Anda di halaman 1dari 23

SISTEM PENCERNAAN DAN EKSKRESI PADA HEWAN

Mata Kuliah : Konsep Dasar IPA SD (Biologi)


Dosen Pengampu : Dr. Pratiwi Pudjiastuti, M.Pd

Disusun oleh :
Kelompok 3
1. Siti Zulaekhoh (17108241065)
2. Peni Mulyati (17108241116)
3. Ninda Putri Wahyujati (17108241135)
4. Panji Ageng Leksono (17108244030)

PGSD 1-E
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Untuk dapat melangsungkan hidupnya, makhluk hidup memerlukan


makanan. Makanan diperlukan makhluk hidup sebagai sumber energi, selain
itu dari makanan inilah segala proses metabolisme dalam tubuh dapat
berlangsung.
Setiap makhluk hidup khususnya manusia dan hewan memiliki struktur
alat pencernaan yang berbeda-beda tergantung pada tingkat organisasi sel
penyusun dan jenis makanannya. Hewan dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu hewan Vertebrata (bertulang belakang) dan hewan Invertebrata (tidak
bertulang belakang). Yang termasuk ke dalam hewan vertebrata antara lain
pisces, amfibi, reptile, aves dan mamalia. Sedangkan yang termasuk kedalam
kelompok hewan invertebrata adalah protozoa, coelenterate dan porifera,
cacing pipih, anelida, dan insekta.
Tidak semua makanan yang dicerna oleh sistem pencernaan digunakan
untuk proses metabolisme dalam tubuh. Ada beberapa zat yang tidak berguna
bagi tubuh dan harus dikeluarkan agar tidak menjadi racun dalam tubuh. Zat-
zat tersebut dikeluarkan dari sistem pencernaan melalui saluran pembuangan.
Proses pengeluaran zat sisa inilah yang sisebut proses ekskresi.

2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan sistem pencernaan dan ekskresi ?

2. Bagaimana sistem pencernaan pada hewan Vertebrata?

3. Bagaimana sistem pencernaan pada hewan Invertebrata?

4. Bagaimana pecernaan pada hewan Ruminansia?

5. Bagaimana sistem ekskresi pada hewan Vertebrata?

6. Bagaimana sistem ekskresi pada hewan Invertebrata?

7. Bagaimana sistem ekskresi pada hewan Ruminansia


3. Tujuan

1. Untuk mengetahui sistem pencernaan dan ekskresi pada hewan


Vertebrata

2. Mengetahui sistem pencernaan dan ekskresi pada hewan invertebrata.

3. Mengetahui sistem pencernaan pada hewan ruminansia.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Sistem Pencernaan dan Ekskresi

Sistem Pencernaan adalah sistem organ multisel yang menerima


makanan kemudian mencernanya menjadi energi dan nutrien. Secara
spesifik sistem pencernaan berfungsi untuk mengambil makanan,
memecahnya menjadi molekul nutrisi yang lebih kecil, menyerap molekul
tersebut ke dalam aliran darah, kemudian membersihkan tubuh dari sisa
pencernaan. Sedangkan Ekskresi adalah proses pembuangan zat sisa hasil
metabolisme yang sudah tidak berguna bagi tubuh.

Sistem pencernaan makanan tersusun oleh saluran pencernaan dan


kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, esofagus,
lambung, usus halus, dan usus besar.

2. Sistem Pencernaan dan Ekskresi pada Hewan Vertebrata

1. Pisces

a. Sistem pencernaan
Sistem pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum
oris). Di dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk
kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak
dapat digerakan serta banyak menghasilkan lendir, tetapi tidak
menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut makanan masuk ke
esofagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang. Esofagus
berbentuk kerucut, pendek, dan terdapat di belakang insang. Dari
kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung. Dari lambung,
makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan
sama besarnya. Usus bermuara pada anus.
Kelenjar pencernaan pada ikan meliputi hati dan pankreas. Hati
merupakan kelenjar yang berukuran besar, berwarna merah kecoklatan,
terletak di bagian depan rongga badan.
Fungsi hati menghasilkan empedu yang disimpan dalam kantung
empedu. Kantung empedu berbentuk bulat, berwarna kehijauan dan
terletak di sebelah kanan hati. Kantung empedu berfungsi untuk
menyimpan empedu dan disalurkan ke usus bila diperlukan. Empedu
berfungsi untuk membantu proses pencernaan lemak.
Pankreas merupakan organ yang berukuran mikroskopik sehingga
sukar dikenali, fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim –
enzim pencernaan dan hormon insulin

Gambar 1: organ pencernaan ikan

b. Sistem ekskresi
Sistem eksresi ikan terdiri atas ginjal yang berfungsi untuk
mengekskresikan limbah nitrogen dan mengatur tekanan osmotik cairan
tubuh. Limbah limbah hasil ekskresi ikan terdiri atas 90% ammonia dan
urea yang dibuang melalui anus.
Ikan air tawar dan ikan air laut memiliki mekanisme ekskresi yang
berbeda. Ikan air tawar mengeluarkan air lebih banyak dari ikan air laut.
Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam
darahnya, sehingga ikan air laut cenderung untuk kehilangan air di
dalam sel-sel tubuhnya karena proses osmosis melalui kulit. Untuk itu,
insang ikan air laut aktif mengeluarkan garam dari tubuhnya. Untuk
mengatasi kehilangan air, ikan ‘minum’air laut sebanyak-banyaknya.
Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk mempertahankan
air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar.
Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya
dengan cara osmosis, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam
tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya.
Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan
ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air sebagai air
seni. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak
melarut dan lolos ke dalam air, sehingga produksi urinnya encer. Ikan
mempertahankan keseimbangan tekanan osmotiknya dengan “tidak
banyak minum air”. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap,
sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air.
Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.
Gambar 2: mekanisme ekskresi ikan air tawar dan ikan air laut

2. Amphibi

Salah satu binatang amfibi adalah katak. Makanan katak berupa


hewan-hewan kecil (serangga).
a. Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan pada katak dimulai dari rongga mulut. Di
dalam rongga mulut terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang
mangsa dan lidah untuk menangkap mangsa. Dari mulut makanan
masuk ke esophagus untuk diteruskan menuju ke lambung. Lambung
berbentuk kantung yang bila terisi makanan menjadi lebar. Lambung
katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan
lubang keluar menuju usus. Usus dapat dibedakan atas usus halus dan
usus tebal. Usus halus meliputi duodenum, jejenum, dan ileum, tetapi
belum jelas batas-batasnya. Usus tebal berakhir pada rektum dan
menuju kloata. Kloata merupakan muara bersama antara saluran
pencernaan makanan, saluran reproduksi, dan urine.
Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas.
Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung
empedu yang berwarna kehijauan. Pankreas berwarna Kekuningan,
melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum). pankreas
berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada
duodenum.

Gambar 3: sistem pencernaan katak

b. Sistem Ekskresi
Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal
(opistonefros) yang terletak dikanan dan kiri tulang
belakang. Warnanya merah kecoklatan, bentuknya memanjang dari
depan ke belakang. Zat sisa yang diambil oleh ginjal akan disalurkan
melalui ureter menuju ke kantong kemih yang berupa kantong
berdinding tipis yang terbentuk dari tonjolan dinding kloaka. Fungsinya
untuk menyimpan urine sementara. Pada katak jantan, saluran ginjal
dan saluran kelaminnya menyatu, sedangkan pada katak betina tidak.
Gambar 4: Sistem eksresi katak

3. Reptil

Reptil umumnya karnivora (pemakan daging). Secara berturut-turut


saluran pencernaan pada reptil meliputi:
a. Rongga mulut : bagian rongga mulut disokong oleh rahang atas dan
bawah, masing-masing memiliki deretan gigi yang berbentuk
kerucut, gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah
rongga mulut. Pada rongga mulut juga terdapat lidah yang melekat
pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua.
b. Esofagus (kerongkongan)
c. Ventrikulus (lambung)
d. Intestinum : terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara
pada anus.
Kelenjar pencernaan pada reptil meliputi hati, kantung empedu, dan
pankreas. Hati pada reptilia memiliki dua lobus (gelambir) dan
berwarna kemerahan. Kantung empedu terletak pada tepi sebelah kanan
hati. Pankreas berada di antara lambung dan duodenum, berbentuk
pipih kekuning-kuningan.
Gambar 5: system pencernaan reptile

Sistem Ekskresi
Alat ekskresi pada reptil berupa ginjal (metanefros) yang sudah
berkembang sejak masa fase embrio. Ginjal ini dihubungkan oleh
saluran ke kantung kemih dan langsung bermuara ke kloaka. Selain
ginjal, pada reptile memiliki kelenjar kulit yang menghasilkan asam
urat tertentu yang berguna untuk mengusir musuh.

Gambar 6: Sistem ekskresi reptile

4. Aves

Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan


kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian,
hewan kecil, dan buah-buahan.
Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:
a. Paruh : merupakan modifikasi dari gigi.
b. Rongga mulut : terdiri atas rahang atas yang merupakan
penghubung antara rongga mulut dan tanduk.
c. Faring : berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat
pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai
tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat.
d. Lambung : terdiri atas Proventrikulus (lambung kelenjar), yaitu
lambung yang banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding
ototnya tipis dan ventrikulus (lambung pengunyah/empedal),
yaitu lambung yang ototnya berdinding tebal.
e. Intestinum : terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara
pada kloaka. Usus halus pada burung terdiri dari duodenum,
jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan
pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.

Gambar 7: system pencernaan burung

Sistem Ekskresi
Alat ekskresi pada burung terdiri dari ginjal (metanefros), paru-
paru dan kulit. Burung memiliki sepasang ginjal yang berwarna coklat.
Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran
kelamin pada bagian akhir usus (kloaka). Burung mengekskresikan zat
berupa asam urat dan garam. Kelebihan kelarutan garam akan mengalir
ke rongga hidung dan keluar melalui nares (lubang hidung). Burung
hampir tidak memiliki kelenjar kulit, tetapi memiliki kelenjar minyak
yang terdapat pada tunggingnya. Kelenjar minyak berguna untuk
meminyaki bulu-bulunya.

5. Mamalia

Organ Pencernaan Mamalia


a. Mulut
Di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik dan kimiawi.
Pada bagian dalam mulut terdapat gigi, lidah, dan kelenjar ludah. Jenis
gigi mamalia sama dengan gigi manusia, tetapi mengalami perubahan
bentuk yang sesuai dengan cara hidupnya. Pada hewan karivor, gigi
taring tumbuh dan berkembang dengan baik, sedangkan pada herbivor,
gigi taring tidak berkembang.
Pencernaan mekanik dalam mulut dilakukan oleh gigi dengan
bantuan lidah. Sedangkan pencernaan kimiawi dilakukan oleh enzim
amilase yang di produksi oleh kelenjar saliva dalam mulut. Enzim
amylase bertugas untuk mengubah zat tepung (amilum) menjadi
glukosa.
b. Faring
Faring merupakan bagian yang pendek tempat pertemuan jalur
makanan dan udara. Pada saat makanan berada di dalam faring, langit-
langit lunak berotot naik untuk mencegah makanan masuk ke rongga
hidung.
c. Kerongkongan (esophagus)
Kerongkongan merupakan sebuah tabung lurus, berotot dan
berdinding tebal yang menghubungkan antara mulut dan lambung.
Makanan dapat bergerak di kerongkongan menuju ke lambung karena
adanya gerak peristaltik.
d. Lambung (Ventrikulus)
Di dalam lambung terjadi pencernaan secara mekanik dan kimiawi.
Pencernaan mekanik dalam lambung terjadi karena adanya gerak
peristaltik dinding lambung yang berfungsi untuk menghancurkan
makanan menjadi bubur yang lebih halus.
Lambung juga menghasilkan getah lambung yang berasal dari
dinding lambung. Di dalam getah lambung terkandung beberapa bahan
sebagai berikut:
1. Asam klorida (HCl), berfungsi untuk membunuh kuman yang
masuk ke lambung dan mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin.
2. Pepsinogen, adalah enzim yang belum aktif, sesudah aktif
berubah menjadi pepsin. Pepsin berfungsi untuk memecah protein
menjadi pepton.
3. Renin, yaitu enzim yang berguna dalam penggumpalan protein
susu (kasein).
4. Lipase, yaitu enzim yang memecah lemak menjadi asam lemak
dan gliserol.
e. Usus Halus (Intestinum Tenue)
Usus halus terbagi atas tiga bagian:
1. usus dua belas jari (duodenum)
2. usus kosong (jejunum)
3. usus penyerapan (ileum
Di dalam usus halus terjadi pencernaan secara kimiawi dan
absorbsi. Pencernaan secara kimiawi di dalam usus halus dibantu
dengan enzim yang dikeluarkan oleh pankreas dan hati.
f. Usus Besar (Intestinum Mayor)
Proses yang terjadi di usus besar adalah adanya pencernaan secara
biologis dengan bantuan bakteri Escherichia coli yang bertugas untuk
membusukkan makanan, membentuk vitamin K dan menghambat
pertumbuhan bakteri yang bersifat pathogen. Sisa makanan yang telah
dibusukkan akan dibentuk menajdi feces dan akan masuk dalam
rectum. Proses perjalanan makanan untuk sampai di usus besar
membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Usus besar dapat menyimpan
makanan dalam kurun waktu 24 jam
g. Anus/Lubang Pelepasan
Merupakan lubang pada ujung saluran pencernaan. Di anus, terjadi
proses perjalanan terakhir dari feses.

Sistem ekskresi mamalia


Ada empat alat ekskresi pada mamalia, yaitu ginjal, hati, kulit, dan
paru-paru.
a. Ginjal
Pada mamalia ginjalnya juga berjumlah sepasang. Ginjal berfungsi
untuk menyaring darah sehingga menghasilkan urin. Urin di absorbsi
dan diserap kembali zat yang masih dibutuhkan tubuh. Lalu urin yang
sebenarnya dikeluarkan melalui uretra.
b. Hati
Hati disebut sebagai alat ekskresi karena menghasilkan empedu yang
mengandung zat sisa dari perombakan eritrosit di dalam limpa. Empedu
dikeluarkan dari tubuh bersama urin.
c. Kulit
Sebagai alat ekskresi, kulit berfungsi mengeluarkan keringat. Keringat
yang dikeluarkan melalui pori-pori di permukaan kulit akan menyerap
panas tubuh sehingga suhu tubuh menjadi tetap.
d. Paru-Paru
Paru-paru disebut sebagai alat ekskresi karena mengeluarkan gas
karbondioksida dan juga uap air sebagai hasil pernapasan.
3. Sistem Pencernaan dan Ekskresi pada Hewan Invertebrata

1. Protozoa
Organisme bersel satu tidak mempunyai sistem pencernaan seperti pada
hewan bersel banyak. Proses pencernaan pada hewan bersel satu
berlangsung dalam sel itu sendiri.
Contoh : Amoeba. Jika ada makanan, Amoeba bergerak ke arah makanan.
kemudian, Amoeba mengelilingi makanan tersebut dengan pseupodium
(kaki semu). Makanan tersebut terkurung oleh kaki semu dan terbentuk
vakuola makanan. di dalam vakuola ini makanan dicerna, kemudian
diedarkan keseluruh tubuh. sari-sari makanan diedarkan kedalam sitoplasma
dan sisa makanan dikeluarkan dari membran plasma.
Pada protozoa, pengeluaran sisa metabolisme dilakukan melalui
membrane sel secara difusi. Protozoa mempunyai organel ekskresi berupa
vakuola berdenyut (vakuola kontraktif) yang bekerja secara periodik serta
berperan mengatur kadar air dalam sel. Sewaktu mengeluarkan air, sisa-sisa
metabolisme ikut dikeluarkan.

Gambar 8: Bagian-bagian tubuh amoeba

2. Porifera
Pencernaan makananan pada porifera adalah intraseluler. Intraseluler
merupakan pencernaan makanan yang terjadi di tingkat sel atau didalam sel.
Proses pencernaan tersebut diawali dari masuknya air melalui pori – pori
tubuh porifera (ostium), selanjutnya air akan masuk kedalam tubuh
bersamaan dengan plankton dan bakteri yang menjadi sumber makanannya.
Melalui mikrofili yang terdapat pada sel koanosit lapisan endodermis
porifera, plankton dan bakteri akan tersaring. Sel amoeboid memiliki tugas
untuk mengedarkan hasil ‘tangkapan’ tersebut keseluruh tubuh porifera. Air
– air yang masuk bersamaan dengan makanan akan kembali dibuang
melalui lubang yang berada di pusta tubuhnya yaitu oskulum.
Sistem ekskresi porifera berlangsung secara difusi, dari sel tubuh ke
epidermis lalu dari epidermis ke lingkungan hidupnya yang berair.

Gambar 9: sistem pencernaan porifera

3. Cacing Pipih
Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana
peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus.
Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan
dilanjutkan ke kerongkongan. Di belakang kerongkongan ini terdapat usus
yang memiliki cabang ke seluruh tubuh. Dengan demikian, selain mencerna
makanan, usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan
melalui mulut karena tidak memiliki anus. Cacing pipih tidak memiliki
sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem
gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya
melalui proses difusi.
Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut sebagai
protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung
membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang
dilengkapi dengan silia.
Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti
gerakan api lilin. Air dan beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan
flagela juga berfungsi mengatur arus dan menggerakan air ke sel api pada
sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi
pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh
(nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini.

Gambar 10: system ekskresi cacing pipih

4. Anelida (Cacing Tanah)


Makanan cacing tanah berupa daun-daunan serta sampah organik yang
sudah lapuk. Cacing tanah dapat mencerna senyawa organik tersebut
menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap oleh tubuhnya.
Sistem pencernaan cacing tanah terdiri dari mulut, faring, ampela dan
usus. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus.
Gambar 11: Sistem Pencernaan Makanan pada Cacing tanah

Anelida dan molluska mempunyai organ ekskresi yang disebut


metanefridium. Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap
segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada
tiga segmen pertama dan terakhir.
Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah
dan mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi. Cairan
dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat
sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu
ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan
yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi
ureum di ekskresikan lewat sistem ekskresi.

Gambar 12: system ekskresi cacing tanah


5. Insekta / Serangga
Serangga misalnya belalang mempunyai tembolok berfungsi untuk
menyimpan makanan. Sementara di sebelah bawah tembolok terdapat
kelenjar ludah yang menghasilkan ludah. Ludah tersebut dialirkan melalui
saluran induk ke dalam rongga mulut. Dari tembolok, makanan masuk ke
dalam empedal lalu di dalam empedal makanan dihancurkan, selanjutnya
makanan diteruskan ke dalam lambung. Di bagian depan lambung terdapat
enam pasang usus buntu yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan.
Makanan yang tidak dicerna diserap di dalam lambung. Sisa-sisa makanan
dari usus melalui peletum dikeluarkan melalui anus.

Gambar 13: system pencernaan belalang

Sistem Ekskresi
Pada belalang alat ekskresinya adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat
pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh
Malphigi merupakan pembuluh-pembuluh buntu yang bermuara pada
sistem pencernaan makanan antara saluran pencernaan tengah atau
lambung dengan usus. Pembuluh Malphigi mengasorbsi sisa metabolisme
darah pada rongga tubuh.
Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea
untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem
trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata. Belalang tidak
dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di
dalam tubuhnya.
Amonia yang diproduksi belalang diubah menjadi bahan yang kurang
toksik yang disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak
larut. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan
feses.

Gambar 14: system ekskresi belalang

4. Sistem Pencernaan Pada Hewan Ruminansia (Mamahbiak)


Hewan ruminansia merupakan hewan herbivora murni, artinya
makanannya berupa rerumputan atau tumbuhan. Untuk itu, alat atau sistem
pencernaan hewan jenis ini mempunyai struktur khusus yang berbeda
dengan hewan karnivora dan omnivora.
a. Mulut
Pada hewan ruminansia, terdapat geraham belakang (molar) yang
besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di
dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik yaitu dengan jalan
mastikasi bertujuan untuk memecahpakan agar menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil dengan menggunakan lidah sebagai alat pengecap.
Makanan hasil pengunyahan tersebut dicampurkan dengan air ludah yang
mengandung enzim amilase yang mengubah pati menjadi maltosa agar
mudah ditelan.
Struktur khusus mulut hewan ruminansia:
1. gigi serinya (insisivus) : untuk menjepit makanannya
2. gigi geraham (molare) besar berbentuk datar dan lebar
3. rahangnya bergerak menyamping untuk dan menggilas makanan

b. Lambung
Lambung hewan ruminansia dibagi menjadi 4 ruang, yaitu:
1. Rumen (perut beludru). Makanan yang ditelan masuk ke dalam
rumen disebut deglutasi. Di rumen terjadi pencernaan protein,
polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang
dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu.
2. Retikulum (perut jala), ditempat ini makanan akan diolah menjadi
kaya selulosa dan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang
masih kasar (bolus). Bolus tersebut akan dimuntahkan kembali ke
dalam mulut pada saat regurgitasi, dari mulut makanan akan ditelan
kembali menuju omasum.
3. Omasum (perut bulu), pada bagian perut ini terjadi penyerapan air,
amonia, asam lemak terbang dan elektrolit.
4. Abomasum (perut sejati) yaitu perut yang mengandung banyak
sekali mikroorganisme, dan di tempat ini masih terjadi proses
pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim. Selanjutnya makanan
diteruskan menuju usus

c. Usus
Usus halus hewan ruminansia terdiri dari duodenum, jejunum, dan
ileum. Sedangkan usus besarnya terdiri dari secum, kolon dan rectum.
Pada usus hewan ruminansia, hidup koloni bakteri yang membantuk
membusukan atau menghancurkan sel tumbuhan yang tersusun sel
selulosa. Bakteri dalam usus akan melakukan fermentasi dan
membentuk gas metana. Gas metana ini dimanfaatkan manusia untuk
membuat biogas.
Proses pencernaan makanan pada hewan ruminansia
Makanan dikunyah oleh gigi geraham di dalam mulut, kemudian
diteruskan ke rumen melalui kerongkongan. Dalam rumen, makanan
dihancurkan oleh bakteri anaerob menjadi gumpalan makanan, kemudian
disalurkan ke reticulum untuk dicerna secara kimiawi menjadi gumpalan
yang lebih kecil. Selanjutnya, dikembalikan lagi ke mulut untuk dikunyah
oleh gigi geraham. Makanan kemudian ditelan kembali dan masuk kedalam
omasum untuk digiling. Hasilnya disalurkan ke abomasum untuk dicerna
secara kimiawi oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Pada
akhirnya diperoleh sari-sari makanan yang akan diserap oleh usus halus dan
diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.

Gambar 15: system pencernaan hewan ruminansia


BAB III
KESIMPULAN

Setiap makhluk hidup memerlukan makan untuk mendapatkan energy. Pada


hewan, makanan yang dimakan akan melalui proses pencernaan. Proses penceraan
makanan berfungsi untuk menyederhanakan partikel makanan agar dapat mudah
diserap tubuh.
Makanan yang di konsumsi oleh tubuh tidak semuanya dapat terserap oleh
tubuh. Ada beberapa zat yang tidak berguna dan harus dikeluarkan oleh tubuh.
Proses ini dinamakan dengan ekskresi.
Terdapat perbedaan system pencernaan dan ekskresi antara hewan vertebrata
dan invertebrata.
Hewan ruminansia mengunyah kembali makanan hasil kunyahannya. Hal ini
bertujuan untuk mempermudah ruminansia untuk mencerna selulosa.
DAFTAR PUSTAKA

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sistem_pencernaan

www.academia.edu/9664249/SISTEM_PENCERNAAN_DAN_EKSKRESI_HEWA
N

https://dosenbiologi.com/hewan/sistem-ekskresi-pada-hewan-vertebrata/amp

https://www.plengdut.com/ekskresi-sistem-hewan-mamalia-burung-reptil-amfibi-
ikan-dan-serangga/6244/