Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

INDUKSI KALUS

Kelompok 3

1. Mardiyana Woro S 14308141012


2. Muh Abdul Jalil 14308141013

Kelas Biologi B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
BAB I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Media CIM dan SIM merupakan media tumbuh yang digunakan dalam kegiatan kultur
jaringan untuk merangsang pembentukan kalus atau induksi kalus. Media tersebut terbuat dari
media MS yang ditambahkan komposisi hormon tertentu, media CIM menggunakan
penambahan hormon 2.4D, sedangkan pada media SIM menggunakan penambahan hormon
NAA dan BA.

Induksi kalus merupakan upaya yang dilakukan dalam kegiatan kultur jaringan tumbuhan
untuk mengkultur tanaman dengan memanfaatkan bagian atau organ tertentu pada tanaman
seperti akar, batang, maupun menggunakan bagian daun. Penggunaan hormon – hormon tertentu
seperti pada media CIM maupun SIM dapat merangsang terbentuknya kalus.

Pada kegiatan praktikum ini bermaksud untuk melakukan kegiatan induksi kalus.
Diharapkan menggunakan media tersebut mampu merangsang terjadinya induksi kalus, kami
mencoba melakukan induksi kalus dengan memanfaatkan bagian batang biji kacang hasil
praktikum sebelumnya.

B. Tujuan

Mengetahui cara menghasilkan kalus dari bagian tanaman yang ditumbuhkan pada berbagai jenis
media
BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media
buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga
bagian-bagian tersebut dapat memperbayak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang
lengkap. Dasar teori yang digunakan adalah teori totipotensi yang ditulis oleh Schleiden dan
Schwann, yang menyatakan bahwa teori totipotensi adalah bagian tanaman yang hidup
mempunyai totipotensi, kalau dibudidayakan di dalam media yang sesuai, akan dapat tumbuh
dan berkembang menjadi tanaman yang sempurna, artinya dapat bereproduksi, berkembang biak
secara normal melalui biji atau spora (Syahid, S. F., Kristina, N. N. 2007).
Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan yang
membelah diri secara terus menerus. Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka
pertama kali dilakukan oleh Sinnott pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka
dipacu oleh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin endogen (Dodds & Roberts, 1983). Secara
in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekas-bekas luka akibat serangan infeksi mikro
organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda.
Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress. Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi
bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor (Gunawan, LW. 1987).

Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan
ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat memperbanyak dirinya
(massa selnya) secara terus menerus.
Sel-sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang dengan sel-
sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari potongan organ yang telah steril, di
dalam media yang mengandung auksin dan kadang-kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat
berupa kambium vaskular, parenkhim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan
jaringan provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk
berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk plantlet
(Hendaryono, D., Wijayani, A. 1994).
Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus tersebut
mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh terpisah-pisah
menjadi fragmen-fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal dengan kalus remah (friable).
Warna kalus dapat bermacam-macam tergantung dari jenis sumber eksplan itu diambil, seperti
warna kekuning-kuningan, putih, hijau, atau kuning kejingga-jingaan. (karena adanya pigmen
antosianin ini terdapat pada kalus kortek umbi wortel).
Dalam kultur kalus, kalus homogen yang tersusun atas sel-sel parenkim jarang dijumpai kecuali
pada kultur sel Agave dan Rosa (Narayanaswany (1977 dalam Dodds & Roberts, 1983). Untuk
memperoleh kalus yang homogen maka harus menggunakan eksplan jaringan yang mempunyai
sel-sel yang seragam. Dalam pertumbuhan kalus, citodiferensiasi terjadi untuk membentuk
elemen trachea, buluh tapis, sel gabus, sel sekresi dan trikoma. Kambium dan periderm sebagai
contoh dari proses hitogenesis dari kultur kalus. Anyaman kecil dari pembelahan sel-sel
membentuk meristemoid atau nodul vaskular yang nantinya menjadi pusat dari pembentukan
tunas apikal, primordial akar atau embrioid (Gunawan, LW. 1987).
Induksi kalus biasa menggunakan medium dasar, antara lain medium Murashige dan
Skoog (MS), Nitsch dan Nitsch, White, Heller, Vacin dan Went (VW), Knudson C, N6, B5 atau
Gamborg, Schenk dan Hildebradt (SH). Setiap eksplan dari suatu tanaman mempuyai kecocokan
terhadap suatu medium untuk mampu tumbuh menjadi kalus. Dari hasil-hasil penelitian terbukti
bahwa medium MS paling digemari karena dapat digunakan untuk tanaman apa saja (Zulkarnain,
2009).
BAB III.

METODE

A. Waktu dan Tempat

Praktikum pengenalan alat laboratorium ini dilaksanakan pada tanggal 19 April


2017 jam 07.30 – 09.10 di Laboratorium (Kultur Jaringan) Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta.

B. Alat dan bahan

Alat : LAF cabinet, lampu bunsen, pisau scalpel, pinset, petridish, plastic wrap, lateks,
masker

Bahan : batang hasil kultur biji kacang merah, alkohol 70%, media CIM dan SIM

C. Langkah kerja
Pertama ruangan, media, alat, serta bahan terlebih dulu disterilkan, begitu pula
LAF cabinet. Selanjutnya, organ batang kacang merah hasil kultur sebelumnya diambil
menggunakan pinset dan dipotong menggunakan pisau scalpel dengan panjang kurang
lebih 1 cm, kemudian ditanam di dalam media CIM dan SIM secara aseptik. Setelah itu
ditutup menggunakan plastik, kencangkan dengan karet dan dilapisi plastic wrap. Simpan
di dalam rak inkubasi. Dilakukan pengamatan induksi kalus yang terjadi.
BAB IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan praktikum kali ini adalah induksi kalus biji buncis, tujuan dalam praktikum kali
ini yaitu cara menginduksi kalus menggunakan media CIM dan SIM. Media penginduksi kalus
CIM dan SIM merupakan media dalam kegiatan kultur jaringan yang terbuat dari media
tumbuh MS yang diberi penambahan hormon auksin yang berbeda. Medium MS memiliki unsur-
unsur dan persenyawaan yang lebih lengkap dibandingkan dengan medium yang lain. Menurut
Street (1972 : 106), kadar mineral dalam medium MS relatif lebih tinggi dibandingkan medium
lain. Staba (1988 : 173) menambahkan bahwa umumnya mineral-mineral ini dapat mendukung
pertumbuhan sel-sel tanaman dalam kultur in vitro. Sebab pada medium MS, nitrogen tersedia
dalam bentuk cairan nitrat dan ammonia sehingga kebutuhan nitrogen akan selalu terpenuhi.
Komposisi yang terdapat dalam medium kultur MS diantaranya makronutrien, mikronutrien,
hormon, vitamin, iron, Myo-inositol, sukrosa, serta agar. Media induksi CIM menggunakan
penambahan hormon 2.4D, sedangkan media induksi SIM dengan penambahan hormon NAA
dan BA. Hormon Auksin adalah hormon tumbuhan yang berfungsi untuk memacu proses
pemanjangan sel. Hormon ini dihasilkan pada bagian koleoptil (titik tumbuh) pucuk tumbuhan,
yaitu ujung akar dan batang. Fungsi lain dari hormon auksin adalah membantu proses
pertumbuhan akar dan batang, mempercepat perkecambahan, membantu proses pembelahan sel,
merangsang kambium untuk membentuk xilem dan floem, memelihara elastisitas dinding sel,
membentuk dinding sel primer, mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam
buah, menghambat rontoknya buah dan gugurnya daun, serta membantu proses partenokarpi
(pembuahan tanpa penyerbukan). Hormon auksin 2,4-D merupakan golongan auksin sintesis
yang mempunyai sifat stabil, karena tidak mudah terurai oleh enzim-enzim yang dikeluarkan sel
atau pemanasan pada proses sterilisasi. Penambahan 2,4-D dalam media akan merangsang
pembelahan dan pembesaran sel pada eksplan sehingga memacu pembentukan dan pertumbuhan
kalus serta meningkatkan senyawa kimia alami flavonoid.

Hormon NAA merupakan salah satu golongan auksin yang berperan dalam merangsang
pertumbuhan akar. fungsi NAA bagi tanaman adalah pertumbuhan kalus, merangsang
pembelahan sel serta pertumbuhan akar dan mengatur morfogenesis.
Pada praktikum tersebut, induksi kalus yang dilakukan menggunakan kecambah yang
tumbuh dari biji kacang dalam praktikum sebelumnya. Kami mengambil potongan organ bagian
batang kacang sepanjang kurang lebih 1 cm, kemudian ditanam kedalam media tumbuh Cim dan
Sim dengan masing – masing 2 eksplan. Kegiatan dilakukan di dalam LAF cabinet secara
aseptik. Selanjutnya diinkubasi ke dalam rak dan diberi pencahayaan lampu neon.

Hasil yang tampak dalam induksi kalus menunjukkan pada hari ke tiga eksplan berupa
batang kacang merah yang kami kultur telah mengalami kontaminasi, sehingga tidak tampak
adanya kalus yang muncul. Hal tersebut dapat terjadi karena Kontaminasi dapat terjadi
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain metode sterilisasi, eksplan dan alat. Kontaminan
akan tumbuh dengan cepat pada media yang mengandung gula, vitamin dan mineral bila faktor
kontaminasi tidak dihilangkan.
BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah kami lakukan dapat diperoleh kesimpulan
bahwa, penambahan hormon tertentu seperti 2.4D,NAA, dan BA dalam media pertumbuhan
dengan yang sesuai dapat merangsang terbentuknya kalus atau induksi kalus. Pelaksanaan
induksi kalus secara aseptik dan berada di lingkungan atau ruangan yang steril akan
menghindarkan potensi terjadinya kontaminasi pada kultur.

Saran

Saran yang dapat diajukan pada penulisan makalah ini yaitu, sangat dibutuhkan
banyaknya referensi yang relevan dari berbagai sumber sehingga mempermudah dalam
penyusunan makalah ini. Selain itu, agar bisa dijadikan sebagai pustaka untuk penyusunan
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Dodds J.H and Robert L.W. 1982. Ezperiment in Plant Tissue Culture. Cambridge:Univ. Press
Gunawan, LW. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Hal. 252. Pusat Antar Universitas Bioteknologi,
Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Hendaryono, D., Wijayani, A. (1994). Teknik kultur jaringan, Pengenalan dan Petun-juk
Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif-Modern. Yogyakarta : Kanisius.

Syahid, S. F., Kristina, N. N. (2007). Induksi dan Regenerasi Kalus Keladi Tikus (Typonium
flagelliforme. Lodd. ) Secara In vitro. Jurnal Littri. 13(4), 142-146.

Zulkarnain, H. (2009). Kultur Jaringan Tanaman Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya.
Jakarta : Bumi Aksara.