Anda di halaman 1dari 3

RESUME 5

Judul resume : Permasalahan Guru Sains (Kualifikasi, Kompetensi, dan Distribusi)

Keperluan resume:Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Problematika Pembelajaran


Biologi pada pokok atau sub pokok pembahasan mengenai Permasalahan
Guru Sains (Kualifikasi, Kompetensi, dan Distribusi)

Nama penulis resume: Granitha Chandika Komsi / Offering C -170341864554


Tempat dan waktu penulisan resume: Malang, 20 Februari 2018

A. Hakikat dan Peran Guru


guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. peranan guru/pendidik adalah sebagai
berikut: (1) sebagai manajer pendidikan atau pengorganisasian kurikulum; (2) sebagai fasilitator
pendidikan; (3) pelaksana pendidikan; (4) pembimbing dan supervisor; (5) penegak disiplin; (6)
menjadi model perilaku yang akan ditiru siswa; (7) sebagai konselor; (8) menjadi penilai; (9)
petugas tata usaha tentang administrasi kelas yang diajarnya, (10) menjadi komunikator dengan
orang tua siswa dengan masyarakat; (11) sebagai pengajar untuk meningkatkan profesi secara
berkelanjutan; dan (12) menjadi anggota organisasi profesi pendidikan.
B. Kualifikasi guru
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
menyatakan bahwa Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Selanjutnya Mendiknas RI melalui Permen Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Identifikasi kompetensi guru yang tepat dianggap
memiliki nilai prediksi yang valid untuk keberhasilan guru dalam pekerjaannya”. Pemahaman
yang mendalam tentang pengertian kompetensi akan memberikan dasar dalam upaya menjadi guru
yang berhasil sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan.
1. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal
2. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan
C. Kompetensi Guru

kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-


kewajiban secara secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi terkait dengan kemampuan
dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Kompetensi guru menjadi
penting karena akan terkait dengan perbaikan sistem pendidikan. Guru merupakan komponen yang
menentukan dalam sistem pendidikan secra keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral,
pertama, dan utama. . Menyadari kondisi diatas, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk
mengembangkan standar kompetensi dan sertifikasi guru, antara lain dengan disahkannya undang-
undang guru dan dosen ditindaklanjuti dengan pengembangan rancangan peraturan pemerintah
(RPP) tentang guru dan dosen, untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru. Dalam
kerangka ini, pemerintah mengembangkan berbagai strategi sebagai berikut:
1) Penyelenggaraan pendidikan untuk meningkatkan kualifikasi akademik, kompetensi, dan
pendidikan profesi untuk memperoleh sertifikat pendidik.
2) Pemenuhan hak dan kewajiban guru sebagai tenaga profesional sesuai dengan prinsip
profesionalitas
3) Penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan
pemberhentian guru sesuai dengan kebutuhan baik jumlah, kualifikasi akademik,
kompetensi, maupun sertifikasi yang dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel
untuk menjamin keberlangsungan pendidikan.
4) Penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru
untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian profesional.
5) Peningkatan pemebrian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap guru dalam
melaksanakan tugas profesional.
6) Pengakuan yang sama antara guru yang bertugas pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan masyarakat dengan guru yang bertugas pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan pemerintah dan pemerintah daerah.
7) Penguatan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah pusat dan daerah dalam
merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru
sebagai pendidik profesional
8) Peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban guru.
D. Distribusi Guru Sains Indonesia

Data pendidikan tahun 2010 menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus
sekolah. Distribusi Guru tidak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. 37% sekolah
di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru dan 34% sekolah
di Indonesia yang kekurangan Guru. Sementara di banyak daerah terjadi kelebihan Guru (Fakta
pendidikan, 2014). penyebaran guru masih sangat sentralistik. Di perkotaan, jumlah guru
berkelebihan hingga 52 persen, di perdesaan berkelebihan hingga 68 persen, sedangkan di daerah
3T terjadi kekurangan guru hingga 66 persen. Ketidakmerataan distribusi guru tersebut jelas akan
berpengaruh pada kualitas pendidikan di Tanah Air secara menyeluruh. Daerah yang mempunyai
rasio perbandingan guru dan murid ideal, tentu akan mempunyai generasi penerus pembangunan
yang cakap, berkualitas, dan berilmu. Sedangkan daerah 3T yang notabene memang mengalami
defisit guru, tentu akan kesulitan melahirkan generasi penerus seperti yang diharapkan.
Jika ditelaah secara mendalam, maka setidaknya ada tiga potensi kerawanan yang
menyebabkan penyelesaian persoalan distribusi guru ini menjadi berlarut-larut. Pertama, ketiadaan
upaya pemerintah secara sungguh-sungguh untuk merevisi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah. Dalam UU tersebut ditegaskan bahwa sebagian kewenangan pusat beralih
menjadi kewenangan daerah, termasuk kewenangan pengelolaan guru. Karena itu tiga kementerian
terkait, yaitu Kemendikbud, Kemenpan RB, dan Kemendagri harus segera melakukan
pembicaraan untuk merevisi klausul UU tersebut, khususnya klausul yang terkait langsung dengan
kewenangan pengelolaan guru. Kedua, Kemendikbud terlalu memfokuskan persoalan pendidikan
pada kurikulum saja, sehingga persoalan-persoalan mendasar lainnya menjadi terlupakan.Memang
sudah menjadi lazim di negara ini bila terjadi pergantian menteri pendidikan, maka kemudian akan
diikuti juga dengan pergantian kurikulum. Pada akhirnya, persoalan-persoalan dasar pendidikan
lain menjadi terbengkalai dan hanya menjadi wacana saja setiap tahunnya.
Ketiga, ketiadaan peta distribusi penempatan guru. Idealnya, Kemendikbud sebagai kementerian
yang bertanggung jawab penuh atas kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan nasional
mutlak mempunyai peta distribusi penempatan guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dengan begitu, meski secara langsung pemerintah pusat terbatasi oleh UU Otonomi Daerah (Otda)
untuk mengatur pemerataan guru, Atas dasar itu, Kemendikbud melalui pemerintah pusat bisa saja
memberikan penekanan kepada daerah untuk mengatur distribusi guru di daerahnya agar lebih
merata.