Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi saluran pernafasan akut masih menjadi masalah kesehatan di dunia dan
di Indonesia. Meskipun dapat sembuh sendiri pada orang sehat, penyakit ini dapat menyebabkan
hilangnya produktivitas dan menyebabkan kesakitan dan kematian. Salah satu penyakit infeksi
saluran pernafasan akut adalah bronchiolitis. Bronchiolitis adalah suatu inflamasi infeksi virus
pada bronkiolus (saluran udara kecil di paru-paru), yang menyebabkan obstruksi akut jalan nafas
dan penurunan pertukaran gas dalam alveoli. Lebih sering disebabkan oleh respiratory syncytial
virus (RSV), terutama selama musim dingin dan awal musim semi.
Selain dapat disebabkan oleh virus, pembakaran yang tidak sempurna juga bisa
menyebabkan bronchiolitis. Menurut George Thurston, direktur Particulate Matter Health Effects
Research Center di New York, asap dari kayu yang dibakar dapat mengiritasi sistem pernapasan
dan telah terbukti memiliki efek kesehatan buruk pada paru-paru anak-anak. Thurston juga
menambahkan asap kayu memiliki dampak terbesar terhadap kesehatan paru-paru, sedangkan
bahan bakar fosil memiliki dampak kesehatan terbesar terhadap kesehatan jantung karena lebih
banyak mengandung logam.
Mereka yang berisiko tinggi terkena penyakit ini adalah bayi yang baru lahir prematur
dan mengidap penyakit paru-paru atau bayi dengan penyakit jantung bawaan. Sekitar 90%
penderita adalah bayi yang berusia di bawah sembilan bulan, tetapi juga dapat menyerang orang
dewasa. Bronchiolitis merupakan penyakit yang jarang terjadi pada anak yang berusia di atas 12
bulan.
Awalnya, bronchiolitis mungkin tampak seperti pilek dan anak mungkin hanya demam
dan batuk atau pilek. Tanda-tanda atau symptom awal infeksi ini mirip dengan pilek seperti
ingus mengalir, demam ringan, mudah sakit dan tidak nafsu makan. Setelah beberapa hari,
penderita mengidap batuk kering disertai suara serak dan kesulitan bernapas yang semakin
meningkat. Napas bayi terdengar berbunyi mendecit dan sulit bernapas, sering menarik napas
pendek sehingga dinding dada dan tulang rusuk terlihat. Gangguan pernapasan ini bisa
mempengaruhi pola nafsu makan. 25% dari anak-anak di bawah usia satu tahun dan 13% anak-
anak dari usia 1-2 tahun dapat mengalami infeksi pernapasan. Maka dari itu sebagian akan
menderita penyakit pernapasan. Sepertiga pasien yang menderita RSV mendapat perawatan
rawat jalan dan 80% harus dirawat di rumah sakit kurang dari 6 bulan. Di antara yang sembuh
semuanya bayi, 80% yang datang berobat ke rumah sakit adalah bayi dan 50% yang datang
berobat ke rumah sakit adalah anak-anak berusia 1-3 tahun. Kurang dari 5% yang datang berobat
pada 30 hari pertama, mungkin telah terjadi pemindahan antibody dari ibu.
Oleh karena bronchiolitis merupakan infeksi yang rawan menyerang anak pada masa
awal kehidupannya hal ini tentunya harus mendapat perhatian khusus oleh kita sebagai perawat.
Karena meskipun penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya, penanganan yang tidak tepat dan
terlambat tetap saja dapat menjadi sangat berbahaya bagi keselamatan anak. Apalagi ternyata
kini ditemukan fakta baru bahwa bronchiolitis tidak hanya disebabkan oleh virus, tetapi juga oleh
polusi udara dan asap pembakaran yang saat ini makin banyak dijumpai. Peran kita sebagai
perawat adalah dengan memberikan informasi dan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan,
tanda gejala, dan penanganan prehospital yang tepat untuk penyakit ini guna meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dan mengurangi angka kesakitan dan kematian anak karena
penyakit ini.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Asuhan Kegawatdaruratan pada Anak dengan
Bronkiolitis Akut
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Definisi Bronkiolitis
b. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Etiologi dari Bronkiolitis
c. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Klasifikasi dari Bronkiolitis
d. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Manifestasi Klinik dari Bronkiolitis
e. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Patofisiologi dari Bronkiolitis
f. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Pathway dari Bronkiolitis
g. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Pemeriksaan Penunjang dari Bronkiolitis
h. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Penatalaksanaan Medis dari Bronkiolitis
i. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Komplikasi dari Bronkiolitis
j. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Asuhan Kegawatadaruratan dari Bronkiolitis
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Bronchiolitis acute adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas
kecil (bronkiolus), terjadi pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan insidens tertinggi sekitar
usia 6 bulan ( Mansjoer, arif, 2000: 468 ).
Bronchiolitis adalah penyakit virus pada saluran pernapasan bawah yang ditandai dengan
peradangan bronkioli yang lebih kecil (Betz & Cecily, 2002).
Bronkiolitis adalah suatu kondisi terjadi terutama pada umur kurang dari 6 bulan dan
didahului dengan gejala pilek yang diikuti oleh batuk iritatif serak, sukar bernafas, dan tidak mau
makan (Insley, 2005).
Bronkiolitis akut adalah suatu sindrom obstruksi bronkiolus yang sering diderita bayi
atau anak berumur kurang dari 2 tahun, paling sering pada usia 6 bulan (Ngastiyah, 2005).

B. ETIOLOGI
Bronchiolitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah :
1. Virus
a. Virus Respiratory Syncytial (RSV)
RSV adalah virus yang menyebabkan terjadinya infeksi pada paru dan saluran napas. Sekitar
50% bronchiolitis akut disebabkan oleh RSV. Virus ini sering sekali menyerang anak-anak,
biasanya seorang anak yang berusia 2 tahun sudah pernah terinfeksi oleh virus ini. RSV juga
dapat menginfeksi orang dewasa.
b. Virus parainfluenza
c. Eaton agent (Mycoplasma pneumoniae)
d. Adenovirus dan beberapa virus lain
2. Polusi udara
a. Asap pembakaran
Polusi udara akibat kayu atau hutan yang terbakar bisa menjadi faktor risiko terjadinya
bronchiolitis yang menyebabkan bayi dirawat di rumah sakit pada tahun pertama kehidupannya.
Hal ini dapat disebabkan pembakaran yang tidak sempurna. Bayi yang sering terpapar
pembakaran kayu tidak sempurna cenderung lebih sering masuk rumah sakit akibat terkena
bronchiolitis. Pemaparan polutan udara seperti nitrat oksida, karbon monoksida dan partikel
lainnya diduga dapat memicu terjadinya bronchiolitis. Asap dari kayu yang dibakar dapat
mengiritasi sistem pernapasan dan telah terbukti memiliki efek buruk terhadap kesehatan paru-
paru anak-anak. Asap kayu memiliki dampak terbesar terhadap kesehatan paru-paru, sedangkan
bahan bakar fosil memiliki dampak kesehatan terbesar terhadap kesehatan jantung karena lebih
banyak mengandung logam.
b. Asap rokok
Asap beserta beberapa zat kimia yang berdampak buruk terhadap kesehatan paru-paru yang
dilepaskan saat merokok, dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus
sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan virus dan selanjutnya dapat menginvasi sampai ke bronkiolus.

Sedangkan kondisi atau faktor risiko yang dapat menyebabkan seorang anak menderita
bronchiolitis yaitu :
a. Bayi berusia kurang dari 6 bulan.
b. Anak-anak yang terlahir premature.
c. Anak yang tidak memperoleh ASI
d. Anak-anak yang memiliki kondisi kesehatan kurang baik terutama mereka yang mengidap
penyakit jantung atau paru-paru bawaan.
e. Anak-anak yang system kekebalan tubuhnya rendah, seperti sedang menjalani kemoterapi,
transplantasi, atau karena penyakit.
f. Anak-anak yang dititipkan di tempat penitipan atau memiliki saudara kandung yang sudah
bersekolah akan memiliki resiko lebih tinggi tertular infeksi ini.
g. Balita yang berada pada lingkungan yang berisiko tinggi untuk terpapar pada polusi udara dan
asap rokok.
h. Kerentanan juga akan meningkat saat musim RSV tertinggi, yang biasanya dimulai pada musim
gugur dan berakhir di musim semi.
C. KLASIFIKASI
Berdasarkan keparahannya, bronchiolitis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Ringan
a. Anak sadar, warna kulit merah muda.
b. Anak dapat makan dengan baik.
c. Saturasi oksigen > 90%.
Pada kondisi ini anak dapat ditangani di rumah dengan cukup istirahat dan makan lebih sering
dalam porsi kecil. Dapat dilakukan kunjungan follow-up ke dokter dalam 24 jam.
2. Sedang
a. Anak akan mengalami kesulitan makan.
b. Lemah.
c. Kesulitan bernapas, dengan penggunaan otot-otot bantu pernapasan.
d. Adanya kelainan jantung atau saluran napas
e. Saturasi oksigen < 90%.
f. Usia kurang dari enam bulan.
Pada kondisi ini anak harus segera dibawa ke RS untuk dilakukan pertolongan segera,
diantaranya adalah:
a. Pemberian oksigen.
b. Pemberian cairan intravena mungkin diperlukan.
c. Observasi setiap jam.
3. Berat
Gejalanya sama dengan criteria sedang, namun:
a. Mungkin tidak membaik dengan pemberian oksigen.
b. Menunjukkan episode henti napas (apnea).
c. Menunjukkan tanda kelelahan otot pernapasan atau karbon dioksida dalam tubuh terkumpul
terlalu banyak.
Pada kondisi ini, hal yang perlu dilakukan adalah:
a. Memonitor jantung dan pernapasan.
b. Mungkin membutuhkan perawatan di ICU.
c. Membutuhkan tes darah untuk mengetahui kadar berbagai zat dalam darah.
D. MANIFESTASI KLINIK
Gejala awal bronchiolitis mirip dengan flu biasa, seperti hidung berair, hidung tersumbat
disertai dengan demam ringan, tidak nafsu makan dan batuk. Tetapi setelah dua atau tiga hari,
gejala menjadi lebih parah bukannya semakin membaik. Gejala umum dari bronchiolitis yang
sering muncul yaitu:
1. Hidung tersumbat disertai dengan demam dan batuk.
2. Kesulitan bernafas, pernapasan cepat dan dangkal (RR 60-80 x/menit), dengan terengah-engah
disertai dengan peningkatan batuk.
3. Kehilangan nafsu makan, akibat dari gangguan pernapasannya.
4. Terlihat pernapasan cuping hidung disertai retraksi interkostal suprasternal
5. Anak gelisah dan sianosis sekitar hidung dan mulut.
6. Pada pemeriksaan terdapat suara perkusi hipersonor, ekspirasi memanjang disertai dengan
mengi (wheezing). Ronki nyaring halus kadang terdengar pada akhir ekspirasi atau pada awal
ekspirasi. Pada keadaan yang berat, suara pernapasan hampir tidak terdengar karena
kemungkinan obstruksi hampir total.
7. Infeksi ditandai adanya edema mukosa, peningkatan sekresi mukus, obstruksi bronkiolus, dan
peregangan yang berlebihan dari alveoli.

E. PATOFISIOLOGI

Bronchiolitis merupakan infeksi virus yang terjadi pada saluran udara kecil pada paru-
paru yang disebut bronkiolus. Bronchiolitis paling sering menyerang bayi dan anak-anak kecil
dan biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama kehidupan mereka, dengan puncak gejala sekitar
umur 3-6 bulan.

Bronchiolitis akut biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas, disertai
dengan batuk pilek untuk beberapa hari, biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya
subfebril. Kebanyakan anak-anak dan orang dewasa akan membaik dalam 7-10 hari, tetapi pada
anak-anak dengan penyakit berat, dapat batuk sampai beberapa minggu. Pada bayi-bayi yang
usianya masih sangat muda, bayi yang terlahir prematur, atau bayi atau orang dewasa yang
memiliki masalah pada jantung dan paru-paru, virus ini akan menyebabkan infeksi lebih berat,
seringkali dapat mengancam keselamatan jiwa sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Pada umumnya puncak penyakit terjadi pada hari kedua sampai ketiga setelah anak batuk dan
sulit bernapas dan berangsur-angsur pulih.

Virus RSV masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung atau mulut. Virus ini menyebar
dengan sangat mudah melalui sekresi pada saluran napas yang sudah terinfeksi, seperti melalui
air ludah yang tersebar pada saat batuk atau bersin, yang dihirup atau ditularkan ke orang lain
melalui kontak langsung, seperti berjabat tangan. Virus juga dapat hidup selama berjam-jam
pada benda-banda seperti meja dan boneka. Sentuhan pada mulut, hidung atau mata setelah
menyentuh benda yang telah terkontaminasi, kemungkinan besar dapat menularkan virus
tersebut. Orang yang terinfeksi akan menularkan virus tersebut dalam waktu beberapa hari
pertama setelah ia pertama kali terinfeksi virus, tapi RSV dapat tersebar selama beberapa minggu
setelah infeksi dimulai.

Invasi virus menyebabkan obstruksi bronkiolus partial atau total akibat akumulasi dan
peningkatan sekresi mucus, eksudat yang liat, debris (debris seluler maupun yang diakibatkan
oleh invasi virus ke dalam saluran-saluran yang lebih kecil dari cabang-cabang bronkus), dan
edema mukosa. Virus akan menyebabkan nekrosis epitel bronkiolus dan hypersekresi mucus
sehingga terjadi resistensi aliran udara pernapasan berbanding terbalik (dengan radius lumen
pangkat empat), baik pada fase inspirasi maupun fase ekspirasi. Pada dinding bronchus dan
bronkiolus terdapat infiltrasi sel radang. Radang dijumpai peribronkial dan di jaringan
interstitial. Terdapat mekanisme klep, yaitu terperangkapnya serta pengisian udara yang
berlebihan sehingga menimbulkan overinflasi dada. Pertukaran udara (difusi udara pada
alveolus) yang terganggu akibat peregangan alveolus yang berlebihan dapat menyebabkan
ventilasi pada alveolus-alveolus berkurang sehingga mengakibatkan hipoksemia dan peningkatan
frekuensi napas sebagai konpensasinya. Pada keadaan sangat berat dapat terjadi hiperkapnia.
Pada umumnya semakin tinggi kecepatan pernafasan, maka semakin rendah tekanan oksigen
arteri. Hiperkapnia biasanya tidak dijumpai hingga kecepatan pernafasan melebihi 60 x/menit
yang kemudian meningkat sesuai dengan takipnea yang terjadi. Obstruksi total dan terserapnya
udara dapat menyebabkan atelektasis, sedangkan obstruksi parsial menimbulkan emfisema.

Selain oleh virus, polusi udara akibat pembakaran yang tidak sempurna juga dapat
menyebabkan bronchiolitis. Asap dari kayu yang dibakar (mengandung polutan udara seperti
nitrat oksida, karbon monoksida dan partikel lainnya) dapat mengiritasi sistem pernapasan dan
telah terbukti memiliki efek buruk terhadap kesehatan paru-paru anak-anak. Asap mengiritasi
jalan nafas, mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi. Karena iritasi yang konstan ini,
kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat jumlahnya dan fungsi silia
menurun dan lebih banyak lendir yang dihasilkan. Sebagai akibatnya, bronkiolus menjadi
menyempit dan tersumbat. Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus menjadi rusak dan
membentuk fibrosis, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag yang berperan penting dalam
menghancurkan partikel asing termasuk bakteri.

Pasien kemudian menjadi lebih rentan terhadap infeksi pernafasan. Penyempitan


bronkiolus lebih lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan nafas.
Pada waktunya, mungkin terjadi perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan mengakibatkan
emfisema dan bronkietasis (Bruner, 2001). Asap rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu
getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan virus dan selanjutnya dapat menginvasi sampai
ke bronkiolus. Aktivitas merokok di rumah dapat meningkatkan risiko bayi terkena bronchiolitis
dan membuatnya makin parah.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes laboratorium rutin tidak spesifik.
Hitung lekosit biasanya normal. Pada pasien dengan peningkatan lekosit biasanya didominasi
oleh PMN dan bentuk batang. Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis
ringan. Umumnya terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-
bercak yang tersebar, mungkin atelektasis (patchy atelectasis ) atau pneumonia (patchy
infiltrates).
2. X-foto dada lateral
Didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke bawah. Pada pemeriksaan x-
foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet jantung yang menyempit,
jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter anteroposterior dada
bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh darah paru tampak tersebar.
Bayi-bayi dengan bronkiolitis mengalami wheezing untuk pertama kalinya, berbeda dengan
asma yang mengalami wheezing berulang. (Mansjoer,arif.2000 :468)
3. Pemeriksaan aspirasi atau bilasan nasofaring.
Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau bilasan
nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang lama, dan
hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus. Ada cara lain yaitu dengan melakukan
pemeriksaan antigen RSV dengan menggunakan cara imunofluoresen atau ELISA. Sensitifitas
pemeriksaan ini adalah 80-90%.
4. Analisis gas darah
Hiperkarbia sebagai tanda trapping, asidosis metabolic, atau asidosis respiratorik. (Mansjoer,arif.
2000 :468).

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pemberian oksigen 1-2 liter/menit, diberikan bila terdapat tanda hipoksemia seperti : gelisah dan
cyanosis.
2. Cairan intravena (NFD), biasanya diperlukan campuran dektrose 10% : NaCl 0,9% = 3:1 + KCL
10Meq/500 ml cairan
3. Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi :
a. Bronkiolitis community base (Ampisilin 100 mg/kg BB/ hari, letoramfenikol 75 mg/kg BB/hari)
b. Bronkolitis hospital base (Sefatoksin 100 mg/kg BB/hari, Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari)
4. Steroid
5. Bronkodilator (ventolin) diberikan pada kondisi sekret yang kental.

I. KOMPLIKASI
1. Radang paru-paru. Virus maupun organisme yang menyebabkan infeksi dapat menginvasi ke
bagian paru-paru yang lain bahkan seluruh bagian.
2. Radang saluran tengah, terjadi saat ada virus yang masuk ke daerah di belakang gendang telinga
3. Kemungkinan timbulnya penyakit asma di kemudian hari. Reaksi radang yang terjadi saat anak-
anak dapat meningkatkan sensitivitas pada saluran napas terhadap allergen, sehingga dapat
memicu terjadinya astma.
4. Gangguan respiratorik jangka panjang pasca bronchiolitis dapat timbul berupa batuk berulang,
mengi, dan hiperreaktivitas bronkus, yang cenderung membaik sebelum usia sekolah.
5. Kematian. Pada anak-anak yang berusia kurang dari 6 bulan, bayi-bayi yang lahir prematur, dan
bayi-bayi yang memiliki kelainan bawaan pada jantung dan paru-parunya, infeksi RSV dapat
berakibat serius sampai menimbulkan kematian.

BAB III
ASUHAN KEGAWATDARURATAN BRONKIOLITIS AKUT

A. PENGKAJIAN
1. Primer
a. Airway
Terdapat sumbatan pada jalan nafas, berupa sputum yang produktif
b. Breathing
Klien terlihat kesulitan dalam bernafas, klien menggunakan otot bantu pernafasan tambahan.
Terdapat retraksi dada dan pernafasan cuping hidung. Tipe pernafasan cusmoul (cepat dan
dangkal). Pada asukultasi paru terdapat bunyi ronkhi.
c. Circulation
Keadaan umum klien sadar lemah, warna kulit pucat dan cyanosis, akral dingin, CRT <3dtk.
d. Disability
Tingkat kesadaran (somnolen, stupor, coma), reaksi pupil.
2. Pengkajian Sekunder
a. Riwayat penyakit saat ini
Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkiolitis bervariasi tingkat keparahan dan
lamanya. Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis
yang berat. Sebagai tanda-tanda terjadinya toksemia klien dengan bronkiolitis sering mengeluh
malaise, demam, badan terasa lemah, banyak berkeringat, takikardia, takipnea. Sebagai tanda
terjadinya iritasi, keluhan yang di dapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi atau peningkatan
produksi secret dan rasa sakit di bawah sternum. Penting ditanyakan oleh perawat mengenai
obat-obat yang telah atau biasa yang di minum klien untuk mengurangi keluhannya dan
mengkaji kembali apakah obat-obat tersebut masih relevan untuk dipakai kembali.
b. Riwayat penyakit terdahulu
Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali mengeluh pernah mengalami
infeksi saluran pernafasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada pernafasan atas. Perawat
harus memperhatikan dan mencatat baik-baik.

c. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkiolitis di dapatkan klien sering mengalami
kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Dimana adanya keluhan batuk, sesak nafas
dan demam merupakan stressor penting yang membuat klien cemas. Perawat perlu memberikan
dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi untuk pemenuhan informasi mengenai
prognosis penyakit dari klien.
d. Riwayat keluarga
1) Riwayat keluarga tentang alergi dan penyakit keturunan
2) Riwayat pasien tentang gangguan petnafasan yang baru diderita, terkena infeksi, adanya
alergi/iritasi, trauma.
e. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum dan tanda-tanda vital
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan bronkiolitis biasanya di dapatkan
peningkatan suhu tubuh >40oC, frekuensi nfas meningkat dari frekuensi nafas normal, nadi
biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan, serta
biasanya tidak ada masalah dengan tekanan darah.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema bronkiolus dan peningkatan
produksi mucus.
2. Bersihan jalan nafas tak efektif, berhubungan dengan meningkatnya sekresi sekret.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan hilangnya cairan tanpa disadari (IWL) secara
berlebihan.
4. Hipertermi yang berhubungan dengan infeksi.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema bronkiolus dan peningkatan
produksi mucus.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam, diharapkan tidak terjadi gangguan
pertukaran gas, dengan
Kriteria Hasil :
a. Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi
b. Klien memperlihatkan pertukaran gas secara optimal
c. Klien memperlihatkan oksigenisasi jaringan secara adekuat
Intervensi :
a. Auskultasi area paru
Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
b. Auskultasi bunyi nafas (frekuensi dan kedalaman pernafasan, penggunaan otot
bantu dan pergerakan otot.
Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal, dispnea dan gerakan dada tidak
simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan dinding dan cairan
paru.
c. Observasi keabu-abuan menyeluruh dan cyanosis pada jaringan hangat seperti daun telinga,
bibir, lidah dan membran lidah.
Rasional : Menunjukkan hipoksemia sistemik
d. Beri posisi semi fowler/tinggikan kepala tempat tidur sesuai kebutuhan toleransi pasien.
Rasional : Meningkatnya ekspansi dada maksimal membuat mudah bernafas
yang meningkatnya kenyamanan pasien.
e. Kaji toleransi aktivitas
Rasional : Hipoksemia menurunkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam
aktivitas tanpa dispnea berat, takikardia dan disritmia.
f. Observasi Vital sign terutama nadi
Rasional : Takikardi takipnea dan perubahan pada tekanan darah terjadi dengan
beratnya hipoksemia dan asidosis.
g. Kolaborasi, awasi seri GDA/Nadi Oksimetri
Rasional : Hipoksemia ada berbagai derajat, tergantung pada jumlah obstruksi
jalan nafas, fungsi kardiopulmonal dan ada / tidaknya syok.
h. Kolaborasi Pemberian oksigen
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran gas.

2. Bersihan jalan nafas tak efektif, berhubungan dengan meningkatnya sekresi sekret
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan
nafas efektif, dengan

Kriteria Hasil :
a. Pasien tidak sesak nafas
b. Auskultasi suara paru bersih
c. Klien dapat mengeluarkan sekret
d. Tanda vital normal
Intervensi :
a. Auskultasi area paru
Rasional : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
b. Auskultasi bunyi nafas kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan pergerakan dada.
Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak simetris, sering
terjadi karena ketidaknyamanan dinding dada dan cairan paru.
c. Observasi vital sign terutama respirasi tiap 4 jam.
Rasional : Membantu mengetahui perkembangan pasien
d. Beri posisi fowler / semi fowler sesuai kebutuhan toleransi pasien
Rasional : Memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan kuat serta menurunkan
ketidaknyamanan dada.
e. Kolaborasi dalam pemeriksaan DL tiap hari
Rasional : Mengetahui perkembangan kondisi pasien
f. Berikan minuman air hangat
Rasional : Air hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret.
g. Delegatif atau kolaboratif dalam pemberian obat bronkodilator sesuai indikasi
Rasional : Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan memobilisasi sekret.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan hilangnya cairan tanpa disadari (IWL) secara
berlebihan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan cairan adekuat,
dengan
Kriteria Hasil :
a. Anak akan mempertahankan kesimbangan cairan yang ditandai dengan haluaran urine 1-2
mL/kg/jam
b. Turgor yang baik.
Intervensi :
a. Kaji perubahan vital
Rasional : Peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkatkan laju
metabolik dan kehilangan cairan melalui evaporasi.
b. Observasi tanda-tanda dihidrasi yaitu tugor kulit, kelembaban membran mukosa.
Rasional : Indikator langsung keadekuatan volume cairan.
c. Memonitor intake dan output cairan
Rasional : Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan
kebutuhan penggantian.
d. Berikan cairan parenteral
Rasional : Pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.

4. Hipertermi yang berhubungan dengan infeksi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan suhu tubuh anak
normal (36-370C), dengan
Kriteria Hasil :
a. Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi
b. Proses infeksi hilang
Intervensi :
a. Monitoring suhu tubuh tiap 6 jam.
Rasional : Peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkatkan laju
metabolik.
b. Tingkatan intake cairan supaya adekuat
Rasional : Peningkatan pemberian cairan menurunkan peningkatan suhu tubuh.
c. Beri kompres hangat
Rasional : Menurunkan suhu tubuh lewat vasodilatasi dan pemindahan panas
dari tubuh keluar tubuh.
d. Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai program
Rasional : Digunakan sebagai alat penurun panas.