Anda di halaman 1dari 25

MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM

Kompetensi Inti
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah
lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan
menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KD 1.4
Menghayati keberadaan diri di tempat tinggalnya dengan tetap waspada, berusaha
mencegah timbulnya bencana alam, dan memohon perlindungan kepada Tuhan
yang Maha Kuasa.
KD 2.4
Menunjukkan sikap peduli terhadap peristiwa bencana alam dengan selalu bersiap
siaga, membantu korban, dan bergotong royong dalam pemulihan kehidupan akibat
bencana alam.
KD 3.7
Menganalisis mitigasi dan adaptasi bencana alam dengan kajian geografi.
KD 4.7
Menyajikan contoh penerapan mitigasi dan cara beradaptasi terhadap bencana
alam di lingkungan sekitar.

INDIKATOR
1. Menjelaskan pengertian bencana
2. Mengklasifikasi jenis-jenis bencana alam
3. Menganalisis karakteristik bencana alam
4. Mengidentifikasi sebaran daerah rawan bencana alam di Indonesia
5. Menganalisis dampak positif bencana alam
6. Menganalisis dampak negatif bencana alam
7. Menjelaskan pengertian mitigasi bencana
8. Menganalisis adaptasi penanggulangan bencana alam
9. Melakukan usaha pengurangan resiko bencana alam
10. Menjelaskan kelembagaan penanggulangan bencana ala
MATERI

MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA

Gambar 1. Tsunami
Sumber: Internet

A. Pengertian Bencana
Berdasarkan Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda dan dampak psikologis.
Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 mengelompokkan bencana menjadi bencana
alam, bencana nonalam, bencana sosial. Bencana alam merupakan bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam
antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin
topan dan tanah longsor.
Bencana nonalam merupakan bencana yang diakibatkan oleh fenomena nonalam
antara lain berupa kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi dan epidemi atau
wabah penyakit.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh interaksi antarmanusia


yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau konflik antarkomunitas masyarakat
dan terorisme.

B. Jenis-Jenis Bencana Alam


1. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Litosfer
a. Letusan gunung api
Letusan gunung api merupakan proses keluarnya magma yang berada di perut
bumi ke permukaan bumi berupa material padat berupa bom, lavili dan deb
vulkanik, material cair berupa lahar dan material gas berupa awan panas

b. Tanah longsor
Tanah longsor merupakan gerakan masa batuan atau tanah menuruni lereng atau
tebing.
c. Gempa bumi
Gempa bumi merupakan getaran pada permukaan bumi yang diakibatkan oleh
pergerakan dan/atau interaksi lempeng tektonik serta aktivitas vulkanik

2. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Hidrosfer


a. Banjir
Fenomena banjir merupakan peristiwa meluapnya air dari sungai sehingga
menggenangi wilayah daratan yang normalnya kering. Banjir umumnya terjadi
ketika volume air pada sungai melebihi daya tampung sungai tersebut.

b. Tsunami
Fenomena tsunami merupakan gelombang pasang yang terjadi akibat akibat
aktivitas tektonik dan letusan gunung api yang terdapat di dasar laut

3. Bencana alam yang disebabkan oleh dinamika Atmosfer


a. Badai tropis
Dalam meteorologi dikenal istilah Badai Tropis yang merupakan pusaran angin
tertutup pada suatu wilayah bertekanan udara rendah. Kekuatan angin yang terjadi
pada Badai Tropis dapat mencapai kecepatan lebih dari 128 km/jam dengan
jangkauan lebih dari 200 Km dan berlangsung selama beberapa hari hingga lebih
dari satu minggu.
b. Tornado
Tornado adalah kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan
antara awan cumulonimbus atau dalam kejadian langka dari dasar awan cumulus dengan
permukaan tanah. Tornado muncul dalam banyak ukuran namun umumnya
berbentukcorong kondensasi yang terlihat jelas yang ujungnya yang menyentuh bumi menyempit
dan sering dikelilingi oleh awan yang membawa puing-puing. Umumnya tornado memiliki
kecepatan angin 177 km/jam atau lebih dengan rata-rata jangkauan 75 m dan menempuh beberapa
kilometer sebelum menghilang. Beberapa tornado yang mencapai kecepatan angin lebih dari 300-
480 km/jam memiliki lebar lebih dari satu mil (1.6 km) dan dapat bertahan di permukaan dengan
lebih dari 100 km.

C. Karakteristik Bencana Alam


1. Karakteristik letusan gunung api
Gunung berapi adalah bukaan, atau rekahan, pada permukaan atau kerak Bumi, yang
membenarkan gas, abu, dan batu cair yang panas bebas jauh di dalam bawah
permukaan bumi. Aktiviti gunung berapi membabitkan extrusion of rock yang
cenderung membentuk gunung atau ciri-ciri berbentuk gunung melalui tempoh
masa.
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara
lain:
- Suhu di sekitar gunung naik.
- Mata air menjadi kering
- Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
- Tumbuhan di sekitar gunung layu
- Binatang di sekitar gunung bermigrasi

Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain :


a) Gas vulkanik
Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara
lain Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S),
Sulfur dioksida (S02), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia.
b) Lava dan aliran pasir serta batu panas
Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi
ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai
sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang
membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.
c) Lahar
Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material
lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
d) Hujan Abu
Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi
letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai
ratusan kilometer jauhnya. Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan.
e) Awan panas
Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan
ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih
besar dari 600 °C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang
terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak
napas.

2. Karakteristik tanah longsor


Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan,
bahan rombakan,tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau
keluar lereng.
Faktor-faktor yang menyebabkan longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng
lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan
batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh
besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada
kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi
penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar
dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia:
a) Faktor alam
• Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung,
strukutur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi.
• Iklim : curah hujan yang tinggi.
• Keadaan topografi : lereng yang curam.
• Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi
dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika.
• Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan
getaran lalu lintas kendaraan.
b) Faktor manusia
• Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereg yang terjal.
• Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
• Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
• Penggundulan hutan.
• Budidaya kolam ikan diatas lereng.
• Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
• Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat,
sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
• Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
Ciri-ciri tanah longsor yaitu sebagai berikut :
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya
terjadi setelah hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
• Jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu, airnya langsung
hilang.
• Pintu dan jendela yang sulit dibuka.
• Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar.
• Pohon/tiang listrik banyak yang miring.
• Halaman/dalam rumah tiba-tiba ambles.
Ada enam jenis longsor, yaitu: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan
blok, runtuhan batu, rayapan tanah dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran
translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia sedangkan longsoran yang
paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.

3. Karakteristik gempa bumi


Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam
bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak
bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari
pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan
kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan
sampai ke permukaan bumi.
Karakteristik Gempabumi
- Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
- Lokasi kejadian tertentu
- Akibatnya dapat menimbulkan bencana
- Berpotensi terulang lagi
- Belum dapat diprediksi
- Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi
Tipe gempa bumi
a. Gempa bumi vulkanik ( Gunung Api ) ; Gempa bumi ini terjadi akibat adanya
aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus.
b. Gempa bumi tektonik ; Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas
tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang
mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi
ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa
bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi.
c. Gempa bumi tumbukan ; Gempa bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau
asteroid yang jatuh ke bumi, jenis gempa bumi ini jarang terjadi.
d. Gempa bumi runtuhan ; Gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur
ataupun pada daerah pertambangan, gempabumi jarang terjadi dan bersifat lokal.
e. Gempa bumi buatan ; Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan
oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang
dipukulkan ke permukaan bumi

4. Karakteristik banjir
Banjir merupakan peristiwa meluapnya air dari sungai sehingga menggenangi
wilayah daratan yang normalnya kering. Banjir umumnya terjadi ketika volume air
pada sungai melebihi daya tampung sungai tersebut.
Berdasarkan penyebabnya, banjir dapat dikategorikan dalam empat kategori yaitu:
a. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran
sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase
buatan manusia
b. Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang
laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.
c. Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti
bendungan, bendung, tanggul dan bangunan pengendalian banjir.
d. Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat
runtuhnya/longsornya tebing sungai.
Pada umumnya banjir yang berupa genangan maupun banjir bandang bersifat
merusak. Aliran arus air yang cepat dan bergolak dapat mengakibatkan korban
jiwa karena aliran air yang sangat deras dan besar dapat membuat orang hanyut
atau tenggelam. Aliran air yang membawa material tanah yang halus akan mampu
manyeret material yang lebih berat sehingga daya rusaknya akan lebih tinggi.
Banjir mampu merusak pondasi bangunan, pondasi jembatan dan lainnya yang
dilewati sehingga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan tersebut bahkan
mampu merobohkan bangunan dan mampu menghanyutkannya.

5. Karakteristik tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang. “tsu” berarti pelabuhan, “nami” berarti
gelombang sehingga secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di
pelabuhan.
Ada beberapa penyebab terjadinya tsunami:
- Bempabumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang
sangat besar di bawah air (laut/danau).
- Tanah longsor di bawah tubuh air/laut
- Letusan gunung api di bawah laut dan gunung api pulau
Besar kecilnya gelombang tsunami sangat ditentukan oleh karakteristik gempa bumi
yang memicunya. Besar kecilnya tsunami yang yang terjadi di samping tergantung
pada bentuk morfologis pantai juga dipengaruhi oleh karakteristik sumber gangguan
implusif yang ditimbulkannya. Karakteristik gelombang tsunami meliputi energi,
magnitudo, kedalaman pusat gempa, mekanisme fokus dan luas rupture area.
Beberapa karakteristik Tsunami, antara lain :
- Tinggi gelombang tsunami di tengah lautan mencapai lebih kurang 5 meter.
Serentak sampai pantai tinggi gelombang ini dapat mencapai 30 meter.
- Panjang gelombang tsunami (50-200 km) jauh lebih besar dari pada gelombang
pasang laut (50-150 m). Panjang gelombang tsunami ditentukan oleh kekuatan
gempa, sebagai contoh gempabumi tsunami dengan kekuatan magnitude 7-9 panjang
gelombang tsunami berkisar 20-50 km dengan tinggi gelombang 2 m dari
permukaan laut.
- Periode waktu gelombang tsunami yang berkekuatan tinggi hanya berperiode
durasi gelombang sekitar 10-60 menit, sedangkan gelombang pasang bisa
berlangsung lebih lama 12-24 jam.
- Cepat rambat gelombang tsunami sangat tergantung pada kedalaman laut, bila
kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan berkurang tiga
perempatnya.
6. Karakteristik badai tropis
Badai tropis terbentuk di atas samudera yang umumnya bersuhu permukaan hangat
atau lebih dari 26,50C.
Syarat utama untuk dapat tumbuh dan berkembangnya siklon tropis adalah
kelembaban udara yang tinggi karena banyaknya kandungan uap air. Syarat tersebut
dapat dipenuhi oleh daerah perairan ( lautan) di zona tropis dan subtropis yang
temperaturnya dapat mencapai > 2600C.

Karakter badai tropis:


- Sebagai tiupan angin yang merusak
- Meningkatkan jumlah curah hujan dan intensitas hujan
- Menimbulkan gelombang badai di pantai
- Rata-rata durasi badai tropis 6 hari, tetapi dapat terjadi < 24 jam namun ada pula
yang durasinya sampai 3 minggu
- Dalam citra satelit tampak sebagai kumpulan awan melingkar dengan radius hingga
300 km
Dampak siklon tropis bisa berupa angin kencang, hujan deras selama berjam-jam
hingga berhari-hari, banjir, gelombang tinggi dan gelombang badai

7. Karakteristik tornado
Tornado merupakan pusaran udara yang bergerak cepat dan berbentuk corong spiral.
Tornado umumnya berkaitan erat dengan pertumbuhan awan badai. Kecepatan
tornado berkisar mulai dari 72 km per jam hingga lebih dari 400 km per jam.
Ciri ciri datangnya Tornado:
1. Langit terlihat hitam atau mendung.
2. Terjadi hujan es di sekitar daerah (biasanya durasi selama 20-25mnt)
3. Setelah terjadi badai hujan maka suasana akan tenang namun langit semakin hitam
gelap
4. Awan bergerak cepat sehingga mengitari daerah kita
5. Kemunculan Tornado bisa didengar. Awalnya suara nya seperti air terjun, namun
lama lama berubah menjadi seperti suara jet yang sangat keras
Perubahan lapisan udara merupakan pemicu lahirnya Tornado dalam hal ini jika
lapisan udara dingin berada diatas lapisan udara panas, udara panas naik dengan
kecepatan 300-an km/jam, udara yang menyusup dari sisi inilah yang
mengakibatkan angin berputar sehingga membentuk tornado, dan bila sudah
sempurna maka sebuah tornado bisa memiliki kecepatan hingga 400 Km/jam serta
lebar cerobong antara 15 - 365 meter.
Proses terjadinya badai tornado:
Udara panas yang terus menerus menghantam bumi akan menyebabkan suhu
tanah meningkat. Dan ketika suhu panas meningkat, udara panas dan lembab yang
ada di udara akan mulai naik dan semakin naik.

Ketika udara panas, udara lembab dan dingin memenuhi udara kering, dan
terangkat ke atas, kemudian akan masuk ke lapisan udara atas. Pada fase ini sebuah
awan petir mulai tercipta.

Pergerakan udara keatas yang terjadi sangat cepat dan adanya angin dari sisi
samping menyebabkan arah yang berbeda dan membentuk sebuah pusaran.

Sebuah kerucut hasil putaran udara yang berpilin tersebut mulai terbentuk dan
terlihat dari awan ke permukaan tanah. Seperti yang ditunjukkan pada gambar di
bawah ini.
D. Sebaran Daerah Rawan Bencana Alam di Indonesia
Beberapa daerah sebaran rawan bencan alam di Indonesia yaitu:
1. Gempa bumi
Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur
pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia,
dan lempeng Pasifik.
Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup
kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah
barat.
Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi
besar dengan kedalaman dangkal

2. Gunung meletus
Jumlah Gunung Api atau Gunung berapi di Indonesia yang masih aktif 129
buah yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku,
Sulawesi, dan Papua.
Daftar Gunung Berapi di Indonesia (disusun berdasarkan letak)
Gunung di Papua (14 buah - termasuk puncak-puncaknya)
Gunung Puncak Carstenz Pyramid(4,884 m.dpl) merupakan gunung tertinggi di
Indonesia.
Gunung Puncak Jaya(4,860 m.dpl)
Gunung Puncak Trikora(4,730 m.dpl)
Gunung Puncak Idenberg (4,643 m.dpl)
Gunung Dom (1,332 m.dpl)
Gunung Derabaro (4,150 m.dpl)
Gunung Yamin (4,595 m.dpl)
Gunung Yaramamafaka (3,370 m.dpl)
Gunung Redoura (3,083 m.dpl)
Gunung Togwomeri (2,680 m.dpl)
Gunung Mandala (4,640 m.dpl)
Gunung Ngga Pilimsit(4,717 m.dpl)
Gunung Foja (1,800 m.dpl)
Gunung Cyrcloop (2,034 m.dpl)

Gunung di Jawa (37 buah)


Gunung Anjasmara (2.277 m)
Gunung Argapura (3.088 m)
Gunung Arjuno (3.339 m)
Gunung Bromo (2.392 m)
Gunung Bukit Tunggul (2.208 m)
Burangrang (2.057 m)
Gunung Ciremay/Cereme (3.078 m)
Gunung Cikuray (2.818 m)
Gunung Galunggung (2.167 m)
Gunung Gede (2.958 m)
Gunung Guntur (2.249 m)
Gunung Karang (1.245 m) sekitar 40 KM selatan Pandeglang
Gunung Kembar I (3.052 m)
Gunung Kembar II (3.126 m)
Gunung Krakatau
Gunung Lasem (806 m) Rembang Jawa Tengah
Gunung Lawu (3.245 m)
Gunung Semeru (3.676m) gunung tertinggi di pulau Jawa dan gunung berapi
ketiga tertinggi di Indonesia
Gunung Malabar (2.343 m)
Gunung Masigit (2.078 m)
Gunung Merapi (2.911 m)
Gunung Merbabu (3.145 m)
Gunung Muria (1.602 m)
Gunung Pangrango (3.019 m)
Gunung Papandayan (2.665 m)
Gunung Patuha (2.386 m)
Gunung Penanggungan (1.653 m)
Gunung Raung (3.332 m)
Gunung Salak (2.211 m)
Gunung Slamet (3.432 m)
Gunung Sumbing (3.336 m)
Gunung Sundara (3.150 m)
Gunung Tangkuban Perahu (2.084 m)
Gunung Ungaran (2,050 m)
Gunung Wayang (2.181 m)
Gunung Welirang (3.156 m)
Gunung Wilis (2.552 m)
Gunung Kelud (1.350 m)
Gunung di Kalimantan (4 buah)
Gunung Palung (1.116 m) Kalimantan Barat
Gunung Raya (2.278 m) Kalimantan Tengah
Gunung Liangpran (2.240 m) Kalimantan Timur
Gunung Halau (1.892 m) Kalimantan Selatan
Gunung di Sulawesi (10 buah)
Gunung Awu (1.320 m) Kepulauan Sangihe
Gunung Lokon (1.689 m)
Gunung Klabat(1995 mdpl)
Gunung Mekongga (2.620 m)
Gunung Mahawu (1311 mdpl)
Gunung Bawakaraeng (2.705 m)
Gunung Latimojong (3.478 m)
Gunung Lokon (1580 mdpl)
Gunung Lompobattang (2871 m)
Gunung Soputan (1783 m)
Gunung di Sumatra (13 buah)
Gunung Dempo (3159 m) Sumatra Selatan
Gunung Kerinci (3.805 m) Jambi gunung tertinggi di Sumatra, kedua di Indonesia
dan gunung berapi tertinggi di Indonesia
Gunung Sinabung (2.475 m) Sumatra Utara
Gunung Sibayak (2.212 m) Sumatra Utara
Gunung Pesagi (2.262 m) Lampung
Gunung Singgalang (2.877 m) Sumatra Barat
Gunung Marapi (2,891.3 m) Sumatra Barat
Gunung Talamau (2,912 m) Sumatra Barat
Gunung Tandikat (2438 m) Sumatra Barat
Gunung Leuser (3172 m) NAD
Gunung Perkison (2300 m) NAD
Gunung Talang (2600 m) Sumatra Barat
Gunung Sago (2500 m) Sumatra Barat
Bali & Nusa Tenggara (20 buah)
Gunung Agung (3.142 m) di Bali
Gunung Ebulolobo (2,123)
Gunung Inielika (1,559)
Gunung Kondo (2,947)
Gunung Nangi (2,330)
Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia
Gunung Sangeang (1,949)
Gunung Tambora (2.850 m) di pulau Sumbawa
Gunung Anak Ranakah (2,402)
Gunung Ebulabo (2,123)
Gunung Egon (1,703)
Gunung Iliboleng (1,659)
Gunung Iliwerung (1,486)
Gunung Inerie (2,230)
Gunung Keknemo (2,070)
Gunung Kelimutu (1,385)
Gunung Lewotobi Laki-laki (1,584)
Gunung Lewotobi Perempuan (1,703)
Gunung Lewotolo (1,319)
Gunung Loreboleng (1,117)

3. Tanah longsor
4. Banjir
5. Arus laut dan ombak besar
6. Tsunami
7. Kekeringan
8. Kebakaran hutan
9. Bencana angin: badai tropis dan puting bliung
10. Gas beracun

E. Dampak Positif Bencana Alam


1. Letusan Gunung Berapi
Letusan gunung berapi juga sebenarnya membawa berkah meski hanya bagi
penduduk yang ada di sekitar. Berikut uraiannya:
a. Tanah yang dilalui oleh hasil abulkanis gunung berapi sangat baik bagi pertanian
sebab tanah tersebut secara alamiah menjadi lebih subur dan bisa menghasilkan
tanaman yang jauh lebih berkualitas. Tentunya bagi penduduk sekitar pegunungan
yang mayoritas petani, hal ini sangat menguntungkan.
b. Terdapat mata pencaharian baru bagi rakyat sekitar gunung berapi yang telah
meletus, apa itu? Jawabannya penambang pasir. Material vulkanik berupa pasir tentu
memiliki nilai ekonomis.
c. Selain itu, terdapat pula bebatuan yang disemburkan oleh gunung berapi saat
meletus. Bebatuan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangungan warga
sekitar gunung.
d. Meski ekosistem hutan rusak, namun dalam beberapa waktu, akan tumbuh lagi
pepohonan yang membentuk hutan baru dengan ekosistem yang juga baru.
e. Setelah gunung meletus, biasanya terdapat geyser atau sumber mata air panas yang
keluar dri dalam bumi dengan berkala atau secara periodik. Geyser ini kabarnya baik
bagi kesehatan kulit.
f. Muncul mata air bernama makdani yaitu jenis mata air dengan kandungan mineral
yang sangat melimpah.
g. Pada wilayah vulkanik, potensial terjadi hujan orografis. Hujan ini potensial terjadi
sebab gunung adalah penangkan hujan terbaik.
h. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi, sangat baik didirikan
pembangkit listrik.
2. Tanah Longsor
Dampak positif dari tanah longsor adalah:
- Tanah kembali menjadi gembur
- Perubahan tekstur dan bentuk gunung
- Mempercepat dan memperbanyak proses peleburan batu dalam tanah
3. Gempa Bumi
Dampak positif dari gempa bumi adalah:
- Menciptakan alat-alat tekhnologi pendeteksi gempa
- Menjadikan kita peduli pada sesama
- Meningkatkan kewaspadaan manusia
- Menjadi tempat pariwisata
- Menjadi sumber berita
- Mengurangi kepadatan penduduk
4. Banjir
Dampak positif dari banjir adalah:
- Masyarakat jadi sadar kalau selama ini kurang kesadaran terhadap lingkungan
sehingga terkena banjir
- Masyarakat menjadi semakin sadar pentingnya menjaga agar tidak terjadi terjadi
banjir
5. Tsunami
Dampak positif dari tsunami adalah:
- Bencana alam merenggut banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan menjadi
terbuka luas bagi yang masih hidup
- Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban
bencana,menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu
sama lain
- Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan kita serta
kelemahannya dan kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila
bencana tersebut datang kembali tetapi dengan konstruksi yang lebih baik
6. Badai Tropis
Dampak positif dari badai tropis adalah:
- Secara global siklon tropis sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan panas
atmosfer bumi dengan cara memindahkan panas, dan kelembaban yang tinggi di
daerah tropis ke wilayah sub tropis dan kutub yang lebih dingin.
- Pada beberapa situasi khusus, siklon tropis membawa dampak positif bagi wilayah-
wilayah yang terkenda dampaknya. Di wilayah Jepang, sebagian besar curah hujan
yang turun merupakan dampak dari typhoon. Hurricane Camille mengakhiri kondisi
kekeringan dan kesulitan air pada daerah-daerah yang dilewatinya.
7. Tornado
Ternyata dibalik dasyatnya tornado tornado menyimpan manfaat :
- Menjaga suhu daerah yang dilalui tornado agar daerah tersebut tidak terlalu
dingin/panas karena tornado membawa angin dari derah lain yang biasanya dari
daerah lebih dingin,lebih panas dari daerah yang diterjang angin

F. Dampak Negatif Bencana Alam


1. Letusan Gunung Berapi
Gunung berapi yang meletus tentu akan membawa material yang berbahaya bagi
organisme yang dilaluinya, Karena itu kewaspadaan mutlak diperlukan. Berikut ini
hal negatif yang bisa terjadi saat gunung meletus:
a. Tercemarnya udara dengan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-
macam gas mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S,
No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa partike debu yang berpotensial meracuni
makhluk hidup di sekitarnya.
b. Dengan meletusnya suatu gunung berapi bisa dipastikan semua aktifitas penduduk
di sekitar wilayah tersebut akan lumpuh termasuk kegiatan ekonomi.
c. Semua titik yang dilalui oleh material berbahaya seperti lahar dan abu vulkanik
panas akan merusak pemukiman warga.
d. Lahar yang panas juga akan membuat hutan di sekitar gunung rusak terbakar dan
hal ini berarti ekosistem alamiah hutan terancam.
e. Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi berpotensi menyebabkan sejumlah
penyakit misalnya saja ISPA.
f. Desa yang menjadi titik wisata tentu akan mengalami kemandekan dengan adanya
letusan gunung berapi. Sebut saja Gunung Rinjani dan juga Gunung Merapi, kedua
gunung ini dalam kondisi normal merupakan salah satu destinasi wisata terbaik bagi
mereka wisatawan pecinta alam.
2. Tanah Longsor
Dampak negatif dari tanah longsor adalah:
- Korban jiwa
- Rusaknya infrastruktur
- Rusaknya sumber mata pencaharian warga
- Buruknya sanitasi lingkungan
3. Gempa Bumi
Dampak negatif dari gempa bumi adalah:
- Membuat banyak orang meninggal
- Merusak fasilitas umum
- Wilayah menjadi rusak
- Banyaknya pengangguran karena kantornya hancur
- Berkurangnya sumber daya alam dan sumber daya manusia
- Jaringan transportasi dah komunikasi terganggu
4. Banjir
Dampak negatif dari banjir adalah:
- Merusak sarana dan prasarana rumah, gedung, jembatan, jalan, dll
- Memutuskan jalur transportasi, akibat genangan air maka jalur transportasi jadi
tidak bisa dilalui
- Bisa merusak dan bahkan menghilangkan peralatan, perlengkapan, harta benda
lainnya atau bahkan jiwa manusia
- Bisa mengakibatkan pemadaman listrik, karena ada genangan air maka listrik
diwilayah tersebut harus dipadamkan karena bisa berbahaya
- Mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak bisa keluar rumah, tidak bisa ke kantor,
sekolah, dll
- Dapat mencemari lingkungan sekitar kita, saat banjir datang tidak hanya air, tetapi
juga membawa serta sampah, kotoran, limbah, dll selain dapat mencemari sumber
air bersih, banjir juga akan mengotori, halaman atau bahkan rumah kita sehingga
menjadi tidak hiegienis.
- Mendatangkan masalah / gangguan kesehatan (penyakit)
5. Tsunami
Dampak negatif dari tsunami adalah:
- Merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan
mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air
asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
- Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari lagi
tenaga ahli yang sesuai dalam bidang pekerjaanya
- Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksaan pembangunan pasca bencana karena
faktor dana yang besar
- Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana yang
kehilangan segalanya
6. Badai Tropis
- Angin kecepatan tinggi
- Gelombang laut (storm surge)
- Hujan deras
- Angin tornado
7. Tornado
Dampak yang ditimbulkan akibat angin puting beliung/ tornado dapat
menghancurkan area seluas 5 km dan tidak ada lagi angin puting beliung/tornado
susulan. Rumah akan hancur dan tanaman akan tumbang diterjang angin puting
beliung, mahluk hidup bisa sampai mati karena terlempar atau terbentur benda keras
lainnya yang ikut masuk pusaran angin. Jaringan telepon,internet, dan listrik akan
terganggu akibat angin putting beliung/tornado, dan dapat merusak infrastruktur
daerah/kota.

G. Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam


1. Pengertian Mitigasi Bencana
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, mitigasi didefinisikan sebagai
serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan
fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana.
Beberapa tujuan utama mitigasi bencana alam yaitu:
1. Mengurangi resiko bencana bagi penduduk dalam bentuk korban jiwa, kerugian
ekonomi dan kerusakan sumber daya alam.
2. Menjadi landasan perencanaan pembangunan
3. Meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menghadapi serta mengurangi
dampak dan resiko bencana sehingga masyarakat dapat hidup aman
Untuk melakukan penanggulangan bencana, diperlukan informasi sebagai dasar
perencanaan penanganan bencana yang meliputi:
1. Lokasi dan kondisi geografis wilayah bencana serta perkiraan jumlah penduduk
yang terkena bencana
2. Jalur transportasi dan sistem telekomunikasi
3. Ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi, tempat penampungan dan
jumlah korban
4. Tingkat kerusakan, ketersediaan obat obatan, peralatan medisserta tenaga kesehatan
5. Lokasi pengungsian dan jumlah penduduk yang mengungsi
6. Perkiraan jumlah korban yang meninggal dan hilang
7. Ketersediaan relawan dalam berbagai bidang keahlian
Siklus manajemen bencana terdiri dari empat fase. Tiap fase tersebut saling
melengkapi dan tumpang tindih. Keempat fase tersebut adalah:
a. Mitigasi
Merupakan upaya meminimalkan dampak bencana. Fase ini umumnya terjadi
bersamaan dengan fase pemulihan dari bencana sebelumnya. Seluruh kegiatan pada
fase mitigasi ditujukan agar dampak dari bencana yang serupa tidak terulang.
b. Kesiapsiagaan
Merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian bencana. Dalam fase ini
perencanaan yang dibuat oleh lembaga penanggulangan bencana tidak hanya
berkisar pada bencana yang pernah terjadi pada masa lalu, tetapi juga untuk berbagai
jenis bencana lain yang mungkin terjadi.
c. Respon
Merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan oleh terjadinya bencana.
Fase ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana dan dimulai dengan
mengumumkan kejadian bencana serta mengungsikan masyarakat.
d. Pemulihan
Merupakan upaya pengembalian kondisi masyarakat sehingga menjadi seperti
semula. Pada fase ini pekerjaan utama yang dilakukan masyarakat dan petugas
adalah menyediakan tempat tinggal sementara bagi korban bencana dan membangun
kembali sarana dan prasarana yang rusak. Selama masa pemulihan ini, dilakukan
pula evakuasi terhadap langkah-langkah penanganan bencana yang telah dilakukan.

2. Adaptasi Penanggulangan Bencana Alam


Adaptasi bencana adalah penyesuaian sistem alam dan manusiaterhadap stimulus
bencana alam nyata atau yang diharapkan tidak ada dampak-dampaknya, yang
menyebabkan kerugian atau mengeksploitasi kesempatan-kesempatan yang
memberi manfaat.
Adapatsi bencana alam perlu dilakukan mengingat adanya ancaman-ancaman
bencana alam yang membahayakan manusia seperti:
1. Ancaman alamiah
Proses atau fenomena alam berupa tanah longsor, tanah bergerak yang bisa
menyebabkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain,
kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
2. Ancaman biologis
Proses atau fenomena bersifat organik atau yang dinyatakan oleh vektor-vektor
biologis termasuk keterpaparan terhadap mikroorganisme yang bersifat patogen,
toksin dan bahan-bahan bioaktif yang bisa menghilangkan nyawa, cidera, sakit atau
dampak-dampak kesehatan lainnya kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan
dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
3. Ancaman geologis
Proses atau fenomena geologis berupa gempa bumi dan gunung meletus bisa
mengakibatkan hilangnya nyawa, cidera atau dampak-dampak kesehatan lain,
kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
4. Ancaman hidrometeorologis
Proses atau fenomena yang bersifat atmosferik, hidrologis atau oseanografis berupa
pemanasan global dan tsunami yang bisa mengakibatkan hilangnya nyawa, cidera
atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan
dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi atau kerusakan lingkungan.
5. Ancaman sosial-alami
Fenomena meningkatnya kejadian peristiwa-peristiwa ancaman bahaya geofisik dan
hidrometeorologis tertentu seperti tanah longsor, banjir, dan kekeringan, yang
disebabkan oleh interaksi antara ancaman bahaya alam dengan sumber daya lahan
dan lingkungan yang dimanfaatkan secara berlebihan atau rusak
Hal-hal penting dalam adaptasi dan ancaman bencana alam adalah:
- Kesadaran publik
- Kesiapsiagaan
- Ketangguhan/tangguh
- Langkah-langkah struktural/nonstruktural
- Manajemen resiko bencana
- Partisipasi
Adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Berikut contoh
adaptasi dalam berbagai bidang kehidupan manusia:
- Adaptasi dalam bidang ekonomi
- Adaptasi dalam bidang kesehatan
- Adaptasi dalam ketersediaan air
- Adaptasi terhadap wilayah perkotaan yang sering dilanda banjir
3. Usaha Pengurangan Resiko Bencana Alam
Usaha pengurangan resiko bencana alam di Indonesia dapat dilakukan dengan cara:
1. Pembuatan peta risiko bencana
Pengenalan dan pengkajian ancaman bencana atau suatu wilayah berangkat dari
pemahaman terhadap kondisi dan karakteristik suatu wilayah, baik dari segi fisik
maupun sosial. Proses kajian ini dilakukan oleh berbagai ahli dengan berbagai
bidang ilmu kemudian digabungkan dan dianalisis dengan menggunakan
pendekatan geografi. Hasil akhirnya adalah peta-peta yang menggambarkan
karakteristik suatu wilayah dari berbagai aspek.
Penggambaran resiko bencana yang terdapat di suatu wilayah dilakukan dengan
membuat peta resiko bencana. Secara umum, peta ini menggambarkan tingkat resiko
terjadinya suatu bencana tertentu di suatu wilayah. Peta ancaman bencana dibuat
berdasarkan beberapa indikator, antara lain sebagai berikut:
- Zonasi wilayah rawan gempa bumi
- Arus laut
- Perkitaan ketinggian genangan tsunami
- Zonasi wilayah rawan banjir
- Zonasi wilayah rawan longsor
- Zonasi wilayah terkena dampak letusan gunung api
- Penggunaan lahan dan vegetasi
- Bentuk medan dan kelerengan
- Jenis hutan
- Jenis tanah
- Tipe iklim dan curah hujan tahunan
Peta kerentanan dibuat berdasarkan beberapa indikator yaitu:
- Kepadatan penduduk
- Rasio jenis kelamin
- Tingkat kemiskinan
- Jumlah difabel
- Rasio kelompok umur
- Luas lahan produktif
- Kontribusi pendapatan domestik regional bruto (PDRB)
- Jumlah bangunan, fasilitas umum, dan fasilitas darurat
- Kepadatan bangunan
- Jenis vegetasi
2. Sistem peringatan dini bencana alam
UNISDR mendefinisikan sistem peringatan dini adalah sekumpulan kapasitas yang
dibutuhkan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi peringatan yang
bermakna dan tepat waktu sehingga memungkinkan individu, masyarakat dan
organisasi yang terancam bencana untuk bersiap dan bertindak dengan tepat dalam
waktu yang cukup untuk mengurangi kemungkinan bahaya atau kerugian.
Konsep sistem peringatan dini terdiri dari empat unsur yaitu:
a. pengetahuan tentang resiko bencana
b. layanan pengawasan dan peringatan
c. penyebaran informasi dan komunikasi
d. kemampuan merespon
Langkah mitigasi sesudah bencana meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. menginventarisasi data-data kerusakan akibat bencana dan kekuatan bencana yang
terjadi
b. mengidentifikasi wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana berdasarkan
tingkat kerusakan
c. membuat rekomendasi dan saran untuk penanggulangan bencana pada masa depan
d. membuat rencana penataan ulang wilayah, termasuk rencana tata ruang dan
penggunaan lahan
e. memperbaiki dan mengganti fasilitas pemantauan bencana yang rusak
f. melanjutkan aktivitas pemantauan rutin dan simulasi tanggap bencana
3. Simulasi bencana alam
Simulasi bencana adalah kegiatan pemberian informasi tentang cara-cara
tentang penyelamatan diri kepada masyarakat oleh petugas/instansi terkait pada
wilayah rawan bencana dan/atau disertai simulasi penyelamatan untuk mencegah
atau meminimalkan dampak bencana alam yang mungkin terjadi. Kegiatan ini
idealnya diikuti oleh seluruh anggota masyarakat yang berada di wilayah rawan
bencana dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses mitigasi dan penanggulangan
bencana.
Salah satu tujuan utama dari pelaksanaan simulasi bencana adalah menguji
kesiapan seluruh sistem, prosedur, dan perangkat mitigasi serta penangulangan
bencana.
4. Kelembagaan Penanggulangan Bencana Alam
a. Lembaga penanggulangan bencana alam
1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN)
BNPB adalah lembaga pemerintah nondepartemen yang dibentuk berdasarkan
peraturan presiden nomor 8 Tahun 2008. Tugas BNPB adalah membantu presiden
dalam mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penanganan
bencana serta melaksanakan penanganan tersebut mulai dari sebelum bencana, pada
saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana.
2. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
PVMBG merupakan salah satu unit kerja Badan Geologi. Badan geologi sendiri
merupakan salah satu unit di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM). PVMPG berkantor pusat di Bandung dan mempunyai tugas
melaksanakan penelitian, penyelidikan, perekayasaan dan pelayanan di bidang
vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.
b. Hubungan antara bencana alam dengan kelembagaan penanggulangan bencana
alam
- Apabila di suatu daerah terjadi kenampakan/kerusakan alam yang berhubungan
dengan geologi, maka masyarakat melalui pemerintah daerah dapat segera
menghubungi PVMPG yang berkantor pusat di Bandung untuk diteliti keadaannya.
- Apabila terjadi bencana alam seperti meletusnya gunung Merapi, keluarnya gas
alam di Dieng, tsunami di Aceh, gempa bumi di Tasikmalaya dan Padang atau
bencana lainnya, masyarakat melalui pemerintah daerah dapat melaporkan kejadian
tersebut ke PNPB dan PVMPB.
PNPB bertugas dalam hal melaksanakan penanganan bencana, sedangkan PVMPB
bertugas dalam hal mengatasi dam menyelidiki sebab-sebab dan akibat bencana
alam yang terjadi.