Anda di halaman 1dari 163

STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN KELUARGA SEBAGAI

CAREGIVER DALAM MERAWAT PASIEN STROKE DI RUMAH


TESIS
Oleh
NANDA MASRAINI DAULAY 127046041 / KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS
KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara
STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN KELUARGA SEBAGAI
CAREGIVER DALAM MERAWAT PASIEN STROKE DI RUMAH
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Keperawatan
(M.Kep) dalam Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Minat Studi Keperawatan
Medikal Bedah pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Oleh
NANDA MASRAINI DAULAY 127046041 / KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS
KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Telah diuji
Pada tanggal : 26 Agustus 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D
Anggota : 1. Nunung Febriany Sitepu, S.Kep, Ns., MNS
2. Dr. Ir. Evawani Yunita Aritonang., M.Si
3. Ikram, S.Kep, Ns., M.Kep
Universitas Sumatera Utara
Judul Tesis : Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai
Caregiver dalam Merawat Pasien Stroke di Rumah
Nama Mahasiswa : Nanda Masraini Daulay
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Keperawatan Medikal Bedah
Tahun : 2014
ABSTRAK
Pasien stroke yang kembali ke rumah mengalami kecacatan. Kecacatan
akibat stroke tidak hanya berdampak bagi pasien stroke, akan tetapi juga
berdampak bagi anggota keluarga yang akan menjadi caregiver. Perhatian pada
caregiver ini penting karena keberhasilan pengobatan dan perawatan pasien stroke
tidak terlepas dari bantuan dan dukungan yang diberikan oleh caregiver.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang makna
pengalaman keluarga sebagai caregiver pasien stroke di rumah. Penelitian ini
merupakan studi fenomenologi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan
indepth interview, observasi, dan fieldnote. Partisipan dalam penelitian ini
berjumlah 16 orang yang dipilih dengan teknik purpossive sampling. Data yang
diperoleh dianalisis dengan pendekatan Colaizzi. Hasil analisis penelitian
ditemukan 5 tema yaitu: memberikan dukungan total, memenuhi kebutuhan dasar,
penderitaan dan hikmah bagi caregiver, kurangnya keterampilan dalam merawat,
dan keterbatasan caregiver. Caregiver menderita masalah fisik, psikologis, dan
Universitas Sumatera Utara
sosial. Pada umumnya, caregiver merasa terabaikan, mereka membutuhkan
informasi terkait penyakit pasien, cara merawat pasien stroke, dan sumber-sumber
komunitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan
perencanaan pulang individual lebih berpusat pada keluarga daripada pendekatan
berpusat pada pasien.
Kata kunci: caregiver keluarga, merawat, pasien stroke
Universitas Sumatera Utara
Thesis Title : The Phenomenology Study on the Experience of
Family as Caregiver in Treating Stroke Patient at
Home.
Name : Nanda Masraini Daulay
Study Program : Master of Nursing
Field of Specialization : Medical-Surgical Nursing
Year : 2014
ABSTRACT
Stroke patients who returned home have disabilities. Disability from stroke
not only impact on stroke patients, but also has implications for family members
who will be the caregiver. Attention to the caregiver is important because the
success of the treatment and care of stroke patients can not be separated from the
help and support provided by the caregiver. This study aims to explore the depth
of the meaning of experience as a family caregiver for stroke patients at home.
This study is a descriptive phenomenological study. Data was collected through
in-depth interview, observation, and fieldnote. Participants in this study of 16
people were selected by purposive sampling technique. Data were analyzed with
Collaizi approach. Results of analysis found 5 (five) themes, namely: total
support, meet basic needs, suffering and wisdom for the caregiver, lack of skills in
caring for, and limitations of caregiver. Caregiver suffering from physical
problems, psychological, and social. In general, caregivers feel neglected, they
Universitas Sumatera Utara
require information related to the patient's illness, how to care for stroke patients,
and other sources of community health services. Based on the research results, it
is suggested that discharge planning more individualized family-centered rather
than patient-centered approach.
Keywords: caregiver, family, treating, stroke patient
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena dengan berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan
judul “Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver dalam
Merawat Pasien Stroke di Rumah”, disusun untuk memenuhi sebagian dari syarat
untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Keperawatan di Program Studi Magister
Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak akan dapat diselesaikan
dengan baik tanpa bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, saya ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU) beserta
jajarannya yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk
melanjutkan studi ke jenjang Magister Keperawatan.
2. Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu
Keperawatan Fakultas Keperawatan USU sekaligus dosen pembimbing I.
Terima kasih telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis
dalam mengerjakan tesis ini hingga selesai. Terima kasih juga atas
kesempatan yang telah beliau berikan kepada penulis dalam meningkatkan
aktualisasi diri selama masa pendidikan.
3. Nunung Febriany, S, S.Kep, Ns, MNS selaku dosen pembimbing II yang
tidak henti-hentinya memberikan pengarahan, bimbingan dan motivasi
kepada penulis sejak awal penulisan hingga selesai tesis ini.
Universitas Sumatera Utara
4. Dr. Ir. Evawani J. Aritonang, M.Si, dan bapak Ikram, S.Kep, Ns, M.Kep
sebagai penguji yang telah memberikan kritik dan saran untuk kesempurnaan
penulisan tesis ini.
5. RSUD Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk
melakukan penelitian di rumah sakit tersebut.
6. Ayah, Ibu, dan Keluarga penulis yang telah banyak memberikan dukungan
materil dan moril dalam penyelesaian tesis ini.
7. Yayasan Pendidikan Haji Sumatera Utara atas kesempatan dan dukungan
yang diberikan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan pendidikan ini
dengan baik.
8. Rekan-rekan Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara Angkatan II 2012/2013 dan semua
pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu
dan memberi dorongan untuk menyelesaikan laporan tesis ini.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini dan harapan
penulis semoga tesis ini bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya
profesi keperawatan.
Medan, 26 Agustus 2014
Penulis
Nanda Masraini Daulay
Universitas Sumatera Utara
RIWAYAT HIDUP
Nama : Nanda Masraini Daulay
Tempat Tanggal Lahir : Padang Sidempuan, 12 Januari 1988
Alamat Asal : Jln. Perwakilan/Perdata No. 8B, Kec. Medan
Timur, Medan
No. Telp/HP : 085297737764
Riwayat Pendidikan :
Jenjang Pendidikan Nama Institusi Tahun Lulus
SD SD Negeri 142442/ 26 Padangsidempuan 2000
SLTP MTs Negeri Model Padangsidempuan 2003
SMA SMA Negeri 1 (Plus) Matauli Pandan 2006
Ners Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara
2011
Magister Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara
2014
Riwayat Pekerjaan :
Bekerja sebagai Staf Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Haji
Sumatera Utara 2011- sekarang.
Universitas Sumatera Utara
Kegiatan Akademik Selama Studi :
Peserta pada acara “Seminar Penelitian Kualitatif Sebagai Landasan
Pengembangan Pengetahuan Disiplin Ilmu Kesehatan & Workshop
Analisis Data dengan Content Analysis & Weft-QDA”, 31 Januari 2012,
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Peserta Seminar Keperawatan Nursing Leadership menyongsong Asean
Community 2015, 30 Januari 2013 Fakultas Keperawatan, USU.
Peserta pada 2013 MEDAN INTERNATIONAL NURSING CONFERENCE
“The Application of Nursing Education Advanced Research and Clinical
Practice”, 1 – 2 April 2013, Hotel Garuda Plaza, Medan, Sumatera
Utara.
Presentasi poster pada Seminar Nasional "Peningkatan Kualitas Pelayanan Pada
Neonatus melalui Implementasi Developmental Care" pada tanggal 10
Oktober 2013.
Peserta “Seminar & Workshop Diagnostic Reasoning NANDA dan ISDA Basic,
24 November 2014, Fakultas Keperawatan, USU.
Peserta “Pelatihan Perawatan Luka Dasar Certified Wound Care Clinician
Associate (CWCCA)”, 24-29 Februari 2014, Indonesian Etnep.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK
.................................................................................................... i ABSTRACT
.................................................................................................. iii KATA PENGANTAR
................................................................................. v RIWAYAT HIDUP
..................................................................................... vii DAFTAR ISI
................................................................................................ ix DAFTAR TABEL
....................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR
................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN
............................................................................... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN .......................................................................... 1 1.1. Latar
Belakang ......................................................................... 1 1.2. Pertanyaan Penelitian
............................................................... 6 1.3. Tujuan Penelitian
..................................................................... 6 1.4. Manfaat Penelitian
................................................................... 7
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 8 2.1. Konsep
Stroke .......................................................................... 8 2.1.1. Definisi
............................................................................ 8 2.1.2. Klasifikasi Stroke
............................................................ 9 2.1.3. Faktor Risiko
................................................................... 12 2.1.4. Manifestasi Klinis
........................................................... 12 2.1.5. Penatalaksanaan Stroke
................................................... 17 2.1.6. Dukungan Sosial bagi Pasien Stroke Paska
Akut ........... 19 2.2. Konsep Caregiver ..................................................................... 19
2.2.1. Definisi ............................................................................ 19 2.2.2. Jenis Caregiver
.............................................................. 20 2.2.3. Tugas dan Peran Caregiver Keluarga
............................. 21 2.2.4. Beban pada Caregiver ..................................................... 23
2.2.5. Dukungan dan Kebutuhan Caregiver ............................. 25 2.3. Landasan Teori
Keperawatan ................................................... 31 2.3.1. Konsep Teori
................................................................... 32 2.3.2. Hubungan antar Konsep dalam
Dinamika Caregiving ... 38 2.4. Konsep Fenomenologi
............................................................. 39
BAB 3. METODE PENELITIAN .............................................................. 47 3.1. Desain
Penelitian ..................................................................... 47 3.2. Lokasi dan Waktu
Penelitian ................................................... 47 3.3. Partisipan
.................................................................................. 49 3.4. Pengumpulan Data
................................................................... 50 3.5. Variabel dan Definisi Operasional
........................................... 55 3.6. Metode Analisis Data
............................................................... 56 3.6. Tingkat Keabsahan Data
.......................................................... 58 3.7. Pertimbangan Etik
.................................................................... 60
Universitas Sumatera Utara
BAB 4. HASIL PENELITIAN ................................................................... 63 4.1.
Karakteristik Demografi Partisipan ......................................... 63 4.2. Pengalaman
Caregiver dalam Merawat Penderita Stroke di
Rumah ....................................................................................... 65 4.2.1. Memberikan
dukungan secara total terhadap anggota
keluarga yang menderita Stroke ....................................... 66 4.2.2. Membantu
dalam memenuhi kebutuhan dasar anggota
keluarga yang menderita stroke ...................................... 72 4.2.3. Penderitaan dan
hikmah bagi caregiver selama
merawat anggota keluarga yang menderita stroke ........... 76 4.2.4. Kurangnya
keterampilan caregiver dalam merawat
anggota keluarga yang menderita stroke .......................... 80 4.2.5. Keterbatasan
Caregiver ................................................. . 83 4.3. Hasil Observasi Caregiver dalam
Merawat Anggota Keluarga
yang Menderita Stroke di Rumah ................................................ 86 4.3.1. Hasil
observasi caregiver memberikan dukungan secara
Total .................................................................................. 86 4.3.2. Hasil
observasi caregiver memenuhi kebutuhan dasar
penderita stroke ................................................................... 86 4.3.3. Hasil
observasi penderitaan dan hikmah bagi caregiver ... 87
BAB 5. PEMBAHASAN ............................................................................. 92 5.1.
Interpretasi Hasil Penelitian ..................................................... 92 5.1.1. Memberikan
dukungan secara total ................................ 93 5.1.2. Caregiver membantu dalam
memenuhi kebutuhan
dasar penderita Stroke ...................................................... 96 5.1.3. Penderitaan
dan hikmah bagi caregiver .......................... 98 5.1.4. Kurangnya keterampilan caregiver
dalam merawat
anggota keluarga yang menderita stroke .......................... 102 5.1.5. Keterbatasan
caregiver .................................................... 100 5.2. Keterbatasan Penelitian
............................................................ 105 5.3. Implikasi Hasil Penelitian
........................................................ 105
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 108 6.1.
Kesimpulan .............................................................................. 108 6.2. Saran
........................................................................................ 110
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 112
LAMPIRAN ................................................................................................. 118
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 4.1
Karakteristik Demografi Responden ........................................... 64
Tabel 4.2 Tema 1 Memberikan Dukungan Secara Total Terhadap Anggota
Keluarga Yang Menderita .......................................................... 71
Tabel 4.3 Tema 2 Memenuhi Kebutuhan Dasar Penderita Stroke .............. 75
Tabel 4.4 Tema 3 Penderitaan Dan Hikmah Bagi Caregiver Selama
Merawat Anggota Keluarga ........................................................ 79
Tabel 4.5 Tema 4 Kurangnya Keterampilan Dalam Merawat Keluarga
yang Menderita ........................................................................... 82
Tabel 4.6 Tema 5 Keterbatasan Caregiver Dalam Merawat Pasien Stroke 85
Tabel 4.7 Hasil Observasi dukungan caregiver mencakup berbagai aspek 86
Tabel 4.8 Hasil Observasi caregiver membantu dalam memenuhi
kebutuhan dasar pasien .............................................................. 87
Tabel 4.9 Hasil observasi penderitaan dan hikmah bagi caregiver ............ 87
Tabel 4.10 Matriks Kumpulan Tema dan Hasil Observasi ........................... 88
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1
Perawatan Stroke Berkelanjutan dan Beban Caregiver
Keluarga ..................................................................................... 28
Gambar 2.2 Caregiving Dynamics ................................................................ 38
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1
Instrumen Penelitian .................................................................. 118
a. Lembar Penjelasan tentang Penelitian ............................................... 119
b. Lembar Persetujuan Menjadi Responden .......................................... 120
c. Kuesioner Data Demografi ................................................................ 121
d. Panduan Wawancara ......................................................................... 122
e. Lembar Observasi ............................................................................. 123
f. Field Note .......................................................................................... 124
Lampiran 2 Biodata Expert ........................................................................... 125
Lampiran 3 Izin Penelitian ............................................................................ 127
a. Surat Pengambilan Data dari Dekan Fakultas Keperawatan ............. 128
b. Surat Persetujuan Etik Peneltian ....................................................... 129
c. Surat Ijin Pengambilan Data dari RSUD Dr. Pirngadi Medan .......... 130
Universitas Sumatera Utara
Judul Tesis : Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai
Caregiver dalam Merawat Pasien Stroke di Rumah
Nama Mahasiswa : Nanda Masraini Daulay
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Keperawatan Medikal Bedah
Tahun : 2014
ABSTRAK
Pasien stroke yang kembali ke rumah mengalami kecacatan. Kecacatan
akibat stroke tidak hanya berdampak bagi pasien stroke, akan tetapi juga
berdampak bagi anggota keluarga yang akan menjadi caregiver. Perhatian pada
caregiver ini penting karena keberhasilan pengobatan dan perawatan pasien stroke
tidak terlepas dari bantuan dan dukungan yang diberikan oleh caregiver.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang makna
pengalaman keluarga sebagai caregiver pasien stroke di rumah. Penelitian ini
merupakan studi fenomenologi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan
indepth interview, observasi, dan fieldnote. Partisipan dalam penelitian ini
berjumlah 16 orang yang dipilih dengan teknik purpossive sampling. Data yang
diperoleh dianalisis dengan pendekatan Colaizzi. Hasil analisis penelitian
ditemukan 5 tema yaitu: memberikan dukungan total, memenuhi kebutuhan dasar,
penderitaan dan hikmah bagi caregiver, kurangnya keterampilan dalam merawat,
dan keterbatasan caregiver. Caregiver menderita masalah fisik, psikologis, dan
Universitas Sumatera Utara
sosial. Pada umumnya, caregiver merasa terabaikan, mereka membutuhkan
informasi terkait penyakit pasien, cara merawat pasien stroke, dan sumber-sumber
komunitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan
perencanaan pulang individual lebih berpusat pada keluarga daripada pendekatan
berpusat pada pasien.
Kata kunci: caregiver keluarga, merawat, pasien stroke
Universitas Sumatera Utara
Thesis Title : The Phenomenology Study on the Experience of
Family as Caregiver in Treating Stroke Patient at
Home.
Name : Nanda Masraini Daulay
Study Program : Master of Nursing
Field of Specialization : Medical-Surgical Nursing
Year : 2014
ABSTRACT
Stroke patients who returned home have disabilities. Disability from stroke
not only impact on stroke patients, but also has implications for family members
who will be the caregiver. Attention to the caregiver is important because the
success of the treatment and care of stroke patients can not be separated from the
help and support provided by the caregiver. This study aims to explore the depth
of the meaning of experience as a family caregiver for stroke patients at home.
This study is a descriptive phenomenological study. Data was collected through
in-depth interview, observation, and fieldnote. Participants in this study of 16
people were selected by purposive sampling technique. Data were analyzed with
Collaizi approach. Results of analysis found 5 (five) themes, namely: total
support, meet basic needs, suffering and wisdom for the caregiver, lack of skills in
caring for, and limitations of caregiver. Caregiver suffering from physical
problems, psychological, and social. In general, caregivers feel neglected, they
Universitas Sumatera Utara
require information related to the patient's illness, how to care for stroke patients,
and other sources of community health services. Based on the research results, it
is suggested that discharge planning more individualized family-centered rather
than patient-centered approach.
Keywords: caregiver, family, treating, stroke patient
Universitas Sumatera Utara
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia dan
penyebab paling sering kecacatan pada orang dewasa (Abubakar & Isezuo, 2012).
Stroke juga merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Amerika Serikat.
American Heart Association tahun 2009 melaporkan sekitar 795.000 orang di
Amerika Serikat terserang stroke setiap tahunnya. Jumlah penderita stroke di
Amerika Serikat tersebut tercatat sebagai serangan stroke pertama sebanyak
610.000 orang, sedangkan 185.000 merupakan stroke yang berulang. Saat ini ada
4 juta orang di Amerika Serikat yang hidup dalam keterbatasan fisik akibat stroke
dan 15-30% di antaranya menderita cacat menetap (Centers for Disease Control
and Prevention, 2009).
Jumlah penderita stroke terus meningkat setiap tahun, bukan hanya
menyerang penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda
dan produktif. Prevalensi penderita stroke di Amerika pada tahun 2009 meliputi
penderita stroke dengan pemulihan total sekitar 460 orang dari 100.000 penderita,
50-70% dari penderita stroke mengalami perbaikan fungsional, namun 15-30%
cacat permanen, dan 20% memerlukan perawatan institusional pada 3 bulan
setelah onset. Sebagian besar pasien stroke mengalami cacat tetap stabil antara 6-9
bulan dan 5 tahun setelah stroke dan sepertiganya memerlukan perawatan dan
bantuan dalam aktivitas sehari-hari (Artal & Egido, 2009).
Universitas Sumatera Utara
Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita stroke terbesar
di Asia. Setiap 7 orang yang meninggal di Indonesia, 1 diantaranya karena stroke
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Jumlah penderita stroke di
Indonesia mencapai 500.000 penduduk setiap tahunnya, sekitar 2,5 % atau
125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat (Yayasan
Stroke Indonesia, 2009). Riset Kesehatan Dasar (2013) melaporkan prevalensi
stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara
(10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰), Bangka Belitung dan DKI Jakarta
masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi stroke di Sumatera Utara mencapai 10, 3%.
Laporan World Stroke Organization (WSO) tahun 2009, memperlihatkan
bahwa stroke merupakan penyebab utama hilangnya pekerjaan dan kualitas hidup
yang buruk. Kecacatan akibat stroke tidak hanya berdampak bagi penyandangnya,
akan tetapi juga berdampak bagi anggota keluarga. Penderita stroke yang
mengalami kecacatan bergantung pada dukungan emosional dan fisik dari
informal caregiver yang biasanya adalah anggota keluarga (Akosile, Okoye,
Nwankwo, Akosile & Mbada, 2011). Penelitian Artal dan Egido (2009) di
Amerika, sebesar 38% penderita stroke mengalami depresi yang disebabkan
ketidakmampuan bekerja karena cacat dan kegiatan sosial berkurang. Status
fungsional dan depresi yang dialami penderita stroke diidentifikasi sebagai
prediktor kualitas hidup
.
Kualitas hidup penderita stroke sangat bergantung pada kualitas
penatalaksanaan stroke yang diberikan secara holistik oleh tenaga kesehatan dan
interdisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, pasien, dan keluarga (Almborg et
Universitas Sumatera Utara
al, 2009). Penanganan stroke secara umum dibagi menjadi dua tahap. Tahap akut
dan tahap paska akut atau tahap pemulihan. Sasaran pengobatan dititikberatkan
pada tindakan rehabilitasi, pencegahan komplikasi dan terjadinya stroke berulang
(National Institute of Neurological Disorder and Stroke, 2008, Harsono, 2000).
Namun apabila pasien stroke ini ditangani dengan baik, maka akan dapat
meminimalkan kecacatan dan mengurangi ketergantungan pada orang lain dalam
beraktifitas. Perawat mempunyai peranan yang sangat besar dalam memberikan
asuhan keperawatan dan dukungan pada pasien stroke dan keluarganya. Peran
perawat dimulai dari tahap akut hingga tahap rehabilitasi, serta pencegahan
terjadinya komplikasi pada pasien stroke (National Institute of Neurological
Disorder and Stroke, 2008).
Peran perawat pada tahap paska rehabilitasi bukan hanya dalam hal
pencegahan komplikasi dan mengurangi faktor resiko terjadinya stroke berulang,
tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan akan perencanaan pulang yang sesuai
dengan kebutuhan keluarga, dan memberikan informasi yang dibutuhkan, serta
mendorong keluarga untuk lebih efektif dalam melaksanakan perannya dan
bergerak melampaui ketidakmampuan mereka. Sedangkan peran utama perawat
terhadap keluarga pasien stroke yaitu meningkatkan koping keluarga melalui
penyuluhan kesehatan (Smeltzer & Bare, 2002). Keluarga pasien sendiri berperan
besar dalam tahap pemulihan, sehingga sejak awal perawatan keluarga diharapkan
ikut terlibat pada penanganan pasien stroke.
Keluarga sebagai caregiver merupakan mitra penting dalam pemberian
pelayanan perawatan kesehatan yang kompleks seperti halnya selama perawatan
Universitas Sumatera Utara
pasien pasca stroke. Menurut Wilkinson (2009), dengan tren penyakit kronis saat
ini, seperti stroke yang menimbulkan ketidakberdayaan, kebutuhan perawatan
jangka panjang dan berkurangnya masa rawat di rumah sakit, keberadaan keluarga
sebagai caregiver dalam memberikan perawatan sangat berarti bagi pemulihan
pasien. Informal caregiver (anggota keluarga atau teman) memberikan perawatan
kepada individu dengan berbagai kondisi, seperti pada lansia, demensia dan
stroke.
Perhatian kesehatan lebih banyak berfokus pada penderita stroke.
Keluarga pasien sebagai caregiver yang selalu setia mendampingi selama hampir
24 jam disamping pasien, memberikan perawatan dan memberikan dukungan
emosional sering terlupakan untuk diteliti. Perawat menghabiskan waktu
terbanyak dengan pasien selama rawat inap, akan tetapi tetap saja mempunyai
waktu yang terbatas dalam interaksi dengan pasien stroke (Reinhard et al, 2008).
Perhatian pada caregiver ini penting karena keberhasilan pengobatan dan
perawatan pasien stroke tidak lepas dari bantuan dan dukungan yang diberikan.
Informasi tentang fluktuatif kondisi pasien, tanda dan gejala, respon pasien akan
pengobatan yang dijalani, hanya bisa didapatkan dari keluarga pasien yang
menjadi caregiver. Given, Given & Sherwood (2011), menyatakan bahwa
caregiver merupakan sumber dukungan utama individu dengan stroke dan
merupakan orang pertama yang merespon perubahan status pasien selama fase
perjalanan penyakitnya.
Seseorang yang menjadi caregiver dalam keluarga biasanya dilihat dari
kedekatan dan kesempatannya dalam menjalankan perannya. Pada pasien stroke
Universitas Sumatera Utara
baik sebagai suami/istri, yang menjadi caregiver primer adalah pasangannya,
sementara bagi pasien stroke lansia, anak yang sudah beranjak dewasalah yang
menjadi caregiver sekunder setelah pasangan lansia tersebut. Caregiver yang
sudah berusia lanjut memiliki level ketidakberdayaan lebih besar (Lowenstein &
Gilbar, 2000). Given et al (2005) menguraikan bahwa caregiver usia dewasa
pertengahan dan bekerja memiliki tingkat gejala depresi tertinggi daripada yang
lain, memiliki perasaan seolah akan ditinggalkan pasien, dan gangguan rutinitas
sehari-hari menjadi sumber konflik mereka.
Beberapa penelitian tentang caregiver menunjukkan hasil bahwa caregiver
merasa terbebani dalam merawat pasien stroke dan berdampak negatif terhadap
kesehatannya. Sekitar 30-48% caregiver keluarga mengalami stress psikologis
lebih besar dibandingkan dengan pasien yang dirawatnya. Williams (2003, dalam
Smith & Liehr, 2008) mengungkapkan dalam teori keperawatannya dinamika
caregiving (the dinamics of caregiving) bahwa komitmen, harapan dan hubungan
caregiver dengan pasien baik di masa lalu, sekarang dan masa depan memiliki
pengaruh dalam bentuk caring yang diberikan oleh caregiver. Penelitian kualitatif
tentang persepsi keluarga sebagai caregiver di Tanzania, oleh Walker (2007),
menunjukkan adanya dampak emosional negatif pada caregiver.
Pengalaman caregiver dalam merawat pasien stroke beragam dirasakan
masing-masing individu, mengingat keunikan yang ada pada diri manusia.
Penelitian kualitatif digunakan dalam menggali hal tersebut. Perhatian pemerintah
di beberapa negara maju terhadap caregiver sudah sangat luar biasa, dengan
banyak bermunculan organisasi nasional caregiver seperti NFCA (National
Universitas Sumatera Utara
Family Caregiver Association), National Alliance of caregiver di Amerika
Serikat. Semenjak tahun 1997, Amerika Serikat sudah menghargai keberadaan
caregiver, hak-hak caregiver dituangkan dalam a caregiver’s bill of right, dan
bulan November dijadikan sebagai bulan nasional caregiver keluarga (NFCA,
2012).
Melihat berbagai fenomena terkait peran keluarga sebagai caregiver
pasien stroke, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi lebih dalam bagaimana
pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke di rumah.
Penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan fenomenologi karena masih
sangat sedikit penelitian terkait pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam
merawat pasien stroke di rumah yang dilakukan dengan desain kualitatif. Selain
itu, dengan menggunakan pendekatan fenomenologi akan diperoleh informasi
baru yang lebih banyak secara komprehensif dan mendalam terkait fenomena
keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke di rumah yang belum
tentu dapat diperoleh melalui desain penelitian lain.
1.2. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman
keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke di rumah?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang
makna pengalaman keluarga sebagai caregiver pasien stroke di rumah.
Universitas Sumatera Utara
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat berkontribusi terhadap praktik keperawatan terkait
peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik pada pasien
stroke dan keluarga sebagai caregiver. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan makna pengalaman keluarga sebagai caregiver pasien stroke
sehingga dapat diidentifikasi intervensi keperawatan terhadap caregiver dalam
merawat pasien stroke agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien stroke yang
dirawatnya di rumah serta kualitas hidup caregiver yang merawatnya, sehingga
pada akhirnya akan menurunkan kejadian stroke berulang.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat mengembangkan riset
keperawatan. Data yang ditemukan dapat dipakai sebagai data dasar penelitian
selanjutnya terkait permasalahan yang muncul pada keluarga sebagai caregiver
dalam merawat pasien stroke di rumah.
Penelitian ini juga dapat menjadi masukan bagi pendidikan keperawatan.
Peran keluarga sebagai caregiver selama mendampingi pasien sangat penting
dalam pemulihan pasien stroke, sehingga penting dipelajari tentang cara
meningkatkan kualitas peran dan fungsi caregiver dalam merawat pasien stroke.
Universitas Sumatera Utara
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Stroke
2.1.1 Definisi
Stroke merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan
suatu gangguan neurologis yang disebabkan terputusnya aliran darah ke sebagian
otak (Black & Hawks, 2009). Smeltzer dan Bare (2008) mendefinisikan stroke/
Gangguan Pembuluh Darah Otak (GPDO)/ Cerebro Vascular Disease (CVD),
Cerebro Vascular Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah sebagian otak Sedangkan menurut
Ginsberg (2007), stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan atau gejala
hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal atau global yang berkembang cepat.
Istilah Cerebro Vascular Disease (CVD) menunjukkan setiap kelainan
serebral yang disebabkan karena proses patologis pembuluh darah serebral yang
disebabkan karena proses patologis pembuluh darah serebral seperti sumbatan
pada lumen pembuluh darah otak oleh trombus atau embolus, pecahnya pembuluh
darah serebri, lesi atau perubahan permeabilitas dinding pembuluh darah dan
peningkatan viskositas atau perubahan lain pada kualitas darah yang
menyebabkan pasokan oksigen dan nutrisi ke serebral terhambat (Mokhtar, 2009
dan Standford Stroke Center, 2009).
Stroke merupakan penyebab kematian ke tiga paling sering di Amerika
Serikat, disamping kanker dan penyakit jantung. Lebih dari 275.000 orang
meninggal karena stroke (Lewis, et al, 2011). Stroke merupakan penyebab utama
Universitas Sumatera Utara
ketidakmampuan/kecacatan pada orang dewasa dan membutuhkan perawatan
jangka panjang. Lebih dari 4 juta penderita stroke hidup dalam derajat
ketidakmampuan di Amerika Serikat. Dari penderita stroke tersebut, 31%
membutuhkan bantuan dalam perawatan diri, 20% membutuhkan bantuan dalam
hal ambulasi, 71% mengalami beberapa kerusakan dalam kemampuan bicara
bahkan sampai 7 tahun setelah terkena stroke, dan 16% membutuhkan perawatan
institusional (Black & Hawks, 2009).
2.1.2 Klasifikasi Stroke
Price dan Wilson (2006) mengklasifikasikan stroke berdasarkan patologi
anatomi dan penyebabnya, yaitu:
1. Stroke Iskemia
Iskemia serebrum ini menduduki 80-85% dari seluruh kasus stroke.
Penyakit serbrovaskular iskemia ini dibagi menjadi dua kategori besar yaitu oklusi
trombolitik dan oklusi embolitik. Penyebab pasti stroke iskemia masih belum
dapat ditentukan dengan pasti. Lima belas persen stroke iskemia disebabkan oleh
stroke lakunar. Iskemia serebrum disebabkan karena berkurangnya aliran darah ke
otak yang berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit, dimana bila
terjadi lebih dari beberapa menit akan terjadi infark pada jaringan otak Price dan
Wilson (2006).
Lewis et al (2011) menyatakan bahwa stroke iskemik dihasilkan dari tidak
adekuatnya aliran darah ke otak yang disebabkan adanya sumbatan sebagian atau
total pembuluh darah arteri. Transient Ischemic Attack (TIA) biasanya prekursor
terjadinya stroke iskemik. Berdasarkan penyebab dan patofisiologi terjadinya,
Universitas Sumatera Utara
stroke iskemik dapat dibagi menjadi: Transient Ischemic Attack (TIA), Thrombotic
Stroke, A Lacunar Stroke, dan Embolic Stroke (Lewis et al, 2011).
2. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik menduduki 15-20% dari semua kasus stroke. Pendarahan
intrakranium ini dapat terjadi di jaringan otak itu sendiri (parenkim), ruang
subarachnoid, subdural atau epidural. Stroke jenis ini disebabkan oleh pecahnya
pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadian berlangsung
saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.
Kesadaran pasien umumnya menurun. Perdarahan otak dibagi 2 yaitu:
a. Perdarahan Intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisme) terutama karena hipertensi
yang mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa
yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan tekanan
intrakranial (TIK) yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak
karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi
sering dijumpai di daerah putamen, talamus, pons, dan serebelum.
b. Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisme berry atau arterivenous
malvormation (AVM). Aneurisma yang pecah ini berasalh dari pembuluh darah
sirkulasi willis dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak
(Juwono, 1993). Pecahnya arteri dan keluar ke ruang subarachnoid menyebabkan
TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyaeri dan vasospasme
pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala,
Universitas Sumatera Utara
penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparesis, gangguan hemisensorik, afasia,
dll). Pecahnya arteri dan keluarnya darah ke ruang subarachnoid mengakibatkan
terjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri,
sehingga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-
tanda rangsangan selaput otak lainnya.
Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan
subarachnoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarachnoid
dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme
seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya
pada hari kelima sampai kesembilan, dan dapat menghilang setelah minggu kedua
sampai kelima. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-
bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serbrospinalos
dengan pembuluh arteri di ruang subarachnoid. Vasospasme ini dapat
mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun
fokal (hemiparesis, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain). Otak dapat
berfungsi jika kebutuhan oksigen dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan di dalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak
tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kerusakan dan kekurangan aliran darah
otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar
metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan
koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh,
sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala
Universitas Sumatera Utara
disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi oksigen
melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh
darah otak (Price & Wilson, 2006).
2.1.3 Faktor Risiko Stroke
Lewis, et al (2011) membagi faktor resiko stroke menjadi dua bagian yaitu
faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat
dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia, riwayat
keluarga, jenis kelamin, dan ras. Usia sangat berperan dalam resiko peningkatan
penyakit stroke, yaitu pada usia 55 tahun ke atas. Prevalensi kejadian stroke pada
pria dan wanita hampir sama, hanya saja wanita lebih banyak meninggal akibat
stroke dibandingkan pria. Hal ini dikarenakan wanita lebih rendah dalam bertahan
hidup. Ras African American mempunyai insiden tertinggi dari stroke dan
kejadian meninggal lebih tinggi dibandingkan berkulit putih.
Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi meliputi hipertensi, kadar
kolesterol dan lemak darah, diabetes mellitus, kebiasaan merokok, aktivitas fisik,
penggunaan kontrasepsi hormonal, dan obesitas. Faktor resiko yang dapat diubah
ini sangat berhubungan dengan gaya hidup, sehingga sangat diperlukan kerjasama
keluarga dalam perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat.
2.1.4 Manifestasi Klinis
Smeltzer dan Bare (2008) menyebutkan stroke dapat menyebabkan
berbagai defisit neurologis yang bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah
mana yang terkena), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran
Universitas Sumatera Utara
darah kolateral (sekunder atau aksesoris). Beberapa defisit neurologis yang dapat
ditimbulkan akibat stroke yaitu defisit motorik, defisit sensori, defisit perceptual,
kerusakan bahasa dan komunikasi, kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik,
disfungsi aktifitas mental dan psikologik, dan gangguan eliminasi.
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan
control volenteer terhadap gerakan motorik. Disfungsi motor paling umum adalah
hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi tubuh), dan hemiparesis (kelemahan
pada salah satu sisi tubuh). Defisit motorik yang lainnya adalah disatria
(kerusakan otot-otot bicara) dan disfagia (kerusakan otot-otot menelan) (Smeltzer
& Bare 2002). Lewis et al (2011) menyebutkan bahwa defisit motorik pada stroke
adalah efek yang paling sering ditemukan. Defisi motorik meliputi kerusakan (1)
mobilitas, (2) fungsi respirasi, (3) menelan dan berbicara, (4) reflex gag, (5)
ketidakmampuan self-care.
Defisit sensori pada pasien stroke dapat berupa kerusakan sentuhan ringan
atau mungkin lebih berat, dengan kehilangan propriosepsi (kemampuan untuk
merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam
menginterpretasikan stimuli visual, taktil dan audiotorius (Smeltzer & Bare,
2008). Defisit visual umum terjadi karena jaras visual terpotong sebagian besar
pada hemisfer serebri. Defisit visual ini terdiri dari hemianopsia homonimosa
(kehilangan pandangan pada setengah bidang pandang pada sisi yang sama),
diplopia (penglihatan ganda), serta penurunan ketajaman penglihatan. Defisit
sensori yang lain yaitu hilangnya respon terhadap sensasi superfisial (sentuhan,
Universitas Sumatera Utara
nyeri, tekanan, panas dan dingin) dan tidak memberikan atau hilangnya respon
terhadap proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh).
Defisit perseptual (gangguan dalam merasakan dengan tepat dan
menginterpretasi diri dan/ atau lingkungan) juga dapat terjadi pada penderita
stroke. Defisit perseptual ini terdiri dari gangguan skem/maksud tubuh (amnesia
atau menyangkal terhadap ektremitas yang mengalami paralisis; kelainan
unilateral), disorientasi (waktu, tempat, orang), apraksia (kehilangan kemampuan
untuk menggunakan objek dengan tepat) dan agnosia (ketidakmampuan untuk
mengidentifikasi lingkungan melalui indera). Selain itu juga dapat terjadi kelainan
dalam menemukan letak objek dalam ruang, memperkirakan ukurannya dan
menilai jauhnya, kerusakan memori untuk mengingat letak spasial objek atau
tempat, serta disorientasi kanan kiri (Smeltzer & Bare, 2008).
Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan
komunikasi. Defisit bahasa dan kemunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal
berikut yaitu afasia ekspresif, berupa kesulitan dalam mengubah suara menjadi
pola-pola bicara yang dapat dipahami. Pada afasia ekspresif, pasien stroke dapat
berbicara dengan menggunakan respons satu kata. Afasia reseptif yaitu kerusakan
kelengkapan kata yang diucapkan. Pada afasia jenis ini, pasien stroke mampu
untuk berbicara, tetapi menggunakan kata-kata dengan tidak tepat dan tidak sadar
tentang kesalahan ini. Afasia global adalah kombinasi afasia ekspresif dan
reseptif, dimana pasien stroke tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat.
Aleksia dimanifestasikan sebagai ketidakmampuan untuk mengerti kata yang
Universitas Sumatera Utara
dituliskan. Sedangkan agrafasia dimanifestasikan sebagai ketidakmampuan untuk
mengekspresikan ide-ide dalam tulisan (Smeltzer & Bare, 2002).
Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik pada pasien stroke muncul
bila terjadi kerusakan pada lobus frontal serebrum. Disfungsi dapat ditujukan
dengan lapang perhatian yang terbatas, peningkatan distraksibilitas (mudah
buyar), kesulitan dalam pemahaman, kehilangan memori (mudah lupa),
ketidakmampuan untuk menghitung, memberi alasan atau berpikir secara abstrak,
ketidakmampuan untuk mentransfer pembelajaran dari satu situasi ke situasi yang
lain, dan kurang motivasi yang menyebabkan pasien mengalami rasa frustasi
dalam program rehabilitasi yang dilakukan (Smeltzer & Bare, 2008).
Disfungsi aktifitas mental dan psikologik yang umumnya terjadi pada
pasien stroke, biasanya dimanifestasikan dengan labilitas emosional yang
menunjukkan reaksi dengan mudah atau ridak tepat. Selain itu, biasanya pasien
stroke menunjukkan kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial, penurunan
toleransi terhadap stres, rasa ketakutan, pemusuhan, frustasi, dan mudah marah.
Pada tahap lanjut dapat terjadi kekacauan mental, menarik diri, isolasi dan depresi
(Smeltzer & Bare, 2008).
Disfungsi kandung kemih biasanya dimanifestasikan dengan inkontinesia
urinarius yang biasanya terjadi sementara. Hal ini terjadi karena konfusi,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk
menggunakan urinal/bedpan karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Lesi
unilateral karena stroke mengakibatkan sensasi dan kontrol parsial kandung
kemih, sehingga klien sering mengalami dorongan/rasa ingin berkemih dan
Universitas Sumatera Utara
inkontinensia urine. Jika lesi ada pada batang otak, maka akan terjadi kerusakan
lateral yang mengakibatkan neuron motorik bagian atas kandung kemih
kehilangan semua kontrol miksinya. Sedangkan kerusakan fungsi usus biasanya
diakibatkan karena penurunan tingkat kesadaran, dehidrasi atau immobilisasi. Hal
ini biasanya menimbulkan masalah konstipasi dan pengerasan feses pada pasien
stroke. Inkontinensia urine dan alvi yang berkelanjutan menunjukkan kerusakan
neurologi luas (Smeltzer & Bare, 2008).
Masalah fisik yang dihadapi oleh penderita kelumpuhan pascastroke
sangat berdampak pada aktivitas sehari-hari individu. Keterbatasan yang dialami
oleh penderita kelumpuhan pascastroke akan sangat mempengaruhi kehidupan
penderita. Untuk melihat tingkat keparahan kelumpuhan atau kecacatan stroke,
berikut ada skala yang digunakan yaitu Skala Kecacatan Stroke (The Modified
Rankin Scale):
1. Kecacatan derajat 0
Tidak ada gangguan fungsi
2. Kecacatan derajat 1
Hampir tidak ada gangguan fungsi pada aktivitas sehari-hari atau gangguan
minimal. Pasien mampu melakukan tugas dan kewajiban sehari-hari.
3. Kecacatan derajat 2 (Slight disability)
Pasien tidak mampu melakukan beberapa aktivitas seperti sebelumnya, tetapi
tetap dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Universitas Sumatera Utara
4. Kecacatan derajat 3 (Moderate disability)
Pasien memerlukan bantuan orang lain, tetapi masih mampu berjalan sendiri
tanpa bantuan orang lain, walaupun mungkin membutuhkan tongkat.
5. Kecacatan derajat 4 (Moderately severe disability)
Pasien tidak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain, perlu bantuan orang lain
untuk menyelesaikan sebagian aktivitas diri seperti mandi, pergi ke toilet, merias
diri, dan lain-lain.
6. Kecacatan derajat 5 (Severe disability)
Pasien tepaksa terbaring di tempat tidur dan kegiatan buang air besar dan kecil
tidak terasa (inkontinensia), memerlukan perawatan dan perhatian.
7. Derajat 6 (Kematian)
Peneliti memasukkan skala kecacatan stroke tersebut mengingat bahwa
asumsi peneliti yang mengganggap bahwa tingkat keparahan dari kelumpuhan
yang dialami oleh penderita pascastroke akan berdampak pada penyesuaian
individu tersebut.
2.1.5 Penatalaksanaan Stroke
Lewis (2011) dan Harsono (2000) membedakan penatalaksanaan stroke ke
dalam tahap akut dan paska tahap akut, yang meliputi:
1. Tahap Akut (hari ke 0-14 setelah onset penyakit)
Pada tahap akut ini sasaran pengobatan yaitu menyelamatkan neuron yang
cedera agari tidak terjadi nekrosis, serta agar proses patologis lainnya yang
menyertai tidak mengganggu/mengancam fungsi otak. Tindakan dan obat yang
diberikan haruslah menjamin perfusi darah ke otak adekuat dengan pemeliharaan
Universitas Sumatera Utara
beberapa fungsi diantaranya respirasi yang ahrus dijaga agar tetap bersih dan
bebas dari benda asing. Fungsi jantung harus tetap dipertahankan pada tingkat
yang optimal agar tidak menurunkan perfusi otak. Kadar gula darah yang tinggi
pada tahap akut, tidak diturunkan dengan drastis.
Bila pasien telah masuk dalam kondisi kegawatan dan terjadi penurunan
kesadaran, maka kesimbangan cairan, elektrolit dan asam basa darah harus
dipantau dengan ketat. Penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan aliran darah
dan metabolisme otak diantaranya adalah obat-obatan anti edema seperti gliserol
10% dan kortikosteroid. Selain itu digunakan anti agregasi trombosit dan
antikoagulansia. Untuk stroke hemoragik, pengobatan perdarahan otak ditujukan
untuk hemostasis (Lewis, 2011 & Harsono, 2000).
2. Tahap paska akut/ tahap rehabilitasi
Setelah tahap akut berlalu, sasaran pengobatan dititikberatkan pada tindakan
rehabilitasi penderita dan pencegahan terjadinya stroke berulang. Rehabilitasi
yang dilakukan berujuan untuk pemulihan keadaan dan mengurangi derajat
ketidakmampuan. Ini dilakukan dengan pendekatan memulihkan keterampilan
lama, untuk anggota tubuh yang lumpuh, memperkenalkan sekaligus melatih
keterampilan baru untuk anggota tubuh yang tidak mengalami kelumpuhan,
memperoleh kembali hal-hal atau kapasitas yang telah hilang diluar kelumpuhan,
serta mempengaruhi sikap penderita, keluarga, dan terapeutik tim
(Lewis, 2011 & Harsono, 2000).
Universitas Sumatera Utara
2.1.6 Dukungan Sosial bagi Pasien Stroke Paska Akut
Dukungan sosial adalah derajat dukungan yang diberikan kepada individu,
khususnya saat dibutuhkan oleh orang yang memiliki hubungan emosional yang
dekat dengan orang tersebut. Dukungan sosial ini dapat bersumber dari keluarga,
teman atau sahabat, dokter, perawat atau siapapun yang memiliki hubungan
berarti bagi individu tersebut (Gonallen & Bloney, dalam As’ari, 2005).
Keluarga sangat memegang peranan penting selama perawatan tahap paska
akut pasien stroke di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan perawatan sehari-
hari dan rehabilitasi. Merawat pasien dengan stroke merupakan suatu hal yang
serius. Keluarga, berapapun usia dan keadaan mereka, memerlukan informasi,
edukasi dan dukungan sosial untuk dapat melaksanakan perawatan pasien dan
dapat beradaptasi dengan peran baru mereka.
2.2. Konsep Caregiver
2.2.1 Definisi
Definisi caregiver dalam Merriam-Webster Dictionary (2012) adalah
orang yang memberikan perawatan langsung pada anak atau orang dewasa yang
menderita penyakit kronis. Elsevier (2009) menyatakan caregiver sebagai
seseorang yang memberikan bantuan medis, sosial, ekonomi, atau sumber daya
lingkungan kepada seseorang individu yang mengalami ketergantungan baik
sebagian atau sepenuhnya karena kondisi sakit yang dihadapi individu tersebut.
Universitas Sumatera Utara
Definisi caregiver dari literatur bahasa Indonesia, dikemukakan oleh
Subroto (2012) sebagai:
.. seseorang yang bertugas untuk membantu orang-orang yang ada hambatan untuk
melakukan kegiatan fisik sehari-hari baik yang bersifat kegiatan harian personal
(personal activity daily living) seperti makan, minum, berjalan, atau kegiatan harian
yang bersifat instrumental (instrumental daily living) seperti memakai pakaian, mandi,
menelpon atau belanja.
Menurut Mifflin (2007) menyatakan caregiver sebagai seseorang dalam
keluarga, baik itu orang tua angkat, atau anggota keluarga lain yang membantu
memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami ketergantungan.
Caregiver keluarga (family caregiver) didefinisikan sebagai individu yang
memberikan asuhan keperawatan berkelanjutan untuk sebagai waktunya secara
sungguh-sungguh setiap hari dan dalam waktu periode yang lama, bagi anggota
keluarganya yang menderita penyakit kronis (Pfeiffer, dalam Tantono dkk, 2006).
Caregiving merupakan suatu istilah yang berarti memberikan perawatan kepada
seseorang dengan kondisi medis yang kronis. Informal atau lay caregiving adalah
aktivitas membantu individu yang memiliki hubungan personal dengan caregiver
(Tantono, 2006).
2.2.2. Jenis Caregiver
Caregiver dibagi menjadi caregiver informal dan caregiver formal.
Caregiver informal adalah seseorang individu (anggota keluarga, teman, atau
tetangga) yang memberikan perawatan tanpa di bayar, paruh waktu atau sepanjang
waktu, tinggal bersama maupun terpisah dengan orang yang dirawat, sedangkan
formal caregiver adalah caregiver yang merupakan bagian dari sistem pelayanan,
baik di bayar maupun sukarelawan (Sukmarini, 2009).
Universitas Sumatera Utara
Timonen (2009) menyebutkan terdapat dua jenis caregiver, yaitu formal
dan informal. Caregiver formal atau disebut juga penyedia layanan kesehatan
adalah anggota suatu organisasi yang dibayar dan dapat menjelaskan norma
praktik, profesional, perawat atau relawan. Sementara informal caregiver
bukanlah anggota organisasi, tidak memiliki pelatihan formal dan tidak
bertanggung jawab terhadap standar praktik, dapat berupa anggota keluarga
ataupun teman. Dengan demikian caregiver keluarga merupakan bagian dari
informal caregiver.
Family caregiver atau caregiver keluarga menurut Wenberg (2011) adalah
pasangan, anak dewasa, kenalan pasangan atau teman yang memiliki hubungan
pribadi dengan pasien, dan memberikan berbagai bantuan yang tidak dibayar
untuk orang dewasa yang lebih tua dengan kondisi kronis atau lemah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa caregiver keluarga adalah
anggota keluarga pasien, yang bersedia dan bertanggung jawab dalam merawat,
memberikan dukungan secara fisik, sosial, emosional serta menyediakan
waktunya untuk pasien yang menderita stroke hingga pulih atau bahkan hingga
akhir hayatnya.
2.2.3. Tugas dan Peran Caregiver Keluarga
Fungsi dari caregiver adalah menyediakan makanan, membawa pasien ke
dokter, dan memberikan dukungan emosional, kasih sayang dan perhatian
(Tantono, 2006). Seperti kita ketahui gangguan fisik pasien stroke sendiri adalah
gangguan dimana faktor psikis yang berperan. Caregiver juga membantu pasien
dalam mengambil keputusan atau pada stadium akhir penyakitnya, justru
Universitas Sumatera Utara
caregiver ini yang membuat keputusan untuk pasiennya. Keluarga sebagai
caregiver merupakan penasihat yang sangat penting dan diperlukan oleh pasien
(Tantono, 2006).
Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Arksey, et al (2005) tentang
tugas-tugas yang dilakukan caregiver di United Kingdom, antara lain termasuk:
a. Bantuan dalam perawatan diri yang terdiri dari dressing, bathing, toileting.
b. Bantuan dalam mobilitas seperti: berjalan, naik atau turun dari tempat tidur
c. Melakukan tugas keperawata seperti: memberikan obat dan mengganti balutan
luka.
d. Memberikan dukungan emosional
e. Menjadi pendamping
f. Melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti: memasak, belanja, pekerjaan
kebersihan rumah, dan
g. Bantuan dalam masalah keuangan dan pekerjaan kantor.
Milligan (2004) dalam penelitiannya menarik perhatian terhadap fakta
tugas caregiver pada lansia. Tugas yang dilakukan caregiver tidak hanya terbatas
kepada pekerjaan rumah tangga, akan tetapi dibagi ke dalam 4 kategori, sebagai
berikut:
a. Physical Care/ Perawatan fisik, yaitu: memberi makan, mengganti pakaian,
memotong kuku, membersihkan kamar, dan lain-lain.
b. Social Care/ Kepedulian sosial, antara lain: mengunjungi tempat hiburan,
menjadi supir, bertindak sebagai sumber informasi dari seluruh dunia di luar
perawatan di rumah.
Universitas Sumatera Utara
c. Emotional Care, yaitu menunjukkan kepedulian, cinta dan kasih sayang kepada
pasien yang tidak selalu ditunjukkan ataupun dikatakan namun ditunjukkan
melalui tugas-tugas lain yang dikerjakan.
d. Quality care, yaitu: memantau tingkat perawatan, standar pengobatan, dan
indikasi kesehatan, serta berurusan dengan masalah yang timbul.
2.2.4. Beban pada Caregiver
Beban keluarga merupakan suatu tolak ukur utama dalam menilai dampak
terhadap anggota keluarga lain dari perawatan penderita gangguan jiwa
(Djatmiko, 2004). Beban caregiver (caregiver burden) didefinisikan sebagai
tekanan-tekanan mental atau beban yang muncul pada orang yang merawat lansia,
penyakit kronis, anggota keluarga atau orang lain yang cacat. Beban caregiver
merupakan stress multidimensi yang tampak pada diri seorang caregiver.
Pengalaman caregiving berhubungan dengan respon yang multidimensi terhadap
tekanan-tekanan fisik, psikologis, emosi, sosial dan financial (Tantono, 2006).
Beban caregiver dibagi atas dua yaitu beban subjektif dan beban objektif.
Beban subjektif caregiver adalah respon psikologis yang di alami caregiver
sebagai akibat perannya dalam merawat pasien. Sedangkan beban objektif
caregiver yaitu masalah praktis yang di alami oleh caregiver, seperti masalah
keuangan, gangguan pada kesehatan fisik, masalah dalam pekerjaan, dan aktivitas
sosial (Sukmarini, 2009).
Ada 3 faktor beban caregiver yaitu efek dalam kehidupan pribadi dan
sosial caregiver, beban psikologis dan perasaan bersalah. Caregiver harus
memberikan sejumlah waktu energi dan uang. Tugas ini dirasakan tidak
Universitas Sumatera Utara
menyenangkan, menyebabkan stress psikologis dan melelahkan secara fisik.
Beban psikologis yang dirasakan oleh caregiver antara lain rasa malu, marah,
tegang, tertekan, lelah dan tidak pasti. Faktor terakhir berhubungan dengan
perasaan bersalah seperti seharusnya dapat melakukan lebih banyak, tidak dapat
merawat dengan baik dan sebagainya (Anneke, 2009).
Perawatan yang dilakukan caregiver tergantung pada level
ketidakmampuan pasien (progress penyakit). Lefley (1996, dalam Sales, 2003),
menjabarkan beban caregiver dengan penyakit kronis secara rinci antara lain:
(1) Ketergantungan ekonomi pasien, (2) Gangguan rutinitas harian,
(3) Manajemen perilaku, (4) Permintaan waktu dan energi, (5) Interaksi yang
membingungkan atau memalukan dengan penyedia layanan kesehatan, (6) Biaya
pengobatan dan perawatan, (7) Penyimpangan kebutuhan anggota keluarga lain,
(8) Gangguan bersosialisasi, (9) Ketidakmampuan menemukan setting perawatan
yang memuaskan.
Penelitian yang dilakukan Aoun (2004), menemukan dampak caregiving
pada caregiver dengan pasien paliatif di Australia, yaitu:
a. Pendapatan sering tidak cukup karena biaya yang dikeluarkan selama
perawatan.
b. Dampak kesehatan yang umum pada caregiver, akan tetapi caregiver sering
mengabaikannya atau mengurangi pentingnya menjaga kesehatan.
c. Gangguan tidur menyebabkan kelelahan caregiver.
d. Berkurangnya kegiatan sosial dan aktivitas fisik caregiver sehingga
mengakibatkan isolasi sosial.
Universitas Sumatera Utara
e. Perawatan pada pasien dengan paliative care secara emosional menuntut
caregiver sehingga mengalami rasa bersalah, kecemasan, kemarahan, frustasi,
takut, depresi, kehilangan kendali, dan perasaan tidak mampu.
2.2.5. Dukungan dan Kebutuhan Caregiver
Dukungan yang diberikan oleh caregiver adalah penting untuk membantu
kesembuhan pasien baik dari segi fisik, psikososial, dan spiritual. Tujuan dari
rencana pendidikan kesehatan juga berbeda antara pasien dan caregiver.
Caregiver mungkin membutuhkan bantuan dalam mempelajari perawatan fisik
dan teknik penggunaan alat bantu perawatan., menemukan sumber home care,
menempatkan peralatan, menata lingkungan rumah untuk mengakomodasi
kesembuhan pasien (Lewis, et al, 2011).
Pasien dan caregiver mungkin memiliki kebutuhan akan pengajaran yang
berbeda. Misalnya, prioritas utama untuk pasien lansia yang menderita diabetes
dengan luka ynag luas di telapak kaki perlu pengajaran tentang bagaimana
berpindah dari kursi dengan cara yang benar. Di lain pihak, caregiver harus lebih
fokus mengetahui teknik mengganti balutan luka. Pemberian rencana pengajaran
yang sukses disarankan untuk melihat dari kebutuhan pasien dan kebutuhan
caregiver yang merawat pasien (Lewis, et al, 2011).
Penelitian Yedidia dan Tiedemann, (2008) berdasarkan tugas caregiver,
menyimpulkan kebutuhan caregiver yaitu: (1) Kebutuhan akan informasi tentang
pelayanan yang tersedia, (2) Manajemen stress dan strategi koping, (3) Masalah
keuangan dan asuransi, (4) Masalah komunikasi dengan profesional kesehatan,
(5) Informasi tentang penyakit, (6) Menggunakan bantuan yang kompeten,
Universitas Sumatera Utara
(7) Bantuan tentang tugas-tugas perawatan, (8) Bantuan berkomunikasi dengan
pasien, (9) Nasihat hukum, (10) Informasi tentang obat, (11) Bantuan mengatasi
masalah akhir kehidupan, (12) Panduan memindahkan pasien ke fasilitas yang
mendukung, (13) Bantuan berurusan dengan keluarga.
Kebutuhan-kebutuhan caregiver tersebut hendaknya dapat dikaji oleh
perawat agar beban yang dirasakan caregiver stroke dapat berkurang. WGBH
(Western Great Blue Hill) Educational Foundation (2008) menyatakan bahwa
dalam memenuhi kebutuhannya dan mencapai tujuan caring, caregiver
diharapkan memiliki keahlian dalam:
a. Berkomunikasi
Mengekspresikan kebutuhan dan perasaan serta mampu mendengar
kebutuhan dan perasaan orang lain merupakan keterampilan penting dalam
menangani pasien stroke. Saat perasaan pasien dan caregiver mampu diutarakan,
hal tersebut dapat mendukung satu sama lain, dan mengurangi stres yang diikuti
oleh kemarahan atau kesedihan. Dengan melepaskan masalah, perawatan pasien
stroek dapat ditata sedemikian rupa sehingga pengobatan dapat lebih efektif.
b. Menemukan informasi
Kebutuhan akan informasi stroke sangat diperlukan untuk membuat
keputusan, memecahkan masalah, dan mencari pertolongan. Dengan mencari
informasi, caregiver akan lebih mampu memahami penyakit dan pengobatan,
seperti halnya dengan menentukan sumber dan dukungan caring.
Universitas Sumatera Utara
c. Membuat keputusan
Diagnosis stroke membutuhkan keputusan penting tentang pilihan
pengobatan dan gaya hidup. Bagi pasien stroke ini membutuhkan bantuan
caregiver dan pandangannya dalam memutuskan sesuatu.
d. Memecahkan masalah
Dalam menghadapi perubahan yang disebabkan oleh stroke dan
beradaptasi akan kondisi tersebut, membutuhkan bantuan luar, seperti dari
perawat, pekerja sosial, organisasi stroke, kelompok sosial lainnya, internet,
teman dan keluarga.
e. Bernegosiasi
Dengan adanya persetujuan kerja bagi masing-masing orang, akan
mengurangi ketegangan peran caregiver.
f. Memberanikan diri
Menghilangkan keraguan untuk mencari bantuan apa saja untuk caregiver
sendiri dan pasien.
Universitas Sumatera Utara
Latar belakang keluarga:
Hubungan keluarga terdahulu, Jaringan keluarga, Tahap perkembangan keluarga,
status sosioeko, Pengaturan peran
Gbr. 2.1. Perawatan Stroke Berkelanjutan dan Beban Caregiver Keluarga
Sumber: (Mc Cockle, Grant, Frank-Stromborg, & Baird, 1996) Dari gambaran di atas,
latar belakang keluarga berupa hubungan keluarga
terdahulu, harmonis, penuh konflik atau tidak, perlu dikaji sehubungan dengan
kualitas rawatan yang akan diberikan pada pasen stroke. Integrasi sosial mereka
sebelumnya mempengaruhi keefektifan perawatan dan ketegangan yang
dihasilkan. Tahap perkembangan keluarga caregiver juga perlu dikaji, oleh karena
pada caregiver dewasa dan bekerja, ketegangan peran timbul dikarenakan ia
harus mengurangi waktu untuk dirinya sendiri. Aktivitas sosial dan privasi bagi
Karakteristik Caregiver:
Usia, Jenis kelamin, Status pernikahan, Peran, Sumber
Karakteristik Pasien:
Usia, Jenis kelamin, Status pernikahan, Peran, Sumber
Sistem rawatan informal: Keluarga dan teman
Sifat stroke & situasi rawatan: Area yang terkena, pengobatan & efek samping,
Kebutuhan perawatan
Permintaan caregiver & pasien:
Pengalaman gejala pasien, ketergantungan pasien, peran ketergantungan
Sistem perawatan formal:
Rawat jalan, Rawat inap, home care
Tujuan caregiver:
Beban caregiver, depresi, cemas, beban peran, beban ekonomi
Universitas Sumatera Utara
yang pensiun tidak menimbulkan masalah, namun bagi anak dewasa merupakan
masalah penting.
Karakteristik pasien berupa faktor usia menimbulkan pengaruh, seperti
pada caregiver lansia dengan masalah penurunan kemampuan fisiknya,
memerlukan bantuan untuk perawata fisik dan masalah administrasi yang
mengarah kepada ketegangan dan stres caregiver. Dari segi pengaturan hidup,
dengan adanya perpindahan pasien dari rumah ke rumah sakit atau sebaliknya
misalnya, alam menimbulkan distres. Karakteristik pasien berupa usia, jenis
kelamin, pekerjaan, status finansial, status pernikahan, pengaturan hidup dan
peran biasanya, ini perlu dipertimbangkan dalam kontribusinya terhadap beban
caregiver.
Semakin jauh hubungan kekerabatan dengan caregiver, semakin kurang
pula perasaan caregiver untuk merawat pasien. Pada caregiver pasangan,
memiliki beban tertentu oleh karena perawatan yang diberikannya mencakup
aspek keseluruhan, berperan lebih lama, toleransi lebih tinggi, apabila
dibandingkan dengan yang bukan pasangannya, kewajiban dan harapannya dalam
merawat kurang.
Menurut Walker (2007), beban yang dirasakan caregiver, dapat dibagi atas
2 hal, yaitu: respon emosi caregiver dan kesehatan fisik caregiver.
a. Respon emosi caregiver.
Distres pada caregiver biasanya diperlihatkan sebagai depresi atau beban
caregiver. Depresi caregiver adalah gangguan mood yang dihasilkan dari stres
Universitas Sumatera Utara
penyedia layanan keperawatan, yang dimanifestasikan oleh perasaan kesendirian,
isolasi, ketakutan dan merasa mudah diganggu.
Hirst (2005) menemukan masalah kesehatan mental yang timbul secara
langsung terhadap caregiver dalam proses perawatan pasien. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa caregiver yang memberikan perawatan kepada pasien/
keluarga lebih dari 20 jam atau lebih per minggu adalah dua kali lipat berisiko
mengalami tekanan psikologis dan efek ini lebih besar pada caregiver wanita.
Penelitian yang dilakukan Kalliath dan Kalliath (2000) di Selandia Baru pada
caregiver pasien stroke, menemukan terdapat kelelahan emosional dikaitkan
dengan gejala kelelahan, depersonalisasi, dan penurunan prestasi pribadi.
Cameron et al (2006) menemukan sebesar 44% dari 94 orang caregiver
berkebangsaan Canada pada pasien stroke beresiko terkena depresi klinis.
b. Kesehatan fisik caregiver.
Pengalaman caregiver akan kondisi yang menghasilkan stres kronik yang
kemudian menimbulkan respon dengan melepas glukokortikoid dan katekolamin
sebagai hasil progres penyakit dan pengobatan yang lama, dimana dapat
berdampak negatif pada sistem imunitas caregiver dan mempengaruhi
kesehatannya.
Hasil survey yang dilakukan oleh Vitaliano, et al (2003, 2004)
menemukan dampak kesehatan fisik bagi caregiver pada lansia dengan demensia.
Pada penelitian tersebut, caregiver melaporkan mengalami gangguan kesehatan
fisik dan membutuhkan pengobatan yang lebih sering dibandingkan bukan
caregiver. Sebesar 23% terjadi peningkatan hormon stres pada caregiver. Hasil
Universitas Sumatera Utara
lain menunjukkan bahwa caregiver menghasilkan produksi antibodi yang rendah,
tingginya gangguan tidur dan kurang adekuatnya diet.
Sebagian besar caregiver adalah wanita. Menurut Montgomery, Rowse,
dan Kosloski (2007), wanita diketahui memiliki waktu istirahat dan latihan yang
kurang dibandingkan pria. Sehingga terjadi perubahan kardiovaskuler seperti
tekanan darah meningkat. Kurangnya waktu untuk merawat diri sendiri karena
permintaan rawatan yang berkesinambungan dapat berdampak negatif pada
kesehatan caregiver.
2.3. Landasan Teori Keperawatan (Theory of Caregiving Dynamics)
Theory of Caregiving Dynamics merupakan bagian dari pengembangan
middle range theory dalam keperawatan. Teori ini diciptakan oleh Loretta A.
Williams pada tahun 2003 dengan konsep nama “ Informal Caregiving Dynamic”.
Kata informal menimbulkan kesalahpahaman dalam mengartikannya, sehingga
konsep nama teori tersebut diganti menjadi theory of caregiving dynamics. Proses
caregiving dalam hal ini mengacu terhadap perawatan yang dilakukan oleh
anggota keluarga, teman, dan tetangga (Williams, 2003).
Theory of Caregiving Dynamics dipilih sebagai model konseptual dalam
penelitian ini karena teori ini sangat cocok dengan tujuan penelitian yaitu untuk
mengeskplorasi pengalaman keluarga/ informal caregiving dalam merawat pasien
stroke di rumah. Informal caregiving adalah seseorang yang memberikan bantuan
tanpa bayaran kepada seseorang yang memiliki masalah kesehatan. Selanjutnya,
yang dimaksud informal caregiving biasanya anggota keluarga, teman, atau
tetangga (Schoenfelder, Swanson, Specht, Maas, & Johnson, 2000).
Universitas Sumatera Utara
Informal caregiving sering melakukan beberapa tugas yang melibatkan
tuntutan secara fisik, emosional, sosial, atau finansial (Biegel, Sales, & Schulz,
1991) dan menyebabkan perubahan dalam status kesehatan caregiver. Sebuah
tugas penting bagi perawat dan tenaga kesehatan lainnya untuk membantu
informal caregiver untuk meningkatkan peran caregiver bagi dirinya sendiri dan
keluarga yang dirawat. Untuk mewujudkan peran perawat tersebut, diperlukan
pemahaman tentang konsep dynamics of caregiving.
2.3.1. Konsep Teori
Konsep mayor teori dinamika caregiving adalah komitmen, manajemen
ekspektasi, dan negosiasi peran. Self care (perawatan diri), pengetahuan baru, dan
dukungan adalah konsep yang saling terkait, masing-masing terhubung dengan
konsep mayor. Dinamika caregiving adalah suatu proses interaksi dari komitmen,
manajemen ekspektasi, dan negosiasi peran yang didukung oleh perawatan diri,
pengetahuan baru, dan dukungan yang menggerakkan hubungan caregiving yang
erat sepanjang perjalanan penyakit (Smith & Liehr, 2014).
A. Komitmen
Komitmen yaitu caregiver bertanggung jawab dalam menginspirasi
perubahan hidup dan membuat pasien menjadi prioritas. Komitmen merupakan
panggilan jiwa bagi seorang caregiver untuk selalu ada memberikan dukungan
meskipun mereka tidak memiliki pengalaman yang sama, akan tetapi mempunyai
hubungan kasih sayang dengan pasien. Komitmen menjadi seorang caregiver
merupakan komitmen jangka panjang. Apalagi menjadi caregiver pasien dengan
penyakit kronis, hal ini bukanlah komitmen jangka pendek. Menurut Williams
Universitas Sumatera Utara
(2007), terdapat empat dimensi komitmen, yaitu: (1) enduring responsibility /
bertanggung jawab, (2) making the patient a priority / menjadikan pasien
prioritas, (3) supportive presence/ selalu ada memberikan dukungan, dan (4) self-
affirming loving connection / keyakinan adanya hubungan kasih sayang.
Enduring responsibility adalah tekad caregiver untuk memberikan
perawatan meskipun sulit dan dalam waktu yang lama. Enduring responsibility
berdasarkan kewajiban, hubungan timabal balik, atau cinta yang telah dijalin jauh
sebelum sakit dan terus berlanjut sampai sembuh (Williams, 2007). Making the
patient a priority adalah menempatkan kebutuhan merawat pasien diatas
kebutuhan dan keinginan lainnya karena kesejahteraan pasien adalah tujuan yang
paling penting (Williams, 2007). Supportive presence adalah memberikan pasien
kenyamanan, dorongan, dan sikap yang positif ketika caregiver tidak melakukan
hal lain selain untuk membantu pasien. Perasaan caregiver yang kuat dalam
memahami secara penuh apa yang dirasakan pasien, kebutuhan emosional pasien,
keinginan pasien secara akurat diidentifikasi dan dipenuhi (Williams, 2007). Self-
affirming loving connection adalah suatu perasaan yang saling terbuka antara
caregiver dan pasien sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasien adalah kepuasan
tersendiri bagi caregiver (Williams, 2007). Self Care (perawatan diri) adalah
sebuah konsep yang berkaitan dengan komitmen.
Self-Care (Perawatan Diri)
Perawatan diri yaitu bertindak untuk menjaga kesehatan dengan
mengembangkan kebiasaan hidup sehat sambil mengeluarkan perasaan dan
frustrasi dalam proses caregiving serta menjauh dari caregiving demand ketika
Universitas Sumatera Utara
diperlukan. Terdapat empat dimensi dari self-care, yaitu dukungan lingkungan
fisik, menanamkan kebiasaan hidup sehat, mengungkapkan perasaan, dan
menjauh darinya (Williams, 2007).
Dukungan lingkungan fisik terdiri dari tempat tinggal, makanan, dan
fasilitas lainnya yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi caregiver
dan pasien. Menanamkan kebiasaan hidup sehat yaitu melakukan tindakan untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan selama proses pemberian
perawatan. Caregiver dan pasien saling mendukung untuk meningkatkan
kesehatan seperti makan teratur dan olahraga. Mengeluarkan perasaan yaitu
menemukan suatu cara untuk mengungkapkan perasaan dan frustasi selama proses
pemberian perawatan. Caregiver bisa komunikasi dengan intens dengan orang
lain untuk mengungkapkan perasaannya atau dengan menulis dan metode lain
untuk mengekspresikan perasaannya. Menjauh darinya diartikan bahwa caregiver
ingin menjauh dari situasi tuntutan penyakit, pengobatan, dan proses pemberian
perawatan. Akan tetapi, secara hati nurani, caregiver merasa bersalah untuk
meninggalkan pasien (Williams, 2007).
B. Expectation Mangement/ Manajemen Ekspektasi
Mengatur ekspektasi pada pasien, merupakan suatu kondisi yang
diharapkan dimasa mendatang untuk kembali kepada kondisi normal. Pandangan
ke masa depan, akan dihadapkan pada ketakutan akan masa depan apakah bisa
kembali kepada kondisi normal atau tidak. Kenyataan dan ekspektasi merupakan
bagian yang perlu dibangun oleh caregiver untuk memperbaiki kualitas hubungan
caregiving antara pasien dengan caregiver. Ada 5 dimensi dari manajemen
Universitas Sumatera Utara
ekspektasi, yaitu: (1) envisioning tomorrow/ membayangkan besok, (2) getting
back to normal/ kembali ke keadaan normal, (3) taking one day at time/
menyediakan satu hari pada suatu waktu, (4) gauging behaviour/ mengukur
perilaku, dan (5) reconciling treatment twist and turns.
Envisioning tomorrow yaitu berbaur dengan masa depan yang ambigu
dengan harapan dan ketakutan. Gambaran masa depan berada pada rentang
tertentu dan spesifik serta sangat samar dan umum. Membayangkan masa depan
yang penuh harapan, memiliki caregiver dengan tujuan berjuang untuk bertahan
dalam kesulitan bahkan membayangkan masa depan yang penuh ketakutan
memungkinkan caregiver mengalami kerugian dan mempersiapkan diri kecewa di
masa depan (Williams, 2007). Getting back to normal adalah melihat seberkas
cahaya kecil harapan dan mengantisipasi kembalinya ke keadaan akibat tuntutan
penyakit atau pengobatan (Williams, 2007). Taking one day at time yaitu
berfokus pada saat ini sebagai sarana berurusan dengan masa depan yang tidak
dapat dibayangkan. Sebagai perspektif dan prioritas berubah dengan orientasi saat
ini, upaya dapat dilakukan untuk memperlambat dan membuat yang terbaik saat
ini menuju masa depan yang pasti. Caregiver kadang-kadang menghindari masa
depan karena mereka takut apa yang akan terjadi, tetapi di lain waktu mereka
menikmati aspek-aspek positif pada saat ini (Williams, 2007). Gauging behaviour
yaitu menjelaskan, memprediksi, atau bereaksi terhadap tindakan atau pernyataan
pasien berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pasien. Ekspektasi yang
dikembangkan dari gauging behaviour memungkinkan caregiver dapat bereaksi
positif terhadap perilaku sulit pasien (Williams, 2007). Reconciling treatment
Universitas Sumatera Utara
twist and turns yaitu perbandingan sebenarnya agar diantisipasi respon pasien
untuk mengkonfirmasi, menjelaskan, dan bahkan menerima kenyataan respon
pasien yang sebenarnya (Williams, 2007).
Caregiver dan pasien secara natural membawa ekspektasi ke dalam situasi
perawatan. Ekspekstasi adalah antisipasi atau menantikan sesuatu yang akan
terjadi di masa depan. Ekspektasi mempertimbangkan kemungkinan terjadi,
tertentu, wajar, beralasan, kebutuhan, atau terikat oleh tugas dan kewajiban
(Merriam-Webster online, 2013). New Insight adalah sebuah konsep yang
berhubungan dengan manajemen ekspektasi.
New Insight/ Pengetahuan atau Pandangan Baru
New insight yaitu merubah kesadaran berdasarkan pengalaman
pertumbuhan manusia, percaya bahwa ada kekuatan besar yang mengontrol
situasi, dan mengakui respon yang positif. Ada tiga dimensi dari new insight yaitu
pengalaman manusia bertumbuh, percaya dengan kekuasaan yang besar, dan
mengakui respon yang positif. New insight secara khusus membantu dalam proses
perjalanan penyakit terus maju dan caregiver berjuang agar manajemen ekspektasi
berjalan sukses (Williams, 2007).
C. Role Negotiation/ Negosiasi Peran
Negosiasi peran akan terjadi saat kondisi pasien mulai pulih dan saat
pasien menghadapi perawatan kompleks yang memerlukan pembagian tanggung
jawab. Hal ini diperlukan caregiver untuk menentukan tindakan yang memerlukan
perhatian pasien. Apabila peran diterima, maka akan terdapat kekuatan hubungan
caregiving. Negosiasi peran terjadi sebagai tindakan yang ditentukan caregiver
Universitas Sumatera Utara
dengan memperhatikan pendapat pasien dan jembatan komunikasi antara pasien
dengan pelayanan kesehatan. Ada lima dimensi negosiasi peran yaitu: (1)
pushing/ dorongan, (2) getting a handle on it/ mendapatkan pegangan, (3) sharing
responsibilities/ berbagi tanggung jawab, (4) attending to patient voice/ mengikuti
keinginan pasien, dan (5) vigilant bridging/ kewaspadaan (Williams, 2007).
Komitmen antara caregiver dengan pasien dalam hubungan perawatan
memulai serangkaian negosiasi untuk mendefinisikan peran dalam interaksi
perawatan (Shyu, 2000). Dengan negosiasi, hubungan caregiver dengan pasien
menjadi dinamika yang menyeluruh, dimana peran caregiver dan pasien mengalir
secara timbal balik yang konstan dalam menciptakan keseimbangan yang paling
bisa diterima oleh caregiver dan pasien (Schumacher, 1996). Ketika hasil
negosiasi dapat diterima baik oleh caregiver maupun pasien, maka akan menjadi
kekuatan hubungan caregiving (Schumacher, 1996). Role Support adalah sebuah
konsep yang tekait dengan negosiasi peran.
Role Support/ Dukungan Peran
Role syaitu mengatahui bahwa orang lain peduli dalam memberikan
perawatan yang kompeten, menemukan dukungan lain untuk bertanggung jawab,
dan menerima informasi yang membantu. Selain itu juga dapat memberikan
bantuan dalam hal finansial atau caregiver dapat mencari cara-cara kreatif dalam
memenuhi kebutuhan finansial. Ada lima dimensi dari role support yaitu:
encountering competent/ kompeten menghadapi, compassionate care/ perawatan
penuh kasih, finding support for other responsibilities/ mencari dukungan lain
Universitas Sumatera Utara
yang dpaat bertanggung jawab, and receiving helpful information/ menerima
informasi yang membantu (Williams, 2007).
2.3.2. Hubungan antar Konsep dalam Dinamika Caregiving
Caregiving dynamics merupakan proses interaksi dari komitmen,
manajemen ekspektasi, dan negosiasi peran yang didukung oleh konsep self-care,
new insight, dan role support. Semua komponen tersebut saling terkait dan
berputar sejalan dengan hubungan caregiving sepanjang perjalanan penyakit
(Gambar 2.2 ).
Illness Trajectory
Commitment
(Self Care) Expectations Management
(New Insight) Role Negotiation (Role Support)

Past Present Future caregiving caregiving caregiving relationship relationship


relationship
Gbr. 2.2. Caregiving Dynamics Sumber: (Williams, 2007)
Lingkaran dalam model/gambar tersebut mewakili keterkaitan antara
caregiver dan pasien di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Hubungan
caregiver dan pasien saat ini adalah yang paling menonjol, tetapi
berkesinambungan terhubung dengan masa lalu dan masa depan. Komitmen,
Universitas Sumatera Utara
manajemen ekspektasi, dan negosiasi peran menghubungkan caregiver dan pasien
dan menggerakkan hubungan sepanjang waktu, menyediakan energi untuk
aktifitas caregiving, sebagai perubahan hidup dalam proses caregiving. Lintasan
penyakit melapisi hubungan informal caregiving bergerak maju dari waktu ke
waktu secara paralel dengan mempengaruhi
hubungan tersebut. Komitmen,
ekspektasi, dan negosiasi menyediakan energi untuk beraktifitas dan menjelaskan
perubahan yang terjadi antara caregiver dan pasien di setiap waktu (Williams,
2007).
2.4. Konsep Studi Fenomenologis (Phenomenological studies)
Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata Fenomena dan
logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani “phainesthai” yang berarti
menampak, dan terbentuk dari akar kata fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya
sinar atau cahaya. Dari kata itu terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena
bercahaya. Dalam bahasa kita berarti cahaya. Secara harfiah fenomena diartikan
sebagai gejala atau sesuatu yang menampakkan.
Fenomena dapat dipandang dari dua sudut. Pertama, fenomena selalu
“menunjuk ke luar” atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Kedua,
fenomena dari sudut kesadaran kita, karena fenomenologi selalu berada dalam
kesadaran kita. Oleh karena itu dalam memandang fenomena harus terlebih
dahulu melihat “penyaringan” (ratio), sehingga mendapatkan kesadaran yang
murni (Moeryadi, 2009). Donny (2005) menuliskan fenomenologi adalah ilmu
tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai
korelasi dengan kesadaran.
Universitas Sumatera Utara
Fenomenologi juga merupakan sebuah pendekatan filosofis untuk
menyelidiki pengalaman manusia. Fenomenologi bermakna metode pemikiran
untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan
yang ada dengan langkah-langkah logis, sistematis kritis, tidak berdasarkan
apriori/prasangka, dan tidak dogmatis. Fenomenologi sebagai metode tidak hanya
digunakan dalam filsafat tetapi juga dalam ilmu-ilmu sosial dan pendidikan.
Dalam penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti dan
seksama pada kesadaran pengalaman manusia. Konsep utama dalam
fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari
pengalaman kesadaran manusia. Untuk mengidentifikasi kualitas yang essensial
dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti (Smith et al,
2009).
Prinsip-prinsip penelitian fenomenologis ini pertama kali diperkenalkan
oleh Husserl. Husserl mengenalkan cara mengekspos makna dengan
mengeksplisitkan struktur pengalaman yang masih implisit. Konsep lain
fenomenologis yaitu Intensionalitas dan Intersubyektifitas, dan juga mengenal
istilah Phenomenologic Hermeneutic yang diperkenalkan oleh Heidegger. Setiap
hari manusia sibuk dengan aktifitas dan aktifitas itu penuh dengan pengalaman.
Esensi dari pengalaman dibangun oleh dua asumsi (Smith, et al 2009).
Pertama, setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari
kesadaran. Seseorang mengalami sesuatu. Ia sadar akan pengalamannya sendiri
yang memang bersifat subyektif. Kedua, setiap bentuk kesadaran selalu
merupakan kesadaran akan sesuatu. Ketika melihat mobil melewati kita, kita
Universitas Sumatera Utara
berpikir siapa yang mengemudikannya, mengharapkan memiliki mobil seperti itu,
kemudian menginginkan pergi dengan mobil itu. Sama kuatnya antara ingin
bepergian dengan mobil seperti itu, ketika itu pula tidak dapat melakukannya. Itu
semua adalah aktifitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebuah sikap
yang natural. Kesadaran diri merefleksikan pada sesuatu yang dilihat, dipikirkan,
diingat dan diharapkan, inilah yang disebut dengan menjadi fenomenologi.
Penelitian fenomenologis fokus pada sesuatu yang dialami dalam
kesadaran individu, yang disebut sebagai intensionalitas. Intensionalitas
(intentionality), menggambarkan hubungan antara proses yang terjadi dalam
kesadaran dengan obyek yang menjadi perhatian pada proses itu. Dalam term
fenomenologi, pengalaman atau kesadaran selalu kesadaran pada sesuatu, melihat
adalah melihat sesuatu, mengingat adalah mengingat sesuatu, menilai adalah
menilai sesuatu. Sesuatu itu adalah obyek dari kesadaran yang telah distimulasi
oleh persepsi dari sebuah obyek yang “real” atau melalui tindakan mengingat atau
daya cipta (Smith et al, 2009).
Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia,
tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah
pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran
selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran. Intensionalitas
adalah keterarahan kesadaran (directedness of consciousness). Dan intensionalitas
juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu
obyek.
Universitas Sumatera Utara
Smith, et al (2009) menuliskan bahwa menurut Heidegger pandangan lain
dalam konsep fenomenologi adalah mengenai person (orang) yang selalu tidak
dapat dihapuskan dari dalam konteks dunianya (person-in-context) dan
intersubyektifitas. Keduanya juga merupakan central dalam fenomenologi.
Intersubyektifitas berhubungan dengan peranan berbagi (shared), tumpang tindih
(overlapping) dan hubungan alamiah dari tindakan di dalam alam semesta.
Polit dan Beck (2008) menyatakan bahwa terdapat dua jenis penelitian
fenomenologi yaitu fenomenologi deskriptif dan fenomenologi interpretif.
1. Descriptive Phenomenology
Fenomenologi deskriptif dikembangkan oleh Husserl pada tahun 1962.
Jenis penelitian ini menekankan pada deskripsi pengalaman yang dialami oleh
manusia berdasarkan apa yang didengar, dilihat, diyakini, dirasakan, diingat,
dievaluasi, dilakukan, dan seterusnya. Fokus utama fenomenologi deskriptif
adalah ‘knowing’. Penelitian ini memiliki empat langkah, yaitu bracketing,
intuiting, analyzing, dan describing.
Bracketing merupakan proses mengidentifikasi dan membebaskan diri dari
teori-teori yang diketahuinya serta menghindari perkiraan-perkiraan dalam upaya
memperoleh data yang murni. Intuting merupakan langkah kedua dimana peneliti
tetap terbuka terhadap makna yang dikaitkan dengan fenomena yang dialami oleh
partisipan. Analyzing merupakan proses analisa data yang dilakukan melalui
beberapa fase seperti; mencari pernyataan-pernyataan signifikan kemudian
mengkategorikan dan menemukan makna esensial dari fenomena yang dialami.
Universitas Sumatera Utara
Describing merupakan tahap terakhir dalam fenomenologi deskriptif. Langkah ini
peneliti membuat narasi yang luas dan mendalam tentang fenomena yang diteliti.
Fenomenologist dalam proses analisis data untuk fenomenologi deskriptif
adalah Collaizi (1978), Giorgi (1985), dan Van Kaam (1959). Ketiga
fenomenologis tersebut berpedoman pada Filosofi Husserl yang mana fokus
utamanya adalah mengetahui gambaran sebuah fenomena.
2. Interpretive Phenomenology
Interpretive Phenomenology dikembangkan oleh Heidegger pada tahun
1962. Filosofi yang dianut oleh Heidegger berbeda dengan Husserl. Inti
filosofinya ditekankan pada pemahaman dan interpretif (penafsiran), tidak sekedar
deskripsi pengalaman manusia. Pengalaman hidup manusia merupakan suatu
proses interpretif dan pemahaman yang merupakan ciri dasar keberadaan manusia.
Penelitian interpretif bertujuan untuk menemukan pemahaman dari makna
pengalaman hidup dengan cara masuk ke dalam dunia partisipan. Pemahaman
yang dimaksud adalah pemahaman setiap bagian dan bagian-bagian secara
keseluruhan.
Van Manen adalah ahli fenomonelogi interpretif yang berpedoman pada
filosofi Heiddegrian. Metode analisis datanya menggunakan kombinasi
karakteristik pendekatan fenomenologi deskriptif dan interpretif (Polit & Beck,
2008).
Van Manen (2006) dalam Polit dan Beck (2008) menekankan bahwa
pendekatan metode fenomenologi tidak terpisahkan dari praktik menulis.
Penulisan hasil analisa kualitatif merupakan suatu upaya aktif untuk memahami
Universitas Sumatera Utara
dan mengenali makna hidup dari fenomena yang diteliti yang dituangkan dalam
bentuk teks tertulis. Teks tertulis yang dibuat oleh peneliti harus dapat
mengarahkan pemahaman pembaca dalam memahami fenomena tersebut. Van
Manen juga mengatakan identifikasi tema dari deskripsi partisipan tidak hanya
diperoleh dari teks tertulis hasil transkrip wawancara, tetapi juga dapat diperoleh
dari sumber artistik lain seperti literatur, musik, lukisan, dan seni lainnya yang
dapat menyediakan wawasan bagi peneliti dalam melakukan interpretasi dan
pencarian makna dari suatu fenomena.
Penelitian kualitatif termasuk fenomenologi perlu ditingkatkan kualitas
dan integritas dalam proses penelitiannya. Oleh karena itu, perlu diperiksa
bagaimana tingkat keabsahan data pada penelitian kualitatif termasuk
fenomenologi. Tingkat keabsahan data dikenal dengan istilah Thusthworthiness of
Data.
Menurut Lincoln dan Guba (1985) bahwa untuk memperoleh hasil
penelitian yang dapat dipercaya dan mempertahankan kepadatan data (rigor)
maka data divalidasi dengan 4 kriteria yaitu: derajat kepercayaan (credibilty),
keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian
(confirmability). Keabsahan data penelitian kualitatif ini dapat dicapai sejak
melakukan penelitian, pengkodingan atau analisis data, dan presentasi hasil
temuan.
Credibility berarti keyakinan pada kebenaran dan interpretasi data. Lincoln
dan Guba (1985) menyatakan bahwa kredibiltas suatu penelitian dapat dicapai
sejak proses penelitian dilakukan melalui beberapa teknik seperti prolonged
Universitas Sumatera Utara
engagement; catatan lapangan yang komprehensif (comprehensive field note);
hasil rekaman dan transkrip (audotaping dan verbatim transcription); triangulasi
data atau metode,; saturasi data; dan member checking. Kredibilitas pada saat
proses pengkodingan atau analisis data dapat dilakukan dengan teknik transkripsi
yang rigor, adanya pengembangan buku kode (intercoder book); triangulasi dari
peneliti lain, teori, analisis; peer review/debriefing. Sedangkan pada saat
presentasi hasil temuan, kredibilitas dapat dicapai melalui teknik dokumentasi dari
peneliti, dokumentasi refleksi.
Dependability berarti stabilitas atau reliabilitas dari data yang diperoleh
dari waktu ke waktu (Lincoln & Guba, 1985). Dependability sangat bergantung
pada credibility karena apabila dilakukan pengulangan penelitian dengan
partisipan dan konteks yang sama, akan mempunyai hasil yang sama dengan
syarat data yang diperoleh kredibel. Dependability dapat dilakukan selama proses
penelitian melalui teknik dokumentasi yang baik (careful documentation) dan
triangulasi data atau metode. Sedangkan pada saat proses pengkodingan atau
analisis data, dependability dilakukan audit (inquiry audit).
Lincoln dan Guba (1985) menyatakan bahwa Transferability berarti
bagaimana suatu penelitian dapat dilakukan di tempat lain. Seorang peneliti harus
dapat menyediakan deskripsi data yang baik pada laporan penelitiannya sehingga
pengguna lainnya dapat mengevaluasi data kedalam konteks yang lain. Saat
proses penelitian, transferability dapat dicapai melalui catatan lapangan yang
komprehensif dan saturasi data. Sedangkan pada saat presentasi hasil temuan
Universitas Sumatera Utara
dapat dicapai melalui thick description dan upaya peningkatan kualitas
dokumentasi.
Confirmability yang dinyatakan Lincoln dan Guba (1985) mempunyai
objektivitas, yang mana adanya kesamaan tentang akurasi data, relevansi, atau
makna yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kriteria ini dilaksanakan dengan
menetapkan bahwa data mewakili informasi yang diberikan partisipan, saat proses
penelitian, confirmability dapat dilakukan dengan strategi pendokumentasian yang
cukup baik (careful documentation). Confirmability juga dapat dilakukan selama
proses pengkodingan atau analisis data, yaitu dengan cara mengembangan suatu
kode (codebook), triangulasi (investigator, teori, dan analisis, peer review, dan
inquiry audit.
Universitas Sumatera Utara
BAB 3
METODE PENELITIAN
Pada bab ini dijelaskan metode penelitian meliputi: desain penelitian yang
digunakan, partisipan, tempat dan waktu penelitian, etika penelitian, teknik
pengumpulan data, pengolahan dan analisis data yang dilakukan serta keabsahan
data.
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan desain fenomenologi
deskriptif. Fenomenologi deskriptif merupakan desain penelitian yang melibatkan
eksplorasi langsung, analisa data dan deskripsi dari fenomena tertentu, sebebas
mungkin dari dugaan yang belum teruji, yang bertujuan mendapatkan hasil yang
maksimal dari pengalaman individu tentang ‘sesuatu’ baik yang dilihat, dirasakan,
diingat, dipercayai, diputuskan, dilakukan dan seterusnya (Spiegelberg, (1975
dalam Streubert & Carpenter (2011)). Desain fenomenologi deskriptif dipilih
agar dapat dieksplorasi lebih mendalam tentang pengalaman keluarga sebagai
caregiver dalam merawat pasien stroke di rumah.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Medan dengan mengambil data pasien
stroke melalui data kunjungan pasien stroke ke RSUD Dr. Pirngadi Medan.
Pengambilan data tentang informasi partisipan dilakukan di rumah sakit tersebut
karena merupakan rumah sakit umum daerah yang merupakan pusat rujukan dari
Universitas Sumatera Utara
berbagai daerah di kota Medan. RSUD Dr. Pirngadi Medan juga memiliki unit
stroke yang lengkap, sehingga jumlah pasien post stroke yang kontrol ke
Poliklinik Neurologi juga cukup banyak.
Waktu penelitian diawali dari proses pembuatan proposal yang dimulai
sejak bulan Desember 2013 - Maret 2014. Proses pengumpulan data dilakukan
dari bulan Mei 2014 - Juni 2014, dan analisa data dilakukan di bulan Juni - Juli
2014.
3.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota
Medan. Sesuai dengan kriteria inklusi penelitian, maka peneliti mengambil data
pasien stroke yang berkunjung ke Poliklinik Neurologi. Setelah data berupa
alamat pasien dan partisipan didapatkan, peneliti melakukan kontrak dengan
partisipan untuk melakukan wawancara secara mendalam di rumah partisipan
sebagai caregiver pasien stroke di rumah.
Perkembangan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan
tidak terlepas dari dimensi historis (sejarah) yang merupakan Pusat Pelayanan
Kesehatan di Kota Medan dimana sebagai pusat pemerintahan Provinsi Sumatera
Utara yang menjadi tempat kedudukan perwakilan/ konsulat, negara-negara
sahabat, perwakilan perusahaan, bisnis, pusat pertumbuhan ekonomi, keuangan
dan pintu gerbang regional, internasional, kepariwisataan dan sebagai Rumah
Sakit Rujukan se-Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
3.3. Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini adalah keluarga sebagai caregiver pada
pasien stroke yang dirawat di rumah. Secara definitif, agar hasil penelitian lebih
kredibel dan dapat dipercaya, dibutuhkan minimum 10-20 partisipan (Saldana,
2011). Penelitian yang dilakukan oleh Pornchai, Azeredo, Pául, & Subgranon
(2005) melakukan wawancara terhadap 20 partisipan pada studi fenomenologi.
Jumlah partisipan dalam penelitian ini berjumlah 16 orang karena sudah terjadi
saturasi data.
Jika saturasi data telah terjadi dimana tidak ada informasi baru yang
didapatkan, informasi yang ditemukan mengalami pengulangan (repetitive) secara
isinya dan mempunyai makna yang sama dengan partisipan-partisipan
sebelumnya, data cukup kaya dengan mendapatkan semua aspek ketertarikan pada
pertanyaan yang sama dan telah menutupi fenomena dari tujuan penelitian, maka
pengambilan data dapat dihentikan dan jumlah partisipan tidak bertambah (Polit
& Beck, 2008; Speziale & Carpender, 2003).
Jumlah partisipan ditentukan dengan teknik purposive sampling, yaitu
partisipan yang dipilih adalah orang yang dianggap mampu membantu
menjelaskan fenomena keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke
di rumah (LoBiondo-Wood & Haber, 2010). Adapun kriteria inklusi partisipan
dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Caregiver pada pasien stroke yang mengalami kecacatan dan membutuhkan
bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari yang dirawat di rumah.
2. Partisipan merupakan caregiver keluarga, non-profesional dan tidak dibayar.
Universitas Sumatera Utara
3. Caregiver mengetahui kondisi pasien (pernah merawat pasien di rumah)
minimal telah merawat selama 1 bulan sebelum penelitian.
4. Bukan caregiver primer bagi pasien lain.
5. Pasien dan partisipan tidak keberatan mengikuti proses pengambilan data,
yang ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan persetujuan
penelitian oleh partisipan.
6. Mampu menceritakan pengalamannya sehingga diperoleh informasi yang
lebih kaya (rich information).
3.4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan metode, alat dan
prosedur pengumpulan data sebagai berikut:
3.4.1. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode
wawancara secara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan oleh peneliti
sendiri dengan durasi 60-90 menit dan metode observasi. Metode wawancara
secara mendalam (in-depth interview) atau disebut juga sebagai wawancara tak
terstruktur bertujuan untuk memperoleh bentuk-bentuk informasi tertentu dari
semua partisipan, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri
tiap partisipan. Metode wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara
yang berisi butir-butir pertanyaan untuk diajukan kepada partisipan. Hal ini hanya
untuk memudahkan peneliti dalam melakukan wawancara, menggali informasi,
keterangan, data, dan selanjutnya tergantung improvisasi dari peneliti sewaktu
berada di lokasi penelitian (Ghony & Almanshur, 2012).
Universitas Sumatera Utara
3.4.2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner data
demografi, panduan wawancara, lembar observasi dan field note. Alat
pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan kata
lain peneliti sebagai instrumen penelitian. Peneliti melakukan studi fenomenologi
dengan menggunakan dirinya sendiri untuk mengumpulkan data yang “kaya”
tentang pengalaman keluarga sebagai caregiver dan mengembangkan hubungan
antara peneliti dan partisipan melalui wawancara intensif (Polit & Beck, 2012).
Peneliti menggunakan kuesioner data demografi partisipan yang
mencakup inisial, usia partisipan, usia pasien, jenis kelamin partisipan, jenis
kelamin pasien, alamat, suku, agama, pendidikan hubungan partisipan dengan
pasien, lama waktu merawat pasien stroke dan tingkat ketergantungan pasien.
Selain itu, peneliti juga menggunakan panduan wawancara dan lembar observasi
pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke selama
proses pengumpulan data.
Panduan wawancara tersebut berisi pertanyaan yang diajukan kepada
patisipan, dimana pertanyaan tersebut dibuat sendiri oleh peneliti. Panduan
wawancara dibuat berdasarkan landasan teori yang relevan dengan masalah yang
akan digali dalam penelitian. Panduan wawancara dibuat mendalam, dimulai
dengan pertanyaan terbuka, dan tidak bersifat kaku. Pertanyaan dapat berkembang
sesuai proses yang sedang berlangsung selama wawancara tanpa meninggalkan
landasan teori yang telah ditetapkan. Panduan wawancara dibuat untuk
memudahkan peneliti supaya jalannya wawancara terarah dan sesuai dengan
Universitas Sumatera Utara
tujuan penelitian. Selain itu panduan wawancara digunakan untuk mengingatkan
peneliti terhadap pokok permasalahan yang dibahas (Speziale & Carpenter, 2003).
Hal-hal yang ditanyakan terkait pengalaman keluarga sebagai caregiver
dalam merawat pasien stroke. Panduan wawancara tersebut telah dilakukan
content validity oleh 3 expert dalam perawatan pasien stroke yaitu Rosina
Tarigan, S.Kp, M.Kep, Sp. KMB, Yesi Ariani, S.Kp, M.Kep, dan Eliadi, S.Kep,
Ns. Hasil Content Validity Index (CVI) untuk panduan wawancara adalah 0,94
(nilai CVI > 0,8), hal ini bermakna bahwa panduan wawancara memiliki isi yang
valid.
Selain panduan wawancara, lembar observasi kegiatan yang dilakukan
caregiver selama merawat pasien stroke juga digunakan oleh peneliti untuk
melihat perilaku serta aktivitas perawatan yang dilakukan caregiver dalam
merawat pasien stroke. Lembar observasi telah dilakukan content validity dengan
expert yang sama dengan panduan wawancara. Hasil CVI untuk lembar observasi
didapatkan nilai 0,98. Jenis observasi yang akan dilakukan adalah participant
observation passive, dimana peneliti melakukan observasi dengan berada di
rumah partisipan, tetapi tidak ikut terlibat aktif dalam kegiatan partisipan.
Observasi akan dilakukan oleh peneliti selama 2 waktu yaitu pada pagi dan siang
hari.
Catatan lapangan (field note) juga digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data. Catatan lapangan (field note) merupakan catatan tertulis
tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dipikirkan dalam rangka pengumpulan
data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan
Universitas Sumatera Utara
berupa dokumentasi respon non verbal selama proses wawancara berlangsung
(Polit & Beck, 2008). Hasil catatan lapangan pada peneltian ini berisi tanggal,
waktu, suasana tempat, deskripsi atau gambaran partisipan, serta respon non
verbal partisipan selama proses wawancara. Hasil catatan lapangan tersebut
memperkuat temuan observasi sehingga memperkaya data yang diperoleh (thick
description). Peneliti menggunakan alat perekam suara recorder untuk merekam
percakapan selama wawancara. Kemudian hasil wawancara diketik dalam bentuk
transkrip.
3.4.3. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dimulai dari surat keterangan lulus uji etik
(ethical clearence) dan ijin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara (F.Kep-USU). Surat tersebut diserahkan kepada bagian penelitian
dan pengembangan RSUD Dr. Pirngadi Medan. Berdasarkan ijin dari rumah sakit
tempat penelitian, peneliti mengunjungi poliklinik neurologi, menjelaskan tentang
penelitian yang dilakukan dan meminta data pasien stroke yang kontrol di
poliklinik neurologi tersebut. Kemudian peneliti meminta saran kepada perawat di
poliklinik neurologi untuk memilih partisipan yang cocok untuk penelitian ini.
Sebelum melakukan wawancara terhadap partisipan pertama, peneliti
melakukan pilot study yang bertujuan sebagai latihan dalam melakukan teknik
wawancara. Pilot study dilakukan pada 1 partisipan. Setelah itu, hasil wawancara
dari pilot study dibuat dalam bentuk transkrip. Selanjutnya dikonsultasikan
dengan pembimbing. Setelah mendapat persetujuan pembimbing, kemudian
peneliti melanjutkan wawancara kepada partisipan berikutnya.
Universitas Sumatera Utara
Sebelum melakukan penelitian, dilakukan pendekatan (prolonged
engagement) kepada caregiver pasien stroke kurang lebih 2 minggu. Pendekatan
(prolonged engagement) bertujuan untuk meningkatkan hubungan saling percaya
antara peneliti dan partisipan sekaligus tahap pengenalan situasi dan kondisi
caregiver dan pasien stroke. Pada tahap ini, peneliti memperkenalkan diri,
menjelaskan maksud, tujuan dan pengumpulan data yang dilakukan terhadap
partisipan.
Setelah itu, memberikan informed consent untuk mendapatkan persetujuan
menjadi partisipan dalam penelitian ini. Kemudian jika partisipan bersedia,
dilanjutkan dengan membuat kontrak waktu dan tempat untuk wawancara. Semua
wawancara dilakukan dengan kondisi tenang, nyaman, dan menjaga privasi
partisipan. Peneliti melakukan wawancara di rumah caregiver pasien stroke.
Meminta izin untuk merekam percakapan selama wawancara berlangsung.
Wawancara dilakukan dengan metode indepth interview dengan durasi 60-90
menit. Pertanyaan yang diajukan selama wawancara berdasarkan panduan
wawancara yang telah ada. Kemudian melanjutkan mengajukan berbagai
pertanyaan dengan menggunakan teknik probing.
Teknik diam (silent) digunakan sebagai cara untuk memberikan
kesempatan kepada partisipan untuk mengingat kembali dan menceritakan
pengalamannya. Peneliti juga berupaya untuk tidak mengarahkan jawaban
partisipan dan membiarkan pastisipan mengungkapkan pengalamannya secara
bebas terhadap pertanyaan yang diajukan selama proses wawancara sehingga data
Universitas Sumatera Utara
yang diperoleh merupakan informasi alamiah yang sesuai dengan pengalaman
partisipan.
Sebelum mengakhiri wawancara, peneliti menyimpulkan hasil wawancara
yang bertujuan untuk mengklarifikasi segera hasil wawancara. Setelah wawancara
selesai peneliti menyatakan kesediaannya untuk membantu partisipan. Partisipan
juga disarankan untuk menghubungi peneliti baik secara langsung ataupun
melalui telepon jika partisipan merasa perlu untuk menceritakan lebih lanjut
tentang pengalamannya.
Apabila data hasil wawancara, hasil observasi, dan catatan lapangan yang
ada sudah dilengkapi, maka dibuat transkrip hasil wawancara. Transkrip
wawancara divalidasi oleh partisipan untuk menambahkan, mengurangi serta
meluruskan catatan dalam transkrip. Peneliti melakukan analisis terhadap data
yang didapat bersamaan dengan proses bimbingan dengan dosen, dan penelitian
akan terus dilakukan sampai dirasa tidak ada lagi hal-hal yang ingin diketahui dari
partisipan. Pencarian informasi dari partisipan lain terus dilakukan sesuai dengan
prosedur dan dihentikan setelah tercapai saturasi. Setelah semua partisipan
melakukan validasi hasil transkrip dan rekaman wawancara, untuk meyakinkan
kesesuaian dengan fakta. Peneliti melakukan terminasi akhir dengan partisipan
dalam penelitian dan menyampaikan bahwa proses penelitian telah selesai.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
Definisi operasional dari pengalaman caregiver pasien stroke adalah
pengalaman anggota keluarga baik suami, istri, anak, orang tua, sepupu yang
memberikan perawatan kepada pasien stroke di rumah.
Universitas Sumatera Utara
3.6. Metode Analisis Data
Setelah melakukan proses pengumpulan data, maka peneliti melakukan
analisis data. Dalam menganalisis data penelitian, peneliti menggunakan
pendekatan dari Colaizzi, karena metode ini memberikan langkah-langkah yang
sederhana, jelas, dan rinci (1978, dalam Speziale & Carpenter, 2003). Tahapan
metode analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membaca dan menyalin seluruh deskripsi wawancara yang telah diungkapkan
oleh partisipan.
Dalam proses analisis ini, pernyataan partisipan ditranskripsi dari audio
rekaman wawancara dengan masing-masing partisipan. Menurut Colaizzi (1978a),
narasi tidak perlu ditulis kata demi kata, asalkan esensi dari apa yang partisipan
sampaikan pada saat wawancara terjaring dalam transkripsi. Transkrip wawancara
kemudian divalidasi oleh partisipan yang bersangkutan.
2. Melakukan ekstraksi terhadap pernyataan signifikan (pernyataan yang secara
langsung berhubungan dengan fenomena yang diteliti).
Setiap pernyataan dalam transkrip partisipan yang berhubungan langsung
dengan fenomena yang diteliti dianggap signifikan. Pernyataan yang signifikan
diekstraksi dari masing-masing transkrip dan diberikan nomor. Pernyataan
signifikan secara numerik dimasukkan ke dalam daftar (mis., 1,2,3,4, ....) yaitu
kumpulan dari seluruh pernyataan signifikan.
Universitas Sumatera Utara
3. Menguraikan makna yang terkandung dalam pernyataan signifikan.
Dalam tahap analisis ini, Colaizzi (1978a) menyarankan agar peneliti
berupaya untuk memformulasikan kembali pernyataan signifikan umum
diekstraksi dari transkrip partisipan.
4. Menggabungkan makna yang dirumuskan ke dalam kelompok tema.
Colaizzi (1978a) menyarankan peneliti untuk menetapkan atau mengatur
makna yang telah dirumuskan ke dalam kelompok sejenis. Dengan kata lain,
makna yang dirumuskan dikelompokkan ke dalam kelompok tema. Artinya,
beberapa pernyataan mungkin berhubungan.
5. Mengembangkan sebuah deskripsi tema dengan lengkap (yaitu deskripsi yang
komprehensif dari pengalaman yang diungkapkan partisipan)
Sebuah deskripsi yang lengkap dikembangkan melalui sintesis dari semua
kelompok tema dan makna yang dirumuskan dijelaskan oleh peneliti.
6. Mengidentifikasi landasan struktur dari fenomena tersebut.
Struktur dasar mengacu kepada esensi dari fenomena pengalaman yang
diungkapkan dengan analisis ketat dari setiap deskripsi lengkap dari fenomena
tersebut.
7. Kembali ke partisipan untuk melakukan validasi.
Sebuah janji untuk tindak lanjut dibuat antara peneliti dengan masing –
masing partisipan untuk tujuan memvalidasi esensi dari fenomena dengan
partisipan. Setiap perubahan yang dibuat disesuaikan dengan umpan balik
partisipan untuk memastikan makna yang dimaksudkan partisipan tersampaikan
dalam struktur dasar dari fenomena tersebut.Integrasi dari informasi tambahan
Universitas Sumatera Utara
oleh partisipan untuk dimasukkan ke dalam deskripsi final dari fenomena yang
terjadi saat ini.
Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara content analysis
segera setelah selesai setiap proses wawancara, yaitu bersamaan dengan dibuatnya
transkrip data. Dalam melakukan content analysis, peneliti menggunakan bantuan
software Weft QDA. Program ini memungkinkan seluruh data dimasukkan
kedalam komputer, setiap bagian dari data akan diberi kode. Kemudian teks lain
yang sesuai dengan kode tersebut dikelompokkan kemudian dianalisa.
3.7. Tingkat Keabsahan Data (Thrusthworhiness of Data)
Lincoln dan Guba (1985) menyatakan bahwa penelitian kualitatif termasuk
fenomenologi perlu ditingkatkan kualitas dan integitas dalam proses penelitian
melalui tingkat keabsahan data (thrusthworhiness of data). Tingkat keabsahan
data yang dilakukan pada penelitian adalah credibility, dependability,
transferability, dan confirmability.
Credibility pada penelitian ini dicapai sejak proses penelitian dilakukan
melalui beberapa teknik yaitu prolonged engagement, catatan lapangan yang
komprehensif, hasil rekaman dan transkrip, triangulasi data atau metode, dan
member checking. Prolonged engagement pada penelitian ini adalah mengadakan
pertemuan dengan partisipan selama 2 jam setiap pertemuan. Peneliti bertemu
dengan partisipan 2 kali dalam seminggu selama 1 minggu sebelum pengumpulan
data. Hal ini bertujuan agar terjalin hubungan saling percaya antara peneliti
dengan partisipan, sehingga partisipan dapat dengan aman dan nyaman
memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti.
Universitas Sumatera Utara
Catatan lapangan juga merupakan salah satu aspek kredibilitas berupa
dokumentasi nonverbal selama wawancara untuk menambahkan informasi dari
hasil wawancara. Hasil wawancara yang direkam dan transkrip juga memperkuat
kredibilitas penelitian ini.
Triangulasi yang digunakan yaitu triangulasi sumber, teori, dan metode.
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mewawancarai beberapa partisipan
dengan topik yanga sama. Triangulasi teori dilakukan dengan menggunakan
beberapa perspektif untuk menginterpretasikan data. Selanjutnya dilakukan
triangulasi metode dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data,
yaitu wawancara dan observasi (Lincoln & Guba, 1985).
Selain itu, credibility dipertahankan dengan cara member checking yang
akan dilakukan kepada partisipan untuk memvalidasi hasil tematik yang telah
ditemukan. Member checking dilakukan dengan membawa kembali laporan akhir
atau deskripsi atau tema-tema spesifik yang telah dianalisa peneliti kepada
partisipan dan meminta partisipan membaca dan melihat keakuratan transkrip
tersebut, menanyakan kepada partisipan, apakah diantara ungkapan, kata kunci
dan tema yang tidak sesuai dengan persepsi partisipan. Partisipan diberikan hak
untuk mengubah, menambah atau mengurangi kata kunci atau tema yang sudah
diangkat. Selain itu, untuk lebih meyakinkan partisipan dengan kata kunci dan
tema yang diangkat, peneliti juga akan memperdengarkan hasil wawancara yang
telah direkam kepada setiap partisipan (Creswell, 1998).
Dependability yaitu apabila dilakukan penelitian pada partisipan yang
sama dalam konteks yang sama menghasilkan hasil yang sama. Oleh karena itu,
Universitas Sumatera Utara
selama proses penelitian dependability dilakukan melalui teknik
pendokumentasian yang baik (careful documentation) dan metode triangulasi.
Dependability dalam hal ini akan dilakukan dengan cara menyerahkan semua
hasil transkrip kegiatan penelitian kepada pembimbing tesis dan kemudian
mendiskusikan kata kunci, kategori, sub tema, dan tema-tema yang sesuai dengan
tujuan dari penelitian sehingga terbentuk sebuah analisa data.
Confirmability yang dilakukan pada penelitian ini adalah audit trial.
Selama proses penelitian berlangsung, peneliti berusaha mempertahankan
pendokumentasian dengan baik seperti jika terdapat hal-hal yang kurang jelas,
peneliti melakukan konfirmasi kepada partisipan. Selain itu hasil temuan tema
diperlihatkan kepada partisipan dan dilakukan validasi oleh partisipan. Audit trial
diperkuat dengan peneliti juga menyerahkan hasil temuan selama proses
penelitian kepada pembimbing untuk dikonfirmasi sehingga lebih objektif.
Transferability yaitu bagaimana penelitian ini dapat dilakukan di tempat
yang lain. Transferability yang dilakukan pada penelitian ini melalui penyediaan
laporan penelitian sebagai thick description. Thick description proses penelitian
berarti peneliti menyimpan semua arsip dan materi selama proses penelitian.
3.8. Pertimbangan Etik
Pengambilan data dilakukan setelah peneliti mendapatkan rekomendasi
dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin, selanjutnya peneliti mencari partisipan
yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Partisipan dalam hal ini adalah
keluarga sebagai caregiver pasien stroke, orang yang secara tidak langsung
Universitas Sumatera Utara
berhubungan dengan pasien, walaupun demikian peneliti tetap mempergunakan
etika penelitian untuk mengantisipasi dampak yang timbul saat penelitian
berlangsung.
Selanjutnya, peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian dan memberikan
informed consent berisi informasi penelitian, menjelaskan tujuan penelitian,
prosedur, resiko, ketidaknyamanan dan keuntungan serta harapan atas patisipasi
individu dalam penelitian. Secara operasional, peneliti memberikan lembaran
informed consent yang bila disetujui partisipan ditandatangani dan bila tidak,
partisipan bebas atas tindakannya. Individu memiliki kebebasan untuk memilih
tanpa kontrol eksternal, ia dapat menentukan apakah akan berperan serta dalam
penelitian ini atau tidak, ia dapat saja menarik diri dari penelitian tanpa ada
konsekuensi (Creswell, 2003).
Hak privasi dan martabat (Right to privacy and dignity) dilakukan peneliti
dengan menyapa/memperlakukan partisipan sesuai dengan keinginan mereka
untuk diperlakukan. Memberikan lingkungan yang dapat menjamin kenyamanan
partisipan untuk mendapatkan privasi saat pengambilan data/wawancara
dilakukan, lokasi dan waktu disepakati sesuai dengan yang diinginkan partisipan.
Demi menjaga privasi, wawancara dihentikan sementara disaat adanya gangguan
datang. Wawancara kembali dilanjutkan setelah kondisi kembali kondusif dan
partisipan bersedia diwawancara tak lama kemudian.
Keberadaan anonimity (tanpa nama) pada partisipan diberikan agar
identitas subjek tidak dihubungkan bahkan oleh peneliti sendiri dengan resonnya.
Subjek hanya diberikan kode nomor. Identitas individu tidak akan dihubungkan
Universitas Sumatera Utara
dengan informasi serta tidak dipublikasikan dengan bebas (confidentiality).
Perekaman dan pengolahan data diolah langsung oleh peneliti.
Pada pelaksanaan hak mendapatkan perlakuan yang sama (Right to fair
treatment) individu diperlakukan adil, dan mendapatkan perlakuan yang sama.
Lingkungan penelitian dikondisikan agar memenuhi prinsip keterbukaan yaitu
kejelasan prosedur penelitian. Sebagai contoh dalam prosedur penelitian, peneliti
mempertimbangkan aspek keadilan, siapa pun partisipan, baik perempuan atau
laki-laki mendapatkan hak dan perlakuan yang sama baik sebelum, selama,
maupun sesudah berpartisipasi dalam penelitian.
Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek
(nonmaleficence). Dalam penelitian ini peneliti meminimalisir hal tersebut hanya
terkait dengan pengumpulan data berupa wawancara pada partisipan.
Ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama proses wawancara seperti
kelelahan, bosan, diantisipasi peneliti dengan memberitahukan hak partisipan
terkait dengan kebebasan memilih waktu dan tempat, bebas untuk berhenti
sewaktu-waktu apabila ada urusan, untuk kemudian dilanjutkan lagi wawancara
sesuai kesepakatan.
Universitas Sumatera Utara
BAB 4 HASIL PENELITIAN
Pemaparan hasil penelitian diuraikan pada bab ini yang bertujuan untuk
menjelaskan pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat pasien stroke
di rumah. Bab ini terdiri dari 3 bagian yaitu deskripsi karakteristik demografi
partisipan, hasil tema yang didapatkan dari wawancara secara mendalam dengan
partisipan di rumah keluarga sebagai caregiver pasien stroke, dan hasil observasi
terhadap caregiver sebagai triangulasi data.
4.1. Karakteristik Demografi Partisipan
Partisipan dalam penelitian berjumlah 16 orang caregiver yang merawat
anggota keluarga yang menderita stroke di rumah dan memenuhi kriteria
penelitian. Hasil penelitian berdasarkan karakteristik partisipan yang akan
dipaparkan mencakup jenis kelamin partisipan, jenis kelamin pasien, usia
partisipan, usia pasien, pendidikan terakhir, agama, suku, pekerjaan, hubungan
dengan pasien, lama merawat pasien dan tingkat ketergantungan pasien.
Dari data yang diperoleh (tabel 4.1) menunjukkan mayoritas partisipan
berjenis kelamin perempuan (93,8%), jenis kelamin pasien yang dirawat
mayoritas laki-laki (56,2%), usia partisipan 46-55 tahun (50%), usia pasien >55
tahun (50%), agama Islam (81,2%), suku Batak (68,8%), pendidikan terakhir
SMA (56,2%), pekerjaan IRT/ tidak bekerja (62,5%), hubungan dengan pasien
sebagai istri (50%), lama merawat pasien 1-3 tahun (43,8%), pengobatan yang
dilakukan secara medis & tradisional (43,8%), ketidakmampuan derajat 4 sebesar
Universitas Sumatera Utara
56,2%, dan tingkat ketergantungan berat (56,2%). Data demografi partisipan
ditampilkan secara rinci dalam bentuk tabel distribusi frekuensi pada di bawah ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Demografi Responden
Data Demografi Partisipan f %
Jenis Kelamin Caregiver
Perempuan Laki-laki
15 1
93,8 6,2 Jenis Kelamin Pasien Perempuan Laki-laki
79
43,8 56,2 Usia Caregiver
18-25 tahun 26-45 tahun 46-55 tahun >55 tahun
1483
6,2 25 50 18,8 Usia Pasien
26-45 tahun 46-55 tahun >55 tahun
178
6,2 43,8 50 Agama
Islam Protestan
13 3
81,2 18,8 Suku
Batak Jawa Melayu Lain-lain/ Aceh
11 3 1 1
68,8 18,8 6,2 6,2 Pendidikan
SMP SMA PT
592
31,2 56,2 12,5 Pekerjaan PNS Wiraswasta IRT/ Tidak Bekerja
2 4 10
12,5 25 62,5 Hubungan dengan pasien
Istri Suami Anak Adik Menantu
81331
50 6,2 18,8 18,8 6,2
Universitas Sumatera Utara
Lama merawat pasien
< 1 tahun 1-3 tahun > 3 tahun
376
18,8 43,8 37,5 Lanjutan Tabel 4.1.
Data Demografi Partisipan f %
Pengobatan
Medis Tradisional Medis & tradisional
367
18,8 37,5 43,8 Tingkat keparahan stroke
Derajat 4 (Moderately Severe disability) Derajat 5 (Severe disability)
9
7
56,2
43,8 Tingkat ketergantungan
pasien Ketergantungan berat Ketergantungan total
97
56,2 43,8
4.2. Pengalaman Caregiver dalam Merawat Penderita Stroke di Rumah
Peneliti mengumpulkan data dengan metode indepth interview, observasi,
dan fieldnote. Penelitian pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat
pasien stroke di rumah sesuai dengan metode Colaizi (Cresswel, 2003). Hasil
wawancara berupa transkrip tertulis dilakukan content analysis dengan bantuan
software Weft-QDA. Berdasarkan hasil analisis ditemukan beberapa tema yaitu:
(1) Memberikan dukungan secara total terhadap anggota keluarga yang menderita
stroke, (2) Membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar anggota keluarga yang
menderita stroke, (3) Penderitaan dan hikmah bagi caregiver selama merawat
anggota keluarga yang menderita stroke, (4) Kurangnya keterampilan caregiver
dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke, dan (5) Keterbatasan
caregiver dalam merawat keluarga yang menderita stroke. Tema-tema ini akan
Universitas Sumatera Utara
dibahas secara terperinci untuk memaknai pengalaman keluarga sebagai caregiver
dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke di rumah.
4.2.1. Memberikan dukungan secara total terhadap anggota keluarga yang
menderita Stroke
Bantuan dan dukungan yang diberikan caregiver selama merawat
penderita stroke di rumah dilakukan secara total mencakup berbagai aspek
kehidupan. Hal tersebut tergambar dari beberapa kategori yaitu: (1) Dukungan
moril, (2) Dukungan finansial, (3) Dukungan lingkungan fisik, dan
(4) Memberikan pengobatan. Masing-masing kategori dijelaskan sebagai berikut:
1). Dukungan moril
Dukungan moril yang diberikan caregiver kepada penderita stroke
tergambar dari beberapa kategori yaitu: selalu ada untuk penderita stroke,
bertanggung jawab demi kesembuhan penderita stroke, mendahulukan
kepentingan penderita stroke, dan memberikan motivasi.
Seorang partisipan mengungkapkan bahwa selalu ada disamping penderita
stroke dan tidak pernah meninggalkannya. Pernyataan ini sesuai dengan
ungkapan:
“Ooh,, itulah harus disamping bou tadi, dia kan malu juga walaupun gak bisa ngomong,
matanya melihat harus minta ditemani jadi yah ditemani semua. Anak pun kadang saya
tinggalkan untuk menjaga dia tidur disebelah dia”. [P1]
Universitas Sumatera Utara
Pernyataan lain menyatakan bahwa selalu mendahulukan kepentingan
penderita stroke diatas kepentingan pribadi partisipan. Ungkapan tersebut dapat
terlihat di bawah ini:
“...saya ini dulu lah saya siapkan makannya, mandinya, baru saya makan, baru saya apa mandi,
pokoknya semua saya apakan lah kakak ini kepentingannya, saya kasian juga lah nengoknya.”
[P9]
Partisipan juga memberikan dukungan moril dengan selalu memberikan
motivasi agar penderita stroke lebih semangat untuk sembuh. Hal ini diungkapkan
partisipan dalam pernyataan:
“....heem, biar cepat sembuh, ayok gitu cepat sembuh, nanti kalau misalnya sembuh nazar nya
tah apa, ke kampung, nanti jalannya jelek nanti cemana, misalnya ga bisa jalan orang itu pasti
ada tinggal cacatnya kan, kita mau meminimalkan itu jadi kita support – support dia lah kan.
Jadi kadang – kadang kita bisa, eem gimana ya kita takuti gitu biar jadi semangat dia, nanti
kaya gini, gitu kan nanti dia berfikir gitu, nanti mama mau kaya gini jalannya kaya ibu itu kalau
sudah sembuh jalannya, pincang – pincang, ya kaya gitulah supaya bikin dia semangat. Supaya
terpikir, takut dia kan. Kadang – kadang macem lah kita mau kesini kita, kalau sembuh, atau si
ini mau datang, makanya cepat bisa jalan, habis itu semangat dia latihan.” [P5]
2). Dukungan Finansial
Tidak dapak dipungkiri bahwa kebanyakan caregiver penderita stroke
adalah sebagai caregiver primer yang merupakan keluarga inti pasien. Ikatan
keluarga inti ini menyebabkan caregiver juga harus ikut menanggung biaya yang
dibutuhkan selama merawat penderita stroke antara lain menyediakan semua
kebutuhan penderita stroke.
Universitas Sumatera Utara
Beberapa partisipan mengungkapkan bahwa mereka mengalami kesulitan
dalam menanggung semua biaya hidup penderita stroke. Adapun pernyataan
tersebut diungkapkan sebagai berikut:
“...kalok ngutang-ngutang untuk berobat enggak la, itu la takutnya nenek, apa adanya la dibuat,
kalo dari dulu apa adanya la di jual ada perhiasan kecil-kecil, sudah abis semua, ya udah la
kamplingan tanah ini, di jual,..”[P8]
“..iya gitulah besar – besar apa, memang untuk perawatannya pun saya rasa mahal jadi ee
apalah bagian apa namanya pakai gaji abang itu gitu, ee kan anaknya pun kuliah jadi memang
agak kesulitan lah kalau soal biaya ini memang, karena perawatannya pun mahal, obatnya pun
mahal – mahal, bayar tukang kusuknya lagi, fisioterapinya lagi,..” [P9]
Partisipan lain mengatakan bahwa tidak merasa keberatan dengan biaya
perawatan penderita stroke karena punya tabungan dan kebun untuk membiayai
kebutuhan pasien dan partisipan. Hal ini diungkapkan partisipan sebagai berikut:
“...apa namanya, apa ya kekmana ya paling dia berobatnya dari kebun kamilah. Bisalah pakai
itu yakan, sedikit – sedikit adalah.” [P5]
3) Dukungan Lingkungan Fisik
Keterlibatan pasien stroke dalam mempercepat penyembuhan sangat
diperlukan, sehingga caregiver harus membantu memfasilitasi penderita stroke
agar bisa terlibat langsung dalam memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan
kanyamanan pasien melalui dukungan lingkungan fisik. Dukungan lingkungan
fisik yang diberikan caregiver terdiri dari dua kategori yaitu memfasilitasi
penderita stroke dalam memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan kenyamanan
pada penderita stroke.
Universitas Sumatera Utara
Beberapa partisipan mengungkapkan bahwa mereka melakukan beberapa
modifikasi dari kamar mandi dan kamar tidur untuk memfasilitasi penderita stroke
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Ungkapan partisipan tersebut dapat dilihat
sebagai berikut:
“Bangun tengah malam sih enggak, paling kalau misalnya sudah tengah malam gitu kami bawa
tong untuk dia kencing sama air jadi dia gak usah ke kamar mandi. Jadi malam takutnya dia gak
nampak atau apa dia kan gak stabil, jadi dekat dia.” [P6]
“..iya, di usahakan semua pegang ini ya pak, kalok mau duduk ini kursinya, kalok mau ke
belakang nanti dorong kursinya pake tangan, makanya kalok kebelakang dia, berisik, di
dorongnya kursinya, jalan dia ke belakang,. iya, tempat tidurnya pun saya pisahkan, tapi gak
pake kasur saya bikin,..” [P7]
“..kalok waktu itu baru-baru kenak itu tau sangkin pinginnya dia jalan, tali tambang dari dapur
sampek kesini dibuat adekku kan, mau dia jalan, pelan-pelan, dari situ la agak begerak
tangannya, kakinya semua, itulah yang ku bilang, mulai bisa jalan dari sini, sampek sini, beli
tongkat bisa la dia jalan dari sini sampek ke kamar mandi,,,” [P4]
Selain memfasilitasi penderita stroke untuk memudahkan mobilisasinya,
seorang partisipan juga memikirkan untuk memberikan kenyamanan kepada
penderita stroke. Hal ini terungkap sebagai berikut:
“ Kemarin itu, beli springbed yang kecil gitu, bawah, rencananya pengin untuk dia nanti di
ruang tv beli ambal kecil yang empuk gitukan..” [P6]
“Disarankan itu katanya tilam khusus, karna pake springbed itu mengikuti bentuk tubuh, jadi
katanya pake itu dulu buk, tapi daripada bouknya gak bisa tidur, dan mengganggu kesehatannya
juga, udah kami sarankan lagi gimana bouknya ini dibikin, yaudah gakpapa kata
fisioterapisnya. Gak jadi jadinya, padahal udah dibelik..” [P10]
4). Memberikan Pengobatan
Universitas Sumatera Utara
Stroke merupakan penyakit menahun yang menyisakan kecacatan atau
kelumpuhan pada penderitanya, sehingga pengobatan pada penderita stroke harus
terus diusahakan baik dari segi pengobatan medis dan alternatif. Dalam hal
memberikan pengobatan caregiver sangat berperan penting untuk mencari
pengobatan yang sesuai dengan penderita stroke baik medis maupun alternatif.
Beberapa partisipan mengatakan bahwa ketika penderita pertama sekali
terkena serangan stroke selalu dibawa ke rumah sakit ataupun ke dokter untuk
mendapatkan pengobatan medis. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:
“,,,di ledong itu kaya gitu juga tegeletak aja, gak terbuka matanya, kan masuk ICU, yaudah 2
hari bisa masuk ruangan, berarti 8 hari di ruangan..” [P5]
“,,,tetap saya kasi, iya kok masi begitu dok? Kita kasi obat la gak papa, ya gitu la kata dokter itu
kan, tapi ada terus obat yang diganti sama dokter itu, tetap kami konsul kesana...” [P7]
Selain pengobatan medis, beberapa partisipan juga membawa pasien untuk
mendapatkan pengobatan alternatif. Hal diungkapkan partisipan sebagai berikut:
“,,,itulah pengobatan alternatif itu, datang dia cara ngobat dia pake kayu bekam,. ada juga dia
ini terapi stroke dari jambi.. ya gitu lah udah dikasi obat keling itu, ya udah lancar. dikusuk,
dikusuk sama dikasi obat rebus, seminggu dua kali, tpi itulah bisa jalan, iya, itulah dibilang
yang dibinje itu dicucuk-cucuk, jarumnya pun dibawak pulang,,” [P12]
“,,,pertama kan agak peyot mulutnya sebelah kanan sampek menetes netes ludahnya, udah di
infus dia gak merot lagi mulutnya, ngomongnya pun dah bagus, udah itu di bawa la dulu berobat
kampung, bekusuk, akupuntur,,” [P13]
Kesimpulan dari penjelasan tema 1 di atas dapat dilihat pada matriks di
bawah ini pada Tabel 4.2
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.2 Tema 1 Memberikan Dukungan Secara Total Terhadap Anggota Keluarga
Yang Menderita Stroke
TEMA 1 MEMBERIKAN DUKUNGAN SECARA TOTAL TERHADAP ANGGOTA
KELUARGA YANG MENDERITA STROKE
KATEGORI Dukungan Moril
Dukungan Finansial
Dukungan lingkungan fisik Memberikan Pengobatan
SUB- KATEGORI
Bertanggung jawab demi kesembuhan pasien
Selalu ada untuk pasien
Mendahulukan kepentingan pasien
Memberikan motivasi
Menyediakan kebutuhan pasien
Memberikan Kenyamanan pada pasien
Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar
Pengobatan alternatif
Pengobatan medis
KODE Komitmen
sembuh Melakukan semua Tanggung jawab Mengusahakan semua
Menemani Selalu disamping Menjaga Pengertian Bangun tengah malam Tidur di
samping pasien Rumah tidak pernah kosong
Mendahulukan Makan Mendahulukan mandi Mengutamakan pasien
Motivasi berjalan Motivasi beribadah Memberikan pujian dan reward Membawa
refreshing
Memberikan sesuai keinginan Biaya dari anak Berhutang Pekerjaan sampingan
Menyediakan tempat tidur yg nyaman Menyediakan TV Lantai tidak licin
Merombak kamar mandi Pakai kipas Memasang tali untuk berjalan Memberikan tongkat
Menyediakan ember untuk BAK Menyediakan kursi untuk pegangan jalan Tempat tidur
khusus Menyediakan
Berobat ke dukun Kusuk Terapi herbal Bekam Akupunktur
Fisioterapis Berobat ke dokter Opname/rawat inap
Universitas Sumatera Utara
pispot
Universitas Sumatera Utara
4.2.2. Membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar anggota keluarga yang
menderita stroke
Pasien stroke mengalami kelemahan dan kelumpuhan fisik sehingga
hampir semua kebutuhan dasar penderita stroke harus dibantu oleh caregiver.
Adapun kategori dari tema tersebut di atas antara lain: (1) Kebutuhan fisiologis,
(2) Kebutuhan rasa aman dan nyaman, dan (3) Kebutuhan Spiritual. Masing-
masing kategori dijelaskan di bawah ini:
1). Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis pasien dalam hal ini dibagi menjadi sub kategori
kebutuhan mobilisasi, kebutuhan eliminasi (BAK & BAB), serta kebutuhan
nutrisi. Sub kategori tersebut adalah kebutuhan fisiologis penderita stroke yang
secara umum membutuhkan bantuan caregiver.
Seorang partisipan mengatakan bahwa untuk berpindah atau mobilisasi,
penderita stroke selalu membutuhkan caregiver untuk membantunya. Hal ini
diungkapkan partisipan sebagai berikut:
“,,ya di rawat-rawat aja, mau duduk dia di bantu, tarek la tanganku katanya ditarek, harus kita
dudukkan dia, dudukkan nanti yaudah, mandi mandi sendiri, tapi dudukkan la dia, di kamar
mandi. ya dibopong la ke kamar mandi..” [P13]
Kebutuhan nutrisi penderita stroke juga sangat penting untuk diperhatikan,
baik dari jenis makanannya maupun cara pemberiannya. Hal ini diungkapkan
partisipan sebagai berikut:
“Cuma makan kami iniin ,kami banyakkan rebusan. Hmm makan ga banyak, gatau kayamana ga
perhatian juga sebelumnya makannya garam atau ga, ga pernah masak, Cuma semenjak sakit
itu dikurangi semua, ga pakai apa – apa lagi. Nanti kalau dia ga marah lagi, ditanya lagi
maunya gimana, mau makan atau tidak?
Universitas Sumatera Utara
Pelan – pelan ngasih nya, sedikit – sedikit. Makannya tetap sedikit – sedikit kak, tetap dari
sendok.” [P15]
Kebutuhan eliminasi penderita stroke juga sering dikeluhkan caregiver
dalam membantu untuk BAB dan BAK. Hal ini diungkapkan beberapa partisipan
antara lain:
“,,,tapi kan waktu puasa kemaren, pake pempers, memang parah kali, siap buka, buka pempers
baru turs ambil air sembahyang, teraweh, itu teringat kali, itulah kayaknya kita mau pigi terawh
kita gantikan dulu pempersnya, kalok sebelum apa tadi kan kita masik puasa kan, tidur la sama
bayi, kami kan masak di dapur untuk buka puasa, udah kursi di geser semua, dibentang tilam,,,”
[P3]
“,,oo, waktu baru-baru sakit itu BAK pake pispot, kesian awak bolak balek dia ke kamar mandi.
ke kamar mandi, gak pernah buang air besar di tempat tidur,,” [P4]
“Jadi kubantulah dia, mau BAB kan, kuangkatkan kakinya, kubantu dia sementara nunggu
dokter diangkat kaya gini, yaudah gapapa abis itu. hmm kalau sekarang kadang kencing dulu
kan sampai dua kali baru aku pampersin. Takutnya kecepatan kadang kan nanti bocor..” [P14]
2). Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Kebutuhan rasa aman dan nyaman meliputi beberapa sub-kategori antara
lain: membantu penderita stroke untuk melakukan self care dan memberikan
kenyamanan untuk penderita stroke. Kebanyakan penderita stroke mengalami
ketergantungan partial care dan total care, sehingga untuk melakukan self care
tentu saja harus dibantu caregiver.
Beberapa partisipan mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut:
“,,dia gak bisa karna pake pempers, pagi dimandikan sore, ngangkat- ngangkat ke kursi roda
dua orang, nunggu orang lewat manggil-manggil. Udah duduk di kursi roda, kita dorong ke
luar, ngangkat air panas keluar, heheh, udah lama juga hampir setaun tiap hari di mandikan di
teras, terus menurunkannya dari kursi
Universitas Sumatera Utara
roda lagi, panggil orang tadi lagi untuk menurunkan kan, ihh lama kali itu kayaknya hampir
setaun.” [P3]
“,,soalnya kami kan orang karo, kalok misalnya la adekku yang mandikan kan malu, ya aku
sendiri la yang mandikan. udah selesai saya lap smua, saya kasi sarung, baru kami angkat lagi
ke rumah, dirumah, ditutup tirei gitu baru saya apakan, di lap smua, di bajui.” [P16]
3). Kebutuhan Spiritual
Kebutuhan spiritual merupakan salah satu hal penting yang harus
diingatkan oleh caregiver terhadap penderita stroke. Hal ini diungkapkan seorang
partisipan sebagai berikut:
“,,kalau dia mau sholat, ngambil air wudunya ke kamar mandi itu yang repot, sholatnya pun
harus sholat kami yang menguatkan. kami ke spiritualnya itu yang kami ini kan dan psikis dia
udah banyak yang dilakukan dia sebagai nenek, sebagai ibu,” [P10]
“,,beribadah lah dek, kalau misalnya apa solat lima waktu tetap kakak itu solat, kalau mau
wudhu dibawa ke kamar mandi. iya kakak itu ga tahan duduk lama – lama, apalagi berdiri, di
dalam islam pun boleh kan tidur apa golek gitukan. Jadi islam pun memudahkan tidak ada yang
menyusahkan beribadah. iya selalu diingatkan sholat..” [P9]
Kesimpulan dari penjelasan tema 2 di atas dapat dilihat pada matriks di
bawah ini pada Tabel 4.3.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 Tema 2 Memenuhi Kebutuhan Dasar Penderita Stroke
TEMA 2
MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR PENDERITA STROKE
KATEGORI Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan Spiritual
SUB- KATEGORI
Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Kebutuhan Psikologis
Membantu pasien beribadah KODE Latihan gerak
dan jalan Memindahkan pasien Mendorong kursi roda Mengangkat pasien Miring
kanan/kiri
Mobilisasi
Eliminasi: BAB & BAK
Memberikan Nutrisi
Memenuhi Membantu Self care
kenyamanan pasien
pasien
Menyenangkan pasien
Membantu
Nyuapin makan
Memandikan
Menggaruk
Bermuka
Memba
ntu eliminasi
Memberikan
pasien
bagian tubuh
manis di depan
wudhu
dengan pispot
minum
Melap pasien
yang gatal
pasien
Mengin
gatkan Membuang
Memasak makanan
Memasang
Menyediakan
Tidak tampak
sholat
eliminasi
pasien
pakaian
air hangat
kesal di depan
Baca
ayat al- Membantu
Memberikan
pasien
untuk mandi
pasien
qur’an
eliminasi
makanan ringan
Mencuci dengan
Memberikan jus
pakaian pampers
secara rutin
pasien Memilih makanan yg sesuai
Universitas Sumatera Utara
4.2.3. Penderitaan dan hikmah bagi caregiver selama merawat anggota
keluarga yang menderita stroke
Caregiver pada pasien stroke memiliki tugas yang sangat berat karena
hampir seluruh aspek kehidupan penderita stroke tergantung bantuan dari
caregiver. Banyaknya tugas caregiver yang selama bertahun-bertahun merawat
penderita stroke mengakibatkan dampak yaitu: (1) Penderitaan caregiver dan
(2) Hikmah bagi hidup caregiver.
Adapun masing-masing kategori akan dibahas sebagai berikut:
1). Penderitaan caregiver
Penderitaan caregiver sangat banyak dikeluhkan oleh caregiver penderita
stroke. Penderitaan caregiver yang didapatkan dari wawancara terdiri dari sub-
kategori: dampak fisik, dampak psikologis, dan dampak sosial. Dampak fisik yang
dirasakan oleh beberapa caregiver berupa kelelahan, kurang tidur, pegal-pegal
bahkan ada yang sampai jatuh sakit. Hal tersebut di atas diungkapkan oleh
beberapa caregiver sebagai berikut:
“Lelah, kadang pinggang, kebetulan kan melahirkan operasi, jadi memapah bouk ke kamar
mandi, Demam, flu, tapi sakitnya sampe berobat-berobat ke klinik karna kecapean memang.”
[P1]
“,,ya kadang dia gak bisa juga tidur kan tapi karna kita capek kan, ya tidur juga, biar pun dia
ribut, gelisah kan, goyang-goyang kan tempat tidurnya ribut, tapi karna saya capek kali ya
tidur,.” [P12]
Universitas Sumatera Utara
Selain dampak fisik, ternyata yang paling dikeluhkan caregiver adalah
dampak psikologis yang dirasakan selama merawat penderita stroke. Berikut ini
ungkapan beberapa partisipan:
“Frustasi ya itu tadi kadang yang dibilangnya kadang bouk nangis ya sedih juga, tapi berarti
kami yang gak beres merawat dia,,” [P10]
“,,terkadang datang la pulak palak awak kan, ini bukan sakit ini, ini karna stroke saja ku bilang,
merokok lagi, minum air dingin, makan enak. capek awak melarangnya malah awak di
marahinnya, kau kok sibuk kali, katanya. gak ada itu katanya, memang kau cerewet kau, kan
bukan uang kau yang ku habiskan katanya, jadi mrepet, yaudah la mampus la situ, ku bilang la,
dia gak bisa dilarang tau, minum air dingin tengah malam, udah kasi klen aja, biar senang dia
kubilang,” [P4]
“,,sempat kesal. Karena kan sama – sama cape juga, kadang ya ga juga, tergantung lah, kadang
lagi cape bawannya marah. Kalau misalnya kami makan gitukan beli diluar, mau minta gitu,
dilarang juga gamau, sedikit saja gitu, agak keras gitu dia, bukan dia yang mau menjaga
dirinya, kami yang banyak melarang, dia apa – apa kepingin, jadi kan kasian juga, tapi tetap
minum obat. Sabar ya sabar kak, Cuma yang terakhir inilah, capek kali, capek kali disitu
memang, sumber stress nya itukan sudah dari rumah, diluar juga, jadi itu benar – benar gak
tahan disitu.” [P6]
Dampak sosial juga ternyata dirasakan oleh caregiver karena hampir
seluruh waktu dihabiskan untuk merawat dan menjaga penderita stroke. Hal ini
dikeluhkan oleh beberapa caregiver, sebagai berikut:
“iya terganggu la, kegiatannya yang kayak wirid udah terganggu. pokoknya udah ku bilang
sama ketuanya itu, kan orang tu kan sempat juga datang kesini, mintak maaf aku ya, jangan klen
protes aku jarang datang ya, nampak klennya ini, iya kata orang tu,,” [P4]
“,,jadi semenjak sakit apa pun gak bisa, nenek pun gak bisa keman-mana, anak nenek ini lah.
mana bisa lagi pengajian, ngiirim-ngirim sama kawan aja la, gak pergii, nanti kita gak ngirim di
keluarkan orang juga la. cemana lah gak datang apa kita, nampak kawan-kawan pigi gitu, awak
gak pigi, sekarang ini
Universitas Sumatera Utara
lumayannnya kalok udah mandi dia, udah makan dia, bisa ditaksir- taksir udah bisa pigi la,
apalagi kalok macem kami orang karo kalok pesta 1 hari tok kan, gak bisa lagi nenek pigi”.
[P8]
Kesimpulan dari penjelasan tema 3 di atas dapat dilihat pada matriks di
bawah ini pada Tabel 4.4.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.4 Tema 3 Penderitaan Dan Hikmah Bagi Caregiver Selama Merawat Anggota
Keluarga Yang Menderita Stroke
TEMA 3
PENDERITAAN DAN HIKMAH BAGI CAREGIVER SELAMA MERAWAT ANGGOTA
KELUARGA YANG MENDERITA STROKE
KATEGORI Penderitaan caregiver Hikmah bagi caregiver
SUB- KATEGORI
Dampak Fisik Dampak Psikologis Dampak Sosial
Menjaga
Meningkatkan Lebih Kesehatan
spritualitas
dekat dengan keluarga
Memandirikan anak-anak
KODE Lupa makan
Kelelahan Sakit pinggang Kurang tidur Hipotensi Rematik Badan pegal- pegal
Frustasi Kesal Tidak Sabar Bosan Pasrah Nangis Sakit hati Kasihan Stres Pasien sulit
diatur Ingin bertukar posisi dengan pasien
Tidak bisa jalan- jalan ke luar Tidak bisa belanja Kegiatan pengajian terbaikan Tidak
bisa mengunjungi saudara Berhenti bekerja
Persiapan diri saat tua Lebih menjaga makanan
Rajin mengaji Menghafal ayat sholat Lebih sering beribadah
Selalu ada di rumah Sering komunikasi
Bisa mengerjakan sendiri PR Jadi lebih mandiri
Universitas Sumatera Utara
4.2.4. Kurangnya keterampilan caregiver dalam merawat anggota keluarga
yang menderita stroke
Kebanyakan caregiver adalah orang awam yang memang baru pertama
kali merawat penderita stroke, sehingga caregiver kurang memiliki keterampilan
dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke. Tema ini terdiri dari dua
kategori yaitu: (1) Kebutuhan edukasi dan informasi dan penderita stroke dan
(2) Kebutuhan psikologis. Kategori akan dibahas masing-masing di bawah ini:
1). Kebutuhan edukasi dan informasi
Ada beberapa sub-kategori kebutuhan edukasi dan informasi yang
dibutuhkan caregiver yaitu: informasi terkait stroke dan pengobatannya, informasi
cara perawatan penderita stroke, dan informasi terkait psikologis penderita stroke.
Caregiver mengungkapkan bahwa kebutuhan akan edukasi dan informasi ini
penting karena mereka merasa bingung dan tidak tahu cara merawat penderita
stroke yang sebenarnya. Hal ini terlihat dari pernyataan berikut ini:
“Untuk ini sendiri dokternya ngasi tau, cuma gak jelas kasi taunya. Kadang kami pengen
informasi mau sih dokternya langsung ditelpon. Misalnya ada obat ini, kami rasa, ini obat dok
bisa dilanjut? Mau dia dihubungi. Kalo untuk latihannya dari fisioterapi kami dapat cara
kakinya gimana digerak-gerakkan.” [P10]
“Kalok maunya saya sih diterapkan semuanya, mulai dari obatnya, kemudian kapan berhenti
obatnya, kapan ditambah, dan bagaimana menghadapi mertua yang seperti itu psikisnya,” [P1]
“,,gatau juga karena itu membantu karena kan dicampur, pokoknya abis minum jus dikasih lah
propolis. Dari berobat kan sudah berapa jam obat kan, dikasih propolis kukasih jus apel. Nanti
dia mau cemilan dikasih kerupuk. tapi iya gak sih kalau misalnya dilatih dipaksakan itu ga ada
keseimbangan cacat atau gimana ya?” [P5]
Universitas Sumatera Utara
2). Kebutuhan Psikologis
Seorang partisipan merasa butuh tempat untuk berkeluh kesah
mencurahkan semua perasaan serta stres yang dirasakan selama merawat
penderita stroke. Hal ini diungkapkan partisipan sebagai berikut:
“,,kadang-kadang keluar, sholat, kita kembalikan ke Allah, kalok kita cerita ke orang, yang ada
orang marah ngecap kita, tukang berantam, paling sering saya apa ke anak yang di surabaya
itu, kalok itu memang betul-betul bertelepon kita bisa nangis, nelpon dia terus dia ngasi nasehat,
itulah untuk menenangkan hati,” [P3]
Kesimpulan dari penjelasan tema 4 di atas dapat dilihat pada matriks di
bawah ini pada Tabel 4.5.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.5 Tema 4 Kurangnya Keterampilan Dalam Merawat Keluarga Yang Menderita
Stroke
TEMA 4
KURANGNYA KETERAMPILAN DALAM MERAWAT KELUARGA YANG MENDERITA
STROKE
KATEGORI Kebutuhan edukasi dan informasi Kebutuhan Psikologis
SUB- KATEGORI
Informasi Stroke
Informasi Perawatan
Informasi Stroke
pengobatan
Tempat sharing
KODE Informasi gejala stroke
Informasi rehabilitasi stroke Informasi nutrisi
Cara memindahkan pasien Cara memberikan makan Cara membantu BAB & BAK
Informasi rentang gerak
Informasi obat yang diberikan Informasi tempat pengobatan Informasi pengobatan
alternatif
Butuh orang lain untuk bertukar pikiran
Universitas Sumatera Utara
4.2.5. Keterbatasan Caregiver
Dalam menjalankan perannya, caregiver memiliki banyak keterbatasan
yang dibagi menjadi 3 kategori yaitu: (1) Faktor masalah fisik, (2) Faktor
finansial, dan (3) Faktor fasilitas. Masing-masing kategori dibahas berikut ini:
1). Faktor masalah fisik
Keterbatasan fisik caregiver ditentukan berbagai faktor yang dibagi
menjadi dua sub-kategori yaitu: penyakit yang dialami caregiver dan fisik yang
lemah. Hampir seluruh caregiver dalam penelitian ini adalah perempuan yang
memiliki fisik yang lemah. Ada juga beberapa caregiver yang merupakan istri
dari pasien dan sudah lansia sehingga sudah mengalami berbagai maslah
kesehatan. Hal ini diungkapkan beberapa caregiver antara lain:
“Memang kondisi ibuk udah sakit-sakitan, apalagi ini ku bilang 2 minggu la kami gak masak,
udah beli, sapa lah yang mau, ku bilang sama si hakim, kim, kita selamatkan la perut masing-
masing, ku bilang, iya bouk, katanya, yaudah siapa mau makan ya makan, mau belik nasi, ya
belik, mau belik bakso ya belik bakso, yang perempuan, repot ngurusin anaknya,” [P4]
“,,ada anak kos, orang sebelah-sebelah ini mintak tolong, biar di angkatkan ke kursi roda.
pernah kami sekali, perempuan 3, nenek yang nyuci, yeni, sama sebelah, kami bertiga, jatuh gak
bisa, gak kuat.” [P3]
2). Faktor finansial
Kurangnya biaya merupakan keterbatasan caregiver sehingga tidak bisa
maksimal dalam merawat penderita stroke. Hal ini sering dikeluhkan caregiver
sebagai keterbatasannya, seperti yang diungkapkan salah satu caregiver di bawah
ini:
Universitas Sumatera Utara
“Lupa ibu, ga ada mempannya. Terakhir di panggil ponco kerumah, terapi disini, gak sanggup
ibu lagi, sudah habis duit berobatnya. Dikasih obat dia dari dokter saraf segini banyaknya
Capek, kalau berobat dia satu setengah juta, darimana duit ?” [P2]
“,,soalnya namanya pun berobat, udah tau dia uang pun sudah habis, anak pun masi ada yang
sekolah, iya, dua lagi sekolah, itu pun yang laki-laki itu tulang punggung, itu semua, kuliah,
yang paling kecil masi smp. masi panjang ya kan, masi banyak tanggungan, tapi gimana kalok
begitu di kasi Tuhan, mau gimana lagi?” [P7]
3). Faktor fasilitas
Sulitnya alat transportasi ternyata mempengaruhi caregiver dalam
membawa penderita stroke untuk berobat. Hal ini diungkapkan partisipan sebagai
berikut:
“Makanya itu gamau dia berobat lagi, ga ada yang bawa, anak awak kerja semua, nanti sore
baru berpulangan.” [P11]
“,,iya, gak ada lagi yang bawakkan, naik kreta gak sanggup orang tu, gak brani. di terapi aja
sering di ajaknya itu, siapa yang mau bawak ku bilang, ya kita aja la, ah gak sanggup la ku
bilang,” [P4]
Kesimpulan dari penjelasan tema 5 di atas dapat dilihat pada matriks di
bawah ini pada Tabel 4.6.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.6 Tema 5 Keterbatasan Caregiver Dalam Merawat Pasien Stroke
TEMA 5 KETERBATASAN CAREGIVER DALAM MERAWAT PASIEN STROKE
KATEGORI Faktor masalah fisik Faktor Finansial Faktor Fasilitas
SUB- KATEGORI
Penyakit yang dialami caregiver
Fisik yang lemah
Kurangnya biaya Alat transportasi
KODE Rematik
Hipertensi Post-operasi SC Sakit maag
Usia lansia Kondisi fisik lebih kecil dari pasien Tidak ada orang yang bantu
Uang sudah habis Anak masih kecil sebagai tanggungan Biaya sehari-hari kurang
Biaya pengobatan yang mahal
Tidak ada kendaraan Kesulitan mencara kendaraan
Universitas Sumatera Utara
4.3. Hasil Observasi Caregiver dalam Merawat Anggota Keluarga yang
Menderita Stroke di Rumah
Hasil observasi yang dilakukan terhadap caregiver selama merawat
penderita stroke di rumah yaitu: caregiver memberikan dukungan secara total,
caregiver membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar penderita stroke, dan
penderitaan dan hikmah bagi caregiver.
4.3.1. Hasil observasi caregiver memberikan dukungan secara total
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 64,6% caregiver
memberikan dukungan secara total antara lain selalu ada di samping penderita
stroke, selalu memberikan motivasi untuk sembuh, dan mengutamakan
kepentingan penderita stroke di atas kepentingan pribadi caregiver.
Tabel 4.7. Hasil observasi caregiver memberikan dukungan secara total
No Perilaku yang di observasi
Tidak Dilakukan f (%) f (%)
1.
Dilakukan
Caregiver memberikan motivasi dan semangat kepada pasien stroke
13 (81,2) 3 (18,8)
2.
Caregiver mengutamakan kepentingan pasien dalam kegiatan sehari-hari.
12 (75) 4 (25)
3. Caregiver selalu ada untuk pasien stroke 11 (68,8) 5 (31,2)
4.
Caregiver mendiskusikan tentang perawatan dengan pasien stroke
6 (37,5) 10 (62,5)
5.
Caregiver stroke
mendengarkan pendapat/keluhan pasien
12 (75) 4 (25)
6.
Caregiver tampak semangat dan optimis dalam merawat pasien stroke
8 (50) 8 (50)
Total rata-rata 10,3 (64,6) 5.7 (35,4)
Universitas Sumatera Utara
4.3.2. Hasil observasi caregiver memenuhi kebutuhan dasar penderita stroke
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,7% membantu
penderita stroke dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari dan memberikan
kenyaman untuk pasien.
Tabel 4.8. Hasil observasi caregiver membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar
penderita stroke
No Perilaku yang di observasi
Tidak Dilakukan f (%) f (%) 1. Caregiver merawat pasien stroke dengan lemah
lembut
Dilakukan
8 (50) 8 (50)
2. Caregiver membantu pasien stroke dalam memenuhi
kebutuhan dasar sehari-hari
16 (100) 0 (0)
3. Caregiver melibatkan pasien stroke dalam perawatan
diri pasien
9 (56,2) 7 (43,8)
4. Caregiver memberikan kenyamanan kepada pasien
stroke
10 (62,5) 6 (37,5)
5. Caregiver cekatan dan terampil dalam merawat
pasien stroke
4 (25) 12 (75)
Total rata-rata 9,4 (58,7) 6,6 (41,3)
4.3.3. Hasil observasi penderitaan dan hikmah bagi caregiver
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,9% caregiver
mengalami penderitaan berupa dampak fisik dan psikologis selama merawat
penderita stroke.
Tabel 4.9. Hasil observasi penderitaan dan hikmah bagi caregiver\
No Perilaku yang di observasi
Tidak Dilakukan f (%) f (%) 1. Caregiver sabar dalam merawat pasien stroke 7 (43,8) 9
(56,2) 2. Caregiver tampak stress dalam merawat pasien stroke 9 (56,2) 7 (43,8) 3.
Caregiver tampak kelelahan dalam merawat pasien
stroke
Dilakukan
13 (81,2) 3 (18,8)
4. Caregiver tampak pasrah dengan keadaan pasien
stroke
10 (62,5) 6 (37,5)
Total rata-rata 9,8 (60,9) 6,3 (39,1)
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.10 Matriks Kumpulan Tema dan Hasil Observasi
No Tema Kategori Sub-Kategori Koding
Observas
i
1. Memberika
n Dukungan Secara Total Terhadap Anggota Keluarga Yang Menderita Stroke
Dukungan Moril
Bertanggung jawab demi kesembuhan pasien
Komitmen sembuh Melakukan semua Tanggung jawab Mengusahakan semua
64,6%
Selalu ada untuk pasien
Menemani Selalu disamping Menjaga Pengertian Bangun tengah malam Tidur di
samping pasien Rumah tidak pernah kosong
68,8%
Mendahulukan kepentingan pasien
Mendahulukan Makan Mendahulukan mandi Mengutamakan pasien
75%
Memberikan motivasi
Motivasi berjalan Motivasi beribadah Memberikan pujian dan reward Membawa
refreshing
81,2%
Dukungan Finansial
Menyediakan kebutuhan pasien
Memberikan sesuai keinginan Biaya dari anak Berhutang Pekerjaan sampingan
-
Dukungan lingkungan fisik
Memberikan Kenyamanan pada pasien
Menyediakan tempat tidur yg nyaman Menyediakan TV Lantai tidak licin
62,5%
Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar
Merombak kamar mandi Pakai kipas Memasang tali untuk berjalan Memberikan tongkat
Menyediakan ember untuk BAK Menyediakan kursi untuk pegangan jalan Tempat tidur
khusus Menyediakan pispot
-
Memberikan Pengobatan
Pengobatan alternatif
Berobat ke dukun Kusuk Terapi herbal Bekam
-
Universitas Sumatera Utara
Akupunktur Pengobatan medis
Fisioterapis Berobat ke dokter Opname/rawat inap
-
Lanjutan Tabel 4.11
NO TEMA KATEGORI SUB-KATEGORI KODING Observasi 2. Memenuhi kebutuhan dasar
penderita stroke
Kebutuhan Fisiologis
Mobilisasi
Latihan gerak dan jalan Memindahkan pasien Mendorong kursi roda Mengangkat pasien Miring
kanan/kiri
100%
Eliminasi: BAB & BAK
Membantu eliminasi dengan pispot Membuang feses Membantu eliminasi dengan pampers
Memberikan Nutrisi
Nyuapin makan Memberikan minum Memasak makanan pasien Memberikan makanan ringan
Memberikan jus secara rutin Memilih makanan yg sesuai Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Memandikan pasien Melap pasien Memasang pakaian pasien Mencuci pakaian pasien
62,5% Membantu Self care pasien
Memenuhi kenyamanan pasien
Menggaruk bagian tubuh yang gatal Menyediakan air hangat untuk mandi
62,5%
Kebutuhan Psikologis Membuat pasien
senang
Bermuka manis di depan pasien Tidak tampak kesal di depan pasien
50%
Kebutuhan Spiritual
Membantu beribadah
pasien
Membantu Mengingatkan Baca ayat al-qur’an
wudhu
sholat
-
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan Tabel 4.11
NO TEMA
SUB- KATEGORI
Observas i 3. Penderitaan dan hikmah bagi caregiver selama merawat anggota
keluarga yang menderita stroke
KATEGOR I
KODING
Penderitaan
Dampak Fisik Lupa makan
81,2% caregiver
Kelelahan Sakit pinggang Kurang tidur Hipotensi Rematik Badan pegal-pegal Dampak
Psikologis
56,2%
Dampak Sosial
Frustasi Kesal Tidak Sabar Bosan Pasrah Nangis Sakit hati Kasihan Stres Pasien sulit
diatur Ingin bertukar posisi dengan pasien Tidak bisa jalan-jalan ke luar Tidak bisa
belanja Kegiatan pengajian terbaikan Tidak bisa mengunjungi saudara Berhenti bekerja
Hikmah bagi caregiver
Menjaga
Persiapan diri saat tua Kesehatan
Lebih menjaga makanan
Meningkatka n spritualitas
Rajin mengaji Menghafal ayat sholat Lebih sering beribadah Lebih dekat dengan
keluarga
Selalu ada di rumah Sering komunikasi
Membuat anak mandiri
Bisa mengerjakan sendiri
- PR Jadi lebih mandiri
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan Tabel 4.11
NO TEMA KATEGORI
KATEGORI SUB-
KODING 4. Kurangnya
keterampilan dalam merawat keluarga yang menderita stroke
Kebutuhan edukasi dan informasi
Informasi Informasi Stroke
gejala stroke Informasi rehabilitasi stroke Informasi nutrisi
Informasi Perawatan Stroke
Cara memindahkan pasien Cara memberikan makan Cara membantu BAB & BAK Informasi
rentang gerak
Informasi pengobatan
Informasi obat yang diberikan Informasi tempat pengobatan Informasi pengobatan alternatif
Kebutuhan Psikologis
Tempat sharing
Butuh orang lain untuk bertukar pikiran 5. Keterbatasan
caregiver dalam merawat pasien stroke
Faktor masalah fisik Penyakit
yang dialami caregiver
Rematik Hipertensi Post-operasi SC b Sakit maag
Fisik yang lemah
Usia lansia Kondisi fisik lebih kecil dari pasien Tidak ada orang yang bantu
Faktor Finansial
Uang sudah habis Anak masih kecil sebagai tanggungan Biaya sehari-hari kurang Biaya
pengobatan yang mahal Faktor Fasilitas
Kurangnya biaya
Alat transportasi
Tidak ada kendaraan Kesulitan mencara kendaraan
Universitas Sumatera Utara
BAB 5
PEMBAHASAN
Bab 5 pembahasan ini bertujuan untuk menjelaskan dan membahas hasil
penelitian serta membandingkannya dengan teori-teori atau konsep serta hasil
penelitian sebelumnya yang pernah ada. Interpretasi hasil ini dilakukan sesuai
dengan tujuan penelitian yaitu untuk memperoleh pemahaman yang mendalam
tentang pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat penderita stroke
di rumah. Selain itu, pada bab ini juga dibahas keterbatasan penelitian dengan
membandingkan proses penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti dengan
kondisi ideal yang seharusnya dicapai. Bagian akhir dari bab ini juga akan
membahas implikasi penelitian bagi keperawatan.
5.1. Interpretasi Hasil Penelitian
Penelitian ini berfokus pada pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam
merawat penderita stroke. Partisipan yang terpilih sesuai dengan kriteria inklusi
penelitian dan berasal dari wilayah Kota Medan. Berdasarkan hasil penelitian ini,
peneliti mengidentifikasi 5 tema. Lima tema tersebut adalah: (1) Memberikan
dukungan secara total, (2) Membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar penderita
stroke, (3) Penderitaan dan hikmah bagi caregiver, (4) Kurangnya keterampilan
caregiver, dan (5) Keterbatasan caregiver. Selanjutnya peneliti akan membahas
secara rinci masing-masing tema yang teridentifikasi.
Universitas Sumatera Utara
5.1.1. Memberikan dukungan secara total
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa caregiver memberikan dukungan
secara total selama merawat penderita stroke. Fungsi dari caregiver adalah
menyediakan makanan, membawa pasien ke dokter, dan memberikan dukungan
emosional, kasih sayang dan perhatian (Tantono, 2006). Dukungan yang diberikan
caregiver mencakup seluruh aspek kehidupan penderita stroke dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya. Caregiver memberikan dukungan dalam bentuk dukungan
moril, finansial, lingkungan fisik, dan memberikan pengobatan.
Dukungan yang diberikan oleh caregiver adalah penting untuk membantu
kesembuhan penderita stroke baik dari segi fisik, psikososial, dan spiritual.
Tujuan dari rencana pendidikan kesehatan juga berbeda antara penderita stroke
dan caregiver. Caregiver mungkin membutuhkan bantuan dalam mempelajari
perawatan fisik dan teknik penggunaan alat bantu perawatan, menemukan sumber
home care, menempatkan peralatan, menata lingkungan rumah untuk
mengakomodasi kesembuhan pasien (Lewis, et al, 2011).
Dukungan moril yang diberikan caregiver kepada pasien stroke tergambar
dari beberapa sub-kategori yaitu: selalu ada untuk penderita stroke, bertanggung
jawab demi kesembuhan penderita stroke, mendahulukan kepentingan penderita
stroke, dan memberikan motivasi. Seorang partisipan mengungkapkan bahwa
selalu ada disamping penderita stroke dan tidak pernah meninggalkan penderita
stroke. Hal ini sesuai dengan teori keperawatan yang dibuat oleh Williams (2003),
bahwa seorang caregiver haruslah memiliki komitmen selama merawat pasien.
Universitas Sumatera Utara
Komitmen tersebut mencakup bertanggung jawab, menjadikan pasien prioritas,
selalu ada memberikan dukungan, dan keyakinan akan kasih sayang.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebesar 64,6% caregiver memberikan
dukungan secara total antara lain selalu ada di samping penderita stroke, selalu
memberikan motivasi untuk sembuh, dan mengutamakan kepentingan penderita
stroke di atas kepentingan pribadi caregiver. Keterlibatan anggota keluarga pasien
stroke dalam peran caregiver adalah kejadian yang tak terduga, karena sifat cepat
penyakit ini. Keluarga penderita stroke merasa bahwa mereka berkewajiban
secara moral, dan tidak punya pilihan selain untuk menerima peran caregiver dan
mereka menganggap caregiving sebagai "bagian integral dari kehidupan" dan
sebagai "tugas yang tidak dapat dihindari" (Jones & Morris, 2012).
Caregiver selama merawat penderita stroke, turut mendampingi penderita
stroke untuk berobat, memfasilitasi hingga membantu dalam aplikasi pengobatan
tersebut. Akibat kecacatan yang dialami hampir sebagian besar penderita stroke,
sehingga rata-rata partisipan mengatakan membawa penderita stroke ke
pengobatan medis dan juga alternatif. Dari ungkapan partisipan didapatkan
beberapa pasien yang lebih cepat pemulihannya setelah mendapatkan pengobatan
alternatif disamping pengobatan medis. Data demografi penggunaan pengobatan
medis & tradisional menunjukkan bahwa sebesar 43,8% caregiver memberikan
pengobatan pasien stroke kombinasi dari pengobatan medis dan tradisional.
Secara ilmiah, terdapat pengobatan komplementer dan alternatif (CAM/
Complemetary and Alternative Medication), yang mana didefinisikan oleh The
National Center for Complementary and Alternative Medicine sebagai
Universitas Sumatera Utara
“sekelompok sistem medis dan kesehatan yang beragam, praktik, dan produk yang
saat ini tidak dianggap sebagai bagian dari pengobatan konvensional”. Pengobatan
alternatif dapat didefinisikan sebagai suatu cara mencari pengobatan dengan
memilih diantara dua atau beberapa kemungkinan untuk menyembuhkan penyakit
(Depdiknas, 2005).
Nahin, Barnes, Stussman, Bloom (2009), dalam National Center for
Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) menyebutkan terdapat
berbagai macam pengobatan alternatif antara lain terapi herbal, terapi nutrisi,
terapi jus, pijat/massage, akupunktur, akupressur, refleksiologi, dll. Berdasarkan
wawancara dengan beberapa partisipan didapatkan bahwa pengobatan alternatif
yang rata-rata dilakukan adalah pijat/ masase. Ada juga beberapa partisipan yang
membawa penderita stroke untuk mendapatkan terapi akupunktur dan herbal.
Caregiver mengatakan bahwa mereka membawa penderita stroke untuk
mendapatkan pengobatan alternatif karena tidak adanya perkembangan kesehatan
setelah mendapatkan pengobatan medis, kondisi ekonomi keluarga, informasi dari
teman atau saudara, dan kepercayaan/agama ataupun budaya dari suku.
Dalam penelitian yang dilakukan Varghese (2004) disebutkan bahwa
pengaruh sosial memang sangat kompleks salah satunya adalah pengaruh orang
lain atau sugesti teman memiliki angka 11,59% dari alasan pemilihan pengobatan
alternatif. Dalam penelitiannya, Varghese (2004) menyebutkan bahwa 13,04%
responden menyatakan pengobatan alternatif dipilih karena alasan murah.
Kedokteran konvensional sangat tergantung dari teknologi yang mahal untuk
Universitas Sumatera Utara
memecahkan masalah kesehatan, meskipun kadang pula hal tersebut tidak efektif
(Turana, 2003).
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mayoritas partisipan bersuku
Batak (68,8%) dan agama Islam (81,2%). Nilai-nilai budaya yang dominan pada
diri individu sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.
Selanjutnya, kepribadian tersebut akan menentukan pola dasar perilaku manusia,
termasuk perilaku dalam hal memilih pengobatan (Notoatmodjo, 2007).
Selain pengobatan alternatif, ternyata penderita stroke juga masih
mendapatkan pengobatan medis. Kebanyakan partisipan masih terus melanjutkan
pengobatan medis dari dokter. Hal ini dikarenakan partisipan berpendapat apabila
pengobatan alternatif dan medis dikombinasikan dapat mempercepat pemulihan
penderita stroke.
Akan tetapi, partisipan yang lain memilih menghentikan pengobatan
medis karena alasan sudah tidak ada biaya dan tidak ada perkembangan kesehatan
pasien. Seorang partisipan tidak membawa penderita stroke untuk mendapatkan
pengobatan medis karena tidak ada biaya dan mengalami kesulitan dalam
mengurus jamkesmas. Karena faktor ekonomi, partisipan tersebut terpaksa
menghentikan semua pengobatan medis dan alternatif penderita stroke. Partisipan
tersebut memilih untuk pasrah dengan kesembuhan penderita stroke.
5.1.2. Caregiver membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar penderita
Stroke
Penderita stroke mengalami kelemahan dan kelumpuhan fisik sehingga
hampir semua kebutuhan dasar pasien harus dibantu oleh caregiver. Berdasarkan
hasil penelitian, kebutuhan dasar yang dibantu oleh caregiver antara lain
Universitas Sumatera Utara
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan nyaman, dan kebutuhan spiritual.
Berdasarkan hasil observasi, menunjukkan bahwa 58,7% membantu penderita
stroke dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari dan memberikan kenyaman
untuk penderita stroke.
Penelitian yang dilakukan oleh Arksey, et al (2005) terhadap 80 caregiver di
Inggris menyebutkan bahwa secara umum, caregiver memberikan bantuan dalam
eliminasi pasien yang terdiri dari buang air kecil dan buang air besar, membantu
self care pasien, dan mobilisasi pasien. Selain itu, Milligan (2004) dalam
penelitiannya menarik perhatian terhadap fakta tugas caregiver pada lansia. Tugas
yang dilakukan caregiver tidak hanya terbatas kepada pekerjaan rumah tangga,
akan tetapi dibagi ke dalam 4 kategori, sebagai berikut:
a. Physical Care/ Perawatan fisik, yaitu: memberi makan, mengganti pakaian,
memotong kuku, membersihkan kamar, dan lain-lain.
b. Social Care/ Kepedulian sosial, antara lain: mengunjungi tempat hiburan,
menjadi supir, bertindak sebagai sumber informasi dari seluruh dunia di luar
perawatan di rumah.
c. Emotional Care, yaitu menunjukkan kepedulian, cinta dan kasih sayang
kepada pasien yang tidak selalu ditunjukkan ataupun dikatakan namun
ditunjukkan melalui tugas-tugas lain yang dikerjakan.
d. Quality care, yaitu: memantau tingkat perawatan, standar pengobatan, dan
indikasi kesehatan, serta berurusan dengan masalah yang timbul.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa beberapa caregiver juga membantu
dalam memenuhi kebutuhan spiritualitas penderita stroke. Berdasarkan hasil
Universitas Sumatera Utara
penelitian didapatkan mayoritas partisipan beragama Islam (81,2%). Beberapa
partisipan yang beragama Islam mengungkapkan bahwa mereka memfasilitasi
pasien stroke ketika berwudhu dan menjalankan sholat. Hal ini dikaitkan dengan
kepercayaan atau ajaran agama yang menganjurkan untuk beribadah baik ketika
keadaan sehat maupun sakit dan ketika senang maupun sulit.
5.1.3. Penderitaan dan hikmah bagi caregiver
Caregiver pada penderita stroke memiliki tugas yang sangat berat karena
hampir seluruh aspek kehidupan pasien stroke tergantung bantuan dari caregiver.
Banyaknya tugas caregiver yang selama bertahun-bertahun merawat pasien stroke
mengakibatkan dampak yaitu: (1) Penderitaan dan (2) Hikmah dalam hidup
caregiver. Mayoritas caregiver mengeluhkan banyaknya penderitaan selama
merawat penderita stroke. Adapun penderitaan yang dirasakan caregiver
mencakup dampak fisik, psikologis, dan sosial. Hasil observasi peneliti
menemukan bahwa 60,9 % caregiver mengalami penderitaan berupa dampak fisik
dan psikologis selama merawat penderita stroke.
Penderitaan Caregivers dimulai ketika mereka pertama kali diberitahukan
tentang diagnosis pasien. Selama pasien di rumah sakit, perhatian besar caregiver
yaitu kondisi kesehatan pasien dan ketakutan bahwa pasien bisa mati. Hanya
setelah kesehatan pasien stabil, caregiver mulai kembali ke kehidupan rutin
mereka dan melakukan banyak pekerjaan (Pierce, Thompson, Govoni & Steiner,
2012; Kerr & Smith, 2000). Hasil data demografi menunjukkan bahwa mayoritas
partisipan merawat pasien stroke 1-3 tahun sebesar 43,8%.
Universitas Sumatera Utara
Penelitian yang dilakukan oleh Pierce, Steiner, Govoni, Thompson &
Firdemann tahun 2007 menunjukkan bahwa caregiver akan berhasil dalam
menjalankan tugasnya dalam merawat pasien stroke dalam rentang 1 tahun ke
atas. Dalam kurun waktu 3-6 bulan pertama setelah serangan stroke, caregiver
masih berusaha untuk menerima kondisi pasien stroke, belajar untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan, dan belajar cara merawat pasien stroke.
Sehingga dalam penelitian ini, beberapa caregiver yang merawat pasien stroke <1
tahun mengeluh mengalami beban psikologis dan stres dalam merawat anggota
keluarga yang menderita stroke. Akan tetapi, berbeda dengan hasil penelitian
tersebut, caregiver yang sudah merawat pasien stroke >3 tahun justru merasa
stres dan mengalami beban fisik dan psikologis karena jenuh dan putus asa
merawat anggota keluarga yang menderita stroke dan tidak kunjung sembuh.
Banyak caregiver penderita stroke adalah lansia yang merupakan
pasangannya dan mungkin rentan terhadap masalah kesehatan yang serius, atau
sebelumnya memiliki sejarah penyakit kronis. Pada saat yang sama, caregiver
menderita masalah akibat perawatan pasien antara lain terkait masalah fisik
seperti kelelahan, keletihan, pusing, masalah tidur, nyeri, dan kelemahan
(Pornchai., et al, 2005; Pierce., et al, 2012) .
Stroke sebagai peristiwa traumatis, dampaknya tidak hanya pada orang
yang terkena, tetapi juga seluruh keluarga. Stres, marah, temperamen, melukai
perasaan, putus asa, ketidaknyamanan, dan kejenuhan adalah beberapa
konsekuensi emosional negatif caregiving (Pornchai., et al, 2005; Pierce, 2001;
Pierce., et al, 2012; Jones & Morris, 2012).
Universitas Sumatera Utara
Perasaan ketidakpastian umumnya dialami oleh caregiver. Selama
pertemuan dengan tim perawatan kesehatan, adanya kesadaran mengenai potensi
penderitaan caregiver karena "perawat terlalu sibuk", saling berhubungan dengan
pertanyaan yang belum terjawab dan kegagalan tim kesehatan dalam memberikan
informasi yang cukup dan benar mengenai penyakit menjadi pencetus
ketidakpastian (Pornchai., et al, 2005; Ang., et al, 2013; ).
Perubahan perilaku pasien, masalah keuangan, dukungan yang tidak
memadai, tugas caregiving yang terlalu banyak, dan kesulitan tidur bisa menjadi
sumber caregiving distress (Pierce., et al, 2012). Caregiver berjuang untuk
mengelola kondisi kehidupan yang sulit dengan menerapkan strategi koping
berbeda, seperti tetap positif, menjadi fleksibel dengan perubahan mendadak,
membandingkan hal baru dengan pengalaman merawat pasien sebelumnya,
menggunakan humor, dan dukungan keluarga dan teman-teman (Jones., et al,
2012). Terlibat dalam kegiatan keagamaan dan mengandalkan sistem dukungan
sosial dan tokoh agama, kemampuan koping yang penting untuk meningkatkan
kehidupan caregiver dan memelihara kesejahteraan fisik dan emosional mereka
(Pornchai., et al, 2005).
Hirst (2005) menemukan masalah kesehatan mental yang timbul secara
langsung terhadap caregiver dalam proses perawatan pasien. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa caregiver yang memberikan perawatan kepada pasien/
keluarga lebih dari 20 jam atau lebih per minggu adalah dua kali lipat berisiko
mengalami tekanan psikologis dan efek ini lebih besar pada caregiver wanita.
Penelitian yang dilakukan Kalliath dan Kalliath (2000) di Selandia Baru pada
Universitas Sumatera Utara
caregiver pasien stroke, menemukan terdapat kelelahan emosional dikaitkan
dengan gejala kelelahan, depersonalisasi, dan penurunan prestasi pribadi.
Cameron et al (2006) menemukan sebesar 44% dari 94 orang caregiver
berkebangsaan Canada pada pasien stroke beresiko terkena depresi klinis.
Hasil survey yang dilakukan oleh Vitaliano, et al (2003, 2004)
menemukan dampak kesehatan fisik bagi caregiver pada lansia dengan demensia.
Pada penelitian tersebut, caregiver melaporkan mengalami gangguan kesehatan
fisik dan membutuhkan pengobatan yang lebih sering dibandingkan bukan
caregiver. Sebesar 23% terjadi peningkatan hormon stres pada caregiver. Hasil
lain menunjukkan bahwa caregiver menghasilkan produksi antibodi yang rendah,
tingginya gangguan tidur dan kurang adekuatnya diet.
Selain penderitaan caregiver di atas, ternyata proses caregiving yang
dilakukan caregiver memiliki hikmah juga bagi kehidupannya. Hal ini
diungkapkan partisipan bahwa, selama merawat penderita stroke dapat lebih
menjaga kesehatannya, meningkatkan spiritualitas, dan pasien menjadi lebih dekat
dengan keluarga selama sakit stroke.
Studi yang dilakukan Patterson (1997) menemukan dampak positif
caregiving dari 11 orang caregiver perempuan. Seorang anak perempuan
mengungkapkan bahwa hubungannya menjadi lebih baik dengan orang tuanya,
seorang istri mengatakan merasa lebih dekat dengan suaminya yang sakit stroke
dan merasa dibutuhkan. Penelitian yang dilakukan oleh Nikora (2004) di Selandia
Baru, menemukan bahwa menjadi caregiver dapat menambah pengalaman, ilmu,
serta dapat meningkatkan spiritualitas.
Universitas Sumatera Utara
5.1.4. Kurangnya keterampilan caregiver dalam merawat anggota keluarga
yang menderita stroke
Kebanyakan caregiver adalah orang awam yang memang baru pertama
kali merawat penderita stroke, sehingga ada beberapa keterampilan yang
diperlukan caregiver untuk memudahkan pekerjaannya dalam merawat pasien
stroke. Tema ini terdiri dari dua kategori yaitu: (1) Kebutuhan edukasi dan
informasi dan (2) Kebutuhan psikologis.
Penelitian Yedidia dan Tiedemann, (2008) berdasarkan tugas caregiver,
menyimpulkan kebutuhan caregiver yaitu: (1) Kebutuhan akan informasi tentang
pelayanan yang tersedia, (2) Manajemen stress dan strategi koping, (3) Masalah
keuangan dan asuransi, (4) Masalah komunikasi dengan profesional kesehatan,
(5) Informasi tentang penyakit, (6) Menggunakan bantuan yang kompeten,
(7) Bantuan tentang tugas-tugas perawatan, (8) Bantuan berkomunikasi dengan
pasien, (9) Nasihat hukum, (10) Informasi tentang obat, (11) Bantuan mengatasi
masalah akhir kehidupan, (12) Panduan memindahkan pasien ke fasilitas yang
mendukung, (13) Bantuan berurusan dengan keluarga.
Secara umum, pelayanan kesehatan ditujukan bagi penderita stroke,
sedangkan kebutuhan caregiver belum terselesaikan. Caregiver seringkali salah
mengerti tentang istilah "Stroke". Oleh karena itu, mereka termotivasi untuk
menemukan sumber-sumber lain selain tim kesehatan untuk mendapatkan
informasi dan untuk belajar keterampilan caregiving dengan cara yang kompeten
dan percaya diri. Kadang-kadang, mencari informasi yang diperlukan bisa sulit
dan frustasi untuk keluarga (Pornchai., et al, 2005; Ang., et al, 2013).
Universitas Sumatera Utara
Kurang memadainya persiapan untuk tugas-tugas caregiving sering disorot
(Cobley., et al, 2012). Menyediakan caregiver dengan harapan yang realistis,
kepastian, informasi yang diperlukan, dan pelatihan keterampilan fisik sangat
penting. Untuk merasa yakin tentang keterampilan, caregiver membutuhkan
umpan balik yang konstruktif dan memvalidasi praktik mereka dari tenaga
pelayanan kesehatan profesional (Kerr & Smith, 2000).
Ketidakpuasan dan keluhan tentang kurangnya perawatan holistik yang
multidisipliner yang diterima dari institusi terkait membuat caregiver
menginginkan tim kesehatan profesional yang dapat memfasilitasi peran mereka
yang lebih baik dalam mengkoordinasikan perawatan yang diberikan, membantu
dalam kemajuan pasien dan pengasuh kehidupan menuju normal, menerapkan
penguasaan peran caregiving, dan memiliki sumber daya yang dapat diakses
masyarakat.
Keluarga penderita stroke merasa bahwa dalam bekerja, akan lebih mudah
bagi mereka untuk memberikan perawatan yang aman dan kompeten jika mereka
menerima dukungan profesional dan sosial yang memadai (Pornchai., et al, 2005).
Hal ini penting bagi tim pelayanan kesehatan untuk membangun hubungan
suportif dengan caregiver, dan peran profesional perawatan kesehatan harus
diperluas untuk mencakup tindak lanjut kunjungan ke rumah caregiver. Sebuah
penilaian kebutuhan keuangan, layanan rujukan yang tepat, dan peralatan
terjangkau ditekankan kebutuhan sebagai yang diidentifikasi oleh caregiver
(Ang., et al, 2013). Namun, kepuasan caregiver oleh dukungan dan layanan
masyarakat jarang didokumentasikan.
Universitas Sumatera Utara
5.1.5. Keterbatasan caregiver
Dalam menjalankan perannya, caregiver memiliki banyak keterbatasan
yang dibagi menjadi kategori yaitu: (1) Faktor masalah fisik, (2) Faktor finansial,
dan (3) Faktor fasilitas. Faktor masalah fisik yang dialami caregiver mencakup
dari sakit yang dialami caregiver, jenis kelamin caregiver dan pasien yang
dirawat, dan juga faktor usia caregiver.
Adapun jenis kelamin partisipan mayoritas adalah perempuan (93,8%),
sedangkan jenis kelamin penderita stroke yang terbanyak adalah laki-laki
(56,2%). Usia caregiver berada pada rentang 46-55 tahun (50%). Sebagian besar
caregiver adalah wanita. Menurut Montgomery, Rowse, dan Kosloski (2007),
wanita diketahui memiliki waktu istirahat dan latihan yang kurang dibandingkan
pria. Sehingga terjadi perubahan kardiovaskuler seperti tekanan darah meningkat.
Kurangnya waktu untuk merawat diri sendiri karena permintaan rawatan yang
berkesinambungan dapat berdampak negatif pada kesehatan caregiver.
Karakteristik penderita stroke berupa faktor usia menimbulkan pengaruh,
seperti pada caregiver lansia dengan masalah penurunan kemampuan fisiknya,
memerlukan bantuan untuk perawatan fisik dan masalah administrasi yang
mengarah kepada ketegangan dan stres caregiver. Dari segi pengaturan hidup,
dengan adanya perpindahan pasien dari rumah ke rumah sakit atau sebaliknya
misalnya, alam menimbulkan distres. Karakteristik penderita stroke berupa usia,
jenis kelamin, pekerjaan, status finansial, status pernikahan, pengaturan hidup dan
peran biasanya, ini perlu dipertimbangkan dalam kontribusinya terhadap beban
caregiver.
Universitas Sumatera Utara
5.2. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dirasakan masih memiliki banyak keterbatasan dan
kekurangan diantaranya yaitu: (1) Proses keluarnya surat izin penelitian di rumah
sakit yang memakan waktu yang lama, (2) Peneliti mengalami kesulitan karena
harus mendatangi rumah partisipan satu per satu sehingga membutuhkan waktu
yang lama untuk mengumpulkan data, (3) Keterbatasan pada diri peneliti sendiri,
dikarenakan peneliti pemula dalam riset kualitatif.
5.3. Implikasi Hasil Penelitian
Perawatan pada penderita stroke, bukan berarti perhatian perawat hanya
pada penderita stroke saja. Keberadaan keluarga sebagai caregiver penderita
stroke merupakan orang yang sangat diperlukan untuk memantau status kesehatan
penderita stroke agar tidak terjadi stroke berulang dan merawat penderita stroke
untuk mempercepat proses pemulihannya.
5.3.1. Implikasi pada pelayanan keperawatan
Dalam prakteknya, pengkajian kebutuhan secara holistik diperlukan tidak
hanya bagi penderita stroke, tetapi juga untuk caregiver. Untuk membuat
caregiver keluarga menjadi berpengetahuan dan percaya diri, perawat harus
menyediakan bahan ajar cara merawat penderita stroke selama di rumah sakit, di
mana keterampilan dan kemampuan caregiver dapat diobservasi. Perencanaan
pulang individual yang berpusat pada keluarga daripada pendekatan berpusat pada
penderita stroke lebih disukai.
Universitas Sumatera Utara
Sebelum keluar rumah sakit, dan untuk meminimalkan konsekuensi
pengasuhan yang merugikan, perawat harus lebih mempersiapkan anggota
keluarga untuk mengatasi beberapa situasi pengasuhan yang membuat stres.
Perawat tidak hanya harus mengajar caregiver untuk memenuhi kebutuhan
penderita stroke tetapi juga mengajarkan caregiver bagaimana untuk mengelola
kekhawatiran terkait dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan caregiver.
5.3.2. Implikasi pada pendidikan keperawatan
Peran keluarga sebagai caregiver selama mendampingi penderita stroke
sangat penting dalam pemulihan penderita stroke, sehingga penting dipelajari
tentang cara meningkatkan kualitas peran dan fungsi caregiver dalam merawat
penderita stroke. Selain itu, peran perawat sebagai edukator khususnya pada
penderita stroke dan caregiver juga perlu diaplikasikan oleh mahasiswa dalam
menerapkan ilmunya agar melakukan asuhan keperawatan pada penderita stroke
dengan melibatkan caregiver juga. Sehingga akhirnya akan melatih caregiver
dalam merawat penderita stroke di rumah setelah keluar dari rumah sakit.
5.3.3. Implikasi pada penelitian keperawatan
Adanya penelitian tentang perawatan penderita stroke oleh caregiver dapat
membantu perawat untuk memilih waktu yang baik, intervensi pendidikan
individual, dan menawarkan panduan praktis caregiving yang tepat. Perawat dapat
merekomendasikan situs internet caregiving khusus untuk memungkinkan
caregiver untuk mengakses informasi yang dapat dipercaya tentang pasien
prosedur rumah-peduli stroke.
Universitas Sumatera Utara
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan
merupakan ringkasan pembahasan hasil penelitian yang telah dibandingkan
dengan teori dan penelitian terkait. Saran merupakan tindak lanjut dari penelitian
ini.
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan terdapat 5
tema dan 15 kategori pengalaman keluarga sebagai caregiver dalam merawat
penderita stroke di rumah.
6.1.1. Memberikan dukungan secara total selama merawat anggota keluarga yang
menderita stroke
Tema memberikan dukungan secara total selama merawat anggota
keluarga yang menderita stroke terdiri dari 4 kategori dan 8 sub-kategori.
Berdasarkan hasil content analysis menunjukkan bahwa sebanyak 14 dari 16
orang caregiver memberikan dukungan moril antara lain: bertanggung jawab
demi kesembuhan pasien, mengusahakan semua, selalu ada di samping pasien,
tidur di samping pasien, mendahulukan kepentingan pasien, memberikan
motivasi, membawa refreshing. Hasil observasi menunjukkan bahwa 64,6%
partisipan memberikan dukungan moril. Hal ini dikarenakan caregiver merasa
bertanggung jawab atas kesembuhan anggota keluarga yang menderita stroke dan
dukungan moril adalah salah satu dukungan yang mudah untuk diberikan.
Universitas Sumatera Utara
6.1.2. Membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar penderita stroke
Tema membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar penderita stroke terdiri
dari 3 kategori dan 8 sub-kategori. Hasil content analysis menunjukkan bahwa
sebanyak 15 dari 16 orang caregiver membantu dalam pemenuhan kebutuhan
fisiologis (mengangkat dan memindahkan pasien, mendorong kursi roda, latihan
gerak dan jalan, membantu BAK dan BAB, memberikan makan dan minum,
memilih makanan yang sesuai dan memasak makanan pasien). Hasil observasi
menunjukkan bahwa 100% partisipan membantu memenuhi kebutuhan fisiologis
pasien. Dapat disimpulkan bahwa semua kebutuhan fisiologis pasien stroke
dibantu oleh caregiver.
6.1.3. Penderitaan dan hikmah bagi caregiver selama merawat penderita stroke
Tema penderitaan dan hikmah bagi caregiver selama merawat penderita
stroke terdiri dari 2 kategori dan 8 sub-kategori. Hasil content analysis
menunjukkan bahwa 16 orang caregiver mengalami penderitaan fisik selama
merawat pasien stroke di rumah, berupa lupa makan, kelelahan, sakit pinggang,
kurang tidur, hipotensi, rematik, dan badan pegal-pegal. Hasil observasi
menunjukkan bahwa 81,2% partisipan mengalami dampak fisik akibat merawat
pasien stroke selama bertahun-tahun.
6.1.4. Kurangnya keterampilan caregiver
Tema kurangnya keterampilan caregiver terdiri dari 2 kategori dan 5 sub-
kategori. Adapun kategori dari tema tersebut di atas antara lain: (1) Kebutuhan
edukasi dan informasi dan (2) Kebutuhan psikologis. Hasil content analysis
Universitas Sumatera Utara
menunjukkan bahwa sebanyak 10 dari 16 orang caregiver merasa kurang
mengetahui informasi terkait cara merawat penderita stroke di rumah.
6.1.5. Keterbatasan caregiver
Tema Keterbatasan caregiver terdiri dari 3 kategori dan 4 sub-kategori.
Dalam menjalankan perannya, caregiver memiliki banyak keterbatasan yang
dibagi menjadi kategori yaitu: (1) Faktor masalah fisik, (2) Faktor finansial; dan
(3) Faktor fasilitas. Hasil content analysis menunjukkan bahwa sebanyak 10 dari
16 orang caregiver mengalami keterbatasan akibat fisik yang lemah dan usia yang
sudah lansia sehingga mengalami kesulitan dalam merawat penderita stroke di
rumah.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, diberikan beberapa saran terhadap pihak
rumah sakit, pendidikan keperawatan, dan penelitian keperawatan. Pengkajian
secara holistik diperlukan tidak hanya bagi penderita stroke, tetapi juga untuk
caregiver. Perawat harus menyediakan bahan ajar cara merawat penderita stroke
selama di rumah sakit, dimana keterampilan dan kemampuan caregiver dapat
diobservasi. Perencanaan pulang individual yang berpusat pada keluarga daripada
pendekatan berpusat pada penderita stroke.
Sebelum keluar rumah sakit, dan untuk meminimalkan konsekuensi
pengasuhan yang merugikan, perawat harus lebih mempersiapkan anggota
keluarga untuk mengatasi beberapa situasi pengasuhan yang membuat stres.
Selain itu, peran perawat sebagai edukator khususnya pada pasien stroke dan
caregiver juga perlu diaplikasikan oleh mahasiswa dalam menerapkan ilmunya
Universitas Sumatera Utara
agar melakukan asuhan keperawatan pada penderita stroke dengan melibatkan
caregiver juga. Sehingga akhirnya akan melatih caregiver dalam merawat
penderita stroke di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Perawat dapat
merekomendasikan situs internet caregiving khusus untuk memungkinkan
caregiver untuk mengakses informasi yang dapat dipercaya tentang pasien
prosedur rumah-peduli stroke.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, S.A., & Isezuo, S.A. (2012). Health related quality of life of stroke survivors:
Experience of a Stroke Unit. International Journal of Biomedical Science, 8 (3),
183-187.
Akosile, C.O., Okoye, E.C., Nwankwo, M.J., Akosile, C.O., & Mbada, C.E. (2011).
Quality of life and it’s correlates in caregivers of stroke survivors from Nigerian
population. Springer Science: Qual Life Res, 20, 1379-1384. DOI:
10.1007/s11136-011-9876-9.
Ang, S.Y., et al. (2013). Proceedings of Singapore Healthcare, 22 (3): A qualitative study into
stroke caregivers’ educational needs–perspectives of caregivers and healthcare professionals.
Singapore.
Arksey, H., & Hirst, M. (2005). Primary health care research and development,
6, 101-116
Artal, F.J.C., & Egido, J.A. (2009). Quality of life after stroke: The importance of a good
recovery. Journal of Cerebrovascular Disease, 27(1), 204-214. DOI:
10.1159/000200461.
Banks, P., & Pearson, C. Parallel lives: Young stroke survivors and their partners
coping with crisis. Sexual and Relationship Therapy 2004, 19(4), 413-429.
Barnes, P.M., Griner, E.P., McFann, K., & Nahin, R.L. (2004). Complementary and
alternative medicine use among adults: United States, 2002. Diambil tanggal 12
September 2009 dari http://www.cdc.gov/nchs/nhis.htm
Barnes, P. M., Bloom, B., & Nahin, R.L. (2008). Complementary and alternative
medicine use among adults and children: United States, 2007. Diambil tanggal 20
Oktober 2009 dari ftp://
ftp.cdc.gov/pub/Health_Statistics/NCHS/Dataset_Documentation/NHIS/
2007/srvydesc.pdf
Biegel, D., Sales, E., & Schulz, R. (1991). Family caregiving in chronic illness: Heart disease,
cancer, stroke, Alzheimer’s disease, and chronic mental illness. Newburry Park CA: Sage.
Black, J.M., & Hawks, J.H. (2009). Medical-Surgical Nursing: clincal management for positive
outcomes 8th edition. Singapore: Saunders Elsivier, Inc.
Blum, K., & Sherman, D.W. (2010). Understanding the experience of caregivers:
a focuson transition. Seminar in Oncology Nursing, 26(4), 243-258.
Universitas Sumatera Utara
Brereton, L., & Nolan, M. (2000). You do know he's had a stroke, don’t you? Preparation
for family caregiving-the neglected dimension. Journal of Clinical Nursing, 9, 489-506.
Cameron, J., Cheung, A., et al. (2006). Stroke survivors' behavioral and psychologic
symptoms are associated with informal caregivers' experiences of depression.' Arch
Phys Med Rehabil, 87(2), 177-183
Creswell, J.W. (2012). Qualitative inquiry & research design: choosing among
five approaches. USA: SAGE Publication.
Cobley, C.S., Fisher, N.C., Kerr, M., & Walker, M.F. (2013). A qualitative study exploring
patients’ and carers’ experiences of early supported discharge services after stroke.
Clinical Rehabilitation Journal, 0(0), 1–8, DOI: 10.1177/0269215512474030
Colaizzi, P. (1978a). Psychological research as the phenomenologist’s view it. In R.
Vale & M. King (Eds.), Existential–phenomenological alternatives for psychology ,
48–71. New York: Oxford University Press.
Departemen Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007: Laporan
Nasional 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI. (2012). Profil kesehatan Indonesia 2011. Jakarta:
Depkes RI.
Friedman, M.M. (1998). Keperawatan keluarga: Teori & praktik. Edisi 6.
Jakarta: EGC.
Ginsberg, L. (2008). Lecture notes neurology. Ed-8. Jakarta: Erlangga.
Given, B.A., Given, C.W,. & Sherwood, R.P. (2011). Family & caregiver needs over the
course of the cancer trajectory. The Journal of Supportive Oncology, 20 (10)
Given, B.A., et al. (2007). Burden & depression among caregivers of patients with
cancer at the end-of-life. Oncology Nursing Forum, 6 (31), DOI:10.1188/04. ONF.
1105-1117.
Harsono, E.D. (2000). Kapita selekta neurologi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Hirst, M. (2005). Carer distress: a prospective, population-based study. Social
Science and Medicine, 61(3), 697-708.
Universitas Sumatera Utara
Jones, L., & Morris, R. (2012). Experiences of adult stroke survivors and their parent
carers: A qualitative study. Clinical Rehabilitation Journal, 27(3), 272–280, DOI:
10.1177/0269215512455532
Jullamate, P., Azeredo, Z., Paul, C., & Subgranon, R. (2006). Thai stroke patient
caregivers: Who they are and what they need. Journal of Cerebrovasc Disease, 2,
128-133. DOI: 10.1159/000090211.
Kalliath, P., & Kalliath, T. (2000). Understanding caregiver burnout: social worker's role
in assisting caregivers of long term stroke survivors. Social Work Review.
Kerr, S.M., & Smith, L.N. (2001). Stroke: An exploration of the experience of informal
caregiving. Clinical Rehabilitation Journal, 15, 428-436. DOI:
10.1191/026921501678310234
Lewis. (2007). Medical surgical nursing 7
th

edition. St. Louis Missouri: Mosby Year Book. Inc


Lewis, S.L., Dirksen, S.R., Heitkemper, M.M., Bucher, L., & Camera, I.M. (2011).
Medical surgical nursing: Assesstment and management of clincal problems, 1. St.
Louis Missouri: Mosby Year Book. Inc
LoBiondo-Wood, G., & Haber, J. (2010). Nursing research: methods & critical
appraisal for evidence-based practice. (7
th

ed). St. Luois: Mosby Elsevier.


Lowenstein, A., & Gilbar, O. (2000). The perception of caregiving burden on the part of
elderly cancer patients, spouses & adult children. Families, system & health: The
Journal of Collaborative family healthcare, 18 (3).
Merriam-Webster OnLine. (2013). Merriam-Webster’s collegiate dictionary (Web site).
Diakses dari http://www.m-w.com/dictionary/caregiver pada tanggal 10 Februari 2014.
Milligan C (2004) Caring for older people in New Zealand. Bailrigg, Institute for
Health Research, Lancaster University
Montgomery, R.J.V., Rowe, J.M., & Koloski, K. (2007). Family caregiving. In J. A.
Blackburn & C.N. Dulmus (Ed), Handbook of gerontology: evidence- based approaches
to theory, practice, & policy. Milwaukee: John Wiley & Sons.
National Alliance for Caregiving. (2010). Care for family caregiver. A palce to
start. New York: EmblemHealth: www.caregiving.org
Universitas Sumatera Utara
Nationale Institute of Neurological Disorder and Stroke. (2008). Post-Stroke
rehabilitation fact sheet. Diakses dari
http://www.ninds.nih.gov/disorder/stroke/poststrokerehab.htm pada tanggal 10 Januari
2014.
Nationale Stroke Statistic Information. (2008). Statistic Stroke. Diakses dari
http://scumdoctor.com/Indonesia/diseaseprevention/brain/disease/stroke.htm l pada
tanggal 09 Januari 2014.
NFCA. (2004). Communicating with caregivers. Diakses dari
http://www.familycaregiving101.org/assist/communicating.cfm pada tanggal 3 Januari
2014
Pierce, L.L. (2001). Caring and expressions of stability by urban family caregivers of
persons with stroke within African American family system. Rehabilitation Nursing
Journal, 26(3), 100.
Pierce, L.L., Steiner, V., Govoni, A., Thompson, T.C., & Friedemann, M.L. (2007). Two
sides to the caregiving story. Thomas Land Publishers, Inc. Top Stroke Rehabilitation.
DOI: 10.1310/tsr1402-13.
Pierce, L.L., Thompson, T.L., Govoni, A.L., & Steiner, V. (2012). Caregivers'
incongruence: Emotional strain in caring for persons with stroke. Rehabilitation Nursing
Journal, 37(5), 258. DOI: 10. 1002/rnj.035.
Piercy, K., & Chapman, J. Adopting the caregiver role: A family legacy. Family
Relations 2001, 50, 386-393.
Polit, D.F., & Beck, C.T. (2008). Nursing Research: Generating and assesing
evidence for nursing practice. 8 ed. Lippincott Williams and Wilkins.
Polit, D. F., & Hungler, B. P. (1999). Nursing research: Principles and methods
6th ed. Philadelphia: Lippincott.
Pornchai, J., Zaida, d. A., Constança, P., & Rachaneeporn, S. (2005). Thai stroke
patient caregivers: Who they are and what they need; Thailand. Cerebrovascular
Disease Journal, 21, 128–133. DOI: 10.1159/000090211.
Price., & Wilson. (2000). Patofisiologi: Konsep klinis proses penyakit. Ed. 6. Vol-
2. Jakarta: EGC.
Reinhard., et al. (2008). Supporting family caregivers in providing care. AJN. 23
(2).
Saldana, J. (2011). Fundamentals of qualitative research. New York: Oxford
University Press, Inc.
Universitas Sumatera Utara
Schumacher, K.L., Stewart, B.J., & Archbold, P.G. (1999). Conceptualizaton and
measurement of doing family caregiving well. Image: Journal of Nursing Scholarship,
30, 63-69.
Shyu, Y.I. (2000). Role tuning between caregiver and care receiver during
discharge transition: A
N

illustration of role function mode in R


OY

'
S adaptation theory.
Nursing Science Quarterty , 13, 37-43.
Smeltzer, S., & Bare. (2008). Brunner & suddarth’s textbook of medical surgical
nursing. Philadelphia: Lippincott.
Smith, M.J., & Liehr, P.R. (2008). Middle range theory for nursing. New York,
NY, USA: Springer Publishing Company.
Smith, M.J., & Liehr, P.R. (2014). Middle range theory for nursing. New York,
NY, USA: Springer Publishing Company.
Speziale, H.J.S., & Carpenter, D.R. (2003). Qualitative research in nursing
advancing humanistic imperative (3
rd

ed). Philadelphia: Lippincott.


Spiegelberg, H. (1970). On some human uses of phenomenology. In F. J. Smith,
(Ed.), Phenomenology in perspective. 17–31. The Hague: Martinus Nijhoff.
Streubert., & Carpenter, D.R. (1999). Qualitative research in nursing advancing
the humanistic imperative. Philadelphia: Lippincott.
Strudwick, A., & Morris, R. (2010). A qualitative study exploring the experiences of
African-Caribbean informal stroke carers in the UK. Clinical Rehabilitation Journal, 24,
159-167, DOI: 10.1177/0269215509343847.
Swanberg, J.E. (2006). Making it work: Informal caregiving, cancer, and
employment. Journal of Psycosocial Oncolagy, 24(3), 1-18.
Sawatzky J., & Kerry,F. (2003). Impact of caregiving: Listening to the voice of informal
caregivers. Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing 2003, 10, 277-286.
Turana, Y. (2003). Seberapa besar manfaat pengobatan alternatif. Diambil
tanggal 10 September 2009 dari http://www.medicaholistic.com Varghese, C.T. (2004).
Is patient’s preference for medical changing?. Diambil
tanggal 5 September 2009 dari http://www.medicaholistic.com. Vitaliano P., & Young,
H., et al. (2004). Is caregiving a risk factor for physical
illness? Current Directions in Psychological Science, 13(1), 13-16
Vitaliano P., & Zhang, J., et al. (2003). Is caregiving hazardous to one's physical
health? A meta-analysis.'Psychological Bulletin, 129(6), 946-972
Universitas Sumatera Utara
Wilkinson, A. (2009). Caregiving to CHF/COPD patients. Palliative care conference.
Diakses dari
http://www.palliativecare.org.au/Portals/46/Together%20conference/Az%20
Anne%20Wilkinsons.pdf pada tanggal 20 Januari 2014.
Williams, L.A. (2007). Whatever it takes: Informal caregiving dynamics in blood
& marrow transplantation. Oncology Nursing Forum, 34, 379-387.
Yastroki. (2009). Angka kejadian stroke meningkat tajam. Diakses dari
http://www.yastroki.or.id/read.php?id pada tanggal 4 Januari 2014.
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN
Universitas Sumatera Utara
PENJELASAN TENTANG PENELITIAN
Judul Penelitian :
“Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai Cargiver dalam
Merawat Pasien Stroke di Rumah”
Peneliti : Nanda Masraini Daulay
No Telepon : 085297737764
Peneliti merupakan Mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara, bermaksud mengadakan penelitian
untuk mengetahui “ Pengalaman Keluarga sebagai Cargiver dalam Merawat
Pasien Stroke di Rumah “.
Hasil penelitian ini akan direkomendasikan sebagai masukan untuk dapat
diidentifikasi intervensi keperawatan terhadap caregiver dalam merawat pasien
stroke agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien stroke yang dirawat di
rumah serta kualitas hidup caregiver yang merawatnya, sehingga pada akhirnya
akan menurunkan kejadian stroke berulang. Peneliti menjamin bahwa penelitian
ini tidak akan menimbulkan dampak negatif bagi siapapun. Peneliti berjanji akan
menjunjung tinggi hak-hak responden dengan cara : 1) Menjaga kerahasiaan data
yang diperoleh, baik dalam proses pengumpulan data, pengolahan data, maupun
penyajian hasil penelitian nantinya. 2) Menghargai keinginan responden untuk
tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.
Melalui penjelasan singkat ini, peneliti mengharapkan respon saudara.
Terimakasih atas kesediaan dan partisipasinya.
Universitas Sumatera Utara
LEMBAR PERSETUJUAN
Setelah membaca penjelasan penelitian ini dan mendapatkan jawaban atas
pertanyaan yang saya ajukan, maka saya mengetahui manfaat dan tujuan
penelitian ini, saya mengerti bahwa peneliti menghargai dan menjunjung tinggi
hak-hak saya sebagai responden.
Saya menyadari bahwa penelitian ini tidak akan berdampak negatif bagi saya.
Saya mengerti bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini sangat besar
manfaatnya bagi peningkatan pengetahuan saya sebagai caregiver dalam merawat
pasien stroke serta dapat mengurangi angka kejadian stroke berulang.
Persetujuan yang saya tanda tangani menyatakan bahwa saya bersedia
berpartisipasi dalam penelitian ini.
Medan, ..................................2014
Partisipan,
Tanda tangan
Universitas Sumatera Utara
Kuesioner Data Demografi “ Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver
dalam Merawat Pasien Stroke di Rumah”
Petunjuk Pengisian: Dibawah ini adalah data demografi yang dibutuhkan sebagai
identitas partisipan penelitian. Isilah pertanyaan di bawah ini sesuai keadaan Bapak/Ibu
yang sebenarnya, dengan memberi tanda checklist ( √ ) pada kotak yang telah
disediakan.
No. Partisipan :
1. Usia partisipan : tahun
2. Usia penderita stroke : tahun
3. Jenis kelamin partisipan : ( ) Perempuan ( ) Laki-laki
4. Jenis penderita stroke : ( ) Perempuan ( ) Laki-laki
5. Pendidikan: 3. Agama
( ) Tidak Sekolah ( ) Islam ( ) SD ( ) Katolik ( ) SMP ( ) Protestan ( ) SMA ( ) Hindu ( )
Perguruan Tinggi ( ) Budha
4. Suku Bangsa 5. Pekerjaan
( ) Batak ( ) PNS ( ) Jawa ( ) Karyawan Swasta ( ) Minang ( ) Wiraswasta ( ) Melayu ( )
IRT/Tidak bekerja ( ) Lainnya, sebutkan_______ ( ) Lainnya, sebutkan___
6. Hubungan partisipan dengan klien: __________________________________
7. Lama merawat pasien stroke : ______________________________________
8. Pengalaman merawat pasien stroke sebelumnya:_______________________
9. Tingkat ketergantungan pasien:_____________________________________
Universitas Sumatera Utara
PANDUAN WAWANCARA
“ Studi Fenomenologi: Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver
dalam Merawat Pasien Stroke di Rumah”
Pertanyaan:
1. Apa yang Bapak/Ibu alami saat merawat keluarga yang menderita stroke?
2. Bagaimana cara Bapak/ibu bertanggung jawab dalam merawat anggota
keluarga yang menderita stroke di rumah?
3. Apa saja jenis bantuan yang Bapak/Ibu berikan kepada pasien?
4. Apa saja hambatan dan tantangan yang Bapak/Ibu temukan selama merawat
pasien stroke?
5. Apakah Bapak/Ibu berdiskusi dengan pasien stroke terkait perawatan yang
diberikan?
Universitas Sumatera Utara
LEMBAR OBSERVASI
“ Studi Fenomenologi Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver
dalam Merawat Pasien Stroke di Rumah”
No Perilaku yang di observasi
Ya Dilakukan
Tidak Memberikan dukungan
secara total 1. Caregiver memberikan motivasi dan semangat
kepada pasien stroke 2. Caregiver mengutamakan kepentingan pasien dalam
kegiatan sehari-hari. 3. Caregiver selalu ada untuk pasien stroke 4. Caregiver
mendiskusikan tentang perawatan dengan
pasien stroke 5. Caregiver mendengarkan pendapat/keluhan pasien
stroke 6. Caregiver tampak semangat dan optimis dalam
merawat pasien stroke
Memenuhi kebutuhan dasar 1. Caregiver merawat pasien stroke
dengan lemah
lembut 2. Caregiver membantu pasien stroke dalam memenuhi
kebutuhan dasar sehari-hari 3. Caregiver melibatkan pasien stroke dalam
perawatan
diri pasien 4. Caregiver memberikan kenyamanan kepada pasien
stroke 5. Caregiver cekatan dan terampil dalam merawat
pasien stroke
Penderitaan dan hikmah bagi caregiver
1. Caregiver sabar dalam merawat pasien stroke 2. Caregiver tampak stress dalam
merawat pasien stroke 3. Caregiver tampak kelelahan dalam merawat pasien
stroke 4. Caregiver tampak pasrah dengan keadaan pasien
stroke
Universitas Sumatera Utara
FORMAT CATATAN LAPANGAN
Inisial Partisipan : Kode Partisipan :
Tempat wawancara : Waktu wawancara:
Suasana tempat saat akan dilakukan wawancara :
Gambaran Partisipan saat akan dilakukan wawancara:
a. Posisi :
b. Non-Verbal :
Gambaran respon partisipan saat wawancara berlangsung:
Gambaran sususan tempat saat wawancara berlangsung:
Respon partisipan saat interaksi:
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 2 BIODATA EXPERT
Universitas Sumatera Utara
BIODATA EXPERT CONTENT VALIDITY
PANDUAN WAWANCARA DAN LEMBAR OBSERVASI
1. Rosina Tarigan, S.Kp., M.Kep., Sp.KMB
Staf Dosen Departemen Dasar dan Medikal Bedah Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara
2. Yesi Ariani, S.Kp., M.Kep
Staf Dosen Departemen Dasar dan Medikal Bedah Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara
3. Eliadi, S.Kep, Ns
Kepala Ruangan Unit Stroke RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 3 IZIN PENELITIAN
Universitas Sumatera Utara