Anda di halaman 1dari 3

Nama : Muhammad Slamet Fakhrudin

Nim : 1406205007

No.abs: 3

ALAT BANTU PENGENDALIAN MANAJERIAL

Ada banyak teknik yang dapat membantu manajer agar pelaksanaan pengendalian
menjadi lebih efektif. Salah satunya metode pengawasan non kuantitatif, metode pengawasan
non kuantitatif merupakan metode yg digunakan para manajer dalam melaksanakan fungsi
pengawasan. biasanya pengawasan ini bersifat "menyeluruh" terhadap semua aspek penting
dalam organisasi, dan sebagian besar berkaitan dengan kegiatan mengawasi aktivitas dan
kinerja karyawan.

ada beberapa teknik yg digunakan dalam melakukan pengawasan non-kuantitatif ini , antara
lain:

1. melakukan observasi
2. mengadakan infeksi secara langsung dan rutin.
3. mengkaji laporan, baik secara lisan atau tertulis.
4. melakukan brainstorming dengan bawahan secara berkala.
5. melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kerja.

Handoko mengemukakan ada tiga teknik atau alat bantu pengawasan non-kuantitatif yaitu;
Managenent By Objectife (MBO), Management By Exception (MBE), dan Managemen
Information Syistem (MIS).

Managenent By Objectife (MBO)

Secara umum hakikat MBO terletak pada penetapan tujuan secara bersama-sama
antara manajer dan bawahan., perumusan secara jelas tanggung jawab utama setiap indvidu
dalam bentuk sasaran-sasaran yg harus dicapai, dan penggunaan ukuran-ukuran tersebut
sebagai pedoman pengoprasian unit kerja ataupun individu-individu. agar MBO berjalan
efektif, maka salah satu hal yg harus dilakukan adalah mengevaliuasi pencapaian tujuan yg
telah ditetapkan. Dalam MBO antara pihak manajer dengaan bawahan bertemu secara
periodik untuk mengevaluasi kinerja yg telah dicapai, masalah-masalah apa yg timbul, dan
bagaimana solusinya.

Management By Exception ( MBE ),

atau prinsip pengecualian, memungkinkan manajer untuk mengarahkan perhatiannya


pada bidang-bidang pengendalian yang paling kritis dan mempersilahkan para karyawan atau
tingkatan manajemen rendah untuk menangani variasi-variasi rutin. Hal ini dapat
dipraktekkan oleh manajer-manajer penjualan, produksi, keuangan, personalia, pembelian,
pengendalian mutu, dan bidang-bidang fungsional lainnya. Bahkan manajer-manajer lini per-
tama dapat mempergunakan prinsip ini dalam pengendalian harian mereka.
Pengendalian yang ditujukan pada terjadinya kekecualian ini murah, tetapi
penyimpangan baru dapat diketahui setelah kegiatan terlaksana. Biasanya pengendalian ini
dipergunakan untuk operasi-operasi organisasi yang bersifat otomatis dan rutin.

Contoh dari MBE adalah sebagai berikut:

Seorang manajer menetukan bahwa jumlah produksi Susu Bantal Real Good dalam
sehari harus ada 50.000 bungkus sampai 75.000 bungkus. Karena suatu waktu dimana saat
kapasitas tenaga kerja lebih banyak bekerja (lembur) maka jumlah produksi Susu Bantal Real
Good meningkat drastis menjadi 94.000 bungkus hari itu. Maka saatnya MBE beraksi.
Manajer memikirkan dan mengambil keputusan yang harus dilakukan oleh kelebihan
produksi.

Keputusan yang dapat diambil antara lain:

1. Menyimpan sisa produksi susu bantal di gudang untuk persediaan stock.


2. Menjual kepada agen atau eceran terdekat dengan harga yang terjangkau.
3. Mempromosikan untuk penjualan sebagai hadiah atau sampel.

Dalam mengambil keputusan manajer harus diperhitungkan :

1. Manajer tidak membuang waktu memantau aktivitas yang berlangsung secara normal
2. Keputusan dapat lebih terfokus pada hal hal yang lebih memerlukan perhatian.
3. Perhatian dipusatkan pada peluang-peluang maupun hal hal yang berjalan

Management Information System ( MIS )

Sistem informasi manajemen atau management-information system memainkan


peranan penting dalam pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen perencanaan dan pengendalian
dengan efektif. MIS dapat didefinisikan sebagai suatu metoda formal pengadaan dan
penyediaan bagi manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu untuk
membantu proses pembuatan keputusan dan memungkinkan fungsi fungsi perencanaan,
pengendalian dan operasional organisasi dilaksanakan secara efektif. MIS adalah sistem
pengadaan, pemrosesan, penyimpanan dan penyebaran informasi yang direncanakan agar
keputusan-keputusan manajemen yang efektif dapat dibuat. Sistem menyediakan informasi
waktu yang lalu, sekarang dan yang akan datang serta kejadian-kejadian di dalam dan di luar
organisasi.

MIS dirancang melalui beberapa tahap utama, yaitu :

1. tahap survei pendahuluan dan perumusan masalah,


2. tahap disain konsepsual,
3. tahap disain terperinci
4. tahap implementasi akhir.

Agar perancangan MIS berjalan efektif, manajemen perlu memperhatikan 5(lima) pedoman
berikut ini :
1. Mengikut sertakan pemakai (unsur) ke dalam tim perancang.
2. Mempertimbangkan secara hati-hati biaya sistem.
3. Memperlakukan informasi yang relevan dan terseleksi lebih dari pada pertimbangan
kuantitas belaka.
4. Pengujian pendahuluan sebelum diterapkan.
5. Menyediakan latihan dan dokumentasi tertulis yang mencukupi bagi paraoperator
dan pemakai sistem.

Konsep MIS berhubungan sangat erat dengan teknologi komputer, yang mencakup
kapasitas komputer, program dan bahasa program, terminal jarak jauh, diskette, dan lain-
lainnya. Organisasi mungkin mempunyai MIS tanpa komputer, tetapi sistem akan kehilangan
sebagian "keampuhannya" tanpa bantuan komputer. Jadi, pada dasarnya MIS membantu
manajemen melalui penyediaan personalia yang tepat dengan jumlah yang tepat dari
informasi yangtepat pula pada waktu yang tepat.

Contoh penerapan MIS: Sistem Informasi Manajemen Rumah sakit adalah sebuah sistem
komputerisasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan
kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk
memperoleh informasi secara tepat dan tepat. sistem informasi rumah sakit umumnya
mencakup masalah klinikas (media), pasien dan informasi-informasi yang berkaitan dengan
kegiatan rumah sakit itu sendiri.

Handoko, T. Hani. 2015. Manajemen. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE