Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

FRAKTUR RADIUS DISTAL

Oleh :

Amelinda Mannuela

11 2016 121

Pembimbing :

Dr. Hendar Nugrahadi Priambodo, Sp. OT

1
KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA

PERIODE 2 APRIL -10 JUNI 2018

2
A. Definisi Fraktur Radius

Terputusnya hubungan tulang radius bagian distal yang disebabkan oleh cedera pada
lengan bawah, baik trauma langsung maupun trauma tidak langsung

B. Anatomi Fisiologi Tulang Radius

Radius adalah tulang lateral lengan bawah . Ujung proximalnya bersendi dengan
humerus pada articulation cubiti, dengan ulna pada articulation radioulnaris proximal.
Ujung distalnya bersendi dengan os scaphoideum dan lunatum pada articulation
carpalis, dan dengan ulna pada articulation radioulnaris distal.

Pada ujung atas radius terdapat caput yang berbentuk bulat kecil. Permukaan atas
caput kecil dan bersendi dengan capitulum humeri yang cembung. Circumferentia
articulare radii bersendi dengan incisura radialis ulnae.

Dibawah caput tulang menyempit membentuk collum. Dibawah collum terdapat


tuberositas bicipitalis / tuberositas radii yang merupakan tempat insertion musculus
biceps.

Corpus radii berlainan dengan ulna, yaitu lebih lebar dibawah dibandingkan
dengan bagian atas. Corpus radii di sebelah medial mempunyai margo interossea yang
tajam untuk tempat melekatnya membrane interossea yang menghubungkan radius
dan ulna. Tuberculum pronator, untuk tempat insertion musculus pronator teres,
terletak di pertengahan pinggir lateralnya.

Pada ujung bawah radius terdapat processus styloideus yang menonjol kebawah
dari pinggir lateralnya. Pada permukaan medial terdapat incisura ulnae, yang bersendi
dengan caput ulnae yang bulat. Permukaan bawah ujung radius bersendi dengan os
scaphoideum dan os lunatum. Pada permukaan posterior ujung distal radius terdapat
tuberculum kecil, tuberculum dorsalis, yang pada pinggir medialnya terdapat sulcus
untuk tendo musculi flexor pollicis longus.

Articulatio yang terdapat pada os radius :

Articulatio humeroradialis yaitu articulation antara capitulum humeri os


humerus dengan fovea articularis os radii.

3
Articulatio radioulnaris proximal yaitu articulation antara incisura radialis os
ulna dengan circumferential articularis caput radii os radii.. Diperkuat oleh
ligamentum anulare radii.

Articulatio radioulnaris distal yaitu antara incisura ulnaris os radii dengan caput
ulna os ulna. Diperkuat oleh ligamentum radioulnare.

Articulatio radiocarpalis yaitu antara facies articularis carpalis os radii dengan


facies articularis os scaphoideum et os lunatum.

Os ulna dan os radius dihubungkan oleh articulatio radioulnar yang diperkuat oleh
ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius, dan di distal oleh sendi
radioulnar yang diperkuat oleh ligamen radioulnar, yang mengandung fibrokartilago
triangularis. Membranes interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna
merupakan satu kesatuan yang kuat . Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai
satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir
selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah tersebut.

Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu otot supinator,
m. pronator teres, dan m. pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-supinasi.
Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan ulna
menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi,
terutama pada radius.

Otot – otot yang terdapat pada antebrachii ventral superficial:

m. Pronator Teres,

m. Flexor Carpi Radialis,

m. Palmaris Longus,

m. Flexor Digitorum Superficil,

m. Flexor Carpi Ulnaris.

Otot – otot yang terdapat pada antebrachii ventral profunda:

m. Flexor Digitorum Profunda,

m. flexor Pollicis Longus,

4
m. Pronator Quadratus.

Otot – otot yang terdapat pada antebrachii lateral:

m. Brachioradialis,

m. Extensor Carpi Radialis Longus,

m. Extensor Carpi Radialis Brevis.

Otot – otot yang terdapat pada antebrachii dorsal superficial :

m. ektensor digitorum,

m. Extensor Digiti minimi,

m. Ektensor Carpi Ulnaris

Otot – otot yang terdapat pada antebrachii dorsal profunda:

m. supinator,

m. Ektensor Pollicis Longus,

m. Ektensor Indicis,

m. Abductor Pollicis Longus,

m. Ektensor pollicis Brevis.

Dari semua otot di antebrachii, otot yang berorigo pada os radii :

m. Flexor Digitorum Superficial,

m. Flexor Pollicis Longus,

m. Abduktor Pollicis Longus,

m. Extensor Pollicis Brevis.

Dari semua otot di antebrachii, otot yang berinsersi pada os radii :

m. Pronator Teres,

m. Pronator Quaratus,

m. Brachioradialis,

5
m. Supinator

Metafisis dari bagian distal tulang radius terutama terdiri dari tulang spongiosa.
Permukaan artikularnya berbentuk bikonkav yang berartikulasi dengan baris carpal
proximal yaitu tulang skapoid dan tulang lunatum, yang juga berartikulasi dengan
bagian distal ulna. Delapan puluh persen beban axial disokong oleh tulang radius, dua
puluh persennya disokong oleh tulang ulna dan (TFCC) kompleks fibrokartilago
triangular. Dorsoflexi dapat menyebabkan perpindahan beban ke tulang ulna dan
TFCC, beban sisanya ditanggung oleh distal radius dan terkonsentraksikan pada
bagian dorsan pada fossa scaphoid. Banyak ligamen ada di distal radius yang biasnya
tetap utuh pada fraktur distal radius. Hal ini menyebabkan terjadinya reduksi melalui
“ligamentotaxis”. ligamen volar lebih kuat dan memberi stabilitas pada persendian
radiocarpal daripada dorsal ligamen.

Gerakan Pada Pergelangan Tangan

Sendi radioulnar distal adalah sendi antara ‘cavum sigmoid radius’ (yang terletak
pada bahagian dalam radius) dengan ulna. Pada permukaan sendi ini terdapat
‘fibrocartilago triangular’ dengan basis melekat pada permukaaan inferior radius dan
puncaknya pada prosesus styloideus ulna. Sendi ini membantu gerakan pronasi dan
supinasi lengan bawah, di mana dalam keadaan normal gerakan ini membutuhkan
kedudukan sumbu sendi radioulnar proksimal dan distal dalam keadaan ‘coaxial’.
Adapun nilai maksimal rata-rata lingkup sendi dari pronasi dan supinasi sebagai
berikut :

1. pronasi = 80 - 900

2. supinasi = 80 - 900

Sendi Radio Carpalia merupakan suatu persendian yang kompleks, dibentuk oleh
radius distal dan tulang carpalia ( os navikulare dan lunatum ) yang terdiri dari ‘inner
dan outer facet’. Dengan adanya sendi ini tangan dapat digerakkan ke arah volar,
dorsal, radial dan ulnar secara sirkumdiksi. Sedangkan gerakan rotasi tidak mungkin
karena bentuk permukaan sendi ellips. Rata-rata gerakan maksimal pada pergelangan
tangan adalah sebagai berikut:

6
1. fleksi dorsal = 50 – 800

2. fleksi volar/palmar= 60 – 850

3. deviasi radial = 15 - 290

4. deviasi ulnar = 30 - 460

Dalam posisi pronasi secara normal sendi radio carpalia ini mempunyai sudut 1 – 230
ke arah palmar polar.

C. Klasifikasi

Klasifikasi secara deskriptif:

Fraktur tertutup dan terbuka

Fraktur tertutup adalah fraktur dengan kulit utuh melewati tempat fraktur
dimana tulang tidak menonjol keluar melewati kulit.

Fraktur terbuka adalah fraktur dengan robeknya kulit pada tempat fraktur,
luka berhubungan dengan kulit ke tulang. Oleh sebab itu fraktur berhubungan
dengan lingkungan luar, sehingga berpotensi terjadi infeksi. Fraktur terbuka
lebih lanjut dibedakan menjadi 3 berdasarkan beratnya fraktur.

Grade I : disertai kerusakan pada kulit yang minimal kurang dari 2 cm.

Grade II : luka > 2 cm dengan kulit dan luka memar pada otot.

Grade III : luka lebar dengan kerusakan hebat

IIIA : fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak,


walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.

IIIB : fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga


tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum,
fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan
merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.

7
III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar
kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang
derajat kerusakan jaringan lunak.

Displacement : berpindahnya fragmen tulang dari tempatnya semula.


Displacement ini dibagi menjadi 4, yaitu :

Aposisi. Fragmen tulang mengalami perubahan letak sehingga terjadi


perubahan dalam kontak antara fragmen tulang proksimal dan distal. Pada
pemeriksaan radiologik, aposisi dinyatakan dalam persentase kontak antara
fragmen proksimal dan distal.

Alignment. Kondisi miringnya fragmen tulang panjang sehingga arah aksis


longitudinalnya berubah. Apabila antara aksis longitudinal fragmen proksimal
dan distal membentuk sudut maka disebut angulasi. Pada pemeriksaan
radiologi, angulasi ini dinyatakan dalam derajat.

Rotasi. Rotasi adalah berputarnya fragmen tulang pada aksis longitudinalnya,


misalnya fragmen distal mengalami perputaran terhadap fragmen proksimal.

Length (panjang) dapat dibagi menjadi 2, yaitu overlapping (tumpang


tindihnya tulang) yang menyebabkan pemendekan (shortening) tulang, serta
distraksi yang menyebabkan tulang memanjang.

Comminution : Fraktur yang memiliki dua atau lebih fragmen tulang.

Klasifikasi berdasarkan keterlibatan intra-artikular (FRYKMAN)

Fraktur Distal Ulna


Fraktur
Absen Ada

Ekstra-artikular I II

Intra-artikular dengan sendi rediocarpal terlibat III IV

8
Intraartkular dengan sendi redioulnar distal (DRUJ) terlibat V VI

Intra-artikular dengan radio carpal dan DRUJ terlibat VII VIII

Eponim

Fraktur colles adalah fraktur ekstra-artikular atau intra artikular distal radius
dengan angulasi dorsal, displacement dorsal, radial shift, dan pemendekan radial.
Secara klinis dideskripsikan sebagai deformitas “dinner fork”. Lebih dari 90%
fraktur radius distal memiliki pola ini. Mekanisme cederanya adalah jatuh dengan
hiperextensi, deviasi pergelangan tangan ke arah radius dengan pronasi.

Fraktur Smith (reverse fraktur colles) adalah fraktur dengan angulasi volar
pada radius distal dengan deformitas garden spade atau displacement volar tangan
dan distal radius. Mecanisme cederanya adalah jatuh dengan pergelangan tangan
fleksi dan lengan bawah supinasi. Merupakan pola fraktur yang tidak stabil,
sering membutuhkan open reduction dan internal fixation.

Fraktur Barton mekanisme cederanya adalah geser yang menghasilkan


fraktur dislokasi atau subluksasi dari pergelangan tangan dimana artinya terjadi
displace pada bagian dorsal distal radius. Mekanismenya yaitu terjatuh dengan
pergelangan tengan dosofleksi dan lengan bawah pronasi. Hampir semua fraktur
tipe ini tidak stabil dan membutuhkan open reduction dan internal fixation dengan
buttres plate

Fraktur radial styloid (chaeffeur’s fracture, backfire fracture, hutchinson


fracture) fraktur avulsi dengan ligamen ekstrinsik tetap menempel pada fragmen
styloid. Mekanisme cederanya adalah denga kompresi scaphoid dengan styloid
ketika pergelangan tangan dorsoflexi dan ulnar deviasi. Sering disertai cedera
ligamen intercarpal dan sering dibutuhkan opern reduction serta internal fixation.

D. Mekanisme Cedera

Mekanisme yang paling sering pada individu muda adalah jatuh dari
ketinggian, kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan olahraga. Pada usia lanjut,
fraktur distal radius dapa disebabkan dari mekanisme rendah-energi, seperti jatuh

9
dari berdiri. Mekanisme yang paling sering adalah terjatuh dengan keadaan
tangan lurus tetapi pergelangan tangan dorso-fleksi. Fraktur dari distal radius
terjadi jika sudut dorsofleksi pergelangan tangan 400 - 900=, semakin kecil tenaga
maka semakin kecil sudutnya. Awalnya, radius rusak menahan tekanan dari volar,
dengan fraktur mengarah ke bagian dorsal sedangkan energi ketika pergelangan
tengan tertekuk menyebabkan stress kompresi sehingga bagian dorsal pecah.
Penurunan stabilitas bagian dorsal diperburuk dengan tekanan tulang spongiosa
pada metafisis.

E. Patofisiologi Fraktur Radius

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah
penderita terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan. Pada saat
terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian
tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan
patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang
spongiosa. Khusus pada fraktur Colles’ biasanya fragmen distal bergeser ke
dorsal, tertarik ke proksimal dengan angulasi ke arah radial serta supinasi.
Adanya fraktur prosesus styloid ulna mungkin akibat adanya tarikan triangular
fibrokartilago atau ligamen ulnar collateral. Pada bahaian dorsal radius frakturnya
sering komunited, dengan periosteum masih utuh, sehingga jarang disertai trauma
tendon ekstensor. Sebaliknya pada bahaian volar umumnya fraktur tidak
komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai dengan trauma
tendon fleksor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris.
Fraktur pada radius distal ini dapat disertai dengan kerusakan sendi radio carpalia
dan radio ulna distal berupa luksasi atau subluksasi. Pada sendi radio ulna distal
umumnya disertai dengan robekan dari triangular fibrokartilago.

Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan


pada beberapa bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat
mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum
kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan
mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli
lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli

10
lebih besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran
darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.

Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu
sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat
menekan persyarafan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan
gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal, dan kelemahan.

F. Tanda dan Gejala Fraktur Radius

Pada pasien biasanya tampak deformitas pergelangan tangan (bervariasi) dan


displacement tangan yang berhubungan dengan pergelangan tangan (dorsal pada
colles atau dorsal pada fraktur barton dan volar pada fraktur tipe smith).
pergelangan tangan biasanya bengkak dengan ekimosis dan nyeri jika digerakkan.
Siku dan bahu ipsilateral sebaiknya diperiksa untuk melihat adanya cedera yang
berkaitan. Pemeriksaan neurovaskular juga harus dilakukan dengan fokus pada
fungsi nervus median. Gejala carpal tunnel compresion sering terjadi karena
adanya traksi ketika terjadi hiperekstensi pergelangan tangan, trauma langsung
dari fragmen tulang, formasi hematom, atau peningkatan tekanan kompartmen.

G. Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Radius

Foto rontgen pergelangan tangan penampang posteroanterior dan lateral.


Dapat ditambahkan penampang oblique untuk melihat fraktur lebih lanjut. Jika
ada gejala pada bahu atau siku, juga harus dievaluasi secara radiologis.
Penampang pergelangan tangan kontralateral dapat diperiksa untuk melihat
variasi normal ulnaris dan sudut scapholunatum. CT scan juga dapat dilakukan
untuk melihat keterlibatan ntra artikular.

Normal radiografi :

Inklinasi radial : Diukur dari foto antero posterior (AP), merupakan sudut yang
dibentuk antara garis yang menghubungkan ujung radial styloid dengan sudut

11
ulnar dari distal radius dengan garis yang tegak lurus pada axis longitudinal.
rata-ratai 23 derajat (range 13 - 30 derajat)

Panjang radial : Diukur dari foto AP, merupakan jarak antara dua garis yang
tegak lurus pada axis longitudinal, garis pertama melalui tepi ujung dari radial
styloid, garis kedua merupakan garis yang melalui permukaan sendi ulna. normal
11 mm (range 8 - 18 mm)

Kemiringan palmar (volar) : Diukur dari foto lateral, merupakan sudut yang
dibentuk oleh garis yang menghubungkan tepi dorsal dan tepi volar radius dengan
garis yang tegak lurus pada axis longitudinal. rata-rata 11 - 12 derajat (range 0 -
28 derajat)

Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :

- Darah lengkap

- Golongan darah

- Masa pembekuan dan perdarahan.

- EKG

- Kimia darah.

H. Penatalaksanaan

Faktor yang mempengaruhi terapi adalah

1. Pola fraktur

2. Faktor local :kualitas tulang, soft tissue injury, fraktur comminuition,


fraktur displacement, and tenaga yang menyebabkan cedera

3. Faktor pasien : umur fisiologis pasien, lifestyle, okupasi, dominansi tagan,


kondisi medis yang berkaitan, cedera lain yang berkaitan, dan kemauan.

Parameter radiologis untuk reduksi pada pasien sehat dan aktiv yaitu :

1. Radial length : 2-3 mm dari pergelangan tangan kontralateral

12
2. Palmar tilt : neutral tilt (0 derajat), sampai 100 angulasi dorsal

3. Intra articular step off : < 2mm

4. Radial inclination : loss <50

Pengobatan Konservatif

Pengobatan konservatif meliputi reposisi tertutup dan kemudian dilanjutkan


dengan immobilisasi.

Teknik Reposisi

Reposisi dapat dilakukan dengan memakai anestesi lokal, regional blok (plexus
brachialis dan axilaris) atau anestesi umum. Sering dipakai penggunaan infiltrasi
lokal lidokain 1% atau 2% sebanyak 10-20 ml. Lokal anestesi sangat bagus dan
tidak ada resiko infeksi. Anestesi umum mempunyai keunggulan dalam hal
mendapatkan relaksasi otot yang baik, namun cara ini tidak dapat digunakan
untuk kasus rawat jalan. Cara lain yang cukup aman adalah anestesi regional
intravena dan blok plexus axilaris. Reposisi harus dilakukan segera sebelum
adanya edema yang dapat mengganggu. Secara umum prinsipnya adalah dengan
melakukan ‘Disimpaksi, Traksi, Reposisi dan Immobilisasi’.

Traksi dilakukan selama 2-5 menit, tipe Bohler melakukan traksi pasif dengan
bantuan gravitasi dan ‘finger chinese trap’ selama 5-10 menit dan counter traksi
pada humerus dengan beban 3-10 kg dalam posisi siku fleksi 900. Secara umum
reposisi bukanlah hal yang sulit dibandingkan dengan mempertahankan hasil
reposisi. Metode Charnley, impaksi dibebaskan dengan cara melakukan
hiperekstensi yang diikuti segera dengan fleksi palmar dan pronasi untuk
mengunci fragmen fraktur. Biasanya periosteum yang intak serta jaringan ikat
dari tendon sheath membentuk semacam engsel pintu yang mempertahankan
stabilitas fragmen fraktur. Tetapi harus diingat bahwa tindakan melakukan
hiperekstensi mungkin akan menambah kerusakan jaringan lunak disekitarnya.

13
Fungsi yang baik tercapai jika paska reposisi angulasi dorsal < 150 dan
pemendekan radius < 3 mm (De Palma).

Metode Immobilisasi

Berbagai teknik pemasangan cast telah dikenal. Pada prinsipnya cast tidak boleh
melebihi atau melewati sendi metacarpofalangeal, dimana jari-jari harus dalam
posisi bebas bergerak. Immobilisasi dapat dipakai gips ataupun functional brace,
yang dapat dipasang di atas atau di bawah siku. Yang paling sering dipakai dan
hasilnya cukup stabil ialah pemasangan below elbow cast.

Posisi pergelangan tangan

Dilakukan dengan posisi palmar fleksi 150 dan ulnar deviasi 200, karena dengan
posisi tersebut tendon ekstensor dan otot brakhioradialis sedikit teregang sehingga
dapat menambah stabilitas hasil reposisi. Tetapi posisi palmar fleksi dan ulnar
deviasi yang ekstrim akan menimbulkan komplikasi berupa edema dan kompresi
saraf medianus, sehingga jari sukar digerakkan yang akhirnya dapat menimbulkan
kekakuan. Dapat juga menempatkan pergelangan tangan pada posisi netral
dengan membuat penekanan pada bagian dorsal dan radial dari cast untuk
mencegah displacement / pergeseran.

Posisi lengan bawah

Below elbow cast menghasilkan posisi netral dari lengan bawah, sehingga pronasi
dan supinasi tidak dikurangi secara penuh. Beberapa penulis menganjurkan posisi
supinasi dalam pemakaian above elbow cast. Penurunan aktivitas otot
brakhioradialis yang berinsersi pada distal radius berperanan penting terhadap
penyebab redislokasi pada fraktur Colles’. Seperti diketahui bahwa otot
brakhioradialis merupakan otot fleksi sendi siku yang cukup kuat, dengan insersi
pada prosesus styloideus radius akan teregang dan cenderung berkontraksi untuk
menarik fragmen distal ke arah dorsal. Karena itu dianjurkan posisi supinasi
untuk immobilisasi.

14
Keuntungan Posisi Supinasi :

1. Mengurangi aksi otot brakhioradialis.

2. Mengurangi kecenderungan redislokasi.

3. Terbaik dalam penyembuhan ligamentum collateral radius.

4. Mudah menilai pemeriksaan radiologis.

5. Mudah untuk latihan jari-jari.

6. Mobilisasi mudah karena posisi pronasi dibantu gravitasi.

7. Jika ada gangguan pronasi dapat dikompensasi oleh adduksi bahu.

Lama Immobilisasi

Lama pemasangan gips bervariasi antara 3 – 6 minggu. Selama pemasangan gips


akan terjadi perubahan rata-rata VA 0-150, RA 0-80 dan RL 0-8 mm. Pada kasus
yang minimal displacement immobilisasi cukup 3 – 4 minggu, sedang pada
tindakan operatif berkisar 6 – 12 minggu.

Pengobatan Operatif

Dilakukan pada kasus-kasus yang tidak stabil seprti fraktur yang kominutif,
angulasi hebat > 200, serta adanya kerusakan pada permukaan sendi terutama
pada penderita usia muda atau adanya redislokasi dini dengan cara pengobatan
konservatif.

Teknik alternatif antara lain fiksasi interna dan fiksasi eksterna.

Fiksasi Interna :

1. Fiksasi interna

2. Fiksasi interna dengan K-wire (Ulnar pinning) atau Ellis butress plate

3. Percutaneus Pinning Post Reposition (sering untuk umur tua)

4. Cancelous bone grafting

15
5. Ligamentotaxis + bone grafting

Fiksasi Eksterna :

1. Frykman tipe 5-8

2. Dorsal angulasi > 250

3. Pemendekan radius > 10 mm

4. Fraktur intra artikuler kominutif

5. Redislokasi setelah reposisi

6. Fraktur bilateral

Teknik Operasi

Percutaneus pinning

Terutamaa digunakan untuk fraktur ekstraartrikular atau fraktur intraartikular dua


bagian. Digunakan dua atau tiga kirschner wire ditempatkan melewati bagian
yang fraktur. Umumnya dari styloid radius ke arah proksimal dan dari sisi
dorsoulnar dari fragmen distal ke arah proksimal. Pins dapat dilepas 6-8 minggu
post operasi ditambah 2-3 minggu penggunaan cast

Kapandji “intrafocal” pinning

Merupakan teknik “trapping” fragmen distel dengan buttressing untuk mencegah


displcament. Wire dimasukkan dari sisi radial dan dorsal kearah fraktur.
Kemudian wire diarahkan ke korteks proksimal sebrang.

External fixation

Spanning external fixation : ligamentotaxis digunakanuntuk mengembalikan


radial length dan radial inclination. Dibutuhkan tambahan k-wire fixation. Hindari
overdistraction karena dapat menyebabkan kaku jari.pins dipasang 6-8 minggu

16
Nonspanning eksternal fixation : menstabilakn fraktur distal radius dengan
securing pins pada bagian radius saja. Diaras dan dibawah daerah fraktur.

Open reduction and internal fixation

Dorsal plating : fiksasi pada bagian kompresi fraktur dan membutuhkan buttress.
Dorsal plating berkaitan dengan komplikasi tendon ekstensor

Volar nonlocked plating : buttress plate untuk fraktur shear/geser pada volar
barton. Dapat mempertahankan reduksi fraktur pada dorsal comminution

Volar locked plating : menstabilisasi fraktur distal radius dengan dorsal


comminution

Fragmen specific plating : untuk pola fraktur yang kebih kompleks melibatkan
beberapa aspek radial dan colum ulna

Adjunctive fixation : Suplemental graft bisa autograft, allograft, atau sintetic


graft.

Athroscopically assisted intra-articular fracture reduction

Fraktur yang dapat dintungkan dengan penggunaan artroskopi adalah frektur


artikular tanpa metafisis comminution dan fraktur dengan bukti cedera ligamen
interosseous substansial atau cedera TFCC tanpa fraktur dasar styloid ulna yang
besar

I. Komplikasi

Kompressif Neuropathy

Umumnya terjadi akibat anestesi lokal, teknik reposisi yang salah dan posisi
ekstrem dari palmar fleksi dan ulnar deviasi sehingga terjadi neuropati terutama
median neuropati, 0,2-5% dari kasus yang terjadi, kebanyakan mengenai
n.medianus pada carpal tunnel. Stewart, menemukan tidak ada hubungan antara

17
kompresi saraf dengan displacement awal. Nampaknya delayed carpal tunnel
berhubungan dengan akhir volar angle shift. Indikasi operasi bila ada rasa sakit
dan hilangnya sensasi yang berat. Kompresi n.ulnaris jarang, parastesia dari n.
radialis tidak sering dan biasanya hilang spontan dalam beberapa minggu.

Malunion

Tidak ada kriteria yang jelas. Kebanyakan terjadi akibat redislokasi dan
kemungkinan menyebabkan limitasi gerak, deformity kosmetik dan rasa sakit.
Terapi : wedge osteotomy.

Arthritis post trauma

Tidak ada kesepakatan mengenai definisi arthritis di sini. Klinis : rasa sakit pada
gerakan dan gangguan gerakan. X-ray : penyempitan rongga sendi, sclerosis,
subchondral clearing, osteofit. Insidens bervariasi mulai 5-40%, terutama terjadi
setelah fraktur intraartikuler. Terapi dapat berupa : fusi pergelangan tangan,
proximal row carpectomy, total prostetic arthroplasty

Stiff Hands

Akibat arthro-fibrosis atau perlengketan tendon fleksor dengan manifestasi berupa


oedema jari-jari tangan disertai gangguan pergelangan tangan.

Fisioterapi atau Rehabilitasi

Bertujuan agar fungsi tangan kembali normal dan penderita dapat bekerja seperti
biasa setelah 3-4 bulan. Periode ini saat dari pengangkatan cast, brace, atau fiksasi
skeletal sampai pulihnya fungsi. Latihan fungsional harus dilakukan oleh
penderita sendiri dengan pengawasan dokter. Waktu 4 bulan dapat dikatakan
normal untuk bisa bekerja lagi. Tetapi hasil akhir penyembuhan baru bisa
ditentukan sekitar 1 tahun setelah trauma. Kekuatan menggenggam bisa dipakai
sebagai parameter yang baik untuk perbaikan fungsi rehabilitasi.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

1. Apley, A.G., (1995). Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley (7th ed.).
Jakarta: Widya Medika.
2. Bucholz, R.W., Heckman, J.D., Court-Brown, C.M., Tornetta, P. (2010).
Rockwood and Green’s Fracture in Adults: Fracture of Neck and
Intertrochanteric Femur (7th ed.). Philadelphia
3. Campbell’s Operative Orthopaedic: Fracture of Hip (11th ed). Philadelphia:
Mosby Elsevier.
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2005). Rencana Strategi
Departemen Kesehatan. Jakarta: Depkes
5. Halstead, A.J. (2004). Orthopedic nursing: caring patients with muskuloskeletal
disorders, Western Schools, Inc. All Rights Reserved chapter 14 ; 147-150.
6. AO Principles of Fracture Management: Fracture of Proximal Femur (2nd ed.).
Switzerland: AO Publishing.
7. Setyonegoro, K. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas. Teori dan Praktek
dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
8. Sjamsuhidayat, de Jong. BUKU AJAR ILMU BEDAH EDISI 3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran ECG. 2011. p959-1083.
9. Smeltzer dan Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol.1. Jakarta:
EGC.
10. Solomon, L., Warwick, D., Nayagam, S. (2010). Apley’s System of Orthopaedics
and Fracture: The Hip (9th ed.). London:

20