Anda di halaman 1dari 15

KONSEP PENGANGGARAN KESEHATAN

MATA KULIAH PEMBIAYAAN DAN PEMBIAYAAN KESEHATAN

Disusun Oleh:

Kelompok VI

1. Muthiya Harlingga (1610713016)

2. Nisvia Febrianti (1610713025)

3. Widya Permatasari (1610713027)

4. Widya Nabila (1610713052)

DOSEN PEMBIMBING :

Evindyah Prita Dewi SKM, MARS

KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah banyak
memberikan nikmat kepada kami, sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu
tugas kami dalam mata kuliah pembiayaan dan penganggaran kesehatan. Makalah ini berjudul
“Konsep Penganggaran Kesehatan”.

Kami sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh
karenanya kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak
demi perbaikan makalah ini. Atas bantuan, arahan dan motivasi yang senantiasa diberikan
selama ini, dengan segala kerendahan hati kami menghanturkan segenap ucapan terima kasih.

Kami sebagai penyusun pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan. Begitu pula dalam
penyusun makalah ini, yang mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf
atas segala kekurangannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya.

Depok, 4 April 2018

Kelompok 6

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................ i


Daftar Isi .......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................2
1.3 Tujuan .......................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengambilan Keputusan yang Efektif dalam Kelompok. ............................................3


2.2 Proses PengambilanKeputusan .................................................................................... 7
2.3 Efektivitas Pengambilan Keputusan ..........................................................................11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 18


3.2 Daftar Pustaka ............................................................................................................19

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kesehatan tidak hanya merupakan hak warga tetapi juga merupakan barang investasi
yang menentukan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi negara, karena itu negara
berkepentingan agar seluruh warganya sehat (“Health for All”), sehingga ada kebutuhan
untuk melembagakan pelayanan kesehatan universal, ada dua isu mendasar untuk
mewujudkan tujuan pelayanan kesehatan dengan cakupan universal, yaitu bagaimana cara
membiayai pelayanan kesehatan untuk semua warga, dan bagaimana mengalokasikan dana
kesehatan untuk menyediakan pelayanan kesehatan dengan efektif, efisien, dan adil.
(Bisma Murti: 2010)
Diperlukan juga adanya upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyrakat
yang setinggi-tingginya, peranan masyarakat juga sangat diperlukan dalam hal ini karena
dengan peran tersebut upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan tersebut dapat
terlaksana dengan baik.Upaya- upaya seperti promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
yang bersifat menyeluruh terpadu dan berkesinambungan juga harus terus di terapakan
dalam hal ini agar derajat kesehatan masyarakat dapat terus terjaga dan meningkat.Selain
upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut diperlukan juga
adanya managemen ulang terhadap sistem pembiyayaan kesehatan dan penyusunan
program anggaran kesehatan agar subsistem dalam sistem kesehatan nasional dapat
terlaksana dengan baik.
Anggaran pada dasarnya merupakan alat penting untuk perencanaan dan
pengendalian jangka pendek yang efektif dalam organisasi. Pemikiran strategis disetiap
organisasi adalah proses dimana manajemen berfikir tentang pengintegrasian aktivitas
organisasi ke arah tujuan yang berorientasi kesasaran masa mendatang. Maka dari itu
penyusunan pengganggaran sangat penting dipelajari sebagai salah satu alat utama yang
digunakan dalam sistem pengendalian manajemen.
Dengan adanya anggaran kita bisa merencanakan kebutuhan sehari-hari, kebutuhan
jangka panjang, pembelanjaan, dan pengeluaran-pengeluaran lainnya agar kebutuhan
tersebut dapat digunakan secara efesien dan optimal. Selain itu dengan adanya anggaran

ii
kita dapat merencanakan suatu kegiatan yang dinyatakan dalam ukuran keuangan, serta
mengidentifikasi sumber daya dan komitmen yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan
organisasi selama periode dianggarkan. Penganggaran mempunyai peran penting dalam
perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan. Anggaran juga untuk meningkatkan
koordinasi dan komunikasi.
1.1. Rumusan Makalah
1. Apa pengertian Penganggaran Kesehatan?
2. Apa saja Prinsip dalam Penganggaran Kesehatan?
3. Apa saja Aspek dalam Penganggaran Kesehatan?
4. Apa saja Karakteristik dalam Penganggaran Kesehatan?
5. Apa saja Konsep Penganggaran Kesehatan?
1.2. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari Penganggaran Kesehatan.
2. Mengetahui apa saja prinsip-prinsip dalam Penganggaran Kesehatan.
3. Mengetahui apa saja aspek dalam Penganggaran Kesehatan.
4. Mengetahui apa saja Karakteristik Penganggaran Kesehatan.
5. Mengerahui apa saja Konsep Penganggaran Kesehatan.

iii
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Penganggaran Kesehatan

Dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana rencana organisasi diwujudkan dalam
bentuk nilai mata uang (rupiah). Ekspresi kuantitatif rencana organisasi ini adalah merupakan
produk akhir proses perencanaan dan cukup membutuhkan penanganan khusus pada sebagian
besar organisasi pelayanan kesehatan. Alokasi anggaran kesehatan yang tercantum dalam UU No.
36 Tahun 2009 tentang Kesehatan; Mendapatkan masukan terkait ruang lingkup dan komponen
anggaran kesehatan (Pusat dan Daerah); dan Mengidentifikasi langkah tindak lanjut implementasi
UU No. 36 Tahun 2009. Poin penting dalam pertemuan tersebut antara lain:

1. Perlu penjelasan lebih jauh tentang pasal 171 ayat (1) dan (2) UU No. 36 Tahun
2009
2. Struktur anggaran saat ini (UU APBN) adalah 26% untuk daerah, 26% untuk
subsidi, 20% untuk pendidikan, apabila untuk kesehatan dialokasikan 5% maka
untuk sektor lainnya (infrastruktur, pertanian, hankam,dll) menjadi 23%. Hal ini
perlu mendapat perhatian khusus karena dalam konstitusi (UUD) tidak menyebut
nominal persentase untuk anggaran kesehatan, sehingga jika masuk dalam
pembahasan MK, posisi UU Kesehatan menjadi sulit karena sejajar dengan UU
APBN.
3. Anggaran kesehatan 5% dihitung berdasarkan anggaran langsung terkait program
kesehatan karena apabila anggaran di sektor lain juga dihitung, kemungkinan
alokasi anggaran kesehatan akan melebihi 5%.
4. Perhitungan pemanfaatan anggaran kesehatan sebesar 2/3 untuk pelayanan publik
dapat mengacu pada pelaksanaan SPM kesehatan. Namun saat ini, SPM kesehatan
masih berada pada tataran kabupaten, harus dipikirkan untuk diturunkan sampai
dengan tingkat pelayanan, yaitu puskesmas dan Rumah Sakit.
5. Tata cara alokasi anggaran kesehatan perlu diatur dengan PP tentang pembiayaan
kesehatan. Dengan ditetapkannya PP, maka upaya pemenuhan alokasi anggaran
Pemerintah sebesar 5% dapat segera dilakukan. Penyusunan PP sedapat mungkin
melibatkan seluruh stakeholder terkait dalam Tim Sinkronisasi/Harmonisasi lintas
sektor.
2.2. Prinsip Penganggaran Kesehatan
Anggaran merupakan satu instrumen penting di dalam manajemen karena merupakan bagian
dari fungsi manajemen. Di dunia bisnis maupun di organisasi sektor publik, termasuk
pemerintah, anggaran merupakan bagian dari aktivitas penting yang dilakukan secara rutin.
Dalam rangka penggunaan anggaran terdapat beberapa prinsip penganggaran yang perlu
dicermati, yaitu:

 Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran


APBD harus dapat menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran, hasil,
dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang

ii
dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama untuk mengetahui
proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan kepentingan, terutama pemenuhan
kebutuhan - kebutuhan hidup masyarakat. Masyarakat juga berhak untuk menuntut
pertanggungjawaban atas rencana ataupun pelaksanaan anggaran tersebut.

 Disiplin Anggaran
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang
dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan pada
setiap pos/pasal merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja. Penganggaran pengeluaran
harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup
dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum/tidak tersedia anggarannya dalam
APBD/ APBD Perubahan.

 Keadilan Anggaran
Pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya secara adil agar
dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian
pelayanan karena pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta
masyarakat.

 Efisiensi dan Efektivitas Anggaran


Penyusunan anggaran hendaknya dilakukan berlandaskan asas efisiensi, tepat guna, tepat
waktu pelaksanaan, dan penggunaannya dapat di pertanggung jawabkan. Dana yang
tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan
peningkatan dan kesejahteraan maksimal untuk kepentingan masyarakat.

2.3. Aspek Penganggaran Kesehatan


Aspek-aspek yang harus tercakup dalam penganggaran kesehatan meliputi:
 Aspek perencanaan
Dalam sistem perencanaan dan penganggaran kesehatan terdapat tiga pendekatan
yaitu :

1. Pendekatan Penganggaran Terpadu


Merupakan penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara
terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan
pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi
dana. Penganggaran terpadu dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh
proses perencanaan dan penganggaran di lingkungan
Kementerian/Lembaga (K/L) untuk menghasilkan Rencana Kerja Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) dengan klasifikasi anggaran menurut
organisasi, fungsi, dan jenis belanja. Integrasi atau keterpaduan proses

iii
perencanaan dan penganggaran dimaksudkan agar tidak terjadi duplikasi
dalam penyediaan dana untuk K/L baik yang bersifat investasi maupun
untuk keperluan biaya operasional. Perencanaan dan penganggaran disusun
secara terpadu dan menyeluruh dengan memperhatikan berbagai sumber
dana yaitu APBN, termasuk PNBP dan P/HLN, serta APBD.
2. Pendekatan Penganggaran berbasis Kinerja
Merupakan suatu pendekatan dalam sistem perencanaan dan penganggaran
yang menunjukkan secara jelas keterkaitan antara alokasi anggaran dengan
kinerja yang dihasilkan, serta memperhatikan efisiensi dalam pencapaian
kinerja. Kinerja yang dimaksud adalah prestasi kerja yang berupa keluaran
dari kegiatan atau hasil dari program dengan kualitas dan kuantitas yang
terukur.
3. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM)
Merupakan pendekatan penyusunan anggaran berdasarkan kebijakan
dengan pengambilan keputusan yang menimbulkan implikasi anggaran
dalam kurun waktu lebih dari satu tahun anggaran. Pendekatan tersebut
sangat bermanfaat dalam mengelola keuangan negara dalam rangka
pelaksanaan pembangunan nasional. Adapun manfaat dari KPJM tersebut
antara lain:

a. memelihara kelanjutan fiskal dan meningkatkan disiplin fiskal.


b. meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan dan penganggaran.
c. mengarahkan alokasi sumber daya agar lebih rasional dan strategis.
d. meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dengan
pemberian pelayanan yang optimal.

Dengan tiga pendekatan dalam perencanaan dan penganggaran tersebut


diatas, diharapkan tujuan pembangunan nasional bidang kesehatan akan tercapai
secara optimal.

 Aspek pengendalian

ii
Pengendalian anggaran pada prinsipnya dapat memperhatikan suatu
kegiatan program kesehatan dan selalu mengawasi aktivitas sehari-hari
terhadap pengelolaan keuangan hubungannya penggunaan anggaran maka
pengendalian menurut Sondang. S.Giagian (1999 : 16) draft manajemen yang
didefinisikan bahwa, pengendalian anggaran adalah proses atau usaha yang
sistimatis dalam penetapan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan
kegiatan, sistem informasi penggunaan keuangan, membandingkan
pelaksanaan nyata dengan perencanaan menentukan dan mengatur
penyimpangan-penyimpangan serta melakukan koreksi perbaikan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan, sehingga tujuan tercapai secara efektif
dan efisien.

 Aspek akuntabilitas publik


Anggaran yang berakuntabilitas adalah anggaran yang direncanakan
sesuai dengan kebutuhan. Di sisi proses, pencapaiannya dilakukan dengan
pelibatan seluas-luasnya dari elemen pemangku kepentingan terutama
kelompok sasaran, yaitu masyarakat. Anggaran akuntabel dirumuskan dengan
pertimbangan indikator-indikator kinerja. Harus efektif, efisien dan tidak
memunculkan ruang-ruang korupsi. Dari sisi hasil, anggaran akuntabel harus
diimplementasikan dengan cara-cara yang transparan dan kompetitif.
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), adalah
rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang dirancang
untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data,
pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi
pemerintah, dalam rangka pertanggung-jawaban dan peningkatan kinerja
instansi pemerintah. Pelaksanaan SAKIP dilakukan dengan:
1. Mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategis;
2. Merumuskan visi, misi, faktor-faktor kunci keberhasilan, tujuan,
sasaran dan strategi instansi Pemerintah;
3. Merumuskan indikator kinerja instansi Pemerintah dengan

iii
berpedoman pada kegiatan yang dominan, menjadi isu nasional dan
vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah;
4. Memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
dengan seksama;
5. Mengukur pencapaian kinerja, dengan:
a. Perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target
b. Perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya
c. Perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain
atau standar internasional
6. Melakukan evaluasi kinerja dengan:
a. Menganalisa hasil pengukuran kinerja
b. Menginterpretasikan data yang diperoleh
c. Membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program
d. Membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi
pemerintah.
2.4. Karakteristik Penganggaran Kesehatan

a. Adanya Rencana Kesehatan


Perencanaan kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang yang didahului dengan penetapan tujuan, mengenali masalah
kesehatan melalui analisis situasi masalah masyarakat, menentukan dan memilih
sumber daya yang dibutuhkan, menyusun kegiatan yang akan dilakukan,
menetapkan besarnya biaya, menentukan waktu pelaksanaan, menentukan tempat
kegiatan, menentukan sasaran, menetapkan target yang akan dicapai, dan
menyusun indikator pencapaian serta bentuk evaluasi yang akan dilakukan untuk
memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat.

b. Penganggaran mengestimasi potensi pencapaian program kesehatan (feedback)


Dalam kesehatan, suatu penganggaran dapat memperkirakan kemungkinan
maksimal pencapaian suatu program kesehatan.

c. Dinyatakan dalam satuan moneter

ii
Anggaran kesehatan merupakan suatu rencana kerja yang disusun sistematis dan
dinyatakan dalam unit moneter dibidang kesehatan yang disusun berdasarkan
pengalaman masa lalu dan taksir-taksiran pada masa yang akan datang, maka
anggaran tersebut dapat menjadi pedoman kerja bagi setiap instansi kesehatan
untuk menjalankan program-programnya. Adapun unit moneter yang berlaku di
Indonesia adalah unit “rupiah”.

d. Sebagai komitmen manajemen kesehatan


Di bidang kesehatan, anggaran kesehatan sebagai komitmen manajemen kesehatan
berarti instansi kesehatan sepakat untuk mengemban tanggung jawab atas
pencapaian tujuan program yang dianggarkan.

e. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh otoritas yang lebih tinggi ketimbang
oleh pihak yang menganggarkan (budget).

f. Hanya dapat dirubah dalam kondisi yang ditetapkan.


Begitu disetujui, anggaran kesehatan hanya dapat diubah dalam kondisi yang
ditetapkan. Seperti berubahnya prioritas kesehatan di masyarakat
2.5. Konsep Penganggaran Kesehatan
1. Manfaat Anggaran
Menurut Marconi dan Siegel (1983) dalam Hehanusa (2003, p.406-407) manfaat
anggaran yaitu ;

 Anggaran adalah hasil dari proses perencanaan, berarti anggaran mewakili


kesepakatan negosiasi di antara partisipan yang dominan dalam suatu
organisasi mengenai suatu tujuan kegiatan di masa yang akan datang.
 Anggaran adalah suatu gambaran tentang prioritas alokasi sumber daya yang
dipunyai karena bisa bertindak sebagai blue print aktivitas perusahaan.
 Anggaran adalah sebuah alat komunikasi internal yang menghubungkan
departemen (divisi) yang satu dengan departemen (divisi) lainnya dalam
organisasi maupun dengan manajemen puncak.

iii
 Anggaran menyediakan sebuah informasi tentang hasil aktivitas yang
sesungguhnya dibandingkan dengan standar yang sudah ditetapkan.
 Anggaran sebagai sebuah alat pengendalian yang mengarah manajemen untuk
menentukan bagian organisasi yang kuat dan lemah, hal ini akan
bisa mengarahkan manajemen untuk menentukan tindakan koreksi yang harus
diambil.
 Anggaran mempengaruhi dan memotivasi manajer dan karyawan untuk
bekerja dengan konsisten, efektif dan efisien dalam kondisi kesesuaian tujuan
antara tujuan perusahaan dengan tujuan karyawan.

2. Tipe-Tipe Anggaran
a Ceiling Budget
Tipe anggaran yang dipakai untuk tujuan-tujuan pengawasan dinamakan Ceiling
Budget. Anggaran jenis ini mengawasi suatu instansi secara langsung dengan
cara menentukan suatu batas-batas pengeluaran melalui peraturan
penggunaan/pemberian, atau secara tidak langsung dengan cara membatasi
suatu penghasilan instansi pada sumber yang diketahui dan jumlah yang
terbatas.
b A Line-Item Budgeting
Tipe ini menggolongkan sebuah pengeluaran-pengeluaran berdasarkan jenis,
dipakai untuk mengawasi jenis-jenis pengeluaran dan juga jumlah totalnya.

c Performance and Program Budgets


Tipe ini berguna untuk menspesifikasi kegiatan-kegiatan atau program-program
yang berdasarkan mana dana digunakan, dan dengan cara demikian membantu
dalam evaluasinya. Dengan cara memisahkan pengeluaran-pengeluaran
berdasarkan fungsi (seperti kesehatan atau keamanan public) atau berdasarkan
jenis pengeluaran (seperti kepegawaian dan peralatan) atau berdasarkan sumber
penghasilan seperti pajak kekayaan atau biaya-biaya pemakaian (user fees), para
administrator dan para anggota legislatif dapat mendapatkan laporan-laporan

ii
yang tepat mengenai suatu transaksi-transaksi keuangan, untuk
mempertahankan baik efisiensi ke dalam maupun pengawasan dari luar.
3. Macam Anggaran
 Menurut teknik penyusunan yang digunakan.
Dalam hal ini, teknik penyusunan anggaran khusus pada bidang kesehatan. Maka
dapat dibedakan menjadi 4 Yang diutamakan adalah hasil yang dicapai tiap
program. Caranya dengan memperkirakan hasil yang dicapai, kemudian dirinci
menurut kegiatan yang harus dilakukan guna mencapai hasil yang
diharapkansetiap kegiatan harus dilakukan penilaian biaya yang disebut Rencana
Anggaran Satuan Kegiatan (RASK).
Dari anggaran hasil dapat diditentukan besar biaya satuan atau yang
disebut Unit Cost. Anggaran hasil dapat digunakan untuk menilai efisiensi dan
efektivitas program yang sama, tempat berbeda dengan membandingkan besar
kecilnya biaya satuan dan kunjungan yang meliputi rawat jalan dan rawat inap.
macam:
a Anggaran program (program budget)
Pada anggaran ini yang diutamakan adalah biaya program secara
keseluruhan, yang perhitunngannya dirinci menurut kegiatan dalam
program. Penyajian anggaran ini dikelompokkan menurut program dan mata
anggaran. Contohnya dalam program Puskesmas ada program Balai
Pengobatan, Program KIA, Promosi Kesehatan, dan lainnya.
b Anggaran hasil (performance budget)
Anggaran baris (line item budget)
Rencana anggaran disusun menurut butir dan disesuaikan dengan
struktur anggaran yang merupakan akumulasi seluruh program. Struktur
anggaran dibedakan atas anggaran untuk investasi, anggaran operasional,
dan anggaran pemeliharaan. Pada beberapa program ditambahkan anggaran
untuk promosi/pemasaran, dan transportasi.
c Anggaran sistem (system budget)
Perencanaan anggaran sistem didasarkan pada suatu sistem tertentu.
Salah satu sistem yang cukup terkenal adalah PPBS (Planning Programming

iii
Budgeting System). Sistem ini juga dikenal dengan SP4 (Sistem
Perencanaan dan Penyusunan Penganggaran).

4. Pendekatan Penyusunan Anggaran


Ada tiga pendekatan dalam penyusunan anggaran, yaitu:

a. Top-Down
Dalam pendekatan top-down, seluruh kegiatan dan alokasi biaya untuk
masing-masing kegiatan Puskesmas ditentukan oleh top management, dalam
hal ini adalah kepala Puskesmas. Keuntungan pendekatan top-down adalah
proses penyusunan anggaran relatif cepat. Namun pendekatan top-down juga
memiliki kelemahan yaitu sangat kurangnya keterlibatan staf Puskesmas
sebagai pelaksana program. Akibatnya, komunikasi dan koordinasi kurang
berjalan lancar.

b. Bottom-Up
Penyusunan anggaran dengan pendekatan bottom-up, masing-masing unit di
Puskesmas dapat secara independen mengidentifikasi kegiatan dan sumber
daya yang dibutuhkan. Kemudian usulan anggaran dari setiap unit
dikonsolidasikan di tingkat Puskesmas untuk mencapai kesepakatan anggaran
pada periode selanjutnya.

c. Participatory
Dalam pendekatan penyusunan anggaran participatory, adalah kombinasi
antara pendekatan top-down dan bottom-up. Penyusunan anggaran dimulai
dengan penentuan parameter oleh kepala Puskesmas sebagai acuan dalam
penyusunan anggaran, termasuk penentuan sasaran dan tujuan untuk tahun
mendatang. Kemudian, masing-masing unit di Puskesmas merencanakan
anggaran dengan berpatokan parameter acuan yang telah dibuat. Keuntungan
pendekatan participatory adalah keseimbangan peran serta dari setiap tingkat
manajemen. Namun, pedekatan ini cenderung menghambat inovasi staf karena
top manajer masih dominan dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

ii
iii

Anda mungkin juga menyukai