Anda di halaman 1dari 18

KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Mikro

Dosen Pengampu : Sularmi, M.Pd. , Siti Syamsiah

Disusun oleh:

Faiqoh Damayanti (K7112082)

Hafizd Abdillah (K7112)

Hesti Ratna Juwita (K7112)

Isni Nur Rohmah (K7112)

Junaidah (K7112)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

TAHUN 2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Keterampilan mengadakan variasi”
dengan tepat waktu. Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang dihadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan semua pihak, sehingga kendala yang penulis hadapi
teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Sularmi, M.Pd. dan Siti Syamsiah yang telah memberikan tugas, dan petunjuk kepada
penulis sehingga termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
3. Teman-temanku kelas VI B PGSD UNS 2012 yang telah mendukung penulis untuk
segera menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, untuk itu diharapkan kritik dan
saran yang membangun guna penyempurnaan makalah ini. Semoga materi ini dapat
bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya
bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Surakarta, 7 Maret 2015

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat (UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003). Dari pengertian
pendidikan tersebut, guru hendaknya dapat menciptakan suasana kelas yang
kondusif dan dapat mengaktifkan siswa agar tujuan dari pendidikan nasionalpun
tercapai.

Guru sebagai pendidik haruslah menguasai 8 keterampilan mengajar. Dengan


tujuan, ketika mengajar guru tidak sekedar menyuruh peserta didik untuk
mengerjakan tugas, lalu dikoreksi melainkan dalam proses pembelajaran
hendaknya berlangsung aktif dan kelas menjadi hidup. Ke-8 keterampilan
mengajar tersebut adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran,
keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberikan
variasi, keterampilan mengelola kelas, keterampilan memberi penguatan,
keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, serta keterampilan
membelajarkan kelompok kecil dan perorangan.

Di dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai keterampilan


memberikan variasi (Variation Stimulus). Karena dalam proses pembelajaran
peserta didik akan mengalami kejenuhan dan kebosanan sehingga guru perlu
melakukan variasi dengan harapan dapat meminimalisir kejenuhan tersebut dan
peserta didik dapat focus pada pembelajarannya.
B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa maslah, diantaranya:

1. Apa yang dimaksud dengan variasi?


2. Apa saja tujuan dan manfaat diadakannya variasi?
3. Apa Prinsip Pengembangan Variasi?
4. Apa saja jenis-jenis variasi?

C. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan variasi
2. Mahasiswa mengetahui tujuan dan manfaat diadakannya variasi
3. Mahasiswa mengetahui prinsip pengembangan variasi
4. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis variasi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Menurut Montessori bahwa anak memiliki masa peka terhadap segala


stimulus yang diterima melalui panca inderanya. Panca indera yang dimiliki
anak merupakan pintu untuk masuknya informasi (pengetahuan). Semakin
banyak dan bervariasi informasi yang ditangkap melalui paca indera yang
dimilikinya (mata, hidung, telingan, peraba), maka akan semakin banyak dan
beragam pula informasi atau pengetahuan yang diperolehnya.

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara


interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik (PP no. 19 tahun 2005. pasal 19:1). Untuk
terjadinya proses pembelajaran seperti yang digariskan dalam PP tersebut,
maka pemberian stimulus yang bervariasi menjadi suatu keharusan Dengan
variasi stimulus yang bervariasi akan mendorong belajar secara aktif,
mengembangkan prakarsa, membuka inspirasi, menumbuhkan kreativitas, serta
mengembangkan sikap belajar yang pisitif lainnya.

Hasibuan (2006:64) berpendapat variasi adalah perbuatan guru dalam


konteks proses belajar mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa
sehingga dalam proses belajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan,
keantusiasan, serta berperan secara aktif.

Menurut Hamid Darmadi (2010 : 3) menjelaskan bahwa dalam kegiatan


pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru
yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk mengacu dan
mengingat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan
variasi merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam mengelola
kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan siswa
dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru
serta untuk mengacu dan mengingat perhatian siswa sehingga siswa dapat aktif
dan terpartisipasi dalam belajarnya.

B. Tujuan dan Manfaat

Inti tujuan proses pembelajaran variasi adalah menumbuhkembangkan


perhatian dan minat peserta didik agar belajar lebih baik.

Informasi atau pengetahuan setiap saat tak pernah berhenti dari


perkembangan, bahkan dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kadang-kadang apa yang dipelajari hari ini, besok
atau lusa sudah berubah lagi. Dari perkembangan yang terjadi, maka otomatis
secara kuantitas ilmu pengetahuan semakin bertambah, demikian pula dari
segi kualitas. Oleh karena itu jika sumber informasi yang dipelajari siswa
terbatas hanya pada satu jenis saja, maka pengalaman belajar siswa akan
semakin sempit dan miskin. Akibatnya siswa akan tertinggal oleh
perkembangan yang terjadi di sekitar kehidupannya.

Untuk merespon terhadap perkembangan tersebut, maka salah satu strategi


yang paling tepat untuk pembelajaran, yaitu melalui pemberian stimulus yang
bervariasi, misalnya yaitu dengan pemberian sumber pembelajaran yang
beragam. Keragaman (variasi) sumber belajar yang diberikan bukan hanya
dari segi jumlah atau banyaknya saja, akan tetapi harus ditingkatkan dari segi
kualitas, sehingga akan mendorong terciptanya pembelajaran yang
berkualitas.

Menurut Wina Sanjaya bahwa tujuan dan manfaat dari variasi stimulus
dalam pembelajaran adalah untuk menjaga agar iklim pembelajaran tetap
menarik perhatian, tidak membosankan, sehingga siswa menunjukkan sikap
antusias dan ketekunan, penuh gairah, dan berpartisipasi aktif dalam
setiaplangkah pembelajaran (2006). Dari pernyataan tersebut ada beberapa
poin penting yang menjadi tujuan dan manfaat dari variasi stimulus,
diantaranya yaitu:

a. Terciptanya proses pembelajaran yang menarik dan menyenagkan bagi


siswa; proses pembelajaran akan menarik dan menyenangkan sekaligus
juga menantang bagi siswa apabila dalam proses pembelajaran tersebut
terdapat beberapa aktivitas kegiatan yang dikondisikan oleh guru.

b. Mengihlangkan kejenuhan dan kebosanan sebagai akibat dari kegiatan


yang bersifat rutinitas; Dengan adanya rangsangan (stimulus) yang
beragam, maka siswa tidak dipaksa hanya memperhatikan terhadap satu
objek atau satu jenis kegiatan saja, tetapi secara dinamis siswa akan
mengalami proses kegiatan yang bervariasi, sehingga perasaan bosan dan
kejenuhan akan bisa diatasi.

c. Meningkatkan perhatian dan motivasi siswa; kemampuan siswa untuk


memerhatikan sesuatu objek akan terbatas, demikian pula motivasi yang
dimiliki siswa akan mengalami naik-turun. Oleh karena itu untuk
menjaga perhatian dan motivasi belajar siswa agar tetap tinggi, variasi
stimulus dapat menjadi solusi yang baik.

d. Mengembangkan sifat keingintahuan siswa terhadap hal-hal yang baru;


setiap siswa sudah dilengkapi dengan potensi yang sangat mendasar
sebagai modal untuk dikembangkan yaitu rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu
sebagai modal dasar ini, akan dapat tumbuh dan berkembang secara
maksimal jika siswa tersebut mengalami proses pembelajaran yang
bervariasi.

e. Menyesuaikan model pembelajaran dengan cara belajar siswa yang


berbeda-beda; secara umum tipe belajar siswa dapat digolongkan
kedalam beberapa tipe yaitu: 1) visual, 2) audio, 3) audio-visual, 4)
kinestetik. Dengan menerapkan strategi stimulus pembelajaran yang
bervariasi, maka keragaman tipe belajar siswa akan terakomodasi
sehingga kebutuhan dasar siswa dalam pembelajaran akan dapat dilayani.

f. Meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa; keaktipan belajar harus


dilihat dari segi yang luas, yaitu meliputi aktivitas fisik dan psikhis.
Dengan menyediakan sumber-sumber pembelajaran yang bervariasi, dan
model kegiatan pembelajaran yang bervariasi, maka aktivitas belajar
siswa baik secara fisik maupun psikhis akan terjaga.

C. Prinsip Pengembangan Variasi Stimuluas

Anda telah mempelajari pengertian variasi stimulus, tujuan dan manfaat


variasi stimulus, kemudian jenis-jenis atau bentuk variasi stimulus dalam
pembelajaran. Dengan demikian tentu Anda sudah punya banyak pilihan
untuk mengembangkan variasi stimulus dalam pembelajaran, sehingga kelak
pembelajaran yang Anda laksanakan akan lebih menarik, menantang dan
menyenangkan, serta berkualitas. Dalam menerapkan dan mengembangkan
variasi stimulus dalam pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip
tertentu, agar variasi yang diterapkan atau dikembangkan tersebut bisa
berguna secara efektif dan efisien, antara lain yaitu:

1) Tujuan; yaitu variasi stimulus yang diterapkan dan dikembangkan


dikembangkan dalam pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas.
Tujuan utama penerapan dan pengembangan variasi stimulus harus
sejalan dan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh
karena itu penerapan dan pengembangan variasi stimulus memperhatikan
kesesuaian dengan sifat materi, dan karakteristik siswa.

2) Fleksibel; yaitu variasi stimulus yang dikembangkan harus bersifat luwes


(dinamis), sehingga memungkinkan dapat diubah dan disesuaikan dengan
situasi, kondisi dan tuntutan yang terjadi pada saat terjadinya proses
pembelajaran.
3) Kelancaran dan berkesinambungan; yaitu setiap variasi yang
dikembangkan dalam pembelajaran harus memperlancar proses
pembelajaran. Perpindahan dari satu jenis stimulus ke stimulus yang
lainnya, harus merupakan suatu kesatuan yang utuh, saling mendukung
dan memperkuat terjadinya proses pembelajaran secara efektif dan
efisien.

4) Logis; variasi stimulus yang diterapkan dan dikembangkan harus logis,


wajar, efektif dan efisien, tidak dibuat-buat dan bukan sesuatu yang
dipaksakan.

5) Pengelolaan yang matang; yaitu penerapan dan pengembangan stimulus


dalam pembelajaran sebelumnya harus direncanakan secara matang,
sehingga dapat diproyeksikan efektivitas dan efisiensinya dalam
menunjang terhadap proses dan hasil pembelajaran.

D. Jenis-jenis
Variasi dalam kegiatan pembelajaran terdiri dari tiga jenis yaitu:

1. Variasi gaya mengajar


Agar tidak terjadi kebosanan pada peserta didik dalam belajar, maka guru
dapat melakukan variasi dalam gaya mengajarnya, yang mana dalam
memberi variasi gaya mengajar diantaranya: variasi dalam suara, variasi
kesenyapan, variasi dalam bentuk gerak badan dan mimik, variasi dalam
pergantian posisi dalam kelas, variasi pemusatan dan variasi kontak
pandang.
a. Suara guru (teacher voice)
Suara guru dapat dikatakan faktor yang sangat penting didalam
kelas karena sebagian besar kegiatan dikelas akan bersumber dari
hal-hal yang disampaikan guru secara lisan.
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi
lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat berubah menjadi
lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat
memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya
bervariasi, baik dari intonasi, volume, nada dan kecepatan.
b. Pemusatan perhatian
Dalam mengajar guru sering menginginkan agar siswa
memperhatikan butir-butir penting yang sedang disampaikan. Hal
ini dapat dilakukan guru dengan mengucapkan kata-kata tertentu
secara khusus disertai dengan isyarat atau gerakan seperlunya.
Teknik pemusatan ini digunakan untuk mengarahkan atau
memusatkan perhatian siswa pada suatu persoalan dalam kegiatan
pembelajaran. Jenisnya ada dua macam yaitu: pemusatan verbal
dan pemusatan non verbal.
Pemusatan verbal berupa ucapan guru yang singkat tetapi
mempunyai pengaruh yang besar. Pengaruh tersebut dapat
mendorong atau memacu kedepan tetapi dapat pula menghentikan
suatu aktivitas siswa. Misalnya: “dengarkan baik-baik” !!!!!.
Pemusatan non verbal berupa tindakan atau perbuatan guru,
misalnya: menggerak-gerakan tangan, tersenyum, mengerut dahi,
menunjuk. Contoh: sambil menunjuk kegambar guru berkata “lihat
gambar itu”.

c. Pemberian waktu/ kesenyapan (pausing)


Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi
pihak guru ditengah-tengah menerangkan sesuatu.
Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk
menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap/diamnya guru
secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa
begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru
memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila
diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya
siswa bisa kembali mengingat informasi-informasi yang mungkin
ia hafal, sehingga bisa menjawab petanyaan guru dengan baik dan
tepat.
d. Kontak pandang (eye contact)
Bila guru yang sedang berbicara/ berintraksi dengan siswanya,
sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat kemata
murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim
dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk
menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau
pemahaman siswa. Hal tersebut mencerminkan keakraban
hubungan antara guru dan siswanya ketika mendengarkan hal
tersebut berbicara menunjukkan sikap penuh perhatian terhadap
masalah yang dibicarakan.
e. Gerakan badan dan mimik
Mimik dan gerakan badan merupakan alat komunikasi yang
efektif, variasi mimik dan gerakan badan yang dilakukan secara
tepat dapat mengkomunikasikan pesan secara leih efektif
dibandingkan dengan bahasa yang bertele-tele. Mimik dengan
gerakan badan yang dapat divariasikan antara lain:
1.Ekspresi wajah: tersenyum, mengerutkan dahi,
mengangkat alis, cembrut, tertawa.
2. Ekspresi kepala: menggeleng, mengangguk, tegak/
mengangkat kepala, menunduk.
3.Ekspresi tangan: mengangkat tangan, mengacungkan
jempol, mengepal tinju untuk menegaskan, tepuk tangan.
4. Eksperi bahu: mengangkat bahu.
5. Ekspresi badan secara keseluruhan: berdiri kaku, bersikap
santai, gerak mendekati atau menjauhi.
Yang perlu diingat adalah bahwa gerakan badan dan mimik
tersebut harus sesuai dengan pembawaan guru sendiri, tujuan yang
ingin disampaikan, serta latar belakang sosial budaya didaerah
tersebut. Oleh karena itu, guru harus berhati-hati mengekspresikan
mimik dan gerakan badan ini.
f. Perubahan posisi guru
Pergantian posisi guru didalam kelas dapat digunakan untuk
mempertahankan perhatian siswa. Terutama bagi calon guru dalam
menyajikan pelajaran didalam kelas, biasakan bergerak bebas tidak
kikuk atau kaku dan hindari tingkah laku negatif. Berikut ini ada
bebrapa yang perlu diperhatikan:
 Biasakan bergerak bebas didalam kelas,
 Jangan biasakan menerangkan sambil menulis
menghadap kepapan tulis,
 Jangan biasakan menerangkan dengan arah pandangan
kearah langit, kearah lantai, ataupun keluar, tetapi
arahkan pandangan menjelajahi seluruh kelas,
 Bila diinginkan untuk mengobservasi seluruh kelas,
bergeraklah perlahan-lahan dari belakang kearah depan
untuk mengetahui tingkah laku murid.
Variasi dalam prubahan posisi guru hendaknya dilakukan
secara wajar, maksudnya tidak berlebihan, karena dilakukan secara
berlebihan anak didik bisa menjadi bingung dan dapat mengganggu
proses belajar anak.
2. Variasi media dan bahan ajaran
Tiap peserta didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik
pendengaran maupun penglihatan, demikian juga kemampuan berbicara. Ada
yang labih enak atau senang membaca, ada yang lebih senang mendengar
dulu baru membaca, dan ada yang sebaliknya. Dengan variasi penggunaan
media adalah Wahana menyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Kelemahan indra yang dimiliki tiap peserta didik misalnya, guru dapat
memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudisan menulis dipapan tulis,
dilanjutkan dengan melihat contohj konkrit. Dengan variasi seperti itu dapat
memberi stimulus terhadap peserta didik. Yang mana media mempunyai
pranan yang penting dan proses belajar mengajar yang tidak bisa
ditinggalkan, karena media dapat:
1. Menghemat waktu belajar
2. Memudahkan pemahaman
3. Meningkatkan perhatian siswa
4. Meningkatkan aktivitas siswa
5. Mempertinggi daya ingat siswa.
a. Variasi media pandang
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan
alat dan bahan ajar khusus untuk komunikasi, seperti buku, majalah
globe, peta, majalah dinding, film, film strip, TV, radio, tape recorder,
gambar grafik, model, dokumentasi, dan lain-lain.
b. Variasi media dengar
Pada umumnya proses belajar mengajar dikelas, suara guru adalah
alat utama dalam berkomunikasi, variasi dalam penggunaan media
sangat memerlukan saling bergantian atau kombinasi dengan media
pandang dan media taktil. Sudah barang tentu ada sejumlah media
dengar yang dapat dipakai untuk itu, diantaranya ialah pembicaraan
peserta didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman
drama, wawancara, bahkan rek suara ikan lumba-lumba, yang semua
itu dapat memiliki relevansi dengan pengajaran.
c. Variasi media taktil
Komponen terakhir dari keterampilan menggunakan variasi media
dan bahan ajar adalah penggunaan media yang memberikan
kesempatan kepada peserta didik dan memanipulasi benda atau bahan
ajar. Dalam hal ini akan melibatkan peserta didik dalam kegiatan
menyusun pembuatan model, yang hasilnya dapat disebut sebagai
media taktil.
3. Variasi pola interaksi
Yang dimaksud dengan variasi intraksi adalah frekuensi atau banyak
sedikitnya pergantian aksi antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa
secara tepat. Mengajar bukanlah menuangkan seperangkat pengetahuan
kepada sesuatu yang mati. Siswa bukanlah kaleng yang kosong melainkan
sesuatu yang hidup dan dinamis serta penuh emosi. Siswa berintraksi
terhadap lingkunga tidak hanya secara intelektual tetapi secara
fisik,emosional dan sosial.
Sudah sewajarnya dalam pergaula antara individu didalam kelas akan
tercipta bentuk saling aksi dan mereaksi yang disebut intraksi edukatif.
Dalam interaksi edukatif diharapkan semua yang terbuat di dalamnya
berperan aktif sehingga tercipta komunikasi timbal balik antara guru dengan
siswa, dan siswa dengan siswa.
Ada tiga macam interaksi, yaitu:
 Interaksi guru-kelompok siswa
Pola ini dalam kegiatan pembelajaran di dominasi oleh guru,
sehingga bersifat”teacher centered” gaya interksi ini misalnya guru
berceramah untuk seluruh kelas bukan kepada individu tertentu.
Pola ini juga merupakan pendahuluan bahan pengajaran baru untuk
merangsang perhatian murid. Cara ini dimaksutkan agar murid
menyadari betapa terbatasnya pengetahuan mereka tentang suatu
masalah tertentu.
Pembicaraan di kelas ini memberikan manfaat kapada pengajar
karena itu dapat menjajaki sejauh mana murid telah mengetahuai
hal yang akan diajarka. Selanjutnya ia dapat menentukan, dari
mana serta sampai berapa dalam ia akan membahas bahan
pengajaran yang bersangkutan.
 Interaksi guru-siswa
Dalam interksi guru-siswa ini, pertanyaan ataupun penjelasan
guru langsung diarahkan kepada individu siswa tertentu dan
interaksi yang terjadi bersifat dua arah. Pola interaksi ini digunakan
jika siswa tertentu telah ditugasi membaca buku di dalam atau di
luar jam pelajaran. Untuk itu guru telah menyiapkan sejumlah
pertanyaan yang berkaitan dengan isi buku yang dibaca ini. Guru
langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
 Intereaksi siswa-siswa.
Pola ini bersifat “student centered” sesudah memberikan
pengarahan, guru melontarkan masalah keseluruh kelas agar terjadi
diskusi antara siswa untuk memecahkan masalah. Bentuk diskusi
yang kecil atau secara berpasangan.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Keterampilan variasi merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru
dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk
menghilangkan kebosanan siswa dan kejenuhan siswa dalam menerima
bahan pengajaran yang diberikan guru serta untuk mengacu dan mengingat
perhatian siswa sehingga siswa dapat aktif dan terpartisipasi dalam
belajarnya.
2. Tujuan dan manfaat dari variasi stimulus, diantaranya yaitu:

a. Terciptanya proses pembelajaran yang menarik dan menyenagkan bagi


siswa

b. Mengihlangkan kejenuhan dan kebosanan sebagai akibat dari kegiatan


yang bersifat rutinitas

c. Meningkatkan perhatian dan motivasi siswa

d. Mengembangkan sifat keingintahuan siswa terhadap hal-hal yang baru

e. Menyesuaikan model pembelajaran dengan cara belajar siswa yang


berbeda-beda

f. Meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa

3. Dalam menerapkan dan mengembangkan variasi stimulus dalam


pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip tertentu, agar variasi
yang diterapkan atau dikembangkan tersebut bisa berguna secara efektif
dan efisien, antara lain yaitu: Tujuan, Fleksibel, Kelancaran dan
berkesinambungan, Logis, Pengelolaan yang matang
4. Variasi dalam kegiatan pembelajaran terdiri dari tiga jenis yaitu: Variasi
gaya mengajar, Variasi media dan bahan ajaran, Variasi pola interaksi
DAFTAR PUSTAKA

Asri, Zainal. 2010. Micro Teaching. Jakarta : Rajawali Press

David. 2011. Keterampilan Mengadakan Variasi. Diakses 7 Maret 2015 melalui


https://davidstkipmpl.wordpress.com/2011/07/10/keterampilan-
mengadakan-variasi/

Dkk,A. R. 2012. Ringkasan Keterampilan Variasi Mengajar. Diakses 7 Maret


2015 melalui https://ikhazayyienkwt.wordpress.com/2012/10/08/ringkasan-
ketrampilan-variasi-mengajar

Ghian, V. 2015. Keterampilan Variasi dan Komponen. Diakses 7 maret 2015


melalui http://vghian.blogspot.com/2015/01/keterampilan-variasi-dan-
komponen.html

Subki,S. 2012. Keterampilan Mengadakan Variasi Microteachimg. Diakses 7


Maret 2015 melalui http://syah-subki.blogspot.com/2012/05/keterampilan-
mengadakan-variasi-micro.html

Sukirman, Dadang. 2012. Pembelajaran Micro Teaching. Jakarta : Direktorat


Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama