Anda di halaman 1dari 10

"Masalahku bukan urusanmu, Wiwi" jawab Krisna. Widi menghela nafas.

"Berdasarkan aturan sekolah, kau mendapat hukuman mencuci kolam renang"

"Alasan saja,sebenarnya sekolah ini tidak ada memiliki tukang bersih kolam renang, kan?" ejek Krisna

"Kau akan membantu pak Sani membersihkan kolam sore nanti dan pak Sani sendiri yang akan
mengawasimu"

"Oke oke"

"Kau kembalilah ke kelasmu dan jangan bolos!" Widi memperingati Krisna. Peringatan Widi dijawab
dengan anggukan.

"Hei, little bunny ayo keluar dari ruangan ini!" ajak Krisna sambil memegang pundak Nevan.

"Little bunny? Aku?" tanya Nevan

"Yep, siapa lagi." jawab Krisna. "Berdirilah dan kuantar kau ke kelasmu"

"Tidak, terima kasih. Lututku tak sakit lagi, aku bisa ke kelas sendiri"

"Anak ini belum boleh pergi" Widi menyela pembicaraan keduanya. "Dia masih ada urusan di sini"

"Urusan apa lagi?" protes Nevan

"Kris pergilah" suruh Widi lagi. Krisna pun pergi meninggalkan Nevan. Anggota PKS lainnya yang tadi
bersama mereka pun ikut pamit. Upacara bendera sudah selesai dan jam pelajaran segera dimulai.

Kini hanya tinggal Mereka berdua di dalam ruangan. Widi pergi ke arah jendela dan menutup gorden di
sana. Nevan heran kenapa Widi melakukan itu. Silaukah? Setelahnya Widi berjalan ke arah pintu masuk
dan menutupnya lalu dikunci. Mendengar gerakan kunci diputar, Nevan semakin gugup. Pikiran negatif
tercipta dalam otaknya. Punggung Widi yang membelakanginya nampak mengerikan tiba-tiba. Usai
mengunci pintu, Widi menuju ke arah Nevan.

"Widi, kau mau apa?" tanya Nevan gugup. Ekspresi Widi datar tak menanggapi pertanyaan Nevan. Widi
maju satu langkah, Nevan pun mundur satu langkah.

"Buka celanamu!"

"Apa?!!" suara Nevan meninggi.

"Cepat! Aku ingin segera menyelesaikannya" suruh Widi.

Nevan bergidik ngeri memikirkan apa yang akan dilakukan Widi padanya.

"Kau jangan mendekat" kata Nevan takut

"Kau ini. Apa aku harus memaksamu?"

"Jangan mendekat! Aku juga bisa ilmu bela diri. Jangan macam-macam!"

"Hah?" Widi tak paham ke arah mana pembicaraan ini.

"Cepat buka celanamu!" kali ini suara Widi penuh dengan penekanan.
"Dengar aku normal, orang mesum" sahut Nevan. Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Nevan,
Widi paham apa yang terjadi sebenarnya.

"Idiot, aku juga normal. Bilang aku mesum pula. Apa yang kau pikirkan, hah?"

"Lalu kenapa kau ingin aku membuka celana?"

"Bagaimana bisa luka di lututmu itu ku obati jika celana panjangmu menutupi lututmu?" Nevan serasa
orang bodoh. Ia terlalu jauh berpikir.

"Oh begitu. Maaf" jawab Nevan malu dengan tingkahnya tadi."Kau juga, kenapa harus tutup pintu dan
gorden segala" Nevan berusaha membela dirinya.

"Lalu kau mau orang di sekolah melihatmu tidak memakai celana?"

"Tentu saja tidak!" protes Nevan.

"Cepat buka, biar kita bisa ikut pelajaran di kelas" Nevan mengangguk.

"Tapi..."

"Apa lagi?" Widi benar-benar diuji kesabarannya.

"Kau berbaliklah dan biar aku saja yang mengobati lukaku sendiri"

"Oke" Widi menyerahkan kotak P3K. Lalu ia pergi menjauh dari Nevan dan menatap sesuatu berlawanan
dengan arah Nevan berada.

Nevan mulai membuka celananya. Ia melihat luka di lututnya. Lukanya semakin melebar. Rasa perih
menyeruak. Nevan mulai membersihkan lukanya dengan alkohol.

"Sial perih"

"Aduh"

"Aish"

Berbagai keluhan keluar dari bibir merah Nevan. Widi tak tahan mendengarnya. Ia pun berbalik dan
mengambil alkohol yang digenggam Nevan.

"Biar aku saja" ucap Widi

"Kau..."

"Keluhanmu hanya akan menghabiskan waktu lebih lama" Widi memotong pembicaraan Nevan. Widi
dengan telaten mengobati dan membalut lukanya. Nevan berusaha menahan perih yang ia rasakan.
Tangan Nevan tak sadar meremas bahu Widi.

"Sudah selesai" ucap Widi.

"Ya, terima kasih"

"Bisa kau lepaskan genggaman tanganmu?" Nevan sejenak bingung lalu ia sadar tangan kanannya masih
kuat meremas bahu Widi.
"Maaf." ucap Nevan.

"Pakai celanamu dan aku akan mengantarmu ke kelas." Nevan merasa malu sekali padahal ia dihadapan
spesies dengan jenis kelamin yang sama dengannya. Nevan mengenakan celananya pelan-pelan. Widi
membantunya berdiri setelah selesai mengenakan celana.

"Sekarang lukamu aman dari gesekan celanamu" ucap Widi."Tapi jangan terlalu digerakkan"

"Iya aku tahu."

"Oke, sekarang kita bisa kembali ke kelas."

"Baiklah, tapi aku tak mau digendong." pinta Nevan.

"Yakin?"

"Yep, aku ini tidak lemah. Aku bisa jalan meski lututku terluka"

"Baiklah."

Perjalanan menuju kelas terbilang lama dan sunyi. Keduanya tak ada yang mengeluarkan suara. Saat tiba
di kelas Nevan, Widi menjelaskan keterlambatannya pada guru Biologi yang sedang mengajar lalu pamit
pergi ke kelasnya. Nevan lalu mencari tempat duduknya dan siap mengikuti mata pelajaran yang sedang
berlangsung.

***

Sekarang sudah jam istirahat pertama. Anak-anak ada yang langsung ke kantin ada pula yang masih diam
di kelasnya. Nevan lebih memilih diam di dalam kelas. Sakit di lututnya membuatnya malas bergerak.
Selain itu sahabatnya di kelas sudah siap dengan catatan interview di dekatnya.

"Nevan, ayo cerita!" desak Tika, gadis dengan wajah bulat berambut hitam sebahu.

"Ya say, kenapa bisa diantar prince charming" Kata Joni menyambung perkataan Tika.

"Nev, mukamu kusut" yang bicara selanjutnya adalah Aswin teman sebangkunya Nevan.

Tika, Joni, dan Aswin, mereka bertiga adalah sahabat dekat Nevan. Tika satu-satunya gadis dalam grup
ini. Joni sifatnya agak kemayu dan satu klub dengan tika di klub tari sedangkan Aswin, anak klub renang.
Mereka bertiga sudah akrab dengan Nevan sejak kelas X terkecuali Aswin yang sudah mengenal Nevan
sejak SD.

"Teman-teman sabar pasti kuceritakan" Nevan berusaha menceritakan ulang peristiwa yang dialaminya.
Teman-temannya antusias mendengarkan.

"OMG Nev, kau beruntung banget" kata Joni.

"Apanya yang beruntung?" tanya Nevan.

"Iya nih, temen terluka dan dapat peringatan kok beruntung" Aswin menimpali pernyataan Nevan.

"Bayangin bisa ngomong langsung sama prince charming" jawab Joni dengan mata berbinar-binar.
"Tapi bukan itu permasalahannya Joni" kata Tika dan memukul kepalanya.

"Ya ya ya, ngerti jeng" balas Joni.

"Oke, kalau kau perlu apa katakan saja pada kami. Biar kami yang menjadi kakimu selama kau masih
sakit." kata-kata Aswin langsung disetujui Tika dan Joni.

"Makasi teman-teman. Kalian memang yang terbaik." Widi terharu dengan perhatian dari teman-
temannya.

"By the way, gimana sih orangnya si Widi?" tiba-tiba saja Tika bertanya.

"Apaan si jeng, kok ikut nanya gituan sekarang" Joni protes.

"Jon, kau tidak lihat tadi?"

"Apa?" sahut Joni malas.

"Wajahnya snow white bersemu merah saat Widi datang ke kelas."

"Serius jeng?" kini Joni lebih bersemangat mendengarkan pembicaraan Tika.

"Serius" jawab Tika.

"Ceritakan selengkapnya jeng" Tika semakin semangat bercerita.

"Mulai lagi deh" kata Aswin. "Aku ke kantin dulu. Lapar. Nev, mau nitip beli apa?" tanyanya.

"Jus melon aja" sahut Nevan.

"Kalian berdua gimana?" Aswin beralih pada duo di hadapannya. Namun, sayangnya, Joni dan Tika
sangat asyik bercerita dan tak mendengar tawaran Aswin. Tak bertanya lagi Aswin bangkit dari tempat
duduknya dan pergi ke kantin.

Tinggallah Nevan yang mau tidak mau mendengarkan perbincangan Joni dan Tika.

Joni dan Tika, keduanya pecinta dunia LGBT terutama boyxboy. Istilah jepangnya fujoshi buat cewek dan
fudanshi buat cowok. Dua orang ini kolektor film berbau boys love. Pernah suatu hari, Tika mengajak
Nevan menonton film di rumahnya. Tak sengaja Nevan melihat-lihat file video yang dikoleksi Tika. Nevan
tertarik dengan judul sebuah video dan mengklik video tersebut. Betapa terkejutnya Nevan melihat
adegan yang ada dalam video itu. Dua laki-laki Asia berseragam sekolah berpelukan dan mulai
bercumbu. Pipi Nevan memanas. Langsung saja Nevan menekan tombol 'close' pada pemutar video.
Setelah itu Ia tak berani lagi melihat-lihat folder video milik Tika.

Saat ini Joni dan Tika sedang membicarakan pasangan yang menjadi incaran mereka. Nathan Gunadhi
alias Snow White, teman sekelas Nevan. Tinggi 172 cm. Memiliki kulit putih mulus, mata bulat mutiara
dan gaya rambut ala cowok korea. Sifatnya yang pemalu dan pendiam menjadi daya tarik bagi cewek
atau cowok di sekolah. Tapi lebih banyak anak cowok. Anak cowok di kelas sering mengganggu dan
menggodanya. Pernah suatu hari ia dikerjai oleh anak-anak cowok di kelas saat masih kelas X. Waktu itu
usai jam pelajaran sekolah, Nathan mendapat giliran bersih-bersih kelas bersama dua orang lainnya. Saat
Nathan sedang menyapu, salah satu temannya menarik tangan Nathan sedangkan yang lainnya menutup
pintu kelas. Mereka berdua berusaha mencium Nathan. Nathan ketakutan dan berteriak. Ia
memberontak. Beruntungnya saat itu, Widi lewat di depan kelas. Ia mendengar teriakan Nathan dan
langsung masuk ke dalam kelas. Widi terkejut melihat pemandangan di depannya. Nathan dengan baju
terbuka, kaitan celana terlepas, rambut yang acak-acakan serta dua laki-laki yang berusaha melepas
celana dan mencium Nathan. Melihat sesuatu yang tak senonoh, Widi langsung menghampiri dua siswa
tersebut.

"Kalian! Hei, berhenti apapun yang sedang kalian lakukan!" hardik Widi.

"Widi?" dua siswa teman Nathan kaget melihat ada orang lain memergoki apa yang sedang mereka
lakukan.

"Bajingan kalian. Kenapa melakukan hal seperti ini pada teman kalian sendiri, hah?" Widi menarik
Nathan dari cengkeraman dua siswa itu.

"Wid, tak perlu ikut campur!"

"Kalian melakukan hal yang salah. Aku akan melaporkan kalian!"

"Kau jangan macam-macam Wid!" ancam salah satu siswa mesum itu. Namun Widi tak menghiraukan
ancaman itu.

"Nathan, maaf aku telat datang" Nathan hanya bisa menangis. Widi memeluk Nathan berusaha
menenangkannya.

"Kalian berdua pergi dari sini! Atau Ku laporkan pada guru sekarang juga!" Mendengar ancaman Widi,
kedua siswa itu langsung pergi. Suara isakan tangis Nathan masih terdengar di telinga Widi. Keesokan
harinya berita itu pun tersebar di sekolah dan dua siswa itu dikeluarkan dari sekolah. Sejak itu, Widi
selalu berada disisi Nathan. Seolah keduanya tak terpisahkan. Hal inilah awal mula munculnya ide aneh
di pikiran para fujoshi dan fudanshi termasuk Tika dan Joni.

Nevan tahu itu hanya daya khayal Tika dan Joni. Tapi kadang-kadang, Nevan juga berpikiran seperti
mereka. Bagaimana tidak. Nevan sering melihat Widi dan Nathan melakukan sesuatu yang tidak lazim
antara dua cowok. Nevan pernah melihat mereka saling menyuapi di kantin sekolah, antar jemput
sekolah, gandengan tangan, cium kening. Banyak yang mereka lakukan membuat Nevan curiga dengan
kedekatan Widi dan Nathan.

Seperti saat ini, Tika bercerita kalau ia melihat Nathan wajahnya bersemu merah ketika Widi datang ke
kelas dan bagaimana Widi juga sempat melirik ke Nathan. Sungguh buat orang berpikir yang tidak-tidak.

Tak sampai 7 menit kemudian, Aswin datang membawa jus melon pesanan Nevan. Dilihatnya Nevan
merasa bosan mendengarkan pembicaraan Tika dan Joni.

"Nev, ini jus mu"

"Thanks Win" Nevan mengambil Jus nya.

"Ini, aku belikan jajan untuk kalian berdua" Aswin meletakkan satu kantong plastik berisi aneka jajan di
depan Tika dan Joni.

"Aww, Win baik banget. Makasi bro" kata Joni.


"Ya ya, cepat makan sana keburu bel masuk nanti" balas Aswin. Joni dan Tika akhirnya berhenti bergosip
dan mengambil makanan dari Aswin.

***

Jam setengah dua siang waktunya pulang sekolah. Aswin menawarkan diri mengantar Nevan pulang.
Saat ini Nevan sedang menunggu Aswin mengambil sepeda di parkiran. SMA Matahari melarang
siswanya mengendarai sepeda motor dan mobil ke sekolah. Siswanya hanya diperbolehkan mengendarai
sepeda. Nevan melihat ke arah Aswin, tak sengaja bola matanya yang bulat menangkap punggung
seseorang dengan tas bermotif bintang juga sedang di parkiran sepeda. Nevan mengenali punggung itu.
Kaki Nevan melangkah mendekati sosok yang membuatnya sial seharian. Laki-laki dengan tas berbintang
memutar tubuhnya sehingga Nevan dapat melihat wajah si empunya.

Widi mengayuh sepedanya melewati Nevan. Mereka hanya bertukar pandang sekilas. Rencana Nevan
untuk meneriaki bahkan ingin memaki laki-laki tas berbintang seketika lenyap. Siapa yang mengira kalau
orang itu adalah Widi.

«3»

"Sial..." Nevan frustasi, ia mengacak-acak rambutnya.

"Oi...kenapa?" tanya Aswin. Nevan sedikit kaget, ia tak mengira Aswin sudah di dekatnya.

"Kok ngelihat Widi segitunya. Ada apa?" tanya Aswin lagi.

"Tidak ada apa-apa kok." jawab Widi. "Ayo pulang!" Nevan mengalihkan pembicaraan lalu naik di kursi
belakang sepeda. Aswin hanya menggeleng pelan lalu mengayuh sepedanya.

Setelah 45 menit perjalanan, Nevan sampai di rumahnya. Nevan melihat ibunya masih sibuk mencuci
pakaian laundry. Keluarga Nevan hanya ada dirinya dan ibunya. Ayah Nevan meninggalkan mereka saat
Nevan masih 3 tahun. Ibu Nevan bercerita kalau ayahnya lebih memilih meninggalkan mereka dan hidup
bahagia bersama istri barunya yang lebih kaya. Nevan sangat membenci ayahnya. Kini ibunya
menghidupi keseharian mereka dari hasil laundry. Nevan bertugas mengirim hasil laundry atau
mengambil barang yang akan di laundry.

"Ibu masih banyak pakaian yang perlu di setrika?" tanya Nevan.

"Nev, kamu baru pulang nak. Makan dulu, nanti saja urus laundriannya" jawab ibunya.

"Tak apa bu, aku tidak lapar"

"Tidak boleh begitu. Ibu sudah masak makanan kesukaanmu. Sayur undis dan abon"

"Oke ibuku tersayang" ujar Nevan sembari memeluk ibunya.

Setelah makan, Nevan makan dan istirahat. Pukul 05.00 sore Nevan mulai mengantar pakaian yang
sudah rapi disetrika ke rumah pemiliknya. Ini sudah rutin dilakukan Nevan. Setiap jam 5 sore untuk
senin-sabtu dan minggu bisa diantar pagi atau sore. Nevan memiliki motor khusus untuk mengantar
laundry. Hari ini pengantaran hanya 5 rumah saja termasuk rumahnya Tika.
Sekitar pukul 7 malam, Nevan menyelesaikan mengantar pakaian keempat rumah. Tinggal satu rumah
lagi yaitu rumahnya Tika. Nevan menuju rumah Tika. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Nevan dan
berlawanan arah. Nevan membunyikan bel rumah. Seperti biasa Pak Ning membukakan pintu.

"Silahkan masuk Dik Nevan" Pak Ning mengajak Nevan masuk ke dalam rumah.

"Terima kasih Pak Ning" Nevan masuk ke dalam rumah. Di dalam dia sudah ditunggu oleh Tika.

"Akhirnya kau datang" ujar Tika

"Maaf, aku masih mengantar pakaian ke tempat yang jauh" kata Nevan.

"Sini pakaiannya. Makasi Nev"

"Tak masalah"

"Duduk dulu. Aku mau taruh ini." kata Tika dan ia menaiki tangga menuju kamarnya.

Nevan pun duduk di sofa hitam di kamar tamu. LCF TV layar datar 32 inch menghiasi tembok di ruang
tamu.

"Ah ada Nevan ya. Sudah dari tadi?" Nevan melihat ke arah tangga. Disana berdiri ibunya Tika. Nyonya
Rani.

"Tidak tante, baru saja" jawab Nevan.

"Oh...kebetulan tante mau makan malam, yuk kita ke meja makan!" ajak tante Rani.

"Tidak perlu repot tante" ujar Nevan tak enak.

"Ayolah, kau sudah kuanggap keluarga" tante Rani menggenggam tangan kanan Nevan dan mengajaknya
ke meja makan. Di ruang makan sudah terjadi beraneka macam masakan dari sayur hingga lauk pauknya.
Piring, sendok, dan gelas sudah tertata rapi di atas meja.

"Nah, duduk di sini. Tunggu Om, Ferdian, dan Tika datang. Baru kita mulai makan malam." kata tante
Rani. Nevan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Lalu tante Rani balik ke dapur untuk mengambil piring,
sendok, dan gelas tambahan untuk Nevan.

Selang beberapa menit Om Deni dan Kak Ferdian datang ke ruang makan.

"Nevan?" sapa Om Deni

"Iya Om" jawab Nevan.

"Wah, senang kau juga gabung bersama kami makan malam hari ini" Nevan membalas dengan
senyuman.

"Aku tak mendengar suaramu ketika datang" kata Kak Ferdian sambil duduk di kursi berhadapan dengan
Nevan.

"Mana kamu dengar, kalau kamu mengurung diri di studio musik" sahut tante Rani sembari membawa
piring, gelas dan sendok untuk Nevan. Tante Rani kemudian meletakkan di meja makan depan Nevan.

"Iya juga. Benar kata mama" ucap kak Ferdian.


Kemudian, Tika datang dan ikut bergabung di meja makan.

"Nah sudah lengkap sekarang." kata Om Deni."Mari kita mulai dengan doa sebelum makan" semua
orang mulai menundukkan kepala dan berdoa.

"Selesai. Selamat makan." Om Deni mempersilahkan semua makan. Tante Reni mulai menyendok nasi
untuk Om Deni. Nevan hanya tersenyum. Ia ingin sekali merasakan hangatnya keluarga yang lengkap
seperti keluarga Tika. Namun hal itu tak mungkin terwujud.

"Nev, ini.." Kak Ferdian meletakkan nasi ke atas piring Nevan.

"Ah, ya makasi kak"

"Kamu ambil saja sayur dan makanan yang kamu sukai"

"Iya"

"Nev, tak perlu malu. Ambil saja yang kamu suka" kini giliran Tika menawarkan makanan. Tika
mengambilkan Nevan tempe manis.

"Untukmu kau suka kan?" Tika mengedipkan sebelah matanya. Nevan tersenyum dan membalas dengan
kedipan mata.

"Ckckck kalian berdua ini" Tante Reni geleng-geleng kepala."Saling godanya nanti saja. Makan dulu"

"Apaan sih Ma! Siapa yang saling goda" ujar Tika tak terima dibilang menggoda Nevan. "Nevan bukan
tipeku."

"Kamu juga bukan tipeku" balas Nevan.

"Tuh kan, lanjut lagi. Baru mama bilangin"

"Nev, kakak setuju kamu tak tertarik sama adikku ini" ucap kak Ferdian menambah runyam.

"Kakak apaan sih" Tika kesal dengan kakaknya.

"Hei, makan dulu nanti lanjutkan lagi bicaranya" suara Om Deni cukup tegas sehingga semuanya kembali
tenang dan acara makan malam berlanjut.

Usai makan malam, tante Rani mengumpulkan piring kotor. Nevan ingin membantu membereskan meja
makan tapi kompak dilarang tante Rani dan Tika.

"Jangan Nev, lebih baik kamu ikut papa dan kak Ferdian ke ruang tamu"

"Tapi..."

"Ayo, adik cowokku tersayang. Ikut kakak ke ruang studio musik" kak Ferdian melingkarkan tangannya di
pundak Nevan dan mengajaknya ke studio musik. Merasa ada yang janggal dengan langkah kaki Nevan,
kak Ferdian bertanya "Ada apa dengan kakimu, Nev?" Nevan berhenti melangkah dan melihat lututnya.

"Ah, hanya kecelakaan kecil tadi pagi Kak" ucapnya.

"Kecelakaan?"
"Iya, tadi sempat jatuh dari sepeda waktu mau ke sekolah"

"Sudah diobati?" tanya kak Ferdian terdengar khawatir.

"Sudah kak" jawab Nevan.

"Syukurlah".

Meski sedikit pincang, Nevan berhasil menuruni anak tangga menuju basement dimana ruang studio
musik berada.

Alasan Nevan memilih rumah Tika sebagai tempat pengiriman terakhir karena ia juga akan ada latihan
musik bersama kak Ferdian, kakaknya Tika. Nevan sangat menyukai musik dan ia sangat senang
memainkan biola. Sejak umur 6 tahun ia sudah mulai belajar bermain biola. Ibu Nevan dulunya adalah
seorang violinist. Setiap sabtu dan minggu, ibunya selalu menyempatkan waktu mengajarinya bermain
biola. Bakat Nevan sebagai violinist terlihat saat ia mengikuti kompetensi music and childrens. Nevan
berusia 8 tahun saat itu. Ia berhasil menyingkirkan 29 anak lainnya. Semenjak itu, ia terus mengikuti
berbagai lomba untuk mengasah kemampuannya. Prestasi yang diraihnya dari kompetensi dan lomba
biola memberikan tiket masuk khusus bagi Nevan untuk bersekolah di SMA matahari. Kelas X ia
berteman dengan Tika dan berkenalan dengan kakaknya yang memang kuliah di jurusan musik dan seni.
Meski masih kuliah, kak Ferdian juga memiliki kerja sampingan sebagai musisi keliling. Maksudnya, kak
Ferdian menerima tawaran untuk manggung bermain musik. Ia tak sendirian. Kak Ferdian memiliki
kelompok musik sendiri. Sebuah band bernama The Freeze. Tapi Nevan tidak masuk dalam band itu, ia
hanya tampil individu atau duet dengan kak Ferdian.