Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

IKTERUS NEONATORUM

Oleh:

Anak Agung Wulan Vikanaswari Adnyana

177008035

Pembimbing :

dr. Putu Triyasa, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD SANJIWANI GIANYAR
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hiperbilirubinemia adalah terjadinya peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar deviasi atau
lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil 90. Jika kadar
bilirubin tak terkonyugasi mengalami peningkatan akan menimbulkan pewarnaan kuning pada
konjungtiva, kulit maupun mukosa keadaan klinis ini disebut ikterus neonatorum.1
Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan yang dapat ditemukan baik pada bayi cukup bulan
(60%) maupun pada bayi prematur (80%). Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi
secara optimal sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan
tersebut akan menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi dalam darah.2,3

Indikator millennium development goal pada tahun 2015 yaitu dalam pembangunan
kesehatan suatu negara pentingnya penurunan angka kematian ibu dan bayi atau anak.4 Angka
kematian bayi usia 0-12 bulan di Indonesia masih sangat tinggi 34/1000 kelahiran hidup, dimana
bayi baru lahir atau neonatus usia 0-28 hari merupakan kelompok usia paling banyak yaitu 19/1000
kelahiran hidup. Menurut Riskesdas tahun 2007 terdapat tujuh faktor yang menjadi penyebab
tingginya kematian pada neonatus yaitu gangguan pernapasan (35,9%), prematuritas dan BBLR
(32,4%), sepsis (12%), hipotermi (6,3%), kelainan darah/hiperbilirubinemia (5,6%), kelainan
kongenital (5%) dan post matur (2,8%). Kelainan darah/hiperbilirubinemia merupakan peringkat
ketiga terbawah menjadi penyebab terjadinya kematian pada neonatus, namun hiperbilirubinemia
dapat menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan kecacatan.5,6 Berdasarkan data dari
Departemen Kesehatan RI tahun 2002 yang menyebutkan bahwa angka kematian bayi di Indonesia
tercatat sebanyak 48/1000 kelahiran hidup dan salah satu penyebab angka kematian neonatal pada
minggu pertama adalah ikterus neonatorum dengan persentase sebesar 6,6%. Meskipun
hiperbilirubinemia memiliki persentase yang kecil sebagai penyebab kematian neonatal namun
dampak yang ditimbulkan terhadap keadaan tersebut cukup berat. Peningkatan bilirubin secara
berlebih berpotensi menjadi toksik dan dapat menyebabkan kematian dan apabila bayi tersebut
dapat bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan kelainan neurologis.

2
Ikterus neonatorum perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik sehingga dapat
menurunkan angka kematian bayi. Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, ikterus
neonatorum merupakan kompetensi 4A sehingga bagi dokter perlu mengetahui bagaimana
menentukan diagnosis dan tatalaksana dari ikterus ini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk
membahas laporan kasus mengenai ikterus neonatorum.5,7

3
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : By NMS
Usia : 3 hari
Nama Ibu : NMS
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Br. Batanancak Mas, Ubud
Suku : Bali
Berat badan lahir : 3100 gram
MRS : 17/07/2017
Tanggal pemeriksaan : 17/07/2017
No Rekam Medis : 600487

II. Anamnesis
Keluhan Utama : Kuning (Ibu pasien)
Pasien datang ke UGD RS Sanjiwani pada tanggal 17 April 2017, pasien dikeluhkan berwarna
kuning sejak dua hari yang lalu (kurang 24 jam setelah lahir) dan memberat sejak kemarin malam.
Kuning dikeluhkan pada wajah, lengan, perut hingga kakinya. Keluhan kuning dikatakan
muncul terus menerus. Untuk mengurangi keluhan kuning ibu pasien sudah memberikan ASI
kepada bayinya dengan frekuensi yang lebih sering daripada biasanya. Keluhan ini dikatakan
timbul tiba-tiba yang berawal dari bagian wajah hingga badan. Keluhan lain seperti demam (-),
kejang (-), anus (+), kelainan kongenital (-), minum dikatakan kuat, tangis kuat dan gerak aktif,
BAK (+) dan BAB (+).

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Kakak pasien dikatakan mengalami kuning saat lahir karena lahir dengan berat badan lahir rendah
(2300 gram). Riwayat demam pada ibu saat kehamilan disangkal.

4
Riwayat Pribadi/Sosial
- Riwayat Persalinan
Bayi lahir di Bidan pada tanggal 14 Juli 2017 pukul 22.00 WITA secara spontan dengan
berat badan lahir 3100 gram, panjang badan 50 cm, lingkar kepala dan lingkar dada
dikatakan lupa. Bayi lahir segera menangis setelah lahir. Status general pada kepala
terdapat tidak terdapat caput dan yang lain masih dalam batas normal.
Bayi merupakan anak ke II lahir dari ibu berumur 28 tahun dengan usia kehamilan 39
minggu 5 hari. Tidak terdapat riwayat keputihan, nyeri saat kencing dan demam pada
ibu. Pada saat melahirkan secara spontan, ketuban berwarna jernih dan tidak berbau.
Ibu bayi merupakan seorang ibu rumah tangga dan golongan darah ibu adalah O.

- Riwayat Imunisasi
Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya belum mendapatkan imunisasi hepatitis B.

- Riwayat Nutrisi
ASI : 0 – sekarang
Susu Formula :-
Bubur Susu :-
Nasi tim :-
Makanan Dewasa :-

- Riwayat Tumbuh Kembang


Menegakkan kepala :-
Membalik badan :-
Duduk :-
Merangkak :-
Berdiri :-
Berjalan :-
Bicara :-

5
III. Pemeriksaan Fisik
a. Status present (17/7/2017)
 Kesadaran : compos mentis
 Nadi : 140 x/menit reguler, isi cukup
 RR : 36 x/menit, reguler
 Suhu Axila : 36,6°C

b. Status gizi
Status nutrisi pasien berdasarkan grafik Lubchenco sesuai dengan masa kehamilan
(pada persentil 10 – persentil 90), yakni berat badan lahir berdasarkan usia kehamilan
pada persentil 25-50, dan panjang badan berdasarkan usia kehamilan terletak pada
persentil 50-75.

c. Status general:
 Kepala : Normocephali
 Mata : Konjungtiva pucat (-/-), hiperemi (-/-), Sclera ikterik (+/+)
 THT : Telinga : sekret (-)
Hidung : sekret (-), nafas cuping hidung (-)
Tenggorokan : faring hiperemi (-), Tonsil T1/T1 hiperemi -/-
 Bibir : sianosis (-)
 Leher : Pembesaran kelenjar (-), kaku kuduk (-)
 Thorax : Simetris (+), retraksi (-)
Cor : S1 S2 normal, reguler, murmur (-)
Pulmo : Bronkovesikuler, Ronchi -/-, Wheezing -/-
 Abdomen
Inspeksi : Distensi (-), bising usus (+) normal
Palpasi : nyeri tekan (-), Hepar : tidak teraba, lien: tidak teraba turgor
kembali cepat
 Ekstremitas : Keempat ekstremitas hangat, edema (-), CRT < 2 detik
 Kulit : Sianosis (-), Kremer IV

6
IV. Pemeriksaan Penunjang (17/07/2017)
Parameter Hasil Nilai Normal Satuan Remark
Billirubin 16,93 0,00 - 12,00 mg/dL H
total
Billirubin 0,53 0,00 – 0,40 mg/dL H
direct
Billirubin 16,40 0,00 – 0,05 mg/dL H
indirect

Pemeriksaan golongan darah bayi: golongan darah A

V. Diagnosis Kerja

Neonatus cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan, Hiperbilirubinemia patalogis e.c ABO
incompatibility

VI. Penatalaksaan
- Jaga kehangatan,
- ASI on demand,
- Rawat tali pusat,
- Fototerapi intensif selama 3x24 jam.

VII. Perkembangan Pasien


Tabel Perkembangan Pasien
Tanggal Subjective, Objective, Assesment, Planning Terapi

(Jam)

18/7/2017 S: demam (-), tangis (+), gerak aktif (+), BAB (+), - Jaga kehangatan
BAK (+), kuning (+), muntah (-) - Rawat tali pusat
(06.00)
- ASI on demand
O: St present
- Fototerapi 3x24 jam (sampai
O
HR: 144 x/menit, RR: 38x/menit, Tax: 36,6 C 20-7-2017 pukul 14.00)

7
St general - Evaluasi bilirubin post
fototerapi
Kepala: normosefali

Mata : anemis (-), ikterus (+) Monitoring : vital sign, tanda

THT : NCH (-) dehidrasi, ikterus

Thorax : simetris (-), retraksi (-)

Cor: S1S2 tunggal regular murmur (-)

Pulmo : bves +/+, rh -/-, wh -/-

Abdomen : distensi (-), BU(+)N

Ekstremitas : hangat (+), edema (-), CRT <3dtk,


Kremer : IV

A: BCB + SMK + Ikterus Neonatorum e.c ABO


incompatibility

19/7/2017 S: demam (-), tangis (+), gerak aktif (+), BAB (+), - Jaga kehangatan
BAK (+), kuning (+) berkurang, muntah (-) - Rawat tali pusat
(06.00)
- ASI on demand
O: St present
- Fototerapi 3x24 jam (sampai
O
HR: 132 x/menit, RR: 42x/menit, Tax: 36,9 C 20-7-2017 pukul 14.00)

St general - Evaluasi bilirubin post


fototerapi
Kepala: normosefali

Mata : anemis (-), ikterus (+) Monitoring : vital sign, tanda


dehidrasi, ikterus
THT : NCH (-)

Thorax : simetris (-), retraksi (-)

Cor: S1S2 tunggal regular murmur (-)

Pulmo : bves +/+, rh -/-, wh -/-

8
Abdomen : distensi (-), BU(+)N

Ekstremitas : hangat (+), edema (-), CRT <3dtk

A: BCB + SMK + Ikterus Neonatorum e.c ABO


incompatibility

20/7/2017 S: demam (-), tangis (+), gerak aktif (+), BAB (+), - Jaga kehangatan
BAK (+), kuning (-), muntah (-) - Rawat tali pusat
(06.00)
- ASI on demand
O: St present
- Fototerapi 3x24 jam (sampai
O
HR: 148 x/menit, RR: 46x/menit, Tax: 36,4 C 20-7-2017 pukul 14.00)

St general - Evaluasi bilirubin post


fototerapi
Kepala: normosefali

Mata : anemis (-), ikterus (-) Monitoring : vital sign, tanda


dehidrasi, ikterus
THT : NCH (-)

Thorax : simetris (-), retraksi (-)

Cor: S1S2 tunggal regular murmur (-)

Pulmo : bves +/+, rh -/-, wh -/-

Abdomen : distensi (-), BU(+)N

Ekstremitas : hangat (+), edema (-), CRT <3dtk

A: BCB + SMK + Ikterus Neonatorum e.c ABO


incompatibility

9
BAB III
PEMBAHASAN

I. Pembahasan Kasus
Teori Kasus
DEFINISI: Pada pemeriksaan fisik terdapat warna
kuning pada wajah, lengan, perut
Ikterus Neonatorum adalah warna kuning pada
hingga kakinya. Pada pemeriksaan
kulit, membran mukosa dan sklera akibat
penunjang didapatkan kadar bilirubin
terjadinya peningkatan kadar bilirubin indirek
indirek dalam darah >5 mg/dl (16,40
dalam darah >5 mg/dl yang terjadi pada bayi baru
mg/dl).
lahir.1

KLASIFIKASI:
Ikterus fisiologis umumnya terjadi pada bayi Tidak terdapat pada kasus.
baru lahir dengan kadar bilirubin tak terkonjugasi
pada minggu pertama >2mg/dL. Kadar bilirubin
pada bayi cukup bulan yang diberikan susu
formula akan mencapai puncaknya sekitar 6-8
mg/dL pada hari ke 3 kehidupan, kemudian akan
menurun cepat selama 2-3 hari diikuti dengan
penurunan sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2
minggu. Peningkatan hingga 10-12 mg/dL masih
dapat dikatakan fisiologis bahkan hingga 15
mg/dL tanpa disertai kelainan metabolisme
bilirubin. Pada bayi yang lahir kurang bulan
dapat meningkat 10-12 mg/dl pada usia 5 hari. 1,4
Ikterus patologis terjadi dalam 24 jam Pada kasus terjadi Ikterus patologis
pertama kehidupan, kenaikan kadar bilirubin karena terdapat:
total serum >0,5 mg/dL/jam, adanya tanda-tanda • Ikterus dalam 24 jam pertama
penyakit yang mendasari setiap bayi (muntah, kehidupan
letargi, malas menetek, penurunan berat badan,

10
apneu, takipneu, atau suhu yang tidak stabil), • Kenaikan kadar bilirubin total serum
serta ikterus yang bertahan setelah 8 hari pada >0,5 mg/dL/jam yaitu sebesar 0,7
bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi mg/dL/jam
kurang bulan, ikterus yang disertai oleh beberapa • Adanya penurunan berat badan
kondisi daintaranya: berat badan lahir <2000 sebesar 100 gram
gram, usia kehamilan ibu <36 minggu, asfiksia,
hipoksia, distress napas, hipoglikemia, dan
infeksi.1,7,8

ETIOLOGI:

Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh faktor


Tidak terdapat pada kasus.
fisiologis maupun patologis atau kombinasi dari
keduanya. Risiko hiperbilirubinemia biasanya
meningkat pada bayi yang mendapat ASI kurang
adekuat dan bayi kurang bulan.
Hiperbilirubinemia fisiologis dapat disebabkan
beberapa mekanisme: 1,5
a. Peningkatan produksi bilirubin yang
disebabkan oleh:
- Masa hidup eritrosit yang lebih pendek
- Peningkatan eritropoiesis inefektif
b. Peningkatan sirkulasi enterohepatik
c. Defek uptake bilirubin oleh hati
d. Defek konjugasi karena aktivitas uridin
difosfat glukuronil transferase (UDPG-T)
yang rendah
e. Penurunan ekskresi hepatik
Ikterus patologis terjadi akibat adanya Ikterus patologis pada kasus ini terjadi
gangguan patologis seperti hemolitik dikarenakan inkompatibilitas ABO:
(inkompatibilitas golongan darah: Rh, ABO), • Golongan darah ibu O, sedangkan
defisiensi enzim G6PD dan polycythemia. golongan darah bayi A.

11
Penurunan dari clearance bilirubin juga berperan
pada breast feeding jaundice, breast milk
jaundice dan beberapa kelainan metabolik dan
endokrin.

FAKTOR RISIKO: Faktor risiko yang tedapat pada kasus


adalah:
Faktor risiko hiperbilirubinemia berat pada bayi
- Faktor risiko mayor:
usia kehamilan ≥ 35 minggu adalah:
• Ikterus muncul dalam 24 jam pertama
kehidupan
• Riwayat anak sebelumnya yang
mendapat fototerapi
- Faktor risiko minor:
• Riwayat anak sebelumnya kuning
• Umur ibu ≥ 25 tahun
• Laki-laki

PATOGENESIS:

a. Ikterus Fisiologis
Tidak terdapat pada kasus
Ikterus neonatorum fisiologis terjadi karena
a. Produksi bilirubin yang meningkat
karena peningkatan pemecahan eritrosit
pada janin

12
b. Kapasitas ekskresi hati yang rendah yang
disebabkan oleh kurangnya ikatan
ligandin dan protein di sel hepatosit atau
menurunnya aktivitas dari enzim
glucuronyl transferase, enzim yang
bertanggung jawab untuk mengikat
bilirubin dengan asam glukuronat,
sehingga membuat bilirubin larut dalam
air (konjugasi).
Terdapat dua bentuk ikterus neonatorum
pada bayi yang mendapat ASI yaitu breast milk
jaundice dan breast feeding jaundice. Harus
dibedakan antara breast milk jaundice dan breast
feeding jaundice. Breast feeding jaundice adalah
ikterus yang disebabkan oleh kekurangan asupan
ASI. Biasanya timbul pada hari ke-2 atau ke-3
pada waktu produksi ASI belum banyak. Untuk
neonatus cukup bulan yang sesuai dengan masa
kehamilan hal ini tidak perlu dikhawatirkan
karena bayi dibekali cadangan lemak coklat,
glikogen, dan cairan yang dapat
mempertahankan metabolisme selama 72 jam.
Walaupun demikian hiperbilirubinemia dapat
terjadi pada kondisi tersebut disebabkan karena
peningkatan sirkulasi enterohepatik akibat
kurangnya asupan ASI.1
Penyebab breast milk jaundice belum
diketahui tetapi diduga akibat terhambatnya
uridine diphospoglucuronic acid glucuronyl
transferasi (UDGPA) oleh hasil metabolisme

13
progesteron yaitu pregnane-3-alpha 2-beta diol
yang ada di dalam ASI sebagian ibu.5

b. Ikterus Patologis Pada kasus golongan darah ibu O dan


Ikterus dikatakan patologik apabila pigmennya, golongan darah bayi A 
konsentrasinya dalam serum, waktu timbul, dan Inkompatibilitas ABO
waktu menghilangnya berbeda dengan kriteria
yang telah disebut pada ikterus fisiologik. Ikterus
patologis dibagi menjadi: ikterus hemolitik dan
ikterus obstruktif.

Ikterus hemolitik

Penyakit hemolitik ini biasanya disebabkan oleh


inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi.9
1. Inkompatibilitas Rhesus
Bayi dengan rhesus positif dari rhesus
negatif tidak selamanya menunjukan
gejala klinis pada waktu lahir, akan tetapi
dapat ditunjukan dengan adanya ikterus
pada hari pertama kemudian akan
mengalami perburukan. Dapat juga
terjadi anemia yang makin lama akan
bertambah berat. Bilamana sebelum
kelahiran terdapat hemolisis yang berat
maka bayi dapat lahir dengan edema dan
juga disertai dengan edema, ikterus dan
pembesaran pada hepar dan lien (hydrops
fetalis).

2. Inkompatibilitas ABO
Inkompatibilitas golongan darah ABO
lebih sering ditemukan di Indonesia

14
daripada inkompatibilitas rhesus dan
merupakan penyebab dari penyakit
hemolitik pada neonatus. Kelainan ini
biasanya terjadi pada bayi dengan
golongan arah A atau B dari ibu dengan
golongan darah O. Bayi dengan golongan
darah A memiliki antigen B dan antibodi
anti B dan bayi dengan golongan darah B
yang memiliki antigen A dan antibodi
anti A. ibu dengan golongan darah O
memiliki antibodi anti A dan anti B atau
antibodi yang utama dari kelas
imunoglobulin G karena mampu
menembus plasenta antibodi IgG melekat
pada eritrosit fetus dan melapisinya
sehingga eritrosit tersebut disingkirkan
oleh sistem retikuloendotelial fetus dan
terjadilah hemolisis. Meskipun begitu,
pengaruh hemolisis hanya tampak
sebagian kecil karena isoaglutinin anti-A
dan anti-B dalam serum ibu sebagian
besar berbentuk gammaglobulin-M yang
tidak dapat menembus plasenta dan hanya
sebagian kecil ibu yang golongan O yang
memiliki gammaglobulin-G yang tinggi.
Kecenderungan ikterus oleh karena
inkompatibilitas ABO menyerang anak
pertama, sementara ikterus
inkompatibilitas rhesus tidak menyerang
anak pertama karena antibodi belum
terbentuk. Sebagian besar kasus ikterus

15
karena inkompatibilitas ABO biasanya
muncul dalam 24 jam pertama, bersifat
ringan dan seringkali ikterus hanya satu-
satunya manifestasi klinis yang dijumpai.
Umumnya kuning pada bayi tidak
menyeluruh saat lahir, bayi tidak tampak
pucat, hepar dan lien tidak tampak
membesar. Anemia biasanya ringan,
kadar hemoglobin normal atau rendah
dan dapat dijumpai retikulositosis.
Ikterus dapat menghilang dalam beberapa
hari. Bila hemolisisnya berat dan tidak
ditangani ikterus akibat inkompatibilitas
ABO dapat menyebabkan kern ikterus
hingga dapat menyebabkan kematian
sehingga sering kali diperlukan transfusi
tukar darah untuk mencegah terjadinya
komplikasi tersebut.
Uji coombs adalah uji yang dapat
dilakukan untuk mengevaluasi penyebab
ikterus dan bermanfaat pada kasus ikterus
akibat inkompatibilitas ABO. Penegakan
diagnosis didasari oleh antibodi serum
ibu dengan coombs. Uji coombs positif
mengindikasikan bahwa serum yang
diperiksa mengandung antibodi yang
melapisi eritrosit.

3. Hemolisis karena Defisiensi Enzim


Glucose 6 Phosphat Dehydrogenase
(G6PD Deficiency)

16
Defisiensi dari enzim G6PD ini
merupakan salah satu penyebab utama
terjadinya ikterus neonatorum yang
memerlukan transfusi tukar darah. Faktor
kematangan hepar, penggunaan obat-
obatan dapat menjadi penyebab
terjadinya ikterus neonatorum. Defisiensi
G6PD merupakan suatu kelainan enzim
terkait kromosom X yang sering dijumpai
dimana diperkirakan kurang lebih 400
juta di seluruh dunia. Dengan paling
banyak ditemukan di Asia Tenggara dan
menjadi penyebab tersering kejadian
ikterus dan anemia hemolitik akut. Enzim
Glucose 6 Phosphat Dehydrogenase
merupakan enzim pertama jalur
pentosafosfat yang mengubah Glucose 6
Phosphat menjadi 6 fosfo gluconat pada
proses glikolisis yang menghasilkan
nicotinamid adenine dinucleotide
phosphate (NHDPH) mereduksi glutation
teroksidasi (GSSG) menjadi glutation
tereduksi (GSH). Enzim GSH sendiri
mempunyai fungsi sebagai pemecah
peroksida dan oksidan radikal H2O2 yang
menjaga keutuhan eritrosit sekaligus
mencegah terjadinya hemolisis. Pada
umumnya pada bayi dengan defisiensi
G6PD tidak menimbulkan gejala akan
tetapi hemolisis akan terjadi bila pasien
terpapar bahan eksogen yang berpotensi

17
menimbulkan kerusakan oksidatif antara
lain obat-obatan, bahan kimia, dan
infeksi. Metode diagnostik yang paling
umum untuk menunjang defisiensi G6PD
adalah tes fenotip aktivitas enzimatik
G6PD pada darah vena.

Ikterus Obstruktif
Obstruksi dalam penyaluran empedu dapat
terjadi dalam hepar dan di luar hepar. Obstruksi
tersebut dapat menyebabkan penumpukan
bilirubin indirek dan bilirubin direk. Bila kadar
bilirubin direk melebihi dari 1 mg % maka harus
dicurigai hal-hal yang menjadi penyebab
terjadinya obstruksi seperti hepatitis, sepsis,
pyelonephritis atau obstuksi saluran empedu.
Sumbatan penyaluran empedu bisa terjadi baik
dalam hepar atau diluar hepar. Maka dari itu
kadar bilirubin direk maupun indirek dapat tejadi
peningkatan. Bila terjadi obstruksi maka
penanganan yang perlu dilakukan adalah
tindakan operatif sesuai indikasi dan bila bayi
memungkinkan dilakukan tindakan tersebut. 5,6

MANIFESTASI KLINIS:
Pada kasus warna kuning pada wajah,
Ikterus dapat hilang timbul menyerupai warna
lengan, perut hingga kakinya  Kramer
kulit terutama pada neonatus yang kulitnya
IV
gelap. Ikterus biasanya dimulai dari bagian
Didapatkan kadar bilirubin indirek
wajah kemudian turun ke batang tubuh sampai
dalam darah >5 mg/dl (16,40 mg/dl)
ekstremitas. Sebagian besar kasus
hiperbilirubinemia tidak berbahaya tetapi
kadang-kadang bilirubin yang sangat tinggi

18
dapat menyebabkan kerusakan otak (Kern
Ikterus).1,8
DIAGNOSIS:

Tampilan ikterus dapat ditentukan dengan


melakukan pemeriksaan pada bayi dalam
ruangan dengan pencahayaan baik dan menekan
kulit dengan tekanan ringan untuk melihat warna
kulit dan jaringan subkutan. Ikterus pada kulit
bayi tidak tampak jelas pada kadar bilirubin
kurang dari 4 mg/dL. Penegakan diagnosis
ikterus neonatorum berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1,5

Pasien dikeluhkan berwarna kuning


Pada anamnesis dapat ditanyakan:5
kurang 24 jam setelah lahir. Warna
- Riwayat keluarga ikterus, anemia,
kuning dikatakan pada wajah, lengan,
splenektomi, sferositosis.
perut hingga kakinya, ASI (+), minum
- Riwayat keluarga dengan penyakit hati.
dikatakan kuat.
- Riwayat saudara dengan ikterus atau
Pada saat melahirkan secara spontan.
anemia, mengarahkan pada kemungkinan
Tidak terdapat riwayat keputihan, nyeri
inkompatibilitas golongan darah atau
saat kencing dan demam pada ibu.
breast milk jaundice.
Terdapat riwayat keluarga yaitu kakak
- Riwayat sakit selama kehamilan.
pasien dikatakan mengalami kuning saat
- Riwayat obat-obatan yang dikonsumsi
lahir karena lahir dengan berat badan
ibu yang berpotensi menggeser ikatan
lahir rendah (2300 gram).
bilirubin dengan albumin (sulfonamida)
atau mengakibatkan hemolisis pada bayi
dengan defisiensi G6PD (sulfonamida,
nitrofurantoin, antimalaria).

19
- Riwayat persalinan traumatik yang
berpotensi menyebabkan perdarahan atau
hemolisis.
- Pemberian nutrisi parenteral total dapat
menyebabkan hiperbilirubinemia direk
berkepanjangan.
- Pemberian air susu ibu (ASI) yang harus
dibedakan antara breast milk jaundice
dan breast feeding jaundice.
Pada pemeriksaan fisik pada pasien ikterus Pada saat pemeriksaan (17/07/2017) bayi
meliputi inspeksi warna kuning pada kulit, terlihat pada wajah, lengan, perut
konjungtiva, dan mukosa serta warna feses hingga kakinya, tidak demam, tidak
(dempul) dan urine (coklat tua). Ikterus terbaik kejang, gerak aktif, tangis kuat, ASI (+),
dilihat dengan cahaya matahari dengan BAB (+), BAK (+). Status present
meregangkan daerah kulit yang diperiksa, dan didapatkan denyut jantung 140
diperkirakan kadar bilirubin dilihat dengan kali/menit, respirasi 36 kali/menit, dan
klasifikasi Kramer. Periksa tanda-tanda temperature aksila 36,6oC. Pada status
dehidrasi, letargi (sepsis), pucat (anemia general didapatkan :
hemolitik), trauma lahir, petekie, mikrosefali kepala : normocepali, trauma (-),
(kelainan kongenital), hepatosplenomegali, mata : tampak ikterus (+/+), anemis (-/-
hipotiroidisme, atau massa abdomen (duktus ),
koledokus).5,8,10 THT : sekret (-), hiperemis (-),
Perkiraan Thorak : dalam batas normal,
Derajat
Luas Ikterus Kadar
Ikterus Abdomen : dalam batas normal,
Bilirubin
I Kepala dan leher 5 mg/dL
Sampai badan atas (di Kulit ikterus Kramer IV, sianosis (-).
II 9 mg/dL
atas umbilikus)
Pada saat pemeriksaan (18/05/2017) bayi
Sampai badan bawah
(di bawah umbilikus) dalam kondisi baik. Gerak aktif,
III 11 mg/dL
hingga tungkai atas (di
atas lutut) menangis, tidak demam dan tidak
Sampai lengan dan kaki
IV 12 mg/dL muntah, BAB/BAK dalam batas normal,
di bawah lutut
Sampai telapak tangan
V
dan kaki
16 mg/dL ASI (+), kuning berwarna kuning pada
wajah, perut sampai lutut, Status

20
present didapatkan denyut jantung 144
kali/menit, respirasi 38 kali/menit dan
temperatur aksila 36,6oC. Status general
didapatkan kulit ikterus Kramer III.
Pada saat pemeriksaan (19/05/2017) bayi
dalam kondisi baik. Gerak aktif,
menangis, tidak demam dan tidak
muntah, BAB/BAK dalam batas normal,
ASI (+), kuning pada wajah, leher, dan
badan bagian atas. Status present
didapatkan denyut jantung 132
kali/menit, respirasi 42 kali/menit dan
temperatur aksila 36,9oC. Status general
didapatkan kulit ikterus Kramer II.
Pemeriksaan penunjang yang merupakan baku Tanggal 17/07/2017 dilakukan
emas penegakan diagnosis ikterus adalah pengecekan kadar bilirubin dan
pemeriksaan bilirubin serum neonatorum. golongan darah pada bayi. Didapatkan
Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan hasil kadar Bilirubin Total 16,93 (H),
untuk mengetahui penyebab ikterus antara lain Bil. Direk 0,53 (H), Bil. Indirek 16,40
golongan darah, coombs test, darah lengkap, (H), dan golongan darah bayi A,
hapusan darah, dan skrining G6PD.13 sedangkan golongan darah ibu adalah O.
Berdasarkan anjuran pemeriksaan sesuai waktu
timbulnya ikterus yaitu pada usia bayi <24 jam
sehingga dapat dilakukan pemeriksaan kadar
bilirubin, Hb, golongan darah ibu dan bayi, uji
Coombs, hematokrit, darah perifer lengkap
ditambah darah tepi, biakan darah/urin, pungsi
lumbal (atas indikasi), foto paru (atas indikasi).
PENATALAKSANAAN: Terapi yang diberikan kepada bayi yaitu:
- Jaga kehangatan
- Rawat tali pusat

21
Tatalaksana ikterus neonatorum harus dilakukan - ASI on demand
sesuai etiologi yang mendasari. Beberapa terapi - Fototerapi 3x24 jam (sampai 20-7-2017
yang dapat diberikan, antara lain : pukul 14.00)
Terapi sinar dan transfusi tukar. Diindikasikan - Evaluasi bilirubin post fototerapi
sesuai pada kadar bilirubin total bayi. Pemberian
terapi sinar dapat diindikasikan berdasarkan usia Monitoring : vital sign, tanda dehidrasi,
gestasi, berat badan lahir bayi, dan usia bayi. ikterus
Selama terapi sinar, pemberian cairan dan asupan
nutrisi tetap dilakukan sesuai kebutuhan.1,10
Pemberian antibiotik pada dugaan infeksi.
Antimalaria, jika terdapat demam dan bayi
berasal dari daerah endemis malaria. Lanjutkan
pemberian ASI pada bayi setiap 2-3 jam,
pastikan ibu menyusui dengan metode yang
tepat. Pada kasus yang disebabkan breastmilk
jaundice, ibu disarankan tetap menyusui bayi.
Evaluasi berkala (follow-up) sesuai dengan usia
bayi dan kadar bilirubin saat dipulangkan. 11,12
KOMPLIKASI:
Tidak terdapat komplikasi
Komplikasi yang paling sering dari ikterus
neonaturum adalah kern ikterus. Kern ikterus
atau ensefalopati bilirubin adalah suatu sindrom
neurologis yang disebabkan oleh deposisi
bilirubin tidak terkonjugasi (bilirubin indirek) di
basal ganglia dan nuclei batang otak.6
Gambaran kern ikterus
1. Bentuk Akut
a. Fase I (hari 1-2): Menetek tidak kuat,
stupor, hipotonia, kejang.

22
b. Fase 2 (pertengahan minggu I):
Hipertoni otot ektensor, opistotonus,
retrocollis, demam
c. Fase 3 (setelah minggu 1): hepertoni
2. Bentuk Kronis
a. Tahun pertama: Hipotoni, active deep
tendon reflexes, obligatory tonic neck
reflexes, keterampilan motorik
terlambat
b. Setelah tahun pertama: Gangguan
gerakan (choreoathetosis, ballismus,
tremor), gangguan perdengaran.
Oleh karena itu terhadap bayi yang menderita
ikterus neonatorum perlu dilakukan tindakan
sebagai berikut:
1. Penilaian berkala tumbuh kembang
2. Penilaian berkala pendengaran
3. Fisioterapi denagan rehabilitiasi bila
terdapat gejala sisa

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Kosim, M.S., Yunanto, A., Dewi, R., et al. 2014. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama,
Cetakan Keempat, Bab IX: Hiperbilirubinemia. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Hal: 147-168
2. Behrman, R.E., Kliegman, R., Arvin, A.M. 2000. Nelson Textbook of Pediatrics. Ed. 15,
Vol I. Philadelphia: W.B. Saunders Company. Page: 611-613.
3. Juffrie, M., Soenarto, S.S., Oswari, H., et al. 2010. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi
Jilid 1, Cetakan Pertama, Bab XV: Ikterus. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal:
263-283
4. Meidianti, A. 2013. Referat Hiperbilirubinemia Neonatus. Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak RSUD Koja. Hal: 3-16
5. Pudjiadi, A.H., Hegar, B., Handryastuti, S., et al. 2011. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal: 114-121
6. Tazami, R.M., Mustarim., Syah, S. 2013. Gambaran Faktor Risiko Ikterus Neonatorum
pada Neonatus di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2013. Jambi:
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
7. Saputra, R.G. 2016. Perbedaan Kejadian Ikterus Neonatorum Antara Bayi Prematur dan
Bayi Cukup Bulan Pada Bayi dengan Berat Lahir Rendah di RS PKU Muhamaadiyah
Surakarta. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
8. Mathindas, S., Wilar, R., Wahani, A. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus, Jurnal
Biomedik, Vol. 5 No. 1. Sulawesi: Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi
9. Pedoman Pelayanan Medis Kesehatan Anak. 2010. Ikterus Neonatorum. Denpasar: SMF
Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah. Hal: 417-422
10. Maulida, L.F. 2014. Ikterus Neonatorum, Vol. 10. Surakarta
11. Usman, A. 2007. Ensefalopati Bilirubin, Vol. 8, No. 4. Bandung: Sari Pediatri
12. Saphira LA. 2011. Ikterus Neonatorum et causa Inkompatibilitas ABO. Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, Hal:1-8
13. Moerschal SK, Cianciaruso LB, Tracy LR. 2011. A Practice Approach to Neonatal
Jaundice. AM Fam Physician. Vol: 77(9). Hal: 1255-62

24
25