Anda di halaman 1dari 9

BAB II

DASAR TEORI

Dalam pengertian teknik secara umum, tanah di definisikan sebagai


material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak
tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organic
yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai zat cair dan gas yang mengisi
ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut, Tanah berguna
sebagai bahan bagunan pada berbagai macam pekerjaan teknik sipil, di samping
itu tanah juga berfungsi sebagai pendukung dari pondasi suatu bagunan.
Ilmu mekanika tanah adalah cabang dari ilmu pengetahuan yang
mempelajari sifat fisik dari tanah dan kelakuan massa tanah tersebut bila
menerima bermacam-macam gaya. Butiran-butiran mineral yang membentuk
bagian padat dari tanah merupakan hasil pelapukan dari batuan. Ukuran butiran
padat tersebut sangat bervariasi dan sifa-sifat fisik dari tanah banyak tergantung
dari factor-faktor ukuran, bentuk dan komposisi kimia dari butiran.Untuk lebh
jelasnya mengenai factor-faktor tersebut, hrus lebih di kenal dahulu tipe=tipe
dasar dari batuan yang membentuk kerak bumi, mineral-mineral yang membentuk
batuan, dan proses pelapukan.
Tanah terbagi dari dua bagian, yaitu bagian padat dan bagian rongga.
Bagian padat terdiri dari partikel – partikel padat, sedangkan bagian berongga
terisi air atau udara setengahnya bila tanah tersebut jenuh atau kering. Apabila
gumpalan tanah tidak sepenuhnya dalam keadaan basah atau jenuh, maka rongga
tanah akan terisi oleh air dan udara.
Tanah tidak seperti besi atau baja dan beton yang tidak banyak ragam sifat
– sifat fisiknya. Keragaman ini menentuakn sifat tanah dengan berbagai persoalan
sesuai dengan kondisi tertentu yang dikehendaki dalam pelaksanaan.
Tanah berbutir kasar (coarse grained soil) adalah tanah dengan ukuran
butir ≥ 0,075 mm atau tanah yang tertahan pada saringan no. 200. Tanah berbutir

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-1


halus (fine grained soil) adalah tanah dengan ukuran butir < 0,075 mm atau tanah
yang lolos ayakan no. 200.
Sifat – sifat penting tanah untuk sebuah proyek tergantung pada jenis atau
fungsi proyek. Sesuai dengan sifat – sifatnya penting diketahui tipe proyek yang
dilaksanakan. Adapun sifat – sifatnya antara lain:

 Konsolidasi (Consolidation)
Pada konsolidasi dihitung dari perubahan isi pori tanah akibat beban.
Sifat ini dipergunakan untuk menghitung penurunan bangunan.
 Tegangan geser (Shear Strength)
Untuk menentukan kemampuan tanahn menahan tekanan – tekanan tanpa
mengalami keruntuhan.
Sifat ini dibutuhkan dalam perhitungan stabilitas pondasi atau dasar yang
dibebani, stabilitas tanah isian atau timbunan di belakang bangunan
penahan tanah dan stabilitas timbunan tanah.
 Permeabilitas (Permeability)
Sifat ini untuk mengukur atau menentukan kemampuan tanah dilewati air
melalui pori – porinya.
Sifat ini penting dalam konstruksi bendung tanah urugan dan persoalan
drainase.

Sifat – sifat fisik lainnya adalah batas – batas Atterberg (Atterberg limit),
kadar air, kadar pori, kepadatan relatif, pembagian butir, kepekaan, dan
sebagainya.
Suatu sampel tanah berbutir halus dicampur air hingga mencapai keadaan
cair, jika campuran ini kemudian dibiarkan menjadi kering sedikit demi sedikit,
maka tanah ini akan melalui beberapa keadaan tertentu dari keadaan cair sampai
keadaan beku.

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-2


Keadaan-keadaan ini, dengan istilah-istilah yang dipakai untuk perbatasan
antaranya adalah sebagaimana digambarkan berikut :

Basah makin kering kering

Keadaan cair Keadaan plastis Keadaan semi Keadaan


beku
(Liquid) (plastic) plastis (solid)

Batas cair Batas plastis Batas pengerutan


(liquid limit) (plastic limit) (shrinkage limit)

Transisi keadaan semi padat ke keadaan padat → shrinkage limit (batas


susut)
Transisi keadaan plastis ke keadaan semipadat → plastic limit (batas
plastis)
Transisi keadaan cair ke keadaan plastis → liquid limit (batas cair)

Kedua angka yang paling penting ialah batas cair dan batas plastis (disebut
batas-batas Atterberg). Pengukuran batas-batas ini dilakukan secara rutin untuk
sebagian besar penyelidakan-penyelidikan yang meliputi tanah yang berbutir
halus. Karena batas-batas ini tidak merupakan sifat-sifat yang jelas, maka dipakai
cara empiris untuk menentukannya. Penentuan batas-batas Atteberg ini dilakukan
hanya pada bagian tanah yang lolos saringan no. 40.

Batas cair (Liquid limit)

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-3


Batas cair didefinisikan sebagai kadar air tanah pada batas antara keadaan
cair dan keadaan plastis (batas atas dari daerah plastis). Tanah yang telah
dicampur air diletakkan dalam cawan dan didalamnya dibuat alur dengan
memakai alat spatel (grooving tool). Engkol alat putar sehingga cawan dinaikkan
dan dijatuhkan pada dasar, dan banyaknya pukulan dihitung hingga kedua tepi
alur tersebut berhimpit.
Batas cair adalah kadar air tanah bilamana diperlukan 25 pukulan untuk
maksud ini. Biasanya percobaan ini dilakukan terhadap beberapa contoh tanah
dengan kadar air yang berbeda, dan banyaknya pukulan dihitung untuk masing-
masing kadar air. Dengan demikian dapat dibuat suatu grafik kadar air terhadap
banyaknya pukulan.

Kurva Aliran Batas Cair

50

40
Kadar air, %

30

20

10

0
1 10 100
Jumlah pukulan, N

Kemiringan garis aliran dinyatakan sebagai indeks aliran (IF)

1  2
IF 
N 
log 2 
 N1 

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-4


IF = indeks aliran
w1 = kadar air dari tanah yang bersesuaian dengan jumlah pukulan N1
w2 = kadar air dari tanah yang bersesuaian dengan jumlah pukulan N2

Batas cair juga dapat dihitung dengan persamaan empiris


N 
tan 
Dimana
LL   N  
 25  N = Jumlah pukulan yang
dibutuhkan untuk menutup goresan selebar 0,5 in pada dasar contoh
tanah yang diletakkan dalam mangkuk kunningan dari alat uji batas cair
wN = Kadar air dimana untuk menutup dasar goresan dari contoh tanah
yang dibutuhkan pukulan sebanyak N
tanβ = 0,121 (harap dicatat bahwa tidak semua tanah mempunyai harga tanβ
= 0,121)

N (N/25)0.121 N (N/25)0.121
20 0.973 26 1.005
21 0.979 27 1.009
22 0.985 28 1.014
23 0.990 29 1.018
24 0.995 30 1.022
25 1.000

Persamaan diatas umumnya memberikan hasil yang cukup baik apabila


jumlah pukulan adalah antara 20 dan 30. Untuk uji laboratorium yang dilakukan
secara rutin, persamaan tersebut mungkin dapat dipergunakan untuk menentukan
harga batas cair bilamana hanya dilakukan satu pengujian untuk tiap-tiap tanah.
Cara ini dikenal sebagai metode satu titik (one point method). Metode ini telah
dimasukkan dalam ASTM standar keterangan no D-432. Sebagai alasan mengapa
metode satu titik ini dapat memberikan hasil yang cukup baik adalah bahwa

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-5


rentang (range) harga kadar air yang terlibat hanya kecil yaitu N = 20 sampai
dengan N = 30.
Casagrande (1932) telah menyimpulkan bahwa tiap-tiap pukulan dari
alat uji batas cair adalah bersesuaian dengan tegangan geser tanah sebasar kira-
kira 1 gr/cm2 (≈0,1 kN/m2). Oleh karena itu, batas cair dari tanah berbutir halus
adalah kadar air di mana tegangan geser tanahnya adalah kira-kira 25 gr/cm 2 (≈2,5
kN/m2).

Liquid limit device Adjusment knob

Standard type : Hard rubber base


Harvard type : Micarta base

11 mm

8 mm

2 mm

Alat Casagrande

Batas plastis (Plastic limit)


Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air pada batas bawah daerah
plastis. Kadar air ini ditentukan dengan menggiling tanah pada plat kaca sehingga
diameter dari batang tanah yang dibentuk demikian, mencapai 1/8 inci. Bilamana

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-6


tanah mulai pecah saat diameternya mencapai 1/8 inci maka kadar air tanah itu
adalah batas plastis.
Bila batas plastis telah diperoleh, maka tentukan indeks plastis yang
merupakan batas cair dan batas plastis suatu tanah.
Indeks plastis (Plasticy index)
Selisih antara batas cair dan batas plastis ialah daerah dimana tanah
tersebut dalam keadaan plastis. Ini disebut “plasticy indeks” (PI), yaitu :
PI = LL – PL

Indeks kecairan (liquidity Index)


Kadar air tanah dalam keadaan aslinya biasanya terletak antara batas
plastis dan batas cair. Suatu angka yang kadang-kadang dipakai sebagai petunjuk
akan keadaan tanah ditempat aslinya adalah “liquidity index” (LI).
LI diperoleh dari persamaan :
w  PL w  PL
LI = =
LL  PL PI
dimana w = kadar air asli tanah

Jadi LI pada umumnya berkisar antara 0 sampai 1. Jika LI kecil (mendakati 0)


kemungkinan tanah itu merupakan tanah yang agak keras. Jika LI besar
(mendekati 1) kemungkinan tanah itu adalah tanah lembek.

Aktivitas (activity)
Karena sifat plastis dari suatu tanah adalah disebabkan oleh air yang
terserap oleh air yang terserap disekeliling permukaan partikel lempung (adsorbed
water), maka dapat diharapkan bahwa tipe dan jumlah mineral lempung yang
dikandung di dalam suatu tanah akan mempengaruhi batas plastis dan batas cair
tanah yang berasangkutan. Skempton (1953) menyelidiki bahwa indeks platis (PI)
suatu tanah bertambah menurut garis lurus sesuai dengan bertambahnya
persentase dari fraksi berukuran lempung(% Berat butiran yang lebih kecil dari
2µ) yang dikandung oleh tanah. Hubungan ini dapat dilihat dimana garis rata–rata

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-7


untuk semua tanah adalah melalui titik pusat sumbu. Hubungan antara PI dengan
fraksi berukuran lempung untuk tiap-tiap tanah mempunyai garis yang berbeda-
beda. Keadaan ini desebabkan karena tipe dari mineral lempung yang dikandung
oleh tiap-tiap tanah berbeda-beda. Atas dasar hasil studi tersebut, Skempton
mendefinisikan suatu besaran yang dinamakan aktivitas (activity) yang
merupakan kemiringan dari garis yang menyatakan hubungan antara PI dan
persen yang lolos ayakan 2µ atau dapat pula dituliskan sebagai

Dimana
A = Aktivitas/activity

Aktivitas digunakan sebagai indeks untuk mengidentifikasi kemampuan


mengmbang dari suatu tanah lempung. Harga dari aktivitas untuk berbagai
mineral lempung.
Seed, Woodward, Lundgren (1964a) mempelajari sifat plastis dari
beberapa macam tanah yang dibuat sendiri dengan cara mencampur pasir dan
lempung dengan presentase yang berbeda-beda. Mereka menyimpulkan bahwa
walaupun hubungan antara indeks plastis (PI) dan presentase butiran yang lebih
kecil dari 2µ adalah merupakan garis lurus, seperti diteliti oleh Skempton, tetapi
garia-garis tersebut tidak selalu melalui pusat sumbu. Oleh karena itu, aktivitas
dapat didefinisikan sebagai:

Dimana C’ adalah konstanta dari tanah

Studi lanjutan dari Seed, Woodward, Lundgren (1964b) menunjukkan


bahwa hubungan antara indeks plastisitas dan presentase dari fraksi berukuran
lempung di dalam tanah dapat diwakili oleh dua garis lurus. Hal ini ditunjukkan

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-8


secata kualitatif. Untuk tanah yang mengandung fraksi berukuran lempung lebih
besar dari 40%, garis lurus tersebut akan melalui pusat sumbu apabila
diproyeksikan kembali.

Kegunaan Batas-batas Atterberg


Batas cair daqn batas plastis tidak secara langsung memberi angka-angka
yang dapat dipakai dalam perhitungan (design). Yang kita peroleh dari percobaan
Batas Atterberg ini adalah suatu gambaran secara garis besar akan sifat-sifat
tanah yang bersangkutan. Tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai
sifat teknik yang buruk, yaitu kekuatannya rendah, “compressibility”nya tinggi
dan sulit memadatkannya untuk pembuatan jalan misalnya. Untuk macam-macam
tanah tertentu batas-batas Atterberg dapat dihubungkan secara empiris dengan
sifat-sifat lainya, misalnya dengan kekuatan geser atau “compression index” dan
sebagainya. Indek plastis biasanya dipakai sebagai salah satu syarat untuk bahan
yang akan dipakai untuk pembuatan jalan.

Samsul Arifin.Laporann Mekanika Tanah , BAB II-9