Anda di halaman 1dari 27

Evaluasi Efektivitas Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) pada Proses Bisnis

Distribusi Semen Sak Jalur Darat PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Rahmad Wisnu Setyawan, Anita Wijayanti, SE., MSA., Ak. Jurusan

Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Malang. Received

: 18th April 2016, Accepted : 22 nd April 2016

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) pada proses
bisnis distribusi semen sak jalur darat PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pemilihan distribusi semen sak jalur darat
dikarenakan proses bisnis tersebut berhubungan langsung dengan pelanggan dan nilai akun dalam laporan keuangan.
Evaluasi ICoFR dilakukan melalui metode kualitatif deskriptif dengan sumber data primer yang diperoleh dari
mekanisme wawancara langsung terhadap staf Biro Audit Akuntansi dan Keuangan Group PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk serta tabel Risk Control Matrix (RCM) untuk proses bisnis distribusi semen sak jalur darat. Hasil
penelitian menunjukan bahwa dari segi desain dan operasi, ICoFR pada proses bisnis distribusi semen sak jalur darat
perusahaan tersebut sudah cukup efektif. Namun memerlukan perbaikan pada segi operasi, yakni penggunaan
Proximity Bag Marker (PBM) sebagai salahsatu upaya untuk mencegah pengiriman semen yang tidak terotorisasi.
Solusi untuk menangani hal tersebut adalah dengan menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) sebagai
pengganti dari sistem PBM.

Kata kunci : ICoFR, Risk Control Matrix, Proses Bisnis, Segi Operasional, Segi Desain.

1
Evaluation of Effectiveness of Internal Control over Financial Reporting (ICoFR ) on the
Landline Distribution of Sacks Cements in PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Business
Process

Rahmad Wisnu Setyawan, Anita Wijayanti, SE., MSA., Ak.

Accounting Department, Faculty of Economics and Business, Brawijaya University, Malang.

Received : 18th April 2016, Accepted : 22 nd April 2016

Abstract
This research aims to determine the effectiveness of Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) on the
landline distribution of sacks cements in PT Semen Indonesia (Persero) Tbk business process. The business process
chosen, since it is directly related to customer and account values in the financial statements. ICoFR evaluation is
done through a descriptive qualitative method with the primary data source which is obtained from interview
mechanism directly to the Staffs of Group Accounting and Finance Audit Bureau of PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk and Risk Control Matrix (RCM) table for landline distribution of sacks cements business processes. The results
showed that in terms of design and operation, ICoFR on the company’s landline distribution of sacks cements
business processes are already quite effective. But it needs improvement in terms of operations, especially in the
use of Proximity Bag Marker (PBM) as one of the solution to prevent unauthorized cements delivery. The solution
to handle this deficiency is by using Radio Frequency Identification (RFID) as the substitute of PBM system.

Keywords : ICoFR, Risk Control Matrix, Business Process, Operational terms, Design terms.

1. Latar Belakang Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


yang saat ini sudah berkonvergensi
Laporan keuangan adalah suatu dengan IFRS (International Financial
penyajian terstruktur dari posisi Report Standard).
keuangan dan kinerja keuangan suatu
entitas. Tujuan laporan keuangan adalah Ketepatan keputusan ekonomi
memberikan informasi mengenai posisi dari kalangan pengguna laporan
keuangan, kinerja keuangan, dan arus keuangan didasarkan pada keandalan
kas entitas yang bermanfaat bagi laporan keuangan yang mana sangat
sebagian besar kalangan pengguna bergantung pada ketepatan dan
laporan dalam pembuatan keputusan keakuratan dari informasi yang
ekonomi. Laporan keuangan juga disajikan.Laporan keuangan hendaknya
menunjukkan hasil pertanggungjawaban dan semestinya mencerminkan keadaan
manajemen atas penggunaan sumber yang sesungguhnya dari suatu entitas.
daya yang dipercayakan kepada mereka Namun ada kalanya laporan keuangan
(PSAK No. 1). Penyajian informasi yang disajikan, justru tidak memberikan
keuangan entitas dalam laporan gambaran keadaan sesungguhnya
keuangan dilakukan dengan berpedoman sehingga akan mempengaruhi kualitas
pada standar pelaporan yang berlaku di dari laporan keuangan tersebut.
sebuah negara. Di indonesia sendiri Kesalahan angka yang tersaji dalam
standar pelaporan tersebut mengacu pada laporan keuangan bisa dilakukan baik

2
karena unsur ketidaksengajaan ataupun adalah kegiatan assurance dan
kesengajaan.Pengendalian internal yang konsultasi (consultant) yang independen
memadai sangat diperlukan untuk dan obyektif yang dirancang untuk
meminimalisir kesalahan penyajian memberi nilai tambah serta
angka dalam laporan keuangan. meningkatkan kelancaran operasi.
Kegiatan tersebut membantu organisasi
Pengendalian Internal mencapai tujuannya dengan
menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menggunakan pendekatan yang
adalah suatu proses yang dijalankan oleh sistematis dan teratur untuk
dewan komisaris, manajemen dan mengevaluasi dan meningkatkan
personel lain entitas yang didesain untuk manajemen risiko, pengendalian dan
berbagai macam tujuan, salahsatunya proses governance.
adalah memberikan keyakinan memadai Namun, penyusunan pengendalian
tentang pencapaian keandalan laporan. internal dan pembentukan komite audit
Untuk mencapai tujuan tersebut, oleh perusahaan terkadang belum cukup
perusahaan dapat menggunakan COSO untuk menjaga kualitas dari laporan
Internal Control Integrated Framework, keuangan. Enron dan Worldcom
atau yang biasa disebut dengan COSO merupakan dua perusahaan milik
Framework. COSO Framewok Amerika Serikat yang mengalami
merupakan kerangka kerja yang disusun kebangkrutan secara tiba-tiba.
oleh Committee of Sponsoring Kebangkrutan terjadi karena kurang
Organizations of the Treadway handalnya pengendalian internal yang
Commission (COSO). COSO adalah ada sehingga menimbulkan kerugian
suatu inisiatif dari sektor swasta yang yang besar bagi para pemegang
dibentuk pada tahun 1985. Organisasi ini sahamnya di New York Stock Exchange
didirikan dengan tujuan untuk (NYSE). Kasus serupa juga terjadi di
mengidentifikasi faktor-faktor yang Indonesia pada tahun 2005. Pada saat
menyebabkan penggelapan laporan itu, PT Kereta Api Indonesia melakukan
keuangan dan membuat rekomendasi penyelewengan dalam menyusun
untuk mengurangi kejadian yang ada. laporan keuangan pada perhitungan
COSO Framework berisikan lima Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang
kompoen dalam pengendalian internal, mengakibatan kesalahan pencatatan atas
antara lain control environment, risk laporan keuangan tahun 2005. Dimana
assesment, information and seharusnya PT KAI merugi Rp 600
communcation, dan control activities miliar, namun hasil yang ada justru
and monitoring.Dalam kelima mencatatkan PT KAI memperoleh laba
komponen COSO Framework, terdapat sebesar Rp 6,9 miliar.
berbagai macam hal yang harus dipenuhi Kebangkrutan yang dialami Enron
oleh sebuah organisasi untuk dan Worldcom menyebabkan pihak
membentuk pengendalian internal yang NYSE mengambil tindakan yang
efektif. Salahsatunya adalah mewajibkan perusahaan yang tercatat
pembentukan komite audit yang bertugas dalam bursa untuk mematuhi peraturan
untuk melakukan tindakan koreksi atas baru dari United States Securities and
kelemahan pengendalian melalui Exchange Commision (US-SEC) yang
aktivitas audit internal (COSO tertuang dalam Sarbanes Oxley Act
Framework 2012). Menurut Standar (SOX) section 404. Dalam peraturan
Profesi Audit Internal, Audit Internal
3
tersebut terdapat penggunaan Internal apakah pengendalian internal tersebut
Control over Financial Reporting sudah cukup handal dalam mengatasi
(ICoFR), penilaian dan pemberian opini risiko yang ada atau belum. Hasil akhir
atas pengendalian internal yang ada di dari ICoFR berupa laporan kepada
dalam perusahaan. Peraturan tersebut direksi yang menunjukkan seberapa
secara efektif berlaku sejak tanggal 15 handal pengendalian internal tersebut.
Juli 2006. Di Indonesia, pelaksanaan Laporan ini kemudian digunakan oleh
ICoFR diatur dalam Standar Audit direksi sebagai bahanuntuk pengambilan
Akuntan Publik (SPAP) No 2, SPAP keputusan.
1994 – PSA Nomor 06, 23, 24, 35, 60 Sampai saat ini, ICoFR telah
dan 69. Selain itu, pelaksanaan ICoFR diterapkan oleh beberapa perusahaan di
juga dimuat dalam SPAP- SAT 2001 Indonesia, antara lain, PT
seksi 400 dan SA Seksi 314. Namun, Telekomunikasi Indonesia Tbk, dan PT
kewajiban untuk melakukan audit dan Semen Indonesia (Persero) Tbk.
memberikan opini atas pengendalian Berbagai macam hal mendasari
internal persahaan masih belum diatur. pelaksanaan ICoFR dalam perusahaan
Melalui penggunaan ICoFR, diharapkan tersebut. Sebagai contoh, bagi PT
perusahaan yang ada bisa menjamin Telekomunikasi Indonesia Tbk,
kehandalan laporan keuangan yang penerapan ICoFR merupakan kewajiban
mereka susun dan kepentingan para (mandatory), karena perusahaan tersebut
pemegang saham dapat terlindungi. Hal telah mendaftarkan sahamnya dalam
ini juga didukung oleh beberapa pihak, NYSE sejak 30 Juli 2002. Sedangkan
seperti konsultan di Indonesia yang bagi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
memberikan training dan workshop bagi pelaksanaan ICoFR masih bersifat
perushaan yang ingin melaksanakan sukarela (voluntary).Tujuan penerapan
ICoFR. ICoFR pada perusahaan ini adalah untuk
ICoFR merupakan sebuah proses menunjang kegiatan operasional dan
yang dirancang untuk menguji memfasilitasi visi perusahaan, yakni
pengendalian internal dalam sebuah menjadi perusahaan persemenan
perusahaan. Menurut Sarbanes Oxley terkemuka di Asia Tenggara.
Section 404, Proses ini dilakukan oleh Agar dapat mengikuti perkembangan
Auditor Internal, dimulai dengan yang ada di dalam perusahaan, ICoFR
pemilihan akun-akun yang memiliki memerlukan evaluasi secara berkala oleh
nilai material dalam elemen laporan pihak eksternal. Hal ini dilakukan untuk
keuangan. Setelah itu, dilakukan mengetahui apakah pengendalian
identifikasi atas risiko yang dihadapi internal yang diterapkan oleh perusahaan
oleh akun-akun tersebut, seperti risiko sudah cukup memadai dalam mengatasi
fraud yang dapat berakibat pada salah risiko yang ada, sehingga kualitas dari
saji (miss statement). Melalui risiko laporan keuangan yang akan disajikan
tersebut, dilakukan penilaian terhadap nantinya dapat tetap terjaga. Evaluasi
efektifitas pengendalian internal yang serupa dilakukan oleh PT
sudah ada. Evaluasi dilakukan dengan Telekomunikasi Indonesia Tbk
metode kualitatif melalui wawancara dan (Irianto,2011). Di mana dalam evaluasi
observasi, baik dari segi desain tersebut ditemukan Significant
pengendalian maupun operasional. Deficiency dalam pengendalian internal
Evaluasi ini berguna untuk menentukan atas siklus aktiva tetap. Ketidakefisienan

4
tersebut disebabkan oleh kurangnya menuangkannya dalam penelitian ini
pemahaman dari karyawan terhadap dengan judul :
proses bisnis yang ada dan software
yang digunakan dalam menginput data. “Evaluasi Efektivitas Internal Control
Menyikapi hal tersebut, pihak PT over Financial Reporting (ICoFR) pada
Telekomunikasi Indonesia Tbk Proses Bisnis Distribusi Semen Sak Jalur
melakukan perubahan secara Darat PT Semen Indonesia (Persero)
operasional, yakni dengan cara Tbk”
membentuk tim khusus yang bertugas
untuk mensosialisasikan kepada 1.1 Perumusan Masalah
karyawan mengenai proses bisnis yang
ada serta cara penggunaan software yang Berdasarkan latar belakang yang telah
baik dan benar. dipaparkan, rumusan masalah yang
Penelitian bertema penerapan ICoFR ditetapkan oleh peneliti adalah :
di Indonesia masih jarang ditemui,
mengingat penerapan ICoFR yang belum 1. Bagaimana efektivitas ICoFR untuk
banyak dilakukan pada perusahaaan di proses bisnis distribusi semen sak
Indonesia. Oleh karenanya, peneliti jalur darat PT Semen Indonesia
tertarik untuk mengeksplorasi tentang (Persero) Tbk pada saat ini?
evaluasi penerapan ICoFR pada PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk. Selain 1.3 Batasan Masalah
itu, pelaksanaan ICoFR di PT Semen Berdasakan pada pokok masalah yang
Indonesia (Persero) Tbk belum telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini
memperoleh evaluasi khusus dari pihak hanya akan dibatasi pada masalah yang
NYSE. Hal ini membuat PT Semen berkaitan dengan upaya penilaian efektivitas
Indonesia (Persero) Tbk memerlukan ICoFR pada proses bisnis distribusi semen
masukan dari berbagai pihak, baik sak jalur darat PT Semen Indonesia
internal maupun eksternal perusahaan. (Persero) Tbk.
Penelitian ini difokuskan pada
pengendalian internal proses bisnis 1.4 Tujuan Penelitian
distribusi semen sak jalur darat,
mengingat proses bisnis ini memiliki Adapun tujuan dari penelitian ini
urgensi yang tinggi karena berhubungan adalah untuk mengetahui bagaimana
secara langsung dengan pelanggan dan efektivitas ICoFR pada proses bisnis
nilai akun dalam laporan keuangan. Hal distribusi semen sak jalur darat PT Semen
ini dikarenakan proses pengiriman Indonesia (Persero) Tbk pada saat ini.
semen sak melalui jalur darat dilakukan
dengan melibatkan ekspeditur diluar 1.5 Kontribusi Penelitian
anak perusahaan PT Semen Indonesia Penelitian ini diharapkan dapat
(Persero) Tbk. Selain itu, keseluruhan memberikan kontribusi teoritis dan praktis
penjualan semen sak dilakukan dengan berupa:
cara piutang, sehingga diperlukan
pengendalian internal yang efektif untuk 1. Kontribusi Teoritis
meminimalisir risiko yang ada. Penelitian ini diharapkan dapat
Berdasarkan pada hal tersebut, peneliti memberikan keluasan wawasan serta
tertarik untuk mengkaji dan refrensi bagi penelitian selanjutnya.

5
2. Kontribusi Praktis lainnya untuk dapat memberikan keyakinan
a. Bagi Peneliti : Penelitian ini akan yang memadai mengenai kehandalan
memberikan tambahan wawasan pelaporan keuangan dan penyusunan
bagi peneliti seputar ICoFR serta laporan keuangan untuk pihak eksternal,
permasalahan yangada di telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang
dalamnya. berlaku umum.
b. Bagi perusahaan : Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan 2.3 Tujuan pelaksanaan ICoFR
masukan dan rekomendasi
kepada PT Semen Indonesia Tujuan dilaksanakannya ICoFR antara lain:
(Persero) Tbk dalam
mengevaluasi efektivitas ICoFR 1. Memastikan pencatatan yang cukup
atas proses bisnis distribusi rinci, akurat, dan dan wajar atas
semen sak jalur darat untuk transaksi dan pengelolaan
kemajuan perusahaan di masa perusahaan
yang akan datang. 2. Memberikan keyakinan yang
memadai bahwa transaksi telah
2. Tinjauan Pustaka dicatat dengan benar dalam rangka
penyiapan laporan keuangan sesuai
2.1 Audit Internal dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum, dan bahwa setiap
Menurut Standar Profesi Audit penerimaan dan pengeluaran
Internal, Audit Internal adalah kegiatan perusahaan telah mendapatkan
assurance dan konsultasi (consultant) yang otorisas dari manajemen perusahaan.
independen dan obyektif yang dirancang 3. Memberikan keyakinan yang
untuk memberi nilai tambah serta memadai mengenai upaya
meningkatkan kelancaran operasi. Kegiatan pencegahan atas identifikasi
tersebut membantu organisasi mencapai perolehan, penggunaan atau
tujuannya dengan menggunakan pendekatan pengelolaan aset perusahaan tanpa
yang sistematis dan teratur untuk otorisasi yang dapat berdampak
mengevaluasi dan meningkatkan manajemen material atas laporan keuangan.
risiko, pengendalian dan proses governance.
2.4 Ruang Lingkup ICoFR
2.2 Internal Control Over Financial
Reporting (ICoFR) Menurut Sarbanes – Oxley section
404, Ruang lingkup dalam ICoFR
Pengertian ICoFR menurut laporan merupakan wilayah dalam perusahaan yang
Roadmap implementasi ICoFR PT Semen harus diuji pengendalian internal yang ada di
Indonesia (Persero) Tbk tahun 2012 dalamnya. Antara lain :
Konsultan RSM Amir Abadi Jusuf (AAJ)
Associates menyatakan, merupakan sebuah 1. Pengendalian tingkat entitas (Entity
proses yang dirancang oleh, atau berada di Level Control)
bawah pengawasan, Direktur Utama dan Pengendalian yang dibangun oleh
Direktur Keuangan, atau orang-orang yang manajemen untuk memberikan
melaksanakan fungsi serupa, dan keyakinan yang memadai bahwa
dilaksanakan dalam kegiatan perusahaan telah terdapat pengendalian internal
oleh Direksi, Manajemen, dan personil

6
atas laporan keuangan yang sesuai akhir tahun, termasuk
pada seluruh organisasi perusahaan. pengungkapan kelemahan yang
2. Pengendalian tingkat transaksional material (material Weakness)
(Transactional Level Control) mengenai ICoFR yang
Pengendalian tingkat transaksional teridentifikasi oleh manajemen pada
dimana pengedalian lebih fokus pada saat dilakukan penilaian
akun-akun signifikan dan proses (assesment).
serta transaksi terkait yang 3. Laporan atestasi auditor eksternal
memungkinkan terjadi kesalahan terhadap efektivitas ICoFR.
(error) atau kecurangan (fraud) yang 4. Tanggung jawab manajemen untuk
berdampak pada salah saji pada membangun dan memelihara ICoFR
laporan keuangan. perusahaan yang memadai.
3. Pengendalian berbasis teknologi 2.6 Pembangunan ICoFR berdasarkan
informasi (IT Control) COSO Framework
Merupakan pengendalian yang
menggunakan media program Committee of Sponsoring
aplikasi dan teknologi informasi. Organizations of the Treadway Commission,
Pegendalian berbasis teknologi atau disingkat COSO, adalah suatu inisiatif
informasi meliputi : dari sektor swasta yang dibentuk pada tahun
a. IT entity Level Control 1985.Tujuan utamanya adalah untuk
Pengendalian teknologi mengidentifikasi faktor-faktor yang
informasi di tingkat entitas menyebabkan penggelapan laporan
yang mempunyai pengaruh keuangan dan membuat rekomendasi untuk
yang luas (pervasive effect) di mengurangi kejadian tersebut. COSO telah
perusahaan. menyusun kerangka kerja yang disebut
b. IT General Control dengan ‘Internal Control-Integerated
Pengendalian terkait Framework’, atau yang biasa dikenal
pemanfaatan program sebagai COSO Framework, yang dapat
aplikasi yang menunjang digunakan untuk pengendalian, standar, dan
proses bisnis perusahaan kriteria internal untuk menilai sistem
pengendalian mereka.
2.5 Dasar Pelaksanaan ICoFR
Security Exchange Commision
Sarbanes - oxley section 404 (SEC) dan Public Company Accounting
merupakan dasar dari ICoFR. Di mana Oversight Board (PCAOB)
dalam undang-undang tersebut mewajibkan merekomendasikan penggunaan kerangka
manajemen perusahaan yang terdaftar di kerja tersebut dalam ICoFR.COSO
NYSE untuk melaporkan efektivitas ICoFR Framework digunakan sebagai kerangka
dan atestasi auditor eksternal mengenai pengendalian internal dengan pertimbangan
efektivitas ICoFR. Laporan Manajemen bahwa kerangka tersebut dibuat oleh badan
mengenai efektivitas ICoFR harus memuat : professional, dengan mengikuti proses dan
1. Penggunaan kerangka kerja COSO prosedur yang baku, tidak bias, dan
(COSO Framework) sebagai acuan digunakan secara luas sebagai kerangka
untuk mengevaluasi efektivitas kerja pengendalian yang efektif.
ICoFR.
2. Penilaian (assesment) manajemen
mengenai efektivitas ICoFR pada
7
3. Dimensi III adalah lima komponen
pengendalian internal. Kelima
Gambar 2.1 COSO Cube komponen merupakan kerangka
kerja yang dapat dijadikan kriteria
dalam membangun dan
mengevaluasi pengendalian internal.

Sesuai kerangka kerja t ersebut, terdapat lima


komponen pengendalian internal yang saling
terkait dan harus deiterapkan di semua lini
organisasi pada tingkat manapun, mulai dari
group, unit bisnis, sampai tingkat
transaksi/proses bisnis. Kelima komponen
tersebut antara lain :
1. Lingkungan pengendalian – Control
Environment (C E)
Sumber : www.pwc.com Merupakan keadaan yang
mencerminkan sikap, kesadaran dan
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa tindakan manajemen terhadap
terdapat tiga bagian besar (dimensi) dari pengendalian internal. Komponen ini
kerangka kerja COSO yaitu : menciptakan kondisi yang dapat
mempengaruhi kepedulian terhadap
1. Dimensi I yaitu tujuan pengendalian pengendalian intern. Lingkungan
internal, COSO mendefinisikan pengendalian merupakan dasar dari
pengendalian internal adalah proses seluruh komponen pengendalian
yang dilaksanakan oleh komisaris, internal. Atribut pengendalian yang
direksi, manajemen, dan personel dicakup dalam lingkungan
lainnya dalam suatu organisasi, yang pengendalian dapat dijabarkan
dirancang untuk mencapai tujuan sebagai berikut:
organisasi meliputi : a. Integritas, nilai-nilai estetika
a. Efektivitas dan efisiensi operasi dan perilaku konsumen.
(effective and efficient b. Kepedulian manajemen
operations). terhadap pengendalian dan
b. Pelaporan keuangan yang andal gaya pengelolaan manajemen.
(reliable financial reporting) c. Komitmen manajemen
c. Kepatuhan terhadap peraturan terhadap kompetensi.
dan perundangan (compliance d. Partisipasi komisaris/komite
with applicable laws and audit dalam penerapan Good
regulations) Corporate Governance.
2. Dimensi II yaitu ruang lingkup e. Struktur organisasi dan
pengendalian internal yang pendelegasian wewenang dan
menjelaskan bahwa pengendalian tanggung jawab.
internal harus dievaluasi pada 2 level f. Struktur organisasi dan
yaitu level entitas dan level pendelegasian wewenang dan
transaksional. tanggung jawab.

8
g. Kebijakan dan praktik manajemen senior. Aktifitas ini juga
pengelolaan sumber daya mencakup proses pelaporan dan
alam. remidiasi atas difensiensi
2. Penilaian Risiko – Risk Assesment pengandalian internal dalam rangka
(RA) memenuhi kebutuhan SOX Section
Merupakan kegiatan identifikasi dan 404.
analisis risiko yang relevan dan
berpotensi menghambat pencapaian 2.7 Evaluasi ICoFR
tujuan perusahaan, baik pada tingkat
entitas maupun transaksional. Menurut Sarbanes Oxley Section
3. Aktivitas pengendalian – Control 404, evaluasi ICoFR dilaksanakan melalui
Activities (CA) mekanisme audit, oleh internal auditor atau
Aktivitas pengendalian membantu oleh penilaian pihak lain yang independen.
untuk memastikan bahwa arahan Evaluasi oleh Internal Auditor dilakukan
manajemen telah dilaksanakan dan untuk menilai efektivitas ICoFR di
langkah-langkah yang diperlukan perusahaan dengan cara melaksanakan
telah diambil untuk mengatasi risiko, walkthrough dan test of control (TOC).
memberdayakan organisasi untuk Bilamana perlu, atas permintaan manajemen
dapat mencapai tujuannya, penilaian ICoFR dapat dilakukan oleh pihak
melibatkan berbagai proses seperti lain yang independen untuk memberikan
pemberian persetujuan (approvals), bantuan teknis dan konsultasi dalam
otorisasi (authorizations), verifikasi melakukan atestasi atas efektivitas ICoFR.
(verifications), rekonsiliasi Evaluasi ICoFR dilakukan dengan
(reconsiliation), review kinerja pendekatan kualitatif melalui wawancara
operasi, pengamanan aset, dan yang dilakukan oleh pihak eksternal
pemisahan tugas (segregation of perusahaan maupun internal audit.
duties).
4. Informasi dan komunikasi - Menurut Sarbanes Oxley Act 404,
information and communication (IC) terdapat dua aspek yang harus dievaluasi
Informasi yang relevan harus dalam ICoFR, yakni dari aspek desain dan
diseleksi dan dikomunikasikan operasi pengendalian internal. Desain
secara benar dan tepat waktu pengendalian internal dapat dikatakan
sehingga memungkinkan orang efektif apabila :
untuk memenuhi tanggung
jawabnya, baik pada tingkat entitas a. Desain tersebut dapat
maupun transaksional. dilaksanakan secara
5. Pemantauan – Monitoring (MN) operasional.
Monitoring merupakan proses b. Hasil desain dapat memenuhi
berkelanjutan yang digunakan tujuan pengendalian.
manajemen untuk mengevaluasi dan c. Desain tersebut dapat
memelihara kualitas pengendalian menunjukkan risiko
internal. Monitoring mencakup kemungkunan salah saji
aktivitas manajemen dan dalam laporan keuangan serta
pengawasan setiap saat (on-going) upaya yang dilakukan untuk
dalam operasi normal perusahaan, mencegah risiko tersebut.
dan juga aktivits periodik oleh d. Desain tersebut dapat
mencegah atau mendeteksi

9
kesalahan atau kecurangan untuk mengelompokkan kelemahan dari
yang dapat menyebabkan pengendalian internal perusahaan, antara
salah saji material di dalam lain :
laporan keuangan.
i. Control Deficiency (CD) :
Untuk aspek pengujian atas efektivitas merupakan kelemahan yang dimiliki
desain dapat dilakukan melalui walktrough oleh perusahaan dari segi
atas proses bisnis yang berhubungan dengan pengendalian internal atas laporan
pengendalian internal tersebut. Sedangkan keuangan. Untuk kategori ini,
untuk pengujian atas efektivitas operasi kelemahan yang ada dinilai tidak
dapat dilakukan melalui Test of Control signifikan.
(TOC). Langkah – langkah untuk melakukan ii. Significant Deficiency (SD) :
TOC di dalam PT Semen Indonesia merupakan kelemahan yang dihadapi
(Persero) Tbk adalah sebagai berikut : oleh perusahaan dari segi
pengendalian internal atas laporan
a. Melakukan wawancara dengan keuangan. Untuk kategori ini,
pelaku pengendalian. kelemahan yang ada dinilai
b. Menguji dokumen atau bukti yang signifikan.
berhubungan dengan pengendalian iii. Material Weakness (MW) : sama
yang ada. halnya dengan SD, hanya saja untuk
c. Melakukan observasi atas jalannya MW, tingkat kelemahan yang
proses yang ada. dihadapi oleh perusahaan lebih
tinggi, sehingga diperlukan perhatian
Melalui langkah-langkah di atas, khusus dari perusahaan yang
penguji dapat memastikan apakah bersangkutan. Untuk kategori ini,
pengendalian yang ada telah dilaksanakan kelemahan yang ada dinilai
sesuai dengan desain serta apakah personil material.
yang melaksanakan pengendalian memilki
kompetensi dan otoritas untuk menjalankan Evaluasi efektivitas ICoFR dilakukan
pengendalian secara efektif. Apabila dari melalui mekanisme wawancara yang
kedua aspek tersebut ditemukan defisiensi, berurutan, dimulai dengan Box 1. Jawaban
maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan dari narasumber akan menentukan alur dan
adalah mengkategorikan defisiensi tersebut kategori dari defisiensi yang ditemukan.
berdasakan kategori yang ada. Adapun mekanisme wawancara ditampilkan
dalam diagram berikut ini:
Dalam melakukan evaluasi atas
operasi ICoFR, terdapat beberapa istilah
penting yang dijadikan sebagai kategori

10
Diagram 2.1 Alur penilaian secara kualitatif

Box 1
Apakah terdapat Box 5
kemungkinan (reasonable Apakah defisiensi yang terjadi
possibility) control tidak cukup penting sehingga berpotensi
dapat mencegah atau menjadi perhatian bagi pihak yang
mendeteksi salah saji menajalankan fungsi oversight dari
signifikan pelaporan keuangan perusahaan
Tidak dan apakah prudent official
menyimpulkan bahwa difesiensi
Ya tersebut setidaknya significant
deficiency dengan
Box 2 Tid ak
mempertimbangkan laporan Tidak
Apakah terdapat keuangan iinterm dan akhir tahun? Signifikan
Compesanting Control yang
(Control
telah diuji dan evaluasi
Difeciency)
untuk mengurangi dampak
potensi salah saji laporan
keuangan menjadi kurang
signifikan? Ya

Tidak
Box 3 Box 6
Apakah terdapat Apakah prudent official
kemungkinan (reasonable menyimpulkan bahwa difesiensi
possibility) control tidak Tidak
tersebut merupakan material
dapat mencegah atau weakness dengan Tidak (Significant
mendeteksi salah saji mempertimbangkan laporan Deficiency)
material? keuangan nterm dan akhir tahun?

Ya
Ya
Box 4 Ya
Apakah terdapat
Compesating Control yang
telah diuji dan dievaluasi Material
untuk mengurangi dampak (Material Weakness)
potensi salah saji laporan
keuangan menjadi kurang
dari material?
Tidak

Sumber : Sarbanes Oxley Section 404 – data diolah

3. Metode Penelitian penelitian terhadap fenomena atau populasi


tertentu yang diperoleh peneiti dari subjek
3.1 Jenis Penelitian berupa : individu, organisasional, industri,
atau perspektif yang lain.
Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Metode kualitatif Penelitian kualitatif deskriptif
deskriptif. Metode kualitatif adalah metode merupakan penelitian yang menghasilkan
penelitan yang bermaksud untuk memahami data-data deskriptif berupa kata-kata yang
fenomena tentang apa yang dialami oleh tertulis atau lisan dari orang-orang dan
objek penelitian secara holistic dan dengan perilaku yang dilakukannya dengan
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan mendalami kajian pustaka, data dan angka
bahasa, pada konteks khusus yang alamiah sehingga realitas dapat dipahami dengan
dan dengan memanfaatkan berbagai metode baik. Dalam penelitian ini, metode kualitatif
ilmiah (Moleong, 2009:6). Sedangkan deskriptif diterapkan melalui mekanisme
pengertian metode deskriptif menurut wawancara dengan objek staff Biro Audit
Indriantoro dan Supomo (2009:88) adalah Akuntansi dan Keuangan Grup PT Semen

11
Indonesia (Persero) Tbk untuk memperoleh Teknik wawancara adalah
pemahaman atas alur proses bisnis dan melakukan tanya jawab langsung
pengendalian internal yang terdapat dalam dengan responden atau obyek yang
proses bisnis distribusi semen sak jalur darat diteliti untuk memperoleh data yang
melalui kata-kata yang disampaikan oleh diperlukan (Moleong, 2009).
narasumber. Wawancara dalam penelitian ini
dilakukan kepada pihak-pihak yang
3.2 Jenis Data berhubungan secara langsung dengan
aktivitas pengendalian internal pada
Jenis data dalam penelitian ini adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk,
data primer. Data Primer adalah data yang antara lain:
diperoleh dan dikumpulkan dengan cara a. Kepala Biro Audit Akuntansi
melakukan pengamatan langsung dan Keuangan Grup PT Semen
pencatatan untuk pertama kalinya dengan Indonesia (Persero) Tbk,
keadaan yang sebenarnya (Moleong, 2009). yaitu Ibu Erfanti Qodarsih.
Data pada penelitian ini diperoleh secara b. Staff Biro Audit Akuntansi
langsung dari Biro Audit Akuntansi dan Keuangan Grup PT Semen
Keuangan Group PT Semen Indonesia Indonesia Bapak Dian
(Persero) Tbk. Data yang digunakan berupa Prapanca.
data hasil wawancara dan pengamatan
langsung terkait pengendalian internal atas Metode pengumpulan data dalam peleitian
proses bisnis distribusi semen sak jalur darat ini mengacu pada ketentuan Sarbanes Oxley
dan laporan-laporan yang berkaitan dengan Section 404,di mana untuk mendapatkan
ICoFR, yakni Risk Control Matrix (RCM) data yang mencukupi sebagai bahan evaluasi
untuk proses bisnis distribusi semen sak ICoFR, dapat melalui Walkthrough dan Test
jalur darat. of Control (TOC). Melalui Walkthrough
peneliti menyusuri proses bisnis yang ada,
3.3 Metode Pengumpulan Data mulai dari hilir ke hulu. Sedangkan melalui
Test of Control (TOC), peneliti melakukan
Teknik pengumpulan data yang digunakan pengujian pada pengendalian yang ada,
dalam penelitian ini adalah : dengan menguji dokumen yang
berhubungan dengan proses bisnis tersebut.
1. Studi dokumentasi
Studi dokumentasi adalah metode 3.4 Metode Analisis Data
pengumpulan data yang dilakukan
dengan mengumpulkan catatan- Teknik analisis data yang digunakan
catatan, arsip-arsip, dan laporan- dalam penelitian ini adalah teknik analisis
laporan yang terdapat di objek yang kualitatif yang menggunakan metode
diteliti (Moleong, 2009).Arsip yang deskriptif, yaitu dengan metode
digunakan dalam penelitian ini mengumpulkan, menyusun,
adalah Risk Control Matrix (RCM). menginterpretasikan, dan menganalisa data
RCM merupakan tabel risiko dalam sehingga memberikan keterangan yang
sebuah proses bisnis beserta cara lengkap bagi pemecah masalah yang
yang digunakan untuk mengurangi dihadapi (Moleong, 2009). Langkah-langkah
risiko tersebut. yang dilakukan dalam mengolah dan
menganalisis data adalah sebagai berikut :
2. Teknik wawancara

12
1. Mengidentifikasi proses bisnis dan Bursa Efek Surabaya sehingga
distribusi barang jadi PT Semen menjadikannya BUMN pertama yang
Indonesia (Persero) Tbk melalui go public dengan menjual 40 juta
wawancara dengan Biro Audit lembar saham kepada masyarakat.
Akuntansi dan Keuangan Grup PT Pada tanggal 20 Desember 2012,
Semen Indonesia (Persero) Tbk. melalui Rapat Umum Pemegang
2. Mengidentifikasi desain Saham Luar Biasa (RUPSLB)
pengendalian internal yang ada pada Perseroan, resmi mengganti nama dari
proses bisnis distribusi barang jadi PT Semen Gresik (Persero) Tbk,
melalui Risk Control Matrix (RCM). menjadi PT Semen Indonesia (Persero)
3. Melakukan Walkthrough dan Test of Tbk. Penggantian nama tersebut,
Control atas proses bisnis distribusi sekaligus merupakan langkah awal dari
barang jadi untuk memperoleh data upaya merealisasikan terbentuknya
dan untuk mengetahui apakah Strategic Holding Group yang
pengendalian internal yang ada ditargetkan dan diyakini mampu
sudah dilakukan sesuai dengan mensinergikan seluruh kegiatan
prosedur atau belum. Melalui proses operasional. Saat ini kapasitas
ini, peneliti dapat mengevaluasi terpasang Semen Indonesia sebesar 29
desain dan operasi pengendalian juta ton semen per tahun, dan
internal dalam proses bisnis menguasai sekitar 42% pangsa pasar
distribusi barang jadi. semen domestik. Semen Indonesia
4. Apabila dari proses sebelumnya memiliki anak perusahaan PT Semen
ditemukan defisiensi, maka langkah Gresik, PT Semen Padang, PT Semen
selanjutnya yang perlu dilakukan Tonasa dan Thang Long Cement.
adalah mengkategorikan defisiensi
4.2 Proses Bisnis Distribusi Semen Sak
tersebut ke dalam Control Deficiency
Jalur Darat
(CD), Significant Deficiency (SD),
atau Material Weakness (MW). Dalam penelitian ini, peneliti
membatasi proses bisnis distribusi barang
4. Pembahasan jadi untuk produk semen sak di pabrik
Gresik milik PT Semen Indonesia (Persero)
4.1 Gambaran Umum PT Semen Tbk melalui Jalur Darat (truk). Proses
Indonesia (Persero) Tbk. bisnis distribusi semen sak melalui jalur
darat dimulai dari truk masuk ke silo untuk
PT Semen Indonesia (Persero) memuat semen sampai dengan memberikan
Tbk adalah produsen semen terbesar di semen terebut kepada pelanggan. Rincian
Indonesia. Pada tanggal 20 Desember dari proses bisnis ini diperoleh melalui
2012, PT Semen Indonesia (Persero) wawancara dengan Biro Audit Akuntansi
Tbk resmi berganti nama dari dan Keuangan Grup PT Semen Indonesia
sebelumnya bernama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Proses bisnis ini dibagi
(Persero) Tbk. PT Semen Indonesia menjadi beberapa bagian, antara lain :
(Persero) Tbk diresmikan di Gresik
1. Proses matching antrian truk di kargo.
pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh
2. Proses timbang kosong.
Presiden RI pertama dengan kapasitas
3. Proses pemuatan dan pengiriman
terpasang 250.000 ton semen per
semen.
tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 Semen
Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta

13
4.3 Flowchart Proses Bisnis Distribusi itu, melalui flowchart ini peneliti juga dapat
Semen Sak Jalur Darat mengidentifikasi letak pengendalian
Setelah memperoleh deskripsi yang internal yang dilakukan dalam proses bisnis
cukup dari Biro Audit Akuntansi dan dengan tepat. Sehingga prosedur evaluasi
Keungan Group PT semen Indonesia pengendalian internal nantinya dapat
(Persero) Tbk, selanjutnya peneliti dilakukan secara sistematis. Berikut adalah
menyusun flowchart untuk memudahkan flowchart proses bisnis distribusi Semen
dalam pemetaan proses bisnis serta Sak untuk Jalur Darat.
pengendalian yang sudah dilakukan. Selain

Diagram 4.1 Desain Proses Matching Antrian Truk di Kargo


Desain Proses Matching Antrian Truk di Kargo

Driver Petugas Kargo Seksi Penyerahan Ekspeditur

Start

C1
Truk Masuk
untuk antri
dan discan
RFID
Kitir
C2
C3 Mengakses
Data Antrian List Sales
Truk Order dan
Antrian
Truk dalam
Kitir SAP

Menyerah Melakukan
Kitir kan kitir Matching
kepada data Truk dan
driver alamat
pengiriman
Menyiapkan
surat
Menyerahkan
permintaan
kitir kepada
pengiriman
seksi
penyerahan (SPP)

Surat
Permintaan
Pengiriman Surat
(SPP) Permintaan
Pengiriman
(SPP)
Menuju
Area
Penimbang
an untuk
Timbang Memberikan
Kosong SPP kepada
Driver

Sumber : Data Diolah


Untuk proses matching antrian truk di C2 : Otomatisasi blokir Sales Order (SO)
kargo , pengendalian internal dilakukan pada sistem untuk SO distributor yang
pada poin C1, C2, dan C3. Dengan jaminannya tidak mencukupi. Matching
deskripsi sebagai berikut : untuk SO tersebut baru dapat dilakukan
C1 : Scan RFID hanya mengenali truk yang setelah distributor menyelesaikan masalah
terdapat dalam master data truk. jaminannya.

14
C3 : Personel Seksi Penyerahan dengan daftar SO yang diterima dari Seksi
mencocokkan antara daftar antrian truk Administrasi Penjualan.

Diagram 4.2 Desain Proses Timbang Kosong


Desain Proses Timbang Kosong
Satpam Pos V Driver Petugas Timbang Kosong

SPP

Melakukan
C4
Pemeriksaan
STNK dan Truk Masuk C5
SIM serta Area
Memberikan
kondisi Truk Timbangan
Approval
dan discan
pada SPP
RFID
Driver
SIM
STNK
SPP
Memberikan
(Approved)
SPP pada
petugas
timbang
kosong
Truk
ditimbang
Kosong

Menyiapkan
Proximity Bag
Kartu Marker dan
SIPS
Proximity mencetak Surat
Bag Marker Izin Pemuatan
Semen (SIPS)

Kartu
Proximity
Menuju SIPS
BagMarker
Proses
Pemuatan

Memberikan
Proximity Bag
Marker dan mencetak
Surat Izin
2 Pengeluaran Semen
(SIPS) pada driver

Sumber : Data Diolah


Untuk proses timbang kosong, C4 : Scan RFID hanya mengenali truk yang
pengendalian internal dilakukan pada poin terdapat dalam master data truk.
C4 dan C5 dengan deskripsi sebagai berikut C5 : petugas timbangan memberikan
: Approval pada SPP Driver.

15
Diagram 4.3 Desain Proses Pemuatan dan Pengiriman Semen (1 dari 2)
Desain Proses Pemuatan dan Pengiriman Semen (1 dari 2)
Driver Petugas Seksi Packer Petugas Timbang Isi

Proximity
Bag Marker SIPS
Menyerahkan
Kartu Proximity
Bag Marker dan
SIPS

Proximity
Bag Marker SIPS Menerima
proximity bag
marker dan SIPS
serta mencetak
Surat Perintah
Jalan (SPJ) untuk
driver

C6
Mencetak Kode
Pengiriman
pada kantong
semen melalui
inkjet printer
SPJ

Memuat Semen pada


Truk dn memberikan
proximity bag
marker serta SIPS
3
pada petugas
timbang isi

Sumber : Data Diolah

16
Diagram 4.4 Desain Proses Pemuatan dan Pengiriman Semen (2 dari 2)
Desain Proses Pemuatan dan Pengiriman Semen (2 dari 2)
Seksi Administrasi,
Driver Pos Satpam Keluar Distributor Distribusi, dan
Transportasi

Menerima SPJ
dari Petugas
Timbang Isi
C7
Memeriksa
SPJ dan Driver
Semen Menyerahkan SPJ
dalam Truk pada seksi
Administrasi,
Distribusi, dan
Truk Transportasi
Menuju SPJ
(Stamped)
Lokasi
Pengiriman C8
Mmberikan
Stempel
dan Tanda
Tangan SPJ SPJ

SPJ
Arsip

End

Sumber: Data Diolah


Untuk proses pemuatan dan pengiriman C8 : SPJ yang telah ditandatangani oleh
semen, pengendalian internal dilakukan pelanggan sebagai bukti bahwa barang
pada poin C6, C7 dan C8 dengan deskripsi telah diterima diserahkan kepada Seksi
sebagai berikut : Administrasi, Distribusi, dan Transportasi.
C6 : Pada setiap kantong semen yang 4.4 Risk Control Matrix Proses Bisnis
dikeluarkan dicetak kode pengiriman yang Distribusi Semen Sak Jalur Darat
unik. Aktivitas pengendalian internal di
C7 : Truk yang akan meninggalkan area dalam proses bisnis distribusi semen sak
pabrik diperiksa oleh Satpam dan SPJ yang dibuat dengan mempertimbangkan risiko
dibawa driver akan distempel oleh Satpam. yang ada. Dari risiko yang sudah

17
teridentifikasi, dilakukan upaya yang ada. Antara lain jenis risiko, deskripsi
pengendalian atas risiko tersebut. aktivitas pengendalian, tujuan
Ringkasan dari upaya tersebut dikumpulkan pengendalian, serta akun dalam laporan
dan disusun dalam sebuah tabel bernama keuangan yang berhubungan dengan risiko
Risk Control Matrix (RCM). tersebut (Related Account). Tabel dibawah
RCM merupakan tabel isian yang ini merupakan RCM dari proses bisnis
memberikan beberapa keterangan atas distribusi semen sak jalur darat pada PT
aspek yang berhubungan dengan risiko Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Tabel 4.1 Risk Control Matrix Proses Bisnis Distribusi Semen Sak Jalur Darat
No Risiko Deskripsi Aktivitas Tujuan Pengendalian Related Account
Pengendalian
C1 Pengiriman Scan RFID hanya Untuk menjaga Beban Angkut dan
dilakukan oleh mengenali truk yang kesesuaian data truk Persediaan Barang
truk yang tidak terdapat dalam master pengangkutan semen. Jadi
sesuai. data truk.
C2 Truk yang Otomatisasi blokir SO Untuk menghindari Beban Angkut dan
masuk ke dalam pada sistem untuk SO adanya penjualan yang Persediaan Barang
silo tidak sesuai distributor yang tidak didukung dengan Jadi
dengan data jaminannya tidak kecukupan jaminan
yang ada. mencukupi. Matching distributor
untuk SO tersebut baru
dapat dilakukan setelah
distributor
menyelesaikan masalah
jaminannya.
C3 Kuantitas Personel Seksi Untuk memastikan Beban Angkut dan
persediaan yang Penyerahan kesesuaian data SO Persediaan Barang
dikeluarkan mencocokkan antara dengan kapasitas truk Jadi
berbeda dengan daftar antrian truk pengangkut.
kuantitas dengan daftar SO yang
pesanan diterima dari Seksi
pembelian yang Administrasi
tercatat pada Penjualan.
database.
C4 Data truk Scan RFID hanya Untuk menjaga Beban Angkut dan
pengangkut mengenali truk yang kesesuaian data truk Persediaan Barang
semen tidak terdapat dalam master pengangkutan semen Jadi
sesuai dengan data truk. dengan database.
database
C5 Pengiriman Sebelum masuk ke area Untuk menghindari Beban Angkut dan
semen tidak pemuatan semen, SPP pengiriman semen yang Persediaan Barang
terotorisasi yang dibawa driver tidak terotorisasi Jadi, Piutang.
harus diapprove oleh
Petugas Timbangan.
C6 Pengiriman Di setiap kantong Untuk menghindari Beban Angkut dan
semen tidak semen yang dikirimkan pengiriman semen yang Persediaan Barang
terotorisasi dicetak kode tidak terotorisasi Jadi
pengiriman yang unik
C7 Pengiriman Truk yang akan Untuk menghindari Beban Angkut dan
semen tidak meninggalkan area pengiriman semen yang Persediaan Barang
terotorisasi timbangan diperiksa tidak terotorisasi Jadi
oleh Satpam dan SPJ

18
yang dibawa driver
akan distempel oleh
Satpam.
C8 Pengiriman SPJ yang telah Untuk menghindari Beban Angkut dan
semen tidak ditandatangani oleh pengiriman semen yang Persediaan Barang
terotorisasi pelanggan sebagai tidak terotorisasi. Jadi
bukti bahwa barang
telah diterima
diserahkan kepada
Seksi Administrasi,
Distribusi, dan
Transportasi.
Sumber : Data Diolah
Melalui RCM peneliti dapat dilakukan oleh PT Semen Indonesia
mengetahui dokumen-dokumen yang (Persero) Tbk. Berikut adalah tabel untuk
berhubungan dengan aktivitas pengendalian dokumen yang berhubungan dengan
internal yang ada. Dokumen inilah yang pengendalian internal untuk proses bisnis
nantinya akan digunakan sebagai sampel pengiriman semen sak jalur darat.
untuk mengevaluasi ICoFR yang sudah
Tabel 4.2 Dokumen Pengendalian Internal
No Related Documents Keterangan
1 Daftar Sales Order (SO) Terdapat dalam SAP perusahaan, berisi daftar Sales
Order yang dikelola oleh sakian penjualan.
2 Master data truk Terdapat dalam SAP perusahaan, berisi daftar nomor
polisi truk, nomor polisi, nama driver, dan
ekspeditur.
3 Daftar antrian truk Terdapat dalam SAP perusahaan, berisi daftar nomor
polisi truk, nomor polisi, nama driver, dan
ekspeditur.
4 Surat Permintaan Pengiriman Merupakan surat yang dikeluarkan oleh ekspeditur
(SPP) yang telah disetujui oleh sebagai tanda bahwa supir dari truk yang
Petugas Timbangan bersangkutan merupakan wakil dari ekspeditur
tersebut, dan telah disetujui oleh petugas timbangan
kosong.
5 Kartu Proximity Bag Marker Merupakan kartu yang memiliki nomor unik dan
berfungsi untuk menghindari pengeluaran persediaan
yang tidak terotorisasi
6 Surat Perintah Jalan (SPJ) yang Merupakan surat yang dikeluarkan oleh PT Semen
telah distempel oleh Satpam Indonesia (Persero) Tbk yang menunjukkan detil dari
truk pengangkut semen dan telah diotorisasi oleh
satpam keluar.
7 Surat Izin Pengeluaran Semen Merupakan surat yang dikeluarkan oleh PT Semen
(SIPS) Indonesia (Persero) Tbk yang menunjukkan bahwa
truk pengangkut semen tersebut telah mendapatkan
izin dari shipping untuk mengirimkannya kepada
distributor
8 Surat Perintah Jalan (SPJ) yang Merupakan surat yang dikeluarkan oleh PT Semen
telah ditandatangani oleh Indonesia (Persero) Tbk yang menunjukkan detil dari
pelanggan truk pengangkut semen dan menunjukkan bahwa
semen yang ada telah diterima oleh pelanggan.

Sumber : Data Diolah

19
4.5 Evaluasi desain dan operasi ICoFR Indonesia (Persero) Tbk adalah sebagai
berikut :
Menurut Sarbanes Oxley Act Section
404, terdapat dua aspek yang harus a. Melakukan wawancara dengan
dievaluasi dalam ICoFR, yakni aspek desain pelaku pengendalian.
dan aspek operasi pengendalian internal. b. Menguji dokumen atau bukti
Desain pengendalian internal dapat yang berhubungan dengan
dikatakan efektif apabila : pengendalian yang ada.
c. Melakukan observasi atas
a. Desain tersebut dapat jalannya proses yang ada.
dilaksanakan secara
operasional. Melalui langkah-langkah tersebut,
b. Hasil desain dapat memenuhi peneliti dapat memastikan apakah
tujuan pengendalian. pengendalian yang ada telah dilaksanakan
c. Desain tersebut dapat sesuai dengan desain serta apakah personil
menunjukkan risiko yang melaksanakan pengendalian memilki
kemungkinan salah saji dalam kompetensi dan otoritas untuk menjalankan
laporan keuangan serta upaya pengndalian secara efektif. Apabila dari
yang dilakukan untuk kedua aspek tersebut ditemukan defisiensi,
mencegah risiko tersebut. maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan
d. Desain tersebut dapat adalah mengkategorikan defisiensi tersebut
mencegah atau mendeteksi berdasakan kategori yang ada.
kesalahan atau kecurangan Berdasarkan pada kriteria yang ada,
yang dapat menyebabkan salah peneliti melakukan observasi lapangan
saji material di dalam laporan untuk mengetahui apakah desain
keuangan. pengendalian yang sudah disusun sesuai
dengan implementasi di lapangan. Peneliti
Untuk aspek pengujian atas melakukan wawancara dan observasi
efektivitas desain dapat dilakukan melalui dengan staff seksi penyerahan danpetugas
walktrough atas proses bisnis yang timbang kosong dan isi untuk mengetahui
berhubungan dengan pengendalian internal penerapan pengendalian internal atas proses
tersebut. Walktrough dilakukan dengan cara bisnis distribusi semen sak melalui jalur
menelusuri proses bisnis dari hilir ke hulu. darat yang dilakukan oleh PT Semen
Sedangkan untuk pengujian atas efektivitas Indonesia (Persero) Tbk. Berikut adalah
operasi dapat dilakukan melalui Test of hasil wawancara dan observasi yang
Control (TOC). Langkah – langkah untuk dilakukan oleh peneliti :
melakukan TOC di dalam PT Semen

Tabel 4.3 Hasil Wawancara dan Observasi


No Deskripsi Person in Implementasi
Pengendalian charge Ya Sering Kadang Jarang Tidak Keteranga
n
1 Otomatisasi Staff Seksi V Otomatisasi
blokir SO pada Penyerahan blokir
sistem untuk dilakukan
SO distributor dengan
yang menggunak

20
jaminannya an aplikasi
tidak SAP
mencukupi. Turunan
Matching
untuk SO
tersebut baru
dapat
dilakukan
setelah
distributor
menyelesaikan
masalah
jaminannya.
2 Scan RFID Petugas V Hasil dari
hanya Kargo Scan RFID
mengenali truk dimasukkan
yang terdapat kedalam
dalam master komputer
data truk. untuk
dicocokkan
dengan
database
truk secara
otomatis
3 Personel Seksi Staff Seksi V Database
Penyerahan Penyerahan untuk
mencocokkan antrian truk
antara daftar dan daftar
antrian truk Sales Order
dengan daftar diakses
SO yang melalui
diterima dari SAP
Seksi Turunan
Administrasi
Penjualan.
4 Scan RFID Petugas V Hasil dari
hanya Jembatan Scan RFID
mengenali truk Timbang dimasukkan
yang terdapat kedalam
dalam master komputer
data truk. untuk
dicocokkan
dengan
database
truk secara
otomatis
5 Sebelum Petugas V Setiap SPP
masuk ke area Timbangan sudah di
pemuatan . approve
semen, SPP
yang dibawa
driver harus
diapprove oleh
Petugas
Timbangan.

21
6 Di setiap Seksi v Proximity
kantong semen Packer. sak marker
yang sudah tidak
dikirimkan digunakan
dicetak kode sejak tahun
pengiriman 2013,
yang unik dikarenakan
banyak
yang rusak.
7 Truk yang Satpam. V Setiap SPP
akan sudah di
meninggalkan approve dan
area timbangan di arsip
diperiksa oleh oleh seksi
Satpam dan administrasi
SPJ yang ,
dibawa driver distribusi,da
akan distempel n
oleh Satpam. transportasi.
8 SPJ yang telah Staff Seksi V Setiap SPP
ditandatangani Administra sudah di
oleh pelanggan si, approve
sebagai bukti Distribusi, oleh
bahwa barang dan pelanggan
telah diterima Transportas dan di arsip
diserahkan i oleh seksi
kepada Seksi administrasi
Administrasi, ,
Distribusi, dan distribusi,da
Transportasi. n
transportasi.
Sumber : Data Diolah
Berdasarkan pada hasil observasi dan barang jadi semen sak jalur darat efektif. Hal
wawancara yang dilakukan, peneliti ini terlihat pada desain risk control matrix
menyimpulkan bahwa seluruh desain yang sudah disusun oleh PT Semen
aktivitas pengendalian internal yang Indonesia (Persero) Tbk dengan format
dilakukan oleh PT Semen Indonesia sebagaiberikut:
(Persero) Tbk pada proses bisnis distribusi

Tabel 4.4 Desain Risk Control Matrix


No Risiko Deskripsi Aktivitas Tujuan Pengendalian Related Account
Pengendalian
C1 Penjualan yang ada Otomatisasi blokir SO pada Untuk menghindari Beban Angkut dan
tidak didukung dengan sistem untuk SO distributor adanya penjualan yang Persediaan Barang
kecukupan jaminan yang jaminannya tidak tidak didukung dengan Jadi
distributor. mencukupi. Matching untuk kecukupan jaminan
SO tersebut baru dapat distributor
dilakukan setelah distributor
menyelesaikan masalah
jaminannya.

22
C2 Truk yang masuk ke Scan RFID hanya mengenali Untuk menjaga Beban Angkut dan
dalam silo tidak sesuai truk yang terdapat dalam kesesuaian data truk Persediaan Barang
dengan data yang ada. master data truk. pengangkutan semen. Jadi

Sumber : Data Diolah


Melalui desain Risk Control Matrix tersebut, keseluruhan sudah cukup efektif. Hanya
dapat disimpulkan bahwa rancangan saja memerlukan perbaikan pada salah satu
pengendalian internal yang ada dapat upaya pengendalian internal, yakni
menunjukkan risiko salah saji dalam laporan penggunaan Proximity Bag Marker (PBM)
keuangan serta upaya yang dilakukan untuk sebagai salah satu upaya untuk menghindari
mencegah risiko tersebut. adanya pengiriman semen yang tidak
terotorisasi. Absennya penggunaan PBM
Selain itu, desain pengendalian ini dapat dikategorikan sebagai defisiensi.
internal tersebut dapat dilaksanakan secara PBM merupakan cetakan yang
operasional. Hal ini terlihat pada saat digunakan untuk menyemprotkan inkjet
peneliti melakukan walkthrough pada printer pada sak semen. PBM berfungsi
seluruh pengendalian internal, seluruh untuk memberikan kode pengiriman yang
aktivitas yang ada dilakukan dengan baik. disesuaikan dengan SIPS pada setiap
Di sisi lain, hasil desain pengendalian kantung semen. Berdasarkan pada
internal tersebut dapat memenuhi tujuan wawancara yang dilakukan, peneliti
pengendalian dan mencegah atau menemukan bahwa PBM sudah tidak
mendeteksi kesalahan atau kecurangan yang digunakan sejak tahun 2013. Hal ini
dapat menyebabkan salah saji material di disebabkan karena banyaknya PBM yang
dalam laporan keuangan. Hal ini terlihat dari rusak. Dampak yang ditimbulkan oleh tidak
tidak adanya komplain dari distributor adanya PBM adalah, kemungkinan
maupun permasalahan yang diakibatkan pengiriman semen yang tidak terotorisasi
oleh salah saji material dalam laporan akan semakin besar. Hal ini dikarenakan
keuangan yang dialami oleh PT Semen Compensating Control yang ada tidak
Indonesia (Persero) Tbk. berjalan dengan baik. Untuk mengetahui
kategori dari defisiensi ini, peneliti
Sedangkan untuk aspek operasi,
menggunakan mekanisme yang telah
peneliti menyimpulkan pengendalian
disusun oleh Sarbanes Oxley Section 404.
internal yang dilakukan oleh PT Semen
Mekanisme tersebut dirangkum dalam
Indonesia (Persero) Tbk untuk proses bisnis
diagram di bawah ini.
distribusi semen sak jalur darat secara

23
Diagram 4.5 Proses kategori defisiensi
Box 1
Apakah terdapat Box 5
kemungkinan (reasonable Apakah defisiensi yang terjadi
possibility) control tidak cukup penting sehingga berpotensi
dapat mencegah atau menjadi perhatian bagi pihak yang
mendeteksi salah saji menajalankan fungsi oversight dari
signifikan pelaporan keuangan perusahaan
Tidak
dan apakah prudent official
Ya menyimpulkan bahwa difesiensi
Ya tersebut setidaknya significant
Box 2 deficiency dengan
Tidak Tidak
Apakah terdapat mempertimbangkan laporan
Compesanting Control yang keuangan iinterm dan akhir tahun? Signifikan
telah diuji dan evaluasi (Control
untuk mengurangi dampak Difeciency)
potensi salah saji laporan
keuangan menjadi kurang
signifikan? Ya

Tidak
Box 3 Box 6
Apakah terdapat Apakah prudent official
kemungkinan (reasonable menyimpulkan bahwa difesiensi
possibility) control tidak Tidak
tersebut merupakan material
dapat mencegah atau weakness dengan Tidak (Significant
mendeteksi salah saji mempertimbangkan laporan Deficiency)
material? keuangan nterm dan akhir tahun?

Ya
Ya
Box 4 Ya
Apakah terdapat
Compesating Control yang
telah diuji dan dievaluasi Material
untuk mengurangi dampak (Material Weakness)
potensi salah saji laporan
keuangan menjadi kurang
dari material?
Tidak

Sumber : Sarbanes Oxley Section 404, Data diolah


Peneliti memulai proses Setelah itu, proses penggolongan
penggolongan kategori defisiensi dengan dilanjutkan dengan mengidentifikasi
mengidentifikasi apakah terdapat apakah masih terdapat pengendalian
kemungkinan pengendalian yang ada tidak pengganti yang mampu mengurangi
dapat mencegah atau mendeteksi salah saji dampak potensi salah saji laporan keuangan
signifikan. Berdasarkan pengamatan yang menjadi kurang signifikan. Berdasarkan
dilakukan melalui RCM, defisiensi ini pengamatan yang dilakukan oleh peneliti
dapat mengakibatkan salah saji yang melalui RCM, terdapat pengendalian
signifikan. Hal ini dikarenaka semakin pengganti berupa penggunaan SIPS sebagai
besar kemungkinan terjadi pengiriman pemberi identitas atas semen yang akan
semen yang tidak terotorisasi. Selain itu, dikirimkan kepada distributor. Penggunaan
dengan tidak adanya PBM dalam proses SIPS ini berguna untuk mengurangi potensi
bisnis ini dapat berakibat nilai dari akun salah saji dalam akun beban angkut dan
beban angkut dan persediaan barang jadi persediaan barang jadi yang disebabkan
menjadi tidak akurat. oleh pengiriman semen yang tidak
terotorisasi. Dengan adanya pengendalian

24
pengganti ini, proses penggolongan distributor. Kode unik tersebut dicantumkan
dilanjutkan ke box 5. pada sak semen dengan menggunakan inkjet
Pada box 5, peneliti mengidentifikasi printer. Absennya penggunaan PBM dapat
apakah defisiensi yang terjadi cukup penting memperbesar kemungkinan pengiriman
sehingga berpotensi menjadi perhatian bagi semen yang tidak terotorisasi, karena tidak
pihak yang menjalankan fungsi oversight ada kode unik yang dicantumkan pada sak
dari pelaporan keuangan perusahaan. semen.
Melalui pengamatan lapangan yang
dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan Melalui wawancara yang dilakukan
bahwa penggunaan SIPS sudah cukup untuk oleh peneliti, penggunaan PBM sudah tidak
mengurangi potensi pengiriman semen yang dilakukan sejak tahun 2013. Hal ini
tidak terotorisasi. Mengingat bahwa dalam disebabkan oleh banyaknya PBM yang
SIPS sudah tercantum identitas pengangkut rusak. Sebagai solusi, sampai dengan saat ini
semen, tujuan pengiriman, serta jumlah dan perusahaan mengandalkan Surat Izin
jenis semen yang akan dikirimkan ke Pengeluaran Semen (SIPS) sebagai pemberi
distributor. identitas untuk sak semen yang akan
Berdasarkan pada mekanisme dikirimkan kepada distributor. Menurut
tersebut, peneliti mengkategorikan peneliti, hal ini masih belum cukup efektif
defisiensi yang terjadi sebagai Control dalam mengurangi risiko pengiriman semen
Deficiency (tidak signifikan). Dengan yang tidak terotorisasi, karena masih
pertimbangan, bahwa meskipun terdapat kemungkinan bahwa pihak loader,
pengendalian tersebut tidak berjalan dengan satpam, dan driver truk bekerja sama untuk
baik, masih terdapat pengendalian mengeluaran semen secara illegal. Menurut
pengganti (Compensating Control) yang peneliti, untuk mengurangi risiko tersebut
mampu mengurangi dampak potensi salah sebaiknya ditambahkan sebuah sistem yang
saji dalam laporan keuangan. Pengendalian terhubung secara otomatis dengan database
pengganti tersebut adalah penggunaan SIPS barang jadi perusahaan. Sehingga, pada saat
sebagai pemberi otorisasi dari semen sak semen dikeluakan dari silo, secara otomatis
yang akan dimuat oleh truk. Selain itu, jumlah persediaan barang jadi dalam
menurut peneliti dengan adanya database akan berkurang.
penggunaan SIPS sebagai pengendali
Sistem tersebut dapat
pengganti ini, defisiensi yang terjadi tidak
diimplementasikan dengan menggunakan
berpotensi menjadi perhatian secara khusus
Radio Frequency Identification (RFID).
bagi pihak yang menjalankan fungsi
Penerapan RFID dapat dilakukan dengan
oversight atas pelaporan keuangan.
cara mencetak kode unik pada setiap sak
4.6 Saran untuk perbaikan defisiensi semen yang akan digunakan dalam
membungkus semen. Sedangkan untuk
Berdasarkan pada Risk Control scanner RFID dapat diletakkan diatas
Matrix untuk proses bisnis distribusi semen conveyor. Sehingga pada saat semen
sak jalur darat, penggunaan Proximity Bag dikeluarkan dari silo dan melewati conveyor,
Marker (PBM) berguna untuk mengurangi secara otomatis database persediaan barang
risiko pengiriman semen yang tdak jadi di dalam perusahan akan berkurang.
terotorisasi. PBM merupakan papan cetakan Sistem ini lebih praktis jika dibandingkan
yang nantinya digunakan untuk dengan penggunaan PBM, karena petugas
mencantumkan kode unik pada setiap sak seksi packer tidak perlu mencantumkan
semen yang akan dikirimkan kepada
25
kode secara manual pada sak semen dengan keuangan. Dengan adanya pengendalian
menggunakan inkjet printer. pengganti ini, defisiensi yang terjadi tidak
berpotensi menjadi perhatian secara khusus
5. Kesimpulan dan Saran bagi pihak yang menjalankan fungsi
oversight atas pelaporan keuangan.
5.1 Kesimpulan
5.2 Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan evaluasi pada segi Penelitian ini memiliki keterbatasan
desain dan operasi yang dilakukan oleh yang memerlukan perbaikan dan
peneliti, dapat disimpulkan bahwa ICoFR pengembangan dalam studi-studi
pada proses bisnis distribusi semen sak jalur berikutnya. Keterbatasan tersebut adalah
darat PT Semen Indonesia sudah efektif penelitian ini hanya mengevaluasi satu
secara desain, namun memerlukan perbaikan bagian dari keseluruhan proses bisnis di PT
pada segi operasi. Dari segi desain, seluruh Semen Indonesia (Persero) Tbk, yakni
indikator keefektifan ICoFR sudah distribusi semen sak jalur darat. Dengan
terpenuhi, salahsatunya adalah desain demikian, hasil penelitian ini tidak
pengendalian internal tersebut dapat sepenuhnya dapat digunakan untuk
dilaksanakan secara operasional. Selain itu, menggambarkan efektivitas ICoFR pada
hasil dari desain tersebut dapat memenuhi proses bisnis lainnya.
tujuan pengendalian yang sudah ditetapkan 5.3 Rekomendasi
melalui mekanisme pencegahan dan Berdasarkan pada peneitian yang
pendeteksian kesalahan yang dapat telah dilakukan, berikut adalah saran
menyebabkan salah saji material di dalam perbaikan yang dapat dilakukan oleh
laporan keuangan. Namun dari segi operasi, perusahaan dan penelitian berikutnya:
menurut peneliti ICoFR pada PT Semen
1. Untuk PT Semen Indoenesia
Indonesia (Persero) Tbk memerlukan
(Persero) Tbk, berdasarkan pada
perbaikan pada salahsatu upaya
defisiensi yang terjadi pada
pengendalian internal, yakni penggunaan
penggunaan PBM sebagai salahsatu
Proximity Bag Marker (PBM) sebagai
upaya pengendalian internal peneliti
pencegah untuk pengiriman semen yang
menyarankan untuk mengganti
tidak terotorisasi. Berdasarkan pada
PBM dengan RFID. Penggantian ini
wawancara yang dilakukan, peneliti
diperlukan untuk memaksimalkan
menemukan bahwa PBM sudah tidak
kembali upaya pengendalian yang
digunakan sejak tahun 2013. Hal ini
dilakukan, mengingat jika
disebabkan karena banyaknya PBM yang
compensating control yang ada
rusak. Absennya penggunaan PBM ini dapat
tidak berjalan dengan baik, maka
dikategorikan sebagai defisiensi.
risiko yang dihadapi oleh
Defisiensi ICoFR dari segi operasi perusahaan terhadap proses bisnis
tersebut dapat digolongkan ke dalam tersebut akan semakin besar. RFID
Control Deficiency (tidak signifikan). digunakan sebagai alternatif dengan
Mengingat bahwa meskipun pengendalian pertimbangan jarak antara atap
tersebut tidak berjalan dengan baik, masih conveyor dengan conveyor yang
terdapat pengendalian pengganti cukup tinggi. Berbeda dengan
(Compensating Control) berupa scanner lainnya seperti Barcode
penggunaan SIPS yang mampu mengurangi Scanner, jarak yang dapat dicakup
dampak potensi salah saji dalam laporan oleh RFID lebih panjang. Di sisi

26
lain, menurut peneliti penggunaan Reporting – Guidance for Smaller
RFID lebih praktis jika Public Companies : Volume II
dibandingkan dengan penggunaan
PBM, mengingat cara pencetakan Committee of Sponsoring Organizations of
RFID tidak memerlukan inkjet The Threadway Commission. 2006.
printer. Pencantuman RFID pada Internal Control over Financial
sak semen dapat dilakukan dengan Reporting – Guidance for Smaller
cara mencetak gambar RFID pada Public Companies : Volume III
setiap sak semen yang akan
digunakan untuk memuat semen Doyle, Jeffery. Ge, Weili. Mc Vay, Sarah.
yang dikirimkan ke distributor. 2006. Determinants of Weaknesses
Untuk scanner RFID dapat in Internal Control over Financial
diletakkan di atap conveyor. Reporting. Elsevier Journal
2. Untuk penelitian selanjutnya, Accounting and Economics.
dianjurkan untuk melakukan
evaluasi pada proses bisnis Indriantoro, Nur. Bambang, Supomo. 2009.
pengiriman semen curah melalui Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
jalur darat. Dengan demikian, Akuntansi dan Manajemen,
diharapkan penelitian selanjutnya Yogyakarta : BPEE
dapat membahas tingkat efektivitas
Irianto, Sandhy. 2011. Kajian Atas Upaya
pada pengendalian internal untuk
Peningkatan Efektivitas Internal
proses bisnis distribusi semen dari
Control Berbasis SOX Section 404
sisi yang berbeda.
Atas Siklus Aktiva Tetap Pada PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Daftar Pustaka
Skripsi. 2011. Universitas Brawijaya
Ashbaugh-Skaife, Hollis. Collins W, Daniel. Malang.
Kinney Jr, William. 2006. The
Moleong. Lexy J. 2009. Metodologi
Discovery and Reporting of Internal
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT
Control Deficiencies Prior to SOX-
Remaja Rosdakarya
Mandated Audits. Elsevier Journal
Accounting and Economics. Protivity Inc, 2004. Guide To The Sarbanes-
Oxley Act: Interal Control Reporting
Committee of Sponsoring Organizations of
Requirements (Frequently Asked
The Threadway Commission. 2006.
Question Regarding Section 404).
Internal Control over Financial
Third Edition.
Reporting – Guidance for Smaller
Public Companies : Volume I Wikipedia. PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk.
Committee of Sponsoring Organizations of Id.m.wikipedia.org/wiki/Semen_Indonesia.
The Threadway Commission. 2006. Diakses pada tanggal 15 Februari 2016
Internal Control over Financial pukul 13.00 WIB.

27