Anda di halaman 1dari 4

Aktivitas fisik

1. Pengertian aktivitas fisik


Akitvitas fisik dapat didefinisikan sebagai gerakan fisik yang dilakukan oleh otot
tubuh dan sistem penunjangnya (Almatsier,2005)
Aktifitas fisik bisa dibagi menjadi dua yaitu aktivitas fisik internal dan aktivitas fisik
eksternal. Aktivitas fisik internal yaitu sebua aktivitas fisik dimana proses kerjannya
organ-organ tubuh sewaktu istirahat, sedangkan aktivitas fisik eksternal adalah aktivitas
fisik yang dilakukan oleh pergerakan anggota tubuh yang dilakukan selama 24 jam serta
banya mengeluarkan energi (Fatonah,1996).
Aktivitas fisik adalah pergerakan amggota tubuh yang menyebabkan penegluaran
energi secara sederhana yang sangat penting bagi pemeliharaan fisik, mental dan kualitas
hidup sehat (Hudha,2006).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas fisik
a. Aspek biologis
Faktor usia berbengaruh terhadap kemampuan aktivitas seseorang, dikarnakan
seseorang yang sudah lanjut usia mengalami kelemhan muskuloskeletal dan
penurunan fungsi otot, karna sel-sel otot mengalami kematian.
b. Kesehatan Fisik
Toleransi gerak dan aktivitas dipengaruhi atau diakibatkan oleh adanya kerusakan
penyakit yang merusak sistem syaraf. Sistem muskuloskeleretal dan vestibular apparatus,
dan penyakit berupa kerusakan sistem syaraf seperti parkinson, sklerosa, lumor sistem
syaraf pusat (Kozeir,Erb,Berma,2000).
c. Kesehatan Mental
Mental seperti depresi kronis, akan menjadikan seseorang memacu aktivitas, orang
yang depresi dapat kurang melakukan aktivitas dan kekurangan energi untuk melakukan
aktivitas yang biasa.
d. Nutrisi
Baik kekurangan atau kelebhan nutrisi dapat menyebabkan mempengaruhi aktivitas,
seseorang yang intake nutrisinya kurang maka aktivitasnya tidak maksimal, hal tersebut
dikarenakan nutrisi didalam tubuh merupakan bahan untuk memperoleh energi
(Owen,1985)

Nilai Energi Aktivitas Fisik


Nilai energi atau kalori yang dikeluarkan dipengaruhi oleh asupan makanan dan
aktivitas seseorang. Seseorang yang memiliki aktivitas yang berat maka membutuhkan
kalori yang cukup besar jumlahnya dibandingkan seseorang yang memiliki aktivitas yang
cukup ringan maka asupan seseorang harus seimbang dnegan tingkat aktivitas yang
dikerjakan karena dalam aktivitas akan meningkatkan proses metabolisme. Pasien DM
perlu mengetahui mengetahui indeks glukosasehingga dapat menyeimbangkan antara
pola makan, glukosa darah dan kalori yang dikeluarkan didalam aktivitas fisik
(Waspadji,2002).
Pasien DM yang ingin melakukan aktivitas seperti olah raga yang banyak gerakan
seperti berlari aatu sepak bola maka kalori yang digunakan 20 per menit, jika lama
aktivitas berlari dalam sepak bola 30 menit, maka kalori yang dipakai adalah 20 x 30 =
600 kalori. Tambahkan kalori sebanyak 600 kalori tersebut untuk mencegah terjadinya
reaksi insulin selama melakukan olah raga. Disamping itu harus disiapkan paket
pencegah reaksi insulin, yaitu dengan menyuntikan glukagon. Jika hipoglikemia muncul
maka perlu dilakukan cara seperti diatas, dalam waktu 20-30 detik tanda-tanda
hipoglikemia akan menghilang (Asdie,1996).

Efek Aktivitas Fisik terhadap Penderita DM


Hipoglikemia pengidap DM khuuddnya DM tipe I perlu diwaspdai bagi pengidap
DM yang memiliki aktivitas fisik yang berat, untuk itu carilah pemberian makanan ekstra
ini dibuat sedemikian rupa sehingga penyerapan makanan ekstra kira0kira bertepatan
dengan puncak terjadinya hipoglikemia. Efek baik aktivitas untuk meningkatkan
metabolisme didalam tubuh, semisal aktivitas fisik olahragabagi penderita DM dapat
meningkatkan perbaikan ikatan insulin dengan reseptornya dan perbaikan pada
sensitifitas insulin hampir selalu proposional dengan kesegaran jasmani yang dapat
diukur VO2 maksimum. Aktivitas fisik juga mempengaruhi agregasi trombosit pada
pengidap DM jika melakukan aktivitas fisik olahraga dengan tepat, sehingga dapat
mencegah penyakit trombosis pada DM, terutama yang berkaitan dengan kebutaan.
Penderita DM lansia sangatlah diperlukan latihan aktivitas fisik untuk memperbaiki
peredaran darah dikaki (Asdie,1996).
Olahraga membantu penderita DM mengontrol berat badan yang merupakan indikator
penunjuk penderita DM. Penderita DM memiliki terlalu banyak glukosa dalam darah
akibat kekurangan insulin, hormon yang membantu sel menyerap glukosa. Oalhraga
dapat membantu melarutkan pembekuan darah lebih mudah. Tingginya tingkat insulin
dalam darah memungkinkan terjadi pembekuan darah lebih mudah karena itu mengapa
DM erat kaitannya denga penyakit kardiovaskuler (infokes,2004).
Kurang berolahraga merupakan salah satu faktor resiko utama terjadinya DM. Menurut
Haznam (1991) olahraga dianjurkan karena bertambahnya kegiatan fisik menambah
reseptor insulin dalam sel target. Dengan demikian inslin dalam tubuh bekerja lebih
efektif. Latihan olah raga merupakan modifikasi ke-2 pada pengobatan hiperglikemia
pada DM. Glukosa dapat masuk kedalam sel-sel otot yang aktif tanpa bantuan insulin,
dan kemudian dioksidasi menjadi karbondioksida dan air, sehingga olahraga mempunyai
aks hipoglikemik. Olahraga juga mampu menurunkan resistensi insulin dan menurunkan
berat badan pada diabetik dengan obesutas (kegenukan).
Olahraga tidak begitu besar mempengaruhi kadar gula darah penderita DM tipe I, karena
produksiinsulin yang terganggu atau tidak ada. Tetapi keuntungan lainnya adalah
mengurangi resiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah perifer. Sedangkan pada
penderita DM tipe II, latihan jasmani berperan dalam pengaturan glukosa darah. Pada
saat berolahraga, permeabilitas membran meningkat pada otot yang berkontraksi
sehingga resistensi insulin berkurang (Tilarso,1999)

Pedoman untuk Olahraga Diabetes


Latihan fisik sehari-hari dan latihan fisik secara teratur (3-4 kali seminggu selama
lebih kurang 30 menit) merupakan salah satupilar dalam perawatan DM tipe II
(Yuli,2010).
Mannsjoer et al (1999) menganjurkan bahwa latuhan secara teratur 3-4 kali setiap minggu
kurang lebih setengah jam sifatnya CRIPE (Continous, Ritmikal, Interval, Progresiv,
Edurance, Training)
Tahap-tahap latihan fisik bagi penderita Diabetes
Pertama yaitu peregangan (stretching), latuhan ini bertujuan untuk mencegah cedera
otot dan dilakukan selama 5 menit.
Nafas secara normal, makan dan minum cukup, mengahapus pemborosan badan, gerak
dan keseimbangan tubuh, tidur dan beristirahat, memelihara temperature badan,
membersihkan badan dengan baik, komunikasi, bekerja (Hendersin, 1966,1991).

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan aktivitas fisik bagi pasien DM
a. Jangan melakukan aktivitas fisik yang berat jika kadar glukosannya semisal sebelum
makan.
b. Memakai alas kaki yang pas dan benar, karena dapat menghindari luka pada kaki.
c. Pengidap DM harus selalu membawa permen jika melakukan aktivitas fisik yang
berat untuk menghindari terjadinya hipoglikemi (Waspadji,2002).

Adapun strategiuntuk menghindari terjadinya hipoglikemi antara lain dapat


dilakukan dengan berbagai cara. Penderita dapat mempelajari respon glukosa darah
sendiri terhadapberbagai tingkatan aktivitas, selama dan segera setelah pengukuran
dengan mengukur kadar gula darah.
Penderitasebaiknya melakukan aktivitas 1-3 jam makan sehingga dapat terjadi
keseimbangan antara glukosa darah dan kebuhutan kalori. Penderita harus mengetahui
efek puncak insulin karena aktivas dapat mempecepat kerja insulin, makanan tambahan
perlu disiapkan tertutama jika penderita mengalami tenda-tanda hipoglikemia
(PERKENI,2002)