Anda di halaman 1dari 13

Contoh soal 1.

Sebuah rangkaian op-amp pembalik seperti gambar di bawah memiliki nilai-nilai


yaitu: tahanan feed back = 330 kΩ; tahanan input = 1 kΩ; dan tegangan input = 17 mV. Hitung
berapa perolehan tegangan (Av), tegangan output (Vout) dan tegangan catu daya (Vcc) pada
rangkaian tersebut?

Penyelesaian:
Diketahui:

o Rf = 330 kΩ = 330.000 Ω
o Rin = 1 kΩ = 1.000 Ω
o Vin = 17 mV = 0,017 V

Av = − Rf ÷ Rin = − 330.000 ÷ 1.000 = − 330


Vout = Av × Vin = − 330 × 0,017 V = − 5,61 V

Apabila input yang diberikan adalah +17 mV, maka output yang dihasilkan adalah − 5,61 V. Hal ini
mengasumsikan bahwa tegangan catu daya (Vcc) yang digunakan memungkinkan output bergerak
mencapai nilai itu. Sebuah catu daya±6V terlalu kecil untuk itu, oleh karenanya membutuhkan catu
daya dengan rating tegangan setidaknya ±8V (atau sekitar ±150% × Vout), untuk menguatkan
tegangan input sebesar 17 mV.

Sehingga diperoleh Av = − 330; Vout = − 5,61 V; Vcc = ±8 V.


Contoh soal 2. Rangkaian seperti gambar contoh soal 1, diketahui: Rin = 4k7Ω; Rf = 220 kΩ; dan
Vin = 50 mV. Hitung Av, Vout dan Vcc.

Penyelesaian:
Av = − Rf ÷ Rin = − 220.000 ÷ 4.700 = − 46,8
Vout = Av × Vin = − 46,8 × 0,050 V = − 2,34 V
Vcc = ±150% × Vout = ±150% × −2,34 V = ±3,51 V

maka didapatkan Av = − 46,8; Vout = −2,34 V; Vcc = ±3,51 V.


Latar Belakang
Penguat operasional (operational amplifier) atau yang biasa disebut op-amp merupakan
suatu jenis penguat elektronika dengan hambatan (coupling) arus searah yang memiliki bati
(faktor penguatan) sangat besar dengan dua masukan dan satu keluaran. Penguat diferensial
merupakan suatu penguat yang bekerja dengan memperkuat sinyal yang merupakan selisih dari
kedua masukannya. Penguat operasional pada umumnya tersedia dalam bentuk sirkuit terpadu
dan yang paling banyak digunakan adalah rangkaian seri. Penguat operasional dalam bentuk
rangkaian terpadu memiliki karakteristik yang mendekati karakteristik penguat operasional
ideal tanpa perlu memperhatikan apa yang terdapat didalamnya.

Penguat operasional adalah perangkat yang sangat efisien dan serba guna. Contoh
penggunaan penguat operasional adalah untuk operasi matematika sederhana seperti
penjumlahan dan pengurangan terhadap tegangan listrik hingga dikembangkan kepada
penggunaan aplikatif seperti komparator dan osilator dengan distorsi rendah serta
pengembangan alat komunikasi. Selain itu, aplikasi pemakaian op-amp juga meliputi bidang
elektronika audio, pengatur tegangan DC, tapis aktif, penyearah presisi, pengubah analog digital
dan pengubah digital ke analog, pengolah isyarat seperti cuplik tahan, penguat pengunci,
kendali otomatik, computer analog, elektronika nuklir, dan lain-lain.

1.2. Tujuan
1.2.1. Mampu memahami tentang rangkaian penguat penjumlah
1.2.2. Mampu menganalisa macam – macam penguat penjumlah
1.2.3. Mampu membuat rangkaian penguat penjumlah baik inverting atau non inverting.
1.2.4. Mampu menganalisa prinsip kerja rangkaian penguat penjumlah.
1.2.5. Mampu menjelaskan dan menganalisa penurunan rumus dari rangkaian penguat penjumlah.
1.2.6. Mampu memahami implementasi dari rangkaian penguat penjumlah.

1.3. Rumusan Masalah


1.3.1. Apa yang di maksud dengan penguat penjumlah ?
1.3.2. Apa saja implementasi dari penguat penjumlah ?
1.3.3. Bagaimana cara menganalisa rangkaian penguat penjumlah ?
1.3.4. Bagaimana penurunan rumus dari penguat penjumlah ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Rangkaian Penjumlah


Rangkaian penjumlah adalah konfigurasi op – amp sebagai penguat dengan diberikan
input lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output yang linier yang sesuai dengan nilai
penjumlahan sinyal input dan faktor penguat yang ada. Pada umumnya rangkaian penjumlah
adalah rangkaian penjumlah dasar yang disusun dengan penguat inverting dan non
inverting yang diberikan input 1 line.

Gambar 21. Rangkaian sederhana penguat penjumlah

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa inputan yang berupa tegangan DC yang
diberikan ke line input penguat berturut – turut melalui R1, R2, dan Rn. Besarnya inputan yang
masuk akan dikuatkan dengan menggunakan op – amp yang diberikan dengan penguatan ( Av )
tertentu. Tiap sinyal input mengikuti nilai perbandingan dari Rf dan resistor input masing –
masing ( R1, R2, dan Rn ).

2.2. Macam – macam Penguat penjumlah

2.2.1. Penguat Penjumlah Pembalik

2.2.1.1. Gambar Rangkaian


Gambar 2.2. Rangkaian penguat penjumlah pembalik ( inverting )

2.2.1.2. Prinsip kerja rangkaian

Pada operasi adder/penjumlahan sinyal secara inverting, input yang berada


pada V1,V2,V3 dihubungkan dengan hambatan yaitu R1,R2, dan R3 setelah di hubungkan
dengan hambatan, lalu di hubungkan dengan masukan negatif pada op-amp. Besarnya
penjumlahan sinyal masukan tersebut bernilai negatif karena penguat operasional dioperasikan
pada mode membalik. Besarnya penguatan tegangan (Av) tiap sinyal input mengikuti nilai
perbandingan Rf dan resistor input masing-masing (R1,R2,R3).

2.2.1.3. Penurunan Rumus


2.2.1.4. Simulasi

Gambar 2.3 simulasi penguat penjumlah membalik

Gambar 2.4 sinyal output penguat penjumlah pembalik


Gambar 2.5 simulasi penguat penjumlah membalik

Dari simulasi diatas dapat di lihat output penguat pembalik penjumlah menghasilkan
tegangan sebesar 8.6 Volt, untuk pembuktian perhitungannya dapat di lihat di bawah ini :

2.2.1.5. Contoh Soal


Gambar 2.6 contoh soal

Dari gambar di atas, hitunglah besar tegangan keluaran tegangan rangkaian diatas!
Jawab :

2.2.2. Penguat Penjumlah Tak pembalik (Non – Inverting)


2.2.2.1. Gambar Rangkaian

Gambar 2.7. rangkaian penguat non – inverting ( tak pembalik )

2.2.2.2 Prinsip kerja rangkaian


Rangkaian penjumlah non-inverting memiliki penguatan tegangan yang tidak melibatkan
nilai resistansi input yang digunakan. Oleh karena itu dalam rangkaian penjumlah non-
inverting nilai resistor input (R1, R2, R3) sebaiknya bernilai sama persis, hal ini bertujuan
untuk mendapatkan kestabilan dan akurasi penjumlahan sinyal yang diberikan ke rangkaian.
Pada rangkaian penjumlah non-inverting diatas sinyal input (V1, V2, V3) diberikan ke jalur input
melalui resitor input masing- masing (R1, R2, R3). Besarnya penguatan tegangan (Av) pada
rangkaian penguat penjumlah non-inverting diatas diatur oleh Resistor feedback (Rf) dan
resistor inverting (Ri).
2.2.2.3 Penurunan Rumus

2.2.2.4 Simulasi

Gambar 2.8 simulasi penguat penjumlah tak membalik


Gambar 2.9 sinyal output penguat penjumlah tak membalik

Gambar 2.10 simulasi penguat penjumlah tak membalik

Dari simulasi diatas dapat di lihat output penguat pembalik penjumlah menghasilkan
tegangan sebesar 9.75 Volt, untuk pembuktian perhitungannya dapat di lihat di bawah ini :
2.2.2.5 Contoh soal

Gambar 2.11 contoh soal penguat penjumlah tak membalik

Dari gambar di atas, hitunglah besar tegangan keluaran tegangan rangkaian diatas!
Jawab:
BAB III
IMPLEMENTASI
3.1 Implementasi penguat penjumlah membalik

Gambar 3.1 Implementasi penguat penjumlah membalik


Pada rangkaian penguat penjumlah membalik diatas kami mengguanakan
speaker (alarm) otomatis. Pada rangkaian diatas kami menggunakan 2 buah penguat yaitu
penguat pembalik dan tak pembalik. Masukan pertama berupa sensor suhu yang dihubungkan
dengan penguat tak pembalik (non – inverting). Sedangkan untuk input kedua kami
menggunakan input dari battery sebesar 3V. untuk prinsip kerja rangkaiannya adalah ketika
suhu telah mencapai 30 C maka sensor suhu LM 35 akan meloloskan tegangan sebesar 300mV
lalu tegangan ini akan dikuatkan oleh rangkaian tak pembalik (non – inverting) yang
menghasilkan penguatan sebesar 10 kali lalu akan menghasilkan keluaran sebesar 3V, lalu
keluaran sebesar 3V inilah yang akan di gunakan sebagai msukan rangkaian penjumlah
pembalik (inverting). Karena penguat pembalik hasil keluarannya berupa minus ( - ), maka
dibutuhkan 1 buah penguatan pembalik untuk dapat membalikkan polaritasnya, yang keluaran
pertamanya berupa minus (-) menjadi plus (+). Dapat dilihat dengan perhitungan dibawah ini :
Karena keluarannya berupa minus maka dibutuhkan 1 penguat pembalik untuk
membalikkan polaritasnya. Penguatan pembalik diberi penguatan sebesar 1 kali. Dapat dilihat
dengan perhitungan dibawah ini:

3.2 Implementasi penjumlah tak membalik

Gambar 3.2 Implementasi penguat tak membalik

Untuk aplikasi penguat tak membalik kami menggunakan aplikasi “Kipas Otomatis”, di
dalam rangkaian kipas otomatis ini kami menggunakan dua rangkaian inverting sebagai
masukan 1 untuk rangkaian penjumlah tak membalik. Sedangkan untuk input kedua kami
menggunakan input dari battery sebesar 4V. untuk prinsip kerja rangkaiannya adalah ketika
suhu telah mencapai 30 C maka sensor suhu LM 35 akan meloloskan tegangan sebesar 300mV
lalu tegangan ini akan dikuatkan oleh dua rangkaian inverting yang menghasilkan penguatan
sebesar 10 kali lalu akan menghasilkan output sebesar 3V, lalu output sebesar 3V inilah yang
akan di gunakan sebagai input 1 rangkaian penjumlah tak membalik. Untuk lebih jelasnya
berikut adalah perhitungan penguat penjumlah tak membalik:
Lalu setelah penguat penjumlah tak membalik menghasilkan output sebesar 9,75V dan akan
mengaktifkan relay sehingga kipas akan menyala.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Rangkaian penjumlah / adder adalah konfigurasi op – amp sebagai penguat dengan
diberikan input lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output yang linier yang sesuai dengan
nilai penjumlahan sinyal input dan faktor penguat yang ada. Pada umumnya rangkaian
penjumlah adalah rangkaian penjumlah dasar yang disusun dengan penguat inverting dan non
inverting yang diberikan input 1 line.