Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN

Fraktur adalah terputusnya kontiunitas jaringan tulang yang umumnya


disebabkan oleh rudapaksa. Sedangkan menurut Rahjin Anwar Kenneth Tuson
dan Shah Alam Khan, dalam buku Classfication and Diagnosis in Orthopedic
Trauma menyebutkan fraktur adalah rusaknya kontiunitas tulang yang disebabkan
oleh tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang diserap oleh tulang.
Sedangkan pengertian fraktur dari fraktur patalogik, fraktur adalah suatu patahan
pada kontiunitas struktur tulang. Fraktur dapat terjadi akibat pristiwa trauma
tunggal, tekanan yang berulang-ulang atau kelemahan abnormal pada tulang.
Fraktur dapat dibagi menjadi dua fraktur terbuka (kalau kulit diatasnya masih utuh
atau biasa dikatakan fraktur simple) dan fraktur terbuka atau compound (kalau
kulit atau salah satu dari organ tubuh tertembus dan biasa dikatakan fraktur
kompleks) yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.
Pemeriksaan menunjukan adanya nyeri diam, nyeri tekan, dan nyeri gerak,
keterbatasan gerak serta deformitas pada extremitas adalah dugaan adanya fraktur
setelah trauma timbul. Fraktur ini dapat terjadi pada semua umur, tetapi paling
sering ditemukan pada usia pasien anak-anak yang usianya di atas 3 tahun. Hal ini
dihubungkan dengan berbagai macam aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak.
Berdasarkan gambaran epidemiologi, fraktur merupakan salah satu masalah
kesehatan yang menyebabkan kecacatan pada anggota gerak tubuh yang
mengalami fraktur. Angka kecacatan fisik akibat fraktur paling banyak
dibandingkan dengan semua cedera ataupun trauma yang disebabkan karena
kecelakaan lalu lintas.
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7
juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang
mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki
prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar
46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi (Depkes RI, 2007).

Fraktur batang Tibia dan Fibula merupakan Fraktur tulang panjang yang
sering terjadi, terhitung hamper 500.000 kasus per tahun di Amerika Serikat (
2

Koval, 2002). Fraktur batang Tibia dan Fibula yang lazim disebut patah tulang
Cruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibanding fraktur batang tulang
panjang lainnya. Periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada derah yang
hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen
frakturnya bergeser (De Jong, 2005). Karena terletak subkutan, tibia lebih sering
mengalami fraktur dan lebih sering mengalami fraktur terbuka, dibandingkan
tulang panjang lainnya (Apley,1995), hal ini menyebabkan mudahnya terjadi
fraktur cruris terbuka yang menimbulkan masalah dalam pengobatan.
3

BAB II
LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn.S
Umur : 21 tahun
Pekerjaan : Pegawai
Alamat : Dengkel wetan, RT 06 RW 03, Kecamatan Ngluar,
Magelang
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Status perkawinan : Belum kawin
Tanggal lahir : 11 Juni 1991
Tanggal pemeriksaan : 17 Juli 2013 pukul 14.40
Tanggal kejadian : 15 Juli 2013 pukul 07.15

2. PEMERIKSAAN
2.1 Anamnesis
 Tanggal 17 Juli 2013
Keluhan Utama :
Nyeri tungkai bawah kanan

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien membawa surat rujukan dnegan diagnosis Fraktur 1/3
proksimal dextra, terpasang bidai. Saat kejdian sendiri mengendari
motor, helm (+), motor dengan kecepatan tinggi, didepan terdapat
motor yang berbelok langsung, untuk menghindar pasien menghindar
banting kearah kanan. Lalu terjatuh keselokan dengan kedalaman ±
70 cm. Dengan posisi semua badan terguling jatuh keselokan , kaki
bawah kanan terkena tanggul, kepala tidak tebentur (-), ingat (+),
sadar (+), mual/muntah (-), sakit kepala (-), bengkak pada kaki kanan
(+), kemerahan (+), gerakan terbatas (+), BAK dbn, BAB dbn.
4

Riwayat pengobatan :
Setelah kejadian pasien langsung dibawa ke RS.Muntilan, dipasang
spalc dan dirawat hingga hari rabu langsung dirujuk ke RST
dr.Soedjono Magelang untuk penanganan lebih lanjut.

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat Trauma : Disangkal
Alergi : Disangkal
Operasi : Disangkal

Riwayat penyakit keluarga :


Diabetes Melitus : Disangkal
Hipertensi : Disangkal
Jantung : Disangkal
Asma : Disangkal
Alergi : Disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi :


Keadaan sosio-ekonomi pasien sedang. Pasien dirawat di bangsal
seruni dengan jaminan JAMKESMAS.

2.2 Pemeriksaan Fisik


 KU : Sakit sedang
 Kesadaran/GCS : compos mentis/15
 Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
 Vital Sign
o Tekanan darah : 100/70mmhg
o Nadi : 96x/ menit
o Suhu : 37 C
o Pernafasan : 20 x/ menit
 Kepala : CA -/- , SI -/-
 Pupil isokor : 3 milimeter
5

 Kepala : normocephal
 Thorax :
o Cor : SI dan SII normal regular, murmur (-)
o Pulmo : vesicular +/+, ronkhi -/- , wheezing -/-
 Abdomen : BU (+) normal, supel, hepar dan lien tidak teraba.
 Ekstremitas :
Superior Inferior
Akral dingin (-/-) (-/-)
Akral sianosis (-/-) (-/-)
Oedem (-/-) (+/-)
Capillary Refill < 2” < 2”

 Regio cruris dextra :


 Look : Terpasang spalk dan bidai (+), deformitas SDE,
oedem (-), false movement SDE, tidak tampak
adanya rembesan darah.
 Feel : oedem (-), nyeri tekan (+), pulsasi (+), krepitasi (-
), akral hangat
 Movement : ROM terbatas, nyeri ketika digerakkan, jari-jari
dapat digerakkan, krepitasi (-)
6

Hasil Rontgen cruris dextra AP Lateral

Kesan : Fraktur komplit os Tibia dan fibula 1/3 proximal


7

Foto polos thorax PA:

Kesan :
Foto dalam batas normal

2.3 Assessment
Closed Fracture cruris 1/3 proximal dextra

2.4 Planning Diagnostik


Lab darah lengkap, CT/BT
Foto rontgen cruris dextra posisi AP/Lateral
8

2.5 Terapi
Rencana operasi besosk
Persiapan :
Puasa pre op
Konsul anestesi
Terapi:
Inf. RL : D5 2:1 20-30 tpm
Inj. Ketorolac 2X30mg
Premed:
Celocid 2x1gr

3. FOLLOW UP
Subjektif Objektif Assessment Planning

18 juli 2013 Pre orif

Puasa pre op (+), keluhan (-) Keadaan umum : baik Fracture cruris 1/3 Therapy Bangsal
BAB (-) 3hr, BAK dbn proksimal dextra
Kesadaran/GCS: CM/15 Monitoring KU dan
vital sign
Vital sign
Inf. RL : D5 2:1 20-
TD : 120/80 mmhg 30 tpm
Inj. Ketorolac
N : 80 x/mnt 2X30mg
S : 36 ˚C Premed
Celocid 2x1gr
RR: 16 x/mnt

Status generalis :
Terapi post orif:
thoraks, abdomen, dan
Inf. RL : D5 2:1 20-
ekstremitas dalam batas normal
30 tpm
SL R.Cruris dextra: Inj. Ketorolac
2X30mg
L: Terpasang bidai dan spalk, Celocid 2x1gr
rembesan darah (-), edema (-). Vit C 2x200mg tab

F: NT (+), edema (-), panas (-), Mobilisasi NWB


pulsasi nadi (+). (pakai 2 kruk)

M: Jari kami masih dapat Diet bebas


digerakan, gerakan terbatas (+)
Foto ulang:

Cruris dextra AP,


Lateral
9

Tanggal 19/07/2013

Post op H-1,Bengkak pada Keadaan umum : baik Fracture cruris 1/3 Therapy Bangsal
kaki kanan, makan/minum proksimal dextra post
+/+, mual/muntah -/- , BAB Kesadaran/GCS: CM/15 op H-1 Monitoring KU dan
(-) 4hr, BAK dbn vital sign
Vital sign
Inf. RL : D5 2:1 20-
TD : 110/70 mmhg 30 tpm
Inj. Ketorolac
N : 128 x/mnt 2X30mg
Celocid 2x1gr
S : 36 ˚C Vit C 2x200mg tab
RR: 20 x/mnt

Status generalis :

thoraks, abdomen, dan


ekstremitas dalam batas normal

SL R.Cruris dextra:

L: Terpasang perban dan


hipavix, rembesan darah (-),
edema (+) pitting.

F: NT (+), edema (+), panas


(+), pulsasi nadi (+).

M: Jari kami masih dapat


digerakan, gerakan terbatas (+)

Laporan Operasi :

1. Pasien supine dengan Spinal Anastesi


2. Desinfeksi pada daerah operasi
3. Insisi anterior approach hingga tampak fraktur
4. Dilakukan orif dengan nomor plate 7 dan screw 4,5
5. Penjahitan daerah insisi lapis demi lapis
6. Disinfeksi luka jahitan dan ditutup dengan hypavix
7. Operasi selesai
10

Hasil Rontgen Post Orif 19 Juli 2013:

Kesan:
 Fractura comminutive os tibia dextra 1/3 proximal, dalam fixasi 1 buah
flat, 6 buah screw kedudukan baik.
 Fractura comminutif os fibula dextra 1/3 proximal, kedudukan cukup
11

Subjektif Objektif Assessment Planning

Tanggal 20/07/2013

Post op H-2,Bengkak pada Keadaan umum : baik Fracture cruris 1/3 Therapy Bangsal
kaki kanan, makan/minum proksimal dextra post
+/+, mual/muntah -/- , BAB Kesadaran/GCS: CM/15 op H-2 Monitoring KU dan
(-) 5hr, BAK dbn vital sign
Vital sign
Aff infus
TD : 110/80 mmhg Terapi ganti oral:
Cipro 2x500mg
N : 100 x/mnt Paracetamol
2x500mg
S : 36.2 ˚C Vit C 2x200mg tab
RR: 16 x/mnt
Mobilisasi bertahap
Status generalis : NWB (pakai 2 kruk)

thoraks, abdomen, dan


ekstremitas dalam batas normal

SL R.Cruris dextra:

L: Terpasang perban dan


hipavix, rembesan darah (-),
edema (+) pitting.

F: NT (+), edema (+), panas


(+), pulsasi nadi (+).

M: Jari kami masih dapat


digerakan, gerakan terbatas (+)

Tanggal 21/07/2013

Post op H-3,Bengkak pada Keadaan umum : baik Fracture cruris 1/3 Therapy Bangsal
kaki kanan (+), proksimal dextra post
makan/minum +/+, Kesadaran/GCS: CM/15 op H-3 Monitoring KU dan
mual/muntah -/- , BAB (-) vital sign
5hr, BAK dbn Vital sign
Terapi :
TD : 110/80 mmhg Cipro 2x500mg
Paracetamol
N : 80 x/mnt 2x500mg
Vit C 2x200mg tab
S : 36 ˚C
Mobilisasi bertahap
RR: 20 x/mnt
NWB (pakai 2 kruk)
Status generalis : Fisioterapi

thoraks, abdomen, dan


ekstremitas dalam batas normal

SL R.Cruris dextra:
12

L: Terpasang perban dan


hipavix, rembesan darah (-),
edema (+).

F: NT (+), edema (+), panas (-),


pulsasi nadi (+).

M: Jari kami masih dapat


digerakan, gerakan terbatas (+)

Tanggal 22/07/2013

Post op H-4,Bengkak pada Keadaan umum : baik Fracture cruris 1/3 Therapy Bangsal
kaki kanan (+), proksimal dextra post
makan/minum +/+, nyeri Kesadaran/GCS: CM/15 op H-4 Pasien boleh pulang
bekas operasi (+),
mual/muntah -/- , BAB (-) Vital sign
5hr, BAK dbn Mobilisasi bertahap
TD : 130/70 mmhg NWB (pakai 2 kruk)
Fisioterapi
N : 82 x/mnt

S : 36 ˚C

RR: 20 x/mnt

Status generalis :

thoraks, abdomen, dan


ekstremitas dalam batas normal

SL R.Cruris dextra:

L: Terpasang perban dan


hipavix, rembesan darah (-),
edema (+).

F: NT (+), edema (+), panas (-),


pulsasi nadi (+).

M: Jari kami masih dapat


digerakan, gerakan terbatas (+)
13

BAB III
PEMBAHASAN

III.1. MEKANISME TERJADINYA TRAUMA


Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi
didapatkan bahwa pasien Nn. S mengalami fraktur komplit cruris 1/3 proximal
dextra. Mekanisme terjadinya fraktur pada pasien tersebut adalah sebagai berikut :

Pasien jatuh dengan posisi bertumpu pada tungkai bawah kanan



Daerah kruris mengalami tekanan berlebih pada
komponen tulang, sendi, ligament, maupun jaringan lunak

Os tibia dan fibula tidak mampu menahan beban yang diteruskan sehingga terjadi
fraktur

Tulang yang fraktur menimbulkan terputusnya pembuluh darah diantara kedua
fragmen tulang

Ekstravasasi darah yang yang diliputi oleh periosteum

Hematoma dan inflamasi

Periosteum yang teregang menyebabkan saraf sekitar teregang

Nyeri pada daerah fraktur

III.2. PRINSIP MANAGEMENT FRAKTUR


Ada lima tujuan pengobatan fraktur :
 Menghilangkan nyeri
 Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen fraktur
 Mengharapkan dan mengusahakan union
14

 Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan fungsi


otot dan sendi, mencegah atrofi otot, adhesi dan kekakuan sendi, mencegah
terjadinya komplikasi seperti dekubitus, trombosis vena, infeksi saluran
kencing serta pembentukan batu ginjal
 Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir pengobatan
fraktur

Enam prinsip umum pengobatan fraktur


 Jangan membuat keadaan lebih jelek
 Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat
 Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
 Mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami
 Bersifat realistik dan dan praktis dalam memilih jenis pengobatan
 Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual

MANAGEMENT TERAPI YANG DIBERIKAN PADA PASIEN

III.3. MEDIKAMETOSA
a. Infus RL dan D5
o Komposisi: natrium 130 mEq/L, klor 109 mEq/L, kalium 4mEq/L,
kalsium 3 mEq/L.
o Indikasi: mengembalikan cairan ekstraselulser yang hilang.

b. Injeksi celocid
- Komposisi: cefuroxim.
- Indikasi: infeksi saluran pernapasan bawah, otitis media, UTI,
pielonefritis, sistitis dan uretritis, infeksi kulit dan jaringan lunak, gonore
akut, uretritis dan servisitis gonokokal uncomplicated.
- Dosis: 3x750 mg, intramuscular/intravena.
- Efek samping: mual, muntah, nyeri kepala, eosinofilia, peningkatan SGPT
dan SGOT.
15

c. Ketorolac
Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan
aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac tromethamine
menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang
bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat.
Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek
terhadap nyeri akut sedangsampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total
Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari.Ketorolac secara parenteral
dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti keanalgesik
alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari.

III.4. OPERATIF
Reduksi Terbuka Fiksasi Interna
Penatalaksanaan fraktur dapat dibagi menjadi teknik operatif dan
nonoperatif. Tekniknonoperatif terdiri dari reduksi tertutup bila perlu dilanjutkan
dengan periode imobilisasi dengan pembalut/ membebat. Reduksi tertutup
diperlukan apabila fraktur terangulasi secara signifikan.Bila fraktur tidak dapat
direduksi, intervensi surgical mungkin diperlukan.

Indikasi intervensi surgical termasuk antara lain :


 Penatalaksanaan tertutup gagal.
 Fraktur tidak stabil yang tidak dapat dipertahankan pada posisi tereduksi.
 Fraktur dislokasi intra-artikuler (>2mm)
 Pasien dengan fraktur yang telah diketahui sembuh dengan buruk bila
dilakukanpenanganan tertutup (fraktur collum femoris)
 Fraktur avulsi besar yang mengganggu fungsi otot-tendo, atau ligament dari
sendi yangterkena (Fraktur patella)
 Fraktur patologis yang akan datang
 Fraktur traumatic multiple dengan fraktur yang terlibat : pelvis, dfemur, atau
vertebra.
 Fraktur terbuka tidak stabil, atau terkomplikasi.
 Non-unionataumal-unionyang telah gagal merespon penanganan nonoperatif
16

Kontraindikasi untuk rekonstruksi surgical adalah antara lain:


 Infeksi aktif (lokal ataupun sistemik) atau osteomyelitis
 Jaringan lunak yang membahayakan fraktur atau pendekatan bedah karena
buruknyakualitas jaringan lunak yang disebabkan cedera jaringan lunak atau
terbakar, bekas lukabedah sebelumnya,atau infeksi aktif
 Kondisi medis yang mengkontraindikasikan pembedahan atau anestesi (infark
myokard baru-baru saja)
 Kasus-kasus dimana amputasi akan memberikan hasil yang lebih baik untuk
pasien.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif, prinsip


pengobatan fraktur ada empat (4R), yaitu:
Recognition : diagnosis dan penilaian fraktur
Mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinik
dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan:
o Lokalisasi fraktur
o Bentuk fraktur
o Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan.
o Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.

Reduction atau Reposisi : reduksi fraktur apabila perlu


Restorasi fragmen fraktur untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima atau
mengembalikan fragmen ke posisi anatomi
Posisi yang baik adalah :
 Alignment yang sempurna
 Aposisi yang sempurna
Retention / Retain
– imobilisasi fraktur
17

Rehabilitation
– mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.

Alignment fragmen lebih penting daripada aposisi, asalkan diperoleh


alignment yang normal, tumpang-tindihnya permukaan fraktur mungkin dapat
diterima. Sedangkan adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi
fraktur. Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya
seperti semula (kecuali rotasi) karena tulang mempunyai kemampuan untuk
menyesuaikan bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodelling).
Pengecualian pada fraktur yang melibatkan permukaan sendi. Pada fraktur intra-
artikuler diperlukan reduksi anatomis sesempurna mungkin dan sedapat mungkin
mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan,
deformitas serta perubahan osteoartritis.
Pembengkakan bagian lunak selama 12 jam pertama akan mempersukar reduksi
sehingga tidak boleh ada keterlambatan dalam menangani fraktur .

Beberapa situasi yang tidak memerlukan reduksi :


 Bila pergeseran tidak banyak atau tidak ada
 Bila pergeseran tidak berarti (misal : fraktur klavikula)
 Bila reduksi tampaknya tak akan berhasil (misal : fraktur kompresi vertebra)

Reduksi Tertutup:
 Bagian distal tungkai ditarik ke garis tulang
 Sementara fragmen-fragmen terlepas, fragmen itu direposisi (dengan
membalikkan arah kekuatan asal kalau itu dapat diperkirakan)
 Penjajaran disesuaikan ke setiap bidang
 Paling efektif bila periosteum dan otot pada satu sisi fraktur tetap utuh karena
pengikatan jaringan lunak mencegah over-reduksi dan menstabilkan fraktur
setelah direduksi
18

 Fraktur tertentu (misal batang femur) sulit direduksi dengan manipulasi


karenatarikan otot yang sangat kuat dan membutuhkan traksi yang lama
Indikasi : semua fraktur dengan pergeseran minimal, sebagian besar pada
frakturanak-anak dan pada fraktur yang stabil setelah reduksi

Reduksi terbuka

Yaitu reduksi bedah pada fraktur dengan penglihatan langsung


Indikasi
 Bila reduksi tertutup gagal
 Bila terdapat fragmen artikular besar yang perlu ditempatkan secara tepat
 Langkah pertama untuk fiksasi internal
 Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan
 Mobilisasi dini
 Fraktur multiple
 Fraktur patologis
 Fraktur intraartikuler
 Terdapat interposisi jaringan di antara kedua fragmen
 Diperlukan fiksasi rigid
 Eksisi fragmen yang kecil
 Fraktur avulsi

Retention : imobilisasi fraktur

Fiksasi internal
Fragmen tulang dapat diikat dengan sekrup, pen atau paku pengikat, plat logam
yang diikat dengan sekrup, paku intramedular yang panjang (dengan atau tanpa
sekrup pengunci), circumferential bands, atau kombinasi dari metode ini.
Indikasi utama :
 Fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi
19

 Fraktur yang tidak stabil secara bawaan dan cenderung mengalamipergeseran


kembali setelah reduksi; juga fraktur yang cenderung ditarikterpisah oleh kerja
otot
 Fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan
 Fraktur patologik, dimana penyakit tulang dapat mencegah penyembuhan
 Fraktur multipel, bila fiksasi dini mengurangi risiko komplikasi umum
dankegagalan organ pada berbagai sistem
 Fraktur pada pasien yang sulit perawatannya

Kelebihan
 Reduksi yang tepat dan menahan fraktur secara aman
 Stabilitas yang segera sehingga pasien dapat meninggalkan rumah sakit segera
setelah luka sembuh
 Gerakan lebih awal sehingga kekakuan dan edema dapat dihilangkan

Komplikasi akibat teknik yang buruk, perlengkapan yang buruk atau keadaan
operasi yang buruk
 Infeksi
 Non union
 Kegagalan implan
 Fraktur ulang

Latihan
Tujuannya untuk mengurangi edema, mempertahankan gerakan sendi dan
profilaksis kekakuan sendi, memulihkan tenaga otot dan memandu pasien kembali
ke aktivitas normal. Latihan gerak aktif dan pasif, terutama di persendian anggota
gerak yang patah (isometrik : latihan aktif statik), dan semua sendi yang tidak
imobilisasi (isotonik : latihan aktif dinamik) mulai dilakukan secara teratur pada
hari pertama.
20

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

IV.1. Definisi

Fraktur Cruris merupakan terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan


sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula (Sapardan, 1995).

IV.2. Anatomi

A. Tibia
Tibia berfungsi memindahkan berat badan dari femur ke talus. Sifat-
sifatnya adalah:
1. Ujung atas tibia yang mendatar – plato tibia – memiliki kondilus
tibia medialis dan lateralis untuk artikulasi dengan kondilus
femoralis yang sesuai. Berlawanan dengan kondilus femoralis,
kondilus tibialis medialis lebih besar daripada lateralis.
2. Area interkondilaris adalah derah antara kondillus tibialis dimana
terdapat dua benjolan – tuberkulum interkondilaris medialis dan
lateralis. Bersama-sama tonjolan ini membentuk eminensia
interkondilaris. Ujung meniscus lateralnya melekat erat ke tiap sisi
eminensia.
3. Pada bagian anterior korpus atau tuberositas tibia bisa ditemukan
dengan mudah. Inilah tempat insersi ligamentum patellae.
4. Potongan melintang korpus berbentuk segitiga. Korpus memiliki
sisi anterior, medial dan lateral serta permukaan posterior, lateral
dan medial.
5. Batas anterior dan permukaan medial korpus seluruhnya terletak
subkutan. Oleh sebab itu korpus tibiae merupakan tempat tersering
terjadinya fraktur terbuka.
6. Pada permukaan posterior korpus terdapat garis miring linea soleal
– yang menandai origo m. soleus pada tibia N. popliteus memiliki
area trigonum di atas lineal soleal.
21

7. Insisura fibularis terletak di sebelah lateral ujung bawah tibia untuk


berartikulasi aspek postero-inferior kondilus lateralis – artikulario
tibiofibulatis (synovial).
8. Di inferior tibia menonjol membentuk maleolus medialis. Maleolus
medial turur membentuk mata kaki yang menstabilkan talus.
Maleolus medialis memiliki sulkus di posterior untuk lewatnya
tendon tibialis posterior.
B. Fibula
Fibula tidak termasuk tulang pembentuk artikulario genus dan tidak
tarut memindahkan berat badan. Fungsi utama fibula adalah sebagai origo
otot-otot dan turut berperan dalam artikulasio talokruralis. Ciri-ciri
khasnya adalah:
1. Prosesus stiloideus merupakan tonjolan pada kaput fibula yang
merupakan tempat insersi tendon biseps (disekitar ligamentum
kolaterale lateralis).
2. Kolum fibula memisahkan kaput dari korpus fibulae. N. fibularis
komunis melengkung di sekitar kolum sebelum terbagi menjadi
cabang-cabang superfisialis dan profunda. Nervus ini mudah
terkena trauma pada fraktur kolum fibula yang menyebabkan
footdrop.
3. Pada potongan melintang fibula tampak berbentuk segitiga.
Tulang ini memiliki sisi anterior, lateral dan posterior. Krista
medial terletak pada permukaan posterior.
4. Ujung bawah fibula adalah meleolus lateralis. Struktur ini
merupakan bagian lateral dari mata kaki yang menstabilkan talus.
Permukaan medialnya halus untuk artikulasi dengan talus. Aspek
posterior maleolus bersulkus untuk lewatnya tenson peroneus
longus dan bervis. Maleolus lateralis memiliki tonjolan yang jauh
lebih ke bawah daripada maleolus medialis.
22

Gambar Os. Tibia dan Fibula

C. Otot
Terdapat 4 group otot yang paling penting di cruris, yaitu:

I. Otot Ekstensor

II. Otot Abduktor

III. Otot Triceps Surae


23

IV. Otot Fleksor

Ke-4 group otot tersebut membentuk 3 kompartemen:

Group I : membentuk kompartemen anterior

Group II : membentuk kompartemen lateral

Group III+ IV: membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari


kompartemen superficial dan kompartemen dalam
24

Gambar otot pada cruris

D. Arteri

a. Arteri tibialis anterior

b. Arteri tibialis posterior

c. Arteri peroneus
25

E. Saraf

1. N.tibialis anterior dan n. peroneus untuk mensarafi otot ekstensor


dan abductor.

2. N. tibialis posterior dan n.poplitea untuk mensarafi otot fleksor dan


otot triceps surae.
26

F. Mekanisme Trauma
a. Trauma Langsung
 Trauma langsung-energi tinggi
Akibat kecelakaan lalu lintass atau jatuh dari ketinggian
lebih dari 4 m. fraktur yang terjadi biasanya fraktur terbuka
(Simbardjo, 1995).
 Trauma langsung-energi rendah
Akibat cedera pada waktu olahraga. Biasanya fraktur yang
terjadi fraktur tertutup (Simbardjo, 1995).
 Trauma Langsung lainnya
1. High Energy
27

Salah satu contohnya oleh karna kecelakaan motor.


Didapatkan fraktur transverse, comminuted,
displaced fractures. Memiliki angka insidensi
kerusakan soft-tissue yang tinggi
2. Penetrating
Bentuk cedera bervariasi
3. Bending
Teridiri dari Tiga atau empat point (contoh karena
ski boot injuries). Fraktur oblig atau transverse yang
pendek. Harus menyingkirkan kompartemen
syndrome dan fraktur terbuka.
4. Fibular Shaft
Hasil dari trauma dari kaki sebelah lateral (Koval,
2002).
b. Trauma Tidak Langsung
Diakibatkan oleh gaya gerak tubuh sendiri. Biasanya berupa
torsi tubuh, kekuatan trauma disalurkan melalui sendi. Akibat
yang terjadi biasanya fraktur tibia fibuka dengan garis patah
spiral dan tidak sama tinggi pada tibia di bagian distal sedang
pada fibula bagian proksimal (Simbardjo, 1995).
1. Torsional Mechanism
Akibat perputaran dengan kaki yang terfiksasi atau
jatuh dari ketinggian yang rendah. Fraktur spiral
nondisplaced dengan kerusakan soft-tissue yang
minimal.
2. Stress Fracture
Pada ujian masuk militer, sering terjadi pada
metafisis atau diafisis dengan reaksi yang
menimbulkan tanda di korteks posteromedial. Pada
penari balet, sering terjadi di sepertiga medial. Pada
gambaran Radiologi banyak ditemukan
keterlambatan pada beberapa orang.
28

Waktu penyatuan rerata setelah imobilisasi berkisar antara 10 minggu


untuk fraktur “kecil” sampai 20 minggu untuk cedera yang berat.
Tetapi angka ini cenderung mengaburkan fakta bahwa banyak fraktur
tibia memerlukan waktu 6 bulan atau lebih untuk menyatu (Apley,
1995).

G. Mekanisme Cedera dan Patologi

Cedera terjadi akibat gaya angulasi yang menyebabkan garis fraktur


transversal atau miring, kadang dengan fragmen kominutif. Tenaga
rotasi dapat terjadi pada olahragawan seperti pemain bola (Jong,
2005). Daya pemutir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang
kaki dalam tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur
melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkat yang sama.

 Pada cedera tak langsung salah satu dari fragmen tulang dapat
menembus kulit

 Cedera langsung akan menembus kulit diatas fraktur.


Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim.

Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh trauma tumpul dan risiko
komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe kerusakan
jaringan lunak. Tscherne (1984) menekankan pentingnya menilai dan
menetapkan tingkat cedera jaringan lunak. Klasifikasinya sebagai
berikut:

a. C0 = kerusakan jaringan lunak sedikit dengan fraktur


biasa

b. C1 = abrasi dangkal atau kontusio dari dalam

c. C2 = abrasi dalam, kontusio jaringan lunak dan


pembengkakan dengan fraktur berat

d. C3 = kerusakan jaringan lunak yang luas dengan


ancaman sindroma kompartemen.
29

Untuk fraktur terbuka digunakan penentuan tingkat menurut Gustilo,


yaitu sebagai berikut :

a. Tipe I adalah fraktur biasa dengan luka sangat kecil yang bersih
akibat perforasi oleh tonjolan tulang yang kecil

b. Tipe II adalah fraktur yang cukup berat dengan panjang luka


lebih dari 1cm tapi tanpa kerusakan jaringan lunak yang luas

c. Tipe III adalah cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak


yang luas dan terjadi kontaminasi luka, kelompok ini
selanjutnya dibagi lagi menjadi cedera lunak penutup yang
memasih memadai (IIIA), fraktur dengan kehilangan kulit
(IIIB), dan fraktur yang disertai dengan cedera arteri (IIIC).
Tipe IIIC biasanya membutuhkan peratan multidisipliner.
Insidensi infeksi berkisar antara 1% untuk tipe I sampai 30%
untuk tipe IIIC.

H. Klasifikasi
a. Fraktur Terbuka
Ketentuan terbuka bila terdapat hubungan antara tulang yang patah
dengan dunia luar. Fraktur terbuka ini dibagi menjadi tiga derajat.

 Derajat I

Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil,


biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam
menembus keluar.

b. Derajat II

Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena


benturan benda dari luar.

c. Derajat III
30

Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan


lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah).

b. Fraktur Tertutup

Deskripsi Klasifikasi

a. Open Vs Closed

b. Lokasi anatomi : Proksimal, Medial atau distal.

c. Jumlah Fragmen dan posisi : Comminution, butterfly fragments

d. Configuration : Transverse, spiral, Obliq

e. Angulation : Varus/Valgus, Anterior/Posterior

f. Shortening

g. Displacement

h. Rotasi

i. Cedera lainnya

I. Gejala klinik

Kulit mungkin tidak rusak atau robek dengan jelas; kadang-kadang


kulit tetap utuh tetapi melesak atau telah hancur dan terdapat bahaya
bahwa kulit itu dapat mengelupas dalam beberapa hari. Kaki biasanya
menmuntir keluar dan deformitas tampak jelas. Kaki dapat menjadi memar
dan bengkak. Nadi dipalpasi untuk menilai sirkulasi danjari kaki diraba
untuk menilai sensasi. Pada fraktur gerakan tidak boleh dicoba, tetapi
pasien diminta untuk menggerakkan jari kakinya. Sebelum merencanakan
terapi, perlu dilakukan pernentuan beratnya cedera.
31

Semua fraktur tebuka harus dianggap berpotensi terkena indeksi dan


diterapi dengan pemberian antibiotika dan secara cermat semua jaringan
yang mati dieksisi. Pada umumnya penanggulangan fraktur terbuka,
dilakukan tindakan debridement, sebaik-baiknya kemudian
penanggulangan untuk tulangnya sendiri, dilakukan tindakan yang sama
seperti pada penanggulangan fraktur tertutup.

a. Daerah yang patah tampak bengkak

b. Tampak deformitas angulasi atau endo/eksorotasi

c. Ditemukan nyeri gerak nyeri tekan pada daerah yang patah


32

J. Evaluasi Radiologi

1. Umumnya cukup dibuat 2 proyeksi anterior dan lateral


((Simbardjo, 1995).

2. Fraktur harus dibidai sebelum pemeriksaan radiologis guna


mengurangi rasa nyeri dan menghindari patah tulang manjadi
terbuka dan kerusakan jaringan yang berlebihan lainnya (Jong,
2005).

3. Evaluasi Radiography harus termasuk kaki secara menyeluruh.


Gambaran Anterposterior dan lateral, obliq untuk menentukan
karakteristik fraktur.

4. MRI bukan merupakan suatu kebutuhan.

5. Jika ada curiga cedera vascular, dapat digunakan angiografi


(Koval, 2002).

K. Penatalaksanaan
1. Evaluasi Klinis

a. Evaluasi status neovaskular

Arteri dorsalis pedis dan tibia posterior artery harus meningkat


dan dicatat.

b. Perkirakan adanya cedera jaringan lunak

c. Monitor kompartemen sindrom

2. Fraktur Tertutup

Fraktur tertutup dilakukan reposisi tertutup dan dilakukan


imobilisasi dengan gips. Caranya penderita tidur terlentang di atas
meja periksa. Kedua lutut dalam posisi fleksi 90°, sedang kedua
tungkai bawah menggantung di tepi meja. Tungkai bawah yang
patah ditarik kea rah bawah. Rotasi diperbaiki, setelah tereposisi
33

baru dipasang gips melingkar. Ada beberapa cara pemasangan


gips, yaitu:

 Cara long les plester

Immobilisasi cara ini dilakukan dengan pemasangan gips


mulai pangkal jari kaki sampai proksimal femur dengan
sendi talocural dalam posisi netral sedang posisi lutut dalam
fleksi 20°.

 Cara Sarmiento

Pemasangan gips dimulai dari jari kaki sampai di atas


talocrural dengan molding sekitar maleolus. Kemudian
setelah kering segera dilanjutkan ke atas sampai 1 inci di
bawah tuberositas tibia dengan molding pada permukaan
anterior tibia, gips dilanjutkan sampai ujung proksimal
patella. Keuntungan cara Sarmiento kaki dapat diinjakkan
lebih cepat.

Setelah dilakukan reposisi tertutup hanya hasilnya masih


kurang baik. Masih terjadi angulasi, perpendekan lebih dari 2cm
tidak ada kontak antara kedua ujung fragmen tulang. Dapat
dianjurkan untuk dilakukan open reduksi dengan operasi dan
pemasangan internal fiksasi. Macam-macam internal fiksasi
diantaranya:

 Screw

 Plate + Screw

 Tibial nail

3. Fraktur Terbuka
Dilakukan debridement lukanya, kemudian tulang yang patah
dilakukan reposisi secara terbuka. Setelah itu dilakukan
34

imobilisasi. Bermacam-macam cara imobilisasi untuk fraktur


terbuka:
Cara Trueta:

 Luka setelah dilakukan debridement tetap dibiarkan terbuka


tidak perlu dijahit. Setelah tulangnya direposisi gips dipasang
langsung tanpa pelindung kulit kecuali pada derajat SIAS,
calcaneus dan tendo Achilles.

 Gips dibuka setelah berbau dan basah

 Cara ini sudah ditinggalkan orang. Dahulu banyak dikerjakan


pada zaman perang.

Cara Long Plester

 Cara seperti yang telah diuraikan diatas. Hanya untuk fraktur


tebukadibuat jendela setelah beberapa hari di atas luka. Dari
lobang jendela ini luka dirawat sampai sembuh.

Cara dengan memakai pen di luar tulang (Fixatur External)

 Cara ini sangat baik untuk fraktur terbuka cruris grade III.
Dengan cara ini perawatan luka yang luas di cruris sangat
mudah.

 Macam-macam bentuk fixateur ekstrena, diantaranya:

o Judet fixateur externa

o Roger Anderson

o Hoffman

o Screw + Methyl methacrylate (Simbardjo, 1995).

D. Treatment

Prinsip terapi adalah:


35

1) Membatasi kerusakan jaringan lunak dan mempertahankan


penutup kulit.

2) Mencegah atau sekurang-kurangnya mengetahui


pembengkakan kompartemen

3) Memperoleh penjajaran (alignment) fraktur

4) Untuk memulai pembebanan dini (pembebanan membantu


penyembuhan)

5) Memulai gerakan sendi secepat mungkin

Prioritas yang pertama adalah menilai tingkat kerusakan jaringan


lunak. Meskipun fraktur tertutup fraktur berat dengan kontusio
jaringan lunak yang luas dapat membutuhkan fiksasi dari luar dini
dan peninggian tungkai. Bila ada ancaman sindroma kompartemen,
fasiotomi perlu segera dilakukan (Apley, 1995).

1. Terapi pada fraktur Tertutup

 Sebagian besar fraktur dengan sedikit kerusakan jaringan lunak


atau sedang (Cedera C0 dan C1, dan beberapa cedera C2).

 Kalau fraktur tidak bergeser atau sedikit bergeser, gips panjang dari
paha atas sampai leher metatarsal dipasang dengan posisi lutut
sedikit fleksi dan pergelangan kaki pada posisi sudut siku-siku.

 Kalau fraktur bergeser, ini dapat direduksi dibawah anestesi umum


dengan pengawasan sinsr-X. Aposisi tidak perlu lengkap tetapi
penjajaran harus mendekati sempurna (angulasi tidak lebih dari 7
derajat) dan rotasi benar-benar sempurna. Gips panjang dipasang
seperti pada fraktur tidak bergeser. Posisi dicek dengan sinar-X;
tingkat angulasi yang kecil masih dapat dikoreksi dengan membuat
potongan melintang pada gipas dan menekannya ke dalam posisi
yang lebih baik. Tungkai ditinggikan dan pasien diobservasi selama
48-72 jam. Kalau terdapat banyak pembengkakan gips dibelah.
36

 Setelah 2 minggu posisi dicek dengan sinar-X. Gips dipertahankan


hingga fraktur menyatu, dimana pada anak-anak memakan waktu 8
minggu tetapi pada orang dewasa jarang dibawah 16 minggu.

 Latihan sejak awal, pasien diajarkan untuk melatih otot kaki,


pergelangan kaki dan lutut.

 Penyangga Fungsional  pada fraktur melintang yang relative


stabil setelah 3-4 minggu gips panjang dapat diganti dengan gips
fungsional dibawah lutut yang dibentuk dengan cermat untuk
menahan tibia bagian atas dan tendon patella. Cara ini akan
membebaskan lutut dan memungkinkan penahanan beban penuh.

 Fiksasi rangka  pada fraktur dengan kontusio jaringan lunak atau


cedera pembuluh darah yang hebat dan fraktur kominutif berat
(cedera C2-C3)

 Penanganan pasca Operasi

o Setelah pemasangan paku pada fraktur obliq pendek atau


melintang, pembebanan dapat dimulai dalam beberapa hari,
ditingkatkan ke pembebanan penuh bila terasa nyaman.

o Setelah pemasangan plat, pembebanan sebagian yang


diperbolehkan selama 6-8 minggu, sesudah itu pembebanan penuh
dapat dilakukan jika gips pelindung digunakan

o Setelah fiksasi luar hanya pembebanan sebagian yang


diperbolehkan hingga tanda timbulnya kalus terlihat pada
pemeriksaan sinsr-X.

2. Terapi pada Fraktur Terbuka


Penanganan fraktur tebuka yang berat diwujudkan dalam kata-kata
berikut:
37

a. Antibiotika

b. Debridement

c. Stabilisasi

d. Penundaan penutupan

e. Penundaan rehabilitasi

E. Reduksi

1. Angulasi Valus/Valgus kurang dari 5 derajat

2. Angulasi anteroposterior kurang dari 10 derajat

3. Angulasi deformitas kurang dari 10 derajat

4. Pemendekan kurang dari 1 cm,

5. Lebih dari 50% kortikal terkena trauma

F. Non operative Treatment

1. Reduksi dapat dikuti dengan penerapan long-leg cast dengan


progresif Weight Bearing diikuti isolasi, fraktur loe energy dengan
displacement dan comminution minimal

2. Traksi terkadang diindikasikan karena distraksi kedudukan fraktur.

G. KOMPLIKASI
1. Komplikasi Dini
a. Infeksi
Fraktur tebuka dapat terinfeksi, fraktur tertutup hamper tidak
pernah terinfeksi kecuali kalau dibuka dengan operasi. Infeksi
luka pasca trauma sekarang paling sering menyebabkan osteitis
38

kronis. Keadaan ini tidak mencegah penyatuan fraktur, tetapi


penyatuan akan berjalan lambat dan kesempatan mengalami
fraktur berulang meningkat (Apley, 1995).
b. Cedera Vaskular
Fraktur pada setengah bagian proksimal tibia dapat merusak
arteri popliteus. Keadaan ini merupakan kedaruratan tingkat
pertama, memerlukan eksplorasi dan perbaikan.
c. Cedera saraf
Terutama pada nervus peroneus, pembengkakan yang menetap,
pertautan perlambatan, pseudoartrosis dan kekauan sendi
pergelangan kaki
d. Compartement syndrome
Sindrom Kompartemen sering ditemukan pada patah tulang
tungkai bawah tahap dini. Tanda dan gejala lima P harus
diperhatikan siang malan dihari pertama pascacedera atau
pascabedah, yaitu:

 Pain (Nyeri)  dikeadaan istirahat

 Parestesia  karena rangsangan saraf perasa

 Pucat  karena iskemia

 Paresis atau Paralysis  karena gangguan saraf motorik

 Pulses (denyut nadi)  pada sindrom kompartemen tidak


didapatkan denyut nadi

Tambahan:

 Pressure  peninggian tekanan intrakompartemen yang


dapat diukur.

 Points  Gangguan perasaan yang nyata pada pemeriksaan


yang membandingkan dua titik (points) dan kontraktur jari
dalam posisi fleksi karena kontraktur otot fleksor jari.
39

2. Komplikasi Lanjut
a. Malunion
Biasanya terjadi pada fraktur yang komunutiva sedang
imobilisasinya longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi.
Umtuk memperbaiki perlu dilakukan osteotomi.
b. Delayed Union
Terutama terjadi pada fraktur tebuka yang diikuti dengan
infeksi atau pada fraktur yang communitivia. Hal ini dapat
diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa.
c. Non Union
Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia
disertai dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan
bone grafting menurut cara papineau.
d. Kekakuan sendi
Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang telalu lama.
Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan
gerak. Hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi.
40

DAFTAR PUSTAKA

Apley, A Graham. Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur, Edisi 7. 1995. Jakarta:
Widya Medika

Fauzi A, Rahyussalim, Aryadi, Tobing. Cedera Sistem Muskuloskeletal. 2009.


Departemen Bedah Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI/RSCM.

Mangunsudirdjo,R Saleh. Fraktur, Penyembuhan, Penanganan dan Komplikasi.


1989.Semarang.

Mansjoer,Arif , dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. 2000. Jakarta: Media


Aesculapius

Moore, Keith L. Anatomi Klinis Dasar. 2002. Jakarta: Hipokrates

Prof. Chaerudin Rasjad MD, PhD. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi Kedua.
Jakarta.

R. Sjamsulhidajat, Win De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2004. Jakarta : EGC

Sari, Dina K, dkk. 2005. Chirurgica (re-package + edititon). Yogyakarta,


Indonesia. Tosca Enterprise

Simon, Sheldon R. Orthopaedic Basic Science. 1994. Ohio: American Academy


Of Orthopaedic Surgeons

Tanu, Ian. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. 2007. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Indonesia
41

LAMPIRAN DOKUMENTASI SAAT OPERASI


42
43
44