Anda di halaman 1dari 74

1

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN


TATALAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK, PRODUKSI SEMEN DAN
PEMASARAN SERTA DISTRIBUSI SEMEN BEKU
BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI
MALANG, JAWA TIMUR

Diajukan untuk menempuh ujian Praktek Kerja Lapangan (PKL)


Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

Oleh :

Yusita Attaqwa 200110140217


Ade Talitha Rosmaniar 200110140219
Annisa Savitri Wijaya 200110140221
Ratih Dwi Permatasari 200110140223

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
12

I
KEADAAN UMUM INSTANSI

1.1 Identitas dan Sejarah Pendirian Instansi


Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari merupakan Unit
Pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Sesuai dengan Surat Keputusan menteri Pertanian No. 681/Kpts/OT.140/11/2004,
tanggal 25 Nopember 2004, BBIB Singosari merupakan Unit Pelaksana Teknis
eselon 2b yang bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan. Dengan pengalaman lebih dari dua puluh delapan tahun BBIB
Singosari telah memproduksi semen beku dari sembilan bangsa sapi (Limousine,
Simental,Aberdeen Angus, Brangus, Brahman, Ongole, Madura, Bali dan Friesien
Holstein) dan lima bangsa kambing (Peranakan Ettawa, Boer, Boerawa, Senduro
Sanen).
BBIB Singosari memiliki motto "Setetes Mani Sejuta Harapan" yang telah
terregistrasi di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia no IDM000138723.
Dengan motto tersebut BBIB Singosari senantiasa memproduksi semen beku
berkualitas sesuai dengan SNI 01-4869,1-2008, dengan menggunakan bahan
pengencer yang berkualitas dan mesin - mesin modern. Sebagai jaminan terhadap
kualitas semen beku produksi BBIB Singosari, Laboratorium Uji Mutu Semen
BBIB Singosari telah terakreditasi yang ke dua kali pada tanggal 19 Pebruari
2010, menerapkan dan memelihara Sistem Mutu sesuai ISO/IEC 17025:2005.
BBIB Singosari memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan dunia
peternakan di Indonesia. Hal ini diwujudkan dalam bentuk Program Progeny
Testing / Uji Zuriat yang telah dilaksanakan bekerjasama dengan pemerintah
Jepang dalam proyek ATA - 233 (The Strengthening of Singosari AI Centre).
Program ini telah menghasilkan FH Elite Indonesia yang memiliki mutu genetik
yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan baik.
13

Visi dari BBIB Singosari yaitu “Menjadi Model BLU yang Handal,
Akuntabel dan Inovatif Berbasis Teknologi Peternakan Bertaraf Internasional”
sedangkan untuk Misi sebagai berikut :
1. Meningkatkan produksi dan diversifikasi semen beku serta produk layanan
penunjang yang berkualitas.
2. Melaksanakan replacement pejantan dan produksi bibit unggul secara
berkesinambungan yang ditunjang oleh optimalisasi pakan ternak dan
biosecurity.
3. Meningkatkan profesionalisme SDM melalui pendidikan dan pelatihan
serta promosi dan penempatan berdasarkan kompetensi guna tercapainya
kesejahteraan.
4. Mengoptimalkan fasilitas serta meningkatkan nilai tambah aset fisik dan
intelektual dengan pengembangan teknologi dan pendaftaran hak paten
merek.
5. Meningkatkan kualitas pelayanan, pemasaran dan penjualan produk,
monitoring dan evaluasi.
6. Meningkatkan tertib administrasi dan keuangan, efisiensi dan
akuntabilitas, koordinasi dan komunikasi serta pelayanan guna
mewujudkan manajemen bisnis modern
Asal mula dari BBIB Singosari dimulai pada tahun 1976 pemerintah
Daerah Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Pemerintah Belgia (AB 05 dan
ATA 73) mendirikan Laboraturium Semen Beku di Wonocolo-Surabaya. Tahun
1978 Pemerintah pusat mengambil alih pengelolaan laboratorium dan ditetapkan
sebagai cabang Balai Inseminasi Buatan Wonocolo dengan surat keputusan
Menteri Pertanian No.314/Kpts/Org/5/1978, tanggal 25 Mei 1978.
Pemindahan lokasi dari Wonocolo ke Singosari-Malang dilakukan pada
tahun 1982. Tahun 1984, Direktur Jendral Peternakan menetapkan sebagai
Cabang Balai Inseminasi Buatan Singosari. Balai Inseminasi Buatan Singosari
mengadakan kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam Proyek Pengembangan
14

BIB melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Sejak saat itu
dilaksanakan Uji Zuriat (Progeny Test).
Status Cabang Balai Inseminasi Buatan ditingkatkan menjadi Balai
Inseminasi Buatan Singosari dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No
193/Kpts/OT.210/2/1988, pada tanggal 29 Februari 1988 dan dengan Surat
Keputusan Direktur Jendral Peternakan No.52/OT.210/Kpts/0896, tanggal 29
Agustus 1996 ditetapkan sebagai pusat Pelatihan Inseminasi Buatan. Kemudian
pada tahun 2004 status Balai Inseminasi Buatan Singosari ditingkatkan menjadi
Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari dengan surat Keputusan Menteri
Pertanian No. 681/Kpts/OT.140/II/2004 pada tanggal 25 November 2004.Tahun
2010, ditetapkan menjadi unit kerja yang menerapkan PPK-BLU (Pola
Pengelolaan Keuanggan Badan Layanan Umum) dengan surat keputusan menteri
keuanggan No. 54/KMK05/2010 tanggal 5 Februari 2010.

1.2 Lokasi Instansi


Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari terletak di Dusun Glatik
Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang Jawa Timur. BBIB
Singosari berada pada ketinggian 800-1200 m di atas permukaan laut, dengan
rata-rata suhu udara berkisar antara 16 – 22 °C, kelembaban udara berkisar antara
70 – 90 % dan curah hujan 2.233 mm/tahun. Luas areal dari BBIB Singosari
adalah 67,72 hektar dilengkapi dengan bangunan perkantoran, asrama, gedung
belajar, auditorium, guest house, kandang sapi dan kambing serta laboratorium.

1.3 Struktur Organisasi


Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No
40/Permentan/OT.140/6/2012 yang ditetapkan tanggal 5 Juni 2012, maka struktur
organisasi BBIB Singosari dapat dilihat pada bagan di bawah ini :
15
Kepala Balai
drh.Enniek Herwijanti, MP

Kepala Bagian Umum

Ir. Nurkhayati, MM

Ka. SubBagian Ka. SubBagian Ka. SubBagian


Program dan Kepegawain dan Tata Rumah Tangga dan
Keuangan Usaha Perlengkapan
Sailendra, SE Suhartati.N, S.Pt L Putu Eka S., S.Pt

Kepala Bidang Pemasaran


Kepala Bidang Pelayanan
dan Informasi
Teknis
drh. Sarastina, MP
Suharyanta, S.Pt

Kepala Seksi Ka. Seksi Informasi dan


Pemeliharaan dan Kepala Seksi Kepala Seksi Pemasaran
Peningkatan Mutu Produksi Semen dan Pemantauan Mutu Semen dan Kerjasama
Genetik Ternak Pengembangan IB
Natalia H.K., S.Pt, M.Hum Nugro M. N., S.Pt, MM
drh. Koko Wisnu P drh. Anny Amaliya

Kelompok Jabatan Fungsional

Sesuai SK MENTAN Nomor 40/Permentan/OT.140/6/2012 Tanggal 5


Juni 2012, BBIB Singosari memiliki tugas pokok sebagai berikut "Produksi,
Distribusi, Pemasaran dan Pemantauan Mutu Semen Ternak Unggul serta
Pengembangan Inseminasi Buatan." BBIB Singosari memiliki fungsi sebagai
berikut:
1. Penyusunan program, evaluasi dan laporan kegiatan produksi, pemasaran
dan pemantauan mutu semen ternak unggul, serta pengembangan
inseminasi buatan;
2. Pelaksanaan produksi dan pemberian saran teknis produksi semen ternak
unggul;
16

3. Pelaksanaan pengujian dan pemantauan mutu semen ternak unggul;


4. Pelaksanaan pengembangan inseminasi buatan dan metoda produksi;
5. Pelaksanaan pemeliharaan pejantan ternak unggul;
6. Pelaksanaan perawatan kesehatan pejantan ternak unggul;
7. Pelaksanaan pengawasan dan penyedian pakan pejantan ternak unggul;
8. Pelaksanaan pengujian keturunan dan peningkatan mutu genetik pejantan
ternak unggul;
9. Pelaksanaan kerjasama dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya;
10. Pelaksanaan penyimpanan, pendistribusian dan pemasaran hasil produksi;
11. Pengelolaan prasarana dan sarana produksi;
12. Pengelolaan informasi dan promosi hasil produksi;
13. Pengelolaan urusan tata usaha, rumah tangga dan perlengkapan.

1.4 Kondisi Lingkungan Fisik Instansi


Infrastruktur yang dimiliki oleh BBIB Singosari bertujuan untuk
memberikan kenyamanan kepada pelanggan dan merupakan jaminan atas kualitas
produk yang dihasilkan. Untuk menunjang aktivitasnya, BBIB Singosari yang
memiliki arela seluas 67,72 hektar memiliki berbagai fasilitas antara lain:
1. Laboratorium
2. Guest House
3. Perumahan Karyawan
4. Auditorium
5. Asrama
6. Kandang Pejantan
7. Areal Hijauan Pakan Ternak
8. Perpustakaan

1.5 Bidang Usaha


Pada tahun 2010, status institusional Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari berganti menjadi Badan Layanan Umum atau lebih dikenal dengan
17

sebutan PPK-BLU. Berdasarkan Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara


tepatnya pada Pasal 1 UU No. 1 tahun 2004, di sana disebutkan dengan jelas
mengenai definisi dari sebuah Badan Layanan Umum yang pada hakekatnya
terbatas hanya pada sebuah instansi di lingkungan pemerintah yang siap dan
mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan upaya mencari keuntungan dan
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.BLU adalah satuan kerja yang
menerima fleksibilitas pengelolaan keuangan sebagai format baru dalam
pengelolaan APBN/APBD dan juga merupakan wadah baru bagi pembaharuan
manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan pemerintah
kepada masyarakat.
Adapun pelayanan BLU yang dikelola Balai adalah 9 layanan. 9 layanan
tersebut biasa dimanfaatkan oleh masyarakat umum maupun pelajar dan
mahasiswa. Sembilan layanan publik yang ada BBIB Singosari antara lain:
1. Penjualan Semen Beku
2. Bimbingan Teknis (Bimtek)
3. Pelayanan Masyarakat
4. Jasa Konsultasi
5. Pengujian Mutu Semen
6. Penyewaan Aset Balai
7. Tenaga Instruktur dan Juri Kontes ternak.
8. Pelayanan penelitian
9. Pelayanan Purna Jual
18

II
TATA LAKSANA PEMELIHARAAN SAPI PEJANTAN
DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI
MALANG, JAWA TIMUR

Oleh :

Annisa Savitri Wijaya


200110140221

ABSTRAK

Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB)


Singosari Malang dilaksanakan pada tanggal 5 Januari – 10 Februari 2017.
Kegiatan PKL dilaksanakan untuk mengetahui Tata Laksana Pemeliharaan Sapi
Pejantan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari yang terdiri dari manajemen
pemeliharaan, manajemen pakan, dan manajemen kesehatan hewan. Metode yang
dilakukan dengan melakukan wawancara dan diskusi langsung dengan
koordinator lapang dan petugas kandang. Manajemen pemeliharaan terdiri atas
jumlah populasi dan pemilihan bibit ternak, sistem perkandangan, serta perawatan
ternak. Manajemen pakan terdiri atas penyediaan pakan, jumlah dan jadwal
pemberian pakan, serta pemeliharaan hijauan pakan ternak. Manajemen kesehatan
terdiri atas perawatan, pengobatan, dan pengontrolan kesehatan ternak di BBIB
Singosari.
Kata kunci : Pejantan, Tata Laksana, Pemeliharaan, Kesehatan, Pakan.

2.1 Latar Belakang


Inseminasi Buatan atau yang biasa dikenal IB merupakan teknologi dalam
sistem perkawinan ternak untuk peningkatan populasi dan produksi tenak secara
kualitatif dan kuantitatif. Penerapan teknologi ini dapat mengatasi jumlah pejantan
unggul dan mengoptimalkan pemanfaatan pejantan unggul tersebut. Inseminasi
buatan dapat menguntungkan dapat pula merugikan bila tidak didasarkan dengan
baik pada perencanaan dan penerapannya dilapangan. Faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan IB antara lain manajemen pemeliharaan, pakan, dan
19

kesehatan hewan yang merupakan faktor yang penting dan sangat perlu
diperhatikan dalam usaha peternakan khususnya sapi pejantan.
Agar dapat mencapai tujuan program IB maka tata laksana pemeliharaan
sapi pejantan harus diperhatikan agar dapat menghasilkan bibit ternak yang
unggul dan bermutu tinggi dan semen yang dihasilkan berkualitas. Oleh karena
itu, di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang terdapat bagian
Pemeliharaan dan Peningkatan Mutu Genetik Ternak yang bertugas untuk
menjaga kondisi sapi pejantan untuk menghasilkan semen yang berkualitas dalam
jumlah yang banyak sangat perlu diperhatikan manajemen pemeliharaan yang
mencakup seluruh kebutuhan ternak.

2.2 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan sapi pejantan di
BBIB Singosari.
2. Mengetahui dan memahami manajemen pakan sapi pejantan di BBIB
Singosari.
3. Mengetahui dan memahami manajemen kesehatan sapi pejantan di BBIB
Singosari.

2.3 Metode Pengamatan


Kegiatan yang dilakukan selama praktek kerja lapangan memiliki 2
metode yaitu mengikuti aktivitas yang ada dilapangan dengan tujuan untuk
mengetahui secara langsung kegiatan atau tata cara yang dilakukan dalam
manajemen pemeliharaan, manajemen pakan, dan manajemen kesehatan sapi
pejantan di BBIB Singosari, serta melakukan wawancara dan diskusi langsung
dengan koordinator lapang dan petugas kandang, serta mengambil data dari
literatur yang terkait.
20

2.4 Hasil dan Diskusi

2.4.1 Manajemen Pemeliharaan

2.4.1.1 Populasi Ternak dan Pemilihan Bibit Ternak


Jumlah Populasi pejantan yang terdapat di BBIB Singosari ini adalah
sebanyak 183 ekor sapi dari berbagai jenis bangsa yaitu Sapi Bali 35 ekor, Sapi
Ongole 12 ekor, Sapi FH 25 ekor, Sapi Brahman 15 ekor, Sapi Simmental 31
ekor, Sapi Limousin 46 ekor, Sapi Brangus 1 ekor, Sapi Madura 8 ekor, Sapi
Aberdeen Angus 7 ekor, Banteng Cross 1 ekor, Sapi Galekan 1 ekor, dan Sapi
Waghyu 1 ekor (BBIB Singosari, 2017).
Pemilihan bibit ternak pejantan di BBIB Singosari memiliki standar yang
sudah ditetapkan berdasarkan beberapa aspek yaitu:
1. Silsilah. Pemilihan bibit didasarkan pada keturunan yang dimiliki oleh
pejantan tersebut minimal 1 generasi diatasnya.
2. Standar Nasional Indonesia. Berdasarkan SNI (2008), terdapat 2
persyaratan mutu untuk calon bibit sapi pejantan yaitu persyaratan umum
dan persyaratan khusus. Persyaratan umum merupakan persyaratan yang
harus dimiliki oleh semua bangsa sapi yang menjadi calon pejantan di
BBIB Singosari, sementara persyaratan khusus meliputi persyaratan
kualitatif yang dimiliki oleh masing-masing bangsa sapi seperti warna
bulu, bentuk kaki, bentuk perut, dan lain sebagainya serta persyaratan
kuantitatif yaitu lingkar dada, tinggi pundak, panjang badan sapi, dan
lingkar skrotum.
3. Seleksi Penyakit. Pejantan harus bebas dari 13 macam penyakit yaitu
Anthrax, Brucellosis, Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), Bovine
Viral Dirrhea (BVD), Enzootic Bovine Leucosis (EBL), Bovine Genital
Campylobacteriosis (BGC), Paratuberculosis, Leptospirosis,
Trichomoniasis, Anaplasmosis, Babesiosis, Theileriosis, dan Jembrana
(khusus Sapi Bali).
21

4. Seleksi Libido dan Sperma. Pejantan di seleksi berdasarkan motilitas


sperma ketika ditampung untuk pertama kali di BBIB Singosari yaitu
dengan motilitas minimal 60%.

2.4.1.2 Sistem Perkandangan


BBIB Singosari memiliki 19 kandang pejantan, 2 kandang isolasi, dan 1
kandang karantina. Perkandangan sapi pejantan terdapat beberapa macam kandang
yaitu kandang tunggal, kandang ganda (tail to tail dan head to head), dan kandang
paddock. Kandang karantina merupakan kandang yang digunakan pada pejantan
yang baru masuk ke BBIB Singosari minimal selama 14-21 hari agar dapat
beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan sebelum dipindahkan ke kandang
pejantan. Kandang isolasi digunakan untuk sapi yang sakit agar mendapatkan
perawatan yang lebih intensif sehingga penularan penyakit tidak tersebar ke sapi
lainnya.
Atap kandang yang digunakan di BBIB Singosari terdapat 2 macam yaitu
atap tipe monitor dan semi monitor karena tipe atap ini memiliki ventilasi
sehingga sirkulasi udara didalam kandang tetap terjaga dengan baik dan
memberikan kenyamanan bagi ternak. Sementara untuk lantai kandang
menggunakan karpet karet yang berfungsi agar lantai tidak licin, ternak tidak
terpeleset, dan kesehatan kuku sapi terjaga.

2.4.1.3 Perawatan Sapi Pejantan


Kegiatan perawatan sapi pejantan terdiri atas memandikan ternak yang
dilakukan setiap hari pada pagi hari sebelum ternak ditampung semennya yang
bertujuan agar kebersihan dan kesehatan ternak tetap terjaga terutama pada bagian
sekitar penis dan preputium agar saat penampungan semen, kotoran tidak ikut
tercampur dengan semen. Setelah memandikan ternak, kegiatan selanjutnya
dilakukan dengan pembersihan kandang dan area sekitar kandang. Mulai dari
membersihkan palungan pakan dan menguras palungan air minum, membersihkan
lantai kandang dari feses, dan menjaga kebersihan area sekitar kandang agar
kenyamanan ternak tetap terjaga. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan
22

memberi makan dan minum ternak sesuai dengan jumlah dan jadwal yang telah
ditetapkan. Selain kegiatan rutin, terdapat pula kegiatan yang dilakukan secara
berkala seperti pengukuran dan penimbangan berat badan ternak, pemberian
identitas, exercise, penilaian Body Condition Score (BCS), handling bull, dan bull
salon.

2.4.2 Manajemen Pakan

2.4.2.1 Penyediaan Pakan


Metode yang digunakan dalam pemberian pakan di BBIB singosari adalah
Metode TMR (Total Mixed Ration). TMR merupakan metode pemberian pakan
sapi dengan menggabungkan beberapa macam bahan pakan seperti hijauan, biji-
bijian, pakan sumber protein, mineral, vitamin, dan feed aditif kedalam suatu
campuran yang menghasilkan pakan tunggal dengan kandungan nutrisi tertentu
sehingga ternak tidak memiliki kesempatan untuk memilih makanan. Metode
TMR memiliki beberapa kelebihan yaitu pakan dikonsumsi oleh sapi memiliki
komposisi yang tepat dan kandungan zat seimbang, menurunnya gangguan
pencernaan dan metabolisme sapi, efisiensi pakan lebih meningkat dibandingkan
dengan pemberian pakan terpisah tanpa di mix (Lammers et al, 1994). Jenis pakan
yang tersedia BBIB Singosari antara lain hijauan, silase, konsentrat, hay, dan
mineral dengan komposisi TMR pada pagi hari yaitu hijauan 2.600 kg, konsentrat
500 kg, silase 450 kg, dan mineral 5 kg. Sementara untuk kandungan TMR sore
hari yaitu hijauan 2.600 kg, silase 400 kg, konsentrat 400 kg, dan mineral 5 kg.
Kandungan nutrisi pakan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Pakan
Kandungan Nutrisi Pakan
Kode (%)
No.
Bahan
BK Abu PK SK LK Ca P TDN

1. TMR 90,34 19,73 15,72 30,02 0,66 2,77 0,61 52,05


Rumput
2. 16,93 10,71 12,94 29,61 1,70 0,28 0,22 63,01
Gajah
3. Silase 91,69 7,07 10,04 26,99 2,10 0,32 0,17 69,61
23

Jagung
4. Konsentrat 88,74 8,45 18,40 8,61 4,64 1,10 0,76 77,86
5. Hay 90,93 7,83 6,36 39,60 0,97 0,21 0,28 61,58
6. Mineral 99,39 48,08 0,52 1,76 0,27 35,25 0,32 -
Sumber : BBIB Singosari, 2016.

a) Hijauan
Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman
dalam bentuk dedaunan. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut
makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua
macam bentuk, yakni hijauan segar dan kering (Nasution, 1986). Hijauan di BBIB
singosari terdiri dari macam-macam rumput dan legum antara lain Rumput Gajah,
BD, Stargrass, Jagung, Indigofera, Kaliandra, Alfalfa, Rensonii, Gamal, dan Hay.

b) Silase
Silase adalah pakan ternak yang dipotong-potong dan disimpan dalam
keadaan anaerob. Tujuannya, agar terjadi fermentasi sehingga pakan dapat lebih
awet disimpan untuk mengatasi kekurangan pakan pada musim kemarau. Silase
yang baik memiliki ciri-ciri tidak berjamur dan tidak berlendir, berbau khas
keharum-haruman, dan tidak terjadi penggumpalan (Santoso dkk, 2011).
BBIB Singosari memproduksi silase sendiri dengan jenis silo yang
digunakan pada BBIB Singosari adalah tipe Trench Silo. Bahan baku yang
digunakan untuk pembuatan silase di BBIB Singosari adalah tebon jagung dan
rumput gajah. Silase tebon jagung menggunakan starter buah jagung itu sendiri
untuk proses fermentasi silase tanpa ditambahkan zat aditif lainnya. Sementara
untuk silase rumput gajah. Silase dibuat dengan penambahan starter molases
sebanyak 3% dari rumput gajah, dan diberikan setiap ketebalan 20 cm ketika
dipadatkan. Silase dapat dipanen pada umur 40 hari.
24

c) Konsentrat
Pakan konsentrat merupakan campuran bahan pakan yang mengandung
protein lebih dari 12% yang telah diperhitungkan nilai nutrisi dan gizinya serta
sesuai dengan kebutuhan ternak itu sendiri. Pakan konsentrat dapat berupa dedak,
ampas tahu, bungkil kedelai, gaplek, jagung giling, bungkil kelapa, urea, garam
dan mineral atau campuran dari bahan-bahan tersebut (Santoso dkk, 2011).
BBIB Singosari menggunakan konsentrat pabrik yang sudah siap konsumsi
berbentuk pellet. Bahan baku yang terdapat dalam konsentrat tersebut antara lain
jagung kuning, wheat bran, SBM, tetes, palm olien, asam amino esensial, mineral
esensial, premix, dan vitamin.

d) Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak (dapat berupa rumput-rumputan/
leguminosa) yang disimpan dalam bentuk kering dengan kadar air antara 20% -
30%. Pembuatan hay bertujuan menyeragamkan waktu panen sehingga tidak
mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya (Kartadisastra, 1997). Tujuan
dari pembuatan hay di BBIB Singosari adalah untuk memanfaatkan kelebihan
hijauan pada saat akhir musim hujan sehingga ternak tidak kekurangan pakan pada
saat musim kemarau. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan hay ini adalah
rumput yang berbatang kecil sehingga akan mudah dikeringkan seperti rumput
Brachiaria decumbens (rumput BD) dan Stargrass. Peralatan yang digunakan
dalam pembuatan hay adalah alat potong mesin (Disk Mower), alat membalik
(Gyro Tedder) dan alat pengepakan (Hay Baller Machine).

e) Mineral
Mineral merupakan zat yang penting dalam kelangsungan hidup
dibutuhkan oleh ternak baik untuk memelihara kesehatan, pertumbuhan dan
reproduksi. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitas hidup, mineral dapat dibagi
menjadi dua golongan yaitu golongan yang essensial dan tidak essensial.
25

Berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro dan mikro
(Georgievskii et al.,1982).
Mineral yang digunakan di BBIB Singosari menggunakan mineral organic
pabrikan. Fungsi dari mineral adalah untuk meningkatkan absorbsi nutrisi,
meningkatkan produksi susu dan kualitas susu, meningkatkan performa, dan untuk
reproduksi.

2.4.2.2 Jadwal dan Jumlah Pemberian Pakan

Tabel 2. Jadwal dan Jumlah Pemberian Pakan


Jumlah Pemberian
No. Waktu Pemberian Jenis Pakan Sapi
Sapi Lokal
Non Lokal
1. Pagi (06.30 WIB) Pakan Komplit (TMR) 15 Kg/ ekor 20 Kg/ ekor
2. Siang (11.30 WIB) Hay 0,5 Kg / ekor
3. Sore (14.30 WIB) Pakan Komplit (TMR) 15 Kg/ekor 20 Kg/ ekor
Sumber : BBIB Singosari, 2017.

Berdasarkan tabel 2, pagi dan sore hari merupakan waktu pemberian pakan
TMR dengan jumlah pemberian berbeda antara sapi lokal (Sapi Bali, Sapi
Madura, Banteng Cross, Galekan, Sapi Brahman dan Ongole yang masih muda)
dan sapi non lokal (Simmental. Limousin, FH, Ongole, Angus, dan Brahman)
karena beberapa faktor seperti kebutuhan, produksi, bobot badan, dan sisa pakan.
Sementara untuk siang hari, sapi diberikan hay dengan jumlah pemberian 0,5 Kg
per ekor untuk sapi lokal dan non lokal.

2.4.2.3 Pemeliharaan Hijauan Pakan Ternak

1. Pengolahan Lahan
a. Land Clearing, tahapan awal pada pengolahan lahan bertujuan untuk
pembersihan area dari tanaman-tanaman liar yang merugikan dan
tidak diperlukan. Area juga dibersihkan dari bebatuan serta
dilakukan pula perataan lahan yang miring.
26

b. Pembajakan, bertujuan untuk memecahkan lapisan tanah menjadi


bongkahan, kemudian dibiarkan beberapa hari agar proses
mineralisasi bahan-bahan organik dapat berlangsung dengan cepat
selain itu pembajakan juga berfungsi untuk mematikan gulma dan
aerasi tanah. Alat yang yang digunakan untuk pembajakan adalah
disc plough.
c. Penggaruan, bertujuan untuk menghancurkan bongkahan padat hasil
pembajakan menjadi tekstur yang remah dan sekaligus
membersihkan sisa-sisa perakaran dari tumbuhan liar, mematikan
gulma, dan menggemburkan tekstur tanah agar siap tanam. Alat yang
digunakan untuk penggaruan adalah harrow.

2. Penanaman
a. Penanaman Langsung (Generatif dan Vegetatif) , terdapat 3 cara
yang dilakukan pada penanaman langsung yaitu menggunakan biji
(contoh: Jagung), stek batang (contoh : Rumput Gajah, Gamal,
Indigofera, Kaliandra), dan pols (contoh : biasa digunakan pada
rumput).
b. Penanaman Tidak Langsung, biji disemaikan terlebih dahulu di
tempat persemaian menggunakan polybag kemudian setelah bertunas
dan perakaran dirasa sudah cukup kuat, dilakukan pindah tanam ke
lahan.

3. Perawatan
a. Pemupukan, bertujuan untuk memberi zat-zat makanan pada
makanan, mempertahankan kesuburan tanah, mengganti unsur hara
yang hilang oleh adanya pengikisan tanah oleh air, dan mengganti
unsur hara yang terangkut oleh tanaman (Sutanto,2002). Terdapat 2
jenis pupuk yang digunakan di BBIB Singosari yaitu pupuk organik
27

(feses sapi, kambing dan sisa pakan ternak) dan yang kedua pupuk
anorganik (pupuk urea dan pupuk SP 36)
b. Pengairan, terdapat 2 macam pengairan atau irigasi yaitu irigasi
langsung dimana air langsung dialirkan dari parit menuju lahan, dan
irigasi tidak langsung yaitu pengairan dilakukan dengan
menggunakan tangki air.
c. Penyiangan Gulma, bertujuan untuk memberantas rumput liar
ataupun tumbuhan lainnya yang mengganggu tanaman pokok.
d. Pendangiran, merupakan kegiatan penggemburan tanah disekitar
tanaman pokok yang bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah
dan aerasi tanah (Daniel et al, 1987).
e. Penyulaman, salah satu kegiatan pengontrolan tanaman di BBIB
Singosari. Penyulaman merupakan usaha penggantian tanaman yang
mati dengan tanaman yang baru sehingga diperoleh jumlah tanaman
yang sesuai.
f. Peremajaan, kegiatan penggantian tanaman karena tidak produktif
dan dilakukan secara selektif maupun menyeluruh.

2.4.3 Manajemen Kesehatan Hewan


Manajemen kesehatan ternak yang dilakukan di BBIB Singosari adalah
segala urusan yang berkaitan dengan perawatan hewan, pengobatan hewan,
pelayanan kesehatan hewan, pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan,
obat hewan,dan peralatan kesehatan hewan. Kegiatan rutin yang dilakukan terkait
kesehatan hewan di BBIB Singosari meliputi pengontrolan kesehatan hewan pada
pagi dan sore hari, dengan melihat kondisi serta keadaan tubuh ternak, sisa pakan,
dan keadaan feses ternak. Kegiatan yang lainnya adalah penanganan kesehatan
ternak serta pengobatan terhadap ternak yang sakit setiap hari, pemotongan dan
perawatan kuku setiap 6 bulan sekali dan kondisional, pemberian vitamin yaitu
vitamin A, D, dan E setiap 1 bulan sekali, desinfeksi kandang setiap 1 minggu
sekali, pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali, penyemprotan anti ektoparasit
28

yang ada pada bagian luar tubuh ternak setiap 2 minggu sekali, pengambilan
sampel (surveillance) melalui darah, serum, feses, preputium washing, dan nasal
swap untuk pemeriksaan lab dan kontrol penyakit setiap 6 bulan sekali, dan
kegiatan biosecurity yang diterapkan untuk mencegah penularan penyakit.

2.5 Kesimpulan
1. Manajemen pemeliharaan sapi pejantan di BBIB Singosari meliputi
jumlah populasi dan pemilihan bibit ternak, sistem perkandangan, serta
perawatan ternak.
2. Manajemen pakan di BBIB Singosari menggunakan metode TMR dalam
penyediaan pakan kepada ternak sesuai dengan jadwal dan jumlah
kebutuhan pakannya masing-masing dan didukung dengan pemeliharaan
pada hijauan pakan ternak yang baik.
3. Manajemen kesehatan hewan di BBIB Singosari terdiri atas kegiatan
pengontrolan ternak setiap hari, penanganan dan pengobatan ternak,
pemotongan dan perawatan kuku, pemberian vitamin, pemberian obat
cacing, penyemprotan anti ektoparasit, desinfeksi kandang, pengambilan
sampel (surveillance), dan biosecurity.

2.6 Daftar Pustaka

BBIB Singosari, 2017. Database Populasi Ternak, Kandungan Zat TMR,


Kandungan Zat Pakan dan Jumlah Kebutuhan Pakan Ternak. Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari, Malang.

Daniel, Th.W.,John Helms dan F.S.Baker, 1987. Prinsip-Prinsip


Silvikutur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Georgievskii, V. I., B.N. Annenkov., and V.T Samokhin, 1982. Mineral


Nutrition of Animals. Butter worths, Kolos.

Kartadisastra, H. R., 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak


Ruminansia. Kaninus, Yogyakarta.
29

Lammers, Brian P., A. Jud Heinrichs., and Virginia A. Ishler. 1994. Use of
Total Mixed Ration (TMR) for Diary Cows. Pennsylvania State
University, USA.

Nasution, H. F., 1986. Produksi Biji Rumput dan Makanan Ternak Tropik.
BPFE, Yogyakarta.

Santoso, Budi. Hariadi, B, Tj. Alimuddin. Seseray, D, Y. 2011. Kualitas


Fermantasi dan Nilai Nutrisi Silase Berbasis Sisa Tanaman Padi
yang Diensilase Dengan Penambahan Inokulum Bakteri Asam Laktat
Epifit. JITV 16(1): 1-8.

Standar Nasional Indonesia (SNI), 2008. Bibit Sapi Perah Indonesia.


Badan Standarisasi Nasional, Indonesia.

_____________________________, 2009. Persyaratan Mutu Konsentrat


Sapi Potong Pejantan Berdasarkan Bahan Kering. Badan
Standarisasi Nasional, Indonesia.

2.7 Lampiran

Lampiran 1. Chopping Rumput Gajah Lampiran 2. Pakan Komplit (TMR)

Lampiran 3. Pindah Tanam Indigofera Lampiran 4. Pemadatan Silase


30

Lampiran 5. Pemotongan Kuku Sapi Lampiran 6. Penyuntikan Antibiotik


31

III
TATALAKSANA PENAMPUNGAN SEMEN, EVALUASI SEMEN SEGAR
DAN TEKNOLOGI SEXING
DI BBIB SINGOSARI, MALANG JAWA TIMUR

Oleh :

Ratih Dwi Permatasari


200110140223

ABSTRAK

Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini dilakukan di Balai Besar Inseminasi


Buatan Singosari Malang tanggal 9 Januari 2017 – 10 Februari 2016. PKL ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tata laksana penampungan semen,
evaluasi semen segar, dan teknologi sexing yang dilakukan di BBIB Singosari,
Malang, Jawa Timur. Metode pengamatan yang dilakukan dengan cara diskusi
serta observasi melalui pengamatan secara langsung mengenai tatalaksana
penampungan semen, evaluasi semen segar dan teknologi sexing. Metode
penampungan semen yang dilakukan di BBIB singosari adalah dengan
menggunakan metode artificial vagina. Sebelum dilakukan penampungan
dilakukan terlebih dahulu persiapan seperti persiapan pejantan, persiapan tempat
penampungan, persiapan teaser, dan persiapan alat artivicial vagina. Setelah
semen ditampung kemudian dilakukan proses evaluasi semen segar yang terdiri
dari pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis. Selain semen unsexing
BBIB singosari juga memproduksi semen hasil sexing namun proses sexing ini
dilakukan ketika terdapat permintaan semen hasil sexing dari pembeli. Metode
yang dilakukan pada proses sexing ini adalah gradient densitas percoll.
Kata Kunci : Penampungan semen, evaluasi semen segar, sexing, AV

3.1 Latar Belakang


Dewasa ini perkembangan teknologi semakin meningkat, teknologi yang
telah berkembang didunia peternakan khususnya dalam bidang breeding yaitu
Inseminasi Buatan (IB). Program inseminasi buatan sendiri mencakup beberapa
tahapan diantaranya pemeliharaan pejantan, koleksi semen, evaluasi semen,
pengenceran, pembekuan dan pendistribusian semen beku.
32

BBIB singosari merupakan unit pelaksanaan teknis yang memproduksi


semen beku. Untuk menghasilkan kualitas semen yang baik tentu di perlukan
tatalaksana yang baik dari proses pemeliharaan pejantannya maupun proses
produksi semen bekunya.
Penerapan inseminasi buatan akan lebih tepat guna jika kita dapat
menentukan jenis kelamin dari anak yang akan dilahirkan, misalnya pada
peternakan sapi perah akan lebih mengharapkan kelahiran yang berjenis kelamin
betina dibandingkan dengan yang jantan. Berbeda dengan peternakan sapi potong,
peternak akan lebih mengharapkan kelahiran dengan jenis kelamin jantan
dibandingka denga betina. Teknologi sexing merupakan teknologi yang dapat
digunakan untuk menentukan jenis kelamin anak sesuai dengan yang diharapkan
yaitu dengan proses pemisahan spermatozoa X dan Y.

3.2 Tujuan
1 Mengetahui tatalaksana peampungan semen yang dilakukan di BBIB
Singosari, Malang, Jawa Timur.
2 Mengetahui proses uji kualitas semen segar yang dihasilkan di BBIB
Singosari, Malang, Jawa Timur
3 Mengetahui bagaimana metode dan proses sexing semen yang dilakukan di
BBIB Singosari, Malang, Jawa Timur.

3.3 Metode Pengamatan


1 Mengikuti kegiatan dan tatalaksana harian yang ada di BBIB Singosari,
Malang, Jawa Timiur.
2 Melaksanakan pengamatan langsung dan menyeluruh mengenai
pengelolaan semen di BBIB Singosari Malang tentang tatalaksana
penampungan semen, evaluasi semen segar dan teknologi sexing di BBIB
Singosari, Malang, Jawa Timur.
3 Berdiskusi dengan staff bidang proses produksi semen beku khususnya
mengenai penampungan semen, evalusi semen segar dan teknologi sexing
33

yang terlibat langsung dalam manajemen reproduksi di BBIB Singosari,


Malang, Jawa Timur.
4 Melakukan pengumpulan data-data yang berhubungan dengan
penampungan semen, evaluasi semen segar dan juga teknologi sexing di
BBIB Singosari, Malang, Jawa Timur.

3.4 Hasil dan Diskusi

3.4.1 Penampungan Semen


Menurut Tolihere (1977), metode penampungan semen terbagi menjadi 3
yaitu metode pengurutan, metode elektroejakulasi, dan juga metode vagina
buatan. Namun metode yang populer dilakukan adalah metode penampungan
dengan menggunakan Artificial Vagina (AV) atau sering disebut dengan vagina
buatan.
BBIB Singosari menerapkan metode penampungan semen dengan
menggunakan Artificial Vagina (AV). Hal teresebut dilakuakan karena metode
tersebut dianggap sebagai metode yang paling efektif dan efisien. Pada metode ini
terdapat 2 cara yang berbeda pada jenis pemancingnya yaitu ada yang
menggunakan bull teaser (pejantan pemancing) dan ada pula yang menggunakan
dummy cow (boneka sapi), namun BBIB singosari lebih banyak menggunakan
bull teaser atau pejantan pemancing. Fungsi dari pemancing ini adalah untuk
meningkatkan tingkat libido hewan ternak yang akan ditampung semenya. Selain
ternak sapi, BBIB Singosari juga menampung semen kambing. Secara umum
penampungan semen sapi dengan kambing tidak jauh berbeda namun terdapat
beberapa perbedaan seperti ukuran artificial vagina dan teaser yang digunakan
pada penampungan semen kambing menggunakan kambing jantan dan juga
kambing betina. Hal tersebut dilakukan karena sifat kambing yang lebih pemilih
dibandingkan dengan sapi, sehingga terdapat kambing yang tidak semua ejakulasi
jika menggunakan teaser pejantan.
34

3.4.1.1 Persiapan Penampungan Semen


A Persiapan pejantan sebelum penampungan
Pejantan yang akan ditampung semennya harus diperhatikan
kebersihannya terutama pada perut bagian bawah dan pantat. Pejantan yang akan
ditampung semennya harus telah dalam keadaan sudah diberi makan. Sebelum
mengeluarkan pejantan dari kandangnya terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan seperti nama, bangsa, warna bulu, motif atau belang pada tubuh
ternak, label ditelinga (eartag), dan cap bakar (sesuai jadwal penampungan).
Sapi pejantan yang ada di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari setiap
3 bulan sekali dilakukan perawatan organ reproduksi berupa pemotongan rambut
praeputium. Pemotongan rambut praeputium dilakukan dengan cara rambut
praeputium dipotong 1-2cm dari ujung praeputium. Sebelum dilakukan
penampungan, petugas bagian penampungan selalu memastikan kondisi penis
dalam keadaan yang baik dan sehat.
Pejantan yang telah siap kemudian dikeluarkan dari kandangnya dan
disimpan pada area tunggu penampungan semen. Sebelum ternak dilakukan
penampungan semen, preputium ternak tersebut harus dalam keadaan bersih.
Preputium dapat dibersihkan menggunakan desinfektan menggunakan alat
Preputium Washing Machine.
B Persiapan tempat penampungan
Selain pejantan, tempat untuk dilakukannya penampungan pun harus
dijaga kebersihannya. Sebelum dilakukan penampungan semen, tempat
penampungan semen dibersihkan dari feses dan sampah-sampah, kemudian lantai
tempat area penampungan disiram menggunakan air agar terhindar dari debu.
Kemudian karpet/matras dipasang sebagai alas. Karpet/matras ini biasanya
menggunakan bahan dari serabut kelapa. Tujuan lantai tempat penampungan
dialasi dengan karpet sabut kelapa adalah agar pejantan merasa nyaman pada saat
turun dari teaser sehingga mengurangi kemungkinan cedera pada kaki dan kuku
pejantan.
35

C Persiapan teaser (pemancing)


Teaser atau yang biasa kita sebut pemancing, bertujuan untuk
meningkatkan libido pejantan yang akan kita tampung semennya. Pada metode
artificial vagina atau vagina buatan di BBIB singosari ini memiliki 2 macam
teaser yaitu bull teaser dan juga dummy cow teaser. Bull teaser adalah pemancing
yang menggunakan hewan pejantan asli, pada penampungan semen sapi ini tidak
digunakan teaser dengan jenis kelamin betina karena untuk meminimalisir
masuknya sperma kedalam organ reproduksi betina. Pejantan yang digunakan
untuk menjadi teaser atau pemancing ini tentunya memiliki syarat dan
karakteristik, menurut BBIB Singosari karakter tersebut yaitu ukurannya lebih
kecil, pendiam (tdak aktif) dan tidak sedang sakit atau cacat. Hal-hal yang harus
diperhatikan untuk mempersiapkan bull teaser yaitu membersihkan badan teaser,
terutama pada bagian belakang/pantat (tempat mounting) dengan menggunakan
handuk yang sudah dibasahi dengan larutan desinfektan ringan, dan
membersihkan bagian pantat teaser setiap kali selesai penampungan dan setiap
kali selesai membuang kotoran.
Dummy cow merupakan teaser yang digunakan menggunakan sapi tiruan
(patung). Terdapat 2 jenis dummy cow yaitu dummy cow dan juga mobile dummy
cow.
D Persiapan Artificial Vagina (AV)
Artificial vagina yang digunakan harus dalam keadaan steril, tahap-tahap
perakuan sterilisasi artificial vagina yaitu:
- Artificial vagina yang telah digunakan disiram menggunakan air bersih.
- Artficial vagina yang telah disiram dengan air bersih di rendam
menggunakan larutan desinfektan ringan dengan perbandingan 1:2 selama 5
menit.
- Artificial vagina yang telah direndam dengan desinfektan ringan kemudian
dicuci menggunakn tipol, tipol merupakan sabun yang digunakan khusus untuk
mencuci alat-alat laboratorium. Tipol dipilih karena memiliki karakteristik tidak
berwarna dan juga tidak berbau.
36

- Artificial vagina yang telah dicuci menggunakan tipol kemudian di


rendam pada air panas dengan suhu 50-55˚C selama 5 menit.
- Artificial vagina yang telah direndam kemudian ditiriskan dengan cara
digantung, setelah itu artificial vagina tersebut dilakukan sterilisasi yang terakhir
dengan menggunakan sinar ultraviolet.
AV terdiri dari beberapa komponen yang dapat dipisahkan untuk
mempermudah proses sterilisasi dan peyimpanan. Komponen tersebut berupa:
- Cincin karet
- Silinder karet tebal dan keras
- Selongsong karet tipis (Inner Liner)
- Lubang air dan angin
- Corong karet
- Tabung penampung gelas berskala
- Selongsong hitam pelindung dari sinar matahari dan guncangan

Gambar 1 Artificial Vagina (BBIB Singosari, 2017)

Artivicial Vagina yang telah disterlisasi dan telah dipasang dengan


sempurna, kemudian diisi dengan air dan angin. Air yang digunakan adalah air
panas dengan suhu 50-55˚C. Setelah artivicial vagina diisi dengan air dan angin
kemudian bagian mulut silinder karet diolesi dengan pelicin (lubricating jelly).
Hal tersebut dilakukan agar Artivicial Vagina menyerupai kondisi vagina betina
birahi. Suhu vagina betina birahi yaitu 40-42˚C, namun air yang dimasukan ke
dalam artificial vagina bersuhu 50-55˚C hal tersebut dilakukan agar ketika
dilakukannya false mounting suhu yang berada dalam artificial vagina tidak turun
37

dengan drastis dan masih berada pada suhu 40-42˚C seperti suhu vagina betina
birahi.

3.4.1.2 Pelaksanaan Penampungan Semen Segar


Penampungan semen pejantan di BBIB Singosari dilakukan di pagi hari
setiap hari senin sampai jum’at dan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.
Setiap pejantan yang ada di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari dilakukan
penampungan sebanyak dua kali per minggu atau sesuai dengan kebutuhan.
Penampungan semen dilakukan sebanyak 2-3 kali ejakulasi dan disesuaikan
dengan kondisi kesehatan sapi dan jika ditampung sebanyak 2 kali, pejantan harus
istirahat selama minimal 2 hari agar semennya tetap terjaga kualitasnya, karena
jika terlalu sering diambil semennya bisa terjadi kemungkinan semen pejantan
tersebut menjadi encer dan kualitasnya buruk. Jadwal penampungan semen di
BBIB Singosari yaitu:
- Senin : bangsa Bali, Madura, Friesian Holstein, Brahman, Ongole, Angus
dan Jaliteng
- Selasa : bangsa Simental, Limousin, Madura, kambing PE, kambing Boer,
kambing Saanen, dan kambing Senduro
- Rabu : bangsa Simental, Limousin, Bali, Angus, Brahman
- Kamis : bangsa Bali, Madura, Friesian Holstein, Brahman, Ongole dan
Jaliteng
- Jumat : bangsa Simental, Limousin, Madura, Bali, kambing PE, kambing
Boer, kambing Saanen, dan kambing Senduro
Setelah pejantan dan teaser siap di tempat penampungan, sebelum
dilakukan penampungan semen maka dilakukan false mounting (Pemanasan).
False mounting dilakukan hingga cairan kelenjar pelengkap benar-benar habis dan
pejantan siap untuk ditampung, yang ditandai dengan memerah dan
mengencangnya penis/ereksi. Tiap – tiap penjantan membutuhkan false mounting
yang berbeda – beda tergantung karakteristik dan stamina. Terdapat 2 petugas
yang berperan penting dalam keberhasilan penampungan semen ini yaitu petugas
38

handling yang bertugas menanganai pejantan yang akan ditampung semennya,


dan juga kolektor yaitu petugas yaang bertugas sebagai penampung semen
pejantan tersebut. Hal – hal yang diperhatikan pada saat False Mounting yaitu
1 Pejantan umumnya ditampung semennya setelah melakukan sebanyak 2 -
5 kali (Biasanya setelah pejantan menunjukan libido yang meningkat)
2 Pejantan biasanya mengeluaran cairan accessorious atau cairan kelenjar
pelengkap sebelum mengeluarkan semen.
3 Penis harus dalam keadaan ereksi (keras dan berwarna merah) dan hindari
penis menyentuh bagian pantat pemancing (teaser)
4 Pencucian preputium (preputium orifice), preputium tidak boleh dalam
keadaan kotor karena akan mempengaruhi kualitas semen
Posisi berdiri kolektor (petugas penampung) pada saat melakukan
penampungan perlu diperhatikan. Kolektor tidak boleh dalam posisi yang dapat
membahayakan dirinya sendiri. Untuk mencegah kolektor terjatuh pada saat
pejantan ejakulasi, maka bahu kiri kolektor sedikit menempel pada perut pejantan.
Keberhasilan penampungan semen dapat terlaksana dengan baik jika dilakukan
kerjasama antara kolektor dengan petugas yang membawa pejantan.
Pada saat penampungan semen artificial vagina dibawa dengan tangan
kanan dengan sudut kemiringan 45˚ (disesuaikan dengan kondisi penis) dengan
lubang artificial vagina menghadap ke bawah. Tangan kiri kolektor memegang
preputium, lalu ditarik perlahan kearah kolektor. Hal tersebut dilakukan ketika
penis telah dalam posisi ereksi dan siap mengejakulasi. Ciri-ciri penis ereksi yaitu
penis mulai memerah dan mengeras. Sedangkan ciri-ciri penis akan berejakulasi
jika penis telah mengeluarkan cairan yang berasal dari kelenjar accesoris. Pada
saat ejakulasi penis bergerak cepat sehingga gerakan artificial vagina juga harus
searah dengan gerakan penis. Setelah semen terambil atau setelah ejakulasi,
collection tube diarahkan ke bawah dan lubang artificial vagina agak keatas agar
semen tidak tumpah. Jika pada saat penampungan semen bercampur dengan darah
maka penis harus diperiksa apakah terdapat luka pada penis. Cara pengobatan
penis yang mengalami luka yaitu dengan mengolesinya dengan antibiotik.
39

Setelah berhasil memperoleh semen, collector akan membawa Artificial


Vagina yang berisi semen ke ruang persiapan penampungan untuk dilakukan
pencatatan atau rekording harian penampungan semen yang meliputi nama
penjantan, kode pejantan, ejakulasi ke berapa, pemancing atau teaser, lama
ejakulasi, tingkah laku seksual (handle, libido, ereksi, daya dorong, daya lompat,
daya jepit), volume, kolektor, dan petugas handel. Tabung penampung semen
kemudian diberi name tag yang berisi nama pejantan dan kode pejantan. Tabung
penampung semen kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan
pemeriksaan.

3.4.2 Evaluasi Semen Segar


Evaluasi semen segar di BBIB singosari meliputi 3 jenis evaluasi yaitu
evauasi secara mikroskopis, makroskopis dan konsentrasi. Evaluasi semen segar
ini bertujuan untuk memeriksa keadaan semen pejantan yang layak untuk
dilanjutkan ke tahap pengenceran.

3.4.2.1 Evaluasi Makroskopis


Evaluasi makroskopis yang digunakan di BBIB singosari Malang Jawa
Timur meliputi volume, warna, derajat keasaman (pH) dan konsistensi.
 Volume
Volume semen yang tertampung dapat langsung terbaca pada tabung
penampungn yang berskala. Menurut Tolihere (1977), volume semen sapi
perejakulat yaitu 5-8 ml, sedangkan volume semen kambing berkisar antara 0,8-
1,2 ml perejakulasi. Semen sapi dan kambing mempunyai volume yang rendah
tetapi konsentrasi sperma yang tinggi sehingga warna yang terlihat adalah warna
krem atau warna susu. Volume semen sapi di BBIB Singosari biasanya berkisar
antara 2-10 ml sedangkan pada kambing 0,5-2 ml. Volume semen dapat kita
ketahui dengan melihat skala pada tabung penampung berskala. Kualitas semen
tidak ditentukan oleh banyaknya volume yang diperoleh pada saat penampungan,
sebab walaupun volume yang dihasilkan itu rendah tidak akan menyebabkan
40

kerugian tetapi apabila disertai dengan konsentrasi yang rendah akan membatasi
jumlah spermatozoa yang tersedia (Feradis, 2010).
 Warna
Menurut Feradis (2010) semen sapi normal berwarna seperti susu atau
krem keputih-putihan dan keruh. Derajat kekeruhan semen bergantung pada
konsentrasi spermatozoa. BBIB Singosari telah memiliki indikator penilaian
warna pada evaluasi semen segar yaitu putih kekuningan (pk), putih susu (ps),
putih bening (pb), dan juga bening. Umumnya semen yang memiliki kualitas baik
memiliki warna putih susu atau putih kekuningan, namun tidak menutup
kemungkinan semen yang memiliki warna putih bening dapat lolos uji evaluasi
semen segar.
 Derajat Keasaman (pH)
Pengujian derajat keasaman (pH) pada evaluasi semen segar di BBIB
Singosari dilakukan dengan cara meneteskan sample semen segar pada kertas
BTB (Brom Timol Blue). Kertas BTB merupakan alat yang digunakan sebagai
pengujian derajat keasaman semen segar dimana kertas tersebut memiliki
indikator tersendiri. Menurut Toelihere (1993) yaitu pH semen sapi berkisar
antara 6,2-6,8 sedangkan pada kambing memiliki pH normal 6,4-7,0.
 Konsistensi
Pemeriksaan konsistensi dilakukan dengan cara memiringkan tabung yang
berisi semen kemudian tabung tersebut ditegakan kembali. Terdapat tiga indicator
untuk konsistensi semen tersebut yaitu
- Pekat : jika semen tersebut bergerak dengan pelan/lambat
- Sedang : jika semen tersebut bergerak tidak terlalu cepat
- Encer : jika semen tersebut bergerak dengan cepat

3.4.2.2 Evaluasi Mikroskopis


Evaluasi Mikroskopis yang digunakan sebagai uji evaluasi semen segar di
BBIB Singosari meliputi gerakan massa dan gerakan individu. BBIB Singosari
tidak menerapkan pemeriksaan abnormalitas di setiap pemeriksaan rutin, namun
41

biasanya dilakukan uji LUMS (Laboratorium Uji Mutu Semen) yang diadakan
setiap tahunnya 2-3 kali.
 Gerakan Massa
Menurut Tolihere (1977) Spermatozoa dalam suatu kelompok mempunyai
kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke satu arah membentuk
gelombang-gelombang yang tebal atau tipis, bergerak cepat atau lambat
tergantung dari konsentrasi sperma hidup didalamnya. Gerakan massa
spermatozoa dapat diketahui dengan cara meletakan 1 tetes sample semen segar
kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100-200 kali. Rata-rata
gerak massa spermatozoa sapi di BBIB Singosari adalah 2+. Hal tersebut
menunjukkan bahwa gerak spermatozoa sapi di BBIB memiliki kualitas yang
baik.
 Gerakan Individu
Gerakan individu pada sperma merupakan hal yang sangat penting pada
evaluasi semen segar, karena gerak individu pada spermatozoa akan
mempengaruhi keberhasilan saat proses inseminasi buatan. Gerakan individu
sperma yang baik adalah sperma yang berjalan kedepan dan juga aktif.
Pengamatan gerakan individu dapat dilakukan dengan cara meneteskan 1 tetes
sample semen segar dengan 1 tetes pengencer ke atas object glass kemudian
sample ditutup menggunakan cover glass dan diamati dibawah mikroskop dengan
perbesaran 100 sampai 200 kali. BBIB Singosari memiliki nilai standard untuk
penilaian gerakan individu, sesuai dengan SNI sperma yang lolos uji evaluasi
semen segar merupakan sperma yang memiliki nilai gerakan individu lebih besar
sama dengan 70%, tetapi jika terdapat sperma yang memiliki nilai gerakan
individu sebesar 60-65% akan lolos uji evaluasi semen segar namun dalam status
uji coba (UC).

3.4.2.3 Konsentrasi
Pemeriksaan konsentrasi dilakukan untuk mengetahui jumlah spermatozoa
per ml. Alat yang digunakan untuk menentukan konsentrasi semen ternak di BBIB
42

Singosari yaitu fotometer. Cara pemeriksaan konsentrasi pada sperma yaitu


dengan mengambil sampel spermatozoa semen sapi sebanyak 35 mikrolit
kemudian dicampur dengan 3,5 ml larutan NaCl fisiologis (0,9%), sedangkan
untuk semen kambing diperlukan 8 mikrolit semen kambing yang dicampurkan
dengan 4 ml larutan NaCl fisiologis (0,9%). Campuran larutan tersebut kemudian
dihomogenkan menggunakan thermo-mixer selama beberapa detik dan
dipindahkan ke dalam kuvet. Kuvet selanjutnya dimasukkan pada fotometer yang
ditera pada panjang gelombang 640 nm. Nilai konsentrasi spermatozoa akan
tertera pada layar fotometer.
Konsistensi sperma erat kaitannya dengan konsentrasi sperma. Semakin
kental wujud semen makan konsentrasinya semakin tinggi begitupun sebaliknya.
Konsistensi sperma dapat dilihat berdasarkan hasil uji konsentrasi semen jika
Konsentrasi lebih dari1500 juta/ml maka konsistensinya pekat, Konsentrasi 1000-
1500 juta/ml maka konsistensinya sedang, Konsentrasi kurang dari 1000juta/ml
maka konsistensinya encer.

3.4.3 Teknologi Sexing


Perkembangan bioteknologi di bidang reproduksi ternak kini telah
mengalami berbagai peningkatan diantaranya adalah teknologi pemisahan
spermatozoa pembawa kromosom X dan Y. Teknologi ini bertujuan untuk
meningkatkan kemungkinan kelahiran sesuai dengan yang diharapkan jenis
kelamin. Pelaksanaan kegiatan sexing yang dilakukan BBIB Singosari
menggunakan metode gradient densitas percoll karena metode ini tidak rumit
menurut salah satu laboran. Selain itu pada proses sexing ini pengencer yang
digunakan tidak berbeda dengan pengencer untuk semen unsexing yaitu tris
kuning telur.
Menurut Rahmah (2008) gradien densitas yang digunakan ditentukan
terlebih dahulu sesuai yang diperoleh dari pengenceran percoll dengan pengencer
tris aminomethan kuning telur yang persentasenya disesuaikan dengan kebutuhan.
1 ml semen yang telah memenuhi syarat dimasukkan ke dalam tabung yang telah
43

berisi gradien densitas percoll, kemudian di sentrifugasi dengan kecepatan 2250


rpm selama 7 menit. Hasil sentrifugasi menjadi 6 lapisan, pada lapisan teratas
adalah seminal plasma yang dibuang, pada lapisan kedua mengandung
spermatozoa Y, sedangkan pada lapisan bawah yang banyak mengandung
spermatozoa X, hasil pemisahan dicuci dengan cara dimasukkan ke dalam
pengencer Tris Aminomethan kuning telur, kemudian disentrifugasi dengan
kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Supernatan dibuang dan disisakan 2 ml
cairan yang banyak mengandung spermatozoa.
Tahap pembuatan semen sexing beku di BBIB Singosari belum dapat
dipatenkan untuk itu tahap-tahap yang dilakukan untuk pembuatan semen sexing
beku untuk saat ini dirahasiakan dan tidak boleh diinformasikan. Produksi semen
beku di BBIB Singosari pada tahun 2016 mencapai 1.814.056 straw. Keberhasilan
semen hasil sexing yang dilakukan oleh BBIB Singosari terhadap kelahiran ternak
sesuai dengan jenis kelamin yang diharapkan yaitu semen beku jantan (Y) 217
ekor dari 319 ekor sapi yang dilakukan inseminasi buatan atau setara dengan 68%,
sedangkan untuk semen beku betina (X) 456 ekor dari 561 ekor yang dilakukan
inseminasi buatan atau setara dengan 77,63%.

3.5 Kesimpulan
1. Tatalaksana peampungan semen yang dilakukan di BBIB Singosari,
Malang, Jawa Timur diawali dengan tahap persiapan yaitu persiapan
pejantan, tempat penampungan, teaser (pemancing), dan juga alat
(Artificial Vagina). Kemudian dilanjutkan dengan proses penampungan
yang dilakukan oleh kolektor dan di bantu oleh petugas handle.
2. Uji kualitas semen segar yang dilakukan di BBIB Singosari, Malang, Jawa
Timur yaitu uji secara makroskopis yang terdiri dari warna, volume, pH,
konsistensi dan konsentrasi, juga secara mikroskopis yang terdiri dari
gerakan massa dan gerakan individu.
3. Metode sexing semen yang dilakukan di BBIB Singosari, Malang, Jawa
Timur yaitu dengan menggunakan metode gradient densitas percoll.
44

3.6 Daftar Pustaka


BBIB Singosari. 2017. Semen Beku Sexing. Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari. Malang.

Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Alfabeta. Bandung.

Rahmah. 2008. Perubahan Integritas Membran Spermatozoa pada Proses


Sexing dengan Metode Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll. Jurnal
FMIPA. Malang: Universitas Brawijaya.

Tolihere. 1997. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa Bandung.

3.8 Lampiran

Lampiran 8.
Lampiran 7. Tempat Penampungan Semen
Tempat Penampungan Semen Sapi Kambing

Lampiran 9.
Area Tunggu Penampungan Lampiran 10.
Semen Kambing Tempat Penampungan Semen Sapi
dengan Libido Rendah

Lampiran11. Lampiran 12.


Proses False Mounting pada Sapi Proses False Mounting pada
Kambing
45

Lampiran 13. Lampiran 14.


Proses Penampungan Semen Sapi Alat Fotometer

Lampiran 15. Lampiran 16.


Proses Pemeriksaan Mikroskopis Indikator Warna Semen
46

IV
PROSES PENGENCERAN DAN PEMBEKUAN SEMEN DI BALAI
BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI
MALANG, JAWA TIMUR

Oleh :

Yusita Attaqwa
200110140217

ABSTRAK

Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan pada tanggal 09 Januari


sampai dengan 10 Februari 2017 di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari,
Malang Jawa Timur. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
proses pengenceran dan proses pembekuan semen di BBIB Singosari. Metode
yang dilakukan mengikuti kegiatan sehari-hari dengan cara diskusi serta observasi
melalui pengamatan secara langsung. Pengenceran adalah proses penambahan
semen cair dengan campuran bahan-bahan pengencer yang berfungsi untuk
penunjang daya tahan hidup spermatozoa. Bahan pengencer yang digunakan pada
sapi adalah tris kuning telur dan pada kambing adalah andromed. Proses
pengenceran sapi dilakukan selama dua hari dan pengenceran pada kambing
dilakukan selama satu hari. Tahapan pembekuan dilakukan evaluasi before
freezing (BF) setelah itu tahapan printing straw, racking, filiing dan sealing, pre
freezing dan freezing. Evaluasi post thawing mortality (PTM) merupakan proses
terkahir dalam rangkaian proses produksi semen beku.
Kata kunci : Pengenceran semen sapi dan kambing, evaluasi before freezing
(BF), pembekuan semen, evaluasi post thawing mortality (PTM)

4.1 Latar Belakang


Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah berusaha
meningkatkan populasi dan produktivitas serta mutu genetik ternak melalui
penerapan teknologi reproduksi ternak yaitu teknologi Inseminasi Buatan (IB).
Dalam menunjang peningkatan efisiensi reproduksi peternakan dapat dilakukan
melalui teknik IB dengan menggunakan semen beku. Pada perkembangannya
untuk menunjang akan kebutuhan semen beku benih unggul yang terus
47

meningkat, pemerintah Indonesia mendirikan beberapa Balai Inseminasi Buatan


(BIB). Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari memiliki tugas yaitu
produksi, distribusi, pemasaran, dan pemantauan mutu semen ternak unggul serta
pengembangan insenminasi buatan.
Usaha untuk mempertahankan kualitas semen dan memperbanyak hasil
sebuah ejakulasi dari pejantan unggul adalah dengan melakukan pengenceran
semen dan pembekuan semen. Dua proses ini merupakan hal yang sangat penting
juga dalam proses semen beku.

4.2 Tujuan
1. Mengetahui tata cara pengenceran dan bahan pengencer semen beku di
Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari Jawa Timur.
2. Mengetahui bagaimana proses pembekuan semen di Balai Besar
Inseminasi Buatan Singosari Jawa Timur.

4.3 Metode Pengamatan


1. Mengikuti aktivitas harian di BBIB Singosari Jawa Timur.
2. Melaksanakan pengamatan dan praktek langsung mengenai pemeliharaan,
proses semen beku, dan pemasaran dan informasi di BBIB Singosari Jawa
Timur.
3. Berdiskusi dengan rekan pkl dan pegawai setiap bidang yang terlibat
mengenai setiap kegiatan yang dilaksanakan.
4. Melakukan pengumpulan data-data untuk memenuhi proses pelaporan
praktek kerja lapangan.

4.4 Hasil dan Diskusi


4.4.1 Pengenceran Semen
Pengenceran yaitu suatu cara atau metode yang diterapkan pada suatu
senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai
yaitu aquadest dalam jumlah tertentu. (Brady,1999).
48

4.4.1.1 Penyiapan Bahan Pengencer Semen


Bahan pengencer disiapkan sehari sebelum digunakan, bahan pengencer
yang digunakan di BBIB Singosari untuk pengenceran semen sapi menggunakan
tris kuning telur dan skim kuning telur digunakan untuk semen yang berkualitas
sangat baik dan hanya saat ada pesanan dari pelanggan. Aboagla dan Terada
(2004) menyatakan bahwa semen beku yang berkualitas tinggi, membutuhkan
bahan pengencer semen yang mampu mempertahankan kualitas spermatozoa
selama proses pendinginan, pembekuan, maupun saat thawing.
Adapun fungsi pengencer adalah menyediakan zat makanan sebagai
sumber energi bagi spermatozoa sehingga menjamin kelangsungan hidup semen
selama penyimpanan atau pembekuan, melindungi semen terhadap cold shock,
menyediakan suatu penyanggah untuk mencegah perubahan pH, mempertahankan
tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit yang sesuai, dan memperbanyak
volume semen. Affandy et al. (1999) menyatakan bahwa pengunaan tris lebih
umum digunakan karena memiliki toksisitas yang rendah dan sistem penyanggah
pH yang baik dengan memperthankan pH, tekanan osmotik, dan keseimbangan
elektrolit.

 Sapi
Pengencer tris kuning telur di BBIB Singosari dibagi menjadi 3 macam
yaitu pengencer A1, A2 dan B. Komposisi pengencer A1 dan A2 memiliki
kandungan bahan yang sama yaitu Tris (hydroxymethy) aminomethane 1,6%
berfungsi mencegah perubahan pH akibat asam laktat hasil metabolisme semen,
Citric Acid monohydrate 0,9% berfungsi sebagai buffer mendispersikan butir-
butir lemak kuning telur, Lactose monohydrate 1,4% berfungsi menyediakan zat-
zat makanan sebagai sumber energi spermatozoa, Raffinose pentahydrate 2,5%
berfungsi sebagai sumber energi, Distilled Water / aqua pro injection 80%
berfungsi untuk sebagai zat pelarut aktif, Kuning telur 20% berfungsi
mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel
spermatozoa dan dapat melindungi spermatozoa pada saat perubahan suhu dari
49

suhu ruang (38°C) pada saat pengolahan ke suhu ekuilibrasi (5°C). Antibiotik
Penicillin 0,1 g/100 ml dan Streptomycin 1.000.000 IU/1000 ml bertujuan untuk
menekan dan membunuh bakteri.
Bahan pada pengencer B yaitu pengencer A yang ditambah dengan
glyserol 13% yang berfungsi melindungi efek kematian pada saat pembekuan dan
sebagai pelindung semen. Glyserol merupakan krioprotektan intraseluler.
Tambing et al. (2000) menyatakan bahwa glyserol akan berdifusi, menembus dan
memasuki spermatozoa dan akan digunakan untuk aktivitas oksidatif
menggantikan sebagian air yang bebas dan mendesak keluar elektrolit,
menurunkan konsentrasi elektrolit intraseluler dan mengurangi daya merusaknya
terhadap spermatozoa dengan jalan memodifisir kristal kristal es yang terbentuk.

 Kambing
Bahan pengencer kambing yaitu Andromed + Aqua Pro Injection.
Komposisi AndroMed adalah Fruktosa berfungsi sebagai sumber energi bagi
spermatozoa untuk proses metabolisme dan juga berfungsi sebagai krioprotektan
ekstraseluler, glyserol berfungsi untuk mencegah efek lethal pada saat pembekuan
dan sebagai pelindung semen untuk mencegah terjadinya abnormalitas, Sumber
nutrisi yang paling banyak digunakan adalah karbohidrat terutama fruktosa yang
paling mudah dimetabolisasi oleh spermatozoa (Toelihere, 1993). Asam sitrat
berfungsi mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit. Buffer
berfungsi sebagai penyangga dan menjaga keseimbangan pH. Antibiotik
(spectinomycin, lincomycin, tylosin dan gentamycin) berfungsi untuk
meminimalkan organisme serta akan meningkatkan daya tahan hidup
spermatozoa. Pengencer AndroMed adalah salah satu pengencer semen komersial
yang tidak mengandung kuning telur, karena bila semen kambing bereaksi dengan
kuning telur yang terdapat dalam media pengencer akan mengakibatkan kematian
spermatozoa selain itu pengencer andromed dapat mempertahankan motilitas
spermatozoa yang didukung oleh pendapat Solehati dan Kune (2009) yaitu setiap
bahan pengencer yang baik harus dapat memperlihatkan kemampuannya dalam
50

memperkecil tingkat penurunan kualitas spermatozoa sehingga pada akhirnya


dapat memperpanjang lama waktu penyimpanannya pasca pengenceran.

4.4.1.2 Pembuatan Pengencer Semen


 Sapi
Cara membuat pengencer tris kuning telur diawali dengan melakukan
desinfeksi pada tempat/meja dan jari-jari tangan dengan menggunakan alkohol 70
%, gunakan peralatan yang sudah disterilisasi, mempersiapan bahan baku yaitu
timbang bahan-bahan dengan tepat, lakukan pencampuran dengan cepat,
pencampuran yang lambat dapat menimbulkan reaksi kimia yang tidak
diinginkan. Selanjutnya persiapan telur dengan menggunakan telur yang masih
segar, cuci telur dengan air bersih lalu lakukan desinfeksi dengan menggunakan
alkohol 70%, telur disimpan dalam lemari es dapat mepermudah pemisahan
kuning telur dan putih telur.
Proses pembuatan pengencer A1 dan A2 mencampur bahan-bahan tersebut
dan ditambah aqua pro injection ke dalam tabung reaksi berukuran 2000 ml,
pindahkan setengah larutan kedalam elenmeyer berukuran 3000 ml, larutan yang
berada di dalam tabung reaksi dikocok hingga homogen, larutan di campurkan di
tabung reaksi dan dipindahkan kedalam elenmeyer (buffer), Buffer dihomogenkan
dengan alat stirer, lalu dimasukkan magnetic stirer yang sudah direndam dalam
alkohol yang berfungsi untuk membantu mengaduk agar lebih homogen selama
10 menit dengan kecepatan 7-8 dan ditutup menggunakan alumunium foil,
Panaskan buffer sampai suhu 50-60 oC, turunkan suhu buffer sampai suhu kurang
dari 40oC dengan merendam dalam air, campur kuning telur dengan menggunakan
kertas saring dengan buffer, tambahakan antibiotik (penicillin dan streptomycin)
yang sudah dilarutkan dengan alkohol, homogenkan pengencer dengan alat stirrer,
beri label (tanggal proses).
Penyimpanan tris kuning telur yaitu pindahkan larutan ke dalam tabung
ukur, simpan larutan didalam lemari es pada suhu 4-5 ºC, tutup tabung dengan
alumunium foil, larutan yang sudah disimpan didalam lemari es selama sehari
51

akan membentuk endapan (sendimen), supernatan yang dihasilkan digunakan


sebagai larutan pengencer A, endapan yang dihasilkan dari larutan yang disimpan
selama 3 hari akan menjadi lebih padat sehingga supernatan akan lebih mudah
diambil, supernatan yang sudah diambil (larutan pengencer A) dapat disimpan
selama 3 minggu di dalam lemari es. Proses pembuatan pengencer B adalah
pengencer A yang sudah ditambah dengan 13% gliserin, buat pengencer B sehari
sebelum digunakan (agar gliserin benar-benar terlarut dalam larutan A), beri tanda
masing-masing tabung berisi pengencer A dan B.

 Kambing
Proses pembuatan pengencer andromed yaitu mencampurkan andromed
dan aqua pro injection dengan perbandingan 1 : 4 atau andromed 20% dan aqua
pro injection 80% di dalam tabung elenmeyer, homogenkan dengan alat stirer
selama 10 menit, simpan dalam lemari es dengan suhu 4-5 oC. Surachman et al.
(2006) menyatakan bahwa konsentrasi AndroMed 20% merupakan konsentrasi
optimum dalam pengenceran.

4.4.1.3 Proses Pengenceran Semen


 Sapi
Proses pengenceran yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari yaitu dengan proses pengenceran secara langsung. Penambahan
pengencer A1 segera setelah dilakukan evaluasi semen segar pada pengujian
mikroskopis yang nilai motilitas ≥ 70% siap untuk diproses atau diproduksi, nilai
motilitas 60-65% diuji coba, dan nilai motilitas < 60% di afkir. Sebelum
dicampurkan, larutan pengencer di hangatkan pada waterbath dengan suhu 37-
38oC agar menyerupai suhu semen segar dengan perbandingan 1:1, selanjutnya
dimasukkan ke dalam collection tube kapasitas 50 ml lalu dikocok perlahan agar
semen dan pengencer tercampur dengan homogen dan diberi water jacket,
masukkan dalam cool top dan menunggu suhu water jacket menurun hingga suhu
4-7oC sampai suhu stabil (masa ekuilibrasi). Hal ini bertujuan untuk menurunkan
suhu semen secara perlahan sehingga spermatozoa tidak mengalami cold shock.
52

Pada proses pengenceran A2 dan B jumlah bahan pengencer yang akan


ditambahkan dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut:
juta
volume semen (ml)x konsentrasi sperma ( )x 0,25 ml
ml
V.total (ml) = 25.000.000
V. Larutan pengencer A2 = V.total (ml)- Σ (V.semen (ml) + V.lar A1 (ml))
2
V.larutan pengencer B yang ditambahkan (ml) = V.total (ml)
2
Proses pengenceran A2 pada siang hari dengan volume yang sudah
dihitung dengan rumus, pindahkan ke dalam erlenmeyer berukuran 200/125/100
ml dan ditutup dengan alumunium foil dan pindahkan identitas bull (nama dan
kode bull) pada labu erlenmeyer, masukkan kedalam kotak sterofom yang
berfungsi untuk menstabilkan suhu, setelah itu dimasukkan kedalam kulkas
bersuhu 3-5 oC selama 18-24 jam.
Proses pengenceran B pada keesokan pagi hari dengan volume yang sudah
dihitung, pengencer dipindahkan ke dalam cool toop dengan suhu 4-7oC,
penambahan glycerol pada pengencer B di BBIB singosari adalah 13% karena
jumlah pengencer B adalah ½ (setengah) dari total volume semen cair sehingga
setelah proses pengenceran B dilakukan, maka kadar glycerolnya adalah 6,5%.
Fungsi penambahan glycerol yaitu untuk melindungi sel spermatozoa saat proses
pembekuan semen. Glycerol memiliki sifat yang larut dalam lemak sehingga
dapat langsung masuk kedalam sel melalui membrane plasma. Azizah dan
Arifiantini (2009) menyatakan Glyserol dapat masuk ke dalam sel spermatozoa
untuk mengikat sebagian air bebas, sehingga kristal-kristal es yang terbentuk di
dalam medium pengencer pada waktu pembekuan dapat dicegah.

 Kambing
Proses pengenceran andromed pada kambing dilakukan dengan satu kali
pengenceran, dimulai dengan dipanaskan menggunakan water bath pada suhu 37-
38oC agar suhunya mendekati suhu sperma dan mencegah terjadinya cold shock.
Semen segar yang telah lulus uji makroskopis dan mikroskopis kemudian
ditambahkan dengan volume total dari bahan pengencer, dan dicampurkan di
53

dalam erlenmeyer. Erlenmeyer tersebut kemudian diletakkan di dalam cool top


dengan suhu 3-5oC. Jumlah bahan pengencer yang akan ditambahkan dapat
diketahui dengan rumus sebagai berikut:
𝒋𝒖𝒕𝒂
𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝒔𝒆𝒎𝒆𝒏 (𝒎𝒍)𝒙 𝒌𝒐𝒏𝒔𝒆𝒏𝒕𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒔𝒑𝒆𝒓𝒎𝒂 ( )𝒙 𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝒔𝒕𝒓𝒂𝒘 (𝟎,𝟐𝟓)
𝒎𝒍
Volume total= 𝟓𝟎.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎𝟎 /𝒎𝒍

4.4.2 Pembekuan Semen

4.4.2.1Evaluasi before freezing (BF)


Evaluasi before freezing merupakan tahap evaluasi ke dua yang dilakukan
untuk mengetahui motilitas semen cair sebelum dibekukan. Pengujian ini
dilakukan setelah proses pengenceran B, cara pengujian yaitu pastikan bahwa
mikroskop telah siap digunakan, letakkan object glass di atas warmer slide
dengan suhu 37oC dan teteskan sampel semen yang akan diperiksa serta tutup
dengan cover glass, lakukan penilaian motilitas sel sperma dengan menghitung
presentasi jumlah sel yang aktif dan gerakan maju ke depan (progresif). Standart
motilitas pada pengujian ini adalah > 55% (+++ ~ ++), sehingga apabila motilitas
spermatozoa pada semen cair kurang dari 55% maka semen akan diafkir.

4.4.2.2Tahap – Tahap Pembuatan Semen Beku

a. Printing Straw
Semen yang telah lulus uji before freezing akan segera dilakukan proses
printing straw untuk mengetahui semen yang tidak di afkir dan jumlah straw yang
akan di printing, yaitu proses pemberian tanda atau identifikasi straw yang akan
diprinting atau dicetak menggunakan alat jet print (Leibinger Jet 2 SE) untuk
membedakan antar pejantan, bangsa dan jenis ternak.
BBIB SGS SNI LIM CAVALIER 80767 PP 0113
Keterangan : (BBIB SGS) Pabrik yang membuat, (SNI) Standart Nasional
Indonesia, (LIM) Bangsa pejantan, (CAVALIER) Nama pejantan,
(80767) Nomor kode pejantan 8 = kode pejantan limousin 07 =
tahun lahir 67 = nomor urut pejantan di bangsa Limousin, (PP)
54

kode batch (tahun pembuatan), dan (0113) ‘01 adalah bulan


penampungan pejantan ‘13 adalah tanggal penampungan pejantan.
Straw adalah kemasan untuk semen, straw terbuat dari bahan polyvynil
chlorida (PVC) yang berbentuk pipa dengan salah satu ujungnya terdapat sumbat
yang terbuat dari kapas tak terserap atau biasa disebut dengan sumbat pabrik.
Straw yang sering digunakan untuk menyimpan semen dibagi menjadi 3 macam
yaitu mini straw 0,25 ml, midi straw 0,50 ml, dan dosse 1 ml. Straw yang
digunakan di BBIB Singosari adalah mini straw 0,25 ml dengan jumlah
spermatozoa minimal 25 juta untuk sapi dan 50 juta untuk kambing. Jumlahnya
tergantung dari banyaknya spermatozoa dalam ejakulasi. Perhitungan dosis atau
jumlah straw yang digunakan:
Dosis = V.total (ml)
0,25 ml
Proses printing straw yaitu mempersiapkan straw yang akan di printing
sesuai dengan warna masing-masing bangsa yaitu kode (1) bali warna merah (2)
ongole warna biru muda (3) holstein warna abu-abu (4) brahman warna biru tua
(6) simental warna putih transparan (8) limousin warna pink (14) brangus warna
hijau tua (16) Madura warna hijau muda (17) angus warna oranye (warna blewah)
(20) kambing warna kuning, selanjutnya masukkan straw yang akan diprinting
pada tempat straw, mengoperasikan komputer dengan mencari nama pejantan dan
menuliskan jumlah straw yang akan di printing lalu tekan enter, straw yang telah
diprinting di masukkan ke dalam gelas stenlish dan disimpan di dalam coll top
supaya kualitas semen tetap terjaga dan disiapkan untuk proses pengisian/filling.

b. Filling & Sealing


Filling & Sealing adalah proses pengisian semen yang telah diencerkan ke
dalam straw dengan menggunakan alat yang bekerja secara otomatis (mesin filling
& sealing). Mesin tersebut secara otomatis memasukkan semen cair sebanyak
0,25 ml ke dalam straw dan menutup ujung straw dengan sumbat laboraturium
atau laboratory pluq, sedangkan ujung straw yang disumbat dengan menggunakan
kapas disebut dengan sumbat pabrik atau factory pluq. Proses ini dilakukan di
55

dalam cool top dengan suhu 4-7% agar suhu sama dengan suhu semen, diawali
dengan memasang jarum penghisap (Rubber sheet fleksibel short needle) ke
lubang fixed dan corong tempat semen (tupper dish for semen) pada tempatnya
yang setiap pejantan harus diganti, meletakkan straw yang telah diprinting sesuai
dengan kode pejantan yang akan diproses dengan posisi straw sumbat pabrik di
sebelah kiri dan sumbat lab di sebelah kanan pada straw feeder dan memasukkan
semen kedalam tupper dish, menjalankan mesin dengan sekali pengisian secara
otomatis dihasikan empat straw, mesin filling pada long needle mengisi straw
dengan volume 0,25 dan short needle menghisap sperma agar cairan memadat &
sealing dijalankan, selanjutnya mengawasi straw yang sedang diisi, bila terjadi
kerusakan straw berisi semen cair dipisahkan dan dicatat di buku catatan printing
straw.

c. Racking
Racking merupakan proses penghitungan dan seleksi straw berisi semen
cair setelah proses filling dan sealing dengan menggunakan rak straw. Rak yang
digunakan untuk menghitung straw berisi semen cair mampu menyimpan 175
straw berisi semen cair dengan ditandai garis hitam tiap 25 straw berisi semen
cair untuk memudahkan penghitungan. Proses penghitungan straw berisi semen
cair harus berada pada suhu 3-5°C agar kualitas semen tetap terjaga.

d. Pre Freezing
Setelah dilaksanakan racking, dilakukan proses pre-freezing yaitu proses
penurunan suhu dari 40C sampai -1400C, dengan cara meletakkan straw berisi
semen cair yang telah tersusun di rak straw di dalam mesin bernama Digit Cool.
Selama proses pre-freezing berjalan kipas didalam mesin Digit Cool berputar
menyebarkan uap Nitrogen cair ke semua bagian atau ruang di dalam mesin Digit
Cool yang telah terhubung sebelumnya menggunakan selang dari tabung VGL
(Vertical Gas Liquid). Proses ini berlangsung selama 7 menit (dilihat pada grafik
thermo control). Didalam 7 menit tersebut terdapat penurunan suhu yang harus
dilalui secara cepat antara 0°C s/d -60°C (critical point). Pada saat-saat inilah
56

fungsi glycerol berguna sebagai cryoprotective agent yang dapat mencegah


terjadinya cold shock.

e. Freezing / Pembekuan Semen


Proses Freezing diawali dengan cara memindahkan straw berisi semen
beku ke dalam goblet, setelah itu di celupkan ke dalam storage container yang
berisi N2 cair dengan suhu -196ºC sampai terendam sempurna. Kemudian
dilakukan pengecekan straw berisi semen beku yang tidak memenuhi standar
diantaranya straw yang kosong, laboratory pluq tidak tertutup rapat, adanya
rongga udara di dalam straw yang menandakan bahwa semen terisi kurang dari
0,25 ml akan mengapung. Lalu diambil dua sampel secara acak pada setiap goblet
untuk dilakukan pengujian Post Thawing Motility (PTM). Goblet yang berisi
straw semen beku dimasukkan pada canister bagian A atau B yang selanjutnya
dimasukkan pada container sesuai nomor canister. Kemudian dilakukan
pencatatan pada semen beku sesuai dengan standart pada buku produksi.

4.4.2.3Evaluasi Post Thawing Motility (PTM)


Post Thawing Motility (PTM) merupakan proses pemeriksaan terakhir
dalam rangkaian proses produksi semen beku. Standar minimal motilitas
spermatozoa saat pemeriksaan PTM adalah 40%. Ketika hasil pemeriksaan PTM
tidak memenuhi standar akan dilakukan pemeriksaan PTM kembali dengan
sampel semen maksimal 3 kali pemeriksaan. Straw berisi semen beku yang lolos
dalam pemeriksaan PTM segera diserahkan ke bagian pemasaran untuk diproses
lebih lanjut. Cara pengujian yaitu pastikan bahwa mikroskop telah siap digunakan,
thawing straw berisi semen beku selama 15-30 detik dengan suhu 37-38 oC, Straw
berisi semen cair dikeringkan dengan handuk kering dan kemudian dipotong segel
laboratorium, potong bagian tengah straw berisi semen cair sampai straw berisi
semen cair terbelah menjadi dua, tetapi jangan sampai putus karena jika terputus
semen tidak akan keluar, selanjutnya sampel straw berisi semen cair diteteskan
pada object glass dan ditutup dengan cover glass, dan pengamatan dilakukan
dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 200 kali.
57

4.5 Kesimpulan
1. Pengencer yang digunakan di BBIB Singosari pada sapi adalah tris kuning
telur dan skim kuning telur digunakan untuk semen yang berkualitas
sangat baik dan hanya saat ada pesanan dari pelanggan, pada kambing
adalah andromed.
2. Cara prosesing pengenceran pada sapi dan kambing berbeda, pada sapi
dilakukan metode 2 hari proses dan pada kambing dilakukan metode 1 hari
proses, dalam proses pengenceran dilakukan standar pada pengujian
evaluasi BF (before freezing) adalah 55% dan standar pada pengujian
evaluasi PTM (post thawing motility) adalah 40%.
3. Proses pembekuan dilakukan tahap pre freezing dengan suhu 4 sampai -
140oC dan freezing sampai suhu -196oC.

4.6 Daftar Pustaka


Aboagla EME dan Terada T, 2004. Effects of supplementation of trehalosa
extender containing egg yolk with sodium dodecyl sulfate on the
freezability of goat spermatozoa. Journal Theriogenolog, 62: 809-
818.

Affandhy, L., U. Umiyasih dan K. Ma’sum. 1999. Evaluasi kualitas semen


beku sapi madura dengan berbagai diluter dan kandungan kuning
telur yang berbeda. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan
Veteriner. Bogor, 1 samapi 2 Desember 1998. Puslitbang Peternakan,
Bogor hal. 233-239.

Azizah dan Arifiantini, 2009. Kualitas Semen Beku Kuda Pada pengencer
Susu Skim dengan Konsentrasi Gliserol yang Berbeda. Jurnal
Veteriner, 10 (2): 63-70.

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara.


Bandung.

Solihati Nurcholidah dan Kune Petrus. 2009. Pengaruh jenis pengencer


terhadap motilitas dan daya tahan hidup spermatozoa semen cair sapi
Simmental. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Bandung.
58

Surachman, M., Herdis, M. A. Setiadi, dan M. Rizal. 2006. Kriopreservasi


spermatozoa epididimis domba menggunakan pengencer berbasis
lesitin. Jurnal Indonesia Tropical Animal Agriculture 31(2): 83-89.

Tambing. S. N., Toelihere. M.R., Yusuf. T.L., dan I.K. Sutama. 2000.
Pengaruh gliserol dalam pengencer tris terhadap kualitas semen beku
kambing Peranakan Etawah. J. Ilmu Ternak dan Vet. 5 (2): 1-8.

Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa.


Bandung.

4.7 Lampiran

Lampiran 17. Pembuatan Pengencer Lampiran 18. Pengenceran A1


Semen

Lampiran 19. Printing Lampiran 20. Filling dan Sealing


59

Lampiran 21. Pre Freezing Lampiran 22. Freezing


60

V
MANAJEMEN INFORMASI, PEMASARAN, DAN DISTRIBUSI
SEMEN BEKU BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI
MALANG, JAWA TIMUR

Oleh :

Ade Talitha Rosmaniar


200110140219

ABSTRAK
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini telah dilaksanakan pada
tanggal 09 Januari sampai dengan 10 Februari 2017 di Balai Besar Inseminasi
Buatan Singosari, Malang, Jawa Timur. Kegiatan PKL ini dilakukan untuk dapat
mendalami pemahaman ilmu peternakan yang telah didapat di perkuliahan dan
diimplementasikan di lapangan melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia
kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Produk yang dihasilkan BBIB
Singosari adalah semen beku sapi dan kambing pejantan unggul. Oleh karena itu
memerlukan strategi pemasaran dan alur distribusi yang baik untuk sampai ke
pelanggan. Judul yang diangkat dalam laporan kegiatan PKL ini berkaitan dengan
Pemasaran dan Informasi yang merupakan salah satu bidang di BBIB Singosari.
Dalam pembuatan laporan ini metode yang digunakan adalah observasi langsung
ke lapangan yaitu dengan mengikuti segala kegiatan rutin yang dilaksanakan di
BBIB Singosari, melakukan pengamatan dan berdiskusi dengan petugas yang
terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. BBIB Singosari telah menerapkan
standar SNI 01-4869.1:2008 untuk semen beku yang akan dipasarkan dan
memproduksi semen beku yang telah diuji di lab uji mutu yang menerapkan
sistem mutu sesuai dengan ISO/IEC 17025 : 2005.
Kata Kunci : tipe container, penyimpanan semen beku, pemasaran dan
distribusi semen beku, pemantauan mutu semen beku

5.1 Latar Belakang


Teknologi Inseminasi Buatan (IB) pada ternak kini sudah semakin dikenal
di dunia peternakan. Teknologi IB tersebut dapat semakin ditunjang seiring
dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat di era global ini. Peternak
pun telah menyadari bahwa lebih banyaknya kelebihan yang ditemukan di
61

teknologi IB pada ternak jika dibandingan dengan kawin alam. Teknologi IB yang
baik mengharuskan peternak untuk dapat menyediakan bibit ternak unggul.
Tantangan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari ini yakni
memenuhi permintaan pasar yang tinggi akan bibit ternak dengan kualitas genetik
yang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, BBIB Singosari memiliki salah satu
misi yakni meningkatkan produksi semen beku, diversifikasi produk yang
berkualitas melalui pengujian yang akurat dan teknologi mutakhir.
Proses penampungan semen, evaluasi semen, pengenceran semen,
pembekuan semen, penyimpanan semen, hingga pendistribusian semen ke tangan
konsumen harus mendapatkan perhatian penting untuk menjaga kualitas semen
tersebut. Pembekuan semen merupakan salah satu upaya dalam mempertahankan
daya hidup spermatozoa dalam kurun waktu yang lebih lama.
Semen beku di BBIB Singosari yang sudah siap dipasarkan kemudian
akan didistribusikan ke berbagai wilayah, khususnya ke dalam negeri. BBIB
Singosari dalam memasarkan produknya, khususnya semen beku, memiliki
Bidang Pemasaran dan Informasi (PI) yang membidanginya. Bidang PI ini terbagi
menjadi 2 (dua) seksi yakni Seksi Informasi & Pemantauan Mutu Semen dan
Seksi Pemasaran & Kerjasama.

5.2 Tujuan
Tujuan khusus dari pembuatan laporan ini adalah :
1. Mengetahui cara penanganan semen beku.
2. Mengetahui strategi pemasaran dan alur distribusi semen beku.
3. Mengetahui cara pemantauan mutu semen beku yang telah dipasarkan.

5.3 Metode Pengamatan


Praktek kerja lapangan yang dilaksanakan dengan metode mengikuti
kegiatan dan tatalaksana harian di BBIB Singosari serta melaksanakan
pengamatan langsung dan diskusi bersama staff pengawas mengenai pemeliharaan
62

ternak pejantan, produksi semen beku, dan pemasaran semen beku di BBIB
Singosari.

5.4 Hasil dan Diskusi

5.4.1 Penanganan Semen Beku

Semen beku yang telah melewati tahap pre-freezing dan freezing di


laboratorium dimasukkan ke dalam container dan didistribusikan ke bagian
pemasaran atau biasa disebut dengan bank sperma atau tempat penyimpanan
container berisi straw semen beku sebelum dipasarkan ke konsumen.
Penanganannya harus selalu diperhatikan untuk menjaga mutu dan kualitas semen
beku tersebut, yakni dimulai dari jenis container yang digunakan untuk
penyimpanan straw semen beku, syarat penyimpanannya, sampai perhitungan
straw yang disesuaikan dengan jumlah pesanan konsumen.

5.4.1.1 Container
Container merupakan tempat penyimpanan straw semen beku yang berisi
N2 cair. Penyimpanan straw semen beku menggunakan container dapat
memperlama ketahanan dan kualitas straw semen beku dengan syarat straw
semen beku selalu terendam N2 cair. Selain sebagai tempat penyimpanan,
container juga berguna untuk tempat perhitungan straw dan sebagai tempat straw
saat didistribusikan ke konsumen. Menurut kegunaannya, container memiliki 2
(dua) tipe yakni :
1. Container Storage, berguna untuk menyimpan semen beku sebelum
didistribusikan
2. Container Distribusi / Transport, berguna sebagai penyimpanan straw
semen beku serta digunakan saat pengiriman / pendistribusian semen
beku ke lokasi
Straw yang akan disimpan di container harus terlebih dahulu dimasukkan
ke dalam goblet. Goblet adalah suatu silinder atau tabung plastik yang mempunyai
bahan yang tidak tembus cairan dengan ukuran yang kurang lebih setengah
63

panjang canester. Sedangkan canester merupakan suatu silinder logam dengan


bagian bawah atau alasnya tertutup yang berfungsi untuk menempatkan goblet
yang berisi straw. Pada salah satu sisi canester diberi gagang pengait yang
berfungsi sebagai pegangan dan memungkinkan identifikasi semen serta
pengeluaran dan penyimpanan melalui mulut container. Pada bagian dalam
container terdapat bagian yang disebut bintang yang berfungsi sebagai penahan
canester agar tidak goyang atau berubah posisi. Selain itu adapun beberapa
aksesoris pendukung container yang digunakan di BBIB Singosari yakni mistar
ukur yang berguna untuk mengukur kedalaman N2 cair di dalam container, roda /
trolly untuk memudahkan pemindahan container, jaket container untuk
melindungi container dari gesekan ataupun benturan, thermometer nitrogen untuk
mengetahui suhu isi container, pinset untuk menjepit goblet yang akan
dipindahkan dari canester, vacum untuk menghisap uap nitrogen, dan rak straw
yang digunakan untuk perhitungan straw.
Adapun beberapa tipe container penyimpanan straw semen beku menurut
kapasitas N2, dosis semen beku, jumlah canester, dan jumlah gobletnya. Misalnya
container tipe DR 2 dengan kapasitas yang paling sedikit dengan jumlah canester
dan goblet 1 (satu) buah, kapasitas N2 cair sebanyak 2 (dua) liter, dan kapasitas
straw semen beku 200 dosis. Container tipe ini mudah dibawa sehingga biasanya
pelanggan menggunakannya untuk membeli semen beku dengan datang langsung
ke bagian pemasaran, sehingga tidak perlu menggunakan ekspedisi. Sedangkan
container dengan kapasitas paling banyak yakni container tipe 35 HC. Container
tipe ini memiliki jumlah canester 10 (sepuluh) buah dan goblet 20 (dua puluh)
buah. Dapat diketahui canester yang digunakan dapat memuat 2 (dua) goblet.
Kemudian container tipe 35 HC ini memiliki kapasitas N2 cair 35 liter dan
kapasitas straw semen beku 14.000 dosis.

5.4.1.2 Penyimpanan Semen Beku


Mutu semen beku dapat dijaga dengan melakukan penyimpanan
menggunakan container storage. Dalam penyimpanannya, container harus diisi
64

dengan N2 cair dengan suhu -196oC. N2 cair harus terisi dalam container sampai
leher container agar straw tetap terendam, serta menghindari kekurangan N2 cair
akibat penguapan, hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1985) yakni
container yang mengandung semen yang baik dalam bentuk ampul, straw, atau
pellet, harus selalu mengandung nitrogen. Menurut Graha (2005), pembekuan
semen merupakan usaha untuk menjamin daya tahan spermatozoa dalam waktu
yang lama, melalui proses pengolahan, pengawetan, dan penyimpanan semen
sehingga dapat digunakan pada suatu waktu sesuai kebutuhan. N2 cair memiliki
sifat yang mudah menguap sehingga harus selalu dilakukan pengontrolan,
misalnya melakukan pengisian N2 cair secara berkala. Pengisian N2 cair di BBIB
Singosari dilakukan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat untuk container storage
yang berukuran besar (container depo), sedangkan pengisian container storage
yang berukuran kecil (container distribusi) dilakukan 2 (dua) kali seminggu yaitu
pada hari Senin dan Kamis.
Container juga harus dilakukan pengecekan kebocoran dengan melakukan
pengisian N2 cair dan diukur tingginya dengan mistar ukur, kemudian keesokan
harinya diukur kembali tinggi N2 cair di dalam container dengan mistar ukur,
apabila terjadi penurunan tinggi N2 cair yang tidak signifikan maka N2 cair hanya
menguap, tetapi apabila terjadi penurunan tinggi N2 cair yang signifikan dapat
disimpulkan bahwa terdapat bagian container yang mengalami kebocoran
sehingga container tidak dapat digunakan sebagai penyimpan straw semen beku.
Bila terjadi kebocoran container yang parah akan ditandai dengan adanya
gumpalan es pada tutup container. Kebocoran container biasanya pada leher
container, karena bagian itu merupakan bagian rawan bocor dari container.
Menurut Toelihere (1993), container yang kurang baik mutunya sering bocor
karena dinding vakumnya tidak normal lagi atau tutupnya terlalu longgar dan
menyebabkan penguapan nitrogen cair terlalu banyak dan terlalu cepat. Selain
pengecekan kebocoran dengan mengisi nitrogen, container juga dilakukan
pengecekan fisik terhadap kerusakan, kebocoran, dan kelengkapan isi container
seperti canester dan goblet.
65

5.4.1.3 Perhitungan Semen Beku


Semen beku yang akan didistribusikan ke konsumen sebelumnya
dilakukan perhitungan terlebih dahulu. Perhitungan straw semen beku ini harus
dilakukan dengan cepat agar suhu semen tidak turun secara signifikan, karena hal
tersebut dapat mempengaruhi mutu dan kualitas semen. Selain itu container
distribusi tidak diletakkan berjauhan dengan container storage untuk menghindari
penurunan suhu yang berlebihan. Perhitungan semen beku dilakukan di dalam
container storage dengan rak straw. Rak straw di BBIB Singosari ada 2 (dua)
jenis berdasarkan kapasitasnya yakni kapasitas 100 straw/dosis dan 175
straw/dosis. Rak straw yang sering digunakan untuk perhitungan straw adalah rak
straw dengan kapasitas 100 straw/dosis karena lebih memudahkan pada
perhitungan. Kemudian pada container digunakan vacum yang berguna untuk
menghisap uap nitrogen dari dalam container storage agar uap nitrogen tidak
menghalangi proses perhitungan straw. Jumlah straw yang dihitung disesuaikan
dengan pesanan dari pelannggan. Saat perhitungan straw semen beku, harus
dilakukan pula recording.
Setelah perhitungan straw di rak straw selesai, straw dipindahkan ke
dalam goblet berisi N2 cair, kemudian dapat dicek kondisi perseratus straw
tersebut, apabila straw mengapung atau meletup maka straw di afkir, sedangkan
straw yang tenggelam segera dipindahkan ke container distribusi. Straw yang
mengapung atau meletup menandakan straw kosong atau isinya tidak penuh, hal
tersebut tidak sesuai dengan standar penjualan straw semen beku, oleh karena itu
harus dilakukan pengafkiran. Selain itu dilakukan pula pengafkiran pada straw
yang tidak memiliki sumbat lab / laboratory plug atau sumbat pabrik / factory
plug.

5.4.2 Pemasaran dan Distribusi Semen Beku


Semen beku yang telah lolos uji kualitas dari laboratorium dan diverivikasi
oleh Kepala Balai dapat dikategorikan sebagai semen beku yang layak dan siap
untuk dilakukan pendistribusian kepada pelanggan dengan alur distribusi tertentu.
66

Dalam pendistribusian harus melakukan pengelolaan pemasaran semen beku


dengan menjalankan strategi pemasaran terlebih dahulu.

5.4.2.1 Strategi Pemasaran Semen Beku


Seksi pemasaran di BBIB Singosari memiliki strategi dalam memasarkan
produk mereka yang berupa straw semen beku yakni menganalisa pasar. Analisa
pasar dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat mengenai
jenis atau bangsa ternak di suatu wilayah tertentu, serta mengidentifikasi
kemampuan suatu daerah untuk dapat membeli produk BBIB Singosari berupa
straw semen beku. Setelah mengetahui penganalisaan pasar di berbagai wilayah
pelanggan, bidang pemasaran BBIB Singosari dapat menyusun strategi
selanjutnya yaitu strategi promosi ke wilayah pelanggan tersebut sesuai dengan
analisa pasar yang telah diketahui. Tetapi untuk pelaksanaan kegiatan promosi itu
sendiri merupakan tugas pokok seksi informasi. Kegiatan promosi produk semen
beku ini dilakukan untuk menarik pelanggan agar membeli dan mempercayai
produk dari BBIB Singosari tersebut.
Dalam memasarkan produk straw semen beku BBIB Singosari khusus di
Jawa Timur, perlu dilakukan pemetaan pejantan bangsa Simental dan Limousin
yang dibedakan menjadi 8 (delapan) area wilayah. Untuk menghindari terjadinya
in-breeding pada ternak, pembagian area wilayah di Jawa Timur tersebut
dilakukan rolling setiap kurun waktu tertentu, biasanya 2 (dua) tahun sekali.
Pemetaan ini dilakukan karena banyaknya pendistribusian ke Jawa Timur serta
banyaknya straw pejantan Simental dan Limousin yang didistribusikan.
Distribusi semen beku di BBIB Singosari ini memiliki 2 (dua) jalur
penerimaan yaitu :
a) Pola Pasar APBN
Prosedur APBN ini semua sudah ditentukan oleh Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan baik jumlah semen beku maupun bangsa ternak
yang akan didistribusikan ke daerah tujuan.
b) Pola Pasar BLU (Badan Layanan Umum)
67

BLU merupakan satuan kerja yang menerima secara fleksibilitas


pengelolaan keuangan dalam pengelolaan APBN/APBD. BLU merupakan
pembaharuan manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan
pemerintah terhadap masyarakat.

5.4.2.2 Alur Distribusi Pelayanan Pelanggan


Pendistribusian semen beku kepada pelanggan diawali dengan pengiriman
container kosong dari pelanggan kepada pihak BBIB Singosari serta lampiran
bukti pembayaran dana. Container kosong dari pelanggan tersebut diberi kartu
identitas container pelanggan yang bertuliskan tanggal datang, tipe container,
jumlah canester, pengirim, nomor telepon pengirim, dan alamat pengirim. Pada
saat container dari pelanggan datang, container akan langsung diperiksa atau
diidentifikasi kondisi fisiknya meliputi pemeriksaan kerusakan, kebocoran,
kelengkapan isi container seperti canester dan goblet. Apabila ada kerusakan atau
kebocoran container, pihak pemasaran BBIB Singosari akan menghubungi pihak
pelanggan untuk memberitahukan bahwa container tersebut tidak layak
dipergunakan.
Container kosong yang baru sampai di BBIB Singosari, didiamkan dahulu
kurang lebih 1 (satu) jam untuk distabilkan suhunya, lalu selanjutnya diisi dengan
N2 cair dan didiamkan selama 1×24 jam, hal ini dilakukan untuk memeriksa
apakah terdapat kebocoran pada container atau tidak. Tahap selanjutnya yaitu
perhitungan straw yang dilakukan sebelum didistribusikan, yang bertujuan untuk
memastikan kesesuaian jumlah straw dengan pesanan pelanggan. Perhitungan
straw diikuti dengan kegiatan recording data yakni pencatatan nama bull, kode
bull, kode batch, kode penyimpanan goblet pada canester, kode container, serta
verivikasi PTM (Post Thawing Motility). Setelah straw selesai dihitung, straw
langsung dimasukkan ke dalam container distribusi. Kemudian dilakukan
pengukuran dan penambahan N2 cair pada container dengan menggunakan mistar
ukur dan dimasukan ke dalam container secara perlahan dengan tujuan suhu
mistar dengan N2 cair sesuai. Pengukuran tinggi nitrogen bertujuan untuk
68

menentukan jumlah kebutuhan N2 cair yang akan ditambahkan ke dalam


container. Indikator N2 cair telah terisi penuh saat proses pengisian N2 cair yakni
timbul bunyi yang menyerupai termos penuh terisi air. Lalu tinggi N2 cair dicatat
pada stiker identifikasi isi container. Setelah isi container sudah lengkap,
container ditutup dan disegel dengan kawat segel dan timah segel, dengan tujuan
untuk menjaga keamanan container dan menghindari kecurangan yang mungkin
terjadi selama proses pengiriman kepada pelanggan. Setelah container disegel,
container dilakukan pengepakan dengan menggunakan box yang menggunakan
bahan kayu atau besi untuk mengamankan container dari benturan selama proses
pengiriman. Pada proses pengepakan juga dilakukan penempelan stiker rambu-
rambu penanganan container, stiker identifkasi isi container, surat keterangan dari
BBIB Singosari, dan alamat yang akan dituju. Kemudian, sebelum container
dikirim kepada pelanggan melalui ekspedisi, container yang telah siap kirim
tersebut ditimbang terlebih dahulu dan dicatat beratnya pada stiker identifikasi isi
container. Stiker identifikasi kemudian ditandatangani oleh pihak BBIB
Singosari, pihak ekspedisi, dan nantinya akan ditandatangani penerima. Kemudian
dilampirkan pula berita acara serah terima barang. Alur distribusi ini
didokumentasikan oleh pihak pemasaran BBIB Singosari untuk pelanggan yang
berupa foto dengan tujuan sebagai bukti verivikasi penyesuaian prosedur
distribusi dengan berita acara, tetapi bukti foto ini digunakan apabila terdapat
complain dari pelanggan.

5.4.3 Pemantauan Mutu Semen Beku


BBIB Singosari memiliki peran penting sebagai penyalur straw semen
beku dengan mutu dan kualitas yang terjamin baik. Oleh karena itu straw yang
telah dipasarkan harus dipantau mutu dan kualitasnya dan dilakukan evaluasi
mutu straw semen beku. Tetapi sebelum dilakukan evaluasi, perlu dilakukan
pengumpulan informasi dari pelanggan mengenai straw semen beku yang telah
dipasarkan.

5.4.3.1 Informasi Semen Beku yang Dipasarkan


69

Tugas pokok seksi informasi di BBIB Singosari yakni memberikan


informasi umum kepada pelanggan dan masyarakat mengenai BBIB Singosari.
Selain itu seksi pemasaran juga mempersiapkan, melakukan, serta
mendokumentasi promosi produk semen beku. Adapun metode kegiatan promosi
yang dilakukan seksi promosi yaitu :
a) Promosi secara langsung, dengan cara menyampaikan informasi dengan
cara berkomunikasi langsung dua arah baik pada pelanggan maupun
masyarakat.
b) Promosi secara tidak langsung, disampaikan melalui penyebaran info
melalui media cetak maupun elektronik berupa brosur, leaflet, katalog,
buletin, poster, kaos, topi, gantungan kunci, dan sebagainya. Promosi yang
dilakukan melalui media elektronik dengan website, media sosial dan juga
media lain.
Adapun tugas pokok lainnya yang berhubungan langsung dengan
pemantauan mutu dan kualitas semen beku yakni melakukan pengumpulan
informasi semen beku yang telah dipasarkan kepada pelanggan. Informasi yang
didapatkan nantinya akan dilakukan evaluasi mutu dan kualitasnya serta
persentase keberhasilannya. Pengumpulan informasi berguna sebagai bahan
evaluasi dari kualitas semen beku yang telah dipasarkan ke pelanggan. Apabila
terdapat persentase keberhasilan IB (inseminasi buatan) yang rendah di suatu
wilayah, dapat dilakukan observasi faktor kegagalan dari inseminasi buatan
tersebut. Faktor kegagalan tersebut misalnya dikarenakan waktu IB yang tidak
tepat, kurang terampilnya inseminator dalam melakukan IB, ternak betina yang
kurang subur, serta kualitas straw semen beku yang menurun akibat dari
kekurangan N2 cair saat proses pengiriman straw.

5.4.3.2 Evaluasi Mutu Semen Beku


Evaluasi kegiatan purna jual dilakukan dalam bentuk MONEV
(monitoring dan evaluasi) serta pertemuan teknis :
a) MONEV (Monitoring dan Evaluasi)
70

Kegiatan MONEV didasarkan dari anggaran BBIB Singosari dan


permintaan dari pelanggan. Dalam kegiatan MONEV tersebut dilakukan oleh tim
khusus dari BBIB Singosari yang akan langsung datang ke lapangan maupun
panggilan dari konsumen. Wilayah kegiatan monitoring dan evaluasi sendiri
berada di daerah pulau Jawa maupun luar pulau Jawa dan biasanya dilakukan di
tingkat kabupaten. Kegiatan yang dilakukan tim dalam kegiatan monitoring dan
evaluasi adalah :
1. Berdiskusi dengan petugas teknis atau petugas dinas terkait dengan
penggunaan produk BBIB Singosari.
2. Berdiskusi untuk memandu inseminator pada petugas.
3. Melakukan evaluasi secara langsung untuk meyakinkan bahwa produk
BBIB Singosari yang disimpan pelanggan masih layak. Sampel yang
digunakan untuk evaluasi berasal dari produk yang disimpan
pelanggan. Evaluasi yang dilakukan yakni pengujian PTM, yakni
pengujian semen beku di lapangan.
4. Melakukan kunjungan ke peternak dan petugas IB untuk mengetahui
pedet keturunan hasil IB dengan straw produk BBIB Singosari.
b) Pertemuan Teknis
Kegiatan pertemuan teknis dilakukan dengan cara mengundang pihak
terkait dari seluruh wilayah Indonesia. Pertemuan teknis pada tingkat provinsi
Jawa Timur dilakukan setiap satu tahun sekali. Kegiatan yang dilakukan dalam
pertemuan teknis adalah berdiskusi kepada pihak undangan serta melakukan uji
kelayakan semen. Dalam hal ini semen yang diuji berasal dari pihak BBIB
Singosari.

5.5 Kesimpulan
1. Penanganan semen beku yaitu dengan menyimpan semen beku di dalam
container dan dilakukan pengisian N2 cair setiap 2-3 kali seminggu yang
bertujuan untuk mengantisipasi penurunan volume N2 cair karena
penguapan.
71

2. Distribusi semen beku di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari terdapat


2 (dua) jalur penerimaan yaitu melalui Pola Pasar Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) dan Pola Pasar Badan Layanan Umum
(BLU). Alur distrbusi semen beku yang terdapat di BBIB Singosari
meliputi proses persiapan dan pemeriksaan container, perhitungan straw,
pengukuran dan penambahan N2 cair pada container, penyegelan pada
tutup container, packing container, penimbangan berat container,
pendataan oleh pihak ekspedisi, penempelan alamat dan stiker identifikasi
yang ditandatangani pihak ekspedisi dan petugas balai, dan memasukan
kedalam mobil ekspedisi.
3. Pemantauan mutu semen beku dilakukan dengan pengumpulan informasi
dari pelanggan mengenai straw semen beku yang telah dipasarkan,
kemudian dilakukan evaluasi kegiatan purna jual dilakukan dalam bentuk
MONEV (monitoring dan evaluasi) serta pertemuan teknis.

5.6 Daftar Pustaka


Graha, N. 2005. Recovery Rate dan Longivitas Pasca Thawing Semen
Beku Sapi FH Menggunakan Berbagai Bahan Pengencer. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa,


Bandung.

____________ . 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa,


Bandung.
72

5.7 Lampiran

Lampiran 23. Pengisian N2 cair ke Lampiran 24. Proses


dalam container perhitungan straw

Lampiran 25. Pengukuran N2 cair Lampiran 26. Penyegelan


dengan mistar ukur tutup container

Lampiran 27. Packing container


Lampiran 28. Penimbangan
dengan bahan kayu
container
73

Lampiran 29. Penempelan alamat Lampiran 30. Pengiriman container


dan stiker identifikasi container ke pelanggan melalui ekspedisi
74

VI
SARAN-SARAN

Berdasarkan permasalahan yang ada hendaknya saran dari kelompok kami yaitu :
1. Distribusi pemberian pakan untuk pejantan yang akan ditampung
didahulukan.
2. Perlu adanya perbaikan dan pengembangan yang lebih baik mencakup
pengadaan laboratorium yang berjarak dekat dengan kandang
penampungan.
3. Ketertiban pencatatan letak straw masuk dan keluar lebih diperhatikan
untuk memudahkan menemukan saat penyimpanan dan pelayanan
terhadap pelanggan.
4. Serta perlu media internet yang lebih up to date mengenai informasi dan
sebagai promosi tentang BBIB Singosari.
5. Untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung, akses jalan menuju BBIB
Singosari perlu diperbaiki.