Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ergonomi menjembatani berbagai lapangan ilmu seperti Antropologi, Biomekanik,
Faal, Higiene perusahaan dan keselamatan kerja dan perencanaan kerja. Namun
kekhususan utamanya adalah perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliputi tata
kerja dan peralatannya. Sejalan dengan bertambahnya jumlah orang yang banyak
menghabiskan waktu diruang kerja dengan duduk, maupun diatas kendaraan maka makin
menambah insiden keluhan nyeri pada punggung bagian bawah (Low Back Pain).
Asuransi kesehatan nasional Swedia dari data analisis statistik melaporkan 53%
pada populasi dengan aktivitas biasa sehari-hari mengalami nyeri punggung bawah dan
64% pada populasi yang melakukan aktivitas sebagai pekerja berat. Diperkirakan 60%
sampai 80% populasi dewasa pernah mengalami LBP, kira-kira 2% sampai 5% terkena
setiap tahunnya. Orang yang waktu bekerja melakukan gerakan membungkuk yang
berulang-ulang atau berjongkok dan duduk lama mempunyai frekuensi LBP lebih tinggi,
masalah psikososial juga penting sebagai faktor pencetus terjadinya nyeri punggung
bawah.
Dalam hal perawatan secara umum pada penyakit LBP dengan penyakit syaraf
lainnya mempunyai kesamaan dalam pemberian asuhan keperawatan menitik beratkan
pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Adapun kekhususan dari perawataan klien
dengan LBP adalah karena masalah yang muncul biasanya bersifat komplek dan
mempengaruhi sistem tubuh sehingga asuhan keperawatan yang diberikan mencegah
terjadinya defisit neurologis, memberikan dan mengembalikan fungsi dengan cara
meningkatkan aktivitas secara bertahap dengan melakukan range of mation (ROM) aktif
maupun pasif.
Ada beberapa kendala yang ditemukan sehingga standar keperawatan yang telah
ditetapkan rumah sakit tidak dapat dicapai secara maksimal, dari pihak klien misalnya
alasan faktor ekonomi dimana klien dengan LBP membutuhkan waktu yang lama untuk
menyembuhkan sehingga membutuhkan dana yang cukup besar jika harus dirawat di
rumah sakit, sedangkan dari pihak rumah sakit misalnya masih minimnya tenaga

1
kesehatan dibandingkan jumlah dengan jumlah klien yang memerlukan perawatan
sehingga tidak setiap klien dapat dilayani secara maksimal menurut standar keperawatan
yang ada di rumah sakit.

B. Rumusan masalah
1. Apakah definisi dari LBP ?
2. Apakah klasifikasi LBP ?
3. Apakah etiologi dari LBP ?
4. Apakah manifestasi klinis dari LBP ?
5. Apakah komplikasi dari LBP ?
6. Bagaimana patofisiologi LBP ?
7. Apakah pemeriksaan penunjang dari LBP ?
8. Bagaimana penatalaksanaan LBP ?
9. Bagaiamana cara mencegah LBP ?
10. Bagaiaman asuhan keperawatan pada pasien LBP ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi LBP.
2. Untuk mengetahui klasifikasi LBP.
3. Untuk mengetahui etiologi LBP.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis LBP.
5. Untuk mengetahui komplikasi LBP.
6. Untuk mengetahui patofisiologi LBP.
7. Untuk mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang LBP.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan LBP.
9. Untuk mengetahui cara menjegah LBP.
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien LBP.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Low Back Paint


Low back Pain dipersepsikan ketidak nyamanan berhubungan dengan lumbal atau
area sacral pada tulang belakang atau sekitar jaringan ( Randy Mariam,1987 ).
Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis
walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah
kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh
terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low Back Pain terjadi dilumbal bagian bawah,lumbal sacral atau daerah
sacroiliaca (L4-L5 dan L5-S1), biasanya dihubungkan dengan proses degenerasi dan
ketegangan musulo (Prisilia Lemone,1996).
Low back pain dapat terjadi pada siapa saja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalah pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang (Lucman and Sorensen’s 1993).
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah termasuk salah satu dari
gangguan muskuloskeletal, gangguan psikologis dan akibat dari mobilisasi yang salah.
LBP menyebabkan timbulnya rasa pegal, linu, ngilu, atau tidak enak pada daerah lumbal
berikut sakrum. LBP diklasifikasikan kedalam 2 kelompok, yaitu kronik dan akut. LBP
akut akan terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu. Sedangkan LBP kronik terjadi
dalam waktu 3 bulan. Yang termasuk dalam faktor resiko LBP adalah umur, jenis
kelamin, faktor indeks massa tubuh yang meliputi berat badan, tinggi badan, pekerjaan,
dan aktivitas / olahraga. (Idyan, Zamna., 2007)
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah
nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya
otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan
otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

3
B. Klasifikasi
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya sebentar,
antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau
sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti
kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian
tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon.
Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat
masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri pinggang acute
terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
2. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang berulang-
ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan
sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena
osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan
tumor.
Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang
juga dapat dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Trauma
a. Trauma primer seperti : Trauma secara spontan, contohnya kecelakaan.
b. Trauma sekunder seperti : Adanya penyakit HNP, osteoporosis, spondilitis,
stenosis spinal, spondilitis,osteoartritis.
2. Infeksi
Nyeri pinggang akibat inflamasi terbagi menjadi 2 macam, yang pertama adalah
pada artritis rematoid, yang sering timbul sebagai penyakit akut. Persendian keempat
anggota gerak dapat terkena secara serentak atau dengan selisih beberapa hari/minggu.
Yang kedua adalah pada spondilitis angkilopoetika. Keluhan yang paling dini dihadapi
oleh penderita ialah sakit punggung dan sakit pinggang. Sifatnya ialah pegal-kaku dan
pada waktu dingin dan sembab linu dan ngilu dirasakan.

4
3. Neoplasma
Dapat disebabkan oleh tumor jinak seperti osteoma, penyakit Paget,
osteoblastoma, hemangioma, neurinoma,meningioma. Atau tumor ganas yang primer
seperti mieloma multipel maupun sekunder seperti macam-macam metastasis.
4. Degenerasi
Perubahan degeneratif pada vertebrata lumbosakralis dapat terjadi pada korpus
vertebrae berikut arkus dan prosessus artikularis serta ligamenta yang menghubungkan
bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain. Dulu proses degneratif ini
dikenal sebagai osteoartrosis deformans, tapi kini dinamakan spondilosis. Perubahan
degeneratif dapat juga mengenai anulus fibrosis diskus intervertebralis yang bila pada
suatu saat terobek dapat disusul dengan protusio diskus intervertebralis yang akhirnya
menimbulkan hernia nukleus pulposus (HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering
dilanda proses degeneratif ialah kartilago artikularisnya, yang dikenal sebagai
osteoartritis.
5. Kongenital
Anomali kongenital yang diperlihatkan foto rontgen polos dari vertebrae
lumbosakralis terlampau sering dianggap sebagai kelainan yang mendasari sakit
pinggang. Spina bifida okultra sering ditemukan pada foto rontgen polos para penderita
yang berkunjung ke dokter bukan karena sakit pinggang, melainkan, misalnya, keluhan
urogenital atau gastrointestinal. Lumbalisasi atau adanya 6 bukan 5 korpus vertebrae
lumbalis merupakan variasi anatomik yang tidak mengandung arti patologik. Demikian
juga sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5 korpus vertebrae lumbalis.

C. Etiologi
1. Perubahan postur tubuh biasanya karena trauma primer dan sekunder.
a. Trauma primer seperti : Trauma secara spontan, contohnya kecelakaan.
b. Trauma sekunder seperti : Adanya penyakit HNP, osteoporosis, spondilitis,
stenosis spinal, spondilitis,osteoartritis.
2. Ketidak stabilan ligamen lumbosacral dan kelemahan otot.
3. Prosedur degenerasi pada pasien lansia.
4. Penggunaan hak sepatu yang terlalu tinggi.

5
5. Kegemukan.
6. Mengangkat beban dengan cara yang salah.
7. Keseleo.
8. Terlalu lama pada getaran.
9. Gaya berjalan.
10. Merokok.
11. Duduk terlalu lama.
12. Kurang latihan (olah raga).
13. Depresi /stress.
14. Olahraga (golp,tennis,sepak bola).
Penyebab Lain Nyeri Pinggang
Penyebab lain dari nyeri pinggang antara lain :
1. Gangguan ginjal
Gangguan ginjal yang sering dihubungkan dengan nyeri pinggang antara lain
infeksi ginjal, batu ginjal, dan perdarahan pada ginjal akibat trauma. Diagnosa
ditegakan berdasarkan pemeriksaan kencing, dan pemeriksaan radiologi.
2. Kehamilan
Wanita hamil sering mengalami nyeri pinggang sebagai akibat dari tekanan
mekanis pada tulang pinggang dan pengaruh dari posisi bayi dalam kandungan.
3. Masalah pada organ reproduksi
Beberapa masalah pada organ reproduksi perempuan yang dapat menimbulkan
nyeri pinggang antara lain kista ovarium, tumor jinak rahim dan endometriosis.
4. Tumor
Nyeri pinggang bisa pula disebabkan oleh karena tumor, baik tumor jinak
maupun ganas. Tumor dapat terjadi lokal pada tulang pinggang atau terjadi di tempat
lain tetapi mengalami metastase atau penyebaran ke tulang pinggang.

D. Faktor Resiko
Faktor risiko terjadinya LBP adalah usia, kondisi kesehatan yang buruk, masalah
psikologik dan psikososial, artritis degeneratif, merokok, skoliosis mayor (kurvatura
>80o), obesitas, tinggi badan yang berlebihan, hal yang berhubungan pekerjaan seperti

6
duduk dan mengemudi dalam waktu lama, duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh
kerja yang statik), getaran, mengangkat, membawa beban, menarik beban, membungkuk,
memutar, dan kehamilan.
Merokok dikatakan dapat meningkatkan resiko terjadinya nyeri pinggang bawah
pada usia muda dengan odds ratio 2,4 95% CI 1,3-6,0.
1. Faktor Umur
Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara
teori, nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja, pada
umur berapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur
0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologik tertentu
yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nyeri ini mulai
dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai
pada dekade kelima.1 Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin
meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.
2. Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri
pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang
dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada wanita keluhan
ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu
proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat
penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
3. Faktor Indeks Massa Tubuh
a. Berat Badan
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri
pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan
meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
b. Tinggi Badan
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban
anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.

7
c. Pekerjaan
Keluhan nyeri ini juga berkaitan erat dengan aktivitas mengangkat beban berat,
sehingga riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta
penanggulangan keluhan ini. Pada pekerjaan tertentu, misalnya seorang kuli
pasar yang biasanya memikul beban di pundaknya setiap hari. Mengangkat beban
berat lebih dari 25 kg sehari akan memperbesar resiko timbulnya keluhan nyeri
pinggang.3
d. Aktivitas / Olahraga
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak
disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan.
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi
yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya, pada pekerja kantoran
yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi,
atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada
waktu menulis. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau
menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak
menopang spinal. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat
tidur yang bagian tengahnya lentur. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri
langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah,
seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.
Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa
aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam
dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari
2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam
sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko
timbulnya nyeri pinggang.

E. Manifestasi Klinik
1. Perubahan dalam gaya berjalan.
a. Berjalan terasa kaku.
b. Tidak bias memutar punggung.

8
c. Pincang.
2. Persyarapan
a. Ketika dites dengan cahaya dan sentuhan dengan peniti,pasien merasakan sensasi
pada kedua anggota badan,tetapi mengalami sensasi yang lebih kuat pada daerah
yang tidak dirangsang.
b. Tidak terkontrol Bab dan Bak.
3. Nyeri.
a. Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.
b. Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.
c. Nyeri otot dalam.
d. Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.
e. Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.
f. Nyeri pada pertengahan bokong.
g. Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.
Pasien biasanya mengeluh nyeri punngung akut maupun nyeri punggung kronis
dan kelemahan. Selama wawancara awal kaji lokasi nyeri, sifatnya dan penjalarannya
sepanjang serabut saraf (sciatica), juga dievaluasi cara jalan pasien, mobilitas tulang
belakang, refleks, panjang tungkai, kekuatan motoris dan persepsi sensoris bersama
dengan derajat ketidaknyamanan yang dialaminya. Peninggian tungkai dalam keadaan
lurus yang mengakibatkan nyeri menunjukkan iritasi serabut saraf.
Pemeriksaan fisik dapat menemukan adanya spasme otot paravertebralis
(peningkatan tonus otot tulang postural belakang yang berlebihan) disertai hilangnya
lengkungan lordotik lumbal yang normal dan mungkin ada deformitas tulang belakang.
Bila pasien diperiksa dalam keadaan telungkup, otot paraspinal akan relaksasi dan
deformitas yang diakibatkan oleh spasme akan menghilang.
Kadang-kadang dasar organic nyeri punggung tak dapat ditemukan. Kecemasan
dan stress dapat membangkitkan spasme otot dan nyeri. Nyeri punggung bawah bisa
merupakan manifestasi depresi atau konflik mental atau reaksi terhadap stressor
lingkungan dan kehidupan. Bila kita memeriksa pasien dengan nyeri punngung bawah,
perawat perlu meninjau kembali hubungan keluarga, variable lingkungan dan situasi kerja

9
F. Patofisiologi
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah stimulus menjadi
sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri disebut sebagai
system nosiseptif. Sensitifitas dari komponen system nosiseptif dapat dipengaruhi oleh
sejumlah factor dan berbeda diantara individu. Tidak semua orang yang terpajan terhadap
stimulus yang sama mengalami intensitas nyeri yang sama. Sensasi sangat nyeri bagi
seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi orang lain.
Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespons
hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial merusak, dimana stimuli tersebut
sifatnya bisa kimia, mekanik, termal. Reseptor nyeri merupakan jaras multi arah yang
kompleks. Serabut saraf ini bercabang sangat dekat dengan asalnya pada kulit dan
mengirimkan cabangnya ke pembuluh darah local. Sel-sel mast, folikel rambut dan
kelenjar keringat. Stimuli serabut ini mengakibatkan pelepasan histamin dari sel-sel mast
dan mengakibatkan vasodilatasi. Serabut kutaneus terletak lebih kearah sentral dari
cabang yang lebih jauh dan berhubungan dengan rantai simpatis paravertebra system saraf
dan dengan organ internal yang lebih besar. Sejumlah substansi yang dapat meningkatkan
transmisi atau persepsi nyeri meliputi histamin, bradikinin, asetilkolin dan substansi P.
Prostaglandin dimana zat tersebut yang dapat meningkatkan efek yang menimbulkan
nyeri dari bradikinin. Substansi lain dalam tubuh yang berfungsi sebagai inhibitor
terhadap transmisi nyeri adalah endorfin dan enkefalin yang ditemukan dalam konsentrasi
yang kuat dalam system saraf pusat.
Kornu dorsalis dari medulla spinalis merupakan tempat memproses sensori,
dimana agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada system assenden harus
diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor nyeri yang terletak dalam
kulit dan organ internal. Proses nyeri terjadi karena adanya interaksi antara stimulus nyeri
dan sensasi nyeri.
Patofisiologi Pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal ini kolumna
vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang yang elastik yang tersusun atas banyak
unit vertebrae dan unit diskus intervertebrae yang diikat satu sama lain oleh kompleks
sendi faset, berbagai ligamen dan otot paravertebralis. Konstruksi punggung yang unik
tersebut memungkinkan fleksibilitas sementara disisi lain tetap dapat

10
memberikanperlindungan yang maksimal terhadap sum-sum tulang belakang.
Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat berlari atau
melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan tulang belakang. Otot-otot abdominal
dan toraks sangat penting ada aktifitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan
melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas, masalah postur, masalah struktur dan
peregangan berlebihan pendukung tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua.
Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matriks gelatinus.
Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tak teratur.

11
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat laju endap darah
(LED), kadar Hb, jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.
2. Pungsi Lumbal (LP)
LP akan normal pada fase permulaan prolaps diskus, namun belakangan akan
terjadi transudasi dari low molecular weight albumin sehingga terlihat albumin yang
sedikit meninggi sampai dua kali level normal.
3. Pemeriksaan Radiologis :
a. Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang
dijumpai penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan
degeneratif, dan tumor spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadang-kadang
terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang tegang dan melurus dan suatu
skoliosis akibat spasme otot paravertebral.
b. CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis
telah jelas dan kemungkinan karena kelainan tulang. Mielografi berguna untuk
melihat kelainan radiks spinal, terutama pada pasien yang sebelumnya dilakukan
operasi vertebra atau dengan alat fiksasi metal.
c. CT mielografi dilakukan dengan suatu zat kontras berguna untuk melihat dengan
lebih jelas ada atau tidaknya kompresi nervus atau araknoiditis pada pasien yang
menjalani operasi vertebra multipel dan bila akan direncanakan tindakan operasi
terhadap stenosis foraminal dan kanal vertebralis.
d. MRI (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan menunjukkan
berbagai prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah ortopedi tetap
memerlukan suatu EMG untuk menentukan diskus mana yang paling terkena.
MRI sangat berguna bila:
1) vertebra dan level neurologis belum jelas
2) kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak
3) untuk menentukan kemungkinan herniasi diskus post operasi
4) kecurigaan karena infeksi atau neoplasma

12
4. Elektromiografi (EMG) :
Dalam bidang neurologi, maka pemeriksaan elektrofisiologis/neurofisiologis
sangat berguna pada diagnosis sindroma radiks.
Pemeriksaan EMG dilakukan untuk :
a. Menentukan level dari iritasi atau kompresi radiks
b. Membedakan antara lesi radiks dengan lesi saraf perifer
c. Membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks
Pemeriksaan EMG adalah suatu pemeriksaan yang non-invasif, Motor Unit
Action Potentials (MUAP) pada iritasi radiks terlihat sebagai :
a. Potensial yang polifasik
b. Amplitudo yang lebih besar dan
c. Durasi potensial yang lebih panjang, pada otot-otot dari segmen yang terkena.
Pada kompresi radiks, selain kelainan-kelainan yang telah disebut diatas, juga
ditemukan aktivitas spontan pada pemeriksaan EMG berupa fibrilasi di otot-otot
segmen terkena atau di otot paraspinal atau interspinal dari miotoma yang terkena.
Sensifitas pemeriksaan EMG untuk mendeteksi penderita radikulopati lumbal sebesar
92,47%.
EMG lebih sensitif dilakukan pada waktu minimal 10-14 hari setelah onset
defisit neurologis, dan dapat menunjukkan tentang kelainan berupa radikulopati,
fleksopati ataupun neuropati.6
5. Elektroneurografi (ENG)
Pada elektroneurografi dilakukan stimulasi listrik pada suatu saraf perifer tertentu
sehingga kecepatan hantar saraf (KHS) motorik dan sensorik (Nerve Conduction
Velocity/NCV) dapat diukur, juga dapat dilakukan pengukuran dari refleks dengan
masa laten panjang seperti F-wave dan H-reflex. Pada gangguan radiks, biasanya
NCV normal, namun kadang-kadang bisa menurun bila telah ada kerusakan akson dan
juga bila ada neuropati secara bersamaan.10

13
H. Penatalaksanaan
Kebanyakan nyeri punggung bisa hilang sendiri dan akan sembuh dalam 6 minggu
dengan tirah baring, pengurangan stress dan relaksasi. Pasien harus tetap ditempat tidur
dengan matras yang padat dan tidak membal selama 2 sampai 3 hari. Posisi pasien dibuat
sedemikian rupa sehingga fleksi lumbal lebih besar yang dapat mengurangi tekanan pada
serabut saraf lumbal. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat dan pasien sedikit
menekuk lututnya atau berbaring miring dengan lutu dan panggul ditekuk dan tungkai dan
sebuah bantal diletakkan dibawah kepala. Posisi tengkurap dihindari karena akan
memperberat lordosis. Kadang-kadang pasien perlu dirawat untuk penanganan
“konservatif aktif” dan fisioterapi. Traksi pelvic intermiten dengan 7 sampai 13 kg beban
traksi. Traksi memungkinkan penambahan fleksi lumbal dan relaksasi otot tersebut.
Fisioterapi perlu diberikan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot. Terapi bisa
meliputi pendinginan (missal dengan es), pemanasan sinar infra merah, kompres lembab
dan panas, kolam bergolak dan traksi. Gangguan sirkulasi , gangguan perabaan dan
trauma merupakan kontra indikasi kompres panas. Terapi kolam bergolak
dikontraindikasikan bagi pasien dengan masalah kardiovaskuler karena ketidakmampuan
mentoleransi vasodilatasi perifer massif yang timbul. Gelombang ultra akan menimbulkan
panas yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan akibat pembengkakan pada stadium
akut
Obat-obatan mungkin diperlukan untuk menangani nyeri akut. Analgetik narkotik
digunakan untuk memutus lingkaran nyeri, relaksan otot dan penenang digunakan untuk
membuat relaks pasien dan otot yang mengalami spasme, sehingga dapat mengurangi
nyeri. Obat antiinflamasi, seperti aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID),
berguna untuk mengurangi nyeri. Kortikosteroid jangka pendek dapat mengurangi respons
inflamasi dan mencegah timbulnya neurofibrosis yang terjadi akibat gangguan iskemia.
Penatalaksanaan yang terbaik adalah menghilangkan penyebabnya (kausal),
walaupun bagi pasien yang terpenting adalah menghilangkan rasa sakitnya (simptomatis).
Jadi kita menggunakan kombinasi antara pengobatan kausal dan simptomatis. Untuk
mencari penyebab yang tepat disamping pemeriksaan foto rontgen poros tulang belakang,
kadang-kadang diperlukan pemeriksaan khusus misalnya Scanning, MRI, dll.

14
Pada LBP karena tegang otot dapat dipergunakan SIRDALUD (Tizanidine) yang
berfungsi untuk mengendorkan kontraksi otot tersebut (muscle relaxan). Untuk
pengobatan simptomatis lainnya kadang-kadang memerlukan campuran antara obat-obat
analgesic, anti inflamasi, NSAID, penenang, dll. Apabila dengan pengobatan biasa tidak
berhasil mungkin fisioterapi (rehabilitasi) dengan alat-alat khusus maupun dengan traksi
(tulang belakang ditarik). Tindakan operasi mungkin diperlukan apabila pengobatan
dengan fisioterapi ini tidak berhasil misalnya pada HNP atau pada pengapuran yang berat.
Jadi penatalaksanaan LBP ini memang cukup kompleks. Disamping berobat pada
Neurolog (spesialis Penyakit Saraf), mungkin juga diperlukan untuk berobat ke internist.
Bedah Saraf, Bedah Orthopedi bahkan mungkin perlu konsultasi pada Psikiater atau
Psikolog

I. Asuhan Keperawatan Low Back Pain


1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari beberapa sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian yang dilakukan
pada klien dengan osteomielitis meliputi:
a. Identifikasi klien
Terdiri dari nama, jenis kelamin, usia, status perkawinan, agama, suku bangsa,
pendidikan,bahasa yang digunakan, pekerjaan dan alamat.
b. Keluhan utama
Biasanya pasien mengatakan nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua
bulan, nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit, nyeri menyebar kebagian
bawah belakang kaki.
c. Lingkungan Pekerjaan
1) Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan yang mengharuskan pekerjanya duduk terlalu lama dan
jenis pekerjaan yang mengangkat beban berat misalnya kuli pasar yang
mengangkat beban di bahunya lebih dari 25kg sehari akan memperbesar
timbulnya keluhan nyeri pinggan (low back pain).

15
Faktor resiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot
rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara pengangkatan
barang, posisi atau sikap tubuh selama bekerja, getaran, dan kerja statis.
2) Aktifitas fisik
Ada banyak hal yang menyebabkan nyeri pinggang, diantaranya adalah
aktivitas fisik yang berlebihan, seperti ; mengangkat benda/beban berat,
membungkuk, posisi tubuh yang tidak tepat saat beraktivitas, seperti; naik
tangga, duduk dan berdiri dari tempat duduk (seperti masuk dan keluar dari
mobil, bak mandi, tempat tidur), memutarkan badan terlalu keras,
membungkukkan badan ke depan, berlari, dan berjalan dengan kecepatan yang
berlebihan.
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering
tidak disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi
kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat
beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya;
pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak
tertopang pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali
membungkukkan punggungnya pada waktu menulis.
Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk
ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur kasur yang tidak
menopang spinal. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada
tempat tidur yang bagian tengahnya lentur. Posisi menggangkat beban dari
posisi berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang
salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.
Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasan, beberapa
aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1
jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton
lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga
dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan
resiko timbulnya nyeri pinggang.

16
3) Olahraga
Olahraga yang berlebihan dapat menyebabkan otot atau tulang salah
tempat. Porsi latihan yang berlebih juga tidak bagus bagi tubuh. Tiap-tiap
orang memiliki batas gerak tubuh yang berbeda. Gerak otot dan tulang yang
terlalu di forsir dapat menyebabkan cedera otot dan persendian.
4) Vibrasi
Vibrasi dengan frekuensi rendah memberi efek fisiologis pada tubuh
manusia, khususnya terhadap orang-orang di dalamnya. Selain dari kuitantitas
frekuensi yang juga berpengaruh adalah intensitas, arah, serta durasi getaran.
Secara biologis, tubuh manusia terdiri dari massa yang tidak homogen serta
berupa sistem yang non-linier. Dalam hal ini, frekuensi getaran bebas sebesar 4
sampai 5 Hz-lah yang paling banyak pengaruhnya.
Khusus getaran 4 sampai 5 Hz, yang paling dipengaruhi adalah dinding
perut dan dada, serta diafragma atau sekat antara rongga dada dan perut.
Akibat getaran yang terus-menerus dan tak tertahankan, seorang bisa
menderita nyeri kronis atau gangguan degeneratif pada tulang, otot, dan
jaringan ikat di bagian punggung.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Observasi : amati cara berjalan penderita pada waktu masuk ruang periksa,
juga cara duduk yang disukainya. Bila pincang, diseret, kaku (merupakan
indikasi untuk pemeriksaan neurologis). Amati juga apakah perilaku penderita
konsisten dengan keluhan nyerinya (kemungkinan kelebihan psikiatrik).
2) Inspeksi : untuk kolumna vertebralis (thoroko-lumbal dan lumbopsakral)
berikut deformitasnya, serta gerakan tulang belakang, seperti fleksi kedepan,
ekstensi kebelakang, fleksi kelateral kanan dan kiri.
3) Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal sehingga
penderita berjalan sangat hati-hati (kemungkinan infeksi, inflamasi, tumor dan
fraktur).
4) Palpasi : apakah terdapat nyeri tekan pada tulang belakang atau pada otot-otot
disamping tulang belakang? Apakah tekanan dari diantara dua prosessus
spinosus menimbulkan rasa nyeri (spurling sign).

17
5) Perkusi : perhatikan apakah timbul nyeri jika processus spinosus diketok.
e. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1) Aktivitas dan istirahat
Gejala: riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk,
mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan/matras waktu tidur,
penurunan rentang gerak dari ekstrimiter pada salah satu bagian tubuh, tidak
mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda: Atropi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan
2) Eliminasi
Gejala: Konstribusi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya
inkontenensia/retensi urine
3) Integritas Ego
Gejala: Ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan,
finansial keluarga.
Tanda: Tampak cemas, defresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
4) Neurosensori
Gejala: Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
Tanda: Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotania, nyeri
tekan/spasme pavavertebralis, penurunan persesi nyeri (sensori)
5) Nyeri/kenyamanan
Gejala: Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan
adanya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat defekasi,
mengangkat kaki, atau fleksi pada leher, nyeri yang tidak ada hentinya atau
adanya episode nyeri yang lebih berat secara interminten; nyeri menjalar ke
kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan; kaku pada leher (servikal). Terdengar
adanya suara “krek” saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa
“punggung patah”, keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk kedepan.
Tanda: Sikap: dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena,
perubahan cara berjalan: berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang
terangkat pada bagian tubuh yang terkena, nyeri pada palpasi.

18
6) Keamanan
Gejala: Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi .
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (trauma jaringan, inflamasi, kompresi
syaraf).
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, kerusakan muskuloskeletal,
kekakuan sendi, kontraktur.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyaman.
3. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
No TUJUAN & KH INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut Tujuan: 1. Selidiki keluhan nyeri,
berhubungan Setelah dilakukan tindakan perhatikan lokasi,
dengan agen keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri itensitas nyeri, dan skala
injuri (trauma dapat berkurang atau hilang. 2. Anjurkan pasien untuk
jaringan, Kriteria Hasil: melaporkan nyeri segera
inflamasi, 1. Klien dapat mengungkapakan saat mulai
kompresi syaraf). nyeri yang dirasakan berkurang 3. Pantau tanda-tanda vital
atau hilang 4. Jelaskan sebab dan
2. Klien tidak menyeringai akibat nyeri pada klien
kesakitan serta keluarganya
3. Klien dapat melaporkan 5. Anjurkan istirahat
kebutuhan istirahat tidur selama fase akut
tercukupi 6. Anjurkan teknik
4. TTV dalam batasan normal distruksi dan relaksasi
5. Intensitas nyeri berkurang (skala 7. Berikan situasi
nyeri berkurang 1-10) lingkungan yang
6. Menunjukkan rileks, istirahat kondusif
tidur, peningkatan aktivitas 8. Kolaborasi dengan tim
dengan cepat medis dalam pemberian
medikasi sesuai indikasi

19
2. Kerusakan Tujuan: 1. Kaji tingkat kemampuan
mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan klien yang masih ada
berhubungan keperawatan selama 4 x 24 jam klien 2. Evaluasi pemantauan
dengan nyeri, dapat mobilisasi dengan adekuat. tingkat inflamasi atau
kerusakan Kriteria Hasil: rasa sakit
muskuloskeletal, 1. Klien dapat mendemonstrasikan 3. Bantu dengan rentang
kekakuan sendi, tekhnik atau perilaku yang gerak aktif atau pasif
kontraktur. memungkinkan melakukan 4. Observasi atau kaji terus
aktifitas. kemampuan gerak
2. Klien dapat melakukan mobilitas motorik dan
secara bertahap. keseimbangan pasien
3. Penampilan seimbang. 5. Rubah posisi dengan
4. Klien mampu berpindah tempat sering dengan personal
tanpa bantuan. cukup
6. Berikan lingkungan yang
nyaman misal alat bantu
7. Anjurkan keluarga klien
untuk melatih dan
memberi motivasi
8. Buat posisi seluruh
persendian dalam letak
anatomis dan nyaman
dengan memberikan
penyangga pada lekukan
lekukan sendi serta
pastikan posisi punggung
lurus

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada
muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut, ketidak mampuan ligamen
lumbosacral, kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalah pada sendi inter
vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Kebanyakan nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah satu dari berbagai
masalah muskuloskeletal (misal regangan lumbosakral akut, ketidakstabilan ligamen
lumbosakral dan kelemahan otot, osteoartritis tulang belakang, stenosis tulang belakang,
masalah diskus intervertebralis, ketidak samaan panjang tungkai).
Penyebab lainnya meliputi obesitas, gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor
retroperitoneal, aneurisma abdominal dan masalah psikosomatik. Kebanyakan nyeri
punggung akibat gangguan muskuloskeletal akan diperberat oleh aktifitas, sedangkan
nyeri akibat keadaan lainnya tidak dipengaruhi oleh aktifitas.

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mampu memahami tentang bagaimana asuhan keperawatan pada pasien
dengan low back pain sehingga dapat meningkatkan kesehatan pekerja yang ada di
masyarakat.
2. Bagi Institusi
Diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang asuhan keperawatan
pada pasien dengan low back pain dan dapat lebih banyak menyediakan referensi-
referensi buku tentang asuhan keperawatan pasien dengan masalah ergonomi.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan lebih mengerti dan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien
dengan low back pain untuk meningkatkan mutu kesehatan pekerja yang ada di
masyarakat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 1.
Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 3.
Jakarta : EGC

Mutakin Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika

Noname. 2010. Askep Asuhan Keperawatan LBP Low Back Pain. http://www.
kapukonline.com/2010/02/askeplowbackpainlbp.html. diakses tanggal 04 Desember
2012 jam 13.10 WIB

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktis.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

22