Anda di halaman 1dari 4

INILAH.

COM, Karawang - Angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) di Kabupaten Karawang masih
cukup tinggi. Sejak Januari sampai September lalu, ada 43 kasus AKI dan AKB mencapai 157 kasus.
Penyebab kematian ini terdapat beberapa faktor. Salah satunya, pendarahan dan keracunan saat
hamil.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr Nurdin Hidayat, angka kematian tersebut
diprediksi akan terus bertambah sampai akhir tahun nanti. Dengan begitu, kasus AKI dan AKB sepanjang
2012 ini lumayan cukup tinggi. Berbeda dengan pada 2011 lalu, dimana kasus AKI hanya 51 dari 56.000
ribu angka kelahiran hidup. Sedangkan, kasus kematian bayi muda usia nol sampai sebulan, hanya 164.
Begitu pula kasus kematian bayi usia sebulan sampai setahun, hanya 28 kasus.

"Pada tahun ini, hingga bulan sembilan (September) angkanya cukup tinggi," kata Nurdin, Kamis
(8/11/2012).

Nurdin menjelaskan, dari Januari sampai September, kasus ibu yang melahirkan kemudian meninggal
mencapai 43 kasus. Penyebabnya antara lain, keracunan, pendarahan, infeksi, terlalu tua, terlalu muda,
terlalu sering melahirkan, dan terlalu banyak anak. Selain itu, ada juga penyakit bawaan lainnya.

"Ibu-ibu yang meninggal saat melahirkan itu, mayoritas meninggal di rumah sakit (RS). Jadi, sebelumnya
mereka sudah mendapatkan pertolongan pertama dulu. Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana
banyak ibu-ibu yang meninggal sebelum di bawa ke RS. Maksudnya, ada yang meninggal di rumahnya, di
perjalanan dan Puskesmas," jelasnya.

Adapun untuk jumlah kematian bayi usia nol sampai sebulan, terang Nurdin, sebanyak 131 kasus.
Sedangkan, bayi yang usianya sebulan sampai setahun sebanyak 26 kasus. Dengan kata lain, total bayi
yang meninggal yakni 157. Penyebabnya seperti berat badan saat lahir kurang dari 2,5 kilogram,
gangguan pernafasan, keracunan air ketuban, dan penyakit bawaan.

Diakui dia, kasus AKI dan AKB ini merata terjadi pada ibu dan bayi dari keluarga kurang mampu dan
berada. Dengan kata lain, belum ada data spesifik yang menyebutkan penyebab utama kematian ini
akibat keterbatasan ekonomi. Melainkan, ada penyebab lain yang sifatnya lebih urgen.

"Intansi kami sudah melakukan upaya, yaitu dengan cara memberi prioritas rujukan. Dimana pasien yang
akan melahirkan, namun memiliki tanda-tanda resiko tinggi segera diberi surat rujukan ke RS besar.
Dengan kata lain, Puskesmas ataupun bidan desa tak boleh menanganinya sendiri," tegasnya.[ang]
KEBIJAKAN DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN
ANGKA KEMATIAN BAYI DI KABUPATEN SAMPANG

Millenium Development Goals (MDGs) merupakan komitmen global untuk mencapai kehidupan
yang lebih baik serta kerangka pijakan yang digunakan untuk mencapai target-target
pembangunan pada tahun 2015 mendatang. Berkaitan dengan MDGs, isu yang tidak kalah
penting adalah berkaitan dengan penurunan angka kematian anak dan peningkatan kesehatan ibu.
Dalam isu tersebut target yang hendak dicapai adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI)
dan angka kematian bayi (AKB) hingga tiga perempatnya antara tahun 1990 sampai 2015. Target
tersebut untuk saat ini sepertinya sulit untuk diwujudkan apabila tidak segera dilakukan langkah-
langkah konkret. Daerah dengan AKI dan AKB tertinggi adalah di Kabupaten Sampang.
Kesehatan ibu sangat terkait dengan pencapaian seluruh target MDGs. Artinya, AKI dan AKB
adalah indikator penting dalam pembangunan. Apabila masalah AKI dan AKB tidak ditangani
dengan baik, maka akan terjadi lost generation. Melihat kondisi empiris tersebut, maka perlu
dilakukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka AKI dan AKB
di Kabupaten Sampang. Setelah mengetahui faktor-faktor penyebabnya, maka langkah
selanjutnya adalah perumusan formulasi kebijakan yang tepat. Formulasi kebijakan menjadi
strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mengingat kesehatan merupakan hak
dasar setiap individu, dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin kesehatan
rakyatnya melalui pemberian layanan kesehatan yang memadai dan berkualitas. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab tingginya AKI dan AKB.
Dari hasil identifikasi tersebut dapat dijadikan sebagai rekomendasi sebagai upaya perumusan
kebijakan. Produk kebijakan yang bisa dihasilkan dari rekomendasi berdasarkan hasil penelitian
lapangan adalah berupa program-program unggulan yang berorientasi pada penurunan AKI dan
AKB. Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Sampang diharapkan mampu merumuskan kebijakan
dalam bentuk peraturan daerah terkait kesehatan ibu dan balita (Perda KIBBLA).
Lakukan Pembinaan Untuk Minimalisir AKI dan AKB
berita | Tanggal:26 November 2012 - 12:14pm | By:Fansi Perdana Putri
PERTEMUAN PEMBINAAN BIDAN KELURAHAN

Surabaya, eHealth. Dinas Kesehatan


Kota Surabaya kembali mengadakan pembinaan kepada bidan kelurahan se-
Kota Surabaya mengenai persalinan ibu dan bagaimana mengatasi berbagai
permasalahan pada persalinan. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir
Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI dan AKB) di Kota
Surabaya.

Pembinaan yang diadakan di ruang pertemuan Lantai 4 Laboratorium


Parahita ini dihadiri oleh seluruh bidan kelurahan se-Kota Surabaya. Acara
dibuka oleh Kadinkes dr. Esty Martiana Rachmie, yang terus menekankan
pentingnya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB). Jumlah kematian ibu di Kota Surabaya selama tahun 2012 sudah
mencapai angka 46, yang artinya terdapat 4 hingga 5 ibu meninggal saat
melahirkan setiap bulannya.

dr. Sri Setyani, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota
Surabaya menyampaikan materi berjudul Peran Serta Lintas Sektor dalam
Upaya Percepatan Penurunan AKI-AKB di Kota Surabaya. Upaya yang telah
dilakukan mencakup mulai dari hulu ke hilir, mengandalkan peran
masyarakat, serta meningkatkan pelayanan kesehatan dasar.

Jumlah kematian bayi pada tahun 2006 adalah 320, sementara pada triwulan
ke-3 tahun 2012 sudah berkurang menjadi 268. Di Surabaya, jumlah kematian
bayi terbesar ditemukan di wilayah Wonokromo, diikuti Sawahan, lalu
Bubutan. Sementara jumlah kematian ibu terbesar ditemukan di wilayah
Tandes, Rungkut, dan Wonokromo.

Penyebab kematian bayi antara lain terlambat ambil keputusan, terlambat


mendeteksi risiko tinggi, dan terlambat mengetahui proses rujukan.

Narasumber berikutnya adalah dr. Agus Sulistyono, SpOG (K), yang


membawakan materi berjudul Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan
dengan Kondom Kateter. Para peserta ditunjukkan berbagai cara
menggunakan kondom kateter untuk mengatasi pendarahan, dilengkapi
dengan foto dan video. (Fns)