Anda di halaman 1dari 25

Makalah Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Terorisme di Indonesia


Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Konsepsi Strategi dan Kebijakan Penanggulangan Terorisme di Indonesia


Anggalia Putri Permatasari (1006743424)

1. Pendahuluan
Dalam dekade terakhir, Indonesia telah mengalami cukup banyak serangan terorisme
yang tidak hanya merenggut korban jiwa dan menimbulkan kerugian material, tetapi juga
menyebarkan atmosfer kecemasan dan ketakutan di kalangan masyarakat luas. Saat ini,
pemerintah Indonesia telah mendeklarasikan terorisme tidak hanya sebagai ancaman terhadap
keamanan dan keselamatan warga negara, tetapi juga keamanan nasional.1 Pasca-peristiwa
9/11 dan dideklarasikannya Perang Global Melawan Teror oleh Amerika Serikat, dengan
Bom Bali I sebagai tipping point dalam negeri,2 pemerintah Indonesia semakin mendapat
tekanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk menanggulangi terorisme secara
efektif. Respon kebijakan pertama pemerintah dalam menghadapi serangan teroris
kontemporer adalah respon kebijakan cepat, yakni dengan mengeluarkan Instruksi Presiden
(Inpres) No. 4 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme, yang kemudian dipertegas
dengan diterbitkanya paket Kebijakan Nasional terhadap pemberantasan Terorisme dalam
bentuk Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) No. 1 dan 2 Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang kemudian ditetapkan menjadi UU dengan
Undang-Undang No. 15 tahun 2003. Berdasarkan UU tersebut, Indonesia menyelenggarakan
upaya penanggulangan terorisme yang bertumpu pada penggunaan sistem hukum pidana dan
kepolisian sebagai ujung tombaknya.
Upaya dan respon nasional Indonesia di atas seringkali dipuji karena dipandang
berhasil menangkapi dan mengadili anggota kelompok teroris secara efektif seraya menjaga
agar transisi demokrasi Indonesia tetap berjalan.3 Akan tetapi, terdapat pula berbagai masalah
dan tantangan mengenai penyelenggaraan upaya penanggulangan terorisme
(anti/kontraterorisme) di Indonesia, misalnya dilema penguatan mekanisme hukum yang

1
Bappenas, “Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme”, diunduh dari www.bappenas.go.id/get-file-
server/node/6159/ pada 17 September 2011.
2
Jonathan C. Chow, “Asean Counterterrorism Cooperation since 9/11,” Asian Survey, Vol. 45, No. 2
(Mar. - Apr., 2005), hh. 302, diunduh dari http://www.jstor.org/stable/4497099 pada 30 November 2010.
3
Zachary Abuza, “Indonesian Counter-Terrorism: The Great Leap Forward.” Terrorism Monitor, Volume:
8 Issue: 2 January 14 2010, diunduh dari http://www.jamestown.org/uploads/media/TM_008_2_03.pdf pada 17
September 2011.

1
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

represif versus kebebasan sipil dan hak asasi manusia (HAM), perdebatan mengenai
keterlibatan dan peran militer dalam kontraterorisme di Indonesia, dan skeptisisme terhadap
program deradikalisasi yang saat ini menjadi fokus strategi antiterorisme (pendekatan lunak)
di Indonesia.
Untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan tersebut, respons legislatif yang
sifatnya reaktif dan penyelenggaraan kebijakan yang sifatnya ad hoc saja tidak cukup.
Pemerintah dituntut untuk menyusun sebuah strategi yang komprehensif yang menyediakan
dasar, orientasi, serta pengaturan bagi penyelenggaraan berbagai kebijakan untuk
menanggulangi terorisme di Indonesia. Hingga saat ini, Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT) yang dibentuk pada tahun 2010 dan diserahi tugas untuk menyusun
strategi nasional penanggulangan terorisme belum mengeluarkan dokumen strategi resmi
sehingga satu-satunya dokumen pemerintah yang ada tentang penanggulangan terorisme
adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau
Bappenas.
Dalam konteks di atas, makalah ini bertujuan untuk memaparkan strategi dan
kebijakan yang telah dijalankan oleh pemerintah Indonesia (existing policies) dan paparan
normatif mengenai strategi dan kebijakan yang dapat diadopsi oleh pemerintah untuk
mengoptimalkan penyelenggaraan upaya penanggulangan terorisme di Indonesia. Secara
umum, makalah ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup.
Bagian pembahasan dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni strategi dan kebijakan serta aktor
dan kelembagaan. Di dalam bagian strategi dan kebijakan, akan diulas mengenai empat hal
berikut: 1) pendekatan hard power, yaitu penegakan hukum (pendeteksian dan pencegahan,
penindakan, pasca-penahanan) yang turut mengulas mengenai pelibatan masyarakat dan
pengaturan faktor-faktor yang memfasilitasi terorisme, 2) pendekatan soft power yang
membahas tentang deradikalisasi dan kontraradikalisasi atau kontra/deideologi, 3) pelibatan
penyintas (survivor) terorisme dan 4) masyarakat sipil, 5) kerja sama internasional, 6)
pendekatan kesejahteraan, 7) transformasi konflik komunal, dan 8) penguatan demokrasi dan
HAM. Sementara itu, di bagian aktor dan kelembagaan di bahas mengenai Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme, Polri dan Detasemen Khusus Antiteror 88, dan Militer.

2. Pembahasan

2
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

2.1 Strategi dan Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme


Secara umum, strategi penanggulangan terorisme di Indonesia saat ini dapat
dikelompokkan menjadi dua pendekatan, yakni pendekatan hard power (keras) dan soft
power (lunak) yang dikombinasikan menjadi sebuah pendekatan yang komprehensif.

2.1.1 Pendekatan Hard Power: Penegakan Hukum


Meskipun belum ada dokumen strategi resmi yang dikeluarkan oleh BNPT, Ansyad
Mbaai sebagai Kepala BNPT telah sering memaparkan apa yang sering dirujuk sebagai
‘strategi penanggulangan terorisme Indonesia.’ Salah satu prinsip pokok strategi
penanggulangan terorisme Indonesia menurutnya adalah bahwa Pemerintah Indonesia
memperlakukan aksi terorisme sebagai tindakan kriminal, sehingga yang digunakan adalah
pendekatan hukum.4 Penyelenggaraan penegakkan hukum terhadap tindak pidana terorisme
diatur oleh UU No. 15 tahun 2003 yang menetapkan Perpu No. 1 tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai UU.

Pendeteksian dan Pencegahan


Dalam kerangka penegakan hukum, ada dua elemen, yakni pendeteksian dan
pencegahan sebelum tindak teroris terjadi dan penindakan atau pemrosesan secara hukum
setelah tindak teroris terjadi. Pendeteksian dan pencegahan tindak teroris dinyatakan oleh
Paul Wilkinson sebagai ‘resep rahasia’ pertarungan melawan terorisme di negara liberal. 5 Di
Indonesia, tugas untuk mendeteksi dan mencegah tindak terorisme bertumpu pada komunitas
intelijen Indonesia, terlebih unit intelijen yang berada di bawah Detasemen Khusus (Densus
88). Sebagaimana dinyatakan oleh Ansyad Mbaai, sebagian besar (75%) aktivitas Densus
adalah aktivitas intelijen. Tujuan immediate dari aktivitas intelijen adalah mengumpulkan
informasi untuk menggagalkan rencana serangan teroris. Namun, intelijen juga dapat
digunakan sebagai langkah awal untuk mencegah bergabungnya individu ke dalam kelompok
teroris dan mengurangi kapabilitas kelompok teroris melalui apa yang disebut sebagai covert
activities. Aktivitas intelijen adalah mata rantai pertama yang akan membawa pada aktivitas

4
“Indonesia Paparkan Strategi Anti Terorisme ke Eropa,” dalam
http://madina.co.id/index.php/polhukam/9373-indonesia-paparkan-strategi-anti-terorisme-ke-eropa.html.
Diunduh 10 Januari 2012.
5
Paul Wilkinson, Terrorism and Democracy (London and New York: Routledge, 2002).

3
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

penindakan, yakni disrupsi jejaring teror melalui penyergapan dan penangkapan untuk
selanjutnya diproses secara hukum melalui sistem peradilan.
Kunci dari menanggulangi terorisme melalui mekanisme hukum pidana adalah
“perang intelijen” di mana penegak hukum harus diberikan sarana dan prasarana yang
memadai untuk dapat membangun kualitas yang tinggi sehingga dapat membongkar rencana
teroris sebelum tindak terorisme itu sendiri terjadi (pre-emptive). Saat ini, Densus 88 dapat
menangkap teroris pada tahap perencanaan/persiapan (doktrin 90%), tapi Kadensus 88
menginginkan “persentase” yang lebih rendah lagi, yaitu untuk dapat menangkap teroris pada
tahap ideas inception, seperti tercermin dalam pernyataannya untuk memperkuat UU
Antiterorisme Indonesia sehingga dapat mengkriminalisasi tindak penyebaran kebencian,
misalnya khotbah-khotbah yang mendorong seseorang menggunakan metode “teroris.” Perlu
adanya pengaturan yang rinci dan transparan mengenai apa saja yang dapat dikriminalisasi
jika aturan ini akan dibuat. Selanjutnya, hal ini harus disosialisasikan dengan baik kepada
publik sehingga tidak dianggap sebagai general repression. Di Australia, telah disusun
sebuah panduan publik yang menarik berkenaan dengan informasi tentang segala peraturan
anti/kontraterorisme di negara tersebut dan prosedur-prosedur yang harus dijalankan oleh
intelijen dan petugas polisi Australia dalam menangkap seseorang yang dicurigai sebagai
teroris. Panduan publik ini berguna untuk memperkecil pelanggaran prosedur hukum dan
mempertinggi legitimasi penegak hukum dan pemerintah di mata publik. 6 Sayangnya,
sebagian besar UU di Indonesia kekurangan implementing regulations dan peraturan-
peraturan penjelas. Dengan demikian, saatnya untuk menyusun UU Penanggulangan
Terorisme Indonesia panduan publik mengenai aturan-aturan yang berkaitan dengan
penanggulangan terorisme yang mudah diakses publik.
Secara umum, strategi penegakkan hukum ini dapat dikatakan masih menghadapi
berbagai tantangan. Penegakan hukum terhadap sistem kejahatan terorisme dipandang masih
lemah.7 Yang pertama adalah permasalahan aturan yang dianggap kurang ketat. Dari segi
payung hukum, institusi keamanan nasional mengalami masalah karena keberadaan UU No.
15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme belum cukup memayungi
operasi pencegahan dalam bentuk operasi intelijen dan tindakan proaktif di awal. Keberadaan

6
Australian Muslim Civil Rights Advocacy Network. 2007. Undang-Undang Anti-Terorisme: ASIO,
Polisi dan Anda. Dikutip dalam http://www.lawfoundation.net.au.
7
Tri Poetranto, loc. cit.

4
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

unit dan satuan pencegahan serta penanggulangan terorisme yang tersebar di beberapa
institusi juga menjadi kendala rantai koordinasi yang belum padu di tingkat lapangan. 8 Hal
yang dapat dilakukan untuk mengasi kelemahan-kelemahan ini adalah mengamandemen UU
No. 15 tahun 2003 untuk memungkinkan adanya kebijakan pre-emptive yang lebih efektif
dalam rangka deteksi dini dan cegah-tangkal terorisme, yakni dengan memberi wewenang
kepada intelijen untuk melakukan surveillance yang lebih efektif melalui izin peradilan
berdasarkan bukti-bukti intelijen awal. Intelijen tidak dapat diberi wewenang untuk
menangkap karena hal ini berpotensi mengarah pada abuse of power. Bukti intelijen saja pun
tidak dapat dijadikan bukti yang cukup untuk membawa tersangka teroris ke pengadilan
(harus disertai dengan alat bukti lain yang sifatnya non-intelijen), namun intelijen dapat
diberdayakan (dalam artian diberi wewenang yang lebih besar) untuk mengumpulkan
informasi secara lebih leluasa di bawah kontrol yudikatif. Sementara itu, untuk mengatasi
masalah klasik mengenai koordinasi, baik dalam pendeteksian dan pencegahan maupun
dalam penindakan, dapat dibentuk sebuah pasukan bersama yang sifatnya permanen
(standing joint force) yang terdiri dari elemen-elemen kepolisian (Densus 88) dan detasemen-
detasemen khusus militer untuk menanggulangi teror, dan perwakilan dari berbagai
komunitas intelijen yang dikoordinasikan di bawah BNPT. Adanya pasukan khusus ini
tentunya membawa konsekuensi pengalokasian sumber daya seperti teknologi dan anggaran.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah ketidakmampuan hukum untuk menjangkau
tindakan yang tidak dikategorikan melanggar hukum, seperti menyebarkan paham tertentu
atau kebencian (hatred speech).9 Agar lebih efektif dalam menekan tindak terorisme, perlu
ada pengaturan mengenai komunikasi publik yang mendukung penggunaan kekerasan
terhadap pihak-pihak tertentu, termasuk dalam bentuknya yang spesifik seperti terorisme.
Aturan ini berpotensi menjadi aturan yang kontroversial karena dapat dipandang sebagai
bentuk represi terhadap penyebaran ajaran Islam. Oleh karena itu, perlu diatur secara tegas
bahwa yang akan dikriminalkan adalah advokasi secara eksplisit terhadap penggunaan
kekerasan, bukan gagasan-gagasan yang dianggap anti-pemerintah atau anti-ideologi tertentu.

8
Tri Poetrantro, “Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia dalam Rangka
Menjaga Keutuhan NKRI,” Puslitbang Strahan Balitbang Dephan. Dikutip dalam http://www.
buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?mnorutisi=6&vnomor=17. Diakses 10 Januari 2012.
9
“Mencari Strategi Penanganan Terorisme,” dalam Seminar ”Penanggulangan Terorisme guna Persatuan
dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Ketahanan Nasional”, yang diadakan Program Pendidikan Singkat
Angkatan XVII Lembaga Ketahanan Nasional.

5
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Bagian integral dari pencegahan serangan teroris adalah defensive security


countermeasures atau perlindungan objek-objek vital, baik hard targets seperti kantor-kantor
pemerintahan, kedutaan asing, dan pos polisi/militer maupun soft targets seperti bandara,
pelabuhan, dan tempat-tempat publik lain. Berdasarkan kecenderungan yang terjadi akhir-
akhir ini, perlu diperhatikan juga pengamanan atas tempat-tempat ibadah.

Penindakan
Dalam mengupayakan pencegahan dan penanggulangan terorisme, terdapat prinsip-
prinsip strategis yang telah diadopsi di tingkat nasional, yaitu prinsip supremasi hukum,
indiskriminasi, independensi, koordinasi, demokrasi, dan partisipasi. Melalui strategi
supremasi hukum, upaya penegakan hukum dalam memerangi terorisme dilakukan sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku (selalu berada dalam koridor hukum). Strategi
indiskriminasi mensyaratkan upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme diberlakukan
tanpa pandang bulu, serta tidak mengarah pada penciptaan citra negatif kepada kelompok
masyarakat tertentu. Gagasan mengenai potensi terbentuknya komunitas tersangka atau
suspect community yang menjadi sasaran penindakan terorisme hanya karena dia termasuk ke
dalam golongan masyarakat tertentu menjadi perhatian dalam prinsip ini. Prinsip
independensi dilaksanakan untuk tujuan menegakkan ketertiban umum dan melindungi
masyarakat tanpa terpengaruh oleh tekanan negara asing atau kelompok tertentu.10
Dalam penindakan yang dilakukan oleh kepolisian (Densus 88), selalu ada
permasalahan legitimasi dan penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran HAM meskipun
kepolisian telah memiliki aturan internal yang mengatur tentang prosedur yang
menginkorporasi prinsip-prinsip HAM. Legitimasi ini menjadi sangat penting karena
merupakan sumber daya yang diperebutkan di antara pemerintah dan kelompok-kelompok
teroris. Untuk mengurangi suara-suara miring terhadap Densus yang berkaitan dengan
penindakan terhadap teroris (misalnya penyerbuan dan penangkapan), polisi harus selalu
mematuhi segala persyaratan internal untuk menangkap atau menyerbu. Selain itu, perlu ada
panduan publik yang disebarkan secara luas kepada masyarakat dalam bahasa yang sederhana
mengenai prosedur penangkapan teroris dan hak-hak mereka yang akan ditangkap.
Transparansi ini akan mempertinggi legitimasi kepolisian itu sendiri dalam menindak

10
Bappenas, loc. cit., h. 5.

6
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

tersangka teroris dan sekaligus mencegah terjadinya pelanggaran HAM dalam proses
penindakan terorisme.
Selain prinsip-prinsip yang telah diadopsi di atas, pemerintah perlu juga mengadopsi
prinsip-prinsip demokratis dalam penegakkan hukum sebagai berikut:
(1) Pemerintah tidak boleh bereaksi berlebihan dan terpancing oleh terorisme untuk
menerapkan represi terhadap masyarakat secara umum (general repression). Teroris telah
berusaha memancing reaksi berlebihan dari aparat penegak hukum, misalnya dengan
menyerang polres di Hamparan Perak. Jika polisi terpancing dan melanggar prosedur dalam
menangkap teroris, misalnya, atau dengan merepresi masyarakat secara umum, teroris dapat
dikatakan telah menang.
(2) Sebagaimana halnya pemerintah dan penegak hukum tidak boleh bereaksi berlebihan,
reaksi yang berkekurangan (underreaction) juga berbahaya karena berpotensi membiarkan
teroris mengambil kendali teritorial daerah tertentu dan membentuk state shell (lihat
Napoleoni 2004: 85). Dalam hal menghindari underreaction ini, Indonesia dapat
memanfaatkan mekanisme Operasi Militer Selain Perang (OPMS) yang juga telah diterapkan,
misalnya dengan meminta bantuan TNI untuk mengejar anggota kelompok teroris ke hutan-
hutan. Hal ini masuk ke dalam mekanisme Bantuan Militer kepada Kekuasaan Sipil (Military
Aid to Civil Power) yang diperbolehkan dalam demokrasi dalam situasi-situasi tertentu asal
diiringi dengan pemberian mandat dan wewenang yang jelas dan terbatas.
(3) Jika UU Darurat perlu ditegakkan (misalnya dalam bentuk Undang-Undang Keamanan
Nasional atau Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri), UU tersebut harus bersifat
sementara dan harus dikaji secara periodik oleh Parlemen dan harus mendapatkan persetujuan
parlemen sebelum diperpanjang. Ini yang seringkali disebut sebagai sunset principle.

Penanganan Terdakwa Teroris Selama Masa Penahanan dan Pasca-Penahanan


Penangkapan dan pemrosesan secara hukum saja tidak akan cukup untuk
menanggulangi bahaya terorisme karena terdapat permasalahan-permasalahan yang bersifat
inheren dalam sistem hukum itu sendiri, di antaranya keterbatasan pembuktian pengadilan,
pembinaan napi teroris, dan pengawasan setelah napi teroris itu mengakhiri masa
penahanannya. Dua yang terakhir (pembinaan napi teroris di Lembaga Pemasyarakatan dan
pengawasan setelah ia kembali ke masyarakat) adalah titik lemah penanggulangan terorisme

7
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

melalui jalur hukum di Indonesia sehingga harus diperkuat. Perhatian harus diberikan pada
penempatan terdakwa terorisme dan pengawasannya di lembaga pemasyarakatan. Aturan
yang membatasi interaksi dan komunikasi terdakwa teroris dengan dunia luar (misalnya
pelarangan untuk memiliki dan menggunakan telepon selular) harus benar-benar ditegakkan.
Perlu ada reformasi lembaga penahanan secara umum. Sebagian dana kontraterorisme yang
didapatkan Indonesia dari kerja sama bilateral harus dialokasikan untuk perbaikan sistem
penahanan teroris untuk menurunkan tingkat residivisme. Hanya dengan penerapan
kebijakan-kebijakan inilah tahap pertama dari deradikalisasi yang dicanangkan oleh
pemerintah, yakni disengagement (secara fisik) dapat diwujudkan.
Strategi selanjutnya yang harus dilakukan pemerintah adalah pengawasan pasca-
penahanan. Indonesia belum memiliki program yang sistematis untuk mengawasi terdakwa
teroris pasca-dibebaskan karena kekurangan sumber daya, padahal hal ini seharusnya menjadi
bagian integral dari penindakan melalui sistem hukum pidana. Ada baiknya jika Indonesia
belajar dari Singapura yang memiliki program rehabilitasi yang terintegrasikan ke dalam
penindakan teroris melalui strategi hukum pidananya. Secara konseptual, BNPT telah
mengenal konsep rehabilitasi dan re-edukasi, namun hingga saat ini penyelenggaraannya
tampak masih bersifat ad hoc, bukan sebuah program yang sistematis dan berkelanjutan.
Untuk itu, perlu dicarikan dana khusus untuk mengatasi masalah residivisme melalui program
parole atau pengawasan pasca-penahanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan dan Pendeteksian Terorisme


Pelibatan masyarakat adalah hal penting yang seringkali terlupakan dalam upaya
pencegahan dan pendeteksian terorisme. China dipandang berhasil dalam menjalankan
kontraterorismenya karena berhasil mempenetrasi institusi-institusi akar rumput hingga di
tingkat komunitas, bahkan keluarga dan memanfaatkan mereka untuk mencegah dan
menanggulangi terorisme.11 Salah satu strategi yang dapat dijalankan adalah membangun
sistem deteksi dini (cegah-tangkal) yang berlapis dengan ujung tombak institusi-institusi
pemerintahan di tingkat komunitas (RT/RW, dusun dan kampung). Strategi ini tentunya harus
dijalankan melalui kebijakan sosialisasi yang kuat dan berlapis, tidak hanya di tingkat
pemerintah provinsi yang dilakukan BNPT selama ini. Untuk mengoperasionalkan strategi
11
Martin Wayne, China’s War on Terrorism Counter-Insurgency, Politics, and Internal Security (USA
dan Canada: Routledge, 2008).

8
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

dan kebijakan di ranah ini, selain payung hukum (baik peraturan pemerintah daerah maupun
dari badan tertentu seperti BNPT), perlu adanya panduan operasional untuk menghindari aksi
premanisme atas nama pencegahan terorisme. Untuk menjalankan strategi ini, tidak
diperlukan lembaga baru, dapat memberdayakan institusi-institusi keamanan lokal yang
sudah ada.
Strategi yang dapat dijalankan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam
pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah dengan menggalakkan Siskamswakara
(Sistem Keamanan Swadaya Masyarakat) di seluruh wilayah Indonesia dengan kebijakan-
kebijakan sebagai berikut:12
1 Menertibkan administrasi penduduk, terutama dokumen identitas dan memperbaiki
sistem yang mengeluarkannya
2 Menggalakkan ketentuan wajib lapor di tingkat komunitas
3 Membina sistem pengamanan swakarsa di tingkat komunitas yang memiliki
pengetahuan dan atau keterampilan mengenai modus operandi teroris dan langkah-
langkah awal penanganannya
4 Menyiagakan perangkat tanggap darurat di tingkat komunitas.

Penanggulangan Faktor-Faktor yang Memfasilitasi Terorisme


Ada banyak faktor yang memfasilitasi terorisme yang tidak terkait dengan penindakan
langsung kepada jejaring teroris atau penangkapan tersangka teroris, tetapi terkait dengan
pengaturan hal-hal lain yang lebih umum, yang dapat mempermudah teroris dalam
merencanakan dan menjalankan rencananya. Beberapa faktor fasilitator terorisme yang
regulasinya harus diperketat dan pengawasannya ditingkatkan adalah pengaturan dokumen
identitas (misalnya paspor, KTP, kartu keluarga, dsb.), pengaturan senjata dan bahan-bahan
peledak, serta bahan-bahan kimia yang dapat digunakan untuk membuat senjata peledak/bom
yang dapat diakses luas oleh masyarakat, misalnya bahan-bahan untuk membuat pupuk yang
tersedia luas bagi petani. Pengaturan dan pengawasan harus difokuskan juga pada pengaturan
bahan peledak dan kimia serta senjata api di lingkungan TNI, Polri, dan instansi pemerintah

12
Tri Poetranto, loc. cit.

9
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

lainnya selain juga di masyarakat luas sebagaimana dinyatakan di dalam dokumen


Bappenas.13

2.1.2 Pendekatan Soft Power: Deradikalisasi, Kontraradikalisasi, dan Pendekatan


Kesejahteraan
Telah tercapai konsensus di tingkat nasional bahwa penggunaan hard power atau
langkah-langkah yang represif saja tidak cukup untuk menanggulangi terorisme di Indonesia
yang dipercaya berakar pada permasalahan-permasalahan lain yang lebih luas seperti kondisi-
kondisi deprivasi (kemiskinan, kurangnya pendidikan dan layanan dasar, dan sebagainya) dan
ideologi yang radikal yang memanfaatkan kondisi-kondisi tersebut. Saat ini, dapat dikatakan
bahwa institusi keamanan nasional masih sulit untuk menjangkau pembangunan ideologi
sehingga pemberantasan akar-akar terorisme belum sepenuhnya berhasil.14 Untuk itu, BNPT
menyelenggarakan penanggulangan terorisme melalui pendekatan lunak (soft power), yang
secara umum dapat dikategorikan ke dalam dua elemen, yakni deradikalisasi dan
kontraradikalisasi (sering juga disebut sebagai kontra-ideologi).

Deradikalisasi
Secara konseptual, deradikalisasi dapat didefinisikan sebagai upaya untuk menjadikan
mereka yang tadinya memiliki paham yang radikal (mendukung terorisme) sehingga tidak
lagi memiliki paham yang radikal tersebut atau setidaknya tidak menindaklanjuti paham
tersebut dalam tataran praktis (tindak teroris itu sendiri). Belum ada konsepsi ajeg mengenai
bagaimana deradikalisasi itu dilakukan secara programatik dan terpadu oleh pemerintah,baik
itu BNPT, Densus 88, maupun lembaga-lembaga lain. Deradikalisasi ini bahkan dikatakan
masih berupa konsep dan penyelenggaraannya masih ad hoc, yang dijalankan melalui
kebijakan mendekati para tersangka atau terdakwa teroris secara personal untuk menggali
informasi mengenai jejaring teror (yang sifatnya transaksional)15, yang kemudian dalam
beberapa kasus mengarah pada berhentinya beberapa tokoh teroris dari tindak terorisme.

13
Bappenas, op. cit., h. 9.
14
Ibid.
15
Presentasi Sarie Febriani dalam topik ‘Deradikalisasi’ pada mata kuliah Terorisme di Indonesia,
Desember 2011.

10
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Secara struktural, ‘proyek’ deradikalisasi ini dipromosikan oleh BNPT sebagai salah satu
strategi lunak dalam menanggulangi terorisme. Secara operasional, kegiatan-kegiatannya
dilakukan secara ad hoc dan berbasis kasus oleh Densus 88.16 Dengan demikian, meskipun
dinyatakan sebagai salah satu strategi Indonesia dalam menanggulangi terorisme,
deradikalisasi belum menjadi program pemerintah yang mandatnya diberikan pada lembaga
tertentu dengan alokasi anggaran dan ‘kurikulum’ tertentu. Deradikalisasi di Indonesia masih
sangat abstrak jika dibandingkan misalnya dengan program deradikalisasi di Singapura yang
memiliki badan tersendiri dengan program yang sangat mendetil. 17 Poin yang dapat
ditambahkan untuk memperkuat proyek deradikalisasi di Indonesia adalah pelibatan lebih
banyak lagi elemen masyarakat sipil, terutama para pemimpin masyarakat, sampai ke
pelosok-pelosok desa, lembaga-lembaga keagamaan di kampus-kampus (terutama kampus-
kampus teknik dan eksakta), dan pengadaan program konseling keluarga serta pemberian
parole officer kepada eks-napi teroris yang telah bebas.
Mengenai konsep deradikalisasi itu sendiri, meskipun di tataran konsep telah ada
konsepsi mengenai deradikalisasi yang secara umum dilandaskan pada prinsip-prinsip
pendekatan jiwa (soul approach), humanis, dan menyentuh akar rumput,18 wacana mengenai
deradikalisasi masih mendapat tentangan di kalangan masyarakat, khususnya komunitas-
komunitas Islam yang menyetarakan deradikalisasi dengan deislamisasi, bahkan pemurtadan
dari Islam.19 Dengan demikian, ada baiknya strategi pemerintah lebih difokuskan pada
bagaimana menangkal radikalisasi di kalangan masyarakat yang belum mengalami
radikalisasi namun berpotensi untuk mengalami hal tersebut. Dengan kata lain, fokus
deradikalisasi dialihkan menjadi kontraradikalisasi atau sering disebut oleh BNPT sebagai
kontra/deideologi.

Kontraradikalisasi dan Kontra- atau Deideologi

16
Ibid.
17
Presentasi Heggy Kearens dalam topik ‘Deradikalisasi’ dalam mata kuliah Terorisme di Indonesia,
Desember 2011.
18
Mardanih, “Deradikalisasi Terorisme: Program Pemberantasan Terorisme,” Kompas 20 Agustus 2009,
dikutip dalam
http://edukasi.kompas.com/read/2009/08/20/11080199/Deradikalisasi.Terorisme..Program.Pemberantasan.Teror
isme. Diakses 10 Januari 2012.
19
Lihat misalnya “Ismail Yusanto: Deradikalisasi Mengarah pada Deislamisasi,” dalam
http://arrahmah.com/read/2011/12/23/16989-ismail-yusanto-deradikalisasi-mengarah-deislamisasi.html. Diakses
10 Januari 2011.

11
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Kontradikalisasi atau kontraideologi diarahkan pada kalangan masyarakat yang belum


teradikalisasi namun berpotensi mengalami hal tersebut. Kontraradikalisasi ini dapat
dijalankan melalui pendidikan formal dan non-formal, sebagaimana diformulasikan oleh
Balitbang Kemenhan, yang mencakup pendidikan formal sejak dini, dimulai dari pendidikan
pra-sekolah hingga Perguruan Tinggi, dan pendidikan non-formal, melalui kegiatan
penyuluhan dan sosialisasi untuk menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan serta nilai-nilai
non-kekerasan dalam menyelesaikan masalah serta dalam menyelesaikan perbedaan.
Kontraideologi atau deideologi merupakan elemen strategi penanggulangan terorisme
di Indonesia saat ini dan perlu ditingkatkan karena relatif lebih mungin dilakukan daripada
deradikalisasi. Selain itu, karena ideologi dipandang sebagai faktor penyebab utama terorisme
di Indonesia, kontra/deideologi adalah hal yang mau tidak mau harus dijalankan sebagai
strategi antiterorisme jangka panjang. Kontraideologi mensyaratkan adanya ideologi baru
yang dapat digunakan untuk menggantikan ideologi lama, yaitu ideologi teroris yang
berlandaskan pemikiran Islam ekstrim. Di dalam ideologi baru ini, yang perlu ditekankan
adalah aspek non-kekerasan sebagai norma tertinggi. Kontraideologi ini, berbeda dengan
deradikalisasi, ditujukan kepada masyarakat Indonesia secara luas, dengan penekanan pada
kantong-kantong komunitas yang rentan dijadikan basis rekrutmen oleh kelompok teroris.

Peran Media Massa dalam Kontraradikalisasi/Kontra/Deideologi


Media massa dapat berperan sebagai instrumen diplomasi publik pemerintah.
Terorisme di dalam media massa harus digambarkan sebagai kejahatan dan masyarakat sipil
harus diarahkan untuk melihatnya sebagai sesuatu yang tidak legitimate. Perspektif penyintas
(survivor) harus benar-benar diangkat dan disoroti. Harus ada lebih banyak porsi media untuk
aktivitas-aktivitas penyintas. Media memegang peran krusial dalam penanggulangan
terorisme karena merupakan salah satu front dalam perang ideologi melawan ideologi teroris
(counterideology) atau-_dalam bahasa Densus 88_deideologi. Media massa juga tidak dapat
disangkal lagi dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk mempropagandakan tujuan-
tujuannya yang dapat mengarah pada pembangunan simpati masyarakat sipil terhadap cause
kelompok teroris.20 Meskipun simpati terhadap cause kelompok teroris tidak berarti merestui

Boaz Ganor, “Dilemmas Concerning Media Coverage of Terrorist Attacks.” Dalam Howard et al. 2005.
Terrorism and Counterterrorism: Understanding the New Security

12
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

penggunaan metode terorisme itu sendiri, sebisa mungkin media massa, setidaknya yang
mainstream, tidak mem-frame pemberitaan tentang teroris sedemikian rupa hingga membuat
masyarakat lebih mudah untuk menganggap mereka pahlawan, misalnya dengan menyoroti
pengeluk-elukan Imam Samudera di komunitasnya setelah ia dieksekusi. Media massa
memang memiliki idealisme dan prinsip mereka sendiri, salah satunya adalah pemberitaan
yang berimbang. Tapi, media massa tidak dapat bersikap netral dalam kasus terorisme;
mereka harus membantu pemerintah dan masyarakat untuk mendelegitimasi praktik-praktik
terorisme dan kekerasan secara umum. Dalam hal ini, penegak hukum dan pemerintah mutlak
membina hubungan baik dengan media massa agar perspektif-perspektifnya mendapatkan
porsi pemberitaan yang lebih besar daripada perspektif teroris. Tentu saja hal ini dilakukan
sembari tetap menjaga independensi pers karena pers yang dianggap independen akan
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadapnya dan di saat yang sama meningkatkan
legitimasi pemerintah di mata masyarakat.

Pendidikan Publik sebagai Jendela Kontraradikalisasi/Kontra/deideologi


Yang dimaksud dengan upaya mendidik publik di sini adalah berusaha
mensosialisasikan elemen-elemen masyarakat yang krusial bagi penanggulangan terorisme ke
dalam norma-norma yang bertentangan dengan tindakan teroris, yaitu norma non-kekerasan
dalam penyelesaian masalah atau perbedaan di masyarakat. Jika norma non-kekerasan telah
terinternalisasi oleh penduduk Indonesia, terorisme akan lebih sulit untuk mengadakan
rekrutmen. Pendidikan publik ini telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, yaitu melalui
Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional. Akan tetapi, pemerintah saja
tidak mungkin dapat melaksanakan hal ini dengan efektif. Pemerintah Indonesia mutlak harus
merangkup elemen-elemen masyarakat sipil seperti sekolah-sekolah dan institusi-institusi
pendidikan lainnya, bahkan sosialisasi hingga ke level rumah tangga. Yang harus ditekankan
dalam pendidikan publik ini, sekali lagi, adalah norma non-kekerasan dan pengaitan
terorisme dengan komunitas agama Islam tertentu yang memiliki basis konstituensi yang kuat
harus dihindari sebisa mungkin karena hal itu justru akan berakibat kontraproduktif terhadap
upaya penanggulangan terorisme.

Environment. New York: McGRaw –Hill Companies Inc., h.342.

13
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

2.1.3 Pelibatan Penyintas Terorisme


Elemen yang masih jarang terdengar dalam penanggulangan terorisme di Indonesia
adalah pelibatan penyintas (survivor) terorisme yang mengalami secara langsung dampak
serangan teroris. Di Indonesia, telah ada lembaga yang mewadahi para penyintas terorisme,
yakni ASKOBI (Asosiasi Korban Bom Indonesia), namun perannya masih ad hoc, suka rela,
dan hanya kadang-kadang dilibatkan. Selain itu, kepedulian dan bantuan pemerintah terhadap
korban terorisme juga masih dipertanyakan. Di dalam strategi dan kebijakan penanggulangan
terorisme yang komprehensif, organisasi penyintas terorisme dapat diberdayakan dan
diintegrasikan ke dalam program-program pemerintah yang telah ada, misalnya sosialisasi
dan penyuluhan dalam rangka kontraradikalisasi, atau bahkan upaya deradikalisasi. Selain
itu, perlu dianggarkan bantuan untuk mereka yang menjadi korban serangan teroris dan
diintegrasikan ke dalam program yang telah ada, misalnya program penanggulangan bencana
(karena terorisme dapat dipandang sebagai bencana sosial).

2.1.4 Pelibatan dan Optimalisasi Peran Masyarakat Sipil


Pemerintah memiliki sumber daya yang terbatas, baik dari segi anggaran maupun
sumber daya manusia. Organisasi-organisasi masyarakat sipil dapat dilibatkan untuk mengisi
celah yang tidak dapat ditangani pemerintah atau bahkan untuk membantu tugas pemerintah
itu sendiri dalam wilayah-wilayah kegiatan tertentu seperti sosialisasi, penyuluhan, diplomasi
publik, dan sebagainya. Masyarakat sipil yang kuat dapat berperan secara strategis dalam
melindungi masyarakat lokal, mencegah dan membendung ideologi radikal, dan membantu
mengatasi kekerasan politik. Dalam hal ini, masyarakat sipil berperan dalam menyuarakan
aspirasi berbagai kelompok sosial yang beragam dan menyediakan saluran berekspresi bagi
kaum yang terpinggirkan, serta dapat mempromosikan budaya toleransi dan pluralisme. 21
Di level yang lebih praktis, kelompok-kelompok masyarakat sipil dapat berkontribusi
dengan cara membangun dukungan lokal untuk membantu penanggulangan terorisme, yaitu
melalui pendidikan masyarakat, melobi pemerintah untuk mengadopsi respon terhadap
terorisme yang bersifat holistik dan menghormati HAM, mengawasi implementasi langkah-

21
Eric Rosand,” The Role of Civil Society in Counterterrorism: Presentation to the EU’s
Counter‐Terrorism Committee,” 14 Oktober 2009, diunduh dari
http://www.globalct.org/images/content/pdf/Remarks/09Oct14_COTER_CIVILSOCIETY_AM.pdf.

14
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

langkah penanggulangan terorisme (kontraterorisme), memberi bantuan dan dukungan


terhadap korban, mempromosikan pentingnya keamanan dan perdamaian, serta memberikan
pelatihan pembangunan kapasitas.22
Selain itu, masyarakat sipil juga dapat membantu negara dalam meningkatkan
kesadaran akan ancaman dan dampak dari serangan teroris terhadap masyarakat lokal serta
dalam membangun dan memperdalam dukungan publik terhadap langkah-langkah
pemerintah untuk menanggulangi terorisme. Dukungan publik ini merupakan kunci bagi
efektivitas strategi penanggulangan terorisme dalam jangka panjang. Asosiasi-asosiasi korban
bom juga dapat memberi kontribusi penting dengan mengutuk aksi-aksi teroris dan memberi
“wajah manusia” dalam kampanye melawan terorisme serta dengan meningkatkan kesadaran
akan human cost dari terorisme.23
Dalam konteks Indonesia, masyarakat sipil yang dapat berkontribusi dalam upaya
penanggulangan terorisme saat ini antara lain terdiri dari lembaga-lembaga yang mengawasi
implementasi kebijakan kontraterorisme oleh Negara (misalnya berbagai LSM yang bergerak
dalam isu HAM), lembaga-lembaga yang bergerak dalam isu-isu yang relevan dengan
kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan munculnya terorisme, misalnya kondisi sosial-
ekonomi masyarakat dan pendidikan, organisasi-organisasi keagamaan seperti
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan institusi-institusi pendidikan (misalnya pesantren-
pesantren) yang dapat membantu meredam ideologi ekstrim. Selain itu, komunitas-komunitas
berbasis keluarga juga dapat membantu mengawasi lingkungannya dan mencegah
anggotanya menembus batas radikal (radical treshold) dan kemudian batas kekerasan
(violence treshold) sehingga dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dari serangan dan
penyebaran terorisme. Yang tidak kalah penting adalah peran dari asosiasi-asosiasi korban
atau penyintas serangan teroris (misalnya ASKOBI) yang dapat memberikan bantuan dan
dukungan terhadap korban terorisme dan mengkampanyekan human cost dari terorisme
seperti telah dijelaskan di atas. Asosiasi–asosiasi ini dapat berperan signifikan dalam
menyampaikan pesan bahwa terorisme bukanlah jalan yang produktif dan efektif untuk
mencapai tujuan-tujuan politik dan menunjukkan bahwa human cost dari strategi ini tidak
dapat dibenarkan.

22
Ibid.
23
Ibid.

15
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Di luar keterlibatan strategis di atas, ada juga keterlibatan kelompok masyarakat sipil
yang sifatnya lebih langsung, lebih praktis, dan lebih “hands-on” dan berkaitan dengan teroris
itu sendiri, misalnya upaya-upaya yang dilakukan Yayasan Prasasti Perdamaian yang
didirikan oleh Noor Huda Ismail dan bertujuan untuk menjembatani reintegrasi mereka yang
pernah terlibat dalam aksi terorisme ke dalam kehidupan masyarakat yang “normal.” Konsep
yang mereka usung bukanlah deradikalisasi, melainkan “disengagement from violence,”
namun upaya-upaya mereka sering dipandang sebagai bagian dari upaya deradikalisasi yang
juga menjadi tekanan pemerintah Indonesia.24

2.1.5 Kerja sama Internasional (Bilateral dan Multilateral)


Mengenai kondisi pencegahan dan penanggulangan terorisme saat ini, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Indonesia menyatakan bahwa
sejumlah peristiwa terorisme menunjukkan adanya mata rantai antara kelompok dalam dan
luar negeri, bahkan jejaring teroris internasional yang keberadaan dan aktivitasnya tidak
dapat dideteksi secara dini sehingga sulit untuk dicegah dan ditangkal. 25 Karena sifatnya yang
lintas-negara, kerja sama internasional dalam menanggulangi terorisme adalah sesuatu yang
mutlak harus dilaksanakan dan ditingkatkan. Saat ini, berbagai upaya kerja sama telah
dilakukan antara lain dengan beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Malaysia,
Philipina, dan Australia, bahkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada,
Perancis, dan Jepang.26
Kerja sama internasional dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan sumber
daya, khususnya kapasitas sumber daya manusia dan teknologi. Sebagai contoh, lembaga
pelatihan antiteror Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) dan Platina
dengan bantuan dan kerja sama pemerintah Australia, Amerika, Belanda, dan Jepang telah
mendukung upayapeningkatan kapasitas kelembagaan Polri dalam menanggulangi terorisme.
Upaya peningkatan kemampuan Polri tersebut berkontribusi dalam serangkaian keberhasilan
penangkapan kelompok terorisme oleh Densus 88.27

24
http://www.prasastiperdamaian.com/about/
25
Tri Poetrantro, “Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia dalam Rangka
Menjaga Keutuhan NKRI,” Puslitbang Strahan Balitbang Dephan.
26
Ibid.
27
Bappenas, op. cit., h. 5.

16
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Selain berkontribusi pada penyelesaian permasalahan anggaran dan teknologi, kerja


sama internasional juga dilakukan untuk memperkuat penyelenggaraan penanggulangan
terorisme itu sendiri, misalnya dalam bentuk berbagi informasi intelijen, berbagi praktik-
praktik terbaik dalam penanggulangan terorisme, latihan bersama, hingga operasi bersama
untuk menangkap teroris yang melintasi yurisdiksi negara lain. Indonesia telah menjalankan
kerja sama internasional jenis ini baik di level regional maupun internasional. Di level
regional, misalnya, Indonesia berperan besar dalam mendorong ASEAN Convention on
Counter-Terrorism atau ACCT yang mengatur kewajiban negara-negara ASEAN untuk
bekerja sama dalam penanggulangan terorisme, yang sifatnya mengikat secara hukum.
Beberapa bidang yang diatur dalam ACCT ini antara lain kerja sama praktis yang melibatkan
tukar-menukar informasi, pelatihan bersama, dan koordinasi badan hukum antarnegara. 28

2.1.6 Pendekatan Kesejahteraan dalam Penanggulangan Terorisme


Berdasarkan penelitian Burgoon 29, kebijakan-kebijakan kesejahteraan (welfare
policies) yang dijalankan di suatu negara berkorelasi negatif dengan jumlah total insiden
terorisme (domestik dan transnasional) di negara tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa kebijakan-kebijakan kesejahteraan dapat mengurangi insiden terorisme dan ini yang
harus diberikan pemerintah kepada rakyat Indonesia untuk mengurangi preferensi atau
simpati masyarakat terhadap terorisme. Dari perspektif strukturalisme, yang terpenting
bukanlah pertumbuhan ekonomi nasional secara agregat atau peningkatan pendapatan per
kapita per se, tapi redistribusi kemakmuran atau_dalam bahasa Pancasila_keadilan sosial.
Dengan kata lain, ketimpangan antara masyarakat terkaya dan termiskin (tercermin dalam
koefisien gini) harus dipersempit. Saat ini perekonomian Indonesia dapat dikatakan telah
sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem kapitalis global dan telah bergeser dari ekonomi
kerakyatan menuju ekonomi neoliberal. Hal ini memunculkan kerentanan baru karena
ketimpangan sosial melebar dan pemerintah “dipaksa” pasar untuk mengurangi welfare
policies dan kebijakan-kebijakan pro-poor lainnya seperti pemberian subsidi. Penghapusan

28
Lihat Analysis_ASEAN Convention on Counter Terrorism, 2006, dikutip dari
http://www.pvtr.org/pdf/Legislative%20Response/ASEAN%20Convention%20on%20Counter%20Terrorism-
Analysis%5B1%5D.pdf. Diakses 30 November 2010.
29
Brian Burgoon, “On Welfare and Terror: Social Welfare Policies and Political-Economic Roots of
Terrorism.” The Journal of Conflict Resolution, Vol. 50, No. 2 (Apr.,2006), h. 176. Sage Publications, Inc.
Dalam http://www.jstor.org/stable/27638483. Diakses 30 November 2010.

17
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

subsidi yang indiscriminate, misalnya, dapat meningkatkan preferensi masyarakat akan


tatanan sosial-ekonomi-politik yang lebih adil yang antara lain ditawarkan oleh kelompok-
kelompok radikal dalam bentuk negara Islam. Dalam konteks mempertahankan legitimasi
pemerintah yang berusaha direbut oleh teroris, bahaya jika negara mulai dipandang tidak adil
dan terlalu berpihak pada_bahkan telah dijadikan alat oleh_kelas ekonomi teratas dunia
(kelas kapitalis transnasional). Hal ini akan memberi celah legitimasi pada kelompok teroris
untuk mengedepankan cause-nya dan merebut state power untuk mendirikan tatanan sosial-
politik-ekonomi yang mereka klaim lebih adil. Dengan demikian, dalam jangka panjang,
strategi dan kebijakan penanggulangan pencegahan dan terorisme Indonesia harus menyasar
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, tidak dilihat dari pertumbuhan ekonomi secara
agregat, tetapi lebih kepada pemenuhan hak-hak ekonomi dan sosial masyarakat hingga ke
tingkat lokal dan pemenuhan layanan publik dasar hingga menjangkau daerah-daerah
terpencil dan desa-desa yang selama ini tidak diperhatikan dan sering dijadikan basis atau
safe haven kelompok teror.

2.1.7 Transformasi Konflik Komunal


Transformasi konflik komunal (antaretnis-agama) dan gerakan separatis di Indonesia
telah diketahui dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk memfasilitasi rekrutmen dan
pembentukan sel-sel teroris. Isu ini juga digunakan untuk menjustifikasi keberadaan dan
perjuangan mereka. Meskipun telah berhasil “diselesaikan” (dalam bentuk conflict
settlement), konflik-konflik horizontal (misalnya di Poso, dan Ambon) harus ditransformasi
dalam proses yang terus-menerus, yakni dengan mengatasi akar permasalahannya
(ketimpangan ekonomi, kecemburuan sosial, dsb.). Gerakan separatis juga berpotensi untuk
bergabung dengan kelompok teroris dan hal ini lebih membahayakan, misalnya terlihat dalam
kasus pendirian kamp latihan militer JI/JAT di Aceh. Separatisme harus ditransformasikan
juga dengan menghilangkan ketimpangan pusat-daerah dan memperluas kewenangan daerah
untuk mengatur masyarakatnya sendiri. Hal inilah yang disebut sebagai transformasi konflik
sebagai tahap lanjutan dari resolusi konflik. Jika tidak ada lagi konflik yang bisa dieksploitasi
teroris, kelompok teror akan kehilangan sebagian justifikasi keberadaannya atau setidaknya
membatasi kemampuannya memobilisasi gerakan.

18
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

2.1.8 Penguatan Demokrasi dan HAM


Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terorisme seringkali dipicu oleh
ketidakpuasan kaum minoritas yang hak-hak sipil politiknya ditindas. Oleh karena itu, dari
perspektif liberalisme, demokrasi yang melindungi dan mempromosikan hak-hak masyarakat
merupakan “obat” terorisme dalam jangka panjang. 30 Akan tetapi, demokrasi di Indonesia
harus benar-benar datang dari masyarakat Indonesia sendiri dengan karakter-karakter khas
Indonesia sehingga tidak dipandang sebagai hegemoni politik-budaya Barat. Demokrasi
liberal model Barat tidak dapat diterapkan bulat-bulat di Indonesia tanpa penyesuaian-
penyesuaian, apalagi di daerah-daerah yang keislamannya kuat. Keinginan masyarakat di
daerah-daerah tertentu untuk menerapkan elemen-elemen syariat Islam hingga derajat
tertentu, misalnya, harus diakomodasi melalui mekanisme otonomi daerah karena saat ini
kelompok radikal berpandangan bahwa pemerintah Indonesia menghalangi kebebasan
mereka untuk mempraktikan ajaran Islam secara komprehensif. Hal ini telah dilakukan di
beberapa daerah, misalnya Sumatera Barat dan Aceh. Dalam hal ini, pluralisme agama tidak
bisa dipaksakan. Yang seharusnya dipromosikan adalah toleransi beragama sebagai the least
common denominator, bukan pluralisme yang kontroversial dan tidak akan diterima oleh
kelompok Islam radikal/fundamental.
Mengenai HAM, terorisme di Indonesia adalah isu yang sangat kompleks dan tidak
dapat diselesaikan hanya dengan menyusun UU Antiterorisme yang kuat 31 karena publik
Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap pelanggaran HAM dan UU Antiterorisme yang
pada awal penyusunannya mengandung asas “retroaktif” dianggap bersifat otoriter. Asas
retroaktif tersebut kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Hal penting yang harus
diperhatikan pemerintah dan penegak hukum untuk memperkuat strategi kontra/antiterorisme
di Indonesia adalah masalah hak asasi manusia yang sangat sensitif ini. Pemerintah Indonesia
harus menunjukkan bahwa ia tetap menjunjung HAM dan melindungi HAM warganya di luar
negeri yang dicurigai sebagai teroris jika tidak ada bukti yang kuat. Hanya dengan cara itulah
pemerintah Indonesia tidak akan dipandang sebagai “pelayan” kepentingan Barat, sebuah
persepsi yang justru akan memperparah terorisme di Indonesia yang terang-terangan

30
Paul Wilkinson, op.cit., h. 50-51.
31
Ramraj et. al, Global Anti-Terrorism Law and Policy (Cambridge: Cambridge University Press, 2005),
h. 29.

19
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

bertujuan mematahkan dominasi dan hegemoni Barat. Dalam konteks demokrasi dan HAM
ini, mendirikan ketatapemerintahan yang baik atau good governance sangat penting untuk
memberantas terorisme. Kepolisian dan kejaksaan sebagai penegak hukum harus dibersihkan
dulu dari korupsi jika ingin memberantas terorisme secara aktif. Korupsi pun mempengaruhi
tersedianya faktor-faktor yang memfasilitasi terorisme seperti pengawasan dokumen dan
pergerakan senjata yang longgar. Korupsi dan kebrobrokan sistem juga membuat terorisme
dapat mengklaim legitimasi yang lebih tinggi dari masyarakat.

3. Aktor dan Kelembagaan


Di dalam konsepsi strategi dan kebijakan penanggulangan terorisme yang
komprehensif, yang perlu diperhatikan bukan hanya strategi dan kebijakan dalam bentuk
prinsip-prinsip atau aturan-aturan, tetapi juga aktor dan lembaga yang menjalankan prinsip-
prinsip dan aturan-aturan tersebut. Pengaturan harus disediakan hingga mencakup mandat,
fungsi, dan mekanisme koordinasi di antara aktor dan lembaga-lembaga ini yang secara
kolektif sering disebut sebagai aktor keamanan nasional. Secara sederhana, pengaturan
kelembagaan ini dapat disarikan menjadi pertanyaan berikut: who does what when and how
with what resources?

3.1 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)


BNPT dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 dan bertugas untuk
menyusun kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang penanggulangan terorisme,
mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam pelaksanaan dan melaksanakan
kebijakan di bidang penanggulangan terorisme, serta melaksanakan kebijakan di bidang
penanggulangan terorisme dengan membentuk satuan tugas-satuan tugas yang terdiri dari
unsur-unsur instansi pemerintah. Bidang penanggulangan terorisme yang ditangani oleh
BNPT meliputi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan
kesiapsiagaan nasional.32 Jika kita lihat cakupan mandat, tugas, dan fungsinya, hampir semua
bidang yang tercakup dalam konsepsi strategi dan kebijakan di atas menjadi domain BNPT.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa BNPT hanyalah koordinator dan bukan pelaksana lapangan
dari berbagai bidang di atas sehingga dalam praktiknya, aktor-aktor pelaksana di lapangan

32
Lihat Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2010.

20
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

inilah (misalnya Densus 88 sebagai penindak) yang menjadi ujung tombak. Untuk menjamin
transparansi dan akuntabilitas badan ini, semua anggaran yang masuk melalui badan ini harus
dapat dipertanggungjawabkan, termasuk diperiksa oleh Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK).

3.2 POLRI dan Detasemen Khusus Antiterorisme 88


Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Detasemen Khusus Antiterorisme 88
(Densus 88) yang dibentuk melalui Surat Keputusan Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20
Juni 2003, adalah ujung tombak pendeteksian, pencegahan, dan penindakan terorisme di
Indonesia. Secara organisasional, pada awalnya Densus 88 AT berada di Mabes Polri dan
Polda, di bawah Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri yang dipimpin oleh
Kepala Densus 88 AT Polri dengan pangkat Brigadir Jenderal Polisi dan di bawah Direktorat
Serse (Ditserse) dipimpin oleh perwira menengah polisi.33
Densus 88 AT Polri memiliki empat pilar pendukung operasional setingkat sub-
detasemen (Subden), yakni Subden Intelijen, Subden Penindakan, Subden Investigasi, dan
Subden Perbantuan. Di bawah Subden, terdapat unit-unit yang menjadi pondasi pendukung
bagi operasional Densus 88 AT Polri, misalnya Unit Analisa, Deteksi, Unit Kontra Intelijen
pada Subden Intelijen, Unit Negoisasi, Pendahulu, Unit Penetrasi, dan Unit Jihandak pada
Unit Penindakan, dan Unit Olah TKP, Unit Riksa, dan Unit Bantuan Teknis pada Subden
Investigasi, serta Unit Bantuan Operasional dan Unit Bantuan Administrasi pada Subden
Pembantuan.34

3.3 Komunitas Intelijen


Berbagai lembaga intelijen yang dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara
(Keppres No. 6 Tahun 2003) telah melakukan kegiatan dan koordinasi intelijen dan bahkan
telah membentuk Joint Analysist Terrorist (JAT) upaya untuk mengungkap jaringan teroris di
Indonesia. Akan tetapi, meskipun telah ada aturan yang memfasilitas koordinasi
antarlembaga intelijen dan telah ada Undang-Undang yang mengatur aktivitas intelijen itu

33
Dikutip dalam http://smsindah.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-densus-88-anti-teror/
34
Ibid.

21
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

sendiri, yakni Undang-Undang Intelijen yang disahkan pada bulan Oketober tahun 201135,
dalam praktiknya, ego sektoral masih menjadi penghalang koordinasi dan kolaborasi di antara
berbagai lembaga intelijen tersebut.36 Hal ini hanya bisa diselesaikan dengan dipercepatnya
reformasi di tubuh TNI dan Polri, termasuk unit-unit intelijen di bawahnya.

3.4 Militer
Secara teoretis, dalam konsep military aid to the civil power atau bantuan militer
kepada kekuasaan sipil (MACP), militer dapat berperan dalam kontraterorisme dengan cara
mendukung kekuatan polisi dan otoritas sipil. Dalam hal ini, militer bertanggung jawab
kepada Kepala Polisi dan hanya berperan dalam pemertahanan hukum dan ketertiban serta
perlindungan masyarakat. Mereka juga harus bisa mempertanggungjawabkan tindakan
mereka dalam kerangka hukum sipil.37 Hal ini dimungkinkan pula dalam konteks Indonesia.
Dalam hal ini, detasemen-detasemen khusus di bawah militer seperti Dengultor, Denbravo,
dan Denjaka dapat dilibatkan sebagai striking force kontrateror dengan bergabung ke dalam
standing joint force yang telah disebutkan sebelumnya. Akan tetapi, hal ini harus diatur
melalui payung hukum hingga ke tataran operasional yang memungkinkan militer untuk
mengejar dan menangkap teroris hidup-hidup untuk selanjutnya diproses secara hukum tanpa
khawatir akan dituding melanggar HAM.

4. Penutup
Dari uraian di atas, terlihat bahwa strategi dan kebijakan pencegahan dan
penanggulangan terorisme yang komprehensif akan mencakup penggunaan pendekatan keras
(hard power) yang termanifestasikan dalam penegakan hukum dan pendekatan lunak (soft
power) yang antara lain termanifestasikan dalam deradikalisasi dan kontraradikalisasi yang
turut mencakup diplomasi dan pendidikan publik. Selain itu, strategi dan kebijakan ini
mencakup pula kerja sama internasional bilateral dan multilateral serta penanggulangan akar
penyebab terorisme seperti peningkatan kesejahteraan, transformasi konflik komunal, dan
penguatan demokrasi dan HAM.

35
“DPR Sahkan UU Intelijen,” dalam http://www.voanews.com/indonesian/news/DPR-Sahkan-UU-
Intelijen--131511353.html. Diakses 10 Januari 2012.
36
Sebagaimana terungkap dalam diskusi mengenai intelijen sebagai aktor keamanan nasional dalam
penanggulangan terorisme dalam mata kuliah Kebijakan Keamanan terhadap Terorisme.
37
Paul Wilkinson, op. cit., h. 70.

22
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

Dalam kaitannya dengan aktor dan kelembagaan, selain aktor-aktor keamanan


nasional yang menjadi tumpuan upaya penanggulangan terorisme pemerintah yang
disebutkan di atas, yakni BNPT, kepolisian dan Densus 88, serta kemungkinan keterlibatan
militer, strategi dan kebijakan pemerintah pun harus dapat merangkul dan memberdayakan
berbagai elemen non-pemerintah seperti penyintas, organisasi masyarakat sipil, media massa,
hingga masyarakat di tataran akar rumput untuk ikut serta bahu membahu dalam mencegah
dan menanggulangi terorisme di Indonesia.

***

23
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

DAFTAR PUSTAKA

Abuza, Zachary. 2010. “Indonesian Counter-Terrorism: The Great Leap Forward.” Terrorism
Monitor ,Volume: 8 Issue: 2 January 14.

Australian Muslim Civil Rights Advocacy Network. 2007. Undang-Undang Anti-Terorisme:


ASIO, Polisi dan Anda. Dikutip dalam http://www.lawfoundation.net.au

Burgoon, Brian. 2006. “On Welfare and Terror: Social Welfare Policies and Political-
Economic Roots of Terrorism.” The Journal of Conflict Resolution, Vol. 50, No. 2
(Apr.,
2006), pp. 176-203. Sage Publications, Inc. Dalam http://www.jstor.org/stable/27638483.
Diakses 30 November 2010.

Chow, Jonathan C. 2005. “Asean Counterterrorism Cooperation since 9/11.” Asian Survey,
Vol. 45, No. 2 (Mar. - Apr., 2005), pp. 302. Dalam
http://www.jstor.org/stable/4497099. Diakses 30 November 2010.

Ganor, Boaz. 2005. “Dilemmas Concerning Media Coverage of Terrorist Attacks.” Dalam
Howard et al. 2005. Terrorism and Counterterrorism: Understanding the New Security
Environment. New York: McGRaw –Hill Companies Inc.

Poetrantro, Tri. 2010. “Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia


dalam Rangka Menjaga Keutuhan NKRI,” Puslitbang Strahan Balitbang Dephan.
Dikutip dalam http://www.
buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?mnorutisi=6&vnomor=17. Diakses 10 Januari
2012.

Rosand, Eric. 2009. ”The Role of Civil Society in Counterterrorism: Presentation to the EU’s
Counter‐Terrorism Committee,” Diunduh dari
http://www.globalct.org/images/content/pdf/Remarks/09Oct14_COTER_CIVILSOCIETY_A
M.pdf. Diakses 29 Mei 2011.

Wayne, Martin. 2008. China’s War on Terrorism Counter-Insurgency, Politics, and


Internal Security. USA dan Canada: Routledge.

Wilkinson, Paul. 2002. Terrorism and Democracy. London and New York: Routledge

2006. Analysis_ASEAN Convention on Counter Terrorism. Dikutip dari


http://www.pvtr.org/pdf/Legislative%20Response/ASEAN%20Convention%20on%20
Counter%20Terrorism-Analysis%5B1%5D.pdf.

Mardanih, “Deradikalisasi Terorisme: Program Pemberantasan Terorisme,” Kompas 20


Agustus 2009, dikutip dalam
http://edukasi.kompas.com/read/2009/08/20/11080199/Deradikalisasi.Terorisme..Progr
am.Pemberantasan.Terorisme. Diakses 10 Januari 2012.

24
Makalah Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Terorisme di Indonesia
Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
FISIP UI

“Ismail Yusanto: Deradikalisasi Mengarah pada Deislamisasi,” dalam


http://arrahmah.com/read/2011/12/23/16989-ismail-yusanto-deradikalisasi-mengarah-
deislamisasi.html. Diakses 10 Januari 2011.

“Indonesia Paparkan Strategi Anti Terorisme ke Eropa,” dalam


http://madina.co.id/index.php/polhukam/9373-indonesia-paparkan-strategi-anti-
terorisme-ke-eropa.html. Diunduh 10 Januari 2012.

“Mencari Strategi Penanganan Terorisme,” dalam Seminar ”Penanggulangan Terorisme


guna Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Ketahanan Nasional”, yang
diadakan Program Pendidikan Singkat Angkatan XVII Lembaga Ketahanan Nasional.

“Sejarah Densus 88 Antiteror,” dalam http://smsindah.wordpress.com/2010/03/18/sejarah-


densus-88-anti-teror/

“DPR Sahkan UU Intelijen,” dalam http://www.voanews.com/indonesian/news/DPR-Sahkan-


UU-Intelijen--131511353.html. Diakses 10 Januari 2012.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme.

Presentasi Heggy Kearens dalam topik ‘Deradikalisasi’ dalam mata kuliah Terorisme di
Indonesia, Desember 2011.

Presentasi Sarie Febriani dalam topik ‘Deradikalisasi’ pada mata kuliah Terorisme di
Indonesia, Desember 2011.

25