Anda di halaman 1dari 14

PRAKTIKUM VII

Topik : Lichenes
Tujuan : 1. Untuk mengamati morfologi dan anatomi lichenes,
simbiosis antara alga dengan jamur
2. Untuk mengamati substrat dan tipe talus pada
lichenes di sekitar lingkungan PMIPA
Hari/tanggal : Senin/14 November 2016
Tempat : Laboratorium Biologi dan Lingkungan sekitar PMIPA
FKIP ULM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat:
1. Mikroskop
2. Kaca benda dan kaca penutup
3. Lup
4. Gelas Kimia
5. Kain planel/tissue
6. Pipet tetes
7. Silet/cutter
8. Kamera
9. Penggaris
B. Bahan:
1. Lumut kerak pada pohon dan bebatuan
2. Lumut kerak yang menempel pada berbagai substar di sekitar
lingkungan PMIPA

II. CARA KERJA


a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Mengamati morfologi lichenes dengan lup dan menggambar.
c. Mengiris bagian lumut kerak dengan cara melintang, lalu meletakkan di
atas kaca benda, menetesi dengan aquades dan menutup dengan kaca
penutup.
d. Mengemati preparat di bawah mikroskop, serta menggambar hasil
pengamatan.
e. Untuk pengamatan pada substrat, mengamati semua media (pohon atau
bebatuan) yang ada disekitar PMIPA yang ditempeli lumut kerak.
f. Mengukur diameter Lumut kerak tersebut pada suatu substat.
g. Mengamati morfologi dan mengamati tipe thalus lumut kerak tersebut.
h. Mencatat hasil pengamatan

III. TEORI DASAR


Ada sutu tumbuhan yang tumbuhnya merupakan perpaduan dari
tanaman ganggang dan jamur yang menjadi satu kesatuan (bersimbiosis),
tumbuhan ini disebut lumut kerak (lichenes), yang mudah dijumpai di segala
tempat, biasanya di kulit batang kayu, di pohon-pohon dan ada pula yang
tumbuh di batu atau tembok. Tanaman ini sering dinamakan tumbuhan
pelopor sebab mampu tumbuh di segaala tempat.
Menurut habitatnya, lichenes berdasarkan talusnya dapat dibedakan
menyerupai bentuk lembaran dan seperti semak. Untuk bentuk lembaran
biasanya melekat dengan benang-benang menyerupai rhizoid pada
substratnya dengan seluruh sisi bawah tallus. Pada bentuk seperti semak
memiliki ujung tallus yang bebas di udara.
Kebanyakan lichenes berkembangbiak secara vegettif dengan
sebagian tallus berpisah dan kemudian tumbuh menjadi individu baru. Pada
beberapa lichenes, pembiakan berlangsung dengan perantara soredium yaitu
kelompok kecil sel-sel genggang sedang membelah dan diselubungi benang-
benang misellium. Dengan robeknya dinding talus soresium tersebar ditiup
angin sehingga membentuk individu baru. Soredium merupakan bintil yang
tumbuh di permukaan tallus. Bintil ini sudah lengkap mengandung satu
sampai beberapa alga yang dikelilingi misellium.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel hasil pengamatan morfologi Lichenes di Lapangan
No Nama Species Substrat Diameter Warna Tipe Thallus Foto Pengamatan Foto Literatur
Lichenes Lichenes
1 Graphis sp. Pohon 4,8 cm Abu-abu Crustose
Ketapang

(Anonim a. 2016)

(Dok. Pribadi. 2016)


2 Permelia sp. Pohon Mahoni 2,3 cm Hijau Foliose

(Dok. Pribadi. 2016)


(Anonim b. 2012)
3 Graphis sp. Pohon akasia 1 cm Abu-abu Crustose

(Anonim c. 2016)

(Dok. Pribadi. 2016)


4 Graphis sp. Pohon Mahoni 1,5 cm Abu-abu Crustose

(anonim d. 2016)

(Dok. Pribadi. 2016)


5 Permelia sp. Pohon Palem 2 cm Hijau Foliose

(Anonim e. 2012)

(Dok. Pribadi. 2016)


6 Permelia sp. Pohon Palem 3 cm Hijau Foliose

(Anonim f. 2012)

(Dok. Pribadi. 2016)


B. Anatomi Lichnes pengamatan Ruangan
1. Lichenes pada Pohon (Parmelia sp.)
a) Gambar pengamatan

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

b) Foto pengamatan

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

(Dok. Pribadi. 2016)


c) Foto Literatur

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

(Anonim g. 2015)
2. Lichenes pada Batu (Parmelia sp.)
a) Gambar pengamatan

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

b) Foto pengamatan

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

(Dok. Pribadi. 2016)


c) Foto Literatur

Keterangan:
1. Jamur
2. Alga

(Anonim h. 2015 )
V. ANALISI
A. Berdasarkan Tipe Thallus
1. Crustose
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada
beberapa substrat yang diamati terdapat thallus dengan tipe Crustose.
Crustose ini memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis, dan
selalu melekat di lapisan kerak atau kulit pohon. Crustose ini
mempunyai ciri khas yang membedakan dengan thallus lainnya, yaitu
thallus jenis ini susah untuk dilepaskan dengan substratnya. Ketika
thallus ini kita coba pisahkan dengan substratnya, maka yang terjadi
ialah substrat tersebut juga akan ikut terlepas bersama dengan thallus.
Maka dari itu Thallus ini tidak bisa dilepaskan dengan substratnya.
Crustose yang termasuk dalam Lichenes ini juga dapat digunakan
sebagai indikator pencemaran.
Pada pengamatan kali ini, crustose yang ditemukan menempel
pada substrat kulit pohon ketapang, pohon akasia, dan pohon mahoni.
Dan dari kesemua pohon, species yang ditemukan juga sama, yaitu
species dari genus Graphis. Pada pada pohon ketapang crustose ini
memiliki diameter 4,8 cm dan berwarna abu-abu. Kemudian pada
pohon akasia crustose ini memiliki diameter 1 cm dan berwarna abu-
abu. Dan pada pohon mahoni crustose memiliki diameter 1,5 cm
dengan warna abu-abu.
Dari hasil pengamatan terhadap warna dari crustose tersebut kita
tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa pada tempat pengamatan
yaitu lingkungan PMIPA bisa dikatakan bahwa lingkungn tersebut
sudah tercemar. Karena di tempat pengamatan ini masih banyak
lichenes yang lain yang mungkin memiliki warna hijau atau warna
cerah yang menandakan tempat tersebut sudah tercemar.
2. Foliose
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada
beberapa substrat yang diamati terdapat thallus dengan tipe Foliose
selain crutose. Foliose ini memiliki memiliki struktur yang khas, yaitu
seperti daun yang tersusun oleh lobus-lobus. Lichens jenis ini relatif
lebih longgar melekat pada substratnya, artinya lichens jenis ini dapat
dengan mudah dipisahkan dari substratnya. Thallus ini memiliki ciri-
ciri datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengekrut
berputar. Bagian permukaan atas san bawah berbeda. Biasanya lichens
ini melekat pada batu dan permukaan pohon. Namun pada
pengamatan kali ini foliose ditemukan pada permukaan pohon saja.
Pada pengamatan kali ini foliose ditemukan pada substrat pohon
mahoni dan pohon palem. Pada pohon mahoni foliose ini memiliki
diameter 1,5 cm dan berwarna hijau. Sedangkan pada pohon palem
diameternya 2 cm dan 3 cm, karena pohon palem yang diamati ada 2,
dan keduanya memiliki warna hijau. Dari ketiga jenis substrat yang
diamati, ketiganya memiliki species yang sama yaitu Parmelia sp.
Seperti yang sudah disebutkan pada pembahasan crustose bahwa
untuk mengidentifikasi bahwa suatu daerah sudah tercemar atau
belum harus memerlukan data yang banyak. Pada lichens jenis
crustose memiliki warna abu-abu, sedangkan pada lichens jenis
foliose memiliki warna hijau, sehingga bisa di dapat bahwa daerah
PMIPA hampir tercemar.

B. Anatomi
1. Lichens pada pohon (Parmelia sp.)
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa
lichens pada pohon memiliki struktur anatomi yang tersusun atas
jamur dan laga yang keduanya melakukan simbiosis berupa simbiosis
mutualisme untuk keberlangsungan hidupnya. Lichenes pada batu
tersebut merupakan lichenes jenis thallus Foliose yang berupa species
Parmelia sp. Parmelia sp. ini memiliki bagian jamur yang terdapat
permukaan atas dan permukaan bawah, sedangkan algany terdapat di
tengah-tengah. Pada permukaan atas dan bawah, jamur ini membentuk
suatu jalinan. Jalinan pada agian permukaan atas dan bawah tersusun
sangat padat, sedangkan pada bagian tengah yang dekat dengan alga
tersusum sangat longgar. Foliose ini dapat dengan mudah dipisahkan
dengan substratnya karena foliose tidak menempel erat dengan
substratnya. Jalinan-jalinan yang kuat tadi di sangga oleh semacam
tiang yang dibentuk melalui jalinan juga yabg berjumlah sepasang dan
terletak pada kedua ujung. Hal ini justru sangat berbeda jika
dibandingkan dengan thallus crustose yang langsung menempel pada
substrat sehingga susah untuk dilepaskan. Namun ada foto
pengematan, lichenes yang diamati tidak begitu jelas. Yang terlihat
hanya bagian-bagian jamur dan alga saja.
Menurut Jolisa (2015) dalam tulisannya menyetakan bahwa
pada tubuh foliose terdapat empat bagian tunuh yag diamati dengan
jelas yaitu:
a. Korteks atas, berupa jalinan padat disebut Pseudoparenchyma dari
hima jamurya. Sel ini saling mengisi dengan material berupa
gelatin. Bagian ini tebal dan berguna untuk perlindungan.
b. Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak
dibawag korteks atas. Bagian ini terdiri dari jalinan hifa yang
longgar. Diantara hifa-hifa itu terdapat sel-sel hijau, yaitu
Gleocapsa, Nostoc, Rivularia, dan Chlorela. Lapisan thallus untuk
tempat fotosintesa disebut lapisan gonodial sebagai organ
reproduksi.
c. Medulla, terdiri dari lapisan hifa yang berjalinan membentuk suatu
bagiantengah yang luas dan longgar. Hifa jamur pada bagian ini
tersebar ke segala arah dan biasanya mempunyai dinding yang
tebal. Hifa pada bagan atas dan tipis pada bagian ujungnya. Dengan
demikian lapisan tadi membentuk suatu hubungan antara dua
pembuluh.
d. Korteks bawah, terdiri dari struktur hifa yang sangat padat dan
membentang secara vertikal terhadap permukaan thallus atau
sejajar dengan kulit bagian luar. Korteks bawah ini sering berupa
sebuah akar (rhizines). Ada beberapa jenis lichenes yang tidak
mempunyai korteks bawah, bagian ini digantikan oelh lembaran
tipis yang gterdiri dari hypotahllus yang berfungi sebagai
perlindungan.
Lichenes ini dapat dimanfaatkan sebagai indikator pencemaran dan
juga dapat digunakan sebagai obat. Selain itu, lichens ini juga dapat
untuk melapukkam suatu kayu.

2. Lichenes pada batu (lumut daun)


Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada
media batu terdapat lumu kerak (Lichenes) dengan species Permelia
sp. Ketika diamati dengan menggunakan mikroskop dapat terlihat
struktur dari lichens tersebut, yaitu jamur dan alga. Pada bagian dari
lichens tersebut berwarna hijau yang menandakan pada bagian
tersebut ialah alga dan diatasnya ialah jamur. Species dari lichenes
yang ditemukan pada media batu ini tidak jauh berbedz dengan yang
ditemukan pada kulit pohon.
VI. KESIMPULAN
1. Pada pengamatan di luar lingkungan PMIPA, terdapat beberapa lichenes
yang ditemukan, dan kesemuanya itu masuk ke dalam thallus foliose dan
crustose. Pada thallus crustose speciesnya berupa Graphis sp. dan pada
thallus foliose speciesnya berupa Parmelia sp.
2. Pada pengamatan di dalam Laboratorium terdapat dua media yang
digunakan untuk mengamati anatomi, dan keduanya merupakan species
Parmelia sp. yang memiliki thallus berupa foliose.
3. Anatomi Parmelia sp. yaitu terdiri dari alga dan jamur. Pada bagian atas
dan bawah terdapat jamur dan bagian tengahnya terdapat alga.. Pada
bagian atas dan bawah terdapat jalinan-jalinan yang padat, sedangkan
pada bagian tengah mendekati alga jalinannya sangat longgar.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. 2016. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Rendah.
PMIPA FKIP ULM. Banjarmasin.

Anonim a. 2016. crustose lichens on red maple. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/ophis/29592142221/. Pada Tanggal 18
November 2016.

Anonim b. 2012. Parmelia sp. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/53016838@N07/8198803597/. Pada
tanggal 18 November 2016.

Anonim c. 2016. crustose lichens on red maple. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/ophis/29592142221/. Pada Tanggal 18
November 2016.

Anonim d. 2016. crustose lichens on red maple. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/ophis/29592142221/. Pada Tanggal 18
November 2016.

Anonim e. 2012. Parmelia sp. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/53016838@N07/8198803597/. Pada
tanggal 18 November 2016.
Anonim f. 2012. Parmelia sp. Diakses melalui
https://www.flickr.com/photos/53016838@N07/8198803597/. Pada
tanggal 18 November 2016.

Anonim g. 2012. Parmelia sp. Diakses melalui


https://ww.flickr.com/photos/53016838@N07/8198803597/. Pada
tanggal 18 November 2016.

Anonim h. 2012. Parmelia sp. Diakses melalui


https://www.flickr.com/photos/53016838@N07/8198803597/. Pada
tanggal 18 November 2016.

Ichsan, muhammad. 2015. Pustaka Licen. Diakses melalui


http://documents.mx/documents/pustaka-licen.html. Pada tanggal 20
November 2016

Jolisa, vivi. 2015. Web Suplemen Biol4225. Diakses melalui


http://dokumen.tips/documents/web-suplemen-biol4225.html. Pada
tanggal 20 November 2016.
LAPORAN PRAKTIKUM VII
BOTANI TUMBUHAN RENDAH
(ABKC 2301)

“LICHENES”

Disusun Oleh:
Alfin Zidniyatur Rochman Banjari
(A1C215002)
Kelompok III A

Asisten Dosen:
Putri Pratami Rahmiati
Siti Sarah

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si
Dra. Aulia Ajizah, M.Kes
Nurul Hidayati Utami, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER
2016