Anda di halaman 1dari 8

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN PEMBERIAN

TERAPI NEBULIZER DI RUANG MERPATI


RS. BHAYANGKARA

Nama Pasien : Ny. R


Umur : 69 tahun
Alamat : Jl. Sowerigadeng
Diagnosa Medik : Bronkopneumonia
No. RM : 289876

1. Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan pola napas
Data Fokus :
DS : Pasien mengeluh sesak ketika batuk dan batuk berdahak tapi sulit
dikeluarkan
DO :
 Pasien tampak sulit bernapas (Dispneu)
 Pasien tampak lemah
 Pasien tampak kelelahan
 Pasien tampak batuk dengan lendir
 Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
RR: 28 x/menit
S : 36,4’C
N : 76 x/menit
2. Dasar Pemikiran
a. Bronkopneumonia
1) Definisi
Bronkopneumonia adalah peradangan dinding bronkiolus
(saluran napas kecil pada paru – paru). Peradangan ini umumnya
disebabkan infeksi dan terjadi pada kedua paru – paru secara
tersebar. Peradangan dapat bersifat ringan atau berat tergantung
penyebabnya, Bronkopneumonia diawali oleh infeksi saluran napas
bagian atas yang menyebar ke saluran napas bagian bawah. Pada
bronkopneumonia, peradangan terjadi pada bronkiolus dan sedikit
jaringan paru di sekitarnya. Sedangkan pada pneumonia,
peradangan terjadi pada jaringan paru.
2) Gejala
Gejala bronkopneumonia dapat terjadi secara mendadak atau
perlahan. Bronkopneumonia sering diawali gejala pilek atau batuk
berdahak. Gejala kemudian berkembang sehingga terjadi sesak
napas, nyeri dada, pernapasan cepat, demam, menggigil, nyeri otot,
dan nyeri kepala. Pada anak, gejala yang paling umum adalah
napas cepat, sesak, dan demam. Pada bronkopneumonia akibat
virus, gejala lebih ringan. Bronkopneumonia yang berat dapat
mengganggu pertukaran udara di paru – paru sehingga darah yang
dialirkan ke seluruh tubuh menjadi miskin oksigen. Hal ini dapat
menyebabkan gangguan berbagai organ dan penurunan kesadaran
sampai kematian.
3) Penyebab
Bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri
yang diawali oleh infeksi saluran pernapasan atas (hidung dan
tenggorok). Infeksi dapat didapat dari udara yang tercemar. Infeksi
virus lebih sering terjadi dan umumnya disebabkan oleh
Cytomegalovirus atau Influenza virus. Bakteri penyebab
bronkopneumonia antara lain Staphylococcus aureus, Haemopilus
influenza, dan Klebsiella pneumonia. Faktor risiko menderita
bronkopneumonia antara lain bayi (< 2 tahun), orang tua (> 65
tahun), penderita penyakit paru kronik, HIV/AIDS, diabetes,
penyakit jantung, penerima kemoterapi, merokok, peminum
alkohol berat, serta kurang gizi. Bakteri atau virus yang masuk ke
jalan napas sampai paru – paru menyebabkan reaksi peradangan
yang mengganggu pertukaran oksigen (Fadhila, 2013).
b. Ketidakefektifan pola napas
1) Definisi
Menurut Heater Herdman dan Shigemi Kamitsuru (2015),
menyebutkan bahwa ketidakefektifan pola napas adalah inspirasi
dan/atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi adekuat.
2) Batasan karakteristik
 Bradipnea
 Dispnea
 Fase ekspirasi memanjang
 Ortopnea
 Penggunaan otot bantu pernapasan
 Penggunaan posisi tiga-titik
 Peningkatan diameter anterior-posterior
 Penurunan kapasitas vital
 Penurunan tekanan ekspirasi
 Penurunan tekanan inspirasi
 Penurunan ventilasi semenit
 Pernapasan bibir
 Pernapasan cuping hidung
 Perubahan ekskursi dada
 Pola napas abnormal (mis., irama, frekuensi, kedalaman)
 Takipnea
3) Faktor yang berhubungan
 Ansietas
 Cedera medulla spinalis
 Defotmitas dinding dada
 Deformitas tulang
 Disfungsi neuromuskular
 Gangguan muskuloskeletal
 Gangguan neurologis (mis., elektroensefalogram [EEG] positif,
trauma kepala, gangguan kejang)
 Hiperventilasi
 Imaturitas neurologis
 Keletihan
 Keletihan otot pernapasan
 Nyeri
 Obesitas
 Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
 Sindrom hipoventilasi
3. Tindakan Keperawatan
Melakukan terapi nebulizer

4. Prinsip Tindakan
a. Definisi
Terapi nebulizer merupakan proses memencarkan obat cair
menjadi partikel-partikel mikroskopik (aerosol) dan memasukkannya
ke dalam paru-paru ketika pasien melakukan inspirasi. Nebuliser
merupakan tindakan keperawatan dengan prinsip bersih karena
bukanlah tidakan invasif.
b. Tujuan
1) Memberikan obat langsung ke saluran pernapasan untuk
mengeluarkan sputum
2) Mengurangi kesulitan mengeluarkan sekret pernapasan yang kental
dan lengket
3) Meningkatkan kapasitas vital
4) Meringankan sesak napas
c. Prosedur
1) Pra interaksi
a) Membaca program terapi keperawatan
b) Mengecek identitas pasien
c) Menyiapkan peralatan
 Kompresor udara
 Selang penghubung
 Nebulizer
 Obat-obat (combivent 1 ampul per 8 jam) dan larutan NaCl
 Air steril
 Bola-bola kapas
 Sungkup muka
 Pot sputum dengan desinfektan
 Tissue sekali pakai
 Nirbeken
2) Orientasi
a) Memperkenalkan diri dengan salam terapeutik dan validasi data
: nama pasien, keluhan, data lain terkait.
b) Menjelaskan tujuan dan langkah-langkah tindakan
c) Meminta persetujuan tindakan kepada pasien
d) Membuat kontrak dan kesepakatan untuk pelaksanaan tindakan
3) Fase Kerja
a) Mencuci tangan
b) Ucapkan salam terapeutik
c) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada pasien
d) Tutup tirai dan pintu kamar pasien
e) Dekatkan peralatan ke sisi tempat tidur pasien
f) Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
g) Tambahkan obat dan NaCl atau air steril sesuai dosis yang
diresepkan ke dalam nebulizer. Sambungkan selang ke
kompresor. Akan terlihat uap halus keluar dari alat.
h) Pasang sungkup pada wajah pasien untuk menutupi mulut dan
hidungnya serta instruksikan pasien untuk menarik napas
dalam dan perlahan lewat mulut, tahan napas kemudian
hembuskan napas beberapa kali.
i) Amati pengembangan dada untuk memastikan pasien menarik
napas dalam
j) Instruksikan pasien untuk bernapas perlahan dan dalam sampai
semua obatnya habis dinebulisasi
k) Setelah selesai, anjurkan pasien untuk batuk setelah beberapa
tarikan napas dalam
l) Rapikan pasien, rapikan alat
m) Evaluasi keadaan pasien dan berpamitan
n) Cuci Tangan
o) Lakukan dokumentasi keperawatan

5. Analisa Tindakan
Tujuan dilakukan nebulizer adalah mengencerkan sekret, mengobati
peradangan saluran napas atas, melegakan saluran napas. Terapi nebulizer
dapat diberikan langsung pada tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh
karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg rendah dapat menurunkan
absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat melalui
nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute
lainnya seperti subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer
telah lembab, yang dapat membantu mengeluarkan sekresi bronkus.

6. Bahaya
a. Pengendapan aerosol di dalam saluran pernapasan
b. Mual
c. Muntah
d. Tremor
e. Bronkospasme
f. Takikardi
7. Hasil yang didapatkan dan Maknanya
S : Pasien mengatakan sudah lega, sesak napas berkurang, rasa ingin
batuk berkurang.
O : Pasien tampak rileks
RR : 24 x/menit
A : Ketidakefektifan bersihan jalan napas
P : Pertahankan Intervensi
Anjurkan pasien untuk napas dalam
Batuk efektif
Minum air putih hangat
8. Tindakan Keperawatan Lain
a. Pemeriksaan suara napas
b. Memposisikan semifowler/fowler
c. Melakukan fisioterapi dada
d. Pemberian bronkodilator
9. Evaluasi Diri
a. Kelebihan :
Dapat melakukan pemberian nebulizer secara mandiri tanpa bantuan
perawat
b. Kekurangan :
1) Melaksanakan tindakan keperawatan kurang maksimal karena
terdapat beberapa tindakan yang tidak dilakukan sesuai SOP
dimana seharusnya sebelum melakukan tindakan perawat harus
mencuci tangan terlebih dahulu karena tindakan terapi nebulizer
menggunakan prinsip bersih.
2) Selain itu perawat tidak melakukan pengkajian terhadap suara
napas, denyut nadi, dan status respirasi klien sebelum dan sesudah
melakukan tindakan.
10. Daftar Pustaka
Herdman, H., & Kamitsuru, S. 2015. NANDA Internasional, Diagnosis
Keperawatan : Defenisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC
Jacob, A., Rekha, R., & Tarachnand, J, S. 2014. Buku Ajar Clinical
Nursing Procedures, Edisi Kedua, Jilid Satu. Jakarta : Binarupa
Aksara

Pembimbing Mahasiswa

(………………………….…..) (…………….…..………….)