Anda di halaman 1dari 2

NAMA : DEVITRI WAHYUNI

NIM : 150384202043

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan individu dalam mempelajari ilmu
untuk kepentingannya dan demi perkembangan dirinya sendiri kearah yang lebih baik.
Dan individu dituntut untuk berfikir kearah yang lebih maju dan dapat berfikir kritis.
Karena sediakalanya pendidikan dibutuhkan demi mencapai taraf hidup masing-masing
individu. Pendidikan juga merupakan sarana terpenuhinya proses belajar mengajar.
Tanpa pendidikan kita tidak mampu mengembangkan fitrahnya sebagai insan pedagogik
yang perlu didik dan mendidik. Tetapi semua proses yang dijalani tidak hanya dilalui dari
pendidikan formal, bisa saja dilalui dengan pendidikan non formal dan informal.
Pendidikan itu sendiri terdiri dari formal, nonformal dan informal. Pendidikan
formal adalah pendidikan yang tersustruktur atau resmi yang dibuat pemerintah atau
yayasan bagi pesrta didik yang memiliki tingkatan tingkatan dari dasar hingga perguruan
tinggi. Pendidikan nonformal adalah pendidikan yang dilakukan diluar dari pendidikan
formal atau bisa disebut juga pendidikan sampingan seperti bimbel, lembaga pelatihan,
kursus, dll. Sedangkan informal adalah pendidikan yang dilakukan dalam lingkungan
keluarga dan linglkungan masyarakat utunuk membentuk kepribadian individu itu
sendiri. Karena dimana saja kita bisa belajar, asal memiliki tujuan dan mutu pendidikan
yang jelas.
Namun, suatu pendidikan akan mempunyai mutu yang tinggi apabila guru
mempunyai mutu yang tinggi pula, sedangkan mutu guru sangat ditentukan oleh
pemahamannya tentang metode yang diterapkan dalam pembelajaran materi khususnya
matematika. Pengembangan pendidikan matematika merupakan suatu proses penyusunan
pendidikan matematika itu sendiri. Proses ini dimulai dari pengembangan kebijakan
pendidikan matematika, prinsip-prinsip pengembangan, pendekatan dan model
pengembangan pendidikan serta pengaturan pelaksanaan pendidikan matematika.
Matematika sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatik mengandung arti bahwa
konsep dan prinsip dalam matematika adalah saling berkaitan antara satu dengan lainnya.
Karena setiap materi matematika akan saling berkesinambungan, selain itu hampir
disetiap aspek kehidupan menerapkan ilmu matematika. Karena sifatnya matematika
fleksibel bisa menyesuaikan dimanapun ia dipergunakan.
Dikatakan pula oleh Gagne (Ruseffendi, 1988: 165 dalam Hadi kusmanto, Danny
Aminudin), bahwa objek tidak langsung dari mempelajari matematika adalah agar siswa
memiliki kemampuan memecahkan masalah. Berdasarkan pendapat Gagne dan tujuan
pembelajaran matematika, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memecahkan
suatu masalah, para siswa perlu memiliki kemampuan koneksi matematik, terjadi antara
matematika dengan matematika itu sendiri atau antara matematika dengan di luar
matematika. Dengan kemampuan koneksi matematik, selain memahami manfaat
matematika, siswa mampu memandang bahwa topik-topik matematika saling berkaitan
Kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan mengaitkan konsep konsep
matematika baik antar konsep dalam matematika itu sendiri maupun mengaitkan konsep
matematika dengan konsep dalam bidang lainnya. Kuatnya koneksi antar konsep
matematika berimplikasi bahwa aspek koneksi matematis juga memuat aspek matematis
lainnya atau sebaliknya. Apabila siswa mampu mengkaitkan ide-ide matematika maka
pemahaman matematikanya akan semakin dalam dan bertahan lama karena mereka
mampu melihat keterkaitan antar topik dalam matematika, dengan konteks selain
matematik, dan dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Kenyataannya siswa sendiri masih kurang tertarik terhadap matemtika, sehingga
hal tersebut menjadi penyebab kurangnya pengetahuan siswa dalam mengaitkan konsep
masalah matematika dengan masalah sekitarnya. Untuk mengaitkan konsep-konsep
matematika hendaknya kita mengetahui dasar dari matematika itu sendiri apa. Karena
matematika itu memiliki struktur-struktur yang berbeda dan beragam maka itu siswa
harus mampu mengaitkan struktur matemtika satu dengan lainnya. Dapat juga dilakukan
dengan visual thingking, karena pada halkikatnya visual thingking itu memahmi suatu
masalah yang terjadi di sekitar dan siswa mampu mengimajinasikan masalah tersebut dan
menyelesaikan masalah tersebut dengan pemikiran mereka masing-masing.