Anda di halaman 1dari 7

RESUME 4

Judul resume : Pemerataan akses, wajib belajar dan peingkatan kualitas pendidikan anak
Indonesia

Keperluan resume:Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Problematika Pembelajaran


Biologi pada pokok atau sub pokok pembahasan mengenai Pemerataan akses,
wajib belajar dan peingkatan kualitas pendidikan anak Indonesia

Nama penulis resume: Granitha Chandika Komsi / Offering C -170341864554


Tempat dan waktu penulisan resume: Malang, 12 Februari 2018

A. Pemerataan Akses Pendidikan di Indonesia

Equality atau persamaan mengandung arti persamaan kesempatan untuk memperoleh


pendidikan, sedangkan equity bermakna keadilan dalam memperoleh kesempatan pendidikan yang
sama diantara berbagai kelompok dalam masyarakat. Akses terhadap pendidikan yang merata
berarti semua penduduk usia sekolah telah memperoleh kesempatan pendidikan, sementara itu
akses terhadap pendidikan telah adil jika antar kelompok bisa menikmati pendidikan secara
sama.Mereka yang paling memerlukan layanan pendidikan dalam mengantisipasi persaingan
global di samping penyandang buta huruf adalah masyarakat miskin di tempat tempat yang jauh
dan tersebar. Dasar Pemerataan Pendidikan di IndonesiaPembangunan pendidikan merupakan
salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pembangunan pendidikan sangat
penting karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan:
sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Pendidikan menjadi landasan kuat yang diperlukan untuk
meraih kemajuan bangsa di masa depan, bahkan lebih penting lagi sebagai bekal dalam
menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antarbangsa yang berlangsung sangat ketat.
Dengan demikian, pendidikan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi karena ia merupakan
faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bias memenangi kompetisi global Sejak tahun 1984,
pemerintah Indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan Sekolah Dasar,
dilanjutkan denganwajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. Upaya-upaya ini
nampaknya lebih mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan (dimensi
equality of access).

Strategi merupakan upaya yang sistematis untuk mencapai tujuan strategis yang telah
ditetapkan melalui pencapaian sasaran-sasaran strategis dari tujuan strategis tersebut. Tiap strategi
menjelaskan komponen-komponen penyelenggaraan layanan pendidikan dan kebudayaan yang
harus disediakan untuk mencapai sasaran-sasaran strategis dari tiap tujuan strategis. Komponen-
10 komponen tersebut antara lain meliputi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, sistem pembelajaran, data dan informasi, dana, serta sistem dan prosedur yang bermutu.
Dalam pemilihan strategi juga mempertimbangkan disparitas antarwilayah, gender, sosial
ekonomi, serta antarsatuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah dan masyarakat.

1. Pemerataan akses pendidikan untuk T1 (PAUD)


2. Pemerataan akses pendidikan Kesetaraan untuk T2 (Pendidikan Dasar)
3. Pemerataan akses Pendidikan Kesetaraan Untuk T3 (Pendidikan Menengah)
4. Pemerataan akses Pendidikan Kesetaraan Untuk T4 (Perguruan Tinggi)
5. Pemerataan akses Pendidikan Kesetaraan Untuk T5
6. Pemerataan akses pendidikan Keseteraan untuk T6 (Penerapan Nilainilai budaya)
7. Strategi Pencapaian Tujuan Strategis Keseteraan untuk T7 (Tata kelola)

Pembangunan pendidikan dan kebudayaan di daerah perbatasan dan tertinggal termasuk


daerah rawan bencana, perlu dilakukan secara khusus untuk menjamin keberpihakan dan kepastian
kepada masyarakat di daerah tersebut. Pembangunan pendidikan di daerah perbatasan dan
tertinggal serta rawan bencana dilakukan melalui kebijakan sebagai berikut. a. penyediaan
pendidik dan tenaga kependidikan dengan tunjangan khusus di daerah perbatasan, tertinggal, dan
rawan bencana; b. penyediaan sarana dan prasarana pendidikan melalui pembangunan TKSD satu
atap, SD-SMP satu atap, dan sekolah berasrama di daerah perbatasan, tertinggal, dan rawan
bencana; dan c. penyediaan subsidi bagi siswa untuk mendapat pendidikan formal dan nonformal
di daerah perbatasan, tertinggal, dan rawan bencana.

B. Wajib Belajar di Indonesia


Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan
nasional. Pembangunan pendidikan sangat penting karena perannya yang signifikan dalam
mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Karena
itu, Pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh
layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana
diamanatkan oleh UUD 1945, yang mewajibkan Pemerintah bertanggung jawab dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Pendidikan menjadi
landasan kuat yang diperlukan untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan, bahkan lebih penting
lagi sebagai bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antarbangsa yang
berlangsung sangat ketat. Wajib Belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti
oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
masyarakat. Wajib belajar bertujuan memberikan pendidikan minimal bagi warga negara
Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam
masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Program wajib belajar
pemerintahan didasarkan pada permen RI Nomor 47 tahun 2008.
1. Wajib belajar 9 tahun
2. Wajib belajar 12 tahun
C. Kualitas Pendidikan Yang Sesuai Dengan Tuntutan Undang-Undang Dasar Tahun 1945
pengertian kualitas atau mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil
pendidikan. Dari konteks “proses” pendidikan yang berkualitas terlibat berbagai input (seperti
bahan ajar: kognitif, afektif dan, psikomotorik), metodologi (yang bervariasi sesuai dengan
kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya
lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Selain itu kualitas pendidikan merupakan
kemampuan sistem pendidikan dasar, baik dari segi pengelolaan maupun dari segi proses
pendidikan, yang diarahkan secara efektif untuk meningkatkan nilai tambah dan factor-faktor input
agar menghasilkan output yang setinggi-tingginya. Jadi pendidikan yang berkualitas adalah
pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dasar untuk belajar,
sehingga dapat mengikuti bahkan menjadi pelopor dalam pembaharuan dan perubahan dengan cara
memberdayakan sumber-sumber pendidikan secara optimal melalui pembelajaran yang baik dan
kondusif. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menjawab berbagai
tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi sekarang dan masa yang akan datang. Dari sini
dapat disimpulkan bahwa kualitas atau mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga dan sistem
pendidikan dalam memberdayakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kualitas yang
sesuai dengan harapan atau tujuan pendidikan melalui proses pendidikan yang efektif.
Standar Nasional Pendidikan meliputi ; Standar isi, Standar Proses, Standar Kompetensi
Lulusan, Standar Pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar
pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Secara terperinci, fungsi dan
tujuan standar nasional pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka
mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
2. Bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
3. Untuk disempurnakan secara terencana, terarah dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan local nasional dan global. Adapun penjelasan dari masing-masing
standar nasional pendidikan sebagai berikut :
a. Standar Isi Dalam pengembangannya, Standar Isi telah dikembangkan oleh BNSP dan
menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk suatu pendidikan dasar dan menengah.
Standar isi adalah cakupan materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai komptensi
lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
b. Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan, hal
ini sebagaimana yang dicantumkan dalam PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, Pasal 1 ayat 6. Cakupan dalam Standar Proses adalah sebagai
berikut :
 Perencanaan Proses Pembelajaran
 Pelaksanaan proses pembelajaran
 Penilaian hasil pembelajaran
 Pengawasan proses pembelajaran

c. Standar Kompetensi Lulusan adalah bagian dari Standar Nasional Pendidikan yang
merupakan kriteria kompetensi lulusan minimal yang berlaku di seluruh wilayah hokum
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Fungsi utama SKL yaitu sebagai kriteria
dalam menentukan kelulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan, rujukan untuk
menyusun standar pendidikan lainnya, serta arah peningkatan kualitas pendidikan.

d. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteri pendidikan prajabatan dan
kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

e. . Standar Sarana dan Prasarana merupakan standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan kriteria minimum tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah,
perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan
berekspresi serta sumber belajar lainnya

f. Standar Pengelolaan Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan


dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi atau nasional agar tercapai efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan
meliputi :

 Perencanaan program sekolah/madrasah


 Pelaksanaan rencana kerja sekolah
 Monitoring dan evaluasi
 Kepemimpinan Sekolah/madrasah
 Sistem informasi manajemen

g. Standar Pembiayaan Pendidikan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya
biaya operasional satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Biaya operasional
pendidikan adalah bagian dari dana pendidikan yang diperlukan untuk membiayai
kegiatan operasi satuan pendidikan agar dapat berlangsung kegiatan pendidikan yang
sesuai dengan standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan. Dalam
rinciannya biaya operasional terdiri dari biaya investasi, biaya operasi dan biaya
personal.

h. Standar Penilaian Pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi


untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, sedangkan evaluasi pendidikan
adalah pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai
komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk
pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
Di Indonesia, yang paling memerlukan pendidikan adalah mereka yang berada di daerah
miskin dan terpencil. Untuk mengatasi kebutuhan pendidikan bagi mereka adalah upaya penerapan
cara non konvensional. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antarwilayah geografis
yaitu antara perkotaan dan perdesaan, serta antara kawasan timur Indonesia (KTI) dan kawasan
barat Indonesia (KBI), dan antartingkat pendapatan penduduk ataupun antargender. Berbagai
permasalahan dan tantangan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan secara
ringkas diuraikan berikut;

 Sebagian besar pendirian lembaga-lembaga pendidikan sekolah yang diprakarsai oleh


masyarakat masih berorientsi di wilayah perkotaan, sedangkan untuk wilayah-wilayah di
pedesaan atau daerah terpencil dirasakan masih sangat kurang. Hal ini berakibat pada kurang
adanya pemerataan kesempatan untuk pendidikan.
 Masih terdapat pendirian/penyelenggaraan pendidikan yang tidak memenuhi standar minimal
baik dari segi sarana dan prasarana maupun mutu dan profesionalisme guru. Laporan
pembangunan dunia tahun 2004 menyatakan bahwa 20% tenaga pengajar Indonesia tidak
masuk sekolah pada saat pengecekan di sekolahsekolah yang terpilih secara ranom. Ini berarti
20% dari dana yang digunakan untuk membiayai tenaga pengajar tidak memberikan manfaat
secara langsung kepada murid, karena ternyata tenaga pengajar tersebut tidak berada di kelas.
 Pemeliharaan sekolah-sekolah tidak dilakukan secara berkala Selain itu, berdasarkan dari
Survei sekolah dari Departemen Pendidikan Nasional, satu dari enam sekolah di Jawa Tengah
berada dalam kondisi yang buruk, sementara itu sedikitnya satu dari dua sekolah di Nusa
Tenggara Timur juga berada di ruang kelas tanpa peralatan belajar yang memadai, seperti buku
pelajaran, papan tulis, alat tulis, dan tenaga pengajar yang menguasai materi pelajaran sesuai
kurikulum.
 Kondisi sosial ekonomi masyarakat di pedesaan dan daerah terpencil yang sebagian besar
miskin telah menyebabkan kualitas gizi anak kurang dapat mendukung aktivitas anak didik
dalam bermain sambil belajar.
 Banyak penyelenggaraan pendidikan terutama dikota-kota besar, kurang memperhatikan
kurikulum dengan mempraktekkan pola pendekatan terhadap anak didik terlalu berorientasi
akademik dan memperlakukannya sebagai "orang dewasa kecil" yang dapat menyebabkan
terjadinya proses pematangan emosi anak menjadi kurang seimbang.
 Tidak semua anak semua anak bersekolah. Indonesia masih belum mampu memenuhi program
wajib belajar 9 tahun bagi semua anak. Saat ini masih terdapat sekitar 20% anak usia sekolah
menengah pertama yang masih belum bersekolah. Perbedaan partisipasi antar daerah yang
cukup besar. Pada tahun 2002, sebagai contoh, angka partisipasi murni pada jenjang sekolah
dasar berkisar antara 83,5% di propinsi Gorontalo dan 94,4% di Sumatera Utara. Pada jenjang
sekolah menengah pertama, angka partisipasi murni berkisar antara 40,9% di Nusa Tenggara
Timur dan 77,2% di Jakarta dan pada jenjang sekolah menengah atas berkisar antara 24,5% di
Nusa Tenggara Timur dan 58,4% di Yogyakarta.
 Anak dari kelompok miskin keluar dari sekolah lebih dini. Pada tahun 2002 angka partisipasi
sekolah menengah pertama dari kelompok penduduk seperlima terkaya, lebih tingggi 69%
dibandingkan dengan angka partisipasi dari kelompok seperlima termiskin. Sementara pada
jenjang sekolah menengah atas, angka partisipasi murni dari kelompok seperlima terkaya
mencapai tiga setengah kali lebih tinggi dibandingkan dengan angka partisipasi murni
kelompok termiskin. Walaupun hampir semua anak dari berbagai kelompok pendapatan
bersekolah di kelas satu sekolah dasar, anak dari kelompok pendapatan termiskin cenderung
menurun partisipasinya setelah mencapai kelas enam.