Anda di halaman 1dari 32

A.

Latar Belakang
Prinsip transparansi mengharuskan informasi tersedia dan dapat langsung diakses
oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Prinsip pengungkapan
dan transparansi menyatakan bahwa perusahaan harus mengungkapkan semua informasi
material mengenai perusahaan secara akurat dan tepat waktu. Beberapa informasi
material tersebut antara lain kondisi keuangan, struktur kepemilikan, transaksi pihak
berelasi, dan tata kelola perusahaan. Laporan keuangan perusahaan harus di audit oleh
auditor eksternal yang independen dan kompeten, serta media komunikasi harus
memberikan akses informasi yang relevan yang sama, tepat waktu, dan efisien dari sisi
biaya untuk semua pemangku kepentingan.
Aturan pengungkapan yang transparan akan mengurangi ketidakseimbangan
informasi sehingga kemungkinan terjadinya tindakan yang dapat merugikan perusahaan
dapat diperkecil. Adanya praktik pengungkapan yang baik disuatu pasar modal dapat
meningkatkan minat investor untuk berinvestasi dan juga melindungi investor. Informasi
yang disampaikan perusahaan kepada investor perlu disediakan secara reguler, dapat
diandalkan, dan dapat dibandingkan dengan cukup rinci agar investor dapat menilai
akuntabilitas manajemen, dan mengambil keputusan
Terdapat dua jenis pengungkapan, yaitu pengungkapan wajib dan pengungkapan
sukarela. Regulator mrnrtapkan pengungkapan wajib apa saja yang harus dilakukan
perusahaan. Peraturan Bapepam- LK mengharuskan perusahaan publik untuk
menyampaikan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan (X.K.2), serta
menyampaikan laporan tahunan (X.K.6). Bursa efek indonesia juga mengatur kewajiban
perusahaan tercatat untuk menyampaikan laporan keuangan interim (Peraturan No I-E).
Perusahaan secara sukarela juga dapat melakukan pengungkapan sukarela, melebihi
pengungkapan wajib yang diharuskan regulator. Yang perlu diungkapkan adalah yang
material yaitu informasi yang jika tidak diungkapkan atau disajikan secara tidak wajar
akan mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomis oleh pengguna informasi.
B. Kebijakan Pengungkapan
Menurut OECD (2004) pengungkapan harus termasuk, namun tidak terbatas
pada, informasi material terkait :
1. Kinerja keuangan dan operasi perusahaan
2. Tujuan perusahaan
3. Kepemilikan dan hak suara utama
4. Kebijakan remunerasi untuk anggota dewan komisaris dan direksi dan informasi
mengenai anggota dewan termasuk kualifikasinya, proses seleksi, jabatan direktur
dan komisaris perusahaan yang lain dan apakah mereka independen
5. Transaksi pihak berelasi
6. Faktor- faktor resiko yang diketahui
7. Isu terkait karyawan dan pemangku kepentingan lain
8. Struktur dan kebijakan tata kelola, terutama kode atau kebijakan tata kelola yang ada
dan proses implementasinya.
Berdasarkan undang-undang PT No.40 tahun 2007 dan UU pasar modal,
perusahaan terdaftar harus membuat dan menyerahkan laporan keuangan yang disusun
berdasarkan standar akuntansi keuangan. Laporan keuangan tersebut terdiri dari laporan
posisi keuangan (neraca), Laporan laba rugi komperhensif, laporan perubahan ekuitas,
laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Didalam laporan keuangan juga
terdapat pengungkapan mengenai struktur kepemilikan perusahaan laporan keuangan
auditan dapat diperoleh dari perusahaan dan diwebsite bursa efek indonesia.
Penerapan standar pelaporan yang berkualitas dapat secara signifikan
meningkatkan kemampuan investor untuk melakukan pengawasan atas perusahaan
dengan membverikan pelaporan yang semakin meningkatkan keandalannya dan daya
bandingnya dan juga memberikan informasi yang lebih baik mengenai kinerja
perusahaan. Prinsip pengungkapan dan transparansi mendukung adanya pengembangan
standar internasional yang berkualitas tinggi yang dapat berperan dalam transparansi dan
daya banding alporan keuangan antar perusahaan dan juga antar negara. Standar tersebut
harus dikembangkan dengan melibatkan sektor privat dan pihak lain yang
berkepentingan seperti asosiasi profesi dan ahli yang independen. Standar domestik yang
berkualitas tinggi dapat dicapai dengan membuat standar domestik tersebut konsisten
dengan standar akuntansi internasional tersebut.
Indonesia telah melakukan konvergensi terhadap IFRS, yang resmi dicanangkan
pada tahun 2008, dengan target pencapaian tahun 2012. Saat ini mayoritas PSAK sudah
merupakan hasil konvergensi dengan IFRS, walaupun semuanya belum IFRS versi
terakhir.
Peraturan Bapepam-LK No X.K.6 mengenai kewajiban penyampaian laporan
tahunan mengharuskan perusahaan terdaftar untuk menyampaikan laporan tahunan
kepada OJK paling lama 4 bulan setelah tahun buku berakhir. Laporan tahunan wajib
dimuat dalam website emiten atau perusahaan publik bersamaan dengan disampaikan
laporan tahunan tersebut kepada OJK. Laporan wajib memuat : a) ikhtisar data laporan
keuangan penting, b) laporan dewan komisaris, c) laporan direksi, d) profil perusahaan,
e) analisis dan pembahasan manajemen, f) tata kelola perusahaan, g) tanggung jawab
sosial perusahaan, h) laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, dan i) surat
pernyataan tanggung jawab dewan komisaris dan direksi atas kebenaran isi laporan
tahunan. Didalam aturan tersebut juga diatur kewajiban pengungkapan mengenai sistem
manajemen resiko dan pengendalian internal. Namun belum ada aturan yang
mengharuskan perusahaan mengungkapkan kepatuhannya terhadap pedoman GCG yang
dikerluarkan KNKG. Didalam laporan tersebut juga diharuskan dilakukan pengungkapan
mengenai anggota dewan, diantaranya terkait kualifikasi, kehadiran dalam rapat,
independensi, remunerasi. Hal lain juga wajib diungkapkan adalah kepemilikan,
termasuk informasi mengenai pemegang saham utama dan pengendali, baik langsung
maupun tidak langsung, sampai kepada pemilik individu, yang disajikan dalam bentuk
skema atau diagram. Aturan terkait kepemilikan ultimat tersebut baru diatur dalam
peraturan X.K.6 yang direvisi pada tahun 2012. Transaksi pihak berelasi juga harus
diungkapkan. Hal ini juga di atur dalam PSAK no. 7 pengungkapan pihak berelasi, yang
juga mengatur mengenai kewajiban untuk mengungkapkan remunerasi dewan.
Kewajiban mengungkapkan remunerasi dewan tersebut juga diatur dalam peraturan
X.K.6. peraturan Bapepam-LK (X.K.1) juga mengharuskan perusahaan untuk
mengungkapkan kepada publik informasi yang secara material dapat mempengaruhi
harga saham dalam waktu 2 hari.
C. Prinsip Comply or Explain terhadap CG code
Idealnya, perusahaan publik harus mengungkapkan dalam laporan tahunan
pernyataan mengenai bagaimana perusahaan menerapkan CG code sehingga
memungkinkan pemegang saham untuk mengevaluasi bagaimana prinsip-prinsip tersebut
telah diterapkan, pernyataan apakah perusahaan publik telah mematuhi atau tidak
mematuhi semua prinsip dalam CG code tersebut selama satu periode tahun buku.
Perusahaan harus mengungkapkan alasan mengapa perusahaan tidak mematuhi CG code
tersebut. Salah satu negara yang sudah mewajibkan hal tersebut adalah inggris. Di
Indonesia sampai saat ini belum ada kewajiban melaksanakan prinsip “comply or
explain” tersebut, namun OJK merencanakan untuk menerapkan ketentuan tersebut.
D. Saluran Komunikasi
Saluran yang digunakan perusahaan untuk mendiseminasi informasi harus
memberikan akses yang adil, tepat waktu, dan efisien bagi pengguna informasi. Salurtan
untuk komunikasi dapat bernilai sama pentingnya dengan isi informasi itu sendiri.
Internet dan teknologi informasi lain dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
desimenasi informasi karena informasi diinternet dapat diakses dengan mudah dan tepat
waktu kepada siapapun yang mempunyai akses ke internet. Peraturan Bapepam-LK
X.K.6 mengharuskan perusahaan publik untuk menyediakan soft copy laporan keuangan
mereka di website perusahaan. Pengumuman yang disampaikan perusahaan ke bursa
efek indonesia akan ditampilkan dalam website, termasuk laporan keuangan dan laporan
tahunan perusahaan publik.
E. Pengungkapan dan Transparansi oleh Pihak Perantara (intermediaries)
Kerangka tata kelola perusahaan harus dilengkapi dengan pendekatan efektif
yang menyediakan dan mendorong analisis, broker, agen pemeringkat, dan pihak lain
untuk melakukan analisis atau memberikan nasihat yang relevan untuk investor, yang
bebas dari konflik kepentingan yang dapat mempengaruhi integritas analisi atau nasihat
pihak- pihak tersebut.
Selain diperlukan auditor ekternal yang kompeten dan independen, dan juga
untuk memfasilitasi diseminasi informasi yang tepat waktu, diperlukan langkah-langkah
untuk memastikan integritas dari profesi dan aktivitas pihak-pihak yang melakukan
analisis dan memberikan saran ke pasar. Pihak-pihak perantara tersebut memerankan
peranan penting dalam mendorong dewan untuk mengikuti praktik tata kelola perusahaan
yang baik.
Masalah akan timbul jika pihak-pihak perantara tersebut memiliki konflik
kepentingan yang dapat mempengaruhi kepentingan mereka.konflik tersebut dapat
terjadi jika pihak yang memberikan masukan ke perusahaan juga ingin memberikan jasa
lain ke perusahaan, atau jika mereka memiliki kepentingan material diperusahaan atau di
perusahaaan pesaing.
Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah keharusan pengungkapan
penuh atas konflik kepentingan dan bagaimana entitas perantara mengelola konflik
tersebut. Salah satu aspek pengungkapan yang penting adalah bagaimana entitas
merancang insentif untuk karyawannya untuk mengeliminasi potensi konflik
kepentingan, sehingga investor dapat menilai rasio yang ada dan kemungkina bias yang
timbul.
Perusahaan harus melaporkan praktek tata kelola perusahaannya, bahkan di
sejumlah negara pengungkapan tersebut telah diwajibkan sebagai bagian dari pelaporan
berkala. Di beberapa negara, perusahaan diwajibkan untuk mengimplementasikan
praktek tata kelola perusahaan, atau memerlukan pengesahan oleh otoritas pasar modal
terhadap kewajiban pelaporan dengan dasar kriteria “memenuhi atau perlu
penjelasan”. Informasi yang harus diungkapkan oleh Perseroan meliputi pengungkapan
yang tidak terbatas pada visi, misi, sasaran usaha , strategi, kondisi keuangan, susunan
dan kompensasi Direksi dan Dewan Komisaris, Pemegang Saham mayoritas,
kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan Dewan Komisaris beserta keluarganya
dalam Perseroan dan Perusahaan lainnya, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan
dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhan dalam
penerapannya, dan kejadian-kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi
Perseroan secara proporsional.
Prinsip OECD kelima (V), terdapat enam sub-bagian dari pembahasan mengenai
pengungkapan dan transparansi ini. Berikut adalah uraian dan penjelasannya.
1. Pengungkapan harus mencakup informasi material tentang: 1) Keuangan dan hasil
operasi perusahaan; 2) Tujuan perusahaan; 3) Kepemilikan saham mayoritas dan hak
suara; 4) Kebijakan remunerasi untuk dewan komisaris dan direksi, dan informasi
tentang anggota dewan, termasuk kualifikasi mereka, proses seleksi, perangkapan
jabatan dan independensinya; 5) Transaksi dengan pihak terkait (afiliasi); 6) Faktor-
faktor risiko yang akan diperkirakan; 7) Hal-hal penting berkiatan dengan karyawan
dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya; dan 8) Struktur dan kebijakan
tata kelola khususnya bekaitan dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola
perusahaan dan penerapannya.
2. Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas akuntansi
yang berkualitas tinggi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan.
3. Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan berkualitas
dalam rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada pengurus dan
pemegang saham bahwa laporan keuangan cukup mewakili posisi keuangan dan
kinerja perusahaan dalam semua hal yang material.
4. Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan
berkewajiban kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam
melakukan audit.
5. Media penyebaran informasi harus memberikan akses informasi yang relevan bagi
pengguna secara sama (equal), tepat waktu, dan biaya yang efisien.
6. Kerangka tata kelola perusahaan harus mengarah dan mendorong terciptanya
ketentuan mengenai analisa atau saran dari analis, pedagang perantara efek,
pemeringkat dan pihak lainnya yang relevan dengan keputusan investor, tidak
mengandung benturan kepentingan yang material yang mungkin mempengaruhi
integritas analisa atau saran yang diberikan.
Untuk meningkatkan implementasi tata kelola yang baik di Emiten dan
Perusahaan Publik, pendekatan “comply or explain” dapat digunakan. Pelaksanaan
Pedoman Umum Good Corporate Governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia
baik perusahaan terbuka (Emiten/Perusahaan Publik) maupun perusahaan tertutup pada
dasarnya bersifat comply and explain. Di mana perusahaan diharapkan menerapkan
seluruh aspek Pedoman Good Corporate Governance ini. Apabila belum seluruh aspek
pedoman ini dilaksanakan maka perusahaan harus mengungkapkan aspek yang belum
dilaksanakan tersebut beserta alasannya dalam laporan tahunan. Namun demikian
mengingat Pedoman ini hanya merupakan acuan sedangkan pelaksanaannya diatur lebih
lanjut oleh otoritas masing-masing industri maka penerapan ini bersifat voluntary dan
tidak terdapat sanksi hukum apabila perusahaan tidak menerapkan pedoman ini.
Penerapan pendekatan ini akan meningkatkan fleksibilitas implementasi ketentuan
dibandingkan bila ketentuan tersebut diwajibkan melalui peraturan.
Pengungkapan melalui media penyebaran informasi merupakan hal penting dalam
informasi itu sendiri. Internet dan teknologi informasi lainnya juga memberi peluang
untuk penyebaran informasi yang lebih baik tentang tata kelola perusahaan. Dengan
mempertimbangkan pengungkapan secara berkelanjutan atau pengungkapan kini, praktek
yang baik adalah melakukan pengungkapan yang “segera” atas kejadian yang material.
Kerangka corporate governance harus memastikan bahwa keterbukaan informasi
perusahaan secara akurat dan tepat waktu harus dilakukan. Keterbukaan tersebut harus
mencakup, tetapi tidak terbatas pada informasi yang material mengenai kinerja keuangan
perusahaan, transaksi benturan kepentingan, pengelolaan risiko, struktur pengelolaan dan
kebijakan perusahaan, khususnya tentang prinsip corporate governance. Semua
informasi yang disajikan harus disiapkan dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi
yang berkualitas tinggi. Laporan keuangan harus diaudit oleh auditor yang independen,
kompeten dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Dalam pelaksanaan tugasnya akuntan
publik harus beranggungjawab kepada pemegang saham. Kerangka corporate
governance juga harus memiliki mekanisme yang mendorong penggunaan
analis, brokers, dan pemerintah yang tidak memiliki benturan kepentingan dengan
perusahaan. Hal tersebut untuk memastikan terjaganya integritas profesi-profesi tersebut.
F. Peran Pengendalian Internal dan Manajemen Risisko dalam Mengurangi Konflik
Keagenan dan Penegakan GCG
Sistem tata kelola perusahaan yang efektif memungkinkan perusahaan mencapai
tingkat kepatuhan dan kinerja yang sesuai ekspektasi pemegang saham dan pemangku
kepentingan. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian internal yang efektif dan
manajemen resiko dalam proses bisnis normal dan juga proses tata kelola perusahaan,
dan kedua hal tersebut membentuk kerangka akuntabilitas dan pelaporan reguler ke
pemegang saham (HK CPA,2005)
Pengendalian internal sangat penting untuk memastikan keberhasilan operasi
perusahaan dan berjalannya operasi sehari-hari perusahaan, serta membantu perusahaan
mencapai tujuan usahanya. Cakupan pengendalian intern sangat luas, yaitu termasuk
semua pengendalian yang terkait proses strategis, tata kelola, dan manajemen, yang
mencakup semua aktivitas dan operasi perusahaan. Tidak hanya terbatas pada aspek
keuangan dan pelaporan semata. Cakupannya juga bukan hanya semata aspek kepatuhan,
tetapi juga aspek kinerja perusahaan.
Pengendalian internal (COSO, 2013) adalah proses, yang dipengaruhi oleh
dewan, manajemen, dan personel lain diperusahaan, yang dirancang untuk memberikan
keyakinan memadai terkait pencapain tujuan berikut :
1. Efektivitas dan efisiensi operasi
2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Kepatuhan terhadap hukum dan regulasi yang berlaku
Kerangaka pengendalian internal COSO (2013) menyebutkan tiga kategori tujuan
yang terkait dengan aspek pengendalian internal yang berbeda-beda, yaitu tujuan operasi,
tujuan pelaporan, dan tujuan kepatuhan.
Pengendalian Internal terdiri dari 5 komponene yang terintegrasi yaitu (COSO,
2013):
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan Pengendalian adalah kumpulan standar, proses dan struktur yang
memberikan dasar untuk menjalankan pengendalian internal dalam perusahaan.
Direksi dan Dewa Komisaris adalah pihak yang bertanggung jawab untuk
memberikan contoh (sering disebut istilah tone at the spot) pentingnya pengendalian
internal bagi seluruh karyawan di perusahaan. Lingkungan pengendalian terdiri atas
nilai integritas dan etika organisasi, parameter yang memungkinkan Dewan
Komisaris untuk menjalankan fungsi pengawasannya, dan mempertahankan orang –
orang yang kompeten, serta ukuran, insentif dan imbalan kenerja yang sesuai untuk
mendorong akuntabilitas atas kinerja.
2. Penilaian Risisko
Penilaian resiko adalah proses dinamis dan interatif untuk mengidentifikasi dan
menilai risiko dari pencapaian tujuan perusahaan. Penilaian risiko merupakan dasar
untuk menentukan bagaimana mengelola risiko. Sebelum melakukan penilaian risiko,
perusahaan perlu menetapkan tujuan perusahaan, yang kemudian dikaitkan dengan
berbagai tingkat yang ada di perusahaan terkait dengan operasi, pelapor dan
kepatuhan. Manajemen menetapkan tujuan tersebut dengan cukup jelas yang
memungkinkan mereka unutk mengidentifikasi dan menganalisis risiko dari tujuan
tersebut. Penilaian risiko juga mengharuskan manajemen untuk mengidentifikasi dan
menganalisis risiko dari tujuan tersebut. Penilaian risiko juga mengharuskan
manajemen mempertimbangkan pengaruh dari kemungkinan perusahaan yang etrjadi
dalam lingkungan ekternal dan perubahan dalam model bisnis perusahaan yang dapat
menyebabkan pengendalian internal menjadi tidak efektif.

3. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian dalam tindakan yang dilakukan berdasarkan kebijakan dan
prosedur untuk memastikan arahan manajemen untuk memitigasi risiko untuk
mencapai tujuan telah dijalankan. Aktivitas tersebut dilakukan di tiap tingkat dalam
perusahaan, dalam setiap proses bisnis. Beberapa aktivitas tersebut antara lain
otoritas dan persetujuan, varifikasi, rekosiliasi, dan penitian kinerja bisnis. Dalam
aktivitas pengendalian diperlukan adanya pemisahaan tugas, yang apabila tidak
dimungkinkan maka perlu diganti dengan aktivitas pengendalian yang lain.
4. Komunikasi
Informasi sangat penting bagi perusahaan untuk menjalankan pengendalian internal.
Manajemen mendapatkan atau menghasilkan dan menggunakan informasi yang
relevan dari berbagai sumber (internal & ekternal) untuk mendukung berfungsinya
komponen pengendalian internal. Komunikasi adalah proses berkelanjutan dan
interatif untuk menyediakan, membagi, dan mendapatkan informasi yang diperlukan.
Komunikasi internal adalah cara mendiseminasikan informasi di dalam perusahaan.
Komunikassi ekternal memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan informasi
yang relevan dari luar dan memberikan informasi yang dperlukan pihal ekternal
5. Aktivitas Monitoring
Monitoring adalah evaluasi untuk menilai apakah tiap elemen dari pengendalian
internal sudah ditetapkan berfungsi sebagaimana seharusnya. Evaluasi terus menerus
diterapkan dalam proses bisnis yang berbagai tingkat di perushaan akan memberikan
informasi yang tepat waktu. Evaluasi terpisah yang dilakukan secara periodik dapat
dilakukan secara periodic dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Temuan dari monitoring
akan dievaluasi terhadap kriteria yang ditetapkan regulator, badan yang menetapkan
standar yang diakui, atau Direksi dan Dewan Komisaris. Setiap defisiensi
dikomuniskasikan ke Direksi dan dewan Komisaris.
G. Peran Akuntansi Profesional
Berikut adalah beberapa peran akuntansi professional terkait prinsip pengungkapan dan
transparansi :
1. Akuntan manajemen mempunyai peranan dalam menyiapkan laporan keuangan
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, serta memastikan perusahaan
menyampaikan informasi yang transparan, akurat, dan tepat waktu ke pemegang
saham dan pemangku kepentingan.
2. Akuntan manajemen membantu Direksi dan satuan tugas terkait dalam merancang
dan mengimplementasikan system informasi dan system pengendalian internal yang
mendorong keterbukaan terhadap pemegang saham. Akuntan public pada saat
melakukan audit juga melakukan pengujian atas pengendalian internal dan
memberikan rekomendasi perbaikan yang diperlukan.
3. Auditor internal secara berkala melakukan pengujian atas pengendalian internal serta
melaporkan hasilnya kepada Direksi dan Dewan Komisaris (juga Komite Audit).
Auditor internal membantu Direksi dalam memperkuat dan meningkatkan
pengendalian internal. Auditor internal memberikan saran/masukan unutk
memeperbaiki proses mengidentifikasikan risiko dan manajemen risiko.
4. Akuntan professional sebagai anggota Komite Audit, membantu Dewan Komisaris
dalam melakukan fungsi pengawasan atas system pelaporan keuanang, system
penegndalian internal dan manjamen risiko perusahaan serta ketaatan terhadap
aturan yang berlaku, termasuk aturan terkait pengungkapan dan tranparansi.
H. Pelaksanaan Prinsip Pengungkapan dan Transparansi di Indonesia menurut Hasil
Penilaian Bank Dunia dan IICD-ASEAN CG Scorecard
Hasil Penilaian oleh Bank Dunia
Pada saat world Bank (2010) melakukan studi belum ada aturan mengenai kewajiban
pengungkapan pemegang saham ultimat, sehingga salah astu kelemahan yang disebutkan
oleh Bank Dunia adalah belum adanya kewajiban tersebut. Namun pada tahun 2012,
Bapepam-LK telah merevisi peraturan X.K.6 yang mewajibkan perusahaan untuk
mengungkapkan mengenai pemegang saham ultimat tersebut.
Hasil studi World Bank (2010) memberikan beberapa rekomendasi terkait pengungkapan
dan transparansi, yaitu:
1. Regulasi yang lebih baik terkait pengungkapan kepemilikan dan pengungkapan non
keuangan lainnya.
2. Mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan ketaatan terhadap kode GCG
3. Meningkatkan kapabilitas Bapepam-LK untuk mengawasi pengungkapan
perusahaan.
Pengungkapan aspek non keuangan perlu diatur secara lebih efektif dan dipatuhi oleh
perusahaan public. Pengungkapan tersebut antara lain mencakup remunasi anggota
dewan (termasuk remunasi tiap individu anggota dewan, kebijakan remunerasi, dan
kaitannya dengan kinerja jangka panjang perusahaan serta kebijakan manajemen risiko
dan konfilk kepentingan).
Hasil Penelitian oleh IICD – ASEAN CG Scorecard
Rata – rata skor untuk kategori ini relative yang paling tinggi dibandingkan skor di
kategori lain karena beberapa praktik pengungkapan telah diwajibkan oleh Bapepam-LK
atau BEI. Rata- rata skor ini adalah 53,7 pada tahun 2012 dan 63,5 pada tahun 2013,
dengan skor maksimum 85,0 dan skor minimum 19,5 untuk tahun 2012 dan 90,0 dan
33,3 untuk tahun 2013. Beberapa pengungkapan yang diwajibkan antara lain, indicator
kinerja keuangan, transaksi pihak berelasi (nama pihak-pihak berelasi, sifat, dan nilai
transaksi pihak berelasi). laporan keuanagn interim, dan laporan keuangan auditan.
Laporan keuangan auditan harus dipublikasi dalam waktu 90 hari sejak tanggal tutup
buku serta harus ada pernyataan Direksi yang menyatakan kewajaran laporan keuangan.
Berikut adalah beberapa area yang masih perlu ditingkatkan dalam katagori ini :
1. Perusahaan public hanya mengungkapkan kepemilikan langsung oleh pemegang
saham besar, anggoya direksi dan komisaris. Perusahaan public belum melakukan
pengungkapan kepemilikan tidak langsung dari pihak – pihak tersebut.
2. Perusahaan public jarang yang melakuakn pengungkapan di laporan tahunan terkait
dengan ketaantan terhadap kode GCG, karena belum ada aturan yang mewajibkan.
3. Perusahaan pubik melakuakn pengungkapan profil anggota Direksi dan Komisaris,
tetapi kebanyakan tidak mengungkapkan jabatan yang dipegang anggota dewan di
peusahaan terdaftar lainnya.
4. Sebagian besar perusahaan public juga tidak mengungkapkan audit fee dan non-
audit fees yang dibayarkan kepada KAP yang mengaudit perusahaan mereka.
I. Menggunakan ASEAN CG Scorecard untuk Menilai Praktik Pengungkapan dan
Transparansi
Berikut adalah hal – hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian praktik
pengungkapan dan transparansi di perusahaan terbuka dengan menggunakan ASEAN
CG Scorecard:
1. Struktur kepemilikan yang transparansi mengungkapkan identitas pemegang saham
dengan kepemilikan 5% atau lebih, mengungkapakan kepemilikan saham secara
langsung maupun tidak langsung dari pemegang saham mayoritas/substansi,
mengungkapkan kepemilikan saham langsung dan tidak langsung oleh ditektur dan
komisaris, mengungkapkan perusahaan induk, perusahaan anak, perusahaan asosiasi,
ventura bersama, entitas bertujuan khusus.
2. Kualitas laporan tahunan yaitu terkait pengungkapan risiko utama, tujuan peruahaan,
indicator kinerja kuangan dan non keuangan, kebijakan dividen, kebijakan whistle-
blowing, informasi mengenai direktur dan komisaris (biografi, pelatihan yang
diikuti, jumlah rapat, jumlah kehadiran dalam rapat remunarasi), pernyatan
mengenai kepatuhan terhadap CG Code (Comply or Explain)
3. Pengungkapan transaksi pihak berelasi kebijakan review dan persetujuan terhadap
transaksi pihak berelasi, informasi pihak berelasi, sifat serta jumlah transaksi.
4. Pengungkapan transaksi perdagangan orang dalam oleh pihak dalm perusahaan.
5. Pengungkapan audit fee dan non audit fee serta apakah besaran non-audit fee lebih
besar daripada audit fee (jika ya nilainya nol)
6. Penggunaan saluran komunikasi pelaporan interim website, analysts briefing, press
conferences.
7. Informasi yang terdapat dalam website apakah mencakup informasi yang lengkap
dan terkini. Informasi tersebut adalah laporan tahunan dan laporan keuangan,
anggaran dasar, panggilan RUPS, operasi bisnis perusahaan, struktur pemegang
saham, struktur grup bisnis perusahaan, maeri yang disampaikan ke analis dan
media.
8. Penerbitan laporan keuangan dan laporan tahuanan secara tepat waktu serta
pernyataan kewajaran laporan keuangan tahuanan oleh Direksi.
9. Pengungkapan nomor kontak unit/pihak yang bertanggung jawab atas hubungan
investor
Dalam ASEAN CG Scorecard juga diberikan penilaian tambahan (bonus) dan
pengurangan (penalti) untuk beberapa hal, yaitu :
1. Bonus jika perusahaan mengumumkan laporan keuangan dalam waktu kurang dari
60 hari dan jika perusahaan pengungkapkan rincian remunerasi Presiden Direktur.
2. Penalti jika perusahaan menerima opini audit selain opini wajar tanpa pengecualian,
serta jika perusahaan merevisi laporan keuangan selain karena alasan perubahan
kebijakan akuntansi.
KASUS

Prinsip 5 dan 6 OECD : Satyam

Skandal Akuntansi Perusahaan di Satyam Computer Services Limited: Studi Kasus


Enron India

Ironisnya, Satyam berarti "kebenaran" dalam bahasa India kuno "Sanskerta". Satyam
memenangkan "Golden Pea-cock Award" untuk perusahaan yang diperintah terbaik di tahun
2007 dan di tahun 2009. Dari menjadi "permata mahkota" India dan perusahaan "terbesar
keempat" di negara itu dengan pelanggan berprofil tinggi, perusahaan outsourcing Satyam
Computers telah menjadi Terlibat dalam penipuan korporat terbesar di negara ini dalam
memori hidup [25]. Bapak Ramalinga Raju (Ketua dan Pendiri Satyam; selanjutnya disebut
"Raju"), yang telah ditangkap dan telah mengaku melakukan penipuan senilai $ 1,47 miliar
(atau Rs 7800 crore), mengakui bahwa dia telah menghasilkan keuntungan selama bertahun-
tahun. Menurut laporan, Raju dan saudaranya, B. Rama Raju, yang merupakan Managing
Director, "menyembunyikan penipuan dari dewan perusahaan, manajer senior, dan auditor".
Kasus kecurangan Satyam telah dijuluki sebagai "Enron India". Untuk mengevaluasi dan
memahami tingkat keparahan kecurangan Satyam, penting untuk memahami faktor-faktor
yang berkontribusi pada keputusan "tidak etis" yang dibuat oleh eksekutif perusahaan.
Pertama, perlu untuk merinci kenaikan Satyam sebagai
Pesaing dalam pasar layanan TI global. Kedua, sangat membantu untuk mengevaluasi
kekuatan pendorong di balik keputusan Satyam: Ramalinga Raju. Akhirnya, mencoba
mempelajari beberapa "pelajaran" dari kecurangan Satyam untuk masa depan.

Munculnya Satyam Computer Services Limited


Satyam Computer Services Limited adalah "rising star" di industri jasa TI
"outsourcing" India. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 1987 di Hyderabad (India) oleh Pak
Ramalinga Raju. Perusahaan ini berawal dengan 20 karyawan dan berkembang pesat sebagai
bisnis "global". Ini menawarkan layanan outsourcing proses bisnis dan TI yang mencakup
berbagai sektor. Satyam adalah contoh "kesuksesan India". Satyam memenangkan berbagai
penghargaan untuk inovasi, tata kelola, dan akuntabilitas perusahaan. "Pada tahun 2007,
Ernst & Young memberi penghargaan kepada Tuan Raju dengan penghargaan 'Entrepreneur
of the Year'. Pada tanggal 14 April 2008, Satyam memenangkan penghargaan dari MZ
Consult karena menjadi 'pemimpin di India dalam CG dan akuntabilitas'. Pada bulan
September 2008, Dewan Tata Kelola Dunia memberi penghargaan kepada Satyam dengan
'Global Peacock Award' untuk keunggulan global dalam akuntabilitas korporat. ". Sayangnya,
kurang dari lima bulan setelah memenangkan Global Peacock Award, Satyam menjadi pusat
dari kecurangan akuntansi "masif".
Pada tahun 2003, bisnis layanan TI Satyam mencakup 13.120 rekan teknis yang
melayani lebih dari 300 pelanggan di seluruh dunia. Pada saat itu, pasar layanan TI di seluruh
dunia diperkirakan mencapai hampir $ 400 miliar, dengan tingkat pertumbuhan gabungan
tahunan sebesar 6,4%. "Penggerak utama pasar pada saat itu adalah pentingnya layanan TI
bagi bisnis di seluruh dunia; Dampak Internet pada eBusiness; Kemunculan industri jasa TI
berkualitas tinggi di India dan metodologinya; Dan, meningkatnya kebutuhan penyedia
layanan TI yang bisa menyediakan berbagai layanan ". Untuk bersaing secara efektif, baik
melawan pesaing domestik dan global, perusahaan memulai berbagai strategi pertumbuhan
bisnis multi cabang.

Dari tahun 2003-2008, di hampir semua metrik keuangan yang paling mendekati
investor, perusahaan tumbuh terukur. Sat-yam menghasilkan total penjualan sebesar USD $
467 juta. Pada bulan Maret 2008, perusahaan tersebut telah berkembang menjadi USD $ 2,1
bil-singa. Perusahaan menunjukkan "tingkat pertumbuhan gabungan tahunan sebesar 35%
selama periode tersebut". Laba operasi rata-rata 21%. Laba per saham juga tumbuh, dari $
0,12 sampai $ 0,62, pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 40%. Selama
periode yang sama (2003-2009), perusahaan tersebut melakukan perdagangan dengan
kelipatan EBITDA rata-rata 15,36. Akhirnya, mulai bulan Januari 2003, dengan harga saham
138,08 INR, saham Satyam akan mencapai kenaikan 526,25 INR-an 300% dalam harga
saham setelah hampir lima tahun. Satyam jelas menghasilkan perusahaan yang signifikan

Mr Ramalinga Raju dan Skandal Satyam


Pada tanggal 7 Januari 2009, Bapak Raju mengungkapkan dalam sebuah surat kepada
Satyam Computers Limited Board of Di-rectors bahwa "dia telah memanipulasi nomor
akuntansi perusahaan selama bertahun-tahun". Raju mengklaim bahwa dia membebani aset di
neraca Satyam sebesar $ 1,47 miliar. Hampir $ 1,04 miliar pinjaman bank dan uang tunai
yang diklaim perusahaan itu sendiri tidak ada. Satyam juga melaporkan kewajibannya di
neraca. Satyam membebani pendapatan hampir setiap kuartal selama beberapa tahun untuk
memenuhi harapan analis. Misalnya, hasil yang diumumkan pada 17 Oktober 2009 melebih-
lebihkan pendapatan kuartalan sebesar 75 persen dan keuntungannya sebesar 97 persen. Raju
dan kepala audit internal perusahaan menggunakan beberapa teknik yang berbeda untuk
melakukan kecurangan. "Dengan menggunakan komputer pribadinya, Mr. Raju menciptakan
banyak laporan bank untuk memajukan kecurangan tersebut. Pak Raju memalsukan rekening
bank untuk mengembang neraca dengan saldo yang tidak ada. Dia menaikkan laporan laba
rugi dengan mengklaim pendapatan bunga dari rekening bank palsu. Mr Raju juga
mengungkapkan bahwa ia menciptakan 6000 rekening gaji palsu selama beberapa tahun
terakhir dan menggunakan uang tersebut setelah perusahaan menyetorkannya. Kepala internal
audit internal perusahaan menciptakan identitas pelanggan palsu dan menghasilkan faktur
palsu terhadap nama mereka untuk meningkatkan pendapatan. Kepala audit internal global
juga menempa resolusi dewan dan pinjaman yang diperoleh secara ilegal untuk perusahaan
tersebut ". Tampaknya juga uang yang dikeluarkan perusahaan melalui American Depository
Receipts di Amerika Serikat tidak pernah sampai ke neraca.
Keserakahan karena uang, kekuatan, persaingan, kesuksesan dan prestise memaksa
Mr. Raju untuk "mengendarai harimau", yang menyebabkan pelanggaran terhadap semua
tugas yang dikenakan pada mereka sebagai jaminan-tugas-tugas, tugas pengabaian, tugas
Loyalitas, tugas pengungkapan kepada para pemangku kepentingan. "Skandal Satyam adalah
kasus klasik kelalaian tugas fidusia, jatuhnya total standar etika, dan kurangnya tanggung
jawab sosial perusahaan. Ini adalah keserakahan dan keinginan manusia yang menyebabkan
kecurangan. Jenis perilaku ini dapat ditelusuri: Keserakahan membayangi tanggung jawab
untuk memenuhi tugas fidusia; Persaingan yang ketat dan kebutuhan untuk memfokuskan
pemangku kepentingan terutama investor, analis, pemegang saham, dan pasar saham; Standar
etis dan moral rendah oleh manajemen puncak; Dan, penekanan lebih besar pada Kinerja
jangka pendek ".Menurut CBI, lembaga investigasi kejahatan In-dian, aktivitas penipuan
dimulai dari bulan April 1999, ketika perusahaan memulai sebuah jalan menuju pertumbuhan
dua digit tahunan. Per Desember 2008, Satyam memiliki kapitalisasi pasar sebesar $ 3,2
miliar dolar.
Satyam berencana mengakuisisi 51% saham Maytas In-frastructure Limited,
perusahaan pengembangan infrastruktur, konstruksi dan manajemen proyek terkemuka,
senilai $ 300 juta. Di sini, Rajus memiliki 37% saham. Total omsetnya adalah $ 350 juta dan
laba bersih sebesar $ 20 juta. Raju juga memiliki 35% saham di Maytas Proper-ties,
perusahaan investasi real estat lainnya. Perputaran Satyam melebihi $ 1 miliar pada tahun
2006. Pada bulan April, 2008 Satyam menjadi perusahaan India pertama yang menerbitkan
keuangan audisi IFRS. Pada tanggal 16 Desember 2008, dewan Satyam, termasuk lima
direksi independen telah menyetujui usulan pendiri untuk membeli saham di Infrastruktur
Maytas dan semua Maytas Properties, yang dimiliki oleh anggota keluarga dari Satyam's
Chairman, Ramalinga Raju, sepenuhnya Anak perusahaan yang dimiliki sebesar $ 1,6 miliar.
Tanpa persetujuan pemegang saham, direksi memimpin keputusan manajemen. Namun,
keputusan akuisisi tersebut berbalik dua belas jam setelah investor menjual saham Sat-yam
dan tindakan terancam terhadap manajemen. Ini diikuti oleh tuntutan hukum yang diajukan di
AS yang memperebutkan kesepakatan Maytas. Bank Dunia melarang Satyam melakukan
bisnis selama 8 tahun karena pembayaran yang tidak tepat kepada staf dan ketidakmampuan
untuk memberikan informasi yang dicari pada faktur. Empat direktur independen keluar dari
dewan Satyam dan SEBI memerintahkan promotor untuk mengungkapkan saham yang
dijanjikan ke bursa efek.
Bank investasi DSP Merrill Lynch, yang ditunjuk oleh Satyam untuk mencari
pasangan atau pembeli untuk perusahaan tersebut, akhirnya meniup peluit dan menghentikan
pertunangannya dengan perusahaan segera setelah menemukan penyimpangan keuangan
[29]. Pada tanggal 7 Januari 2009, Ketua Saytam, Ramalinga Raju, mengundurkan diri
setelah memberi tahu anggota dewan dan Dewan Sekuritas dan Bursa Efek India (SEBI)
bahwa rekening Satyam telah dipalsukan. Raju mengakui bahwa neraca Satyam pada tanggal
30 September 2008, berisi peraturan perundang-undangan berikut: "Dia memalsukan angka
sampai batas Rs. 5040 crore tidak ada uang tunai dan saldo bank terhadap Rs. 5361 crore di
buku-buku, dikenai bunga Rs. 376 crore (tidak ada), kewajiban bersahaja Rs. 1230 crore
karena dana yang dikemukakan oleh Raju, dan posisinya yang melebih-lebihkan

Kewajiban yang kurang baik sebesar US $ 253,38 juta karena dana diatur sendiri; Dan
posisi debitur yang terlalu tinggi sebesar US $ 100,94 juta vs. US $ 546,11 juta di buku-
buku tersebut.
Raju mengklaim dalam surat yang sama bahwa "baik dia maupun managing director
tidak memperoleh keuntungan finansial dari pendapatan yang meningkat, dan tidak ada
anggota dewan yang memiliki pengetahuan tentang situasi di mana perusahaan ditempatkan".
Kecurangan tersebut terjadi untuk mengalihkan dana perusahaan ke investasi real estat,
mempertahankan laba bersih per saham, meningkatkan kompensasi eksekutif, dan
menghasilkan keuntungan besar dengan menjual saham dengan harga yang meningkat.
Kesenjangan di neraca telah muncul semata-mata karena keuntungan yang meningkat selama
periode yang berlangsung beberapa tahun dimulai pada bulan April 1999. "Apa yang dicatat
sebagai kesenjangan marjinal antara laba operasi aktual dan yang tercermin dalam
pembukuan terus berkembang Tahun. Kesenjangan ini mencapai proporsi yang tidak
terkendali karena operasi perusahaan tumbuh secara signifikan ", Ragu menjelaskan dalam
suratnya kepada dewan direksi dan pemegang saham. Dia kemudian menjelaskan, "Setiap
usaha untuk menghilangkan kesenjangan tersebut gagal, dan kesepakatan akuisisi Maytas
yang dibatalkan adalah usaha terakhir untuk mengisi aset fiktif dengan yang asli. Tapi para
investor menganggap usaha yang kurang ajar untuk menyedot uang tunai dari Satyam, di
mana keluarga Raju memegang saham kecil, ke dalam perusahaan yang dipegang keluarga
dengan ketat ". Tabel 1 menggambarkan beberapa bagian dari 'Neraca dan Laporan
Penghasilan' Satyam dan menunjukkan "perbedaan" antara keuangan "sebenarnya" dan
"dilaporkan".
Untungnya, kesepakatan Satyam dengan Matyas "sal-vageable". Itu bisa saja
diselamatkan hanya jika "kesepakatan itu diizinkan untuk dilalui, karena Satyam bisa
menggunakan aset Maytas untuk menopang bukunya sendiri". Raju, yang menunjukkan uang
"buatan" di buku-bukunya, telah merencanakan untuk menggunakan uang "tidak ada" ini
untuk mendapatkan kedua perusahaan Maytas tersebut. Sebagai bagian dari strategi
"tunneling" mereka, para promotor Satyam telah mengurangi kepemilikan mereka secara
signifikan dari 25,6% di bulan Maret 2001 menjadi 8,74% pada bulan Maret 2008.
Selanjutnya, karena para promotor memiliki persentase ekuitas yang sangat kecil (hanya
2,18%) pada Desember 2008, seperti terlihat pada Tabel 2, kekhawatirannya adalah bahwa
kinerja yang buruk akan menghasilkan tawaran pengambilalihan, sehingga membuka celah.
Rasanya seperti "mengendarai seekor harimau, tidak tahu bagaimana cara turun tanpa
dimakan". Kesepakatan akuisisi Maytas yang dibatalkan adalah usaha terakhir yang sangat
menyedihkan untuk menutupi kecurangan akuntansi dengan membawa beberapa aset riil ke
dalam bisnis ini. Saat itu gagal, Raju mengaku melakukan kecurangan. Mengingat saham
yang dimiliki Rajus di Mat-yas, mengejar kesepakatan tersebut tidak akan sangat sulit dari
perspektif keluarga Raju. Tidak seperti Enron, yang tenggelam karena masalah keagenan,
Satyam dibawa ke lutut karena terowongan. Perusahaan dengan tumpukan uang tunai yang
besar, dengan promotor masih mengendalikannya dengan persentase kecil saham (kurang
dari 3%), dan mencoba untuk mendapatkan perusahaan real estat di mana mereka memiliki
saham mayoritas adalah kombinasi yang mematikan. Prima facie ke terowongan . Alasan
mengapa Ramalinga Raju mengklaim bahwa dia melakukannya adalah karena setiap tahun
dia memalsukan angka pendapatan dan karena angka pengeluaran tidak dapat dipalsukan
begitu mudah, kesenjangan antara keuntungan "aktual" dan keuntungan "buku" semakin
melebar setiap tahun. Untuk menutup celah ini, ia harus membeli Maytas Infrastructure and
Maytas Properties. Dengan cara ini, keuntungan "fiktif" bisa diserap melalui proses "self-
dealing". Para auditor, bankir, dan SEBI, pengawas pasar, semuanya dipersalahkan atas peran
mereka dalam penipuan akuntansi.

Table 1. Saldo neraca dan laporan laba rugi Satyam: pada tanggal 30 September 2008.

Items Rs. in crore Actual Reported Difference


Cash and Bank 321 5361 5040
Balances
Accrued Interest on Nil 376.5 376
Bank Fixed Deposits
Understated Liability 1230 None 1230
Overstated Debtors 2161 2651 490
Total Nil Nil 7136
Revenues (Q2 FY 2009) 2112 2700 588
Operating Profits 61 649 588

Table 2. Pola pemilikan pemegang saham Promotor di Satyam dari tahun 2001 sampai
2008.

As on Promoter’s holding in %
March 2001 25.6
2002 22.26
2003 20.74
2004 17.35
2005 15.67
2006 14.02
2007 8.79
2008 8.74
Dec. 2008 2.18

Peran dan Faktor Auditor yang Berkontribusi terhadap Penipuan


Perusahaan audit global, PricewaterhouseCoopers (PwC), mengaudit buku-buku
Satyam dari bulan Juni 2000 sampai diskotekif kecurangan di tahun 2009. Beberapa
komentator mengkritik PwC dengan kasar karena gagal mendeteksi kecurangan tersebut.
Memang, PwC menandatangani laporan keuangan Satyam dan bertanggung jawab atas
angka-angka di bawah hukum India. Satu khusus Item bermasalah menyangkut $ 1,04 miliar
yang menurut Satyam ada di neraca di deposito "tanpa bunga". Menurut profesional
akuntansi, "setiap perusahaan yang masuk akal akan menginvestasikan uangnya ke rekening
berbunga, atau mengembalikan kelebihan uang tersebut kepada para pemegang saham.
Sejumlah besar uang tunai seharusnya merupakan 'bendera merah' bagi auditor agar
diperlukan verifikasi dan pengujian lebih lanjut. Selanjutnya, tampak bahwa auditor tidak
memverifikasi secara independen dengan bank dimana Satyam mengklaim memiliki deposito
".
Selain itu, kecurangan Satyam terus berlanjut selama beberapa tahun dan melibatkan
manipulasi neraca dan laporan laba rugi. Kapanpun Satyam membutuhkan lebih banyak
pendapatan untuk memenuhi perkiraan analis, ia hanya menciptakan sumber "fiktif" dan
memang berkali-kali, tanpa auditor pernah menemukan kecurangan tersebut. Dengan curiga,
Satyam juga membayar PwC dua kali tagihan perusahaan lain untuk audit tersebut, yang
menimbulkan pertanyaan tentang apakah PwC terlibat dalam penipuan tersebut. Selanjutnya,
PwC menemani perusahaan tersebut selama hampir 9 tahun dan tidak menemukan
kecurangan tersebut, sedangkan Merrill Lynch menemukan kecurangan tersebut sebagai
bagian dari due diligence hanya dalam 10 hari. Hilangnya "bendera merah" ini menyiratkan
bahwa auditor tersebut sangat tidak kompeten atau berkolusi dengan perusahaan tersebut
dalam melakukan kecurangan tersebut. PWC awalnya menegaskan bahwa semua audit
perusahaan dilakukan sesuai dengan standar auditing yang berlaku.
Sejumlah faktor berkontribusi terhadap kecurangan Satyam. Anggota dewan Satyam
yang independen, komunitas investor institusional, SEBI, investor ritel, dan auditor eksternal
- tidak satupun dari mereka, termasuk investor profesional dengan informasi dan model
terperinci yang tersedia bagi mereka, mendeteksi penyimpangan tersebut. Berikut adalah
daftar faktor yang berkontribusi terhadap kecurangan: keserakahan, pertumbuhan perusahaan
yang ambisius, praktik pelaporan yang menipu - kurangnya transparansi, minat yang
berlebihan terhadap harga saham utama, insentif eksekutif, ekspektasi pasar saham, sifat
akuntansi Peraturan, ESOP dikeluarkan untuk mereka yang telah menyiapkan tagihan palsu,
transaksi berisiko tinggi yang macet, kegagalan audit (internal dan eksternal), agresivitas
investasi dan bank komersial, lembaga pemeringkat dan Investor, direktur independen yang
lemah dan komite audit, dan kebijakan whistle blower tidak efektif.

Akibat Skandal Satyam


Segera setelah berita tentang kecurangan tersebut, Merrill Lynch mengakhiri
pertunangannya dengan Satyam, Credit Suisse menangguhkan liputan Satyam, dan Pricewa-
terhouseCoopers (PwC) mendapat sorotan ketat dan izin operasinya dicabut. Penghargaan
terselubung dimenangkan oleh Satyam dan manajemen eksekutifnya dilucuti dari perusahaan.
Saham Satyam turun menjadi 11,50 rupee pada 10 Januari 2009, level terendah sejak Maret
1998, dibandingkan dengan tingginya 544 rupee pada tahun 2008. Di New York Stock
Exchange, saham Satyam mencapai puncaknya pada 2008 sebesar US $ 29,10; Pada bulan
Maret 2009 mereka diperdagangkan sekitar US $ 1,80. Dengan demikian, investor kehilangan
$ 2,82 miliar di Satyam. Untung, Satyam secara signifikan meningkatkan pendapatan dan
asetnya selama bertahun-tahun dan menurunkan pasar saham India dan membuat industri ini
kacau balau [31]. Tuduhan pidana diajukan terhadap Tuan Raju, termasuk: persekongkolan
kriminal, pelanggaran kepercayaan, dan pemalsuan. Setelah kegagalan Satyam dan peran
yang dimainkan oleh PwC, investor menjadi waspada terhadap perusahaan yang menjadi
klien PwC, yang mengakibatkan turunnya harga saham sekitar 100 perusahaan dengan variasi
antara 5% - 15%. Kabar skandal tersebut (cepat dibandingkan dengan jatuhnya Enron)
membuat kegelisahan melalui pasar saham India, dan indeks Sensex turun lebih dari 5%.
Saham Satyam turun lebih dari 70%. Bagan yang berjudul "Jatuh dari Kemuliaan", yang
ditunjukkan pada Tampilan 1 melukiskan penurunan saham Satyam antara Desember 2008
dan Januari 2009.
Segera setelah wahyu Raju tentang kecurangan ac-counting, anggota dewan "baru"
ditunjuk dan mereka mulai bekerja menuju solusi yang akan mencegah keruntuhan total
perusahaan. Pejabat India bertindak cepat untuk menyelamatkan Satyam dari nasib yang
sama dengan Enron dan WorldCom, ketika mereka mengalami skandal akuntansi besar.
Pemerintah India "segera memulai penyelidikan, sementara pada saat yang sama membatasi
partisipasi langsungnya, dengan Satyam karena tidak ingin tampil seperti bertanggung jawab
atas
Penipuan, atau mencoba menutupi penipuan ". Pemerintah menunjuk dewan direksi
"baru" untuk Satyam untuk menyelamatkan perusahaan tersebut. Tujuan Dewan adalah
"menjual perusahaan dalam 100 hari". Untuk merancang rencana penjualan, dewan bertemu
dengan para bankir, akuntan, pengacara, dan pejabat pemerintah segera. Ini bekerja dengan
tekun untuk membawa stabilitas dan kepercayaan diri kembali ke perusahaan untuk
memastikan penjualan perusahaan dalam kerangka waktu 100 hari. Untuk mencapai
penjualan tersebut, dewan menyewa Goldman Sachs dan Avendus Capital dan menugaskan
mereka untuk menjual perusahaan dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Pada pertengahan Maret, beberapa pemain utama di bidang IT mendapatkan cukup
kepercayaan pada operasi Satyam untuk berpartisipasi dalam proses lelang Satyam. Dewan
Sekuritas dan Bursa Efek India (SEBI) menunjuk seorang pensiunan Hakim Agung, Justice
Bharucha, untuk mengawasi proses tersebut dan menanamkan kepercayaan pada transaksi
tersebut. Beberapa perusahaan mengajukan penawaran pada Satyam pada tanggal 13 April
2009. Penawar yang menang, Tech Mahindra, membeli Satyam seharga $ 1,13 per saham -
kurang dari sepertiga dari nilai pasar sahamnya sebelum Mr Raju mengungkapkan
kecurangan tersebut - dan berhasil menyelamatkan operasinya [32]. Baik Tech Mahindra dan
SEBI sekarang sepenuhnya menyadari sepenuhnya kecurangan dan India tidak akan
melanjutkan penyelidikan lebih lanjut. Saham tersebut kembali stabil dari kejatuhannya pada
tanggal 26 November 2009 dan, sebagai bagian dari Tech Mahindra, Saytam sekali lagi
menuju masa depan yang cerah.

Exhibit-3: Stock Charting of Satyam dari bulan Desember 2008 sampai Januari 2009
Investigasi: Pidana dan Sipil
Penyelidikan yang mengikuti wahyu penipuan tersebut telah menyebabkan tuntutan
terhadap beberapa kelompok orang yang terlibat dengan Satyam. Pihak berwenang India
menangkap Raju, saudara laki-laki Raju, B. Ramu Raju, mantan managing director, Srinivas
Vdlamani, kepala audit internal perusahaan, dan CFO-nya atas tuntutan pidana kecurangan.
Pihak berwenang India juga menahan dan membebankan beberapa auditor perusahaan (PwC)
dengan kecurangan. Institute of Chartered Accountants of India .memutuskan bahwa "CFO
dan auditor bersalah karena kesalahan profesional". CBI juga sedang menyelidiki aset CEO
di luar negeri. Ada juga beberapa tuntutan perdata yang diajukan di AS terhadap Satyam oleh
pemegang ADR-nya. Investigasi tersebut juga melibatkan beberapa politisi India. Kasus
litigasi perdata dan kriminal terus berlanjut di India dan proses pengadilan sipil berlanjut di
Amerika Serikat. Beberapa korban utamanya adalah: karyawan, klien, pemegang saham,
bankir dan pemerintah India.
Sebagai akibat dari Satyam, pasar India pulih dan Satyam sekarang tinggal. Pasar
saham India saat ini diperdagangkan di dekat rekor tertinggi, karena tampaknya pemulihan
ekonomi global sedang terjadi. Proses pengadilan dan tuntutan pidana terus berlanjut
terhadap Satyam. Tech Mahindra membeli 51% saham Satyam pada 16 April 2009,
berhasil Menyelamatkan perusahaan dari keruntuhan total Dengan perubahan yang tepat,
India dapat meminimalkan tingkat dan ukuran kecurangan ac-counting di pasar modal India.

Isu Tata Kelola Perusahaan di Satyam


Secara triwulanan, laba Satyam tumbuh. Raju mengakui bahwa kecurangan yang dia
lakukan berjumlah hampir $ 276 juta. Dalam prosesnya, Satyam sangat melanggar semua
peraturan tata kelola perusahaan [34]. Kegagalan Satyam adalah contoh untuk mengikuti
praktik CG yang "malang". Ini gagal menunjukkan hubungan baik dengan pemegang saham
dan karyawan. Isu CG di Satyam muncul karena tidak terpenuhinya kewajiban perusahaan
terhadap berbagai pemangku kepentingan. Yang menarik adalah sebagai berikut:
Membedakan peran dewan pengurus dan manajemen; Pemisahan peran CEO dan ketua; Janji
ke dewan; Direktur dan kompensasi eksekutif; Perlindungan hak pemegang saham dan
eksekutif mereka.

Pelajaran dari Satyam Scam


Skandal Satyam 2009 di India menyoroti potensi buruk dari pemimpin perusahaan
yang tidak diatur dengan baik. Seiring kejatuhannya, dan dampaknya dirasakan di seluruh
ekonomi global, harapan yang ada adalah beberapa kebaikan berasal dari skandal dalam hal
pelajaran yang dipelajari . Berikut adalah beberapa pelajaran dari Skandal Satyam:
Selidiki Semua Ketidakakuratan: Skema penipuan di Satyam dimulai sangat kecil,
yang akhirnya tumbuh menjadi $ 276 juta gajah putih di ruangan itu. Memang, banyak skema
penipuan awalnya mulai kecil, dengan pelaku berpikir bahwa perubahan kecil di sana-sini
tidak akan membuat perbedaan besar, dan sepertinya tidak terdeteksi. Ini mengirim pesan ke
banyak perusahaan komersil: jika akun Anda tidak menyeimbangkan, atau jika ada sesuatu
yang tidak tepat (bahkan hanya sedikit), perlu diselidiki. Membagi tanggung jawab di tim
orang membuat lebih mudah untuk mendeteksi penyimpangan atau dana yang
disalahgunakan.
Reputasi yang Dihancurkan: Penipuan tidak hanya terlihat buruk pada perusahaan; Itu terlihat
buruk di seluruh industri dan negara. "Skandal korporat terbesar India dalam memori
mengancam investasi asing masa depan mengalir keKebutuhan untuk CG yang lebih kuat.
Semua perusahaan publik harus hati-hati saat memilih eksekutif dan manajer tingkat atas.
Inilah orang-orang yang mengatur nada untuk perusahaan: jika ada korupsi di puncak, pasti
akan menetes-turun. Selain itu, pisahkan peran CEO dan Ketua Dewan. Memisahkan peran,
dengan demikian, membantu menghindari situasi seperti situasi di Satyam.
Skandal Satyam Computer Services menyoroti pentingnya etika dan relevansinya dengan
budaya korporat. Kecurangan yang dilakukan oleh para pendiri Satyam adalah bukti fakta
bahwa "ilmu perilaku" banyak dipengaruhi oleh keserakahan manusia, ambisi, dan kelaparan
akan kekuasaan, uang, ketenaran dan kemuliaan.

Kesimpulan
Kecurangan perusahaan baru-baru ini dan protes untuk transparansi dan kejujuran
dalam pelaporan telah melahirkan dua hasil. Pertama, keterampilan akuntansi forensik
menjadi sangat penting dalam menyelesaikan manuver akuntansi yang rumit yang telah
mengaburkan laporan keuangan. Kedua, permintaan publik akan perubahan dan tindakan
pengesahan selanjutnya telah mengubah skenario CG di seluruh dunia. Kenyataannya, kedua
tren ini memiliki tujuan bersama untuk mengatasi kekhawatiran investor tentang sistem
pelaporan keuangan transparan. Kegagalan struktur komunikasi perusahaan, oleh karena itu,
telah membuat kesadaran finansial menyadari bahwa "ada kebutuhan besar akan profesional
terampil yang dapat mengidentifikasi, mengekspos, dan mencegah kelemahan struktural di
tiga bidang utama: pemerintahan perusahaan yang buruk - pengendalian internal yang lemah,
dan laporan keuangan yang tidak benar . Selain itu, kerangka kerja CG harus diperkuat
terlebih dahulu dan kemudian diimplementasikan dalam "let-ter dan juga dalam semangat
yang benar". Meningkatnya tingkat kejahatan kerah putih, tanpa diragukan lagi, menuntut
hukuman dan hukuman yang kaku.
Mungkin, tidak ada kecurangan finansial yang berdampak lebih besar pada profesi
akuntansi dan audionya daripada Enron, World-Com, dan baru-baru ini, Enron India:
"Satyam". Semua penipuan ini telah menyebabkan berlakunya Undang-Undang Sarbanes-
Oxley pada bulan Juli 2002, dan badan penetapan standar dan badan penetapan standar
federal yang baru, Dewan Pengawas Akunting Perusahaan Publik (PCAOB). Ini juga
merupakan dorongan untuk adopsi SAS Institute of Certified Public Accountants '(AICPA)
SAS No. 99, "Pertimbangan Penipuan dalam Audit Laporan Keuangan" . Tapi mungkin saja
itu dampak terbesar Enron dan WorldCom dalam peningkatan fokus dan kesadaran yang
meningkat terkait kecurangan. Ini menetapkan tanggung jawab auditor eksternal untuk
merencanakan dan melaksanakan audit agar memberikan jaminan yang memadai bahwa
laporan keuangan yang diaudit bebas dari penipuan.
Sebagai bagian dari penelitian ini, salah satu tujuan utamanya adalah "untuk
memeriksa dan menganalisis secara mendalam Satyam Com-Puters Limited dalam skandal
akuntansi dengan menggambarkan urutan kejadian, akibat dari peristiwa, keterlibatan penting
yang terlibat, reformasi besar yang dilakukan di India, dan belajar beberapa pelajaran darinya
". Tidak seperti Enron, yang tenggelam karena masalah "agensi", Satyam dibawa ke lutut
karena "tunneling". Skandal Satyam menyoroti pentingnya undang-undang sekuritas dan CG
di pasar yang sedang berkembang. Ada konsensus luas bahwa negara-negara emerging
market harus berusaha menciptakan lingkungan peraturan di pasar sekuritas mereka yang
mendorong CG efektif. India telah berhasil melakukan transisi ke ekonomi global dengan
baik, dan meskipun mengalami masalah CG, tidak sendirian seperti negara maju dan negara
berkembang dan juga skandal CG. Pemindaian Satyam-red secara terang-terangan menyoroti
pentingnya etika dan relevansinya dengan budaya perusahaan. Kecurangan yang dilakukan
oleh para pendiri Satyam adalah bukti fakta bahwa "ilmu perilaku diombang-ambingkan oleh
keserakahan manusia, ambisi, dan kelaparan akan kekuasaan, uang, ketenaran dan
kemuliaan". Semua jenis skandal / kecurangan telah membuktikan bahwa ada kebutuhan
akan perilaku baik berdasarkan etika yang kuat. Pemerintah India, dalam kasus Satyam,
bertindak sangat cepat untuk melindungi kepentingan para investor, menjaga kredibilitas
India, dan citra negara di seluruh dunia. Apalagi, kecurangan Satyam telah memaksa
pemerintah untuk menulis ulang peraturan CG dan memperketat norma untuk auditor dan
akuntan. Afiliasi India dari PwC "secara rutin gagal mengikuti prosedur audit yang paling
mendasar. SEC dan PCAOB mendenda afiliasi tersebut, PwC India, $ 7,5 juta yang
digambarkan sebagai hukuman Amerika terbesar yang pernah terjadi pada perusahaan
akuntansi asing ". Menurut Presiden, ICAI (25 Januari 2011), "Kegagalan Satyam bukanlah
kegagalan akuntansi atau audit, tapi salah satu CG. Badan apeks ini telah menemukan dua
auditor PWC prima-facie bersalah atas kesalahan profesional ". CBI, yang menyelidiki kasus
kecurangan Satyam, juga menuduh kedua auditor tersebut "terlibat dalam pelaksanaan
kecurangan dengan secara sadar mengabaikan penyimpangan akuntansi".
Budaya di Satyam, yang terutama didominasi oleh dewan, melambangkan budaya
yang tidak etis. Di satu sisi, kenaikannya menjadi bintang di tTempat karakter "dirusak"
lainnya. Setelah berhenti sebagai Ketua Satyam, Raju berkata, "Saya sekarang siap untuk
tunduk pada hukum tanah dan menghadapi konsekuensi daripadanya". Pak Raju menghadapi
banyak dilema etis, namun penalaran amalnya yang terus-menerus menyebabkan
kematiannya sendiri. Kecurangan akhirnya harus diakhiri dan implikasinya berakibat jauh.
Dengan demikian, penipuan Satyam bukanlah kegagalan akuntansi atau audit, tapi salah satu
CG. Tidak diragukan lagi, pemerintah India segera bertindak untuk melindungi kepentingan
para investor dan melindungi kredibilitas India dan citra negara di seluruh dunia. Selain itu,
kerangka kerja CG perlu diperkuat, diimplementasikan baik dalam "surat maupun dalam
semangat yang benar", dan ditegakkan dengan penuh semangat untuk mengekang kerah putih

Ringkasan Kasus Skandal Satyam


Satyam adalah salah satu perusahaan IT terbesar di India yang telah mencatatkan
perkembangan di bidang keuangan yang cukup pesat pada periode 2008. Perusahaan
ini mempunyai 50 ribu karyawan yang tersebar di berbagai pusat pengembangan IT-nya di
negara-negara Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Menjadi rekanan dari 654 perusahaan
global, termasuk General Electric, Nestle, Qantas Airways, Fujitsu, dan 185
perusahaan lainnya. Sahamnya listed di India’s National Stock Exchange, The New York
Stock Exchange dan Euronext di Eropa.didirikan dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan
MBA Ohio University dan alumnus Harvard University.

Kronologi Kasus Satyam


1. Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3 persen menjadi 2,1
milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa revenue-nya akan
meningkat sebesar 19-21 persen menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009.
Melihat semua reputasinya, pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT
terbesar keempat di India.
2. Pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar 1,04 milyar
dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai kas &
bank Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran
direksi Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan
bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang
seharusnya (understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated
debtors).
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan
perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang
sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
3. Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir – Price Waterhouse India
mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi tidak akurat dan tidak reliable karena
dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen Satyam. Institusi
akuntan di India ICAI, meminta PwC memberikan jawaban resmi dalam 21 hari terkait
skandal Satyam.
Satyam selama enam tahun terakhir melakukan pelaporan yang salah. Hal ini bermula
dari keinginan Ramalingga Raju untuk mendapatkan ijin perolehan dana dari bank untuk
melakukan ekspansi Satyam. Sehingga Raju melakukan beberapa manipulasi, seperti
dijelaskan di bawah ini:
a. Saldo kas dan bank sebesar 50,40 miliar adalah fiktif jika dibandingkan dengan RS
53,61 milyar dalam pembukuan
b. Piutang bunga fiktif sebesar RS 3,67 miliar
c. Utang yang understated senilai RS 12,3 miliar
d. Piutang yang terlalu tinggi(overstated) senilai RS 4,90 miliar.
e. Untuk Q2 September, pendapatan lebih besar RS 5,88 milyar dan operating margin
yang dilaporkan senilai Rs 6,49 miliar seharusnya bernilai Rs 610 juta. Hal ini
mengakibatkan adanya saldo kas fiktif senilai Rs 5,88 miliar.
Menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10 Januari 2009 harga
saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2% dari harga saham
tertingginya di tahun 2008 sebesar 544 rupees.

Pembahasan Terkait OECD Prinsip 5 dan 6


Keterbukaan dan Tranparansi
Kerangka kerja corporate governance harus memastikan bahwa keterbukaan informasi yang
tepat waktu dan akurat dilakukan atas semua hal yang material berkaitan dengan perusahaan,
termasuk di dalamnya keadaan keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata kelola perusahaan.
Selain itu informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar akuntansi yang
berkualitas tinggi dan keterbukaan keuangan dan non-keuangan. Audit tahunan harus
dilakukan oleh auditor yang independen, kompeten dan memenuhi kualifikasi, dalam rangka
menyediakan jaminan/kepastian eksternal dan objektif kepada pengurus dan pemegang
saham bahwa laporan keuangan perusahaan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
material, posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dalam kasus fraud Satyam, pihak yang
berwenang dalam hal melakukan audit tersebut adalah PWC. Price Waterhouse Coopers India
(PwC) sebagai akuntan publik tidak memiliki kode etik akuntan publik. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Independensi
Dalam SA Seksi 220, pada paragraph 02, independensi adalah auditor mempertahankan
sikap yang tidak memihak dalam melaksanakan perkerjaannya. Namun dalam
kenyataannya, PwC mengacuhkan bukti-bukti penggelembungan dana. Misalnya dalam
saldo kas dan bank itu fiktif sebanyak Rs 50,40 miliar dibandingkan dengan Rs 53,61
miliar yang ditunjukkan dalam pembukuan. Independensi penampilan merupakan
independensi yang dipandang dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan
yang diaudit dan pihak tersebut mengetahui hubungan antara auditor dan kliennya. PwC
India praktis telah melanggar independensi penampilan karena PwC memiliki hubungan
istimewa dengan Satyam, yakni kemitraan strategis hingga akhir tahun 2009 meski
aturan internasional U.SSecurities and Exchange Comission dan standar audit India
melarang kemitraan semacam itu.
2. Integritas dan Objektivitas Akuntan
Integritas mengharuskan seorang auditor untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa
harus mengorbankan rahasia penerima jasa, pelayanan dan kepercayaan publik tidak
boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang
tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima
kecurangan atau peniadaan prinsip (Mulyadi). Tetapi dari dokumen sec yang memeriksa
kasus ini, terdapat bukti bahwa PwC melanggar integritas, seperti PwC yang meskipun
mengetahui sistem pengendalian internal Satyam yang lemah, tetapi tidak melakukan
tindakan untuk melaporkan hasil temuannya itu.
Objektivitas mengharuskan akuntan publik bebas dari benturan kepentingan dan tidak
boleh membiarkan faktor salah saji material yang diketahuinya dan mengalihkan
pertimbangan kepada pihak lain. PwC jelas melanggar benturan kepentingan karena
tidak memperhatikan independensi penampilan dengan memiliki hubungan kemitraan
strategis dengan Satyam.
3. Standar Umum
Ada beberapa standar yang harus dipatuhi akuntan publik, yakni kompetensi profesional,
kecermatan dan keseksamaan professional, perencanaan dan supervisi, dan data relevan
yang memadai. PwC juga melanggar standar umum akuntan publik. Dari hasil bukti
kasus Satyam, diketahui bahwa PwC tidak memperhatikan kompetensi, kecermatan dan
keseksamaan professional dengan tidak memeriksa secara keseluruhan sejumlah invoice
dalam transaksi Satyam. PwC juga melanggar standar perencanaan dan supervisi karena
tidak melakukan dengan benar pemeriksaan dari awal perikatan audit hingga akhir
perikatan audit.
4. Kepatuhan Terhadap Standar
PwC melanggar aturan Indian Audit and Accounts Service (IAAS), yaitu basic
postulate dimana akuntan publik harus mengikuti standar auditing yang berlaku dan
melaporkan hasil temuannya terhadap laporan keuangan. Sedangkan PwC justru
menutupi laporan pemeriksaan audit tersebut.
5. Prinsip-Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi mengharuskan akuntan publik untuk memeriksa dan
menemukankejanggalan dalam laporan keuangan penerima jasa. Dalam perikatan umum,
auditor melaksanakan auditnya atas dasar pengujian, bukan atas dasar pemeriksaan
terhadap seluruh bukti. Namun auditor internal Satyam tidak melakukan pengujian,
meneliti atas verifikasi setiap transaksi mulai dari awal terjadinya transaksi setiap tahun
hingga berakhirnya tahun laporan. Selain itu, auditor juga tidak memverifikasikan cash
and bank balance.
6. Fee Profesional
Besarnya fee anggota bervarasi tergantung risiko penugasan, komplesitas jasa yang
diberikan, tingkat keahlian, biaya yang bersangkutan dan hal-hal lannya. Tetapi ada
kejanggalan dalam audit fee PwC yang dibayarkan oleh Satyam. Dari hasil perbandingan
audit fee yang sama-sama menggunakan jasa PwC, yaitu Satyam, Wipro dan Infosys
didapat bahwa pendapatan PwC 2007 sebagai berikut. Satyam: Wipro: Infosys = 0,059%
: 0,006% : 0,004%. Sedangkan pendapatan PwC tahun 2008 adalah Satyam: Wipro:
Infosys = 0,046% : 0,006% : 0,005%. Bisa dilihat bahwa fee yang dibayarkan oleh
Satyam tidak wajar dan berkali-kali lipat dibanding pesaing Satyam.

Pelanggaran Prinsip GCG


Pengertian GCG menurut Bank Dunia (World Bank) adalah kumpulan hukum, peraturan, dan
kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber
perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang
berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara
keseluruhan. Satyam juga melakukan pelanggaran prinsip GCG antara lain:
1. Transparansi (transparency) adalah keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan mengemukakan informasi materil yang relevan mengenai
perusahaan. Raju tidak terbuka dalam mengemukakan informasi materil perusahaan. Hal
ini bisa dilihat dari tindakan Raju yang memalsukan saldo sebesar Rs 50,40 miliar,
piutang bunga sebesar Rs 3,76 miliar dan utang yang tidak dinyatakan sebesar Rs 12,3
miliar.
2. Pengungkapan (disclosure) adalah penyajian informasi kepada stakeholders, baik diminta
maupun tidak diminta, mengenai hal-hal yang berkenaan dengan kinerja operasional,
keuangan, dan resiko usaha perusahaan. Raju juga menyajikan informasi palsu dengan
bukti seperti poin diatas.
3. Kemandirian (independence) adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang
tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat. PwC India tidak seharusnya menjadiauditor eksternal Satyam karena
keduanya memiliki benturan kepentingan berupa kemitraan strategis dalam bentuk jasa
IT.
4. Akuntabilitas (accountability) adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban manajemen perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan
terlaksana secara efektif dan ekonomis. Aksi CEO Satyam, Raju tentu kebalikan dari
prinsip akuntabilitas. Raju melebih-lebihkan dana sebesar Rs 53,61 miliar. Tindakan
tidak benar itu diketahui sistem pengendalian internal Satyam yang hanya mengabaikan
Rajudan justru mengindahkan faktur-faktur palsu dalam transaksi Satyam. Pelaksanaan
tugas masing-masing pihak menjadi tidak jelas.
5. Pertanggungjawaban (responsibility) adalah kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat. Jika dilihat dari standaraturan Indonesia, ada pelanggaran yang dilakukan Auditor
Satyam dan PwC. Misalnya dalam Pasal 55 khususnya ayat (b) dan Pasal 56 UU RI
Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik yang dijadikan sebagai subjek uji materiil
Pemohon dinyatakan bahwa akuntan publik yang dengan sengaja melakukan manipulasi,
memalsukan, dan/atau menghilangkan data atau catatan pada kertas kerja, atau tidak
membuat kertas kerja yang berkaitan dengan jasa yang diberikan.
Dalam hal ini, auditor satyam dan PwC bersalah karena tidak melakukan pengujian dan
verifikasi dari awal terjadinya transaksi hingga pelaporan tiap tahun juga mengabaikan
bukti-bukti berupa invoice palsu dalam transaksi. Raju juga melanggar Pasal 56
dinyatakan bahwa pihak terasosiasi yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling
banyak 300 juta rupiah.

Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi


Kerangka kerja corporate governance harus memastikan pedoman strategis
perusahaan, monitoring yang efektif terhadap manajemen oleh dewan, serta akuntabilitas
dewan terhadap perusahaan dan pemegang saham.Setahun sebelum munculnya
skandal tersebut, Satyam memenangkan penghargaan Golden Peacock untuk kesempurnaan
dalam corporate governance dari World Council for Corporate Governance. Dewan tersebut
kemudian membatalkan penghargaan dan mengeluhkan kegagalan perusahaan Satyam untuk
mengungkap fakta-fakta materi sebenarnya. Namun, reporter Business Week Beverly Behan
menulis bahwa dewan Satyam jelas-jelas mencemooh praktik-praktik corporate governance
yang baik. Para wartawan dapat mengetahui dengan menelaah komposisi dewan bahwa
dewan direksi Satyam kurang memiliki keahlian ekonomi, hampir sama sekali tidak
independen dan gagal untuk memenuhi syarat manajemen yang independen dimana hal
ini berlawanan dengan praktik-praktik corporate governance yang baik. Seperti yang
diperlihatkan kasus Satyam, penghargaan bisnis yang mengesankan dan laporan tahunan
yang mengkilap bukanlah jaminan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi secara
legal dan penuh etika.
Banyak bisnis keluarga yang menunjuk dewan keluarga untuk menyelaraskan
kepentingan mereka dan bertindak sebagai penghubung utama antara keluarga, dewan dan
manajemen senior. Dewan juga mengajukan kandidat untuk keanggotaan dewan dan
membuat rancangan kebijakan atas hal-hal seperti mempekerjakan keluarga, kompensasi dan
kepemilikan saham. Kemandirian Dewan merupakan isu utama dalam kelanjutan skandal
Satyam Computer Systems Ltd. di India.
Laporan BusinessWeek menghitung sinyal-sinyal masalah yang tidak terdeteksi pada
kasus Satyam sebagai berikut:
1. Dewan di Satyam memiliki enam direktur non-manajemen, tetapi empat diantaranya
akademisi dan satu adalah seorang mantan sekretaris kabinet pada pemerintahan. Hanya
satu anggota dewan yang sebelumnya pernah menjabat eksekutif puncak di suatu
perusahaan teknologi.
2. Perusahaan tersebut tidak memiliki pakar keuangan pada komite auditnya.
3. Meskipun Satyam membedakan posisi CEO dan kepala dewan, dua posisi tersebut
diduduki oleh bersaudara yang memiliki kepentingan utama dalam perusahaan dan
anggota manajemen.
4. Dewan tidak memiliki kepemimpinan dewan independen.

Berdasarkan Pasal 92 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan


Terbatas tugas Direksi adalah menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan
Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan. Direksi PT dapat terdiri atas 1
orang atau lebih. Sedangkan, tugas dari Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan
atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan
maupun usaha Perseroan, dan memberi nasihat kepada Direksi (Pasal 108 ayat [1] UUPT).
Dewan Komisaris dapat terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih (Pasal 108 ayat [3] UUPT).
Bila melihat dua ketentuan mengenai Direksi dan Dewan Komisaris tersebut, sudah
dapat diketahui bahwa tugas utama Direksi adalah melakukan pengurusan PT, sedangkan
tugas utama Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan atas pengurusan PT. Jika di
dalam suatu PT Direksi merangkap sebagai Dewan Komisaris, terlebih lagi bila dipegang
oleh satu orang, maka akan berakibat munculnya benturan kepentingan. Benturan
kepentingan ini karena jalannya pengurusan PT dikhawatirkan tidak terkendali sebab
kewenangan untuk melakukan pengawasan dan pengurusan dipegang oleh orang yang sama.
Kaitannya dalam kasus Satyam, meskipun posisi Direksi dan Komisaris dipegang oleh orang
yang berbeda, namun kedua posisi tersebut diduduki oleh bersaudara yang memiliki
kepentingan utama dalam perusahaan dan anggota manajemen. Penyalahgunaan
wewenang dan sistem pengendalian internal Satyam yang lemah. Hal ini menjadi salah satu
faktor yang memungkinkan kasus fraudSatyam terjadi.
Kasus kecurangan yang menyangkut masalah praktek tranparansi dan akuntabilitas
pelaporan keuangan perusahaan harus mendorong profesi akuntan, pengguna laporan
keuangan, dan pemerintah memberikan perhatian yang serius terhadap pentingnya
keberadaan komite audit dan mekanisme gcg menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis sebagai
barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan.