Anda di halaman 1dari 10

Spesifikasi Bahan Baku dan Produk

a) Asam Tereftalat
Asam Terephthalat (TPA) atau 1,2-benzene dicarboxylic acid yang memiliki
rumus molekul C6H4(COOH)2 merupakan salah satu senyawa berupa kristal
putih yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri serat sintetis.
Bahan ini merupakan produk turunan dari para-xylene yang selanjutnya
melalui proses polimerisasi dengan ethylen glikol akan menghasilkan serat
poliester (polyester fiber) untuk keperluan industri tekstil. Hal inilah yang
menjadikan konsumsi terbesar TPA dilakukan oleh industri tekstil. Asam
tereftalat merupakan bahan baku pembuatan polyethylene tereftalat (PET) yang
digunakan pada industri serat kain, tekstil, film dan recording tapes (Kirk Othmer,
1981)

Gambar Struktur Asam Tereftalat

Asam Terephthalat bukan menjadi bahan industri kimia yang penting


setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu, serat fiber yang dibuat dari poli(etilena
terphthalat) dikomersialisasikan oleh Industri Kimia Imperial di Inggris pada
tahun 1949 dan Du Pont di Amerika pada tahun 1953. Kedua perusahaan tersebut
memproduksi polimer yang dibutuhkan untuk operasi fiber dari dimetil
terephthalat dan etilen glikol
Tabel Sifat Fisika Kimia Asam Tereftalat
Asam Tereftalat
Rumus Molekul C6H4(COOH)2
Berat Molekul 166,13 g/mol
Kemurnian 98,5% AT
1,5% impuritas (logam katalis Co)
Ukuran 5-300 µm
Wujud Bubuk atau kristal
Warna Putih
Densitas 1,522 g/cm3
Titik lebur 427 oC
Titik didih 402oC
Kelarutan dalam solvent Air 1,7 g/ 100 mL (25 oC)
Metanol 0,1 g/ 100 mL (25 oC)
Asam asetat 1,3 g/ 100 mL (25 oC)
Kapasitas panas ,Cp 1.202 J/(kg.K)
Panas pembakaran ,∆Hc 3.223 kJ/mol (25 oC)
Panas penguapan, ∆Hv 57,3 kJ/mol (25 oC)
Panas pembentukan, Hf -816 kJ/mol (25 oC)
Tekanan uap 1,3 kPa (300 oC)
(Kirk Othmer, 1981)
Sifat-sifat Kimia
a. Bereaksi dengan ethylene glicol menghasilkan polyethylene terepthalate.
b. Bereaksi dengan metanol menghasilkan dimethyl terepthalate.
c. Dihasilkan dengan mengoksidasikan p-dimetil benzena.
d. Dihasilkan dengan mengoksidasikan p-xylenedengan menggunakan katalis
cobalt.
e. Dihasilkan dengan mereaksikan dipotassium terepthalate dengan asam sulfat.
(Kirk Othmer, 1981)
Asam terephthalat diproduksi dari oksidasi larutan asam nitrat dari p-xylene,
dan kedua perusahaan tersebut menggunakan teknologi yang sama. Versi dari
proses oksidasi asam nitrat, yang sudah lama tidak digunakan secara komersial,
termasuk penggunaan udara pada langkah pertama untuk mengurangi konsumsi
asam nitrat.
Meskipun dimetil tereftalat digunakan secara luas untuk produksi
poli(etilena tereftalat), penggunaan polimer kelas asam tereftalat menawarkan
keuntungan biaya yang berbeda untuk produsen. Secara khusus, proses poliester
yang didasarkan pada tereftalat harus dirancang untuk pemulihan metanol yang
merupakan produk samping esterifikasi. Proses yang dapat dibandingkan yang
didasarkan pada asam tidak memerlukan desain tersebut. Selain itu, asam
tereftalat memberikan hasil yang lebih tinggi dari poliester per kilogram dari
bahan awal, dan etilena glikol kurang dibutuhkan selama poliesterifikasi yang
mengurangi ukuran aliran daur ulang dan meningkatkan kualitas akhir polimer.
Polimer kelas asam tereftalat menjadi tersedia secara komersial dari Amoco
Chemicals Corporation, yang merupakan anak perusahaan dari Perusahaan
Minyak Standars dari Indiana, pada tahun 1965. Proses Amoco didasarkan pada
oksidasi p-xilena, tetapi unit pemurnian terpisah digunakan untuk mencapai
kemurnian produk yang dibutuhkan oleh produsen poliester. Meskipun Amoco
teknologi adalah yang paling populer, proses lain telah dikembangkan (Kirk
Othmer, 1981)

b) Etilen Glikol
Etilen (etena H2C=H2) dengan berat molekul 28,0536 merupakan
senyawa hidrokarbon olefinik yang paling ringan, cairan tidak berwarna, gas yang
mudah terbakar, berbau manis. Senyawa ini terdapat dalam gas alam, minyak
bumi kotor, atau deposit bahan bakar fosil lainnya. Namun etilen dapat juga
diperoleh dalam jumlah besar dari berbagai proses thermal dan katalitik suhu
tinggi dengan fraksi-fraksi gas alam dan minyak bumi sebagai bahan bakunya
(Pratiwi,2009)
Gambar Struktur Etilen Glikol

Etilen glikol atau yang disebut Monoetilen Glycol, dihasilkan dari reaksi
etilen oksida dengan air, merupakan agent antibeku yang digunakan pada mesin-
mesin, Juga digunakan untuk bahan baku produksi polietilen terephthalate (PET)
dan sebagai cairan penukar panas. Etilen glikol ini merupakan senyawa organik
yang dapat menurunkan titik beku pelarutnya dengan mengganggu pembentukan
kristal es pelarut. Etilen Glikol berupa cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau,
berasa manis, dan larut sempurna dalam air. Secara komersial, etilen glikol
di Indonesia digunakan sebagai bahan baku industri polyester (tekstil) sebesar
97,34 % (Pratiwi,2009)
Tabel Sifat Fisika Kimia Etilen Glikol
Etilen Glikol
Rumus Molekul C2H4(OH)2
Berat Molekul 62,068 g/mol
Bentuk Cair
Bau Tidak berbau
Warna Tidak berwarna
Densitas 1,1132 g/cm3
Titik lebur -8,6 oC
Titik didih 198 oC
Titik nyala 111 oC (closed cup)
Viskositas 21 mPa.s (20 oC)
Autoignition Temperature 398oC
Upper flame limit 15,3 %V
Lower flame limit 3,2 %V
Index refractive 1,4318η20D
Panas penguapan, ∆Hv 52,24 kJ/mol (pada 101.3 kPa)
Panas pembakaran, ∆Hc 19,07 kJ/mol (pada 101.3 kPa)
Panas pembentukan, Hf -108,1 kkal/mol
Tegangan permukaan 48,4 dyne/cm (20 oC)
Suhu penguraian 200 – 250 oC
(MERCK, 2017)
Sifat-sifat Kimia
a. Bereaksi dengan ethylene glicol dengan menggunakan katalis antimon
trioksida menghasilkan polyethylene terepthalate.
b. Bereaksi dengan Carbonat menghasilkan ethylene carbonat dan metanol
c. Dihidrasi dengan menggunakan katalis asam menghasilkan 1,4-dioxane
d. Bereaksi dengan Methylamine menghasilkan N-methylmorpholin.
e. Bereaksi dengan keton dan aldehid menghasilkan 1,3-dioxolanes (cyclic
ketals dan acetals) dan air.
f. Dihasilkan dari reaksi hidrolisis etylene oxide.
(Kirk Othmer, 1981)
Etilen Glikol (1,2-etandiol, HOCH2CH2OH) dengan Mr 62,07 merupakan
senyawa diol yang simpel. Etilen Glikol berupa cairan tak berwarna, dengan
aroma yang manis. Senyawa ini higroskopis dan larut sempurna dalam berbagai
pelarut polar, seperti air, alkohol, eter glikol, dan aseton. Sedikit larut dalam
pelarut nonpolar, seperti benzene, toluene, dikloroetan, dan klorofom. Etilen
glikol sulit dikristalkan ketika dingin, dia berbentuk senyawa yang sangat kental
(viscous).

c) Dimetil Tereftalat

Dimetil tereftalat (DMT) adalah dimetil ester dari asam tereftalat (AT),
dengan rumus molekul C6H4(COOCH3)2. Berbentuk kristal dan larut dalam
kloroform, dioksan, metanol, etilen diklorid maupun pada senyawa organik lain
(Kirk Othmer, 1981)
Gambar Stuktur Dimetil Tereftalat
Pada proses di atas maka pemilihan pertama yang akan dijadikan proses
prarancangan pabrik dimetil tereftalat (DMT) adalah proses esterifikasi asam
tereftalat (AT) dan metanol karena lebih sering dipakai dan lebih ekonomis serta
banyak dikembangkan secara komersial. Reaktor yang digunakan juga lebih
mudah dikontrol jika dibandingkan dengan proses yang lain. Adapun reaksi
esterifikasi sebagai berikut ini :

Gambar Reaksi Esterifikasi Asam tereftalat dengan Metanol

Tabel Sifat Fisika Kimia Dimetil Tereftalat


Dimetil Tereftalat
Rumus molekul C6H4(COOCH3)2
Berat molekul 194,18 g/gmol
Fase / Warna Kristal berwarna putih
Kemurnian 94% DMT
0,002% metanol
5,998% air
Ukuran 0,3-1,5 mm
Specific gravity (25oC) 1,283
Triple point 140,64 oC
Titik leleh 141 oC
Titik didih 284 oC
Kelarutan dalam 100 g metanol 1,0 g (25 oC)
Tekanan uap 1,3 kPa (148 oC)
(Kirk Othmer,1981)

d) Antimony Trioxide
Antimony trioxide adalah senyawa anorganik dengan rumus Sb2O3.
Senyawa ini merupakan senyawa antimon yang paling dibutuhkan secara
komersial. Pada tahun 2012, terdapat 130.000 ton antimon trioksida yang
diproduksi di seluruh dunia. Senyawa ini juga dapat ditemui di alam sebagai
mineral valentinit dan senarmontit. Seperti oksida polimerik lainnya, Sb2O3 larut
dalam larutan berair lewat proses hidrolisis.
Antimoni yang digunakan sebagai katalis PET dapat bermigrasi dari plastik
PET yang digunakan untuk mengemas minuman baik air mineral maupun jus.
Migrasi antimoni harus menjadi perhatian bagi produsen minuman karena
antimoni dapat menyebabkan efek yang akut dan kronis bagi kesehatan. Laju
migrasi antimoni dipengaruhi beberapa faktor antara lain suhu, lama
penyimpanan, dan kondisi bahan pangan. Produsen minuman dalam kemasan
harus mempertimbangkan kondisi penyimpanan dan pengangkutan serta
mempertimbangkan memilih plastik yang tidak melepaskan antimoni (seperti
plastik yang dibuat dari titanium atau germanium (Shotyk dan Rachel, 2007;
Thiele 2004)
Tabel Sifat Fisika Kimia Antimony Trioxide
Antimony Trioxide
Rumus molekul Sb2O3
Berat molekul 291,52 g/mol
Wujud Padatan kristal berwarna putih
Densitas 5,2 g/cm3
Titik lebur 656 oC
Titik didih 1425 oC
Kelarutan dalam air 1,4 mg/100 ml (30 oC)
(Kirk Othmer,1981)

Sifat-sifat kimia
a. Digunakan sebagai katalis pada reaksi pembentukan polyethylene terepthalate
dari terepthalate acid dan ethylene glycol.
b. Dihasilkan dari reaksi oksidasi antimon
4Sb + 3O2 → 2Sb2O3
c. Bereaksi dengan asam klorida menghasilkan antimony trihloridedan air
Sb2O3 + 6HCl → 2SbCl3+ 3H2O
d. Bereaksi dengan asam bromida menghasilkan antimony tribromide dan air
Sb2O3 + 6HCl → 2SbCl3+ 3H2O
e. Bereaksi dengan asam klorida menghasilkan antimony oxychloride dan air
Sb2O3 + 2HCl → 2SbOCl + H2O
(Kirk Othmer, 1981)
Katalis antimoni digunakan oleh lebih dari 90% produsen PET di seluruh
dunia. Antimoni tidak kompatibel dengan oksidator kuat, asam halogen, klorin
dan fluorin. Dalam artikel Montague-Jones (2010), menyatakan bahwa telah ada
studi yang menemukan bahwa asam organik adalah ekstraktor yang efisien bagi
antimoni. Sehingga Hansen dkk dari Universitas Copenhagen menguji hipotesis
apakah antimoni lebih banyak terdapat pada jus dalam kemasan PET dibanding
air mineral dalam kemasan PET. Salah satu hal yang mencolok dari studi ini
adalah jumlah antimoni yang terbanyak terdapat pada jus dengan kadar
karbohidrat tertinggi. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa karbohidrat
mungkin membantu dalam pelepasan antimoni.

e) Polietilen Tereftalat

Polietilena tereftalat (disingkat PET, PETE atau dulu PETP, PET-P) adalah
suatu resinpolimerplastiktermoplast dari kelompok poliester. PET banyak
diproduksi dalam industri kimia dan digunakan dalam serat sintetis, botol
minuman dan wadah makanan, aplikasi thermoforming, dan dikombinasikan
dengan serat kaca dalam resin teknik. PET merupakan salah satu bahan mentah
terpenting dalam kerajinan tekstil (Kirk Othmer, 1981)

Gambar Struktur Polietilen Tereftalat

Produksi polyester (polyethylene terepthalate) untuk serat-serat sintetis


menggunakan bahan baku Terepthalate Acid (TPA) dan Ethylene Glycol EG).
Produksi serat polyester (polyethylene terepthalate) secara komersial dimulai pada
tahun 1944 di Inggris dengan nama dagang “Terylene” dan pada tahun 1953 di
Amerika Serikat (Dupont) dengan nama dagang “Dacron”.

Tabel Sifat Fisika Kimia Polietilen Tereftalat


Polietilen Tereftalat
Rumus molekul C10H8O4
Densitas 1370 kg/m3
Modulus young 2800-3100 Mpa
Tensile strength 55-75 Mpa
Temperature glass 75 oC
Konduktivitas thermal 0,24 W/(m.K)
Titik lebur 260 oC
Panas spesifik 1,0 kJ/(kg.K)
Penyerapan air 0,16
Viskositas intrinstik 0.629 dl/g
(Kirk Othmer,1981)
Sifat-sifat kimia
a. Dihasilkan dari reaksi antar terephlatate acid dan ethylene glycol dengan
menggunakan katalis Sb2O3
b. Dihasilkan dari reaksi antara dimetyil terephlatate dan ethylene glycol

Kebanyakan (sekitar 60%) dari produksi PET dunia digunakan dalam serat
sintetis, dan produksi botol mencapai 30% dari permintaan dunia. Dalam
penggunaannya di bidang tekstil, PET biasanya disebut dengan poliester saja.