Anda di halaman 1dari 6

KUIS HUKUM ADAT

Dosen Pengajar :
Prof. Dr. Dominikus Rato, S.H., M.Si.

Disusun oleh :

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS JEMBER
2017
TUGAS KUIS HUKUM ADAT

1. Setiap hukum, termasuk hukum adat, harus memiliki kekuatan berlaku


atau “ keberlakuan hukum” dalam Bahasa Belanda disebut Gelding atau
Bahasa Jerman disebut “ Geltung”
a. Apa itu gelding atau geltung ?
Jawaban : Keberlakuan hukum / berlakunya hukum. Keberlakuan
hukum artinya kemampuan hukum (norma) untuk memaksa seseorang
tunduk dan taat pada hukum.
b. Sebut dan jelaskan kekuatan berlaku menurut sudikno ?
Jawaban :
 Kekuatan berlakunya secara filosofik = kekuatan berlakunya
hukum karena ia bersumber pada falsafah hidup masyarakat
dimana hukum itu hidup, tumbuh dan berkembang.
 Kekuatan berlakunya secara yuridis – normatif = kekuatan
berlakunya hukum karena ada dasar hukumnya dalam peraturan-
peraturan perundang-undangan. jadi berdasarkan bentuknya misal
UUPA, UU perkawinan, UU kesejahteraan anak.
 Kekuatan berlakunya secara sosiologis = kekuatan berlakunya
secara nyata, artinya nyata adalah ditaati, dilaksanakan dan
dipertahankan oleh anggota masyarakat sekalipun tidak berbentuk
undang-undang. Jadi tidak bergantung pada bentuk tetapi pada isi /
materi, kekuatan, berlaku secara sosiologis = kekuatan berlaku
secara empirik = efektivitas.
c. Jika orang diberi sanksi fisik (penjara, dicambuk, dipotong tangan,
dikebiri), teori apa yang menjelaskan hal ini ?
Jawaban : Teori paksaan
2. Dalam hukum adat selalu ada keterkaitan (holistic/interrelasi) antara :
perilaku, nilai, azaz dan norma.
a. Buatkan skema hubungan antara 4 komponen dalam pembentukan
hukum adat itu.
Jawaban :
NILAI

Formatted: Font: 22 pt, Font color: Black


PERILAKU MANUSIA AZAS

NORMA

b. Dari skema tersebut dari manakah hukum adat itu lahir ?


Jawaban : menurut hukum adat, terlahir dari perilaku. Karena hukum
ada itu hidup, tumbuh, dan berkembang bersama dengan masyarakat.
Yang diperoleh dari perbuatan atau perilaku setiap hari melalui
interaksi
c. Teori apa/siapakah yang menjelaskan hal tersebut?
Jawaban :
- Teori historis – kulturalisme dari Von Savigny
- Teori sociological – jurisprudence dari O.W Holmes
d. Bagaimana isi teori tersebut ?
Jawaban :
- Teori historis – kulturalisme = hukum itu tidak dibuat , tetapi ia
hidup tumbuh dan berkembang bersama masyarakat = volkgeeist
- Teori sociological – jurusprudence = hukum itu tidak lahir dari
logika.
3. Setiap hukum , termasuk hukum adat tentu mempunyai subjek hukum
a. Siapakah subjek hukum adat itu? Buat skemanya supaya jelas
b. Apa dasar hukumnya dalam hukum positif indonesia (sesudah
reformasi)
Jawaban : pancasila serta UUD 1945
c. Apa fungsi masyarakat hukum adat itu?
Jawaban : berfungsi sebagai denah atau bingkai = membedakan
masyarakat hukum adat yang satu dengan masyarakat hukum adat
lain, degan segala hak dan kewajibannya.
d. Bagaimanakah bentuk pengakuan dan perlindungan masyarakat
hukum adat ?
Jawaban : bentuk pengkuan masyarakat hukum adat yaitu dengan cara
kesamaan daerah dan / atau daerah, yang meendiami suatu wilayah
tertetu, mempunyai harta kekayaan sendiri ( BERWUJUD MAUPUN
TIDAK BERWUJUD), memiliki pengurus sendiri yang bersifat
otonom, memiliki tata nilai sendiri, dan tidak ada keinginan untuk
membubarkan diri.
Serta bentuk perlindungannya yaitu dengan cara terbentuknya undang-
undang yang menjamin keberadaan masyarakat hukum adat itu sendiri
yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
4. Setiap hukum, termasuk hukum adat tentu memiliki objek hukum.
a. Sebutkan hak masyarakat hukum adat (ada 2) ? jika perlu dibuatkan
skema.
Jawaban :
- Hak milik pribadi
- Hak komunal
b. Apa dasar hukumnya dalam hukum positif indonesia (sesudah
reformasi)
Jawaban :
- Permendagri no 52 tahun 2014
- UU no 6 tahun 2014 tentang desa
- UUD NKRI tahun 1945 pasal 18b ayat 2, 281(3), JO UU No 32
tahun 2004

c. Berikan contoh hak komunal.


Jawaban : Hak komunal = masyarakat adat teritorial, contohnya : hak
atas tanah masyarakat hukum adat meliputi
(gunung,bukit,goa,lembah,sungai,dll)
d. Berikan contoh hak kolektif.
Jawaban ; Hak kolektif = hak masyarakat hukum adat geneologis,
contohnya : hak atas penanggungan HAM serta hak atas perlindungan
wilayah / garis ketentuan masyarakat hukum adat yang berdasarkan
UUD yang telah ditetapkan.
5. Setiap hukum atau peratura perundang-undangan harus ada dasar
hukumnya
a. Untuk apa dasar hukum itu dibuat ?
Jawaban : Sebagai sebuah hukum = hukum adat adalah hukum positif.
b. Apa dasar hukum dari hukum adat pada masa colonial Belanda ?
Jawaban :
 Algemene Berpalinge Van Wetgeving (A.B) = ketentuan-
ketentuan umum perundang-undangan – pasal 11 = “Godsdienstge
Weeten, Volksin Stellingen En Gebruken” ( peraturan-peraturan
agama, lembaga-lembaga rakyat dan kebiasaan-kebiasaan)
 Regerings Regtement (R.R) 1854 pasal 75 ayat (3) menggunakan
istilah “Godsdien Stige Wetten, Volksinstell En Gebrulken
(peraturan-peraturan agama, lembaga-lembaga rakyat dan
kebiasaan-kebiasaan)
c. Apa dasar hukum dari hukum adat pada masa kemerdekaan sebelum
reformasi ?
Jawaban :
- Pasal II aturan peralihan UUD 1945
- Pasal II aturan peralihan JO UU No 5 tahun 1990; JO UU No 5
tahun 1967; JO UU No 14 tahun 1970; UU No 5 tahun 1979.

d. Apa dasar hukum dari hukum adat pada masa kemerdekaan sesudah
reformasi ?
Jawaban : UUD NKRI tahun 1945 pasal 18 B (2), 28 I (3), JO UU No
32 tahun 2004, UU No 6 tahun 2014 tentang desa = Ada desa dan desa
adat atau yang disebut dengan nama lain desa adat.
6. Setiap matakuliah selalu mempunyai tujuan dan manfaat untuk dipelajari
termasuk hukum adat.
a. Apa tujuan mempelajari hukum adat ?
Jawaban : Hukum adat = hanya hidup dalam suatu masyarakat hukum
adat
Tanpa masyarakat hukum adat = tidak ada hukum adat, yang ada
hanya tata nilai – istiadat / kebiasaan.
b. Apa manfaan mempelajari hukum adat ?
Jawaban : masyarakat hukum adat atau persekutuan hukum =
berfungsi sebagai denah dan bingkai = membedakan . Masyaarakat
hukum adat yang satu dengan masyarakat hukum adat yang lain,
dengan segala hak dan kewajibannya.
c. Apa fungsi hukum adat ?
Jawaban : fungsi hukum adat sebagai “pedoman” hidup masyarakat
agar masyarakat itu hidup tertib, tenang, tentram, dan damai menuju
masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.