Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Terkadang
tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus,
bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu
tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus,
walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama
tanaman.
Gangguan hama dan patogen pada tanaman merupakan salah satu
kendalayang cukup rumit dalam usaha pertanian. Keberadaan hama
dan patogen merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan
tanaman dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang
secara mendadakdan dapat bersifat eksplosif (meluas) sehingga dalam waktu
yang relatif singkat seringkali dapat mematikan seluruh tanaman dan
menggagalkan panen. Pemberantasan hama dan penyakit secara total tidak
mungkin dapat dilakukan karena perkembangannya yang sangat cepat dan sulit
dikontrol. Namun dengan pengamatan yang baik di lapangan sejak awal
penanaman sampai panen, serangan hama dan patogen dapat ditekan.
Pada dasarnya pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan
manusia baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengusir,
menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai
aras yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan
untuk menghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan
populasinya sampai pada aras tertentu yang secara ekonomi tidak merugikan.
Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam
pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggungjawabkan secara
ekonomi dan secara ekologi.
Salah satu cara petani dalam menanggulangi hama tanaman adalah dengan
pengendalian tanaman secara biologi atau hayati. Pengendalian secara biologi

1
ini bertujuan mengupayakan agar populasi hama tidak menimbulkan
banyak kerugian, melalui cara-cara pengendalian yang efektif,
menguntungkan, danaman terhadap lingkungan (ramah lingkungan). Dengan
cara ini petani dapatmemahami pentingnya menjaga kelestarian ekosistem
lingkungan.
Oleh sebab hal tersebut, maka kelompok kami mengambil salah satu teknik
dalam penanganan populasi hama berupa metode Kultur Teknik yang terdiri
dari beberapa jenis teknik-teknik tertentu untuk pengendalian hama dan
sejenisnya.
B. Rumusan Masalah
Meninjau dari latar belakang, ada beberapa rumusan masalah yang terdapat
pada makalah ini. Rumusan masalah tersebut diantaranya yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan kultur teknik?
2. Bagaimana cara pengolahan tanah dan perairan?
3. Apa yang dimaksud dengan bibit unggul?
4. Bagaimana cara pemupukan secara teratur?
5. Apa yang dimaksud dengan jarak tanam?
6. Apa yang dimaksud dengan mulsa?
7. Apa yang dimaksud denga sanitasi?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Entomologi
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengertian dari kultur teknik
b. Untuk mengetahui bagaimana cara pengolahan tanah dan perairan
c. Untuk mengetahui pengertian dari bibit unggul
d. Untuk mengetahui bagaimana cara pemupukan secara teratur
e. Untuk mengetahui pengertian jarak tanam
f. Untuk mengetahui pengertian mulsa
g. Untuk mengetahui pengertian sanitasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kultur Teknik
Pengendalian adalah suatu tindakan aktivitas yang bertujuan untuk
mengurangi atau menekan terjadinya suatu kegagalan dalam kegiatan
pengendalian tanaman mempunyai arti adalah suatu tindakan pada tanaman
yang terserang penyakit atau yang mempengaruhi terhambatnya terjadinya
proses pertumbuhan yang normal.
Sebagian besar teknik pengendalian secara budidaya dapat dikelompokan
menjadi empat dengan sasaran yang akan dicapai, yaitu 1) mengurangi
kesesuaian ekosistem, 2) Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan
hidup OPT, 3) Mengalihkan populasi OPT menjauhi tanaman, dan 4)
Mengurangi dampak kerusakan tanaman.
Pengendalian secara kultur teknis (Cultural control), pada prinsipnya
merupakan cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk
menekan perkembangan populasi hama.
Pengendalian ini merupakan pengendalian yang bersifat preventif,
dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan tujuan agar populasi OPT
(Organisme Pengganggu Tanaman) tidak meningkat sampai melebihi
ambang kendalinya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kultur teknis
yaitu: pengurangan kesesuaian ekosistem sanitasi, penghancuran atau
modofikasi inang dan habitat pengganti, pengerjaan tanah, pengolahan air,
ganguan komunitas penyedian berkembangnya penyakit, pergiliran
tanaman, perkiraan lahan, penanaman serempak, penetapan jarak tanam,
lokasi tanaman, dan memutuskan sinkronisasi antar tanaman dan penyakit.
Pengertian Kultur Teknis Kultur Teknis merupakan cara perlindungan
dengan memanfaatkan kondisi lingkungan yang dibutuhkan pengganggu, tetapi

3
sesuai dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh tanaman (Purnomo,
2006).
Contoh-Contoh Kultur Teknis Pengendalian hama secara kultur teknis
antara lain penggunaan mulsa jerami, penggiliran tanaman, dan sistem tanam
serempak dalam satu hamparan serta penanaman tanaman perangkap
(Praptomo, 2010).
Tujuan akhir dari kultur teknis adalah menemukan mata rantai (fase) yang
lemah dari siklus musiman hama sehingga hama tidak berkembang.
Mekanisme Kultur Teknis yaitu pengolahan tanah, sanitasi, pemupukan, rotasi
atau penggiliran tanaman, pengaturan waktu tanam (Purnomo, 2006).

2. Pengolahan Tanah dan Perairan


a. Pengolahan tanah
Pengelolaan lahan, meliputi kegiatan inventarisasi, perencanaan,
pengaturan, perlakuan dan pengawasan terhadap komponen lahan dan
penggunaannya dengan tujuan memelihara eksistensi dan fungsi secara
berkelanjutan. Tataguna lahan mengatur peruntukan lahan sesuai dengan
kemampuannya, sehingga menghindarkan penggunaan melewati batas
kemampuan (Notohadiprawiro, 1987).
Kegiatan pengolahan tanah dibagi ke dalam dua tahap, yaitu: (1)
Pengolahan tanah pertama (pembajakan), dan (2) Pengolahan tanah kedua
(penggaruan). Dalam pengolahan tanah pertama, tanah dipotong, kemudian
dibalik agar sisa tanaman dan gulma yang ada di permukaan tanah terpotong
dan terbenam. Kedalaman pemotongan dan pembalikan tanah umumnya
antara 15 sampai 20 cm. Pengolahan tanah kedua, bertujuan menghancurkan
bongkah tanah hasil pengolahan tanah pertama yang besar menjad lebih
kecil dan sisa tanaman dan gulma yang terbenam dipotong lagi menjadi
lebih halus sehingga akan mempercepat proses pembusukan
(Notohadiprawiro, 1987).
Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk
menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisik, kimia,

4
maupun biologi, sehingga tanaman yang dibudidayakan akan tumbuh
dengan baik. Pengolahan tanah terutama akan memperbaiki secara fisis,
perbaikan kemis dan biologis terjadi secara tidak langsung, selain itu
pengolahan lahan juga bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya
lahan pertanian secara optimal, mendapatkan hasil maksimal, dan
mempertahankan kelestarian sumber daya lahan (Notohadiprawiro, 1987).
Ditujukan terhadap hama yang dalam siklus hidup mempunyai fase di
dalam tanah. Contoh: Larva famili Scarabaeidae (lundi), larva penggerek
batang padi putih (pada pangkal padi). Perlunya pengolahan tanah. Sebab
ada serangga yang sebagian atau seluruh hidupnya berada di dalam tanah,
yang amat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah, komposisi kimiawi
tanah, kelembaban dan suhu tanah, serta adanya organisme tanah lainnya.
Dengan pengolahan tanah yang baik, hama-hama tersebut bisa terbunuh
atau terhambat perkembangannya karena terkena sengatan matahari,
dimakan predator di permukaan tanah, atau terbenam jauh ke dalam tanah.
Pengolahan tanah setelah panen larva-larva hama yang hidup di dalam
tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan seperti cangkul. Di samping itu
akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari
dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikian larva-larva dan telur
larva akan dimakan burung atau mati terkena cahaya matahari langsung.
b. Pengolahan air
Pengolahan air dapat menghalangi perkembangan hama-hama tertentu.
Akan tetapi bila cara pengolahan air kurang tepat dapat mengakibatkan
peningkatan perkembangan populasi hama tanaman.
Pengairan Irigasi:
1) Secara langsung : Scirpophaga innotata, Nymphula depunctalis
2) Secara tidak langsung : perubahan iklim mikro (terutama RH)
Contoh : Air merupakan kebutuhan utama pada tanaman padi pada fase
pertumbuhan (vegetatif), tetapi kebutuhan air ini perlu pengaturan supaya
tanaman terhindar dari kerusakan oleh jasad pengganggu. Serangan keong
mas akan meningkat pada tanaman padi yang berumur kurang dari satu

5
bulan di lapangan, jika digenangi dengan air. Untuk mencegah kerusakan
oleh keong mas, maka tanaman padi yang baru dipindahkan dari persemaian
sampai bunting diairi secukupnya. Sedangkan untuk menghindari serangan
penggerek batang, kepinding tanah, wereng coklat dan tikus perlu
menggenangi lahan.

3. Bibit Unggul
Pemuliaan tanaman kehutanan memerlukan perencanaan yang matang agar
diperoleh bibit yang berkualitas. Hal ini dikarenakan bibit yang akan ditanam
di lapangan harus merupakan bibit yang rentan terhadap kondisi lingkungan
dan tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Untuk memperoleh bibit yang
berkualitas perlu dilakukan proses seleksi. Proses seleksi ini dapat dilakukan
saat akan melakukan persemaian (seleksi benih) dan saat akan melakukan
penanaman (seleksi bibit) (Prinando, 2010).
Seleksi benih perlu dilakukan karena benih merupakan alat
perkembangbiakan tanaman yang utama, oleh karena itu kita perlu
mengupayakan bagaimana agar benih ini tetap berkualitas, dalam arti jika
disemai memberikan persen kecambah yang tinggi dan bila ditanam pada lahan
yang bervariasi keadaanya bisa tumbuh baik serta kematiannya kecil. Biji yang
berkualitas baik harus berasal dari pohon yang mempunyai sifat genetik baik
dan pada saat pengunduhan buahnya juga harus buah yang masak secara
fisiologis, sehingga biji yang dihasilkan pun dapat terjamin mutunya. Biji-biji
kehutanan sebagian besar terdapat di dalam buah, baik buah daging maupun
buah polong seperti pada famili Fabaceae (Prinando, 2010).
Sementara itu, seleksi bibit juga diperlukan untuk mengurangi tingkat
kematian bibit di lapangan, sehingga bibit yang ditanam benar-benar
merupakan bibit yang tahan terhadap kondisi lingkungan, hama dan penyakit.
Dengan demikian tingkat keberhasilan penanaman akan lebih tinggi dibanding
penanaman yang tanpa proses seleksi. Untuk itu diperlukan kajian mengenai
proses seleksi benih dan bibit ini agar diperoleh pengetahuan mengenai teknik

6
seleksi benih dan bibit yang tepat cara dan tepat guna dalam kegiatan
pemuliaan tanaman kehutanan (Prinando, 2010).
a. Biji (grain), Benih (seed) dan Bibit
Secara struktural atau botanis, biji (grain) dan benih (seed) tidak berbeda
antara satu dengan lainnya, sedangkan secara fungsional benih dan biji
memiliki pengertian yang berbeda. Secara struktural atau botanis, biji dan
benih tidak berbeda antara satu dengan lainnya, keduanya berasal dari zygote,
berasal dari ovule, dan mempunyai struktur yang sama. ecara fungsional biji
dengan benih memiliki pengertian yang berbeda. Biji adalah hasil tanaman
yang digunakan untuk tujuan komsumsi atau diolah sebagai bahan baku
industri. Sedangkan benih adalah biji dari tanaman yang diproduksi untuk
tujuan ditanam atau dibudidayakan kembali (Nugroho, 2015).
Berdasarkan pengertian tersebut maka benih memiliki fungsi agronomi
atau merupakan komponen agronomi, oleh karena itu benih termasuk
kedalam bidang atau ruang lingkup agronomi. Dalam pengembangan
usahatani, benih merupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan
produksi yang setinggi-tingginya. Karena benih merupakan sarana produksi,
maka benih harus bermutu tinggi (mutu fisiologis, genetik dan fisik) dari jenis
yang unggul (Nugroho, 2015).
Selain itu, terdapat istilah antara benih dan bibit. Bibit dan benih memiliki
perbedaan dan persamaan. Benih dan bibit dalam bahasa inggris sama-sama
diterjemahkan seed. Dalam bahasa indonesia keduanya memiliki arti yang
saling bersinggungan dan bersinonim. Dalam istilah pertanian keduanya
berbeda. Benih adalah cikal bakal tumbuhan berupa biji yang sengaja
disiapkan untuk ditanam. Sedangkan bibit adalah cikal bakal tumbuhan yang
berupa tumbuhan muda (kecil) yang akan ditanam (Muntijo, 2016).
Dalam istilah pertanian, benih pasti berasal dari biji. Tidak semua biji
(bulir) merupakan benih. Karena perkembangbiakan suatu tanaman yang
berbiji belum tentu berasal dari bijinya. Misalnya biji jambu tidak menjadi
benih jambu. Kebanyakan penanaman jambu menggunakan sistem stek.
Contoh lain, bulir (biji) padi tidak otomatis menjadi benih padi. Benih padi

7
merupakan bulir yang didapat dari tanaman yang diolah khusus untuk
dijadikan tanaman padi (akan ditanam lagi) (Muntijo, 2016).
Sedangkan untuk bibit, tidak harus berasal dari benih. Seperti yang telah
dijelaskan di atas, benih bisa berasal dari proses stek atau pencangkokan.
Contohnya bibit yang tidak didapat dari benih adalah bibit pisang, bibit jeruk,
dan bibit tanaman bambu. Masing-masing tanaman tersebut tidak ditanam
bijinya (benihnya), melainkan tunas dan hasil steknya (Muntijo, 2016).

Gambar. Perbedaan Bibit dan Benih


(Sumber: Muntinjo, 2016)
b. Benih Unggul
Benih merupakan sarana penting dalam produksi pertanian dan menjadi
faktor pembawa perubahan (agent of change) teknologi dalam bidang
pertanian. Peningkatan produksi tanaman pangan, hortikultura, dan
perkebunan; salah satu aspek penentu utama keberhasilannya adalah:
digunakannya benih varietas unggul dengan disertai teknik budidaya yang
lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Benih-benih varietas unggul
dapat diperoleh melalui seleksi dan hibridisasi tanaman, baik yang
dilakukan oleh lembaga penelitian milik pemerintah, maupun industri
perbenihan swasta yang mempunyai divisi penelitian dan pengembangan
(research and development) (Nugroho, 2015).
Hasil seleksi dan hibridisasi tanaman berupa varietas baru mempunyai
keunggulan yang harus dipertahankan pada generasi berikutnya melaui
perbanyakan, sekaligus mempertahankan kemurnian genetik dan mutu
benihnya. Bidang produksi benih dapat dikelompokkan menjadi: produksi
benih sumber dan produksi benih komersial (Nugroho, 2015).

8
Benih sumber dapat juga disebut dengan benih inti, hanya diperbanyak
oleh para breeder (pemulia) yang ada di instansi pemerintah, perusahaan
swasta, maupun perorangan. Benih sumber diproduksi dalam jumlah sedikit
untuk perbanyakan benih penjenis atau bahan persilangan. Panen hasil
budidaya/kulturisasi untuk setiap tanaman, buah, bulir, atau polong (bahan
benih); dilakukan khusus dalam suatu kegiatan yang disebut dengan
‘penangkaran’. Hasil benih sumber tidak diperjualbelikan. Sementara hasil
benih komersial adalah benih yang diperbanyak oleh breeder, produsen
benih, ataupun penangkar benih, maupun perorangan dalam jumlah banyak
(Nugroho, 2015).
c. Bibit Unggul
1) Pengertian Bibit Unggul
Tanaman yang berkualitas unggul pastinya juga berasal dari bibit
tanaman yang unggul. Pemilihan bibitan sebagai cikal bakal tanaman
sangatlah berperan penting dalam usaha menciptakan sebuah tanaman
yang mempunyai kualitas unggul. Setiap jenis tanaman pastinya
mempunyai ciri dan model bibitan yang berbeda-beda. Setiap tanaman
juga mempunyai kriteria tertentu agar bisa dikategorikan bibit atau benih
yang bermutu (Rahayu, 2017).
Pembibitan adalah aspek penting dalam keberhasilan budidaya
tanaman. Bibit unggul akan menghasilkan tanaman yang unggul.
Keunggulan bibit baru bisa terlihat sesudah tanaman memasuki usia
produksi. Biasanya para petani akan memperhatikan pembibitan ini
karena dari sinilah suatu keberhasilan budidaya berasal. Maka dari itu,
bibitpun menjadi komoditas yang cukup berharga. Tidak jarang kita
menjumpai bibit-bibit unggul yang diimpor dari negara lain
(Agroteknologi, 2017).
Bibit unggul lebih dikenal karena sifat positifnya seperti cepat
berbuah, tumbuh dengan cepat dan lain sebagainya. Sedangkan bibit
toleran lebih kepada daya tahannya untuk beradaptasi pada lingkungan.
Berdasarkan pengertian KBBI, bibit unggul adalah bibit yang memiliki

9
sifat tahan terhadap serangga hama, cepat berbuah, banyak hasilnya, dan
dapat digunakan secara meluas. Sedangkan secara pengertian biologi,
bibit unggul adalah bibit dari hasil seleksi secara buatan yang bertujuan
mendapatkan sifat-sifat yang kita inginkan. Maka dari itu, bibit unggul
ini sebenarnya memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh bibit toleran
(Agroteknologi, 2017).
Menurut Rahayu (2017) bahwa bibit yang tergolong unggul biasanya
dijual dengan harga yang agak lebih mahal bila dibandingkan dengan
bibit biasa. Hal ini juga dikarenakan hasil panen yang didapat nanti
dengan menanam bibit unggul tentunya berbeda dengan hasil panen
bibitan yang biasa. Jadi, hasil yang didapat sebanding dengan jumlah
modal yang dikeluarkan. Sebuah bibitan bisa dikatakan unggul apabila
menunjukan beberapa ciri umum yang diantaranya seperti berikut ini:
a) Pertumbuhan Bibit yang Seragam
Bibit dikatakan berkualitas unggul apabila saat ditanam serempak,
akan bertumbuh secara serempak pula. Tak ada bibit yang sebagianya
bertumbuh dengan sangat baik dan sebagian lain mati. Jika memang
terdapat bibit yang semacam itu, artinya bibit tersebut tak dapat
dikatakan sebagai bibit berkualitas.
b) Tahan Bila Dipindah
Bibit berkualitas unggul punya ciri yang apabila ia dipindah dari
tempat satu ke tempat yang lain, ia tidak mati. Biasanya beberapa
jenis bibit dari tanaman perlu disiangi terlebih dahulu sebelum
ditanam supaya bisa bertumbuh dengan baik. Nah, jika bibit tanaman
tersebut mudah mati dan tak bisa bertumbuh dengan baik bila
dipindah dari tempat penyiangan ke dalam area lahan tanam, berarti
bibit tersebut kurang layak untuk dikategorikan ke dalam golongan
bibit berkualitas unggul.
c) Tumbuh Lebih Cepat
Selain itu, bibit berkualitas unggul mampu tumbuh dengan cepat
setelah ditanam. Namun dengan catatan seperti yang sudah disebutkan

10
tadi, bahwa tumbuhnya juga harus dengan serempak. Jadi
kesimpulannya, bibit tanaman yang berkualitas unggul tumbuhnya
pasti lebih cepat dan juga serempak.
d) Memiliki Akar Yang Banyak
Bibit yang berkualitas juga mempunyai ciri berakar banyak.
Misalkan bibit padi yang berakar serabut subur akan lebih cepat hidup
dan juga tumbuh besar bila dibandingkan dengan hasil bibitan yang
akarnya sedikit. Karena akar adalah bagian tumbuhan yang berfungsi
sebagai jalan masuk makanan untuk tumbuhan.
e) Kokoh dan Menghijau
Bibit tanaman yang berkualitas juga mempunyai ciri fisik yang
kokoh dan juga berwarna kehijauan alias tidak mudah layu. Bibit
seperti itu bisa tumbuh dengan cepat saat sudah ditanam.
f) Tahan Terhadap Resiko Serangan Hama
Ciri-ciri bibit yang mempunyai kualitas unggul yakni tahan
terhadap berbagai macam ancaman serangan hama saat telah ditanam.
Bibit yang seperti ini akan dikatakan unggul karena dapat menghemat
biaya perawatan karena tak perlu lagi mendapatkan perlakukan khusus
untuk menekan potensi serangan hama pada tumbuhan. Selain itu bibit
yang tahan hama akan bisa memberi hasil panen yang lebih baik.
g) Tahan Terhadap Perubahan Iklim
Salah satu ciri dari bibitan tanaman yang berkualitas unggul adalah
tahan terhadap berbagai perubahan iklim ketika sudah ditanam. Bibit
yang tahan iklim akan menjadikan tanaman tidak mudah mati ketika
telah ditanam dalam menghadapi adanya perubahan iklim semisal dari
penghujan ke kemarau, ataupun sebaiknya.
h) Produktivitas Tinggi
Hal terpenting yang bisa dijadikan acuan untuk menandai bahwa
bibit tanaman dikatakan unggul apabila hasil produk yang dihasilkan
oleh bibitan itu tinggi, baik dari aspek segi kualitas maupun aspek
kuantitasnya. Biasanya nilai ekonomis yang ditawarkan oleh bibit ini

11
akan setara dengan tingkat produktivitas tinggi. Misal harga bibit
jagung yang dapat menghasilkan 3 jagung di setiap pohonya, lebih
mahal dibandingkan dengan bibit jagung yang hanya mampu
menghasilkan 2 buah jagung dalam 1 pohon.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memperoleh bibit unggul
dengan memperhatikan adanya keragaman genetik, sistem-sistem logis
dalam pemindahan dan fiksasi gen, konsepsi dan tujuan yang jelas, serta
mekanisme penyebarluasan hasilnya ke masyarakat (Yudhistira, 2014).
2) Cara Mendapatkan Bibit Unggul
Menurut Yudhistira (2014), bahwa salah satu cara untuk mendapatkan
bibit unggul adalah dengan menggunakan prinsip-prinsip pewarisan sifat
yang telah dirintis oleh Mendel serta ahli-ahli lain dalam bidang genetika.
Cara-cara yang lazim digunakan untuk mendapatkan bibit unggul, antara
lain sebagai berikut.
a) Seleksi
Seleksi adalah memilih atau mencari keturunan tanaman dan hewan
yang memiliki sifat-sifat baik yang berguna untuk meningkatkan hasil
atau mutunya. Sifat-sifat baik ditentukan oleh genotipe, tetapi
ekspresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Dalam memilih
serta mencari sifat-sifat genetis yang baik harus disertai dengan
menentukan lingkungan yang sesuai dengan sifat yang diseleksi.
Penentuan baik atau tidaknya sifat hewan dan tanaman bergantung
pada tujuannya. Misalnya, untuk hewan ternak dipilih yang
menghasilkan daging, telur, atau susu yang bermutu tinggi. Untuk
tanaman penghasil pangan dipilih yang rasanya enak produksinya
tinggi, tahan hama dan penyakit, serta sistem perakarannya kuat.
Hal yang dilakukan pada proses seleksi, di antaranya adalah
memilih bibit dan memilih lingkungan yang paling cocok bagi
pembiakan bibit. Hal ini telah dilakukan manusia sejak sebelum
mengenal genetika sampai sekarang. Dampak yang mungkin timbul

12
dan proses seleksi adalah menurunnya keragaman genetik sehingga
perlu pelestarian plasma nutfah.
Misalnya, memilih jenis bibit varietas padi unggul yang memiliki
produksi tinggi adalah suatu keharusan bagi petani agar bisa
menikmati hasil panen padi yang melimpah. Dengan hasil melimpah
untung pun berpihak pada petani, tetapi apakah cukup dengan varietas
bibit yang produksinya tinggi? tentu tidak karena banyaknya ancaman
hama yang menganggu produksi pada, salah satunya adalah Hama
batang wereng coklat
Menurut Litbang pertanian Indonesia, Hama wereng batang cokelat
telah mengancam produksi padi di berbagai negara di dunia sejak
tahun 1970 an. Dalam periode 2010-2013, ledakan hama wereng
merusak lebih dari 3 juta ha padi di Thailand, 0,5 juta ha di Indonesia,
dan 1,5 juta ha per tahun di China. Tentu hal tersebut bukan masalah
sepele bagi petani yang rata-rata hanya lulusan SD.
Ada dua penyebab utama berkembangnya hama wereng cokelat
yaitu : Perubahan biotipe dan penanaman varietas rentan. Varietas
unggul yang semula dinyatakan tahan hama wereng cokelat, beberapa
musim kemudian berubah tingkat ketahanannya, sehingga perlu
diganti dengan varietas unggul baru yang bereaksi tahan. Ini tugas
Badan Litbang Pertanian tentunya yang harus menciptakan varietas
pad unggul tahan wereng. Badan Litbang Pertanian menjawab keluh
petani pada akhir 2015, mereka menciptakan beberapa varietas unggul
baru padi tahan wereng cokelat yang cocok untuk petani kecil, antara
lain Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agrita.
b) Hibridisasi
Hibridisasi atau pembastaran sering disebut juga persilangan
merupakan cara mengawinkan tanaman atau hewan yang berbeda
sifatnya dari spesies yang sama untuk mendapatkan sifat-sifat baik.
Saat ini, rekayasa pemuliaan tanaman, tak terkecuali tanaman
jagung banyak dilakukan. Inovasi pemuliaan tanaman tersebut pun

13
dilakukan dengan pembastaran atau perkawinan silang. Pembastaran
merupakan cara sederhana dan paling mudah untuk mendapatkan bibit
unggul.
Pada jagung dikenal varietas yang berproduksi tinggi, tetapi tidak
tahan hama (PPhb). Jagung varietas lain produksinya kurang, tetapi
tahan hama (ppHH). Keduanya disilangkan dan mendapat keturunan
pertama (F1) dengan produksi tinggi dan tahan lama (PpHh).
Bagaimanakah keturunan keduanya jika F1 disilangkan sesamanya?
Keturunan F1 merupakan hibrida heterozigot sebagai bibit yang
kurang baik sehingga dilakukan penyilangan yang berikutnya sampai
diperoleh sifat yang diinginkan sesuai galur murni, yaitu produksi
tinggi dan tahan hama (PPHH).
Contoh jenis jagung unggul antara lain Metro, Malfn, Harapan, dan
Bima. Contoh lain dan tanaman hasil hibridisasi adalah beberapa jenis
padi, seperti Bengawan, Si Gadis, Bogowonto, Cisadane, dan
Mahakam.
c) Mutasi
Bibit unggul dapat diperoleh melalui mutasi buatan dengan
menggunakan sinar radioaktif. Cara ini dapat dilakukan pada tingkat
gen (mutasi gen) dan tingkat kromosom (aberasi).
Mutasi kromosom biasanya dilakukan pada tanaman dan
menghasilkan perubahan susunan kromosom menjadi berlipat ganda
(poliploidi). Misalnya, pada tanarnan jeruk, apel, dan semangka.
Keuntungan bagi manusia karena menghasilkan buah yang besar atau
buah tidak berbiji, sedangkan kerugiannya karena tidak dapat
berkembang biak secara generatif sehingga harus diusahakan
pembibitan terus-menerus.
d) Transplantasi Gen
Selain cara-cara di atas, untuk mendapatkan bibit unggul masih ada
cara lain, misalnya dengan rekayasa genetik yang disebut transplantasi
gen atau pencangkokan gen. Cara mi dapat memindalikan gen tertentu

14
dan suatu spesies ke spesies lain dengan perantaraan mikroorganisme.
Dengan demikian, dapat diambil sifat-sifat yang baik dan membuang
sifat-sifat yang kurang baik.
Pada dasarnya rekayasa genetika di bidang pertanian bertujuan
untuk menciptakan ketahanan pangan suatu negara dengan cara
meningkatkan produksi, kualitas, dan upaya penanganan pascapanen
serta prosesing hasil pertanian. Peningkatkan produksi pangan melalui
revolusi gen ini ternyata memperlihatkan hasil yang jauh melampaui
produksi pangan yang dicapai dalam era revolusi hijau. Di samping
itu, kualitas gizi serta daya simpan produk pertanian juga dapat
ditingkatkan sehingga secara ekonomi memberikan keuntungan yang
cukup nyata. Adapun dampak positif yang sebenarnya diharapkan
akan menyertai penemuan produk pangan hasil rekayasa genetika
adalah terciptanya keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.
Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertanian
berkembang pesat dengan dimungkinkannya transfer gen asing ke
dalam tanaman dengan bantuan bakteri Agrobacterium tumefaciens.
Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah tanaman transgenik
seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan,
misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama
dan penyakit tertentu.
e) Kultur Jaringan
Pada tumbuhan juga dapat dilakukan cara lain yang disebut kultur
jaringan melalui perbanyakan tanaman unggul secara cepat dengan
bagian tumbuhan tertentu. Misalnya, organ daun dan batang yang
dibiakkan pada medium tertentu.
Teknik kultur jaringan banyak dilakukan untuk menghasilkan bibit
tumbuhan dalam jumlah besar dan seragam sifat genetiknya dalam
waktu relatif singkat, misalnya bibit jati, anggrek, dan kelapa sawit.
Kultur jaringan memanfaatkan sifat totipotensi sel, yaitu setiap sel
membawa informasi genetik yang lengkap sehingga berpotensi untuk

15
berkembang menjadi individu baru yang lengkap. Kultur jaringan
mula-mula dilakukan oleh Frederick C. Steward. Steward mengkultur
sel-sel akar tanaman wortel dalam suatu media buatan. Dari sel-sel
akar itu berhasil tumbuh tanaman wortel yang lengkap. Hasil
percobaan ini membuktikan bahwa sel mengandung semua informasi
genetik yang lengkap.
Bagian yang akan ditumbuhkan melalui kultur jaringan disebut
eksplan. Eksplan yang digunakan biasanya dari jaringan tumbuhan
yang masih muda, misalnya ujung akar, tunas, dan daun muda.
Berdasarkan jenis eksplannya, kultur jaringan dapat dibedakan
menjadi kultur meristem, kultur antera, kultur embrio, kultur
protoplas, kultur kloroplas, kultur polen, dan lain-lain. Eksplan yang
telah disterilkan ditumbuhan pada media steril yang mengandung
nutrisi dan zat pengatur tumbuh.
Selama kultur berlangsung, faktor lingkungan seperti cahaya,
temperatur, kelembapan, dan pH diatur pada kondisi yang paling
sesuai untuk pertumbuhan eksplan. Jika nutrisi, zat pengatur tumbuh,
dan keadaan lingkungan sesuai, eksplan akan tumbuh menjadi massa
sel yang belum mengalami diferensiasi yang disebut kalus. Kalus
kemudian tumbuh menjadi tanaman kecil yang telah lengkap yang
disebut plantlet. Sebelum dapat ditanam, plantlet harus diaklimatisasi
selama beberapa waktu sehingga kondisi dan ukurannya sesuai untuk
ditanam.
Teknik kultur jaringan sangat menguntungkan dalam perbanyakan
tumbuhan bernilai tinggi. Selain itu tanaman langka yang terancam
punah dapat dilestarikan dengan memanfaatkan kultur jaringan.
Dengan demikian kemajuan industri agrobisnis dapat terwujud dan
ketahanan pangan akan meningkat.
Contoh aplikasi bioteknologi di bidang pertanian antara lain teknik
kultur jaringan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak
tanaman unggul dan teknik transgenik yang digunakan untuk

16
merekombinasi gen tumbuhan supaya memiliki sifat unggul yang
diturunkan, misalnya, jagung tahan hama yang bisa memproduksi
toksin Bt.

4. Pemupukan Secara Teratur


a. Pengertian pupuk dan pemupukan
Menurut Rosmarkam (2009), dalam arti luas, pupuk adalah suatu bahan
yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, atau biologi tanah
sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam
pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk
meningkatkan pH tanah yang asam, pemberian legin bersama benih
tanaman kacang-kacangan, dan pemberian pembenah tanah (soil
conditioner) untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Demikian pula, pemberian
urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam tanah
tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan. Dengan demikian,
bahan kapur, legin, pembenah tanah, dan urea disebut pupuk.
Dalam pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang
mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, kegiatan
tersebut di atas hanya urea yang dianggap pupuk karena bahan tersebut yang
mengandung hara tanaman, yakni nitrogen.
Pemupukan adalah cara-cara atau metode pemberian pupuk atau bahan-
bahan lain seperti bahan kapur, bahan organik, pasir ataupun tanah liat ke
dalam tanah. Jadi pupuk adalah bahannya sedangkan pemupukan adalah
cara pemberiannya.
Berbicara tentang tanaman tidak akan lepas dari masalah pupuk. Dalam
pertanian modern, penggunaan materi yang berupa pupuk adalah mutlak
untuk memacu tingkat produksi tanaman yang diharapkan.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa pupuk yang diproduksi dan
beredar di pasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran,
maupun kemasannya. Pupuk–pupuk tersebut hampir 90% sudah mampu
memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman, dari unsur makro hingga

17
unsur yang berbentuk mikro. Kalau tindakan pemupukan untuk menambah
bahan-bahan yang kurang tidak segera dilakukan tanaman akan tumbuh
kurang sempurna, misalnya menguning, tergantung pada jenis zat yang
kurang.
b. Jenis-jenis pupuk
1) Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk
hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk
organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk
memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik
mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber
bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa
panen.
a) Pupuk Kompos adalah kasil dekomposisi sisa-sisa tanaman yang
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos
ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan
nitrogen (C/N ratio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun
kompos belum terdekomposisi secara sempurna. Bahan kompos
dengan C/N rasio tinggi akan terdekomposisi lebih lama dibanding
dengan C/N rasio rendah.
Kelebihan Pupuk Kompos
1). Lebih ramah lingkungan, tidak merugikan kesehatan dan tidak
mencemari lingkungan.
2). Bahan mudah didapat, selalu tersedia setiap hari dan tentunya tidak
perlu membeli.
3). Cara membuatnya sedrhana, tidak memerlukan peralatan canggih
ataupun mahal.
4). Dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan jumlah
makhluk hidup (mikroba) di dalam tanah yang mampu membantu
pertumbuhan tanaman.
Kekurangan Pupuk Kompos

18
1). Kandungan unsur hara tidak bisa diketahui secara pasti.
2). Kandungan unsur hara lebih rendah dibandingkan dengan pupuk
anorganik.
3). Tanaman tidak bisa menyerap unsur hara dari kompos lebih cepat,
dibandingkan dengan pupuk organik.
4). Proses pembuatan yang tidak hati-hati dapat mengandung telur dan
larva hama.
b) Pupuk Hijau
Pupuk organik dari tanaman segar yang di benamkan atau
diaplikasikan saat hijau atau segera setelah dikomposkan. Pupuk hijau
disarankan yang mempunyai C/N ratio rendah. Sumber pupuk hijau
dapat berupa tanaman legume, non-legume, sisa tanaman, tanaman
pagar, tanaman penutup tanah, azola, dan sesbania rostrata.
Kelebihan Pupuk Hijau
1). Mempunyai keunggulan seperti pupuk organik lain, memperbaiki
struktur fisik, kimia dan biologi tanah.
2). Mampu mencegah erosi tanah
3). Berpotensi mendatangkan manfaat lain, seperti kayu bakar, pakan
ternak, atau buah yang bisa dimakan.
4). Cocok untuk daerah yang sulit dijangkau, karena bisa ditumbuhkan
secara in situ.
5). Menurunkan asupan luah bahan pertanian, lebih baik bagi
lingkungan hidup.
Kekurangan Pupuk Hijau
1). Memerlukan benih dan menanamnya
2). Menghilangkan kesempatan untuk menanam tanaman inti lebih
sering
3). Memerlukan tenaga lebih untuk menumbuhkannya
4). Berpotensi mendatangkan hama dan penyakit pada tanaman inti
5). Berpotensi menjadi gulma
c) Pupuk Kandang

19
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari campuran antara
kotoran hewan dengan sisa makanan yang mengalami pembusukan
hingga tidak berbentuk seperti asalnya.
Pupuk kandang memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti yang
tercantum dibawah ini :
Kelebihan Pupuk Kandang
1). Aman digunakan dalam jumlah besar
2). Membantu menetralkan pH tanah.
3). Membantu menetralkan racun akibat adanya logam berat dalam
tanah.
4). Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur.
5). Mempertinggi porositas tanah dan secara langsung dapat
meningkatkan keterse-diaan air tanah.
6). Membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang ditambahkan.
7). Membantu mempertahankan suhu tanah sehingga fluktuasinya
tidak tinggi
Kekurangan Pupuk Kandang
1). Harus diberikan dalam jumlah besar.
2). Kadar hara relatif sedikit dibandingkan pupuk kimia dalam berat
yang sama.
3). Dapat menurunkan kualitas air bila ber-dekatan dengan sumber air.
2) Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat
oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga
memiliki prosentase kandungan hara yang tinggi. Berdasarkan
kandungan unsur-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai
berikut:
a) Pupuk tunggal
Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis
unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu
pupuk N, P, dan K.

20
b) Pupuk majemuk
Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu
unsure hara yang digunakan untuk menambah kesuburan tanah.
Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk
yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung
senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat
(NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL). Kadar unsur hara N, P, dan
K dalam pupuk majemuk dinyatakan dengan komposisi angka
tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-20-15 berarti bahwa dalam pupuk
itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor (sebagai P2O5)dan 15% kalium
(sebagai K2O).

5. Jarak Tanam
Salah satu cara pengendalian alternatif yang dapat dilakukan adalah cara
kultur teknis yaitu melalui pengaturan jarak tanam. Pengendalian hama melalui
pengaturan jarak tanam mempunyai beberapa keunggulan, selain aman
terhadap lingkungan dan makhluk hidup bukan target, juga murah dan
kompatibel dengan banyak cara pengendalian lainnya juga dapat menekan
resiko terjadinya resistensi hama sasaran. Cara pengendalian ini dapat
menciptakan mikrohabitat sekitar tanaman menjadi tidak menguntungkan
untuk reproduksi dan kehidupan organisme hama dan patogen, sehingga
diharapkan dapat menekan berkembangnya hama tanaman dan pathogen.
Perubahan mikrohabitat dapat menguntungkan perkembangbiakan hama-hama
tertentu, tetapi dapat juga merugikan bagi perkembangan jenis hama yang lain
(Untung, 2013).
Jarak tanam yang diatur sedemikian rupa selain dapat menurunkan
serangan hama dan dapat menekan perkembangan penyakit serta tidak
menguntungkan bagi perkembangan patogen, juga dapat memperbesar
terjadinya wabah hama dan mendukung berkembangnya patogen.
Kemungkinan harus dilihat kasus per kasus tergantung dari species tanaman
dan species hama atau penyakit (Oka, 2005) .

21
Jarak tanam sangat besar pengaruhnya terhadap infestasi hama. Hasil
penelitian Furuta and Aloo (1994) di Jepang menunjukkan bahwa pada jarak
tanam yang lebih lebar (jarak antar pohon 3 m) infestasi hama dan tingkat
kematian akibat serangan hama lebih rendah dibandingkan pada jarak tanam
yang lebih rapat (jarak antar pohon 1 m dan 0,3 m) (Speight & Wylie, 2000).
Rata-rata tingkat kerusakan kumbang Oryctes elegans dan kumbang
Pseudophilus testaceus pada tanaman kurma lebih tinggi pada jarak tanam
kurang dari 5 m dibandingkan jarak tanam 5–10 m. Berdasarkan hasil
pengamatan terhadap perkembangan persentase serangan penyakit bercak daun
ganggang Cephaleuros sp. terlihat bahwa perlakuan jarak tanam 3x3m sama
hasilnya dengan 3x4m merupakan jarak tanam yang baik, sedangkan jarak
tanam yang rapat (2x4m,3x2m,3x2,3m) dapat memicu muncul dan
berkembangnya persentase serangan penyakit bercak daun ganggang
Cephaleuros sp. Pada jarak tanam yang paling rapat (2x2 m) terlihat pada umur
1 (satu) tahun setelah tanam sudah muncul serangan penyakit bercak daun
ganggang dan serangan penyakit tersebut semakin berkembang seiring dengan
bertambahnya umur tanaman karena tajuk antar tanaman sudah saling tumpang
tindih. Diduga faktor yang menstimulir kondisi ini adalah kelembaban dan
kepadatan populasi tanaman. Jarak tanam yang rapat dan kepadatan populasi
yang lebih besar menyebabkan kelembaban disekitar tanaman meningkat.
Meningkatnya kelembaban tersebut dapat menyebabkan tanaman menjadi peka
terhadap serangan penyakit dan menstimulir berkembangnya patogen serta
kurang sesuai untuk persyaratan tumbuh tanaman (Latifian, 2012).
Kebanyakan penyakit dipicu oleh kelembaban yang tinggi. Oleh karena itu,
jarak tanam harus diatur sedemikian rupa sesuai dengan kesuburan tanah dan
sifat dari tajuk tanaman. Pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan jenis
tanaman akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman sehingga tanaman lebih toleran terhadap serangan pathogen
(Cahyono, 2002),.
Kepadatan populasi yang sesuai dapat meningkatkan rata-rata pertumbuhan
tanaman, total berat kering dan indeks area daun. Rata-rata suhu udara yang

22
baik untuk pertumbuhan yang optimum adalah sekitar 17 C, 0 dengan rerata
suhu udara minimum 10 C dan 0 suhu udara maksimum harian adalah 24 C dan
rerata kelembaban udara yang tinggi dapat mendukung berkembangnya
penyakit yang disebabkan cendawan (Jumar, 2000).
Pengaruh perlakuan jarak tanam ini baru terlihat efeknya setelah tahun ke
tiga penanaman atau ketika tanaman pulai darat berumur lebih kurang 3 tahun.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suharti (komunikasi
pribadi), bahwa pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kehutanan
dengan melakukan pengaturan jarak tanam baru bisa terlihat hasilnya setelah
tanaman berumur lebih kurang 3 tahun, karena tajuk antar tanaman sudah
saling bersentuhan atau tumpang tindih. Pada kondisi ini perubahan iklim
mikro (suhu dan kelembaban sekitar tanaman) pada setiap jarak tanam diduga
nyata perbedaannya.
Salah satu kekurangan dari pengendalian secara kultur teknik, termasuk
jarak tanam, dimana jarak tanam ini adalah salah satu teknik yang
membutuhkan perencanaan jangka panjang untuk mengetahui hasil yang
terbaik (Hill, 2003).

6. Mulsa
Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk
menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit
sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik. Mulsa dapat bersifat
permanen seperti serpihan kayu, atau sementara seperti mulsa plastik. Mulsa
dapat diaplikasikan sebelum penanaman dimulai maupun setelah tanaman
muncul. Mulsa organik akan secara alami menyatu dengan tanah dikarenakan
proses alami yang melibatkan organisme tanah dan pelapukan non-biologis.
Mulsa digunakan pada berbagai aktivitas pertanian, mulai dari pertanian
subsisten, berkebun, hingga pertanian industri (Sumardi, 2006: 124)
Menurut Patrick (2014: 58-59) mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat
dari bahan asalnya, yaitu:

23
a. Mulsa organik
Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti
sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan
setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih
ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga
menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Mulsa organik akan
terurai seiring dengan waktu. Laju penguraian akan sangat bergantung pada
kondisi lingkungan, seperti temperatur, penyinaran matahari, curah hujan,
organisme tanah, dan kelembaban udara. Mulsa yang mengandung terlalu
banyak karbon relatif terhadap kandungan nitrogennya dapat menyebabkan
konsentrasi unsur nitrogen di dalam tanah berkurang karena aktivitas
organisme tanah cenderung menghabiskan nitrogen untuk
pertumbuhannya. Namun belum diketahui apakah hal ini berdampak negatif
bagi tanah atau tidak. Rasio karbon terhadap nitrogen yang optimal adalah
30-35:1. Mulsa organik yang terlalu rapat porositasnya dapat menghalangi
laju penyerapan air, dan mulsa organik yang terlalu kering dapat menyerap
air dari tanah sehingga membuat zona perakaran kering.

Gambar. Mulsa organik


Sumber:
Contoh mulsa organik yaitu:
1) Daun, Dedaunan yang telah rontok dapat digunakan sebagai mulsa.
Setelah rontok dari pohon, dedaunan cenderung mengering dan
terdekomposisi menyatu ke tanah.
2) Potongan rumput dari mesin pemotong rumput dapat dikumpulkan dan
dijadikan mulsa. Potongan rumput berukuran kecil sehingga bersifat

24
padat dan memiliki porositas yang rendah. Potongan rumput perlu
dicampur dengan bahan lainnya yang lebih renggang sebelum diterapkan
menjadi mulsa. Minimnya kandungan nitrogen pada potongan rumput
menyebabkan konsentrasi nitrogen pada tanah dapat berkurang, sehingga
penerapan potongan rumput perlu dicampur dengan sesuatu yang kaya
nitrogen.
3) Lumut seperti Sphagnum dapat cepat tumbuh, dapat dikemas, dipadatkan,
dikeringkan dan dibasahkan kembali. Tubuh Sphagnum, yang hidup
maupun yang mati, dapat menyerap air hingga 26 kali berat keringnya
4) Serpihan kayu merupakan produk
samping atau limbah usaha penggergajian kayu, penebangan
kayu, silvikultur, dan arborikultur. Serpihan kayu dapat digunakan untuk
menjaga kelembaban tanah, menjaga temperatur tanah, dan menekan
pertumbuhan gulma. Namun dekomposisi serpihan kayu oleh bakteri
memakan nitrat dari tanah. Mulsa dari serpihan kayu juga dianggap
memiliki nilai seni. Serpihan kayu yang digunakan biasanya didapatkan
dari kulit kayu karena bagian ini adalah yang paling jarang digunakan
oleh industri pulp dan kertas dan penggergajian kayu.
5) Jerami adalah residu tanaman gandum, padi, atau tanaman suku rumput-
rumputan lainnya, umumnya sebagai produk samping. Memiliki
kemampuan menahan kelembaban tanah dan menekan penyebaran
gulma, namun karena merupakan limbah hasil pertanaman, jerami juga
dapat menjadi media persebaran benih gulma.
6) Kardus dan keras terbuat dari bahan dasar yang sama
yaitu pulp dari kayu, sehingga termasuk bahan organik dan dapat terurai
secara alami. Karena sudah berbentuk lembaran, kardus dan kertas
mudah diterapkan di atas tanah. Kardus dan kertas mampu menyerap air
dan menekan pertumbuhan gulma. Namun karena massa yang ringan
dibandingkan dengan luas permukaannya, kardus dan kertas dapat tertiup
oleh angin, sehingga penerapannya memerlukan komponen kardus yang

25
berat di atas lapisan yang ringan. Membasahinya dengan air juga dapat
meningkatkan berat.
7) Tandan kosong buah sawit proses pengolahan buah sawit
menjadi minyak sawit menghasilkan limbah yang sangat besar. Limbah
tersebut berupa tandan kosong dan cangkang buah sawit. Jika tidak
dijadikan bahan bakar, keduanya diberikan kembali secara langsung ke
tanaman sawit sebagai mulsa. Secara perlahan, limbah sawit tersebut
akan terdekomposisi dan menyatu dengan tanah.
b. Mulsa anorganik
Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak
dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik
hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit
ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini
harganya mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan
dalam budi daya cabai atau melon.

Gambar. Mulsa anorganik


Sumber:
Mulsa umumnya diterapkan menjelang musim tanam. Mulsa anorganik,
terutama yang mudah rusak seperti plastik harus diganti setiap musim tanam.
Mulsa organik dapat bertahan lama tergantung laju dekomposisinya, dan dapat
diterapkan ulang jika diperlukan. Seiring dengan perubahan musim, mulsa
menjaga temperatur dan kelembaban tanah, serta mencegah cahaya matahari
menyentuh gulma yang baru bertunan(Brown, 1996: 768).
Efek mulsa pada tanah di iklim sedang amat bergantung pada kapan mulsa
diterapkan. Mulsa umumnya diterapkan di akhir musim semi atau awal musim
panas ketika temperatur tanah sedang meningkat namun kelembaban tanah

26
masih relatif tinggi, sehingga fungsi menjaga temperatur dan kelembaban tanah
lebih optimal. Mulsa juga dapat mengalihkan beberapa jenis hama
seperti siput dari daun tumbuhan karena siput dapat memakan mulsa dedaunan
(Brown, 1996: 768).

7. Sanitasi
a. Pengertian Sanitasi
Sanitasi dalam bahasa Inggris berasal dari kata sanitation yang diartikan
sebagai penjagaan kesehatan. Ehler dan Steel mengemukakan bahwa
sanitasi adalah usaha-usaha pengawasan yang ditujukan terhadap faktor
lingkungan yang dapat menjadi mata rantai penularan penyakit. Sedangkan
menurut Anwar (1990) mengungkapkan bahwa sanitasi adalah usaha
kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan teknik
terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi atau mungkin
mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Sanitasi menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu
usaha yang mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh
kepada manusia terutama terhadap hal-hal yang mempengaruhi efek,
merusak perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup.
Dari beberapa pengertian sanitasi di atas dapat diambil pengertian
sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit dengan melenyapkan
atau mengendalikan faktor-faktor risiko lingkungan yang merupakan mata
rantai penularan penyakit. Selanjutnya, Wijono menyatakan bahwa sanitasi
merupakan kegiatan yang mempadukan (colaboration) tenaga kesehatan
lingkungan dengan tenaga kesehatan lainnya.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor:
965/MENKES/SK/XI/1992, pengertian sanitasi adalah segala upaya
yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi
persyaratan kesehatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),
Sanitasi yaitu usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan

27
yang baik dibidang ksehatan, terutama kesehatan masayarakat. Sehingga
sanitasi lingkungan berarti cara menyehatkan lingkungan hidup terutama
lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara.
Jadi dari pengertian di atas bisa disimpukan bahwa sanitasi adalah
suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya
kepada usaha-usaha kesehatan lingkunganhidup manusia.
b. Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan pada hakekatnya adalah kondisi atau keadaan
lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap status
kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan
tersebut antara lain mencakup: perumahan, pembuangan kotoran manusia
(tinja), penyediaan air bersihpembuangan sampah, pembuangan air
kotor (air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya
(Anwar, 1999).
Sanitasi lingkungan mengutamakan pencegahan terhadap faktor
lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit akan dapat
dihindari. Usaha sanitasi dapat berarti pula suatu usaha untuk
menurunkan jumlah bibit penyakit yang terdapat di lingkungan
sehingga derajat kesehatan manusia terpelihara dengan sempurna (Azwar,
1990).
Sanitasi lingkungan juga merupakan salah satu usaha untuk mencapai
lingkungan sehat melalui pengendalian faktor lingkungan fisik
khususnya hal-hal yang mempunyai dampak merusak perkembangan
fisik kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Usaha sanitasi
lingkungan menurut Kusnoputranto (1986) adalah usaha kesehatan yang
menitikberatkan pada usaha pengendalian faktor lingkungan fisik yang
mungkin menimbulkan dan menyebabkan kerugian dalam perkembangan
fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia.
Menurut WHO, sanitasi lingkungan (environmental sanitation) adalah
upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang
mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan

28
bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia (Umar,
2003).
Sanitasi lingkungan dapat pula diartikan sebagai kegiatan yang
ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi
lingkungan yang mendasar yang mempengaruhi kesejahteraan manusia.
Kondisi tersebut mencakup pasokan air yang bersih dan aman;
pembuangan limbah dari manusia, hewan dan industri yangefisien,
perlindungan makanan dari kontaminasi biologis dan kimia, udara yang
bersih dan aman; rumah yang bersih dan aman. Dari defenisi tersebut,
tampak bahwa sanitasi lingkungan ditujukan untuk memenuhi
persyaratan lingkungan yang sehat dan nyaman. Lingkungan yang
sanitasinya buruk dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang dapat
mengganggu kesehatan manusia. Pada akhirnya jika kesehatan
terganggu, maka kesejahteraan juga akan berkurang. Karena itu upaya
sanitasi lingkungan menjadi penting dalam meningkatkan kesejahteraan
(Setiawan, 2001).
c. Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan
Ruang lingkup sanitasi lingkungan terdiri dari beberapa cakupan.
Kesehatan lingkungan merupakan ilmu kesehatan masyarakat yang menitik
beratkan usaha preventif dengan usaha perbaikan semua faktor lingkungan
agar manusia terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan.
Menurut Kusnoputranto (1986) ruang lingkup dari kesehatan
lingkungan meliputi:
1) Penyediaan air minum
2) Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air
3) Pengelolaan sampah padat
4) Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah
5) Pengendalian pencemaran udara
6) Pengendalian radiasi
7) Kesehatan kerja, terutama pengendalian dari bahaya-bahaya fisik, kimia
dan biologis

29
8) Pengendalian kebisingan
9) Perumahan dan pemukiman, terutama aspek kesehatan masyarakat
dari perumahan penduduk, bangunan- bangunan umum dan institusi.
10) Perencanaan daerah dan perkotaan
11) Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, laut dan darat.
12) Rekreasi umum dan pariwisata
13) Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi,
bencana alam, perpindahan penduduk dan keadaan darurat
14) Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin agar lingkungan
pada umumnya bebas dari resiko gangguankesehatan.
d. Sanitasi Dasar
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk
menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang
menitikberatkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Azwar, 1996).
Upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan
kotoran manusia, pengelolaan sampah, dan pengelolaan air limbah.
1) Penyediaan Air Bersih
Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan
manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak,
mandi, mencuci, dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO di
negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter
per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia
tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari.
Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari
sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih
dan aman tersebut, antara lain, bebas dari kontaminasi kuman atau bibit
penyakit. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. Tidak
berasa dan tidak berbau. Dapat dipergunakan untuk mencukupi
kebutuhan domestik dan rumah tangga. Memenuhi standar minimal
yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI. Persyaratan

30
tersebut juga tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.416
Tahun 1990. Penyediaan air bersih harus memenuhi dua syarat yaitu
kuantitas dan kualitas (Depkes RI, 1995).
2) Pembuangan Kotoran Manusia
Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia
melalui anus sebagai sisa dari proses pencernaan (tractus digestifus).
Dalam ilmu kesehatan lingkungan dari berbagai jenis kotoran
manusia, yang lebih dipentingkan adalah tinja (feces) danair seni (urine)
karena kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan
dapat menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit
saluran pencernaan (Soeparman, 2002).
Ditinjau dari sudut kesehatan, kotoran manusia merupakan masalah
yang sangat penting, karena jika pembuangannya tidak baik maka dapat
mencemari lingkungan dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan
manusi. Penyebaran penyakit yang bersumber pada kotoran manusia
(feces) dapat melalui berbagai macam cara.
Disamping dapat langsung mengkontaminasi makanan, minuman,
sayuran, air, tanah, serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya), dan bagian-
bagian tubuh kita dapat terkontaminasi oleh tinja dari seseorang yang
sudah menderita suatu penyakit tertentu merupakan penyebab penyakit
bagi orang lain. Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai
dengan cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran
penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit-penyakit yang
dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain tipus, disentri, kolera,
bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang,
cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya (Kusnoputranto, 1986).
3) Pengelolaan Sampah
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak
dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak digunakan
lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan
masyarakat Amerika membuat batasan, sampah adalah sesuatu yang

31
tidak digunakan, tidak dipakai,tidak disenangi, atau sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan
sendirinya (Notoatmodjo, 2003).
Sumber-sumber sampah:
a) Sampah yang berasal dari pemukiman
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan
rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti: sisa makanan,
kertas/plastik pembungkus makanan, daun, dan lain-lain
b) Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum, seperti pasar, tempat
hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan sebagainya. Sampah ini
berupa kertas, plastik, botol, daun, dan sebagainya
c) Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah ini dari perkantoran baik perkantoran pendidikan,
perdagangan, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Umumnya
sampah ini bersifat kering, danmudah terbakar.
d) Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan, yang umumnya terdiri
dari kertas, kardus, debu, batu-batuan, pasir, daun, palstik, dan
sebagainya.
e) Sampah yang berasal dari industri
Sampah dari proses industri ini misalnya sampah pengepakan
barang, logam, plastik, kayu, kaleng, dan sebagainya.
f) Sampah yang berasal dari pertanian/perkebunan
Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan atau pertanian
misalnya: jerami, sisa sayur-mayur, dan sebagainya.
g) Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah ini dapat berupa kotoran ternak, sisa makanan ternak,
bangkai binatang, dan sebagainya.
4) Sistem Pengelolaan Air Limbah

32
Menurut Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan yang
berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya
dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat
membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian
lingkungan.
Tujuan pengaturan air limbah dalam Entjang (2000: 96) sebagai
berikut mencegah pengotoran sumber air rumah tangga, menjaga
makanan misalnya sayuran yang dicuci dengan air permukaan,
perlindunganterhadap ikan yang hidup dalam kolam ataupun di sungai,
menghindari pengotoran tanah permukaan, perlindungan air untuk
ternak, menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit–bibit penyakit
(cacing dan sebagainya) dan vektor penyebar penyakit (nyamuk, lalat,
dansebagainya), menghilangkan adanya bau–bauan, dan pemandangan
yang tidak sedap. Dampak pembuangan limbah tanpa pengelolaan yang
baikyaitu kontaminasi dan pencemaran air permukaan dan badan –badan
airyang digunakan manusia, mengganggu kehidupan dalam air (hewan
dantumbuhan air), menimbulkan bau tidak sedap, dan menimbulkan
lumpuryang mengakibatkan pendangkalan sehingga terjadinya banjir.

33
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengendalian secara kultur teknis (Cultural control), pada prinsipnya
merupakan cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk
menekan perkembangan populasi hama. Pengertian Kultur Teknis Kultur
Teknis merupakan cara perlindungan dengan memanfaatkan kondisi
lingkungan yang dibutuhkan pengganggu, tetapi sesuai dengan kondisi
lingkungan yang dibutuhkan oleh tanaman
2. Pengelolaan lahan, meliputi kegiatan inventarisasi, perencanaan,
pengaturan, perlakuan dan pengawasan terhadap komponen lahan dan
penggunaannya dengan tujuan memelihara eksistensi dan fungsi secara
berkelanjutan. Pengolahan air dapat juga menghalangi perkembangan hama-
hama tertentu. Akan tetapi bila cara pengolahan air kurang tepat dapat
mengakibatkan peningkatan perkembangan populasi hama tanaman.
3. Pemuliaan tanaman kehutanan memerlukan perencanaan yang matang agar
diperoleh bibit yang berkualitas. Hal ini dikarenakan bibit yang akan ditanam di
lapangan harus merupakan bibit yang rentan terhadap kondisi lingkungan dan tahan
terhadap hama dan penyakit tanaman. Untuk memperoleh bibit yang berkualitas
perlu dilakukan proses seleksi. Sementara itu, seleksi bibit juga diperlukan untuk
mengurangi tingkat kematian bibit di lapangan, sehingga bibit yang ditanam benar-
benar merupakan bibit yang tahan terhadap kondisi lingkungan, hama dan
penyakit.
4. Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik,
kimia, atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan
tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur
dengan maksud untuk meningkatkan pH tanah yang asam, pemberian legin

34
bersama benih tanaman kacang-kacangan, dan pemberian pembenah tanah
(soil conditioner) untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Demikian pula,
pemberian urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam
tanah tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan.
5. Salah satu cara pengendalian alternatif yang dapat dilakukan adalah cara
kultur teknis yaitu melalui pengaturan jarak tanam. Pengendalian hama
melalui pengaturan jarak tanam mempunyai beberapa keunggulan, selain
aman terhadap lingkungan dan makhluk hidup bukan target, juga murah dan
kompatibel dengan banyak cara pengendalian lainnya juga dapat menekan
resiko terjadinya resistensi hama sasaran. Cara pengendalian ini dapat
menciptakan mikrohabitat sekitar tanaman menjadi tidak menguntungkan
untuk reproduksi dan kehidupan organisme hama dan patogen, sehingga
diharapkan dapat menekan berkembangnya hama tanaman dan pathogen.
6. Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk
menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit
sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik. Mulsa dapat bersifat
permanen seperti serpihan kayu, atau sementara seperti mulsa plastik. Mulsa
dapat diaplikasikan sebelum penanaman dimulai maupun setelah tanaman
muncul.
7. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit dengan melenyapkan
atau mengendalikan faktor-faktor risiko lingkungan yang merupakan mata
rantai penularan penyakit. sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan
untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan
kesehatan. Sanitasi lingkungan mengutamakan pencegahan terhadap
faktor lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit akan
dapat dihindari.

35