Anda di halaman 1dari 9

PANDUAN ASESMEN PRA BEDAH

RS KH. ABDURRAHMAN SYAMSURI PACIRAN

RUMAH SAKIT KH. ABDURRAHMAN SYAMSURI ( RS-ARSY)


MA’HAD KARANGASEM AL-ISLAMY
LAMONGAN
2018
i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii


BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
A. Definisi ........................................................................................................................ 1
B. Tujuan .......................................................................................................................... 1
BAB II RUANG LINGKUP ...................................................................................................... 2
BAB IV TATA LAKSANA....................................................................................................... 3
A. Penjadwalan................................................................................................................. 3
B. Asesmen Pra Bedah ..................................................................................................... 3
A. Staf Medis................................................................................................................... 6
B. Staf Perawat ................................................................................................................. 6

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi
Asesmen Pra Bedah adalah suatu pemeriksaan dan perencanaan sebelum tindakan
pembedahan dilaksanakan.

B. Tujuan
1. Sebagai panduan yang sistematis untuk menentukan status kesehatan pasien pada
perencanaan dan perawatan lebih lanjut.
2. Dasar untuk memilih prosedur yang tepat, waktuyang optimal, prsedur aman,
3. Memberikan manfaat terhadap prosedur yang direncanakan.
4. Pasien dan keluarga memperoleh informasi yang jelas mengenai kemungkinan
terjadinya komplikasi pembedahan.

1
BAB II
RUANG LINGKUP

A. Ruang Lingkup
Setiap pasien yang datang ke Rumah sakit harus dilakukan penilaian awal dan
penapisan ( screening ) oleh petugas yang berwenang dan kompeten untuk melakukan
perawatan selanjutnya, mengenai kebutuhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Ruang
lingkup penilaian tiap disiplin ditentukan oleh kebijakkan setiap bagian bedah. Ruang
lingkup dan intensitas penilaian ditentukan oleh kondisi pasien sebagai berikut:
1. Kondisi / Diagnosis
2. Perencanaan Perawatan
3. Motivasi tentang Perawatan
4. Respon pada perawatan sebelumnya
5. Persetujuan tindakan
Data-data yang penting dari pasien harus dikomunikasikan secara konsisten kepadatim yang
merawat. Kelainan fisik atau diagnostik harus dilaporkan ke dokter. Dokter bisa merujuk
pasien bila fasilitas dan sarana bedah tidak tersedia.

B. Ruang Lingkup Pelaksanaan


1. Dokter Bedah Umum
2. Dokter Spesialis Bedah Orthopedi
3. Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
4. Dokter Spesialis Bedah Anak

2
BAB IV
TATALAKSANA

A. Penjadwalan
Dokter yang berwenang dan berkompeten melakukan permintaan pelayanan operasi atau
berkoordinasi dengan staf bagian kamar operasi tentang jadual dan ketersediaan peralatan yang
diperlukan dalm operasi tersebut. Apabila peralatan atau sarana penunjang lainnya yang akan
digunakan tidak tersedia dikamar operasi maka pasien akan “dirujuk” ke rumah sakit lain. Dan
apabila peralatan yang akan digunakan tersedia, maka di lakukan penjadualan dan persiapan
peralatan serta dialkukan persiapan pasien oleh ahli bedah.

B. Asesmen Pra Bedah


asesmen pra bedah dilakukan pada pasien yang telah bersedia untuk dilakukan tindakan
operasi. Asesmen tersebut dilakukan untuk menentukan kebutuhan pasien dan kebutuhan staf
medis dalammelakukan tindakan pembedahan.Asesmenini dibagi untuk 2 kategori pembedahan
elektif atau terencana dan emergensi.
1. Bedah elektif dikerjakan pada waktu yang cocok bagi pasien serta timRS
………….?. dokter akan menjelaskan operasi yang dimaksud selama konsultasi rawat jalan
dengan rincian mengenai manfaat dan risiko operasi. Penyelidikan dan penilaian masalah-
masalah medis diatasi pada tahap ini, termasuk rujukan ke spesialis yang relevan termasuk
spesialis anestesi. Dokter bedah melakukan pemeriksaan- pemeriksaan yang diperlukan dan
disesuaikan dengan kasus bedahnya termasuk pemeriksaan laboratorium dan radiologi.
Bedah elektif pada pasien dengan penyakit menahun sebaiknya hanya dikerjakan bila
kondisi medis pasien telah dioptimalkan dan risiko minimal. Persiapan untuk bedah elektif,
dilakukan untuk pasien yang sudah siap operasi. Setelah pasien berada di ruang rawat inap,
dokter bedah menyampaikan kembali tentang prosedur bedah yang akan dikerjakan di
kamar operasi. Dokter melakukan penandaan lokasi operasi:
a. Penandaan dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality), multiple struktur
(jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang).
b. Penandaan selalu melibatkan pasien dan keluarga pasien
c. Penandaan menggunakan penanda yang tidak mudah luntur terkena air/
alcohol/betadin.
d. Mudah dikenali.
e. Digunakan secara konsisten di RS KH. Abdurrahman Syamsuri.
f. Penandaan dibuat oleh operator/ orang yang melakukan tindakan.
g. Dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan dan harus terlihat
sampai saat akan disayat.
Dokter bedah mendokumentasikan seluruh persiapan pasien termasuk menuliskan diagnose
pre operasi dan nama tindakan atau prosedur operasi yang akan dilakukan serta pernyataan
persetujuan pasien untuk dilakukan pembedahan dalam berkas rekam medis pasien.
2. Bedah emergensi. Pasien yang menghadapi bedah emergensi berbeda dari pasien
yang dijadualkan. Diagnosis yang mendasari mungkin tidak diketahui dan operasi yang
direncanakan tidak pasti. Kontak secepat mungkin dengan spesialis anestesi akan
menghasilkan rencana tindakan untuk periode pra bedah. Setelah diskusi, operasi kadang-
kadang dianjurkan untuk ditunda untuk memungkinkan pengobatan medis memperbaiki
keadaan umum pasien. Pada situasi tertentu dibutuhkan operasi segera. Perawatan pra bedah
dari pasien – pasien emergensi:
a. Anamnesis: lakukan anamnesis terhadap pasien dan/atau keluarganya. Tanyakan
secara spesifik tentang terapi obat terakhir dan kepatuhan pasien. Apakah pasien
memiliki alergi atau mengalami masalah dengan pembiusan dahulu?
b. Rekam medis: periksa rekam medis dan catatan laboratorium untuk melihat bukti
kelainan medis yang bermakna. Sampai 50% pasien dengan riwayat infark miokard
3
aktual atau dicurigai akan menceritakan riwayat penyakit dengan tidak akurat pada 5
tahun sesudahnya. Pasien mungkin yakin mengalami serangan jantung ketika
sebenarnya tidak, dan begitupula sebaliknya.
c. Pemeriksaan fisik
d. Penyelidikan: kebanyakan pasien membutuhkan pemerik-saan hematologi dan
biokimia rutin serta uji silang darah. Kirim sampel darah segera mungkin. EKG dan X-
foto toraks perlu dilakukan bila ada kecurigaan patologi. Pasang pulse oximetry pada
pasien dispnea dan cek gas darah arteri.
e. Hipotensi : paling sering disebabkan oleh hipovolemia akibat kehilangan darah atau
cairan tubuh lain. Pasien usia lanjut yang syok tidak selalu takikardia. Pasien hipertensi
mungkin mengalami hipotensi bila tekanan sistoliknya 100 mmHg.
f. Obati nyeri
g. Penggantian cairan: harus dilakukan segera dengan pemantauan ketat untuk menilai
respons terhadap pengisian beban cairan. Volume cairan yang besar harus terlebih
dahulu dihangatkan. Kateter urin harus dipasang. Kadang-kadang hipotensi disebabkan
atau diperburuk oleh gagal jantung atau sepsis. Jika respons terhadap terapi cairan tidak
adekuat, pemantauan CVP dibutuhkan. Jangan biarkan kepala pasien jatuh ketika
memasang infus vena sentral.
h. Syok: setiap pasien hipotensi yang tidak memberi respons dengan pergantian
volume memiliki risiko serius dan harus dikelola di HDU/ICU. Sebagai alternatif,
pasien bisa dirujuk ke kamar operasi. Pasien-pasien perdarahan aktif memerlukan
operasi penyelamatan jiwa dan kamar operasi harus dipersiapkan segera. Persediaan
darah yang telah diuji silang harus diusahakan. Kalau bisa darah sampai ke kamar
operasi sekaligus dengan pasien, dan pada pasien yang kehabisan darah, darah dari
golongan sama dan belum diuji silang harus sudah ada segera.
i. Terapi cairan berlebihan: bisa mengakibatkan edema paru atau hemodilusi. Ini bisa
dicegah dengan pemantauan imbang cairan setiap jam dan CVP.
j. Beri oksigen kepada pasien hipotensi dan setiap pasien dengan saturasi oksigen
(SpO2) kurang dari 95% pada pulse oximetry. Pemeriksaan fisik dan radiologi biasanya
akan menentukan penyebab hipoksia. Pada pasien kritis, dispnea bisa disebabkan oleh
asidosis metabolik. Asidosis laktat yang disebabkan hipoksia jaringan sering akan
memberi respons terhadap resusitasi umum, walaupun sebab-sebab lain dari asidosis
harus dicari.
k. Koreksi metabolik: elektrolit harus dikoreksi seefektif waktu yang tersedia.
Hipokalemia dan hipomagnesemia bisa mencetuskan aritmia jantung. Kendalikan
diabetes dengan insulin dan infus dekstrosa.
l. Pasang selang nasogastrik pada pasien obstruksi usus untuk mengurangi kembung
dan mengurangi risiko aspirasi. Pastikan bahwa pasien dengan penurunan kesadaran
memiliki jalan napas tidak tersumbat, dan menerima oksigen serta dalam posisi sesuai.
Pada pasien dengan riwayat refluks asam, berikan omeprazole 40 mg oral (atau
ranitidine 50 mg iv jika penyerapan usus jelek) tepat sebelum operasi.
m. Komunikasi: pasien dan keluarganya terus diberitahu mengenai rencana tindakan
dan minta persetujuan untuk setiap prosedur yang direncanakan. Bahas risiko spesifik
yang berkaitan dengan operasi atau kondisi medis pasien. Jika operasi memiliki risiko
kematian, pastikan bahwa ini dipahami. Jangan anggap semua pasien (khususnya usia
lanjut) menginginkan operasi.
A. Edukasi Pre Operasi
1. Latihan napas
a. Latihan menarik napas dalam, dipantau dengan spirometri bila perlu.
Bertujuan untuk mengembangkan paru-paru secara optimal dan meningkatkan kadar
oksigen di dalam darah pasca tindakan anestesi.

4
b. Instruksikan pasien untuk latihan batuk dan tarik napas dalam pada posisi
duduk.
c. Iinstruksikan pasien untuk menarik napas dalam, tiga kali, melalui lubang
hidung dan menghembuskan napas perlahan melalui mulut dengan posisi bibir agak
mengatup. Latihan tarik napas dalam dilakukan setiap dua jam.
2. Latihan batuk dan posisi menahan
a. Latihan batuk membantu mengaluarkan secret dari rongga dada dan bahu
posisi menahan/”pembebat” yang dapat mengurangi tekanan serta mengontrol nyeri.
b. Instruksikan pasien untuk menyilangkan jari-jari tangan, kemudian
meletakkan di atas lokasi bekas insisi sebagai penahan/”pembebat” saat batuk nanti,
mencegah cedera pada bekas insisi.
c. Bersandar ke depan perlahan dari posisi duduk.
d. Bernapas menggunakan diafragma perut, tarik napas penuh dengan mulut
sedikit terbuka.
e. Batukkan 3-4 kali perlahan.
f. Kemudian dengan mulut terbuka, tarik napas dalam dengan cepat lalu
batukkan kuat 1-2 kali.

3. Latihan ambulasi
a. Instruksikan pasien untuk menggerakkan kedua pergelangan kaki dengan
arah ibu jari kaki ke atas dan kebawah.
b. Instruksikan pasien untuk menekankan bagian belakang lutut ke tempat tidur.
Kemudian diikuti relaksasi lutut, kontraksi diikuti relaksasi otot paha dan otot betis
mencegah terbentukknya thrombus.

5
BAB V
DOKUMENTASI

Data dan penilaian didokumentasikan oleh berbagai disiplin bedah pada formulir yang
sesuai, dan termasuk data medis umum harus diidentifikasi.Pelayanan dan perawatan harus
dikoordinasikan secara efektif dan efisien.didokumentasikan sebagai berikut :

A. Staf Medis
1. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
2. Catatan perkembangan dan kebijakkan penyakit
3. Catatan pre dan post anestesi
4. Laporan konsultasi
5. Laporan Operasi
6. Ringkasan pasien pulang
7. Catatan Klinis

B. Staf Perawat
1. Catatan penilaian pasien / asuhan perawatan
2. Catatan pasien pulang
3. Catatan klinis