Anda di halaman 1dari 2

MENDAYUNG DI TENGAH VOLATILITAS SAHAM

Budi Frensidy - Staf Pengajar FEUI dan Pengamat Pasar Modal


Dimuat di Harian Kontan Senin, 30 April 2018

IHSG turun selama lima hari berturut-turut hingga Kamis minggu lalu yaitu dari
6.338 hingga 5.909 atau 6,76%. Bagaimana dengan volatilitas sebelum ini atau di bursa
lain?
IHSG yang merupakan indikator pergerakan harga seluruh saham di BEI pernah
merosot 64% (dari 740 menjadi 265) selama 15 bulan pada Juli 1997 – September
1998. Di bulan Oktober 2008, IHSG juga pernah meluncur 31,42% (dari 1.833 menjadi
1.257) dalam sebulan atau 20,78% (dari 1.833 menjadi 1.452) dalam seminggu (3-10
Oktober 2008). Untuk harian, indeks kita pernah merosot 10,38% dan 10,03% masing-
masing pada 8 Oktober 2008 dan 3 Oktober 2008.
Kinerja bursa saham lain pun tidak jauh berbeda. Indeks bursa Kuala Lumpur
pernah merosot 9,5% dalam satu hari (10 Maret 2008), indeks bursa Bombay 10,4%
(24 Oktober 2008), Hang Seng 12,7% (27 Oktober 2008), dan indeks bursa Athena
bahkan turun 16,2% (3 Agustus 2015). Masih ada Dow Jones yang terjun hingga 22,6%
dalam satu hari yaitu pada 19 Oktober 1987, yang kini dikenal sebagai Black Monday.
Senasib dengan kita, indeks Bombay tergelincir 27% pada Oktober 2008 atau
17,5% dalam seminggu pada 12 Oktober 2008. Soal kejatuhan indeks, tidak lengkap
tanpa menyebut indeks Nikkei karena sudah tergerus 42% dalam 28 tahun, dari 38.916
di akhir tahun 1989 menjadi 22.468 akhir pekan lalu. Indeks bursa Athena lebih parah
lagi karena hilang 85% selama 10,5 tahun yaitu dari 5.123 pada 28 September 2007
menjadi 780,5 akhir Maret lalu. Maklum saja jika ini terjadi karena pertumbuhan
ekonomi Yunani dalam 10 tahun terakhir rata-rata -2,9% per tahun dengan tahun
terparah 2010 dan 2011 yaitu -9,4% dan -10,8% masing-masingnya.
Tidak seperti fluktuasi EPS dan dividen yang rendah, mengapa volatilitas saham
begitu tinggi?

Volatilitas Fundamental
Volatilitas adalah tendensi harga berubah diluar perkiraan. Perubahan harga itu
dapat terjadi karena adanya informasi baru mengenai nilai perusahaan (volatilitas
fundamental) atau karena kepanikan dan overreaksi para investor (volatilitas
transitory).
Harga aset umumnya mencerminkan nilai fundamentalnya. Harga aset berubah
jika faktor-faktor fundamentalnya berubah. Harga saham, karenanya, juga berubah
ketika para investor mengetahui telah terjadi perubahan faktor fundamentalnya. Inilah
yang dimaksud dengan volatilitas fundamental.
Sejatinya, volatilitas fundamental tidak hanya dialami saham, tetapi juga
obligasi dan mata uang. Harga sebuah saham dipengaruhi rasio utang, laba,
pertumbuhan penjualan, dan kualitas manajemen. Sedangkan harga pasar obligasi
tergantung inflasi, tingkat bunga pasar, dan peringkatnya. Untuk mata uang, yang
menjadi faktor fundamental adalah stabilitas politik, neraca pembayaran, dan tingkat
bunga.
Khusus untuk saham, kita sebenarnya dapat mengenali dengan mudah saham-
saham bervolatilitas tinggi. Pertama, saham perusahaan yang berkecimpung dalam
teknologi tinggi cenderung untuk volatil karena nilainya sangat tergantung pada
keberhasilan riset untuk produk barunya yang pasarnya mungkin belum ada. Kedua,
saham dengan PER (price earning ratio) yang tinggi umumnya juga volatil. Saham-
saham ini berharga tinggi karena optimisme investor akan tingkat pertumbuhan
perusahaan di masa depan. Pertumbuhan yang diharapkan ini mungkin saja tidak
terjadi. Terakhir, saham-saham dengan rasio utang yang besar biasanya juga volatil
karena adanya kewajiban membayar bunga yang besar di masa depan sementara tingkat
penjualan perusahaan masih belum pasti.

Volatilitas Transitory
Mengapa investor harus panik atau bereaksi berlebihan sehingga meyebabkan
terjadinya volatilitas sementara (transitory) atau noise? Karena investor saham di mana
pun sangat dikuasai dua ”ta” yaitu rasa takut dan tamak. Saat harga sebuah saham jatuh
karena banyak investor menjualnya, investor lain ikut menjual karena takut rugi lebih
besar. Sebaliknya, saat harga sebuah saham naik karena begitu besarnya minat beli di
pasar, tidak sedikit juga investor yang ikut beli karena tamak. Padahal sangat mungkin
tidak ada perubahan fundamental perusahaan. Volatilitas akibat perilaku investor yang
tidak bersumber dari perubahan fundamental perusahaan ini disebut sementara karena
harga pada akhirnya akan kembali ke tingkat wajarnya.
Tidak seperti volatilitas fundamental dengan harga yang cenderung tidak
berbalik arah, perubahan harga akibat volatilitas sementara umumnya akan kembali.
Contohnya, memerlukan waktu 5 tahun lebih untuk IHSG dapat bangkit saat jatuh di
tahun 1998 karena pertumbuhan ekonomi kita saat itu -13%. Akan tetapi, hanya butuh
waktu belasan bulan ketika indeks kita kembali terperosok di tahun 2008 karena saat itu
pertumbuhan ekonomi kita positif cukup besar yaitu 4,5% (2009) dan 6,1% (2010).
IHSG melesat 87% di tahun 2009 dan 46% di 2010. Ingat, dalam jangka panjang
pertumbuhan indeks saham akan konvergen dengan pertumbuhan nominal
perekonomian (pertumbuhan riil plus inflasi).
Volatilitas fundamental, walaupun kadang mengagetkan, adalah alami dan
diperlukan untuk alokasi sumber daya secara efisien. Sedangkan volatilitas sementara
justru sangat tidak disukai regulator tetapi memberikan kesempatan untuk mendulang
laba bagi para investor.
Tips dari saya, identifikasi dengan cermat jika terjadi gejolak IHSG atau harga
sebuah saham. Jika Anda percaya volatilitas itu fundamental, jangan ragu untuk segera
menjadi follower. Sebaliknya, jika volatilitas itu sementara, ambillah posisi kontrarian
alias melawan pasar. Maksudnya adalah Anda akan untung besar jika membeli saham
saat orang lain menjualnya pada tahun 2008 lalu, tetapi investor akan rugi jika
melakukan strategi yang sama saat bubble ekonomi Jepang tahun 1989, krisis ekonomi
kita di 1997-1998, dan krisis Yunani 2010-2011.
Menurut Anda, volatilitas yang terjadi sekarang ini transitory atau fundamental?
Di mata saya, kecuali nilai tukar rupiah yang melemah, saya tidak melihat
kekhawatiran lain dalam perekonomian kita.