Anda di halaman 1dari 37

19

2.4 Eksplorasi Geofisika Metode Gayaberat

Metode gayaberat merupakan metode geofisika yang didasarkan pada

pengukuran variasi percepatan gravitasi bumi. Dalam metode ini yang dipelajari

adalah variasi percepatan gravitasi bumi akibat variasi rapat massa batuan di

bawah permukaan, sehingga dalam pelaksanaannya yang diselidiki adalah

perbedaan percepatan gravitasi bumi dari suatu titik observasi terhadap titik

observasi lainnya.

Metode gayaberat umumnya digunakan dalam eksplorasi mineral,

terutama dalam eksplorasi minyak untuk menemukan struktur yang merupakan

jebakan minyak (oil trap). Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam

membedakan rapat massa suatu material terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan

demikian struktur bawah permukaan dapat diketahui. Pengetahuan tentang

struktur bawah permukaan ini penting untuk perencanaan langkah-langkah

eksplorasi baik itu minyak maupun mineral lainnya. Selain itu metode ini juga

banyak dipakai dalam aplikasi lainnya, seperti menyelidiki struktur geothermal,

keberadaan sistem aliran air tanah, dan struktur sesar.


20

2.4.1 Konsep Dasar Metode Gayaberat

Pengukuran pada metode gayaberat didasarkan pada hukum gravitasi

universal Newton, yang menyatakan bahwa gaya gravitasi antara dua benda titik

merupakan gaya tarik-menarik yang besarnya berbanding lurus dengan massa

masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar

keduanya.

F12 F21
m1 m2

Gambar 2.7 Interaksi gravitasi antara benda titik bermassa m1 dan m2 yang

terpisah sejauh r

Besarnya gaya gravitasi dapat ditulis secara matematis dengan persamaan:


 
 =  =  (2.1)


Dengan

F12 = F21 = besar gaya tarik-menarik antara kedua benda (N)

G = konstanta gravitasi ( 6.672 x 10-11 Nm2/kg2)

m1 = massa benda 1 (kg)

m = massa benda 2 (kg)

r = jarak antara pusat kedua benda (m)

Dalam pengukuran gayaberat yang diukur bukanlah gaya gravitasinya F,

melainkan percepatan gravitasinya, g. Hubungan antara gaya gravitasi dengan

percepatan gravitasi dijelaskan oleh hukum II newton,

 =
(2.2)
21

Interaksi antara bumi (dengan massa M) dengan benda di permukaan bumi

(dengan massa m) sejauh jarak R dari pusat kedua benda juga memenuhi hukum

tersebut, maka persamaan di atas menjadi:


=
=



=   (2.3)

Menurut persamaan di atas, besar percepatan gravitasi di semua tempat di

permukaan bumi adalah sama, tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Hal ini

disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya bentuk muka bumi yang elipsoidal,

rotasi bumi, bentuk relief permukaan bumi yang bermacam-macam, dan juga

perbedaan distribusi rapat massa di bawah permukaan bumi.

2.4.2 Anomali Gayaberat

Pada dasarnya nilai anomali gayaberat adalah selisih antara nilai

percepatan gravitasi bumi pada kondisi bumi yang sebenarnya dengan nilai

percepatan gravitasi bumi pada kondisi teoritik bumi. Pada kondisi bumi yang

sebenarnya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi nilai percepatan gravitasi

bumi seperti efek rotasi bumi, variasi topografi bumi, dan variasi densitas secara

lateral maupun vertikal. Sedangkan percepatan gravitasi bumi secara teoritik

mengasumsikan bahwa bumi berbentuk sferoid dan massa bumi homogen.

Saat ini diketahui bahwa nilai percepatan gravitasi bumi di permukaan

bumi dipengaruhi oleh lima faktor yaitu:

• Derajat lintang

• Ketinggian
22

• Topografi di sekitar titik pengukuran

• Interaksi bumi dengan matahari dan bulan (pasang-surut), dan

• Variasi rapat massa batuan di bawah permukaan bumi

Faktor yang disebutkan terakhir adalah satu-satunya faktor yang signifikan

dalam eksplorasi gayaberat dan pada umumnya memiliki nilai yang sangat kecil

dibandingkan kombinasi keempat faktor lainnya.

Besar anomali gayaberat sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata

percepatan gravitasi bumi di permukaan, sehingga satuan pengukuran yang biasa

digunakan adalah dalam mGal, dan dalam pengukurannya memerlukan alat ukur

yang sangat sensitif. Karena nilai anomali yang dibutuhkan dalam eksplorasi

gayaberat adalah anomali akibat variasi rapat massa di bawah permukaan, maka

dilakukan koreksi-koreksi untuk mereduksi anomali akibat faktor-faktor yang lain.

2.4.3 Gravimeter

Dalam pengukuran gayaberat, perbedaan percepatan gravitasi bumi di

suatu tempat dengan tempat lainnya relatif kecil, maka diperlukan suatu alat ukur

yang sangat sensitif untuk mengukur perbedaan tersebut. Alat yang digunakan

dalam pengukuran gayaberat dinamakan gravimeter yang memiliki ketelitian

sangat tinggi, lebih kecil dari 0.01 mgal.

Tipe gravimeter yang biasa digunakan dalam eksplorasi gayaberat

didasarkan pada sistem massa-pegas sederhana, seperti yang ditunjukkan oleh

gambar 2.8.
23

s s

m ∆
mg s
m(g+∆g)

Gambar 2.8 Prinsip kerja gravimeter stabil

Gaya gravitasi akan menarik massa ke arah pusat bumi dan membuat

pegas meregang. Dengan menggunakan hukum Hooke dapat ditunjukkan bahwa

besarnya perubahan percepatan gravitasi sebanding dengan perubahan panjang

akibat pengaruh gaya gravitasi pada beban.

∆ = ∆ (2.4)

∆ =

Dan


∆ = ()∆ (2.5)

Dengan m = massa beban (kg)

k = konstanta elastisitas pegas (N/m)

∆g = perubahan percepatan gravitasi (mgal)


24

Salah satu gravimeter yang menggunakan prinsip kerja seperti ini adalah

gravimeter La Coste & Romberg. Gravimeter Lacoste & Romberg yang

digunakan memiliki skala pembacaan dari 0 hingga 7000 mgal, dengan ketelitian

0.01 mgal dan koreksi drift rata-rata kurang dari 1 mgal setiap bulan. Dalam

penggunaannya gravimeter ini memerlukan suhu yang relatif tetap, karenanya alat

ini dilengkapi dengan thermostat agar suhu alat tetap terjaga.

2.4.4 Koreksi-Koreksi Gayaberat

2.4.4.1 Koreksi Apungan (Drift Correction)

Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh perubahan kondisi

alat (gravimeter) terhadap nilai pembacaan. Koreksi apungan muncul karena

gravimeter selama digunakan untuk melakukan pengukuran, mengalami

goncangan sehingga akan menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada

alat tersebut. Koreksi ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dengan

metode looping (gambar 2.9), yaitu dengan pembacaan ulang pada titik amat

acuan (base station) dalam satu kali looping, sehingga nilai penyimpangannya

diketahui. Besarnya koreksi drift dirumuskan sebagai berikut:

  
 =
   
(  − ") untuk titik amat stasiun1 (2.6)

dimana, DC% = koreksi drift pada titik amat stasiun1

gA = harga percepatan gravitasi titik amat acuan pada saat tA

gA’ = harga percepatan gravitasi titik amat acuan pada saat tA’
25

tA = waktu pengamatan di titik amat acuan pada saat awal

tA’ = waktu pengamatan di titik amat acuan pada saat tA’

Tb = waktu pengamatan di titik amat stasiun1

Gambar 2.9 Pola pengukuran metode gayaberat

2.4.4.2 Koreksi Pasang Surut (Tidal Correction)

Koreksi pasang surut dilakukan untuk menghilangkan efek gayaberat

benda-benda di luar bumi seperti Matahari dan Bulan. Alat gravimeter sangat

peka sehingga pengaruh gaya tarik matahari dan bulan sangat berpengaruh pada

alat tersebut. Koreksi pasang surut berdasarkan Longman, I.M, 1959, yakni

TiC =
3Gr  2 M
2  3d
Mr
(
 2 (sin p − 1) + 4 5 cos p − 3 cos p +
3
) 2s
3
( )
3 cos 2 q − 1  (2.7)
d 3D 

Dengan TiC = koreksi pasang surut, p = sudut zenith bulan, q = sudut zenith

matahari, M = massa bulan, S = Massa matahari, d = jarak antara pusat bumi-

bulan, D = jarak antara pusat Bumi-matahari


26

Hasil ini kemudian ditambahkan dengan koreksi drift untuk memperoleh

anomali gayaberat observasi.

&'( = ) + + (2.8)

dengan &'( adalah anomali gayaberat observasi yang telah dikoreksi drift dan

pasang surut, T adalah koreksi pasang surut.

2.4.4.3 Koreksi Lintang (Latitude Correction)

Koreksi ini diperlukan karena perputaran bumi mengakibatkan perbedaan

percepatan gravitasi bumi pada setiap lintang. Untuk menghitung koreksi lintang

digunakan rumus sebagai berikut:

, = 978.03185(1 + 0.00527889567 8 + 0.00002346267; 8) <= (2.9)

dengan , adalah nilai percepatan gravitasi teoritik pada posisi titik amat dan 8

adalah koordinat lintang.

2.4.4.4 Koreksi Udara Bebas (Free Air Correction)

Koreksi udara bebas dilakukan untuk menghilangkan perbedaan

percepatan gravitasi bumi akibat perbedaan ketinggian dari setiap titik amat,

dengan mengabaikan adanya massa yang mengisi antara bidang acuan dan titik

amat. Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan anomali gayaberat di topografi.

Koreksi udara bebas dinyatakan secara matematis dengan persamaan:

> = 0.3086 × ℎ (2.10)

dengan h adalah ketinggian dari permukaan laut.


27

Setelah dilakukan koreksi tersebut maka akan didapatkan anomali udara

bebas di topografi yang dapat dinyatakan dengan persamaan:

∆ = &'( − (, − >) (2.11)

dengan: ∆g = anomali udara bebas di topografi (mgal)

gobs = percepatan gravitasi observasi di topografi (mgal)

, = percepatan gravitasi teoritis pada posisi titik amat (mgal)

FAC = koreksi udara bebas (mgal)

2.4.4.5 Koreksi Bouguer (Bouguer Correcion)

Koreksi Bouguer merupakan koreksi yang dilakukan untuk menghilangkan

perbedaan percepatan gravitasi bumi akibat perbedaan ketinggian di setiap titik

amat, dengan tidak mengabaikan massa di bawahnya. Massa ini dianggap sebagai

lempeng massa (slab) tak hingga dengan tebal h (meter) dan rapat massa ρ (gr/cc).

Slab horizontal mengasumsikan pengukuran berada pada suatu bidang mendatar

dan mempunyai massa batuan dengan rapat massa tertentu. Koreksi ini dihitung

menggunakan persamaan:

A = 0.04193B × ℎ (2.12)

Gambar 2.10 Lempeng Bouguer dengan tebal h


28

Anomali gayaberat setelah diaplikasikan koreksi udara bebas dan koreksi

bouguer disebut simple bouguer anomaly (SBA):

CA> = > − A

CA> = &'( − , ± 0.3085 × ℎ − 0.04192 × B × ℎ (2.13)

Dengan nilai SBA dalam mgal.

2.4.4.6 Koreksi Medan (Terrain Correction)

Daerah yang memiliki topografi relatif datar cukup melakukan koreksi

sampai mendapatkan nilai SBA, sedangkan untuk daerah dengan topografi

berundulasi diperlukan koreksi medan (TC). Koreksi ini diterapkan sebagai akibat

dari pendekatan slab horizontal tak berhingga, padahal kenyataannya permukaan

bumi tidak datar, berundulasi sesuai dengan topografinya.

Gambar 2.11 Koreksi medan terhadap gayaberat terukur

Adanya bukit dan lembah yang terletak berdekatan dengan stasiun

pengukuran akan menghasilkan gaya tarik antara pusat massa bukit atau pusat
29

lembah yang merupakan massa kosong dengan pendulum gravimeter. Gaya tarik

tersebut dapat diuraikan menjadi komponen gaya vertikal dan horizontal, pada

metoda gayaberat yang digunakan adalah komponen gaya vertikal (Gambar 2.11).

Karena komponen gaya horizontal (koreksi medan) bersifat mengurangi nilai

gayaberat terukur, maka koreksi medan harus ditambahkan pada SBA, sehingga

anomalinya menjadi Complete Bouguer Anomaly (CBA).

A> = CA> + + (2.14)

Perhitungan koreksi medan (TC) dapat dilakukan dengan menggunakan

Hammer chart seperti pada Gambar 2.12 yang dikembangkan oleh Sigmund

Hammer. Berdasarkan besarnya radius dari titik pengukuran gayaberat, Hammer

chart dapat dikelompokkan menjadi (Hammer, 1939):

1. Inner zone

Memiliki radius yang tidak terlalu besar sehingga beda elevasi bisa didapatkan

dari pengamatan langsung di lapangan. Dapat dibagi menjadi beberapa zona :

• Zona B : radius 6,56 – 54,6 ft, dibagi menjadi 4 kompartemen

• Zona C : radius 54,6 – 175 ft, dibagi menjadi 6 kompartemen

2. Outer zone

Memiliki radius yang cukup jauh, sehingga dibutuhkan analisa peta topografi

untuk mengetahui perbedaan elevasi terhadap titik pengukuran gayaberat.

Outer zone dapat dibagi menjadi beberapa zona :

• Zona D : radius 175 – 558 ft, dibagi menjadi 6 kompartemen

• Zona E : radius 558 – 1280 ft, dibagi menjadi 8 kompartemen


30

• Zona F : radius 1280 – 2936 ft, dibagi menjadi 8 kompartemen

• Zona G : radius 2936 – 5018 ft, dibagi menjadi 12 kompartemen

• Zona H : radius 5018 – 8578 ft, dibagi menjadi 12 kompartemen

• Zona I : radius 8578 – 14662 ft, dibagi menjadi 12 kompartemen

• Zona J : radius 14662 – 21826 ft, dibagi menjadi 16 kompartemen

• Zona K sampai M : masing-masing dibagi menjadi 16 kompartemen

Gambar 2.12 Hammer chart untuk menghitung koreksi medan


31

Gambar 2.13 Cincin melingkar yang terbagi ke dalam delapan kompartemen

untuk menghitung koreksi medan

Hammer melakukan pendekatan efek gayaberat dalam suatu cincin seperti

pada Gambar 2.13. Jika cincin memiliki ketebalan atau beda elevasi z, jari-jari

luar RL, dan jari-jari dalam RD, maka persamaan yang menyatakan gaya tarik

gravitasi pada titik ditengah cincin untuk tiap kompartemen, yaitu :

(2.15)

Dengan

n = jumlah kompartemen pada zona tersebut

RL = Radius luar pada zona tersebut

RD = Radius dalam pada zona tersebut

z = beda elevasi rata-rata kompartemen dengan titik pengukuran

Koreksi medan untuk masing-masing stasiun pengukuran gayaberat adalah total

dari TC kompartemen-kompartemen dalam satu stasiun pengukuran tersebut.


32

2.4.4.7 Anomali Bouguer Lengkap (Complete Bouguer Anomaly)

Anomali Bouguer (CBA) suatu titik amat didefinisikan sebagai

penyimpangan harga percepatan gravitasi pengamatan (Gobs) terhadap harga

percepatan gravitasi normal (, ) di titik tersebut. Anomali bouguer di titik amat

pada ketinggian h merupakan anomali kumulatif akibat semua penyebab anomali

yang berada di bawah ketinggian titik amat, dengan persamaan sebagai berikut:

A> = &'( − , + > − A + + = CA> + + (2.16)

2.4.5 Moving Average

Metode moving average merupakan salah satu cara untuk memisahkan

anomali regional-residual dengan noise. Metode moving average dilakukan

dengan cara merata-ratakan nilai anomali, proses perata-rataan dilakukan untuk

tiap titik pengamatan dan bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Hasil metode

moving average adalah anomali regional, sedangkan anomali residualnya

diperoleh dengan mengurangkan anomali Bouguer lengkap terhadap anomali

regional.

Secara matematis pada kasus satu dimensi anomali regional dari moving

average adalah:

(2.17)

Dimana N adalah lebar window yang harus bilangan ganjil, n adalah (N-1)/2.

Penerapan moving average pada data dua dimensi dengan lebar windows

5x5 dapat diilustrasikan pada gambar 2.14. Nilai ∆gr pada suatu titik dapat
33

dihitung dengan merata-ratakan semua nilai ∆gbouguer di dalam sebuah kotak

persegi dengan titik pusat adalah titik yang akan dihitung harga ∆gR.

Gambar 2.14 Ilustrasi moving average dua dimensi dengan lebar windows 5x5

Persamaannya diberikan oleh:

(2.18)

2.4.6 Analisis Spektrum

Analisis spektrum dimaksudkan untuk mengetahui kandungan frekuensi

dari data. Pada umumnya frekuensi dari data gayaberat secara kasar dapat

dipisahkan menjadi 2 bagian. Bagian dengan frekuensi rendah (panjang

gelombang panjang) dengan gradien yang tajam disebut regional yang mewakili

struktur dalam dan meluas. Pada frekuensi tinggi (panjang gelombang pendek)

merupakan residual yang dicirikan dengan gradien landai yang berasal dari

sumber dangkal. Frekuensi sangat tinggi biasanya diakibatkan oleh kesalahan

pengukuran, kesalahan digitasi dan lainnya yang disebut noise. Analisis ini

dimaksudkan untuk mengetahui batas frekuensi antara sinyal dengan noise

melalui nilai bilangan gelombangnya. Nilai bilangan gelombang kemudian


34

dikonversikan ke dalam nilai lebar windows untuk digunakan pada proses moving

average, untuk menghilangkan noise dari data anomali bouguer. Penghilangan

noise ini penting untuk proses analisa SVD yang bersifat high pass filter atau

meninggikan anomali dengan frekuensi tinggi, sehingga bila noise tidak

dihilangkan terlebih dahulu maka akan menghasilkan pola anomali yang tidak

tepat.

Analisis spektrum dilakukan dengan cara mentransformasi Fourier lintasan

yang telah ditentukan pada peta kontur CBA. Secara umum, suatu transformasi

Fourier adalah menyusun kembali/mengurai suatu bentuk gelombang sembarang

ke dalam gelombang sinus dengan frekuensi bervariasi, dengan hasil penjumlahan

gelombang-gelombang sinus tersebut adalah bentuk gelombang aslinya. Untuk

analisis lebih lanjut, amplitudo gelombang-gelombang sinus tersebut ditampilkan

sebagai fungsi dari frekuensinya. Secara matematis hubungan antara gelombang

s(t) yang akan diidentifikasi gelombang sinusnya (input) dan S(f) sebagai hasil

transformasi Fourier diberikan oleh persamaan berikut :


L
C(E) = FL ( )G HIJ K (2.19)

Dengan M = √−1

Pada metode gayaberat, spektrum diturunkan dari potensial gayaberat yang

teramati pada suatu bidang horizontal, dengan transformasi Fouriernya adalah

sebagai berikut (Blakely, 1996):



  U |W|(XY ZX )
(O) = PQ R S dan  R S = 2T ||
(2.20)
35

dengan

U = potensial gayaberat

µ = anomali rapat massa

γ = konstanta gayaberat

r = jarak

sehingga persamaannya menjadi:



U |W|(XY ZX )
(O) = 2TPQ ||
(2.21)

Berdasarkan persamaan (2.21), transformasi Fourier untuk anomali gayaberat

yang diamati pada bidang horisontal diberikan oleh:

] 1
( [ ) = PQ \ `
]^ _

] 1
= PQ \ `
]^ _

( [ ) = 2TPQG ||([Y [
)
(2.22)

dengan

gz = anomali gayaberat

z0 = ketinggian titik amat

k = bilangan gelombang

z = kedalaman benda anomali

Jika distribusi rapat massa bersifat random dan tidak ada korelasi antara

masing-masing nilai gayaberat, maka: µ = 1, sehingga hasil transformasi Fourier

anomali gayaberat menjadi :

> = G ||([Y [
)
(2.23)

Dengan A = amplitudo dan C = konstanta


36

Agar mendapatkan estimasi lebar windows yang tepat untuk pemisahan

noise dari sinyal, amplitudo A pada persamaan (2.23) dilogaritmakan sehingga

memberikan hasil persamaan linier. Komponen bilangan gelombang k menjadi

berbanding lurus dengan amplitudo.

a7 > = a7  + b^-d − ^′f|| (2.24)

Dari persamaan diatas, dibuat grafik antara ln A terhadap k untuk

mengklasifikasikan anomali (gambar 2.15). Melalui regresi linier diperoleh nilai k

pada batas antara sinyal residual dengan noise yang kemudian digunakan sebagai

penentu lebar windows. Hubungan panjang gelombang (λ) dengan k diperoleh dari

persamaan (2.25) (Blakely, 1996):

2T
=
g

g = h∆ (2.25)

Dengan N = lebar windows yang akan digunakan pada proses moving average.

Zona regional
Ln A

Zona residual
Zona noise

Batas Zona residual k


dengan zona noise

Gambar 2.15 Pembagian zona anomali melalui grafik ln A terhadap k


37

2.4.7 Teknik Gradien

2.4.7.1 Gradien Horisontal (Horizontal Derivative)

Gradien horisontal anomali gayaberat adalah perubahan nilai anomali

gayaberat dari satu titik ke titik lainnya secara horisontal dengan jarak tertentu.

gradien horisontal memiliki karakteristik tajam berupa nilai maksimum pada batas

kontak benda anomali (gambar 2.16), sehingga digunakan untuk menunjukkan

batas suatu struktur geologi berdasarkan anomali gayaberat.

Gambar 2.16 Nilai gradien horisontal pada model tabular (Blakely, 1996)

Gambar 2.16 di atas menunjukkan respon anomali gayaberat dan FHD

terhadap model tabular. Struktur model diwakili oleh anomali gayaberat

berbentuk satu panjang gelombang. Ketika nilai anomali ini diturunkan secara

horisontal, maka dihasilkan bentuk FHD seperti ditunjukkan gambar tersebut.

Nilai FHD maksimum akan dihasilkan pada batas struktur, sementara nilai

minimumnya berada pada titik yang memiliki nilai maksimum anomali gayaberat.

Untuk model struktur berupa cekungan, respon anomali gayaberat dan

FHD ditunjukkan oleh gambar 2.17. Struktur cekungan memiliki nilai anomali
38

gayaberat yang lebih rendah dibandingkan sekitarnya (low anomaly). Seperti

halnya model tabular, FHD memiliki nilai maksimum pada batas struktur,

sementara nilai minimumnya berada pada titik yang memiliki nilai minimum

anomali gayaberat.

Gravity anomaly
FHD

Gambar 2.17 Respon anomali gayaberat dan FHD pada struktur cekungan

Teknik gradien horisontal ini dapat digunakan untuk mendeteksi struktur

dalam maupun dangkal. Amplitudo gradien horisontal orde satu dan orde dua

diberikan oleh persamaan berikut:

k  k 
i = jRkl S + RkmS (2.26)

k  k 
Ci = R S + Rkm  S (2.27)
kl 

Turunan horisontal lebih mudah diaplikasikan dengan menggunakan

metode turunan berhingga dan perhitungan secara diskrit. Untuk data dua dimensi,

misalkan jika nilai (6, M), i = 1,2,3,…, j = 1,2,3,…, yang menunjukkan

perhitungan diskrit dari (, o) pada interval sampel yang sama ∆ dan ∆o, maka
39

turunan horisontal pertama (FHD) dari (, o) pada titik i, j diberikan oleh

persamaan:

p(l,m) rs,t rZ,t



pl ∆l
(2.28)

p(l,m) ,tsr ,tZr



pm ∆m
(2.29)

Dalam pelaksanaannya gradien horisontal dilakukan dalam domain

bilangan gelombang. Sesuai dengan sifat diferensiasi transformasi Fourier, maka

persamaan (2.34) dan (2.35) dapat dinyatakan dengan

pv
u w = (6l )x y z (2.30)
pl v

p{  
 upm { w = b6m f y z (2.31)

2.4.7.2 Gradien Vertikal (Vertical Derivative)

Turunan vertikal yang sering digunakan dalam analisis gayaberat adalah

turunan orde pertama atau First Vertical Derivative (FVD) dan turunan orde

kedua atau Second Vertical Derivative (SVD). Karakteristik FVD berbeda dengan

SVD, FVD berperan untuk mempertegas struktur anomali karena sifatnya

meningkatkan kontras anomali, sedangkan SVD bersifat sebagai high pass filter

atau meninggikan anomali dengan panjang gelombang yang pendek terhadap

anomali dengan panjang gelombang yang panjang, sehingga SVD akan

menggambarkan anomali residual yang berasosiasi dengan struktur dangkal.

Perhitungan SVD diturunkan langsung dari persamaan Laplace untuk

anomali gayaberat di permukaan, yang diberikan sebagai berikut:


40

∇ = 0 , atau

k  k  k 

+ 
+ =0
kl km k[ 
(2.32)

Sehingga SVD diberikan oleh persamaan:

k  k  k 
=− −
k[  kl  km 
(2.33)

Dengan mentransformasikan persamaan Laplace ke dalam domain bilangan

gelombang, diperoleh persamaan:

K
 }  ~ = l  y z + m  y z
K^

= || y z (2.34)

Untuk turunan vertikal orde pertama (FVD), perhitungan secara diskrit diberikan

oleh persamaan:

 (l,m,[)(l,m,[∆[)
(, o, ^) = lim∆[→d
[ ∆[
(2.35)

Dan dengan mentransformasikan dalam domain bilangan menghasilkan

… ( ) − ( )G ||∆[
 „ † = lim
…^ ∆[→d ∆^

1 − G ||∆[
= lim ( )
∆[→d ∆^

= || y z (2.36)

Dengan melihat persamaan SVD dan FVD, turunan vertikal untuk orde ke-n sama

dengan transformasi Fourier dari anomali gayaberat g dikalikan ||x , atau dalam

persamaan

pv 
 u p[ v w = ||x y z (2.37)
BAB III

PENGUKURAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1 Pengukuran Gayaberat

Penelitian dilakukan menggunakan gravimeter seri LaCoste & Romberg No.

G-804. Nomor yang digunakan menunjukkan nomor produksi alat yang

membedakan karakter instrumen yang digunakan. Sehingga tabel konversi tiap-

tiap gravimeter memiliki karakter tersendiri.

Prinsip gravimeter pada dasarnya merupakan suatu neraca pegas yang

mempunyai massa yang terkena gayaberat. Perubahan berat yang disebabkan oleh

gayaberat akan menyebabkan panjang pegas berubah (gambar 3.1)

m
∆s
m
mg

m(g+∆g)

Gambar 3.1
Prinsip gravimeter stabil

Berdasarkan hukum Hooke yang menyatakan bahwa perubahan panjang

pegas adalah sebanding dengan perubahan panjang gaya maka:

F=m×g=k×s (3.1)

26
27

dan

m
∆ s =   × ∆g (3.2)
k

Dengan m = massa beban (kg)

k = konstanta elastisitas pegas (N/m)

∆s = perubahan panjang pegas (m)

∆g = perubahan gayaberat (m/s2)

Dalam klasifikasinya gravimeter LaCoste & Romberg ini termasuk ke dalam

tipe zero length spring. Gravimeter tersebut mempunyai skala pembacaan dari 0-

7000 mGal, dengan ketelitian 0,01 mGal dan koreksi apung rata-rata kurang dari 1

mGal setiap bulannya. Dalam penggunaannya, gravimeter ini memerlukan suhu

yang tetap, karena itu alat ini dilengkapi dengan termostat untuk menjaga supaya

suhunya tetap.

Prinsip kerja gravimeter terdiri dari suatu beban pada ujung batang, yang

ditahan oleh zero length spring yang berfungsi sebagai pegas utama. Besarnya

perubahan gayatarik bumi akan menyebabkan perubahan kedudukan beban dan

pengamatan dilakukan dengan pengaturan kembali beban tersebut pada

kedudukan semula. Perubahan kedudukan pada ujung batang disamping karena

adanya variasi gayatarik bumi juga disebabkan karena adanya goncangan-

goncangan. Untuk menghilangkan efek goncangan, maka ujung batang yang lain

dipasang shock eliminating spring.


28

Gambar 3.2
Prinsip kerja gravimeter LaCoste & Romberg No.G-804

3.2 Data Yang Dipergunakan

Pada pengambilan data gayaberat di lapangan, data yang diperoleh

merupakan besaran variasi nilai gravitasi untuk masing-masing titik ukur. Variasi

nilai-nilai tersebut diolah sehingga menghasilkan data anomali nilai gayaberat.

Data di lapangan juga meliputi pencatatan data stasiun, waktu pengukuran, posisi

lintang, posisi bujur, serta ketinggian terhadap permukaan laut, dan pencatatan

kondisi topografis.

Selain data di lapangan, data lain juga diperlukan untuk mendukung dan

digunakan dalam pengolahan data lapangan, data tersebut adalah data dan peta

geologi daerah Yogyakarta dan Surakarta-Giritontro. Data geologi merupakan

data yang memaparkan morfologi daerah pengukuran serta karakteristik

geofisiknya.
29

3.3 Pengolahan Data Gayaberat

Pengukuran gayaberat dilapangan secara umumnya merupakan pengambilan

data mentah yang harus diolah untuk memperoleh gambaran anomali yang dicari,

yaitu anomali Bouguer. Anomali Bouguer yaitu harga pengamatan gayaberat yang

telah dikoreksi oleh koreksi-koreksi yang akan diuraikan selanjutnya. Pengolahan

ini diawali dengan konversi bacaan alat gravimeter ke satuan miligal hingga

diperoleh peta anomali Bouguer.

Harga percepatan gayaberat rata-rata pada permukaan bumi dalam satuan SI

adalah 9,8 m/s2. Satuan yang lebih kecil dinyatakan dalam micrometer/s2 atau g.u

(gravity unit). Dalam satuan cgs, harga gayaberat dinyatakan dalam cm/s2 atau

Gal. Yang biasanya digunakan dalam pengukuran yaitu miligal (mGal) dimana 1

mGal = 10-3 gal = 10-3 cm/s2 setara dengan 10 g.u.

Beberapa koreksi yang dilakukan dalam pengolahan data gayaberat adalah

sebagai berikut:

3.3.1 Konversi bacaan Gravimeter ke dalam Miligal

Contoh perhitungan: Data stasiun G-1 diketahui pembacaan (reading)

= 1787.06 mGal

Dari tabel milligal value untuk La Coste & Romberg dengan No. G-804

(Lampiran B, halaman 68) diperoleh nilai:

Counter reading = 1700 mGal

Value in mGal = 1730.44

Faktor interval = 1.0179


30

Maka persamaan konversi yang digunakan adalah:

Konversi = [{(reading – counter reading) x faktor interval} + value in

mGal] (3.3)

= [{(1787.06 – 1700) x 1.0179} + 1730.44

= 1819.058374 mGal

3.3.2 Koreksi Pasang Surut

Data koreksi pasang surut bumi merupakan data hasil perhitungan

teoritik yang dapat diperoleh dari BAKOSURTANAL, BMG, Puslitbang

Geologi dan Teknik Geodesi ITB. Pada penelitian ini, koreksi pasang surut

telah dilakukan oleh LIPI.

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui : 80017055’ LS, 1100416889’BT, ketinggian 311,19 m, tanggal

pengukuran 9 Juni 2006, waktu pengukuran 14:22 WIB maka diperoleh

nilai pasang surut dari tabel adalah sebesar -0.045 mGal

3.3.3 Koreksi Apung

Contoh: data Base station

Diketahui :

Konversi reading di BS (BS1) = 1824.046084 mGal

Waktu awal di BS (t1) = 8.5

Konversi reading di BS (BS2) = 1823.046484 mGal

Waktu akhir di BS (t2) = 2.5


31

Pasut awal di BS (Pasut1) = 0.0827 mGal

Pasut akhir di BS (Pasut2) = 0.1523 mGal

Waktu pembacaan di stasiun (tx) = 10.75

Koreksi apung untuk titik-titik pengamatan dilakukan berdasarkan

anggapan bahwa perubahan koreksi drift linier terhadap waktu sehingga

dirumuskan sebagai interpolasi terhadap persamaan garis lurus

Maka koreksi apungnya adalah

(BS2 + Pasut 2 ) − (BS1 + Pasut1 )


Koreksi apung = × (t x − t1 )
(t 2 − t 1 ) (3.4)

(1823.995189 + 0.1532) − (1823.046484 + (0.0827))


= × (10.75 − 8.5)
(2.5 − 8.5)

= 0.0000 mGal

3.3.4 Different in Reading (gdiff)

Pada penelitian ini, koreksi gdiff dilakukan termasuk di dalamnya untuk

menghitung medan gaya terkoreksi.

Different in reading = (medan gaya berat terkoreksi di stasiun) – (medan

gaya berat terkoreksi di base station) (3.5)

= Koreksi reading – Koreksi reading di BS (3.6)

= (Konversi reading di stasiun + Pasut di stasiun – Drift di stasiun) –

(Konversi reading di BS + Pasut di BS – Drift di BS) (3.7)

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui :

Konversi reading di stasiun = 1819.058374 mGal


32

Pasut di stasiun = – 0.0450 mGal

Drift di stasiun = 0.008 mGal

Konversi reading di BS = 1823.995189 mgal

Pasut di BS = 0.1523 mGal

Drift di BS = 0.019 mGal

Maka gdiff = (1819.058374 mGal – 0.0450 mGal – 0.008 mGal) –

(1823.995189 mGal + 0.1523 mGal – 0.019 mGal)

= – 5.123 mGal

3.3.5 Medan Gayaberat Observasi (gObs)

gobs = gn + gdiff

Dalam penelitian ini gn ditetapkan sebesar 978205.1358085 mGal yaitu data

g di BMG.

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui gn = 978205.1358085 mGal

gdiff = - 5.123 mGal

Maka gobs = gn + gdiff (3.8)

= 978205.1358085 mGal – 5.123 mGal

= 978200.013 mGal

3.3.6 Medan Gayaberat Teoritis (Lintang/Normal, gtheo)

(
g theo = 978031 .846 1 + 0.005278895 sin 2 φ − 0.000023462 sin 4 φ )(3.9)
(Telford et al.,1990:10)

Contoh: data stasiun G-1


33

Dalam formulasi Microsoft Excel gtheo dapat dihitung sebagai berikut:

gtheo = 978031.846*(1+0.00193185138639*SIN(8.017055

*PI()/180)^2)/SQRT(1-0.00669437999013*SIN(8.017055 *PI()/180)^2)

= 978133.114 mGal

3.3.7 Koreksi Udara Bebas

Nilai gayaberat berubah pada ketinggian yang berbeda, hal ini

berhubungan dengan jarak suatu massa ke titik pusat gayaberat. Pada hukum

Newton:

GM
g=
R2 (3.10)

dg 2GM 2g
Maka =− 3 =− = −0.3086 mGal / m
dR R R (3.11)
(Telford et al.,1990:11)

Sehingga nilai gayaberat akan berkurang sebesar 0.3086 mGal tiap

perubahan ketinggian menjauhi pusat gayaberat sepanjang garis

khatulistiwa. Perubahan nilai ini disebut koreksi udara bebas.

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui tinggi (h) = 311.1893 m

Maka KUB = 0.3086 mGal/m x h (3.12)


(Telford et al.,1990:11)
= 0.3086mGal/m x 311.1893 m

= 96.03301798 mGal
34

3.3.8 Koreksi Medan

Langkah-langkah pengolahan data koreksi medan adalah sebagai

berikut:

• Ambil data selisih ketinggian titik amat dengan ketinggian topografi di

setiap kompartemen.

• Nilai θ ditentukan dari sudut yang dibentuk oleh suatu zona pada suatu

kompartemen.

• Jari-jari tiap kompartemen didapatkan dari ketentuan Hammer Chart

(Telford et al.,1990:13) dalam satuan feet.

Dalam penelitian ini, koreksi medan telah dilakukan oleh LIPI.

3.3.9 Koreksi Bouguer

Gayatarik yang disebabkan oleh lapisan batuan dengan ketebalan tak

hingga ∆z dan massa jenisnya σ adalah:

∆g = 2π Gσ∆z (3.13)
(Telford et al.,1990:12)
= 0.04193 σ∆z

dengan σ dalam g/cm3 dan ∆z dalam m

Pengaruh dari lapisan batuan tersebut disebut efek Bouguer atau koreksi

Bouguer.

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui rapatmassa batuan (ρ) = 2.67 gr/cm3

Ketinggian titik amat (h) = 311.1893 m

Maka KB = 0.04193 x ρ x h (3.14)


35

= 0.04193 x 2.67 g/cm3 x 311.1893 m

= 34.83860682 mGal

3.3.10 Anomali Bouguer

Contoh: data stasiun G-1

Diketahui :

gobs = 978200.013 mGal

gtheo = 978133.114 mGal

KUB = 96.03301798 mGal

KB = 34.83860682 mGal

KM = 0.119 mGal

Maka AB = gobs – gtheo + KUB – KB + KM (3.15)


(Telford et al.,1990:15)
= 978200.013 - 978133.114 + 96.03301798 - 34.83860682 + 0.119

= 128.212 mGal

3.4 Pemisahan Anomali Regional Sisa

Anomali Bouguer dapat dianggap sebagai superposisi anomali-anomali

yang ditimbulkan oleh struktur geologi dangkal, menengah dan dalam maupun

struktur yang berdekatan dan saling berinteraksi sehingga menimbulkan anomali

yang tumpangtindih (overlap).

Untuk mendapatkan anomali yang berasosiasi dengan kondisi geologi atau

untuk meningkatkan resolusi sebelum diinterpretasi maka dilakukan pemisahan

anomali-anomali tersebut dan metode yang digunakan adalah metode perata


36

bergerak. Penurunan anomali sisa dengan metode ini adalah proses secara tidak

langsung, dimana keluaran dari perata bergerak adalah anomali regionalnya

sehingga anomali sisa didapat dengan mengurangkan regional terhadap hasil

pengukuran.

∆greg(i) = [∆g(i – 1) +...+∆g(i) + ....+∆g(i + n)]/N (3.16)


(Setyanta et al.,2008:383)
Dengan: ∆g = Anomali Bouguer di titik i

n = lebar jendela = (N–1)/2

i = Nomor stasiun

ukuran jendela N harus ganjil. Dari persamaan diatas memperlihatkan bahwa n

stasiun awal dan akhir tidak dapat dihitung anomali regionalnya kecuali jika data

diperbesar dengan ekstrapolasi.

Pemisahan anomali regional sisa dengan metode perata bergerak dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

• Dengan menggunakan program Surfer 8 dibuat grid dari data anomali

Bouguer sehingga data peta tersebut merupakan nilai gayaberat untuk tiap

titik grid pada peta tersebut secara merata. Data yang akan diperoleh

merupakan data numerik peta anomali Bouguer.


37

Gambar 3.3
Data grid anomali Bouguer

• Dari data yang telah diperoleh, nilai gayaberat disusun sesuai dengan

koordinatnya pada peta anomali Bouguer. Sehingga secara tidak langsung,

data-data yang berupa angka tersebut menunjukkan bentukan peta anomali

Bouguer.

• Menentukan besaran jendela yang akan digunakan untuk data regional dan

sisa. Besaran jendela harus berupa matriks bujursangkar dengan komponen

baris dan kolom ganjil. Misalnya 3x3, 5x5, 9x9, dan seterusnya. Semakin

besar ukuran jendela yang digunakan maka anomali yang muncul akan

semakin terfokus.

• Matriks hasil rata-rata ini merupakan data regional.

• Data regional yang telah diperoleh diubah kembali menjadi data yang

berupa kolom-kolom, bukan matriks. Dalam mengubah bentuk data ini perlu

diperhatikan bahwa nilai yang telah dijadikan rata-rata memiliki titik


38

koordinat masing-masing. Maka penempatan koordinat terhadap data rata-

rata harus tepat sehingga akan terbentuk data koordinat dan nilai gayaberat

yang baru.

• Data tersebut diplot dengan menggunakan program Surfer 8 sehingga

menjadi peta anomali regional.

• Data regional yang diperoleh selanjutnya dikurangkan dengan hasil anomali

Bouguer dan menghasilkan data anomali sisa.

• Hasil pengurangan anomali bouguer diplot dengan program Surfer 8 dan

menjadi peta anomali sisa.

3.5 Pemodelan

Pemodelan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mendapatkan

model bawah permukaan yang akan menggambarkan distribusi rapat massa dan

geometris bendanya pada kedalaman bervariasi di daerah penelitian, dan biasanya

disebut interpretasi kuantitatif.

Pemodelan terdiri dari pemodelan ke depan (forward modelling) dan

pemodelan kebelakang (inverse modelling). Pemodelan kedepan dilakukan

dengan cara mencoba-coba parameter model benda anomali dengan bentuk

sembarang dua dimensi sampai diperoleh anomali gayaberat perhitungan yang

paling sesuai atau mendekati anomali pengamatan. Sedangkan pada pemodelan

kebelakang parameter benda anomali diperoleh secara langsung dari anomali

gayaberat pengamatan atau data.


39

Setelah dibuat peta anomali Bouguer, anomali regional, dan anomali sisa

dengan bantuan program Surfer 8, ditentukan garis lintasan yang akan dipakai

dalam pemodelan dan garis lintasan tersebut digambar dalam peta untuk

selanjutnya dilakukan pemodelan. Untuk memudahkan pemodelan, digunakan

program GMSys yang berdasarkan pada metode poligon Talwani dua dimensi

secara interactive forward modelling yaitu cara pemodelan dengan melakukan

pendugaan bentuk geometris bawah permukaan yang dikorelasikan dengan

struktur geologi daerah penelitian yang dapat dilihat pada peta geologi. Pada

program GMSys diperlukan input data berupa jarak antar titik pengamatan,

ketinggian daerah penelitian, dan nilai anomali Bouguer. Tampilan hasil dari

program GMSys ini berupa profil anomali dan model geometris benda.

Langkah-langkah dalam pengolahan data dapat digambarkan dalam diagram

alur sebagai berikut :


40

Gaya Berat Waktu Posisi Ketinggian

Koreksi Pasang Surut

Koreksi Apungan

Koreksi Medan

Koreksi Udara Bebas


Rapat
Massa Koreksi Bouguer
Regional
Koreksi Lintang

Bouguer Anomali

Dengan bantuan Plot Dan Kontur


Didapatkan dengan program Surfer 8
menggunakan metode
moving Average Anomali Sisa
Dengan bantuan program
GMSys dan didukung Pemodelan
dengan data geologi

Informasi geologi setempat Analisis

Kesimpulan

Gambar 3.4
Diagram Alur Pengolahan Data