Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sarana pokok suatu bangsa dalam peningkatan
kualitas masyarakatnya dan penyesuaian diri terhadap pesatnya perubahan serta
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu pendidikan
senantiasa mengalami perkembangan dalam usahanya meningkatkan kualitas
pelaksanaan dan hasil suatu proses pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh
adalah melalui penyempurnaan kurikulum yang berlaku., agar pendidikan di
negara kita dapat mengikuti perkembangan jaman, IPTEK, dan teknologi.
Namun kondisi pembelajaran selama ini dimana siswa hanya sebagai
objekpembelajaran yang menerima informasi dari guru merupakan kendala
yang relatif sulituntuk diubah. Namun demikian, ada beberapa cara yang dapat
digunakan guru untukdapat mengaktifkan siswa, salah satunya dengan melalui
penggunaan LKS.
Pelaksanaan kurikulum harus didukung oleh strategi dan kegiatan belajar
mengajar yang sesuai. Penerapan suatu media pengajaran harus ditinjau dari
segi keefektifan, keefisienan, karakteristik materi pelajaran dan keadaan siswa.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan alat yang bermanfaat bagi guru
terutama untuk memudahkan pemberian tugas, baik yang berupa kegiatan
maupun evaluasi, sedangkan bagi siswa bermanfaat terutama sebagai pemandu
dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui LKS aktivitas dan kreatifitas siswa
dalam belajar mengajar dapat ditingkatkan, penyampaian materi pelajaran
dapat dipermudah dengan menggunakan LKS.
Bentuk bahan ajar cetak yang dapat dikembangkan dalam proses
pembelajaran adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS merupakan materi ajar
yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga siswa diharapkan dapat belajar
dengan efektif dan fokus terhadap materi pembelajaran yang sedang dijelaskan
oleh guru secara mandiri.
Penggunaan LKS diharapkan mampu mengubah kondisi pembelajaran dari

yang biasanya guru berperan menentukan “apa yang dipelajari” menjadi

bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa.


Pengalaman belajar siswa dapat diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk
mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan,
dan nara sumber lain.
Upaya Pengembangan bahan ajar Lembar Kerja Siswa (LKS) yang
dilakukan dengan secara optimal yang diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran bagi siswa, karena hasil pembelajaran menggunakan LKS akan
dikoreksi oleh guru dan dibahas secara bersama-sama dengan siswa, sehingga
dapat memberikan stimulus kepada siswa untuk lebih giat dalam proses belajar
dan dapat mencapai ketuntasan dalam pembelajaran siswa.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini akan dibahas mengenai pengertian,
tujuan, manfaat LKS, bagaimana cara membuat dan menyusun LKS, serta
menentukan media, model, metode, dan pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran LKS.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apa pengertian, ciri-ciri, fungsi, tujuan, dan macam jenis dari LKS?
2. Bagaimana keterampilan Proses Sains yang diterapkan dalam lembar kerja
siswa?
3. Bagaimana cara membuat dan menyusun LKS yang baik dan benar?
4. Apa yang dimaksud dengan media pembelajaran dan bagaimana komponen-
komponen yang ada didalamnya?
5. Model apa yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS?
6. Metode apa yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS?
7. Pendekatan apa yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS ?
8. Bagaimana contoh dari LKS yang disesuaikan dengan tingkat Sekolah
Menengah Atas kelas 12 semester dua pada mata pelajaran Biologi?
C. Tujuan
1. Khusus
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi pada
semester Empat.
2. Umum
a. Untuk dapat menjelaskan pengertian dan menyebutkan ciri-ciri, fungsi,
tujuan, dan macam jenis dari LKS
b. Untuk dapat menjelaskan bagaimana keterampilan proses sains yang
diterapkan dalam LKS
c. Untuk dapat menyebutkan cara atau langkah-langkah dalam menyusun
LKS dengan baik dan benar
d. Untuk dapat menjelaskan pengertian dari media pembelajaran dan
menyebutkan komponen-komponen pada media pembelajaran
e. Untuk dapat menjelaskan model yang digunakan dalam pembelajaran
melalui penggunaan LKS
f. Untuk dapat menjelaskan metode yang digunakan dalam pembelajaran
melalui penggunaan LKS
g. Untuk dapat menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran melalui penggunaan LKS
h. Untuk dapat menjelaskan contoh dari LKS yang disesuaikan dengan
tingkat Sekolah Menengah Atas kelas 12 semester dua pada mapel
Biologi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Lembar Kerja Siswa


1. Pengertian Lembar Kerja Siswa
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran- lembaran yang berisi tugas
yang harus dikerjakan peserta didik. LKS biasanya berupa petunjuk,
langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang
diperintahkan dalam lembar kerja harus jelas kompetensi dasar yang akan
dicapainya. LKS dapat digunakan untuk mata pelajaran apa saja. Tugas-
tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik
secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain
yang terkait dengan materi tugasnya (Madjid, 2007: 177).
Dalam proses belajar mengajar, LKS sering dimanfaatkan sebagai buku
latihan siswa yang didalamnya memuat:
a. Ringkasan Materi
Dengan adanya ringkasan materi ini, siswa akan lebih mudah
memahami materi
b. Soal-soal latihan
Bentuk-bentuk soal latihan yang dimuat dalam lembar kerja siswa
umumnya berisi:
1) Soal-soal subyektif (uraian)
Soal-soal subyektif disebut juga soal uraian yang memberikan
kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan menentukan
jawaban. Kebebasan ini berakibat data jawaban bervariasi, sehingga
tingkat kebenaran dan tingkat kesalahan juga menjadi variasi, hal
inilah yang mengundang subyektivitas penilai ikut berperan
menentukan (Thoha, 1994: 55).
Beberapa kelebihan soal bentuk subyektif ini diantaranya:
a) Peserta didik dapat menorganisasikan jawaban dengan fikiran
sendiri
b) Dapat menghindarkan sifat tertekan dalam menjawab soal
c) Melatih peserta didik untuk memilih fakta relevan dengan
persoalan, serta mengorganisasikannya sehingga dapat
diungkapkan menjadi satu hasil pemikiran terintegrasi secara utuh.
d) Jawaban yang diberikan diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat
yang disusun sendiri, sehingga melatih untuk menyusun kalimat
dengan bahasa yang baik, benar dan cepat.
e) Soal bentuk uraian tepat untuk mengukur kemampuan analitik,
sintetik dan evaluative.
Sedangkan kelemahan soal bentuk ini antara lain:
a) Membutuhkan waktu banyak untuk memeriksa hasilnya
b) Pemberian skor jawaban kadang-kadang tidak ajeg (reliable) sebab
ada faktor- faktor lain yang berpengaruh, seperti tulisan peserta
didik, kelelahan penilaian, situasi, dll.
c) Variasi jawaban terlalu banyak dan tingkat kebenarannya menjadi
bertingkat-tingkat, sehingga dalam menetukan criteria benar-salah
menjadi agak kabur.
2) Soal-soal obyektif (Fixed response item)
Pada tipe ini, butir-butir soal yang diberikan kepada peserta didik
disertai dengan alternatif jawaban, sehingga peserta didik tinggal
memilih satu diantara alternatif jawaban yang tersedia. Jawaban
tersebut hanya ada satu yang paling benar atau yang paling benar,
sedangkan yang lainnya salah (Thoha, 1994: 69).
Soal bentuk obyektif ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
a) Peserta didik menampilkan keseragaman data, baik bagi yang
menjawab benar, maupun yang menjawab salah.
b) Subyektivitas pendidik rendah.
c) Memudahkan pendidik dalam memberikan penilaian.
d) Tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengoreksi
Sedangkan kelemahannya, diantaranya:
a) Memberikan kemungkinan adanya siswa menebak jawaban.
b) Membutuhkan waktu yang lama dalam penyusunnya, karena harus
membuat alternatif jawabannya.
2. Ciri-ciri Lembar Kerja Siswa
Menurut Azhar (1993, 78) adapun ciri-ciri LKS adalah sebagai berikut :
1) LKS terdiri dari beberapa halaman
2) LKS dicetak sebagai bahan ajar yang spesifik untuk dipergunakan oleh
satuan tingkat pendidikan tertentu
3) Didalamnya terdiri uraian singkat tentang pokok bahasan secara umum,
rangkuman pokok bahasan, puluhan soal-soal pilihan ganda dan soal-soal
isian.
3. Fungsi Lembar Kerja Siswa
Menurut Azhar (1993, 78) adapun fungsi lembar kerja siswa sebagai
berikut:
1) Bagi siswa LKS berfungsi untuk memudahkan pemahaman siswa
terhadap materi pelajaran yang didapat.
2) Bagi guru LKS berfungsi untuk menuntun siswa akan berbagai kegiatan
yang perlu diberikannya serta mempertimbangkan proses berfikir yang
bagaimana yang akan ditumbuhkan pada diri siswa.
Selain itu dengan adanya LKS siswa tidak perlu mencatat atau membuat
ikhtisar atau resume pada buku catatannya lagi, sebab dalam tiap LKS
biasanya sudah terdapat ringkasan seluruh materi pelajaran. Berdasarkan
fungsi lembar kerja di atas, maka guru sebagai pengelola proses belajar,
kedudukannya tidak dapat digantikan oleh adanya lembar kerja.Karena
keberadaan lembar kerja siswa ini adalah hanya membantu kemudahan dan
kelancaran aktivitas pada saat proses belajar mengajar serta interaksi antara
guru dan murid. Sehingga tujuan utama proses belajar dapat tercapai atau
berhasil (Azhar, 1993: 78).
4. Tujuan Penyusunan dan Penggunaan LKS untuk Pembelajaran
Menurut Prastowo (2013: 206), bahwa tujuan penyusunan dan
penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk pembelajaran adalah sebagai
berikut:
a. Menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk
berinteraksi dengan materi yang diberikan
b. Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik
terhadap materi yang diberikan
c. Melatih kemandirian belajar peserta didik
d. Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik.
Penggunaan LKS dalam pembelajaran biasanya tidak berdiri sendiri atau
tidak menjadi bahan ajar utama dan satu-satunya untuk pembelajaran sebuah
materi. Guru biasanya mengkombinasikan dengan penggunaan buku paket
atau buku teks pelajaran agar semakin sempurna. Tak jarang pula
ditambahkan dengan penggunaan media pembelajaran yang interaktif
sehingga siswa dapat mempelajari pelajaran dengan menggunakan LKS
dengan lebih mudah dan cepat memahami apa yang dipelajari.
5. Penulisan dalam LKS
Penulisan dalam LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Perumusan KD yang harus dikuasai; rumusan KD pada suatu LKS
langsung diturunkan dari dokumen SI( Depdiknas, 2008: 19 ).
b. Penentuan alat penilaian; bahwa penilaian dilakukan terhadap proses
kerja dan hasil kerja siswa. Karena pendekatan pembelajaran yang
digunakan adalah kompetensi yang penilaiannya didasarkan pada
penguasaan kompetensi, maka alat penilaian yang cocok adalah
menggunakan pendekatan Panilaian Acuan Kriteria (PAK) atau Criterion
Referenced Assesment.
c. Penyusunan materi; yakni sangat tergantung pada KD yang akan dicapai.
Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum
atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil
dari berbagai sumber seperti buku, majalah,internet, jurnal hasil
penelitian. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka
dapat saja dalam LKS ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa
membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara
jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang
seharusnya siswa dapatmelakukannya, misalnya tentang tugas diskusi.
Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa,
berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama waktunya
Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut :
1) Judul
2) Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
3) Kompetensi yang akan dicapai
4) Informasi pendukung
5) Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
6) Penilaian

6. Macam-macam LKS
Menurut Azhar (1993, 79) ada dua macam LKS yang dikembangkan
dalam pembelajaran di sekolah.
a. LKS Tak Berstruktur.
Lembar kerja siswa tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana
untuk materi pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik yang
dipakai untuk menyampaikan pelajaran. LKS merupakan alat bantu
mengajar yang dapat dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi
dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau
lisan untuk mengarahkan kerja pada peserta didik.
Contoh:
1) Lembaran yang memuat suatu kelompok data dan sajiannya berupa
grafik yang dikutip dari media masa dan dapat dimanfaatkan guru
dalam membahas materi yang relevan dalam statistik.
2) Lembaran berupa kertas bertitik, kertas berpetak atau kertas milimeter.
b. LKS Berstruktur.
Lembar kerja siswa berstruktur memuat informasi, contoh dan tugas-
tugas. LKS ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu
program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa
bantuan pembimbing untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS
telah disusun petunjuk dan pengarahannya, LKS ini tidak dapat
menggantikan peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas,
memberi semangat dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada
setiap siswa.
LKS yang baik harus memenuhi persyaratan konstruksi dan didaktik.
Persyaratan konstruksi tersebut meliputi syarat-syarat yang berkenaan
dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata, tingkat kesukaran
dan kejelasan yang pada hakekatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat
dimengerti oleh pihak pengguna LKS yaitu peserta didik sedangkan
syarat didaktif artinya bahwa LKS tersebut haruslah memenuhi asas-asas
yang efektif. Lembar kerja dapat digunakan sebagai pengajaran sendiri,
mendidik siswa untuk mandiri, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab
dan dapat mengambil keputusan.
LKS dalam kegiatan pembelajaran dapat dimanfaatkan pada tahap
penanaman konsep (menyampaikan konsep baru) atau pada tahap
penemuan konsep (tahap lanjutan dari penanaman konsep).
Menurut Dewiana (2001, 10) LKS dapat digunakan dalam penyajian
mata pelajaran secara eksperimen maupun non- eksperimen, sehingga
berdasarkan penggunaan metode dikenal dua jenis LKS, yaitu LKS
eksperimen yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan
eksperimen, dan LKS non-eksperimen yang dijadikan pedoman dalam
memahami konsep atau prinsip tanpa eksperimen. Kedua macam LKS
tersebut dapat mengembangkan keterampilan proses sains siswa.
B. Keterampilan Proses Sains dalam Lembar Kerja Siswa
LKS adalah salah satu media pengajaran yang berorientasi kepada
keterampilan proses sehingga diharapkan dapat mencapai hasil pembelajaran
yang optimal (Semiawan, 1992:12). Menurut Dahar (1985: 11), Keterampilan
Proses Sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode
ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan.
KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan
metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh
pengetahuan baru/ mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki.
Pendekatan keterampilan proses sains merupakan pendekatan pembelajaran
yang berorientasi kepada proses sains. Pendekatan ini diperlukan karena sains
tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan saja, tetapi juga terkandung hal
lain. Cain dan Evans (Rustaman, 2005:74) menyatakan bahwa sains
mengandung empat hal, yaitu konten atau produk, proses atau metode, sikap,
dan teknologi. Sains sebagai konten atau produk berarti bahwa dalam sains
terdapat fakta-fakta, prinsip-prinsip dan teori. Sains sebagai proses atau metode
mengandung arti bahwa sains merupakan suatu proses atau metode untuk
mendapatkan pengetahuan. Selain sebagai produk dan proses, sains juga
sebagai sikap, artinya bahwa dalam sains terkandung sikap ilmiah, seperti
terbuka, jujur, tekun dan objektif. Sains sebagai teknologi mengandung
pengertian bahwa sains mempunyai keterkaitan dan digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Jika sains mengandung empat hal di atas, maka ketika
belajar sains pun siswa perlu mengalami keempat hal tersebut. Dalam belajar
sains siswa seharusnya tidak hanya belajar produk saja, tetapi harus belajar
aspek proses, sikap dan teknologi agar siswa dapat benar-benar memahami
sains secara utuh. Selain itu, pembelajaran yang menekankan pada
pengembangan keterampilan proses berarti membimbing siswa untuk memiliki
keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengemukakan hasilnya
(Rustaman, 2005:74).
Keterampilan proses sains sebagai pendekatan dalam pembelajaran sangat
penting karena menumbuhkan pengalaman selain proses belajar. Mengingat
semakin banyaknya sekolah yang telah memiliki laboratorium biologi,
sehingga perlu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran,
khususnyaprestasi hasil belajar kognitif yang didukung oleh keterampilan serta
sikap dan prilaku yang baik. Oleh karena itu para guru hendaknya secara
bertahap mulai bergerak melakukan penilaian hasil belajar dalam aspek
keterampilan dan sikap (Rustaman, 2005:75). Menurut Blosser (dalam
Kamriantiramli, 2011), proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada
pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan
menumbuhkan kemampuan berfikir. Pembentukan sikap ilmiah seperti
ditunjukan oleh para ilmuawan sains dapat dikembangkan melalui
keterampilan-keterampilan proses sains. Sehingga keterampilan proses sains,
dapat digunakan sebagai pendekatan dalam pembelajaran.
Gagne (dalam Purwandono, 2000:21) mendeskripsikan keterampilan proses
sains sebagai berikut:
1. Keterampilan proses sains merupakan keterampilan khas yang digunakan
oleh semua saintis, serta dapat diterapkan untuk memahami fenomena.
2. Setiap keterampilan proses sains merupakan sains tingkah laku ilmuwan
yang dapat dipelajari oleh siswa.
3. Keterampilan proses dapat ditransfer antara isi pelajaran-pelajaran dan
memberi sumbangan pada pikiran rasional dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam keterampilan proses terdapat tiga komponen yang perlu
dikembangkan, yaitu: 1) kemampuan menggunakan pikiran (keterampilan
intelektual), 2) kemampuan nalar, 3) perbuatan efisien dan efektif untuk
mencapai hasil tertentu termasuk kreativitas. Komponen keterampilan
intelektual dalam keterampilan proses sains terjadi sebagai hasil proses
tranformasi atau informasi yang diterima otak. Menurut Rustaman (2005:78)
keterampilan proses meliputi: 1) keterampilan melakukan pengamatan
(observasi), 2) mengelompokkan (klasifikasi), 3) menafsirkan pengamatan
(interpretasi), 4) meramalkan (prediksi), 5) sains mengajukan pertanyaan, 6)
berhipotesis, 7) merencanakan percobaan atau penyelidikan, 8) menggunakan
alat dan bahan , 9) menerapkan konsep atau prinsip, 10) berkomunikasi.
Tabel 1. Indikator dan Sub Indikator Keterampilan Proses Sains
Indikator Keterampilan Proses
No Sub Indikator Keterampilan Proses Sains
Sains
- Menggunakan sebanyak mungkin
indera
1 Mengamati (observasi)
- Mengumpulkan/menggunakan fakta-
fakta yang relevan
- Mencari perbedaan dan persamaan
- Mengontraskan ciri-ciri
2 Mengelompokkan (klasifikasi)
- Membandingkan
- Mencari dasar penggolongan
- Menghubungkan hasil-hasil
pengamatan
3 Menafsirkan (interpretasi)
- Mencatat setiap pengamatan
- Menyimpulkan
- Menggunakan pola-pola hasil
pengamatan

4 Meramalkan (prediksi) - Mengemukakan apa yang mungkin


terjadi pada keadaan yang belum
diamati
- Bertanya mengapa, apa, atau
bagaimana

5 Sains mengajukan pertanyaan - Bertanya untuk meminta penjelasan


- Bertanya yang berlatar belakang
hipotesis
- Mengetahui bahwa ada lebih dari satu
kemungkinan penjelasan dari satu

6 Berhipotesis kejadian
- Menyadari bahwa suatu penjelasan
perlu diuji kebenarannya
- Menentukan alat, bahan dan sumber
Merencanakan
7
penelitian/percobaan yang akan dipakai
- Menentukan variabel/faktor penentu
- Menentukan apa yang diamati, diukur
atau ditulis
- Menentukan apa yang akan
dilaksanakan berupa langkah-langkah
kerja
- Memakai alat dan bahan

8 Menggunakan alat/bahan - Mengetahui bagaimana menggunakan


alat dan bahan
- Menggunakan konsep-konsep yang telah
dipelajari dalam suatu situasi baru

9 Menerapkan konsep - Menerapkan konsep pada pengalaman


baru untuk menjelaskan apa yang sedang
terjadi
- Menggunakan grafik, tabel atau diagram

10 Berkomunikasi - Menyusun dan menyampaikan laporan


secara sistematis
Sumber : Rustaman (2005:78)
Menurut Rustaman (2005, 78) deskripsi mengenai indikator keterampilan
proses sains, yaitu:
1. Mengamati
Suatu proses untuk mengenal sesuatu dengan jalan memperhatikan atau
menyadari obyek/peristiwa, untuk hal ini siswa harus menggunakan semua
alat inderanya seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan
penciuman. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berarti menyeleksi fakta-
fakta yang relevan dan memadai dari hal-hal yang diamati.
Dengan membandingkan hal-hal yang diamati siwa mengembangkan
kemampuan mencari persamaan dan perbedaan suatu benda/peristiwa.
2. Mengelompokkan/Klasifikasi
Mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk
menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu. Proses
mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari kesamaan,
mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, membandingkan, dan mencari
dasar penggolongan.
3. Menafsirkan
Menafsirkan hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari
data yang dicatatnya. Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak
ditafsirkan. Karena itu, dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap
pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil
pengamatan itu. Selanjutnya siswa mencoba menemukan pola dalam suatu
seri pegamatan, dan akhirnya membuat kesimpulan.
4. Meramalkan
Keterampilan meramalkan atau mengajukan perkiraan tentang sesuatu
yang belum terjadi berdasarkan suatu pola yang sudah ada, menggunakan
pola-pola atau hubungan informasi/ukuran/hasil observasi dan
mengantisipasi suatu peristiwa berdasarkan pola atau kecenderungan.
Apabila siswa dapat mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum
terjadi berdasarkan fakta yang menunjukkan suatu kecenderungan atau pola
yang sudah ada.
5. Mengajukan pertanyaan
Kemampuan mengajukan pertanyaan baik pertanyaan yang meminta
penjelasan tentang apa, mengapa dan bagaimana ataupun menanyakan
sesuatu hal yang berlatar belakang hipotesis. Keterampilan proses
mengajukan pertanyaan memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya, baik yang bersifat
penyelidikan maupun yang tidak secara langsung bersifat penyelidikan,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mencerminkan cara berpikir siswadan
dapat pula dikatakan bahwa kualitas pertanyaan yang diajukan menunjukkan
tinggi rendahnya tingkat berpikir siswa.
6. Merumuskan hipotesis
Keterampilan proses menggunakan informasi dengan mengemukakan
dugaan atau generalisasi sementara yang dapat menjelaskan atau
menghubungkan sifat-sifat benda peristiwa, berhipotesis melibatkan
keterampilan menduga sesuatu, menguraikan sesuatu yang menunjukkan
hubungan sebab akibat antara dua variabel pengetahuan yang telah
dimilikinya.
7. Merencanakan percobaan
Agar siswa dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka
siswa tersebut harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan
dalam percobaan. Selanjutnya, siswa harus dapat menentukan variabel-
variabel, menentukan variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel mana
yang berubah.
Demikian pula siswa perlu untuk menentukan apa yang akan diamati,
diukur, atau ditulis, menentukan cara dan langkah-langkah kerja.
Selanjutnya siswa dapat pula menentukan bagaimana mengolah hasil-hasil
pengamatan.
8. Menggunakan alat/bahan
Untuk dapat memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan
sendirinya siswa harus menggunakan secara langsung alat dan bahan
agardapat memperoleh pengalaman langsung. Selain itu, siswa harus
mengetahui mengapa dan bagaimana cara menggunakan alat dan bahan.
9. Menerapkan konsep
Mampu menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang
telah dimiliki dan mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam
situasi baru atau menemukan penjelasan (konsep) tentang suatu peristiwa
yang sedang terjadi. Keterampilan menerapkan konsep/prinsip menjadi
penunjang dalam memantapkan dan mengembangkan konsep/prinsip yang
telah dimiiki siswa, mengembangkan kemampuan intelektual siswa dan
merangsang siswa untuk lebih banyak mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam.
10. Berkomunikasi
Keterampilan berkomunikasi mengandung arti mencatat hasil
pengamatan yang relevan dengan penyelidikan, mentransfer suatu bentuk
penyajian ke bentuk penyajian yang lainnya atau menggunakan kriteria
untuk menyajikan data ke bentuk yang dapat dipahami dan dimengerti oleh
orang lain. Untuk mencapai keterampilan berkomunikasi siswa harus dapat
menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan yang telah dikerjakan
dengan sistematis dan jelas, selain itu diharapkan siswa mampu menjelaskan
hasil kegiatan, mendiskusikan dan menggambarkan data yang diperoleh ke
bentuk diagram, grafik atau tabel.

C. Cara Menyusun dan Membuat Lks Yang Baik


Penggunaan LKS sangat besar peranannya dalam proses
pembelajaran,sehingga seolah-olah penggunaan LKS dapat menggantikan
kedudukan seorang guru.Hal ini dapat dibenarkan, apabila LKS yang
digunakan tersebut merupakan LKS yangberkualitas baik.
LKS dikatakan berkualitas baik bila memenuhi syarat (Hendro Darmodjo
dan Jenny R.E. Kaligis, 1992 : 41-46) sebagai berikut :
1. Syarat-syarat Didaktik
LKS sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya PBM haruslah
memenuhi persyaratan didaktik, artinya LKS harus mengikuti asas-asas
belajar-mengajar yang efektif, yaitu :
a. Memperhatikan adanya perbedaan individual.
b. Tekanan pada proses untuk menemukan konsep-konsep.
c. Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa.
d. Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional,
moral, danestetika pada diri siswa.
e. Pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi
siswa danbukan ditentukan oleh materi bahan pelajaran.
2. Syarat-syarat Konstruksi
Syarat konstruksi ialah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan
bahasa, susunan kalimat, kosa-kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang
pada hakikatnyaharuslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh
pengguna yaitu siswa.
a. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan siswa.
b. Menggunakan struktur kalimat yang jelas.
c. Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan
siswa.
d. Hindarkan pertanyaan yang terlalu terbuka.
e. Tidak mengacu pada buku sumber yang di luar kemampuan keterbacaan
siswa.
f. Menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaan pada
siswauntuk menuliskan jawaban atau menggambar pada LKS.
g. Menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek.
h. Menggunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata.
i. Dapat digunakan untuk semua siswa, baik yang lamban maupun yang
cepat.
j. Memiliki tujuan belajar yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber
motivasi.
k. Mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.
3. Syarat-syarat Teknis
a. Tulisan
1) Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf Latin atau
Romawi.
2) Gunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan huruf biasa
yangdiberi garis bawah.
3) Gunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris.
4) Gunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan
jawaban siswa.
5) Usahakan perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar
serasi.

D. Media dan Sumber Belajar


1. Definisi
a. Media Pembelajaran
Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk
belajar. Heinich, dkk (1982) mengemukakan istilah medium sebagai
perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima.
Jadi televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang
diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media
komunikasi. Apabila media tersebut membawa informasi yang bertujuan
instruksional atau mengandung maksud pengajaran maka media disebut
dengan media pengajaran.
Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan,
peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan
siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi dalam
pengertian ini media bukan hanya perantara seperti TV, radio, slide,
bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar
atau kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi, dan lain
sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan
wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan.
Dari beberapa pengertian yang telah di sebutkan di atas Mahnun
(2012) menyimpulkan menjadi tiga batasan yaitu pertama, para ahli
membatasi pengertian media dengan, orang, bahan, tekhnologi, sarana,
alat, dan saluran atau berupa kegitan yang dirancang untuk terjadinya
proses belajar. Kedua, para ahli membatasi pengertian media dengan
pesan atau informasi, yang dibawa atau disampaikan melalui hardware
sebagaimana tersebut di atas. Batasan ketiga, bahwa pesan yang dibawa
diperuntukan sebagai perangsang terjadinya proses belajar (bahan ajar).
b. Sumber belajar
Asociation of Education Comunication Technology (AECT) (1977)
mengartikan sumber belajar sebagai semua sumber (data, manusia, dan
barang) yang dapat dipakai oleh pelajar sebagai suatu sumber tersendiri
atau dalam kombinasi untuk memperlancar belajar. Dalam hal ini sumber
belajar meliputi pesan, orang, material, alat, teknik, dan
lingkungan.Sumber belajar bahkan berubah menjadi komponen sistem
instruksional apabila sumber belajar itu diatur sebelumnya
(prestructured), didesain dan dipilih lalu dikombinasikan menjadi suatu
sistem Sumber belajar sebagai semua sumber (data, manusia, dan barang)
yang dapat dipakai oleh pelajar sebagai suatu sumber tersendiri atau
dalam kombinasi untuk memperlancar belajar dan meliputi pesan, orang,
material, alat, teknik, dan lingkungan.
2. Prinsip Media Pembelajaran
a. Kesederhanaan
Bentuk media ini harus ringkas, sederhana dan dibatasi pada hal-hal
yan penting saja. Konsepnya harus tergambar dengan jelas serta mudah
dipahami. Tulisan cukup jelas, sederhana dan mudah dibaca. Hindarilah
bentuk tulisan yang artistik, karena tidak setiap orang bisa membacanya.
Misal seperti dibawah ini.
b. Kesatuan
Prinsip kesatuan ini adalah hubungan yang ada diantara unsur-unsur
visual dalam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Bentuk kesatuan ini
dapat dinyatakan dengan unsur-unsur yang saling menunjang, atau
dengan menggunakan petunjuk seperti anak panah atau alat-alat visual
seperti garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang yang dilukiskan dalam
satu halaman.
c. Penekanan
Walaupun media ditunjukkan dengan gagasan tunggal, dikembangkan
secara sederhana, merupakan satu kesatuan, sering diperlukan penekanan
pada bagian-bagian tertentu untuk memusatkan minat dan perhatian.
Penekanan tersebut dapat ditunjukkan melalui penggunaan ukuran
tertentu, gambar perspektif atau dengan warna tertentu pada unsur yang
paling penting.
d. Macam- macam Media Pembelajaran
Menurut Rahardjo (Mahnun, 2012) media dibedakan menjadi dua macam
menurut kriteria aksesibilitasnya, yaitu:
a. Media yang dimanfaatkan (media by utilization), artinya media yang
biasanya dibuat untuk kepentingan komersial yang terdapat di pasar
bebas. Dalam hal ini, guru tinggal memilih dan memanfaatkannya,
walaupun masih harus mengeluarkan sejumlah biaya.
b. Media yang dirancang (media by design) yang harus dikembangkan
sendiri. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mampu merancang dan
mengembang sendiri media tersebut sesuai dengan sarana dan
kelengkapan yang dimilikinya.
e. Pemilihan Media dalam Pembelajaran
Pemilihan media dan sumber belajar merupakan komponen dari sistem
instruksional secara keseluruhan. Oleh sebab itu, meskipun tujuan dan
isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti siswa, strategi belajar
mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta
prosedur penilaiannya perlu dipertimbangkan.
Menurut Degeng (1993), faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam memilih, mengembangkan, dan menggunakan media pembelajaran
adalah:
a. Tujuan instruksional. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang
pencapaian tujuan instruksional yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mungkin ada sejumlah alternative media yang dianggap cocok untuk
tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok.
Kecocokan banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan dan
karakteristik media pembelajaran yang akan dipakai.
b. Keefektifan. Dari beberapa alternative media yang sudah dipilih, mana
yang dianggap paling efektif (tepat guna) untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.Siswa. Apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan
kemampuan, perbendaharaan pengalaman, dan menarik perhatian siswa?
Digunakan untuk siapa? Apakah secara individual atau kelompok kecil,
kelas atau massa? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh?
c. Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalau
belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk
tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu
membuat sendiri, membuat bersama-sama siswa, meminjam, menyewa,
membeli dan mungkin dapat “dropping” dari pemerintah.
d. Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media,
apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang
dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang
mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
e. Kualitas teknis. Apakah media yang dipilih itu kualitasnya baik? Jika
menggunakan media gambar misalnya, apakah memenuhi syarat sebagai
media pembelajaran? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih
itu?
Implementasi pemilihan media merupakan hal terpenting yang harus
dilakukan oleh guru. Miarso (Mahnun, 2012) menyatakan bahwa hal
pertama yang harus dilakukan guru dalam penggunaan media secara efektif
adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi
kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan
kematangan dan pengalamannya serta karakteristik khusus yang ada pada
kelompok belajarnya. Karaketristik ini antara lain adalah kematangan anak
dan latar belakang pengalamannya serta kondisi mental yang berhubungan
dengan usia perkembangannya.
f. Peranan Media dan Sumber Belajar
Media dan sumber belajar yang baik adalah yang mempunyai peranan
dan manfaat dalam penggunaannya. Adapun penjabarannya dapat dilihat
pada pemaparan berikut:
a. Peranan Media Pembelajaran
Ada beberapa peranan media pembelajaran menurut Ahmad Rohani
(1997), diantaranya adalah:
1) Media pembelajaran mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta
didik.
2) Media pembelajaran mengatasi batas-batas ruang kelas.
3) Mengamati benda yang terlalu kecil.
4) Mengamati benda yang bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat.
5) Mengamati suara yang halus untuk didengar.
6) Mengamati peristiwa-peristiwa alam.
7) Media pembelajaran berperan membangkitkan minat belajar yang
baru.
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa media pembelajaran berperan
untuk membantu mewujudkan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran
dapat mengatasi permasalahan yang menyangkut pembelajaran. Hal ini
sejalan dengan pernyataan Sudjana (2005) bahwa media pembelajaran
berperan untuk mengatasi kesulitan proses pembelajaran.
b. Peranan Sumber Belajar
Sama halnya seperti media pembelajaran, sumber belajar juga memiliki
peranan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Menjembatani anak atau siswa dalam memperoleh pengetahuan
(belajar).
2) Mentransmisi rangsangan atau informasi kepada anak atau siswa
(ungkapan transmisi dalam konteks ini mempunyai dimensi banyak
dan dapat dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan “apa, siapa, di
mana, dan bagaimana”; pertanyaan-pertanyaan ini amat berguna
sebagai alat bantu mengorganisasi dimensi sumber belajar.
E. Model yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS
Model pembelajaran hakikatnya adalah sebuah bentuk pembelajaran yang
tergambarkan dari awal sampai akhir pembelajaran yang dikemas secara khas
oleh seorang pendidik. Dengan kata lain, model pembelajaran adalah bingkai
atau bungkus dari pengaplikasian suatu metode, pendekatan dan teknik
pembelajaran. Namun demikian, terkadang penggunaan istilah model
pembelajaran sering disamakan dengan strategi pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran disini kami menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
discovery learning. Pembelajaran cooperative merupakan serangkaian strategi
yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar
bekerja sama selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Salah satu alternatif yang dapat meningkatkan berfikir kreatif siswa adalah
dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning (DL). Model
pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu strategi pembelajaran
aktif yang melibatkan keaktifan siswa untuk mencari tahu dan mempelajari
materi baru yang akan diajarkan, sehingga siswa tidak pasif dalam mencari
konsep tetapi aktif dalam menemukan konsep. Pada model pembelajaran
Discovery Learning materi yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam
bentuk final tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang
ingin diketahuhi dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian
mengorganisasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan
mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah
bentuk program yang berdasarkan atas tugas yang harus diselesaikan dan
berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan pengetahuan dan keterampilan.
Selain itu LKS juga merupakan salah satu contoh bahan ajar yang dapat
dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran.
Pada materi bioteknologi masih banyak berbagai macam konsep yang
abstrak bagi siswa. Pengembangan LKS pada materi bioteknologi diharapkan
siswa dapat mengembangkan kemampuan kreativitasnya atau dengan kata lain
dapat meningkatkan tingkat berfikir kreatif sebab sebagaimana diketahui dalam
komponen LKS adanya bagian-bagian tertentu seperti aneka gambar, isi,
tulisan dan warna yang dapat memacu kreativitas siswa dalam menganalisa
soal-soal yang dikerjakan
F. Metode yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS
Metode pembelajaran bisa diartikan sebagai sebuah cara yang dipergunakan
dalam pengimplementasian rencana yang telah disusun dalam suatu kegiatan
nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa metode
pembelajaran yang bisa dipergunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, yaitu metode ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi,
laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat dan lain sebagainya.
G. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran melalui LKS
Pendekatan pembelajaran merupakan sudut pandang atau titik tolak guru
terhadap proses berlangsungnya pembelajaran, yang merujuk terhadap
pandangan akan terjadinya sebuah proses yang sifatnya masih sangat general
atau umum, didalamnya mewadahi, menguatkan, menginsiprasi dan melatari
metode dalam suatu pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat
dari jenisnya, pendekatan pembelajaran terbagi menjadi dua jenis pendekatan,
yaitu pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan
pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pendidik.

H. Contoh dari LKS yang disesuaikan dengan tingkat Sekolah Menengah Atas
kelas 12 semester dua pada mata pelajaran Biologi
Judul: Mata pelajaran biologi di kelas XII semester 2
Materi: bioteknologi
Prinsip Dasar dan jenis-jenis bioteknologi
1. Prinsip dasar bioteknologi
Bioteknologi berasal dari kata bio (hidup), teknos (teknologi), dan logos
(ilmu) yang secara harafiah berarti ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip
biologi. Secara klasik atau konvensional, bioteknologi dapat didefinisikan
sebagai teknologi yang memanfaatkan organisme atau bagian-bagiannya
untuk mendapatkan barang dan jasa dalam skala industri untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Sementara itu, dalam perkembangan lebih lanjut,
bioteknologi dapat juga didefinisikan sebagai pemanfaatan prinsip-prinsip
dan kerekayasaan terhadap organisme, sistem, atau proses biologis untuk
menghasilkan atau meningkatkan potensi oganisme maupun menghasilkan
produk dan jasa bagi kepentingan hidup manusia.
Dalam batasan pengertian bioteknologi tersebut, ada beberapa ciri dari
suatu proses bioteknologi. Ciri-ciri tersebut sebgai berikut:
a. Adanya agen biologi yang dipergunakan. Agen biologi yang dipergnakan
ini tidak hanya dalam bentuk fisik yang dipanen, tetapi juga termasuk
hasil metabolit sekunder atau enzim yang dihasilkan. Pengunaan agen
biologi dilakukan dengan suatu cara atau metode tertentu.
b. Adanya bahan yang diproses sebagai masukan (input).
c. Adanya prinsip ilmu yang melandasi proses bioteknologi
d. Adanya produk turunan atau jasa yang dipakai dari proses penggunaan
agen biologi (output).
2. Jenis-jenis bioteknologi
Bioteknologi dibedakan menjadi dua berdasarkan tingkat kerumitan
dalam pelaksanaan prosesnya yaitu bioteknologi konvensional dan
bioteknologi modern.
a. Bioteknologi konvensional
Bioteknologi konvensional atau biasa disebut bioteknologi tradisional
masil menggunkana ternik dan peralatan yang sederhana. Pada
bioteknologi konvensional prosesnya memanfaatkan mikroorganisme,
proses niokimia, dan proses genetik alami. Mikroorganisme berperan
hanya sebagai peubah bentuk maupun kandungan gizi melalui proses
fermentasi. Manipulasi yang dilakukan npada bioteknologi konvensional
hanya pada kondisi lingkungan dan media tumbuh (substrat), manipulasi
ini belum sampai tahap rekayasa genetika. Jika pun ada, rekayasa yang
dilakukan bersifat sederhana dan perubahan bahan genetik yang
dihasilkan tidak tepat sasaran.
Kelebihan bioteknologi konvensional sebagai berikut:
1) Biaya produksi murah
2) Teknologi menggunakan peralatan sederhana
3) Pengaruh jangka panjang sudah diketahui
Sementara itu, kelemahan bioteknologi konvensional sebgai berikut:
1) Perbaikan genetik tidak terarah
2) Memerlukan waktu relatif lama
3) Belum ada pengkajian prinsip-prinsip ilmiah
4) Hasil tidak dapat diperkirakan sebelumnya
5) Tidak dapat mengatasi ketidaksesuaian genetika
6) Hanya diprosduksi dalam skala kecil
7) Prosesnya relatif belum steril sehingga kualitas hasilnya belum
terjamin
b. Bioteknologi modern
Perkembangan ilmu-ilmu biologi seperti mikrobiologi, biologi sel,
biologi molekuler, biokimia, dan genetika sangat menentukan
perkembangan bioteknologi modern. Pada bioteknologi modern,
manipulasi tidak hanya dilakukan pada kondisi lingkungan maupun
media tumbuh, tetapi manipulasi juga dilakukan pada susuna gen dalam
kromosom makhluk hidup yang digunakan (rekayasa genetika). Oleh
karena itu, bioteknologi modern snagat erat dengan rekayasa genetika.
Rekayasa genetika bertujuan untuk menghasilkan organisme transgenik
yakni organisme yang susunan gen dalam kromosomnya telah diubah
sehingga mempunyai sifat mengguntungkan sesuai dengan yang
dikehendaki. Dengan demikian, hasil reayasa genetika bersifat lebih
terarah atau dapat diramalkan sebelumnya. Bioteknologi modern
menghasilkan produk dalam skala industri dengan menggunakan
organisme, sistem, atau proses bioteknologi.
Kelebihan bioteknologi modern sebagai berikut:
1) Hasil dapat diperhitungkan
2) Dapat mengatasi kendala ketidak sesuaian genetik
3) Perbaikan sifat genetik dapat dilakukan secara terarah
4) Dapat menghasilkan organisme yang sifat barunya tidak ada pada sifat
alaminya
Adapun kelemahan bioteknologi modern sebagai berikut:
1) Biaya produksi relatif lebih mahal
2) Memerlukan teknologi canggih
3) Pengaruh jangka panjang belum diketahui
Teknik yang digunakan dalam bioteknologi modern meliputi kultur
jaringan, kloning, teknik bayi tabung, DNA rekombinan, dan fsi
protoplasma.
1) Kultur jaringan
Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman secara
vegetatif buatan yang didasarkan pada sifat totipotensi tumbuhan.
Prinsip kultur jaringan adalah menumbuhkan jaringan maupun sel
tumbuhan dalam suatu media buatan secara spesifik.
Rangkaian tahap kultur jaringan sebagai berikut.
a) Sterilisasi eksplan dengan cara merendamkan eksplan dalam bahan
kimia (sterilan) secara alami beberapa menit kemudian dicuci
dengan air steril.
b) Penanaman eksplan pada media kultur yang terbuat dari agar-agar
dan dilengkaspi dengan unsur makro dan mikro
c) Meletakkan botol yang berisi eksplan pada ruangan yang suhu dan
penyinarannya terkontrol hingga terbentuk kalus.
d) Subkultue dilakukan beberapa kai sampai kalus tumbuh menjadi
plantlet
e) Plantlet dikeluarkan dari botol dan akarnya dibersihkan dengan air
bersih
f) Plantlet ditanam ke dalam pot-pot kecil dan diletakkan ditempat
yang tidak terkena cahaya matahari langsung
g) Apabila plantlet sudah tumbuh kuat, tanaman bisa dipindahkan ke
media tanah atau lahan ppertanian yang terkena matahari langsung.
Keunggulan-keunggulan teknik kultu jaringan sebagai berikut:
a) Tidak memerlukan lahan yang luas untuk memprodksi banyak bibit
tanaman
b) Menghasilkan bibit tanaman yang sifatnya identik dengan sifat
induknya
c) Menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah banyak dan dalam
waktu singkat
Kultur jaringan bertujuan untuk memperbanyak bibit unggul
dengan mudah dan cepat. Teknik ini dpat digunakan untukk
melestarikan tanaman langka atau tanaman lain yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi.
2) Kloning
Kloning atau transplantasi atau pencangkokan nukleus digunakan
untuk menghasilkan individu yang secara genetik identik dengan
induknya. Proses kloning dilakukan dengan cara memasukkan inti sel
donor kedlam sel telur yang telah dihilangkan inti selnya. Sel telur
tersebut diberi kejutan listrik atau zat kimia untuk memacu
pembelahan sel. Ketika klon embrio telah mencapai tahap yang sesuai,
embrio dimasukkan ke dlaam rahim hewan betina lainnya yang
sejenis. Hewan tesebut selanjutnya akan mengandung embrio ynag
ditanam dan melahirkan anak hasil kloning. Contoh hewan hasil
kloning adalah domba dolly.
3) Teknik bayi tabung
Teknik bayi tabung bertujuan untuk membantu pasangan suami istri
yang sulit memperoleh keturunan. Pembuahan yang dilakukan pada
teknik bayi tabung (fertililisasi in vitro) berada di luar tubuh nduk
betina. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk embrio. Embrio
kemudian ditanam (diimplantasi) pada rahim seorang wanita
pendonor. Embrio tersebut selanjutnya tumbuh menjadi anak yang
siap dilahirkan.
4) DNA rekombinan
DNA rekombinan adalah teknik mengubah susunan DNA suatu
organisme dengan cara menyisipkan gen asing ke organisme tersebut
sehingga diperoleh sifat yang tidak dimiliki sebelumnya. Teknik ini
digunakan untuk menghasilkan organisme transgenik. Proses DNA
rekombinan ini meliputi isolasi DNA, transplantasi gen atau DNA,
dan memasukkan DNA ke dalam sel hidup.
a) Isolasi DNA
Isolasi DNA dilakukan untuk menyeleksi dna yang di
kehendaki. Isolasi dilakukkan dengan mengekstrak kromosom dari
suatu organisme. DNA yang dipilih kemudiandipotong dengan
enzim endonuklease restriksi yang berperan sebagai “gunting
biologi”
Segmen DNA yang dikehendaki kemudian dimasukkan kedalam
suatu vektor (pembawa). Vektor pada proses ini dapat berupa
plasmid atau DNA virus. Vektor yng dipilih ini harus dapat
berikatan dengan gen, mampu memperbanyak, dan mengeksresikan
gen tersebut. Sebelum digunakan sebagai vektor plasmid maupun
DNA virus harus dipotong terlebih dahulu dengan enzim
endonukelease restriksi.
b) Transplantasi Gen atau DNA
Transplantasi gen dilakukan dengan cara menyambung gen yag
telah diisolasikan ke dalam DNA plasmid vektor dengan
menggunakan enzim ligase. Enzim ligase maupun menyambung
ujun-ujung nukleotida dan berperan sebagai “lem biologi”. Hasil
penyambungan ini disebut DNA rekombinan yang mengandung
DNA asli vektor dari DNAasing yang diinginkan
c) Memasukkan DNA rekombinan ke dalam sel hidup
DNA rekombinan kemudian di masukkan kedalam vektor sel
bakteri atau pun virus melalui pemanasan dalam tarutan NaCL
atau melalui elektroporasi. Sel bakteri atau virus tersebut kemudian
melakukan replikasi dengan cara membelah diri sehingga diperoleh
DNA rekombinan dalam jumlah banyak
5) Fusi protoplasma
Fusi protoplasma disebut juga teknologi hibridoma adalah teknik
penggabungan dua sel yang berasal dari jaringan berbeda sehingga
menghasilkan sel hibrid yang memiliki sifat dari kedua sel tersebut.
Penggabungan dari dua sel tersebut berlangsung dalam suatu medan
listrik. Teknik ini digunakan untuk menghasilkan organisme
transgenik. Prinsip dari fusi protoplasma adalah menggabungkan
kedua isi sel dengan terlebih dahulu menghilakan dinding sel atau
membran sel dari kedua sel yang akan digabungkan dalam suatu
medan listrik. Teknik ini dapat dilakukan pada sel tumbuhan maupun
hewan. Fusi protoplasma pada tumbuhan dilakukan melaui beberapa
tahap sebagaiberikut:
a) Menyiapkan protoplasma dari tumbuhan
b) Menghilangkns dinding sel-sel tumbuhan dan rendah mengisoalsi
protoplasmanya
c) Menguji viabilitas (aktifitas hidup) protoplasma yang diperoleh
d) Melakukan fusi protoplasma dalam suatu medan listrik
e) Menyeleksi hasil fusi protoplasma
f) Membiakkan hasil fusi protoplasma yang terseleksi
Fusi protoplasma pada sel hewan atau manusia dimanfatkan untuk
menghasilkan hibridoma (sel hibrid). Hibridoma merupakan hasil fusi
antara sel pembentuk antibodi sel (limfosit B) dengan sel mieloma (sel
kanker). Sel hibridoma yang dihasilkan dapat membelah secara tidak
terbatas seperti sel kanker, tetapi juga menghasilkan antibodi seperti
sel limposit B. Setiap sel hibridoma menghasilkan antibodi
yangsifatnya khas sehingga hibridoma yang dihasilkan harus diseleksi
terlebih dahulu. Selanjutnya, setiap sel hibrid dibiakkan untuk
menghasilkan antibodi.
Pertanyaan
1. Apa kelebihan dan kelemahan bioteknologi modern ?
2. Bagaimana tahapan-tahapan dalam proses bayi tabung ?
3. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyak tanaman secara vegetatif
buatan yang didasarkan pada sifat totipotensi. Apa kelebihan teknik kultur
jaringan ?
4. Teknik DNA rekombinan menggunakan plasmid bakteri sebagai vaktor.
Apa alasan digunkannya plasmid bakteri sebagai vaktor dalam teknik DNA
rekombinan ?
5. Bagaimana proses fusi protoplasma pada sel hewan atau manusia yang
bermanfaat untuk yang menghasilkan hibridorria (sel hibrid)?
Lembar Kerja Siswa (LKS) Bioteknologi

Tujuan:

1. Siswa dapat mengkonseptualisasikan prinsip dasar bioteknologi


2. Siswa dapat membandingkan bioteknologi konvensional dan modern

Langkah kerja:

1. Cermati gambar berikut ini!


Gambar A

Gambar B

2. Dari gambar diatas, tentukan yang mana termasuk bioteknologi konvensional


dan modern!
3. Masukan dalam tabel berikut ini, dan diskusikan perbedaan antara bioteknologi
konvensional dan modern!

Bioteknologi konvensional Bioteknologi modern


a. a.

b. b.

c. c.

d. d.

e. e.

f. f.

4. Berdasarkan perbedaan diantara keduanya, rumuskanlah konsep bioteknologi


konvensional dan bioteknologi modern?
Jawab:
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
.......................................................
5. Jelaskan kelemahan dan kelebihan bioteknologi konvensional dan bioteknologi
modern!
Jawab:
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
...................
Lembar Kerja Siswa (LKS) Bioteknologi

Tujuan:
1. siswa dapat mendeskripsikan penerapan prinsip rekayasa genetika
2. siswa dapat menganalisis dampak bioteknologi bagi sains, lingkungan,
teknologi dan masyarakat misalnya kloning

pendekatan pemecahan masalah:

Salah satu teknik dalam bioteknologi modern adalah kloning dengan transfer inti.
Dalam bahasa sehari-hari teknik ini sering disebut kloning. Salah satu hasil
penerapan dari teknik kloning adalah pembentukan domba dolly

1. apa yang dimaksud dengan kloning?


Jawab:
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
................................................................
2. jelaskan bagaimana teknis kloning dengan transfer inti dilakukan?
Jawab:
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
................................................................
3. teknik kloning dengan transfer inti memungkinkan menghasilkan individu
hewan yang sama persis dengan induknya. Benarkah pernyataan tersebut?
Jelaskan alasannya!
Jawab:
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
................................................................
4. jika teknik tersebut diterapkan pada manusia, apa permasalahan yang akan
ditimbulkan?
Jawab:
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
................................................................................
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran- lembaran yang berisi tugas
yang harus dikerjakan peserta didik. LKS biasanya berupa petunjuk,
langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang
diperintahkan dalam lembar kerja harus jelas kompetensi dasar yang akan
dicapainya. LKS dapat digunakan untuk mata pelajaran apa saja. Tugas-
tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik
secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain
yang terkait dengan materi tugasnya.
2. LKS adalah salah satu media pengajaran yang berorientasi kepada
keterampilan proses sehingga diharapkan dapat mencapai hasil
pembelajaran yang optimal. Keterampilan Proses Sains (KPS) adalah
kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami,
mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting
bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam
mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh pengetahuan baru/
mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki.

3. LKS dikatakan berkualitas baik bila memenuhi syarat berupa syarat-syarat


Didaktik, yaitu LKS sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya PBM
haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya LKS harus mengikuti asas-
asas belajar-mengajar yang efektif. Kemudian, syarat-syarat Konstruksi,
yaitu syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan
kalimat, kosa-kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada hakikatnya
haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh pengguna yaitu siswa.
Selanjutnya, syarat-syarat Teknis yang dapat berupa tulisan.
4. Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsangnya untuk belajar. Istilah medium sebagai perantara yang
mengantarkan informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film,
foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan
cetakan, dan sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media tersebut
membawa informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud
pengajaran maka media disebut dengan media pengajaran.
5. Model pembelajaran hakikatnya adalah sebuah bentuk pembelajaran yang
tergambarkan dari awal sampai akhir pembelajaran yang dikemas secara
khas oleh seorang pendidik. Dengan kata lain, model pembelajaran adalah
bingkai atau bungkus dari pengaplikasian suatu metode, pendekatan dan
teknik pembelajaran.
6. Metode pembelajaran bisa diartikan sebagai sebuah cara yang dipergunakan
dalam pengimplementasian rencana yang telah disusun dalam suatu kegiatan
nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa metode
pembelajaran yang bisa dipergunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, yaitu metode ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi,
laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat dan lain
sebagainya.
7. Pendekatan pembelajaran merupakan sudut pandang atau titik tolak guru
terhadap proses berlangsungnya pembelajaran, yang merujuk terhadap
pandangan akan terjadinya sebuah proses yang sifatnya masih sangat
general atau umum, didalamnya mewadahi, menguatkan, menginsiprasi dan
melatari metode dalam suatu pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat.
8. Penggunaan LKS dalam pembelajaran biasanya tidak berdiri sendiri atau
tidak menjadi bahan ajar utama dan satu-satunya untuk pembelajaran sebuah
materi. Guru biasanya mengkombinasikan dengan penggunaan buku paket
atau buku teks pelajaran agar semakin sempurna. Tak jarang pula
ditambahkan dengan penggunaan media pembelajaran yang interaktif
sehingga siswa dapat mempelajari pelajaran dengan menggunakan LKS
dengan lebih mudah dan cepat memahami apa yang dipelajari. Dalam hal
ini, diambil mata pembelajaran kelas 12 semester dua berupa bioteknologi
dengan penggunaan LKS dan beberapa media pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

B. Suryobroto. (1986). Mengenal Metode Pengajaran di Sekolah dan Pendekatan


Baru dalam Proses Belajar-Mengajar. Yogyakarta : Amarta

Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis. (1992). Pendidikan IPA II. Jakarta:
Depdikbud

T. Raka Joni. (1983). Pengembangan Paket Belajar. Jakarta : Depdikbud

AECT “The Definition of Educational Technology”,. (1977) Edisi Indonesia


Diterbitkan CV. Rajawali dengan judul Definisi Teknologi Pendidikan.

Ahmad Rohani. (1997). Media Instruksional Educatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dewi Salma P,. (2007) Prinsip Desain Pembelajaran, Jakarta. UNJ

Mahnun, Nunu. 2012. Media Pembelajaran(Kajian terhadap Langkah-langkah


Pemilihan Media dan Implementasinya dalam Pembelajaran). Jurnal
Pemikiran Islam; Vol.37, No. 1 Januari-Juni 2012

Nana Sudjana (2005) Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Rahardjo, R. Media Pembelajaran 1986. Dalam Yusufhadi Miarso dan


kawankawan. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Rajawali. Jakarta, 1986

Slamet. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT


Asdi Mahasatya.
Yunitasari, Hanna Ully. 2013. Pengembangan Lembar Kerja Ssiswa (LKS) IPA
Terpadu Berpendaketan SETS Dengan Tema Pemanasan Global untuk
Siswa SMP. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang