapat dilakukan
dengan mudah, murah, serta dihasilkan informasi diagnosis yang akurat . Dari
diagnosis ini dapat diperoleh informasi tentang fungsi organ tubuh yang diperiksa
serta gambaran anatominya. Hal tersebut dimungkinkan karena sejumlah kecil
radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop sangat mudah dideteksi dengan
pemantau radiasi. Jika suatu jenis radioisotop dimasukkan ke dalam tubuh pasien,
maka distribusi, laju distribusi, dan konsentrasi radioisotop tersebut sangat mudah
dilacak menggunakan pemantau radiasi.
Dewasa ini, peranan kedokteran nuklir cukup besar dalam menunjang
diagnosis penyakit penyakit secara cepat, tepat dan seringkali lebih dini. Hampir
semua cabang ilmu kedokteran dapat memanfaatkan peranan kedokteran nuklir.
Tes diagnostik dengan radioisotop dapat digunakan untuk mengetahui:
1. Baik tidaknya fungsi organ tubuh.
2. Proses penyerapan berbagai senyawa tertentu oleh tubuh.
3. Menentukan lokasi dan ukuran tumor dalam organ tubuh.
Radioisotop yang digunakan dalam teknik nuklir kedokteran berumur paro
(T1/2) sangat pendek, mulai dari beberapa menit sampai beberapa hari saja. Di
samping berwaktu paro pendek, juga berenergi rendah dan diberikan dalam dosis
yang kecil saja, mengingat ada efek sampingan dari radiasi yang merugikan
terhadap tubuh apabila radioisotop tersebut tinggal terlalu lama di dalam tubuh.
Pemeriksan dilakukan untuk mengevaluasi morfologi dan fungsi suatu organ.
Hingga saat ini radiofarmaka yang banyak digunakan adalah dalam bentuk
senyawa bertanda teknesium-99m, yang merupakan radioisotop ideal utuk
diagnosis karena mempunyai waktu paro yang relatif singkat (6 jam) dengan
energi yang relatif rendah (140 keV) serta pemancar γ murni. Dengan
berkembangnya teknologi pengadaan radioisotop teknesium-99m, yaitu dapat
diperoleh dengan sistem generator 99 Mo-99m Tc yang pemisahannya dapat
dilakukan di rumah sakit, maka radiofarmaka yang menggunakan radioisotop
tersebut dapat dibuat dalam bentuk kit kering yaitu radiofarmaka setengah jadi
yang dikemas secara terpisah dengan radioisotop/radionuklidanya. Secara prinsip,
radiofarmaka yang dimasukkan ke dalam tubuh akan diangkut oleh darah dan
didistribusikan ke organ tubuh yang diinginkan misalnya ginjal, jantung, hati, dan
lain-lain, sesuai dengan jenis radiofarmaka yang digunakan. Dengan metode
pencitraan menggunakan alat tertentu misalnya kamera gamma akan diperoleh
gambaran organ yang memberikan informasi mengenai morfologi dan fungsi dari
organ tersebut. Pemeriksaan fungsi organ ini merupakan keunggulan dari
kedokteran nuklir terhadap metode diagnosis yang lain seperti sinar –X,
ultrasonografi. Selain itu, akibat radiasi yang ditimbulkan oleh suatu radiofarmaka
umumnya jauh lebih kecil dari pada pemeriksaan dengan sinar-X. (Nurlaili Z.,
2015)

Keuntungan penggunaan teknik nuklir untuk diagnosis :

1. Sangat sensitive.
2. Tidak mennimbulkan rasa sakit.
3. Tidak memberikan efek samping sehingga dapat digunakan hamper semua
penderita penyakit yang sudah parah keadaannya.
4. Evaluasi anatomis juga dapat untuk mengetahui fungsi organ
tertentu.(Nurlaili Z., 2015).

2.4.2 Tujuan Pengobatan


Untuk tujuan terapi, pengobatan dengan radiasi baru dilakukan apabila
pengobatan cara biasa mengalami kegagalan. Pengobatan ini dilakukan dengan
cara memberikan obat radioaktif pada pasien. Radioisotop pemancar campuran
partikel dan gamma mempunyai keuntungan tersendiri karena radiasi-g yang
dipancarkannya memungkinkan dilakukannya penentuan parameter yang perlu
diketahui dalam radioterapi, seperti laju pengambilan radioisotop oleh organ yang
diobati, umur paro efektif dari radioisotop, dan lain-lain.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan radioisotop untuk
tujuan terapi, antara lain jenis dan energi radiasi serta waktu paro dari radioisotop.
Dalam praktik saat ini, radioisotop pemancar partikel-b merupakan unsur yang
paling banyak digunakan untuk terapi . Sifat yang menguntungkan dari partikel b
ini adalah dapat memindahkan seluruh energi yang dibawanya kepada jaringan
yang ditempati sejauh beberapa mm saja. Oleh sebab itu, sel kanker pada jaringan
yang ditempati radioisotop akan rusak atau mati oleh radiasi, sementara sel-sel
normal yang berada di sekitarnya hanya sedikit mengalami kerusakan.
Radioisotop yang digunakan juga dipilih yang mempunyai T1/2 relatif panjang,
dari beberapa puluh jam sampai beberapa hari. Beberapa radioisotop sudah
digunakan secara luas untuk terapi sejak 1930.

Berdasarkan cara pemakaiannya dapat dibagi 2 kelompok :


a. Dengan cara penyinaran dari luar (eksternal), antarlain menggunakan
cobalt-60, cesium-137.
b. Dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh (internal), antara lain
menggunakan iodium-131 untuk pengobatan hipertiroid dan kanker tiroid.
(Nurlaili Z., 2015)

Berdasarkan Sumber radiasi :

a. External source

Radioterapi eksternal dilakukan dengan menggunakan sumber radioaktif


yang berada di luar tubuh.Sinar radiasi diarahkan ke jaringan yang sakit sehingga
sinar dapat menghasilkan radiasi dosis tinggi dan menghindari jaringan sehat di
sekitarnya. (ANSTO)

b. Internal source

Brachytherapy menggunakan sumber yang ditanamkan ke dalam tubuh di


tempat yang akan diiradiasi. Sumber Brachytherapy dapat ditempatkan pada kulit
atau ditanamkan secara internal, dan dapat ditinggalkan sementara atau permanen
pada pasien.

Dimana sumbernya internal, berbagai radioisotop bisa digunakan. Iridium-


192, misalnya, adalah diproduksi dalam bentuk kawat dan diperkenalkan melalui
kateter ke area target - biasanya di kepala Atau payudara Implan ditinggalkan
untuk waktu yang dibutuhkan dan kemudian dilepas ke tempat penyimpanan
terlindung. Itu Prosedur lebih murah daripada menggunakan radiasi eksternal dan
memberikan radiasi keseluruhan yang lebih sedikit ke tubuh. (ANSTO)

c. Extracorporeal source

Penyinaran ekstrakorporeal terdiri dari pengambilan bagian darah pasien,


penyinaran dilakukan diluar tubuh dengan foton gamma dari radioisotope dari
sumber eksternal, selanjutnya setelah diradiasi darah dikembalikan ke
sirkulasinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan radisional pada sel
sumsum tulang yang normal
Beberapa radioisotope yang digunakan untuk diagnose dan terapi :

Radioisotope Kegunaan
Cromium-51 Digunakan untuk memberi label pada sel darah merah untuk
pengukuran volume dan waktu hidup sel darah serta
penyerapan limfa dan menghitung kehilangan protein
gastro-intestinal.
Iodine-131 Digunakan untuk mendiagnosis dan mengobati berbagai
penyakit yang berhubungan dengan tiroid manusia.
Iridium-192 Disertakan dalam bentuk kawat untuk digunakan sebagai
sumber radioterapi internal untuk pengobatan Kanker,
termasuk kepala dan payudara.
Phosphorus-32 Digunakan dalam pengobatan kelebihan sel darah merah
Samarium-153 Digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang berhubungan
dengan metastase tumor tulang primer.
Technetium-99m Digunakan untuk menggambarkan otak, tiroid, paru-paru,
hati, limpa, ginjal, kantung empedu, aliran darah jantung,
kerangka tubuh, sumsum tulang, Dan untuk mendeteksi
infeksi
Yttrium-90 Digunakan untuk terapi kanker hati
Gallium-67 Digunakan dalam pencitraan untuk mendeteksi tumor dan
infeksi
Iodine-123 Digunakan dalam pencitraan untuk memantau fungsi tiroid
dan mendeteksi disfungsi adrenal.
Thallium-201 Digunakan dalam pencitraan untuk mendeteksi lokasi otot
jantung yang rusak.
Carbon-11 digunakan dalam Positron Emission Tomography untuk
Nitrogen-13 mempelajari fisiologi Dan patologi otak; Untuk mendeteksi
Oxygen-15 lokasi fokus epilepsi; Dan dalam studi demensia, dan
Fluorine-18 Psikiatri dan neurofarmakologi. Mereka juga digunakan
mendeteksi Masalah jantung dan diagnosa beberapa jenis
kanker.
Kobalt-57 Diagnosis anemia pernisius dan penurunan absorpsi usus
Indium-111 Pencitraan metastatik pada pasien dengan kanker prostat
yang telah dibuktikan dengan biopsy
Xenon-133 Pencitraan ventilasi paru
Rubidium-82 Pemeriksaan perfusi miokard
Stronsium-89 Terapi paliatif nyeri tulang pada lesi tulang osteoblastik
metastase
(ANSTO , PIO NAS)

2.5 Penggunaan Radioisotop Di Bidang Kesehatan


Terapi radiasi adalah cara pengobatan dengan memakai radiasi. Terapi seperti
ini biasanya digunakan dalam pengobatan kanker. Pemberian terapi dapat
menyembuhkan, mengurangi gejala, atau mencegah penyebaran kanker,
bergantung pada jenis dan stadium kanker.

2.5.1 Radiodiagnostik
Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang diagnostik menggunakan
perangkat radiasi sinar pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh secara
anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal sebagai radiolog. Salah satu contoh
radiodiagnostik adalah rontgen. Radiodiagnostik dilakukan sebelum melakukan
radioterapi.
I-131 digunakan sebagai terapi pengobatan untuk kondisi tiroid yang over
aktif atau kita sebut hipertiroid. I-131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat
dari iodin yang selalu memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini dimasukkan
kedalam tubuh dalam dosis yang kecil, maka I-131 ini akan masuk ke dalam
pembuluh darah traktus gastrointestinalis. I-131 dan akan melewati kelenjar tiroid
yang kemudian akan menghancurkan sel-sel glandula tersebut. Hal ini akan
memperlambat aktifitas dari kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat
merubah kondisi tiroid.

2.5.2 Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk
mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel normal
sekecil mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi tertutup
pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas elektron. Baik sel-sel
normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini. Radiasi akan
merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel
kanker akan terhambat. Sekitar 50 – 60% penderita kanker memerlukan
radioterapi. Tujuan radioterapi adalah untuk pengobatan secara radikal, yaitu
untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker,
selain itu juga bertujuan untuk mengurangi resiko kekambuhan dari kanker. Dosis
dari radiasi ditentukan dari ukuran, luasnya, tipe, dan stadium tumor bersamaan.
Sumber radiasi terbuka yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-226,
yang dikemas dalam bentuk jarum, biji sebesar beras, atau kawat dan dapat
diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary) seperti kanker serviks, kanker paru,
dan kanker esopagus, dalam organ/jaringan (interstisial) seperti kanker prostat,
kanker kepala dan leher, kanker payudara, atau dalam lumen (intraluminal).
Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:
 Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan
radioterapi, baik dengan atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan
lain seperti pembedahan dan kemoterapi.
 Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan,
radioterapi berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan
membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar.
 Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi
dapat mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti
rasa nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.
 Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan
kemoterapi yang sering disebut sebagai “adjuvant therapy” atau terapi
tambahan dengan tujuan agar terapi bedah dan kemoterapi yang diberikan
lebih efektif.

2.5.3 PET
PET merupakan salah satu hasil di garis depan pengembangan radioisotop
untuk dunia kedokteran. PET adalah metode visualisasi fungsi tubuh
menggunakan radioisotop pemancar positron.Oleh karena itu, citra (image) yang
diperoleh adalah citra yang menggambarkan fungsi organ tubuh. Kelainan dan
ketidaknormalan fungsi atau metabolisme di dalam tubuh dapat diketahui dengan
metode pencitraan (imaging) ini. Hal ini berbeda dengan metode visualisasi tubuh
yang lain, seperti MRI (magnetic resonance imaging) dan CT (computed
tomography). MRI dan CT scans adalah visualisasi anatomi tubuh yang
menggambarkan bentuk organ tubuh. Dengan kedua metode ini, yang terdeteksi
adalah kelainan dan ketidaknormalan bentuk organ.

2.6 Efek Radiasi Pada Sistem, Organ Atau Jaringan


1. Darah dan Sumsum Tulang Merah
Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat mengalami
perubahan akibat radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan jumlah sel.
Komponen seluler darah yang lain ( butir pembeku dan darah merah ) menyusun
setelah sel darah putih. Sumsum tulang merah yang mendapat dosis tidak terlalu
tinggi masih dapat memproduksi sel-sel darah merah, sedang pada dosis yang
cukup tinggi akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir dengan kematian (
dosis lethal 3 – 5 sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka orang
yang terkena radiasi akan menderita kecenderungan pendarahan dan infeksi,
anemia dan kekurangan hemoglobinefek stokastik pada penyinaran sumsum
tulang adalah leukemia dan kanker sel darah merah.
2. Saluran Pencernaan Makanan
Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual,
muntah, gangguan pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. kemudian
dapat timbul karena dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah. Efek stokastik
yang dapat timbul berupa kanker pada epithel saluran pencernaan.
3. Organ Reproduksi
Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah sterilitas,
sedangkan efek genetik (pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau kromosom
pada sel kelamin.
4. Sistem Syaraf
Sistem syaraf termasuk tahan radiasi.Kematian karena kerusakan sistem
syaraf terjadi pada dosis puluhan sievert.
5. Mata
Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek somatik non
stokastik yang masa tenangnya lama (bisa bertahun-tahun).
6. Kulit
Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan besarnya dosis,
mulai dengan kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan.efek somatik
stokastik pada kulit adalah kanker kulit.
7. Tulang
Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum tulang dan selaput
dalam serta luar pada tulang. kerusakan pada tulang biasanya terjadi karena
penimbunan stontium-90 atau radium-226 dalam tulang. Efek somatik stokastik
berupa kanker pada sel epithel selaput tulang.
8. Kelenjar Gondok
Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui hormon
tiroxin yang dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran luar
namun mudah rusak karena kontaminasi internal oleh yodium radioaktif.
9. Paru-paru
Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran dari gas, uap
atau partikel dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang terhirup melalui
pernafasan.
BAB III

PENUTUP
3.1 kesimpulan
 Radioisotop adalah isotop dari zat radioaktif yang mampu memancarkan
radiasi, dapat terjadi secara alamiah (radioisotop alam) ataupun disengaja
(dibuat oleh manusia), dan bisa dibuat sesuai dengan keperluan.
 Penggunaan radioisotop dalam bidang kedokteran dan kesehatan yaitu :
a. Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang diagnostik menggunakan
perangkat radiasi sinar pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh
secara anatomi.
b. Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk
mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel
normal sekecil mungkin. Kegunaan radioterapi yaitu mengobati,
mengontrol, mengurangi gejala dan membantu pengobatan lainnya
c. PET adalah metode visualisasi fungsi tubuh menggunakan radioisotop
pemancar positron. Oleh karena itu, citra (image) yang diperoleh adalah
citra yang menggambarkan fungsi organ tubuh.
 Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu radiofarmaka antara
lain sebagai berikut :
• Toksisitasnya rendah.
• Pembuatan dan penggunaannya mudah.
• Lebih spesifik untuk penyakit tertentu atau terakumulasi pada organ
tertentu.
• Tingkat bahaya radiasi pada manusia rendah.
• Untuk visualisasi eksternal sebaiknya merupakan sinar γ (gamma) murni
dengan energi 100-400 keV.
• Harga relatif murah. (Nurlaili Z., 2015)
 Tujuan penggunaan radiofarmaka adalah :
1. Tujuan diagnosis
2. Tujoan pengobatan
Daftar Pustaka

“5. Diagnosis dengan Radioisotop Untuk studi” (1960).


Inti, F., Bidang, D. I. dan Biologi, D. A. N. (tanpa tanggal) “Fisika inti di bidang
kedokteran, kesehatan, dan biologi 1.”
Nurlaila_Z.pdf (2015).
Prawestiana, V. (2011) “Penggunaan radioisotop bagi kesejahteraan umat
manusia.”
Radiofarmaka, R. D. A. N. et al. (2014) “Jurnal radioisotop dan radiofarmaka,”
17(1).
Radioisotop, P. dan Berbagai, D. I. (tanpa tanggal) “Penggunaan radioisotop di
berbagai bidang.”
Rosilawati, N. E., Nasution, I. dan Wahyu, T. (2017) “Penggunaan Radiofarmaka
Untuk Diagnosa Dan Terapi Di Indonesia Dan Asas Keamanan Penggunaan
Obat,” 3(1), hal. 60–73.
Rumampuk, J. F. (2015) “PENGGUNAAN RADIOISOTOP PADA DETEKSI
DINI,” 3, hal. 3–6.