Anda di halaman 1dari 4

Nama : Putri Patimah

Npm : 16.40606.029

Lokal : A2 (B)

Mata kuliah : Perkembangan Orang Dewasa dan Lanjut Usia

A. Pengertian Peran Gender

Menurut Bem (1981), gender merupakan karakteristik kepribadian,


seseorang yang dipengaruhi oleh peran gender yang dimilikinya dan
dikelompokkan menjadi 4 klasifikasi yaitu maskulin, feminim, androgini dan
tak terbedakan. Konsep Gender dan peran gender merupakan dua konsep yang
berbeda, gender merupakan istilah biologis, orang-orang dilihat sebagain pria
atau wanita tergantung dari organ-organ dan gen-gen jenids kelamin mereka.

Sebaliknya menurut Basow (1992), peran gender merupakan istilah


psikologis dan kultural, diartikan sebagai perasaan subjektif seseorang
mengenai ke-pria-an (maleness) atau kewanitaan (femaleness).

Brigham (1986) lebih menekankan terhadap konsep stereotipe di dalam


membahas mengenai peran gender, dan menyebutkan bahwa peran gender
merupakan karakterisitik status, yang dapat digunakan untuk mendukung
diskriminasi sama seperti yang digunakan untuk mendukung diskriminasi
sama seperti ras, kepercayaan, dan usia.

Sementara peran gender sendiri sebagai sebuah karakteristik memiliki


determinan lingkungan yang kuat dan berkait dengan dimensi
maskulin versus feminim (Stewart & Lykes, dalam Saks dan Krupat, 1998).
Ketika berbicara mengenai gender, beberapa konsep berikut ini terlibat di
dalamnya:
1. Gender role (peran gender), merupakan definisi atau preskripsi yang
berakar pada kultur terhadapa tingkah laku pri dan wanita.
2. Gender identity (identitas gender), yaitu bagaimana seseorang
mempersepsikan dirinya sendiri dengan memperhatikan jenis kelamin dan
peran gender.
3. Serta sex role ideology (ideologi peran-jenis kelamin), termasuk di
antaranya stereotipe-stereotipe gender, sikap pemerintah dalam kaitan
antara kedua jenis kelamin dan status-status relatifnya (Segall, Dosen,
Berry, & Poortiga, 1990).

Jika menyamakan antara gender dapat mengarahkan keyakinan bahwa


perbedaan trait-trait dan tingkah laku antara pria dan wanita mengarah
langsung kepada perbedaan secara biologis.

Unger (dalam Basow, 1992) menyebutkan bahwa dalam psikologi baru


mengenai gender dan peran gender, ke-pria-an dan ke-wanita-an lebih sebagai
kontruk sosial yang dikonfirmasikan melalui gaya gender dalam penampilan
diri dan distribusi antara pria dan wanita ke dalam peran-peran dan status yang
berbeda, dan diperhatikan oleh kebutuhan-kebutuhan intrapsikis terhadap
konsistensi diri kebutuhan untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial.

Oleh karena itu, peran gender dikonstruksikan oleh manusia lain. Bukan
secara biologis, dan konstruksi ini dibentuk oleh proses-proses sejarah, budaya,
dan psikologis (Basow, 1992).

Menurut Myers (1995), peran gender merupakan suatu set tingkah laku
yang diharapkan (berupa norma) untuk pria dan wanita, dikaitkan dengan
ciri-ciri feminim dan maskulin sesuai dengan yang diharapkan dalam
masyarakat.
B. Orientasi Peran Gender

Bem (dalam Basow, 1992) menyetakan bahwa terdapat dua model peran
gender di dalam menjelaskan mengenai maskulintas dan feminita, dalam
kaitannya dengan laki-laki dan perempuan, yaitu modell tradisional dan
model non tradisional (Nauly, 2003).

1. Pengukuran yang ditujukan untuk melihat maskulinitas dan feminitas


menyebutkan derajat yang tinngi dari maskulin yang menunjukkan
derajat yang rendah dari feminitas, begitu juga sebaliknya, derajat yang
tinggi dari feminitas menujukkan derajat yang rendah dari maskulinitas
(Nauly,2003).
Seorang pria akan memiliki penyesuaian diri yang positif jika ia
menunjukkan maskulinitas yang tinggi dan feminitas yang rendah. Dan
sebaliknya, seorang wanita yang memiliki penyesuaian diri yang positif
adalah wanita yang menunjukkan feminitas yang tinggi serta
maskulinitas yang rendah (Nauly, 2003).
2. Sedangkan nontradisional menyatakan bahwa maskulinitaas dan
feminitas lebih sesuai dikonseptualisasikan secara terpisah, dimana
masing-masing merupakan dimensi yang independen.
Model ini dapat dijelaskan secara sederhana melalui gambar di bawah
ini. Di sini dijelaskan bahwa konseptualisasi maskulinitas-feminitas
digunakan sebagai dimenti yang terpisah.
Berdasarkan pandangan ini, Sandra Bem (dalam Basow, 1992)
mengklasifikasikan tipe peran gender menjadi 4 bagian, yaitu:
a. Sex-typed: seorang yang mendapat skor tinggi pada maskulinitas dan
skor rendah pada ferminitas. Pada perempuan, yang mendapatkan
skor tinggi pada feminitas dan mendapat skor rendah pada
maskulinitas.
b. Cross-sex-typed: laki-laki yang mendapatkan tinggi pada ferminitas
dan skor pada maskulinitas. Sedangkan pada perempuan, yang
memiliki skor yang tinggi pada maskulinitas dan skor yang redah
pada feminitas.
c. Androginy: laki-laki dan perempuan yang mendapatkan skor tinggi
baik pada maskulinitas maupun feminitas.
d. Indifferentiated: laki-laki dan perempuan yang mendapat skor rendah
baik pada maskulinitas dan feminitas.

Sumber: Pengantar SOSIOLOGI. Edisi Revisi. Kamanto Sunarto