Anda di halaman 1dari 26

PEMANFAATAN PUPUK NPKMg UNTUK MENINGKATKAN

PRODUKSI JEWAWUT (Setaria italica (L.) P Beauv) SEBAGAI


TANAMAN PANGAN SEREALIA ALTERNATIF

PAPER

OLEH :

MUHAMAD IRFAN HAMID / 160301212


AGROTEKNOLOGI IVB

LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN PANGAN I


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
PEMANFAATAN PUPUK NPKMg UNTUK MENINGKATKAN
PRODUKSI JEWAWUT (Setaria italica (L.) P Beauv) SEBAGAI
TANAMAN PANGAN SEREALIA ALTERNATIF

PAPER

OLEH :

MUHAMAD IRFAN HAMID / 160301212


AGROTEKNOLOGI IVB

Paper sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di
Laboratorium Budidaya Tanaman Pangan I, Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

LABORATORIUM BUDIDAYA TANAMAN PANGAN I


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
Judul : Pemanfaatan Pupuk NPKMg Untuk Meningkatkan Produksi
Jewawut (Setaria italica (L.) P Beauv) Sebagai Tanaman Pangan
Serealia Alternatif
Nama : Muhamad Irfan Hamid
NIM : 160301212
Group : Agroteknologi IVB

Diketahui Oleh :
Asisten Koordinator

(Muhammad Syariful Muharammi Harahap)


NIM : 140301049

Diperiksa oleh Diperiksa oleh


Asisten Korektor I Asisten Korektor II

(Muhammad Yudha Andika) (Aidah Salsabilah)


NIM : 140301215 NIM : 140301183
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Karena

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul paper ini adalah “Pemanfaatan Pupuk NPKMg Untuk

Meningkatkan Produksi Jewawut (Setaria italica (L.) P Beauv) Sebagai Tanaman

Pangan Serealia Alternatif” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat

memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Budidaya Tanaman Pangan I,

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,

Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

penanggung jawab mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan I yaitu

Dr. Ir. Jonathan Ginting, M.S; Dr. Diana Sofia Hanafiah, S.P, M.P;

Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si; Dr. Nini Rahmawati, S.P, M.Si, kepada kedua orang

tua penulis serta kepada Abang dan Kakak Asisten Laboratorium Budidaya

Tanaman Pangan I yang telah membantu dalam penulisan paper ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini belum sempurna, oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu serta

menyempurnakan paper ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………..i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………....ii

PENDAHULUAH
Latar Belakang………………..…………………………………………..1
Tujuan Penulisan………………………………………………………….3
Kegunaan Penulisan………………………………………………………3

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman…………………………………………………………..4
Syarat Tumbuh…………………………………………………………....6
Iklim………………………………………………………………………6
Tanah……………………………………………………………………...7

PEMANFAATAN PUPUK NPKMg UNTUK MENINGKATKAN


PRODUKSI JEWAWUT (Setaria italica (L.) P Beauv) SEBAGAI
TANAMAN PANGAN SEREALIA ALTERNATIF
Pengenalan Jewawut (Setaria italica (L.) P Beauv)..…....………….…...9
Pupuk NPKMg…………………. …………… ….…………...……...….11
Kandungan Pupuk NPKMg…………………………………….………...13
Fungsi Hara NPKMg Pada Tanaman Pangan…..……………………….15
Pemanfaatan Pupuk NPKMg Untuk Meningkatkan Produksi Jewawut
(Setaria italica (L.) P Beauv) Sebagai Tanaman Pangan
Serealia Alternatif ………………………………………….………...….16

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya jumlah penduduk di dunia sedangkan ketersediaan pangan semakin

menipis. Hal ini sesuai dengan teori Thomas Robert mengenai kependudukan

dimana dikatakan bahwa penduduk cenderung meningkat secara deret ukur

sedangkan penyediaan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara deret hitung.

Artinya pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan

kebutuhan hidup riil. Hal ini kemudian menciptakan suatu kegoncangan dan

kepincangan antara jumlah penduduk dan kemampuan untuk menyediakan

kebutuhan hidup seperti bahan pangan (Hildayanti, 2012).

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut

yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan di alam untuk dijadikan bahan

makanan, sebagai contoh pemanfaatan millet. Selama ini di Indonesia biji millet

hanya digunakan sebagai bahan pakan burung. Di Afrika, Rusia dan negara maju

lainnya millet telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk manusia.

Sosialisasi tentang pemanfaatan millet sebagai bahan pangan saja tidak cukup di

Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat membutuhkan contoh konkret

pemanfaatan millet sebagai sumber makanan baru sehingga dengan demikian

masyarakat dapat memanfaatkan millet tersebut sebagai bahan pangan alternatif

(Prabowo, 2010).

Salah satu jenis tanaman pangan yang sekarang ini sedang banyak diteliti

adalah jewawut. Jewawut memiliki daya adaptasi yang luas, terutama dapat

tumbuh di lahan marginal, tahan terhadap hama dan penyakit. Jewawut


2

mengandung komponen fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan dan memiliki

potensi meningkatkan proliferasi sel limfosit manusia. Serat kasar yang

terkandung di dalam jewawut sebesar 5.65% (Mayasari, 2011).

Salah satu serealia yang terdapat di Indonesia adalah jewawut. Jewawut

juga dikenal dengan nama pearl millet. Di Indonesia, khususnya di Nusa

Tenggara,jewawut dikenal dengan nama jawe atau betem. Potensi hasil tanaman

jewawut yaitu 3.5 ton per hektar. Dibandingkan dengan serealia lain, jewawut

dapat tumbuh di bawah kondisi ekologi yang kurang baik dan miskin nutrisi.

Selain potensi pertumbuhannya yang baik, jewawut juga memiliki kandungan

nutrisi yang baik. Jewawut merupakan komoditi yang sangat potensial sebagai

sumber karbohidrat, antioksidan, senyawa bioaktif, dan serat yang penting bagi

kesehatan (Pahan, 2006).

Produksi jewawut di wilayah Indonesia terkhususnya wilayah timur dapat

mencapai 707 kg sampai 907 kg/ha tergantung dari teknik penanaman dari

Jewawut itu sendiri. Penyebab rendahnya produksi tanaman pangan ini

disebabkan oleh masih rendahnya teknologi budidaya pada daerah penghasil

jewawut di wilayah Indonesia dan minimnya peralatan pendukung yang

digunakan petani dalam proses panen dan pasca panen (Potter, et al., 2005).

Bahan organik dapat digunakan untuk meningkatkan metabolisme

tanaman, dimana penyerapan unsur hara yang berasal dari pupuk akan lebih

efektif karena meningkatnya daya dukung tanah akibat penambahan bahan

organik dalam tanah. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman akan lebih baik

sehingga dapat meningkatkan berat basah dan berat kering tanaman. NPKMg

(15:15:6:4) karena tingginya kandungan unsur hara nitrogen dan fosfor dalam
3

pupuk tersebut. Ketersediaan kedua unsur tersebut berperan sangat penting dalam

proses pembelahan sel sehingga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan

diameter batang (Swandi, et al.,2003).

Tujuaan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui manfaat

pemberian pupuk NPKMg untuk meningkatkan produktivitas jewawut

(Setaria italica (L.) P Beauv) sebagai tanaman pangan serealia alternatif.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Budidaya Tanaman

Pangan I, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai sumber informasi bagi pihak

yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Klasifikasi jewawut menurut Steenis (2003) adalah sebagai berikut

Kingdom : Plantae ; Divisi : Spermatophyta ; Kelas : Monocotyledoneae ;

Ordo : Poales ; Famili : Poaceae ; Genus : Setaria ;

Spesies : Setaria italica (L.) P. Beauv.

Jewawut mempunyai sistem akar khas Graminae. Biji menghasilkan satu

akar seminal atau radikula yang berkembang menjadi akar primer. Akar sekunder

atau akar buku muncul pada buku pertama ketika tanaman jewawut telah

mengjasilkan dua atau tiga helai daun. Akar-akar buku menebal dan dianggap

menyediakan sebagian besar saluran untuk pengambilan air, ion, dan sebagai

pendukung pertumbuhan tanaman (Shadiq, 2010).

Batang tanaman jewawut tegak, beruas-beruas, lampai, dan menyisip dari

tunas terbawah. Daun jewawut termasuk daun yang tidak lengkap karena hanya

terdiri dari helaian daun saja. Helaian daun ini berbentuk pita/melancip dengan

tulang daun sejajar. Permukaan daun kasar karena memiliki bulu halus dan rapat.

Daun berseling dan sejajar, tersusun dalam dua baris berhadapan atau searah

(Hildayanti, 2012).

Daun jewawut termasuk daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri

dari helaian daun saja. Helaian daun ini berbentuk pita/melancip dengan tulang

daun sejajar. Permukaan daun kasar karena memiliki bulu halus dan rapat. Daun

berseling dan sejajar, tersusun dalam dua baris berhadapan atau

searah (Laimeheriwa, 2010).


5

Bulir tanaman Jewawut berbentuk menjorong, mempunyai ukuran bulir

yang relatif kecil yaitu sekitar 3 mm. Warna bulir pada tanaman Jewawut ini

beraneka ragam seperti : coklat, ungu sampai warna merah. Bulir tanaman

Jewawut juga memiliki ukuran yang berbeda – beda sesuai varietas yang ditanam

sehingga tidak dapat ditentukan secara pasti ukuran relatif

bulir (Hildayanti, 2012).

Tanaman jewawut adalah tanaman semusim seperti rumput, yang

ketinggiannya dapat mencapai 2 m, mempunyai malai yang rapat dan berambut

sehingga orang menamakannya dengan tanaman ekor rubah. Bulirnya yang kecil,

diameternya hanya sekitar 3 mm, bahkan masih ada yang lebih kecil. Warna

bulirnya beraneka ragam, mulai dari hitam, ungu, merah sampai jingga hingga

kecoklatan (Shadiq, 2010).

Tanaman Jewawut juga mempunyai malai yang rapat dan berambut

sehingga orang menamakannya dengan tanaman ekor rubah. Panjang Malai

tanaman Jewawut dapat mencapai 30 cm dan mempunyai struktur yang berserat

sama seperti batang, namun ketebalan serat pada malai tidak sama dengan serat

yang pada batang (Sudaryono, 2015).

Tanaman ini termasuk hermaprodit dimana buliran berbentuk menjorong,

bunga bawah steril sedangkan bunga atas hermaprodit. Biji bulat telur lebar,

melekat pada sekam kelopak dan sekam mahkota, berwarna kuning pucat hingga

jingga, merah, coklat atau hitam (Hildayanti, 2012).


6

Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun

dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Tanaman ini tidak

membutuhkan jenis tanah khusus sehingga dapat ditanam dimana saja dengan cara

ditabur. Kemudian dari segi ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang

tinggi dan dalam pemeliharaan sederhana karena tidak membutuhkan pestisida

dan jenis kimia lainnya (Trinitasari, 2011).

Tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun

dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Tanaman ini tidak

membutuhkan jenis tanah khusus sehingga dapat ditanam dimana saja dengan cara

ditabur. Kemudian dari segi ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang

tinggi dan dalam pemeliharaan sederhana karena tidak membutuhkan pestisida

dan jenis kimia lainnya (Kusuma, 2008).

Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang

dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnyam 3-4 bulan.

Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim

kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi

kering sampai ketinggian 2000 m dpl (Sudaryono, 2015).

Dan juga Jewawut mampu beradaptasi pada wilayah yang marginal.

Dimana wilayah ini pertumbuhan tanaman serealia yang lainnya tidak mampu

untuk melakukan produksi dengan maksimal. Sehingga tanaman Jewawut hampir

dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal di seluruh wilayah Indonesia.


7

Sehingga dapat mengatasi masalah keterbatasan kondisi lahan dalam berproduksi

serealia (Muhadjir, 2003).

Tanaman Jewawut juga dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal

pada daerah yang memiliki sumber air yang sulit dan sistem irigasi yang terbatas.

Permasalahan sistem irigasi yang terbatas ini sering menjadi persoalan yang

serius dalam menunjang produksi serealia secara maksimal. Dikarenakan

dibeberapa wilayah penghasil serealia sangat terbatasnya sumber air dan sistem

irigasi yang sanagat buruk (Tjasyono, 2004).

Tanaman ini juga tergolong dalam jenis fotosintesis C4, sehingga

menyebabkan tanaman ini menjadi toleran terhadap suhu yang panas dan kondisi

yang kering. Daya toleran tanaman Jewawut terhadap suhu yang panas dan

kering lebih baik daripada tanaman jagung dan sorghum, baik secara nutrisi dan

kondisi fisik (Sugito, 2004).

Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang

dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnyam 3-4 bulan.

Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim

kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi

kering sampai ketinggian 2000 m dpl (Nugroho, et al., 2015).

Tanah

Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai

jenis tanah, seperti tanah berpasir hingga tanah liat yang padat, dan bahkan tetap

tumbuh pada tanah miskin hara atau tanah pinggiran. Sedangkan pH yang cocok

untuk tanaman ini adalah 4–8 (Sudaryono, 2015).


8

Tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan karena di tanam pada

lahan-lahan ladang penduduk dengan cara tanah yang digembur ditaburi dengan

biji Jewawut. Kemudian tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam

sepanjang tahun dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Kemudian

tidak membutuhkan jenis tanah khusus. Olehnya itu, bisa ditanam dimana saja

dengan cara ditabur (Olson, 2004).

Dan, tanaman ini juga dapat dibudidayakan pada kondisi tanah yang

sangat sulit untuk ditumbuhi tanaman lain seperti gurun atau pesisir Pantai.

Disebabkan tanaman Jewawut sanagat toleran terhadap kadar air yang terkandung

pada tanah dan mampu beradaptasi dengan sangat cepat pada kondisi tanah yang

mempunyai suhu yang tinggi (Sudaryono, 2015).

Tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan karena di tanam pada

lahan-lahan ladang penduduk dengan cara tanah yang digembur ditaburi dengan

biji Jewawut. Kemudian tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam

sepanjang tahun dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Kemudian

tidak membutuhkan jenis tanah khusus. Olehnya itu, bisa ditanam dimana saja

dengan cara ditabur (Bhuja, 2009).


PEMANFAATAN PUPUK NPKMg UNTUK MENINGKATKAN
PRODUKSI JEWAWUT (Setaria italica (L.) P Beauv) SEBAGAI
TANAMAN PANGAN SEREALIA ALTERNATIF

Pengenalan Jewawut

Di negara-negara maju, jewawut telah banyak dimanfaatkan sebagai

sumber bahan makanan di berbagai negara di dunia ini. Salah satu

pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku untuk pembuatan bahan makanan

lain. Pemanfaatan juwawut dibagi berdasarkan bentuknya, yakni biji utuh (whole

grain) atau biji yang mengalami proses pengolahan (crackedgrain), bubur kental

(stiff porridge), roti tidak beragi (unleavened bread), roti beragi (leavened bread),

berbagai macam makanan ringan (miscellanous snacks), dan berbagai jenis

minuman (beverages) di berbagai negara (Hildayanti, 2012).

Tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun

dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Tanaman ini tidak

membutuhkan jenis tanah khusus sehingga dapat ditanam dimana saja dengan cara

ditabur. Kemudian dari segi ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang

tinggi dan dalam pemeliharaan sederhana karena tidak membutuhkan pestisida

dan jenis kimia lainnya (Trinitasari, 2011).

Masyarakat Indonesia dan khususnya masyarakat Sumba belum

mengenal Jewawut sebagai sumber pangan pengganti nasi, sehingga selama ini

tanaman jewawut hanya dijadikan sebagai pakan burung atau makanan alternatif

karena kelaparan / musim lapar / paceklik. Sehingga dianggap makanan orang

yang terkena musibah kelaparan. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai obat

kanke, sebagai diriuretic, astringent, digunakan untuk mengobati rematik

(Hildayanti, 2012).
10

Jewawut atau millet menempati urutan ke-enam sebagai biji-bijian paling

utama dan dikonsumsi sepertiga penduduk dunia. Salah satu sumber utama

penyedia energi, protein, vitamin dan mineral, kaya vitamin B terutama niacin, B6

dan folacin juga asam amino esensial seperti isoleusin, leusin, fenilalanin dan

treonin serta mengandung senyawa nitrilosida yang sangat berperan menghambat

perkembangan sel kanker (anti kanker), juga menurunkan resiko mengidap

penyakit jantung (artheriosclerosis, serangan jantung, stroke dan hipertensi).

Jewawut tumbuh subur di daerah bersuhu tinggi, terbatas ketersediaan air, tanpa

aplikasi pupuk dan masukan teknologi lainnya, dan di lahan kritis yang sulit

ditanami biji-bijian lain seperti gandum serta padi (Bhuja, 2009).

Produk pangan yang dapat dihasilkan dari Jewawut terutama berupa

tepung Jewawut. Tepung ini merupakan produk yang dihasilkan dari olahan biji

Jewawut. Berdasarkan protein dan mineral yang dikandungnya, potensi tepung

Jewawut sebagai sumber bahan baku pembuatan makanan ringan (kudapan) patut

dicoba (Muhadjir, 2003).

Kandungan yang terdapat pada Jewawut juga memiliki nutrisi yang sama

dengan kandungan nutrisi pada beras dan yang dapat menjadi sumber energi bagi

tubuh. Selain itu, Jewawut kaya akan karbohidrat. Biji karbohidrat pada jewawut

yaitu 58-62 persen soluble carbohydrate, terutama pati, 9.5-23 persen albuminoid,

dan 5 persen lemak (Sirappa, 2003).

Pada biji banyak mengandung coixol, coixenolide, coicin dan asam

amino leusin, tirosin, lisine, asam glutamat, arginin dan histidin. Data ini

menunjukkan Jewawut lebih banyak mengandung protein dan zat gizi lainnya,
11

sehingga diharapkan dapat dijadikan alternatif pemenuhan kalori dan protein. Dan

kandungan beberapa enzim yang terkandung pada Jewawut (Yanuwar, 2002).

Manfaat lain dari tanaman Jewawut adalah kegunaannya sebagai

makanan pengganti pada berbagai penyakit. Beberapa penyakit yang dapat

dibantu kesembuhannya antara lain sakit usus buntu, radang usus (enteritis)

kronis, Infeksi dan batu saluran kencing, kencing sedikit (Muhadjir, 2003).

Sekalipun sedikit sekali literatur atau hasil penelitian yang mendukung

dan menguji efektivitas Hanjeli untuk peyembuhan berbagai penyakit seperti

tersebut di atas, namun dari pengalaman dan kearifan lokal masyarakat di

berbagai daerah yang secara tradisonal sudah membuktikan keampuhan tanaman

ini sebagai tanaman herbal penyembuh penyakit. Kiranya sangat perlu dilakukan

kajian klinis dan ilmiah modern untuk menemukan zat aktif dalam tanaman ini

sebagai sumber obat herbal yang potensial (Sirappa, 2003).

Tanaman jewawut juga dapat diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi

tepung beras. Hal ini dikarenakan jewawut mengandung sumber vitamin B dan

beta karoten. Biji jewawut dapat pula dijadikan bahan minuman penyegar seperti

milo dengan cukup ditambah dengan coklat dan susu. Tanaman yang banyak

ditanam di daerah Jawa, NTT, dan NTB ini ditanami oleh para petani tradisional

yang biasanya mengenal jewawut sebagai tanaman serealia dengan ekonomi

minor (Nugroho, et al., 2015).

Pupuk NPKMg

Unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) merupakan unsur hara

makro yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen merupakan


12

faktor pembatas utama karena sering defisien di lahan sebab sifatnya mudah larut,

mudah tercuci dan mudah menguap (Swandi, et al.,2003).

Pupuk NPK berdasarkan kandungan unsur hara dan harga jualnya

perhitungan harga setiap unsur hara di dalam pupuk N,P,K 16:16:16 sebagai

berikut :Dalam 1 kg pupuk NPK 16:16:16 terkandung 160 gram N, 160 gram

P2O5 dan 160 gram K-2O, . Pupuk N,P,K ini memiliki unsure yang hanya

mengandalkan cadangan yang ada di dalam tanah. Akibatnya, akhir-akhir ini

gejala kekurangan unsur-unsur lain mulai dirasakan (Jannah, et al., 2012).

Unsur ini juga sebagai bahan penyusun protein tanaman, klorofil dan

asam nukleat sehingga dapat memacu produksi tanaman penghasil hijauan pakan

serta dapat meningkatkan perkembangbiakan mikroorganisme tanah yang

berperan penting menentukan kesuburan tanah (Arismoenandar, 2003).

Kelebihan unsur nitrogen pada rerumputan tropis akan meningkatkan

kandungan oxalate mudah larut. Selanjutnya, unsur fosfor dan kalium juga

dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman terutama pada pastura yang terintegrasi

dengan tanaman kelapa, mengingat kelapa sebagai komoditi utama banyak

membutuhkan kedua jenis unsur hara ini. Namun demikian kelebihan pupuk K

dapat meningkatkan kandungan oxalate larut pada rumput P. purpureum yang

dapat bersifat racun bagi ternak (Swandi, et al.,2003).

Nitrogen tidak tersedia dalam bentuk mineral alami seperti unsur hara

lainnya. Sumber nitrogen yang terbesar berupa udara yang sampai ke tanah

melalui air hujan atau udara yang diikat oleh bakteri pengikat nitrogen. Nitrogen

dapat kembali ke tanah melalui pelapukan sisa mahluk hidup (bahan organik).

Nitrogen yang berasal dari bahan organik ini dapat dimanfaatkan oleh tanaman
13

setelah melalui tiga tahap reaksi yang melibatkan aktivitas mikroorganisme tanah.

Tahap reaksi tersebut adalah penguraian protein yang terdapat pada bahan organic

menjadi asam amino. Perubahan asam amino menjadi senyawa-senyawa ammonia

dan ammonium. Dan perubahan senyawa ammonia menjadi nitrat yang

disebabkan oleh bakteri (Arismoenandar, 2003).

Kandungan Pupuk NPKMg

Bahan organik dapat digunakan untuk meningkatkan metabolisme

tanaman, dimana penyerapan unsur hara yang berasal dari pupuk akan lebih

efektif karena meningkatnya daya dukung tanah akibat penambahan bahan

organik dalam tanah. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman akan lebih baik

sehingga dapat meningkatkan berat basah dan berat kering tanaman. NPKMg

(15:15:6:4) terhadap diameter batang dapat dipahami karena tingginya kandungan

unsur hara nitrogen dan fosfor dalam pupuk tersebut. Ketersediaan kedua unsur

tersebut berperan sangat penting dalam proses pembelahan sel sehingga dapat

membantu meningkatkan pertumbuhan diameter batang bibit kelapa sawit

(Swandi, et al.,2003).

Pupuk kimia dengan bahan organik dapat digunakan untuk meningkatkan

metabolism tanaman, dimana penyerapan unsur hara yang berasal dari pupuk akan

lebih efektif karena meningkatnya daya dukung tanah akibat penambahan bahan

organik dalam tanah (Rahardjo, 2009).

Pupuk urea adalah pupuk yang mengandung nitrogen (N) berkadar tinggi .

Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Unsur

nitrogen di dalam pupuk urea sangat bermanfaat bagi tanaman untuk pertumbuhan

dan perkembangan. Manfaat lainnya antara lain pupuk urea membuat daun
14

tanaman lebih hijau, rimbun, dan segar. Nitrogen juga membantu tanaman

sehingga mempunyai banyak zat hijau daun (klorofil). Dengan adanya zat hijau

daun yang berlimpah, tanaman akan lebih mudah melakukan fotosintesis, pupuk

urea juga mempercepat pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah anakan, cabang dan

lain-lain). Serta, pupuk urea juga mampu menambah kandungan protein di dalam

tanaman (Jannah, et al., 2012).

Pupuk fosfat alam sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar, yaitu digunakan

pada saat tanam atau sebelum tanam. Hal ini disebabkan karena pupuk ini

merupakan pupuk yang tidak cepat tersedia dan dibutuhkan pada stadia awal

pertumbuhan. Pemberiannya sangat baik bila ditempatkan pada daerah perakaran.

Pemberian pupuk seawal mungkin dalam pertumbuhan akan mendorong

pertumbuhan akar yang akan memberikan tanaman berdaya serap hara lebih baik

(Nazari, 2008).

Fungsi utama kalium adalah sebagai katalisator (pendorong dan

mempercepat reaksi–reaksi biokimia). Fungsi lainnya untuk mengatur kegiatan

fotosintesis, transpirasi, serta reaksi biokimia dalam daun dan titik tumbuh.

Kekurangan kalium dapat mengurangi produksi buah. Unsur kalium (K) diserap

oleh tanaman dalam bentuk kation K+ (Jannah, et al., 2012).

Magnesium merupakan bagian dari molekul klorofil dan berasosiasi

dengan fosfor (P) dalam proses pembentukan senyawa–senyawa fosfolipid yang

merupakan bagian dari minyak yang diproduksi. Kekurangan magnesium ditandai

dengan gejala klorosis (warna kekuningan). Magnesium dari jaringan tua

ditransfer ke jaringan yang lebih muda, sehingga gejala klorosis terlihat pada

daun–daun tua (daun bawah). Magnesium diserap oleh tanaman dalam bentuk
15

kation Mg2+. Hara Mg merupakan hara makro sekunder yang berperan penting

sebagai bahan pembentuk molekul klorofil dan komponen enzim esensial, serta

berperan dalam proses metabolisme P dan respirasi tanaman (Nazari, 2008).

Fungsi Hara NPKMg Pada Tanaman Pangan

Pemberian pupuk sangat jelas memberikan pengaruh terhadap

pertumbuhan, namun jika pemberian berlebihan akan berpengaruh menekan

pertumbuhan. Kalium merupakan nutrisi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah

banyak kemudian didistribusikan ke berbagai selseluruh organ dan memegang

beberapa peranan penting dalam fungsi sel termasuk pengaturan: (1) turgor, (2)

keseimbangan muatan, dan (3) potensial membran dan aktivitas membran sitosol

(Thomas, et al., 2006).

Berdasarkan kandungan hara tersebut, terlihat bahwa sumber hara N, P, K

dan Mg yang cukup tinggi. Aplikasi tersebut merupakan usaha meningkatkan dari

sebagian hara yang terangkut melalui panen, sehingga akan mengurangi biaya

pemupukan yang tergolong tinggi (Foth, 2004).

Pangan diartikan sebagai salah satu yang bersumber dari sumber hayati

dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah. Pangan diperuntukkan bagi

konsumsi manusia sebagai makanan atau minuman, termasuk bahan tambahan

pangan, bahan baku pangan, pengolahan, atau pembuatan makanan dan minuman

(Briawan, et al., 2004).

Tanaman pangan adalah kelompok tanaman sumber karbohidrat dan

protein. Namun, secara sempit, tanaman pangan biasanya dibatasi pada kelompok

tanaman yang berumur semusim. Batasan ini dimasa mendatang harus diperbaiki

karena akan menyebabkan sumber karbohidrat menjadi terbatas. Tanaman pangan


16

sebaiknya memasukkan jenis tanaman lain yang dapat menjadi sumber

karbohidrat tanpa dibatasi pada kelompok tanaman semusim. Dengan perbaikan

batasan ini, tanaman umbian selain ubi kayu, ubi jalar, dan talas dapat masuk ke

dalam kelompok tanaman pangan (Swandi, et al., 2003).

Tanaman pangan alternatif adalah tanaman sumber karbohidrat dan protein

yang berfungsi sebagai pengganti makanan pokok yang mungkin di beberapa

daerah sudah dikenal, namun pemanfaatannya masih rendah atau bahkan

terabaikan. Pangan ini sangat potensial sebagai pendukung keragaman pangan

pokok masyarakat. Komoditas pangan sumber karbohidrat yang saat ini sudah

cukup dikenal adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan sagu. Jenis komoditas umbi-

umbian yang belum banyak dikembangkan misalnya garut, uwi, suweg, ganyong,

gembili, iles-iles, dan sebagainya. Sedangkan serealia yang belum dikembangkan

adalah sorgum, juwawut, jali dan sebagainya. Berbagai jenis tanaman ini secara

tradisional sudah dikenal masyarakat dan tumbuh disekitar, tetapi belum

dikembangkan baik dari aspek teknologi budidaya maupun pengolahannya

(Briawan, et al., 2004).

Pemanfaatan Pupuk NPKMg Untuk Meningkatkan Produksi Jewawut


(Setaria italica (L.) P Beauv) Sebagai Tanaman Pangan Serealia Alternatif

Kekurangan unsur hara tanaman akan mengakibatkan pertumbuhan

tanaman dan produktivitas tanaman akan terganggu. Dan dalam jangka waktu

yang panjang akan menurunkan hasil produktivitas tanaman itu sendiri. Sehingga

sangat diperlukannya penambahan unsur – unsur hara yang sesuai dengan tujuan

dari memaksimalkan hasil produksi suatu tanaman (Kusuma, 2008).

NPK yang mengandung nitrogen, fosfor dan kalium yang seimbang akan

berperan dalam menstranslokasikan gula menjadi pati dan protein pada bulir
17

Jewawut sehingga mampu meningkatkan kandungan nutrisi berupa Pati dan

Protein pada hasil produksi Jewawut. Serta juga berperan dalam memperbaiki

kualitas fisik bulir pada masa generatif (Sugito, 2004).

Unsur hara nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium yang sangat

dibutuhkan tanaman produksi seperti Jewawut sangat membutuhkan unsur hara

ini untuk tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Akan tetapi, unsur hara ini

ketersediaannya di dalam tanah sangat terbatas yang disebabkan fosfor yang

jumlah ketersediaanya sangat sedikit dan kalium yang mudah terhidrasi sehingga

unsur ini tidak kuat untuk bertahan di tanah dalam jumlah yang cukup

(Yanuwar, 2003).

Pentingnya unsur hara yang terkandung dalam NPKMg dalam

pertumbuhan Jewawut terlibat dalam fungsi biokimia dan secara positif

mempengaruhi hasil produksi Jewawut serta kalium yang menyebabkan efek

sinergis yang juga sejalan meningkatkan pertumbuhan pada tanaman Jewawut

(Olson, 2004).

NPKMg juga berperan dalam memperkuat struktur fisik Jewawut. Dimana

Nitrogen untuk daun dan Kalium yang terkandung dalam NPKMg juga

memperkuat struktur batang. Sehingga batang Jewawut dapat berdiri kuat dan

dapat menahan bulir yang ada. Dan kalium ini juga akan sangat berpotensial

dalam memperbaiki kondisi fisik tanaman Jewawut secara umum

(Syafruddin, 2008).

Tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun

dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Tanaman ini tidak

membutuhkan jenis tanah khusus sehingga dapat ditanam dimana saja dengan cara
18

ditabur. Kemudian dari segi ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang

tinggi dan dalam pemeliharaan sederhana karena tidak membutuhkan pestisida

dan jenis kimia lainnya (Trinitasari, 2011).


KESIMPULAN

1. Tanaman jewawut sangat mudah untuk dibudidayakan karena tanaman ini

tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun dengan

mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya.

2. Unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K) dan magnesium (Mg)

merupakan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan

tanaman.

3. Pupuk kimia dengan bahan organik dapat digunakan untuk meningkatkan

metabolism tanaman, dimana penyerapan unsur hara yang berasal dari pupuk

akan lebih efektif.

4. Berdasarkan kandungan hara tersebut, terlihat bahwa sumber hara N, P, K dan

Mg yang cukup tinggi. Aplikasi tersebut merupakan usaha meningkatkan dari

sebagian hara yang terangkut melalui panen.

5. Potensi dan prospek pengembangan jawawut, sebagai bahan pangan seralia

alternatif di Indonesia sangat memungkinkan. Dengan penanaman jawawut,

kita dapat meningkatkan produktivitas lahan kering di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA
Arismoenandar, B. 2003. Jewawut . Institut Pertanian Bogor. Bogor

Bhuja, 2009. Teknologi Budidaya Millet.Departemen Pertanian Balai Informasi


Pertanian Provinsi Irian Jaya. Jayapura.

Briawan D; ohana C; Dorli dan I ketut N. 2004. Pengembangan Diversifikasi


Pangan Pokok Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan Nasional.
Institut pertanian Bogor. Bogor

Foth, H.D. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.

Hildayanti. 2012. Studi Pembuatan Flakes Jewawut (Setaria italica). Fakultas


Pertanian Universitas Hasanuddin.Makassar.

Laimeheriwa. 2010. Teknologi Budidaya Sorgum. Departemen Pertanian. Balai


Informasi Pertanian Propinsi Irian Jaya.

Jannah, N., A. Fatah, Marhannudin. 2012. Macam dan dosis pupuk NPK majemuk
terhadap pertumbuhan Jewawut. Media Sains 4:48-54.

Kusuma,J. 2008. Tugas Terstruktur Mata Kuliah Pemulihan Tanaman Terapan;


Sorgum. Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Jenderal
Soedirman, Fakultas Pertanian, Purwokerto.

Mayasari, O. 2011. Pembuatan Serbuk Minuman Sereal Jewawut (Pennisetum


glaucum) Instan Dan Uji Penerimaan Konsumennya. Institut pertanian
Bogor. Bogor

Muhadjir,F. 2003. Karakteristik tanaman sorgum. Badan penelitian dan


pengembangan tanaman pangan, bogor.

Nugroho A; Novia P; Ando S dan Aji P. 2015. Budidaya Jewawut : Makanan


Pokok yang Diabaikan. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Olson. 2004. Corn production. In Monograph Agronomy Corn and Corn.


New York.

Pahan, I. 2006. Analisis Kandungan Jewawut. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta

Potter, N. N, and J. Hotchkiss, 2005. Food Science, Fifth Edition. Springer.

Prabowo, B. 2010. Kajian Sifat Fisikokimia Tepung Millet Kuning Dan Tepung
Millet Merah. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
21

Rahardjo, P.N. 2009. Studi Banding Teknologi Pengolahan Limbah Cair Pabrik
. J. Tek. Ling. 10(1):9-18.

Shadiq, R K. 2010. Karakterisasi Sifat Fisikokimia Produk Ekstrusi Berbasis


Jewawut. Institut pertanian Bogor. Bogor

Sirappa, M.P. 2013. Prospek pengembangan sorgum di indonesia sebagai


komoditas alternatif untuk pangan, pakan dan industri. Jurnal Litbang
Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawei Selatan.
Makassar.

Sudaryono. 2015. Prospek sorgum di Indonesia: Potensi, peluang dan tantangan


pengembangan agribisnis. Risalah Simposium Prospek Tanaman Sorgum
untuk Pengembangan Agroindustri, 17−18 Januari 1995. Edisi Khusus
Balai

Sugito, Y. 2004. Ekologi Tanaman. UB Press. Malang.

Swandi dan F. Chan. 2003. Pemupukan pada Tanaman Jewawut Lubis, A. U, A.


Jamin, S. Wahyuni dan IR. Harahap. Pusat Penelitian Marihat Pematang
Siantar. Medan. Hal 191 – 210.

Steenis, C.G.G.Van, 2003. Flora. Pradnya Paramitha, Jakarta.

Syafruddin. 2008. Tanaman Jewawut. Cetakan Pertama, CV. Yrama Widya.


Bandung.

Thomas, R.L dan J.J. Hardon. 2006. Breeding and Selection. Oleagineux.
23:85-90.

Trinitasari, S. 2011. Pengaruh Ekstrak Tepung Jewawut Terhadap Proliferasi Sel


Limfosit Manusia Secara In Vitro. Institut pertanian Bogor. Bogor

Tjasyono, B. 2004. Klimatologi Edisi ke-2. ITB. Bandung.

Yanuwar, W. 2003. Aktivitas Antioksidan dan Imunomodulator Serealia Non-


Beras. Institut Pertanian Bogor.