Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Seiring waktu kebutuhan bibit semakin meningkat, dikarenakan usaha
dibidang pertanian semakin meningkat. Perbanyakan secara konvensional sangat
sulit memenuhi kebutuhan bibit yang sangat banyak untuk itu perlu melakukan
perbanyakan secara kultur jaringan, karena dengan metode kultur jaringan ini atau
in vitro dapat memenuhi kebutuhan bibit dengan waktu relatif cepat dan tanaman
dapat dieksploitasi secara luas.
Bioteknologi dapat menjadi alternatif penyediaan kebutuhan bibit, dengan
menggunakan teknik tersebut antara lain sangat bergantung pada keberhasilan
sistem regenerasi tanaman melalui teknik kultur jaringan. Metode in vitro tanaman
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan organogenesis dan embriogenesis
somatik.
Bioteknologi kultur jaringan merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan
untuk pelestarian plasma nutfah khususnya pada tanaman obat. Penerapan metode
in vitro dilakukan dengan beberapa cara yaitu penyimpanan dalam keadaan
tumbuh (jangka pendek), penyimpanan pertumbuhan minimal (jangka pendek
menengah) dan penyimpanan dengan pembekuan (jangka panjang). Penyimpanan
yang dilakukan dalam keadaan tumbuh adalah cara pemeliharaan dengan
melakukan pemindahan tanaman (subkultur) yang dilakukan secara rutin pada
media yang sama agar tanaman tetap hidup dan hal ini juga dilakukan ketika
tanaman mengalami kontaminasi bakteri atau jamur pada medianya. Untuk
menghindari terjadinya mutasi dan menjaga viabilitas tanaman maka zat pengatur
tumbuh yang digunakan seminimal mungkin. Ketiga teknik penyimpanan tersebut
diupayakan penyimpanan dengan pertumbuhan sederhana dan pertumbuhan
minimal dengan menggunakan media tumbuh yang sesuai, umunya menggunakan
media dasar MS dengan penambahan Benzil Adenin untuk penyimpanan
sederhana dan penyimpanan minimal menggunakan paclobutrazol, manitol ABA
dan pengurangan unsur makro mikronya.
salah satu langkah penting yang menentukan keberhasilan teknik kultur in
vitro adalah inisiasi pembentukan kalus. Kalus merupakan massa sel yang tidak
terorganisir, pada mulanya sebagai respon terhadap pelukaan (wounding).
Pembelahan selnya menjadi tidak terkendali, sel-selnya mengalami proliferasi
yaitu membelah terus menerus dengan sangat cepat, hal ini dimungkinkan karena
sel-sel tumbuhan yang secara alamiahnya bersifat autotrof dikondisikan menjadi
heterotrof oleh adanya nutrisi yang cukup komplek dan zat pengatur tumbuh
didalam medium kultur. Selain dari luka bekas irisan, kalus juga dapat berasal dari
pembelahan sel-sel kambium yang terus membelah dan berproliferasi. Proliferasi
sel-sel akan terjadi lebih baik jika eksplan yang digunakan berasal dari jaringan
yang masih muda. Sel-sel kalus secara fisiologis dan biokimia sangat berbeda
dengan sel-sel eksplannya yang sudah terdiferensiasi. Sel-sel pada kalus bersifat
meristematik dan merupakan salah satu wujud dari dediferensiasi. Dediferensiasi
merupakan reversi dari sel-sel hidup yang telah terdiferensiasi menjadi tidak
terdiferensiasi, atau dengan kata lain menjadi meristematik kembali.
Dediferensiasi merupakan langkah awal bagi perbanyakan vegetatip dengan
teknik kultur in vitro karena merupakan dasar terjadinya primordia tunas dan akar.
Kalus dapat diperbanyak secara tidak terbatas dengan cara memindahkan
sebagian kecil kalus kedalam medium baru (sub kultur). Kalus dengan sel-selnya
yang bersifat meristematik, dapat didispersikan didalam medium cair sehingga
dapat diperoleh kultur suspensi sel.
Berdasarkan uraian di atas maka haruslah dilakukan praktikum induksi kalus
untuk dapat mengetahui proses perbanyakan tanaman dengan induksi kalus yang
dapat memperbanyakan tanaman dalam waktu singkat.

2. Rumusan masalah
a. Bagaimana proses sterilisasi biji buncis ?
b. Bagaimana proses induksi kalus dan tunas pada biji buncis ?

3. Tujuan
Tujuan dilakukan praktikum adalah untuk mengetahui proses sterilisasi biji buncis
dan proses induksi kalus dan tunas pada biji buncis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kalus embriogenik merupakan kumpulan sel yang belum sepenuhnya


mengalami diferensiasi dan potensial berkembang menjadi embrio somatik. Kalis
dapat diinduksi dari berbagai jenis organ dalam media dengan ZPT dan kondisi fisik
(cahaya, suhu) tertentu. Jenis organ, jenis dan konsentrasi ZPT serta kondisi fisik yang
optimal berbeda-beda antar spesies (Rahayu, 2016).

Salah satu perbanyakan tanaman dengan menggunakan metode kultur jaringan


(in vitro) yang dapat dilakukan secara langsung dari organ tanaman ataupun melalui
fase kalus. Kultur kalus sering digunakan untuk memperoleh tanaman bebas virus,
embriogenesis somatik, regenerasi varian genetika dan menghasilkan senyawa
metabolit sekunder (Zulkarnain, 2009).

Untuk itu dilakukan penelitian pemberian zat pengatur tumbuh 2,4-D dan
kinetin dalam beberapa taraf perlakuan untuk menginduksi kalus pada eksplan daun in
vitro keladi tikus. Induksi kalus sangat berkaitan dengan zat pengatur tumbuh
endogen dan eksogen. Zat pengatur tumbuh yang paling berpengaruh pada induksi
kalus adalah auksin dan sitokinin. Penggunaan auksin (2,4-D) dan sitokinin (BA atau
kinetin) akan meningkatkan proses induksi kalus. Penambahan auksin atau sitokinin
ke dalam media kultur dapat meningkatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh endogen
di dalam sel, sehingga menjadi “faktor pemicu” dalam proses tumbuh dan
perkembangan jaringan (Lestari, 2011). Kom-binasi zat pengatur tumbuh yang
ditambahkan ke dalam medium merupakan faktor utama penentu keberhasilan kultur
in vitro (Indah & Ermavitalini, 2013). 2,4-D efektif untuk merangsang pembentukan
kalus karena aktiv-itas yang kuat untuk memacu proses diferensiasi sel, organogenesis
dan menjaga pertumbuhan kalus. Beberapa golongan sito-kinin yang sering digunakan
dalam metode kultur jaringan untuk menginduksi kalus adalah BA dan kinetin. Hasil
penelitian Syahid & Kristina (2007)

Dalam budidaya in vitro (kultur jaringan), menginduksi kalus merupakan salah


satu langkah penting, setelah itu diusahakan agar terjadi diferensiasi akar dan tunas.
Proses terjadinya kalus sampai diferensiasi berbeda–beda, tergantung pada bagian
tanaman yang dipakai sebagai eksplan, metode budidaya in vitro, juga zat–zat
tanaman yang di bubuhkan pada media dasar. Untuk mendapatkan kalus penggunaan
eksplan dari daun umumnya lebih menguntungkan dari pada eksplan batang. Masalah
yang perlu diantipasi adalah generasi kalus menjadi planlet. Untuk mendapatkan
kalus, zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan adalah 2,4–D dari golongan auksin
dan BAP dari golongan sitokinin (Ibrahim et al, 2004).

Gambar 1. Buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris, L.)

Kacang merah atau biasa dikenal dengan sebutan kacang buncis, merupakan
tanaman semusim yang berbentuk perdu. Buahnya (polongnya) pendek, sekitar 12 cm,
lurus atau bengkok dan warnanya bermacam-macam. Tanaman buncis berakar
tunggang yang tumbuh lurus ke dalam hingga kedalaman sekitar11-15 cm, dan
berakar serabut yang tumbuh menyebar (horizontal) dan tidak dalam. Batang tanaman
buncis berbengkok-bengkok, berbentuk bulat, berbulu atau berambut halus, berbuku-
buku atau beruas-ruas, lunak tetapi cukup kuat. Tanaman buncis memiliki bentuk
daun bulat lonjong, ujung daun runcing, tepi daun rata, berbulu atau berambut sangat
halus, dan memiliki tulang-tulang menyirip. Bunga tanaman buncis berbentuk bulat
panjang (silindris) yang panjangnya 1,3 cm dan lebarnya bagaian tengah 0,4 cm.
Bunga buncis berukuran kecil dengan kelopak bunga berjumlah 2 buah dan pada
bagian bawah atau pangkal bunga berwarna hijau. Polong buncis memiliki bentuk
bervariasi, tergantung pada varietasnya, ada yang berbentuk pipih dan lebar yang
panjangnya lebih dari 20 cm, bulat lurus dan pendek kurang dari 12 cm, serta
berbentuk silindris agak panjang sekitar 12-20 cm. biji buncis yang telah tua agak
keras berukuran agak besar, berbentuk bulat lonjong dengan bagian tengah (mata biji)
agak melengkung (cekung), berat biji buncis bekisar antara 16-40,6g (berat 100 biji)
(Cahyono, 2007).
BAB III

METODE

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilakukan pada hari Rabu, 28 Maret 2018 (kultur biji buncis)
dan tanggal 04 April 2018 (induksi kalus) pukul 13:40 – 16:00 WIB bertempat di
Laboratorium Kultur Jaringan Universitas Negeri Yogyakarta.
B. Alat dan Bahan
1. Alat :
a. Gelas ukur 100 ml
b. Mikro pipet dan tip pipet
c. Botol jam
d. Petridish kecil
e. Botol saus
f. Gelas beker 250 ml
g. Kertas Label
h. Kertas Payung
i. Solatip
2. Bahan :
a. Aquadest
b. Agar
c. Clorox
d. Fungisida+ZPT
e. Media NP 2,4 D dan BAP.

C. Cara Kerja
a. Persiapan kultur biji buncis
Biji buncis dicuci bersih dengan sunlight dan dibilas dengan aquadest steril.
Sterilisasi biji buncis dilakukan di LAF.
b. Sterilisasi biji buncis
1. Membuat larutan clorox 10% dibuat sebanyak 10ml ditambah dengan 100ml
aquadest. Kemudian sterilisasi biji buncis dilakukan di LAF.
2. Bersihkan permukaan meja kerja dengan menyemprotkan alkohol 70% dan
melapnya dengan kertas tissue.
3. Menyiapkan larutan Clorox 10% yang sudah dibuat sebelumnya. Masukkan
biji buncis kedalam larutan clorox yang pertama selama 10 menit dan
digoyang-goyangkan.
4. Kemudian merendam kembali biji buncis kedalam larutan clorox 10% selama
5 menit dan digoyang-goyangkan.
5. Pindahkan biji buncis dari larutan Clorox kedalam botol jam kosong yang
steril.
6. Bilaslah biji buncis dengan akuades steril 3 kali masing-masing selama 10
menit sambil digoyang-goyangkan.
7. Rendam biji buncis di fungisida 1ml/l selama 30 menit.
8. Mencuci biji buncis dengan alkohol 95% selama 1 menit dan digojok.
9. Kemudian bilas dengan aquadest steril sebanyak 1 kali.
c. Penanaman dan inkubasi
1. Dengan pinset steril, masukkan 3 potong biji buncis untuk tiap botol kultur
yang berisi medium MS + 2,4-D 1 mg/l
2. Botol kultur yang telah berisi eksplan segera ditutup, beri label yang
menunjukkan : jenis tanaman, medium yang digunakan dan tanggal
penanaman
3. Bawa segera keruang incubator, inkubasi dilakukan pada suhu 25°C ditempat
terang.
d. Proses penanaman Kalus biji buncis
1. Menyiapkan kultur in vitro biji buncis yang tingginya telah mencapai tinggi
botol jam
2. Memotong dengan gunting yang sebelumnya telah dibakar diatas nyala api
bunsen bagian batang dengan panjang kurang lebih 1 cm.
3. Memindahkan potongan kultur dan ditanamn pada media pengkalusan media
pertunasan yaitu media NP 2,4 D dan BAP.
4. Semua kegiatan dilakukan di dalam laminar air flow agar tercipta kondisi
steril.
5. Pengamatan dilakukan selama 2 minggu dengan melihat respon pembentukan
kalus dan respon pertumbuhan tunas.
BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Data pengamatan
1. Hasil kultur biji buncis

2. Hasil induksi kalus

No Media Hasil Keterangan


1. BAP Terdapat
kontaminan.

2. NP 2,4 D Pengamatan hari


ke-5 (8 April 2018)
Perkembangan
kalus 25%, tunas
belum muncul
Pengamatan hari
ke-7 (11 April 2018)
Perkembangan
kalus 75%, tunas
belum muncul

Pengamatan hari
ke-14 (18 April
2018)
perkembangan
kalus 90%, belum
muncul tunas

3. Tabel hasil pengamatan mikroskopis kalus buncis

Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-7 Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-14

b. Pembahasan

Praktikum ini dilakukan pada hari Rabu, 28 Maret 2018 (kultur biji buncis)
dan tanggal 04 April 2018 (induksi kalus) pukul 13:40 – 16:00 WIB bertempat di
Laboratorium Kultur Jaringan Universitas Negeri Yogyakarta. Praktikum ini
bertujuan untuk membuat kultur biji buncis yang digunakan sebagai perbanyakan
tanaman dengan kultur invitro yaitu induksi kalus. Sebelum induksi kalus, terlebih
dahulu dilakukan pengkulturan biji buncis sampai tumbuh.

Pada praktikum ini langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan biji
buncis sebelumnya biji buncis dicuci bersih dengan aquadest steril kemudian segera
dibawa kedalam Laminar air flow. Setelah dicuci kemudian membuat larutan clorox
dibuat sebanyak 10ml ditambah dengan 100ml aquadest. Kemudian sterilisasi biji
buncis dilakukan di LAF. Natrium hipoklorit ialah suatu senyawa kimia dengan
rumus NaOCl. Larutan natrium hipoklorit, umumnya dikenal sebagai pemutih
atau clorox, adalah seringkali digunakan sebagai penawar infeksi (desinfektan) atau
bahan pemutih. Nama lain natrium hipoklorit ialah natrium klorat(I) (Damayanti,
2005).

Sebelum sterilisasi dimulai yaitu membuat larutan clorox 10% dibuat


sebanyak 10ml ditambah dengan 100ml aquadest. Kemudian sterilisasi biji buncis
dilakukan di LAF. Didalam LAF langkah pertama yang dilakukan yaitu
membersihkan permukaan meja kerja dengan menyemprotkan alkohol 70% dan
melapnya dengan kertas tissue. Alkohol 70% merupakan cairan yang mengandung
70% etil alkohol (CH3CH2OH) dan 30% air. Etil alkohol (etanol) membunuh bakteri
melalui 2 cara, yakni denaturasi protein dan pelarutan membran lemak. Protein
merupakan salah satu penyusun dari sel bakteri. Protein berperan penting di dalam sel.
Jika diibaratkan, protein adalah mesin dari sel. Protein pada sel bakteri ini akan
bekerja dengan baik jika larut dalam air. Keuntungan: bakterisidal cepat,
tuberkulosidal. Kelemahan: tidak membunuh spora, menyebabkan korosi metal
kecuali jika ditambahkan pereduksi (2 % Na nitit, mengeringkan kulit) ( Gunawan
L.W, 1992). Kemudian menyiapkan larutan Clorox 10% yang sudah dibuat
sebelumnya dan memasukkan biji buncis kedalam larutan clorox yang pertama selama
10 menit dan digoyang-goyangkan.

Kemudian merendam kembali biji buncis kedalam larutan clorox 10% selama
5 menit dan digoyang-goyangkan. Selanjutnya memindahkan biji buncis dari larutan
Clorox kedalam botol jam kosong yang steril. Bilaslah biji buncis dengan akuades
steril 3 kali masing-masing selama 10 menit sambil digoyang-goyangkan. Pembilasan
dilakukan agar tidak ada lagi clorox yang masih menempel pada biji buncis. Rendam
biji buncis di fungisida 1ml/l selama 30 menit. Fungisida merupakan pestisida spesifik
untuk mengendalikan serangan jamur. Fungisida yang digunakan untuk
mengendalikan jamur dapat berupa fungisida kontak, sistemik, atau kombinasi
keduanya. Aplikasi fungisida sendiri sudah diketahui akan lebih efektif bila diberikan
saat belum muncul gejala serangan (sebagai pencegahan), sebab apabila gejala
serangan sudah muncul menunjukkan bahwa spora jamur sudah berkembang di
jaringan tanaman, sehingga lebih sulit untuk diatasi (Kohle et al., 2003). Setelah
direndam di fungisida kemudian mencuci biji buncis dengan alkohol 95% selama 1
menit dan digojok. Kemudian bilas dengan aquadest steril sebanyak 1 kali. Setelah
selesai sterilisasi kemudian dilanjutkan penanaman dan inkubasi langkah pertama
yang dilakukan yaitu dengan pinset steril, masukkan 4 potong biji buncis untuk tiap
botol kultur yang berisi medium agar kosong. Kemudian botol kultur yang telah
berisi eksplan segera ditutup, beri label yang menunjukkan : jenis tanaman, medium
yang digunakan dan tanggal penanaman Bawa segera keruang incubator, inkubasi
dilakukan pada suhu 25°C ditempat terang.

Untuk pengamatan dilakukan setiap 2 hari sekali sampai biji buncis tumbuh
dan siap untuk digunakan untuk induksi kalus. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil
sebagai berikut :

Setalah lebih dari seminggu hasilnya seperti diatas dalam pertumbuhannya


tidak sama ukurannya dimana ada yang belum tumbuh sempurna dan ada yang sudah
mencapai optimal pada tutup botol jam. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh
perolehan nutrisi dari masing-masing biji buncis dan adanya suatu kompetisi dalam
perolehan nutrisi sehingga keempat biji buncis memiliki ukuran yang berbeda-beda.
Selain itu juga karena pada perendaman fungisida dan clorox belum terbilas secara
sempurna sehingga malah menghambat pertumbuhan biji buncis.

Kemudian setelah kultu biji buncis dilanjutkan induksi kalus dilaksanakan


pada hari Rabu, tanggal 04 April 2018. Menurut teori sel yang dikemukaan oleh
Schleiden dan Swann, sel mempunyai kemampuan otonom dan totipotensi. Sel hidup
apabila diletakkan pada suatu lingkungan yang sesuai, akan bertumbuh dan
berkembang menjadi tanaman yang sempurna. Kultur jaringan merupakan
pengembangan dari teori sel, yaitu dengan menumbuhkan sel atau kumpulan sel
(jaringan) pada media makanan yang sesuian dengan kebutuhan sel atau jaringan
tanaman yang ditanam pada media tersebut. Jaringan yang ditumbuhkan pada media
makanan yang padat akan membentuk kalus, yaitu massa atau sel-sel yang tidak
beraturan. Kalus yang berbentuk dipotong menjadi bagian yang lebih kecil, yang
kemudian dipindahlan pada media makanan yang masih baru, dengan sususnan hara
yang tepat supaya kalus dapat tumbuh menjadi tunas dan tanaman sempurna (Tim
dosen kultur, 2017).

Keberhasilan teknik kultur jaringan terutama dalam perbanyakan tanaman juga


ditentukan oleh perlakuan subkultur. Subkultur adalah usaha untuk menggantikan
media dalam kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi
untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi. Subkultur merupakan salah satu tahap
dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya subkultur adalah
memotong, membelah dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga
jumlah tanaman akan bertambah banyak. Dalam praktikum kali ini, setelah biji buncis
tumbuh menjadi individu baru dengan tinggi batang hampir sama dengan tinggi botol
jam, dilakukan subkultur buncis dengan cara kultur buncis in vitro yang telah
disiapkan, dipotong dengan gunting dengan panjang kurang ebih 1 cm. Potongan
kultur tersebut dipindahkan atau ditanam pada media pengkalusan dan media
pertunasan yaitu media NP 2,4 D dan BAP. Semua kegiatan dilakukan di dalam
laminar air flow agar tercipta kondisi steril. Pengamatan dilakukan selama 2 minggu
dengan melihat respon pembentukan kalus dan respon pertumbuhan tunas.

Menurut (Elfiani, 2015) waktu pelaksanaan subkultur tergantung pada


beberapa hal, misalnya eksplan yang ada dalam botol sudah tumbuh setinggi botol,
atau eksplan tersebut sudah berada lama di dalam botol sehingga pertumbuhannya
sudah mulai berkurang akibat mulai kekurangan hara. Pada media dalam botol sendiri
kelihatan mulai menipis, berwarna kecoklatan atau hitam sebagai hasil reaksi
pertumbuhan tanaman, bekas bagian tanaman yang mati dan lain-lain. Bisa saja
tanaman baru 4-6 minggu di dalam botol namun pertumbuhannya sudah setinggi botol
maka segera dilakukan subkultur. Bisa juga tanaman belum setinggi botol namun
sudah berada lebih dari empat bulan sehingga perlu disubkultur.
Hasil yang diperoleh pada hari ke-5 setelah penanaman, untuk media BAP
terdapat kontaminasi, sedangkan untuk media NP 2,4 D tidak. Kontaniminasi pada
media BAP disebabkan oleh kesalahan komposisi takaran saat pembuatan media ini
yaitu kelebihan hormon yang diberikan . Kontaminasi merupakan gangguan yang
sangat umum terjadi dalam kegiatan kultur jaringan. Munculnya gangguan ini adalah
merupakan sesuatu yang wajar sebagai konsekuensi penggunaan media yang
diperkaya. Fenomena kontaminasi menunjukkan bahwa semakin diperkayanya suatu
media maka tingkat kontaminasinya juga semakin rendah. Demikian pula sebaliknya,
semakin sederhana komponen media maka akan semakin rendah kemungkinan
terjadinya kontaminasi (Santoso dan Nursandi, 2001). Munculnya kontaminan
cendawan dan bakteri diduga disebabkan oleh takaran nutrisi (hormon) pada media
BAP yang lebih dari normal, sehingga menjadikan media ini kaya nutrisi. Semakin
diperkaya suatu media maka akan semakin tinggi tingkat kontaminasinya.

Gambar 1. Media BAP menjukan adanya kontaminasi


Kontaminasi yang disebabkan oleh cendawan terlihat jelas pada media. Media
dan eksplan diselimuti oleh spora berbentuk kapas atau meselium yang berwarna
putih dan hijau. Sedangkan kontaminasi yang disebabkan oleh bakteri, pada eksplan
terlihat lendir berwarna kuning sebagian lagi melekat pada media membentuk
gumpalan yang basah. Cendawan yang mengkontaminasi media dan eksplan adalah
cendawan yang biasa ada di laboratorium seperti Aspergillus sp, Monilla sp dan
Penicillium sp. Sedangkan bakteri yang muncul dan berasal dari laboratorium adalah
bakteri gram positif (Setiyoko, 1995).
Kontaminasi yang disebabkan oleh adanya proses browning (pencoklatan)
pada eksplan dalam praktikum ini karena pada media yang digunakan tidak
ditambahkan senyawa yang dapat mengabsorbsi asam fenolik seperti
polyvinylpyrolidone (PVP) (Santoso dan Nursandi, 2001), arang aktif atau nicotinic
acid (Gunawan, 1987).
Untuk perkembangan kalus buncis pada media NP 2,4 D, pada hari kelima (8
April 2018) pengamatan setelah penanaman, terlihat bahwa mulai terbentuk kalus
sekitar 25%. Kemudian pengamatan selanjutnya adalah tanggal 11 April 2018, kalus
mulai tumbuh dan berkembang menjadi lebih luas dan banyak lagi yaitu kurang lebih
75%. Kemudian tanggal 18 April 2018 atau pengamatan minggu kedua setelah
penanaman hampir 90% terbentuk kalus, terlihat bahwa batang buncis yang ditanam
sudah mengalami penambahan volume dan sel-sel kalus, akan tetapi belum nampak
kemunculan tunas. Keberhasilan membentuk kalus tersebut dipengaruhi oleh media
pengkalusan yang digunakan, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa komposisi media
yang digunakan sudah tepat, yaitu media NP 2,4 D.

Perkembangan kalus hari Perkembangan kalus hari ke-7 Perkembangan kalus hari ke-
ke-5 setelah penanaman setelah penanaman 14 setelah penanaman
Gambar 2. Perkembangan kalus buncis

Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-7 Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-14
Gambar 3. Pengamatan mikroskopis kalus buncis
Didalam medium yang digunakan untuk kultur jaringan mengandung zat
pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh mempunyai peranan yang penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada kebanykan kultur jaringan, hanya
auksin dan sitokinin yang sering digunakan. Khrisnamoorthy (1981) mengemukakan
bahwa adanyan zat pengatur tumbuh secara langsung mempengaruhi aktifitas
metabolisme dari sel –sel potongan jaringan yang sedang tumbuh.
Struktur kalus dari berbagai varietas yang digunakan berbeda-beda tergantung
kepada formulasi yang digunakan. Biasanya struktur kalus menggambarkan daya
regenerasinya membentuk tunas dan akar. Kalus yang berbentuk globular (nodul-
nodul) dan berwarna bening biasanya mempunyai kemampuan lebih tinggi untuk
membentuk tunas daripada kalus yang bersifat kompak dan berwarna coklat-
kehitaman. Dalam hal ini media yang digunakan untuk memacu regenerasi kalus akan
sangat menentukan. Keseimbangan nutrisi dalam media tumbuh sangat
mempengaruhi pertumbuhan kalus maupun diferensiasinya membentuk tunas
(Purnamaningsih 2006).
Selain medium yang digunakan, keberhasilan kultur jaringan juga ditentukan
oleh kondisi eksplan yang digunakan. Biasanya bagian tanaman yang digunakan
sebagai eksplan adalah bagian dari tanaman yang muda, jaringan embrio seperti biji
dan jaringan meristematik dari tanaman. Menurut Khrisnamoorthy (1981), daerah
meristamatik mengandung relatif mengandung auksin, giberilin dan sitokinin yang
tinggi dan biasanya dapat digunakan sebagai sumber eksplan karena sel yang
membentuknya aktif membelah.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Sterilisasi biji buncis dengan cara mencuci biji buncis dengan sunlight.
Kemudian direndam dalam clorox selama 10 menit dan 5 menit, setelah itu
dibilas dengan aquadest steril 3 kali. Selanjutnya direndam dalam fungisida
selama 30 menit dan terakhir dibilas dengan aquadest 3 kali. Dalam pencucian
dilakukan didalam botol jam sambil digoyang-goyangkan dan dilakukan di
dalam LAF.
2. Induksi kalus dan tunas dilakukan setelah kultur biji buncis berhasil. Batang
buncis dipotong secara aseptik didalam LAF kemudian disubkultur pada media
NP 2,4 D dan BAP. Pengamatan dilakukan selama dua minggu dan diperoleh
perkembangan kalus yang cukup cepat tetapi belum muncul tunas.
B. SARAN
Sebaiknya dalam praktikum ini mahasiswa diberi waktu yang cukup untuk
lebih memahami induksi kalus dan kultur biji buncis dan media yang digunakan
dalam kultur jaringan agar mahasiswa lebih memahaminya.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2007. Kacang Buncis:Teknik Budidaya Dan Analis Usaha Tani.


Kanisius Yogyakarta. 129 pp
Damayanti, F., Murdaningsih H.K., T. Herawati dan J.S. Darsa. 2005. Tanggap
Eksplan Batang Tiga Kultivar Lili terhadap Kombinasi BA dengan Beberapa
Taraf 2,4-D pada Medium MS. Zuriat. 16 (1): 60-66.
Elfiani & Jokoni. 2015. Sterilisasi Eksplan dan Sub Kultur Anggrek, Sirih Merah dan
Krisan Pada Perbanyakan Tanaman Secara In Vitro. Jurnal Dinamika
Pertanian Volume XXX. No. 2 .(117 - 124).

Gunawan, L.W. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan Pusat Antar Universitas
(PAU) Bioteknologi IPB Bogor. 165 hal.

Hendaryono, D.P.S dan Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan dan Petunjuk
Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern. Yogyakarta: Kanisius.

Ibrahim,M.S.D., N. Nova K., Nurliani B. 2004. Studi Pendahuluan : Induksi Kalus


Embriogenik Dari Eksplan Daun Echinaceae purpurea.Buletin TRO Vol. XV
No. 2, 2004

Kimball, J.W. 1994. Biologi. Erlangga. Bogor

Kristina, N.N., R. Noveriza, S.F. Syahid dan M. Rizal. 2008. Peluang Peningkatan
Kadar Kurkumin Pada Tanaman Kunyit Dan Temulawak. Badan Litbang
Pertanian. BalittroBogor 9 (2) : 12-17.

Krishnamoorthy. 1981. Plant Growth Substances. Application dan Agriculture.Tata


M.C. New York: Graw Hill Book Co.

Purnamaningsih R. 2006. Induksi Kalus dan Optimasi Regenerasi Empat Varietas


Padi melalui Kultur In Vitro. J. AgroBiogen 2(2): 74-80.

Santoso, U. dan F. Nursandi. 2001. Kultur Jaringan Tanaman., Malang: Penerbitan


Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Setiyoko, B. 1995. Kultur Meristem Tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.) Kultivar
Ambon untuk Memperoleh Tanaman yang Bebas Cucumber Mosaic Virus.
Laporan Skripsi Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah
Mada.
T . Herawan dan M. Na”iem. 2006. Pengaruh Jenis Madia dan Konsentrasi ZPT
Kinetin Terhadap Perakaran Pada Kultur Jaringan Cendana ( Santalum
album Linn ). Agrosains Volume 19 ( 2 ) : 198.

Tim Dosen Kultur Jaringan. 2017. Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan Tumbuhan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman : Solusi Perbanyakan Tanaman


Budidaya. Jakarta : Bumi Aksara.
LAMPIRAN

BIJI BUNCIS
CLOROX 10% PENUANGAN AQUADEST

FUNGISIDA
PEMBERSIHAN LAF PROSES PERENDAMAN
DENGAN ALKOHOL 70% BIJI KEDALAM CLOROX

BOTOL JAM MEDIA NP+2,4D DAN


ALKOHOL 96% NP+BAP

PROSES PERENDAMAN
PROSES PENGGOJOKKAN FUNGISIDA
PROSES PENANAMAN

MENUTUP BOTOL PROSES PELAPISAN


STERILISASI UJUNG
BOTOL JAM SEBELUM DENGAN WRAP

DITUTUP

HASIL INDUKSI KALUS


MEDIA BAP
HASIL KULTUR BIJI PROSES PEMOTONGAN
BUNCIS KULTUR BIJI BUNCIS

HASIL INDUKSI KALUS MEDIA NP 2,4 D

Perkembangan kalus hari Perkembangan kalus hari ke-7 Perkembangan kalus hari ke-
ke-5 setelah penanaman setelah penanaman 14 setelah penanaman
Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-7 Pengamatan mikroskopi kalus heri ke-14
PEMBUATAN AGAR KOSONG

Agar-Agar Botol selai Besar Penimbangan Agar

Penimbangan sukrosa Pemasakan agar dan Penuangan agar kosong ke botol


sukrosa selai

Proses sterilisasi media agar


kosong