Anda di halaman 1dari 9

STUDI KASUS PELANGGARAN ETIKA

PROFESI AKUNTANSI DI
SUATU PERUSAHAAN
Published September 25, 2016 by bebellarizki

Nama : SHANDI PAMUNGKAS

Kelas :6 AKUNTANSI C

Npm : 21213697

Tugas : Etika Profesi Akuntansi #Softskill

STUDI KASUS PELANGGARAN ETIKA PROFESI AKUNTANSI DI SUATU


PERUSAHAAN

SEJARAH BERDIRINYA BANK LIPPO

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie
membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada1981.
Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3
miliar. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia,
bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong.Ia bergabung dengan BCA
pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin.

Di BCA, Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan
Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar Riady bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar
baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset
Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp257,73 miliar. Hal
ini membuat kagum kalangan perbankan nasional.Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of
Bank Marketing.

Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan
semenjak saat itu lahirlah Lippobank.Inilah cikal bakal Grup Lippo.

PEMBAHASAN DAN ANALISIS


Kasus PT. Bank Lippo Tbk ini berawal dari laporan keuangan Triwulan III tahun 2002 yang
dikeluarkan tanggal 30 September 2002 oleh PT. Bank Lippo Tbk, yaitu terjadi perbedaan
informasi atas Laporan Keuangan yang disampaikan ke public melalui iklan di sebuah surat
kabar nasional pada tanggal 28 November 2002 dengan Laporan Keuangan yang disampaikan ke
Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Dalam laporan tersebut dimuat adanya pernyataan manajemen PT. Bank Lippo Tbk bahwa
Laporan Keuangan tersebut disusun berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah
diaudit oleh KAP Prasetio, Sarwoko, Sandjaja (penanggung jawab Drs. Ruchjat Kosasih) dengan
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian.

Penyajian laporan tersebut dibuat dalam bentuk komparasi per 30 September 2002 (audited) dan
per 30 september 2001 (unaudited). Dicantumkan, Nilai Agunan Yang Diambil Alih (“AYDA”)
per 30 September 2002 sebesar Rp. 2,393 triliun, total aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp.
24,185 triliun, Laba tahun berjalan per 30 September 2002 sebesar Rp. 98,77 miliar, dan Rasio
Kewajiban Modal Minimum Yang Tersedia (CAR) sebesar 24,77%.

Pada Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002, tanggal yang sama yang
disampaikan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 27 Desember 2002, ternyata disampaikan
laporan yang berbeda. Laporan itu mencantumkan Pernyataan manajemen PT. Bank Lippo Tbk
bahwa Laporan Keuangan yang disampaikan adalah Laporan Keuangan “audited” yang tidak
disertai dengan laporan auditor independen yang berisi opini Akuntan Publik.

Penyajian laporan juga dilakukan dalam bentuk komparasi per 30 September 2002 (audited) dan
30 September 2001 (unaudited). Dicantumkan Nilai Agunan Yang Diambil Alih Bersih
(“AYDA”) per 30 September 2002 sebesar Rp. 1,42 triliun, total aktiva per 30 September 2002
sebesar Rp. 22,8 triliun, Rugi bersih per 30 September 2002 sebesar Rp. 1,273 triliun, dan Rasio
Kecukupan Modal Minimum (CAR) sebesar 4,23%.

Dapat dilihat, bahwa pada tanggal yang sama ditemukan perbedaan. Perbedaan tersebut baik
dalam jumlah AYDA, total aktiva, CAR, bahkan kondisi untung rugi. Atas hal tersebut, Pada
tanggal 6 Januari 2003, Akuntan Publik KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja menyampaikan
Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 kepada manajemen PT. Bank
Lippo.

Dalam laporan tersebut dikemukakan bahwa Laporan Auditor independen yang berisi opini
Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih dari KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja dengan pendapat
Wajar Tanpa Pengecualian. Laporan Auditor independen tersebut tertanggal 20 November 2002,
kecuali untuk catatan 40a tertanggal 22 November 2002 dan catatan 40c tertanggal 16 Desember
2002

Penyajian dalam bentuk komparasi per 30 September 2002, 31 Desember 2001 dan 31 Desember
2000. Total aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 22,8 triliun, Nilai Agunan Yang Diambil
Alih Bersih (AYDA) per 30 September 2002 sebesar Rp. 1,42 triliun, Rugi bersih per 30
September 2002 sebesar Rp. 1,273 triliun, Rasio Kecukupan Modal sebesar Rp. 4,23%.
a. Saham

Pada periode yang sama sejumlah broker melakukan transaksi jual dalam jumlah sangat besar.
Ironisnya, pada 14 Februari broker yang sama berbalik melakukan transaksi beli dalam volume
signifikan. Praktik semacam itu menguatkan dugaan memang terjadi manipulasi laporan
keuangan serta insider trading.Dengan tujuan, manajemen (khususnya pemilik lama) bisa masuk
dan menguasai saham mayoritas bank itu.

Banyak yang menduga skenario yang mereka inginkan adalah pihak manajemen ingin menawar
saham terbatas (rights issue). Lewat cara itu pemegang saham mayoritas saat ini, yaitu
pemerintah, mau tidak mau harus mengeluarkan banyak uang. Karena jika tidak dilakukan,
kepemilikan sahamnya terdilusi.Ringkas kata, pemilik lama menginginkan pemerintah
merekapitalisasi tahap kedua terhadap bank itu.

b.Bank Lippo Menyokong Dana Kampanye Bill Clinton

Hubungan erat antara grup Lippo dengan Partai Demokrat AS bermula dari tahun 1976 James
Riady, anak Mochtar Riady si bos Lippo, berangkat ke New York untuk bekerja di Irving Trust
Banking Company di tahun 1975. Tak lama, James Riady pindah ke Little Rock, Arkansas (kota
kelahiran Bill Clinton) di tahun 1976.

Di Arkansas, James Riady bersama Jack Steven mendirikan Worthen Bank dengan modal awal
US$ 20 juta. Jack Steven, yang disebut-sebut sebagai Godfathernya Arkansas ini adalah rekan
dekat Mochtar Riady. Melalui Jack Steven inilah, James Riady bisa kenalan dengan Jimmy
Carter, Bill Clinton dan sebagainya.

Pada tahun 1984, James Riady ditunjuk Jack Steven menjadi Direktur Utama
WorthenBank.James Riady pun lalu menunjuk Hillary Clinton sebagai pengacara Worthen Bank.
Disinilah hubungan James Riady dengan pasutri Clinton merapat

Pada tahun 1990an, Bill Clinton menyatakan kepada James Riady kalau ia berencana maju ke
pemilu presiden AS. James Riady pun memberitakan kabar tersebut kepada ayahnya, Mochtar
Riady.Mochtar Riady pun langsung memerintahkan James Riady partisipasi aktif dalam
kampanye Bill Clinton. Tak cuma James Riady, seluruh anggota dan jaringan yang dimiliki
Lippo Group pun dikerahkan untuk membantu kampanye Bill Clinton

Bentuk sokongan James Riady dan Ted Sioeng pada Bill Clinton – Al Gore adalah pengumpulan
dana kampanye. Fokus dari tim pengumpulan dana kampanye Clinton – Al Gore yang ditangani
James Riady dan Ted Sioeng adalah dari pengusaha-pengusaha Asia. jumlahnya dana yang
dikumpulkan James Riady – Ted Sioeng untuk Clinton – Al Gore mencapai US$ 7,5 juta.

Secara pribadi dan perusahaan, keluarga Riady dan Lippo Group mendapat jaringan dan
keleluasaan berbisnis di AS . Indonesia pun mendapat ‘Keringanan bea impor’ ke AS pada masa
Bill Clinton. Karena para pengusaha Tionghoa di Indonesia ikut menyetor dana ke Clinton, maka
mereka melobi kemudahan perdagangan, Tak cuma Indonesia, RRC pun ikutan memperoleh
kemudahan impor produk-produk RRC ke AS semasa Clinton.
Hasil kerja LippoGate inilah yang menjadi salah satu pemicu kenapa para pengusaha Tionghoa
Indonesia mulai eksodus ke pasar global.Sejak tahun 1994, satu per satu para pengusaha besar
memindahkan markas besar usahanya ke luar negeri.Indonesia hanya menjadi tempat
beroperasinya alat-alat produksi, tapi hasil, uang dan keuntungannya semua dibawa ke Singapura
dan Hong Kong.Dampak migrasi dana-dana para pengusaha ini bagi Indonesia??Rupiah
mengalami pelemahan berturut-turut dan menjadi salah satu pemicu krisis moneter Asia.

Ketika skandal sumbangan Lippo Grup utk kampanye Clinton tsb terbongkar, Partai Demokrat
terpaksa kembalikan hampir US$ 500 ribu. Sementara itu, Muchtar dan James Riady /Lippo
Grup dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS atas pelanggaran UU dana kampanye AS karena
terbukti melanggar hukum terkait pemberian sumbangan dana kampanye Capres PD, Bill
Clinton. Keluarga Riady /Lippo Grup dihukum membayar denda US$ 8.6 juta atau Rp. 86 milyar
atas pelanggaran tersebut.

c. Pelanggaran Hukum Oleh Bank Lippo

Dari kronologi kasus yang telah di uraikan di bab sebelumnya atas kasus laporan keuangan PT.
Bank Lippo Tbk per 30 september 2002 yang disampaikan ke publik per 28 november 2002,
Bank Lippo telah melakukan pelanggaran pasal 93 Undang-undang Pasar Modal.

Yang dimana dalam pasal 93 Undang–undang Pasar Modal menyebutkan bahwa setiap pihak
dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara
material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga efek di Bursa Efek apabila
pada saat pernyataan di buat atau keterangan diberikan:

1. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau
keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan; atau
2. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material
dan pernyataan atau keterangan tersebut

Unsur-unsur dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tindakan tersebut mempengaruhi harga efek di bursa efek


2. Setiap pihak dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau memberikan
keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan
3. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau
keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan atau tidak cukup
berhati-hati dalam menentukan kebenaran material pernyataan atau keterangan tersebut.

Di dalam kasus PT. Lippo Bank Tbk tersebut mengandung 3 (tiga) unsur dari pasal 93 Undang-
Undang Pasar Modal.Pertama, tindakan tersebut mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek.

Dari fakta menunjukan bahwa tindakan PT. Bank Lippo Tbk dengan memberikan informasi yang
menyesatkan pada laporan keuangan per 30 September 2002 telah menimbulkan ketidakpastian
di masyarakat sehingga mempengaruhi harga Efek diBursa.Saham PT. Lippo Bank Tbk pun
mengalami fluktuasi yang tajam disebabkan oleh missleading information tersebut.
Terlihat bahwa akibat laporan keuangan yang diterbitkan tersebut menggerakkan harga.Bahkan,
tidak semata-mata berdampak pada saham PT Bank Lippo, tbk semata, tetapi juga bursa efek
secara keseluruhan.

Kedua, setiap Pihak dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau memberikan
keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan. Dalam kasus tersebut ditemukan
fakta sebagai berikut bahwa dalam Laporan Keuangan per 30 September 2002 yang diiklankan
di media massa pada tanggal 28 November 2002, Manajemen PT. Bank Lippo Tbk menyatakan
bahwa Laporan Keuangan tersebut disusun berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi yang
telah diaudit oleh KAP Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja dengan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.

Akan tetapi, Hasil pemeriksaan Bapepam menunjukan bahwa laporan keuangan PT. Bank Lippo
Tbk per 30 September 2002 yang diiklankan pada tanggal 28 November 2002 adalah laporan
keuangan yang tidak diaudit meskipun angka-angkanya sama seperti yang tercantum dalam
Laporan Auditor Independen. Hal ini menunjukan bahwa pernyataan atau keterangan yang
diberikan oleh pihak manajemen PT. Bank Lippo Tbk dalam laporan tersebut secara material
tidak benar atau menyesatkan.

Ketiga, pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau
keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan atau tidak cukup berhati-hati
dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan tersebut.

Pencantuman kata “audited” pada Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September
2002 membawa implikasi pada perhitungan akun-akun didalamnya yang terlihat baik namun
sesungguhnya bukan keadaan yang sebenarnya. Laporan keuangan yang disampaikan ke publik
tanggal 28 November 2002 mencatat total aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 24,185
triliun, laba tahun berjalan sebesar Rp. 98,77 miliar dan CAR sebesar 24,77%.

Sekilas dengan membaca laporan ini, Investor melihat bahwa kinerja perusahaan berjalan dengan
bagus. Dengan demikian keputusan-keputusan yang diambil investor akan menguntungkan
perusahaan misalnya Investor melakukan pembelian saham Lippo secara besar-besaran.

Hal ini tentunya merugikan Investor sebab dengan dasar informasi yang salah maka keputusan
yang diambilnya juga tidak tepat. Keadaan yang sebenarnya adalah sebagaimana Laporan
Keuangan per 30 September yang disampaikan ke BEJ tanggal 27 Desember 2002 yang sudah
diaudit oleh KAP Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja dimana total aktiva per 30 September 2002
sebesar Rp. 22,8 triliun, rugi bersih sebesar Rp. 1,273 triliun dan CAR sebesar 4,23%.

d. Penjelasan Dari Pihak Bank Lippo

Dari fakta yang telah diuraikan sebelumnya, PT. Bank Lippo Tbk telah dua kali memberikan
penjelasan dan pemaparan kepada publik berkaitan dengan adanya perbedaan dalam Laporan
Keuangan per 30 September 2002 yang disampaikannya.
Pertama, dalam pengumuman penjelasan di Harian Investor tanggal 17 Januari 2003. PT Bank
Lippo Tbk menegaskan bahwa Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002
adalah informasi yang akurat dan benar serta mencerminkan kinerja Bank Lippo yang
sesungguhnya yakni CAR 24,77% dan NPL 9,03%.

Kedua, dalam paparan publik di Hotel Aryaduta Jakarta tanggal 11 Februari 2003. Manajemen
PT. Bank Lippo Tbk kembali menegaskan bahwa angka-angka yang disajikan dalam Laporan
Keuangan per 30 September 2002 yang telah dipublikasikan ke media massa pada 28 November
2002 dalam rangka memenuhi peraturan BI adalah angka-angka yang akurat dan benar serta
telah disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Pedoman
Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI).

Sementara itu dilain pihak, Auditor dari laporan keuangan Bank Lippo per 30 September 2002
yakni Ernst & Young and Partner (Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja) dalam penjelasan tertulisnya
kepada Bapepam menyatakan bahwa mengaudit satu laporan. Laporan keuangan itulah yang
disampaikan kepada BEJ tanggal 27 Desember 2002. Dijelaskan bahwa dalam laporan keuangan
hasil audit Ernst & Young and Partner (Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja) berbeda dengan laporan
konsolidasi yang dipublikasikan.

Laporan keuangan yang dipublikasikan tanggal 28 November 2002 menyebutkan aktiva Bank
Lippo sebesar Rp. 24 triliun dan laba bersih sebesar Rp. 28 miliar. Padahal menurut laporan yang
diaudit oleh tim audit dari Ernst & Young and Partner (Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja)
sebagaimana dilaporkan kepada BEJ tanggal 27 Desember 2002 menyebutkan aktiva Rp. 22,8
triliun dan rugi bersih Rp. 1,3 triliun. Dengan demikian terdapat ketidakcocokan antara
keterangan yang diberikan oleh pihak manajemen dengan pihak auditornya.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen PT. Bank Lippo Tbk tidak
cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangannya
dalam laporan keuangan per 30 September 2002 yang disampaikan ke publik tanggal 28
November 2002.Pihak manajemen dalam mempublikasikan laporan keuangan tersebut terbukti
tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak auditor Ernst & Young and Partner (Prasetyo,
Sarwoko dan Sandjaja).

Oleh karena ketiga unsur dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal telah terpenuhi maka
tindakan pihak manajemen PT. Bank Lippo Tbk dalam memberikan keterangan atau informasi
laporan keuangan per 30 September 2002 yang disampaikan ke publik merupakan suatu tindakan
penyesatan informasi publik (misleading information). Dengan demikian, memang benar telah
terdapat pelanggaran hukum yang dilakukan oleh PT. Bank Lippo, Tbk.

e. Putusan Atas Kasus Laporan Ganda Bank Lippo

Sanksi BEJ atas Bank Lippo adalah berupa peringatan keras, selain itu BEJ mewajibkan Bank
Lippo menyerahkan laporan kemajuan (progress report) setiap minggu sekali mulai 24 Februari
sampai keluarnya laporan keuangan auditan tahun 2002.
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pun memberikan sanksi. Dalam siaran persnya tanggal
17 Maret 2003 mengumumkan pemberian sanksi administratif kepada Direksi PT. Bank Lippo
Tbk berupa kewajiban menyetor uang ke Kas Negara sejumlah Rp. 2,5 miliar. Sedangkan
terhadap PT. Bank Lippo Tbk diwajibkan untuk memberikan penjelasan kepada pemegang
saham perihal kekurang hati-hatian yang telah dilakukan serta sanksi administratif yang diterima
oleh PT. Bank Lippo Tbk dalam Rapat Umum Pemegang Saham berikutnya.

Pihak yang bertanggung jawab dalam pelanggaran ini adalah Akuntan Publik Drs. Ruchjat
Kosasih dari KAP Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja sebagai penanggung jawab pemeriksaan atau
audit atas laporan keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002. Atas kelalaian yang
dilakukannya Bapepam menjatuhkan sanksi administratif berupa kewajiban menyetor uang ke
Kas Negara sebesar Rp. 3,5 juta.

KESIMPULAN

Dari pembahasan kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kode etik profesi
akuntansi yang telah dilanggar, yaitu :

1. Dengan memanipulasi laporan keuangan, secara langsung telah melanggar etika tanggung
jawab profesi dan perilaku professional
2. Selain itu, melanggar etika kepentingan publik karena telah mengesampingkan
kepentingan public
3. Kompetensi dan kehati-hatian profesional telah di langgar, karena tidak cukup berhati-
hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangannya dalam
laporan keuangan per 30 september 2002 yang di sampaikan ke public tanggal 28
november 2002
4. Pelanggaran integritas telah dilakukan, ini ditunjukkan dari sikap ketidakjujuran dan
tidak berterus terang dengan keadaan keuangan perusahaan yang sebenarnya.

SOLUSI

Beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh manajemen Bank Lippo sehingga tidak terjadi
praktek manajemen laba yang akan menjatuhkan citra perusahaan dan tentu saja secara makro
tidak merugikan perekonomian indonesia khususnya di bidang perbankan, antara lain :

1. Implementasi Good Corporate Governance yang baik

Terjadinya kesalahan terkait kata “diaudit” pada laporan keuangan yang dipublikasikan, oleh
dewan direksi diakui sebagai suatu kelalaian, mereka menyampaikan alasan bahwa komisaris
yang seharusnya memeriksa laporan keuangan tersebut terlalu sibuk sehingga tidak
memperhatikan kata-kata diaudit. Hal ini juga dipertegas oleh hasil pemeriksaan yang
disampaikan melalui siaran pers pemeriksaan laporan keuangan. Hal ini menunjukkan lemahnya
tata kelola perusahaan sehingga harus dievaluasi.
Kemudian terkait komposisi dalam jajaran dewan direksi dan komisaris. Seharusnya ada
perwakilan dari pemilik minoritas. Hal ini tentu saja untuk mewujudkan salah satu prinsip good
corporate governance yakni prinsip keadailan.

Bahkan penetapan komisaris sangat kontradikitf dengan aturan yang melarang komisaris berasal
pemegang saham mayorits atau pengendali. Beberapa prinsip good corporate governance yang
perlu diperhatikan dan diimplementasikan dengan baik oleh perusahaan antara lain :

Ø Transparancy

Ø Akuntabilitas

Ø Keadilan

Ø Responibilitas.

Prinsip-prinsip di atas adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk memonitor masalah
kontrak dan membatasi perilaku oppurtunitic managmen untuk melakukan praktek manajemen
laba.

2. Kejelasan kontrak tujuan penilaian

Banyak opini yang menyayangkan permasalahannya terletak pada hasil penilaian kembali
AYDA oleh penilai independen, terutama mereka yang memiliki latar belakang sebagai penilai.
Menurut mereka, seharusnya ada kejelasan kontrak mengenai tujuan dari perusahaan
menggunakan jasa penilaian darinya. Sehingga tidak terjadi hal seperti ini yang berakibat buruk
bagi perusahaan dan citra profesi jasa penilai. Seharusnya manajemen memberikan kejelasan
tujuan dari penilaian kepada penilai independen, sehingga konteks dan hasilnya nanti jelas.

Terkait dengan itu, Ahmadi Hadibroto menyarankan sebaiknya di masa yang akan datang
manajemen diwajibkan untuk menyatakan secara spesifik dan konkrit tujuan dari penilaian,
jangan hanya bersifat himbauan. Hal ini dapandang penting mengingat begitu signifikannya
pengaruh tujuan penilaian terhadap hasil penilaiannya nanti.

3. Pengawasan yang lebih ketat oleh dewan komisaris

Adanya laporan yang audited dan unaudit menunjukkan pengawasan yang lemah dari dewan
komisaris yang tugas pokok dan fungsinya adalah dalam hal laporan keuangan. Adanya
perbedaan pernyataan yang terjadi antara laporan keuangan publikasian dengan yang dikirim ke
BEJ merupakan kelalaian dewan komisaris. Hal itu tidak akan terjadi andai saja dewan komisaris
yang proses pemilihannya juga sudah kontradiktif dengan aturan tidak melakukan kelalaian.

DAFTAR PUSTAKA

IAI, Standar Profesional Akuntan Publik/SPAP (Kode Etik Akuntan Indonesia dan Aturan Etika
Profesi Akuntan Publik). Jakarta : Salemba Empat, 2001
http://afiapratamaziliwuu.blogspot.com

http://annisaapratiwi.blogspot.com/2013/12/contoh-paper-kasus-lippo-bank.html

http://cescbergas.blogspot.com/2012/11/8-prinsip-etika-profesi-dalam-akuntansi.html

http://heleninfo.wordpress.com/2013/11/07/kasus-pelanggaran-etika-bisnis-pada-bank-lippo/

http://shuumalik.wordpress.com/2013/01/28/pengertian-etika-profesi-akuntansi/

http://singgihnurseto.blogspot.com/2009/12/skandal-laporan-keuangan-ganda-bank.html