Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Kebanyakan fraktur terjadi
karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok,
memutar, dan tarikan. Fraktur maksilofasial merupakan salah satu jenis fraktur
yang sering terjadi di kota-kota besar sebagai akibat dari faktor luar seperti
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan akibat olahraga dan juga
akibat dari tindakan kekerasan.
Fraktur maksilofasial melibatkan tulang-tulang penyusun wajah atau
tengkorak bagian depan. Fraktur maksilofasial bisa terjadi hanya pada satu tempat
ataupun kompleks, akibat benturan dengan kekuatan rendah atau akibat kekuatan
tinggi. Trauma maksilofasial juga mengakibatkan jejas dan kegawatan dengan
variasi yang sangat luas mulai dari memar; ekskoriasi; berbagai vulnus pada
jaingan lunak; sampai fraktur. Problem yang ditimbulkan selain aspek fungsi juga
perlu dipikirkan aspek estetik karena dapat meninggalkan kecacatan, sebab dari
cedera yang ditimbulkan akibat fraktur maksilofasial sering menimbulkan
gangguan pada jalan nafas, penciuman, penglihatan, mastikasi, serta otak, oleh
karena itu penanganan fraktur maksilofasial harus dilakukan secara intensif dan
holistik. Bahkan tidak jarang mengakibatkan deformitas berat sampai mengancam
jiwa akibat gangguan saluran nafas bagian atas.
Kedaruratan trauma maksilofasial merupakan suatu penatalaksanaan
tindakan darurat pada orang yang baru saja mengalami trauma pada daerah
maksilofasial. Penanganan khusus pada trauma maksilofasial harus dilakukan
segera (immadiet) atau pada waktu berikutnya (delayed) tergantung pada kondisi
jaringan yang terkena trauma.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Fraktur Maksilofasial


Fraktur maksilofasial adalah hilangnya kontiunitas pada tulang-tulang
pembentuk wajah akibat langsung dari trauma. Tulang-tulang maksilofasial
merupakan tulang-tulang pembentuk tengkorak bagian depan, terdiri dari tulang-
tulang pipih dan menonjol seperti tulang nasal, zigoma, maksila dan mandibula
sehingga lebih rentan terkena trauma dan terjadi fraktur.

2.2. Anatomi Maksilofasial


Struktur tulang maksilofasial yang terdiri atas os maksila, zygomatikus dan
etmoid yang tersusun secara khusus berperan sebagai peredam kejut yang
melindungi otak. Maksilofasial merupakan bagian penting dari tubuh manusia
karena terdapat organ atau struktur penglihatan, penciuman, pengecapan,
pendengaran, perabaan, mastikasi dan fonetik serta berbagai saraf kranial yang
menunjang kerja indra tersebut.
Kulit wajah dipersarafi oleh cabang-cabang ketiga divisi nervus trigeminus
yang juga merupakan saraf sensoris untuk mulut, gigi, rongga hidung dan sinus
paranasalis. Saraf sensoris wajah terdiri atas nervus optalmikus, nervus maksilaris
dan nervus mandibularis. Nervus fasialis merupakan saraf untuk mempersarafi
semua otot-otot ekspresi wajah. Nervus fasialis berjalan kedepan di dalam
substansi glandula parotidea. Saraf ini terbagi atas lima cabang terminal yaitu
ramus temporalis, ramus zigomatikus, ramus buccalis, ramus mandibularis, ramus
servikalis.
Wajah menerima pasokan darah yang banyak dari dua pembuluh utama
yaitu arteri fasialis dan arteri temporalis superfisial. Arteri fasialis dipercabangkan
dari arteri karotis eksterna. Arteri temporalis superfisial bercabang menjadi arteri
fasialis transversa. Vena fasialis menampung darah dari cabang-cabang arteri
fasialis. Bercabang menjadi vena fasialis profunda, vena fasialis transversa dan
vena maksilaris.
Otot-otot wajah berguna untuk ekspresi wajah, membuka/menutup mulut,
membuka/menutup mata dan lain-lain. Otot-otot wajah tertanam di dalam fasia
superfisialis, dan hampir seluruhnya berorigo pada tulang maksilofasial dan
berinsersio pada kulit. Otot-otot wajah terdiri dari otot-otot palpebra, otot-otot
lubang hidung, otot-otot bibir dan pipi, dan otot-otot mastikasi.

Gambar 1. Anatomi Tulang Maksilofasial


Tulang-tulang maksilofasial terdiri dari:
1. Tulang hidung (os nasale)
Merupakan tulang yang mudah patah, kedua tulang hidung membentuk batang
hidung. Ke atas dihubungkan dengan tulang frontal oleh sutura frontonasalis,
ke bawah berartikulasi dengan tulang maksila, kebelakang melekat dengan
perpendikuler dari tulang etmoid.
2. Tulang zigomatikus (os zygomaticus),
Membentuk tonjolan pipi dan sebagian dinding lateral serta dasar orbita.
Tulang zigoma berhubungan antara tulang frontal, sfenoid dan maksila,
kemudian dihubungkan dengan temporal. Di medial bersendi dengan maksila,
di lateral dengan processus zygomaticus ossis temporalis membentuk arcus
zygomaticus, arkus ini yang menentukan dimensi anteroposterior dari tonjolan
pipi.
3. Tulang maksila (os maxilaris)
Kedua tulang maksila (maksila kiri dan kanan) merupakan bagian utama dari
wajah bagian tengah (mid face), membentuk rahang atas, pars anterior palatum
durum, sebagian dinding lateral cavum nasi, dan sebagian dasar orbita.
Bersama palatum merupakan penyangga dari gigi atas. Mempunyai rongga
udara yang paling besar di bagian maksilofasial, rongga berbentuk piramid
yang dilapisi mukosa disebut sinus maksilaris. Rongga ini berhubungan
dengan hidung dan berfungsi sebagai resonator udara. Tempat keluarnya saraf
infraorbitalis dan pembuluh darah infraorbitalis. Bersama dengan tulang
zigoma, frontal, etmoid, sisi medial nasal membentuk rongga mata. Di
posterior tulang maksila bergabung dengan tonjolan pterigoid dari tulang
sfenoid. Struktur tulang maksila kuat dan tebal di pilar lateralnya, sedangkan
pada bagian tengah dan depan tipis (rata-rata hanya 0,5 mm).
4. Tulang madibula (os mandibula)
Terdiri dari kondilus, prosesus koronoideus, ramus, angulus dan korpus yang
bergabung menjadi simfisis mandibula. Korpus berbentuk tapal kuda dan
bertemu dengan ramus masing-masing sisi pada angulus mandibula. Foramen
mentale dapat dilihat di bawah gigi premolar kedua, dari lubang ini keluar
arteri, vena dan nervus alveolaris inferior. Pinggir atas korpus mandibula
disebut pars alveolaris. Pada orang dewasa berisi 16 lubang untuk akar-akar
gigi. Tulang mandibula menonjol dan membentuk kontur wajah, artikulasi
dengan dasar tengkorak melalui kondilus yang bertumpu pada fossa
glenoidalis dan membentuk temporomandibular joint (TMJ). Mandibula dari
aspek fungsinya merupakan gabungan tulang berbentuk “L” bekerja untuk
mengunyah dengan dominasi terkuat m.temporalis yang berinsersi di sisi
medial pada ujung prosesus koroideus dan m.masseter yang berinsersi pada
sisi lateral angulus dan ramus mandibula. m. pterogoideus berinsersi pada sisi
medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. m. masseter bersama m.
temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses
menutup mulut. M. pterigoid berperan untuk membuka madibula.
5. Os lacrimale
Merupakan tulang yang tipis dan tulang terkecil pembentuk wajah. Os
lacrimale berada di lateral dan posterior os nasale. Os nasale berisi fossa
lacrimale dan saccus lacrimale.
6. Os palatinum
Berbentuk huruf L yang membentuk bagian posterior palatum durum, bagian
dasar dan lateral rongga nasal. Bagian posterior palatum durum dibentuk oleh
lamina horizontal os palatinum.
7. Concha nasal inferior
Lebih inferior dari concha nasal medial os ethmoid. Concha nasal inferior
merupakan tulang yang terpisah, dan bukan bagian dari os ethmoid. Concha
nasal inferior merupakan tulang pembentuk bagian dari dinding lateral inferior
rongga hidung.
8. Vomer
Merupakan tulang segitiga didasar rongga hidung yang berartikulasi dengan
lamina perpendicular os ethmoid pada bagian superior. Pada bagian inferior
berartikulasi dengan kedua maxilla dan os palatinum. Vomer membentuk
bagian inferior septum nasal.

2.3. Epidemiologi Fraktur Maksilofasial


Cedera meliputi 9% dari kematian di dunia dan 12% dari beban penyakit
di dunia pada tahun 2000. Lebih dari 90% kematian di dunia akibat cedera terjadi
di negara berkembang.Pasien pria merupakan pasien dengan fraktur maksilofasial
tersering yaitu sebanyak 75,9% di India. Hasil serupa juga didapatkan dari
penelitian di Israel sebanyak 74,2% dan Iran dengan proporsi 4,5 banding 1 untuk
pria. Usia dekade ketiga mendominasi pasien dengan fraktur maksilokranial. Di
Indonesia, pasien fraktur maksilofasial dengan jenis kelamin pria mewakili
81,73%.
Menurut Ghazali data penelitian menunjukkan bahwa kejadian trauma
maksilofasial sekitar 6% dari seluruh trauma yang ditangani oleh SMF Ilmu
Bedah RS Dr. Soetomo. Kejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak
diantara 2 tulang lainnya, yaitu masing-masing sebesar 29,85%, disusul fraktur
zigoma 27,64% dan fraktur nasal 12,66%.
2.4. Etiologi Fraktur Maksilofasial
Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu
dapat terjadi, seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan akibat
olah raga, kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari tindakan
kekerasan. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma maksilofasial
yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum
dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas
usia 21-30 tahun.
Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah
karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat
mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%
kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan
lalu lintas. Sosin, Sak dan Holmgreen (1990), dalam studi mortalitas Pusat
Nasional Statistik Kesehatan data dari 1979-1986, menemukan bahwa 53% dari
28.749 pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm meninggal
karena cidera kepala yang mereka alami.

2.5. Klasifikasi Fraktur Maksilofasial


Area maksilofasialdibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut:
1. Upper face: fraktur yang melibatkan os frontalis dan sinus frontalis
2. Midface: dibagi menjadi bagianatas danbawah. Bagian atas: os zigoma, os
nasal, os ethmoid dan os maksila bagian non gigi. Mencakup fraktur maksila
Le Fort II dan Le Fort III dan atau fraktur nasal, kompleks nasoethmoidal dan
atau kompleks zigomatikomaksila dan dasar orbita. Bagian bawah alveolus
maksila, gigi dan palatum dan dimana fraktur Le Fort I terjadi.
3. Lower face: os mandibula

1. Fraktur Frontal
diakibatkan adanya energi yang besar yang mengenai dahi. tidak selalu
diikuti dengan tanda dan gejala akut.
tanda dan gejala berupa deformitas pada dahi, adanya laserasi,
kontusio,nyeri fasial, atau hematoma di dahi. dapat pula disrupsi atau
krepitasi supraorbita rims,emfisema subkutan tau parestesi supraorbita
2. Fraktur Dasar Orbita
3. Fraktur Zigoma
4. Fraktur Nasal
5. Fraktur Maksila
fraktur maksila merupakan fraktur yang melepaskan maksila dari dasar
tengkorak. maksila menjadi mobile dan dapat mengakibatkan maloklusi
maupun diplopia. fraktur harus memanjang sepanjang slempeng pterygoid
untuk membuat fraktur Le Fort komplit. Hubungan maksila yang erat dengan
rongga mulut, rongga hidung, dan orbita dan sejumlah struktur yang
terkandung di dalamnya merupakan struktur yang penting baik secara
fungsional maupun kosmetik. Fraktur pada tulang-tulang ini memiliki potensi
yang mengancam nyawa. Klasifikasi fraktur maksila yang paling utama
dilakukan oleh Rene Le Fort pada tahun 1901 di Prancis. Klasifikasi Le Fort
terbagi menjadi tiga yaitu fraktur sepertiga atas (Le Fort III) dengan batas tepi
atas orbita yaitu bagian os frontalis, fraktur sepertiga tengah (Le Fort II) yang
dibatasi oleh tepi atas orbita dan tepi bawah baris gigi atas atau bagian
maksila dan fraktur sepertiga bawah (Le Fort I) yang meliputi daerah
mandibula.

Gambar 2 Klasifikasi LeFort


Sumber: L. Gartshore dalam British Journal of Oral Maxillofacial Surgery
edisi 48 (2010)
Le Fort I
Garis fraktur horizontal memisahkan bagian bawah dari maksila, lempeng
horizontal dari tulang palatum, dan sepertiga inferior dari sphenoid pterygoid
processes dari dua pertiga superior dari wajah. Seluruh arkus dental maksila
dapat bergerak atau teriris. Hematoma pada vestibulum atas (Guerin’s sign)
dan epistaksis dapat timbul.
Lefort II
membentuk patahan fraktur berbebntuk piramida. garis fraktur berjalan
diagonal dari lempeng pterigoid melewati maksila menuju tepi inferior orbita
dan ke atas melewati sisi medial orbita hingga mencapai hidung, sehingga
memisahkan slveolus maksila, dinding medial orbita dan hidung sebagai
bagian tersendiri.
Lefort III merupakan fraktur yang melewati sutura zigomatikofrontalis,
berlanjut kedasar orbita hingga sutura nasofrontalis. pada tipe ini tulang-tulang
wajah terpisah dari kranium.
Gejala klinis yang ditimbulkan akibat fraktur maxilla dapat berupa nyeri,
bengkak terutama pada jaringan periorbita, hematom periorbita, maloklusi
yaitu rasa tidak nyaman ketika menggigit karena gigi geligi pada rahang atas
tidak pas terkatup dengan gigi geligi pada rahang bawah, laserasi intraoral,
nyeri ketika mengunyah, krepitasi, deformitas, floating maxilla, epistaksis,
dan rinore.13
Penegakan fraktur maksila dilakukan dengan cara anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fraktur maxilla dilakukan
dengan pemeriksaan floating maxilla dengan cara dahi difiksasi dengan tangan
kiri, kemudian maxilla dipegang dengan ibu jari di luar dan telunjuk di
palatum durum, gerakan maksila ke depan dan ke belakang menunjukkan
adanya fraktur maxilla. Floating maxilla akan lebih nyata pada fraktur maxilla
Le Fort II dan Le Fort III dibandingkan dengan Le Fort I.11
Pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis fraktur maksila dapat
dilakukan dengan CT-scan 3D yang merupakan gold standard pemeriksaan
pada pasien yang dicurigai mengalami fraktur maksilofasial. Pemeriksaan
fraktur maksila juga dapat dilakukan dengan menggunakan foto polos Waters,
Caldwel, submentovertek, dan lateral.11
2. Le Fort II
Fraktur dimulai inferior ke sutura nasofrontal dan memanjang melalui tulang nasal
dan sepanjang maksila menuju sutura zygomaticomaxillary, termasuk sepertiga
inferomedial dari orbita. Fraktur kemudian berlanjut sepanjang sutura
zygomaticomaxillary melalui lempeng pterygoid.
3. Le Fort III
Pada fraktur Le Fort III, wajah terpisah sepanjang basal tengkorak akibat gaya
yang langsung pada level orbita. Garis fraktur berjalan dari regio nasofrontal
sepanjang orbita medial melalui fissura orbita superior dan inferior, dinding
lateral orbita, melalui sutura frontozygomatic. Garis fraktur kemudian
memanjang melalui sutura zygomaticotemporal dan ke inferior melalui sutura
sphenoid dan
Dua tipe fraktur maksila non-Le Fort lain relatif umum. Yang pertama adalah
trauma tumpul yang terbatas dan sangat terfokus yang menghasilkan segmen
fraktur yang kecil dan terisolasi. Sering kali, sebuah palu atau instrumen lain
sebagai senjata penyebab. Alveolar ridge, dinding anterior sinus maksila dan
nasomaxillary junction merupakan lokasi yang umum pada cedera ini. Yang
kedua adalah gaya dari submental yang diarahkan langsung ke superior dapat
mengakibatkan beberapa fraktur vertikal melalui beberapa tulang pendukung
horizontal seperti alveolar ridge, infraorbital rim, dan zygomatic arches (Moe,
2013).

Klasifikasi dari fraktur maksilofasial itu sendiri terdiri atas beberapa fraktur
yakni fraktur kompleks nasal, fraktur kompleks zigomatikus - arkus
zigomatikus, fraktur dento-alveolar, fraktur mandibula dan fraktur maksila
yang terdiri atas fraktur le fort I, II, dan III.

6. Fraktur Naso-Orbito-ethmoidalis
7. Fraktur Mandibula
2.1.3.1 Fraktur Nasoorbitoethmoid (NOE)
Anatomi kompleks ini yang berliku-liku mengakibatkan fraktur NOE
merupakan fraktur yang paling sulit untuk direkonstruksi. Kompleks NOE terdiri
dari sinus frontalis, sinus ethmoid, anterior cranial fossa, orbita, tulang temporal,
dan tulang nasal (Tollefson, 2013). Medial canthal tendon (MCT) berpisah
sebelum masuk ke dalam frontal process dari maksila. Kedua tungkai dari tendon
ini mengelilingi fossa lakrimal. Komponen utama dari NOE ini dikelilingi oleh
tulang lakrimal di posterior, tulang nasal dan pyriform aperture di anterior, oleh
tulang frontal di kranial, maksila di inferior, rongga udara ethmoid di tengah, dan
orbita di lateral (Nguyen, 2010).

Klasifikasi yang digunakan pada fraktur NOE adalah klasifikasi


Markowitz-Manson. Klasifikasi Markowitz-Manson terdiri dari tiga tipe yaitu
(Aktop, 2013):
1. Tipe I: MCT menempel pada sebuah fragmen sentral yang besar.

2. Tipe II: MCT menempel pada fragmen sentral yang telah pecah namun
dapat diatasi atau MCT menempel pada fragmen yang cukup besar untuk
memungkinkan osteosynthesis.

3. Tipe III: MCT menempel pada sentral fragmen yang pecah dan tidak dapat
diatasi atau fragmen terlalu kecil untuk memungkinkan terjadinya
osteosynthesis atau telah terlepas total.
Fraktur NOE meliputi 5% dari keseluruhan fraktur maksilafasial pada
orang dewasa. Kebanyakan fraktur NOE merupakan fraktur tipe I. Fraktur tipe III
merupakan fraktur yang paling jarang dan terjadi pada 1-5% dari seluruh kasus
fraktur NOE (Nguyen, 2010).

Gambar 2.1 Klasifikasi Markowitz-Manson


Sumber: S. Aktop dalam A Textbook of Advanced Oral and Maxillofacial Surgery
(2013)
Gambar 2.2 Klasifikasi Markowitz-Manson
Sumber: T. Galloway dalam Midface Trauma (2012)
Fraktur Zygomatikomaksila
Zygomaticomaxillary complex (ZMC) memainkan peran penting pada
struktur, fungsi, dan estetika penampilan dari wajah. ZMC memberikan kontur
pipi normal dan memisahkan isi orbita dari fossa temporal dan sinus maksilaris.
Zygoma merupakan letak dari otot maseter, dan oleh karena itu berpengaruh
terhadap proses mengunyah (Tollefson, 2013).
Fraktur ZMC menunjukkan kerusakan tulang pada empat dinding
penopang yaitu zygomaticomaxillary, frontozygomatic (FZ), zygomaticosphenoid,
dan zygomaticotemporal. Fraktur ZMC merupakan fraktur kedua tersering pada
fraktur fasial setelah fraktur nasal (Meslemani, 2012).
Klasifikasi pada fraktur ZMC yang sering digunakan adalah klasifikasi
Knight dan North. Klasifikasi ini turut mencakup tentang penanganan terhadap
fraktur ZMC. Klasifikasi tersebut dibagi menjadi enam yaitu (Dadas, 2007):

1. Kelompok 1: Fraktur tanpa pergeseran signifikan yang dibuktikan secara


klinis dan radiologi

2. Kelompok 2: Fraktur yang hanya melibatkan arkus yang disebabkan oleh


gaya langsung yang menekuk malar eminence ke dalam
3. Kelompok 3: Fraktur yang tidak berotasi

4. Kelompok 4: Fraktur yang berotasi ke medial

5. Kelompok 5: Fraktur yang berotasi ke lateral

6. Kelompok 6: Fraktur kompleks yaitu adanya garis fraktur tambahan


sepanjang fragmen utama
Berdasarkan klasifikasi Knight dan North, fraktur kelompok 2 dan 5 hanya
membutuhkan reduksi tertutup tanpa fiksasi, sementara fraktur kelompok 3, 4, dan
6 membutuhkan fiksasi untuk reduksi yang adekuat (Meslemani, 2012).

Fraktur Nasal
Tulang nasal merupakan tulang yang kecil dan tipis dan merupakan lokasi
fraktur tulang wajah yang paling sering. Fraktur tulang nasal telah meningkat baik
dalam prevalensi maupun keparahan akibat peningkatan trauma dan kecelakaan
lalu lintas (Baek, 2013). Fraktur tulang nasal mencakup 51,3% dari seluruh fraktur
fasial (Haraldson, 2013).
Klasifikasi fraktur tulang nasal terbagi menjadi lima yaitu (Ondik, 2009):
1. Tipe I: Fraktur unilateral ataupun bilateral tanpa adanya deviasi garis
tengah

2. Tipe II: Fraktur unilateral atau bilateral dengan deviasi garis tengah

3. Tipe III: Pecahnya tulang nasal bilateral dan septum yang bengkok dengan
penopang septal yang utuh
4. Tipe IV: Fraktur unilateral atau bilateral dengan deviasi berat atau
rusaknya garis tengah hidung, sekunder terhadap fraktur septum berat atau
dislokasi septum
5. Tipe V: Cedera berat meliputi laserasi dan trauma dari jaringan lunak,
saddling dari hidung, cedera terbuka, dan robeknya jaringan
Gambar 2.3 Klasifikasi Fraktur Nasal
Sumber: M.P. Ondik dalam Archives of Facial Plastic Surgery edisi 11 (2009)
Fraktur Mandibula
Mandibula mengelilingi lidah dan merupakan satu-satunya tulang kranial
yang bergerak. Pada mandibula, terdapat gigi-geligi bagian bawah dan pembuluh
darah, otot, serta persarafan. Mandibula merupakan dua buah tulang yang
menyatu menjadi satu pada simfisis (Stewart, 2008).
Mandibula terhubung dengan kranium pada persendian
temporomandibular (TMJ). Fungsi yang baik dari mandibula menentukan gerakan
menutup dari gigi. Fraktur mandibula dapat mengakibatkan berbagai variasi dari
gangguan jangka pendek maupun panjang yaitu nyeri TMJ, gangguan
mengatupkan gigi, ketidakmampuan mengunyah, gangguan salivasi, dan nyeri
kronis. Fraktur mandibula diklasifikasikan sesuai dengan lokasinya dan terdiri
dari simfisis, badan, angle, ramus, kondilar, dan subkondilar (Stewart, 2008).

Gambar 2.5 Lokasi Fraktur Mandibula


Sumber: C. Stewart dalam Emergency Medicine Practice volume 10
(2008)
X-Ray
Fisikawan Jerman yang pertama sekali menemukan X-ray adalah Wilhelm
Rontgen pada tahun 1895. Dia jugalah yang memberi nama X-ray meskipun
banyak yang menyebut sebagai “Rontgen” (Assmus, 1995). Selama lebih dari dua
dekade, nilai dari X-ray kepala pada pasien dengan cedera kepala telah
dipertanyakan.
Meskipun begitu, pada tahun 1999, The Royal College of Surgeons of
England (RCSE) mengeluarkan panduan untuk penggunaan X-ray pada cedera
kepala. Kriteria untuk dilakukan X-ray pada cedera kepala di rumah sakit yang
tersedia CT scan selama 24 jam adalah (Soysa, 2005):
• Kecurigaan cedera yang bukan disebabkan oleh kecelakaan (pada anak-
anak)

• Keberadaan benjolan lunak khususnya di regio parietotemporal

• Kecurigaan terjadi trauma penetrasi


• Kecurigaan terjadi fraktur compound
2.3Computed Tomography Scanning (CT-scan) Kepala
CT-scan kepala adalah prosedur pengabaran X-ray yang menghasilkan gambar
dari isi intrakranial sebagai hasil dari penyerapan X-ray yang spesifik oleh
jaringan yang diperiksa. Alat CT-scan menghasilkan sejumlah gambar cross-
sectional dari otak dan gambar tiga dimensi dari kranium dan pembuluh darah
dapat dihasilkan apabila diperlukan. CT-scan tidak menyakitkan, tidak invasif,
dan secara umum akurat (Fertikh, 2013).
Terdapat beberapa indikasi dilakukan CT-scan kepala yaitu (Fertikh, 2013):
1. Trauma kepala
2. Stroke
3. Nyeri kepala
4. Lesi yang meningkatkan tekanan intrakranial
5. Kejang
6. Kecurigaan terhadap hidrosefalus
7. Kecurigaan terhadap perdarahan intrakranial
8. Penyakit vaskular intrakranial

Menurut National Institute for Health and Clinical Excellence (2007), khusus
pada trauma kepala, terdapat indikasi-indikasi yang mengharuskan dilakukan CT-
scan segera yaitu:
1. Glasgow Coma Scale (GCS) kurang dari 13 pada penilaian awal di instalasi
gawat darurat
2. GCS kurang dari 15 selama 2 jam sejak terjadinya trauma pada penilaian di
instalasi gawat darurat
3. Kecurigaan fraktur tulang tengkorak yang terbuka atau tertekan
4. Tanda-tanda adanya fraktur basis kranial
5. Kejang post-trauma
6. Defisit neurologis fokal
7. Lebih dari satu episode muntah
8. Amnesia selama lebih dari 30 menit sebelum kejadian

Selain indikasi yang disebutkan di atas, pada trauma kepala minor beberapa
indikasi perlu dipertimbangkan untuk melakukan CT-scan kepala. Indikasi-
indikasi tersebut antara lain nyeri kepala, muntah, penurunan kesadaran atau
amnesia, dan intoksikasi alkohol (Sharif-Alhoseini, 2011).
Kelainan Intrakranial pada CT-scan Kepala
2.3.1.1 Fraktur
Ketebalan tulang kranial tidak merata. Oleh karena itu, daya benturan yang
dibutuhkan untuk mengakibatkan fraktur tergantung pada lokasi benturan. Fraktur
kranial lebih mudah terjadi pada tulang temporal dan parietal yang tipis, sinus
sphenoid, foramen magnum, petrous temporal ridge, dan bagian dalam dari
sphenoid wings pada basal kranial (Khan, 2013).
Fraktur kranial linear merupakan fraktur yang paling sering dan
melibatkan fraktur pada tulang namun tidak dijumpai pergeseran. Fraktur ini
umumnya disebabkan karena perpindahan energi yang rendah akibat trauma
tumpul di seluruh permukaan tengkorak yang luas (Khan, 2013).
Fraktur kranial linear terjadi karena efek kontak yang terjadi sekunder
terhadap impact. Pergerakan kepala dan akselerasi tidak memegang peranan
dalam terjadinya fraktur. Ketika tengkorak terkena impact pada daerah yang luas,
dapat terjadi deformasi (perubahan bentuk) daro tengkorak dengan inward dan
outward bending. Fraktur kranial linear yang terjadi pada tulang temporal dapat
memutuskan arteria meningea media yang berjalan di dalam sebuah alur pada
tulang temporal, sehingga terjadi EDH (Sastrodiningrat, 2012).

Gambar 2.6 Fraktur Linear


Sumber: University of Virginia (2013)
Perpindahan energi yang tinggi dapat mengakibatkan fraktur kranial
terdepresi, dimana fragmen tulang terdorong ke dalam. Fraktur ini biasanya
memecah dengan fragmen tulang dimulai dari titik benturan maksimal dan
menyebar ke perifer (Khan, 2013). Fraktur kranial terdepresi ditentukan apabila
segmen fraktur terletak lebih rendah dibandingkan segmen yang normal
(Prashkant, 2011).
Gambar 2.7 Fraktur Kranial Terdepresi
Sumber: J. Paulsen dalam WestJEM volume 12 (2010)
Pada anak-anak, garis fraktur terkadang susah dibedakan dengan garis
sutura aksesoris. Terlebih pada pemakaian foto polos, penilaian fraktur lebih
menantang akibat ketidakmampuan untuk menilai keadaan jaringan otak. Sutura
aksesoris dapat dibedakan dari fraktur melalui poin-poin berikut (Sanchez, 2010):
1. Fraktur yang sederhana dan tidak terdepresi memiliki kepadatan yang
tinggi dan tepi yang tidak sklerotik. Sebaliknya, sutura aksesoris biasanya
memiliki pola zigzag dengan tepi sklerotik.

2. Fraktur akibat benturan yang kuat dapat melewati garis sutura atau
memanjang dari satu sutura besar ke sutura lainnya, sementara sutura
aksesoris umumnya bergabung dengan sutura besar.

3. Sutura aksesoris sering sekali dijumpai pada kedua sisi dan simetris
terutama pada tulang parietal.

4. Pembengkakan jaringan lunak atau hematoma sering sekali dijumpai pada


fraktur kranial yang akut. Namun, tidak adanya hematoma subgaleal tidak
menyingkirkan diagnosa fraktur terutama apabila cedera terjadi beberapa hari
sebelumnya.