Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Kosmetik
Kulit putih dan cerah merupakan dambaan setiap orang, terutama
kaum wanita. Oleh karena itu setiap orang berusaha untuk menjaga dan
memperbaiki kesehatan kulitnya sehingga kebanyakan kaum wanita selalu
berusaha berpenampilan menarik. Hal ini didukung pula dengan semakin
berkembangnya teknologi perawatan kulit dan klinikklinik kecantikan yang
tersebar di Indonesia. Perawatan kulit telah menjadi trend masa kini bagi
wanita modern dan merupakan sebuah kebutuhan bagi seorang wanita
(Thormfeldt & Bourne, 2010).
Kulit merupakan bagian tubuh paling utama yang perlu diperhatikan
karena merupakan organ terbesar yang melapisi bagian tubuh manusia.
Kulit memiliki fungsi untuk melindungi bagian tubuh dari berbagai
gangguan dan rangsangan luar dengan membentuk mekanisme biologis
salah satunya yaitu pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit
dari bahaya sinar ultraviolet matahari. Radiasi sinar ultraviolet yang berasal
dari matahari dapat menimbulkan efek negatif yaitu menyebabkan berbagai
permasalahan pada kulit. Bahaya yang ditimbulkan yaitu kelainan kulit
mulai dari kemerahan, noda-noda hitam, penuaan dini, kekeringan, keriput,
sampai kanker kulit. Untuk mengatasi berbagai masalah kulit tersebut
diperlukan adanya perawatan menggunakan kosmetik (Kusantati, 2008).
Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk
digunakan pada bagian luar tubuh manusia. Kosmetik saat ini sudah
menjadi kebutuhan penting bagi manusia, karena penggunaannya selalu
digunakan secara rutin dan terus-menerus. Tujuan utama penggunaan
kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk kebersihan pribadi,
meningkatkan daya tarik melalui make-up, meningkatkan rasa percaya diri
dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar ultra
violet, polusi dan faktor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan
secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup
(Kusantati, 2008).
Penggunaan kosmetik harus disesuaikan dengan aturan pakainya.
Misalnya harus sesuai jenis kulit, warna kulit, iklim, cuaca, waktu
penggunaan, umur dan jumlah pemakaiannya sehingga tidak menimbulkan
efek yang tidak diinginkan. Sebelum mempergunakan kosmetik, sangatlah
penting untuk mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud dengan kosmetik,
manfaat dan pemakaian yang benar. Maka dari itu perlu penjelasan lebih
terperinci mengenai kosmetik (Djajadisastra, 2005).
Banyak pilihan produk kosmetik salah satunya, yaitu krim pemutih
wajah (Whitening Cream). Krim pemutih merupakan campuran bahan
kimia dan atau bahan lainnya dengan khasiat bisa memutihkan kulit atau
memucatkan noda hitam pada kulit. Krim pemutih sangat bermanfaat bagi
wajah yang memiliki berbagai masalah di wajah, karena mampu
mengembalikan kecerahan kulit dan mengurangi warna hitam pada
wajah (Parengkuan,2013).
II.1.2 Merkuri
Bahan aktif yang biasanya digunakan dalam krim pemutih salah
satunya adalah merkuri. Merkuri disebut juga air raksa atau hydrargyrum
yang merupakan elemen kimia dengan simbol Hg dan termasuk dalam
golongan logam berat dengan bentuk cair dan berwarna keperakan. Merkuri
merupakan salah satu bahan aktif yang sering ditambahkan dalam krim
pemutih. Menurut Dr. Retno I.S Tranggono, Sp.KK merkuri
direkomendasikan sebagai bahan pemutih kulit karena berpotensi sebagai
bahan pereduksi (pemucat) warna kulit dengan daya pemutih terhadap kulit
yang sangat kuat. Ion merkuri dianggap dapat menghambat sintesis
melamin pigmen kulit di sel melanosit (Li Wang and Hong Zhang, 2011).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
445/MENKES/PER/V/1998 tentang bahan, zat warna, substrat, zat
pengawet dan tabir surya pada kosmetik. Dalam kadar yang sedikitpun
merkuri dapat bersifat racun. Mulai dari perubahan warna kulit, bintik-
bintik hitam, alergi, iritasi, serta pada pemakaian dosis tinggi dapat
menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal dan gangguan
perkembangan janin. Bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi
dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan paru-paru serta
merupakan zat karsinogenik (BPOM RI, 2007)
II.1.3 Bentuk-bentuk merkuri
Dikenal 3 bentuk merkuri, yaitu (BPOM RI, 2007) :
1. Merkuri elemental (Hg) Terdapat dalam gelas thermometer, tensimeter
air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu baterai dan cat. Juga
digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan
desinfektan serta untuk produksi klorin dan sodium klorida
2. Merkuri anorganik Terdapat dalam bentuk Hg 2+ (Merkuri) dan Hg
+ (Merkurous), misalnya: Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg
anorganik yang sangat toksik, kaustik, dan digunakan sebagai
desinfektan. Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething
powder dan laksansia (calomel) Mercurous fulminate yang bersifat
mudah terbakar.
3. Merkuri Organik Terdapat dalam beberapa bentuk antara lain: Metil merkuri dan etil
merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai
kontaminan logam lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tersebut,
dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital. Merkuri dalam bentuk
alkil dijumpai sebagai antiseptik dan fungisida.
II.1.4 Toksisitas
Efek merkuri pada kesehatan terutama berkaitan dengan sistem syaraf
yang sangat sensitifpada semua bentuk merkuri. Logam merkuri dan uap merkuri logam
lebih berbahaya dari bentuk-bentuk merkuri yang lain, sebab merkuri dalam kedua bentuk
tersebut lebih banyak mencapai otak. Pemaparan kadar tinggi merkuri, baik yang
berbentuk logam, garam, maupun metil merkuri dapat merusak secara
permanen otak, ginjal maupun janin. Pengaruhnya pada fungsi otak dapat
mengakibatkan tremor, pengurangan pendengaran atau pengurangan daya ingat.
Pemaparan dalam waktu singkat pada kadar merkuri yang tinggi dapat mengakibatkan
kerusakan paru-paru, muntah-muntah, peningkatan tekanan darah atau denyut
jantung, kerusakan kulit dan iritasi mata. Badan lingkungan di Amerika (EPA)
menentukan bahwa merkuri klorida dan metil merkuri adalah bahan
karsinogenik.(Balsam, 1972)
1. Merkuri elemental (Hg) .(Balsam, 1972)
a. Inhalasi yaitu paling sering menyebabkan keracunan
b. Tertelan yaitu ternyata tidak menyebabkan efek toksik karena
aborsinya. Yang rendah kecuali ada fistula atau penyakit inflamasi
gastrointestinal atau jika merkuri tersimpan untuk waktu lama di saluran
gastrointestinal.
c. Intravena yaitu dapat menyebabkan emboli paru. Karena sifatnya
yang larut dalam lemak, bentuk merkuri ini mudah melalui sawar otak
atau plasenta. Di otak dia akan berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum
dimana dia akan teroksidasi menjadi bentuk merkuri (Hg 2+). Ion
merkuri ini akan berikatan dengan sulfihidril dari protein enzim dan
protein selular sehingga mengganggu fungsi enzim dan transport sel.
Pemanasan logam merkuri membentuk uap merkuri oksida yang
bersifat korosif pada kuit, selaput mukosa mata, mulut dan saluran
pernapasan.
2. Merkuri Anorganik (Balsam, 1972)
Sering diabsorbsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit.
Pemaparan akut dan kadar tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada
pemaparan kronis dengan dosis rendah dapat menyebabkan proteinuria,
sindroma nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan
imunologis.
3. Merkuri Organik .(Balsam, 1972)
Terutama bentuk rantai pendek (metal merkuri) dapat menimbulkan
degenerasi neuron di korteks cerebri dan cerebellum dan mengakibatkan farestesi
distal, ataksia, dysarthria dan penyempitan lapang pandang. Metal merkuri
mudah pula melalui plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan
kematian dalam kandungan dan cerebral palsy.
II.2 Uraian Bahan
II.2.1 Kalium Iodida
KI (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Kalii iodidum
Nama Lain : Kalium iodida
RM/BM : KI
Berat Molekul : 166,00
Rumus Struktur :

K-I
Pemerian :.Hablur heksahedral, transparan atau tidak
berwarna, opak dan putih, atau serbuk butiran
putih. Higroskopik.
Kelarutan :.Sangat mudah larut dalam air, lanih mudah larut
dalam air mendidih, larut dalam etanol 95 % P,
mudah larut dalam gliserol P.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
II.2.2 NaOH
Natrium hidroksida ( Dirjen POM, 1995 )
Nama Resmi :.Natrii Hydroxidum
Nama lain :.Natrium hidroksida
Rumus Molekul :.NaOH / 40,00
Rumus Struktur :
Na - OH
Pemerian :.Putih atau praktis putih, massa melebur,
berbentuk pelet, serpihan atau batang atau
bentuk lain. Keras, rapuh dan menunjukan
pecahan hablur. Bila dibiarkan di udarah akan
cepatmenyerap karbon dioksida dan lembab.
Kelarutan : Mudah larutdalam air dan etanol.
Kegunaan : Sebagai pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
II.2.3 HCl (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDUM HIDROCHLORIDUM
Nama lain : Asam klorida
Rumus molekul : HCl
Berat molekul : 36,46
Rumus Struktur :

Pemerian :.Cairan tidak berwarna, berasa asam, bau


merangsang, jika diencerkan dengan 2 bagian \
volume air, asap hilang.
Kelarutan : Larut dalam air dan etanol (95%) P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi
II.2.4 Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aethanolum
Nama lain : Etanol, Alcohol, Ethyl alkohol
RM/BM : C2H5OH/46,07 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian :..Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,


dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas,
mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform I
dan dalam eter P
Penyimpanan :.Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya ditempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan : Untuk mensterilkan alat.
II.2.5 Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Air suling, Aquadest
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Rumus Struktur :

Pemerian :.Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa, tidak


berwarna
Kelaruratan :-
Kegunaan : Sebagai pelarut
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
II.2.6 Asam Nitrat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Acidum Nitricum
Nama Lain : Asam Nitrat
RM / BM : HNO3/63,01
Rumus Struktur :

Pemerian :.Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, rasa asam


tajam
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol dan gliserol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi
II.3 Prosedur Kerja
1. Larutan Kalium Iodida
a. Kalium Iodida diambil sebanyak 0,4 gram
b. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL
c. Ditambahkan aquadest sampai tanda 5 mL, serta dikocok hingga
homogen
2. Larutan uji NaOH
a. NaOH diambil sebanyak 0,4 gram
b. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL
c. Ditambahkan aquadest sampai tanda 5 mL, serta dikocok hingga
homogen
3. Larutan aqua regia
a. HCl pekat diambil sebanyak 12 mL
b. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur 20 mL
c. Tambahkan dengan HNO3 pekat sebanyak 4 mL (perbandingan
volume 3:1)
d. Aduk sampai homogen
e. Hati-hati saat pencampuran ada letupan dan panas kuat akan
terjadi
4. Larutan standar Hg
a. Ditimbang sebanyak 0,1 g Hg
b. Tambahkan air sebanyak 5 mL
c. Tambahkan dengan 2 mL larutan aqua regia
d. Uapkan sampai hampir kering
e. Sisa penguapan tambahkan aquadest sebanyak 2-5 mL. Lalu
dipanaskan sebentar, didinginkan dan saring
f. Kemudian larutan dibagi dua dan dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang berbeda
5. Pembuatan larutan uji
a. Ditimbang sebanyak 2 g sampel
b. Tambahkan air sebanyak 25 mL
c. Tambahkan dengan 10 mL larutan aqua regia
d. Uapkan sampai hampir kering
e. Sisa penguapan tambahkan aquades sebanyak 10-15 mL. Lalu
dipanaskan sebentar, didinginkan dan disaring
6. Pengujian sampel dengan reaksi warna
a. Dengan KI
1) Ambil 5 mL larutan uji
2) Ditambahkan 1-2 tetes larutan uji Kalium Iodida secara perlahan
melalui dinding tabung reaksi
3) Jika sampel positif merngandung merkuri maka akan terbentuk
endapan merah atau jingga
4) Lakukan perlakukan yang sama untuk larutan pembanding
b. Dengan NaOH
1) Ambil 5 mL larutan uji
2) Ditambah 1-2 tetes larutan uji NaOH secara perlahan melalui
dinding tabung reaksi
3) Jika sampel positif mengandung merkuri maka akan terbentuk
endapan kuning
4) Lakukan perlakukan yang sama untuk larutan pembanding